1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kekayaan sumber daya yang dimiliki Indonesia telah membentuk keragaman bisnis di mana masing-masing memiliki standar akuntansi yang berbeda untuk laporan keuangannya. Standar akuntansi yang berbeda menyebabkan perlakuan akuntansi yang berbeda terutama untuk bisnis dengan aktivitas yang unik dan khas., terlebih untuk bisnis yang memiliki aktivitas yang unik dengan ciri khas khusus. Salah satunya sektor agrikultur yang memiliki aset khusus dalam pencatatan yang dilaporkan pada laporan keuangan. Aset tersebut merupakan aset biologis. Aset biologis ialah hewan atau tanaman hidup (PSAK 69 2015). Sesuai dengan ciri-ciri dari aset, aset biologis adalah pengendalian entitas atas transaksi yang terjadi di masa lampau yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomis di masa depan. Namun terdapat perbedaan antar kedua aset tersebut, pada aset biologis terdapat transformasi biologis hingga aset siap panen dan dapat dikonversi atau diolah lebih lanjut oleh entitas.
Secara universal PSAK 69 mengatur mengenai perlakuan yang terkait dengan akuntansi aset biologis. Aktivitas agrikultur adalah bentuk dari proses manajemen transformasi biologis serta panen aset biologi yang dilakukan oleh entitas untuk kemudian dilakukan penjualan ataupun dikonversi menjadi produk agrikultur atau aset biologis tambahan. Pada saat menyajikan aset biologis entitas harus menyajikan laba atau rugi yang telah terjadi pada periode berjalan pada saat pengakuan awal aset biologis dan perubahan nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual produksi aset biologis. Entitas diharuskan untuk memberikan deskripsi kuantitatif dari setiap aset biologis untuk membedakan antara aset biologis yang dapat dikonsumsi dan aset biologis produktif atau antara aset biologis belum menghasilkan dengan aset biologis menghasilkan berdasarkan dengan keadaan aset biologis saat itu.
Menanggapi semakin pentingnya perlakuan akuntansi aset iologis yang berasal dari kegiatan pertanian. Dewan Standar Akuntansi Keuangan akhirnya menyetujui Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 69 tentang pertanian. PSAK 69 ini merupakan penerapan dari International Accounting Standards (IAS) No. 41. PSAK 69 ini mulai berlaku secara efektif untuk laporan
keuangan perusahaan pada 1 Januari 2018. Pengungkapan aset biologis sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap entitas yang bergerak di bidang agribisnis karena dengan pengungkapan yang baik investor akan mengetahui manajemen perusahaan dan seberapa baik mereka memeliharanya. Ketersediaan informasi yang cukup baik merupakan faktor yang sangat penting dalam pengamilan keputusan berbagai pihak. Suatu keputusan dapat dikatakan baik jika kualitas pengungkapan laporan keuangan sesuai dengan PSAK 69. Jika pengungkapan tidak diterapkan sesuai dengan standar yang berlaku, maka informasi yang tidak relevan dan tidak dapat diandalkan akan muncul dalam laporan keuangan.
Beragamnya komoditas agrikultur memegang peranan penting dalam perekonomian yang ada di Indonesia. Hal ini terjadi, karena sektor ini merupakan sektor ketiga yang memiliki pengaruh dalam pertumbuhan setelah sektor Industri non migas sepanjang pandemi korona melanda Indonesia menurut struktur produk
domestik bruto. Pada Triwulan III-2020 sektor agrikultur berhasil menyumbang sebesar 14,68% berdasarkan dari Struktur Produk Domestik Bruto Menurut Lapangan Usaha (seri 2010) Atas dasar Harga Berlaku (Badan Pusat Statistika, 2020). Sektor pertanian adalah sektor yang bekerja dibidang pertanian atau tanah dan terbagi dalam beragam subsektor yaitu hortikultura, perkebunan, florikultura, peternakan, dan perikanan (Trina, 2017)
Menteri pertanian Syahrul Yasin Limpo mengemukakan bahwa sektor pertanian memberikan hasil yang positif , hal tersebut terlihat dalam indikator capaian makro tahun 2020. Hortikultura merupakan salah satu faktor penyumbang kenaikan positif dalam pertumbuhan sektor pertanian, sebanyak 7,85% permintaan buah-buahan dan sayuran dihasilkan oleh sub sektor hortikultura selama pandemi.
Beberapa produksi hortikultura yang mengalami peningkatan permintaan terjadi salah satunya mangga yang sebesar 2,86% (Kementrian Pertanian, 2018). Peluang ekspor mangga di Indonesia sangatlah menjanjikan, dikarenakan Indonesia menduduki peringkat ke lima sebagai produsen mangga di dunia. Pada tahun 2018, Indonesia mampu memproduksi buah mangga mencapai 2.184.399 ton. Hal tersebut tentunya menjadi peluang dalam upaya peningkatan ekspor bagi Indonesia (Kementrian Pertanian, 2020).
Diharapkan dengan adanya sektor agrikultur ini dapat memberikan kontribusi sebagai bagian dalam upaya pembangunan nasional. Agar hal tersebut dapat terwujud, industri yang dalam sektor agrikultur yang menjual hasil dari aset biologis ataupun yang mengolah hasil aset biologis dituntut untuk menginformasikan informasi dengan benar dan sesuai. Informasi yang andal tentu
sangat diperlukan oleh pihak internal maupun pihak eksternal dari perusahaan sebagai gambaran mengenai perkembangan perusahaan. Informasi yang relevan diharapkan dapat memberikan gambaran akan perkembangan dari perusahaan yang terkandung dalam laporan keuangan. Informasi yang didapat haruslah dapat ddijadikan sebagai acuan agar laporan keuangan tersebut dapat terbebas dari berbagai penyimpangan dan kesalahan dalam pengungkapannya. Bahri (2015: 6) dalam Suhaemi (2016) mengemukakan bahwa dampak mengimplementasikan IAS 41 pada laporan keuangan mengakibatkan adanya perbedaan dalam pengukuran pada item-item di laporan keuangan dan rasio keuangan dari perusahaan. Laporan keuangan tersebut lebih memperlihatkan nilai wajar yang memberikan efek positif bagi entitas ketika pengambilan keputusan. Hal ini selaras dengan peraturan menteri Nomor P.71/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 yang mewajibkan pemegang izin pemanfaatan pada IUPHHK, HA, HTI, RE, HHBK, PK, dan/atau JL untuk menatausahakan keuangannya sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan menyesuaikan dengan PSAK 69 tentang Agrikultur.
Penelitian Murtianingsih dan Setiawan (2016) mengemukakan bahwa petani Likupan, PTPN VII, dan PT Milkindo, Tbk dalam pengukuran aset biologis menggunakan metode harga perolehan, nilai pasar aktif tidak dapat diimplementasikan kepada semua macam aset biologis. Pada penelitian Hidayat (2018) mengatakan bahwa pengakuan aset tetap biologis tanaman perkebunan tidak terlihat adanya perbedaan, baik setelah menggunakan standar akuntansi PSAK 69 maupun sebelum disahkannya standar akuntansi PSAK 69 Agrikultur. Dan penelitian Meilansari, Maslicha, dan Mawardi (2019) mengemukakan bahwa
pengungkapan aset biologis pada sektor perkebunan pertanian adanya pengakuan aset biologis sebagai tanaman menghasilkan dan tanaman yang belum menghasilkan, lalu untuk pengukuran aset biologisnya diukur berdasarkan biaya perolehannya, sedangkan dalam PSAK 69 dijelaskan bahwa pengukuran aset diukur berdasarkan nilai wajar. Perbedaan yang cukup dasar adalah belum diimplementasikannya pengukuran aset tetap pada sektor perkebunan dengan memakai metode nilai wajar.
Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu yang melakukan penelitian terkait perlakuan akuntansi aset biologis pada perusahaan agrikulur, terdapat persamaan dan perbedaan terkait penelitian ini dengan penelitian yang lalu.
Persamaan yang melekat dalam penelitian ini dengan penelitian yang lampau adalah penggunaan metode kualitatif dalam metodologi penelitian. Sedangkan letak pembeda dalam penelitian ini dengan penelitian yang lain berada pada objek penelitian, jika pada penelitian kali ini objek yang dipilih merupakan perusahaan agrikultur sektor hortikultura.
Hortikultura kini menjadi salah satu sektor agrikultur yang dirasa cukup memiliki potensi di Indonesia. Usaha hortikultura yang dapat kita jumpai sangatlah beragam, mulai dari usaha budidaya jambu, pisang, durian, mangga, dan dan masih banyak lagi. Pelaksanaanya kini diatur dalam UUD nomor 13 tahun 2010 tentang Hortikultura (Republik Indonesia, 2010) yang menjelasakan terkait pengimplementasian hortikultura, tujuan pengembangan hortikultura berkelanjutan, bertanggung jawab guna kepentingan rakyat. Sehingga usaha dibidang hortikultura ini menjadi salah satu bisnis yang memikat hati breeder.
PT. Galasari Gunung Sejahtera merupakan salah satu perusahaan perkebunan yang bergerak dibidang hortikultura, tanaman buah mangga merupakan aset sekaligus penghasil produk andalan yang dimiliki oleh PT. Galasari Gunung Sejahtera, selain itu perusahaan ini juga melakukan pengolahan hasil pertanian yang kemudian dijual di pasaran baik melalui mitra yang telah menjalin kerja sama dengan perusahaan di sekitar daerah Surabaya dan Jakarta, selain itu PT. Galasari Gunung Sejahtera juga melakukan ekspor atas hasil produksinya ke beberapa perusahaan yang ada di Singapura. PT. Galasari Gunung Sejahtera menarik untuk diteiliti karena tanaman buah mangga yang menjadi produk andalan PT. Galasari Gunung Sejahtera digolongkan sebagai aset biologis, sesuai dengan pedoman PSAK no. 69.
Latar belakang peneliti memilih PT. Galasari Gunung Sejahtera sebagai objek penelitian karena buah mangga yang menjadi aset biologis perusahaan ini merupakan salah satu faktor positif pertumbuhan capaian makro pada sektor agrtikultur akibat lonjakan permintaan buah selama pandemi, selain itu Indonesia terkenal sebagai penghasil buah mangga terbesar kelima di dunia, hal tersebut tentu menjadi peluang ekspor menjanjikan untuk Indonesia. Atas dasar tersebut yang melandasi peneliti tertarik untuk mengambil analisis apakah PT. Galasari Gunung Sejahtera sudah menerapkan perlakuan akuntansi dengan standar yang berlaku di Indonesia.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi aset biologis terhadap aktivitas agrikultur di PT. Galasari Gunung Sejahtera. Perlakuan akuntansi tersebut melibatkan pengakuan dan pengukuran,
penyajian, . serta pengungkapan atas aktivitas agrikultur itu sendiri yang meliputi biaya yang diperlukan untuk aktivitas pemakaian, penanaman bibit tanaman buah mangga sampai tanaman buah mangga menghasilkan buah yang dapat menjadi persediaan. Maka berdasarkan uraian diatas, dapat diambil judul “Analisis Perlakuan Akuntansi Aset Biologis terhadap Aktivitas Agrikultur berdasarkan PSAK 69 (Studi Kasus 69 PT. Galasari Gunung Sejahtera)”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena diatas, maka rumusan masalah yang diangkat adalah bagaimana perlakuan akuntansi asetbiologis terhadap aktivitas agrikultur berdasarkan PSAK 69 pada PT. Galasari Gunung Sejahtera?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam bagaimana PT.
Galasari Sejahtera dalam melakukan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan pada aset biologis. Untuk lebih spesifik penelitian ini bertujuan untuk melihat perlakuan akuntansi aset biologis yang ada pada PT. Galasari Gunung Sejahtera.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis bagi peneliti maupun bagi erusahaan yang menjadi objek penelitian.
1.4.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:
1. Bagi dunia akademik
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan atas penelitian yang akan datang yang berhubungan dengan perlakuan aset biologis khususnya subsektor hortikultura.
2. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat memeberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih dalam akan akuntansi aset biologis.
1.4.2 Manfaat Praktis
Manfaat praktis penelitian antara lain sebagai berikut:
1. Bagi Perusahaan
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat dijadikan salah satu bahan acuan untuk pertimbangan dalam proses evaluasi pencatatan akuntansi, sehingga dapat diperoleh pencatatan akuntansi yang lebih baik dan lebih relevan dan sesuai dengan standar akuntansi.
2. Bagi lembaga pendidikan tinggi dan Akuntan Pendidik
Penelitan ini dapat berguna sebagai salah satu acuan referensi dalam persiapan mahasiswa dalam pemahaman akan akuntansi aset biologis secara menyeluruh. Hasil dari penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran tentang perlakuan akuntansi aset biologis di perusahaan.
1.5 Batasan Penelitian
Penelitian ini terfokus pada perusahaan hortikultura, dimana perusahan tersebut wajib mengakui, mengukur, melakukan pencatatan serta melakukan penyajian dan mengungkapkan aset biologis berdasarkan PSAK no. 69.
Fokus penelitian ini hanya pada perlakuan akuntansi aset biologis terhadap aktivitas agrikultur sesuai dengen PSAK No. 69. Informan yang menjadi kunci atas permasalahan merupakan Direktur perusahaan, Head Finance, dan staff farm breeding PT. Galasari Sejahtera. Lokasi penelitian berada di kantor PT. Galasari Sejahtera yang berlokasi di Gresik.