• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 i

(2)

ii

Hak Cipta pada Masing-Masing Kontributor

Dilarang memperbanyak sebagian dan/atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, tanpa ijin tertulis dari Kontributor dan Editor

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA)

Penerbit:

Universitas Udayana, 2017

Desain Sampul:

Antonius Karel Muktiwibowo

Kontributor Foto Sampul Depan dan Belakang:

Antonius Karel Muktiwibowo

Pracetak:

Ni Made Swanendri, I Wayan Yuda Manik, Dwi Pratiwi, Ni Putu Dian Pratiwi, Sanar Oktaviani, Ni Wayan Fortuna Ningsih, Yosephine Estherina Wibowo, I Kadek Diantara, Kadek Satria Ariwibawa.

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan

Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Prosiding Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang

Denpasar: Penerbit Universitas Udayana, 2017

x, 501 hlm; 4 cm

Bibliografi

ISBN: 978-602-294-240-5

1. Arsitektur dan Tata Ruang

I. Judul

(3)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 iii

P R A K A T A

Identitas suatu bangsa memiliki peran yang penting dalam percaturan dunia internasional. Bangsa yang beridentitas memiliki karakter yang menjadi pembeda dengan bangsa lain. Dalam konteks Indonesia, identitas bangsa tidak bisa dipisahkan dari budaya lokal, masyarakat, dan lingkungan setempat yang mendukungnya. Tradisi dan budaya Indonesia masih bertahan hingga kini menjadi sebuah kekuatan untuk mempertahankan identitas Secara fisik, arsitektur dan lingkungan binaan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjukkan identitas suatu bangsa. Kedua faktor ini memiliki keterkaitan yang erat dengan dengan manusia sebagai pengguna dan Tuhan sebagai sang pencipta. Dalam filosofi orang Bali, Tri Hita Kharana merupakan sebuah konsep universal yang melestarikan hubungan harmonis antara manusia, alam dan Sang Pencipta untuk melestarikan budaya lokal. Konsep ini diangkat sebagai tema utama dalam seminar yang mengkaji arsitektur, manusia dan lingkungan terbangun dari berbagai sudut pandang yang beragam mulai dari filosofi dan konsepsi tentang arsitektur, kearifan lokal arsitektur, warisan dan budaya lokal serta identitas kota masa kini.

Karenanya, Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Bali (IAI Bali) dan Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) menyelenggarakan Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA) dengan tema Arsitektur, Manusia, dan Lingkungan Binaan pada tanggal 6 Oktober 2017 ini. Seminar nasional ini mengajak para akademisi, para peneliti, para praktisi terkait arsitektur, pemerintah, organisasi nirlaba, pengembang dan pihak lain yang tertarik untuk mengkaji kekayaan arsitektur Indonesia untuk mempertahankan identitas bangsa dari pengaruh globalisasi. SAMARTA 2017 merupakan kegiatan perdana dan direncanakan akan dilakukan secara berkelanjutan setiap dua tahun dengan tema yang berbeda-beda sesuai dengan situasi terkini yang perlu didiskusikan. Akhir kata, kepada Pembicara Kunci, kami ucapkan terima kasih atas waktu serta kesediaannya untuk berbagi di melalui kegiatan ini.

Kepada Pemakalah dan Peserta Seminar, kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Akhirnya, kepada semua Panitia Pelaksana Seminar, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kerja kerasnya, sehingga seminar nasional tahun ini dapat terlaksana dengan baik, dan mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan selama persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.

Semoga seminar nasional ini bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan lokal dan nasional.

Terima kasih

Ketua panitia SAMARTA 2017 6 Oktober 2017

Dr. Tri Anggraini Prajnawrdhi, S.T, M.T, MURP.

NIP. 197301012000122001

(4)

iv

KATA SAMBUTAN

Om Swastyastu,

Puja Pangastuti dipanjatkan kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa karena berkat rahmat dan karunia- Nya Prosiding Seminar Arsitektur dan Tata Ruang (Samarta) tahun 2017 dengan Tema Arsitektur, Manusia dan Lingkungan Terbangun, dapat diterbitkan. Prosiding ini memuat kumpulan makalah yang disertakan pada seminar tersebut.

Seminar yang diselenggarakan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana ini diharapkan dapat terlaksana setiap tahun. Tema ini mengajak berbagai pihak untuk secara berkelanjutan membedah arsitektur dan tata ruang dalam suatu diskusi.

Terima kasih disampaikan kepada Rektor Universitas Udayana serta Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana atas dukungan moral dan material. Terima kasih juga kami sampaikan kepada pembicara kunci Prof. Josef Prijotomo, Prof. Antariksa, Prof. Sudaryono, dan Prof. Widjaja Martokusumo. Selain itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada peserta seminar, panitia seminar dosen dan mahasiswa serta semua pihak yang telah membantu terbitnya prosiding ini.

Akhir kata, mudah-mudahan prosiding ini bisa menginspirasi pembaca dan menjadi referensi bagi akademisi, praktisi serta pembaca lainnya.

Terima Kasih

Om, Santhi, Santhi, Santhi, Om

Jimbaran, 6 Oktober 2017 Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Prof. Dr. Ir. A. A. Ayu Oka Saraswati, M.T.

NIP. 196104151987022001

(5)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 v

RINGKASAN

Prosiding seminar ini merupakan kumpulan paper-paper yang dipresentasikan dan dipublikasi pada Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA) dengan tema Arsitektur, Manusia, dan Lingkungan Terbangun yang diselenggarakan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana di Ruang Nusantara Lantai 4 Gedung Agro Kompleks Universitas Udayana, Kampus Denpasar pada hari Jum’at, tanggal 6 Oktober 2017.

Adapun sub tema yang diangkat dalam seminar nasional ini adalah:

1. Interpretasi filosofi dan konsepsi;

2. Diskursi kearifan lokal dalam rancang bangun;

3. Eksplorasi arsitektur warisan dan budaya; dan 4. Identitas lokal pada ruang kota masa kini.

Masing-masing paper telah dipresentasikan, baik dalam sesi presentasi untuk para pembicara kunci maupun sesi diskusi paralel untuk para pemakalah. Peserta dan pemakalah dalam seminar nasional ini berasal dari para akademisi, para peneliti, mahasiswa program pascasarjana, para praktisi terkait arsitektur, para pemerhati lingkungan terbangun, pemerintah, organisasi nirlaba, pengembang, dan kalangan umum.

Kegiatan seminar nasional ini adalah kegiatan awal dari rangkaian kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan secara berkelanjutan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana. Pada setiap kegiatan seminar nasional akan ditetapkan tema yang berbeda-beda sesuai dengan situasi dan isu aktual pada saat itu. Semoga seminar nasional ini dapat menjadi wadah diskusi dan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan gagasan berkaitan dengan arsitektur, manusia, dan lingkungan binaan dan dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan berkelanjutan di negeri yang kita cintai ini.

Terima kasih

(6)

vi

DAFTAR ISI

Halaman SAMBUTAN DAN PENGANTAR

1. Prakata Ketua Panitia Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana

2017 ... iii

2. Kata Sambutan Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana 2017 ... iv

3. Ringkasan Prosiding Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana 2017 ... v

DAFTAR ISI ... vi

PEMBICARA UTAMA ... 1. ‘Nusantara’ dan Perkembangan Arsitektur di Indonesia. (Josef Prijotomo) ... 1

2. Memaknai Lokalitas Dalam Arsitektur Lingkungan Binaan. (Antariksa) ... 9

3. Pendekatan Fenomenologi untuk Eksplorasi Arsitektur Lokal Bali. (Sudaryono) ... 15

4. Pelestarian Warisan Budaya. Catatan untuk Konsep Autentisitas dan Integritas dalam Pelestarian Arsitektur. (Widjaja Martokusumo) ... 23

SUB TOPIK 1. INTERPRETASI FILOSOFI DAN KONSEPSI ...

1. Konsep Panca Maha Bhuta dalam Perencanaan dan Perancangan Taman Rekreasi Kalianget Wonosobo.

(Daisy Radnawati, Samsud Dlukha, Ray March Syahadat, Priambudi Trie Putra) ... 1-1 2. Pengaruh Konsep Catus Patha terhadap Tata Ruang Pemukiman di Kawasan Transmigrasi

Masyarakat Bali. Studi Kasus: Desa Jati Bali, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

(Imade Krisna Adhi Dharma, Weko Indira Romanti Aulia) ... 1-9 3. Konsepsi dan Makna Arsitektur Tradisional pada Bangunan Kekinian. Sebuah Intepretasi

Masyarakat Lokal Bali Tengah pada Transformasi Rumah Tradisional.

(I Dewa Gede Agung Diasana Putra) ... 1-21 4. Façade dan Landscape Bali, Interpretasi dan Konsep Tata Ruang Lingkungan Terbangun

Desa Bayung Gede.

(Petrus Rudi Kasimun) ... 1-31 5. Identifikasi Bentuk, Struktur, dan Kontruksi Bale Meten Sakaulu pada Arsitektur Tradisional

Bali di Desa Gunaksa-Klungkung.

(I Nengah Lanus, I Nyoman Susanta, Gede Windu Laskara) ... 1-35 6. Ignition Factor sebagai Informasi Berharga Desain Arsitektur.

(Heru Sufianto) ... 1-43 7. Dari Teks Menjadi Arsitektur: Interpretasi terhadap Naskah Lontar Asta Kosala Kosali.

(I Nyoman Nuri Arthana) ... 1-51 8. Landasan Konsepsual dan Penerapan Pradaksina dan Prasawya dalam Perwujudan

Arsitektur Hindu Bali.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 1-59 9. Makna Simbolis Penataan Palebahan sebagai Unsur Dasar Kompleks Puri di Bali.

(Anak Agung Gde Djaja Bharuna S) ... 1-69

(7)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 vii SUB TOPIK 2. DISKUSI KEARIFAN LOKAL DALAM RANCANG BANGUN ...

1. Ragam Hias Arsitektur Tradisional Bali pada Gedung Kantor Gubernur Bali.

(Donna Sri Lestari Poskiparta, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-1 2. Kearifan Lokal Migran Madura pada Permukiman Kota Lama Malang.

(Damayanti Asikin, Antariksa, Lisa Dwi Wulandari, Wara Indira Rukmi) ... 2-9 3. Identifikasi Bangunan Kolonial untuk Pelestarian Fasade di Jalur Belanda Kota Singaraja-Bali.

(Agus Kurniawan) ... 2-17 4. Representasi Tradisi Demokrasi pada Arsitektur Bale Banjar Adat di Denpasar-Bali.

(Christina Gantini, Josef Prijotomo) ... 2-25 5. Karakteristik Tangible dan Intangible Gereja Tua Sikka. Sebagai Bukti Sejarah Masuknya

Agama Katolik di Sikka.

(Yohanes Pieter Pedor P., I Wayan Kastawan, Widiastuti) ... 2-35 6. Keunikan Bentuk Ragam Hias pada Pura Dalem Desa Bebetin, Kecamatan Sawan,

Kabupaten Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Ketut Agusintadewi, Ni Luh Putu Eka Pebriyanti, dan Ni Made Mitha Mahastuti) ... 2-45 7. Bale Tumpang Salu pada Bangunan Umah di Desa Sidatapa, Singaraja.

(Anak Agung Ayu Oka Saraswati) ... 2-53 8. Bentuk dan Makna Arsitektur dan Ornamen Monumen Bajra Sandhi.

(Sri Indah Retno Kusumowati, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-59 9. Kajian Penerapan Arsitektur dan Ragam Hias Tradisional Bali pada Kori Agung Bangunan

Balai Pertemuan di Kantor DPRD Bali.

(Syilvia Agustine Maharani, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-67 10. Adaptasi Arsitektur Tradisional Bali pada Balai Pertemuan DPRD Renon, Bali.

(Made Chryselia Dwiantari, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-75 11. Kajian Ergo-Arsitektur pada Dapur Tradisional di Banjar Tiga Kawan, Desa Penglumbaran,

Bangli-Bali.

(Ida Bagus Gde Primayatna, I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 2-83 12. Ekspansi Ruang pada Bangunan Tradisional Bali.

(I Made Adhika) ... 2-89 13. Kearifan Ekologis Bangunan Vernakuler dalam Konteks Mitigasi Bencana.

(Sri Utami) ... 2-95 14. Memahami Esensi Ruang Domestik pada Masyarakat Tradisional Bali Aga di Desa Sekardadi,

Kintamani.

(Ni Ketut Agusintadewi, I Wayan Yuda Manik, Ni Made Mitha Mahastuti) ... 2-103

SUB TOPIK 3. EKSPLORASI ARSITEKTUR WARISAN DAN BUDAYA ...

1. Kampung Adat Deri Kambajawa di Kabupaten Sumba Tengah sebagai Living Museum.

(Titien Saraswati, Maria Adrianus Rambu Day) ... 3-1 2. Reinterpretasi Prinsip Ruang Bersama Tanean Lanjang Madura pada Pusat Komunitas Seni

Tari Topeng Malang.

(Dionisius Dino Briananto, Tito Haripradianto, Abraham M. Ridjal) ... 3-11 3. Peragaman Rupa dan Rupa Inklusif dalam Desain Warisan Arsitektur.

(Noviani Suryasari, Antariksa, dan Lisa Dwi Wulandari)... 3-17 4. Kota Terapung Muara Muntai. Studi Kasus: Pengembangan Kota Muara Muntai Sebagai Kota

Heritage.

(Huda Nurjanti) ... 3-23 5. Pola Tata Bangunan dan Hubungan Kekerabatan: Dusun Kasim, Kabupaten Blitar.

(Yurista Hardika Dinata, Wara Indira Rukmi, dan Antariksa) ... 3-33 6. Kawasan Wisata Permukiman Bantik di Pesisir Pantai Malalayang Berbasis Cultural Heritage.

(Pingkan Peggy Egam, Arthur Harris Thambas) ... 3-41

(8)

viii

7. Kajian Place Attachment pada Anak-Anak di Desa Bali Aga Tenganan dengan Visual Analy- sis.

(Antonius Karel Muktiwibowo, Gede Windu Laskara) ... 3-49 8. Identifikasi Tingkat Perubahan Kawasan Bersejarah Menggunakan Visual Impact

Assessement dan Tipologi Bangunan di Koridor Jalan Ijen, Malang.

(Eddi Basuki Kurniawan, Novita Dian Zahdella, Wulan Astrini) ... 3-59 9. Pola Pemanfaatan Ruang Pemukiman Masyarakat Bajo di Desa Lemo Bajo Kabupaten

Konawe Utara sebagai Arahan Penataan Kawasan Pemukiman Pesisir.

(Santi, Siti Belinda Amri, Haryudin) ... 3-67 10. Kajian Penataan Ruang Kawasan Jabotabek dengan Pendekatan Ekosistem.

(Parino Rahardjo) ... 3-77 11. Ruang Teror pada Labirin Kampung Pulo.

(Coriesta Dian Sulistiani) ... 3-85 12. Faktor Kritis Penentu Keberhasilan Kolaborasi Desain pada Perusahaan Properti di

Kabupaten Gresik.

(Moh. Saiful Hakiki, Ikhtisholiyah, Dandy Nugroho) ... 3-97 13. Tipologi Rumah Adat Pada Desa Bali Aga. Studi Kasus pada Desa Tigawasa, Kecamatan

Banjar, Kabupaten Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Made Yudantini) ... 3-103 14. Perubahan Arsitektur Tradisional Hunian Desa Bayung Gede, Bangli.

(Widiastuti, Syamsul Alam Paturusi, Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, Gede Windu Laskara) ... 3-109 15. Identifikasi Potensi Internal, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Lima Tipe Daya Tarik

Wisata Desa Singapadu Tengah.

(I Made Suarya, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, Ni Ketut Agusinta Dewi, dan I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 3-119 16. Cultural Landscape: Pola Desa Tradisional di Desa Buahan, Kintamani.

(Ni Made Yudantini, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 3-127

SUB TOPIK 4. IDENTITAS LOKAL PADA RUANG KOTA MASA KINI ...

1. Konsep Ruang Komunal Sosio-Kultural Kota Multi-Etnis Historis Gresik.

(Dian Ariestadi, Antariksa, Lisa D. Wulandari, Surjono) ... 4-1 2. Konsep Perancangan Kawasan Pasar Tradisional Badung sebagai Upaya Memperkuat

Karakter Kawasan Jl. Gajah Mada-Denpasar.

(Gede Windu Laskara, Bramana Ajasmara Putra) ... 4-9 3. Place Attachment pada Jalur Pedestrian di Jalan Ijen, Malang sebagai Ruang Terbuka Publik.

(Wulan Astrini, Eddi Basuki Kurniawan) ... 4-17 4. Kearifan Pejabat, Pengembang, Perencana, Perancang, dan Supervisi dalam Etika

Lingkungan Hidup.

(JM. Joko Priyono Santoso) ... 4-25 5. Kearifan Lokal dan Identitas Kota Baru.

(Franky Liauw) ... 4-33 6. Ekowisata pada Cultural Landscape Subak sebagai Identitas Kota Denpasar. Sebuah Upaya

Penggalian Potensi Ekowisata di Subak Sembung Kecamatan Denpasar Utara.

(I Gusti Agung Bagus Suryada, I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 4-41 7. Pengembangan Wisata Sejarah sebagai Penguatan Identitas Kawasan Kabupaten Pulau Mo-

rotai.

(Yudha Pracastino Heston, Yonanda Rayi Ayuningtyas, dan Rivaldo Okono) ... 4-49 8. Permukiman Bali Kuno Desa Bayung Gede sebagai Atraksi Pariwisata di Bali.

(Syamsul Alam Paturusi) ... 4-57 9. Perancangan Kawasan Kedungu Resort sebagai Upaya Pembangunan Sektor Pertanian yang

Berkelanjutan di Kabupaten Tabanan.

(9)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 ix

(Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, I Wayan Yogik Adnyana Putra, Marthin Gunardhy) ... 4-67 10. Materialisasi Ruang Publik dan Pembangunan Pariwisata Budaya. Konflik Kepentingan

Pemanfaatan Kawasan Pesisir di Bali.

(I Ketut Mudra) ... 4-75 11. Upaya Mengeleminir Dampak Investasi terhadap Lingkungan dan Tata Ruang Wilayah Kabu-

paten Badung.

(Putu Rumawan Salain) ... 4-83 12. Permasalahan Keruangan dalam Perencanaan Pasar Seni Desa Pakraman Kutri, Desa Sin-

gapadu Tengah, Gianyar.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa, I Made Suarya, dan Ida Ayu Armeli)... 4-93 13. Konsep Tata Kelola Homestay di Desa Wisata Pinge Kabupaten Tabanan.

(Ni Putu Atik Pranya Dewi, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, dan Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 4-101 14. Kajian Kawasan Nelayan di Pantai Kuta.

(I Gusti Ngurah Anom Rajendra) ... 4-109 15. Identifikasi Desain Ruang Luar yang Berkearifan Lokal sebagai Place Branding terhadap

Persepsi Wisata Kota di Area Catus Patha Kota Denpasar.

(Kadek Agus Surya Darma) ... 4-117 16. Makna dan Karakteristik Ruang Bermain Anak di Bantaran Sungai Code. Studi Kasus:

Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta.

(Ni Luh Putu Eka Pebriyanti) ... 4-125 17. Pemanfaatan Lansekap sebagai Identitas Kota dalam Perspektif City Branding.

(Subhan Ramdlani)... 4-133 18. Aktivitas Masyarakat sebagai Pembentuk Identitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berkualitas di

Kota Malang.

(Lisa Dwi Wulandari, Subhan Ramdlani) ... 4-141 SUSUNAN PANITIA ...

(10)

x

(11)

T.A Prajnawrdhi1), N.M Yudantini2), -Tipologi Rumah Adat pada Desa Bali Aga, Studi Kasus pada Desa Tigawasa 1

TIPOLOGI RUMAH ADAT PADA DESA BALI AGA

Studi kasus pada Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng

T.A Prajnawrdhi1), N.M Yudantini2)

1)PS Arsitektur, Fak.Teknik, Universitas Udayana [email protected]

2)PS Arsitektur, Fak.Teknik, Universitas Udayana [email protected]

ABSTRACT

Bali Aga villages are known as Bali Mula as well means old village which inhabited by indigenous Balinese way before people from Majapahit Kingdom came to Bali. These villages spread put around Bali, most of them still exist and preserved by the locals. Tigawasa village is located in Banjar District in Buleleng Regenct has some cultural heritages, and one of them is the houses which exist until now. However, the transformation of form and function of the indigenous houses has been happening and hard to control then brought concerned for its preservation. This paper unveil the typology of the indigenous houses in Tigawasa and its characteristic as the identity of the houses. Qualitative approach being used for the study include site observation survey and interview with some selected respondents. Result shows that there are three types of indigenous houses in Tigawasa which shows the original pattern and characters and be able to demonstrate the identity of the houses.

Keywords: Bali Aga, indigenous houses, typology, transformation.

ABSTRAK

Desa Bali Aga dikenal juga dengan Desa Bali Mula yang merupakan desa tua dan masyarakatnya merupakan penduduk asli pulau Bali sebelum kedatangan penduduk dari Jawa pada era Kerajaan Majapahit. Desa ini tersebar di beberapa kabupaten yang ada di Bali, dan keberadaannya saat ini masih dilestarikan oleh penduduk setempat. Desa Tigawasa yang berada di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng memiliki beberapa tinggalan sejarah yang salah satunya adalah rumah adat yang masih ada hingga kini. Namun keberadaan rumah adat ini sudah semakin mengkhawatirkan mengingat transformasi bentuk dan fungsi terhadap rumah adat ini sudah berlangsung sejak lama dan tidak bisa dihindari. Artikel ini mengupas dengan jelas tipologi rumah adat desa Tigawasa dan kharakteristik dari rumah adat tersebut yang merupakan identitas dari desa ini. Pendekatan kualitatif digunakan pada penelitian ini, yang disertai observasi lapangan di desa Tigawasa dan wawancara dengan pihak-pihak terkait. Hasil menunjukkan bahwa terdapat tiga tipe rumah adat di desa Tigawasa yang masih dapat dilacak jejaknya dan masih memiliki kharakter asli yang mampu menunjukkan identitas rumah adat desa ini.

Kata Kunci: Bali Aga, rumah adat, tipologi, transformasi

PENDAHULUAN

Desa Bali Aga yang juga dikenal sebagai desa Bali Mula adalah desa yang sudah berdiri sebelum datangnya penduduk dari pulau Jawa pada era Kerajaan Majapahit. Desa Bali Aga tersebar di beberapa kapupaten di seluruh Bali dan pada umumnya berlokasi pada area dataran tinggi. Desa Tigawasa adalah salah satu desa Bali Aga yang berlokasi di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Desa ini memiliki warisan budaya dari nenek moyang mereka yang masih dijaga hingga kini. Warisan budaya tersebut adalah tradisi local, peninggalan dari jaman purbakala dalam bentuk tiga buah sarkopagus dan bangunan rumah adat.

Beberapa penelitian telah dilakukan oleh para peneliti terkait dengan desa Tigawasa. Beberapa penelitian tersebut diantaranya terkait tentang Keragaman spesies tumbuhan di hutan Tigawasa oleh Wijana dkk (2014),Pendidikan Politik Berbasis Desa Adat Bagi Kaum Perempuan Di Desa Tigawasa Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng oleh Restini, dkk (2014), Keanekaragaman dan Penggunaan Jenis-jenis Bambu di Desa Tigawasa, Bali oleh Arinasa (2004), Konsep Pola Ruang Makro Desa Tigawasa oleh Ganesha, dkk (2012), Motif Hias Pada Kerajinan Anyaman Bambu Di Kejapa Bamboo Handicraft, Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Bulelengdesa Tigawasa oleh Yuanda Putri dkk (2012), Pengelolaan Hutan Berbasis Kearifan Lokal Di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng oleh Wijana (2013), dan beberapa penelitian tentang peninggalan purbakala di

(12)

Bali Utara dan desa Tigawasa termasuk salah satu desa yang memiliki tinggalan purbakala. Dari semua penelitian yang telah dilakukan di desa Tigawasa, belum ada penelitian tentang bangunan adat desa Tigawasa. Bangunan adat desa Tigawasa adalah salah satu peninggalan sejarah yang masih lestari hingga kini dan sangat perlu untuk didokumentasikan sehingga generasi mendatang mendapatkan pengetahuan tentang rumah adat warisan dari leluhur mereka.Terlebih transformasi terhadap rumah adat di desa Tigawasa sudah sangat banyak dilakukan, dan saat ini hanya ada beberapa saja rumah adat yang masih tersisa di desa ini. Oleh sebab itu, penelitian ini sangat perlu dilakukan untuk mendokumentasikan sekaligus mempelajari jenis-jenis atau tipologi rumah adat yang ada di desa Tigawasa. Oleh sebab itu dokumentasi terhadap bangunan rumah adat di desa Tigawasa ini sangat penting untuk dilakukan mengingat perubahan terhadap rumah adat di desa ini sudah tidak bisa dihindari lagi.

KAJIAN TEORI

Tipologi berasal dari kata typology dalam Bahasa Inggris. Tipologi merupakan ilmu tentang tipe.

Secara harfiah, tipologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang tipe. (Quincy 1832 dalam Ramadanta 2001, Setyohadi 2007). Francescato (1994) menyatakan bahwa konsep tipe berdasarkan ide konsep arsitektur merupakan sebuah ide yang berhubungan dengan pembuatan sebuah karya/wujud arsitektur (praxis), pemikiran terhadap sebuah karya arsitektur (theory), dan pengetahuan di bidang arsitektur (research), kemudian Francescato juga menyatakan bahwa tipologi dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep yang memilah sebuah kelompok objek berdasarkan kesamaan sifat-sifat dasar, atau dapat diartikan pula bahwa tipologi adalah tindakan berfikir dalam rangka pengelompokkan (Moneo 1979). Berdasarkan pendapat Moneo (1979), tujuan tipologi adalah sebagai alat untuk melihat dan mempelajari obyek arsitektur. Dalam hal ini tipologi sebagai konsepsi sekaligus metode. Dapat disimpulkan bahwa tipologi merupakan cabang pengetahuan atau wawasan yang menitikberatkan terhadap identifikasi tipe dan karakteristik, pengklasifikasian dan pengelompokan (taksonomi).

Pengertian terhadap tipologi adalah juga merupakan sebuah teknik di dalam meng-klasifikasikan sebuah tipe berdasarkan sebuah penelusuran terhadap asal-usul dari terbentuknya obyek arsitektural (Sukada, 1989). Teori ini menekankan tentang pembentukan bentuk dasar; pembentukan sifat dasar dan mempelajari tentang perkembangan dari bentuk tersebut. Senada dengan hal tersebut, Antariksa (2010) menyatakan bahwa tipologi merupakan sebuah studi yang berkaitan dengan tipe dari beberapa objek yang memiliki jenis yang sama. Antariksa juga berpendapat bahwa ilmu tentang tipologi merupakan sebuah bidang studi yang mengklasifikasikan, mengkelaskan dan mengelompokkan objek dengan ciri khas struktur formal yang sama dan kesamaan sifat dasar ke dalam tipe-tipe tertentu dengan cara memilah bentuk keragaman dan kesamaan jenis.

Widya (2001) mengutip pernyataan dari Quincy (1832) bahwa sebuah tipe dalam arsitektur mengandung unsur yang disebut dengan prinsip dasar yang telah diyakini berdasarkan suatu prinsip tertentu, walaupun tidak lepas dari perubahan-perubahan. Pada prinsipnya tipe dalam arsitektur merupakan tipe yang memiliki sebuah prinsip dasar dan memiliki suatu ciri dan tidak dapat dikurangi, dan nantinya dapat berkembang menjadi bermacam-macam model. Tipologi adalah studi tentang tipe.

Dan yang dimaksud dengan tipe adalah kelompok dari objek yang memiliki ciri khas struktur formal yang sama. Tipologi merupakan studi tentang pengelompokkan objek sebagai model, melalui kesamaan bentuk dan struktur dan merupakan sebuah studi tentang tipe dengan kegiatan kategorisasi dan klasifikasi untuk menghasilkan tipe. Kegiatan kategori dan tipe tersebut sekaligus dapat dilihat keragaman dan keseragamannya (Iswati 2003: 124 dalam Santoso 2011).

Dari beberapa pengertian diatas, dapat dilihat bahwa tipologi merupakan suatu metode pengklasifikasian wujud arsitektur yang dilakukan lebih kepada hal-hal yang bersifat fisik yaitu berupa bentuk, ukuran, struktur dan hal-hal yang terkait dengan sifat-sifat dasar dari wujud arsitektur. Melalui mengklasifikasikan wujud arsitektur tersebut dapat dilihat ide maupun konsep yang terkandung dibalik sifat-sifat dasar bentuk, ukuran maupun struktur yang ditampilkan. Dengan mengetahui tipologi dari sebuah wujud arsitektur, seorang peneliti nantinya akan mampu mengetahui dan melacak perkembangan sebuah wujud arsitektur berdasarkan dengan tipologi yang dimilikinya.

METODE

Metode yang digunakan pada peneltian tentang tipologi rumah adat di desa Tigawasa ini menggunakan metode studi kasus dengan melakukan analisis terhadap bentuk dari bangunan rumah adat. Metode studi kasus merupakan metode yang sesuai untuk penelitian ini sebab metode ini

(13)

T.A Prajnawrdhi1), N.M Yudantini2), -Tipologi Rumah Adat pada Desa Bali Aga, Studi Kasus pada Desa Tigawasa 3

memberikan kesempatan untuk melakukan penelaahan secara menyeluruh terhadap obyek kasus dengan menggunakan beberapa pendekatan. Dengan menggabungkan beberapa pendekatan akan memberikan hasil yang lebih akurat. Oleh sebab itu metode ini merupakan metode yang sangat sesuai untuk penelitian-penelitian pada ranah ilu-ilmu social (Flyvbjerg 2006, Yin 2009). Metode studi kasus ini juga sangat membantu seorang peneliti untuk mendapatkan suatu metode penelitian yang menyeluruh terhadap obyek yang diteliti dan dapat melalukan eskplorasi terhadap obyek studi dengan lebih mendalam (Stake 1978). Data primer didapatkan melalui observasi lapangan, pengukuran, pendokumentasian dengan foto dan video dan wawancara dengan pemilik rumah serta pihak-pihak aparat desa. Data sekunder didapatkan dari literature, buku sejarah dan buku demografi desa. Kedua jenis data ini diolah secara kualitatif untuk menghasilkan temuan/ hasil akhir yang lebih optimal (McCutcheon & Meredith 1993).

HASIL DAN DISKUSI

Tipe Rumah Adat Di Desa Tigawasa

Berdasarkan data lapangan serta analisa yang dilakukan, hasil menunjukkan bahwa terdapat tiga buah tipe utama pada bangunan rumah adat desa Tigawasa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Dari masing-masing tipe utama dari rumah adat tersebut terdapat beberapa variasi pada setiap tipe. Rumah adat ini dikelompokkan menjadi tiga buah tipe berdasarkan kesamaan sifat dasar bentuk, struktur, ukuran dan fungsi ruang yang ada pada ketiga rumah adat ini. Berdasarkan studi lapangan dan literature serta wawancara yang dilakukan, beberapa rumah adat yang telah bertranformasi menjadi bentuk yang lebih baru masih bisa dilacak keasliannya berdasarkan pengelompookan tipologi yang telah dilakukan. Tiga buah tipe utama pada rumah adat desa Tigawasa dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tipe yang pertama disebut dengan bangunan rumah adat Sakaroras. Sakaroras mengandung makna saka= tiang; roras= duabelas. Rumah adat ini memiliki 12 buah tiang kayu sebagai penyangga utama struktur bangunan. Rumah ini memiliki bentuk segiempat yang sederhana dan bentuk atap limasan. Fungsi-fungsi ruang yang terdapat pada rumah adat menciptakan suatu tatanan ruang dalam yaitu:

a. Tempat beristirahat; terdapat dua buah Bale (tempat tidur) yang berukuran sama dan terbuat dari kayu. Kayu struktur dari Bale ini adalah merupakan bagian dari struktur bangunan. Satu bale difungsikan untuk tempat tidur orang tua yang memiliki posisi di sebelah kanan pintu masuk(dekat dengan Paon) dan satunya lagi berfungsi untuk tempat tidur anak yang berposisi di sebelah kiri pintu masuk.

b. Tempat memasak dan menyimpan perlengkapan serta persediaan makanan: memiliki sebuah dapur yang disebut dengan Paon yang berada tepat di sisi kanan pintu masuk.

Terdapat area yang disebut dengan Gentong sebagai tempat menyimpan peralatan dapur dan bahan makanan.

c. Tempat untuk bercengkrama dengan sesame anggota keluarga dan tempat menerima tamu adalah merupakan ruang kosong yang berada diseberang Paon dan bersebelahan dengan Bale tempat tidur anak.

d. Tempat pemujaan leluhur yang merupakan sebuah meja yang terbuat dari tanah polpolan dan berada diantara dua buah bale yang ada pada bangunan adat ini. Terdapat pula tempat pemujaan yang digantung diatas Bale tempat tidur orang tua yang disebut dengan Pelangkiran yang dibuat dari bamboo. Terdapat juga tempat pemujaan leluhur yang berada diluar bangunan tepatnya di bagian belakang bangunan, dibuatkan sebuah tempat pemujaan leluhur yang terbuat dari bamboo.

e. Tempat untuk menerima tamu berada di depan rumah yang dsebut dengan Ampik. Tidak semua rumah memiliki Ampik, hanya rumah adat Sakaroras yang tertutup yang meiliki Ampik.

Dimana Ampik ii adalah merupakan fungsi tambahan dan tidak semua bangunan Sakaroras memiliki Ampik.

f. Fungsi penyimpanan padi dan hasil bumi. Untuk mewadahi penyimpanan ini terdapat bangunan yang berada tepat di depan rumah yang bernama Jineng (lumbung) yang dimiliki

(14)

oleh semua masyarakat di masa lampau. Namun sekarang hanya hanya beberapa masyarakat saja yang memiliki Jineng karena sudah tidak lagi berprofesi sebagai petani.

Gambar 1. Denah dan tampak bangunan sakaroras Sumber: penulis, 2017

2. Tipe rumah adat yang kedua disebut dengan Sakanem. Sakanem mengandung arti: saka= tiang;

nem= enam. Bangunan rumah adat ini memiliki enam buah tiang yang menjadi struktur utama.

Bangunan rumah adat ini menampung berbagai aktifitas penghuninya dan memiliki tatanan ruang dalam yang sama dengan Sakaroras namun memiliki pola spasial yang berbeda. Tiang kayu pada Bale yang merupakan tempat tidur pada rumah ini juga merupakan bagian dari struktur utama bangunan. Tidak jauh berbeda dengan Sakaroras, di jaman dahulu semua rumah adat Sakanem memiliki bangunan Jineng tepat di depan rumah mereka, namun sekarang bangunan Jineng sangat langka ditemukan, dan hanya terdapat di beberapa rumah penduduk saja.

Gambar 2. Denah dan tampak depan bangunan Sakanem Sumber: Penulis, 2017

(15)

T.A Prajnawrdhi1), N.M Yudantini2), -Tipologi Rumah Adat pada Desa Bali Aga, Studi Kasus pada Desa Tigawasa 5

3. Tipe rumah adat yang ketiga disebut dengan Sakapat. Tidak jauh beda pengertiannya dengan tipe rumah adat diatas dimana saka= tiang dan pat= empat. Jadi bangunan ini memiliki empat buah tiang sebagai struktur utama dari bangunan ini. Bangunan yang mengambil bentuk segi empat sederhana ini hanya memiliki fungsi sebagai tempat tidur dan tempat pemujaan leluhur saja. Fungsi memasak dan penyimpanan tersedia dalam bangunan yang terpisah dengan Sakapat. Bangunan Paon terletak tepat di depan bangunan Sakapat dan Jineng berada maupun bersebelahan dengan Paon. Terdapat dua buah tempat tidur pada rumah ini namun bukan disebut sebagai Bale karena tiang tempat tidur bukan merupakan struktur utama dari rumah ini. Tempat tidur disebut dengan Dipan karena bisa dipindah dan bukan merupakan bagian dari struktur utama.

Gambar 3. Denah dan tampak depan bangunan Sakapat Sumber: Penulis, 2017

Ketiga tipe rumah adat desa Tigawasa ini memiliki kesamaan dari segi struktur maupun bentuk yang digunakan, sehingga jelas terlihat hubungan diantara ketiga tipe rumah adat ini. Dari ketiga tipe ini juga terlihat keragaman serta keseragaman pada rumah adat, senada yang diungkapkan oleh Santoso (2011) bahwa dengan mempelajari tentang tipologi akan dapat memahami keragaman serta keseragaman terhadap unsur elemen fisik dari wujud asritektur.

Keragaman dan keseragaman dari Rumah Adat di Desa Tigawasa

Dari ketiga tipe rumah adat desa Tigawasa yang dijelaskan diatas, perubahan terhadap bentuk serta penambahan fungsi ruang pada rumah adat di desa Tigawasa ini baik pada bangunan Sakaroras, Sakanem maupun Sakapat tidak dapat dihidari. Perubahan yang terjadi tersebut diakibatkan oleh meningkatnya kebutuhan dari penghuni yang berubah seirig dengan berjalannya waktu. Meningkatnya kebutuhan kemudian diiringi dengan meningkatnya respon terhadap kesesakan atau kepadatan yang kemudian mempengaruhi keinginan untuk mendapatkan luasan dalam rumah yang lebih besar (Tipple 1997 dalam Sueca 2000). Akibat dari fenomena kesesakan ini adalah perubahan tata ruang dan bentuk bangunan sehingga menyesuaikan dengan kebutuhan penghuni dan berpindahnya penghuni ke rumah yang baru yang dibuat berdasarkan keinginan serta kebutuhan dari penghuninya. Dari transformasi terhadap rumah adat ini, hanya beberapa rumah masih dapat dilacak rumah asli yang kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang berbeda dan lebih modern. Bentukan pengembangan rumah yang baru dan masih memiliki unsur asli dari rumah adat dapat dikatakan sebagai pengkayaan atau peragaman dari rumah adat desa Tigawasa.

Diawal abad ke 20, terjadi perubahan yang sangat drastis terhadap rumah tinggal tradisional di negera berkembang, dimana gaya tradisional digantikan dengan gaya modern tanpa melakukan suatu penggabungan diantara kedua gaya tersebut sama sekali. Akhirnya keadaan ini sangat memprihatinkan karena warisan masa lalu dari nenek moyang selama ratusan bahkan ribuan tahun terhapuskan (Behsh, 1993). Sangat disayangkan hal ini juga terjadi di desa Tigawasa, dimana sebagian besar rumah yang baru bukan merupakan pengembangan dari rumah asli namun dibangun

(16)

sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dari sang pemilik. Dan rumah yang baru ini tidak memiliki ciri yang sama dengan rumah asli, baik dari segi bentuk, ukuran, material maupun pola ruang yang terdapat di dalamnya. Oleh sebab itu, rumah baru yang ada di desa ini tidak dikategorikan sebagai pengkayaan atau peragaman dari bentuk rumah adat sebelumnya.

Perubahan terhadap rumah tradisional juga disebabkan oleh adanya kesempatan untuk memulai jenis pekerjaan yang baru, sehingga trasformasi terhadap rumah tradisional pun tidak bisa dihindari.

Transformasi terhadap rumah tradisional ini memberikan kesempatan terutama bagi penduduk yang berpenghasilan rendah untuk menjadikannya sebagai tempat mencari penghasilan sebagai salah satu dari strategi mereka untuk bisa bertahan hidup (Al-Naim & Mahmud, 2007). Hal ini juga terjadi pada rumah adat desa Tigawasa. Rumah adat banyak dikembangkan menjadi area usaha, mengingat di daerah ini banyak terdapat pembuat kerajinan bamboo sehingga area ruang diperluas maupun ditambahkan area untuk menyimpan maupun membuat kerajinan bamboo. Disamping menambahkan area untuk membuat dan menyimpan kerajinan bamboo, tempat usaha yang umum ditambahkan di daerah ini adalah warung yang berada di depan rumah, sebagai salah satu mata pencaharian mereka. Dan fungsi tambahan ini merupakan pengkayaan dari bentuk asli rumah adat di desa ini.

Transformasi arsitektur tidak bisa lepas dari transformasi dalam budaya. Hal ini dapat dirangkum menjadi sebuah proses yang panjang yang didahului oleh terjadinya inkulturasi dan akulturasi dari sebuah budaya dalam lingkungan masyarakat tertentu (Sachari, 2005). Inkulturasi maupun akulturasi tersebut merupakan sebuah proses dialog dan sintesis budaya. Dalam proses dialog arsitektur ini kemudian diikuti oleh berbagai bentuk-bentuk pergeseran dan perkembangan dari nlai-nilai budaya yang kemudian membentuk suatu sosok budaya baru (Krier, 2001). Karakteristik social, budaya dan gaya hidup dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu merupakan dasar dari pembentukan elemen- elemen ruang dan rumah tinggal mereka (Mirmoghtadaee, 2009). Pengkayaan atau peragaman dari tipe rumat adat di desa Tigawasa ini merupakan sebuah akibat dari transformasi budaya yang didapatkan dari luar daerah ini. Sintesis budaya yang terjadi menyebabkan berubahnya pola pikir, gaya hidup serta tuntutan masyarakat. Hal ini kemudian mempengaruhi pembentukan elemen ruang di dalam rumah tinggal mereka.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Rumah adat desa Tigawasa memiliki karakteristiknya tersendiri yang menjadi identitas kuat yang membedakannya dengan rumah adat lainnya. Ketiga tipe rumah adat ini memiliki kesamaan antara satu dengan lainnya. Disamping kesamaan yang dimiliki, rumah ini juga memiliki keragaman diantara ketiga tipe rumah, salah satu contoh adalah memiliki fungsi yang sama namun pola ruang yang berbeda. Pada dasarnya ketiga rumah adat ini mengalami perubahan/transformasi yang tidak bisa dihindari lagi. Hal ini disebabkan oleh pengaruh budaya luar sehingga merubah pola pikir, mata pencaharian, gaya hidup serta tuntutan ruang. Secara langsung hal ini menyebabkan perubahan pada elemen-elemen rumah tinggal mereka. Hal ini juga dapat dilihat sebagai sebuah pengkayaan dan menghasilkan sebuah varian baru dari rumah adat yang ada di desa ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa keragaman dan keseragaman dari tipologi dari rumah adat di desa Bali Aga Tigawasa tetap memiliki suatu karakteristik yang kuat dan masih mampu mengadaptasi perubahan yang terjadi seiring dengan kemajuan jaman dan masyarakat setempat pun masih mampu menjalankan tradisi leluhur mereka. Penelitian ini akan mampu menjadi sebuah pijakan awal bagi penelitian sejenis di ranah arsitektur rumah tinggal adat. Selanjutnya, penelitian ini juga bisa menjadi sebuah rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam membuat kebijakan terkait dengan pelestarian wasrisan budaya khususnya rumah tinggal adat di desa-desa yang masih asli.

REFERENSI

Behsh, M.B. 1993, ‘Towards Housing in Harmony with Place. Sweden’, Lund Institute of Technology, Lund University.

Krier, Rob. 2001, ‘Komposisi Arsitektur’, Edisi Terjemahan. Jakarta: Erlangga Indonesia

Francescatto, Guido. 1994, ‘Type and the Possibility of an Architecture Scolarship, Ordering Space, Types in Architectural and Design’, Karen A. Franck, Lynda H. Schneekloth (ed). Van Nostrand Reinhold. New York

Flyvbjerg, B .2006, 'Five Misunderstandings About Case-Study Research', Qualitative Inquiry, vol. 12, no. 219, pp. 219-244.

Sachari, Agus. 2005, ‘Metodologi Penelitian Budaya Rupa’, Jakarta: Erlangga.

(17)

T.A Prajnawrdhi1), N.M Yudantini2), -Tipologi Rumah Adat pada Desa Bali Aga, Studi Kasus pada Desa Tigawasa 7

Mashary Al-Naim and Shihabuddin Mahmud. 2007, ‘Transformation of traditional dwellings and income generation by low-income expatriates: The case of Hofuf, Saudi Arabia’, Cities, Vol. 24, No. 6, p. 422–433, 2007

Mahta Mirmoghtadaee. 2009, ‘Process of Housing Transformation in Iran, Journal of Construction in Developing Countries’, Vol. 14, No. 1, 2009

Ngakan Putu Sueca, 2005, Faktor - Faktor Determinan Transformasi Rumah Di Bali, JURNAL Permukiman Natah Vol. 3 No. 2 Agustus 2005

Dharma Widya, 2001, Kajian Arsitektur Rumah Tinggal Minangkabau Nagari Panyalaian Kabupaten Tanah Datar, Thesis Magister Arsitektur Universitas Diponegoro

Moneo, Rafael. 1979, ‘Oppositions Summer on Typology’, A Journal for Ideas and Criticism in Architecture vol. 13 h. 23-45. The MIT Press. Massachusetts

Bambang Setyohadi K. 2007, Tipologi Pola Spasial Dan Segregasi Sosial Lingkungan Permukiman Candi Baru’, Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan, Nomor 2 Volume 9 – Juli 2007, hal: 97 - 106 Asyra Ramadanta. 2010,’Kajian Tipologi Dalam Pembentukan Karakter Visual Dan Struktur Kawasan’

(Studi kasus: Kawasan Ijen, Malang), Jurnal SMARTek, Vol. 8, No. 2, Mei 2010: 130 – 142 Stake, RE. 1978, 'The Case Study method in Social Inquiry', American Educational Research

Association, vol. 7, no. 2, pp. 5-8.

Sukada, Budi A. 1989, “Memahami Arsitektur tradisional Dengan Pendekatan Tipologi”. Jati Diri Arsitektur Indonesia, Eko Budi Harjo (ed). Alumni, Bandung.

Antariksa. 2010, ‘Menuju Pendidikan Arsitektur Indonesia Berbasis Riset’, Seminar Nasional Metode Riset Dalam Arsitektur, Udayana University Press, Bali.

Imam Santoso¹, Beni G. Wulandanu². 2011, ‘Studi Pengamatan Tipologi Bangunan pada Kawasan Kauman Kota Malang’, Local Wisdom-Jurnal Ilmiah Online, ISSN: 2086-3764 Volume: III, Nomor:

2, Halaman: 10 - 26, Juli 2011

M.McCutcheon, D & Meredith, J. 1993, 'Conducting case study research in operation management', Journal of Operations Management, vol. 11, pp. 239-256.

Yin, RK. 2009, ‘Case Study Research: Design and Methods’, Fourth Edition edn, SAGE, Los Angeles.

Gambar

Gambar 1. Denah dan tampak bangunan sakaroras  Sumber: penulis, 2017
Gambar 3. Denah dan tampak depan bangunan Sakapat  Sumber: Penulis, 2017

Referensi

Dokumen terkait

setel nivo kotak dan nivo tabung sehingga : sumbu pertama vertikal, garis jurusan nivo mendatar, sumbu kedua mendatar dan garis bidik tegak lurus sumbu ukur. Posisi ini kita

Berdasarkan data curah hujan bulan Desember 2019 dari stasiun-stasiun BMKG dan pos-pos hujan kerjasama terpilih pada 15 Zona Musim (ZOM) di Bali dapat disajikan

2.2.1 Disiplin dalam waktu dan peraturan yang diterapkan dalam berdiskusi maupun presentasi dalam mempelajri materi peluang4. 2.2.2 Jujur dalam perkataan, tindakan dan

Semakin positif sikap peserta didik pada pelajaran kimia akan semakin mudah pula bagi peserta didik untuk menguasai materi kimia yang disampaikan dalam proses

Variasi Curahan Jam Kerja Pekerja Wanita pada Industri Kerajinan Seni Ukir dan Lukis di Desa Singakerta dilihat dari Sosial Ekonomi Rumah Tangga dapat

Pencurian tersebut sering terjadi karena kondisi perumahan yang cukup sepi pada siang maupun pada malam hari, kondisi perumahan seperti ini dapat ditemukan di wilayah studi

Salah satu dari kebutuhan tersier tersebut adalah kebutuhan untuk melengkapi diri dengan perhiasan emas dan permata terutama bagi para wanita, hal ini dibuktikan

Sehingga semakin tinggi temperatur preheating yang diberikan maka penetrasi yang terjadi pada saat berlangsungnya proses pengelasan semakin dalam sehingga base metal