Takwa: Aktualisasi dan Manfaatnya menurut al-Qur’an
Khotbah kali ini menguraikan tentang “taqwa”, salah satu kosa kata, yang dari sudut kelahiran istilahnya sejatinya baru lahir bersamaan dengan kedatangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Sebelum masa itu, takwa (taqwa)belum dikenal. Bagaimana aktualisasi taqwa dan manfaatnya menurut al-Qur’an? Takwa: Aktualisasi dan Manfaatnya menurut al- Qur’an Oleh Prof. Dr.HM.Erfan Soebahar, MA.
ر ْوُن ِب ِطا صِّلا َل ِا ا َ ر َ نا َ
د َ
ه َو ى َو ْ ق َّ
تلاِب َ ان َر َم َ
ا ْي ِذ َّ
لا ِللِ ُ د ْم َح ْ
ل َ ا ا ً
د َّم َح ُم ا َ ن َ
د ري َس َّ
ن َ ا ُ
د َه ْ ش َ
ا َو ْالل َّ
ل ِا َ ه َ
ل ِا َ ل ْ
ن َ ا ُ
د َه ْ ش َ
ا. ى َ د ُهل ْ
ا َل ع َ هــ ُم ُ َ
ل َس َو ِالل تا َو ُ َ
ل َص. ه ُ ُ
ل ْو ُس َر َو ُه ُ د ْب ع َ ل ُ
ك ِل َ
آ َ
ل َ
ع َو ، ني ْ
ْ ِم َ ل ْ
ا ِم ْي ر َ ك ْ
لا ر ب ْ ِْ َنلا َذــ َه ِم ْوَي َلِا ناــ َس ْحِاِب ْم ِهـــْي ِعِبا َ
ت َو ، ن ْ ي ِعِب اــ َّ
تلا َو ل ُ
ك ِب ْح َص َو
َّ ق َح َاللا ْو ُ ق َّ
ت ِا ِالل َ
د ا َب ِع اَي َ ف ، ُ
د ْع َب ا َّم َ
أ. ن ْي ردل ا َلا َع َ
تُ الل َلا َ ق. َ
ن ْو ُم ِل ْس ُم ْم ُ ت ْ
ن َ ا َو َّ
ل ِا َّن ُ تو ُم َ
ت َ ل َو ، ْ
ْ ِهِتا َ ق ُ
ت َني ِذ َّ
لا ا َه ُّي َ
أا َي: َن ْ ي ِلِئا َ قل ْ
ا ُ ق َ
د ْص َ ا َو ُ
ه َو ْ
ْ ِم ْي ر َ كل ْ
ا ِهِبا َ ت ِك ْ
ْ ف ن ْم ُ
ك ْ ن ع ْر َ ر
ف َ
ك ُي َو ،ا ً نا َ
ق ْر ُ ف ْم ُ
ك َ
ل ْل َع ْج َي َ َّ
للَا او ُ ق َّ
ت َ ت ْ
ن ِإ او ُ ن َما َء ِمي ِظ َعْلا ِل ْض َ
ف ْ لا و ُ
ذ ُ َّ
للَا َو ، ْم ُ ك َ
ل ْر ِف ْ
غ َي َو ، ْم ُ ك ِتا َ
ئ ري َس .
َ ت ْ ن ُ
ك ا َم ُ
ث ْي َح َالل ِق َّ
ت ِا: َم َّ
ل َس َو ِهْي َ ل ع ُ َ َّ
للَا َّ
ل َص ُّ ِ ب َّ
نلا َلا َ ق َو با نع يذم رتلا هاور( ا َه ُح ْْ َمت َةَن َس َحلْا َةَئري َّسلا ع ِبت
َ ا َو
رذ)
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah, Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah swt, yang atas rahmat dan hidayah-Nya kita pada siang Jum’at ini dapat hadir di masjid ini dalam keadaan sehat wal’afiyat. Dalam kondisi demikian, saya mengajak kita bersama-sama berwasiat diri untuk terus memperkokoh taqwa kepada Allah Swt. Takwa diperkokoh dengan selalu melakukan penghayatan dan amaliah, dengan mengaktualisa-sikan amal-amal kebajikan dan sekaligus menyadari man-faatnya dalam kehidupan. Apakah sebenarnya taqwa itu menurut Al-Qur’an? Dan bagaimana aktualisasi dan manfaatannya bagi kehidupan? Taqwa adalah salah satu kosa kata, yang dari sudut kelahiran istilahnya sejatinya baru lahir bersamaan dengan kedatangan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
Sebelum masa itu, takwa (taqwa)belum dikenal. Taqwa yang berasal dari ittaqa, yattaqi, ittiqa’an itu mempunyai arti: sangat kokoh dalam menjaga diri. Karena diri ini anugerah Allah, yang diciptakan untuk menjalankan ibadah bagi mencapai ridha-Nya, maka diri kita ini dituntut untuk selalu dijaga dengan kehati- hatian.
Penjagaan diri di- arahkan agar selalu sehat, sejahtera, bahagia dan tidak terjerumus ke jurang kesesatan dan kehancuran diri.
Sebab hidup di dunia sekarang adalah “ladang menanam untuk bekal hidup di akhirat.” Maka selagi hidup di dunia, sekarang yang hanya puluhan tahun, usia mesti dihemat dijaga dengan benar, hari demi harinya diusahakan mem-buahkan bekal demi bekal berkualitas untuk kehidupan sekarang dan akan datang.
Dengan demikian, aktivitas dan aktualitas takwa saat sekarang terus diperdengarkan, di-rangsang aktusnya, dan didorong
terus hingga mendong-krak motif melakukan amal-amal baik bagi kehidupan seka-rang yang buah abadinya diterima kelak di akhirat. Hadirin Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah, Orang- orang yang bertakwa dalam menjalani kehi-dupan oleh Al- Quran digambarkan memiliki ciri-ciri aktuali-sasi diri sebagai difirmankan Allah Swt berikut ini. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang me-nahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbu-atan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?
dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji-nya itu, sedang mereka mengetahui (Q.S. Ali Imran: 134-135)
Ayat di atas menjelaskan lima ciri aktualisasi orang-orang yang bertakwa yaitu: Pertama: Yunfiquuna Fis-Sharraa’ Wad- Dharraa’ (gemar menginfakkan hartanya baik di waktu lapang maupun waktu sempit). Menurut ayat ini, orang bertakwa itu suka berinfak atau bersedekah dengan apa yang di-miliki; suka nyah-nyoh, dermawan; suka memberi atau melayani pihak lain dengan kebaikan sebagai kepedulian-nya secara berkelanjutan di dalam kehidupan. Perilaku suka berinfak demikian tentu bernilai po-sitif, karena sang pemberi bermagnit simpati di mata yang diberi. Makanya, suka berinfak merupakan sifat pertama dan utama, yang mesti diaktualkan insan yang bertakwa. Dan sesungguhnya, manusia itu diterjunkan dalam kehi-dupan adalah untuk bersedekah atau suka berinfak itu. Si kaya besedekah dengan hartanya, pemilik ilmu berinfak dengan ilmunya, pemilik badan kuat berinfak dengan tenaganya, dll.
Dari infak atau sedekah demikian, orang bertakwa digemakan/dilipatkan pahalanya, 10 kali lipat, 100 kali lipat, hingga 700 kali lipat oleh Allah Swt. Kedua: Wal-Kazhimiinal Ghaizh (mampu menahan amarah’) adalah ciri kedua orang bertaqwa.
Dalam ke-adaan yang dapat mendorong amarah, orang bertaqwa tidak cepat sesak nafas. Ususnya panjang. Ibarat kendara- an, mereka punya “rem”, yang mampu mencegah perilaku emosional dan tak mengenal tempat. Rasa amarah mam-pu dipendam dalam-dalam. Bahkan dengan sifat khasnya, mereka mampu menjadi pemaaf di tengah situasi genting.
Karenanya, kendalinya mampu membawanya berjiwa be-sar yang menaikkan martabat di dalam kehidupan. Jika me reka tergolong ilmuwan atau ulama, kendali ini begitu mapan yang menyelamatkannya dari perilaku tak berguna. Imam al-Syafi’i berkata, ”Barangsiapa yang tidak mampu mengendalikan diri maka ilmu pengetahuan yang ada pada dirinya tidak akan bermanfaat.” Ketiga: Wal-‘Aafiina ‘Anin-Naas (`pemaaf kesalahan orang lain`. Bila kita sadari, orang lain itu sejatinya adalah diri kita sendiri ini dilihat dari kacamata selain kita. Sayid Quthub dalam Fi Zhilalil Qur’an, Juz II, mengatakan, bahwa menahan marah saja sebenarnya tidak cukup. Manusia kadang sudah menahan amarah, namun pada saat yang sama mereka masih menyimpan rasa dendam di hati. Karena itu, Al-Qur’an kemudian menetapkan agar marah yang menetap di dalam hati itu disambut dengan mema-afkan. Pada saat hati menyambut seseorang dengan la-pang dada dan memaafkan, dengan sendirinya jiwa me-reka akan turut merasa tenang dan damai.
Katanya, sifat pemaaf demikian sedikit sekali yang dimiliki seseorang, padahalal sifat itulah yang lebih baik ditempuh setiap pri-badi untuk menghilangkan rasa dendam di hati.
Makanya, jika rasa keseimbangan dalam menatap orang lain sudah terwujud dalam komunikasinya, rasa maaf akan mudah diberikan oleh dirinya kepada pihak lain.
Keempat:Fastaghfaruu Lidzunuubihim, `memohon am punan atas dosa-dosanya`. Perilaku mohon ampun atas suatu kesalahan adalah aktivitas orang-orang yang sadar, yang biasa dilakukan orang bertakwa. Mereka, sebenarnya seperti manusia lain namun punya kesadaran atas salah dan khilaf, atau dosa; tidak menunda diri dan cepat sadar taubat dari dosa.
Dalam kesadarannya, mereka ingat bahwa Allah Swt dengan keluasan hukum dan kekuasaan ilmunya mengampuni dosa hamba-hamba-Nya yang se-gera bertobat dari dosa dosanya [Al-Maraghi, I: 71]. Mereka juga sadar, bahwa kesukaan bertaubat atau beristighfar, justru mudah mempertemu- kannya dengan anugerah Tuhan yang Maha Penyubur rezeki bagi yang gemar bertaubat dengan berlipat-lipat anugerah (yursilis samaa’ alaikum midrara).
Kelima: Walam Yushirruu ‘Alaa Maa Fa’aluu Wa-hum Ya’lamuun , `tidak terus melakukan apa yang dike-tahuinya keji dan dosa`. Tidak jera dari melakukan perbu-atan keji dan dosa, dalam pemahaman orang bertakwa berarti sama dengan orang yang tidak sadar bahwa di du-nia ini tiap perbuatan itu sudah dibalas. Iman orang demi-kian tidak lurus, karena keyakinan kepada Allah dan Hari Akhirat, tidak mendorongnya berbuat benar dan baik, dan mestinya diimbangi dengan meninggalkan yang keji dan dosa. Makanya orang bertakwa tidak akan terus melakukan perbuatan yang keji, mungkar, atau perbuatan
maksiat lainnya. Mereka mengeremnya kuat-kuat dari terjerumus, apalagi secara terus menerus melakukan; jelas mereka pantang melakukan hal itu. Tapi yang biasa dila- kukannya, adalah mengikut sertakan suatu kesalahan de-ngan melakukan kebaikan demi kebaikan yang akhirnya menghapus kejelekan itu. Hal itu sejalan dengan sabda Nabi saw,
ا َه ُح ْ
ْ َمت َ
ة ن َس َحل َ ْ ا َ
ة َ
ئ ري َّسلا عِبت َ
ا َو ت َ ن ْ ُ ك ا َم ُ
ث ْي َح َالل ِق َّ
ت ِا (ذ با نع يذم رتلا هاور
Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada, dan iringilah suatu perhuatan buruk itu dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskannya (H.R. Al-Turmudzi dari Abu Dzarr)- Di samping itu, orang bertakwa paham, bahwa dosa itu merupakan perbuatan tercela yang menodai keutuhan diri seseorang. Dengan melakukan dosa, seseorang ter-noda tatanan fitrahnya yang menentramkan dan tidak ber-jalan lagi di atas syari’at yang telah digariskan Allah Swt, sehingga merupakan pantangan yang mencegah orang takwa melakukannya. Manfaat Taqwa Dalam surah Al-Anfal, 8:29, Allah Swt menjanjikan anugerah kepada hamba-Nya yang beriman bila dalam kehidupan dia mengaktualkan taqwa.Allah Swt berfirman: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan, dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar. Ayat Al-Qur’an di atas menjelaskan kepada kita tujuan atau manfaat dari aktivitas takwa, yaitu: Pertama, memperoleh anugerah furqan [Yaj’al Lakum Furqaanan]. Yaitu, nur matahati yang berupa kemampuan ilmiah dan hikmiyah
yang dapat membe-dakan sesuatu dengan tepat. Anugerah furqan ini pen-ting dalam menghadapi perkara-perkara yang terben-tang luas dan berbeda dari segi keilmuan, hikmah, serta amal perbuatan. Kedua, menghapuskan kesalahan-kesalahan [Yukaffir ‘Ankum Sayyiatikum]. Kesalahan-kesalahan pe-rilaku pada dasarnya mengandung hal yang ‘tidak di-senangi oleh orang lain’. Ia lawan dari hasanat, `sesuatu yang disuka`.Seperti disebutkan dalam hadis, orang takwa yang benar itu mengaktualkan ketakwaannya di mana saja berada [dengan berbuat amal-amal shalih] dan selalu mengiringi kesalahan- kesalahan yang mungkin dibuatnya dengan kebaikan-kebaikan, yang pada giliran-nya akan menghapus kesalahan-kesalahan itu (wa atbi’i al-sayyi ata al-hasanata tamhuha). Dengan daya furqani-nya, orang taqwa punya keseimbangan dan ketepatan pendirian, sedang dengan selalu berbuat kebaikan menjadi terhapus dosa-dosa-nya, sehingga dosa-dosanya berampun.
Ketiga: mengampuni dosa-dosa [WaYaghfir Lakum]. Dengan telah dimilikinya kemampuan fur-qani, manusia selain dapat membedakan dengan jelas mana yang hak dan mana yang batil, juga selalu meng-iringi dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang dilaku-kannya degan tobat-tobat dan amal-amal kebajikan. Disitu maka wajar bila Allah mengampuni dosa orang-orang yang bertaqwa, dan mereka selalu terpelihara atau dilindungi oleh Allah Swt. Di sini, antara pencapaian taqwa dan peningkatannya serta terus menerus perlunya dilaksanakan ibadah untuk mencapai taqwallah adalah merupakan suatu “circle” yang tidak putus-putusnya. Itu semua merupakan hal penting yang perlu terus dilaksanakan dalam kehidupan. Demikianlah, semoga uraian ini bermanfaat bagi memperkokoh takwa kita kepada Allah Swt, yang dapat
mengantarkan kita menjadi manusia unggul yang cocok di hadapan manusia dan di hadapan Allah Swt.