• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN DOUBLE SWITCH SEBAGAI PENYEARAH DAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN DOUBLE SWITCH SEBAGAI PENYEARAH DAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR – RE 1599

UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN

DOUBLE SWITCH SEBAGAI PENYEARAH DAN PERBAIKAN

FAKTOR DAYA

FELDY MARTINUS CHANDRA NRP 2202100040

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng Prof.Ir. Soebagyo, MSEE. PhD. JURUSAN TEKNIK ELEKTRO Fakultas Teknologi Industri

(2)

TUGAS AKHIR – RE 1599

UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN DOUBLE SWITCH SEBAGAI PENYEARAH DAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA

FELDY MARTINUS CHANDRA NRP 2202100127

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng Prof. Ir. Soebagyo, MSEE. PhD. JURUSAN TEKNIK ELEKTRO Fakultas Teknologi Industri

(3)

UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN DOUBLE SWITCH SEBAGAI PENYEARAH DAN

PERBAIKAN FAKTOR DAYA

TUGAS AKHIR

Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Pada

Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Menyetujui : Dosen Pembimbing I

Dr.Ir.Mochamad Ashari, M.Eng. NIP. 131 918 688

Dosen Pembimbing II

Prof.Ir. Soebagio, MSEE. PhD. NIP. 130 325 769

SURABAYA JULI, 2006

(4)

Feldy Martinus Chandra

"UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY MENGGUNAKAN DOUBLE SWITCH SEBAGAI

PENYEARAH DAN PERBAIKAN FAKTOR DAYA"

Dosen Pembimbing:

Dr.Ir.M.Ashari,M.Eng

Prof.Ir.Soebagio,MSEE.PhD

ABSTRAK

Sistem Uninterruptible Power Supply (UPS) merupakan peralatan yang banyak digunakan

untuk berbagai beban kritis termasuk komputer, dan alat medis untuk mengatasi gangguan yang

terjadi di jala-jala seperti voltage sag, voltage swell, dan outage. Efek samping dari penggunaan

UPS adalah timbulnya masalah polusi harmonisa dan faktor daya rendah. Dengan bertambahnya

penggunaan UPS, masalah polusi harmonisa pada jala-jala akibat penggunaan konverter di UPS

akan semakin serius.

Tugas akhir ini membahas topologi UPS yang menggunakan dua buah switch sebagai

penyearah dan sekaligus sebagai booster. Strategi kontrol dirancang untuk mengurangi harmonisa

pada UPS. Dari hasil simulasi didapatkan harmonisa arus input sebesar 4,06% dan faktor daya

sebesar 0,99 (mendekati unity). Pada UPS konvensional memiliki harmonisa arus input sebesar

89% dan faktor daya sebesar 0,71.

(5)

Feldy Martinus Chandra

"UNINTERRUPTIBLE POWER SUPPLY USING DOUBLE SWITCH AS RECTIFIER AND

POWER FACTOR CORRECTION"

Mentor:

Dr.Ir.M.Ashari,M.Eng

Prof.Ir.Soebagio,MSEE.PhD

ABSTRACT

Uninterruptible Power Supply (UPS) Systems are being widely used for variety critical

loads including computer, and medical equipment to overcome disruptions in power utility such as

voltage sag, voltage swell, and outage. Side effect of using UPS systems is harmonics polution,

and low power factor. Because of tremendous increase in the use of UPS systems, harmonics

polution in power utility becomes more serious.

This final project discussed a UPS topology which used two switches as rectifier and

booster. Control strategy designed which could reduces harmonics in UPS. Simulation results show

input current harmonics are 4.06% and power factor 0.99 (close to unity). In conventional UPS

input current harmonics are 89% and power factor 0.71.

(6)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL i LEMBAR PENGESAHAN ii ABSTRAK iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI v

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR TABEL x BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Sasaran 1 1.3 Sistematika Pembahasan 2 1.4 Relevansi 3

BAB II Uninterruptible Power Supply

2.1 Jembatan penyearah Satu Fasa 5 2.1.1 Penyearah Dioda Satu Fasa 5 2.1.2 Penyearah Terkendali Satu Fasa 7 2.1.3 Parameter Penyearah 9 2.1.3.1 Faktor Daya 10 2.1.3.2 Harmonisa pada Penyearah 13

2.2 DC Chopper 16

2.2.1 Step-up chopper (Boost) 17 2.2.1.1 Prinsip Operasi Step-Up Chopper 18 2.2.2 Step-Down Chopper (Buck) 19 2.2.2.1 Prinsip Operasi Step-Down Chopper 20 2.3 Inverter Satu Fasa 21 2.3.1 Half bridge Inverter Satu Fasa 22 2.3.2 Kontrol Tegangan dari Inverter Satu Fasa 25 2.3.2.1 Single Pulse Width Modulation 26 2.3.2.2 Multiple Pulse Width Modulation 27 2.3.2.3 Sinusoidal Pulse Width Modulation 28 2.3.3 Filter Pasif L-C 30 2.3.4 Parameter Inverter 30

(7)

vi

BAB III UPS dengan Teknik Penyearah Tegangan dan Perbaikan Faktor Daya menggunakan Konverter AC-DC Double Switch

3.1 Konfigurasi Sistem 33 3.2 Prinsip Operasi 34 3.2.1 Mode Normal 34 3.2.2 Mode Baterai 41 3.3 Pemodelan Komponen Simulasi 44

BAB IV Hasil Simulasi dan Analisa

4.1 UPS Konvensional 47 4.1.1 Mode Normal 48 4.1.2 Mode Baterai 54 4.2 UPS On-line dengan Double Switch 57 4.2.1 Mode Normal 57 4.2.2 Mode Baterai 63 4.3 Perbandingan UPS Konvensional dan UPS On-line dengan Double Switch 66

BAB V Penutup

5.1 Kesimpulan 69

5.2 Saran 69

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1. Blok Diagram Off-Line UPS 3 Gambar 2.2. Blok Diagram Line-Interactive UPS 4 Gambar 2.3. Blok Diagram On-Line UPS 4 Gambar 2.4. Penyearah Dioda 1 Fasa 5 Gambar 2.5.a. Gelombang Tegangan dan Arus Sumber

Penyearah 6

Gambar 2.5.b Gelombang Tegangan dan Arus Output Penyearah 6 Gambar 2.6. Penyearah Terkendali 1 Fasa 7 Gambar 2.7.a. Gelombang Tegangan Sumber Penyearah

Terkendali 8

Gambar 2.7.b. Gelombang Tegangan Output Penyearah

Terkendali 8 Gambar 2.8. Fasor Arus 10

Gambar 2.9. Fasor Daya 11 Gambar 2.10. Diagram Fasor Daya 12 Gambar 2.11. Gelombang Tegangan dan Arus Terdistorsi 13 Gambar 2.12. Tegangan dan Arus Input dengan Harmonisa 14 Gambar 2.13. Topologi Konverter Boost AC-DC 15 Gambar 2.14. Topologi Kontrol 16 Gambar 2.15.a. Rangkaian Step-Up Chopper 17 Gambar 2.15.b. Bentuk Gelombang Arus Induktor 17 Gambar 2.15.c Kurva Tegangan Output Vs Duty Cycle 17 Gambar 2.16. Rangkaian Step-Up Chopper dengan Beban Ro 18 Gambar 2.17.a. Rangkaian saat Switch On (Step-Up) 18 Gambar 2.17.b. Rangkaian saat Switch Off (Step-Up) 18 Gambar 2.18. Rangkaian Step-Down Chopper 20 Gambar 2.19.a. Rangkaian saat Switch On (Step-Down) 20 Gambar 2.19.b. Rangkaian saat Switch Off (Step-Down) 20 Gambar 2.20.a. Rangkaian Inverter 24 Gambar 2.20.b. Arus Beban dengan Beban sangat Induktif 24 Gambar 2.20.c. Bentuk Gelombang Tegangan Output dengan

Beban Resistif 24

Gambar 2.21. Single PWM 27 Gambar 2.22. Multiple PWM 28 Gambar 2.23. Rangkaian Kontrol Multiple-PWM 28 Gambar 2.24. Sinusoidal PWM 29 Gambar 2.25. Rangkaian Kontrol Sinusoidal PWM 29

(9)

viii

Gambar 2.26. Filter Pasif L-C 30 Gambar 3.1. Blok Diagram UPS On-Line dengan Double

Switch

33 Gambar 3.2. RangkaianUPS menggunakan Double Switch 34 Gambar 3.3. Rangkaian pada Mode Normal 35 Gambar 3.4. Rangkaian pada Mode Normal positive half cycle 36 Gambar 3.5. Rangkaian pada mode normal negative half cycle 37 Gambar 3.6.a. Rangkaian Boosting Kapasitor pada Mode Normal

positive half cycle 37

Gambar 3.6.b. Rangkaian Boosting Kapasitor pada Mode Normal

negative half cycle 37

Gambar 3.7. Rangkaian Kontrol AC-DC 40 Gambar 3.8. Rangkaian Kontrol SPWM 41 Gambar 3.9. Rangkaian pada Mode Baterai 41 Gambar 3.10. Rangkaian pada Mode Baterai positive half cycle 42 Gambar 3.11. Rangkaian pada Mode Baterai negative half cycle 43 Gambar 3.12. Rangkaian Kontrol DC-DC 43 Gambar 4.1. Rangkaian UPS On-Line Konvensional 47 Gambar 4.2. Rangkaian UPS Konvensional Mode Normal 48 Gambar 4.3.a. Tegangan Output UPS Konvensional Mode

Normal

49 Gambar 4.3.b. Arus Output UPS Konvensional Mode Normal 49 Gambar 4.4. Rangkaian Kontrol Inverter UPS Konvensional 50 Gambar 4.5.a. Gelombang Arus dan Tegangan Sumber UPS

Konvensional

51 Gambar 4.5.b. Spektrum Arus Sumber UPS Konvensional 51 Gambar 4.6. Grafik Daya Output Vs Faktor Daya pada UPS

Konvensional Mode Normal 53 Gambar 4.7. Grafik Daya Output Vs Efisiensi UPS pada UPS

Konvensional Mode Normal 53 Gambar 4.8. Grafik Daya Output Vs THDi pada UPS

Konvensional Mode Normal 54 Gambar 4.9. Rangkaian UPS Konvensional Mode Baterai 54 Gambar 4.10.a. Tegangan Output UPS konvensional Mode

Baterai 55 Gambar 4.10.b Arus Output UPS Konvensional Mode Baterai 55

Gambar 4.11. Grafik Perubahan Beban Vs Efisiensi UPS

(10)

ix

Gambar 4.12. Rangkaian UPS On-Line Double Switch Mode

Normal 57

Gambar 4.13.a. Tegangan Output UPS Double Switch Mode

Normal 58 Gambar 4.13.b. Arus Output UPS Double Switch Mode Normal 58

Gambar 4.14.a. Gelombang Arus dan Tegangan Sumber UPS

Double Switch 59

Gambar 4.14.b. Spektrum Arus Sumber UPS Double Switch 59 Gambar 4.15. Grafik Daya Output Vs Faktor Daya pada UPS

Double Switch Mode Normal 61 Gambar 4.16. Grafik Daya Output Vs Efisiensi pada UPS

Double Switch Mode Normal 61 Gambar 4.17. Grafik Daya Output Vs THDi pada UPS Double

Switch Mode Normal 62 Gambar 4.18. Rangkaian UPS On-Line Double Switch Mode

Baterai 63

Gambar 4.19.a. Tegangan Output UPS Double Switch Mode

Baterai 64 Gambar 4.19.b. Arus Output UPS Double Switch Mode Baterai 64

Gambar 4.20. Grafik Perubahan Beban Vs Efisiensi UPS

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 4.1 Perubahan Beban UPS Konvensional Mode Normal 52 Tabel 4.2 Perubahan Beban UPS konvensional Mode Baterai 56 Tabel 4.3 Perubahan Beban UPS Double Switch Mode Normal 60 Tabel 4.4 Perubahan Beban UPS Double Switch Mode Baterai 65 Tabel 4.5 Tabel Perbandingan Unjuk Kerja UPS 66

Referensi

Dokumen terkait

Jarak antara shotpoint 50 meter menghasilkan data dengan kualitas lebih baik karena dengan jarak yang lebih kecil akan menggunakan jumlah shotpoint lebih banyak.Saat

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini menuntut perusahaan untuk memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.Penelitian ini didukung dengan

Penjualan personal yang dilakukan sudah tepat. Tetapi di dalam pelaksanaannya masih terdapat kekurangan. Kekurangan tersebut adalah dari alat transportasi yang kurang memadai

Mahasiswa mampu menyelesaikan persoalan- persoalan mengenai statika benda tegar dalam dua dimensi. Quiz I I

Sejalan dengan tujuan pembangunan wilayah, maka penyediaan fasilitas pelayanan dasar perkotaan sebagai salah satu bentuk pelayanan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pendekatan PMRI dengan pembuatan dan permainan layang – layang sebagai konteks dapat meningkatkan pemahaman konsep dan

kedua lebih besar daripada gaya yang dihasilkan kelompok pertama, maka resultan gaya yang berkerja pada tambang adalah 15 N ke arah kanan. Resultan gaya dapat dijelaskan

Sama seperti seni instalasi, performance art mengala- mi kesulitan dalam pengakuannya sebagai media seni karena pencatatan sejarahnya hanya bisa disusun dari naskah, teks, foto,