ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN PADA TOKOH DALAM FILM LITTLE BIG MASTER (TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA)
《可爱的你》电影对社会教育人物分析
《Kě'ài de nǐ》 diànyǐng duì shèhuì jiàoyù rénwù fēnxī
SKRIPSI
OLEH:
SITI AFTA RUKMANA 130710002
PROGRAM STUDI SASTRA CINA FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
PERTANYAAN ORISINALITAS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak dapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Januari 2019
Siti Afta Rukmana 130710002
LEMBAR PENGESAHANSIDANG SKRIPSI
Nama :SitiAftaRukmana Nim : 130710002
Judul : Analisis nilai-nilai pendidikan padatokoh dalam film Little Big Master (Tinjauan Sosiologi Sastra)
Telahmemenuhisyaratdandisetujuiuntukmelaksanakansidang skripsi.
Medan, Januari 2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT, atas berkah, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang diberi judul Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Pada Film Little Big Master : Kajian Sosiologi Sastra. Skripsi ini ditulis dengan tujuan untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peran dan bantuan berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, semangat, bimbingan, dan sumbang saran.Oleh karena itu pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Ucapan terima kasih ini penulis tujukan kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, MS selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Mhd. Pujiono, M.Hum., Ph.D, selaku Ketua Program Studi Sastra Cina, Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Niza Ayuningtyas, S.S., MTCSOL, selaku Sekertaris Program Studi Sastra Cina, Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Diah Rahayu Pratama, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing I yang telah dengan sabar membimbing, memeriksa, memotivasi, mendorong, dan memberi masukan kepada penulis selama berlangsungnya proses penyusunan skripsi ini hingga dapat diselesaikan.
5. Bapak T. Kasa Rullah Adha, S.S., MTCSOL, selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan,
masukan dan kritikan yang membangun kepada penulis selama berlangsungnya proses penyusunan skripsi ini.
6. Seluruh dosen dan staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya khususnya Program Studi Sastra Cina, Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmu kepada penulis selama diperkuliahan.
7. Teristimewa untuk ayahanda tercinta Ir. Afdal Subhan dan ibunda tercinta Tati Herawati yang telah memberikan dorongan moral, material, motivasi, semangat dan doa yang tiada henti-hentinya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.Kakak Liqqa Muqita Supriadi, S.Ked dan juga adik Dwi Afta Sakina dan Nashwa Afta Aulia.
Dengan segala kerendahan hati penulis menyatakan bahwa skripsi yang penulis sajikan ini sangat jauh dari sempurna karena masih terdapat kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata, sekali lagi penulis mengucapakan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu. Demikianlah ucapan terima kasih ini penulis sampaikan, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan rahmat-Nya kepada kita semua.
Dan penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Januari2019 Penulis
Siti Afta Rukmana NIM 130710002
ABSTRAK
Karya sastra merupakan cerminan kehidupan manusia. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia dapat diungkapkan melalui karya sastra.Sebuah karya sastra biasanya berisi pesan moral yang dapat berupa nilai-nilai kehidupan, salah satunya nilai pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai- nilai pendidikan dalam film Little Big Master dan apa saja manfaat dari nilai-nilai pendidikan tersebut untuk penyelesaian masalahnya. Landasan teori yang digunakan adalah teori sosiologi sastra. Sumber data pada penelitian ini adalah film Little Big Mater yang disutradarai oleh Adrian Kwan, yang dirilis pada 19Maret2015. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan kemudian dilanjutkan dengan teknik simak dan catat.Sedangkan metode analisis data dilakukan dengan teknik analisis Miles Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data dan verivikasi.
Penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemahaman tentang nilai-nilai yang terkandung pada film Little Big Master serta memberi pemahaman tentang teori sosiologi sastra pada pembaca.Bedasarkan temuan penelitian pada film Little Big Master ini, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan dapat dibagi menjadi empat bentuk yaitu nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial, nilai pendidikan budaya dan nilai pendidikan religius. Semua nilai ini memiliki manfaat besar bagi penyelesaian masalah yang dihadapi penduduk yang ingin menyelamatkan sekolah yang saat itu ingin ditutup oleh pemerintah karena tidak adanya murid disekolah.
Kata Kunci: nilai-nilai, pendidikan, sosiologi sastra, film.
ABSTRACT
Literary works are a reflection of human life. Various events that occur in human life can be expressed through literary works. A literary work usually contains a moral message that can be in the form of life values, one of which is the value of education.
This study aims to describe the values of education in the Little Big Master film and what are the benefits of these educational values to solve the problem. The theoretical basis used is the theory of sociology of literature. The data source in this study was the Little Big Mater film directed by Adrian Kwan, which was released on March 19, 2015. The data collection method used was library research then continued with the technique of referring and noting. While the method of data analysis is done by Miles Huberman analysis technique, namely data reduction, data presentation and verification. This research can contribute to an understanding of the values contained in the film Little Big Master and provide an understanding of the theory of sociology of literature to the reader. Based on the research findings in the film Little Big Master, it can be concluded that the values of education can be divided into four forms, namely the value of moral education, the value of social education, the value of cultural education and the value of religious education. All of these values have great benefits for solving problems faced by residents who want to save the school that at that time wanted to be closed by the government because of the absence of students at school.
Keywords: values, education, literary sociology, film.
DAFTAR ISI
LEMBAR ORISINALITAS ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Batasan Masalah ... 7
1.4 Tujuan Penelitian ... 8
1.5 Manfaat Penelitian ... 8
1.5.1 Manfaat Teoritis ... 8
1.5.2 Manfaat Praktis ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Konsep ... 9
2.1.1 Film ... 9
2.2 Landasan Teori ... 11
2.2.1 Naratif ... 12
2.2.1.1 Tokoh/Karakter ... 14
2.2.1.2 Tema ... 15
2.2.1.3 Konflik ... 15
2.2.1.4 Lokasi ... 15
2.2.1.5 Durasi ... 15
2.2.2 Nilai Pendidikan ... 15
2.2.2.1 Nilai Pendidikan Moral ... 18
2.2.2.2 Nilai Pendidikan Sosial ... 19
2.3 Tinjauan Pustaka ... 20
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
3.1 Metode Penelitian ... 23
3.2 Data dan Sumber Data ... 24
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 24
3.4 Metode Analisis Data ... 25
BAB IV PEMBAHASAN ... 27
4.1 Nilai Pendidikan Moral ... 27
4.1.1 Kerja Keras... 27
4.1.2 Berhati-hati ... 29
4.1.3 Bertanggung Jawab ... 35
4.1.4 Pantang Menyerah dan Bersungguh-sungguh ... 40
4.2 Nilai Pendidikan Sosial ... 41
4.2.1 Peduli kepada sesama khususnya terhadap anak-anak ... 42
4.2.2 Kerja Sama dan Saling Membantu ... 43
4.2.3 Menerima orang lain dengan baik meskipun belum dikenal sebelumnya 44 4.2.4 Pandai bergaul dan mudah beradaptasi dengan orang-orang sekitar ... 45
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 47
5.1 Kesimpulan ... 47
5.2 Saran ... 47 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Judul yang akan diambil oleh peneliti adalah Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Sosial pada Film Little Big Master (Kajian Sosiologi Sastra). Hal yang akandibahaspada film ini merupakan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam film tersebut terutama tentang nilai-nilai pendidikan didalam film tersebut.
Hakikat karya sastra mempunyai misi tertentu yang menyangkut persoalan hidup manusia. Demikian juga film menceritakan kehidupan dalam masyarakat seperti masalah sosial yang tercakup didalamnya masalah agama, adat istiadat, pendidikan, ekonomi, politik, dan lain-lain. Kajian film dalam studi sastra dan bahasa mempunyai hubungan satu sama lain. Dilihat dari defenisinya, film merupakan media komunikasi yang bersifat audi visual untuk menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul disuatu tempat tertentu (Effendy).
Film merupakan produk suatu karya seni dan budaya yang memiliki nilai guna karena bertujuan memberikan hiburan dan kepuasan batin bagi penonton. Melalui sarana cerita itu, penonton secara tidak langsung dapat belajar merasakan dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang sengaja ditawarkan pengarang sehingga produk karya seni dan budaya dapat membuat penonton menjadi manusia yang lebih arif dan dapat memanusiakan manusia (Nurgiyantoro). Film adalah sastra yang ditentukan oleh teknik, sebaliknya praktik sastra membangun bagian-bagian tertentu yang berpengaruh pada film. Drama dan film dikategorikan dalam seni pertunjukan karena keduanya menggunakan tokoh sebagai sarana utama untuk berekspresi. Tokoh adalah sarana pengarang dalam mengungkapkan cerita dan merupakan pelaksana terjadinya suatu karya sastra, tanpa tokoh bisa dikatakan karya sastra tidak lengkap.
Menurut Boggs, sastra dan film memiliki banyak unsur yang sama. Biarpun keduanya adalah media yang berbeda, keduanya mengkomunikasikan berbagai macam hal dengan cara yang sama. Analisa film yang perseptif dibangun atas unsur- unsur yang dipakai dalam analisa sastra. Dimana film memiliki kemampuan untuk mengambil sudut pandang yang bermacam-macam, gerak, waktu dan ruang yang tidak terbatas. Berbeda dari novel, film berkomunikasi tidak melalui lambang- lambang abstrak yang dicetak atas halaman kertas sehingga memerlukan suatu penerjemahan oleh kepelukisan visual dan suara tetapi langsung melalui gambar- gambar visual dan nyata.
Menurut Andayani, film adalah salah satu bentuk kesenian yang paling mempengaruhi antara cahaya dan bayang-bayang secara halus. Film merupakan komunikasi verbal melalui dialog (seperti drama), film mempergunakan irama yang kompleks dan halus (seperti musik), film berkomunikasi melalui citra, metafora, dan lambang-lambang (seperti puisi), film memusatkan diri pada gambar bergerak (seperti pantomime) yang memiliki ritmis tertentu (seperti tari), dan akhirnya film memiliki kesanggupan untuk memainkan waktu dan ruang, mengembangkan dan mempersingkatnya, memajukan atau memundurkan secara bebas dalam batas-batas wilayah yang cukup lapang.
Film dibentuk oleh dua unsur pembentuk yakni: unsur naratif dan unsur sinematik. Kedua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk film jika berdiri sendiri-sendiri. Bisa dikatakan bahwa unsur naratif adalah bahan atau materi yang akan diperoleh, sedangkan unsur sinematik adalah cara dan gaya untuk mengolahnya (Pratista).
Dalam buku Memahami Film, Himawan Pratista menambahkan, unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema film. Setiap film cerita tidak mungkin lepas dari unsur naratif, setiap cerita memiliki unsur seperti: tokoh, masalah/konflik, lokasi, waktu, serta lainnya. Seluruh elemen tersebut membentuk naratif secara keseluruhan.
Unsur sinematik merupakan aspek-aspek teknis dalam produksi sebuah film, aspek-aspek tersebut adalah: Mise en scene, senematografi, editing, serta suara.
Dalam beberapa kasus, sebuah film bisa saja tidak menggunakan unsur suara sama sekali, hal ini bisa ditemui pada film-film diera film bisu. Namun hal ini lebih disebabkan karena faktor teknologi yang belum memadai pada waktu tersebut.
Dalam penelitian ini hanya terfokus pada unsur naratif yang mana pengertian unsur naratif itu sendiri adalah suatu rangkaian peristiwa yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab-akibat (kausalitas) yang terjadi dalam suatu ruang dan waktu (Pratista). Dalam sebuah film cerita, sebuah kejadian pasti disebabkan oleh kejadian sebelumnya misalnya sebuah shot A menggambarkan sekolah TK Yuen Tin yang akan ditutup dan shot B menggambarkan pemimpin desa tersebut mencari guru sekaligus kepala sekolah yang mau di gaji rendah. Shot B terjadi karena Shot A, penonton akan mudah memahami karena adanya hubungan kausalitas antara shot A dan shot B. Segala tindakan pelaku cerita tersebut akan memotivasi peristiwa berikutnya, hal ini akan membentuk sebuah pola pengembangan naratif yang dibagi menjadi tiga: pendahuluan, pertengahan, dan penutupan. Pola tersebut biasanya disajikan secara linear. Hubungan kausalitas tersebut membuat naratif tidak bisa lepas dari batasan ruang (latar cerita) dan waktu (urutan, durasi, frekuensi).
Salah satu bagian dari naratif adalah plot, plot adalah rangkaian peristiwa yang disajikan secara audio maupun visual dalam film. Plot dalam film digunakan untuk memanipulasi sebuah cerita sehingga sutradara bisa menyajikan dan mengarahkan alur sesuai dengan apa yang ia inginkan. Hal ini sekaligus digunakan untuk mempermudah sineas jika film diangkat berdasarkan novel, tanpa meninggalkan keterikatan ruang dan waktu sehingga film bisa dinikmati penonton (pratista).
a. Thema: Perjuang seorang guru untuk anak didiknya.
b. Konflik/masalah: dimana tidak adanya donatur/pembiayaan untuk biasa menjalankan mobilisasi sekolah tersebut serta kurangnya sarana dan prasarana
ditengah-tengah faktor kemiskinan yang ada pada kelima siswa yang tersisa di TK Yuen Tin.
c. Karakter: karakter utama didalam film ini diperankan oleh Liu Wang Hui sebagai guru dan karakter pembantu yang diperankan oleh kelima siswa TK yang masing-masing bernama, Lou Ka Ka, Siu Suet, Chu Chu, lalu dia kakak beradik Jenny Fatima dan Kitty Fatima.
d. Lokasi: lokasi film tersebut diambil pada sebuah TK Yuen Tin yang terletak disebuah Pegunungan Hongkong.
e. Durasi: lama film Little Big Master 1 jam 52 menit 28 detik.
Karya sastra merupakan cerminan kehidupan manusia. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia dapat diungkapkan melalui karya sastra. Sastra merupakan suatu media untuk menampung dan menyampaikan ide yang menggunakan manusia dan segala macam kehidupannya. Sastra lahir oleh dorongan manusia untuk mengungkapkan diri, tentang masalah manusia, kemanusiaan, dan semesta (Semi). Menurut Pradopo, karya sastra diciptakan oleh pengarang tidak terlepas dari masyarakat dan budayanya. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni (Wellek dan Warren).
Karya sastra merupakan wujud dari sebuah proses gejolak dan perasaan seorang pengarang terhadap realitas sosial yang merangsang kesadaran pribadinya.
Dengan kedalaman imajinasi, visi, asumsi, dan kadar intelektualitas yang dimilikinya, seorang pengarang akan mencoba untuk menggambarkan realitas yang ada kedalam karya ciptanya. Didalam karya sastra tersebut tergambar tata kehidupan dan pola tingkah laku masyarakat tempat karya tersebut diciptakan.
Nyoman Khuta Ratna menjelaskan bahwa teori-teori sosiologi sastra yang dapat menopang analisis sosiologis adalah teori-teori yang dapat menjelaskan hakikat fakta-fakta sosial, karya sastra sebagai sistem komunikasi khususnya dalam kaitannya dengan aspek-aspek ekstrinsik seperti: kelompok sosial, kelas sosial, stratifikasi sosial, interaksi sosial, konflik sosial, kesadaran sosial, permasalahan sosial dan sebagainya (Ratna). Acuan dalam penelitian ini terfokus pada kelompok sosial.
Nilai pendidikan dalam sebuah karya sastra merupakan salah satu hal penting untuk diteliti karena mencakup hal-hal yang mendidik dan memiliki manfaat tertentu bagi penonton. Nilai pendidikan yang diperoleh dari karya sastra dapat menjadi pedoman bagi masyarakat penonton dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari- hari. Nilai pendidikan perlu ditanamkan sejak dini kepada manusia. Sebagaimana diungkapkan Dewantara (dalam Wicaksono) bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Pendidikan menuntun hidup tumbuhnya manusia sejak anak-anak, maksudnya yaitu menuntun segala kekuatan kodrat sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Kemajuan zaman, dan kecanggihan teknologi seringkali menjerumuskan masyarakat masa kini kearah yang kurang baik. Oleh sebab itu, seorang perlu mengontrol dirinya ketika berhadapan dengan tantang kehidupan berupa kemewahan agar tetap menjadi orang yang tetap hidup dalam kesederhanaan. Sebaliknya, seorang yang berasal dari keluarga sederhana juga harus mampu mengontrol diri untuk bertahan dan tetap berusaha mencapai keberhasilan meskipun beberapa kali gagal.
Little Big Master merupakan film drama Hong Kong tahun 2015 yang ditulis dan disutradarai oleh Adrian Kwan. Film ini dibintangi oleh Miriam Yeung dan Louis Koo. Cerita film ini didasari pada cerita nyata dimana Lilian Lui, mantan kepala sekolah sebuah taman kanak-kanak elite di Discovery Bay yang awalnya merencanakan pensiun untuk berkeliling dunia dengan suaminya, Alvin Tse, mengambil pekerjaan dengan gaji bulanan HK$4.500 untuk mendidik lima siswa yang tersisa di Taman Kanak-kanak Yoen Tin Yuen Long, yang akan ditutup pada tahun 2009, dan menunda perjalanannya. Film ini berhasil dengan diiklankan, dengan pemasukan kotor sebesar HK$46,6 juta di bioskop Hong Kong dan menjadi film lokal yang berpendapatan kotor terbesar pada tahun 2015 diwilayah tersebut.
Tema pendidikan adalah hal yang menarik. Apalagi diangkat dari kisah nyata seseorang yang berjuang dibidang pendidikan. Hampir setiap negara memiliki sineas yang pernah mengangkat tema ini. Di indonesia, tema pendidikan diangkat base on novel yang tentu tidak murni sebuah kisah nyata. Sebut saja Laskar Pelangi, Negeri
Lima Menara, dan beberapa judul lainnya. Film dengan tema pendidikan memiliki nilai mulia yang diemban. Disematkan sebagai nilai unggul motivasi dan inspirasi bagi penontonnya. Ada nilai luhur yang ingin di capai.
Begitu pula dengan film Little Big Master, tokoh utama Lui Wai Hung yang berhasil dimainkan secara apik oleh Miriam Yeung. Mengesankan seseorang yang sangat peduli dengan dunia anak. Di film ini dijelaskan kenapa Hung dan Dong tidak memiliki anak. Memang tak ada hubungan langsung memiliki anak dengan profesionalisme dalam mendidik bagi seorang guru. Hanya saja emosional psikologis tentu punya pengaruh.
Hung mendapatkan informasi tentang TK Yuen Tin melalui tayangan TV.
Secara logika kasus terbengkalainya TK Yuen Tin telah menjadi isu nasional Hongkong. Kehadiran Hung tentu pula menjadi berita selanjutnya karena ada seorang mantan kepala sekolah TK Internasional yang memiliki ratusan murid mau mengajar di TK yang hanya memiliki 5 siswa dan akan segera tutup bila tak mampu mencari siswa baru. Seharusnya kasus terbengkalainya TK Yuen Tin menjadi perhatian pemerintah Hongkong. Paling tidak intansi yang terkait atau lembaga sosial pendidikan.
Kisah perjuangan Hung memang harus diapresiasikan. Walaupun kisah yang lebih mengesankan seperti banyak terjadi di pedalaman Indonesia, di pulau-pulau terluar hingga wilayah perbatasan yang terisolasi. Hanya saja Hung yang notabene seorang guru dari keluarga mapau mau menjalani pekerjaan yang mungkin sangat tidak menarik, gaji yang kecil dan semuanya dikerjakan sendiri.
Lepas dari semua fakta yang ada, film ini secara teknis sangat luar biasa.
Penjiwaan Miriam Yeung dan lima artis cilik hasil audisi ini patut mendapat acungan jempol. Frame yang hadir seperti menarik rasa kemanusiaan semua penonton.
Alurnya berjalan secara runtut, pengambilan gambar dengan latar belakang kemegahan Hongkong memberikan garis yang jelas antara Kapitalisme yang telah mengakar kedalam kehidupan sehari-hari masyarakat Hongkong. Dibalik kemegahan
ada ruang kemanusiaan yang harus dibenahi. Ada manusia yang tidak seberuntung yang lain. Ada anak-anak yang terpinggirkan.
Salah satu film yang berisi nilai pendidikan yaitu film Little Big Master. Nilai pendidikan dalam film tersebut mencakup beberapa adpek diantaranya nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial, nilai pendidikan budaya, dan nilai pendidikan religius. Masing-masing nilai pendidikan tersebut dapat diklarifikasikan berdasarkan perbuatan-perbuatan tokoh yang ada dalam film Little Big Master.
Kemandirian yang dimiliki tokoh utama dalam film memberikan nilai-nilai yang baik bagi penonton terutama dalam mencari ilmu pengetahuan yang sesuai untuk dirinya meskipun beberapa kali gagal. Mencapai kesuksesan tidak mudah dan penuh tantangan, tetapi harus berjuang dan bangkit dari kegagalan. Hal ini dapat
memberikan nilai pendidikan bagi penonton, baik nilai pendidi kan moral, nilai pendidikan religius, nilai pendidikan budaya, maupun nilai
pendidikan sosial yang akan dibahas dalam pembahasan.
Alasan penulis memilih film Little Big Master untuk diteliti adalah karena pada film ini banyak mengandung nilai-nilai pendidikan di dalamnya dan dapat di implimentasikan pada kehidupan sehari-hari. Dimana pada zaman sekarang sangat kurangnya kesadaran bagi masyarakat akan pendidikan bagi masyarakat itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah
1. Bagaimana nilai pendidikan pada film Little Big Master digambarkan pada tokoh utama dan tokoh pembantu?
1.3 Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi agar penelitian terarah dan fokus pada masalah yang telah dibatasi sehingga tidak terjadi pembahasan yang terlalu luas. Sesuai dengan judul dan rumusan masalah, maka penelitian ini dibatasi pada tokohutama dan tokoh pembantu yang digambarkan untuk mendukung nilai pendidikan pada film Little Big
Master. Sementara nilai pendidikan yang akan dianalisis meliputi nilai pendidikan sosialdannilaipendidikan moral. Batasan-batasan permasalahan tersebut akan disikapi melalui pendekatan sosiologi sastra.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan, tujuan penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan tokoh utama dan tokoh pembantu yang digambarkan untuk mendukung nilai pendidikan terutama nilai pendidikan moral dan juga nilai pendidikan sosial pada film Little Big Master.
1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis
1. Penelitian ini memberikan kontribusi kepada ilmu kesusastraan dan pendidikan khususnya nilai pendidikan pada karya sastra.
2. Penelitian ini dapat dijadikan pedoman untuk memahami dan mampu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak agar dapat menambah wawasan para pendidik dan masyarakat.
3. Penelitian ini juga dapat memperkaya kajian sosiologi sastra melalui karya sastra dan kajian sosial.
4. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber data bagi peneliti sastra selanjutnya.
1.5.2 Manfaat Praktis
1. Memperkaya Pengkajian dan pengapresiasian karya sastra.
2. Menambah pengetahuan masyarakat tentang sastra dan ilmu sastra.
3. Memberikan informasi kepada pembaca tentang nilai-nilai pendidikan sosial dalam film Little Big Master.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2007: 588), konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memenuhi hal-hal lain. Konsep atau anggitan adalah abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan.
Istilah konsep dari bahasa latin conceptum, artinya sesuatu yang dipahami.
Aritoteles dalam “The classical theory of concepts” menyatakan bahwa konsep merupakan penyusun utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran manusia. Konsep merupakan abstraksi suatu ide atau gambaran mental, yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol. Konsep dinyatakan juga sebagai bagian dari pengetahuan yang dibangun dari berbagai macam karakteristik.
Setiap ahli akan memiliki perbedaan asumsi dalam mendefenisikan sebuah konsep mengenai suatu hal. Sehingga tidak jarang ditemukan beragam pengertian mengenai suatu konsep tertentu. Oleh sebab itu, peneliti akan mencoba memaparkan defenisi tentang istilah yang merupakan konsep penelitian ini.
2.1.1 Film
Menurut Nur Dwi Andayani (2007: 41) film adalah salah satu bentuk kesenian yang paling mempengaruhi antara cahaya dan bayang-bayang secara halus. Film merupakan komunikasi verbal melalui dialog (seperti drama), film mempergunakan irama yang kompleks dan halus (seperti musik), film berkomunikasi melalui citra, metafora, dan lambang-lambang (seperti puisi), film memusatkan diri pada gambar bergerak (seperti pantomime) yang memiliki ritmis tertentu (seperti tari), dan akhirnya film memiliki kesanggupan untuk memainkan waktu dan ruang,
mengembangkan dan mempersingkatnya, memajukan atau memundurkan secara bebas dalam batas-batas wilayah yang cukup lapang.
Film merupakan salah satu bagian dari audio visual yang berarti suatu cara menyampaikan dan sekaligus merangsang penglihatan dan pendengaran. Dalam kamus besar bahasa indonesia secara fisik istilah film adalah lakon (cerita) gambaran hidup, menurut beberapa pendapat, film adalah susunan gambar yang ada dalam selluloid, kemudian diputar dengan mempergunakan teknologi proyektor yang sebetulnya telah menawarkan nafas demokrasi, dan bisa ditafsirkan dalam berbagai makna (Prakoso, 1997: 22)
Alex Sobur mengungkapkan bahwa, film merupakan bayangan yang diangkat dari kenyataan hidup yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya selalu ada kecenderungan untuk mencari relevansi antara film dengan realitas kehidupan. Apakah film itu merupakan film drama, yaitu film yang mengungkapkan tentang kejadian atau peristiwa hidup yang hebat. Atau film yang sifatnya realism yaitu film yang mengandung relevansi dengan kehidupan seharian (Sobur, 2001:
128).
Sastra identik dengan kata-kata yang menggambarkan perasaan yang sedang dirasakan, proses imajinasi dan kretivitas (Wellek dan Warren, 2016: 3). Hal tersebut sering digunakan sebagai referensi untuk karya kreatif imajinatif, termasuk karya- karya yaitu puisi, drama, fiksi dan non fiksi. Demikian pula pada penelitian ini film Little Big Master menjadi fokus analisa peneliti.
Menurut Boggs (1992: 24) sastra dan film memiliki unsur yang sama. Biarpun keduanya adalah media yang berbeda, keduanya mengkomunikasikan berbagai macam hal dengan cara yang sama. Analisa film yang perseptif dibangun atas unsur- unsur yang dipakai dalam analisa sastra.
Produksi film menghasilkan suatu karya yang memiliki keunggulan sendiri sebagai media massa. Film memiliki suatu tujuan. Film tidak terwujud semata-mata untuk dirinta sendiri sebagai sebuah media massa dan objek estetis murni, melainkan wujud pada ruang lingkup dunia sekelilingnya. Film dapat menjadi mediator realitas.
Ia dapat menunjang kesan manusia tentang realitas. Pendapat ini ditunjang oleh keunggulan dengan inovasi yang tidak terbatas, musik yang canggih, dan dibuat dengan teknologi yang menghasilkan konsep visual yang menarik (Asrul Sani, 1995:
3).
Boggs (1992, 23) juga mengatakan bahwa film tetaplah suatu yang unik walaupun terdapat kesamaan dengan media lain. Film melebihi drama karena film memiliki kemampuan mengambil sudut pandang yang bermacam-macam, gerak, waktu dan ruang yang tidak terbatas. Berbeda dari novel, film berkomunikasi tidak melalui lambang-lambang abstrak yang dicetak diatas halaman kertas sehingga memerlukan suatu penerjemahan oleh otak ke pelukisan visual dan suara, tapi langsung melalui gambar-gambar visual dan suara nyata (Asrul Sani, 1995: 4).
Dalam proses komunikasi, karya sastra dianggap sebagai gejala yang sarat dengan referensi-referensi sosial, yang pada dasarnya sangat bermanfaat dalam pengembangan hubungan-hubungan sosial. Karya sastra pada dasarnya bukanlah aktivitas personal, tetapi lebih banyak mengungkapkan masalah-masalah impersonal, mengatasi batas-batas sosiologis dan periode-periode historis (Ratna, 2013: 134).
Film merupakan produk karya seni dan budaya yang memiliki guna karena bertujuan memberikan hiburan dan kepuasan batin bagi penonton. Melalui sarana cerita itu, penonton secara tidak langsung dapat belajar merasakan dan menghayati sebagai permasalahan kehidupan yang sengaja ditawarkan pengarang sehingga produk karya seni dan budaya dapat membuat penonton menjadi manusia yang lebih arif dan dapat memanusiakan manusia (Nurgiyantoro, 2007: 40).
2.2 Landasan Teori
Sebagai suatu makhluk dinamis, manusia akan selalu berinteraksi dengan masyarakatdan lingkungannya, baik secara fisik maupun psikis. Lingkungan merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seseorang.
Oleh karena itu, dalam mengkaji nilai pendidikan ini, pendekatan yang digunakan adalah teori sosiologi sastra. Peneliti akan mengkaji nilai-nilai pendidikan yang ada
pada tokoh-tokoh dalam film Little Big Master. Ratna menjelaskan bahwa teori-teori sosiologi yang dapat menopang analisis sosiologis adalah teori-teori yang dapat menjelaskan hakikat fakta-fakta sosial, karya sastra sebagai sistem komunikasi khususnya dalam berkaitan dengan aspek-aspek ekstrinsik seperti: kelompok sosial, interaksi sosial, konflik sosial, kesadaran sosial, permasalahan sosial dan sebagainya (Ratna, 2003: 18).
Wellek dan Warren (dalam Damono, 1984: 3), mengklarifikasikan masalah- masalah sosiologi sastra, yang intinya adalah sebagai berikut:
1. Sosiologi pengarang yang memasalahkan status sosial, ideologi sosial, dan lain- lain yang menyangkut pengarang sebagai penghasil karya sastra tersebut.
2. Sosiologi karya sastra yang memasalahkan isi karya sastra itu sendiri, dan yang menjadi pokok penelaahannya adalah hal apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa yang menjadi tujuannya.
3. Sosiologi sastra memasalahkan pembaca dan pengaruh sosial suatu karya sastra.
Pendekatan sosiologi sastra menaruh perhatian pada aspek dokumenter sastra, dengan landasan suatu pandangan bahwa sastra merupakan gambaran atau potret fenomena sosial. Pada hakikatnya, fenomena sosial itu bersifat nyata, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, dapat dilihat, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang, fenomena itu diangkat kembali menjadi wacana baru dengan sebuah proses yang kreatif kedalam bentuk suatu karya sastra.
Dalam konteks penelitian ini, akan dilakukan penganalisisan pada film dengan tujuan untuk mengetahui gejala sosial yang berkaitan dengan permasalahan yang telah dirumuskan oleh peneliti. Dalam penelitian ini akan dipakai teori sosiologi sastra, karena teori sosiologi sastra dapat menopang analisis sosiologis dan pada hakikatnya mampu menjelaskan fakta-fakta sosial yang ada dalam isi cerita film, yang berupa konflik sosial, interaksi sosial, kesadaran sosial, dan stratafikasi sosial.
2.2.1 Naratif
Film dibentuk oleh dua unsur pembentuk yakni: unsur naratif dan unsur sinematik. Kedua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk film jika berdiri sendiri-sendiri. Bisa dikatakan bahwa unsur naratif adalah bahan atau materi yang akan diperoleh, sedangkan unsur sinematik adalah cara dan gaya untuk mengolahnya (Pratista, 2008: 1).
Dalam buku Memahami Film, Himawan Pratista menambahkan, unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema film. Setiap film cerita tidak mungkin lepas dari unsur naratif, setiap cerita memiliki unsur seperti: tokoh, masalah/konflik, lokasi, waktu, serta lainnya. Seluruh elemen tersebut membentuk naratif secara keseluruhan.
Unsur sinematik merupakan aspek-aspek teknis dalam produksi sebuah film, aspek-aspek tersebut adalah: Mise en scene, senematografi, editing, serta suara.
Dalam beberapa kasus, sebuah film bisa saja tidak menggunakan unsur suara sama sekali, hal ini bisa ditemui pada film-film diera film bisu. Namun hal ini lebih disebabkan karena faktor teknologi yang belum memadai pada waktu tersebut.
Dalam penelitian ini hanya terfokus pada unsur naratif yang mana pengertian unsur naratif itu sendiri adalah suatu rangkaian peristiwa yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab-akibat (kausalitas) yang terjadi dalam suatu ruang dan waktu (Pratista). Dalam sebuah film cerita, sebuah kejadian pasti disebabkan oleh kejadian sebelumnya misalnya sebuah shot A menggambarkan sekolah TK Yuen Tin yang akan ditutup dan shot B menggambarkan pemimpin desa tersebut mencari guru sekaligus kepala sekolah yang mau di gaji rendah. Shot B terjadi karena Shot A, penonton akan mudah memahami karena adanya hubungan kausalitas antara shot A dan shot B. Segala tindakan pelaku cerita tersebut akan memotivasi peristiwa berikutnya, hal ini akan membentuk sebuah pola pengembangan naratif yang dibagi menjadi tiga: pendahuluan, pertengahan, dan penutupan. Pola tersebut biasanya disajikan secara linear. Hubungan kausalitas
tersebut membuat naratif tidak bisa lepas dari batasan ruang (latar cerita) dan waktu (urutan, durasi, frekuensi).
Salah satu bagian dari naratif adalah plot, plot adalah rangkaian peristiwa yang disajikan secara audio maupun visual dalam film. Plot dalam film digunakan untuk memanipulasi sebuah cerita sehingga sutradara bisa menyajikan dan mengarahkan alur sesuai dengan apa yang ia inginkan. Hal ini sekaligus digunakan untuk mempermudah sineas jika film diangkat berdasarkan novel, tanpa meninggalkan keterikatan ruang dan waktu sehingga film bisa dinikmati penonton (pratista, 2008: 34).
A. Thema: Perjuang seorang guru untuk anak didiknya.
B. Konflik/masalah: dimana tidak adanya donatur/pembiayaan untuk biasa menjalankan mobilisasi sekolah tersebut serta kurangnya sarana dan prasarana ditengah-tengah faktor kemiskinan yang ada pada kelima siswa yang tersisa di TK Yuen Tin.
C. Karakter: karakter utama didalam film ini diperankan oleh Liu Wang Hui sebagai guru dan karakter pembantu yang diperankan oleh kelima siswa TK yang masing-masing bernama, Lou Ka Ka, Siu Suet, Chu Chu, lalu dia kakak beradik Jenny Fatima dan Kitty Fatima.
D. Lokasi: lokasi film tersebut diambil pada sebuah TK Yuen Tin yang terletak disebuah Pegunungan Hongkong.
E. Durasi: durasidalam film Little Big Master 1 jam 52 menit 28 detik.
2.2.1.1 Tokoh/Karakter
Di dalam suatu cerita film pasti akan ada tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Tokoh-tokoh di dalam sebuah cerita fiksi umumnya hanyalah sebuah rekaan saja. Namun tokoh-tokoh ini sangat berperan penting dalam menunjang kesuksesan isi cerita film tersebut. Karena tokoh-tokoh inilah yang memerankan dan menjalankan semua isi cerita dalam film tersebut. Nurgiyantoro (2002: 176) membedakan tokoh dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana
penamaan itu dilakukan. Berdasarkan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat di kategorikan dalam beberapa jenis penamaan sekaligus.
a) Tokoh utama dan tokoh tambahan
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritanya dalam film, sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang tidak dipentingkan dalam cerita, dalam keseluruhan cerita pemunculan lebih sedikit. Pembedaan tersebut berdasarkan segi peranan.
b) Tokoh protagonis dan tokoh antagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi yang disebut hero. Tokoh penyebab terjadinya konflik disebut dengan antagonis. Pembedaan ini berdasarkan fungsi penampilan tokoh.
c) Tokoh sederhana dan tokoh bulat
Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas sisi kepribadian yang diungkapkan pengarang. Tokoh bulat adalah tokoh yang memilih dan diungkap berbagai sisi kehidupan dan jati dirinya.
d) Tokoh statis dan tokoh dinamis
Tokoh statis adalah tokoh yang tidak mengalami pengembangan perwatakan sebagai akibat terjadinya konflik. Sedangkan tokoh dinamis mengalami pengembangan perwatakan.
2.2.1.2 Tema
Tema adalah pokok pikiran dalam sebuah cerita yang hendak disampaikan pengarang melalui jalinan cerita. Jadi, cerita tidak hanya berisi rentetan kejadian yang disusun dalam sebuah bagan, tetapi juga memiliki maksud tertentu.
2.2.1.3 Konflik
Konflik merupakan suatu masalah social yang timbul karena ada perbedaan pendapat maupun pandangan yang terjadi dalam masyarakat dan Negara. Biasanya
konflik muncul akibat tidak adanya rasa toleransi dan saling mengerti kebutuhan masing-masing individu.
2.2.1.4 Lokasi
Lokasi merupakan salah satu factor dari situasional yang ikut berpengaruh pada keputusan.
2.2.1.5 Durasi
Rentang waktu atau lamanya sesuatu sebuah peristiwa berlangsung, dimana hal ini biasanya dikaitkan dengan gelaran sebuah acara. Durasi adalah sebuah kata yang akan digunakan sebagai pengganti kata waktu, yang mana kata ini dimaksudkan sebagai rentang waktu yang habis/terpakai untuk menayangkan sebuah acara yang berlangsung.
2.2.2 Nilai Pendidikan
Salah satu karya sastra seperti film terdapat didalamnya nilai pendidikan yang dapat dipetik oleh penonton melalui perbuatan-perbuatan tokoh yang dikisahkan dalam film. Wicaksono (2014: 254) mengatakan bahwa nilai merupakan kadar relasi positif antara suatu hal terhadap seseorang. Nilai adalah sesuatu atau hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan. Nilai berkaitan erat dengan kebaikan yang ada pada sesuatu hal. Nilai dapat membantu kita menyadari, mengakui, mendalami dan memahami hakikat kaitan antara nilai satu dengan yang lainnya serta peranan dan kegunaannya bagi kehidupan.
Lebih lanjut, Wicaksono (2015: 255) menyebutkan bahwa nilai merupakan suatu yang abstrak, tetapi secara fungsional mempunyai ciri mampu membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Suatu nilai jika dihayati seseorang, nilai tersebut akan sangat berpengaruh terhadap cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak dalam mencapai tujuan hidupnya.
Pengertian pendidikan menurut pandangan Wicaksono (2014: 259-260) adalah usaha sadar, terencana, terus-menerus serta penuh tanggung jawab yang merupakan proses pengubahan sikap dan tingkah laku agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya dalam usaha pendewasaan melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Berdasarkan pengertian nilai dan pendidikan diatas, Wicaksono (2014: 263) berpendapat bahwa nilai pendidikan adalah segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan manusia yang diperoleh melalui proses pengubahan sikap dan tingkah laku menjadi lebih baik dalam upaya mendewasakan diri, baik dari segi kognitif (berdasar pada pengetahuan faktual empiris/berdasarkan pengalaman), afektif (berkenaan dengan perasaan dan emosi), maupun psikomotorik (berhubungan dengan aktivitas fisik yang berkaitan dengan proses mental dan psikologi).
Lebih lanjut, Suarman (2000)seperti dikutip Nofalinda (2014: 5) menjelaskan nilai pendidikan berarti ukuran terhadap baik dan buruk yang diterima oleh umum atau orang banyak, mengenai perbuatan, sikap, tingkah laku, atau budi pekerti. Nilai pendidikan mencakup beberapa aspek diantaranya pendidikan agama, sosial, budi pekerti, kecerdasan, dan kesejahteraan keluarga.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan adalah segala hal yang mendidik dan dapat mengembangkan potensi orang lain dalam mendewasakan manusia baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Karya sastra merupakan salah satu hal penting sebagai sebuah sarana yang mendidik bagi masyarakat pembaca. Sebagaimana dikatakan Pradopo (dalam Nurdiana, 2010: 2) menyebutkan karya sastra sebagai hasil olahan sastrawan yang mengambil bahan dari segala permasalahan dalam kehidupan dapat memberikan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh pengetahuan lain. Hal ini merupakann kelebihan karya sastra. Kelebihan lain dari karya sastra ialah bahwa karya sastra dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir mengenai hidupnya sendiri ataupun bangsanya. Sastra sebagai produk kehidupan mengandung nilai-nilai sosial, filosofi, religi, dan sebagainya. Adapun hal yang berhubungan
dengan nilai pendidikan, yaitu dampak sastra pada pembaca. Nilai didik dalam karya sastra sangat erat kaitannya dengan fungsi karya sastra sebagai sesuatu yang patut mendapatkan perhatian.
Sejalan dengan pandangan diatas, Sumardjo (dalam Parmin, dkk. 2014: 2) menyebutkan bahwa nilai-nilai dalam karya sastra merupakan hasil ekspresi dan kreasi estetik pengarang (sastrawan) yang ditimba dari kebudayaan masyarakatnya.
Nilai ideal pengarang tersebut berupa das sollen tentang aspek nilai-nilai kehidupan, khususnya nilai-nilai pendidikan. Suatu karya sastra bisa dikatakan baik jika mengandung nilai-nilai yang mendidik.
Sumardjo (dalam Parmin, dkk. 2014: 2) juga mengungkapkan bahwa nilai- nilai pendidikan dapat ditangkap manusia melalui berbagai hal di antaranya melalui pemahaman dan penikmatan sebuah karya sastra. Ada empat macam nilai pendidikan dalam sastra, yaitu nilai pendidikan religius, moral, sosial dan budaya.
Nilai-nilai tersebut tentunya tidak berbeda dengan nilai-nilai yang ada di kehidupan nyata sebuah masyarakat. Bahkan, nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai yang diidealkan pengarang untuk mengupas suatu masalah yang terjadi di kehidupan nyata.
Berdasarkan pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan dalam karya sastra adalah nilai-nilai mendidik yang ada dalam karya sastra yang bermanfaat bagi pembaca dan dapat dicontoh untuk kebaikan pembaca.
Sorotan utama dalam penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan, yang mana menceritakan perjuangan tokoh utama dalam mempertahankan hak anak-anak dalam menggapai pendidikan di dalam film tersebut.
Menurut Wicaksono (2014: 263) nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan adalah nilai pendidikan agama (religius), nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial dan nilai pendidikan budaya.Tetapi didalam film tersebut lebih menonjolkan nilai pendidikan moral dan juga nilai pendidikan sosial.
2.2.2.1 Nilai Pendidikan Moral
Nilai pendidikan moral adalah suatu penilaian baik, buruk serta budi pekerti manusia merupakan sebuah penelitian dari masyarakat sosial yang memiliki sanksi tertentu dalam menertibkan perilaku moral masyarakatnya (Deswari, 2012: 65). Nilai moral dalam karya sastra biasanya bertujuan untuk mendidik manusia agar mengenal nilai-nilai estetika dan budi pekerti. Selain itu, moral menunjuk pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya (Nurgiyantoro, 2015: 459).
Nilai moral ini merupakan nilai baik buruk suatu perbuatan, apa yang harus dikerjakan, apa yang harus dihindari, sehingga dapat bermanfaat bagi manusia itu sendiri, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar.
Sebuah karya sastra pada hakikatnya merupakan media komunikasi pengarang dalam penyampaian pendapat, pandangan, dan penilaiannya terhadap sesuatu kepada penonton. Keberadaan moral dalam karya sastra tidak dapat lepas dari pandangan pengarang tentang nilai-nilai yang dianutnya. Film sebagai karya sastra menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia (Wicaksono, 2014: 271). Nilai moral itu pada hakikatnya merupakan sarana atau petunjuk agar pembaca memberikan respon atau mengikuti pandangan pengarang.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan moral adalah nilai pendidikan yang berhubungan dengan diri sendiri atau tingkah laku baik dan buruk untuk mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat. Indicator darinilaipendidikan moral antara lain:
Rasa hormatkepadasesama
Sikapsalingmemaafkan
Adilterhadapsesama
Sifatlemahlembutdankasihsayangterhadapsesama
Keberaniandalamhidup
Menghargaiperbedaanantarsesama
Toleransiantarsesama.
2.2.2.2 Nilai Pendidikan Sosial
Nilai pendidikan sosial merupakan proses yang diusahakan dengan sengaja didalam masyarakat untuk mendidik individu dalam lingkungan sosial, upaya bebas dan bertanggung jawab menjadi pendorong kearah perubahan dan kemajuan (Hasbullah, 2015: 57). Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan dimana seorang individu melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, teman, dan kelompok sosial yang besar. Dalam konteks sosial yang disebut masyarakat, setiap orang akan mengenal orang lain melalui perilaku orang tersebut.
Selain itu, pendidikan sosial adalah pengaruh yang disengaja yang datang dari pendidik dan pengaruh itu berguna untuk:
(a) menjadikan anak itu anggota yang baik dalam golongannya,
(b) menjadikan anak itu dengan sabar berbuat sosial dalam masyarakat dimana saja dan kapan saja ia berhubungan dengan orang lain (Purwanto, 2014: 171).
Nilai sosial mengacu pada hubungan individu yang lain dalam sebuah masyarakat (Wicaksono, 2014: 281). Bagaimana orang harus bersikap, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan menghadapi situasi tertentu juga termasuk dalam nilai sosial.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan sosial adalah nilai pendidikan yang diajarkan kepada manusia secara turun temurun, supaya manusia itu sendiri saling menghormati satu sama lain. Indicator darinilaipendidikan sosial antara lain:
Menghormati
Tolongmenolong
Adilterhadap orang lain
Kebersamaandalamhidup
Sopansantun
Penuhkasihsayang
Berdasarkan penjelasan diatas, maka hal yang akan dicari dalam penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan moral dan nilai pendidik yang ditujukan oleh tokoh- tokoh yang ada dalam film Little Big Master dan dampak dari nilai-nilai tersebut untuk penyelesaian masalah yang mereka hadapi.
2.3 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka berfungsi untuk memaparkan penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain. Film Little Big Master yang di sutradarai oleh Andrian Kwan yang sarat akan motivasi agar tetap berusaha dan bersyukur dalam mencapai suatu keinginan di tengah banyaknya kesulitan yang di hadapinya.
Andrian Kwan memaparkan potongan gambaran-gambaran yang sederhana sehingga mudah dipahami penonton. Sepanjang pengetahuan peneliti, film Little Big Master yang disutradarai Andrian Kwan belum pernah di kaji oleh peneliti lain.
Tinjauan penelitian ini hanya memaparkan beberapa penelitian sejenis telah meneliti tentang nilai pendidikan. Hasil penelitian sebelumnya yang dapat dijadikan acuan serta masukan bagi peneliti diantaranya adalah YosefinusYusanfri (2013) dengan judul “Analisis Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.” Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yaitu: 1) nilai pendidikan religius yaitu: keberanian hidup, kemandirian, tanggung jawab, kewaspadaan hidup dan rendah hati, sopan santun; 2) nilai pendidikan moral yaitu rasa hormat kepada sesama, sikap saling memaafkan, adil terhadap sesama, sifat lemah lembut dan kasih sayang terhadap sesama, keberaniandalam hidup, menghargai perbedaan antar sesama, toleransi antar sesama; 3) nilai pendidikan social yaitu: menghormati, tolong
menolong, adil terhadap orang lain, kebersamaan dalam hidup, sopan santun, lemah lembut dan penuh kasih sayang, pemaaf; dan 4) nilai pendidikan budaya yaitu:
toleransi antar sesama, keberanian dalam hidup, sigap dan tanggap, memberikan kebebasan dalam berpikir, rasa hormat terhadap sesama, menghargai pendapat orang lain.
Mika L. Sitanggang (2015) dengan judul Skripsi “Nilai Pendidikan Pada Novel Kakak Batik Karya Seto Mulyadi: Analisis Sosiologi Sastra Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yaitu: 1) nilai pendidikan religius yaitu: keberanian hidup, kemandirian, tanggung jawab, kewaspadaan hidup dan rendah hati, sopan santun; 2) nilai pendidikan moral yaitu rasa hormat kepada sesama, sikap saling memaafkan, adil terhadap sesama, sifat lemah lembut dan kasih sayang terhadap sesama, keberaniandalam hidup, menghargai perbedaan antar sesama, toleransi antar sesama;
3) nilai pendidikan social yaitu: menghormati, tolong menolong, adil terhadap orang lain, kebersamaan dalam hidup, sopan santun, lemah lembut dan penuh kasih sayang, pemaaf; dan 4) nilai pendidikan budaya yaitu: toleransi antar sesama, keberanian dalam hidup, sigap dan tanggap, memberikan kebebasan dalam berpikir, rasa hormat terhadap sesama, menghargai pendapat orang lain.
Robbisam (2013) dengan judul Skripsi “Konsep Pendidikan dalam Novel Pincalang Karya Idris Pasaribu. Dalam skripsi ini, penulis menggunakan teori Sosiologi Sastra yang mana berfokus pada segi-segi kemasyarakatan didalam karya sastra. Masalah dalam analisis skripsi ini dibatasi pada gambaran pendidikan dalam novel Pincalang karya Idris Pasaribu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah membaca heuristik dan hermeneutik. Gambaran dalam pendidikan didalam novel Pincalang karya Idris Pasaribu dapat dilihat dalam kehidupan orang-orang perahu didalam karya tersebut. Sebagai kesimpulan dalam analisis ini, penulis menemukan beberapa konsep pendidikan formal, non formal, dan informal.
Mengenai analisis nilai-nilai pendidikan didalam novel Pincalang penulis
menemukan beberapa kategori tentang nilai-nilai pendidikan antara lain: nilai pendidikan lingkungan, nilai pendidikan keluarga, nilai pendidikan sosial dan nilai pendidikan religius.
Berdasarkan acuan tersebut, diharapkan dapat membantu penulis dalam melakukan penelitian dengan judul “Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Pada Tokoh dalam Film Little Big Master: Kajian Sosiologi Sastra”.
Penelitian ini berusaha untuk mengungkapkan unsur yang mendukung film nilai-nilai pendidikan dalam filmLittle Big Master. Penelitian ini mengkaji nilai-nilai pendidikan yang mencakup Nilai Pendidikan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Alasan peneliti mengambil metode penelitian kualitatif karena pada penelitian ini diambil dari dialog-dialog film, yang mana film mempergunakan irama yang kompleks dan halus (seperti musik), film berkomunikasi melalui citra, metafora, dan lambang-lambang (seperti puisi), film memusatkan diri pada gambar bergerak (seperti Pentomime) yang memiliki ritmis tertentu (seperti tari), dan akhirnya film memiliki kesanggupan untuk memainkan waktu dan ruang, mengembangkan dan mempersingkatnya, memajukan atau memundurkan secara bebas dalam batas-batas wilayah yang cukup lapang. Penelitian ini menerapkan metode yang sudah lazim digunakan pada penelitian-penelitian pada umumnya. Metode yang peneliti gunakan dalam membantu proses analisis adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif sering diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan “perhitungan” atau dengan angka-angka (Moleong, 2010: 2). Metode kualitatif digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kualitatif.
Dengan data kualitatif kita dapat mengikuti dan memahami alur peristiwa secara kronologis, menilai sebab-akibat dalam lingkup orang-orang setempat, dan memperoleh penjelasan yang banyak dan bermanfaat. Data kualitatif merupakan sumber dari deskripsi yang luas dan berlandaskan kokoh, serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam ruang lingkup setempat (Huberman, 1992:
2).
Pendekatan kualitatif dapat digunakan untuk menekankan pada deskriptif dan penciptaan makna atas kebenaran yang ditangkap secara apa adanya (objektif). Jadi pendekatan kualitatif yang digunakan pada penelitian ini dapat menggambarkan dan
mendeskripsikan lebih dalam mengenai nilai-nilai pendidikan yang digambarkan dalam film Little Big Master.
3.2 Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini adalah kutipan percakapan serta adegan yang mengandung nilai-nilai pendidikan pada film Little Big Master. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah sebuah film layar lebar produksi Hongkong berjudul Little Big Master yang diperoleh dari situs internet, kemudian diunduh. Adapun secara rinci sumber data tersebut adalah sebagai berikut:
Judul Film : Little Big Master
Sutradara : Adrian Kwan
Produser : Benny Chan Alvin Lam Stanley Tong
Distributor : Universe Films Distribution
Tanggal Rilis : 19 Maret 2015
Durasi : 112
Bahasa : Kanton
3.3 Metode Pengumpulan Data
Agar memperoleh data yang sesuai dengan objek yang sedang diteliti, dibutuhkan suatu teknik pengumpulan data yang sesuai dengan objek penelitian.
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitia ini adalah studi perpustakaan. Studi perpustakaan merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan buku sebagai objek penelitian sekaligus menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis maupun elektronik. Dalam buku yang berjudul Metode Penelitian mengemukakan bahwa studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku,
literatur-literatur, catatan-catatan dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir, 1988: 111).
Pengumpulan data melalui bahan pustaka menjadi bagian yang sangat penting dalam suatu penelitian ketika peneliti memutuskan untuk menggunakan kajian pustaka untuk menjawab rumusan masalahnya. Dan pendekatan studi pustaka sangat umum dilakukan dalam penelitian karena sangat mempermudah cara kerja peneliti.
Peneliti cukup mengumpulkan dan menganalisis yang tersedia dalam pustaka, tidak perlu lagi untuk mencari data dengan cara turun tangan langsung kelapangan.
Selanjutnya, penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat. Teknik simak dan catat adalah suatu teknik penelitian yang melakukan pembacaan objek kajian penelitian terlebih dahulu, kemudian menyimak isi dan selanjutnya melakukan pencatatan data-data yang sudah didapatkan sebagai bahan yang akan diolah dalam penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data sebagai berikut:
1. Menonton film Little Big Master, yang berkedudukan sebagai sumber data utama.
2. Menentukan fokus permasalahan yaitu nilai-nilai pendidikan sosial yang terdapat pada tokoh, thema, konflik/masalah, dalam film Little Big Master serta mengumpulkan data-data yang disesuaikan dengan penelitian yang akan dibahas.
3. Melakukan kajian pustaka terhadap penelitian sebelumnya untuk menghindari adanya segala bentuk plagiat atau persamaan dalam bentuk penelitian.
4. Memilih dan mencatat data-data yang sesuai dengan judul dan fokus permasalahan yang akan diteliti.
5. Menyimak dan mencatat dialog film dan melakukan penandaan pada film sesuai dengan fokus yang akan diteliti.
3.4 Metode Analisis Data
Pada penelitian ini teknik analisis data menggunakan teknik kualitatif dengan metode deskriptif. Menurut Nasir (dalam Tantawi, 2014: 66) metode deskriptif adalah mendeskripsikan tentang situasi atau kejadian, gambaran, lukisan, secara sistematis, faktual, akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena dengan fenomena pada objek yang diteliti. Hasil yang diperoleh adalah berupa uraian penjelasan penelitian bersifat deskriptif dan analisis data dikerjakan secara menyeluruh. Langkah yang dilakukan dalam menganalisis data, menurut Miles dan A. Michael Huberman (1992: 16) adalah terdiri tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Langkah tersebut digunakan penulis untuk menganalisis data dalam penelitian film Little Big Master adalah:
1. Reduksi data dengan cara mencari adegan dan perkataan dalam dialog yang menggambarkan nilai-nilai pendidikan sosial dan karakter utama dan karakter pembantu yang digambarkan dalam mendukung nilai pendidikan sosial pada film Little Big Master.
2. Menyajikan data dengan cara menyeleksi data kemudian dianalisis untuk menjawab semua masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini.
3. Data yang telah dianalisis kemudian disimpulkan sehingga penelitian ini memperoleh hasil yang diinginkan.
BAB IV PEMBAHASAN
Peneliti ini akan menganalisa tentang nilai-nilai pendidikan yang ada di film Little Big Master.Dan berfokus pada nilai pendidikan moral dan nilai pendidikan sosial.
4.1 Nilai Pendidikan Moral
Nilai pendidikan moral yang terdapat dalam film Little Big Master diantaranya:
4.1.1 Kerja Keras
Gambar 1 gambar 2
呂慧紅 :各位同学,早晨
Lǚhuìhóng : Gèwèi tóngxué, zǎochén Lu hui hong : selamat pagi semuanya
同学们 :早晨
Tóngxuémen : Zǎochén Tongxuemen : pagi
呂慧紅 :我是你们的新校长,我的名字叫呂慧红。你们也可
叫我呂校长,你们还记不记得校长来看过你们?
lǚhuìhóng : Wǒ shì nǐmen de xīn xiàozhǎng, wǒ de míngzì jiào
lǚhuìhóng. Nǐmen yě kěyǐ jiào wǒ lǚ xiàozhǎng, nǐmen hái jì bù jìdé xiàozhǎng lái kànguò nǐmen?
Luhuihong : aku kepala sekolah kalian yang baru. Nama saya Lu Hui Hong, apakah kalian masih ingat kepadaku?
同学们 : 记得。
Tóngxuémen :jìdé Tong xue men : ingat
呂慧紅 :是呀,真的好记性
Lǚhuìhóng :Shì ya, zhēn de hǎo jìxìng Luhuihong : benarkah? Kalian cerdas.
呂慧紅 :各位小朋友,校長準備介紹一位新朋友給你們認識
lǚhuìhóng : Gèwèi xiǎopéngyǒu, xiàozhǎng zhǔnbèi jièshào yī wèi xīn péngyǒu gěi nǐmen rènshí
lu hui hong : gadis kecil, aku akan memperkenalkan teman baru hari ini.
同学们 :好可爱
tóngxuémen : Hǎo kě'ài
tongxuemen : woahh, sangat lucu.
呂慧紅 :這位新朋友的名字,叫做小黑豆,想不想摸一下他?
lǚhuìhóng : Zhè wèi xīn péngyǒu de míngzì, jiàozuò xiǎo hēidòu, xiǎng bùxiǎng mō yīxià tā?
Lu hui hong : namanya Little Black Bean, apakah kalian ingin menyentuhnya?
同学们 : 想。
Tóngxuémen :xiǎng Tongxuemen : mau
呂慧紅 :一起摸一下他好嗎?
Lǚhuìhóng : Yīqǐ mō yīxià tā hǎo ma?
Lu hui hong : mari kita memberikannya tepuk tangan
同学们 :好
Tóngxuémen :hǎo Tongxuemen : iya
呂慧紅 :他雖然柔弱和細粒,經常給人取笑,但是他沒有自,
還有夢想,但是他沒有自卑,還有夢想,最後夢想 真。變成保護森林的大樹
lǚhuìhóng : Tā suīrán róuruò hé xì lì, jīngcháng jǐ rén qǔxiào, dànshì tā méiyǒu zìbēi, hái yǒu mèngxiǎng, dànshì tā méiyǒu zìbēi, hái yǒu mèngxiǎng, zuìhòu mèngxiǎng chéng zhēn.
Biànchéng bǎohù sēnlín de dàshù
luhuihong : meskipun dia bukan yang terbaik atau terkuat dihutan, dan rekan-rekannya sering mengejeknya. Ia percaya kekuatan keajaiban. Dia percaya akan mimpinya.
Berdasarkan dari cuplikan gambar diatas Lu Hui Hong merupakan tokoh pekerja keras. Selama mengajar di sekolah taman kanak-kanak, ia memberikan banyak indeks bekerja yang semakin meningkat dengan mengajarkan anak-anak tentang banyak hal. Hong tetap memberikan yang terbaik dengan mengajarkan hal berbeda kepada setiap murid-muridnya.
4.1.2 Berhati-hati
Lu Hui Hong dalam film Little Big Master berhati-hati dalam mendekati seluruh siswanya. Ia mempelajari setiap siswa yang ada di sekolahnya dengan cara mendekati mereka dan memberitahukan kepada mereka perihal tidak perlu menggunakan masker dalam hal belajar-mengajar. Karena menuntut ilmu itu sangatlah penting tidak perduli apapun dan bagaimana pun keadaanmu. Hal ini digambarkan pada gambar berikut.
Gambar 3
呂慧紅 :現在你們看著我,我再問你們一個問題,好嗎?
Lǚhuìhóng : Xiànzài nǐmen kànzhe wǒ, wǒ zài wèn nǐmen yīgè wèntí, hǎo ma?
Lu hui hong : sekarang lihat aku, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan lagi, oke?
同学们 :好
Tóngxuémen : Hǎo Tong xue men : baik
呂慧紅 :你們覺得校長戴口罩的時候漂亮,還是不戴時漂亮?
Lǚhuìhóng : Nǐmen juédé xiàozhǎng dài kǒuzhào de shíhòu piàoliang, háishì bù dài shí piàoliang?
Luhuihong : apakah saya terlihat lebih baik dengan menggunakan masker atau tanpa masker?
同学们 :不戴時漂亮
Tóngxuémen : Bù dài shí piàoliang
Tongxuemen : tanpa topeng
呂慧紅 :不戴時漂亮點?真的嗎?其實我不戴時漂亮點,你
也一樣,不戴口罩才會漂亮。
lǚhuìhóng : Bù dài shí piàoliang diǎn? Zhēn de ma? Qíshí wǒ bù dài shí piàoliang diǎn, nǐmen yě yīyàng, bù dài kǒuzhào cái huì piàoliang.
Luhuihong : sungguh? Tanpa masker? Jika saya terlihat baik tanpa masker, kau juga terlihat baik juga tanpa itu.
Kitty Fatimah :不可以,爸爸說不戴口罩, 會被人認出我是窮人, 那
完了,就沒出頭了, 爸爸說不能被人認出來的.
Kitty Fatimah : Bù kěyǐ, bàba shuō bu dài kǒuzhào, huì bèi rén rèn chū wǒ shì qióng rén, nà jiù wánliǎo, jiù méi chūtóule, bàba shuō bu néng bèi rén rèn chūlái de.
Kitty Fatimah : ayah ku mengatakan, orang-orang akan mengenali wajah saya dan mencap saya anak miskin bila tidak menggunakan\
masker ini. Dan aku tidak akan memiliki masa depan. Ayah mengatakan kepada kita untuk tidak membiarkan orang lain melihat wajah kita.
呂慧紅 :其實校長也怕被人認出來, 怕被人取笑, 笑我來了一
快停辦的幼兒園教書, 但是我仔細一想, 我每天都可 見到五個這麼乖, 這麼可愛的小朋友, 我就知道我不 自卑, 我不怕被人認出來, 我不需要戴口罩上課, 你們 跟我一樣,不要怕, 不需要戴口罩上課, 不如這樣, 一 兒校長逐一叫出你們的名字. 當我叫你的名字時. 你 摘下口罩,大聲說「到」,好嗎?
Lǚhuìhóng : Qíshí xiàozhǎng yě pà bèi rén rèn chūlái, pà bèi rén qǔxiào, xiào wǒ láile yī jiàn kuài tíngbàn de yòu'éryuán jiāoshū,
dànshì wǒ zǐxì yī xiǎng, wǒ měitiān dū kěyǐ jiàn dào wǔ gè zhème guāi, zhème kě'ài de xiǎopéngyǒu, wǒ jiù zhīdào wǒ bùyòng zìbēi, wǒ bùpà bèi rén rèn chūlái, wǒ bù xūyào dài kǒuzhào shàngkè, nǐmen yě gēn wǒ yīyàng, bùyào pà, bù xūyào dài kǒuzhào shàngkè, bùrú zhèyàng, yīhuǐ'er
xiàozhǎng zhúyī jiào chū nǐmen de míngzì. Dāng wǒ jiào nǐ de míngzì shí. Nǐ jiù zhāi xià kǒuzhào, dà shēng shuō `dào', hǎo ma?
Luhui hong : sebenarnya aku takut orang-orang akan mengenali ku dan mengejekku untuk mengajar ditaman kanak-kanak. Tapi sekarang aku berpikir tentang hal itu aku bisa melihat 5 gadis kecil menggemaskan setiap hari. Aku tidak merasa rendah diri sama sekali, aku tidak takut orang mengenali saya. Aku tidak perlu memakai topeng setiap pergi kesekolah. Kamu juga, jangan takut. Kau tidak perlu topeng itu. Bagaimana dengan itu? Aku akan mengabsen kalian, ketika saya menyebutkan nama kalian, buka masker dan katakan “hadir” dengan keras.
Paham?
同学们 :好
Tóngxuémen : Hǎo Tongxuemen : oke
Berdasarkan gambar diatas, Lu Hui Hong memberitahukan secara hati-hati kepada kelima muridnya agar melepaskan masker yang mereka gunakan agar terciptanya pembelajaran yang kondusif antara guru dan murid dan bisa melihat ekspresi setiap murid-muridnya. Disini Lu Hui Hong tidak memaksakan kelima muridnya tetapi ia berbicara secara hati-hati agar kelima muridnya mengerti.
Akhirnya kelima siswa Lu Hui Hong mengerti dan membuka masker yang ada diwajah mereka.
Gambar 4
谭美珠 :「行雷怪獸」
Tánměizhū :`Xíng léi guàishòu’
Tan mei zhu : guntur
呂慧紅 :珠女,等等校長
lǚhuìhóng : Zhū nǚ, děng děng xiàozhǎng
同学们 :珠女..不要怕「行雷怪獸」的
Tóngxuémen : Zhū nǚ.. Bùyào pà `xíng léi guàishòu'de
呂慧紅 :小心點,珠女,你們在這裏等我
lǚhuìhóng : Xiǎoxīn diǎn, zhū nǚ, nǐmen zài zhèlǐ děng wǒ
呂慧紅 :珠女,不用怕,有校長在
lǚhuìhóng : Zhū nǚ, bùyòng pà, yǒu xiàozhǎng zài
谭美珠 :「行雷怪獸」吃了爸爸跟媽媽
tánměizhū :`Xíng léi guàishòu' chīle bàba gēn māmā
呂慧紅 :珠女,校長知道你很怕,但是打雷可不是怪獸
lǚhuìhóng : Zhū nǚ, xiàozhǎng zhīdào nǐ hěn pà, dànshì dǎléi