• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PENERAPAN PROGRAM KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) DI PT. MINERAL BARA PERKASA, KABUPATEN SAROLANGN, PROVINSI JAMBI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EVALUASI PENERAPAN PROGRAM KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) DI PT. MINERAL BARA PERKASA, KABUPATEN SAROLANGN, PROVINSI JAMBI"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI PENERAPAN PROGRAM KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) DI PT. MINERAL BARA PERKASA, KABUPATEN

SAROLANGN, PROVINSI JAMBI

Asnawi

1),

Amad Fauzi Pohan

2)

dan Eka Rahmatul Aidha

3)

Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang Email: [email protected] Abstrak

Standard Operation Procedure (SOP) adalah suatu rangkaian tertulis mengenai suatu proses dan aktivitas pada suatu perusahaan, selain itu juga merupakan standar yang ditetapkan oleh perusahaan supaya karyawan itu mengikuti peraturan-peraturan yang sudah diatur (Lin dan Donald, 2016). SOP berkaitan erat hubungannya dengan kesehatan dan keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan. Jika SOP yang ada didalam perusahaan itu tidak berjalan dengan maksimal maka akan memicu kecelakaan kerja dalam sebuah perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan program K3 (berbasis SOP) dan penyebab belum optimalnya SOP mengenai kesehatan dan keselamatan kerja di PT. Mineral Bara Perkasa. Pengolahan data menggunakan exel dengan punggujian validitas, reliabilitas, interval penelitian, uji rata-rata dan tabulasi. Jumlah responden yaitu 35 orang dengan jumlah pertanyaan 20 butir yang masing-masing uunit 5 pertanyaan.

Berdasarkan hsil dari pengolahan kuisoner rata-rata yang di dapat untuk APD nilai yang di dapat 2.41 ini masuk kategori tidak baik, mesin dan peralatan 2.58, rambu-rambu 2.45, prilaku karyawan 2.72.

Kata kunci:

Penerapan K3, SOP, Disiplin kerja PENDAHULUAN

Standard Operation Procedure (SOP) adalah suatu rangkaian tertulis mengenai suatu proses dan aktivitas pada suatu perusahaan, selain itu juga merupakan standar yang ditetapkan oleh perusahaan supaya karyawan itu mengikuti peraturan-peraturan yang sudah diatur (Lin dan Donald, 2016). SOP berkaitan erat hubungannya dengan kesehatan dan keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan. Jika SOP yang ada didalam perusahaan itu tidak berjalan dengan maksimal maka akan memicu kecelakaan kerja dalam sebuah perusahaan.

Pemerintah Indonesia sudah membuat peraturan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja yang tercantum pada UU No. 1 tahun 1970. UU ini mengatur dengan jelas tentang kewajiban dalam melaksanakan keselamatan kerja, salah satunya adalah pekerja berkewajiban memakai alat pelindung diri (APD) dengan tepat dan benar serta mematuhi semua

syarat kesehatan dan keselamatan kerja yang diwajibkan. Sebelum itu perusahaan juga memiliki kewajiban untuk memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik pekerja. Jadi, dukungan manajemen terhadap keberhasilan dari pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja sangat menentukan, karena dengan organisasi yang mempunyai progam keselamatan kerja yang baik akan menentukan suatu keberhasilan manajemen dalam perusahaan.

Tujuan dari penelitian ini adalah

Mengetahui bagaimana penerapan program K3 (berbasis SOP) di PT. Mineral Bara Perkasa

dan diperoleh komposisi yang tepat untuk

campuran antra bottom ash dan jerami padi

dan

Mengetahui apa saja penyebab belum optimalnya SOP mengenai kesehatan dan keselamatan kerja di PT. Mineral Bara Perkasa.

Ada banyak dugaan yang mungkin

menjadi penyebab terjadinya kecelakaan

kerja pada PT. Mineral Bara Perkasa yaitu

belum konsistennya perusahaan

(2)

melakukan pelatihan atau sosialisasi kepada karyawan mengenai pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja dalam bekerja, pengecekan pengamanan alat-alat produksi secara berkala, atau SOP mengenai kesehatan dan keselamatan kerja yang telah diterapkan oleh PT. Mineral Bara Perkasa masih kurang.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian dengan metode bersifat kualitatif. Metode kualitatif ini adalah pendekatan survey atau penelitiana yang bersifat deskriptif dan cendrung menggunakan analisis lebih cenderung mengeksplorasi atau menggali sebab-sebab adanya pengaruh, bukan untuk menentukan hubungan sebab akibat.

Penelitian ini dilakukan dua kali dimana penelitian pertama dilakukan di PT. Ari Bayo Pratama yang terletak di kecamatan Mandiangin kabupaten Sarolangun, provinsi Jambi, penelitian kedua ini dilakukan di PT. Mineral Bara Perkasa yang terletak Kec. Pauh, Kab. Sarolangun, Provinsi Jambi. Data yang di butuhkan pada penelitian ini adalah data Primer yaitu kuesioner akan diberikan kepada karyawan PT. Mineral Bara Perkasa sebanyak 35 responden., data Sekunder data-data perusahaan tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3), yaitu: Data Program K3, SOP pertambangan yang diperoleh dari PT. Mineral Bara Perkasa.

Penggujian yang akan dilakkan yaitu uji validitas, Uji Reliabilitas, Interval penilaian,

uji rata-rata, tabulasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Deskriptif Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Tabel 4.6

Penggunaan APD di PT. Mineral Bara Perkasa

F % F % F % F % F %

APD 1 6 17% 5 15% 22 63% 2 6% 35 100% 2,57 APD 2 4 11% 11 32% 19 54% 1 3% 35 100% 2,49 APD 3 5 14% 10 28% 17 49% 3 9% 35 100% 2,51 APD 4 8 23% 18 51% 7 20% 2 6% 35 100% 2,09 APD 5 6 17% 10 29% 18 51% 1 2% 35 100% 2,04 APD 6 17% 11 31% 16 47% 2 6% 35 100% 2,41 Rata.Rata Butir Skor 1 Skor 2 Skor 3 Skor 4 Jumlah

Berdasarkan tabel 4.6 mengenai 5 butir pertanyaan terkait dengan APD yang ada di PT. Mineral Bara Perkasa. Untuk mengisi nilai pada tabel dengan rumus 3.4, dibawah ini salah satu bentuk pencarian untuk tabel 4.6 rambu-rambu, yang perhitungan selanjunya menggunakan rumus dan caara yangg sama.

APD 1 (A%) =

100%

DD ∶ A

(3.4)

F =

35

6

= 5.83

F % =

100%5.83

= 17. 15 % ~ 17 % Tabel 4.8

Penggunaan Rambu- Rabu di PT.

Mineral Bara Perkasa

F % F % F % F % F %

RR1 1 3% 11 31% 15 43% 8 23% 35 100% 2,86 RR2 8 23% 18 51% 7 20% 2 6% 35 100% 2,09 RR3 3 9% 23 66% 5 14% 4 11% 35 100% 2,29 RR4 1 3% 14 40% 15 43% 5 14% 35 100% 2,69 RR5 5 14% 16 46% 12 34% 2 6% 35 100% 2,31 RR 4 10% 16 47% 11 13% 4 12% 35 100% 2,45 Rata.Rata Butir Skor 1 Skor 2 Skor 3 Skor 4 Jumlah

Sumber: Olah Data

Berdasarkan tabel 4.8 mengenai 5 butir pertanyaan terkait dengan rambu-rambu yang ada di PT. Mineral Bara Perkasa.

Tabel 4.10

Penggunaan Mesin Dan Peralatan di PT. Mineral Bara Perkasa

F % F % F % F % F %

MP1 2 6% 7 20% 19 54% 7 20% 35 100% 2,89 MP2 7 20% 18 51% 8 23% 2 6% 35 100% 2,14 MP3 7 20% 21 60% 6 17% 1 3% 35 100% 2,17 MP4 1 3% 13 37% 14 40% 7 20% 35 100% 2,77 MP5 1 3% 6 17% 23 66% 5 14% 35 100% 2,91 MP 4 10% 13 37% 14 40% 4 13% 35 100% 2,58 Rata.Rata Butir Skor 1 Skor 2 Skor 3 Skor 4 Jumlah

Berdasarkan tabel 4.10 mengenai 5 butir

pertanyaan terkait dengan mesin dan

(3)

peralatan yang ada di PT. Mineral Bara Perkasa

Tabel 4.12

Perilaku Pekerja di PT. Mineral Bara Perkasa

F % F % F % F % F %

PK1 4 11% 16 46% 11 32% 4 11% 35 100% 2,43 PK2 0 0% 10 29% 19 54% 6 17% 35 100% 2,89 PK3 4 11% 16 46% 13 37% 2 6% 35 100% 2,37 PK4 0 0% 10 29% 18 51% 7 20% 35 100% 2,91 PK5 1 3% 4 11% 24 69% 6 17% 35 100% 3,01 PK 2 5% 11 32% 17 49% 5 14% 35 100% 2,72 Rata.Rata Butir Skor 1 Skor 2 Skor 3 Skor 4 Jumlah

Berdasarkan tabel 4.12 mengenai 5 butir pertanyaan terkait dengan perilaku karyawan yang ada di PT. Mineral Bara Perkasa.

Nilai interval ini dapat dicari dengan rumus 3.3, berpedoman pada nilai minimum dan nilai maksimum maka dapat ditentukan interval penilaian yaitu 0.75.

Nilai rata-rata 1,00 – 1,75 = Sangat Tidak setuju = 1

Nilai rata-rata 1,76 – 2,50 = Tidak Setuju

= 2

Nilai rata-rata 2,51 – 3,25 = Kurang Baik

= 3

Nilai rata-rata 3,26 – 4,00 = Setuju = 4 Nilai rata-rata 4,01 – 4,75 = Sangat Setuju = 5 Hasil Pengujian Instrumen Penelitian

a. Alat Pelindung Diri (APD)

Dari grafik 5.1 standar dari alat pelindung diri (APD) yang dimiliki oleh PT. Mineral Bara Perkasa belum sepenuhnya optimal karena rata-rata dari 5 butir pertanyaan mengenai APD hanya mencapai nilai 20 % yang berarti kurang baik. Rata-rata ini diperkuat dengan mayoritas pernyataan responden atau

karyawan PT. Mineral Bara Perkasa bahwa pada butir pertanyaan APD 5 dan 4 yaitu bahwa APD belum sesuai dengan kriteria standar (rusak, kotor, bau dll) dan aturan dalam memakai APD belum optimal.

Perusahaan dalam hal ini harus segera membuat aturan mengenai penggunaan APD yang benar agar karyawan lebih memahami arti pentingnya penggunaan APD secara tepat yang nantinya akan berguna bagi keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan itu sendiri. Kemudian setelah itu perusahaan harus mampu memberikan APD sesuai dengan standar.

b. Teknologi (Mesin Dan Peralatan)

Dari grafik 5.2 Teknologi (mesin dan peralatan) di PT. Mineral Bara Perkasa masih belum optimal dalam hal SOP pemakaian mesin dan perawatan mesin secara berkala. Data ini diperoleh dari responden atau karyawan PG Madukismo bahwa mayoritas responden menyatakan jika perusahaan belum membuat SOP dalam tata cara memakai mesin atau alat produksi.

c. Kejelasan Dari Rambu-Rambu Dan Keberadaan Rambu-Rambu

Dari grafik 5.3 Kejelasan dari rambu-rambu dan keberadaan rambu- rambu yang masih jarang ditemui.

Kejelasan rambu-rambu disini mempunyai

APD 1 22%

APD 2 APD 3 21%

22%

APD 4 18%

APD 5 17%

MP1 22%

MP2 17%

MP3 17%

MP4 21%

MP5 23%

RR1 23%

RR2 17%

RR3 19%

RR4 22%

RR5 19%

(4)

maksut bahwa rambu-rambu yang sudah ada kurang besar ataupun tertutup benda lain. Rata-rata dari kedua butir pertanyaan mengenai kejelasan dan keberadaan rambu-rambu yang ada di PT. Mineral Bara Perkasa hanya sebesar 2,09 dan 2,31 dan berada pada kategori tidak baik.

d. Segi Perilaku Karyawan

Dari grafik 5.4 Segi perilaku karyawan sekiranya dari 5 butir pertanyaan yang diberikan oleh peneliti memiliki rata-rata jawaban pada rentan nilai baik. Disini responden atau karyawan PT. Mineral Bara Perkasa telah memiliki pemahaman mengenai pentingnya, kepedulian, kedisiplinan dalam menerapkan K3.

Penyebab Permasalahan K3

Faktor yang pertama adalah pada bagian APD. Sesuai dengan data yang telah didapat dari kuesioner bahwa PT. Mineral Bara Perkasa sudah optimal dalam menyediakan kelengkapan APD yang cukup bagi jumlah karyawannya, namun aturan pemakaiannya masih belum dikatakan optimal serta APD yang digunakan oleh karyawan masih belum sesuai dengan standar (rusak, kotor dan

bau). Perusahaan terkendala biaya untuk membeli APD yang baru, mengingat jumlah karyawan yang ada diperusahaan relatif banyak. Pemakaian APD merupakan alternatif terkhir dari upaya pencegahan kecelakaan kerja

KESIMPULAN

1. Penerapan program K3 (berbasis SOP) untuk melindungi karyawan dari kecelakaan kerja di PT. Mineral Bara Perkasa dikatakan masih belum optimal ini disebabkan masih banyak hasil dari kuisoner berada pada pilihan ynag kurang baik dapat dilihat pada grafik 6.1 dibawah

Gambar 6.1 rata-rata nilai terendah Dari grafik nilai terendah ini masih banyak nilai jauh dari 4 dan semua berada dibawah 2.5.

2. Penyebab belum optimalnya SOP K3 mengenai kesehatan dan keselamatan kerja di PT. Mineral Bara Perkasa pertama masalah APD yang mana aturan penggunaan APD kurang disiplin serta APD masih banyak yang rusak dan bau, hal ini disebakan ketidak mampuan peruahaan dalm mengganti APD secara berkala. Untuk rambu- rambu sendiri pada PT. Mineral Bara Perkasa masih sulit ntuk ditemukan seta kejelasan pada raambu-rambu juga tidak diperhatikan. Untuk mesin dan peralatan sendiri perusahaan tidak membuat aturan mengenai SOP penggunaan alat, dalam hal ini para

PK1 18%

PK2 PK3 21%

18%

PK4 21%

PK5 22%

2,092,042,092,142,17 2,37

1,8 1,9 2 2,1 2,2 2,3 2,4

Item APD 4 APD 5 RR2 MP2 MP3 PK3

Rata-Rata

Item APD 4 APD 5 RR2 MP2 MP3

(5)

pekerja hanya menggunakan insting dalam menggunakan alat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. “ Data-data dan Arip-arsip Laporan”. PT. Mineral Bara Perkasa.

Diniaty Dewi. Usulan Perbaikan Keselamatan Kerja untuk Meminimumkan Kecelakaan Kerja dengan Pendekatan Job Safety Analysis (JSA) pada Area Lantai Produksi di Pt. Alam Permata Riau “ Jurnal Sains, Teknologi Industri”. Vol. 13.

No. 1. Desember 2015.

Herlina Selyanti, dkk. Gambaran Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Pada Pt. Semen Bosowa Maros.

Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No 555.K/26/M.PE/1995 Tentang

Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pertambangan Umum.2004

Kwesi Amponsah, dkk. Occupational Health and Safety Management and Turnover Intention in the Ghanaian Mining Sector.

Mangkunegara, Pendidikan Kesehatan Masyarakat, Jakarta : 2001.

Mardhatillah Anggianika. Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di PT. Semen Padang “ Jurnal Ilmiah Teknik Industri Prima”. Vol. 1, No. 1 Juni 2017.

Muhammad Arif, dkk. Analisa Potensi Bahaya Dengan Menggunakan Metode Job Safety Analysis (Jsa) Pada Proses Coal Chain Di Pertambangan Batubara Pt Mifa Bersaudara Meulaboh Tahun 2014.

Riko Ervil, dkk. “Buku Panduan Penlisan dan Ujian Skripsi”

Sekolah Tinggi Teknologi Industri

(STTIND) PadangTahun 2013.

Gambar

Gambar 6.1 rata-rata nilai terendah  Dari  grafik  nilai  terendah  ini  masih  banyak  nilai  jauh  dari  4  dan  semua  berada dibawah 2.5

Referensi

Dokumen terkait

[r]

10 Hasil positif dari pemeriksaan Takayama terhadap darah maupun bercak darah yang terpapar oleh sampo cuci mobil A, B dan C pada penelitian ini belum tentu memberikan

Untuk mengetahui perubahan sikap yang terjadi pada peserta antara sebelum dan setelah dilakukan kegiatan, digunakan kuesioner yang mengungkap tentang sikap terhadap

Pada tahun 2011 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) bekerjasama dengan Pusat Kajian Perlindungan Anak Universitas Indonesia, dan Bank Dunia telah melakukan kajian

Untuk mengembangkan perkembangan teknologi yang semakin pesat pada saat ini, maka pada penelitian ini akan dipelajari Efek Waktu Milling Terhadap Sifat Fisis dan

1. Data nilai tes, terdiri dari dua perangkat, yaitu nilai tes kemampuan kognitif dan daya tahan retensi siswa. Data nilai non-tes, yaitu data respon siswa terhadap

Pada tabel dan grafik dapat diketahui apabila terjadi penurunan jumlah giling mencapai 30% diikuti kenaikan upah tenaga kerja sebesar 50% dan kenaikan harga bahan bakar

Penerapan Kompetensi Dasar Regulasi Penggunaan BTM (Food Additive) pada Pengolahan Pangan Praktikum Pembuatan Bolu Kukus pada Pengetahuan Responden Mengenai Jenis BTM