L/O/G/O
1
Definisi
❑ Adalah percekcokan, perselisihan, pertentangan (KBBI)
❑ Merupakan suatu proses sosial di mana individu-individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan (Santoso, 1983)
❑ Konflik itu sendiri adalah ketidaksetujuan, perselisihan, dan pergesekan yang terjadi ketika tindakan atau keyakinan satu atau lebih anggota kelompok tidak diterima dan ditolak oleh satu atau lebih anggota kelompok yang lain (Forsyth, 1999)
❑ Suatu proses yang diawali ketika satu pihak merasa bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif atau akan segera mempengaruhi negatif suatu yang menjadi perhatian pihak pertama (Robbins, 2003)
2
Pandangan Tradisional
Pandangan Hubungan Manusia
Pandangan Interaksionis
Mengasumsikan bahwa semua konflik itu jelek, dipandang negatif dengan pengertian yang sama dengan kekerasan, destruksi dan irasionalitas, sehingga konflik dipandang merugikan dan harus dihindarkan.
❑ Pandangan yang justru memberanikan timbulnya konflik yang bisa diatasi, hal ini didasari pendapat bahwa harmonis, damai, tenang dan kooperatif bisa menjadi statis, apatis dan noresponsif terhadap kebutuhan perubahan.
❑ Sehingga menimbulkan keberanian para pemimpin kelompok untuk mempertahankan minimal dari konflik yang berkelanjutan, yang cukup membuat sebuah kelompok menjadi hidup, kritis, dan kreatif.
❑ Sehingga Kita tidak dapat lagi mengatakan bahwa semua konflik itu jelek atau baik.
Konflik merupakan hal yang wajar dalam kelompok atau organisasi, konflik tidak terelakan dan menerima konflik, bahkan ada kalanya konflik dapat membawa manfaat pada kinerja kelompok.
Transisi Pemikiran Konflik
3
Konflik
• Konflik dapat merupakan masalah yang serius dalam setiap kelompok atau organisasi.
• Konflik itu mungkin tidak menimbulkan pembubaran suatu perusahaan, tetapi pasti dapat merugikan kinerja suatu perusahaan ataupun menyebabkan hilangnya banyak karyawan yang baik.
• Tidak semua konflik itu tidak baik. Konflik fungsional memperbaiki kinerja kelompok dan konflik disfungsional (konflik yang merintangi kinerja kelompok). Adapun Konflik mempunyai sisi negatif maupun sisi positif , yaitu :
1) Negative Conflict
Konflik ini merupakan konflik yang terjadi di dalam suatu kelompok dimana konflik tersebut sering dihindari dan disembunyikan. Adanya konflik ini justru akan membuat kelompok mengalami kemunduran. Misalnya saja, perselisihan yang terjadi di antara anggota yang mana akhirnya berdampak pada performa kerja anggota kelompok menjadi buruk.
2) Positive Conflict
Konflik ini merupakan konflik yang memberikan ruang untuk anggota yang ada di dalam suatu kelompok agar dapat lebih berkembang. Misalnya saja, ada persaingan antar anggota kelompok yang nantinya membuat anggota kelompok bersaing untuk mendapatkan hasil yang terbaik, sehingga hal ini nantinya mampu membawa kelompok pada hasil kerja yang lebih baik karena anggota kelompok lebih termotivasi untuk bekerja.
4
Negative Conflict Positive Conflict
Memandang konflik sebagai kesatuan. Mengenali berbagai macam jenis konflik.
Memandang konflik sebagai sebuah masalah.
Memandang konflik sebagai bagian dari cara penyelesaian.
Dihindari, disembunyikan. Mencari tahu dan mendorong konflik.
Memercayai bahwa konflik itu membawa kehancuran.
Memercayai bahwa konflik itu berpotensi konstruktif.
Konflik tidak membawa nilai apapun Dapat mempelajari banyak nilai dari konflik.
Konflik meciptakan kecemasan dan keadaan defensif.
Konflik menciptakan kegembiraan, minat, dan fokus.
Individu mencoba untuk “menang” Individu mencoba untuk “menyelesaikan
masalah.
5Sebab-Sebab Terjadinya Konflik
1) Adanya perbedaan pendirian atau perasaan antara individu, sehingga terjadi diantara mereka
2) Adanya perbedaan kepribadian di antara mereka, yang disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang kebudayaan 3) Adanya perbedaan kepentingan individu atau kelompok diantara
mereka
4) Adanya perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat karena adanya perubahan nilai atau sistem yang berlaku.
6
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konflik
1) FAKTOR INTERN
a. Kemantapan Organisasi yang telah mantap lebih mampu menyesuaikan diri sehingga tidak mudah terlibat konflik dan mampu menyelesaikannya
b. Sistem nilai suatu organisasi ialah sekumpulan batasan yang meliputi landasan maksud dan cara berinteraksi suatu organisasi
c. Tujuan suatu organisasi dapat menjadi dasar tingkah laku organisasi itu serta para anggotanya.
d. Sistem lain dalam organisasi. Seperti sistem komunikasi, sistem kepemimpinan, sistem pengambilan keputusan, sistem imbalan dan lain-lain.
2) FAKTOR EKSTERN
a. Keterbatasan sumber daya, kelangkaan suatu hal yang dapat menumbuhkan persaingan dan seterusnya dapat berakhir menjadi konflik.
b. Kekaburan aturan/norma di masyarakat, hal ini memperbesar peluang perbedaan persepsi dan pola bertindak.
c. Derajat ketergantungan dengan pihak lain, semakin tergantung satu pihak dengan pihak lain semakin mudah konflik terjadi.
d. Pola interaksi dengan pihak lain, pola yang bebas memudahkan pemamparan dengan nilai-nilai, sedangkan pola tertutup menimbulkan sikap kabur dan kesulitan penyesuaian diri.
Jenis Konflik
Yaitu lima tahapan potensi pertentangan, kognisi, penanganan konflik, perilaku, akibat/hasil.
Konflik Tugas
Konflik Hubungan Proses
Konflik
Merupakan konflik yang terjadi antara isi dan tujuan
kerja
Merupakan konflik yang terjadi karena hubungan antar personal
Jenis Konflik
8
Proses Konflik
9 Penanganan
Konflik Akibat/Hasil
Tahap 1 (Potensi Pertentangan Dan Ketidak Cocokan)
• Ada 3 faktor yang dapat dianggap sebagai sumber suatu konflik, yaitu : 1) Komunikasi
Beberapa kesimpulan penelitian menyatakan bahwa kesulitan-kesulitan sematik, pertukaran informasi yang kurang lengkap dan suara yang gemuruh dalam saluran komunikasi semuanya sebagai penghalang komunikasi dan merupakan kondisi-kondisi potensial yang mendahului timbulnya konflik.
2) Struktur Kelompok
Struktur digunakan untuk memasukkan variabel ukuran, derajat sepesialisasi tugas yang diberikan kepada anggota kelompok seperti kejelasan tugas, kesesuaian tujuan anggota kelompok, berbagai gaya kepemimpinan, sistem penghargaan dan ketergantungan kelompok.
Ukuran dan spesialisasi tersebut bertindak sebagai kekuatan yang menstimulasi konflik.
Makin besar sebuah kelompok makin besar terspesialisasinya kegiatan-kegiatan makin besar terjadinya konflik.
3) Variabel pribadi
Merupakan faktor-faktor pribadi seperti sistem nilai individual yang dimiliki setiap orang dan karakteristik kepribadian yang bertanggung jawab terhadap penyimpangan dan perbedaan, karakteristik pribadi, misal kepemimpinan otoriter, kecurigaan, ketidak setujuan kontribusi seseorang terhadap kelompok, pemberian penghargaan kepada yang layak menerima. 10
Tahap 2 (Kognisi dan Personalisasi)
• Pada fase ini penting karena disitulah isu-isu konflik cenderung mulai ditetapkan/didefinisikan oleh pihak yang terlibat.
• Konflik yang dipersepsikan jika kesadaran oleh satu pihak atau lebih akan eksistensi atau kondisi-kondisi yang menciptakan kesempatan untuk timbulnya konflik.
• Konflik yang dirasakan jika pelibatan emosional dalam suatu konflik yang menciptakan kecemasan, ketegangan, frustasi, dan permusuhan.
• Hal penting lainnya adalah emosi yang memegang peranan besar dalam menetapkan persepsi adanya konflik.
11
Tahap 3 (Penanganan Konflik)
• Merupakan keputusan-keputusan untuk bertindak dalam suatu cara tertentu dalam suatu bagian konflik.
• Usaha mengidentifikasi maksud untuk mengatasi konflik yaitu dengan menggunakan : a. Cooperativeness (kerjasama) merupakan derajat usaha salah satu pihak untuk
mencoba memuaskan pihak lainnya (kepentingan orang lain).
b. Assertiveness (pernyataan) merupakan derajat usaha suatu pihak untuk memuaskan pihaknya sendiri (kepentingan sendiri).
Ada 5 cara maksud dalam mengatasi konflik, yaitu : 1. Bersaingan (pernyataan kuat dan kerjasama lemah) 2. Kerjasama (pernyataan kuat dan kerjasama kuat)
3. Berkompromi (jalan tengan antara pernyataan dan kerjasama) 4. Menghindar (pernyataan lemah dan kerjasama lemah)
5. Menampung (pernyataan lemah tetapi kerjasama kuat)
12
Bagan Tahapan 3 (Penanganan Konflik)
1. Bersaingan 2. Kerjasama 3. Berkompromi 4. Menghindar 5. Menampung Kuat
Lemah
Kerjasama (kepentingan orang lain)
Lemah Kuat
1
Pernyataan (Kepenting an Sendiri)
3
4
2
5
13
Tahap 4 (Perilaku)
• Konflik nyata pada tahap ini, mengapa ?
Karena disinilah perilaku mencakup pernyataan, tindakan dan reaksi yang dibuat oleh pihak yang berkonflik.
• Perilaku konflik ini biasanya secara terang-terangan terbuka berupaya untuk melaksanakan maksud-maksud setiap pihak yang terlbat.
Kontinum Intensitas Konflik
14
• Akibat atau hasil dari konflik yang terjadi di antara pihak- pihak yang terlibat bisa bersifat fungsional, konflik tersebut dapat meningkatkan kinerja kelompok.
• Namun konflik juga dapat bersifat disfungsional yang sebaliknya justru menghalangi/menurunkan kinerja kelompok.
Tahap 5 (Akibat/Hasil)
15
1) Kesimpulannya, konflik tidak selalu merugikan organisasi selama bisa ditangani dengan baik sehingga dapat :
❑ Mengarah ke inovasi dan perubahan
❑ Memberi tenaga (motivasi) kepada orang untuk bertindak
❑ Menyumbangkan perlindungan untuk hal-hal dalam organisasi
❑ Merupakan unsur penting dalam analisis sistem organisasi.
2) Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalam organisasi baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi.
16
Model Hubungan
Konflik dan Kinerja
Tinggi
Rendah
Tinggi Tingkat Konflik
Rendah
Kinerja Unit
17
L/O/G/O
18