• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA DAN HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV DATA DAN HASIL PENELITIAN"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

40 BAB IV

DATA DAN HASIL PENELITIAN

4.1 Morfometri Sesar Lembang

Dalam melakukan pengolahan data penulis membagi daerah penelitian menjadi 2 (dua), yaitu blok utara (hangingwall) dan blok selatan (footwall) yang dibatasi oleh gawir sesar (fault scrap) dari Sesar Lembang. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam menganalisis tingkat aktivitas tektonik yang akan tercermin dari morfologi maupun bentuk DAS dari kedua blok tersebut (Gambar 4.1). Hanya ada beberapa pengolahan data dilakukan dengan menggabungkan blok utara dan blok selatan.

Gambar 4.1. Kenampakan Sesar Lembang dari Peta SRTM, memperlihatkan morfologi yang sangat jelas yaitu perbedaan tinggi gawir sesar antara bagian timur dan bagian barat.

G. Tangkubanparahu G. Burangrang

Lembang

Gawir Sesar Lembang (Timur)

Blok Utara

T B

Gawir Sesar Lembang (Barat)

(2)

41 4.1.1 Kurva Hipsometrik (hypsometric curve)

Perhitungan kurva hipsometrik dilakukan pada subdas yang berada di sepanjang Sesar Lembang baik blok utara maupun blok selatan. Keseluruhan subdas yang dihitung berjumlah 21 lokasi (Gambar 4.2).

Hasil perhitungan dan penggambaran kurva hipsometrik dari seluruh lokasi subdas (blok selatan dan blok utara Sesar Lembang) menunjukkan bentuk kurva hipsometrik dengan stadia morfologi menengah/remaja dan tua. Grafik stadia menengah/remaja ditunjukkan dengan bentuk kurva menyerupai huruf S atau garis lurus mendekati garis diagonal. Persamaan untuk garis diagonal adalah x+y=1, dimana nilai x dan y maksimum adalah 1.

Stadia tua ditunjukkan dengan bentuk kurva cekung ke arah bawah dengan perubahan nilai x, y yang kecil. Semakin tua maka kurva yang terbentuk semakin cekung dengan titik pusat lengkungan kurva mendekati nol dan menjauhi garis diagonal. Kurva tersebut terbentuk karena semakin ke bawah (ke arah muara) pertambahan nilai x semakin besar. Pada lokasi dengan stadia tua memperlihatkan rata-rata nilai x yang kecil pada bagian hulu. Awal mula lengkungan kurva hipsometrik stadia tua rata-rata berada pada titik y=0,5 atau di bawahnya dan nilai x<0,2, sehingga kurva yang terbentuk selalu jauh di bawah garis diagonal. Hal ini terjadi jika erosi yang terjadi jauh lebih besar daripada pengangkatan sehingga bentuk morfologi DAS relatif datar (lokasi 4, 5, 6, 7, 8, 12 dan 14).

(3)

42

Hasil perhitungan kurva hipsometrik pada Sesar Lembang menunjukkan adanya perbedaan stadia morfologi pada blok utara sesar. Lokasi 1, 2, 3 dan 9 termasuk tingkat stadia morfologi menengah/remaja walaupun memperlihatkan sedikit perbedaan dari kurva hipsometriknya. Artinya meskipun lokasi tersebut masuk kategori stadia yang sama tetapi ada sedikit perbedaan morfologi yang terbentuk. Lokasi 1 dan 9 memperlihatkan kurva hipsometrik dengan nilai y yang tinggi dan nilai x kecil (<0,1) sehingga kurva terlihat turun sampai pada kisaran y=0,5. Selanjutnya kurva berubah agak landai mengikuti pertambahan nilai x yang tinggi. Kemudian kurva melengkung ke bawah seiring dengan pertambahan nilai x yang kecil kembali. Hal ini terjadi pada daerah (DAS) dengan kemiringan pada bagian hulu yang curam kemudian berubah landai di bagian tengah dan sedikit curam pada bagian muara. Sedangkan pada lokasi 2 dan 3 memperlihatkan kurva hipsometrik dengan lengkungan mendekati garis diagonal. Dari lengkungan kurva hipsometrik, lokasi ini masuk stadia menengah mendekati tua karena lengkungan kurvanya relatif agak dalam menjauhi garis diagonal. Lokasi ini berada pada DAS dengan kemiringan (slope) yang hampir sama dan tidak terlalu curam mulai dari hulu sampai ke muara sehingga pertambahan nilai y dan x hampir seimbang.

Lokasi 4, 5, 6, 7 dan 8 termasuk tingkat stadia morfologi tua. Kurva hipsometriknya memperlihatkan lengkungan di bawah garis diagonal dengan pertambahan nilai x dan y relatif kecil. Pertambahan nilai x yang kecil membuat lengkungan kurva merapat tidak lebih dari x=0,1 sampai nilai y=>0,5. Setelah itu baru kurva melengkung seiring dengan pertambahan nilai x memperlihatkan bentuk kurva hampir datar. Kurva ini merupakan refleksi dari bentuk ataupun morfologi DAS yang landai hampir mendekati datar dengan relief relatif halus.

(4)

43

sama (stadia menengah/remaja), tetapi dari lengkungan kurva memperlihatkan adanya perbedaan. Grafik hipsometrik pada lokasi 10, 11, 16, 20 dan 21 memperlihatkan bentuk kurva melengkung menyerupai huruf S. Sedangkan lokasi 13, 15, 17, 18, dan 19 memperlihatkan kurva yang hampir lurus dengan garis diagonal. Bentuk kurva seperti ini hanya diperoleh jika pertambahan nilai x dan y sama. Nilai tadi dapat dicerminkan oleh topografi DAS dengan pertambahan elevasi yang hampir sama mulai dari hulu sampai ke muara.

Pada gambar 4.2 memperlihatkan adanya suatu pola yang dibentuk oleh perbedaan tingkat stadium morfologi. Pada blok utara bagian barat memperlihatkan adanya batas pola diantara lokasi 3 dan 4. Selanjutnya pada bagian timur batas pola berada pada lokasi 8 dan 9. Batas tersebut merupakan batas antara stadia menengah/remaja dan stadia tua. Pada bagian barat, lokasi 1, 2 dan 3 merupakan lokasi dengan tingkat morfologi masuk ke dalam stadia menengah/remaja, sedangkan pada bagian timur stadia menegah/remaja berada pada lokasi 9. Selanjutnya, lokasi 4, 5, 6, 7 dan 8 masuk kedalam stadia tua pada blok utara.

(5)

44 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 1. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 2. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 3. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 4. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 5. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 6. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 7. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 8. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 9. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 13. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 14. st adia tu a 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 15. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 16. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 17. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 18. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 19. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 20. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 21. stadia m enengah/rem aja Ga m bar 4.2. Peta lokasi dan grafik

hasil perhitungan kurva hipsom

etrik yang m emperlihatkan tingkat stadium m o rf ologi. Garis m erah putus-putus m erupakan batas

tingkat stadium morfologi. (hijau= stadia tua

(6)

45

Gambar 4.3 memperlihatkan lokasi perhitungan kurva hipsometrik di sebelah utara, timur dan barat dari puncak G. Tangkubanparahu. Ini dilakukan untuk mengetahui kurva hipsometrik yang dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik. Hasilnya akan menjadi pembanding dengan kurva hipsometrik yang tidak terpengaruh oleh aktivitas vulkanisme.

Kurva hipsometrik pada lokasi G. Tangkubanparahu memperlihatkan tingkat stadia tua (lokasi 26, 27, 28, 29, 30, 31, 35, 36, 37, 38) dan beberapa stadia menengah/remaja (lokasi 23, 24, 25, 32, 33, 34). Hampir seluruh lokasi perhitungan yang menunjukkan stadia tua disusun oleh batuan vulkanik muda yang tidak resistan (Silitonga, 2003). Produk vulkanik yang tidak resistan menyebabkan relief topografi di sekitar puncak G. Tangkubanparahu menjadi halus. Sedangkan lokasi perhitungan yang menunjukkan stadia menengah/remaja disusun oleh batuan vulkanik lebih tua sisa dari G. Sunda yang lebih resistan sehingga memperlihatkan relief agak kasar.

(7)

46 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 23. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 24. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 25. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 26. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 27. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 28. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 29. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 30. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 31. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 32. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 33. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 34. stadia m enengah/rem aja 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 35. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 36. stadia tua 0 0. 5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/ A 37. stadia tua 0 0.5 1 00 .5 1 y : h /H x : a/A 38. stadia tua Gam b a r 4.3. Grafik yang m enggam b

arkan kurva hipsom

etrik

yang terletak di sebelah utara, barat dan tim

(8)

47

4.1.2 Asimetri Cekungan Pengaliran (drainage basin asymmetry)

Metode ini telah diterapkan untuk analisis tektonik aktif di pantai Pasifik Costa Rica, daerah Nicoya Peninsula dan analisis kemiringan di teluk Mississippi (Keller dan Pinter, 1996). Dari nilai AF dapat diperoleh informasi yang lebih detil mengenai daerah yang dipengaruhi oleh gaya pengangkatan yang terbesar ataupun yang mengalami penurunan. Analisis itu dapat diperoleh dengan membuat penampang arah kemiringan DAS sesuai besarnnya nilai AF. Hal ini dilakukan penulis untuk mengetahui bagian mana di sepanjang Sesar Lembang yang mengalami pengangkatan terbesar ataupun penurunan. Selain itu, data ini dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam menentukan segmentasi dari Sesar Lembang.

Hasil perhitungan AF pada 21 subdas (Tabel 4.1) yang terletak di blok utara maupun blok selatan Sesar Lembang memperlihatkan adanya proses tektonik yang terjadi di daerah tersebut. Gambaran dari nilai asimetri cekungan pengaliran ini (nilai AF) sangat penting untuk menentukan mekanisme dan segmentasi sesar (Gambar 4.4).

Tabel 4.1. Perhitungan asimetri cekungan pengaliran (AF)

(9)

48 55,05 58,00 65,03 65,80 61,37 70,01 53,02 51,24 45,73 1 2 3 4 5 6 7 8 9 53,64 57,00 51,87 73,39 79,65 70,40 60,58 78,65 39,98 30,21 42,37 42,63 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

(10)

49

Pada blok utara nilai AF pada lokasi 1, 2, 8 dan 9 (Gambar 4.4) menunjukkan nilai di atas 50 dan tidak lebih dari 60. Lokasi 8 dan 9 nilainya justru mendekati 50. Nilai AF lebih besar 50 pada lokasi di atas menunjukkan bahwa daerah sebelah kanan sungai utama pada subdas tersebut lebih luas daripada bagian kiri walaupun tidak terlalu besar dan DAS ini memiliki kemiringan ke arah kiri. Sedangkan pada lokasi 3, 4, 5 dan 6 mempunyai nilai AF di atas 50 dan lebih besar dari 60 artinya pada DAS ini mempunyai luas daerah bagian kanan sungai utama lebih besar dibandingkan dengan bagian kiri dan mempunyai kemiringan ke arah kiri dengan slope yang lebih besar dibandingkan dengan lokasi 1, 2, 8 dan 9. Pada blok utara hanya satu lokasi yang mempunyai nilai lebih kecil dari 50, artinya subdas tersebut mempunyai kemiringan berbeda dengan lokasi lainnya yaitu ke arah kanan dengan luas daerah bagian kanan sungai utama lebih kecil daripada bagian kiri (lokasi 7).

Pada blok selatan Sesar Lembang nilai yang berada jauh di atas 50 (>60) berada pada lokasi 16, 17, 18, 20 dan 21, artinya subdas tersebut mempunyai kemiringan tektonik yang cukup besar ke arah kiri dengan luas daerah bagian kanan sungai utama lebih besar dibandingkan bagian kiri. Sedangkan lokasi 12 dan 13 mempunyai nilai jauh di bawah 50 (<40) sehingga memperlihatkan adanya kemiringan subdas yang cukup besar ke arah kanan dengan luas daerah bagian kanan sungai utama jauh lebih kecil dibandingkan dengan bagian kiri. Pada lokasi 10 dan 15 mempunyai nilai AF kurang dari 50 dan justru mendekati 50, artinya kemiringan subdas yang terbentuk relatif kecil dan mendekati datar dengan sungai utama hampir berada di tegah subdas (cekungan simetri).

(11)

50

Pada blok selatan, pola ini dibatasi oleh empat batas. Batas pertama antara lokasi 11-12, kedua antara lokasi 14-15, ketiga antara lokasi 18-19, dan batas keempat antara lokasi 19-20. Pola-pola tadi akan lebih nampak jelas terlihat pada ilustrasi penampang berdasarkan nilai AF. Penampang dengan arah kemiringan DAS pada blok selatan memperlihatkan adanya pusat pengangkatan sebagai daerah yang dapat diinterpretasikan paling aktif secara tektonik. Sedangkan pada blok utara pengangkatan ini bisa juga dipengaruhi oleh aktivitas vulkanisme.

Pada blok utara bagian barat terlihat adanya suatu pengangkatan dengan pusatnya berada di sekitar lokasi 1. Sedangkan bagian yang mengalami penururnan pusatnya terlihat ada pada bagian tengah (lokasi 6 dan 7). Pada bagian timur dari blok utara terlihat nilai AF relatif mendekati 50 sehingga terlihat kemiringan DAS yang hampir datar. Pada blok selatan pengangkatan terbesar terlihat di bagian barat dengan pusatnya berada disekitar lokasi 14 dan 15. Sedangkan bagian yang mengalami penurunan pusatnya terlihat pada bagian tengah (lokasi 18 dan 19). Pola inilah yang akan menjadi salah satu dasar pembagian tingkat keaktifan dan segmen sesar pada Sesar Lembang.

4.1.3 Perbandingan lebar dasar lembah dan tinggi lembah (ratio of valley

floor width to valley height)

Lokasi perhitungan perbandingan lebar dasar lembah dan tinggi lembah (nilai Vf)

pada Sesar Lembang dilakukan pada lembah sungai mulai dari hulu sampai ke muara dan menyebar dari barat ke timur (Gambar 4.5).

Peta SRTM memperlihatkan lembah-lembah curam dan sempit yang terbentuk di sepanjang zona Sesar Lembang dan bentuk ini akan tercermin dari nilai Vf.

Seluruh perhitungan menunjukkan nilai Vf sangat kecil berkisar dari 0,1 sampai

(12)

51 Ga m b a r 4.5.

Peta yang menunjukkan lokasi p

erhitungan perbandi

ngan

leb

ar dan tingg

i lem

bah pada Sesar Lembang

y

ang

di

overlap

dengan Peta Geologi Daerah Bandung dan sekitarnya (Silitonga, 2003).

Sesar

(13)

52 Ga m b a r 4.6.

Grafik hasil perhitungan perbandin

gan lebar d asar lem b ah dengan tin ggi lem b ah pada sung ai yang b erhulu d

i utara Sesar Lembang

-0. 50 1. 00 1. 50 2. 00 2. 50 3. 00 3. 50 4. 00 4. 50 5. 00 -12000 -10000 -8000 -6000 -4000 -2000 0 2000 4000 6000 8000 Nila i Vf Jarak (m)

Sungai 1 Sungai 2 Sungai 3 Sungai 4 Sungai 5 Sungai 6 Sungai 7 Sungai 8 Sungai 9

(14)

53 Ga m b a r 4.7.

Grafik hasil perhitungan perbandin

gan lebar d asar lem b ah dengan tin ggi lem b ah pada sung ai yang b erhulu d

i selatan Sesar Lem

b ang. -0. 50 1. 00 1. 50 2. 00 2. 50 3. 00 3. 50 4. 00 4. 50 5. 00 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 Nila i Vf Jarak (m)

Sungai 10 Sungai 11 Sungai 12 Sungai 13 Sungai 14 Sungai 15 Sungai 16 Sungai 17 Sungai 18

(15)

54

Grafik perhitungan perbandingan lebar dasar lembah dan tinggi lembah memperlihatkan adanya suatu pola berupa perubahan nilai yang semakin kecil ketika sungai memotong gawir Sesar Lembang (Lokasi 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9). Nilai tersebut merefleksikan adanya lembah yang curam dan dalam akibat sungai mengerosi bagian dasar pada blok selatan. Selanjutnya nilai Vf bertambah besar

setelah melewati gawir sesar menuju muara. Hal ini tentunya berhubungan dengan aktivitas tektonik yang terjadi pada Sesar Lembang.

Pada lokasi 4, 5, 6, 7 menunjukkan nilai yang besar pada bagian hulu mendekat puncak G. Tangkubanparahu. Ini terjadi akibat material vulkanik yang cukup tebal sehingga menjadikan daerah tersebut relatif landai dengan relief yang halus.

Pada sungai dengan hulu berada di gawir sesar blok selatan menunjukkan nilai Vf

yang kecil. Pada bagian barat blok selatan nilai tersebut merupakan respon dari lembah yang curam dan dalam dengan lebar lembah yang sempit akibat erosi vertikal yang jauh lebih besar daripada erosi horizontal. Proses ini akan terjadi pada daerah yang mengalami pengangkatan yang besar, dan hal ini terjadi di bagian barat blok selatan. Sedangkan di bagian timur terutama lokasi 17 dan 18, nilai Vf yang kecil lebih dipengaruhi oleh faktor litologi pada daerah tersebut

yang lebih keras dan lebih resistan (breksi dan lava). Faktor litologi menjadikan bagian lembah sungai pada daerah ini terlihat curam dengan lebar lembah yang sempit.

4.1.4 Indeks gradien panjang sungai (stream length gradient index)

(16)

55 Ga m b a r 4.8.

Peta yang menunjukkan lokasi perhitunga

n indeks gradien panj

ang sungai (SL)

yang di

overlap

dengan

Peta Geologi Daerah Bandung da

n sekitarnya (S

ilitonga, 2003).

Sesar

(17)

56

Pada blok utara bagian barat Sesar Lembang memperlihatkan nilai SL yang bervariasi dari rendah dan langsung tinggi kemudian turun lagi, hal ini sangat dipengaruhi oleh kemiringan (slope) dari sungai tersebut (Tabel 4.2 dan Gambar 4.9). Penampang gradien sungai pada lokasi 1, 3, 4, 7 dan 8 memperlihatkan kemiringan yang curam namum tidak terlihat adanya suatu anomali. Ini terjadi karena litologi penyusun di lokasi tersebut sama dan tidak ada struktur yang mempengaruhinya. Penampang sungai lokasi 5 dan 6 memperlihatkan adanya kemiringan sungai yang curam kemudian landai (elevasi 1600 m - 1700 m). Perbedaan kemiringan ini akan tercermin pula dari nilai SL yang tinggi kemudian turun secara drastis (Gambar 4.9). Perbedaan kemiringan dan nilai SL yang tegas merupakan suatu anomali kemungkinan akibat adanya suatu struktur yang mempengaruhi alur sungai tersebut. Selain itu, anomali pada penampang sungai terdapat pula pada lokasi 2 dan 9 (elevasi 900 m – 1100 m) dengan perubahan nilai SL yang mencolok, ini diakibatkan adanya struktur berupa Sesar Lembang yang mempengaruhi pola aliran sungai tersebut (Gambar 4.12).

Tabel 4.2. Perhitungan indeks gradien panjang sungai (SL) di lokasi 5

(18)

57

Gambar 4.9. Grafik perhitungan indeks gradien panjang sungai dengan nilai SL di lokasi 5 (Bagian barat Sesar Lembang).

Pada lokasi 7, 8 dan 9 yang terletak di blok utara bagian timur sesar memperlihatkan nilai SL dengan kenaikan yang stabil mulai dari muara ke hulu. Pada lokasi ini kemiringan (slope) relatif kecil dan interval kontur pada sungai utama relatif renggang sehingga kenaikan nilai SL-nya kurang bervariasi. Hanya pada elevasi 1000-1100 m terlihat ada penurunan nilai yang drastis kemudian naik kembali secara teratur. Gejala ini diakibatkan adanya struktur Sesar Lembang yang mempengaruhi sungai-sungai di lokasi tadi.

Tabel 4.3. Perhitungan indeks gradien panjang sungai (SL) di lokasi 7

(19)

58

Gambar 4.10. Grafik perhitungan indeks gradien panjang sungai dengan nilai SL di di lokasi 7 (blok utara bagian timur Sesar Lembang).

Sedangkan pada blok selatan Sesar Lembang memperlihatkan nilai SL dengan kenaikan yang stabil, artinya kemiringan sungai dari muara ke hulu (utara-selatan) tidak terlalu curam dan tidak adanya struktur ataupun perbedaan litologi yang mempengaruhinya (Tabel 4.4 dan Gambar 4.11). Litologi penyusun blok selatan Sesar Lembang terbagi menjadi dua. Bagian barat berupa tuf pasiran dan timur terdiri dari breksi, lava dan lahar yang lebih resistan (Silitonga, 2003), sehingga kemiringan sungainya juga mempelihatkan bahwa bagian timur (Lokasi 13 sampai 18) lebih curam dibanding bagian barat (Lokasi 10, 11, dan 12). Dari data ini menjadi tidak aneh kalau bagian timur pada blok selatan Sesar Lembang nilai SL-nya jauh lebih besar dibandingkan dengan bagian barat (Tabel 4.5 dan Gambar 4.12).

Tabel 4.4. Perhitungan indeks gradien panjang sungai (SL) di lokasi 12

(20)

59

Gambar 4.11. Grafik perhitungan indeks gradien panjang sungai dengan nilai SL di di lokasi 12 (blok selatan bagian barat Sesar Lembang).

Penampang gradien sungai pada gambar 4.11 tidak memperlihatkan adanya suatu anomali dengan kemiringan sungai yang relatif landai. Hal ini nampak pula dari kenaikan nilai SL-nya yang relatif stabil.

Sedangkan pada gambar 4.12, penampang gradien sungai memperlihatkan adanya anomali pada elevasi 1300 m – 1400 m yang tercermin pula dari nilai SL yang menurun secara tajam (Tabel 4.5).

Tabel 4.5. Perhitungan indeks gradien panjang sungai (SL) di lokasi 17

(21)

60

Gambar 4.12. Grafik perhitungan indeks gradien panjang sungai dengan nilai SL di di lokasi 17 (blok selatan bagian timur Sesar Lembang). Selain lokasi 17, ada beberapa penampang sungai yang memperlihatkan adanya suatu anomali yang nampak dari perbedaan elevasi dan nilai SL-nya. Penampang 14 memperlihatkan adanya anomali pada elevasi 1100 m – 1200 m walaupun disusun oleh litologi yang sama.

Gambar 4.13 memperlihatkan grafik gradien sungai dimana ada beberapa grafik yang memperlihatkan anomali berupa pelengkungan secara tegas yang akan berkorelasi dengan perubahan nilai SL. Perubahan tersebut diakibatkan oleh pengaruh adanya struktur geologi ataupun perbedaan litologi yang resistan dengan yang tidak resistan. Hal ini sangat nampak jelas pada gradien sungai yang terpotong oleh Sesar Lembang. Pada lokasi tersebut ditunjukkan dengan elevasi sungai yang terjal kemudian secara tiba-tiba berubah landai (lokasi 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9).

Hasil perhitungan nilai indeks gradien panjang sungai (SL) di sepanjang zona Sesar Lembang memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik sungai yang terjadi di blok utara dan blok selatan Sesar Lembang. Pada blok utara bagian barat memperlihatkan sungai yang lebih curam dibandingkan dengan sungai yang berada di bagian timur. Sedangkan pada blok selatan, sungai yang berada di bagian timur terlihat lebih curam dibandingkan dengan bagian barat. Karakteristik ini terbentuk akibat adanya pengaruh tektonik dan juga perbedaan litologi pada daerah tersebut (Gambar 4.13).

(22)

61 Ga m b a r 4.13. Grafik indek s gradien p

anjang sungai di sepan

jan g Sesar Lembang. 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500 1600 1700 1800 1900 2000 2100 -9000 -8000 -7000 -6000 -5000 -4000 -3000 -2000 -1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000 11000 12000 Elevasi (m) Jarak ( m ) L okasi 1 L okasi 2 L okasi 3 L okasi 4

lokasi 5 Lokasi 6 Lokasi 7 Lokasi 8 Lokasi 9 Lokasi 10 Lokasi 11 Lokasi 12 Lokasi 13 Lokasi 14 Lokasi 15 Lokasi 16 Lokasi 17 Lokasi 18

(23)

62 4.2 Stratigrafi Sagpond Sesar Lembang

Penulis melakukan pengambilan data stratigrafi sagpond dengan menggunakan bor tangan di beberapa lokasi di sepanjang Sesar Lembang, yaitu di Desa Panyandakan, Desa Panyairan, Graha Puspa dan Desa Cibodas (Gambar 4.14). Penentuan lokasi pengamatan sagpond didasarkan pada aspek morfologi dan lokasi tersebut dapat mewakili daerah sepanjang Sesar Lembang.

Gambar 4.14. Blok diagram yang memperlihatkan lokasi pengamatan stratigrafi

sagpond di sepanjang Sesar Lembang dioverlap dengan Peta

Geologi Daerah Bandung dan sekitarnya (Silitonga, 2003). Panyandakan

Panyairan

Graha Puspa

Cibodas

(24)

63

x Stratigrafi di daerah Desa Panyandakan, Cisarua

Pengambilan data stratigrafi dilakukan di Desa Panyandakan, Cisarua. Lokasi ini berada pada lembah di belakang gawir Sesar Lembang dengan lebar lembah utara- selata sekitar 150 meter. Lokasi ini merupakan kebun palawija sehingga tanah bagian atas sudah relatif keras (Gambar 4.15).

Dari hasil pengeboran diperoleh data stratigrafi yang dapat digolongkan ke dalam tiga satuan (Gambar 4.16), yaitu:

x Satuan tanah bagian atas (top soil) mempunyai ciri fisik berwarna coklat, lanauan, lembek sampai agak padat, tebal rata-rata 20 cm, banyak rumput. x Satuan endapan rawa, berwarna abu-abu tua sampai hitam, kaya organik,

lempungan sampai lanauan, lembek, mengandung sisa tumbuhan, fragmen vulkanik.

x Satuan tufa, halus sampai kasar (lanauan sampai pasiran), abu-abu sampai coklat muda, agak padat sampai padat, fragmen pumice, fragmen batuan beku, fragmen kayu.

(25)

64

Ga

m

bar 4.15. Morfologi lokasi pengam

atan stratigrafi

sagpond

di Desa Panyandakan, Cisarua. Pada bagian selatan terlihat bukit yang

m

erupakan gawir Sesar Lem

bang dengan arah

(26)

65 Ga m bar 4.16. Penam pa ng stratigrafi sagpond

(27)

66

x Stratigrafi di daerah Desa Panyairan, Parongpong

Pengambilan data stratigrafi sagpond dilakukan di Desa Panyairan, Parongpong. Lokasi ini berada pada lembah dibelakang gawir Sesar Lembang dengan lebar lembah utara-selata sekitar 500 meter. Sebagian besar lokasi ini sudah dimanfaatkan menjadi kebun palawija dan sebagian masih memperlihatkan rawa yang ditutupi oleh semak (Gambar 4.18). Jarak interval setiap titik pengamatan mulai dari 20 meter sampai sekitar 60 meter. Semakin rapat interval tiap titik pengamatan akan lebih baik karena dapat menghasilkan variasi stratigrafi yang lebih banyak (Gambar 4.19).

Dari hasil pengeboran diperoleh data stratigrafi yang dapat digolongkan ke dalam empat satuan (Gambar 4.19), yaitu:

x Satuan tanah bagian atas (top soil) mempunyai ciri fisik berwarna coklat, lanauan, lembek sampai agak padat, tebal rata-rata 20 cm, banyak rumput. x Satuan endapan rawa, lempungan-lanauan, abu-abu sampai hitam, kaya sisa

tumbuhan (rumput, akar halus), fragmen batuapung, fragmen batuan beku. x Satuan paleosol, coklat, lanauan, sisa rumput, akar halus, banyak

mengandung fragmen kayu.

x Satuan tufa, abu-abu sampai abu-abu kecoklatan, lempungan-lanauan, padat sedikit sisa daun, fragmen pumice berwarna krem, membundar tanggung, fragmen batuan beku.

Dari penampang stratigrafi (Gambar 4.19) terlihat bahwa sekuen sagpond yang disusun oleh endapan rawa cukup tebal dengan dibatasi bagian atasnya oleh

paleosol dan bagian bawahnya oleh tufa. Di daerah ini terdapat juga lapisan tufa

(28)

67

Perulangan sekuen di daerah ini sangat jelas terutama pada bagian lingkungan

sagpond yang relatif dalam dan letaknya tidak terlalu jauh dengan gawir sesar.

Semakin ke utara, menjauhi gawir sesar terlihat endapan rawa yang semakin tipis dan dangkal dengan perulangan sekuen yang semakin sedikit. Data lengkap penampang stratigrafi sagpond terlampir.

(29)

68

Ga

m

bar 4.18. A. Morfologi lokasi pengam

atan stratigrafi

sagpond

berup

a lem

bah yang yang cuk

up luas d

i D

esa Panyairan, Parongpo

ng.

Pada bagian

selatan terlihat buki

t ( fo otwall ) d en g an ketingg ia n sekit ar 100 m eter yang m

erupakan gawir Sesar Lem

b

ang

dengan arah

Barat-tim

ur. B. Singkapan lava pad

a ga

wir Sesar Lem

(30)

69 Ga m bar 4.19. Penam p ang stratigrafi sagpond

di daerah Panyairan, Parongpong. Data

diam

bil dengan bor tangan sam

pai

kedalam

an 5 m

(31)

70

x Stratigrafi di daerah Graha Puspa, Cihideung

Lokasi pengamatan stratigrafi sagpond berupa lahan perumahan dan sebagian kecil lahan kosong berupa tegalan. Lokasi penyebaran endapan sagpond cukup luas mulai dari gawir sesar bagian selatan sampai titik terjauh pengamatan kurang lebih 1.000 meter (Gambar 4.20). Interval jarak titik pengamatan beragam mulai sekitar 15 meter sampai 100 meter, hal ini dikarenakan keberadaan lokasi yang sudah dipadati dengan bangunan perumahan.

Dari hasil pengeboran diperoleh data stratigrafi yang dapat digolongkan ke dalam empat satuan (Gambar 4.21), yaitu:

x Satuan tanah bagian atas (top soil) mempunyai ciri fisik berwarna coklat, lanauan, lembek sampai agak padat, tebal rata-rata 20 cm, banyak rumput. x Satuan endapan rawa, lanauan, abu-abu sampai hitam, sisa tumbuhan (akar,

ranting, daun)

x Satuan paleosol, coklat, lanauan, sisa rumput, akar halus, mengandung fragmen kayu.

x Satuan tufa, pasiran, abu-abu sampai coklat kekuningan, fragmen pumice, membundar tanggung, coklat muda, fragmen batuan beku, menyudut tanggung (0,2 cm – 0,5 cm).

(32)

71

Perulangan sekuen ini sangat jelas terutama di bagian selatan yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gawir sesar dan merupakan bagian terdalam dari lingkungan pengendapan sagpond di daerah Graha Puspa. Ketebalan dan kedalaman endapan rawa sangat bervariasi, hal ini kemungkinan terjadi karena adanya perbedaan topografi basement pada saat mulai terbentuknya endapan sagpond. Data lengkap penampang stratigrafi sagpond terlampir.

(33)

72 Ga m bar 4.21. Penam pa ng stratigrafi sagpond

(34)

73

x Stratigrafi di daerah Cibodas, Sebelah Timur Maribaya

Lokasi pengamatan stratigrafi dilakukan pada daerah lembah dengan lebar sekitar 200 meter (utara-selatan). Lokasi ini dilalui oleh Sungai Cikapundung yang mengalir ke arah dan tepat berada di bawah gawir Sesar Lembang bagian timur. (Gambar 4.22). Stratigrafi yang diperoleh sangat berbeda dengan endapan

sagpond yang berada di daerah Panyandakan, Panyairan dan Graha Puspa

(Lembah Sesar Lembang bagian barat).

Dari hasil pengeboran diperoleh data stratigrafi yang dapat digolongkan menjadi dua satuan (Gambar 4.23 dan 4.24), yaitu:

x Satuan tanah bagian atas (top soil) mempunyai ciri fisik berwarna coklat, lanauan, padat, tebal sekitar 10 cm, banyak rumput.

x Satuan tufa, bagian atas coklat muda sampai abu-abu, agak lembek sedangkan bagian bawah abu-abu, kasar (konglomeratan).

x Satuan endapan rawa, pasiran, abu-abu, fragmen vulkanik, lembek, sisa tumbuhan

(35)

74

Ga

m

bar 4.22. Morfologi lokasi pengam

atan stratig

rafi di Desa

Cibodas (Lem

bah Sesar Lem

b

ang bagian tim

ur). Bagian selatan

m

erupakan perbukitan yang m

erupakan kelurusan gawir S

esar Lem

ba

ng (barat-timur) dengan ketinggian sekitar 300

m

eter, m

e

mperlihatkan endapan talus ya

ng sangat tebal hasil erosi bagian atas

bukit tersebut. P

ada kaki bukit m

engalir

S. Cikapundung ke arah barat yang berm

uara di Maribaya.

U

S

Pengam

atan stratigrafi sagpo

(36)

75

Gambar 4.23. Penampang stratigrafi di daerah Cibodas Barat.

(37)

76

Gambar 4.24. Penampang stratigrafi di daerah Cibodas Timur.

CBS-01 CBS-02

Gambar

Gambar 4.1. Kenampakan Sesar Lembang dari Peta SRTM, memperlihatkan  morfologi yang sangat jelas yaitu perbedaan tinggi gawir sesar  antara bagian timur dan bagian barat
Gambar 4.2.Peta lokasi dan grafik  hasil perhitungan kurva  hipsometrik yang  memperlihatkan tingkat  stadium morfologi
Gambar 4.3 memperlihatkan lokasi perhitungan kurva hipsometrik di sebelah  utara, timur dan barat dari puncak G
Tabel 4.1. Perhitungan asimetri cekungan pengaliran (AF)
+7

Referensi

Dokumen terkait

(ii) Pendaftar Pusat Operasi e-Lelong hendaklah dalam tempoh empat belas (14) hari daripada tarikh penerimaan perakuan bertulis penerimaan baki harga belian

Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan yaitu sebagai regulator dan pengawasan di sektor perbankan, pasar modal, peransuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga

Perancangan tata letak adalah pengaturan dalam tata letak operasi dengan memanfaatkan keterbatasan area pada penempatan mesin-mesin, bahan baku, perlengkapan operasi,

Tugas pokok Perusahaan Daerah Air Minum Tirtawening Kota Bandung sesuai Peraturan Walikota Bandung Nomor 236 Tahun 2009 adalah bergerak di bidang pengelolaan air

sangat bergantung pada kondisi p8 pada saat reaksi berlangsung. Ini disebabkan karena pH selain mempengaruhi kestabilan dan kekuatan daya reduksi SnCl2 juga

Untuk mengetahui pengaruh struktur modal (Debt to Equity Ratio) terhadap profitabilitas (Return On Equity) perusahaan industri tekstil dan garmen yang terdaftar di

Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es. Infiltrasi atau Perkolasi

Biasanya suatu penilaian otentik melibatkan suatu tugas (task) bagi para siswa untuk menampilkan, dan sebuah kriteria penilaian atau rubrik (rubrics) yang akan digunakan