• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

42 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

4.1.1 Sejaran Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI) Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual adalah lembaga pemerintah yang menangani permasalahan perlindungan kekayaan intelektual dibawah naungan Kementerian Hukum dan Ham. Berdasarkan Reglement Industrieelen Eigendom 1912 Stbl. 1912-545 jo 1913-214, yang melakukan pendaftaran merek di Indonesia adalah Hulpbureua Voor den Industrieleen Eigendom di bawah Department Van Justitie yang waktu itu hanya khusus menangani pendaftaran merek, kemudian berdasarkan Stbl. 1924 no. 576 ayat 2 ruang lingkup tugas Department Van Justitie meliputi pula bidang milik perindustrian. Dalam masa kemerdekaan RepubIik Indonesia sesuai dengan Pasal II Aturan Peralihan Undang-undang Dasar 1945, Stbl. 1924 no. 576 masih tetap berlaku dengan perubahan nama menjadi Kantor Milik Kerajinan.

(2)

1. Bagian Pendaftaran Cap Dagang.

2. Bagian Perlindungan atas Pendapatan-pendapatan Baru (Octrooi).

Berdasarkan keputusan Menteri Kehakiman tanggal 12 Pebruari 1964 no. J.S. 4/4/4 tentang tugas dan organisasi Departemen Kehakiman, yang disempurnakan dengan keputusan Menteri Kehakiman no. J.S.4/4/24 tanggal 27 Juni 1965 tentang tugas dan organisasi Departemen Kehakiman, nama kantor milik perindustrian diganti menjadi Direktorat urusan paten yang bertugas menyelenggarakan peraturan-peraturan mengenai perlindungan penemuan dan penciptaan, dengan demikian, sesuai dengan keputusan Menteri Kehakiman tersebut, Direktorat urusan paten tidak saja menangani urusan bidang merek dan bidang paten tetapi juga menangani bidang hak cipta.

Tahun 1966, Presidium Kabinet mengeluarkan keputusan no. 75/U/Kep/11/1966 tentang struktur organisasi dan pembagian tugas Departemen. Dalam keputusan ini Direktorat urusan paten berubah menjadi Direktorat Paten, Direktorat Jenderal Pembinaan Badan Peradilan dan Perundang-undangan, yang terdiri dari:

1. Dinas Pendaftaran Merek 2. Dinas Paten

3. Dinas Hak Cipta

(3)

Direktorat Jenderal yang baru tersebut, Direktorat Jenderal Pembinaan Badan Badan Peradilan dan Perundang-undangan dipecah menjadi Direktorat Jenderal. Secara umum Hak Kekayaan Intelektual, dapat terbagi dalam dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta : Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku.(Pasal 1 ayat 1) .Sedangkan Hak Kekayaan Industri meliputi:

1. Paten 2. Merek

3. Desain Industri

4. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu 5. Rahasia Dagang

(4)

tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.(Pasal 1 Ayat 1) .

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan.

(Pasal 1 Ayat 1), berdasarkan undang-undang nomor 32 ahun 2000 tentang desain tata letak, sirkuit terpadu : Sirkuit terpadu adalah suatu produk dalam bentuk jadi atau setengah jadi, yang didalamnya terapat berbagai elemen dan sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif, yang sebagian atau seluruhnya saling berkaitan serta dibentuk secara terpadu di dalam sebuah bahan semikonduktor yang dimaksudkan untuk menghasilkan fungsi elektronik.

(5)

Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang : Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasianya. Pelayanan jasa hukum di bidang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Indonesia sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Untuk pertama kalinya didaftar merek no. 1 (satu) oleh Hulpbureua Voor den Industrieelen Eigendom pada tanggal 10 Januari 1894 di Batavia.

4.1.2 Visi dan Misi Ditjen HKI

Visi

Terciptanya sistem Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang efektif dan efisien dalam Menopang pembangunan Nasional.

Misi

Mengelola sistem HKI dengan cara:

1. Memberikan perlindungan, penghargaan dan pengakuan atas kreatifitas; 2. Mempromosikan teknologi, investasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan

pertumbuhan ekonomi; dan

(6)

4.1.3 Organisasi dan Tata Kerja DJHKI

Bahwa dengan ditetapkannya Keputusan Presiden No. 144 Tahun 1998 tentang perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1998 tentang kedudukan, tugas, susunan organisasi dan tata kerja Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 142 tahun 1998, nomenklatur Direktorat Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek (DITJEN HCPM) telah diubah menjadi Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (DITJEN HAKI).

Sebagai tindak lanjut untuk melaksanakan Ketentuan Keputusan Presiden tersebut pada tanggal 26 Maret 1999 telah ditetapkan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.03.PR.07.10 Tahun 1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehakiman. Sehubungan dengan perubahan nomenklatur berdasarkan kedua peraturan tersebut, dengan ini saya sampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Nama Direktorat Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek (DITJEN HCPM) sebagai Unit Utama di jajaran Departemen Kehakiman RI dihapus dan diganti dengan Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (DITJEN HAKI).

(7)

3. Penyebutan nomenklatur dilingkungan Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual selengkapnmya tertuang dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia : No. M.03.PR.07.10 Tahun tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehakiman.

4. Setiap nomenklatur Direktorat Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek (DITJEN HCPM) dan nama jabatan Direktur Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek (DIRJEN HCPM) yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku agar dibaca “Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (DITJEN HAKI)” dan “Direktur Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (DIRJEN HAKI).

4.1.4 Sumber daya Manusia

Jumlah pegawai Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Oktober 2011 sebanyak 575 pegawai dengan perincian sebagai berikut :

1. Sekretariat Ditjen HKI sebanyak 116 pegawai.

2. Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang sebanyak 74 pegawai.

3. Direktorat Paten sebanyak 144 pegawai. 4. Direktorat Merek sebanyak 145 pegawai.

(8)

4.1.5 Struktur Organisasi DJHKI

4.1.6 Sekretariat DJHKI

Sekretariat Direktorat Jenderal mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada seluruh satuan organisasi di lingkungan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Sekretariat Direktorat Jenderal menyelenggarakan fungsi:

a) pelaksanaan koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran;

b) pengelolaan urusan kepegawaian; c) pengelolaan urusan keuangan;

(9)

Sekretariat Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual terdiri atas:

1. Bagian Program dan Pelaporan (Bagian Program dan Pelaporan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan koordinasi dan penyusunan rencana, program dan anggaran, serta evaluasi dan penyusunan laporan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual ) terdiri dari :

1) Subbagian Penyusunan Rencana dan Anggaran; 2) Subbagian Perundang-undangan dan Organisasi; dan 3) Subbagian Evaluasi dan Pelaporan.

2. Bagian Kepegawaian (Bagian Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan urusan kepegawaian di lingkungan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual). Terdiri dari:

1) Subbagian Umum Kepegawaian;

2) Subbagian Mutasi, Pemberhentian dan Pensiun; dan 3) Subbagian Pengembangan Pegawai

3. Bagian keuangan ( bagian keuangan mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan urusan keuangan di lingkungan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual) terdiri dari :

1) Subbagian Pelaksanaan Anggaran; 2) Subbagian Perbendaharaan ; dan 3) Subbagian akuntansi dan pelaporan

(10)

1) Subbagian Persuratan;

2) Subbagian Tata Usaha Pimpinan dan Protokol; dan 3) Subbagian Hubungan Masyarakat.

5. Bagian Umum dan Kelompok Jabatan Fungsional (Bagian Umum mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan barang milik negara, barang persediaan, rumah tangga, dan urusan perjalanan dinas di lingkungan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. ) terdiri dari:

1) Subbagian pengelolaan barang milik Negara 2) Subbagian pengelolaan barang persediaan 3) Subbagian rumah tangga

4) Sub bagian perjalanan dinas dan kendaraan operasional.

4.1.7 Subbagian Humas

Subbagian Humas Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual berada dibawah Bagian TU dan Humas, satu orang kepala subbagian dan lima orang staff, Humas memiliki fungsi Melaksanakan tugas keprotokolan, Kehumasan dan Pelayanan Informasi pada masyarakat.

1) Uraian Tugas Humas Ditjen HKI: Fungsional umum Humas mempunyai tugas :

1. Membuat rencana kerja secara periodik

2. Melaksanakan perencanaan tersebut dalam bentuk kegiatan. 3. Melaksanakan disposisi surat dari kepala Subbagian

(11)

5. Melaksanakan kegiatan pelayanan informasi Hak Kekayaan Intelektual mengenai program kerja HKI, pendaftaran HKI, penegakan hukum HKI dan kebijakan Ditjen Hki secara umum kepada masyarakat; 6. Melaksanakan program kerja yang telah dibuat subbagian humas

dalam Pusat Informasi Kekayaan Intelektual (PUSINFOKI) 7. Melaksanakan kegiatan piket di Pusinfoki;

8. Melaksanakan pembuatan media info dalam bentuk foto narasi ataupun audiovisual untuk mempublikasikan seluruh kegiatan HKI;

9. Menerima seluruh keluhan masyarakat mengenai kinerja HKI yang kurang;

10. Menindaklanjuti keluhan masyarakat tentang kinerja HKI dengan meneruskan informasi keluhan tersebut kepada pimpinan (Kasubag Humas);

11. Melaksanakan Publikasi dan mensuplai informasi terkait substansi HKI dan kegiatan HKI melaui Media Cetak, Radio, Televisi dan website bekerjasama dengan Pusat Informasi dan Komunikasi (PIK) Kementrian Hukum dan Hak Asasi manusia RI.

12. Melaksanakan pembuatan hak jawab berita negatif tentang HKI di media

13. Menjawab pertanyaan berkaitan dengan tata cara pendaftaran permohonan HKI baik secara langsung ( pengunjung pusinfoki) maupun tidak langsung (via telfon dan email);

(12)

15. Melaksanakan tugas-tugas keprotokolan untuk kegiatan-kegiatan dinas yang memerlukan kegiatan keprotokolan (MOU, pelantikan pejabat, seminar yang menghadirkan menteri dan sebagainya);

16. Melaksanakan publikasi baik melalui media internal maupun eksternal; 17. Melaksanakan pembuatan klipping berita HKI di media

18. Mengadministrasi file yang berkaitan dengan kegiatan kehumasan 19. Membuat laporan harian, mingguan dan bulanan

20. Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lain yang ditugaskan oleh atasan (mengkoordinir kegiatan pameran, menghadiri seminar dan lain-lain); 2) Bahan Kerja Humas DJHKI

1. Laporan evaluasi tahunan rencana kerja subbag Humas ,keprotokolan dan Pusinfoki

2. Surat Disposisi dari atasan

3. Surat keluhan masyarakat terhadap kinerja HKI

4. Email yang ditujukan pada alamat e mail [email protected] 5. Hasil liputan (berupa gambar,tulisan, rekaman suara,dll)

6. Koran,majalah untuk bahan kliping 3) Perangkat atau Alat Kerja

1. Peraturan terkait substansi HKI (UU Merek, UU Hak Cipta, UU Paten, UU Desain Industri, UU Rahasia Dagang, UU DTLST dan PP)

(13)

4. Buku –buku Informasi HKI (Buku Panduan HKI, Paket Informasi,Kiat sukses HKI,dll).

5. Seperangkat komputer yang terkoneksi dengan Internet 6. Printer berguna untuk mencetak hasil kerja

7. Telepon dan Fax sebagai sarana komunikasi 8. ATK

9. Kendaraan sebagai sarana transportasi 10. Kamera sebagai alat dokumentasi.

11. Handycam sebagai alat dokumentasi dan merekam kegiatan 12. Recorder sebagai alat untuk merekam.

13. TV plasma sebagai media informasi

14. CDRW sebagai alat untuk menyimpan data 15. Alat alat Display pameran

4) Hasil Kerja Humas

1. Info Pers Berita HKI yang positif baik untuk media internal maupun eksternal

2. Laporan kegiatan humas dan keprotokolan.

3. Siaran pers/Press Release untuk media internal maupun eksternal. 4. Dokumentasi (Foto,rekaman gambar, rekaman suara,tulisan,dll)

5. Tanggapan berita media khususnya yg terkait dgn menurunnya citra positif HKI di masyarakat.

(14)

7. Kebijakan Ditjen HKI tersampaikan secara seragam di segala level. 8. Kegiatan keprotokolan bejalan secara resmi,prosedural dan lancar. 9. Dokumen yang siap untuk diparaf pimpinan.

10. Laporan harian, mingguan dan bulanan 11. Kinerja yang sudah dinilai melalui DP3 12. Hasil-hasil kerja lain sesuai perintah atasan Staff Humas:

Humas Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual terdiri dari:

1) Kasubbag Humas : Ibu Eka Fridayanti, SH,.M.H 2) Bendahara Humas: Ibu Irma Mariana, SH,.M.H 3) Staf Humas :

1. Bapak Triyadhi Setyo Nugroho 2. Wahyuni

3. Dita Komala Putri 4. Priyo Herwanto. 4.1.8 Subbagian Promosi

(15)

1. Penyiapan perumusan rancangan kebijakan di bidang kerja sama dan promosi hak kekayaan intelektual.

2. Pelaksanaan pembinaan, bimbingan dan pelayanan di bidang kerja sama dan promosi hak kekayaan intelektual.

3. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang kerja sama dan promosi hak kekayaan intelektual. Sedangkan Seksi Promosi dan Sosialisasi mempunyai tugas melakukan dan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan promosi dan sosialisasi sistem hak kekayaan intelektual.

4.2 Hasil Penelitian

Hasil penelitian merupakan gambaran umum sekaligus diharapkan dapat menjawab pertanyaan penelitian ini. Dari hasil penelitian dapat terlihat upaya yang dilakukan Humas dan Subbagian Promosi Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dalam menyosialisasikan perlindungan hak kekayaan intelektual kepada masyarakat.

(16)

Intelektual kepada masyarakat periode tahun 2011. Untuk memeriksa kredibilitas dari hasil wawancara dengan narasumber kunci, maka penulis juga membandingkan hasil wawancara tersebut dengan para narasumber pembanding yang terdiri dari pihak UKM yakni Bapak Muji Hartono (merupakan peserta sosialisasi dari UKM Konveksi MB T-SHIRT), Bapak Suyitno ( peserta sosialisasi dari UKM Pangan Soto Banyumas Bang yitno).

Penulis juga mewawancarai dua siswa dari SMK dan SMA yang diwakili oleh Ristian Bima (siswa dari SMU N 70 Jakarta) dan Dea Karliany (siswi dari SMKN 4 Tangerang) mereka adalah narasumber yang telah mengikuti kegiatan sosialisasi yang diadakan oleh Ditjen HKI. Ke empat narasumber pembanding ini merupakan peserta dari kegiatan sosialisasi yang pernah diadakan oleh Ditjen HKI pada tahun 2011 untuk bidang pendidikan dan UKM.

4.2.1 Upaya humas dan subbagian promosi Ditjen HKI dalam menyosialisasikan perlindungan HKI periode tahun 2011.

Upaya Humas adalah berbagai rencana teknis dan langkah komunikasi yang akan diambil dalam kegiatan Humas. Untuk dapat bertindak secara strategis, maka kegiatan Humas harus menyatu dengan visi dan misi organisasi. Tahap-tahap yang digunakan untuk menyusun suatu upaya yang baik agar pada pelaksanaanya dapat berjalan dengan efektif sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut.

1. Fase Formative Research

(17)

untuk mengarahkan pengambilan keputusan dalam perencanaan. Dalam fase ini diperlukan tiga step, yaitu :

Step 1 Analisa Situasi Menganalisa situasi adalah langkah pertama yang dilakukan dalam mengelola sebuah kegiatan. Mengenal dengan baik situasi yang terjadi di dalam dan luar organisasi. Situasi dapat bersifat positif atau negatif. Ini dapat diidentifikasi sebagai peluang atau hambatan. Humas harus paham dengan situasi yang dihadapi organisasi agar bisa menentukan langkah-langkah untuk mengantisipasi dampak negatif dari situasi tersebut. Di Humas dan Subbagian Promosi Direktorat Jenderal HKI sendiri situasi yang sedang menjadi fokus perhatian sebagaimana dijelaskan oleh Ibu Eka Fridayanti selaku Kasubbag Humas sebagai berikut :

“Untuk humas sekarang sedang fokus pada peningkatan sosialisasi , ya..kita tahu lah, Indonesia yang merupakan negara dengan beribu-ribu pulau tentunya perlu ditingkatkan sosialisasi tentang HKI, apalagi dewasa ini banyak masyarakat yang membuka industri kreatif yang merupakan suatu kekayaan intelektual berupa, merek, paten, maupun cipta yang sangat perlu untuk mendapat perlindungan, kita juga menyadari bahwasanya angka pembajakan di Indonesia masih sangat tinggi, kita merupakan negara ke empat paling tinggi mengenai pembajakan, jadi kalau ditanya apa situasi yang menjadi fokus sekarang ini atau mungkin tahun ke tahun adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan perlindungan HKI yang diharapkan akan mampu menekan angka pembajakan.”1

Hal serupa juga disampaikan oleh Subbagian Promosi melalui wakilnya yaitu bapak Agus Dwiyanto selaku Kepala Seksi Sosialisasi Ditjen HKI, beliau mengatakan:

“ Fokus yang sedang kami hadapi sekarang ialah bagaimana kami berupaya untuk menekan angka pembajakan di Indonesia, kami berupaya untuk terus menyosialisasikan HKI kepada masyarakat, agar jangan

1

(18)

sampai Ditjen HKI di cap tidak melakukan upaya apapun terkait masalah pembajakan ini.”2

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa situasi yang sedang menjadi fokus perhatian dari Subbagian Humas maupun Subbagian Promosi Ditjen HKI adalah upaya-upaya dalam menyosialisasikan perlindungan HKI untuk menekan angka pembajakan guna menciptakan masyarakat yang sadar HKI.

Ibu Eka Fridayanti pun menambahkan tanggapanya terkait dengan kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan perlindungan HKI.

“ Sebenarnya bukan berarti mereka tidak sadar tetapi lebih karena masyarakat kita masih dipengaruhi budaya konvensional yang menggampangka bahwa suatu karya dibajak itu bukan suatu hal yang menjadi masalah besar, toh kita bisa buat lagi, di samping itu pemahaman mereka tentang fungsi lembaga HKI pun kurang, kita terus berupaya melakukan penyuluhan dan sosialisasi tetapi kalau dari mereka sendiri tidak timbul kesadaran ya itu yang susah…”3

Dari hal di atas tampak bahwa menurut Kasubbag Humas Ditjen HKI bahwa kesadaran masyarakat tentang HKI sangat kurang dikarenakan faktor dari masyarakat dan budaya konvensional masyarakat tersebut. Hal ini sama dengan pendapat dari Bapak Agus Dwiyanto selaku Seksi sosialisasi Ditjen HKI, beliau mengatakan .

“Iya, selama ini memang masyarakat kita cenderung masih kurang menyadari pentingnya perlindungan HKI, bukan karena mereka tidak tahu tetapi kebanyakan dari mereka justru tidak mau tahu, apalagi masyarakat yang tidak berkepentingan dalam hal ini masyarakat umum, menengah kebawah mereka bahkan cuek membeli barang bajakan, dengan alasan barang bajakan harganya terjangkau.”4

2

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi subbagian promosi

3

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

4

(19)

Hal ini sesuai dengan pendapat para narasumber pembanding di antaranya pelaku UKM konveksi Bapak Muji Hartono, beliau mengatakan:

“Kalau menurut saya sih masih rendah lah mba, ya buktinya pembajakan masih banyak, pemalsuan merek dsb.”5

Dari pihak UKM pangan Bapak Suyitno menambahkan

“Kalau saya sebagai masyarakat ditanya bagaimana kesadaran masyarakat terhadap HKI jawaban saya masih sangat rendah, bisa dilihat kok banyaknya produk bajakan, terutama kaset, CD, banyak banget itu yang bajakan dan masyarakat terutama menengah kebawah justru malah menikmatinya.”6

Tidak jauh berbeda pula pendapat dari siswa-siswi SMA dan SMK yang saya wawancarai, Dea Karliany siswa SMKN 4 Tangerang mengatakan:

“Menurut aku sih masih rendah ka, barang bajakan masih beredar dimana-mana dan malah masyarakat lebih menyukai membeli yang bajakan karena murah.”7

Hal serupa disampaikan oleh Ristian Bima salah seorang siswa dari SMU 70 Jakarta, menurutnya:

“Masih sangat rendah mba kalau menurutku sih , masih banyak pembajakan terutama kaset yang sering aku lihat banyak beredar di masyarakat.”8

Rendahnya kesadaran masyarakat akan perlindungan HKI ini tentu ada penyebabnya, seperti yang dikemukakan Ibu Eka Fridayanti.

“Kalau untuk ini menurut saya ada beberapa faktor salah satunya kurangnya pengetahuan masyarakat bahwa ada loh lembaga yang melindungi HKI, juga karena banyak masyarakat yang memang belum tergerak hatinya untuk menghargai karya orang lain atau malah mendapat keuntungan dari menjual barang bajakan ini.”9

5

Hasil wawancara dengan pelaku UKM konveksi bapak muji hartono

6

Hasil wawancara dengan pelaku UKM pangan bapak suyitno

7

Hasil wawancara dengan siswa SMKN 4 Tangerang, dea karliany

8

Hasil wawancara dengan siswa SMU 70 Jakarta, Ristian Bima

9

(20)

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Bapak Agus Dwiyanto. “Penyebabnya yang pasti adalah mereka menutup telinga

terhadap HKI, diantaranya bisa karena malas, juga karena perkembangan teknologi yang justru memudahkan orang untuk melakukan pelanggaran HKI, contohnyya pembajakan software.”10

Pendapat ini bertolak belakang dengan apa yang dikemukakan oleh narasumber pembanding, Bapak Muji Hartono mengatakan.

“Menurut saya sih sosialisasinya yang kurang mba, terutama ke masyarakat umumnya, belum banyak masyarakat yang tahu fungsi dari lembaga ini”11.

Demikian pula yang disampaikan Bapak Suyitno.

“Ada banyak kemungkinan sih mba diantaranya masyarakat kurang paham bahwa ada lembaga perlindungan HKI, kedua harga produk asli biasanya lebih mahal sih jadi mau gimana lagi masyarakat kita kan lebih menyukai yang murah, haha.”12

Tidak berbeda jauh dengan pendapat para pelaku UKM siswa SMKN 4 Tangerang, Dea Karliany menambahkan.

“Gimana ya mba..kalau menurutku sih belum banyak yang tahu

Ditjen HKI dan juga karena mereka lebih seneng beli yang bajakan.”13.

Hal ini dipertegas melalui jawaban dari Ristian Bima siswa SMU 70 Jakarta, menurutnya.

“Menurut aku sih Ditjen HKI kurang sosialisasinya, terus juga

masyarakat kita belum atau tidak semua mampu membeli barang yang orisinil ka, karena rata-rata mahal.”14

Menanggapi kasus pembajakan dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengahargai karya orang lain, maka masalah ini menjadi fokus perhatian

10

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi subbag promosi

11

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

12

Hasil wawancara dengan bapak suyitno

13

Hasil wawancara dengan dea karliany

14

(21)

Humas maupun Subbagian Promosi Ditjen HKI, hal ini sesuai dengan pendapat dari Ibu Eka Fridayanti yang mengatakan .

“Tentu saja ini menjadi fokus kami, karena memang tugas humas adalah menyosialisasikan HKI agar masyarakat memahami akan keberadaan HKI dan menekan terjadinya pembajakan” 15.

Bapak Agus Dwiyanto menambahkan

“Masalah ini jelas menjadi perhatian promosi maupun humas dan Ditjen HKI secara umum, merupakan tugas utama kami untuk mengurangi angka pembajakan dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan HKI.”16

Tentunya dengan kurangnya kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap karya orang lain, akan ada akibat yang ditimbulkan seperti yang dikemukakan Kasubbag Humas Ibu Eka Fridayanti.

“Ya..itu tadi yang sudah saya kataka jelas akan semakin banyak pembajakan, seperti peniruan merek, cipta, bahkan pemalsuan produk.”17. Demikian halnya dengan pendapat Bapak Agus Dwiyanto.

“Pastinya pembajakan lebih meningkat, akibatnya orang bisa malas

menciptakan karya karena pasti akan dibajak, meningkatnya jumlah kriminalitas itu pasti terutama di dunia maya ya seperti internet.” 18

Dari pernyataan tersebut kita dapat mengetahui bahwasanya kurangnya kesadaran HKI ini akan menimbulkan kerugian yang cukup besar, hal ini pun disetujui oleh ke empat narasumber pembanding yang saya wawancarai seperti bapak Muji Hartono beliau mengatakan.

“Yang jelas orang jadi malas membuat karya, toh percuma nyatanya nanti dibajak juga dan pada akhirnya produk asli mengalami kerugian besar dari segi penjualan.”19.

15

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

16

Hasil wawancara dengan seksi sosialisasi subbag promosi

17

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

18

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi subbag promosi

19

(22)

Berikutnya Bapak Suyitno menambahkan.

“Yang jelas kerugian lah, terutama untuk para pencipta suatu invensi, nantinya produk mereka banyak yang dipalsukan, rugi materi itu pasti.” 20

Tidak jauh berbeda dengan para pelaku UKM, siswa SMKN 4 Tangerang, Dea Karliany berpendapat .

“Itu mba..orang jadi malas buat karya, percuma gitu, nantinya dibajak juga”.21

Siswa SMU 70 Jakarta Ristian Bima menambahkan.

“Ya..yang aku tau pasti akan semakin banyak pembajakan mba”.22

Dalam menanggapi hal ini Humas maupun Promosi melakukan kegiatan diantaranya seperti yang diungkapkan Ibu Eka Fridayanti.

“Kami berupaya terus untuk melakukan program sosialisasi, dimana

kegiatan yang dilakukan seperti Audiensi, seminar baik seminar Merek, cipta maupun paten, Talkshow dibeberapa stasiun televisi dan masih banyak lagi.” 23.

Seperti halnya kasubbag humas, kepala seksi sosialisasi HKI bapak Agus menambahkan.

“Yaitu tadi, bahwa kami berupaya memberikan sosialisasi yang diharapkan dapat memberikan kesadaran masyarakat akan HKI, diantaranya melalui kegiatan Audiensi, talkshow, seminar, pameran dsb.

“24.

Ibu Eka Fridayanti juga menjelaskan mengenai pentingnya kegiatan ini untuk dilakukan.

20

Hasil wawancara dengan bapak suyitno

21

Hasil wawancara dengan dea karliany

22

Hasil wawancara dengan ristian bima

23

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

24

(23)

“Kegiatan ini sangat penting sekali, karena ini merupakan sarana untuk

menyampaikan kepada masyarakat akan tujuan dan fungsi dari lembaga Ditjen HKI ini.”25

Selaras dengan Kasubbag Humas, Bapak Agus Dwiyanto pun berpendapat.

“ Jelas kami merasa kegiatan ini penting, karena menyosialisasikan HKI

ke masyarakat memangs sudah merupakan tugas kami terutama memberikan penyuluhan HKI agar kesadaran HKI meningkat.”26

Rupanya pendapat ini sama dengan pendapat dari narasumber pembanding, Bapak Muji Hartono mengatakan

“ Menurut saya kegiatan ini perlu dilakukan, terutama melalui media yang tepat agar masyarakat lebih mengenal HKI, karena menurut saya selama ini Ditjen HKI kurang dikenal masyarakat.” 27

Seperti halnya Bapak Muji Hartono, Bapak Suyitno pun berpendapat. “ ya..mereka melakukan beberapa seminar/ sosialisasi kebetulan saya

pernah mengikuti seminar HKI di Bandung waktu itu dan saya pikir kegiatan seperti ini sangat penting untuk dilakukan secara berkesinambungan.”28

Begitu pula yang diungkapkan oleh Dea Karliany, dia mengatakan.

“ Kegiatan sosialisasi perlu dilakukan mba, terutama buat pelajar karena para pelajar ini sebagai generasi bangsa yang nantinya harus mampu menciptakan suatu penemuan-penemuan sudah seharussnya paha HKI sejak dini.”29

Hal ini didukung pula oleh Ristian Bima siswa SMUN 70 yang mengatakan.

“ Kegiatan sosialisasi ini perlu sekali mba, agar semakin banyak masyarakat yang sadar HKI”.30

25

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

26

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

27

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

28

Hasil wawancara dengan bapak suyitno

29

Hasil wawancara dengan dea karliany

30

(24)

Sebelum membuat kegiatan untuk menyosialisasikan perlindungan HKI kepada masyarakat, Humas dan subbagian promosi melakukan riset terlebih dahulu hal ini dikemukakan oleh Ibu Eka Fridayanti .

“ Riset dilakukan, tetapi tidak terlalu terstruktu, kami hanya melihat pemberitaan dari media mengenai apa yang sedang booming dalam masyarakat terkait kasus yang berhubungan dengan HKI, seperti pada tahun 2011 kami lebih focus pada sosialisasi pelajar dan UKM karena hasil pengamatan menemukan bahwa banyaknya kasus pemalsuan merek, Bajakan yang terus meningkat tetapi juga banyak penemuan-penemuan yang dihaliskan oleh para pelajar kususnya anak-anak SMK/SMA seperti penemuan software pembelajaran, dsb. Karena alasan inilah makan pada tahun 2011 kamu memfokuskan sosialisasi kepada UKM dan pelajar.”31.

Hal ini sama dengan pendapat Bapak Agus Dwiyanto

“ Kalau untuk riset yang mendalam kami belum melakukan, selama ini

kami hanya mengambil dari data-data yang diperoleh dari media , waktu tahun 2011 kami lebih focus sosialsasi pada UKM dan pelajar karena pada tahun tersebut banyak kasus yang berhubungan dengan pelanggaran merek.”32

Dari hasil analisis dan pengamatan yang dilakukan oleh Humas, dan promosi terlihat bahwa kasus pemalsuan merek, pembajakan masih menjadi permasalahan utama disamping banyaknya penemuan yang dihasilkan oleh para pelajar yang harus diberikan perrlindungan, menjadi salah satu faktor di adakanya kegiatan untuk mengadakan aktivitas sosialisasi.

b. Step 2 Analisa Organisasi Langkah kedua dalam strategi perencanaan adalah proses yang melibatkan audit public relations, yang artinya menganalisa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki organisasi yang biasa di sebut analisa SWOT serta pengamatan terhadap lingkungan internal (misi, kinerja, dan sumber daya manusia), melibatkan persepsi publik terhadap organisasi, dan lingkungan

31

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

32

(25)

eksternal (kompetitor, musuh, pendukung). Adapun visi dan misi Direktorat Jenderal Hak Kekayaan intelektual adalah sebagai berikut :

Visi : terciptanya sistem Hak kekayaan intelektual yang efektif dan efisien menopang pembangunan nasional.

Misi : mengelola sistem hak kekayaan intelektual dengan cara:

1. Memberikan perlindungan, penghargaan dan pengakuan atas kreatifitas.

2. Mempromosikan teknologi, investasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan pertumbuhan ekonomi

3. Merangsang pertambahan karya dan budaya yang inovatif dan inventif. Setelah diketahui visi dan misi Direktorat jenderal hak kekayaan intelektual, selanjutnya Ibu Eka Fridayanti menegaskan bahwasanya upaya Subbagian Humas untuk melakukan sosialisasi ini sudah sesuai dengan visi misi tersebut, beliau mengatakan .

“Kami anggap upaya sosialisasi ini sudah sesuai dengan visi dan misi Ditjen Hak Kekayaan Intelektual, dikatakan sempurna tentunya belum tetapi kami selalu berupaya mengarah kepada penyelarasan.”33.

Selaras dengan Ibu Eka Fridayanti Kepala Seksi Sosialisasi Ditjen HKI Bapak Agus Dwiyanto menegaskan.

“ Upaya sosialisasi ini jelas sudah sesuai dengan visi dan misi Ditjen

HKI mba, karena setiap kegiatan selalu kami selaraskan dengan visi dan misi dari ditjen HKI itu sendiri.”34

33

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

34

(26)

Selain visi dan misi perusahaan, kinerja juga berpengaruh dalam membuat suatu kegiatan, Ibu Eka Fidayanti mengemukakan mengenai kinerja humas sebelum dan pada saat sosialisasi berlangsung.

“ Mengenai kinerja jelas merupakan factor yang sangat penting,

biasanya sebelum kegiatan diadakan humas selalu prepare kelengkapan alat dan bahan untuk penyelenggaraan acara, penentuan narasumber, follow up peserta yang bisa hadir, kalau pada saat sosialisasi berlangsung misalnya seminar maupun roadshow ke SMK atau SMA humas biasanya menjadi panitia ya, kadang juga berperan sebagai narasumber, memberikan presentasi dan meliput, tetapi kalau untuk UKM memngingat event cukup besar humas biasanya melibatkan panitia lain, biasanya si koordinasi dengan promosi, dan disini humas lebih banyak berperan dalam melakukan tugas keprotokoleran baik MC, Moderator, Notulen dan juga meliput.”35

Hal ini semakin di pertegas dengan jawaban dari Bapak Agus Dwiyanto, beliau mengatkaan mengenai kinerja dari subbagian promosi Ditjen HKI

“ Kalau promosi pada saat dan sebelum kegiatan sosialisasi dilakukan

diantaranya, menyiapkan materi sosialisasi, apabila sosialisasi berupa seminar kami menyiapkan materi presentasi, newsrelease, sambutan dirjen, dan perlengkapan publikasi seperti banner, poster, leaflet, brosur dsb. Yang selanjutnya pada saat sosialisasi berlangsungbiasanya kami melakukan fungsi teknis diantaranya membagikan poster, brosur, liputan dan bekerjasama dengan humas untuk melayani konsultasi HKI.”36

Untuk selanjutnya adalah kualitas SDM yang dimiliki oleh Ditjen HKI terutama Subbagian Humas dan Promosi sebagai penyelenggara kegiatan sosialisasi, menurut ibu Eka Fridayanti .

“ Kalau untuk SDM kami akui bahwa humas masih kurang, mengingat jumlah staff humas pun hanya 6 orang, sementara dari tiga orang tersebutlah yang hanya berasal dari backgraound pendidikan humas.” 37. Bapak Agus Dwiyanto menjelaskan.

35

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

36

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

37

(27)

“ Kalau untuk promosi SDM bisa dibilang cukuplah tapi ya itu tadi

mengingat promosi pekerjaanya begitu banyak, sebenarnya SDM perlu penambahan, nah karena kurangnya SDM ini kami selalu bekerja sama dengan humas dalam setiap event penyelenggaraan sosialisasi.” 38

Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa tingkat SDM di Ditjen HKI terutama Humas dan Promosi masih rendah namun ada suatu bentuk koordinasi Humas dan Promosi disetiap event untuk menambah SDM agar pelaksanaan sosialisasi dapat berjalan denan lancar. Kegiatan menyosialisasikan perlindungan hak kekayaan intelektual kepada masyarakat merupakan hal yang tidak mudah, dibutuhkan waktu dan upaya yang berkesinambungan agar tujuan utama dari kegiatan ini dapat terwujud.

Untuk memaksimalkan upaya Humas dan Subbagian Promosi tersebut, maka Kasubbag Humas juga memetakan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada di Humas sendiri.

“ Kalau untuk kekuatan dari humas sendiri disini kamu memiliki channel yang cukup banyak dengan media yang kami harap nantinya dapat memudahkan dalam hal publikasi, disamping itu ditjen hki merupakan lembaga satu-satunya yang mempunyai tugas memberikan perlindungan hki, ini sudah dipastikan bahwa HKI akan dicari oleh masyarakat, namun humas juga memiliki kelemahan diantaranya hubungan humas dengan promosi yang seharusnya kami berada pada divisi yang sama agar lebih

memudahkan dalam pelaksanaan kegiatan yang bertujuan

menyosialisasikan hki, namun karena perbedaan divisi ini terkadang menimbulkan permasalahan dalam perijinan kegiatan dan diskripsi kerja, kalau peluang yang dimanfaatkan humas dalam menyukseskan program ini tentunya antusias masyarakat, dan meningkatnya kreatifitas masyarakat untuk membuat industri kecil (UKM) ini peluang yang sangat baik untuk humas memperkenalkan Ditjen HKI kepada mereka, tetapi ancaman pun juga dating dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan adanya sosialisasi ini yaitu para pembajak yang semakin gencar menjual barang- barang bajakan seperti kaset, produk-produk palsu dsb.”39

38

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

39

(28)

Dengan pemetaaan tersebut di harapkan Humas bisa mengantisipasi aspek-aspek yang masih lemah terutama yang ada di dalam Humas sendiri agar kegiatan sosialisasi ini berjalan dengan maksimal. Selaras dengan Humas subbagian Promosi pun memetakan mengenai kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan yang dihadapi dalam menyosialisasikan program perlindungan HKI ini

“Kekuatan yang dimiliki promosi ya mba?, yang pasti Ditjen HKI ini merupakan satu-satunya lembaga yang mengurusi perlindungan HKI, ini sebagai kekuatan utama karena mau tidak mau masyarakat yang butuh untuk mendaftarkan kreatifitas mereka entah itu ciptaan, merek, paten dsb akan membutuhkan lembaga ini, disamping itu dari segi kualitas SDM kami yah dapat dikatakan cukuplah untuk membuat program sosialisasi ini, namun kami juga memiliki kelemahan seperti departemen-departemen pemerintah pada umumnya mba, anggaran dana untuk sosialisasi ini dapat dikatakan masih minim lah, belum lagi perijinanya yang membutuhkan waktu lama ini jelas menghambat setiap pelakasanaan sosialisasi, kalau peluang bisa kita lihat bahwa makin kesini masyarakat kita makin kreatif banyak yang mampu menciptakan penemuan dari anak SMK atau SMA, mahasiswa juga para pelaku UKM ini sangat baik untuk Ditjen HKI memberikan pemahaman mereka tentang fungsi lembaga kami agar mereka mendaftarkan penemuan maupun merek, cipta, dan paten mereka, tetapi jangan dilupakan bahwa ancaman yang kami hadapi pun tidak mudah, yang utama para pembajak, mereka tidak tinggal diam, semakin kita gencar bersosialisasi akan semakin gencar pula mereka menciptakan produk bajakanya..hahah..”.40

Setelah memetakan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada di humas maupun promosi ditjen hki selanjunya mengenai persepsi public terhadapt ditjen HKI. Dalam hal ini Ibu Eka Fridayanti mengatakan.

“Kalau persepsi public ada negative dan juga positif, negatif dikarenakan mereka masih malas untuk birokrasi dari pendaftaran hki, kebanyakan dari mereka mengatakan masih susah, sehingga mereka malas untuk mendaftrkan ciptaan, merek maupun paten yang mereka miliki, semetara untuk persepsi positif dewasa ini masyarakat sudah banyak kok yang menyadari bahwa hki perlu dilindungi melihat jangkauan kedepanya bahwa perlindungan hki akan membawa keuntungan. “41.

40

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

41

(29)

Hal serupa dikemukakan oleh Bapak Agus Dwiyanto.

“Persepsi public terhadap hki saya kayakan baik tetapi begini, jujur saja masyarakat belum keseluruhan menyadari pentingnya perlindungan hki, mereka cenderung kurang peduli terlebih lagi masyarakat umum yang tidak memiliki ukm maupun suatu ciptaan.” 42.

Berikut adalah pernyataan dari Bapak Muji Hartono selaku pemilik UKM konveksi MB T_shirt, menurut beliau .

“Saya si sebenarnya belum mengerti benar mbak untuk fungsi ditjen HKI secara keseluruhan, yang saya tau ya ditjen HKI tempat ngedaftarin merek gitu aja, apalagi masyarakat umum terutama menengah kebawah patsi gak kenal, yah..sosialisasinya kurang lah mba.” 43

Bapak Suyitno selaku pemilik UKM Soto Banyumas Mas Yitno juga mengatakan tentang pemahamanya seputar Ditjen HKI

“Menurut saya si masih banyak yang belum tau ditjen hki itu lembaga

apa lah mba, gak familiar apalagi kalau buat masyarakat bawah, gak bakalan ngerti mereka, saya aja tau hanya kulitnya aja bahwa ditjen hki adalah lembaga perlindungan kekayaan intelektual seperti cipta, merek, paten gitu doank.”44

Begitu pula dengan Dea Karliany siswi SMKN 4 Tangerang,

“Persepsinya si mungkin baik, tapi banyak yang belum tau mba ditje HKI

itu fungsinya apa, aku aja kalau gak ada sosialisasi hki di sekolahku gak ngerti lembaga itu.”45

Hal serupa dikatakan oleh Ristian Bima siswa SMU 70 Jakarta

“ Kalau menurtutku si banyak yang belum paham ditjen HKI mba,

kecuali ya yang pernah ikut sosialisasi.” 46

Pernyataan dari empat narasumber pembanding menunjukan bahwa pernyataan yang disampaikan oleh Ibu Eka Fridayanti dan Bapak Agus Dwiyanto

42

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

43

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

44

Hasil wawancara dengan bapak suyitno

45

Hasil wawancara dengan dea karliany

46

(30)

tentang sejauh mana publik terhadap Ditjen HKI tidak sama dengan persepsi yang berkembang di masyarakat. Masyarakat yang mengenal Ditjen HKI adalah masyarakat yang mengikuti sosialisasi secara langsung dan tentunya yang berkepentingan dengan bidang cipta, merek, dan paten sedangkan untuk masyarakat umum hanya mengetahui Ditjen HKI sebatas nama instansinya saja.

Mereka belum mengetahui bagaimana fungsi dan tugas Ditjen HKI, Hal ini harus diperhatikan oleh Humas dan subbagian promosi Ditjen HKI, terutama dalam mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat luas, karena masyarakat yang belum mengenal Ditjen HKI akan lebih sulit untuk menerima kegiatan yang dilakukan Humas mengingat informasi mereka tentang Ditjen HKI sendiri masih minim.

Mengenal Ditjen HKI belum berarti masyarakat mengerti secara keseluruhan tugas dan tujuan dari lembaga ini, namun dari persepsi masyarakat tentang Ditjen HKI yang masih rendah ini baik humas maupun subbagian promosi menginginkan efek yang bisa diambil, seperti yang disampaikan Ibu Eka Fridayanti

“ Kalau persepsi public masih rendah tentunya efeknya buat kami adalah untuk terus mengupayakan program sosialisasi yang lebih baik dan lebih intens lagi agar mereka mulai memahami ditjen HKI.”47

Selaras dengan Kasubbag Humas, Bapak Agus Dwiyanto mengatakan

“ Kami jelas sekali mengharapkan efek dari persepsi ini adalah agar masyarakat mencoba untuk mencari tahu lebih tentang HKI, dan mulai aware terhadap perlindungan hki terutama menghargai karya orang lain, itu yang paling penting.”48

47

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

48

(31)

Setelah mengetahui persepsi masyarakat tentang Ditjen HKI kemudian akan kita ketahui mengenai lembaga atau organisasi yang terlibat atau sebagai pendukung dalam melakukan sosialisasi tersebut, menurut Ibu Eka Fridayanti dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi Humas berkoordinasi dengan Promosi namun kadang bekerja sama dengan lembaga lain namun disesuaikan dengan tema dari sosialisasinya

“Lembaga lain ada, tapi itu disesuaikan dengan tema sosialisasi kita,

kalau sosialisasi dengan para pelaku UKM kami biasa bekerja sama dengan Kemendag, Karena memang menyangkut masalah industri, tetapi kalau untuk sosialisasi yang hanya roadshow ke sekolah-sekolah paling kami hanya koordinasi dengan bagian promosi, bisa saja melibatkan dinas pendidikan tapi tidak sering.”49.

Pernyataan ini sama dengan yang dikatakan oleh seksi sosialisasi Bapak Agus Dwiyanto

”Kalau sosialisasi dari HKI sendiri promosi biasanya bekerjasama dengan humas, tetapi tidak menutup kemungkinan lemba lan seperti kemendag maupun dinas pendidikan, pariwisata dan budaya di ikut sertakan sesuai dengan tema sosialisasi tentunya.”50

Pernyataan ini dibenarkan dengan pendapat dari Bapak Muji Hartono pemilik ukm konveksi MB T_shirt

“ sepertinya si ada mba waktu itu kan saya ikut sosialisasi yang di JCC,

kalau tidak salah ada lembaga dari Kementerian perdagangan yang bekerja sama bahkan salah seorang perwakilanya menjadi narasumber, tapi saya kurang paham siapa.”51.

Hal serupa dikemukakan oleh Bapak Suyitno

“Saya sih taunya dari Kemendag soalnya waktu itu saya ikut seminar pelaku UKM yang dibandung dan ada perwakilan dari Kemendag.”52

49

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

50

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

51

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

52

(32)

Tetapi hal ini tidak sependapat dengan siswa dan siswi baik SMK maupun SMA seperti yang dikatakan oleh Dea Karliany

“Waktu sosialisasi di SMK saya si Cuma humas sama promosi aja mba, gak ada yang lain.”53

Dan selaras dengan jawaban Dea, Ristian Bima mengatakan

“Gak ada sih mba, Cuma enam orang doank yang katanya dari humas, sama bawa mobil ip wheels doank.”54

Dengan pernyataan ini nampak jelas bahwa apa yang dikemukakan oleh Humas dan Promosi Ditjen HKI memang benar bahwa kerjasama dengan lembaga lain disesuaikan dengan tema sosialisasi.

Ibu Eka Fridayanti juga menjelaskan mengenai hubungan Ditjen HKI dengan lembaga tersebut.

“Hubungan kami sejauh ini baik dengan Kemendag, Dinas pendidikan,

Pemda maupun dengan promosi yang masih satu lembaga hanya beda divisi saja sangat baik, kami selalu mengupayakan untuk memberikan penyuluhan ataupun kegiatan sosialisasi guna menciptakan masyarakat yang sadar HKI.”55

Hal ini dibenarkan oleh Bapak Agus Dwiyanto

“ Hubunganya pasti baik mba, sejauh ini yang terpenting adalah kami saling kerjasama dalam menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat.”56

Kemudian Ibu Eka Fridayanti menambahkan pula mengenai pembagian kerja lembaga terkait dengan Ditjen HKI kususnya humas dan promosi,

“Biasanya kalau Kemendag maupun Dinas Pendidikan diikut sertakan, mereka hanya mengirimkan wakilnya entah itu Menteri, Pak Dirjen ataupun Pak Sesdit untuk menjadi narasumber bersama dengan Pak Dirjen maupun pak Sesdit dari Ditjen HKI sendiri.”57

53

Hasil wawancara dengan dea karliany

54

Hasil wawancara dengan ristian bima

55

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

56

Hasil wawancara dengan kepala seksi promosi

57

(33)

Hal tersebut selaras dengan apa yang dikemukakan Bapak Agus Dwiyanto “ Biasanya hanya perwakilan saja untuk menjadi narasumber”58

Dan pendapat ini semakin diperkuat dengan jawaban dari Bapak Muji Hartono

“ Waktu sosialisasi di JCC bapak menteri perdagangan menjadi narasumber.”59 Namun tidak dengan ketiga narasumber pembanding yang menjawab kurang tahu.

c. Step 3 Analisis Publik Dalam langkah ini, dapat dilakukan dengan mengenal publik. Baik publik internal (karyawan, keluarga karyawan, manajemen, dan investor) maupun publik eksternal (media, pemerintah, konsumen, masyarakat dan LSM). Penting bagi suatu organisasi mengenali dan membatasi khalayak.

Humas juga memetakan publik internal dan eksternal Kementerian Perdagangan, seperti yang dijelaskan oleh Ibu Eka Fridayanti :

“Untuk publik internal Ditjen HKI sendiri jelas karyawan, keluarga karyawan, dan lembaga yang masih satu naungan di Ditjen HKI, untuk eksternal yang pasti ada masyarakat umum, LSM, pelaku UKM, para pelajar atau lebih tepatnya yang menyangkut dinas pendidikan, lembaga lain yang ada kaitanya dengan HKI seperti Aparat Penegak Hukum, Kementerian Perdagangan dan sebagainya.” 60

Pernyataan ini dipertegas dengan apa yang dikemukakan oleh Bapak Agus Dwiyanto

”Kalau public internal HKI itu yang pasti melibatkan karyawan, keluarga karyawan, petinggi Ditjen HKI termasuk didalamnya Dirjen, Kementerian Hukum dan Ham, dan untuk publik eksternalnya meliputi masyarakat, pelajar, pelaku UKM, LSM, dan lembaga terkait.” 61

58

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

59

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

60

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

61

(34)

Dalam menyosialisasikan perlindungan hak kekayaan intelektual kepada masyarakat pada tahun 2011 sasaran yang dituju atau publik yang menjadi sasaran utama , lebih lanjut Ibu Eka fridayanti menjelaskan

“ Kalau untuk tahun 2011 publik sasaran utama si jelas masyarakat

umum secara keseluruhan mengingat HKI menyangkut kepentingan umum, namun tentunya kita tidak dapat menjangkau semuanya untuk itu berdasarkan survey yang kita peroleh pada tahun tersebut kita lebih focus memberikan sosialisasi kepada UKM dan pelajar.”62

Tidak berbeda jauh dengan pendapat dari Humas Ditjen HKI, Bapak Agus Dwiyanto menambahkan

“ iya begitu kompleksnya public HKI tentunya tidak serta merta dapat

kami berikan sosialisasi, pada tahun 2011 kami lebih memfokuskan pada UKM dan pelajar karena memang pada tahun tersebut terjadi beberapa kasus yang berhubungan dengan pelanggaran merek juga banyaknya penemuan yang dapat dihasilkan oleh bidang pendidikan kusunya remaja SMA/SMK.”63

Dari pernyataan di atas, terlihat bahwa Humas dan Subbagian Promosi ingin menjadikan UKM dan pelajar kususnya Siswa SMA/SMK sebagai target utama. Berikut adalah tanggapan bapak Muji Hartono selaku pemilik UKM MB T-shirt .

“ Ya pasti UKM mba karena sangat berhubungan degan merek, cipta juga paten.64”

Selebihnya bapak Suyitno menambahkan

“Kalau menurut saya si semua masyarakat umum adalah sasaran

sosialisasi ini, tapi memang UKM sangat berhubungan sekali dengan pendaftaran HKI yang meliputi hak cipta, merek, dan paten.” 65

62

Hasil wawancara denga kasubbag humas

63

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

64

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

65

(35)

Saudara Dea Karliany salah satu siswa yang pernah mengikuti sosialisasi HKI juga mengatakan

“Jujur sih mba aku kurang tau kalau publiknya siapa aja, tapi kalau hki mengadakan sosialisasi ke sekolah-sekolah terutama SMA/SMK menurut aku tepat karena banyak juga anak SMA sekarang yang mampu menciptakan suatu penemuan dan itu perlu mendapat penyuluhan untuk cara-cara mendaftarkan HKI ke Ditjen HKI.”66

Pernyataan tersebut semakin dipertegas dengan pendapat Ristian Bima “Setau saya sih sasaran utama bisa ke pelajar juga, karena pastinya

sebagai generasi penerus pelajar perlu mendapat pemahaman tentang HKI itu sendiri.” 67

Untuk memudahkan dalam penyelenggaraan sosialisasi HKI maka Humas dan Subbagian Promosi harus memiliki hubungan yang baik dengan publik sasaran, berikut ini penjelasan humas terkait hubunganya dengan publik sasaran HKI

“Hubungan kami sangat baik, terutama dengan ukm dan pelajar dalam

hal ini kami bekerjasama dengan sekolah-sekolah ya, mereka welcome dengan kegiatan sosialisasi kita dan antusias mengikuti jalanya sosialisasi juga mendukung program ini.” 68

Pernyataan yang sama juga dilontarkan oleh Bapak Agus Dwiyanto

“ hubunganya cukup baik, selama ini banyak juga pelaku UKM dan dari sekolah-sekolah yang mengadakan kunjungan ke HKI.” 69

Menanggapi hal tersebut, berikut pendapat dari Bapak Muji Hartono “ Ya saya katakana hubunganya baik lah, kami juga mendukung program

ini dan malah berharap program sosialisasi seperti ini terus dilakukan.”70

Dari pihak pelajar Ristian Bima juga menegaskan

66

Hasil wawancara dengan dea karliany

67

Hasil wawancara dengan ristian bima

68

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

69

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

70

(36)

“ hubunganya dengan lembaga ditjen HKI pastinya baik mba, program

ini bagus kok, dan sangat bermanfaat untuk pelajar.”71

Dari beberapa pernyataan tentang hubungan antara Humas dan subbagian Promosi Ditjen HKI dengan public sasaranya terlihat bahwa kedua belah pihak mengatakan bahwa hubungan mereka baik. Dengan terciptanya hubungan baik antara Humas dan Subbagian Promosi dengan publik sasaranya diharapkan akan mempermudah usaha Humas dan Subbagian Promosi untuk menyosialisasikan perlindungan HKI kepada masyarakat.

2. Fase Strategi

Adalah perencanaan keseluruhan organisasi. Meliputi bagaimana organisasi menentukan apa yang ingin dicapai oleh organisasi dan bagaimana keinginan tersebut akan dicapai. Fase ini terdiri dari beberapa tahap yaitu:

a. Step 4 Menentukan Sasaran dan Tujuan Langkah ini membantu Humas dan Subbagian Promosi membangun tujuan yang jelas, spesifik dan terukur dalam menentukan apa yang ingin dicapai oleh organisasi, meliputi Awarnes,

Acceptance, dan Action. Ibu Eka Fridayanti menjelaskan sasaran dalam kegiatan

sosialisasi kepada masyarakat ini sebagai berikut:

“ Kalau dibilang meliputi awarnes, acceptance, dan action saya katakn betul, memang HKI mengadakan kegiatan sosialisasi ini tujuanya agar masyakat sadar akan pentingnya pelindungan HKI, kemudian mereka menerima keberadaan lembaga ini, dan pada akhirnya untuk pelaku UKM, seniman, dan masyarakat yang memiliki HKI mau untuk mendftarkan karya mereka namun yang tidak punya pun diharapkan akan mau untuk menghargai karya orang lain dengan cara tidak membeli barang bajakan maupun melakukan pemalsuan.”72

71

Hasil wawancara dengan ristian bima

72

(37)

Pernyataan ini selaras dengan apa yang dikemukakan Bapak Agus Dwiyanto

”Iya, kalau dikaitkan dengan teori memang yang kami harapkan demikian,

tetapi terlepas dari semua itu meskipuan masyarakat tidak mempunyai karya mereka mau menyadari untuk tidak melakukan maupun mendukung pembajakan.”73

Antara sasaran, tujuan dan posisi yang ingin dicapai oleh Direktorat jenderal hak kekayaan intelektual terlihat adanya kesinambungan yang akan membantu Humas dan Promosi dalam menentukan kegiatan yang efektif untuk mencapai sasaran, tujuan dan posisi tersebut.

Sasaran yang ingin dicapai ini ditentukan oleh rapa pimpinan tertinggi dari ditjen HKI itu sendiri seperti yang diungkapkan oleh Ibu Eka Fridayanti

“Untuk yang menentukan sasaranya itu biasanya pimpinan, melalui rapat pimpinan HKI, kemudian baru disampaikan kepada penyelenggara sosialisasi tersebut.” 74

Pernytaaan ini sama seperti jawaban dari Bapak Agus Dwiyanto

“Untuk yang menentukan si biasanya pimpinan ya, yang meliputi para

dirjen, dari mulai hak cipta, merek, paten dsb.”75

b. Step 5 Formulasi Aksi dan Respon Strategi

Dalam tahap ini sangat baik mempertimbangkan langkah yang akan diambil di dalam situasi tertentu. Menentukan apa yang mungkin dilakukan dalam berbagai situasi, menentukan berbagai opsi mengenai apa yang dapat dikatakan oleh organisasi kepada publiknya. Aksi komunikasi di sini dapat bersifat proaktif atau reaktif tergantung situasi yang diperlukan.

73

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

74

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

75

(38)

Pada tahap ini langkah yang dilakukan oleh Humas dan Subbagian Promosi adalah mentukan kegiatan-kegaitan apa yang tepat untuk menyosialisasikan perlindungan HKI kepada masyarakat terutama yang dilakukan pada tahun 2011. Seperti yang dikemukakan oleh Ibu Eka Fridayanti

“Untuk kegiatan yang humas lakukan pada tahun 2011 meliputi seminar dengan para pelaku UKM dalam satu tahun ada sekita empat kali lebih seminar ini, kemudian audiensi yang rutin kami lakukan bekerjasama dengan pemda, kemudian roadshow ke SMA/SMK di Tangerang dan Jakarta, terus ada pameran, bazaar dan masih banyak lagi, talkshow juga kami adakan.”76

Bapak Agus Dwiyanto juga menyatakan hal yang sama

“Kami mengadakan seminar baik untuk UKM, pelajar yang bentuknya

roadshow menggunakan mobil IP Wheels, workshop dan pelatihan ilmiah, juga talkshow di beberapa media.”77

Dengan pernyataan yang disampaikan oleh Humas dan Promosi dapat kita ketahui bahwa pada tahun 2011 Humas dan Promosi ditjen HKI benar melakukan program sosialisasi, hal ini semakin di perjelas dengan jawaban dari Bapak Muji Hartono

“ Waktu itu si saya pernah ikut seminar tentang merek di JCC, kalau tidak salah tahun 2011 bulan Juli tapi tanggalnya saya lupa disitu ada pameran HKI juga, dan konsultasi tentang merek, paten, cipta dsb.”78

Selaras dengan bapak Muji Hartono, Bapak Suyitno menambahkan

“Sosialisasi ada, seminar merek di Kanwil Bandung saya pernah ikut, saya juga pernah lihat talkshow HKI di media Metro TV, pameran dan konsultasi HKI juga ada pada saat seminar.”79

Dea Karliany siswi SMKN 4 Tangerang juga mengatakan

76

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

77

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

78

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

79

(39)

“ Pernah ada sih mba sosialisasi ke SMK saya waktu itu bulan September 2011, disitu juga ada mobil IP On wheels dan konsultasi HKI.”80

Demikian halnya yang diungkapkan oleh Ristian Bima “Ada sih road show gitu ke SMA saya bulan april 2011 .”81

Dari penjelasan diatas terlihat bahwa Humas melakukan berbagai kegiatan yang bisa mendukung tercapainya usaha untuk menyosialisasikan HKI kepada masyarakat. Ibu Eka Fridayanti juga menjelaskan dari berbagai kegiatan tersebut ada kegiatan yang ternasuk kedalam kegiatan yang proaktif dan reaktif. Berikut adalah penjelasannya:

“Kegiatan yang proaktif seperti talkshow yang kami lakukan dibeberapa media seperti Metro TV, TVRI, TV one, kemudian seminar dan dialog yang melibatkan pelaku UKM dan pelajar juga. Untuk kegiatan yang reaktif kita mencoba untuk berpartisipasi dalam mengikuti pameran maupun bazaar dari

pihak luar seperti kemendag maupun departemen lain yang

menyelenggarakan event.”82

Kegiatan yang proaktif adalah kegiatan untuk menyosialisasikan HKI kepada masyarakat yang berasal dari Ditjen HKI sendiri. Sedangkan kegiatan yang reaktif adalah kegiatan untuk merespon tanggapan dari luar.

Respon masyarakat terhadap kegiatan sosialisasi Ditjen HKI ini juga harus di perhatikan, menurut Ibu Eka Fridayanti sejauh ini respon masyarakat, positif dan mendukung.

“ Respon cukup positif, artinya bahwa masyarakat kita sudah mulai

mendukung kegiatan sosialisasi ini, bahkan harapan mereka agar kedepan kegiatan ini terus dilakukan secara berkesinambungan.”83

Bapak Agus Dwiyanto juga mengatakan hal yang sama

80

Hasil wawancara dengan dea karliany

81

Hasil wawancara dengan ristian bima

82

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

83

(40)

“ Respon masyarakat sangat baik, mereka mendukung program sosialisasi ini.”84

Jadi dapat kita ketahui bahwa masyarakat sudah mulai merasakan pentingnya HKI, seperti yang dikemukakan oleh ke empat narasumber pembanding, berikut hasil wawancara dari Bapak Muji Hartono

“Ya..pastinya kalau kegiatan ini bermanfaat untuk masyarakat pasti mereka mendukung lah, saya juga sangat mendukung apalagi mengingat dampak kedepanya kan.” 85

Hal yang sama disampaikan oleh Bapak Suyitno

“ Pasti responya positif, mendukung lah apalagi perlindungan HKI ini banyak memberikan manfaat kedepanya.” 86

Tidak jauh berbeda dengan kedua narasumber dari pelaku UKM, Dea Karliany pun berpendapat sama

“ Dukunglah mba, kegiatan ini bagus, terutama untuk pelajar ya, biar mereka dan saya juga punya wawasan yang lebih luas.”87

Ristian Bima juga mengatakan

“Pasti dukung, karena memang sudah seharusnya juga masyarakat kenal

HKI kan, biar gak ada pembajakan lagi, jadi dukung lah.”88

Dengan dukungan positif yang didapat ini diharapkan dapat memacu Humas dan Promosi Ditjen HKI untuk terus mengadakan kegiatan ini, ada respon positif juga ada respon negative tetapi berdasarkan hasil wawancara dengan dua narasumber utama dan empat nara sumber pembanding mereka semua menjawab sejauh ini tidak ada respon negatif yang terlontar dari masyarakat.

c. Step 6 Menggunakan Komunikasi Efektif

84

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

85

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

86

Hasil wawancara dengan bapak suyitno

87

Hasil wawancara dengan dea karliany

88

(41)

Setelah mengetahui siapa publik sasaran dan rencana kegiatan yang akan dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah mempertimbangkan beberapa elemen komunikasi yang efektif untuk berbicara dengan publiknya. Untuk berkomunikasi dengan khalayak perlu ditentukan siapa yang akan menyampaikan pesan, tampilan pesan seperti apa yang ingin disampaikan, bagaimana struktur pesan yang akan disampaikan, kalimat yang akan digunakan dengan simbol–simbol yang seperti apa.

Pesan yang ingin disampaikan melalui kegiatan sosialisasi ini menurut Ibu Eka Fridayanti adalah

“Yang pasti pesanya agar masyarakat memahami peranan HKI dan timbul kesadaran untuk melindungi kekayaan intelektualnya baik cipta, merek, paten, dengan mengusung slogan Nikmati Ciptaanya, Harga penciptanya, Lindungi HKI-nya, slogan ini selain digunakan pada saat seminar juga tertera di kalender HKI, leaflet, majalah, dan buku panduan.”89

Demikian halnya dengan pernyataan Bapak Agus Dwiyanto

“Kami gunakan pesan berupa slogan yang menurut kami mudah dimengerti yaitu Nimkati ciptaanya, hargai penciptanya, lindungi HKI-nya.” 90

Menyangkut penggunaan slogan pesan ini dapat dikatakan mudah dipahami oleh masyarakat, berikut tanggapan dari bapak Muji Hartono

“Yang tiga kalimat itu kan mba yang ada lindungi HKI-nya, ya paham

lah kalimatnya simple dan enak dibaca, saya rasa masyarakat mudah mengerti.”91

Selaras dengan bapak muji, bapak suyitno juga berpendapat

“ Paham lah, kalimatnya bagus, tulisanya jelas, mudah dimengerti.”92

89

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

90

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

91

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

92

(42)

Demikian pula denga pendapat dari Dea Karliany

“ Kalau buat aku si kan waktu itu disampaikan juga yang slogan HKI, kalimatnya mudah dipahami lah.”93

Selaras dengan dea, Ristian Bima mengatakan

“ Kalau aku si paham, gak tau yang lain. Heheh.”94

3. Fase Taktik

Adalah fase integrasi dari taktik komunikasi yang digunakan untuk mencapai tujuan kegiatan.

a) Step 7 pemilihan taktik komunikasi

Ada empat kategori dalam pemilihan pendekatan berkomunikasi antara lain: 1. Taktik Interpersonal Communication, adalah melibatkan kesempatan

tatap muka, memiliki potensi untuk mempengaruhi untuk tujuan informasi, edukasi, persuasi atau dialog. Dalam program ini taktik interpersonal communicationnya adalah :

a. Seminar

Berikut adalah penjelasan Ibu Eka Fridayanti tentang kegiatan yang dlakukan oleh Ditjen HKI.

“ Seminar kami ada, biasanya kami bekerjasama dengan kemendag dan asosiasi UKM gitu untuk mengadakan seminar dengan pelaku UKM mengenai HKI, tahun 2011 kami mengadakan seminar tentang penegakan merek pada bulan September kemarin di Kanwil bandung, ada juga di JCC bulan januari 2011 tentang seminar pemantapan system HKI.”95

93

Hasil wawancara dengan dea karliany

94

Hasil wawancara dengan ristian bima

95

(43)

Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh Bapak Agus Dwiyanto

“ seminar ada, pada tahun 2011 kami adakan seminar dengan

UKM di JCC dan kanwil bandung.”96

Menanggapi hal ini berikut bapak Muji Hartono menyampaikan pendapatnya perihal keikutsertaanya dalam seminar HKI

“ Saya sih pernah ikut yang di JCC, waktu itu temanya tentang

pemantapan system HKI, pesertanya ada dari para pelaku UKM dan bekerjasama juga dengan Kemendag.”97

Bapak Suyitno juga mengatakan

“ Dulu saya pernah ikut bulan September ada seminar di kanwil bandung,

saya diajakin teman saya kalau tidak salah temanya tentang penegakan di bidang merek, acaranya cukup bagus.”98

b. Pidato dan sesi Tanya jawab

Berikut penjelasan Ibu Eka fridayanti dan bapak Agus dwiyanto tentang pidato dan sesi Tanya jawab.

“Pidato ya paling Pak Dirjen atau Pak Sesdit, itu di event-event seperti pelantikan, kalau Tanya jawab ya biasanya di seminar.”99 Bapak Agus Dwiyanto mengatakan

“ Pidato yang bersifat resmi hanya dilakukan oleh dirjen dan sesdit saja,

tapi dulu kalau Tanya jawab ada di acara talkshow HKI di media itu kami biasanya buka line telepon jadi yang ingin bertanya seputar HKI bisa melalui telepon.” 100

Hal ini benar sesuai dengan pendapat dari Dea Karliany

96

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

97

Hasil wawancara dengan bapak muji hartono

98

Hasil wawancara dengan bapak suyitno

99

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

100

(44)

“ Saya si pernah lihat talkshow HKI di media TVRI kalau gak salah tapi kapanya saya lupa dan itu ada penelpon yang bisa langsung bertanya ke dirjen HKI.”101

2. Product Exhibitions a. Pameran

Berikut penjelasan Humas dan promosi terkait pameran yang dilakukan oleh ditjen HKI.

“ Kalau pameran kita biasanya ikut dalam event-event yang bersifat umum, misalkan ada undangan festival halal fair di bandung, Java jazz festifal di kemayoran waktu bulan maret, kami ikut disitu dengan membuka stand HKI, display produk publikasi HKI, juga memberikan konsultasi HKI.”102

Bapak Agus Dwiyanto juga mengatakan

“ Kalau pameran sering kali kita ikut ada Agrinex Expo,

SMESCO UKM festifal di Gedung Smesco bulan juni 2011, NTB Expo itu di NTB, Halal fair dibandung dan masih banyak lagi, itu kami disitu memberikan pelayanan konsultasi HKI.”103

Menanggapi hal tersebut, berikut penjelasan yang menyatakan bahwa benar HKI mengadakan pameran menurut Bapak Suyitno

“ Benar ada pameran, waktu itu saya datang di halal fair semacam festifal pangan dan budaya di bandung dan ada stand HKI, dengan display publikasi HKI juga ada konsultasi HKI, saya malah konsultasi itu disitu tentang merek dari usaha saya.”104

3. Special event

a. Festival

Berikut penjelasan mengenai festival yang diadakan oleh Ditjen HKI. Ibu Eka Fridayanti mengatakan:

101

Hasil wawancara dengan dea karliany

102

Hasil wawancara dengan kasubbag humas

103

Hasil wawancara dengan kepala seksi sosialisasi

104

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga model regresi layak digunakan untuk memprediksi fee audit berdasarkan variabel yang memengaruhinya yaitu kompleksitas usaha, kantor akuntan publik, komite

Menurut bapak Helfi, kebebasan informasi publik itu adalah keputusan kebutuhan dari masyarakat, masyarakat memerlukan banyak informasi dan sebagai badan publik Humas Polri

Hubungan Masyarakat dengan masyarakat di Madrasah Aliyah Mu’allimin Mu’allimat Rembang telah membentuk semacam jaringan kerja yang cukup luas, melalui kegiatan

Usaha basecamp yang merupakan usaha milik masyarakat, selain dengan munculnya pedagang menjadikan kebutuhan warga terpenuhi, dengan adanya usaha basecamp di Kawasan

Dan dalam hal ini bahwa BPSK juga meberikan sosialisasi kepada konsumen dan pelaku usaha bahwa Perlindungan kepada konsumen tidak harus berpihak pada kepentingan konsumen

Karakteristik sekaligus keunggulan media online dibandingkan “media konvensional” (cetak/elektronik) identik dengan karakteristik jurnalistik online, antara lain:..

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ade Saraswati 2012, menunjukkan hasil dimana sumber informasi dari media cetak/elektronik mendapat hasil yang tertinggi yaitu

Mengenai sanksi yang diberlakukan kepada pelaku usaha yang menjual kosmetik ilegal di Pasar Sentral lakessi Parepare hanya diberikan sanksi penarikan barang dan tidak pernah didapatkan