• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENYEBAB ANAK PUTUS SEKOLAH DI DUSUN PALUH SIPAT DESA TELUK MEKU KECAMATAN BABALAN LANGKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PENYEBAB ANAK PUTUS SEKOLAH DI DUSUN PALUH SIPAT DESA TELUK MEKU KECAMATAN BABALAN LANGKAT"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENYEBAB ANAK PUTUS SEKOLAH DI DUSUN PALUH SIPAT DESA TELUK MEKU KECAMATAN BABALAN

LANGKAT

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

Universitas Sumatera Utara

Disusun Oleh:

130902079

Rossy Novitri Napitupulu

DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

LEMBAR PERSETUJUAN Nama : Rossy Novitri Napitupulu

NIM : 130902079

Judul : Analisis Penyebab Anak Putus Sekolah di Dusun Paluh Sipat Desa Teluk Meku Kecamatan Babalan Langkat.

Medan, Juni 2017

DOSEN PEMBIMBING

NIP.

Hairani Siregar S.Sos, M.SP

KETUA DEPARTEMEN

NIP. 19670808 199403 1 004 Agus Suriadi, S. Sos, M.Si.

DEKAN FISIP USU

NIP. 19740930 200501 1 002 Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMENT ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL Nama : Rossy Novitri Napitupulu

NIM : 130902079

ABSTRAK

Analisis Penyebab Anak Putus Sekolah di Dusun Paluh Sipat Desa Teluk Meku Kecamatan Babalan Langkat

Perwujudan anak-anak sebagai generasi muda yang berkualitas merupakan salah satu upaya memperkuat kemampuan daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi.Namun, bagaimana mungkin mampu menghadapi tantangan globalisasi bila anak sebagai tonggak estafet penerus bangsa ternyata masih berada diambang ketelantaran dalam bidang pendidikan. Penelitian ini dilakukan di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Langkat yang jumlah anak putus sekolah usia 7-12 tahun berjumlah 10 anak, anak putus sekolah usia 13-15 tahun berjumlah 27 anak dan anak putus sekolah usia 16-18 tahun berjumlah 70 anak.

Tingginya angka putus sekolah di Dusun Paluh Sipat, juga dibuktikan dengan Angka Partisipasi Sekolah yang rendah. APS untuk anak usia 7-12 tahun adalah 95 %, APS anak usia 13-15 tahun adalah 77, dan APS anak usia 16-18 tahun adalah 39.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang anak putus sekolah di SD dan SMP ,1 guru SD Paluh Sipat, 1 Staff Yayasan Fondasi Hidup, 1 Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Babalan sebagai informan kunci, serta 4 orang tua dari anak putus sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan studi lapangan dan studi pustaka.

Kutipan hasil wawancara ditampilkan untuk mendukung analisis yang disampaikan.

Hasil penelitian menemukan bahwa seluruh informan mengalami proses kelebihan bermain sehingga tidak mengerjakan PR, sering di hukum di sekolah, bolos sekolah yang mengakibatkan berulang pindah sekolah, dan nilai anjlok hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah. Adapun yang menjadi penyebab seluruh informan putus sekolah adalah rendahnya minat sebagai bentukan dari pola pikir yang tidak benar mengenai sekolah yang ia dapatkan dari ketidakmaksimalan orang tua mendampingi informan dalam belajar dan rendahnya motivasi orang tua. Teman sebaya menjadi penyebab secara langsung anak putus sekolah. Selain itu, guru yang belum menjawab kebutuhan informan dan tersedianya sumber daya lokal yang membuat anak memilih untuk bekerja juga menjadi penyebab informan putus sekolah.

Kata Kunci: Anak, Putus Sekolah, Penyebab Putus Sekolah UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA

(4)

DEPARTEMENT OF SOCIAL WELFARE SCIENCE Name : Rossy Novitri Napitupulu

NIM : 130902079

ABSTRACT

Analysis of The Causes of Drop Out Children in Paluh Sipat Teluk Meku Babalan Langkat

The manifestation of children as a qualified young generation is one of the efforts to strengthen the nation's competitiveness in facing the challenges of globalization. However, how is it possible to face the challenge of globalization if the child as a successor of the nation's successor relay is still on the verge of neglect in the field of education.

This research was conducted at DusunPaluhSipat, TelukMeku Village, Langkat which number of dropout children aged 7-12 years amounted to 10 children, dropout children aged 13-15 years amounted to 27 children and children drop out of school age 16-18 year amounted to 70 children . The high number of drop out rates in DusunPaluhSipat, also proved by low School Participation Rate.

APS for children aged 7-12 years is 95%, APS children aged 13-15 years is 77%, and APS children aged 16-18 years is 39%.

This research uses descriptive qualitative approach. Informants in this study were 5 primary school dropouts in primary and junior secondary schools as the main informants, 1 teacher of SD PaluhSipat, 1 Food for the Hungry Staff, 1 Head of District Education Office of Babalan as the key informant, and 4 parents of drop out children. Technique of collecting data is done by descending directly at research location and literature study. Quotation result of interview is shown to support the analysis submitted.

The results of the study found that all informants experienced a process of excess play so as not to do homework, often in law in school, skipping school that resulted in repeated school move, and the value dropped until finally decided to quit school. As for the cause of all informants dropping out of school is the low interest as the formation of the wrong mindset about the school he got from the inaction of parents accompanying informants in learning and low motivation of parents. Peers are the direct cause of school dropouts. In addition, teachers who have not answered the needs of informants and the availability of local resources that make children choose to work also be the cause of informants dropping out of school.

Keywords: Child, Drop Out, Cause of Drop Out

(5)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Identitas Penulis

Nama : Rossy Novitri Napitupulu Tempat/Tanggal Lahir : Duri, 19 Januari 1994

Agama : Kristen Protestan

Status : Mahasiswa

Alamat : Jl.Pembangunan No. 122 Email : [email protected] 2. Riwayat Pendidikan

No Tahun Pendidikan

1 2001-2006 SD Negeri 06 Pinggir 2 2007-2009 SMPS Santo Yosef Duri 3 2010-2012 SMA N 1 Duri

4 2013-2017 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur dan hormat penulis sampaikan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan kasih karunia yang tidak terduga sepanjang hidup yang dipercayakan-Nya. Kecerdasan, kesehatan, pengalaman bahkan setiap proses yang dilalui mulai memasuki perkuliahan sampai menyelesaikannya di Depertemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara semua berasal dari-Nya dan kembali untuk kemuliaanNya karena hidup adalah bagi Kristus. Sukacita penulis semakin bertambah ketika penulisan skripsi dengan judul “Analisis Penyebab Anak Putus Sekolah di Dusun Paluh Sipat Desa Teluk Meku Kecamatan Babalan Langkat”

dapat di selesaikan dengan ketaatan di setiap proses-Nya.

Selama masa penulisan skripsi ini penulis mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Baik secara moril maupun materil. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Agus Suriadi, S.Sos, M.Si. selaku ketua Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Hairani Siregar S.Sos, M.SP selaku dosen pembimbing penulis. Saya mengucap syukur senantiasa pada Allah, atas waktu, semangat, nasehat bak seorang ibu bagi penulis yang merantau di kota Medan ini serta ilmu yang penulis dapatkan dari ibu. Sepanjang bimbingan bersama ibu, banyak

(7)

belajar tentang sikap, perkataan,kesabaran, dan ketaatan ibu. Semoga saya dapat meneladani ibu dalam kebaikan dan ilmu yang ibu berikan akan digunakan oleh penulis di dunia bekerja dan dalam hidup sehari-hari.

4. Seluruh Dosen di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial yang telah memberikan pembelajaran kepada penulis selama masa perkulihan di departemen ini, serta jajaran staf kepegawaian FISIP USU terkhusus kak Betty, kak Debby, bang Rasyad, ibu Asayati, dan bang Ria.

5. Paling khusus penulis dedikasikan kepada orang tua tercinta, Bapak Kale Ramond Napitupulu dan Mama Denty Simatupang yang telah berjuang di dalam doa dan kasih bagi penulis. Setiap jerih lelah yang luar biasa, nasehat, kesabaran dari bapak dan mama sungguh sangat berharga bagi penulis. Tiada yang dapat penulis berikan selain doa agar senantiasa bapak dan mama merasakan kasih Kristus yang selalu menyertai kita sampai saat ini. Kiranya pengharapan kita semakin nyata pada-Nya.

6. Abang penulis Fernando Napitupulu,SE terimakasih sudah menjadi abang yang sangat sabar dan senantiasa memberi nasehat, edak tercinta Calysta Christa Sitorus,SE yang senantiasa bersukacita memberikan dukungan bagi penulis, Riris Verawati Napitupulu A.md (sebentar lagi jadi S.T) terimakasih telah menjadi kakak bagi penulis sekaligus ATM 24 jam.

Bersyukur untuk pengenalan mu pada Tuhan Yesus Kristus, semoga kita senantiasa wanita yang teguh di dalam doa di tengah keluarga kita ya kak.

Bagi satu-satunya adik penulis Fedrick Napitupulu yang sedang menjalani SMA di Siantar. Seorang adik yang menjadikan penulis tiang doa baginya, setiap mau ujian senantiasa meminta penulis untuk mendoakannya,

(8)

semoga cepat selesai ya dek, biar kuliah dipertambangan yang adek bilang dan bawa mama bapak jalan-jalan ke luar negeri. Terimakasih juga buat sepupu terkasih adikku Arti dan Christin yang terus menolong penulis setiap waktu.

7. Terkhusus kepada Staff Yayasan Fondasi Hidup, CDF nya Paluh Sipat Kak Berliana Sitepu, SKM, FCF FH kak Eka Hasugian terimakasih kak udah seperti kakak kandung bagi penulis yang selalu ada setiap penulis butuhkan. Terimakasih juga untuk setiap tawa yang kita alami di base brandan Langkat bersama bang Farman mulai dari penulis PKL sampai penelitian. Pengalaman dan berbagi hidup bersama kalian sangat penulis syukuri. Terimakasih juga kepada Kak Mesrika Situmorang S.Pd, bang Ricky Christian, bang Sem telah menjadi mediator bagi penulis selama PKL di FH. Terimakasih untuk semua staff FH yang sangat luar biasa telah menunjukkan kasihnya kepada penulis setiap kali penulis berada di kantor untuk keperluan PKL dan penelitian. Kiranya FH senantiasa menjadi fondasi bagi setiap anak dan masyarakat terkhusus di wilayah bagian Sumatera Utara.

8. Terkhusus kepada “Serera Auksano” saudari di dalam Yesus Kristus kak Rina, Eny Situmorang S.Sos, Afrianty Sitorus, Margaret Sitinjak . Terimakasih untuk setiap pergumulan, doa dan kasih yang senantiasa menopang kita hingga teguh berdiri pada pengenalan akan Kritus. Dunia alumni yang bakal kita hadapi tidak membuat kita menaruhkan iman kita tetapi senantiasa tinggal di dalam-Nya dan menjadi saksi.

(9)

9. Terkhusus kepada adik-adik kelompok kecil Tio, Friska, Petrus, Windi, Endang, Karmila, Johannes yang sedang menjalani kuliah di Antropologi 2014. Semangat menjalani kuliah dek dan jadilah pribadi yang berintegritas. Pengenalan akan Kristus dimasa muda adalah yang terpenting, semakin bertumbuh lah di dalam Nya.

10. Sahabat-sahabat di “OTMAT” tercinta Rosmida Alvionita A.Md (staff PLN), Kristy Merlin S.Psi (Ibu Psikolog) si pengetahuan luas mengenai produk korea, Evita Butar-Butar S.H, Mardiana Siregar, Lucry Monalisa Simangunsong si wanita lelet sepanjang abad, Mecy Wira Bless Siregar SKM, Rose Meriah A.Md (CS nya Maybank) yang udah keliling Korea, Wasty Dwili Soya Marbun, A.Md (Staff PLN) yang tiada lelah mengingatkan penulis dalam pengerjaan skripsi. Kesuksesan yang kalian miliki penulis sebutkan menunjukkan bahwa Tuhan senantiasa memberkati cita dan persahabatan yang terjalin sejak SMA, tetap rendah hati dan berintegritas mengerjakan pekerjannya masing-masing.

11. Terkhusus buat Eby Ginting S.Sos terimakasih sudah mendampingi penulis selama dilapangan penelitian. Door to door yang kita kerjakan untuk dapatkan data sebanyak 400 KK itu sangat mengesankan.

Terimakasih buat Margaretta Tambunan, SKM, Cyntia Christian alias cina yang terus memberikan semangat bagi penulis.

12. Terimakasih kepada teman dan adik-adikku di Melynia Kos 122 rombongan lantai 2 Aron, Markus, Ferdinal, Viktor, Horo, Restu, Rominta dan Nonita. Setiap dukungan berupa semangat, laptop, meja yang pernah digunakan selama pengerjaan skripsi sangat penulis hargai.

(10)

13. Teman seperdopingan Kisty Saragih, Lilis Mariana, Sanjaya Sihite, Dinar, Sari Hulu,Uwi yang senantiasa bergilir selama bimbingan. Kita bersyukur memiliki doping yang sangat luar biasa perhatiannya. Terimakasih tak lelah bertanya “kapan sidang” dan pertanyaan itu pun berhasil menggelisahkan penulis untuk terus semangat 45 mengerjakannya.

14. Terimakasih kepada teman-teman KKN Turpuk Sihotang (Tarmizi, Tari,Ance,Rut,Nuri,Sari,Rini,Hilda,Cyntia,Lenni,April) buat setiap kenangan dan semangatnya.

15. Terimakasih kepada teman-teman seperjuangan di ilmu kesejahteraan sosial stambuk 2013 terkhusus buat Bertua, Geby, Helena, Herpinta, Esra Pelita,Rekha, Boy, Oktri, Jimmi dan Nove (kawan seperjuangan di Sempro), Kadal Sexy, Aurora FC (Mega,May, Gerhard, Yanta, Okta, Friska) dan seluruh teman-teman Kessos 13 yang tidak tersebutkan satu per satu. Semoga di dunia kerja kita dapat membawa terang melalui ilmu yang ada pada kita masing-masing. Terimakasih juga kepada junior 2014 terkhusus adik Herty, Ana, dkk yang member semangat kepada penulis.

16. Terimakasih kepada TPP 2015 Bg Hans, Bg Davit S, Bg David Sebayang, Bg Sem, Bg Binsar, Bg Agus, Kak Fida, Ice, Kak Putri, Kak Ria, Kak Sabet, Kak Melin, Kak Memo, Kak Mona, Kak Clara,Sri. Terimakasih juga kepada teman ku Andika Ginting (Sosiologi 13).

17. Terimakasih kepada seluruh informan yaitu adik Rapli, Salman, Fahmi, Dedek, Jaswan yang telah bersedia menyediakan waktu dan informasi yang sangat penting. dan membantu penulis dalam menyelesaikan tugas

(11)

akhir ini. Terimakasih juga kepada seluruh anak-anak di Dusun Paluh Sipat untuk setiap sapaan dan tawa kalian membuat penulis (miss) semangat menjalani dusun walaupun hari telah gelap. Terimakasih telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Ingatlah dik bahwa Asa dan Harapan pasti membawa kemenangan.

18. Terimakasih kepada keluarga bapak Faisal dan Ibu yang telah menjadi keluarga angkat peneliti selama pengerjaan PKL dan penelitian, kepada ibu Ati, kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Babalan, kepala Desa dan jajarannya serta kepala Dusun dan jajarannya yang telah meginjinkan penulis melaksanakan penelitian di Dusun Paluh Sipat.

19. Semua pihak yang tidak tersebutkan satu per satu namun telah banyak memberikan dukungan kerjasama dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia supaya senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan dalam pelbagai kebajikan (2 korintus 9 :8).

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memerlukan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, terutama bagi kemajuan Ilmu Kesejahteraan Sosial kedepannya.

Medan, Juni 2017 Penulis,

ROSSY NOVITRI N

(12)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Perumusan Masalah... 6

1.3 Pembatasan Masalah ... 6

1.4 Tujuan Penelitian... 7

1.5 Manfaat Penelitian... 7

1.6 Sistematika Penulisan ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitan Terdahulu ... 10

2.2 Analisis ... 11

2.2.1 Pengertian Analisis ... 11

2.3 Defenisi Anak ... 11

2.4 Perlindungan dan Kesejahteraan Anak ... 13

2.5 Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak ... 16

2.6 Pengertian dan Penyebab Anak Putus Sekolah ... 17

2.7 Pendekatan Penyelesaian Anak Putus Sekolah ... 22

2.71 Peran Pemerintah ... 23

(13)

2.7.2 Peran Masyarakat ... 23

2.8 Kerangka Pemikiran ... 24

2.9 Defenisi Konsep ... 26

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian... 28

3.2 Lokasi Penelitian ... 28

3.3 Subjek Penelitian ... 29

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 30

3.5 Teknik Analisis Data ... 32

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN ... 55

4.1 Lokasi Dan Luas Dusun ... 33

4.2 Tata Ruang Dusun ... 33

4.3 Kondisi Sosial Ekonomi ... 35

4.3.1 Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 35

4.3.2 Penduduk Berdasarka Mata Pencaharian ... 35

4.3.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan pendidikan ... 37

4.4 Fasilitas Umum ... 38

4.4.1 Fasilitas Pendidikan ... 38

4.4.2 Fasilitas Kesehatan ... 39

4.4.3 Fasiitas Beribadah ... 39

4.4.3 Pemerintah Dusun Paluh Sipat ... 39

BAB V ANALISIS DATA ... 42

5.1 Hasil Penelitian ... 42

5.1.1 Informan I... 42

(14)

5.1.2 Informan II ... 45

5.1.3 Informan III ... 49

5.1.4 Informan IV ... 54

5.1.5 Informan V ... 54

5.1.6 Informan Tambahan I ... 64

5.1.7 Informan Tambahan II ... 71

5.1.8 Informan Tambahan III ... 76

5.1.9 Informan Tambahan IV ... 81

5.1.10 Informan Kunci I ... 86

5.1.11 Informan Kunci II ……….. 91

5.1.12 Informan Kunci II ………. ………..97

5.2 Analisis Data ... 100

BAB VI PENUTUP ... 173

6.1 Kesimpulan ... 129

6.2 Saran ... 132

DAFTAR PUSTAKA ... 134 LAMPIRAN:

Lampiran 1. Pedoman Wawancara Lampiran 2. Dokumentasi

Lampiran 3. Surat Permohonan Izin Pra-Penelitian Lampiran 4. Surat Permohonan Izin Penelitian

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin ...

35

Tabel 4.2 Persentasi Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian ...

35

Tabel 4.3 Persentasi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan ...

37

Tabel 4.4 Jumlah Fasilitas Pendidikan ...

38

Tabel 4.5 Jumlah Fasilitas Kesehatan ...

39

Tabel 4.6 Jumlah Fasilitas Ibadah ...

39

Tabel 4.7 Struktural Pemerintahan Desa Teluk Meku ...

40

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 5.1 Grafik Penyebab Anak Putus Sekolah………127 Gambar 5.2 Grafik Faktor Internal dan Eksternal………...128

(17)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Sepertiga dari penduduk Indonesia merupakan anak-anak. Mereka adalahgenerasi penerus cita-cita perjuangan bangsa. Diperlukan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan anak dan mempersiapkan masa depan bangsa yang lebih baik.Perwujudan anak-anak sebagai generasi muda yang berkualitas merupakan salah satu upaya memperkuat kemampuan daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi. Generasi muda yang berkualitas diperolehdengan mengedepankan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) pada umumnya.

Peningkatan kualitas SDM Indonesia merupakan rangkaian upaya manusia untuk mewujudkan manusia seutuhnya. Mewujudkan manusia seutuhnya meliputi pembangunan manusia, baik sebagai insan maupun sebagai sumber daya pembangunan. Djaali ( dalam Idi,2011:161) mengatakan pembangunan SDM sebagai insan dan sumber daya pembangunan menekankan pada harkat, martabat, hak dan kewajiban manusia. Hal tersebut tercermin dalam nilai-nilai yang terkandung dalam diri manusia, baik etika, maupun logika. Pembangunan manusia sebagai insan tidak terbatas pada kelompok umur tertentu, tetapi berlangsung dalam seluruh kehidupan manusia.

Pendidikan sebagai pranata sosial memiliki peranan signifikan dalam merencanakan, melaksanakan, dan menciptakan SDM yang dicita-citakan. Sistem Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 telah menetapkan visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Visi

(18)

yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan warga negara Indonesia menjadi manusia yang berkualitas. Manusia Indonesia yang berkualitas pasti mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Visi pendidikan diwujudkan dalam misi pendidikan nasional. Misi pendidikan nasional mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; membantu memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini;

meningkatkan kualitas proses pendidikan untuk pembentukan kepribadian yang bermoral; meningkatkan keprofesionalan lembaga pendidikan; serta memberdayakan peran masyarakat. Visi dan misi pendidikan nasional tersebut, berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Visi dan misi pendidikan nasional dalam undang-undang dilaksanakan dengan strategi tertentu. Salah satu strateginya adalah Program Wajib Belajar.

Tahun 1984 perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan dasar di Indonesia telah dilaksanakan secara formal untuk tingkat SD. Tahun 1994 dilanjutkan untuk pendidikan dasar 9 tahun. Program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun merupakan perwujudan Pendidikan Untuk Semua (PUS) untuk anak usia 6-15 tahun. PUSberusaha membuka kesempatan belajar dengan menumbuhkan aspirasi orang tua agar anak yang telah cukup umur mengikuti pendidikan ( Ramayulis, 2015 : 332).

Perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan juga dilaksanakan dengan program wajib belajar 12 tahun yang dimulai sejak tahun 2015. Program ini mewajibkan semua anak Indonesia masuk sekolah dari tingkat Sekolah Dasar

(19)

sampai Sekolah Menengah Atas. Pemerintah juga wajib membiayai serta menyediakan segala fasilitasnya. Sesungguhnya, secara konseptual, konsep dan tujuan filosofis pendidikan nasional Indonesia telah mampu mengakomodasikan kebutuhan bangsa yang pluralistik akan tetapi kesempatan pendidikan tersebut belum mampu diwujudnyatakan secara keseluruhan.

Pendidikan dasar 9 tahun di Indonesia belum bisa dinilai sukses. Jumlah anak usia wajib belajar yang hanya sampai SD cukup besar. Berdasarkan Ikhtisar Data Pendidikan Kemdikbud Tahun 2015/2016, siswa yang lulus SD tetapi tidak melanjutkan ke SMP 946.013 orang. Jumlah siswa yang melanjutkan ke SMP tetapi tidak lulus 51.541 orang. Anak Indonesia yang hanya berstatus tamatan SD pada 2015/2016 berjumlah 997.554. Situasi cukup memprihatinkan, 68.066 anak bahkan tidak melanjutkan studi di SD pada 2015/2016. Siswa yang lulus SMP tetapi tidak melanjutkan studi ke SMA/SMK adalah 99.406 orang.

Berdasarkan tipe daerah, persentase anak putus sekolah lebih banyak terjadi di perdesaan dibandingkan di perkotaan. Anak di perdesaan yang putus sekolah tercatat sebesar 2,07 persen sedangkan di perkotaan sebesar 1,24 persen.

Apabila diperhatikan menurut jenis kelamin, anak laki-laki yang putus sekolah lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan (2,13 persen berbanding 1,18 persen). Untuk jenjang pendidikan SD dan SMP angka putus sekolah anak laki- laki hampir dua kali lipat dibanding dengan anak perempuan yaitu 2,96 persen berbanding 1,49 persen (Badan Pusat Statistik [BPS], 2015).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sumut mengeluarkan data anak putus sekolah dari seluruh jenjang pendidikan sebanyak 23.270 siswa pada periode 2015/2016. Angka putus sekolah tersebut terdiri dari tingkat sekolah dasar

(20)

sebanyak 7.621 murid, jenjang SMP sebanyak 4.119 murid, jenjang SMA 4.295 murid serta jenjang SMK sebanyak 7.235 murid. Sementara, hasil pra survei yang telah dilakukan oleh peneliti untuk tingkat dusun di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Langkat,jumlah anak putus sekolah usia 7-12 tahun berjumlah 10 anak, anak putus sekolah usia 13-15 tahun berjumlah 27 anak dan anak putus sekolah usia 16-18 tahun berjumlah 70 anak (Survei pra penelitian,2017).

Tingginya angka putus sekolah di Dusun Paluh Sipat, tampak pada Angka Partisipasi Sekolah yang rendah. Angka Partisipasi Sekolah untuk anak usia 7-12 tahun adalah 95 % berarti ada 5% anak usia 7-12 tahun yang putus sekolah, Angka Partisipasi Sekolah anak usia 13-15 tahun adalah 77 % berarti ada 23 % anak putus sekolah, dan Angka Partisipasi Sekolah anak usia 16-18 tahun adalah 39 % berarti ada 61 % anak yang putus sekolah pada usia 16-18 tahun (Survei pra penelitian, 2017).

Fenomena putus sekolah tersebut bila terus terjadi setiap tahun dan tidak dilakukan terobosan, maka jumlah orang Indonesia yang hanya memegang ijazah SD akan terus meningkat. Padahal, komitmen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ( Sustainable Development Goals/SDGs) 2030 Bidang Pendidikan, setiap negara harus bisa memastikan tidak ada seorangpun yang tertinggal dalam pendidikan. Targetnya, tersedianya pendidikan dasar dan menengah secara universal yang inklusif, setara, dan berkualitas (Kompas, 2016:11)

Pendidikan murah atau gratis yang banyak diwacanakan dan diinginkan kalangan masyarakat memang akan menolong jika ditinjau secara faktor ekonomi.

Akan tetapi, kebijakan ini harus juga ditunjang dengan kebijakan lain untuk menuntaskan berbagai faktor penyebab putus sekolah lainnya. Suyanto

(21)

menegaskan bahwa wajib belajar tidak semata-mata berurusan dengan pembebasan SPP untuk para pelajar. Insentif sosial berupa pembebasan SPP belum menjadi jaminan yang dapat diandalkan oleh masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Hal ini dikarenakan faktor ekonomi bukanlah penyebab satu-satunya putus sekolah. Putus sekolah juga disebabkan oleh faktor psikologis, geografis, serta lingkungan sosial (2000 : 220). Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Layanan Khusus (Dikdas dan PLK) Dinas Pendidikan Sumut, Erni Mulatsih , kepada Analisa (14 Oktober 2015 ) menambahkan, tingginya angka putus sekolah di Sumut disebabkan oleh latar belakang pendidikan orang tua yang rendah, sekolah yang sulit untuk dijangkau, serta anak yang dipekerjakan untuk membantu orang tua.

Fenomena putus sekolah di perdesaan dibanding perkotaan serta didominasi oleh anak laki-laki sedang dihadapi oleh Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Langkat. Dusun ini adalah daerah pesisir yang penduduknya hampir sebagian besar bekerja sebagai nelayan tradisional. Sejak Tahun 2011 sampai tahun 2020, desa ini masih menjadi desa binaan dari sebuah Non Government Organisation (NGO) bernama Yayasan Fondasi Hidup Indoesia yang mengutamakan kesejahteraan anak melalui pendidikan non formal. Pendidikan non formal yang dikerjakan oleh NGO tersebut adalah kegiatan les untuk anak- anak Dusun Paluh Sipat.

Lembaga Swadaya Masyarakat atau biasa disebut NGO masih sangat dibutuhkan dalam fungsi empowering dan fasilitator bagi masyarakat.

Pelaksanaan fungsi empowering ini memampukan masyarakat bergerak menuju kemandirian dibidang sosial, ekonomi, kesehatan, dan terutama pendidikan.

(22)

Keberadaan YayasanFondasi Hidup Indonesia di Dusun Paluh Sipat sudah cukup diakui oleh warga Dusun Paluh Sipat bahkan warga DesaTeluk Meku, Langkat.

Pendidikan non formal yang dilaksanakan oleh NGO tersebut diikuti oleh anak- anak Dusun Paluh Sipat. Namun, hadirnya pendidikan non formal oleh NGO yang mampu menyokong pendidikan formal anak, tidak serta merta memecahkan masalah putus sekolah di Dusun Paluh Sipat.

Berdasarkan fenomena tersebut, penulis semakin penasaran dan tertarik untuk menganalisis lebih lanjut dalam bentuk skripsi dengan judul “Analisis Penyebab Anak Putus Sekolah di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat.”

1.2 Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan penelitian yang perlu dicarikan jalan pemecahannya. Perumusan masalah merupakan penjabaran dari identifikasi masalah dan pembatasan masalah. Perumusan masalah, membantu peneliti memusatkan serta mengarahkan cara berpikir (Usman, 2009 : 27). Berdasarkan uraian tentang latar belakang, maka masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

Apakah faktor penyebab anak putus sekolah di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku,Kecamatan Babalan,Langkat.

1.3 Pembatasan Masalah

Setiap penelitian, memerlukan pembatasan masalah. Pembatasan masalah adalah satu langkah penting yang harus dilakukan supaya peneliti tidak

(23)

tergoda untuk terus menggali data-data yang sebenarnya kurang berkaitan dengan tujuan dan masalah inti penelitiannya. Penentuan pembatasan masalah, membuat kegiatan penelitian tidak akan melebar dan melantur ke sana ke mari tanpa kontrol, untuk kemudian kehilangan fokus (Suyanto, 2008 : 21). Masalah dalam penelitian ini adalah anak putus sekolah usia 7 – 18 tahun yang tidak menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian mengacu pada rumusan masalah penelitian. Tujuan penelitian dibuat untuk mengungkapkan keinginan peneliti dalam suatu penelitian (Burhan, 2007 : 75). Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab anak putus sekolah di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat.

1.5 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis untuk :

1. Menambah pengetahuan, pengalaman dan pemahaman yang berkenaan permasalahan yang diteliti (penyebab anak putus sekolah).

2. Membentuk pola pikir yang dinamis serta untuk mengetahui kemampuan peneliti dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.

3. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan karya ilmiah.

4. Menghasilkan berbagai pendekatan dalam mengatasi masalah anak

(24)

putus sekolah khususnya di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat.

2. Manfaat Praktis yang dapat memberikan :

1. Jawaban terhadap permasalahan yang diteliti.

2. Kontribusi pemikiran bagi pemerintah dan lembaga-lembaga maupun masyarakat yang akan melakukan tahap intervensi pada anak putus sekolah. Khususnya bagi Pemerintah Daerah Langkat, Sumatera Utara.

3. Manfaat Akademis

Memberikan kontribusi keilmuan dalam menambah referensi dan kajian serta studi komparasi bagi peneliti yang akan melakukan kembali penelitian berkaitan dengan penanganan anak putus sekolah.

1.6 Sistematika Penulisan

Penulisan penelitian ini disajikan dalam 6 bab dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Berisi latar belakang penelitian, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Berisi uraian konsep yang berkaitan dengan masalah dan objek yang diteliti, kerangka pemikiran beserta bagannya, defenisi konsep dan defenisi operasional.

BAB III : METODE PENELITIAN

(25)

Berisi tipe dan teknik analisa data penelitian, lokasi penelitian, informan, teknik pengumpulan.

BAB IV : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Berisi tentang penjelasan lokasi penelitian.

BAB V : ANALISA DATA

Berisi uraian dan analisis data yang diperoleh dalam penelitian.

BAB VI : PENUTUP

Berisi kesimpulan dari hasil penelitian.

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian ini memaparkan dua penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang akan diteliti. Penelitian terdahulu milik Desca Thea Purnama (2015) dalam jurnalnya berjudul “Fenomena Anak Putus Sekolah dan Faktor Penyebabnya di Kota Pontianak”. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik wawancara, observasi serta dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kota Pontianak masih ada fenomena masalah putus sekolah di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Peneliti memaparkan bahwa faktor psikologis mendominasi anak putus sekolah berupa rendahnya minat anak untuk bersekolah, rendahnya motivasi diri anak, serta ruang lingkup sekolah seperti guru yang galak sehingga anak tidak nyaman.

Penelitian yang dilakukan oleh Soetarlinah Sukadji. Disertasinya berjudul

“Prediktor terjadinya putus sekolah dini di sekolah dasar : Studi pada anak-anak usia SD yang menjalani aktivitas mencari uang di Kota Bekasi” (Disertasi UI, 2004). Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa rendahnya prestasi belajar dan keterikatan siswa terhadap sekolah, berpengaruh langsung terhadap terjadinya putus sekolah dini di Sekolah Dasar, sedangkan rendahnya keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak berhubungan tidak langsung dengan rendahnya prestasi anak terhadap terjadinya putus sekolah. Kajian kuantitatif dalam penelitiannya, didukung oleh kajian kualitatif. Hasil analisis kualitatif dalam penelitiannya membuktikan bahwa putus sekolah dipengaruhi oleh anak itu sendiri, dan diikuti oleh pengaruh keluarga, teman bermain dan situasi sekolah.

(27)

2.2 Analisis

2.2.1 Pengertian Analisis

Pengertian analisis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dan sebagainya); ataupenguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan (KBBI, 2008). Analisis bertujuan untuk menjelaskan fenomena, kejadian atau perilaku; atau untuk menerangkan apa yang menjadi latar belakang fenomena, kejadian atau perilaku itu baik yang mengenai seseorang, sekelompok orang, atau masyarakat. Proses analisis berarti mengamati secara mendalam dan berusaha membayangkan sesuatu yang lebih luas yang mungkin tidak pernah dilihat (Junadi, 1995 : 3).

Secara substantif, di dalam analisis terjadi berbagai kegiatan seperti berikut : 1. Membandingkan dan mentes teori atau konsep dengan informasi yang ditemukan.

2. Mencari dan menemukan adanya konsep baru dari data yang dikumpulkan.

3. Mencari penjelasan apakah konsep baru ini berlaku umum, atau baru terjadi bila ada prakondisi tertentu.

2.3 Defenisi Anak

Defenisi anak tertuang dalam konteks hukum nasional yaitu UU No. 35 Tahun 2014 perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 Pasal 1 ayat 1 tentang Perlindungan Anak. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan

(28)

belas) tahun, termasuk anak-anak yang masih dalam kandungan. Berdasarkan fungsi dan kedudukannya, anak adalah :

“amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak. Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tiap tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.”

Anak sebenarnya merupakan harta yang tak ternilai harganya. Defenisi anak berbeda bila dilihat dari perspektif sosial, budaya, ekonomi, politik, dan hukum. Anak sebagai kehormatan harkat martabat keluarga tergantung pada sikap dan perilaku anak untuk berprestasi dalam defenisi aspek sosial. Aspek budaya mengartikan anak sebagai harta dan kekayaan yang harus dijaga sekaligus lambang kesuburan sebuah keluarga. Aspek politik memandang anak sebagai penerus suku, bangsa.

Defenisi anak dari aspek ekonomi, menganggap bahwa banyak anak banyak rejeki. Perspektif dari aspek hukum, mendefenisikan anak sebagai seseorang yang mempunyai posisi dan kedudukan strategis di depan hukum, tidak saja sebagai penerus dan ahli waris keluarga tetapi juga sebagai bagian dari subyek hukum dengan segala hak dan kewajiban yang mendapat jaminan hukum.

Pasal 1 Konvensi Hak Anak secara umum mendefenisikan anak sebagai orang yang belum mencapai usia 18 tahun. Pasal tersebut mengakui adanya perbedaan dalam penentuan batas usia kedewasaan di dalam peraturan perundangan dari

(29)

2.4 Perlindungan dan Kesejahteraan Anak

Perlindungan dan kesejahteraan anak merupakan tolak ukur keberhasilan suatu pembangunan. Semakin sejahtera dan terlindunginya anak, maka dapat dikatakan semakin sejahtera masyarakat secara keseluruhan. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin, melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Prioritas pertama untuk anak adalah perlindungan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak. Anak usia muda harus mendapat prioritas pertama dari sumber daya yang ada dalam masyarakat.

Anak sebagai generasi muda membutuhkan perlindungan. Kebutuhan pokok setiap anak hendaknya mendapat prioritas tinggi dalam pengalokasian sumber maupun dana, baik pada masa damai, masa sulit, tingkat nasional maupun tingkat internasional. Setiap anak hanya memiliki satu peluang maka proses pertumbuhan yang begitu peka dan rentan, hendaknya disadari bahwa perlindungan bukannya lagi sebagai prioritas, tetapi sifatnya menjadi mutlak.

Landasan hukum yang kokoh terkait Hak Anak terletak pada UU No 35 Tahun 2014 yang merupakan perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Undang-undang ini mencantumkan hak anak untuk dapat dijaga dan dipenuhi. Secara khusus, hak anak mendapatkan pendidikan layak terdapat pada Pasal 9yaitu :

(1) Setiap Anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat.

(30)

(1a) Setiap Anak berhak mendapatkan perlindungan disatuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

(2) Selain mendapatkan Hak Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (1a), Anak Penyandang Disabilitas berhak memperoleh pendidikan luar biasa dan Anak yang memiliki keunggulan berhak mendapatkan pendidikan khusus.

Bab IX Penyelenggaraan Perlindungan Anak mencakup Agama, Kesehatan, Pendidikan, Sosial, dan Perlindungan Khusus. Penyelenggaraan Perlindungan Pendidikan tercantum pada pasal-pasal berikut :

Pasal 48 berbunyi “Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua anak”.

Pasal 49 berbunyi “Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan.

Pasal 50 berbunyi “ Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam pasal 48 diarahkan pada : (a) pengembangan sikap dan kemampuan kepribadian anak, bakat, dan kemampuan mental dan fisik sampai mencapai potensi mereka yang optimal; (b) pengembangan penghormatan atas hak asasi manusia dan kebebasan asasi; (c) pengembangan rasa hormat terhadap orang tua, identitas budaya, bahasa dan nilai- nilai nasional di mana anak bertempat tinggal, dari mana anak berasal, dan peradaban yang berbeda dari peradaban sendiri; (d) persiapan anak untuk kehidupan yang bertanggungjawab; dan (e) pengembangan rasa hormat dan cinta terhadap lingkungan hidup.

(31)

Pasal 51 berbunyi “ Anak yang menyandang cacat fisik dan / atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa”.

Pasal 52 berbunyi “Anak yang memiliki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan khusus”.

Pasal 53 berbunyi “ Pemerintah bertanggungjawab untuk memberikan biaya pendidikan dan / atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak terlantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil …”.

Pasal 54 berbunyi “ Anak di dalam lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman- temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya”.

Konvensi Hak Anak PBB menyebutkan kewajiban lain negara untuk mengakui hak anak terhadap pendidikan, yaitu :

1. Menyediakan kemudahan untuk pendidikan tinggi bagi semua berdasarkan kapasitas dasar dengan setiap sarana yang tepat.

2. Membuat informasi kejuruan dan pendidikan serta bimbingan tersedia dan mudah bagi semua anak.

3. Mengambil langkah-langkah untuk memacu kehadiran secara teratur di sekolah dan penurunan angka drop-out.

Kesejahteraan anak adalah suatu tata kehidupan yang mencakup aspek kualitas hidup anak. Kualitas hidup anak secara rohani, jasamani dan sosial dalam keutuhan satuan keluarga dan budaya bangsa, dapat menjamin pertumbuhan dan

(32)

perkembangannya dengan wajar untuk terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya (Badan Pusat Statistik [BPS],2000:5).

2.5 Peran Orangtua Dalam Pendidikan Anak

Salah satu fungsi ibu menurut Panca Darma Wanita adalah sebagai pendidik anak yang utama dan pertama dalam keluarga. Hal ini mengisyaratkan bahwa orangtua begitu penting dan strategis dalam proses pendidikan anak, terutama pada saat permulaan dimana seorang anak harus memperoleh pendidikan bagi kepentingan pertumbuhan, perkembangan, dan kedewasaannya. Keutamaan itu jelas tidak bisa digantikan oleh orang lain. Kalaupun terpaksa atau dipaksakan digantikan oleh orang lain, bisa jadi akan kurang menguntungkan bagi anak itu sendiri.

Unsur-unsur keterikatan batin, keakraban pergaulan, dan pengenalan terhadap individu anak merupakan beberapa faktor pendukung kuat tas keberhasilan pendidikan terhadap anak dalam keluarga, dan hal itu dimiliki oleh seorang ibu. Sikap keterbukaan pencurahan isi hati, pelampiasan emosi anak cenderung lebih memperoleh tempat yang pas jika disampaikan kepada ibu daripada kepada bapak. Dengan begitu, harulah diakui bahwa seorang ibu begitu menentukan dalam mendidik anak dirumah atau dalam keluarga, dan dalam rangka membentuk generasi penerus yang beriman dan bertakwa, berkualitas dalam moral, mental, dan intelektualnya (Syafei,2006:85)

Menurut Sears, peran orangtua sangat dibutuhkan oleh seorang anak.

Orang tua yang mempunyai hubungan yang baik dengan anak lebih mudah menetapkan batas-batas yang tepat pada anak mereka. Pengetahuan mengenai anak-anak memberikan suatu awal yang baik mengenai disiplin. Orangtua yang

(33)

mempunyai hubungan yang baik, bisa melihat segala sesuatu sesuai dengan pandangan seorang anak dan bisa memprediksikan apa yang akan dilakukan serta tidak dilakukan anak-anak. Orang tua yang mempunyai hubungan yang baik dengan anak menetapkan batas-batas sambil menetapkan struktur yang memudahkan anak-anak untuk mematuhinya. Orangtua yang mempunyai hubungan yang baik dengan anak mampu mengubah lingkungan rumah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan anak. Dengan demikian, orangtua seharusnya mampu melakukan intervensi sebelum anak tersebut mengalami permasalahan yang serius,khususnya dalam hal pergaulan dan pendidikan anak (2004:51).

Syafei menegaskan bahwa bisa jadi kasus-kasus seperti anak “minggat”

dari rumah, berkelahi secara “brutal”, menggunakan dan menyalahgunakan obat- obat terlarang, narkotika dan yang sejenisnya, terjerusmus dalam kancah pergaulan bebas, tidak disiplin dalam belajar, melanggar etika pergaulan dan norma-norma kehidupan yang berbudaya, mengonsumsi fil cabul, adalah sebagai wujud kompensasi dari ketiadaan orang tua yang ideal, meski kasus-kasus itu tidak berdiri sendiri atau semata-mata kesalahan keluarga ( 2006:87).

2.6 Pengertian dan Penyebab Anak Putus Sekolah

Seorang siswa dikatakan putus sekolah apabila ia tidak dapat menyelesaikan program suatu sekolah secara utuh. Bagi anak SD, anak tersebut dinyatakan putus sekolah apabila tidak dapat menyelesaikan programnya sampai enam tahun. Bagi siswa SLTP dinyatakan putus sekolah jika tidak dapat menyelesaikan programnya sampai dengan kelas 3, begitu juga dengan jenjang berikutnya. Tinggal kelas dan putus sekolah adalah masalah yang sering dihadapi

(34)

anak‐anak di pedesaan. Keduanya menyangkut perkembangan kemajuan belajar siswa.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan UNICEF serta Lembaga Penelitian SMERU Tahun 2012, secara garis besar, proses yang terjadi ketika anak sampai memutuskan putus sekolah adalah: Pertama, berawal dari tidak tertib mengikuti pelajaran di sekolah. Terkesan memahami belajar hanya sekadar kewajiban masuk di kelas. Kedua, akibat prestasi belajar yang rendah, pengaruh keluarga, atau karena pengaruh teman sebaya, Kebanyakan anak yang putus sekolah selalu ketinggalan pelajaran dibandingkan teman‐teman sekelasnya.

Ketiga, kegiatan belajar di rumah tidak tertib dan tidak disiplin, terutama karena tidak didukung oleh upaya pengawasan dari pihak orang tua. Keempat, perhatian terhadap pelajaran kurang dan mulai didominasi oleh kegiatan‐kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran. Kelima, kegiatan bermain dengan teman sebaya meningkat pesat. Keenam, mereka yang putus sekolah ini kebanyakan berasal dari keluarga ekonomi lemah, dan berasal dari keluarga yang tidak teratur.

Konvensi Hak Anak – yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia – telah menyebutkan dan mengakui bahwa anak-anak berhak memperoleh pendidikan yang layak dan seyogianya tidak terlibat dalam aktivitas ekonomi secara dini. Namun, menurut Suwatra (2014 : 109) tidak jarang anak yang sedang sekolah melakukan kerja untuk membantu orangtuanya mencukupi kebutuhan sehari-hari seluruh anggota keluarga. Kerja atau bantuan yang dilakukan anak setelah ia pulang sekolah, sampai menjelang malam dan terkadang, ada juga dilakukan sebelum ia berangkat sekolah. Pekerjaan tersebut bisa dari ikut

(35)

berjualan di pasar, jualan koran, cari pasir, memecah batu, membuat batu bata, mencari ikan, mencari kayu, dan sebagainya.

Suyanto dalam bukunya “Masalah Sosial Anak (2010) memaparkan hasil penelitian berjudul “Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah pada 150 Keluarga Miskin di Daerah Tapal Kuda, Seperti Bondowoso dan Situbondo”. 16.7 % anak memilih putus sekolah disebabkan oleh pengaruh teman. Di kalangan anak-anak dan masyarakat miskin, kesadaran akan arti penting pendidikan dalam banyak hal memang masih belum berkembang. Seorang anak yang setiap hari bergaul dan bermain dengan teman-teman yang tidak lagi bersekolah tidak akan dapat bertahan untuk terus bersekolah melawan arus umum lingkungan sosial mereka.

Dikalangan anak-anak seusia 7-13 Tahun, secara teoretis pengaruh peer-group sangat kuat, sehingga bisa dipahami jika mereka kemudian beramai-ramai memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah. Berdasarkan hal ini, putus sekolah bagi anak-anak desa dianggap bukan hal yang memalukan.

Hongi Jatenra (2015) berdasarkan hasil penelitiannya berjudul “Faktor- Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah di Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor Kota Medan” mengelompokkan penyebab anak putus sekolah dalam beberapa faktor, diantaranya :

1. Faktor dari Dalam Diri Anak ( Internal Anak )

Faktor dalam diri anak merupakan faktor yang berasal dari anak itu sendiri. Anak merupakan individu yang bisa berpikir dalam mengambil keputusan. Keterbatasan pemikiran anak terhadap suatu masalah dan resiko dari masalah tersebut menyebabkan anak cenderung berpemikiran pendek dalam pengambilan keputusan. Keputusan untuk berhenti sekolah cenderung diambil

(36)

anak karena mengalami permasalahan dan pertentangan pemikiran untuk bersekolah tanpa mempertimbangkan resiko yang akan didapatkannya.

Keputusan untuk berhenti dari sekolah dapat juga dipengaruhi oleh prestasi belajar anak maupun karena tidak naik kelasnya anak Marzuki (dalam Suyanto, 2010:342). Selanjutnya dari hasil penelitian Hongi Jatenra, tenaga pengajar yang kurang berkualitas dan suka marah akibat tidak selesainya tugas dari anak-anak dapat menggangu mental anak. Hal ini menyebabkan dua kemungkinan, yaitu anak akan mengulang pelajaran tersebut dan berusaha memperbaiki diri atau anak tersebut akan meninggalkan pelajarannya dan memutuskan untuk berhenti bersekolah.

2. Faktor Dari Luar Diri Anak (Eksternal Anak) 1. Keluarga

Anak putus sekolah dalam penelitian Hongi Jatenra, berasal dari kondisi ekonomi keluarga yang lemah. Namun, ada juga yang bukan berasal dari kondisi ekonomi yang lemah. Kondisi ekonomi karena kemiskinan adalah faktor yang mendominasi terhambatnya siswa untuk mendapatkan pendidikan secara utuh. Hal ini dikarenakan orangtua siswa tidak mampu memberikan fasilitas lengkap kepada anaknya untuk bersekolah.

Selanjutnya, kondisi sosial ekonomi juga turut mempengaruhi anak putus sekolah. Kondisi sosial ekonomi dalam penelitiannya meliputi tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan orangtua. Hasil penelitian Hongi Jatenra, diperkuat oleh Ono (2015:29) bahwa pendidikan orang tua yang rendah akan mempengaruhi pendidikan anak. Walaupun hal ini sering sekali didapati di daerah pedesaan

(37)

seperti warga pesisir yang masyarakatnya hampir sebagian besar bekerja sebagai nelayan tradisional.

2. Lingkungan Sekolah

Sekolah menjadi faktor eksternal bagi anak untuk mempengaruhi proses belajarnya. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Guru sering juga mengajar dengan metode ceramah saja. Siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif, dan hanya mencatat saja. Relasi guru dengan siswa yang tidak baik mempengaruhi proses interaksi yang tidak akrab, menyebabkan proses belajar mengajar kurang lancar (Slameto, 2003 : 65).

Pengalaman traumatis yang dialami anak juga menjadi penyebab anak putus sekolah. Pengalaman negatif selama di sekolah, seperti guru yang bersikap terlalu keras, persepsi anak terhadap figure guru yang galak, atau suka menghukum dengan pukulan, membuat anak menjadi takut bertemu dengan gurunya. Segala bentuk pengalaman yang tidak menyenangkan itu, akan timbul pengalaman traumatis yang membuat anak menolak pergi sekolah (Musbikin, 2012 : 46).

3. Teman Sebaya

Situasi pergaulan membuat anak memperoleh kesempatan untuk menjadi dirinya. Hasrat untuk menjadi dirinya sendiri terdapat dalam setiap diri pribadi anak. Anak juga memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan apa yang dihayatinya. Anak dapat mengungkapkan dengan bebas dan spontan semua pikiran, persoalan, maupun kemauannya. Suatu situasi pergaulan yang sifatnya wajar atau alamiah memberi kesempatan pada anak untuk menyerap dan mencerna semua pengalaman sesuai dengan pilihan kesukaannya tanpa merasa

(38)

dipaksa. Namun, sifat situasi pergaulan yang demikian memiliki kemungkinan yang menguntungkan dan merugikan (Syafei, 2006 : 21).

Selama tahun-tahun anak di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, anak-anak akan mencari dalam kehidupan. Apa sih yang penting?Siapa yang harus saya percayai? Siapa model untuk saya tiru? Ini merupakan suatau tahapan dimana pengaruh temn sebaya meningkat dan anak-anak berhadapan dengan berbagai nilai dan berbagai cara merespon terhadap orang-orang. Bergaul dengan segala macam anak merupakan kebaikan yang bercampur dengan keburukan. Di satu sisi, mempunyai nilai pendidikan yang besar dan mempersiapkan anak untuk suatu kehidupan. Di sisi lain, bisa membingungkan dan membawa anak tersesat, jika dia tidak mempunyai akar yang kuat dalam hubungannya dengan keluarga (Sears, 2004:62)

4. Ketersediaan Sumber Lokal

Tersedianya sumber lokal dapat menjadi lahan pekerjaan bagi anak dan pola rekrutman yang mudah. Ketersediaan sumber lokal menyebabkan anak meninggalkan bangku sekolah. Hal ini terjadi karena keinginan anak untuk mendapat penghasilan sendiri. Jelas terlihat dari hasil penelitian Hongi Jatenra pada informannya yang berhenti sekolah. Niat ingin bekerja, memperoleh, penghasilan sendiri dan didukung teman-temannya yang bekerja sebagai sopir angkutan umum menjadikan anak tertarik untuk mencoba pekerjaan tersebut.

2.7 Pendekatan Penyelesaian Anak Putus Sekolah

Mencegah dan menangani kasus anak yang sudah terlanjur putus sekolah, harus diakui bukanlah hal yang mudah. Berbagai kajian telah membuktikan bahwa

(39)

untuk menarik kembali anak-anak yang sudah terlanjur keluar atau drop out dari sekolah, umumnya bukan hal yang mudah (Suyanto, 2010 : 345). Perlu adanya kebijakan dan langkah yang paling strategis untuk menangani anak-anak putus sekolah. Kebijakan penyelesaian anak putus sekolah tidak hanya berasal dari pemerintah, akan tetapi masayarakat turut mengambil bagian dalam pengentasan anak putus sekolah.

2.7.1 Peran Pemerintah

Kebijakan pemerintah sampai saat ini berjalan dalam proses peningkatan akses dan kualitas pendidikan. Pemerintah melaksanakan berbagai strategi penuntasan PUS wajib belajar pendidikan dasar, antara lain : 1) Pemantapan prioritas pendidikan dasar 9 tahun, 2) Pemberian beasiswa dengan sasaran yang strategis, 3) Pemberian insentif kepada guru yang bertugas di wilayah terpencil, 4) Pemantapan peran SD kecil dan SMP terbuka, 5) penggalakan kejar paket A dan B, 6) Pemantapan sistem pendidikan terpadu untuk anak berkelainan, dan 7) Peningkatan keterlibatan masyarakat untuk menunjang PUS (Ramayulis, 2015 : 332).

2.7.2 Peran Masyarakat

Kesadaran tentang pentingnya memeransertakan masyarakat pada proses pengeloaan pendidikan berlaku sejak adanya konsep Tri Pusat Pendidikan (keluarga, masyarakat, dan pemerintah). UU tentang Perlindungan Anak juga menyebutkan bahwa masyarakat berhak memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam perlindungan anak. Pendidikan masyarakat memberikan

(40)

jawaban terhadap kebutuhan masyarakat; oleh masyarakat berarti masyarakat bukan objek pendidikan, tetapi berpartisipasi aktif dalam setiap langkah program pendidikan (Suyanto & Abbas, 2001 : 80).

Peran masyarakat dilakukan oleh orang perseorangan, lembaga perlindungan anak, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat. Lembaga swadaya masyarakat sebagai organisasi masyarakat bergiat atas motivasi dan swadaya yang bangkit dari kesadaran solidaritas sosial. LSM mendampingi berdasarkan basis sektor dan issu. Bentuk pendampingan LSM dalam pendidikan berupa pendidikan tambahan diluar sekolah semacam pendidikan alternatif (Siregar, 2006 : 158). LSM mengandalkan berbagai alternatif layanan pendidikan yang fleksibel terhadap kondisi wilayah ataupun kondisi anak supaya hak atas pendidikan terpenuhi. Misalnya, layanan pendidikan akternatif yang dilakukan oleh Yayasan Fondasi Hidup Indonesia, Gerakan Indonesia Pintar, Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif.

2.8 Kerangka Pemikiran

Sepertiga dari penduduk Indonesia merupakan anak-anak. Mereka adalahgenerasi penerus perjuangan bangsa yang memerlukan perlindungan dan kesejahteraan. Perwujudan anak-anak sebagai generasi perjuangan bangsa merupakan upaya memperkuat kemampuan daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi. Pendidikan sebagai pranata sosial memiliki peranan signifikan dalam merencanakan, melaksanakan, dan menciptakan SDM yang dicita-citakan. Pelaksanaan pendidikan, menjadi tanggungjawab pemerintah,

(41)

orangtua, dan masyarakat seperti yang diamanatkan dalam UU No 23 Tahun 2002 perubahan atas UU No 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak pasal 49.

Tanggungjawab yang dimiliki pemerintah, orangtua, dan masyarakat serta berbagai program pendidikan yang ditawarkan oleh pemerintah, tidak serta merta menyukseskan Angka Partisipasi Sekolah. Angka partisipasi sekolah yang rendah menunjukkan tingginya Angka Putus Sekolah dan sebaliknya. Putus sekolah merupakan kondisi siswa yang tidak mampu menyelesaikan program suatu sekolah secara utuh. Hal inilah yang dihadapi oleh sejumlah anak di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Langkat. Pendidikan non formal untuk menyokong pendidikan formal anak yang dilaksanakan oleh LSM di Dusun Paluh Sipat, tidak serta merta memecahkan masalah putus sekolah di Dusun Paluh Sipat.

Menurut Hongi Jatenra dari hasil penelitiannya terhadap Anak Putus Sekolah di Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor Kota Medan, Ada 2 faktor penyebab Anak Putus Sekolah, yaitu :

1. Faktor dari dalam diri anak ( internal anak ) meliputi kurangnya minat anak belajar, tinggal kelas yang berulang kali, dan anak bermasalah di sekolah.

2. Faktor dari luar diri anak (eksternal anak) meliputi faktor keluarga, lingkungan sekolah, teman sebaya, serta ketersediaan sumber lokal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hongi Jatenra (2015) anak putus sekolah disebabkan oleh faktor keluarga meliputi kondisi sosial, ekonomi orangtua, dan rendahnya perhatian orangtua. Faktor lingkungan sekolah menurut Slameto (2003:65) meliputi guru yang tidak menjawab kebutuhan siswa; adanya pengalaman traumatis yang dialami anak di sekolah (Musbikin, 2012:46). Faktor teman sebaya menurut Suyanto berdasarkan penelitiannya (2010) meliputi pengaruh peer group yang

(42)

sangat kuat. Ketersediaan sumber lokal yang memungkinkan anak tertarik untuk bekerja juga menjadi penyebab anak putus sekolah.

Memperjelas alur pemikiran tersebut, maka bagan alur pikir seperti berikut :

Faktor Lingkungan Sekolah :

Guru tidak menjawab kebutuhan siswa

Pengalama n

traumatis anak di sekolah Faktor Keluarga :

Kondisi sosial ekonomi orangtua

Kurangnya perhatian orangtua

ANAK PUTUS SEKOLAH

FAKTOR PENYEBAB

Faktor Sumber Daya lokal:

Anak bekerja Faktor Individu :

Minat anak rendah

Berulang tinggal kelas

Anak bermasalah di sekolah

Teman sebaya (Sudah putus sekola h)

Faktor Internal Faktor Eksternal

Anak Putus Sekolah di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Langkat

(43)

2.9 Defenisi Konsep

Konsep adalah suatu hasil pemaknaan di dalam intelektual manusia yang memang merujuk ke gejala nyata ke alam empiris. Konsep menegaskan dan menetapkan apa yang akan diobservasi (fungsi menata). Konsep juga memungkinkan peneliti untuk mengomunikasikan hasil-hasil penelitiannya (Suyanto, 2008 : 49). Konsep dalam penelitian-penelitian perilaku memang penting dan berguna sebagai sarana untuk menjembatani antara dunia rasional dengan dunia empiris.

Adapun konsep dalam penelitian ini adalah :

1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 Tahun, termasuk anak-anak yang masih dalam kandungan.

2. Anak Putus Sekolah adalah anak berhenti dari sekolah dan belum menyelesaikan pendidikan di suatu jenjang pendidikan.

3. Anak Putus Sekolah Dasar adalah anak berhenti dari sekolah dan belum menyelesaikan pendidikan sampai enam tahun.

4. Anak Putus Sekolah Menengah Pertama adalah anak berhenti dari sekolah dan belum menyelesaikan pendidikan sampai sembilan tahun.

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Taylor dan Bogdan (dalam Suyanto, 2005 : 166) penelitian kualitatif diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis, dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti. Selain itu, penelitian kualitatif dapat menunjukkan kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, pergerakan sosial, dan hubungan kekerabatan (Djunaidi & Almansur, 2014 : 25).

Penelitian kualitatif dalam penelitian ini menuntut peneliti untuk memahami penyebab anak putus sekolah sehingga setiap data diharapkan dapat lebih terperinci sehingga dapat dipaparkan dengan mendalam.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Langkat.

Alasan menentukan lokasi dikarenakan jumlah anak putus SD sebanyak 51 murid dan SMP berjumlah 19 murid yang didominasi oleh anak laki-laki. Padahal, sebuah Yayasan yaitu Fondasi Hidup Indonesia telah mendukung anak-anak Paluh Sipat melalui pendidikan non formal. Selain itu, peneliti pernah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan selama 3 bulan di Dusun Paluh Sipat yang difasilitasi oleh Yayasan Fondasi Hidup Indonesia. Oleh karena itu, memudahkan peneliti untuk memperoleh data dan fakta terkait penelitian yang akan dilakukan.

(45)

3.3 Subjek Penelitian

Subjek penelitian merupakan seseorang atau sesuatu yang mengenainya ingin diperoleh keterangan. Aktivitas awal dalam proses pengumpulan data adalah menentukan subjek penelitiannya. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan informan sebab dari merekalah diharapkan informasi terkumpul, sebagai upaya untuk menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan.

Pemilihan subjek dalam penelitian ini dilakukan dengan model snow ball sampling. Metode ini digunakan untuk memperluas subjek penelitian. Hal lain yang harus diketahui bahwa dalam penelitian kualitatif, kuantitas subjek bukanlah hal utama sehingga pemilihan informan lebih didasari pada kualitas informasi yang terkait dengan tema penelitian yang diajukan (Idrus, 2009 : 92).

Subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian kualitatif ditentukan secara sengaja oleh peneliti. Informan dalam penelitian ini antara lain :

1. Informan kunci (key informan)

Informan kunci adalah orang-orang yang karena pengetahuannya yang luas dan mendalam tentang komunitasnya (atau orang luar yang lama bekerja dengan suatu komunitas) dapat memberikan data yang berharga. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Orang tua anak putus sekolah.

2. Informan utama,

Informan utama adalah mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan utama dalam penelitian ini adalah anak-anak putus sekolah di SD dan SMP berusia 7-18 Tahun yang bertempat tinggal di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat.

3. Informan Tambahan,

(46)

Informan tambahan adalah mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan tambahan dalam penelitian ini adalah Community Development Facilitator dari Yayasan Fondasi Hidup, Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Babalan, dan Guru SD Paluh Sipat yang mengetahui informasi terkait penelitian (Suyanto, 2005 : 171).

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, ada dua yaitu : 1. Teknik Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan data primer adalah pengumpulan data dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian. Cara yang dapat dilakukan untuk memperkuat fokus dan mengakses data secara komprehensif dan mendalam adalah dengan memasangkan beberapa jenis instrument penelitian sebagai alat pengumpul data.

Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagai berikut :

a. Observasi

Observasi merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang dilakukan secara sistematis. Pengamatan dalam penelitian ini dilakukan secara partisipatif. Pengamatan terlibat merupakan jenis pengamatan yang melibatkan peneliti dalam kegiatan orang yang menjadi sasaran penelitian, tanpa mengakibatkan perubahan pada kegiatan atau aktivitas yang bersangkutan. Penyempurnaan aktivitas pengamatan partisipatif dalam penelitian ini, peneliti harus mengikuti kegiatan sehari-hari yang dilakukan

(47)

informan untuk memperhatikan apa yang terjadi, mendengarkan apa yang dikatakan, dan mempertanyakan informasi yang menarik (Idrus, 2009 : 101) b. Wawancara Mendalam

Penelitian ini menggunakan wawancara tidak berstruktur identik dengan wawancara bebas. Peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar subjek secara bebas. Pandangan, pendapat, sikap, dan keyakinan subjek yang diwawancarai tidak banyak dipengaruhi pewawancara, dan biasanya berlangsung secara informal, luwes, dan memakan waktu lama. Wawancara jenis ini, akan menuntut keterampilan dan kejelian peneliti, menguasai permasalahan agar jawaban dapat disimpulkan dan muara pembicaraan dapat dikontrol (Danim, 2002 : 139). Wawancara mendalam ini untuk memperoleh secara detail faktor penyebab anak putus sekolah di Dusun Paluh Sipat, Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat.

2. Teknik pengumpulan data sekunder

Teknik pengumpulan data sekunder merupakan teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan bahan keputusan yang dapat mendukung data primer. Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagai berikut:

a. Studi dokumen, yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang ada dilokasi penelitian serta sumber- sumber lain yang relevan dengan objek penelitian.

(48)

b. Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, serta pendapat para ahli yang berkompetensi serta memiliki reverensi dengan masalah yang akan diteliti.

3.5 Teknik Analisis Data

Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis secara kualitatif. Kutipan hasil wawancara sejauh mungkin akan ditampilkan untuk mendukung analisis yang disampaikan, sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian tersebut.

(49)

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Luas Dusun

Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat memiliki 7 dusun.Dusun Paluh Sipat terletak di Desa Teluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat. Dusun Paluh Sipat disebut juga Dusun VII yang merupakan dusun terakhir di Desa Teluk Meku. Luas Dusun Paluh Sipat sekitaran 600 – 700 Ha. Sebelah Utara Dusun Paluh Sipat berbatasan dengan Lautan Malaka, sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Lepan, sebelah Timur berbatasan dengan Securai Selatan, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Bilah, Kecamatan Lepan.

Jarak antara dusun ke ibu kota kecamatan yaitu Brandan ±9 KM, sedangkan jarak tempuh dari Paluh Sipat ke kantor desa Teluk Meku ±4 KM.

Jarak tempuh yang cukup jauh dari dusun ke kota mewajibkan penduduk menggunakan sepeda motor dan becak. Apabila penduduk tidak memiliki kendaraan sepeda motor, maka mereka akan menggunakan becak motor. Anak Paluh Sipat yang memilih sekolah di luar dusun dan desa, harus menggunakan becak motor yang di sewa enam puluh ribu rupiah per bulan.

4.2 Tata Ruang Dusun

Dusun Paluh Sipat merupakan dusun terakhir dari seluruh dusun yang ada di Desa Teluk Meku. Dusun Paluh Sipat menjadi penghubung dengan desa lain yang termasuk dalam Kecamatan Babalan. Dusun Paluh Sipat terbagi atas empat Rukun Tetangga (RT). Setiap Rukun Tetangga dikepalai oleh satu orang kepala RT. Pemukiman penduduka di setiap lingkungan tergolong padat. Pemukiman

(50)

padat tampak pada perumahan warga yang sedikit memiliki jarak dengan perumahan warga lainnya.

Dusun Paluh Sipat memiliki lingkungan yang terbagi-bagi. Lingkungan tersebut biasa disebut Paluh Jabu yang merupakan titik awal dari Paluh Sipat, Paluh Badak merupakan titik tengah Paluh Sipat, serta Serapuh merupakan titik akhir dari Paluh Sipat. Di kawasan Paluh Badak dan Serapuh sering sekali berlabuh sampan mesin milik warga. Sampan-sampan tersebut biasa berlabuh di pinggir paluh yang menghubungkan Paluh Sipat ke laut. Setiap hari, selalu saja ada warga yang berada di atas sampan baik itu untuk membersihkan sampan, memperbaiki sampan maupun mengemas peralatan yang akan dibawa menuju laut.

Adapun dusun Paluh Sipat dibatasi sebuah jembatan untuk menuju desa lain. Fasilitas jalan menuju dusun Paluh Sipat sudah baik karena seluruh badan jalan sudah di aspal. Akan tetapi, bila masuk ke area Paluh Jabu dan Paluh Badak, fasilitas jalan masih bebatuan. Di sepanjang area Paluh Badak yang merupakan bagian dari dusun Paluh Sipat, banyak tambak udang baik yang dimiliki oleh warga sendiri maupun para pendatang yang membuka usaha di Paluh Sipat.

Tambak udang biasanya berbentuk kolam ikan yang panjang dan lebarnya sekitar 30 meter kali 40 meter. Tambak-tambak tersebut difasilitasi kincir air untuk pernapasan udang dan tembok sebagai pembatas dari rumah warga. Penjagaan terhadap tembak harus dilakukan bila malam hari untuk menghindari pencurian.

Penduduk yang menjaga tambak-tambak tersebut memanfaatkan sumber daya anak-anak yang telah putus sekolah.

(51)

Usaha dagang cukup banyak ditemui di Paluh Sipat. Warung kelontong, warung kopi dan warung makan. Bahkan, tidak jarang ditemui sesama tetangga saling membuka warung. Keberadaan warung di Paluh Sipat dipengaruhi oleh letak dusun yang sering dilintasi oleh para pendatang khususnya mereka pekerja Pertamina. Rumah yang ada di Paluh Sipat, rata-rata terbuat dari bahan kayu yang atap rumahnya kebanyakan berbahan daun. Rumah yang terbuat dari bahan kayu, dibuat bertangga dan sedikit tinggi untuk menghindari pasang naik.

4.3 Kondisi Sosial Ekonomi

4.3.1 Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Jumlah penduduk Dusun Paluh Sipat yang tersebar di empat RT berjumlah 487 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa sebanyak 1.725 jiwa.

Tabel 4.1

Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah

1. Laki-laki 887 jiwa

2. Perempuan 838 jiwa

Jumlah 1.725 jiwa

Sumber Data : Kantor Desa Teluk Meku Tahun 2017

Tampak pada tabel diatas mayoritas penduduk adalah berjenis kelamin laki-laki. Sehubungan dengan banyaknya jumlah laki-laki , maka jumlah mayoritas anak putus sekolah juga adalah laki-laki berdasarkan pra survei oleh peneliti. Seluruh penduduk yang berada di Paluh Sipat tersebut menganut agama Islam.

Referensi

Dokumen terkait

NIM : 814052636, Jurusan S-1 PGSD, Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Tujuan laporan ini dalah untuk melaporkan hasil dari kegiatan Penelitian Tindakan

Penilaian dalam akuntansi merupakan proses pemberian jumlah moneter (kuantitatif) yang bermakna pada aktiva. Salah satu tujuan dari penilaian adalah untuk menyajikan

Kebutuhan untuk meraih hasil atau prestasi dalam upaya pertumbuhan ekonomi memang perlu disuntikkan ke dalam tubuh manusia di tempat, daerah atau negara manapun

Ironinya pembuat undang-undang bertindak ambigu karena produk legislasi yang dihasilkan tidak mempunyai landasan filosofi yang jelas untuk mengatasi masalah yang

Relevansi konsep Emotional Spirutual Qoutient ESQ Ary dan Najati dengan tujuan Pendidikan Agama Islam PAI adalah bahwa konsep pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual

Pada data khusus akan disajikan mengenai variabel yang menjadi fokus penelitian: Pengetahuan Masyarakat Tentang Efek Jangka Panjang Penggunaan Jamu pada Resiko Gagal

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap minyak atsiri bunga cengkeh maka disarankan agar melakukan proses polimerisasi menggunakan perbandingan mol yang

Berendah hati banyak manfaat Dalam bergaul orang kan hormat Saudara suka sahabat mendekat Hidup beramai semakin erat Manfaatnya dapat dunia akhirat Tunjuk Ajar Melayu mengajarkan agar