• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN ASPEK MORAL SPIRITUAL PADA ANAK USIA DINI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN ASPEK MORAL SPIRITUAL PADA ANAK USIA DINI."

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

No. Daftar FIP : …../S/PLS/I/2015

POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN

ASPEK MORAL SPIRITUAL PADA ANAK USIA DINI

(Studi Deskriptif kualitatif pada Keluarga di RT 01 RW 02 Kelurahan

Pamoyanan Kabupaten Cianjur)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Departemen Pendidikan Luar Sekolah Konsentrasi PAUD

Oleh :

ATI RUSTIAI 1107568

DEPARTEMEN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

(2)

POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN ASPEK MORAL SPIRITUAL PADA ANAK USIA DINI

(Studi Deskriptif kualitatif pada Keluarga di RT 01 RW 02 Kelurahan pamoyanan Kabupaten Cianjur)

Oleh Ati Rustiati

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Pendidikan

©atirustiati

Universitas Pendidikan Indonesia Januari 2015

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.

(3)

No. Daftar FIP : …../S/PLS/I/2015

LEMBAR PENGESAHAN

ATI RUSTIATI 1107568

POLA ASUH ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN ASPEK MORAL SPIRITUAL PADA ANAK USIA DINI

(Studi Deskriptif kualitatif pada Keluarga di RT 01 RW 02 Kelurahan Pamoyanan Kabupaten Cianjur)

Disetujui dan disahkan oleh pembimbing

Pembimbing 1

Prof. Dr. Hj. Ihat Hatimah, M.Pd Nip. 19540402 198011 2 001

Pembimbing II

Dr. Yanti Shantini, M.Pd Nip. 197608142006042001

Mengetahui,

Ketua Departemen Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan

Univesitas Pendidikan Indonesia

(4)

ABSTRAK

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada

Anak Usia Dini

Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan tentang pola asuh orang tua di lingkungan RT 01 RW 02 Kelurahan Pamoyanan Kecamatan Cianjur yang bervariasi, sehingga berdampak terhadap aspek moral spiritual pada anak usia dini. Tujuan penelitian ini yaitu 1) megungkapkan data tentang pemahaman orang tua mengenai pola asuh ,2) mengungkapkan data tentang pengasuhan orangtua dalam mengembangkan moral spiritual anak usia dini, 3) memperoleh data tentang factor yang mempengaruhi orangtua dalam mengembangkan aspek moral spiritual pada anak

Landasan teori dalam penelitian ini mengacu pada konsep pendidikan anak usia dini, pendidikan keluarga, dan aspek moral spiritual. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif, dan alat pengumpul datanya berupa pedoman wawancara, observasi, studi kepustakaan, dan adapun subjek penelitian pada tiga keluarga di RT 01 RW 02 Kelurahan Pamoyanan Kabupaten Cianjur.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh temuan, pertama, pemahaman orangtua mengenai pola asuh pada dasarnya cukup paham dari ketiga keluarga, satu menggunakan pola asuh yang demokratis yang dilakukan oleh keluarga B kepada anaknya meskipun peran ibu digantikan sepenuhnya oleh neneknya, sedangkan keluarga A dan C peran orangtua untuk sementara pengasuhannya digantikan oleh orang lain, nenek, atau saudaranya, pola asuh keluarga A dan C dengan cara otoriter yang selalu mengharapkan anak untuk selalu mengikuti kehendak orang tuanya dan apabila melanggar tidak segan-segan untuk menghukum anak. Kedua, pola pengasuhan dalam mengembangkan moral spiritual anak usia dini ketiga keluarga selalu memberikan pemahaman kepada anak tentang perbuatan yang baik dan perbuatan yang tidak baik, meskipun hanya keluarga B saja yang tidak bosan untuk selalu mengingatkan kepada anak apabila berbuat salah untuk selalu meminta maaf tidak dengan dimarahi ataupun hukuman. Ketiga, faktor yang mempengaruhi orang tua dalam mengembangkan aspek moral spiritual pada anak yaitu lingkungan sosial internal dan eksternal hubungan antara objek dengan anggota keluarga lain, atau dengan tetangga, dan lingkungan pendidikan yang berlangsung di sekolah dan di masyarakat.

(5)

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

PARENTS’ PARENTING IN DEVELOPING THE SPIRITUAL AND MORAL ASPECT IN EARLY CHILDHOOD

(Qualitative descriptive study on the Family in RT 01 RW 02 Cianjur Regency Pamoyanan Village)

ABSTRACT

This study was motivated by concerns about parents’ parenting in RT 01 RW 02 Village Pamoyanan Cianjur District which discuss the impact on the spiritual and moral aspects in early childhood. The purpose of this study: 1) disclose data about understanding parents about parenting 2) reveal data about parenting in developing early childhood spiritual moral, 3) obtain data on the factors that influence parents in developing the spiritual and moral aspects of the child.

The basic theory in this study refers to the concept of early childhood education, family education, spiritual and moral aspects. The method used in this research is a case study with a qualitative approach, and data collection which consists of interview, observation, literature study, and while the subject of research in the three families in RT 01 RW 02 Pamoyanan Village Cianjur Regency. Based on the results which was obtained findings, first, understanding parents of the three family about parenting basically they are quite aware, one uses a democratic parenting performed by B to his family despite the mother's role is replaced entirely by his grandmother, while in the family A and C the role of parents in interim nurturing was replaced by others, grandmother, or his brother. Family’s upbringing which was applied by A and C families is an authoritarian who always expect the child to always follow the will of the parents and if the children violated they will not be hesitate to punish the children. Second, the pattern of care in developing spiritual morals in early childhood the families always gave understanding to the children about good deeds and bad deeds, though only family B who was not bored to always remind the child if she/he did wrong and forgive without scolding or punishing. Third, the factors that influence parents in developing the spiritual and moral aspects of the child are the social environment of internal and external relationships between participants with other family members, or with neighbors, and educational environment that took place in the school and in the community.

(6)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN………..……… 1

ABSTRAK………. 2

KATA PENGANTAR………..……….. 3

UCAPAN TERIMA KASIH……….……… 4

DAFTAR TABEL………..……… 8

DAFTAR GAMBAR/PETA………. 9

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang……….……… 10

B. Identifikasi Masalah………. 13

C. Batasan dan Rumusan Masalah………..…. 14

D. Tujuan Penelitian………..15

E. Manfaat Penelitian………15

F. Sistematika Penulisan………16

BAB II LANDASAN TEORI A. Pendidikan Keluarga……….………17

1. Konsep Pendidikan……… 17

2. Penyelenggaraan Pendidikan keluarga………18

3. Peranan Orangtua………20

B. Pendidikan Anak Usia Dini………...…………24

1. Pendidikan Anak Usia Dini……….24

2. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Anak Usiaah Dini……… 24

3. Kebijakan Pemerintah Tentang Pendidikan Anak Usia Dini……….24

(7)

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5. Kebutuhan dan Peranan Masyarakat akan Pendidikan Anak Usia Dini….26

C. AspekMoral Spiritual……….26

1. Pengertian Aspek Moral Spiritual………26

2. Tahapan Perkembangan Moral Anak ……….28

3. Tujuan Pendidikan Moral bagi anak………29

4. Penanaman Nilai Moral pada Anak Usia Dini………30

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian……….34

1. Lokasi penelitian………..………34

2. Subjek penelitian………….……….34

B. Desain Penelitian………35

C. Metode penelitian………..……….36

D. Teknik Pengumpulan Data……….38

E. Teknik pengolahan Data dan Analisis Data………..40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian………..………43

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian……….43

2. Identitas Informal……….…....44

3. Deskriptif Pendapat informal……….…….48

B. Pembahasan Hasil Penelitian……….……56

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ………..………64

B. Saran……….……….65

DAFTAR PUSTAKA……….66

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Banyak orang tua begitu berharap anak-anak mereka bisa tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab di masa depan, namun orangtua tidak menyadari bahwa pola pengasuhan yang dilakukan orangtua mempengaruhi apakah harapan orang tua tersebut menjadi kenyataan atau tidak. Pola asuh adalah pola perilaku orangtua yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif. Perlakuan orangtua terhadap seorang anak akan mempengaruhi anak tersebut. Kenyataanya setiap orangtua memberikan pola asuh yang berbeda-beda dalam membimbing dan mendidik anaknya. Dalam masa sekarang ini semakin sulit menjadi orang tua dalam membesarkan anak. menurut Campbell

Ross (2006:16-17),

“Banyak orang tua yang tidak menyadari melakukan kesalahan besar. Bagaimana kita bisa proaktif dan berdasarkan kebutuhan dalam pendekatan kedisiplinan kita daripada sekedar bereaksi terhadap perilaku negative?

Jawabannya tidak mudah, tapi sungguh ada jawaban yang bagus.”

Orang tua harusnya belajar untuk menjadi lebih proaktif daripada reaktif, lebih memenuhi terhadap kebutuhan anak-anak daripada bereaksi terhadap perilaku anaknya. Kendati ada pengaruh membahayakan dari kebudayaan kontempoler, orang tua dapat secara efektif membangun karakter positif dalam kehidupan anak-anak mereka.

(9)

2

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

tantangan dan persaingan membutuhkan orang-orang yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan dalam aspek moral spiritual sehingga dapat menghadapi semua tantangan dan persaingan dalam era globalisasi ini.

Kecerdasan moral spiritual diperoleh melalui pendidikan keluarga, pendidikan dilingkungan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama, sedangkan pendidik yang pertama dan utama adalah orang tua itu sendiri. Oleh karena itu peran orang tua atau keluarga dalam proses pendidikan anak memegang posisi yang sangat sentral.

Hal ini kiranya dapat dipahami karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama dimana anak tersebut mendapatkan pegaruh dari anggota-anggotannya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam fase pertumbuhannya yaitu tahun-tahun pertama dalam pertumbuhannya. Pada masa itulah apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas dan tidak mudah hilang atau berubah dari ingatannya.

Upaya melibatkan orangtua dalam mengembangkan aspek moral spiritual anak merupakan suatu yang penting dilakukan karena orangtua berperan penting

dalam pendidikan anak. Ki hadjar Dewantoro, 1962 (Shochib, 1998) menyatakan bahwa:

“keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting karena sejak

timbulnya adab kemanusiaan sampai kini, keluarga selalu mempengaruhi pertumbuhan budi pekerti tiap-tiap manusia. Disamping itu, orangtua dapat menanamkan moral-moral spiritual kedalam jiwa anak-anaknya”.

Dalam buku konsep dasar pendidikan luar sekolah ada beberapa fungsi pendidikan keluarga sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak, menjamin kehidupan emosional anak, menanamkan dasar pendidikan Moral, memberikan dasar pendidikan kesosialan dan pendidikan keluarga sebagai lembaga pendidikan penting untuk meletakkan dasar pendidikan moral spiritual bagi anak.

Dilihat dari sistem Pendidikan di Indonesia bahwa penyelenggaraan layanan pendidikan di Indonesia ada jalur formal, Non formal, Informal. Pendidikan

(10)

undang-undang No.20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional (Sisdiknas)

pasal 26 ayat (1) yang berbunyi: “Kegiatan Pendidikan Informal yang dilakukan oleh

keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan Belajar secara mandiri”.

Hal ini memperkuat bahwa lingkungan keluarga, dalam hal ini orangtua Ayah dan Ibu memiliki peranan masing-masing dalam keluarga, namun dalam keluarga tersebut peran Ibu sangat mendominan dalam pengasuhan anak, sehingga peranan orangtua khususnya seorang Ibu harus dijalankan sesuai dengan predikat yang disandangnya.

Bagi orangtua di lingkungan keluarga melaksanakan proses pendidikan terutama pendidikan dalam aspek moral spiritual bagi anaknya memang sangat penting, karena anak selama masih dalam pengasuhan dan perawatan tentu memerlukan suatu perhatian yang sangat besar, hal ini sesuai dengan pendapat Husni Rahim (2001:43) bahwa:

“Bukti syukur dan tanggung jawab orang tua terhadap anak itu sejak usia dini diwujudkan dalam perlakuan baik, kasih sayang, pemeliharaan, pemenuhan kebutuhan sandang, pangan seerta kebutuhan batiniah dan spiritual.”

Anak adalah karunia sekaligus amanah Allah SWT yang diberikan kepada orang tua. Sebagai karunia kelahiran anak harus disyukuri sebagai nikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia sedangkan sebagai amanah orang tua mempunyai tanggung jawab memelihara amanah itu.

Pembinaan moral spiritual bagi anak dilingkungan keluarga memang suatu pekerjaan yang cukup sulit dan tidak semudah dengan apa yang kita bayangkan. Namun sesulit apapun mendidik perilaku baik anak dilingkungan keluarga harus tetap teguh untuk dijalankan dengan penuh kesadaran dan kesabaran, karena mendidik

(11)

4

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Sesuai dengan dua sisi yang berbeda mengenai moral spiritual itu, peran orang tua dalam meluruskan dan mengendalikan sifat-sifat negative yang ada pada diri anak dilingkungan keluarga sangatlah besar. Namun yang menjadi permasalahan pada saat ini dan cukup memprihatinkan kita sebagai orang tua dan sekaligus sebagai pendidik ternyata ada kecenderungan masih banyak orang tua dilingkungan keluarga yang kurang memperhatikan dan kurang berperan dalam menjalankan pendidikan terutama pendidikan moral spiritual terhadap anaknya bahkan dilihat dari kenyataan dalam kehidupan sehari-hari tidak sedikit peran orang tua ini telah banyak digantikan oleh orang lain, baik oleh neneknya, pengasuh, maupun oleh penitipan anak.

Hal seperti ini tentu saja merupakan suatu masalah atau suatu yang kontradisi antara harapan dengan kenyataan. Akibatnya telah terjadi penurunan perilaku negatif seseorang sejak usia dini, seperti sering terdegar ucapan anak-anak dalam Bahasa kasar dengan kata lain Bahasa premanisme. Banyak factor yang menjadi penyebabnya baik dari faktor ekonomi keluarga, faktor pendidikan orang tua, faktor kesibukan orang tua, maupun factor kurangnya keharmonisan dalam rumah tangga dan lain-lain.

Bahkan dilihat dari kondisi social saat ini tidak sedikit kaum ibu yang meninggalkan anak-anaknya hanya untuk mencari nafkahke luar negeri atau menjadi tenaga kerja wanita (TKW). Sementara buah hatinya masih memerlukan kasih sayang, harus ditinggal oleh pengasuhan orang lain.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis sangat tertarik membantu memecahkan masalah tersebut dan sekaligus untuk melakukan penelitian mengenai pola asuh orang tua dalam melaksanakan pendidikan terutama pendidikan dalam aspek moral spiritual dilingkungan keluarga terutama, sesuai dengan ketertarikan pada masalah itu, maka judul yang diangkat dalam penelitian ini adalah : “Pola asuh orang tua dalam meningkatkan aspek moral spiritual di lingkungan Rt01 Rw 02 kelurahan Pamoyanan Kecamatan Cianjur.”

(12)

Diangkatnya masalah tentang peran orang tua dalam pendidikan keluarga karena ada beberapa kesenjangan atau kontradiksi antara harapan dan kenyataan. Adapun hasil dari pengidentifikasian masalah ditemukan beberapa hal sebagai berikut:

1. Masih banyak orangtua yang kurang memperhatikan anak dilingkungan kelurga, baik dalam perawatan, pengasuhan, maupun dalam pendidikan. Yang seharusnya peran orang tua memberikan perhatian, bimbingan dan kasih sayang terutama dalam pendidikan kepada anaknya.

2. Semakin banyak orang tua, terutama kaum Ibu yang meninggalkan Anak dilingkungan keluarga untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga. Yang seharusnya posisi penanggungjawab ekonomi dalam keluarga adalah ayahnya.

3. Terlihat adanya gejala-gejala perilaku negative pada sebagian besar anak baik dalam tingkah laku maupun tindakannya, terutama dalam tutur kata yang tidak seharusnya. Dalam hal ini seharusnya peran orang tua memberikan pola asuh yang baik dengan memberikan keteladanan kepada anak.

4. Kurangnya pemahaman orang tua mengenai moral spiritual. Dalam hal ini orang tua seharusnya memberikan contoh keteladanan yang baik karena anak-anak sangat mudah meniru tingkah laku atau perkataan orang tua mereka.

C. Batasan dan Rumusan Masalah

(13)

6

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

wilayah Rt 01 Rw 02 Kelurahan Pamoyanan, pada keluarga yang memiliki anak usia dini yaitu keluarga dengan anak usia 0-8 tahun.

Sesuai dengan hasil identifikasi masalah diatas, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: “bagaimana pola asuh orangtua dalam meningkatkan aspek moral spiritual anak usia dini di Kelurahan Pamoyanan Kabupaten Cianjur ?”

Untuk mencapai kondisi yang lebih baik bagi anak ada beberapa permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, yakni:

1. Untuk mengetahui pemahaman orang tua mengenai moral spiritual bagi anak 2. Untuk mengetahui pola asuh yang digunakan orang tua dalam meningkatkan

aspek moral spiritual

3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala dalam meningkatkan aspek moral spiritual

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, tujuan penelitian ini

adalah:

1. Untuk mengetahui pemahaman orang tua mengenai moral spiritual bagi anak 2. Untuk mengetahui pola asuh yang digunakan orang tua dalam meningkatkan

aspek moral spiritual

3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala dalam meningkatkan aspek moral spiritual

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Secara praktis

(14)

a. Memberikan informasi pengetahuan tentang pola asuh orang tua dalam meningkatkan moral spiritual

b. Diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta wawasan berfikir khususnya bagi penulis umumnya bagi orang tua yang mempunyai anak usia dini.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini dikelompokkan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Berisi tentang pendahuluan yang mencakup tentang latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan terakhir sistematika penulisan.

Bab II Kajian Teoritis

Memuat tentang konsep orang tua, konsep pola asuh, konsep pendidikan anak usia dini, dan konsep moral spiritual

Bab III Metode Penelitian

Berkaitan dengan metode dan desain penelitian, populasi dan sampel, definisi

operasional, instrument penelitian, prosedur penelitian dan teknik pengumpulan dan anslisis data

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berkaitan dengan, tentang penyajian data hasil penelitian diuraikan gambaran singkat lokasi penelitian, identitas responden serta pengolahan data, meliputi kesimpulan hasil penelitian.

Bab V Simpulan dan Saran

(15)

8

Ati Rustiati, 2014

(16)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Subjek Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di lingkungan RT. 01 RW. 02 Kp. Desa Pamoyanan

Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur. Lokasi penelitian ini merupakan tempat penelitian yang diharapkan mampu memberikan informasi tentang pola asuh dalam keluarga dalam mengembangkan aspek moral spiritual anak.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah benda, hal atau orang dan tempat dimana data yang dipermasalahkan melekat. Responden penelitian adalah orang yang dapat merespon, memberikan informasi tentang data penelitian. Sedangkan sumber data adalah benda, hal atau orang dan tempat dimana peneliti mengamati, membaca atau bertanya tentang data. (Arikunto, 2010 : 172).

Subjek dalam penelitian ini dipilih secara purposive (sesuai dengan tujuan). Nasution (2003 : 11) menyatakan bahwa metode naturalistic tidak menggunakan populasi sample yang banyak. Sampel atau subyek penelitian biasanya sedikit dan dipilih berdasarkan tujuan (purposive) penelitian. Pendapat dari S. Nasution dapat disimpulkan bahwa pendekatan penelitian kualitatif tidak membutuhkan populasi dan sample yang banyak.

Sanafiah Faisal (1990) dengan mengutip pendapat Spradley dalam Sugiyono (2010:395) mengemukakan bahwa situasi sosial untuk sample awal sangat disarankan suatu situasi sosial yang didalamnya menjadi semacam muara dari

(17)

27

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

a. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayati.

b. Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti

c. Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi

d. Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil “kemasannya”

sendiri

e. Mereka yang pada mulanya tergolong “cukup asing” dengan peneliti sehingga

lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau narasumber.

Berdasarkan hal tersebut, subyek dalam penelitian yaitu 3 (tiga) keluarga yang ada di RT. 01 RW. 02 Kp. Desa Pamoyanan Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur, dengan kriteria sebagai berikut :

a. Keluarga inti yang memiliki anak usia dini b. Salah satu dari kedua orang tua bekerja

c. Memiliki keterbatasan waktu bersama anak karena sibuk bekerja

d. Bersedia untuk diwawancara

B. Desain Penelitian

Desain penelitian yang dimaksud disini adalah tahapan aktivitas yang dilakukan secara berurut dari awal sampai akhir penelitian, yang nantinya memberikan gambaran tentang keseluruhan perencanaan, pelaksanaan pengumpulan data, analisis dan penafsiran data, sampai pada penulisan laporan.

Secara umum tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini ada empat tahap, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Moleong (2007 : 127) yaitu :

1. Tahap Pralapangan

(18)

dijadikan lokasi penelitian. Pada tahapan ini peneliti melakukan perijinan kepada berbagai pihak yang terkait. Selanjutnya melakukan wawancara awal terhadap pihak keluarga. Pada tahap ini juga peneliti menganalisis fokus permasalahan tersebut berkaitan dengan disiplin ilmu yang peneliti kaji atau tidak.

2. Tahap Rancangan dan Pelaksanaan Lapangan

Pada tahap ini, peneliti akan mempertimbangkan focus kajian serta metode dan pendekatan pada pemilihan narasumber. Apa yang akan dilakukan dalam penelitian serta siapa saja yang akan menjadi subjek penelitian dan siapa saja yang akan menjadi narasumber dalam penelitian ini, peneliti menyusun instrument penelitian, mengumpulkan data di lapangan, menganalisis data, mengadakan penyimpulan hasil temuan penelitian di lapangan.

3. Tahap Analisis Data

Menganalisis data merupakan langkah yang sangat menentukan dalam mencari jawaban atas permasalahan penelitian. Model analisis yang dipakai

adalah teknik analisa deskriptif karena sasaran penelitian ini adalah fenomena yang terus berlangsung. Kegiatan analisis data dilakukan dari awal sampai akhir penelitian. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan, dokumen pribadi, dokumen resmi. Data yang telah terkumpul tersebut diolah sesuai dengan kaidah pengolahan data yang relevan dengan pendekatan penelitian kualitatif.

4. Tahap Penulisan Laporan

(19)

29

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

berkonsultasi dengan pembimbing dan disetujui untuk diujikan, serta laporan pun dibuat sesuai dengan outline yang berlaku di lingkungan universitas.

C. Metode Penelitian

Pemilihan metode penelitian yang tepat dan sesuai dengan masalah penelitian akan membutuhkan hasil penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan. Menurut Sugiyono (2010:3) metode penelitian dapat diartikan sebagai suatu cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapat data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

Metode yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif yaitu merupakan suatu cara untuk memaparkan atau menggambarkan suatu masalah. Atau bersifat deskriptif analitik yaitu data yang diperoleh (berupa kata-kata, gambar, perilaku) tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistic, melainkan tetap dalam bentuk kualitatif yang memiliki arti lebih kaya dari sekadar angka atau frekuensi. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memberi pemaparan gambar mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian.

Menurut Whitney (1960) dalam Nazril (2005:54), metode deskriptif adalah pencairan fakta-fakta dengan interprestasi yang tetap. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.

Berdasarkan kecenderungan data hasil studi ke lapangan dan kesesuaian dengan tujuan penelitian maka penelitian yang di ambil oleh peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatip. Menurut Moleong (2007:6) menjelaskan bahwa:

(20)

Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity). Hal ini dilakukan menurut Lincoin dan Guba (1985:39) dalam L.J Moleong (2007:4) karena ontology alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisaahkan dari konteksnya. Penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan segi proses dari pada hasil lebih jelas apabila diamati dalam proses.

Berdasarkan dari hal yang telah dijelaskan di atas, penelitian dapat dilakukan dengan berkomunikasi secara langsung dengan subjek yang di teliti secara dapat mengamati sejak awal sampai akhir proses penelitian. Fakta atau data itulah yang nantinya diberi makna sesuai dengan teori-teori dengan focus masalah yang diteliti.

Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif agar dapat memahami dan mengungkapkan secara mendalam yaitu Bagaimana Peran Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek moral spiritual Anak Melalui Pola Asuh Pada Keluarga Pekerja. Selain itu, pendekatan kualitatif digunakan karena penelitian ini memenuhi karakteristik penelitian kualitatif sesuai dengan pendapat Bogdan dan

Biklen dalam Sugiyono (2010:21)

1. Penelitian ini dilakukan pada kondisi yang alamiah bukan merupakan eksperimen karena kondisi tersebut sudah ada dan sedang berlangsung. Peneliti melakukan penelitian mengenai peran orang tua dalam mengembangkan aspek moral spiritual anak melalui pola asuh otoriter pada lingkungan keluarga yang memiliki anak usia dini RT. 01 RW. 02 Kp. Desa Pamoyanan Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur.

2. Penelitian lebih bersifat deskriptif. Data yang di kumpulkan oleh peneliti berupa kata-kata atau gambar tabel, sehingga tidak menekan pada angka. 3. Penelitian ini lebih menekankan kajiannya pada proses.

4. Analisis data penelitian dilakukan secara induktif.

(21)

31

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dalam mencapai tujuan penelitian yang telah dirumuskan diperlukan metode. Oleh karena itu tujuan umum penelitian adalah untuk memecahkan masalah, maka langkah-langkah yang akan ditempuh harus relevan dengan masalah yang telah dirumuskan.

D. Teknik Pengumpulan Data

“Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data” (Sugiyono, 2011: 224). Penelitian pada intinya yaitu bertujuan untuk mendapatkan data yang sesuai, serta dapat memenuhi standar data yang ditetapkan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan kondisi lapangan serta kebutuhan dalam pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik observasi (pengamatan), wawancara, studi dokumentasi dan triangulasi

1. Observasi (pengamatan)

Observasi merupakan salah satu cara pengumpulan data yang utama dalam mengkaji suatu situasi yang dijadikan sebagai objek penelitian. Menurut Ngalim Purwanto (Basrowi dan Suwandi, 2008: 93) observasi ialah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Observasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi secara langsung bagaimana peran orang tua dalam mengembangkan Aspek moral spiritual anak anak pada tiga keluarga inti di RT. 01 RW. 02 Kp. Desa Pamoyanan Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur yang sudah ditetapkan sebelumnya, dengan demikian penulis dapat mengetahui secara langsung bagaimana terjadinya kegiatan sehari-hari para orang tua tersebut, dan hasilnya adalah terdapatnya perbedaan dan kesamaan pola asuh anak dalam meningkatkan aspek moral spiritual

(22)

Wawancara merupakan suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu. Sebagaimana menurut Moleong (2007: 186) “wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu”. teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara terstruktur karena peneliti telah mengetahui hal-hal yang tidak diperoleh melalui teknik observasi atau teknik pengumpulan data lainnya, maka peneliti akan melengkapinya dengan melakukan teknik wawancara antara lain: kepada ayah dan ibu. Kegiatan wawancara tersebut penelitian dilakukan secara informal, dimana orang yang ditanya tidak merasa di wawancarai sehingga informasi yang di dapat akan lebih alami seperti apa yang terjadi pada saat itu dan setelah melakukan wawancara, peneliti menganalisis hasilnya dan di uraikan sesuai dengan apa yang telah dilakukan yaitu dengan cara merangkum dan memilih hal-hal pokok kemudian menemukan gambaran mengenai pola asuh orang tua dalam mengembangkan aspek moral spiritual

3. Studi Dokumentasi

Penggunaan teknik studi dokumentasi dilakukan untuk melengkapi data-data/informasi yang diperoleh melalui wawancara dan observasi , dengan cara mempelajari dan memahami berbagai dokumen yang bersifat permanent dan tercatat agar data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan. Sebagaimana menurut Basrowi dan Suwandi (2008: 158) menyatakan bahwa:

“Studi dokumentasi merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah dan bukan berdasarkan perkiraan”

Sasaran studi dokumentasi pada penelitian ini adalah seluruh dokumen penting yang berhubungan dengan profil lokasi dan subjek penelitian.

(23)

33

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Berkenaan dengan pengelolahan dan analisis data, moleong (2007: 248), menjelaskan bahwa

“analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisir data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat di kelola, mensintetiskannya mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain”.

Pendapat lain mengenai analisis data penelitian kualitatif, Trisnamansyah (2009 : 48), menyatakan bahwa:

“analisis dalam penelitian kualitatif tidak dinantikan sampai semua data terkumpul, tetapi dilakukan secara berangsur setelah selesai semua data terkumpul, tetapi dilakukan secara berangsur setelah selesai mendapatkan sekumpulan data dari wawancara, observasi, atau dokumen”.

Pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini mencakup langkah-langkah sebagai berikut:

1. Teknik Pengolahan Data

Dalam pengolahan data ini dilakukan dengan cara menyeleksi data yang terkumpul untuk mengetahui data yang sesuai dengan tujuan penelitian yaitu data yang dapat diolah, dipisahkan dengan data yang tidak dapat diolah. Pengolahan data ini dimaksudkan agar data hasil penelitian dapat mengungkapkan permasalahan yang diteliti. Menurut Surakhmad (1998: 109) bahwa mengolah adalah yang konkrit untuk membuat data. Adapun langkah-langkah pengolahan data, yaitu:

a. Seleksi Data

Pada tahap ini peneliti menyelesaikan data yang telah terkumpul dengan maksud untuk memperoleh data dari instrument penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian

b. Klasifikasi Data

Data yang telah terkumpul kemudian dikelompokan berdasarkan kategori

sesuai dengan pertanyaan penelitian dalam angket, pedoman wawancara, dan observasi. Maksudnya untuk memudahkan dalam pengolahan data dan

(24)

2. Teknik Analisis Data

Analisis adalah proses penyusunan data agar dapat ditafsirkan. Tafsiran atau interpretasi artinya memberikan makna kepada penulis, menjelaskan pola atau kategori, mencari hubungan antara berbagai konsep, interpretasi, menggambarkan prespektif atau pandangan peneliti, bukan kebenaran. Analisis adalah proses menyusun, mengategorikan dalam mencari pola atau tema, dan maksud untuk memahami maknanya.

a. Reduksi Data (Abstraksi)

Data yang diperoleh dari lapangan berupa laporan, selanjutnya akan direduksi, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting, diberi susunan yang lebih sistematis, sehingga lebih mudah diolah/dikendalikan. Data yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data diperoleh bila di perlukan.

b. Display Data

Display data dilakukan agar dapat melihat gambaran keseluruhannya atau bagian-bagian tertentu dari penelitian itu. penyajian data merupakan upaya untuk menyajikan data guna melihat gambaran keseluruhan data atau bagian-bagian tertentu dari peneliti. Penyajian data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah dalam bentuk teks naratif dari catatan lapangan agar peneliti tidak tergelincir dalam pengambilan kesimpulan yang memihak dan tidak berdasar, maka peneliti akan mengadakan koding data, klarifikasi data, serta memberikan penggolongan kembali sesuai focus masalahnya berdasarkan pertanyaan penelitian yang diajukan dan pedoman wawancara untuk subjek penelitian.

c. Verifikasi

(25)

35

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kesimpulan akan lebih mantap dan kokoh, dan kesimpulan yang ada senantiasa diverifikasikan selama penelitian berlangsung.

3. Triangulasi

(26)

BAB V

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Secara umum penelitian ini telah menggambarkan pengaruh pola asuh orangtua dalam meningkatkan aspek moral spiritual anak usia dini di lingkungan RT 01 RW 02 Kelurahan Pamoyanan Kabupaten Cianjur kesimpulan yang dapat diambil adalah:

1. Pemahaman orangtua mengenai pola asuh pada dasarnya cukup baik dalam memahami pola asuh anak. Meskipun peran orangtua harus digantikan oleh pengasuhan orang lain dikarenakan orang tua yang bekerja, faktor ekonomi atau perceraian orangtua.Ketiga keluarga ini menggunakan pola asuh yang otoriter, permisif yang terkadang demokratis yang disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi anak.selain orangtua, nenek mempunyai peranan dalam pengasuhan anak seperti dalam memberikan perhatian dan kasih sayang serta rasa aman kepada anak.

2. Pola pengasuhan orangtua dalam mengembangkan moral spiritual anak usia dini pada dasarnya diberikan atau dikenalkan kepada anak dengan memberikan pemahaman tentang bagaimana cara berinteraksi yang seharusnya agar dapat diterima dengan lingkungan sekitar,dan mempunyai perilaku positif agar anak dapat dengan mudah untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Sehingga anak dapat mengetahui bagaimana cara bersikap dan berperilaku terhadap lingkungannya. 3. Faktor yang mempengaruhi orangtua dalam mengembangan aspek

moral spiritual pada anak. Dalam hal ini faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak baik internal maupun ekternal dalam keluarga, dengan anak dibiasakan atau mendapat bimbingan keagamaan atau cara berperilaku yang baik dengan mendengar dan melihat anak akan dengan mudah mencontoh perilaku yang dilihatnya memberikan contoh-contoh baik dan buruk dalam berperilaku terhadap anak.

(27)

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

disaat anak melakukan salah harus segera minta maaf. Meskipun tanggapan anak terhadap pemahaman tersebut belum paham betul.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dibuat rekomendasi untuk para pihak yang terkait diantaranya:

1. Bagi Keluarga

Diharapkan dari hasil penelitian ini orangtua dapat memahami pentingnya pola asuh dalam keluarga dalam mengembangkan aspek moral spiritual bagi anak usia dini. Dan hendaknya keluarga selalu berusaha supaya semua pengaruh yang diberikannya kepada anak mempunyai pengaruh yang positif.

2. Bagi Kebutuhan Pendidikan

Bagi pendidikan non formal merupakan salah satu pendidikan yang didalamnya mengkaji tentang pendidikan anak usia dini, dimana pendidikan tersebut sebagai awal dalam membentuk anak dalam memberikan pemahaman tentang pengetahuan moral spiritual untuk menghadapi perkembangan dalam kehidupan anak selanjutnya.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Bagi penelitian yang berminat untuk meneliti lebih dalam tentang aspek moral spiritual anak usia dini dipersilahkan untuk meneliti lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral spiritual anak usia dini disamping pola asuh yang menjadi fokus studi ini diantaranya komunikasi dalam keluarga upaya membentuk pribadi anak.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Rahman, S. H. (2005). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta : Gravindo Litera Media.

Hidayat, S. O. (2008). Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama. Jakarta : Universitas Terbuka.

Joesoef, S. (2004). Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta : PT Bumi Aksara.

Sudiapermana, E. (2012). Pendidikan Keluarga Sumberdaya Pendidikan

Sepanjang Hayat. Bandung : Edukasia Press.

Shochib. M. (2010). Pola Asuh Orang Tua Dalam Membantu Anak

Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta : Rineka Cipta.

Silaban, S. (2003). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : PT Kloang Klede Putra Timur Bekerjasama Dengan koperasi Primer Praja Mukti l Departemen Dalam Negeri.

Sadulloh, U. (2011). Pedagogik (Ilmu Mendidik). Bandung : Alfabeta.

Jamarah, B. S. (2014). Pola Asuh Orang Tua dan Komunikasi dalam

Keluarga Upaya Membangun Citra Membentuk Pribadi Anak. Jakarta : PT

Rineka Cipta.

Majid, Abd dan Anwar, Saepul. (2012). Pendidikan Agama Islam. Bandung : Jurusan Mata Kuliah Dasar Umum Fakultas pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia Bekerjasama dengan Value Press.

LN, Yusup, S. (2011). Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Nugraha, Ali dan Rachmawati, Yeni. (2013). Metode Pengembangan Sosial

(29)

Ati Rustiati, 2014

Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Moral Spiritual Pada Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Skripsi

Maki, W.A (2011). Pola Asuh Sebagai Faktor Yang Mempengaruhi

Perkembangan Kecerdasan Emosi Anak. Skripsi. PLS FIP UPI. Tidak

diterbitkan.

Anjum, A. (2014). Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan

Sosial Emosional Anak Usia Dini (3-5 tahun). Bandung : Skripsi. PLS FIP

UPI. Tidak Diterbitkan.

Referensi

Dokumen terkait

The writer uses the Multiple-Choice because it recovers the micro skills: understanding given information stated in the passage, to recognize the communicative

Sependapat dengan asumsi Gell, pertunjukan fire dance oleh komunitas Flownesia dapat menjadi iklan dalam sebuah acara, iklan yang dimaksud adalah efek enchanting yang dihasilkan

Dalam pembelajaran bahasa asing ada tingkatan pembelajaran, yaitu tingkat pemula (mubtadi’), menengah (mutawassitah), lanjut (mutaqaddim), dan tentunya setiap tingkat

Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora

konsep adaptasi mahluk hidup terhadap lingkungan. Kondisi ekosistem sungai Padang Guci, Air Nelenagau, dan Air Nipis sebagai habitat ikan Sicyopterus

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan antara sebelum dan setelah merger dan akuisisi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di

4.2 Contoh jawaban siswa merumuskan masalah kurang tepat

Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan, maka penelitian tentang optimasi parameter respon mesin cetak sistem injeksi perlu dilakukan dengan prosedur terpadu yang