• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gerakan petani merupakan suatu gerakan kolektif kaum tani dalam menuntut haknya. Dalam studi yang akan diteliti lebih menitik beratkan pada gerakan petani Kelud yang menuntut Perhutani agar pengelolaan hutan dikelola dengan baik serta tidak merugikan kaum tani. Terlihat bahwasanya ada konflik kepentingan yang membuat program perhutanan sosial tidak berjalan dengan semestinya. Petani sendiri juga mempunyai satu pandangan jika hutan yang dikelola oleh perhutani selaku pihak pemerintah dikelola dengan dalih penyewaan lahan atau disebut pungutan yang itu jelas mengarah pada pungutan terhadap petani yang akan mengolah lahan dan proses kerja sama untuk mendapatkan program perhutanan sosial belum terpenuhi (SindoNews.com, 2020). Sering kali aktor yang diberi mandat untuk menjalankan program tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan, ini membuat petani bergerak agar program perhutani sosial berjalan maksimal.

Program Perhutanan sosial merupakan salah satu proyek kerja yang termaktub dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan no. 39 Tahun 2017. Perhutanan sosial memiliki arti dimana sistem pengelolaan hutan negara tidak hanya dilakukan oleh perhutani tetapi melibatkan juga peran masyarakat setempat agar terjadi keseimbangan serta pengelolaan hutan dengan baik. Dari pengertian itu bisa ditarik satu kejelasan jika peran masyarakat sekitar hutan menjadi poin kunci apabila masyarakat tidak dilibatkan maka timbul pertanyaan besar apakah ada kepentingan dibalik program perhutanan sosial. Dalam website pkps Menteri lingkungan hidup dan kehutanan ada beberapa tipe hutan yang termasuk dalam program perhutanan sosial diantaranya

x Hutan desa dengan dasar pengelolaan hutan desa

x Hutan kemasyarakatan dengan dasar pemberian izin pemanfaatan hutan

x Hutan tanaman rakyat dengan dasar izin usaha memanfaatkan hasil kayu dari hutan x Hutan adat dengan dasar pencantuman hutan adat

(2)

x Kemitraan kehutanan dimaksudkan pengakuan perlindungan kemitraan kehutanan khususnya di pulau Jawa

Sementara terdapat data yang menyatakan bahwasanya program perhutanan sosial sangat dibutuhkan oleh masyarakat dengan begitu pihak terkait juga membuka jalan agar pengurusan perijinan pengelolaan hutan bisa dipenuhi dari segala aspek.

Gambar 1. data statistik Perhutanan Sosial

Sumber: http://pkps.menlhk.go.id/#statistik

Dari tampilan data tersebut, masing-masing tipe hutan yang masuk dalam kategorik perhutanan sosial memiliki perbedaan dimana disetiap wilayah tidak semuanya mempunyai hutan dengan tipe yang sama terlebih perijinan ini juga melibatkan aktor politik dimana secara keseluruhan proses administrasi sangat menentukan. Kasus yang terjadi di kawasan hutan Gunung Kelud sendiri melibatkan aktor perhutani dengan preposisi mereka mengambil keuntungan dari petani dalam proses pengelolaan lahan hutan. Tak hanya itu, pihak perhutani

(3)

juga menghambat kerja sama dalam program perhutanan sosial ini yang sangat dikeluhkan oleh petani di lereng gunung Kelud sendiri.

Gerakan petani Kelud menggugat menjadi fokus penelitian dalam skripsi ini dengan melihat fokus kepentingan petani dibalik adanya program perhutanan sosial dan motif seperti apa yang membuat gerakan itu harus dihadirkan. Selain itu peneliti juga ingin mengetahui bagaimana upaya aktor gerakan dalam melakukan kerja sama dengan massa untuk membangun strategi dalam gerakan serta cara memobilisasi yang membuat partisipan gerakan sangat kolektif dalam menjalankan aksi. Program perhutanan sosial dinilai sangat membantu masyarakat dalam pengelolaan serta pelestarian lingkungan hutan dan lahan pertanian sehingga petani menginginkan program tersebut pro terhadap kaum tani.

Harapan utama program perhutanan sosial menjamin kesejahteraan kaum tani yang itu harus diwujudkan melalui kerja sama antar pihak terkait. Selama ada pihak yang memainkan dirinya sebagai yang paling dominan maka dapat dipastikan itu hanya menjadi omong kosong saja program tersebut. Akan tetapi jika kepentingan itu tidak didahulukan maka kerjasama dalam meningkatkan pengelolaan hutan akan segera tercapai. Petani sendiri sudah melakukan upaya untuk segera mendapat teken kerjasama dalam perhutanan sosial tetapi pihak perhutani seakan tidak ingin menyepakati apa yang sudah diajukan ini sangat kontradiktif dengan aturan Menteri lingkungan hidup dan kehutanan dimana program perhutanan sosial tidak hanya dijalankan oleh unsur perhutani atau stekholder pemerintahan saja akan tetapi petani sekitar hutan juga mempunyai hak mengolah hutan tersebut. Kerjasama program perhutanan sosial antara petani desa Asmorobangun dan perhutani tidak terjalin akibat dari peta pengelolaan lahan hutan khususnya desa Asmorobangun belum disetujui. Pada akhirnya jelas program perhutanan sosial tidak dirasakan petani hutan desa Asmorobangun karena kesepakatan kerjasama tidak ada serta peta luasan hutan yang dikelola masyarakat desa Asmorobangun tidak kunjung diteken. Inilah menjadi permasalahan yang mengakibatkan gerakan petani Kelud desa Asmorobangun dilakukan.

Menurut Landsberger (1984:24) gerakan petani didasari oleh kesadaran bersama serta persamaan nasib. Satu pengertian itu membawa pada apa menjadi kontruksi masalah yang akan diteliti. Gerakan petani Kelud dihadirkan sebab mengetahui bahwa program perhutanan sosial

(4)

menjamin kebutuhan ekonomi kaum tani dan tidak hanya itu lahan yang dikelola juga tidak bisa semena-mena dimiliki atau disewakan ke sembarang orang. Oleh karenanya kaum tani Kelud menyadari jika perhutani sengaja menghambat program itu karna ada kepentingan lain dibelakangnya. Poin kedua persamaan nasib yang itu sangat terlihat jika program ini dimanfaatkan oleh segelintir orang maka petani akan sangat merugi oleh karenanya kepentingan petani harus diperjuangkan melalui suatu gerakan kolektif.

Selanjutnya gerakan petani Kelud membawa pada dimensi jika kaum proletary atau kaum tidak mampu selalu ditempatkan pada posisi subordinasi dibawah kalangan atas. Seyogyanya pemangku kepentingan seperti halnya perhutani kota Kediri menjalankan tugas sesuai apa yang diperintahkan pemerintah pusat melalui Menteri lingkungan hidup dan kehutanan. Program perhutanan sosial juga akan membantu kinerja perhutani dalam mengola serta memanfaatkan sumber daya yang ada dalam hutan sekitar kawasan Kelud. Untuk itu jelas nampak permasalahan ada pada konflik kepentingan diantara petani dan perhutani kota. Fokus penelitian mengarah pada motif penyebab gerakan petani Kelud menggugat dimana kondisi deprivasi relative menjadi teori penjelas untuk memahami gerakan tersebut.

Menurut Tedd Robert Gurr (1970:24) gerakan sosial lahir akibat dari rasa ketidakpuasaan atau ketidaksesuaian akan nilai pengharapan dan nilai kemampuan untuk meraih hak disebut Deprivation Relative. Rasa ketidakpuasan petani Kelud kepada perhutani kota mengapa pihak perhutani tidak mau melibatkan petani dalam program perhutanan sosial serta masih saja ada oknum yang memanfaatkan program tersebut untuk kepentinganya sendiri. Kaum tani merasa haknya tidak diperhatikan serta kepentingan para kelas atas membuat program pro tani tidak berjalan baik. Untuk itulah muncul gerakan petani Kelud menggugat akibat program perhutanan sosial yang mandek serta preposisi adanya kepentingan dibalik program perhutanan sosial yang dilaksanakan oleh perhutani kota Kediri. Gerakan petani Kelud menggugat menjawab apa yang disebut pemenuhan hak dan tak hanya itu kesejahteraan yang sangat diinginkan oleh petani harus diperjuangkan. Oleh karenanya program perhutanan sosial hadir didalam pemenuhan harapan kaum tani. Pergulatan dalam kasus yang akan diteliti lebih lanjut perihal kepentingan dan penyebab apa yang menjadi latar belakang kaum petani Kelud melakukan gerakan sosial politik serta bagaimana aktor gerakan melakukan kerja sama dengan anggota dalam membangun strategi

(5)

gerakan sebab tanpa pemimpin gerakan tujuan utama dari meraih hak akan tidak maksimal dikarenakan tidak ada figure pemersatu dan bagaimana mobilisasi partisipan dalam gerakan dengan tujuan menyamakan tujuan utama serta pandangan kelompok tani bahawasanya gerakan ini untuk kepentingan semua kelompok tani Kelud atas program perhutanan sosial.

Penelitian terdahulu yang ditulis oleh Angga Prasetyo Adi mengenai gerakan petani Kedungdendeng terhadap BKPH Ploso Kabupaten Jombang. Penelitian ini mengarah pada satu perlawanan kaum tani untuk memperjuangkan hak tanah yang akan dikelola sebagai lahan pertanian. Gerakan itu muncul diakibatkan oleh pihak BKPH menduduki tanah petani yang dimana tanah tersebut sudah dikelola dengan matang sejak zaman dulu sehingga petani merasa ini merupakan ketertindasan yang sangat luar biasa yang dialami petani Kedungdendeng. Perlawanan yang dilakukan oleh kaum tani dilakukan secara sembunyi-sembunyi yang mana hal tersebut dilakukan karena kelompok yang tersubordinasi akan selamanya kalah jika melawan dengan cara terbuka sehingga strategi gerakan dibangun dengan cara dibalik layar. Bentuk perlawanan itu hampir dilakukan setiap hari yang mana itu membuat pihak BKPH bingung karena tidak ada satupun petani mengakui telah menggunakan lahan bahkan merusak lahan. Seiring berjalanya waktu pada masa reformasi perjuangan perlawanan kaum tani Kedungdendeng lebih terbuka dan itu memunculkan suatu harapan baru bahwasanya tanah yang diduduki oleh BKPH bisa diambil alih. Melalui jalur hukum kaum tani mampu memenangkan gugatan terhadap BKPH sehingga tanah kembali pada pangkuan petani dan itu bisa dimanfaatkan tani seluas-luasnya karna terlegitimasi oleh hukum. Disini nampak bahwasanya penelitian terdahulu menaruh perhatian pada aspek perjuangan kaum tani dalam mengambil haknya kembali serta ini tidak jauh berbeda dengan apa yang diperjuangkan petani Kelud yang mana ingin mengambil hak atas program perhutanan sosial.

Selanjutnya penelitian perihal gerakan petani desa Solokuro menolak PT Daya Wahyu Mandiri dalam mengolah lahan hutan ditulis oleh Syifaul Qulub. Penelitian ini mendasari bahawasanya kehadiran pihak swasta dalam pengelolaan lahan hutan akan mengakibatkan hilangnya mata pencaharian petani. Mengapa demikian, karena kita ketahui jika petani penggarap hutan akan mengalami kesusahan terlebih pihak swasta memegang legitimasi atas luasan lahan hutan yang akan digarap. Dengan begitu petani tidak akan maksimal dalam menggarap lahan

(6)

bahkan akan tergusur oleh kepentingan swasta. Lahirnya gerakan petani Solokuro atas dasar ketidakmauan lahan hutan dikuasai penug oleh pihak swasta bahkan ditakutkan perekonomian petani akan turun drastis dari dampak hadirnya pihak luar. Perlawanan secara terbuka dihadirkan karena melihat bahwasanya setiap orang atau kelompok berhak untuk menuntut akan hak baik dimuka umum atau dimeja hukum. Oleh karena itu gerakan petani Solokuro memiliki tujuan utama mengembalikan lahan hutan sepenuhnya ke petani dan menghambat proses pengelolaan lahan hutan oleh PT Daya Wahyu Mandiri.

Dari kedua penelitian sebelumnya dapat diambil satu benang merah dimana gerakan petani hadir untuk mengambil hak yang dirampas oleh pihak berwenang sehingga jalan yang harus ditempuh agar tujuan bisa dicapai melalui sebuah gerakan sosial politik. Ketertindasan yang selalu dialami oleh kaum kecil seperti petani tidak boleh terus terulang dan ini merupakan bentuk kesetaraan dalam memenuhi hak. Fokus peneliti dalam gerakan petani Kelud dalam mendorong program perhutanan sosial tiada lain untuk memahami dan mengetahui lebih jauh bahwa kaum tani mampu untuk melakukan suatu gerakan perlawanan yang mana itu dilandasi atas pemenuhan hak jika rakyat kecil mampu untuk melawan kepentingan pihak berwenang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka ditarik sebuah pertanyaan penelitian sebagai berikut

1. Apa motif yang memicu munculnya gerakan petani Kelud?

2. Bagaimana kerja sama antara pemimpin gerakan dan massa dalam membangun sebuah strategi gerakan?

3. Bagaimana cara memobilisasi partisipan massa dalam gerakan?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui motif dibalik munculnya gerakan petani Kelud

2. Untuk mengetahui kerja sama antar aktor gerakan dan massa dalam membangun strategi gerakan

(7)

3. Untuk mengetahui cara memobilisasi partisipan massa dalam gerakan

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Dapat memberikan sumbangsih pemikiran untuk peneliti yang mengkaji perihal gerakan petani

2. Dapat menjadi salah satu rujukan penelitian yang berkaitan dengan gerakan petani dimana hal tersebut memberikan pandangan bahwasanya kelompok tani mempunyai kekuatan untuk mengambil kembali haknya serta mengubah kondisi yang tidak setara.

1.4.2 Manfaat Praktis

Sebagai wujud perjuangan bersama kelompok petani dimana hak yang belum didapatkan harus segera dicapai melalui pergerakan dimana dalam mengolah lahan hutan berdasarkan program perhutanan sosial untuk kesejahteraan petani hutan Kelud desa Asmorobangun.

1.5 Kerangka Teoritik

1.5.1 Gerakan Sosial

Gerakan sosial merupakan bentuk perilaku kolektif dengan definisi umum gerakan yang dilakukan oleh massa mendasari ciri khas perilaku yang sama serta membawa nilai tujuan atas aksi yang dilakukan. Tindakan kolektif adalah seperangkat tindakan yang bertujuan untuk meraih hak politik yang dimana secara keseluruhan anggota gerakan mendapat hasil positif dari aksi serta mengesampingkan kepentingan pribadi. Pengalaman atas peristiwa penyewaan lahan garapan hutan dan tidak adanya kejelasan kerjsama dari pihak perhutani kota Kediri membuat petani membentuk sebuah perilaku kolektif yang mana semua bertujuan untuk mengembalikan hak dan pemanfaatan program perhutanan sosial secara maksimal. Adapun perbedaan perilaku kolektif dengan gerakan sosial sendiri menurut Locher (2002) dalam Sukmana (2016:1), gerakan sosial mencondongkan aspek pengorganisasian yang dimana pembentukan organisasi dimaksudkan

(8)

untuk membangun interaksi dan hubungan semua kepentingan anggota dengan melihat latar belakang, status sosial serta tujuan utama dalam membentuk sebuah organisasi gerakan. Organisasi sendiri memiliki tujuan yang itu ditekankan pada penyatuan visi misi dan strategi sebelum gerakan dihadirkan ke realitas sosial. Selanjutnya aspek pertimbangan menunjukan jika gerakan tersebut sudah memenuhi aspirasi dan ide anggota yang ikut dalam organisasi dan tidak hanya itu sebuah gerakan akan menjadikan satu dobrakan penuh bahwa ada kepentingan bersama dibalik gerakan sosial. Aspek daya tahan menjadi poin penting karena belum tentu sebuah aksi bertahan lama terlebih jika penguatan nilai dan tujuan belum matang. Jika suatu gerakan muncul pasti ada perlawanan dari pihak terkait sehingga ini menjadi tantangan besar sekaligus hambatan sebab sejauh mana aksi akan terus digalakan serta ketahanan dari organisasi aktor gerakan akan diuji melalui perdebatan argument kepentingan.

Pemetaan teoritik gerakan sosial menurut Rajendra Singh (2010) dibagi menjadi tiga model besar yaitu klasik, neo klasik dan gerakan sosial baru. Gerakan sosial klasik sendiri menekankan pada kondisi dimana masyarakat membentuk kerumunan menjadi satu bagian yang itu ditunjukan melalui perilaku kolektif dalam melihat suatu permasalahan atau kejadian yang kemudian terjadi situasi non kondusif serta penolakan secara besar-besaran terhadap suatu permasalahan publik. Gerakan sosial klasik digambarkan sebagai gerakan yang cenderung tidak menaruh perhatian ke pengorganisasian serta strategi bahkan lebih mengarah pada tindakan spontan karena tidak ada nilai dan tujuan yang dibawa oleh masyarakat itu sendiri dan penilaian terhadap masalah dalam orientasi khalayak pada umumnya. Sedangkan neo klasik mengarah pada aksi kolektif yang sudah menerapkan pengorganisir dengan begitu pergerakan yang dilakukan lebih sistematis dan cenderung teraratur ketimbang gerakan klasik yang frontal dan pemikiran neo klasik berakar pada marxis perihal pertentangan dialektika kelas. Dan gerakan sosial baru menjadi satu pandangan kontemporer yang itu ditujukan agar kepentingan banyak orang dibawa untuk pemenuhan hak sosial dan politik. Nilai kemanusiaan menjadi pegangan kuat yang dibawa oleh gerakan sosial baru dimana masyarakat memperoleh hak setara tanpa pengecualian serta hak masing-masing individu juga dihargai dan dihormati. Budaya memberi pengaruh kuat dalam gerakan sosial baru, sebab sinerginitas kepentingan dapat diwujudkan melalui nilai budaya yang dilestarikan oleh masyarakat setempat. Ini dapat dicontohkan dalam gerakan petani Kelud bahwasanya budaya sesama kaum tani mendasari kuat sebagai nilai dalam gerakan. Poin selanjutnya tidak melihat keuntungan

(9)

material semata dimana tujuan utama gerakan ialah pengembalian hak dan kepentingan kolektif sehingga bentuk materi apapun bukan merupakan tujuan akhir sebab esensi gerakan sosial hanya diarahkan untuk kepentingan bersama.

Sebuah gerakan akan berhasil jika ada pemimpin gerakan yang mampu menjadi penyambung lidah kepentingan substantive yang disuarakan. Peran pemimpin merepresentasikan keseluruhan hak dan perlawanan untuk kepentingan bersama sampai pada titik kuatnya argument yang dilontarkan oleh pemimpin gerakan yang itu menunjukan ekspresifitas dari semua anggota kelompoknya. Dalam kasus gerakan petani Kelud menaruh pada salah satu pimpinan aksi yang itu memahami dan mengetahui apa faktor penyebab yang menjadi latar belakang gerakan hadir serta pemimpin adalah tolak ukur keberhasilan dari aksi. Kepentingan bersama dapat dicapai atau justru tidak berhasil semua bergantung pada pemimpin yang mampu berkoordinasi serta memobilisasi massa gerakan. Selanjutnya pembentukan image positif harus diutamakan saat aksi gerakan berlangsung karena banyak pejabat politik yang manganggap bahwa gerakan sosial cenderung mengarah pada kerusuhan sehingga tidak akan pernah tuntutan itu didengar. Apabila semua pejabat memiliki stigma yang sama maka segala jenis bentuk aksi massa tidak mempunyai nilai, sehingga citra positif harus dibangun oleh kelompok gerakan supaya harapan mereka dapat direalisasikan oleh pihak berwenang. Penyatuan strategi dalam gerakan menjadi satu poin penting guna mempersiapan perihal penguat atas dasar kepentingan bersama serta argument tersebut mampu mempertajam tujuan yang diperjuangkan. Banyak gerakan sosial dimunculkan akan tetapi tidak menekankan pada strategi sebelum melakukan aksi dengan begitu tak dapat dipungkiri aksi tidak menghasilkan keuntungan dari gerakan yang sudah dilaksanakan. Penguatan tujuan akhir dari gerakan merupakan hasil yang diharapkan oleh semua anggota aksi, melihat latar belakang gerakan itu dihadirkan sampai tujuan menjadi satu kesimpulan mengenai harapan terakhir akan kemenangan kelompok kecil. Dukungan politik serta sumber daya adalah aspek terakhir yang itu diwujudkan dengan penggalian partisipasi kepada semua kalangan tak terkecuali pejabat politik yang peduli akan kondisi rakyat kecil, dukungan tersebut akan semakin menambah kekuatan dan daya tahan dari adanya sebuah gerakan sosial.

Dalam gerakan sosial ada beberapa tahapan yang harus diterapkan menurut Macionis dalam Sukmana (2016:27-28) pertama tahap kemunculan. Gerakan sosial pada dasarnya memiliki

(10)

penyebab latar belakang sehingga memunculkan sebuah aksi kolektif baik secara langsung maupun tidak muncul dalam realitas sosial, gerakan sosial muncul akibat dari ketidaksesuain ataupun ketidakpuasaan dari kelompok masyarakat yang menjadi korban atas kepentingan pihak berwenang. Pada akhirnya terbentuklah organisasi yang dimana menjadi proses awal sebuah gerakan sosial muncul untuk meraih hak dan kepentinganya. Tahap kedua disebut tahap penggabungan, sinerginitas kepentingan semua anggota kelompok akan membawa pengangkatan isu masalah yang menjadi latar belakang utama sehingga secara terbuka tujuan gerakan akan terlihat dari kepentingan yang dibawa. Tindakan kolektif akan menjadi sesuatu yang penting apabila aksi demontrasi kepada pihak berwenang yang itu akan dilakukan secara terorganisir dan sistematis. Tahap ketiga yaitu birokrasi, pasca terjadi aksi gerakan maka tuntutan itu berhasil mempengaruhi keputusan dimeja politik akan tetapi perjuangan terus digalakkan sampai pada stekholder memutuskan untuk memenuhi tuntutan yang sudah disuarakan. Rangkaian ini perlu diawasi secara bersama oleh kelompok masyarakat sebagai penuntut sebab hal itu rawan dimainkan beberapa aktor karena sisi dasar manusia yang rakus akan keuntungan ketimbang kepentingan bersama. Tahap keempat dari gerakan sosial adalah tahap kemunduran yang itu ditunjukan dengan tuntutan berhasil dipenuhi dan mengarah positif ke kelompok masyarakat serta nilai tujuan gerakan mampu merealisasikan kepentingan bersama dan menghilangkan permainan yang ada dibalik sebuah program kesejahteraan. Teori gerakan sosial diatas menjawab apa yang menjadi poin utama sebuah gerakan sosial terbentuk khususnya yang dilakukan kaum tani Kelud. Keadaan subordinasi serta tidak bisa memanfaatkan program perhutanan sosial secara menyeluruh membuat petani membentuk suatu perilaku kolektif yang itu terhimpun dalam wadah organisasi kelompok tani. Dengan begitu nampak jika kontruksi gerakan hadir atas harapan yang tidak didapat dari sebuah program membuat kelompok tani melakukan aksi yang memiliki tujuan utama agar haknya diberi dalam mengelola lahan hutan milik perhutani kota atas dasar peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta amanah dari program yaitu kesejahteraan petani.

1.5.2 Deprivasi Relatif

Permasalahan yang dihadapi kaum tani Kelud menjadi suatu bentuk kenyataan bahwasanya petani atau kelompok kecil selalu ditempatkan pada posisi yang tidak mengenakan dan tersubordinasi. Teori deprivasi relative dari Tedd Robert Gurr (1970) dan Denton Morrison (1971)

(11)

menjadi penjelas utama apa yang melatar belakangi gerakan petani Kelud menggugat. Pengertian deprivasi relative sendiri merupakan suatu keadaan dimana individu atau kelompok mempunyai suatu harapan yang tinggi akan suatu hal tetapi dalam keadaan nyata tidak dapat dipenuhi. Menurut Gurr (1970:24) keadaan deprivasi disebabkan oleh nilai harapan yang tinggi tidak diimbangi dengan kemampuan yang tinggi pula. Pernyataan itu seakan sangat cocok dengan apa yang menjadi latar belakang gerakan petani Kelud menggugat. Petani Kelud hidup dengan memanfaatkan lahan hutan yang sudah ada sejak zaman dahulu, pengelolaan dan pemanfaatan tidak diganggu oleh kepentingan pihak berwenang sebelum program perhutanan sosial dihadirkan. Program tersebut membawa pada satu harapan bagi petani jika kegiatan pengelolaan lahan bisa dilakukan sesuai aturan hukum yang ada dan itu tertulis dalam program perhutanan sosial. Tujuan utama program perhutanan sosial tiada lain untuk mensejahterakan dan memberikan peran lebih kepada semua penduduk yang ada disekitar hutan guna memanfaatkan segala sumber daya yang ada didalam hutan.

Amanah dari program perhutanan sosial menunjukan jika kesejahteraan masyarakat kecil terutama kaum tani dijamin serta tidak memberatkan pada satu kepentingan dibaliknya. Program tersebut hadir guna menjawab apa yang dipertanyakan kaum tani jika tidak ada pemasukan lebih jika garapan lahan pertanian kosong atau belum musim tanam sehingga hutan menjadi satu alternative petani untuk meraih sumber pangan atau pemenuhan kebutuhan. Melihat hal itu lantas petani sangat mempunyai pengharapan tinggi terkait akan pelaksanaan program akan tetapi masalah baru muncul ketika pihak perhutani selaku implementator tidak melakukan kerja sama dengan petani untuk menggarap hutan serta beberapa kejadian pungli yang dialami oleh petani saat memanfaatkan hutan terjadi. Disinilah letak latar belakang gerakan petani Kelud menggugat yang mana situasi psikologis kaum tani dalam menanggapi program sudah sangat menggairahkan tetapi pada kenyataan mereka justru dihadapkan kepada pemangku kepentingan yang tak kunjung melakukan langkah positif demi kebaikan bersama.

Pengalaman petani yang saat menggarap lahan ditarik pungutan liar oleh pihak tertentu membuat dampak besar terjadi sehingga kolektivitas terjadi akibat dari peristiwa tersebut. Petani lain merasakan sesuatu yang itu berhubungan erat dengan nilai pengharapan untuk mengolah lahan sesuai dengan amanah program tetapi dibalik dari itu ada oknum yang memanfaatkan kondisi serta

(12)

meraih keuntungan dari petani. Tak dipungkiri mengapa gerakan sosial politik bisa dihadirkan oleh petani karena suatu harapan besar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dengan mengolah isi hutan adalah jawaban utama dari susahnya meraih penghasilan. Gurr (1970:27) tuntutan massa diutamakan untuk mewujudkan harapan yang sudah dibangun sejak lama, sehingga apa yang dibawa oleh petani Kelud dalam gerakan bentuk dari penggapaian hak didasarkan atas nilai ekspetasi yang harus didapat dan dipertahankan. Poin ekpetasi didapatkan jelas mengarah pada program perhutanan sosial harus mengarah pada petani dengan dasar hukum yang sudah tertulis serta pihak pelaksana seharusnya tidak memainkan kebijakan yang itu bertujuan kuat memberikan rasa kesejahteraan dan keadilan bagi kelompok petani. Sedangkan nilai yang dipertahankan merupakan bentuk dari penguasaan dan pengelolaan lahan harus tetap dimiliki oleh petani sebab sedari dulu hutan yang menjadi salah satu program perhutanan sosial sudah dikelola dan dijaga oleh petani Kelud dengan demikian pihak perhutani yang secara sengaja tidak mau bekerja sama sampai dengan adanya pungutan membuat petani berjuang bergerak agar program itu tetap berorientasi kepada kepentingan petani dan mempertahankan hak atas pengelolaan hutan secara mandiri.

Nilai kesejahteraan sudah termaktub dalam program perhutanan sosial yang itu didefinisikan Gurr (1970:25) nilai kesejahteraan mencakup aspek perkembangan diri serta kebutuhan akan aspek pendukung lain yang itu merujuk pada nilai ekonomi dan aktualisasi diri. Dalam gerakan petani Kelud yang dibawa nilai ekonomi dan ini tak bisa dianggap sebelah mata sebab hutan yang mengandung banyak sekali sumber daya pangan menjadi salah satu keuntungan besar jika dikelola secara maksimal dengan begitu petani Kelud merasa jika itikad perhutani yang tidak mau bekerja sama membuka terang bahwasanya kepentingan kelompok tertentu siap menghambat perkembangan dan kebutuhan petani Kelud. Apabila menengok lebih jauh pengelolaan hutan oleh petani akan membentuk karakter petani yang lebih mengerti cara mengolah sumber daya baru sebab selama ini mereka menggarap lahan pertanian pada umumnya seperti padi, jagung dan sayur-ssyuran. Akan tetapi menggarap hutan lebih dari itu sehingga memunculkan suatu pengetahuan baru jika petani tidak hanya menggarap lahan terbuka tetapi bisa mengolah hutan untuk mengambil isinya. Jika perhutani kota mau bekerja sama pasti berdampak positif terlebih ditambah lagi dengan adanya pelatihan kepada petani bagaimana cara mengolah hasil

(13)

hutan agar menjadi komoditi yang unggul dan lain sebagainya justru menambah nilai ekonomi bagi petani aktualisasi petani dalam menggarap lahan.

Aktualisasi petani Kelud tidak bisa terealisasi dalam menggarap hutan yang membuat gerakan petani menjadi jawaban atas aktualisasi tersebut. Partisipasi petani Kelud dalam gerakan menunjukan jika harapan tidak dapat diwujudkan sehingga kepuasan psikologis belum terpenuhi. Gerakan petani Kelud mempertegas jika keadaan deprivasi relative menjadi poin utama mengapa gerakan bisa dihadirkan bahkan lebih dari itu peran individu sebagai aktor gerakan yang berinteraksi dengan anggota lain serta kelompok lain mengarah pada pemenuhan nilai status untuk meraih suatu harapan. Gurr (1970:26) status didasari atas standar moril yang itu aktor memegang peran memperjuangkan hak semua masyarakat atau kelompok petani yang itu berakar pada sisi kesamaan komunal serta ideologi yang ada di kelompok masyarakat itu. Gerakan petani Kelud merespon adanya degradasi status oleh pihak berwenang kepada kelompok tani serta ini juga mengembalikan stigma bahwasanya petani yang dianggap kelompok kecil tidak bisa melawan justru saat ini menunjukan eksistensi yang itu didasarkan pada nilai harapan untuk meraih isi program perhutanan sosial dengan mengolah hutan secara terbuka tetapi harus berlawanan dengan realitas jika perhutani menghambat program perhutanan sosial.

Sedangkan menurut Gurr (1970:46-53) kondisi relatif deprivasi bisa memicu gerakan sosial mencakup 3 model yaitu decremental deprivation, aspirasional deprivation dan progressive deprivation. Pengertian decremental deprivasi mengarah pada kondisi dimana harapan individu yang tinggi terhadap sesuatu hal akan tetapi dalam kenyataannya tidak dapat diraih dengan maksimal. Sedangkan aspirasional deprivasi dimaknai sebagai kondisi dimana harapan tinggi dengan kemampuan konstan untuk meraih haknya. Model akhir dari tipe deprivasi relatif yaitu progressif derpivasi dengan melihat harapan terhadap sesuatu yang tinggi diimbangi pula dengan kemampuan yang tinggi pula untuk meraih ekspetasi. Terkhusus gerakan petani Kelud masuk kedalam pengertian decremental deprivasi dimana harapan akan sesuatu yang tinggi tidak dibarengi dengan kesempatan yang tinggi bahkan menurun untuk mewujudkan harapan tersebut. Dalam gerakan petani Kelud jelas mengarah pada sisi harapan tinggi akan mendapat hak melalui program perhutanan sosial tetapi kesempatan itu hilang seketika akibat perlakuan perhutani yang tidak kunjung melakukan teken kerja sama dengan petani terlebih fenomena pungli semakin

(14)

dirasakan oleh petani. Kelompok tani merasa jika program perhutanan sosial tidak mungkin bisa didapat terlebih perhutani merupakan institusi kuat didalam pelaksanaan program tersebut. Gerakan dihadirkan menjadi salah satu puncak frustasi dari kelompok tani yang mana seharusnya hak yang dipenuhi tetapi tidak kunjung didapat oleh karenanya gelombang protes menunjukan jika kelompok tani tidak selamanya diam ketika haknya direnggut oleh kepentingan segelintir orang.

Jalan gerakan dipilih sebab kelompok tani bisa mengambil sisi positif dukungan para pemangku kepentingan ataupun kelompok masyarakat. Aksi dilakukan dengan massif serta jumlah massa banyak membuat bobot tuntutan semakin kuat terlebih aktor gerakan sebagai pemimpin mampu mengartikulasikan kekecewaan dan harapan kelompok tani Kelud. Jika melihat hal ini semakin memantapkan kembali jika keadaan psikologis atas harapan yang tidak terpenuhi membuat petani menggalang gerakan agar semua peristiwa yang merugikan bisa diakhiri serta meralisasikan amanah program perhutanan sosial. Gerakan petani bukan didasari hanya satu orang yang merasakan kejadian tetapi sesame petani ikut terkena imbas dampak program tidak bisa dirasakan. Program perhutanan sosial adalah harapan petani atas kesejahteraan dan kebutuhan ekonominya apabila program tersebut mandek ditengah jalan dapat dipastikan nilai kesejahteraan dan ketahanan ekonomi kelompok tani. Kesejahteraan kelompok tani yang ingin diangkat negara melalui suatu program tidak terjadi sepenuhnya akibat perilaku pemegang kewenangan.

Tuntutan atau protes layak ditujukan kepada perhutani kota Kediri dimana mereka tidak menjalankan tugas dengan semestinya bahkan itikad untuk menjalin Kerjasama pun tidak ada sehingga petani juga merasakan dari adanya ketidak jelasan penerapan program. Petani dirasa tidak akan melakukan perlawanan terhadap apa yang dilakukan oleh pihak perhutani tetapi kenyataan berkata lain petani mampu menggalang massa dan strategi dalam menjalankan gerakan sosial politik menuntut haknya. Perlawanan dengan kekecewaan akan semakin menambah amunisi yang dibawa kelompok tani yang itu dapat mengubah stigma bahwa petani tidak mengerti haknya sehingga gerakan itu hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap keadilan yang tidak dihadirkan saat ini. Gerakan tidak melandasi kekerasan atau kerusuhan sebab tujuan utama pengembalian hak serta lebih mengedepankan kepentingan kelompok tani seutuhnya.

(15)

Teori deprivasi relative Robert Gurr dan Denton Morrison juga menyoroti sejauh mana hubungan kerja sama antara pemimpin gerakan dengan massa pengikutnya. Keadaan psikologi yang dibawa oleh kelompok tani menjadi satu nilai besar didalam perlawanan untuk meraih hak dengan begitu kekuatan nilai tersebut dibangun melalui kolektivitas kelompok. Gurr (1970:24) menyatakan jika nilai kesempatan dari individu untuk mewujudkan harapan akan mempengaruhi kelompoknya dan ini sesuai dengan gerakan petani Kelud dimana terdapat aktor gerakan yang menjadi motor untuk mempengaruhi petani lainya. Untuk menjadi seorang yang berpengaruh dalam kelompok atau gerakan pengetahuan lebih menjadi dominan utama guna selalu mendorong sesama petani agar mau bergerak. Aktor gerakan atau pemimpin melihat jika ada peluang untuk merebut atau menggapai harapan yang telah direnggut sehingga kesempatan bisa terbuka lebar jika ada kolektivitas didalam gerakan petani. Gurr menyatakan jika hal tersebut masuk kedalam peluang sosial dimana interaksi antar petani dalam rangka mencapai tujuan program perhutanan sosial bisa dicapai apabila ada individu memberanikan diri memperjuangkan serta memiliki kekuatan untuk saling bekerja sama dengan petani.

Gerakan petani juga masuk kedalam ranah peluang politik, Gurr (1970:28) gerakan menjadi basis untuk semua individu masuk kedalam partisipan sehingga peluang politik terbuka lebar apabila gerakan diikuti oleh semua petani. Peluang politik dimaknai sebagai pemberi tekanan pada pembuat keputusan atau pemegang kewenangan agar harapan petani meraih kesejahteraan melalui program perhutanan sosial bisa dicapai dan ini tidak lepas dari seberapa besar dukungan massa dan kekuatan argument yang dibangun oleh pimpinan aktor bahkan lebih dari itu pembangunan strategi dalam gerakan penting supaya nilai dan tujuan gerakan dalam satu suara. Gurr (1970:94) memberi penekanan pada efek besar dari pemimpin dalam sebuah gerakan menunjukan tingkat aspirasional sebuah keadaan frustasi bisa diperjuangkan lebih karena adanya sosok figure yang militant dalam gerakan. Pemimpin akan menjadi komando utama untuk Menyusun strategi gerakan dan argument penguat bahwa hak kaum tani lebih diutamakan. Faktor pertama yang penting hubungan pemimpin dan anggota gerakan terletak pada komunikasi. Inilah kunci dari segala hal dimana terjalinya komunikasi dua arah yang baik guna menentukan strategi apa yang sesuai dengan tuntutan bisa direalisasikan secara matang apabila komunikasi lancar. Sebaliknya jika komunikasi itu hanya melibatkan segelintir orang dalam gerakan maka akan timbul miskomunikasi yang berpengaruh kuat pada tujuan gerakan itu sendiri.

(16)

Gerakan petani Kelud juga mempertimbangkan hal tersebut bahwasanya pada saat gerakan ada pemimpin gerakan atau sebagai coordinator aksi yang mana memiliki peran kuat untuk menjalankan komunikasi dalam hubungan kerja sama dengan massa aksi. Kemudian pemimpin harus mampu mengatur jalanya demontrasi yang itu lebih jauh lagi dampaknya terhadap nilai gerakan. Demo yang dilakukan dengan komunikasi yang baik akan menimbulkan hasil yang maksimal pula dengan begitu peluang politik bisa diwujudkan dengan maksimal. Aksi dengan menunjukan aspirasi tidak akan menimbulkan dampak negatif dari aksi gerakan tetapi jika seorang pemimpin tidak mampu berkoordinasi dan komunikasi maka kekerasan kolektif bisa terjadi.

Gurr (1970:161) sosialisasi dalam sebuah gerakan merupakan wujud dari interaksi yang dibangun dalam menanggapi masalah yang merugikan kelompok tani Kelud. Pemimpin mampu mensosialisasikan apa yang menjadi poin tuntutan sehingga itu membangun hubungan kerja sama yang progresif untuk mendapatkan hak kembali. Sosialisasi tersebut ditujukan agar kelompok tani berani menyuarakan suara jika terjadi ketidakasilan didalam penyelenggaran program perhutanan sosial serta lebih memahami jika hak yang selama ini mengarah pada program tidak didapat oleh karena itu perlu untuk diperjuangkan. Pemimpin yang mampu mensosialisasikan akan hal tersebut akan mendapat dukungan penuh dari massa serta kedudukanya sangat penting untuk sebuah gerakan. Pemberian ide strategi gerakan kepada massa akan mengarah ke sisi harapan yang diambil oleh pihak berwenang akan diambil kembali melalui jalan aksi dan peluang politik.

Keefektifan gerakan juga tergantung pada hubungan kerja sama pemimpin dan anggota sebab penggabungan tujuan dan kepentingan tidak sejalan sehingga perlu ditekankan kembali jika gerakan tidak melulu aksi atau demo tetapi apa yang dibawa sebelum gerakan itulah menjadi poin penting seberapa besar gerakan itu mampu mendapatkan hasil yang maksimal. Hubungan kerja sama itu muncul dengan kebersamaan yang dibangun karena memiliki permasalahan yang sama dengan harapan yang sama pula dengan demikian potensi gerakan kolektif dibangun melalui kebersamaan antar individu jadi aktor gerakan mampu dengan pengetahuan dan nilai yang dibawanya untuk selalu memberikan rasa kebersamaan terhadap semua petani atau anggota aksi agar terjadi penyamaan kepentingan dan tujuan. Penekanan pada doktrin tujuan dan nilai gerakan yang dilakukan pemimpin pada anggota akan dibarengi dengan satu bentuk Tindakan kolektif yang agresif serta progresif sebab hal itu sudah dilakukan sebelum gerakan dilakukan dan itu pasti

(17)

melalui sosialisasi dan komunikasi yang dimana untuk membangun kerja sama membangun strategi gerakan (Gurr, 1970:201).

Komunikasi bisa dilakukan melalui perkumpulan ataupun media dan disini yang dicari ialah model komunikasi seperti apa yang dilakukan pemimpin gerakan petani Kelud dalam membangun kerjasa dengan massa aksi. Masyarakat tani kebanyakan lebih mengedepankan unsur langsung dalam berkomunikasi sebab itu merupakan bentuk lokal yang tidak bisa dihapuskan bahkan lebih intens memahami segala bentuk tujuan apa yang akan dicapai dalam gerakan tersebut. Interaksi yang dibangun pemimpin semata-mata untuk penyatuan tujuan gerakan dan tuntutan kepentingan kelompok tani dengan begitu kecakapan dan pemaknaan lebih harus dimiliki oleh pemimpin gerakan agar massa yang menjadi basis kelompok yang tertindas mampu menyuarakan kepentingan petani dalam rangka pengembalian hak atas program perhutanan sosial yang mana didalam poin program terdapat nilai ekonomi yang dibutuhkan oleh petani Kelud selanjutnya kesejahteraan bisa dijamin secara legal formal untuk semua petani menggarap sumber daya yang ada didalam hutan tanpa pertentangan dan pergulatan kepentingan diantara pihak berwenang dan kelompok tani Kelud.

Gerakan sosial bisa terjadi akibat dari pengalaman serta harapan yang tidak bisa direalisasikan atau disebut dengan deprivasi relative. Morrison (1971:684) menyatakan kondisi structural khusus menjadi dorongan terkuat gerakan mobilisasi massa bisa terjadi. Pertama, jumlah individu atau populasi yang dimana mengalami keadaan deprivasi. Kedua, adanya komunikasi dan kedekatan interaksi fisik dari individu yang merasakan keadaan deprivasi. Ketiga, persamaan status didalam massa gerakan akan memunculkan aksi yang kolektif. Keempat, gerakan muncul ketika stratifikasi sosial terbuka dan kelima, terbentuknya kegiatan berkelompok didalam lingkungan masyarakat. Dari kelima poin diatas mengarahkan pada sisi cara memobilisasi massa gerakan sebelum gerakan berlangsung hingga aksi lapangan. Harapan yang sudah terbuka akan meraih program kesejahteraan tidak dapat dimaksimalkan akibat pengaruh pihak berwenang dan itu menampakan jika mobilisasi massa dimulai dari terbentuknya populasi individu yang mengalami keadaan yang sama. Apabila diilustrasikan satu petani akan menceritakan ke petani lain bahwa dirinya mengalami peristiwa pungutan liar dari oknum tidak bertanggung jawab dengan

(18)

begitu cerita tersebut disambut oleh petani penggarap hutan jika dirinya diberlakukan sama sehingga terbentuklah kerumunan petani membicarakan peristiwa yang sama.

Kerumunan yang sudah terbentuk lambat laun akan memunculkan sosok figure yang menjadi aktor gerakan yang mana dirinya menjadi pelopor perlawanan untuk meraih kepentingan kelompok tani. Hadirnya pemimpin gerakan lebih menekankan pada mobilisasi massa dengan cara komunikasi dan interaksi fisik secara intens sesama petani yang merasakan ketidakadilan. Komunikasi dua arah akan mengarahkan pada suatu pergerakan yang aspirasional serta tidak menjurus pada aksi negatif. Inilah langkah awal dari sebuah gerakan bahwasanya mobilisasi massa bisa dilakukan dengan matang jika komunikasi diantara anggota dan aktor gerakan bisa diterapkan. Kemudian interaksi fisik secara terus menerus akan membentuk rasa senasib atas harapan yang tidak kunjung terwujud oleh karenanya pemimpin gerakan memberikan satu pandangan jika kita membentuk sebuah gerakan dan menjalankan aksi demontrasi menuntut akan hak maka peristiwa ini bisa diakhiri dan kelompok tani bisa memanfaatkan program perhutanan sosial secara maksimal.

Poin selanjutnya berkaitan dengan cara memobilisasi massa gerakan membangun peran yang sama dengan melihat status ketertindasan yang dialami bersama. Mobilisasi bisa dilakukan ketika semua kalangan petani mempunyai pandangan jika kita ini mengalami keadaan yang sama sebab tidak bisa memanfaatkan program perhutanan sosial. Apabila persamaan status itu dibawa maka akan timbul rasa jika hal ini harus dilawan bukan malah berdiam diri oleh karenanya peran aktor gerakan sebagai coordinator aksi lebih maksimal ketika berkomunikasi dan berinteraksi sebab ditakutkan masih ada petani yang acuh akan hal tersebut padahal ini menyangkut kepentingan semua kelompok tani. Persamaan itu akan membuat aksi keloktif dengan skala dan tujuan yang kuat sehingga mobilisasi bisa diterapkan sebelum dan pada saat aksi. Selain itu penekanan terdapat pada strata sosial masyarakat yang kaku memunculkan sebuah gerakan, maksud pernyataan ini melihat bahwasanya strata sosial yang tidak heterogen lebih kuat memunculkan aksi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya kelompok petani Kelud hampir rata pendapatan ekonominya sehingga tidak memunculkan perbedaan sehingga jika terjadi masalah akan lebih aktif karena menyangkut kepentingan semua petani.

(19)

Kasus program perhutanan sosial menjadi salah satu contoh jika petani Kelud yang memiliki strata sosial yang kaku tidak heterogen lebih kuat untuk menyuarakan hak bersama sehingga apabila mereka tidak membentuk dan memobilisasi massa maka tidak akan pernah terjadi perubahan didalam pelaksanaan program dan disini letak dari tidak ada kepentingan individu melainkan untuk kebaikan bersama. Poin terakhir mobilisasi massa bisa dilakukan jika ada kegiatan kelompok atau membentuk sebuah asosiasi. Gerakan petani Kelud sudah melakukan hal itu karena aksi dinamai gerakan petani Kelud menggugat sehingga ini jelas jika aksi didasari atas mobilitas dari asosiasi petani Kelud sendiri. Pentingnya membangun asosiasi jelas mengarah pada penerapan startegi gerakan, hubungan antara pimpinan asosiasi dengan anggota serta lebih jauh dari itu menyamakan tujuan dan nilai dari gerakan petani Kelud. Komunikasi dan interaksi tidak hanya berlangsung saat menggarap lahan atau berkerumun tetapi lebih dimantapkan kembali melalui kegiatan asosiasi yang mana menangkap segala usul dan saran terkait gerakan. Terlebih adanya asosiasi lebih mudah mengatur mobilisasi massa gerakan dengan demikian tidak aka nada miskomunikasi antara pemimpin dan anggota. Kelima pernyataan Morrison menunjukan jika mobilisasi massa dapat dilakukan ketika keadaan deprivasi relative dengan mempertimbangkan adanya pemimpin gerakan dalam komunikasi dan interaksi serta tidak ada pembedaan diantara kelompok tani dan terbentuknya asosiasi sebagai wadah kaum tani menyuarakan dan membangun strategi dalam aksi kolektif menuntut program perhutanan sosial.

Selain itu Morrison (1971:677) juga memberikan konsep harapan yang terlegitimasi yang mana itu disebut legitimate expectation. Harapan yang legitimit dimaksudkan dalam artian bahwasanya program perhutanan sosial merupakan harapan dari kelompok tani Kelud dimana poin utama didalam program mengarahkan pada sisi kesejahteraan petani seutuhnya. Jika menengok artian legitimasi berarti diakui secara sah sehingga jelas petani memiliki hak akan berjalanya program perhutanan sosial. Apabila harapan itu terwujud semakin menambah nilai dari kepentingan petani serta dalam pengelolaan lahan hutan tidak ada unsur illegal karena tidak ada dasar hukum. Harapan yang terlegitimasi memang sudah dipunyai oleh kelompok tani karena manah program menyasar pada keadilan dan kesejahteraan petani sehingga jika program perhutanan sosial tidak berjalan dengan semestinya maka harapan itu jauh dari kata terwujud. Untuk itulah perjuangan meraih hak dan harapan terus digelorakan karena memang pada dasarnya program milik kelompok tani dan pihak berwenang hanya sebagai pelaksana serta tidak

(20)

memanfaatkan kondisi yang ada. Masalah mengenai praktek pungutan liar dan kerjasama yang tak kunjung direalisasikan menambah kesan jika harapan itu tidak akan terlaksan.

Apabila melihat hal itu maka ekspetasi yang memang dimiliki oleh petani tidak mampu terealisasi jalan yang dipilih gerakan sebab itu merupakan cara cepat agar kepentingan dan harapan bisa hadir. Selanjutnya Morrison (1971:678) keadaan deprivasi terjadi ketika suatu harapan yang dihambat oleh kepentingan lain atau disebut dengan blocked expectation. Kondisi ini sangat berkorelasi dengan apa yang menjadi latar belakang gerakan petani Kelud menggugat. Hambatan itu berasal dari pihak terkait akan program yaitu perhutani kota sehingga ketidakpuasan muncul dari tidak berjalanya program secara maksimal. Harapan yang sudah dinanti-nanti justru dihambat oleh kepentingan oknum pelaksana dengan begitu lahan hutan yang secara legal dikelola petani tanpa harus mengeluarkan biaya pun tidak terlaksana. Perilaku oknum itulah membuat kelompok tani Kelud membentuk gerakan kolektif dengan dasar nilai harapan atau ekspetasi susah terwujud karena dihambat oleh berbagai masalah dari pihak pemegang kewenangan.

1.6 Kerangka Konsep

1.6.1 Petani

Petani merupakan suatu pekerjaan yang mana dalam arti sempit individu bekerja untuk menggarap lahan dan menghasilkan sumber pangan. Sedangkan secara general petani adalah sekelompok individu yang bekerja mengolah dan memanfaatkan lahan untuk kepentingan diri baik pangan maupun ekonomi. Konsep petani berkorelasi dengan keadaan nyata jika subordinasi selalu dirasakan sehingga program perhutanan sosial yang ditaruh pada posisi harapan bagi petani tidak terealisasi secara maksimal dan ini menambah terpuruknya kondisi kelompok tani. Moore dalam Landsberger (1984:9) menyatakan jika ada 3 makna penting dari definisi petani yaitu kelompok yang tersubordinasi secara legal, adanya aturan hukum structural khusus dan kepemilikan lahan secara de facto. Maksud dari poin pertama yaitu subordinasi legal dilihat dari kondisi yang benar-benar real dilapangan yang mana petani bekerja sesuai apa yang diinginkan oleh pemilik lahan dengan upah yang tidak begitu besar bahkan pekerjaan itu bisa lebih berat terlebih lahan yang digarap lebih luas. Subordinasi dimaknai sebagai kondisi yang dinilai oleh masyarakat awam

(21)

tertindas atau kalangan bawah. Petani ditempatkan di posisi itu karena menengok rata-rata petani tidak memiliki kekayaan bahkan lahan serta pengetahuan yang kurang. Oleh karenanya subordinasi membuat petani semakin terpuruk di lingkungan tertentu bahkan nilai mereka dalam bekerja tidak dihargai lebih oleh pemilik tanah.

Subordinasi legal dimaknai sebagai keadaan yang rendah yang itu diakui oleh semua kalangan dan petani pun juga merasakan hal yang serupa. Kondisi tertekan akan kekuatan ekonomi yang kurang terlebih tidak ada pekerjaan jika kondisi cuaca serta lahan garapan tidak ada. Tekanan yang luar biasa semakin kuat apalagi menengok masyarakat awam tidak menghargai jasa petani dalam menghasilkan bahan pangan. Secara eksplisit petani hanya sebagai buruh kasar yang mana sebagai pembantu untuk mengolah dan memanfaatkan lahan tidak akan pernah dihargai lebih sebab keuntungan pemilik lahan lah yang akan menikmati sedangkan petani hanya memperoleh untung yang tidak banyak. Tenaga kasar yang dimiliki juga ditambah lagi saat ini maraknya teknologi untuk mempercepat pengelolaan lahan membuat peran petani semakin berkurang. Maka dari itu Moore menekankan jika subordinasi legal dibebankan pada kaum petani yang itu tidak bisa dielakan atau ditampik karena pada dasarnya petani tidak mempunyai sumber kekayaan lebih serta ditaruh pada posisi pembantu untuk menggarap lahan.

Poin kedua aturan hukum yang structural dimaksudkan dalam artian pemilik lahan memegang kendali lebih atas pekerjaan petani dengan demikian aturan yang dibuat secara khusus oleh pemilik lahan akan menekan para petani. Tidak pernah ada petani yang melawan pemilik lahan karena jika melawan jelas merugikan petani itu sendiri yang mana mereka kehilangan mata pencaharian dan lain sebagainya. Kita ketahui bersama, sangat jarang melihat petani yang memiliki lahan sendiri sehingga ketergantungan akan menggarap lahan orang lain menjadi prioritas utama sehingga mau tidak mau aturan structural dihadirkan agar petani mau menggarap sesuai dengan apa yang diinginkan pemilik lahan. Aturan itu dibuat atas hubungan pemilik lahan dan pekerja jadi secara khusus petani tidak memiliki suara bulat untuk mempengaruhi isi dari aturan yang ada. Petani menggarap lahan dari pagi hingga siang hari digaji dengan tidak seberapa menunjukan jika aturan yang ada tidak setimpal sehingga kembali lagi pada kondisi structural yang menempatkan petani pada kelompok yang tersubordinasi oleh lingkungan dan status ekonomi.

(22)

Aturan yang dibuat jelas menekankan pada posisi pemilik dan pesuruh dengan begitu tetap menaruh petani pada sisi subordinasi.

Poin ketiga menyangkut status kepemilikan de facto secara fakta lahan yang digarap oleh petani milik tuan tanah. Apabila kita menengok lebih jauh lagi maka kepemilikan lahan hampir sebagian besar tidak dimiliki petani penggarap dengan demikian tidak ada yang diunggulkan dari kaum tani melainkan mereka hanya dipekerjakan sesuai kemauan pemilik lahan. Kemungkinan kecil ada petani yang memiliki lahan tetapi dengan skala kecil sebab banyak pemangku kepentingan desa yang memiliki lahan untuk keperluan pribadi. Bisa diibaratkan petani mendapatkan keuntungan pribadi pasca panen sebab lahan sudah tidak bisa ditumbuhi lagi menunggu pergantian musim dengan begitu pemilik lahan akan memberikan sedikit kelonggaran pada petani penggarap untuk menanam di lahan yang kosong. Akan tetapi sekali lagi fakta menunjukan jika petani hanya sebagai penggarap bukan pemilik sehingga mereka tidak mendapat keuntungan lebih bahkan mereka dibayar dengan tidak semestinya. Banyak orang mengira jika petani adalah kelompok masyarakat yang kaya karena memiliki lahan tanah luas tetapi kenyataan berbicara lain sebab mayoritas petani tidak mempunyai lahan dan mereka diperkejakan dilahan milik orang lain untuk keuntungan pemilik lahan dan memenuhi kebutuhan pasar.

Menurut Wolf dalam Landsberger (1984:10) petani merupakan sekelompok masyarakat yang menunjukan eksistensi melalui kegiatan bercocok tanam yang mana petani sebagai penggarap lahan menjalin hubungan kerjasama dengan pemilik lahan untuk mengolah lahan yang ada. Pernyataan ini berbeda dengan Moore dimana peran dari petani untuk mengelola lahan ataupun memanfaatkan lahan bisa berjalan maksimal melalui hubungan timbal balik positif dengan pemilik lahan. Sisi tuan tanah membutuhkan tenaga petani untuk menggarap tanah yang ada membuat aturan mengenai pengelolaan hingga upah dibicarakan secara khusus dengan petani sebab jika masih sepihak maka dikhawatirkan petani tidak menggarap lahan dengan baik. Disinilah letak eksistensi petani yang sebenarnya tidak tersubordinasi secara menyeluruh tetapi peran mereka sangat penting untuk menghasilkan sumber pangan yang mumpuni. Dengan begitu pemilik tanah melihat jika harus memberi insentif kepada petani penggarap agar lahannya tumbuh subur setelah dikelola petani.

(23)

Kita tidak bisa memungkiri jika struktur sosial sangat menaruh petani di kalangan bawah sehingga perlakuan terhadap kaum tani pun seakan tidak baik. Kasus seperti program perhutanan sosial ini yang mana masih ada oknum menganggap petani tidak memiliki daya kekuatan untuk melawan sehingga penghambatan program terus dilakukan. Disisi lain petani saat ini sudah mulai melek akan hak dan tidak ingin ditaruh pada posisi bawah atas dasar itu petani mulai bergerak untuk mengambil haknya kembali. Dalam masalah pengelolaan lahan hutan sendiri petani justru lebih bebas dari kekangan atau aturan pemilik lahan bahkan program perhutanan sosial membuat petani bebas dan legal mengambil sumber pangan didalam hutan. Selanjutnya Landsberger (1984:22) mengemukakan bahwasanya yang membuat petani tersubordinasi terdapat 3 poin penting yakni inkonsistensi status, kedudukan yang tidak menguntungkan dan kemerosotan status akibat masalah masa lalu dan masa sekarang.

Makna dari inkosistensi status dimana petani yang notabenya kaya pun bisa menjadi kaum tani yang rendah akibat dari persaingan kepemilikan lahan yang tinggi di lingkungannya. Hal ini pun berpengaruh pada sisi status ekonomi petani tidak melulu kaya. Sebaliknya Adapun petani yang beranjak dari bawah kemudian menjadi salah satu petani kaya tidak akan bertahan lama karena sisi pengetahuan mengenai pengelolaan lahan yang baik belum bisa tercukupi karena membutuhkan analisis dan memperkerjakan petani lain sehingga pemasukan pun tidak akan selamanya tinggi. Disini dapat dilihat jika status yang ada akan cepat berubah karena berbagai macam faktor baik secara internal yang tidak mampu mengolah dengan baik ataupun eksternal yang mana menggaet petani lain serta pasar pun memainkan harga bahan pangan. Poin kedua yaitu kedudukan yang tidak menguntungkan jelas bahwasanya petani selama ini tidak diberi kesejahteraan, mereka berusaha mandiri untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Perlakuan buruk pemilik tanah kepada petani sering kali membuat kaum tani merasa jika kerja yang dilakukan tetap saja salah padahal itu sudah benar. Kedudukan yang ditempatkan di kelas bawah membuat kaum tani tidak bisa melawan jika ada sesuatu yang menekanya justru mereka lebih menerima keadaan itu karena memang sudah terkontruksi sejak lama. Banyak petani masih berpikiran bahwasanya dirinya adalah pembantu sehingga jika disuruh apapun harus menuruti bahkan dengan upah yang sedikit. Inilah yang membuat kedudukan itu semakin laten tidak bisa diberangus oleh keberanian kaum tani, ketergantungan penghasilan kepada lahan orang lain semakin menambah jatuh kedudukan petani.

(24)

Kemerosotan status dari tempo dulu hingga saat ini menjadikan petani semakin jauh untuk mendapatkan haknya. Perbaikan nasib petani sampai detik ini masih terbilang minim dengan demikian tidak ada perubahan siginifikan atas status kaum tani ini sendiri. Petani sendiri mengupayakan sedemikan rupa untuk memperbaiki status tetapi pada dasarnya mereka tidak memiliki lahan untuk dikelola secara mandiri dengan begitu masih kuat pengaruh pemilik tanah didalam pemenuha kebutuhan ekonomi petani desa. Disisi lain negara belum hadir secara maksimal untuk mengubah status petani dengan lebih baik lagi sebab program yang dicanangkan pun tidak terealisasi dengan sempurna akibat perilaku oknum yang tidak bertanggung jawab.apakah negara mengetahui akan hal itu mesti semuanya ditutupi sehingga tidak akan pernah ada bentuk kesejahteraan akan nasib dan status petani jika pihak berwenang belum jujur melaksanakan program untuk membangun keadaan petani lebih baik lagi. Dengan demikian status tempo dulu dan sekarang tidak jauh berbeda tetapi saat ini lebih menyakitkan kaum tani dimana pemegang kewenangan tidak memihak petani justru mementingkan kepentinganya sendiri.

1.6.2 Gerakan Petani

Gerakan petani sudah ada sejak masa dahulu tepatnya abad 19 yang mana disebabkan oleh sistem feodal yang masih menancap kuat akan tetapi seiring berjalanya waktu lawan petani tidak hanya tuan tanah tetapi program negara yang dijalankan pihak berwenang dengan kecenderungan tidak mengarah pada pengangkatan nilai kesejahteraan membuat petani semakin di bawah dominasi para elit. Gerakan petani dihadirkan atas dasar kondisi deprivasi atas sesuatu yang tidak didapatkan dalam kasus ini ialah program perhutanan sosial. Ada empat dimensi didalam gerakan petani sebagai berikut, pertama tingkat kesadaran semua individu yang merasakan keadaan tertindas untuk memperjuangkan haknya. Kedua, terdapat pergerakan tindakan kolektif yang bisa dilakukan secara massif oleh kaum tani. Ketiga, gerakan yang dilakukan mampu mencapai sasaran dan tujuan yang dituju. Dan keempat adanya reaksi positif pasca gerakan dengan melihat keberhasilan meraih kepentingan (Landsberger, 1984:24-25). Dari empat dimensi diatas dapat dijelaskan satu persatu yang mana tingkat kesadaran dalam melihat satu permasalahan yang itu akan berdampak lebih terhadap keberlangsungan petani. Menengok suatu hal yang itu akan dibawa pada tingkat aksi kolektif secara menyeluruh dengan demikian kesadaran akan pentingnya membaca situasi membawa kaum tani terbebas dari adanya tekanan para elit. Kemudian

(25)

kolektifitas aksi harus dipersiapkan sebelum gerakan mulai diaplikasikan dengan begitu penyatuan strategi dan tujuan petani akan berdampak positif pada kolektifitas secara maksimal dan itu berpengaruh pada poin tuntutan yang diajukan.

Pembangunan strategi kolektifitas aksi melibatkan keseluruhan partisipan dengan itu dukungan politik akan semakin menguat. Poin selanjutnya orientasi gerakan dan penguatan sisi kolektifitas massa, tuntutan dengan bentuk tulisan ataupun argumen lisan akan dihadirkan pada orientasi utama kepentingan kaum tani sebab gerakan ini menunjukan sisi advokasi dengan mendorong agar pemangku kewenangan lebih mementingkan petani ketimbang kelompok tertentu. Keberanian menyuarakan hak akan berpengaruh pada nilai kebaikan bersama yang dibawa dalam aksi kelompom tani dengan begitu tujuan utama gerakan perlahan akan mulai terwujud dan itu tidak menghasilkan dampak negarif untuk kelompok petani Kelud sendiri. Poin terakhir ialah status sosial rendah menjadi basis dasar gerakan petani, penjelasan perihal pernyataan iitu menunjukan bahwasanya rendahnya status sosial membuat petani selalu dianggap pembantu dan tidak memiliki hak atas tanah atau pemanfaatan lahan hutan. Ini sudah menyinggung jika petani adalah individu atau kelompok yang tersubordinasi atas kepemilikan tanah atau pengolahan lahan. Gerakan sosial mayoritas dimulai dari latar belakang rendahnya status sosial yang itu diakibatkan pembangunan sistem atau kebijakan tidak berpihak kepada kalangan miskin. Istilah dominasi sudah dirasakan kaum tani sehingga apa yang diterima selama ini menjadi satu potensi kuat jika hal tersebut segera dirubah dengan jalan gerakan melawan atas perlakuan itu dihadirkan. Gerakan yang dilakukan tidak bisa menghalangi oleh sebuah peraturan tertentu sebab itu sudah masuk pada ranah demokrasi masyarakat sipil, gerakan petani membuktikan jika negara masih belum serius memperhatikan kaum kecil dan itu memancing reaksi perlawanan kuat dibaliknya. Untuk itulah status rendah yang selama ini disematkan membawa kaum tani berani bergerak menuntut haknya kembali.

Ada beberapa unsur kejadian yang mendorong gerakan petani muncul dalam rangka mengambil kepentingan dan haknya. Adanya kejadian jangka pendek membuat gerakan itu mulai dimunculkan, dalam kasus program perhutanan sosial yang ada di gunung Kelud sendiri kejadian jangka pendek dipicu oleh pungutan oleh oknum tidak bertanggung jawab atas program itu kepada petani. Dari masalah itu semakin menyakinkan kembali jika terjadi sebuah permainan antara pihak

(26)

berwenang dibalik program perhutanan sosial. Poin selanjutnya perubahan pada lingkup sosial petani disebabkan oleh kepentingan elit yang mendominasi atas program mulai didobrak oleh kaum tani yang itu didasari bahwa status sosial tetap jatuh karena pelaksanaan program belum terealisasi dengan baik. Perubahan atas gerakan ingin diwujudkan oleh petani dengan melihat jika kelompok elit pemegang kewenangan tidak mementingkan kesejahteraan petani serta petani sudah kecewa terhadap kesungguhan komitmen atas program perhutanan sosial. Sedangkan perubahan sosial ekonomi ini ditinjau dari segi materi dimana keuntungan tidak bisa diraih oleh tani akibat program perhutanan tidak berjalan maksimal. Pengelolaan tanah secara legal dan transparan pasti berdampak pada peningkatan ekonomi petani sendiri. Terhambatnya program pasti membuat ekonomi petani akan turun dan ditambah lagi jika terjadi praktek pungli sangat merugikan untuk kaum tani sendiri. Perubahan sosial merupakan salah satu gejala yang dimulai dari pengamatan subjektif, hal itu akan dikontruksi secara objektif jika masalah itu menyangkut kepentingan banyak orang. Gerakan membutuhkan jumlah massa yang banyak sehingga dalam gerakan petani Kelud sudah memenuhi itu dan objektifitas dalam menilai suatu hal mulai disinergikan agar pembentukan strategi gerakan dapat berdampak agresif.

Selanjutnya sasaran dan ideologi gerakan menyangkut indikator penting dimana sejauh mana daya jelajah gerakan itu akan berjalan. Daya jelajah akan menyangkut pada esensi nilai gerakan petani baik untuk mempengaruhi petani lain guna ikut gerakan tetapi kemampuan memperluas tujuan sampai pada titik keberhasilan sebagai ending dari perjuangan gerakan. Sasaran utama gerakan jelas pihak terkait yang menentukan arah dan proses dalam pelaksanaan program, petani melihat jika pihak perhutani kota tidak menjalankan tugas seperti apa yang sudah diberikan oleh pemerintah pusat sehingga ini membuat petani gerah akibat perilaku beberapa oknum yang masih menjalankan kerja dengan tidak profesional. Sasaran lain mengarah kepada pimpinan daerah karena pelaksanaan program harus melalui perijinan pemimpin politik daerah oleh sebab itu penyelesaian konflik kepentingan sesegera mungkin diatasi dengan melibatkan pimpinan daerah guna menemukan jalan tengahnya. Adanya gerakan mengedepankan meraih keuntungan pasca aksi dilakukan, dalam kasus gerakan petani Kelud jelas yang diuntungkan apabila tuntutan berhasil mempengaruhi dan merombak keputusan pada pemangku kepentingan adalah kaum tani. Mengapa demikian karena secara langsung berdampak banyak pada sektor pertanian dan pengelolaan hutan. Petani mampu melihat dan memanfaatkan ruang publik untuk

(27)

melaksanakan aksi tuntutan dengan begitu pembentukan strategi gerakan lebih terbuka, teroganisir dan sistematis. Peran organisasi dan pemimpin sangat vital dalam sebuah gerakan guna menentukan metode jalannya aksi massa.

Gerakan petani pada masa sekarang ini lebih mengarah pada gerakan pengembalian hak petani atas tanah yang sudah digarap atau dimiliki. Kasus gerakan petani India dan Pakistan pada era 1960 menunjukan jika kepemilikan tanah menjadi pemicu latar belakang terjadinya sebuah gerakan petani muncul (Alexandrov, 1984:108). Kepemilikan tanah oleh tuan tanah membuat sistem feodal menjadi legitimasi lebih untuk membuat petani kehilangan atas haknya dengan begitu muncul suatu perlawanan hadir dimana gerakan petani ditujukan agar pemilik tanah tidak semena-mena dalam memperkejakan petani serta memiliki lahan yang seharusnya dibagi dengan petani penggarap dengan begitu terjadi kesimbangan dalam pengelolaan dan kepemilikan lahan. Gerakan tidak hanya aksi turun lapangan tetapi juga melibatkan segala unsur yang mendukung kepentingan perjuangan kaum tani karena tanpa startegi dan dukungan maka gerakan itu tidak mampu mengubah tatanan sistem lama. Kepemilikan tanah yang dikembalikan pada petani membuat status sosial kaum tani lebih bermartabat terlebih negara mengambil peran lebih dalam upaya meningkatkan produktivitas hasil pertanian melalui berbagai kebijakan. Konteks gerakan petani Kelud sesuai yang pada intinya lahan itu dikelola dan dimiliki kaum tani sehingga meminimalisir kecurangan pelaksanaan program perihal pengelolaan dan pemanfaatan lahan baik area persawahan maupun hutan.

1.7 Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan seperangkat prosedur yang digunakan dalam memotret atau memahami suatu fenomena sosial yang ada di masyarakat dimana mencakup proses pengambilan data serta informasi yang berhubungan dengan topik penelitian Gerakan Petani Kelud dalam mendorong program Perhutanan Sosial. Peran metode sangat penting dalam penelitian karena memberikan satu dorongan kepada peneliti untuk memfokuskan arah penelitian sesuai pokok masalah. Dalam kasus gerakan petani Kelud ini peneliti memfokuskan pada faktor pemicu yang menjadi latar belakang gerakan tersebut dihadirkan oleh kelompok petani Kelud.

(28)

1.7.1 Fokus Penelitian

Penelitian ini memfokuskan pada sisi motif pemicu utama yang menjadi latar belakang terbentuknya gerakan petani Kelud menggugat. Kelompok tani Kelud merasakan bahwasanya apa yang diharapkan dari adanya program perhutanan sosial tidak didapatkan justru berbanding terbalik dengan perlakuan para oknum yang memanfaatkan hadirnya program tersebut. Keadaan yang kecewa karena harapan tidak sesuai kenyataan membuat petani Kelud merasa tersubordinasi bahkan keadilan tidak dirasakan sepenuhnya oleh kaum tani Kelud. Program perhutanan sosial menjamin adanya nilai kesejahteraan kelompok tani yang itu ditunjukan dengan pengelolaan sumber daya hutan untuk kepentingan kaum tani. Masalah pungutan liar serta kerja sama antara pihak perhutani kota dengan petani tidak kunjung direalisasikan menambah kesan jika pihak berwenang tidak ingin membantu kondisi ekonomi kaum tani. Dengan demikian peneliti mengambil fokus pada motif pemicu yang mendorong gerakan petani Kelud dalam mendorong program perhutanan sosial.

1.7.2 Tipe Penelitian

Dalam penelitian Gerakan Petani Kelud Dalam Mendorong Program Perhutanan Sosial, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Denzin dan Lincoln dalam Lexy (2017:5) menyatakan penelitian kualitatif menekankan pada penggunaan latar belakang alamiah yang itu ditujukan untuk menafsirkan suatu fenomena yang telah terjadi. Sedangkan menurut Lexy (2017:5) penelitian kualitatif merupakan penelitian dengan memanfaatkan wawancara terbuka sebagai alat untuk mengetahui dan memahami sikap, perasaan, dan perilaku seseorang atau kelompok masyarakat yang menjadi pelaku suatu fenomena. Definisi lain dikemukakan oleh sugiyono (2016:1) metode penelitian kualitatif adalah suatu metode yang diterapkan oleh peneliti untuk memaknai suatu kondisi yang mana peneliti diposisikan sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data gabungan, analisis data secara induktif dan hasil penelitian berupa makna. Dari beberapa pengertian diatas menunjukan bahwasanya penelitian kualitatif deskriptif memberi penekanan terhadap pemahaman mengenai peristiwa yang akan diteliti sehingga mampu secara detail menggaet data dari narasumber baik melalui wawancara atau pengamatan langsung perihal fenomena yang terjadi.

(29)

1.7.3 Subyek Penelitian

Subyek penelitian diartikan sebagai pihak yang menjadi informan atau narasumber guna digali perihal informasi terkait gerakan petani Kelud sendiri. Subjek penelitian diasosiakan sebagai individu yang memiliki pengaruh dan pemahaman lebih perihal gerakan petani Kelud menggugat. Dengan begitu data yang diperoleh mampu secara komperhensif karena mencakip dari beberapa perspektif yang ada untuk itulah pentingnya akses informasi dari subjek penelitian. Adapun beberapa subjek yang akan dijadikan informan antara lain sebagai berikut

1. Kepala desa Asmorobangun (Bapak Sunardi)

Kepala desa mewakili sisi dari aparatur atau perangkat desa yang mana mengetahui dan memiliki peran lebih didalam gerakan petani Kelud menggugat. Mengapa demikian karena awal pergerakan dimulai dari kelompok tani desa Asmorobangun sehingga hal itu menunjukan jika kepala desa memahami apa yang menjadi latar belakang gerakan itu dimunculkan oleh kelompok tani desa Asmorobangun.

2. Admin DPW Gema PS Indonesia Jawa Timur (Iman Hamdani)

Admin DPW Gema PS memegang peranan penting yaitu sebagai coordinator sekaligus pendamping aksi yang dilakukan didepan kantor perhutani kota Kediri. Selain itu informasi lain bisa didapat mengenai hubungan pimpinan gerakan dan anggota serta mobilisasi massa bisa diketahui lebih dalam melalui wawancara dengan admin DPW Gema Perhutanan Sosial.

3. Ketua Perkumpulan Kelompok Tani Hutan Danar Kelud (Bapak Budiono)

Mobilisasi massa dari tingkatan kelompok tani desa dilakukan oleh ketua PKTH yang mana itu ditujukan untuk menyatukan strategi gerakan dan poin tuntutan sehingga jalannya aksi lebih bersinergi dan kepentingan bersama menjadi tujuan akhir gerakan. Ketua PKTH menggaet semua usulan yang diutarakan kaum tani dengan demikian pembangunan argumentasi tuntutan mampu mendorong arah program perhutanan sosial sesuai dengan tujuan mengangkat kesejahteraan kelompok tani.

4. Petani pengola lahan hutan (Bapak Arik)

Petani sebagai subjek utama didalam gerakan yang membawa rasa kecewa dengan harapan yang tidak kunjung diwujudkan terlebih masalah pungutan liar dan kerjasama

(30)

pengelolaan hutan belum dihadirkan menambah kesan jika hal tersebut perlu untuk diperjuangkan demi kesejhateraan kelompok tani Kelud. Petani menjadi korban langsung dari adanya praktek kotor dengan begitu awal pergerakan dimulai dari segelintir petani kemudian menjadi suatu gejala kolektif yang dirasakan oleh semua kelompok tani sebab program perhutanan sosial tidak mengarah pada kepentingan petani.

1.7.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam metode penelitian kualitatif mencakup tiga model teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan studi Pustaka. Peneliti menggunakan dua model teknik pengumpulan data yakni wawancara dan studi Pustaka yang mana data primer didapatkan melalui teknik wawancara sedangkan data sekunder diperoleh dari studi Pustaka.

1. Wawancara merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang menekankan pada sisi penggalian data secara detail dari informan yang telah dipilih sebagai subjek penelitian. Wawancara dengan model semi struktur lebih membebaskan informan untuk memberikan pandangan terkait masalah yang diketahui dan dipahami. Dengan demikian wawancara yang terbuka mampu memperoleh data mentah yang nanti akan dimaknai sebagai informasi penting untuk menjawab persoalan penelitian.

2. Observasi merupakan salah satu cara untuk memahami kondisi langsung yang ada di lapangan sehingga peneliti mampu menggambarkan fenomena yang melatarbelakangi adanya gerakan petani serta perilaku petani Kelud sendiri.

3. Studi Pustaka merupakan teknik pengumpulan data melalui sumber dokumen yang mendukung data primer sehingga studi Pustaka sering disebut juga sebgai data sekunder karena bertujuan untuk melengkapi data yang sudah ada sebelumnya.

1.7.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis data kualitatif model Miles and Huberman dalam Sugiyono (2016:91). Tahapan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi menjadi pedoman untuk memaknai lebih data yang sudah diperoleh saat dilapangan. Reduksi data memiliki makna merangkum sehingga data yang sudah terkumpul banyak perlu

(31)

untuk dirincikan kembali mana yang sesuai dengan pertanyaan penelitian atau tidak dengan begitu tidak ada salah tafsir perihal pernyataan dari informan. Reduksi bertujuan untuk tetap memfokuskan pada sisi pertanyaan utama sebab komperhensifitas tetap diperlukan agar tidak terjadi perluasan makna dari data. Kemudian tahapan kedua penyajian data, data yang sudah dirangkum disajikan dengan bentuk grafik maupun tabel untuk memudahkan pemaknaan dari sebuah data terlebih metode analisis kualitatif menekankan pada sisi tekstual naratif yang itu menunjukan pemaknaan lebih terhadap data dari informan sampai pada akhirnya disajikan dalam bentuk informasi. Tahapan ketiga yaitu kesimpulan dan verifikasi, kesimpulan masih dianggap sementara apabila belum menemukan bukti valid terkait pertanyaan penelitian yang diajukan sedangkan kesimpulan bisa disebut valid dan kredibel apabila sudah mencakup bukti kesesuaian dengan pertanyaan penelitian. Adapun kesimpulan menunjukan sesuatu yang baru setelah dilakukan penelitian di lapangan selain itu hasil dari penyajian data bisa dijadikan kesimpulan yang kredibel ketika sudah menjawab semua pertanyaan penelitian.

Gambar

Gambar 1. data statistik Perhutanan Sosial

Referensi

Dokumen terkait

1. Adanya perasaan senang terhadap belajar. Adanya keinginan yang tinggi terhadap penguasaan dan keterlibatan dengan kegiatan belajar. Adanya perasaan tertarik yang

KAITAN GLASGOW COMA SCORE AWAL DAN JARAK WAKTU SETELAH CEDERA KEPALA SAMPAI DILAKUKAN OPERASI PADA PASIEN PERDARAHAN SUBDURAL AKUT DENGAN GLASGOW OUTCOME SCALE.. PENELITI

Dengan hasil penelitian ini dapat dilihat keakuratan diagnostik potong beku, sitologi imprint intraoperasi, dan gambaran USG pada pasien dengan diagnosa tumor ovarium untuk

Atas dasar penelitian dan pemeriksaan secara seksama terhadap berkas yang diterima Mahkamah Pelayaran dalam Berita Acara Pemeriksaan Pendahuluan (BAPP),

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, sumber segala kebenaran, sang kekasih tercinta yang tidak terbatas pencahayaan cinta-Nya bagi hamba-Nya, Allah Subhana Wata‟ala

Pemodelan penyelesaian permasalahan penjadwalan ujian Program Studi S1 Sistem Mayor-Minor IPB menggunakan ASP efektif dan efisien untuk data per fakultas dengan mata

Sebagai tambahan, Anda akan membuat sebuah ObjectDataSource yang berparameter sehingga dapat melewatkan item yang yang terpilih pada DropDownList ke data komponen untuk

Pendekatan dapat diartikan sebagai metode ilmiah yang memberikan tekanan utama pada penjelasan konsep dasar yang kemudian dipergunakan sebagai sarana