TESIS
EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS KOTA MEDAN
OLEH :
NOVI ERVIANA HARAHAP NIM 177014047
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS KOTA MEDAN
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Magister dalam Ilmu Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
OLEH :
NOVI ERVIANA HARAHAP NIM 177014047
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
PERSETUJUAN TESIS
Nama Mahasiswa : Novi Erviana Harahap Nomor Induk Mahasiswa : 177014047
Program Studi : Magister Ilmu Farmasi
Judul Tesis : Evaluasi Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan
Telah diuji dan dinyatakan LULUS di depan Komisi Penguji Tesis pada hari Selasa tanggal dua puluh delapan bulan Januari tahun dua ribu dua puluh.
Menyetujui:
Komisi Penguji Tesis
Ketua : Prof. Dr. Wiryanto, M. S., Apt.
Sekretaris : Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.
Anggota : Khairunnisa, M. Pharm., Ph. D., Apt.
: Dr. Aminah Dalimunthe, M.Si., Apt
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dan ridhoNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul
“Evaluasi Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan”. Tesis ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan mutu pelayanan kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma lama yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada pasien (patient oriented). Untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas, maka ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Atas dasar inilah dilakukan penelitian untuk mengevaluasi implementasi Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Wiryanto, M. S., Apt. dan Bapak Prof. Dr. Urip Harahap, Apt. atas waktu, arahan, dan bimbingan yang diberikan selama penyelesaian Tesis ini. Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr.
Masfria, M. S., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dan Prof. Dr. Urip Harahap, Apt. selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama menjalani pendidikan di Program Magister Ilmu Farmasi. Kepada kedua orang tua, Ayahanda Ahmad Efendi Harahap dan Ibunda Rusiani tercinta, penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas semua pengorbanan, doa, dan dorongannya, sehingga Tesis ini dapat diselesaikan.
Medan, Januari 2020 Penulis,
Novi Erviana Harahap NIM 177014047
EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS KOTA MEDAN
ABSTRAK
Pelayanan kefarmasian adalah sebuah pelayanan langsung serta bertanggung jawab Apoteker terhadap pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti dengan tujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas, maka ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan.
Penelitian ini merupakan penelitian survei deskriptif yang bersifat cross sectional. Data diperoleh dari pengisian lembar kuesioner dan lembar daftar tilik berdasarkan pengamatan langsung di ruang farmasi Puskesmas yang memiliki Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Data yang diperoleh dibandingkan dengan standar yang ada pada kepustakaan dan dianalisis menggunakan uji Chi- Square dan Spearman’s.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan memiliki jumlah skor 73-82. Tingkat kepuasan pasien paling banyak adalah kategori Puas, sebanyak 77,9-100%.
Korelasi perbedaan demografi pasien dalam hal umur, jenis kelamin dan pekerjaan terhadap kepuasan pasien dianalisis menggunakan uji Chi-Square menunjukkan nilai sig. p<0,05. Korelasi Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian terhadap kepuasan pasien dianalisis menggunakan uji Spearman’s ditunjukkan dengan nilai rhitung=0,419 (rhitung<rtabel).
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa implementasi PMK No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan termasuk dalam kategori Sedang. Tingkat kepuasan pasien termasuk dalam kategori Puas. Perbedaan demografi pasien dalam hal umur, jenis kelamin dan pekerjaan mempengaruhi tingkat kepuasan pasien. Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian tidak mempengaruhi kepuasan pasien.
Kata Kunci: implementasi standar, pelayanan kefarmasian, Puskesmas, kota Medan
EVALUATION OF PHARMACEUTICAL CARE STANDARD IMPLEMENTATION IN MEDAN CITY HEALTH CENTER
ABSTRACT
Pharmaceutical care is a direct and responsible service for pharmacists for patients related to pharmaceutical preparations with the aim of achieving definitive results with the aim of improving the quality of life of patients. To improve the quality of pharmaceutical care at the Health Center, Minister of Health Regulation No. 74 of 2016 concerning Pharmaceutical Care Standards in Health Center.
This study aims to evaluate the implementation of Minister of Health Regulation No. 74 of 2016 concerning Pharmaceutical Care Standards in Medan City Health Center.
This research is a cross sectional descriptive survey research. Data obtained from filling out questionnaire sheets and checklist sheets based on direct observation in the pharmacy room that has Pharmacists and pharmacy technical personnel. The data obtained were compared with the standards in the literature and analyzed using Chi-Square and Spearman's tests.
Based on research it is known that the implementation of Pharmaceutical Care Standards in Medan City Health Center has a score of 73-82. The highest level of patient satisfaction is the Satisfaction category, as much as 77.9-100%.
Correlation of patient demographic differences in terms of age, sex and occupation to patient satisfaction was analyzed using the Chi-Square test showing sig values. p<0.05. Correlation of Implementation of Pharmaceutical Care Standards to patient satisfaction was analyzed using the Spearman test shown by rcount=0.419 (rcount<rtable).
Based on the results of the study it can be concluded that the implementation of PMK No. 74 of 2016 concerning Pharmaceutical Care Standards in Medan City Health Center included in the Medium category. The level of patient satisfaction is included in the Satisfaction category. Differences in patient demographics in terms of age, sex and occupation affect the level of patient satisfaction. Implementation of Pharmaceutical Care Standards does not affect patient satisfaction.
Keywords: standard implementation, pharmaceutical care, Health Center, Medan city
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN TESIS ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN TESIS ... iv
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 4
1.3 Hipotesis ... 4
1.4 Tujuan Penelitian ... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 5
1.6 Kerangka Pikir Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Puskesmas ... 8
2.2 Kedudukan Puskesmas ... 9
2.3 Fungsi Puskesmas ... 10
2.4 Upaya Kesehatan Puskesmas ... 11
2.5 Jaringan Pelayanan Kesehatan Puskesmas …... 12
2.6 Pelayanan Kefarmasian ... 13
2.6.1 Pengelolaan Obat Dan Bahan Medis Habis Pakai ... 14
2.6.2 Pelayanan Farmasi Klinik ... 18
2.6.3 Sumber Daya Manusia ... 21
2.6.4 Sarana dan Prasarana... 22
2.6.5 Pengendalian Mutu Pelayanan Kefarmasian ... 24
2.7 Kepuasan Pasien... 25
2.8 Gambaran Umum Puskesmas Kota Medan ... 27
2.9 Kerangka Teori Penelitian... 27
BAB III METODE PENELITIAN... 28
3.1 Desain Penelitian ... 28
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29
3.3 Populasi, Sampel dan Subjek Penelitian ... 29
3.3.1 Populasi ... 29
3.3.2 Sampel ... 29
3.3.3 Subjek ... 30
3.4 Pengumpulan Data ... 30
3.4.1 Data Primer ... 30
3.5 Langkah Kerja Penelitian ... 31
3.6 Analisis Data ... 32
3.7 Analisis Parameter ... 32
3.8 Definisi Operasional... 35
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 37
4.2 Gambaran Unit Observasi dan Karakteristik Responden ... 38
4.3 Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian ... 39
4.3.1 Sumber Daya Manusia ... 40
4.3.2 Sarana dan Prasarana... 43
4.3.3 Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai ... 44
4.3.4 Pelayanan Farmasi Klinik ... 48
4.3.5 Pengendalian Mutu Pelayanan Kefarmasian ... 53
4.3.6 Hasil Perhitungan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas ... 56
4.4 Kepuasan Pasien... 56
4.4.1 Karakteristik Responden Penelitian ... 57
4.4.2 Distribusi Penilaian Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan Pasien ... 59
4.4.3 Tingkat Kepuasan Pasien ... 59
4.5 Korelasi Demografi Pasien terhadap Kepuasan Pasien di Puskesmas Kota Medan ... 61
4.6 Korelasi Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian terhadap Kepuasan Pasien di Puskesmas Kota Medan ... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
5.1 Kesimpulan ... 66
5.2 Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA ... 67
LAMPIRAN ... 70
DAFTAR TABEL
3.1 Definisi Operasional Penelitian... 35
4.1 Karakteristik Unit Observasi Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan Tahun 2019 ... 38
4.2 Karakteristik Informan ... 39
4.3 Data Sumber Daya Manusia... 41
4.4 Data Sarana dan Prasarana ... 43
4.5 Data Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai ... 45
4.6 Data Pelayanan Farmasi Klinik ... 49
4.7 Data Pengendalian Mutu Pelayanan Kefarmasian ... 54
4.8 Hasil Perhitungan Standar Pelayanan Kefarmasian ... 56
4.9 Data Karakteristik Responden... 58
4.10 Data Tingkat Kepuasan Pasien... 60
4.11 Korelasi Demografi terhadap Kepuasan Pasien ... 61
4.12 Korelasi Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian terhadap Kepuasan Pasien ... 64
DAFTAR GAMBAR
1.1.a Kerangka Pikir Penelitian Tingkat Implementasi ... 6
1.1.b Kerangka Pikir Penelitian Tingkat Kepuasan Pasien ... 6
1.1.c Kerangka Pikir Penelitian Korelasi ... 7
2.1 Kerangka Teori Penelitian... 27
4.1 Peta Kota Medan ... 37
4.2 Grafik Kepuasan Pasien vs Jumlah Pasien... 60
DAFTAR LAMPIRAN
1. Daftar Tilik Standar Pelayanan Kefarmasian ... 70
2. Kuesioner Kepuasan Pasien ... 73
3. Informasi Persetujuan menjadi Responden ... 75
4. Pernyataan Persetujuan menjadi Responden ... 76
5. Data Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai ... 77
6. Data Pelayanan Farmasi Klinik ... 78
7. Data Penilaian pada Sub Variabel yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan Pasien ... 79
8. Persentase Penilaian pada Sub Variabel yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan Pasien ... 80
9. Hasil Uji Statistik Korelasi Demografi Pasien (Umur) terhadap Kepuasan Pasien ... 81
10. Hasil Uji Statistik Korelasi Demografi Pasien (Jenis Kelamin) terhadap Kepuasan Pasien ... 83
11. Hasil Uji Statistik Korelasi Demografi Pasien (Pendidikan) terhadap Kepuasan Pasien... 84
12 Hasil Uji Statistik Korelasi Demografi Pasien (Pekerjaan) terhadap Kepuasan Pasien ... 86
13 Hasil Uji Statistik Korelasi Demografi Pasien (Kunjungan) terhadap Kepuasan Pasien... 88
14 Hasil Uji Statistik Korelasi Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian terhadap Kepuasan Pasien ... 90
15 Hasil Uji Statistik Korelasi Puskesmas terhadap Kepuasan Pasien ... 91
16. Surat Izin Penelitian ... 93
17. Surat Keterangan Kelayakan Etik (Ethical Clearance) ... 94
DAFTAR SINGKATAN Apt : Apoteker
BMHP : Bahan Medis Habis Pakai D : Darussalam
KB : Kampung Baru KM : Kota Matsum M : Mandala
MESO : Monitoring Efek Samping Obat PB : Padang Bulan
PBS : Padang Bulan Selayang PIO : Pelayanan Informasi Obat PMK : Peraturan Menteri Kesehatan PTO : Pemantauan Terapi Obat SB : Sentosa Baru
SDM : Sumber Daya Manusia SOP : Standar Operasional Prosedur TS : Tegal Sari
TTK : Tenaga Teknis Kefarmasian
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan bidang kesehatan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis (Menkes, 2015a). Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas merupakan unit pelaksana kesehatan tingkat pertama (primary health care) yang merupakan pelayanan yang bersifat pokok (basic health services) yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya pelayanan kefarmasian di Puskesmas (Menkes, 2006).
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan upaya kesehatan, yang berperan penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma lama yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada pasien (patient oriented) dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care) (Menkes, 2016).
Sebagai tolok ukur serta pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian di Puskesmas maka Menteri Kesehatan
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Standar ini berisikan pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai, pelayanan farmasi klinik, sumber daya kefarmasian dan pengendalian mutu Pelayananan Kefarmasian. Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian dan melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka penjaminan keselamatan pasien (patient safety) (Menkes, 2016).
Kota Medan memiliki 41 sarana Puskesmas Induk (11 Puskesmas Rawat Inap dan 30 Puskesmas Rawat Jalan) yang tersebar di 21 Kecamatan se-Kota Medan. Distribusi tenaga Apoteker di Kota Medan ini tidak merata di setiap Puskesmas. Tenaga Apoteker yang dimiliki untuk Puskesmas di Kota Medan berjumlah 35 orang Apoteker.
Sejak diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, masih banyak Puskesmas yang belum sepenuhnya melakukan pelayanan kefarmasian secara optimal karena terbatasnya tenaga kefarmasian. Di daerah atau kabupaten yang tenaga kefarmasian terutama tenaga Apotekernya sedikit sangat sulit untuk menerapkan pelayanan kefarmasian di Puskesmas yang sesuai dengan standar. Permasalahan yang terkait dengan Apoteker di Puskesmas adalah ketersediaan dan jumlah yang tidak sesuai dengan beban kerjanya, sehingga pelayanan kefarmasian belum berjalan dengan baik (Supardi, dkk., 2012).
Selama ini penerapan dan pelaksanaan upaya kesehatan dalam kebijakan dasar Puskesmas yang sudah ada sangat beragam antara daerah satu dengan
daerah lainnya, namun secara keseluruhan belum menunjukkan hasil yang optimal (Menkes, 2016).
Penyampaian informasi mengenai Standar Pelayanan Kefarmasian yang tidak maksimal dan menyeluruh menyebabkan pelayanan kefarmasian di Puskesmas masih terfokus pada pekerjaan administratif dan pengelolaan obat saja.
Sementara untuk pelayanan farmasi klinik yang berorientasi pada pasien masih belum dilaksanakan sepenuhnya, sehingga pelayanan kefarmasian di Puskesmas tidak menunjukkan perubahan ke arah perbaikan (Yuniarti, 2017). Sebagai tindak lanjut terhadap pelayanan kefarmasian perlu dilakukan monitoring dan evaluasi kegiatan secara berkala. Indikator yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat keberhasilan pelayanan kefarmasian salah satunya dengan melihat tingkat kepuasaan pasien. Pengguna jasa pelayanan Puskesmas dalam hal ini pasien menuntut pelayanan yang berkualitas tidak hanya menyangkut kesembuhan dari penyakit secara fisik atau meningkatkan derajat kesehatannya, tetapi juga menyangkut kepuasan terhadap sikap, selalu tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dan lingkungan fisik yang dapat memberikan kenyamanan.
Kepuasan pasien tergantung pada kualitas pelayanan yang diberikan (Supriyanto dan Ernawaty, 2010).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu bagaimana gambaran Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan, yang meliputi Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Pelayanan Farmasi Klinik. Oleh karena itu, peneliti ingin melakukan penelitian terkait Evaluasi Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah penelitian adalah:
a. apakah Kategori implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan, sudah Baik?
b. bagaimana tingkat kepuasan pasien terhadap Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan?
c. apakah ada korelasi antara Data Demografi dan Kepuasan Pasien?
d. apakah ada korelasi antara Implementasi dan Kepuasan Pasien?
1.3 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah penelitian, maka hipotesis penelitian adalah:
a. kategori implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan, belum Baik.
b. tingkat kepuasan pasien terhadap Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan adalah Tidak Puas.
c. ada korelasi antara Data Demografi dan Kepuasan Pasien.
d. ada korelasi antara Implementasi dan Kepuasan Pasien.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan hipotesis penelitian, maka tujuan penelitian adalah:
a. menilai implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Kota Medan.
b. menentukan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Kota Medan.
c. mengetahui korelasi antara Data Demografi dan Kepuasan Pasien.
d. mengetahui korelasi antara Implementasi dan Kepuasan Pasien.
1.5 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka manfaat penelitian adalah:
a. dapat dijadikan sebagai masukan bagi Puskesmas untuk mengoptimalkan kinerja tenaga kefarmasian dalam memberikan pelayanan kefarmasian guna meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
b. bagi program studi Magister Farmasi Universitas Sumatera Utara dapat menambah referensi tentang evaluasi implementasi Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.
c. bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama menjalani program studi Magister Farmasi Universitas Sumatera Utara.
d. bagi masyarakat mendapatkan pelayanan farmasi yang bermutu yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh Pemerintah
1.6 Kerangka Pikir Penelitian
Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, merupakan pedoman serta tolok ukur bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan dan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Penelitian ini terbagi atas tiga bagian. Bagian pertama untuk menilai Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas; yang menjadi variabel bebas adalah SDM, sarana dan prasarana, pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai, pelayanan farmasi klinik dan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian dengan variabel terikat adalah penilaian Kategori Tingkat Implementasi (Gambar 1.1.a). Bagian kedua untuk melihat tingkat kepuasan
obat dan bahan medis habis pakai, dan pelayanan farmasi klinik dengan variabel terikat adalah Tingkat Kepuasan Pasien (Gambar 1.1.b). Bagian ketiga untuk melihat korelasi antara Data Demografi dengan Kepuasan Pasien, dan korelasi antara Tingkat Implementasi dengan Kepuasan Pasien (Gambar 1.1.c).
Gambar 1.1.a Kerangka pikir penelitian Tingkat Implementasi
Gambar 1.1.b Kerangka pikir penelitian Tingkat Kepuasan Pasien Implementasi
Kategori I total nilai
>85 = Baik
Kategori II total nilai 65-85 = Sedang
Kategori III total nilai <65 = Kurang
Tingkat Kepuasan
Pasien
Skala Likert:
66,8-100% = Sangat Puas
33,4-66,7% = Puas
0-33,3% = Tidak Puas a. SDM
b. Sarana &
prasarana c. Pengelolaan
obat dan bahan medis habis pakai d. Pelayanan
farmasi klinik e. Pengendalian
mutu pelayanan kefarmasian
Kategori Tingkat Implementasi
Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter
a. SDM
Keramahan Apoteker
Kecepatan Pelayanan Obat b. Sarana & prasarana
Kenyamanan Ruang Tunggu
Kebersihan Ruang Tunggu
Ketersediaan Brosur, Leaflet, Poster sebagai informasi Obat/Kesehatan c. Pengelolaan obat dan BMHP
Kelengkapan Obat dan Alat Kesehatan d. Pelayanan farmasi klinik
Ketanggapan Apoteker
Kejelasan Apoteker memberikan Informasi Obat
Gambar 1.1.c Kerangka pikir penelitian Korelasi Tingkat Implementasi:
a. SDM
b. Sarana & prasarana c. Pengelolaan obat dan
bahan medis habis pakai d. Pelayanan farmasi klinik e. Pengendalian mutu
pelayanan kefarmasian
Tingkat Kepuasan
Pasien
Sig. <0,05 = Ada Korelasi
Sig. >0,05 = Tidak ada Korelasi
rhitung>rtabel = Ada Korelasi
rhitung<rtabel = Tidak ada Korelasi
Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter
Data Demografi:
a. Umur
b. Jenis kelamin c. Pendidikan d. Pekerjaan e. Kunjungan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang menyelenggarakan upaya kesehatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan (Menkes, 2016). Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman dan pegangan bagi semua fasilitas kesehatan termasuk Puskesmas yang merupakan unit pelaksana kesehatan tingkat pertama (primary health care).
Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang bersifat pokok (basic health services) yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya pelayanan kefarmasian di Puskesmas (Menkes, 2006).
Mutu dalam layanan kesehatan di Puskesmas adalah sebuah konsep manajemen berfokus konsumen yang inovatif dan partisipatif yang memengaruhi setiap individu dalam organisasi. Tujuannya adalah terwujudnya pelaksanaan proses perbaikan yang akan berdampak positif outcome layanan kesehatan (Al- Assaf, 2009).
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yang meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang
a. SDM
Keramahan Apoteker
Kecepatan Pelayanan Obat b. Sarana & prasarana
Kenyamanan Ruang Tunggu
Kebersihan Ruang Tunggu
Ketersediaan Brosur, Leaflet, Poster sebagai informasi Obat/Kesehatan c. Pengelolaan obat dan BMHP
Kelengkapan Obat dan Alat Kesehatan d. Pelayanan farmasi klinik
Ketanggapan Apoteker
Kejelasan Apoteker memberikan Informasi Obat
yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia sehat (Menkes, 2004).
2.2 Kedudukan Puskesmas
Kedudukan Puskesmas dibedakan menurut keterkaitannya dengan Sistem Kesehatan Nasional, Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota, Sistem Pemerintah Daerah, dan antar sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama.
a. Sistem Kesehatan Nasional. Kedudukan Puskesmas dalam sistem Kesehatan Nasional adalah sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
b. Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota. Kedudukan Puskesmas dalam sistem pemerintahan Kabupaten/Kota adalah sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan Kabupaten bidang kesehatan di tingkat kecamatan.
c. Sistem Pemerintah Daerah. Kedudukan Puskesmas dalam Sistem Pemerintah Daerah adalah sebagai unit pelaksanaan teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang merupakan unit struktural pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota bidang kesehatan di tingkat kecamatan.
d. Antar sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama. Diwilayah kerja Puskesmas terdapat berbagai organisasi pelayanan kesehatan tingkat pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta seperti praktek dokter,
Kedudukan Puskesmas diantara berbagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama ini adalah sebagai mitra (Syafrudin, dkk., 2009).
2.3 Fungsi Puskesmas
Tiga fungsi pokok utama yang diemban Puskesmas dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dasar (PKD) kepada seluruh target dan sasaran masyarakat di wilayah kerjanya, yakni sebagai berikut:
a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
i. berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan.
ii. aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan untuk masyarakat dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya.
b. Pusat pemberdaya masyarakat
Pusat pemberdaya masyarakat berupaya agar perorangan, terutama pemuka masyarakat, keluarga, dan masyarakat memiliki perilaku:
i. sadar, mau dan mampu melayani diri sendiri serta masyarakat untuk hidup sehat.
ii. berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan.
iii. ikut menetapkan menyelenggarakan, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan program kesehatan.
iv. membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.
v. merangsang masyarakat, termasuk swasta, untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri.
vi. memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.
c. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama, yaitu menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer) secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (kontiniu) mencakup pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat (Mubarak, 2011).
2.4 Upaya Kesehatan Puskesmas
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, yang dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan.
Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan. Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi:
a. Pelayanan promosi kesehatan;
b. Pelayanan kesehatan lingkungan;
c. Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana;
d. Pelayanan gizi; dan
e. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.
Upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya bersifat inovatif dan/atau disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di Puskesmas.
Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan dalam bentuk:
a. rawat jalan, baik kunjungan sehat maupun kunjungan sakit;
b. pelayanan gawat darurat;
c. pelayanan persalinan normal;
d. perawatan di rumah (home care); dan/atau
e. rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan (Menkes, 2019).
2.5 Jaringan Pelayanan Kesehatan Puskesmas
Dalam rangka mewujudkan wilayah kerja Puskesmas yang sehat, Puskesmas didukung oleh jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring Puskesmas.
Jejaring Puskesmas terdiri atas upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat, usaha kesehatan sekolah, klinik, rumah sakit, apotek, laboratorium, tempat praktik mandiri Tenaga Kesehatan, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya. Jaringan pelayanan Puskesmas terdiri atas Puskesmas pembantu, Puskesmas keliling, dan praktik bidan desa.
a. Puskesmas pembantu memberikan pelayanan kesehatan secara permanen di suatu lokasi dalam wilayah kerja Puskesmas.
b. Puskesmas keliling memberikan pelayanan kesehatan yang sifatnya bergerak (mobile), untuk meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan bagi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas yang belum terjangkau oleh pelayanan dalam gedung Puskesmas.
c. Praktik Bidan desa merupakan praktik bidan yang bertempat tinggal serta mendapatkan penugasan Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Menkes, 2019).
2.6 Pelayanan Kefarmasian
Menurut PMK No.74 Tahun 2016, Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (Menkes, 2016).
Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah Obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma lama yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada pasien (patient oriented) dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care). Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, maka semua tenaga kefarmasian di Puskesmas harus selalu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam rangka menjaga dan meningkatkan kompetensinya (Menkes, 2016).
Sesuai dengan ketentuan PP No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, pada pasal 2 ayat 2 yang menyatakan: Pekerjaan Kefarmasian harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu (Pemerintah, 2009). Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di Puskesmas dilaksanakan pada unit pelayanan berupa ruang farmasi. Ruang farmasi dipimpin oleh seorang Apoteker sebagai penanggung jawab (Menkes, 2016).
Pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai dan kegiatan pelayanan farmasi klinik. Kegiatan tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia dan sarana dan prasarana (Menkes, 2016).
2.6.1 Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan salah satu kegiatan pelayanan kefarmasian, yang dimulai dari perencanaan, permintaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan dan pelaporan serta pemantauan dan evaluasi.
Kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi:
a. Perencanaan kebutuhan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai Perencanaan merupakan proses kegiatan seleksi Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai untuk menentukan jenis dan jumlah Sediaan Farmasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan Puskesmas.
b. Permintaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
Tujuan permintaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai adalah memenuhi kebutuhan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat.
c. Penerimaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
Penerimaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai adalah suatu kegiatan dalam menerima Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai dari
Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota atau hasil pengadaan Puskesmas secara mandiri sesuai dengan permintaan yang telah diajukan.
d. Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap Sediaan Farmasi yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
i. bentuk dan jenis sediaan;
ii. kondisi yang dipersyaratkan dalam penandaan di kemasan Sediaan Farmasi, seperti suhu penyimpanan, cahaya, dan kelembaban;
iii. mudah atau tidaknya meledak/terbakar;
iv. narkotika dan psikotropika disimpan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
v. tempat penyimpanan Sediaan Farmasi tidak dipergunakan untuk penyimpanan barang lainnya yang menyebabkan kontaminasi.
e. Pendistribusian Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
Pendistribusian Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan kegiatan pengeluaran dan penyerahan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub unit/satelit farmasi Puskesmas dan jaringannya.
Sub-sub unit di Puskesmas dan jaringannya antara lain:
i. Sub unit pelayanan kesehatan di dalam lingkungan Puskesmas;
ii. Puskesmas Pembantu;
iii. Puskesmas Keliling;
iv. Posyandu; dan v. Polindes.
f. Pemusnahan dan penarikan
Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall) dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM.
Penarikan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh Menteri. Pemusnahan dilakukan untuk Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai bila:
i. produk tidak memenuhi persyaratan mutu;
ii. telah kadaluwarsa;
iii. tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan atau kepentingan ilmu pengetahuan; dan/atau
iv. dicabut izin edarnya.
Tahapan pemusnahan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai terdiri dari:
i. membuat daftar Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai yang akan dimusnahkan;
ii. menyiapkan Berita Acara Pemusnahan;
iii. mengoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak terkait;
iv. menyiapkan tempat pemusnahan; dan
v. melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan serta peraturan yang berlaku.
g. Pengendalian Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
Pengendalian Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai adalah suatu kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan Obat di unit pelayanan kesehatan dasar.
Tujuannya adalah agar tidak terjadi kelebihan dan kekosongan Obat di unit pelayanan kesehatan dasar. Pengendalian Sediaan Farmasi terdiri dari:
i. Pengendalian persediaan;
ii. Pengendalian penggunaan; dan
iii. Penanganan Sediaan Farmasi hilang, rusak, dan kadaluwarsa.
h. Administrasi
Administrasi meliputi pencatatan dan pelaporan terhadap seluruh rangkaian kegiatan dalam pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai, baik Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai yang diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di Puskesmas atau unit pelayanan lainnya.
i. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
Pemantauan dan evaluasi pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk:
i. mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai sehingga dapat menjaga kualitas maupun pemerataan pelayanan;
ii. memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai; dan
iii. memberikan penilaian terhadap capaian kinerja pengelolaan (Menkes, 2016).
2.6.2 Pelayanan Farmasi Klinik
Pelayanan farmasi klinik merupakan bagian dari Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Pelayanan farmasi klinik meliputi:
a. Pengkajian dan pelayanan Resep
Kegiatan pengkajian resep dimulai dari seleksi persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
Kegiatan Penyerahan (Dispensing) dan Pemberian Informasi Obat merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap menyiapkan/meracik
Obat, memberikan label/etiket, menyerahan sediaan farmasi dengan informasi yang memadai disertai pendokumentasian (Menkes, 2016).
b. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, jelas dan terkini kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien. Tujuan:
i. Menyediakan informasi mengenai Obat kepada tenaga kesehatan lain di lingkungan Puskesmas, pasien dan masyarakat.
ii. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan yang berhubungan dengan Obat (contoh: kebijakan permintaan Obat oleh jaringan dengan mempertimbangkan stabilitas, harus memiliki alat penyimpanan yang memadai).
iii. Menunjang penggunaan Obat yang rasional.
c. Konseling
Merupakan suatu proses untuk mengidentifikasi dan penyelesaian masalah pasien yang berkaitan dengan penggunaan Obat pasien rawat jalan dan rawat inap, serta keluarga pasien. Tujuan dilakukannya konseling adalah memberikan pemahaman yang benar mengenai Obat kepada pasien/keluarga pasien antara lain tujuan pengobatan, jadwal pengobatan, cara dan lama penggunaan Obat, efek samping, tanda-tanda toksisitas, cara penyimpanan dan penggunaan Obat.
Setelah dilakukan konseling, pasien yang memiliki kemungkinan mendapat risiko masalah terkait Obat misalnya komorbiditas, lanjut usia, lingkungan sosial, karateristik Obat, kompleksitas pengobatan, kompleksitas penggunaan Obat, kebingungan atau kurangnya pengetahuan dan keterampilan
tentang bagaimana menggunakan Obat dan/atau alat kesehatan perlu dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah (Home Pharmacy Care) yang bertujuan tercapainya keberhasilan terapi Obat.
d. Ronde/Visite Pasien
Merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan secara mandiri atau bersama tim profesi kesehatan lainnya terdiri dari dokter, perawat, ahli gizi, dan lain-lain.
Pasien rawat inap yang telah pulang ke rumah ada kemungkinan terputusnya kelanjutan terapi dan kurangnya kepatuhan penggunaan Obat. Untuk itu, perlu juga dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah (Home Pharmacy Care) agar terwujud komitmen, keterlibatan, dan kemandirian pasien dalam penggunaan Obat sehingga tercapai keberhasilan terapi Obat.
e. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap Obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau memodifikasi fungsi fisiologis. Tujuan:
i. Menemukan efek samping Obat sedini mungkin terutama yang berat, tidak dikenal dan frekuensinya jarang.
ii. Menentukan frekuensi dan insidensi efek samping Obat yang sudah sangat dikenal atau yang baru saja ditemukan.
f. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien mendapatkan terapi Obat yang efektif, terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.
Kriteria pasien:
i. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.
ii. Menerima Obat lebih dari 5 (lima) jenis.
iii. Adanya multidiagnosis.
iv. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.
v. Menerima Obat dengan indeks terapi sempit.
vi. Menerima Obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi Obat yang merugikan.
g. Evaluasi Penggunaan Obat
Merupakan kegiatan untuk mengevaluasi penggunaan Obat secara terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin Obat yang digunakan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau (rasional) (Menkes, 2016).
2.6.3 Sumber Daya Manusia
Penyelengaraan pelayanan kefarmasian di Puskesmas minimal harus dilaksanakan oleh 1 (satu) orang tenaga Apoteker sebagai penanggung jawab, yang dapat dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian sesuai kebutuhan.
Jumlah kebutuhan Apoteker di Puskesmas dihitung berdasarkan rasio kunjungan pasien, baik rawat inap maupun rawat jalan. Rasio untuk menentukan jumlah Apoteker di Puskesmas adalah 1 (satu) Apoteker untuk 50 (lima puluh)
Semua tenaga kefarmasian harus memiliki surat tanda registrasi dan surat izin praktik untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian di fasilitas pelayanan kesehatan termasuk Puskesmas, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
Semua tenaga kefarmasian di Puskesmas harus selalu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam rangka menjaga dan meningkatkan kompetensinya. Pendidikan dan pelatihan adalah salah suatu proses atau upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan di bidang kefarmasian atau bidang yang berkaitan dengan kefarmasian secara berkesinambungan untuk mengembangkan potensi dan produktivitas tenaga kefarmasian secara optimal (Menkes, 2016).
2.6.4 Sarana dan Prasarana
Sarana yang diperlukan untuk menunjang pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi sarana yang memiliki fungsi:
a. Ruang penerimaan resep
Ruang penerimaan resep meliputi tempat penerimaan resep, 1 (satu) set meja dan kursi, serta 1 (satu) set komputer, jika memungkinkan. Ruang penerimaan resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah terlihat oleh pasien.
b. Ruang pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas) Ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara terbatas meliputi rak Obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang peracikan disediakan peralatan peracikan, timbangan Obat, air minum (air mineral) untuk pengencer, sendok Obat, bahan pengemas Obat, lemari pendingin,
termometer ruangan, blanko salinan resep, etiket dan label Obat, buku catatan pelayanan resep, buku-buku referensi/standar sesuai kebutuhan, serta alat tulis secukupnya. Ruang ini diatur agar mendapatkan cahaya dan sirkulasi udara yang cukup. Jika memungkinkan disediakan pendingin ruangan (air conditioner) sesuai kebutuhan.
c. Ruang penyerahan Obat
Ruang penyerahan Obat meliputi konter penyerahan Obat, buku pencatatan penyerahan dan pengeluaran Obat. Ruang penyerahan Obat dapat digabungkan dengan ruang penerimaan resep.
d. Ruang konseling
Ruang konseling meliputi satu set meja dan kursi konseling, lemari buku, buku-buku referensi sesuai kebutuhan, leaflet, poster, alat bantu konseling, buku catatan konseling, formulir jadwal konsumsi Obat, formulir catatan pengobatan pasien dan lemari arsip (filling cabinet), serta 1 (satu) set komputer, jika memungkinkan.
e. Ruang penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan petugas. Selain itu juga memungkinkan masuknya cahaya yang cukup. Ruang penyimpanan yang baik perlu dilengkapi dengan rak/lemari Obat, pallet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan Obat khusus, pengukur suhu, dan kartu suhu.
f. Ruang arsip
Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dan Pelayanan Kefarmasian dalam jangka waktu tertentu. Ruang arsip memerlukan ruangan khusus yang memadai dan aman untuk memelihara dan menyimpan dokumen dalam rangka untuk menjamin penyimpanan sesuai hukum, aturan, persyaratan, dan teknik manajemen yang baik.
Istilah „ruang‟ di sini tidak harus diartikan sebagai wujud „ruangan‟ secara fisik, namun lebih kepada fungsi yang dilakukan. Bila memungkinkan, setiap fungsi tersebut disediakan ruangan secara tersendiri. Jika tidak, maka dapat digabungkan lebih dari 1 (satu) fungsi, namun harus terdapat pemisahan yang jelas antar fungsi (Menkes, 2016).
2.6.5 Pengendalian Mutu Pelayanan Kefarmasian
Pengendalian mutu Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan untuk mencegah terjadinya masalah terkait Obat atau mencegah terjadinya kesalahan pengobatan atau kesalahan pengobatan/medikasi (medication error), yang bertujuan untuk keselamatan pasien (patient safety).
Kegiatan pengendalian mutu Pelayanan Kefarmasian meliputi:
a. Perencanaan, yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan evaluasi untuk peningkatan mutu sesuai standar.
b. Pelaksanaan, yaitu:
i. Monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana kerja (membandingkan antara capaian dengan rencana kerja); dan
ii. Memberikan umpan balik terhadap hasil capaian.
c. Tindakan hasil monitoring dan evaluasi, yaitu:
i. Melakukan perbaikan kualitas pelayanan sesuai standar; dan
ii. Meningkatkan kualitas pelayanan jika capaian sudah memuaskan (Menkes, 2016).
2.7 Kepuasan Pasien
Kepuasan pasien merupakan nilai subyektif terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Tapi walaupun subyektif tetap ada dasar obyektifnya, artinya walaupun penilaian itu dilandasi oleh pengalaman masa lalu, pendidikan, situasi psikis waktu itu dan pengaruh lingkungan waktu itu, tetapi tetap akan didasari oleh kebenaran dan kenyataan obyektif yang ada (Sabarguna, 2008). Kepuasan pasien sangat dipengaruhi oleh kualitas pelayanan dari penyedia jasa, apabila kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien baik maka akan memberikan pengaruh terhadap kepuasan pasien, namun sebaliknya apabila kualitas pelayanan yang diberikan tidak baik maka akan menimbulkan ketidakpuasan atau keluhan pasien.
Menurut Tjiptono dan Chandra (2012), kualitas layanan dibangun atas dasar perbandingan dua faktor utama yaitu persepsi pelanggan atas layanan yang nyata mereka terima (perceived service) dengan layanan yang sesungguhnya diharapkan/diinginkan (expected service). Sedangkan menurut Bustami (2011), terdapat lima determinan atau penentuan mutu pelayanan yang akhirnya menjadi penentu tingkat kepuasan yang dapat dirincikan sebagai berikut:
a. Kehandalan, yaitu kemampuan memberikan pelayanan dengan segera, tepat (akurat), dan memuaskan. Dalam hal ini adalah melayani secara
b. Ketanggapan, yaitu keinginan para karyawan/staf membantu semua pelanggan serta berkeinginan dan melaksanankan pemberian pelayanan dengan tanggap. Dalam hal ini adalah sikap dari penyedia jasa yang penuh perhatian, cepat dan tepat dalam menghadapi permintaan.
c. Keyakinan, yaitu karyawan/staf memiliki kompetensi, kesopanan dan dapat dipercaya, bebas dari bahaya, serta bebas dari risiko dan keraguraguan. Dalam hal ini adalah pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan jasa.
d. Empati, yaitu karyawan/staf mampu menempatkan dirinya pada pelanggan, dapat berupa kemudahan dalam menjalin hubungan dan komunikasi termasuk perhatiannya terhadap para pelanggannya, serta dapat memahami kebutuhan dari pelanggan. Dalam hal ini adalah perhatian yang diberikan kepada pelanggan.
e. Fasilitas berwujud, dapat berupa ketersediaan sarana dan prasarana termasuk alat yang siap pakai serta penampilan karyawan/staf yang menyenangkan.
Untuk keberhasilan pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas ini diperlukan komitmen dan kerja sama semua pemangku kepentingan terkait. Hal tersebut akan menjadikan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas semakin optimal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh pasien dan masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan citra Puskesmas dan kepuasan pasien atau masyarakat (Menkes, 2016).
2.8 Gambaran Umum Puskesmas Kota Medan
Kota Medan memiliki 41 sarana Puskesmas Induk (11 Puskesmas Rawat Inap dan 30 Puskesmas Rawat Jalan) dan 40 Puskesmas pembantu (Pustu) yang tersebar di 21 Kecamatan di Kota Medan. Tenaga Apoteker yang dimiliki untuk Puskesmas di Kota Medan berjumlah 35 orang Apoteker.
2.9 Kerangka Teori Penelitian
Puskesmas merupakan unit pelaksana kesehatan tingkat pertama (primary health care) yang merupakan pelayanan yang bersifat pokok (basic health services) yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
PMK No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, merupakan pedoman serta tolok ukur bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan dan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
Dalam penelitian ini terdapat empat variabel yang dapat menentukan keberhasilan implementasi kebijakan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas yaitu faktor SDM, Sarana dan Prasarana, Pengelolaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai, dan Pelayanan Farmasi Klinik (Gambar 2.1).
Pengelolaan obat & BMHP
SDM
Sarana &
Prasarana Pelayanan
Farmasi Klinik
Pengendalian Mutu Pelayanan Kefarmasian
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei deskriptif, yang bersifat cross sectional, yaitu rancangan penelitian dengan melakukan pengamatan atau pengumpulan data dilakukan pada suatu titik waktu tertentu (Hermawan dan Yusran, 2017).
Pada penelitian ini ada dua instrumen yang digunakan: Instrumen pertama digunakan untuk mengumpulkan data implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian, dan hasil penilaian implementasi disesuaikan dengan Kategori, yaitu implementasi Kategori Baik, Sedang atau Kurang. Instrumen pertama berupa daftar tilik dibuat berdasarkan PMK No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, termasuk didalamnya sumber daya manusia, sarana dan prasarana, pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai, pelayanan farmasi klinik dan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian. Daftar tilik Standar Pelayanan Kefarmasian dapat dilihat pada Lampiran 1.
Instrumen kedua digunakan untuk mengumpulkan data kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Dalam hal ini yang menjadi responden adalah pasien. Instrumen kedua berupa Formulir Kuesioner Kepuasan Pasien, yang diambil dari PMK No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Formulir Kuesioner Kepuasan Pasien dapat dilihat pada Lampiran 2.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas yang berada di Kota Medan.
Pengambilan data selama 3 bulan periode Juli-Oktober 2019.
3.3 Populasi, Sampel dan Subjek Penelitian 3.3.1 Populasi
Populasi berkaitan dengan seluruh kelompok orang yang menjadi pusat perhatian peneliti untuk diteliti. Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh pasien yang mendapat pelayanan obat melalui resep di Puskesmas.
3.3.2 Sampel
Sampel merupakan suatu bagian dari populasi, yang mencakup sejumlah anggota dari populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan perhitungan Rumus Slovin, dengan margin kesalahan 10%
(Gunawan, 2018).
Rumus Slovin : n = N 1 + N. e2 Keterangan :
n = ukuran sampel N = ukuran populasi
e = batas toleransi kesalahan (error tolerance)
Kriteria inklusi sampel:
a. Pasien yang mendapat pelayanan obat melalui resep di Puskesmas.
b. Bersedia menjadi responden penelitian.
3.3.3 Subjek
Pengambilan subjek dilakukan secara purposive sampling yaitu pengambilan sumber data dengan tujuan tertentu dimana penulis memperoleh informasi yang diinginkan dari sumber tertentu (Sekaran, 2006). Subjek penelitian terdiri dari Kepala Seksi Farmasi Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas, petugas pelaksana farmasi Puskesmas (Apoteker).
Pemilihan Puskesmas dilakukan berdasarkan kriteria inklusi sebagai berikut :
a. Jenis Puskesmas (Rawat Jalan) b. Status Puskesmas (Puskesmas induk)
c. Ketersediaan tenaga kefarmasian: Apoteker dan Asisten Apoteker yang sudah bekerja minimal 1 tahun.
d. Memiliki data yang dapat diakses
e. Puskesmas bersedia sebagai lokasi penelitian
3.4 Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer a. Wawancara
Penelitian melakukan wawancara mendalam dengan subjek yang dapat memberikan informasi yang sesuai dengan topik penelitian. Alat yang digunakan adalah tulis dan tape recorder.
b. Pengamatan
Penelitian melakukan pengamatan langsung, pencatatan serta mengisi daftar tilik pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
c. Kuesioner
Penelitian memberikan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup kepada pasien atau keluarga pasien untuk memperoleh informasi kepuasan terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Kota Medan.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder didapat dengan telaah dokumen yang ada di ruang farmasi Puskesmas, yang berhubungan dengan pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai, pelayanan farmasi klinik, dan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas Kota Medan.
3.5 Langkah Kerja Penelitian
Prosedur kerja yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Mengurus surat permohonan izin dari Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara untuk melakukan penelitian di Puskesmas Kota Medan.
b. Mengurus surat persetujuan dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan untuk mendapatkan izin melakukan penelitian dan pengambilan data, dengan membawa surat rekomendasi dari Fakultas.
c. Mengurus surat persetujuan dari komisi etik penelitian bidang kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
d. Pengumpulan dan pencatatan data yang termaksud dalam data yang akan diambil di instalasi farmasi Puskesmas Kota Medan.
e. Melakukan analisis data yang diperoleh dan membuat laporan penelitian.
3.6 Analisis Data
Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini adalah:
a. Mengambil data primer dan sekunder berupa dokumen-dokumen pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai, pelayanan farmasi klinik, pengendalian mutu pelayanan kefarmasian dari Puskesmas Kota Medan dan melakukan wawancara dengan pihak yang terkait di instalasi farmasi Puskesmas, serta membagikan kuisioner kepada pasien di Puskesmas Kota Medan.
b. Data primer yang diperoleh dari wawancara dikelompokkan sesuai dengan jenisnya disajikan dalam bentuk narasi.
c. Data sekunder yang diperoleh dari telaah dokumen direkap.
d. Dihitung nilai masing-masing parameternya dan dikelompokkan berdasarkan dengan standar kepustakaan.
e. Analisis univariat, untuk melihat distribusi frekuensi dan persentasi dari masing-masing variabel.
f. Analisis bivariat, untuk menganalisis korelasi antara masing-masing variabel, digunakan uji Chi-square dan uji Spearman’s rho menggunakan Statistical Program Service Solution (SPSS).
3.7 Analisis Parameter
a) Nilai Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas diukur sesuai dengan Modul Training of Trainer (TOT) pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
Setiap pertanyaan pada masing-masing variabel diberi nilai sebagai berikut:
a. Sumber daya manusia
i. Jika terdapat Apoteker diberi nilai 2
ii. Jika terdapat tenaga teknis kefarmasian diberi nilai 1
iii. Jika terdapat Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian diberi nilai 3 iv. Jika petugas apotek pernah mengikuti pelatihan diberi nilai 2
v. Jika petugas apotek tidak pernah mengikuti pelatihan diberi nilai 0 b. Sarana dan prasarana
i. Jika tersedia diberi nilai 2 ii. Jika tidak tersedia diberi nilai 0
c. Pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai i. Jawaban dilakukan diberi nilai 2
ii. Jawaban tidak dilakukan diberi nilai 0 d. Pelayanan farmasi klinik
i. Jika dilakukan oleh Apoteker diberi nilai 3
ii. Jika dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian diberi nilai 2 iii. Jika dilakukan oleh tenaga kesehatan lain diberi nilai 1 iv. Jika tidak dilakukan diberi nilai 0
e. Pengendalian mutu pelayanan kefarmasian i. Jawaban iya diberi nilai 2
ii. Jawaban tidak diberi nilai 0
Kemudian nilai tersebut dijumlahkan dan hasil yang diperoleh dibagi atas tiga kategori dengan range yang sesuai.
a. Kategori I dengan total nilai > 85 dikatakan Baik b. Kategori II dengan total nilai 65-85 dikatakan Sedang c. Kategori III dengan total nilai < 65 dikatakan Kurang (Menkes, 2008).
b) Nilai Kepuasan Pasien di ukur dengan Skala Likert. Hasil yang diperoleh dibagi atas tiga kategori dengan range yang sesuai.
a. 66,8-100% = Sangat Puas b. 33,4-66,7% = Puas
c. 0-33,3% = Tidak Puas
c) Dasar pengambilan keputusan korelasi:
a. Membandingkan Nilai Signifikansi (Sig.) dengan Nilai Alpha 0,05:
i. Jika nilai signifikansi <0,05, maka artinya Ada Korelasi antar variabel yang dihubungkan
ii. Jika nilai signifikansi >0,05, maka artinya Tidak Ada Korelasi antar variabel yang dihubungkan
b. Membandingkan Nilai rhitung dengan Nilai rtabel:
i. Jika nilai rhitung>rtabel, maka artinya Ada Korelasi antar variabel yang dihubungkan
ii. Jika nilai rhitung<rtabel, maka artinya Tidak Ada Korelasi antar variabel yang dihubungkan
Catatan: Kedua teori dasar pengambilan keputusan di atas akan menghasilkan kesimpulan yang sama.
3.8 Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian
No. Variabel Definisi Alat
Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
Skala Ukur 1. Implementasi Proses dan penerapan pelaksanaan kegiatan standar
pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
Daftar tilik
Observasi, wawancara, dan telaah dokumen
Skor/
Nilai
Nominal
2. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai
Salah satu kegiatan pelayanan kefarmasian, yang dimulai dari perencanaan, permintaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan dan pelaporan serta pemantauan dan evaluasi.
Daftar tilik
Observasi, wawancara, dan telaah dokumen
Skor/
Nilai
Nominal
3. Pelayanan farmasi klinik
Bagian dari Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Daftar tilik
Observasi, wawancara, dan telaah dokumen
Skor/
Nilai
Nominal
4. Sumber Daya Manusia
Individu produktif yang bekerja sebagai pelaksana kebijakan.
Daftar tilik
Observasi, wawancara, dan telaah dokumen
Skor/
Nilai
Nominal
5. Sarana dan prasarana
Kelengkapan peralatan atau fasilitas yang mendukung pelayanan kesehatan.
Daftar tilik
Observasi, wawancara, dan telaah dokumen
Skor/
Nilai
Nominal
Tabel 3.1 (Sambungan) 6. Pengendalian
mutu pelayanan kefarmasian
Kegiatan untuk mencegah terjadinya masalah terkait obat atau mencegah terjadinya kesalahan pengobatan (medication error), yang bertujuan untuk keselamatan pasien.
Daftar tilik
Observasi, wawancara, dan telaah dokumen
Skor/
Nilai
Nominal
7. Kepuasan Pasien Suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya.
Kuesioner Penilaian pada kuesioner
Skor/
Nilai
Ordinal
8. Umur Jumlah tahun kelahiran responden pada saat mengisi kuesioner, berdasarkan ulang tahunnya yang terakhir.
Kuesioner Pengisian pada kuesioner
Nilai Rasio
9. Jenis kelamin Jenis yang dapat menyatakan manusia dikelompokkan menjadi laki-laki atau perempuan.
Kuesioner Pengisian pada kuesioner
Nilai Nominal
10. Pendidikan Pendidikan formal yang pernah diikuti responden berdasarkan ijazah yang dimiliki.
Kuesioner Pengisian pada kuesioner
Nilai Nominal
11. Pekerjaan Sumber mata pencaharian responden. Kuesioner Pengisian pada kuesioner
Nilai Nominal
12. Kunjungan Jumlah berkunjung responden yang sama untuk medapatkan pelayanan kesehatan.
Kuesioner Pengisian pada kuesioner
Nilai Rasio
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kota Medan merupakan ibukota Propinsi Sumatera Utara memiliki luas daerah 265,10 km² atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatra Utara. Secara geografis kota Medan terletak pada 3°.27'–3°.47' Lintang Utara dan 98°.35'–
98°.44' Bujur Timur dengan ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut.
Gambar 4.1 Peta Kota Medan (BPS Kota Medan, 2018).
Sebelah Selatan, Barat dan Timur Kota Medan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang. Di sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka. Letak yang strategis ini menyebabkan Medan berkembang menjadi pintu gerbang kegiatan perdagangan barang dan jasa baik itu domestik maupun internasional (Dinkes, 2016).