BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pendahuluan
Bab ini akan membahas mengenai dasar teori yang berkenaan dengan judul penelitian ini. Pada bab ini, akan dijelaskan mengenai pengertian proyek konstruksi, selanjutnya akan dijelaskan juga mengenai risiko pengelolaan proyek konstruksi. Pengaruh dan risiko juga akan dijelaskan di bab ini. Lalu strategi penanganan risikonya juga akan dijelaskan dan pada akhirnya bab ini akan menjelaskan menganai kerangka berpikir dan hipotesis penelitian.
2.2 Proyek Konstruksi
Proyek adalah usaha yang sifatnya sementara untuk menghasilkan suatu produk dan atau jasa yang unik. Proyek adalah gabungan dari berbagai sumber daya dan serangkaian kegiatan yang dihimpun dalam suatu wadah organisasi sementara untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Proyek merupakan kegiatan sekali lewat, dengan waktu dan sumber daya terbatas untuk mencapai hasil akhir yang telah ditentukan, misalnya produk dan fasilitas produksi.
Konstruksi adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan membangun suatu bangunan. Proyek konstruksi adalah suatu kegiatan yang hasil akhirnya berupa bangunan atau konstruksi yang menyatu dengan lahan tempat kedudukannya, baik digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana kegiatan lainnya.
Menurut Ervianto (2011), proyek konstruksi mempunyai tiga karakteristik yang dapat dipandang secara tiga dimensi, yaitu :
1. Bersifat unik : tidak pernah terjadi rangkaian kegiatan yang sama persos
(tidak ada proyek yang identik, yanga ada adalah proyek sejenis),
proyek bersifat sementara dan selalu melibatkan grup pekerja yang
2. Dibutuhkan sumber daya : setiap proyek konstruksi membuuhkan sumber daya yaitu tenaga kerja, uang, peralatan, metode dan material.
3. Organisasi : setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan di dalamnya terlibat sejumlah individu dengan keahlian yang bervariasi.
Langkah awal yang harus dilakukan adalah menyatukan visi menjadi satu tujuan yang didtetapkan organisasi..
Dalam proses mencapai tujuan proyek telah ditentukan batasan/kenda;a (triple constraint) yaitu besar biaya (anggaran) yang dialokasikan, mutu dan jadwal yang harus dipenuhi.
Dalam penelitian ini, pekerjaan yang di tinjau adalah pekerjaan perbaikan atap. Dimana banyak ditemukan bocor atau bahkan rusak pada permukaan ata. Metode yang di gunakan pada proses perbaikan atap ini adalah dengan menggunakan pengecatan 3 Layer serta pemasangan
Flashing.Ini merupakan hal yang baru dalam metode perbaikan atap disamping metode-metode lain yang sudah ada sebelumnya, berikut langkah kerja pada tahapan perbaikan atap dengan metode pengecatan 3 layer dan pemasangan flashing :
1. Brushing Treatment
Pada tahapan ini, permukaan atap di bersihkan dengan menggunakan gerinda tangan, tujuan tahapan ini adalah untuk melepaskan permukaan cat lama agar sehingga cat yang baru dapat menempel sempurna
Gambar 2.1 Brushing Treatment
2. Repair Roof (Perbaikan Atap)
Pada tahap ini perbaikan atap digunakan metode pengecatan 3 layer, material setiap layernya juga berbeda-beda, berikut material serta langkah yang dikerjakan dalam pengecatan ini :
a. Hi Solid + Polyester
Pada layer ini, digunakan material Hi Solid yaitu berupa cat lapis pertama yang mengandung rubber/karet sehingga dapat menambal atap yang berlubang, serta di lapisi dengan polyester berupa kain kasa.
Gambar 2.2 Metode Pelapisan dengan HI Solid + Polyester
b. Primer CoatPada layer ini, digunakan material Primer coat yaitu berupa cat lapis kedua yang berfungsi sebagai penutup pori-pori yang ada pada tahap pertama. Pada tahap ini pengecatan di lakukan dengan menggunakan Airless Spray, ketebalan pada lapisan ini adalah 200- 300 microns
Gambar 2.3 Primer Coat
c. Top Coat (Finish Coat)
Pada layer ini, digunakan material Polyurethane yaitu berupa cat lapis ketiga yang berfungsi sebagai finishing dari proses pengacatan atap. Pada tahap ini pengecatan di lakukan dengan menggunakan
Airless Spray,ketebalan pada lapisan ini adalah 200-300 microns.
Gambar 2.4 Top Coat (Finishing)
3. Pemasangan Flashing
Pada tahapan ini, atap yang sudah tidak mungkin di perbaiki dengan
menggunakan metode pengecatan sebelumnya. Pada tahapan ini,
flashingdibentuk sesuai dengan profil atap yang ada, material dari
flashingini berupa Zinc/seng.
2.3 Manajemen Risiko Proyek Konstruksi 2.3.1 Pendahuluan
Salah satu tujuan utama dalam mendirikan perusahaan adalah mencari keuntungan. Setiap kegiatan akan selalu muncul berdampingan, adanya peluang memperoleh keuntungan dan risiko menderita kerugian baik secara langsung maupun tidak langsung.
Proyek konstruksi merupakan suatu bidang yang dinamis dan mengandung risiko. Risiko dapat memberikan pengaruh terhadap produktivitas, kinerja, kualitas, dan batasan dari biaya proyek. Risiko dapat dikatakan merupakan akibat yang mungkin erjadi secara tak terduga. Walaupun suatu kegiatan telah direncanakan sebaik mungkin, namun tetap mengandung ketidakpastian bahwa nanti akan berjalan sepenuhnya sesuai rencana.
Risiko pada proyek konstruksi bagaimanapun tidak dapat dihilangkan tetapi dapan dikurangi atau ditransfer dari satu pihak ke pihak lainnya [Kangari,2012]. Bila risiko terjadi, maka akan berdampak pada terganggunya kinerja proyek secara keseluruhan sehingga dapat menimbulkan kerugian terhadap biaya, waktu dan kualitas pekerjaan.
Para pelaku dalam insdustri konstruksi sekarang ini makin menyadari akan pentingnya memperhatikan permasalahan risiko pada proyek-proyek yang ditangani, karena kealahan akan memperkirakan dan menangani risiko akan menimbuklan dampak negative, baik langsung maupun tidak langsung pada proyek konstruksi.
Risiko dapat menyebabkan pertambahan biaya dan menyebabkan keterlambatan jadwal penyelesaian proyek. Oleh karena besarnya dampakyang ditimbulkan, maka tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui manajemen risiko pada proyek konstruksi dengan melakukan studi litelatur yang mengacu kepada teori-teori yang relevan.
2.3.2 Pengertian Risiko
Risiko didefinisikan sebagai kombinasi kemungkinan dari suatu peristiwa dan konsekuensi (ISO/IEC Guide 73). Setiap kegiatan pasti memiliki ketidakpastian (uncertainly) yang berpotensi untuk kejadian dan konsekuensi yang merupakan peluang untuk manfaat atau ancaman terhadap kegagalan. Pertimbangan risiko dapat dilihat dari dua perspektif dengan semakin banyak mengetahui atau memahami dua aspek dalam risiko, yaitu positif dan negative dari risiko (AIRMIC 2002). Menurut Regan (2003) risiko diartikan sebagai suatu kemungkinan yang menimbulkan atau mengesankan kerugian atau bahaya. Definisi lain risiko adalah suatu aktivitas yang rentan akan menimbulkan dampak negative, dengan mempertimbangkan probabilitas dan dampak dari kemunculan risiko tersebut. Dalam kegiatan usaha kontraktor, sesuai dengan definisi risiko di atas, maka risiko-risiko tersebut dapat difokuskan pada kegiatan spesifik kontraktor, yaitu menjadi 2 sasaran utama yang terdiri dari :
1. Target Pemasaran, yang diukur dari perolehan jumlai nilai angka kontrak pekerjaan setiap tahun berjalan, sebagai tolok ukur kinerja pemasaran.
2. Target Produksi, yang diukur dari perolehan jumlah pendapatan, dan jumlah laba yang diperoleh tiap tahun berjalan, sebagai tolok ukur kinerja produksi.
Kedua target tersebut dapat dijamin, bila ketiga bidang manajemen yang menjalankan perusahaan yaitu : manajemen pemasaran, produksi, dan sumber daya, dapat mengatasi risiko di bidang masing- masing.
Secara umum, risiko akan bertambah jika kemungkinan atau
akibatnya bertambah. Kedua-duanya harus dipertimbangkan dalam
manajemen risiko.
Risiko dalam setiap kejadian adalah fungsi dari kemungkinan (likehood) dan akibat (impact) yaitu ;
Risiko = f (kemungkinan, akibat).
Secara umum risiko dapat diklasifikasikan menurut berbagai sudut pandang yang tergantung dari kebutuhan dalam penanganannya (Rahayu, 2001) :
Risiko murni dan risiko spekulatif (pure risk and speculative
risk)dimana risiko murni dianggap sebagai suatu ketidakpastian yang dikaitkan dengan adanya suatu luaran yaitu kerugian. Contoh risiko murni adalah kecelakaan kerja di proyek. Kerana itu, risiko murni di kenal sebagai risiko statis. Risiko spekulatif mengandung dua pengertian yaiitu kerugian (loss) dan keuntungan (gain). Risiko spekulatif dikenal sebagai risiko dinamis. Contoh dari risiko spekulatif ada pada perusahaan asuransi.
Risiko terhadap benda dan manusia, dimana risiko terhadap benda adalah risiko yang menimpa benda seperti rumah terbakar sedangkan risiko terhadap manusia adalah risiko yang menimpa manusia seperti hari tua, kematian dsb.
Risiko fundamental dan risiko khusus. Risiko fundamental
adalah risiko yang kemungkinan timbul pada hamper
sebagian besar anggota masyarakat dan tidak dapat disalahkan
pada seseorang atau beberapa orang sebagai penyebabnya,
contoh : bencana alam, peperangan. Risiko khusus adalah
risiko yang bersumber dari peristiwa-peristiwa yang mandiri
dimana sifat dari risiko ini adalah tidak selalu bersifat
bencana, bias dikendalikan atau umumnya dapat
diasuransikan. Contoh dari risiko khusus adalah : jatuhnya
pesawat terbang.
2.3.3 Identifikasi Risiko
Tahapan proses manajemen risiko ada empat yaitu:
identifikasi, analisis, respons, dan dokumentasi (monitoring dan control). Jadi langkah awal dari proses manajemen risiko adalah melakukan identifikasi terhadap risiko-risiko yang mungkin terjadi.
Identifikasi risiko, dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu berdasarkan sumbernya dan berdasarkan dampak yang akan ditimbulkannya. Lihat gambar 2.6 dan 2.2. identifikasi risiko berdasarkan dampak, harus jelas risiko tertentu, sedang identifikasi berdasarkan sumber dapat bersifat umum.
- Peraturan-peraturan - Pasar - Manajemen - Teknologi - Lisensi - Bencana alam - Operasi - Schedule - Citra - Hak patent - Efek samping - Dampak lingkungan - Cost - Desain - Kontrak
- Inflasi - Cast flow - Metode - Force Mayoure - Nilai tukar - Kompleksitas
Legal Identifikasi Risiko
Gambar 2.6 Identifikasi Risiko Berdasarkan Sumber Eksternal tak
terprediksi Eksternal terprediksi Internal Non Teknis Teknis
Identifikasi Risiko Proyek
Gambar 2.7 Identifikasi Risiko Proyek Bedasarkan Dampak
Kecelakaan kerja Biaya Mutu Waktu
Banyak buku yang membahas tentang manajemen risiko, menggunakan pendekatan identifikasi risiko berdasarkan atas sumbernya. Sebagai ilmu pengetahuan hal tersebut tepat, karena akan dapat mengumpulkan berbagai penyebab yang dapat menimbulkan suatu risiko yang sifatnya umum. Tetapi untuk suatu risiko yang ditetapkan secara spesifik, seperti risiko proyek atau risiko usaha kontraktor, maka pendekatan yang dilakukan lebih baik menggunakan pendekatan dampaknya. Baru kemudian nanti disusul dengan mencari kemungkinan penyebab dari dampak yang ditimbulkan. Alasan ini menjadi lebih tepat bila dimaksud analisis yang dilakukan akan digunakan dalam praktek penerapan. Yaitu untuk mencegah penyebab sebenarnya dari tiap risiko yang telah teridentifikasi
Bila kita membahas risiko bisnis kontraktor, maka menurut
definisi yang sudah diuraikan, dampak yang ditimbulkan atas risiko
yang terjadi adalah tidak tercapainya sasaran perusahaan. Dengan
demikian identifikasi risiko untuk usaha kontraktor dapat ditunjukan
pada gambar 2.8
Identifikasi Risiko Kontraktor
Gambar 2.8 Identifikasi Risiko Usaha Kontraktor
Kegiatan Pemasaran Kegiatan Produksi Pengelolaan Sumber Daya Perusahaan
2.3.3.1 Identifikasi Risiko Pemasaran
Di dalam kegiatan pemasaran bisnis apapun, selalu dihadapi risiko. Begitu juga pada kegiatan pemasaran pada bisnis kontraktor. Yang dimaksud dengan risiko pemasaran adalah semua kejadian yang memungkinkan tidak tercapainya target pemasaran yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan, yang antara lain dapat dirinci sebagai berikut :
Tidak dapat ikut P.Q atau Tender
Gagal dalam Pra Qualifikasi
Gagal dalam tender
Menang tender tapi salah hitung
Proyek, tidak/belum tersedia dananya
Dua yang terakhir adalah risiko yang dapat terjadi pada
proses pemasaran, tetapi dampaknya akan dihadapi pada
proses produksi. Yang bila terjadi dan tidak dapat direspons
dengan baik dapat mengakibatkan kerugian dan atau
kesulitan keuangan (likuiditas) perusahaan. Ini suatu bukti
bahwa ada keterkaitan antara pemasaran dan produksi.
Tabel 2.1 Contoh Identifikasi Risiko Bidang Pemasaran
No Jenis Risiko Penyebab Risiko 1 Tidak dindang P.Q
atau tender
Tidak mengetahui informasi pasar
Tidak mengenal calon pengguna jasa
Disingkirkan pesaing
Tidak dikehendaki calon pengguna jasa
2 Gagal dalam P.Q
Persyaratan administrasi tidak memenuhi
Persyaratan pengalaman kurang
Persyaratan peralatan kurang
Persyaratan tenaga ahli kurang
Terlambat menyerahkan dokumen P.Q
3 Gagal dalam tender
Harga penawaran tinggi
Technical proposal
- nya tinggi
Kualifikasi tenaga professional kurang
Dokumen tender tidak lengkap
Terlambat memasukan dokumen
Nilai pagu proyek terlalu
rendah
4
Underbid Kesalahan membuat work
Breakdown structure
Kesalahan menghitung volume pekerjaan
Kesalahan menghitung harga satuan
Kesalahan mengantisipasi risiko
5 Proyek belum tersedia dananya
Tidak mengetahui informasi sumber dana
Tidak tersedia jaminan pembayaran
2.3.3.2 Identifikasi Risiko Produksi
Risiko berikutnya adalah risiko produksi. Bias saja perusahaan terlepas dari risiko pemasaran, tetapi kemudian menghadapi risiko produksi. Contohnya target pemasaran tercapai, tetapi target produksi tidak tercapai.
Yang dimaksud dengan risiko produksi adalah semua kejadian yang memungkinkan tidak tercapainya target- target produksi yang telah ditetapkan, yang antara lain sebagai berikut :
Pembengkakan biaya pelaksanaan terhadap anggarannya (cost over-run)
Keterlambatan penyelesaian pekerjaan, baik partial maupun secara keseluruhan (project delay)
Penyimpangan mutu pekerjaan terhadap persyaratan yang ada
Kecelakaan kerja
Khusus untuk owner, lingkup pekerjaan menjadi salah satu
pekerjaan yang diinginkan owner tidak tercapai. Sedangkan bagi kontraktor, bila terjadi perubahan lingkup pekerjaan adalah bukan risiko kontraktor, oleh karena itu tidak masuk dalam identifikasi risiko kontraktor.
Tabel 2.2 Contoh Identifikasi Risiko Bidang Produksi No Jenis Risiko Penyebab Risiko 1 Pembengkakan biaya
(cost over-run)
Kenaikan harga yang tidak di
coverdalam kontrak
Terjadi waste yang melebihi perkiraan
Sistem pengendalian yang lemah
Turunnya produktivitas kerja
Cost budget
yang kurang realistic
2 Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan
Penyerahan lahan oleh pihak lain yang terlambat
Pekerjaan persiapan yang lemah
Pekerjaan lain yang mendahului, terlambat
Sumber daya yang belum tersedia di awal pekerjaan
Pengadaan tenaga kerja yang tidak sesuai schedule
Pengadaan material yang tidak sesuai schedule
Produktivitas kerja yang tidak
sesuai schedule
Dana kerja proyek yang tidak sesuai dengan kebutuhan
Metode konstruksi tidak sesuai dengan pekerjaan 3 Hasil mutu pekerjaan
tidak sesuai dengan pekerjaan
Kualitas pekerja yang rendah
Sistem pengendalian mutu lemah
Metode konstruksi tidak sesuai dengan pekerjaan
Standar spesifikasi yang tidak jelas
4 Kecelakaan kerja
Safety planlemah
Safety control lemah
2.3.3.3 Identifikasi Risiko Sumber Daya Perusahaan
Sebenarnya identifikasi pada bisnis jasa kontraktor risiko utama yang dihadapi adalah pemasaran dan produksi.
Sedang sumber daya perusahaan bias masuk dalam salah satu sumber penyebab terjadinya risiko pemasaran dan produksi. Namun demikian sumber daya perusahaan juga dapat di munculkan sebagai bagian risiko yang berdiri sendiri, seperti diuraikan disini.
Yang dimaksud dengan risiko sumber daya adalah
semua kondisi sumber daya perusahaan yang tidak sesuai
dengan keinginan perusahaan baik secara langsung maupun
tidak langsung. Yang antara lain dapat dibagi sebagai
berikut :
Produktivitas dan utulitas sumber daya alat yang rendah
Keuangan yang lemah
Sumber daya manusia yang ada di perusahaan, walaupun pada saat rekruitmentnya telah dilakukan seleksi yang baik, apalagi jika perusahaan tidak memiliki sistem seleksi, maka bisa saja dalam kegiatan operasi perusahaan personelnya tidak mendukung secara maksimal sehingga perusahaan memiliki daya saing yang rendah terhadap pesaingnya. Hal ini tentu ada penyebabnya yang dapat diidentifikasi.
Sumber daya alat yang ada di perusahaan, yaitu pada saat perusahaan membeli atau melakukan investasi peralatan konstruksi, tentunya juga sudah melalui suatu pertimbangan yang masak, apalagi kalau tidak melakukan analisis apa- apa.
Sumber daya keuangan yang ada di perusahaan, biasanya dipenuhi dari modal pinjaman yang bisa dikelola dengan sebaik-baiknya agar cash flow perusahaan dapat terjaga dengan baik. Yang sering menjadi masalah adalah banwa kondisi keuangan perusahaan bisa saja menjadi jelek karena kelemahan dalam kegiatan operasional yang berdampak pada melemahnya kondisi keuangan perusahaan.
Tabel 2.3 Identifikasi Risiko Sumber Daya Perusahaan
No Jenis Risiko Penyebab Risiko
1 Sumber daya
manusia yang lemah
Sistem perekrutan yang lemah
Kurang pelatihan teknis
Kurang pelatihan non teknis
Kebijakan perusahaan yang kontradiktif
Komunikasi yang lemah antara manajemen dengan karyawan
2 Sumber daya alat dan rendahnya
produktivitas
Pemilihan jenis alat yang kurang tepat
Sistem pengelolahan alat yang lemah
Kondisi alat yang sudah out
of date3 Keuangan yang lemah
Modal sendiri terhadap sales yang rendah
Terbatasnya sumber pinjaman
Kebijakan produksi yang tidak mendukung kondisi keuangan
Kebijakan pemasaran yang tidak mendukung kondisi keuangan
Jenis risiko yang terpenting bagi setiap pihak yang terlibat dalam sebuah proyek tergantung pada berbagai tahapan proyek dan peran serta tanggung jawab dari berbagai pihak.
2.3.4 Evaluasi Risiko
Evaluasi risiko pada suatu proyek tergantung pada ( Duffield
a. Probabilitas terjadinya risiko tersebut, frekuensi kejadian
b. Dampak dari risiko tersebut bila terjadi.
Dalam membandingkan pilihan proyek dari berbagai risiko yang terkait sering digunakan " Indeks Risiko": Indeks Risiko = Frekuensi
x DampakProject Imnart
Gambar 2.9 Probabiliats vs dampak terhadap proyek Sumber : Duffield dan Trigunarsyah,2009 Dari gambar 2 di atas dapat dilihat bahwa :
1. Tingkatan risiko yang dapat diterima adalah dimanan Indeks Risiko berada dalam zona 1 yaitu dampak yang rendah terhadap proyek dengan probabilitas kejadian sedang, atau probabilitas rendah dengan dampak yang berarti pada proyek
2. Tingkatan risiko yang tidak dapat diterima berada pada zona 2 dimana dampak yang tinggi pada proyek dengan kemungkinan kejadian yang besar atau dampak yang terlalu besar bagi proyek 3. Tingkat risiko yang dianggap dapat diterima akan tergantung
sekali kepada pengambil keputusan berada pada zona 3.
Biasanya tidaklah praktis menganalisis setiap jenis risiko secara rinci. Perlu ditentukan suatu tingkatan dimana kontribusi dari risiko terkecil berikutnya dapat diabaikan bila dibandingkan dengan total risiko yang lebih besar secara kumulatif.
Akurasi dari setiap evaluasi atau analisis risiko hanya akan
seakurat data yang menjadi dasar bagi perkiraan probabilitas dan
frekuensinya. Probabilitas terjadinya suatu risiko biasanya didasarkan kepada data historis, sedangkan dampak terhadap proyek akan melibatkan analisis teknis dan finansial.
Untuk melakukan analisis risiko secara efektif, menurut Burby (1991) dalam Duffield dan Trigunarsyah (2009) harus mempertimbangkan hal-hal berikut :
1. Analisis yang dilakukan harus difocuskan pada kerugian finansial langsung daripada gangguan pelayanan atau kematian dan kerugian
2. Tingkat ketidakpastian dalam setiap perkliraan output harus dapat dinilai
3. Akurasi dari analisis harus sesuai dengan akurasi data dan tahapan proyek
4. Biaya dan usaha dalam melakukan analisis harus serendah mungkin yang dapat diserap oleh anggaran proyek
.
2.3.5 Alokasi risiko
Alokasi risiko seringkali merupakan permasalahan yang sulit. Pertanggung jawaban atas suatu risiko membawa kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan atau kerugian.
Secara tradisional para pemilik proyek telah mencoba memindahkan sebanyak mungkin risiko kepada pihak lain, dan yang umumnya penerima risiko dalam tahapan konstruksi suatu proyek adalah kontraktor, dan kontraktor seringkali memindahkan risiko yang diterimanya kepada sub-kontraktor atau perusahaan asuransi.
Biaya proyek secara keseluruhan akan meningkat apabila risiko proyek tidak dialokasikan kepada pihak yang memiliki kendali terhadap risiko tersebut.
Jika kontraktor harus bertanggung jawab terhadap seluruh
risiko konstruksi dari suati proyek, ada dua pilihan yang tersedia
untuk mendapatkan kompensasi terhadap tanggung jawab ini yaitu :
1. Menaikkan nilai penawaran awal untuk menciptakan imbalan yang sesuai.
2. Menghindari risiko tersebut pada penawaran awal dengan memberikan batasan atau kualitas tertentu, atau mengajukan perubahan lingkup kerja jika dan bila terjadi hal-hal yang tidak menguntungkan.
Penanganan risiko sebaiknya dimulai pada tahapan awal proyek, dengan tujuan alokasi risiko kepada pihak-pihak yang memiliki kendali terhadap risiko terkait pada setiap tahapan proyek.
Potensi keuntungan bagi pemilik dana harus sepadan dengan tingkat risiko yang dihadapi. Pemerintah berkewajiban untuk melindungi masyarakat umum terhadap risiko finansial dan sosial dari suatu proyek.
2.3.6 Respon Risiko
Respon risiko adalah tindakan penanganan yang dilakukan terhadap risiko yang mungkin terjadi. Risiko-risiko penting yang sudah diketahui perlu ditindak lanjuti dengan respon yang dilakukan oleh kontraktor dalam menangani risiko tersebut. Semua identifikasi risiko yang telah dicari penyebabnya, baik meliputi risiko pemasaran, produksi, dan sumber daya perusahaan, maka perlu dicari rangkingnya untuk prioritas penanganannya. Kelompok rangking risiko dibagi menjadi 4 yaitu :
a. High (H) b. Significant (S) c. Medium (M) d. Low (L)
Penetapan rangking risiko ditentukan berdasarkan dua kriteria, yaitu:
Frekuensi kejadian (probability), dibagi menjadi lima kondisi yaitu:
Hampir pasti terjadi
Sangat mungkin terjadi
Cukup mungkin terjadi
Kemungkinan kecil terjadi
Jarang terjadi
Dampak dari kejadian (impact) :
Fatal
Besar
Sedang
Kecil
Tidak penting
Secara umum dan kualitatif, matriks rangking risiko dapat digambarkan sebagai berikut :
Table 2.4 Matriks Risiko Kualitatif
ImpactProbability
Tidak Penting
Kecil Sedang Besar Fatal
Jarang L L L M S
Kemungkinan kecil
L L M S S
Cukup mungkin M M S S H
Sangat mungkin S S H H H
Hamper pasti S H H H H
Untuk rangking risiko yang sifatnya spesifik, seperti perusahaan jasa kondtruksi, maka sebaiknya untuk menetapkan tingkat probabilitas dan dampak dari suatu kejadiaan untuk mencari rangking dapat ditetapkan berdasarkan atas perhitungan yang bersifat kualitatif.
Angka-angka yang ditetapkan juga sangat tergantung pada jenis risikonya.
Perangkingan yang dilakukan di atas adalah hanya untuk keperluan
menetapkan prioritas penanganan serta pembagian wewenang
Risiko yang low, akan ditangani secara rutin oleh pelaksana yang bersangkutan
Risiko yang medium, manajer yang bersangkutan sudah harus turun tangan
Risiko yang significant, general manager yang bersangkutan sudah harus turun tangan
Risiko yang high, top management sudah harus ikut turun tangan
Perkembangan risiko yang terjadi, dapat dibagi kondisi trend-nya.
Bila rangkingnya menurun itu berarti penanganannya risikonya berhasil, dan begitu pula sebaliknya.
Pada pelaksanaannya metode yang dipakai dalam menangani risiko (Flanagan & Norman, 1993):
1. Menahan risiko (Risk retention) (T1 dan T2) Merupakan bentuk penanganan risiko yang mana akan ditahan atau diambil sendiri oleh suatu pihak. Biasanya cara ini dilakukan apabila risiko yang dihadapi tidak mendatangkan kerugian yang terlalu besar atau kemungkinan terjadinya kerugian itu kecil, atau biaya yang dikeluarkan untuk menanggulangi risiko tersebut tidak terlalu besar dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh.
2. Mengalihkan risiko (Risk transfer) (A1) Pengalihan ini dilakukan untuk memindahkan risiko kepada pihak lain. Bentuk pengalihan risiko yang dimaksud adalah asuransi dengan membayar premi. Pihak lain tersebut antara lain adalah :
Subkontraktor
Penggunaan subkontraktor biasanya untuk mengatasi risiko yang kurang dapat dikendalikan oleh perusahaan, sehingga diserahkan kepada subkontraktor spesialis yang sudah ahli dalam bidang yang bersangkutan.
Perusahaan Asuransi
Dalam hal ini, risiko yang dapat ditransfer kepada pihak
asuransi adalah kejadian-kejadian yang sama sekali tidak
dapat diduga, seperti bencana alam dan lain sebagainya.
Walaupun dalam transaksi asuransi ada istilah “All risk”
tetapi itu tidak berarti bahwa semua risiko akan ditanggung oleh asuransi.
3. Meminimalkan risiko sendiri (A2)
kebijakan ini diambil bila perusahaan merasa yakin dapat mengendalikan sendiri terhadap risiko yang diperkirakan. Cara ini sebenarnya paling baik bagi perusahaan sepanjang masih dalam batasan kemampuan perusahaan untuk mengendalikan risiko yang bersangkutan.
Karena dengan kebijakan ini perusahaan dapat lebih terlatih menghadapi sendiri risiko yang diperkirakan, dengan demikian kemampuan perusahaan manjadi meningkat dalam mengendalikan suatu risiko. Namun demikian disarankan bila respons ini yang akan diambil, maka seluruh prosedur manajemen risiko harus dijalankan sepenuhnya, termasuk monitoring dan kontrol.
4. Menerima Risiko (Risk Accept)
(A3), kebijakan ini biasanya
diambil bila dampak dari risiko tersebut kecil, walaupun
probabilitasnya besar, yaitu dengan cara memasukan biaya akibat
akibat risiko tersebut kedalam budget. Atrinya bila risiki tersebut
terjadi, tidak akan menimbulkan masalah karena dampak
biayanya sudah dicadangkan. Namun demikian respons seperti
ini menjadi tidak tepat bila ternyata ada dampak lain selain biaya
yang cukup berpengaruh terhadap citra perusahaan. Cara ini
banyak ditempuh oleh perusahaan yang belum memiliki sistem
manajemen risiko, yaitu menangani risiko dengan menyediakan
biaya risiko. Bagi perusahaan yang memiliki system manajemen
risiko, respons ini jarang dilakukan kecuali bila sangat terpaksa.
2.3.8 Penanganan Risiko
Dari seluruh tindakan respons risiko yang ada pada pemasaran, produksi, dan pengelolaan sumber daya perusahaan, maka dapat disusun sistem manajemen risiko dari perusahaan yang bersangkutan.
Penerapan manajemen risiko karena meliputi seluruh fungsi dari perusahaan yang ada, maka penerapan risiko tersebut harus sudah “built in” dalam sistem fungsi masing-masing. Seperti contohnyadalam sistem manajemen pemasaran, sudah harus menampung tindakan-tindakan dalam mengantisipasi risiko yang mungkin ada dalam kegiatan pemasaran. Begitu juga pada sistem fungsi-fungsi lainnya.
Bahkan dalam struktur organisasi, beserta job description- nya sudah juga harus tampak bahwa organisasi perusahaan sudah ada bagian-bagian yang berkaitan dengan risiko perusahaan. Telah disebutkan pada bab pendahulunya bahwa pada kenyataan sebenarnya mungkin saja beberapa pertimbangan tentang risiko telah diterapkan pada kebijakan-kebijakan yang ada. Hal tersebut dapat dilihat pada uraian tentang penanganan risiko tersebut.
Dalam proses penyusunan manajemen risiko ini, dilihat dari kumpulan tindakan yang diperlukan, dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu sebagai berikut :
Penegasan kembali prosedur/kebijakan/sistem yang ada menjadi bagian dari sistem manajemen risiko
Perbaikan prosedur/kebijakan/sistem yang ada sesuai dengan analisis yang dilakukan pada periode tertentu