• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GUNADARMA JAKARTA 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GUNADARMA JAKARTA 2020"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

VALIDITAS ISI: TUJUAN DAN TEKNIK ANALISA AKURASI INSTRUMEN

Disusun Oleh:

Mu’minatus Fitriati Firdaus (99316802)

PERPUSTAKAAN

UNIVERSITAS GUNADARMA

JAKARTA

(2)

Validitas Isi: Tujuan dan Teknik Analisa Akurasi Instrumen Abstrak

Validitas isi mencoba menjawab pernyataan sejauhmana tingkat relevansi instrument dan representasinya dengan tujuan pembuatan konstruk. Hal tersebut membuat validitas isi menjadi isu utama dan krusial dalam proses pengembangan instrument sehingga dibutuhkan prosedur penilaian kelayakan isi aitem dari panel ahli yang bersifat kualitatif dengan hasil yang dikuantitatifkan melalui dua teknik seperti koefisien validitas isi Aiken’s V dan content validity ratio (CVR). Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bahwa untuk mendapatkan alat ukur yang baik maka sebelum menentukan suatu instrument peneliti harus memperhatikan beberapa hal yang penting dalam merancang validasi alat ukur agar terhindar dari kesalahan dan instrument yang tidak relevan. Salah satu cara atau teknik untuk menghindari kesalahan dalam instrument dan kelayakannya, sebaiknya peneliti melakukan prosedur penilaian kelayakan isi item yang dilakukan oleh panel ahli baik melalui koefisien validitas isi Aiken’s V dan Content Validity Ratio agar mendapatkan akurasi suatu instrumen.

Kata kunci: Validitas isi, Aiken’s V dan Content Validity Ratio. Pembahasan

Menurut Hendryadi (2017) validitas merupakan isu utama pada proses pengembangan instrumen, terutama jika digunakan untuk mengukur konsep/konstruk yang masih ambigu, abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Azwar (2012) menyatakan bahwa bahwa para ahli psikometrika telah menetapkan beberapa kriteria penting bagi setiap alat ukur psikologi untuk dinyatakan sebagai alat ukur yang baik, yaitu mampu menghasilkan data dan memberikan informasi yang akurat. Kriteria termaksud antara lain valid, reliable, objektif, standar, ekonomis, dan praktis. Validitas menggambarkan sejauhmana alat ukur (tes) benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Menetapkan validitas sebuah test atau instrument test sangat sulit, terutama karena variabel-variabel psikologi biasanya adalah konsep-konsep abstrak, seperti inteligensi, kecemasan, dan kepribadian. Konsep-konsep ini tidak memiliki realitas konkret sehingga eksistensinya harus diinferensi melalui sarana yang tidak langsung (Growth-Marnat, 2011).

(3)

Dalam tulisan ini, penulis akan membahas terkait isu validitas isi karena validitas isi merupakan suatu hal yang penting pada tahap awal pengembangan alat ukur. Validitas isi berkaitan dengan sejauhmana tingkat relevansi instrument dan representasinya dengan tujuan pembuatan konstruk (Haynes & Richard, 1995). Untuk instrument pengumpulan data factual seperti kuesioner dan wawancara, akurasi data banyak tergantung pada sejauh mana isi angket tersebut mencakup data yang komprehensif dan relevan dengan tujuan penelitian dalam istilah validitas hal itu disebut dengan validitas isi. Pada instrument yang bersifat psikologis, akurasi data yang hendak diperoleh dapat diprediksi dengan perhitungan validitas instrument melalui prosedur komputasi tertentu (Azwar, 2015). Relevansi aitem dengan indikator keperilakuan dan dengan tujuan ukur sebenarnya sudah dapat dievaluasi lewat nalar dan akal sehat (common sense) yang mampu menilai apakah isi skala memang mendukung konstruk teoritik yang diukur. Proses ini disebut dengan validitas logik (logical validity) sebagai bagian dari validitas isi. Kepuasan akal sehat mengenai keselarasan atau relevansi aitem dengan tujuan ukur skala tidak dapat didasarkan hanya pada penilaian penulis soal sendiri, tapi juga memerlukan kesepatan penilaian dari orang yang kompeten (expert judgement) (Straub, et.al, 2004 dalam Azwar b, 2015). Tentu tidak diperlukan kesepakatan penuh (100%) dari semua penilai untuk menyatakan bahwa semua aitem adalah relevan dengan tujuan ukur skala. Apabila sebagian besar penilai sepakat bahwa semua alat ukur relevan, maka aitem tersebut dinyatakan sebagai aitem yang layak mendukung validitas isi skala (Azwar a, 2012).

Menurut Clark dan Watson (1995) penjelasan substantif mengenai suatu alat disebut validitas substantif yang fokus kepada konseptualisasi serta sejauhmana konsep-konsep sebelumnya ditampilkan dalam kajian literatur. Validitas isi dilakukan untuk memastikan apakah isi kuesioner sudah sesuai dan relevan dengan tujuan studi. Validitas isi menunjukkan isi mencerminkan rangkaian lengkap atribut yang diteliti dan biasanya dilakukan oleh tujuh atau lebih ahli (DeVol, dkk 2007). Perkiraan validitas isi dari tes diperoleh dengan menyeluruh dan sistematis dalam memeriksa item tes untuk menentukan sejauh mana mereka mencerminkan dan tidak mencerminkan domain konten (Kowsalya, Venkat Lakshmi, & Suresh, 2012). Untuk mendapatkan validitas isi yang baik diperlukan beragam metode baik secara kualitatif maupun kuantitatif agar bisa menilai semua elemen instrument. Tujuan validasi isi

(4)

pada awal pengembangan instrument untuk mengurangi variasi potensi kesalahan pembuatan instrumen dan meningkatkan kemungkinan diperolehnya indeks validitas konstruk dalam studi lanjutan. Oleh sebab itu, peneliti harus memperhatikan beberapa hal yang penting dalam merancang validasi alat ukur (Haynes, Richard, & Kubany, 1995), yaitu:

1. Peneliti harus berhati-hati saat memberikan definisi pada domain karena alat ukur yang tidak valid secara isi maka tidak perlu lagi diuji kevalidannya dengan metode validitas konstruk.

2. Perhatikan semua elemen instrumen asesmen untuk melakukan validasi isi. 3. Gunakan populasi dan tahapan penyampelan untuk memperoleh item-item

awal dan elemen-elemen lain.

4. Gunakan penilaian dari penilai yang beragam untuk validasi isi dan kuantitatifkan penilaian yang menggunakan prosedur pengskalaan yang formal. 5. Uji keterwakilan secara proporsional item-item yang digunakan.

6. Laporkan hasil validasi isi jika menerbitkan instrumen baru. Indeks atau hasil secara kuantitatif validitas terhadap isi akan membantu masyarakat untuk mengetahui sejauhmana alat ukur telah melalui proses validasi ini.

Sedangkan validitas tampang/muka (face validity) merupakan validitas isi yang paling dasar dan sangat minimum. Validitas isi menunjukkan bahwa item-item yang dimaksudkan untuk mengukur sebuah konsep, memberikan kesan mampu mengungkap konsep yang hendak di ukur (Sekaran, 2006). Tidak berbeda dengan penjelasan sebelumnya, Groth-Marnat (2010 dalam Azwar a, 2012) juga menjelaskan bahwa validitas isi (content validity) dengan validitas muka (face validity) memiliki perbedaan. Validitas isi menyangkut judgement yang dibuat oleh para ahli, sedangkan validitas muka/tampang menyangkut judgement dari pengguna test. Sejalan dengan itu, Gregory (1992) yang dikutip Azwar (2012) menjelaskan bahwa validitas tampang hanya sekedar tahap penerimaan orang pada umumnya terhadap fungsi pengukuran tes, serta tidak berhubungan dengan statistic validitas seperti koefisien atau indeks. Analisis lanjutan setelah validitas tampang adalah melalui validitas logis yaitu prosedur penilaian kelayakan isi item melalui penilaian yang bersifat kualitatif oleh panel ahli. Prosedur ini selanjutnya menghasilkan validitas logis atau merupakan tinggi rendahnya kesepakatan di antara para ahli yang menilai kelayakan suatu skala pengukuran (Azwar, 2012b). Dua teknik yang digunakan dalam menganalisa

(5)

keakuratan suatu instrumen melalui koefisien validitas isi Aiken’s V dan Content

Validity Ratio (CVR) agar menjadi pertimbangan penting bagi peneliti bahwa

instrumennya sudah baik.

A. Koefisien Validitas isi Aiken’V

Pada tahun 1985, Aiken mengusulkan konsep validitas isi dengan lebih rinci yang terlihat dari standar kevalidannya dipengaruhi oleh jumlah rater dan skala rating yang digunakan (Aiken, 1985). Aiken (1985) telah merumuskan formula Aiken’V untuk menghitung content validity coefficient yang didasarkan pada penilaian panel ahli sebanyak n orang terhadap suatu aitem mengenai sejauh mana aitem tersebut mewakili konstrak yang diukur. Dalam hal ini mewakili konstruk yang dapat diukur berarti aitem yang bersangkutan adalah relevan dengan indikator keperilakuannya, karena indikator keprilakuan adalah penerjemahan operasional dari atribut yang diukur (Azwar b, 2012). Penilaian dilakukan dengan cara memberikan angka antara 1 (yaitu sangat tidak mewakili atau sangat tidak relevan) sampai dengan 5 (yaitu sangat mewakili atau sangat relevan) (Azwar b, 2012).

Statistik Aiken’V dapat dirumuskan sebagai, berikut: V = ∑ s / [n(c-1)]

Bila 1o : Angka penilaian validitas yang terendah dalam hal ini=1 C : Angka penilaian validitas yang tertinggi dalam hal ini=5 r : Angka yang diberikan oleh seorang penilai

s : r-1o

Maka:

Untuk menentukan bahwa skor aitem yang diperoleh memiliki validitas isi yang baik dan mendukung maka diperlukan

B. Content Validity Ratio (CVR)

Validitas isi dapat definisikan sebagai kesesuaian aitem dengan definisi dan tujuan serta kaidah yang ada berdasarkan penilaian experts serta berfungsi memastikan bahwa pengukuran yang akan dilakukan telah memasukkan sekumpulan aitem yang mewadahi dan mewakili seluruh konsep/dimensi yang diukur. Di samping itu, validitas isi dapat diukur melalui content validity ratio namun hal tersebut memunculkan pertanyaan krusial tentang, “whose judgement?" untuk mendapatkan

(6)

penilaian yang dibutuhkan oleh peneliti maka peneliti harus menentukan panel ahli yang sesuai dengan "content domain" yang hendak diteliti (Lawshe, 1975). Lawshe (1975) merumuskan CVR dapat digunakan untuk mengukur validitas isi aitem-aitem berdasarkan data empiric. Dalam pendekatannya menggunakan sebuah panel yang terdiri dari ahli disebut dengan Subject Matter Expert (SME) diminta untuk menyatakan apakah aitem dalam skala sifatnya esensial bagi operasionalisasi konstruk teoritik skala yang bersangkutan. Aitem dinilai esensial bilaman aitem tersebut dapat mempresentasikan dengan baik tujuan pengukuran. Para SME diminta menilai apakah suatu aitem esensial dan relevan atau tidak dengan tujuan pengukuran skala dengan menggunakan lima tingkatan skala mulai dari 1 (yaitu sama sekali tidak esensial dan tidak relevan) sanpai dengan 5 (yaitu sangat esensial dan sangat relevan) (Azwar,2012a).

Content Validity Ratio dirumuskan sebagai, berikut:

CVR= (2ne/n)-1

ne = Banyaknya SME yang menilai suatu aitem esensial n = Banyaknya SME yang melakukan penilaian

Menurut Azwar (2012 b) table nilai kritis yang dibuat oleh Lawshe (1975) menyajikan semacam nilai kritis CVR untuk mengetahui signifikansi CVR suatu aitem namun penggunaan tablenya kurang praktis karena disebabkan taraf signifikansi 5% suatu aitem harus mencapai angka CVR 0,37 bila dinilai oleh 25 orang. Maka problem terbesar dalam hal ini bahwa perolehan jumlah SME yang sangat banyak akan mempengaruhi nilai kritis yang dituntut tidak terlalu tinggi walaupun bukanlah suatu hal yang realistic. Oleh sebab itu, sebaiknya CVR dinterpretasikan secara relative dalam rentang -1,0 sampai dengan + 1,0 sehingga semua aitem yang memiliki CVR negatif jelas harus dieliminasi sedangkan aiten dengan CVR positif diartikan memiliki validitas isi dalam taraf tertentu. Disamping itu, setiap kali panelis atau ahli lain membuat penilaian, terkadang menimbulkan pertanyaan yang muncul mengenai keabsahan penilaiannya. Jika panelis tidak setuju mengenai esensialitas pengetahuan atau keterampilan yang diukur, peneliti berhak mengajukan pertanyaan terkait dengan masalah tersebut (Lawshe, 1975).

Yuliawati, Christy, Layliya, Thenarianto, dan Salim, (2019) menjelaskan bahwa dalam CVR terdapat penilaian subject matter expert yang didasari oleh dua hal,

(7)

yaitu: kesesuaian skala dengan tujuan penelitian serta kesesuaian skala dengan definisi pengukuran. Sedangkan, nilai dari SME yang menyatakan sesuai dengan perbaikan diberikan saat skala sesuai dengan tujuan penelitian dan definisi pengukuran namun belum memenuhi salah satu kaidah penulisan butir, diantaranya (Yuliawati, 2019):

1. Dengan menghindari pertanyaan hal-hal terkait dengan hal yang sulit diingat. 2. Dengan menghindari penggunaan pernyataan faktual atau dimaknasi secara

faktual

3. Dengan menghindari penggunaan pernyataan yang muti-tafsir dan ambigu. 4. Dengan menghindari penggunaan pernyataan yang tidak relevan

5. Dengan menghindari penggunaan pernyataan yang akan disetujui atau ditolak oleh semua orang

6. Dengan menghindari penggunaan istilah yang sulit dipahami

7. Dengan menghindari penggunaan yang menggunakan kata negatif ganda (tidak-bukan)

Kesimpulan

Alat ukur yang baik tidak terlepas dari peran serta tujuan validitas isi yang mencoba menjawab pernyataan sejauhmana instrument penelitian sesuai dengan tujuan pembuatan konstruk. Agar terhindar dari masalah alat ukur yang tidak relevan maka peneliti sebaiknya melakukan prosedur penilaian kelayakan isi item yang dilakukan oleh panel ahli baik melalui koefisien validitas isi Aiken’s V maupun

content validity ratio (CVR) serta menghindari hal-hal yang membuat instrument

tersebut susah dipahami atau tidak sesuai dengan tujuan penelitian. Referensi

Aiken, L. R. (1985). Three Coefficients for Analyzing the Reliability and Validity of

Ratings. Educational and Psychological Measurement, 45(1), 131– 142. doi:10.1177/0013164485451012.

Azwar a, Saifuddin. (2012). Penyusunan Skala Psikologi Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

(8)

Azwar, Saifuddin. (2015). Metode Penelitian Cetakan 16. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bashooir, K., & Supahar, S. (2018). Validitas dan reliabilitas instrumen asesmen kinerja literasi sains pelajaran fisika berbasis STEM. Jurnal penelitian dan

evaluasi pendidikan, 22(2), 219-230.

DeVon, H. A., Block, M. E., Moyle‐Wright, P., Ernst, D. M., Hayden, S. J., Lazzara, D. J., ... & Kostas‐Polston, E. (2007). A psychometric toolbox for testing validity and reliability. Journal of Nursing scholarship, 39(2), 155-164.

Haynes, S. N., Richard, D., & Kubany, E. S. (1995). Content validity in psychological assessment: A functional approach to concepts and methods. Psychological

assessment, 7(3), 238.

Hendryadi, H. (2017). Validitas isi: tahap awal pengembangan kuesioner. Jurnal Riset

Manajemen Dan Bisnis (JRMB) Fakultas Ekonomi UNIAT, 2(2), 169-178.

Ihsan, H. (2015). Validitas Isi Alat Ukur Penelitian: Konsep Dan Panduan Penilaiannya. Pedagogia, 13(3), 173-179.

Kowsalya, D. N., Lakshmi, H. V., & Suresh, K. P. (2012). Development and Validation of a Scale to assess Emotional Maturity in Mild Intellectually Disabled Children. Language in India, 12(6).

Lawshe, C. H. (1975). A quantitative approach to content validity. Personnel

psychology, 28(4), 563-575.

Watson, D., Weber, K., Assenheimer, J. S., Clark, L. A., Strauss, M. E., & McCormick, R. A. (1995). Testing a tripartite model: I. Evaluating the convergent and discriminant validity of anxiety and depression symptom scales. Journal of abnormal

psychology, 104(1), 3.

Yuliawati, L., Christy, L. M., Layliya, N., Thenarianto, J. J., & Salim, I. R. (2019). Pertolongan Pertama Pada Waktu Kuantitatif (P3K) Panduan Praktis

Referensi

Dokumen terkait

a. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi, perawatan dan

Pada analisis bivariat dengan karakteristik pekerja tidak ditemukan adanya variable yang menunjukkan bahwa adanya signifikansi dengan kejadian gejala PPOK Eksaserbasi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kejahatan penyalahgunaan narkotika di Kab Enrekang dan upaya penanggulangan dalam

Belum mampu mengidentifikasi karakteristik dataran tinggi, dataran rendah, dan pantai serta sumber daya alam dan pemanfaatannya dengan tepat.. Peyajian informasi tentang

Penelitian ini menggunakan minyak zaitun (Olea europaea) sebagai fase minyak karena memiliki kandungan utama asam lemak tidak jenuh yang dapat bertindak

Peneliti melakukan penelitian dengan menyebar dua skala sekaligus, yaitu skala kenakalan remaja dan dukungan keluarga yang ditujukan kepada siswa-siswi SMP Negeri

Alat dapat menuangkan air secara otomatis dalam sebuah gelas dengan takaran yang sesuai tanpa khawatir akan terjadi peluapan. Alat dapat membaca interrupt dari sensor

Adanya konsentrasi uap pelarut yang melebihi batas ketentuan yang berlaku dapat mengakibatkan efek negatif pada kesehatan seperti iritasi pada membran mucous dan sistem