Pros. SemNas. Peningkatan Mutu Pendidikan Volume 1, Nomor 1, Januari 2020
Halaman 330-334
E-ISSN: 2745-5297
Aksara Incung Kerinci sebagai sumber belajar sejarah
materi Hindu Budha di SMAN 2 Kerinci
Anny Wahyuni
dan Ike Tryska
Prodi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi Jl. Jambi-Muara Bulian Km. 15, Mendalo Darat, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia 36122
Email:
[email protected]ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejarah aksara Incung serta menjadikan aksara ini sebagai sumber belajar sejarah Materi Hindu Budha. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode penelitian sejarah, teknik dan alat pengumpulan data dilakukan berdasarkan tahapan heuristic, kritik sumber, kritik sumber ini dibagi dua yaitu kritik internal dan kritik eksternal, interpretasi dan historiografi. Hasil dari penelitian ini Aksra incung pembuahan kebudayaan keberaksaraan India dan Cina, akhirnya terbentuklah aksara lokal kerinci. Aksra incung ini bisa di jadikan sebagi sumber belajar sejarah pada Kompetensi Dasar (KD) 3.6. Menganalisis perkembangan kehidupan masyarakat, pemerintah, dan budaya pada masa Kerajaan-Kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia serta menunjukkan contoh bukti-bukti yang masih berlaku pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini. Dalam pembelajaran sejarah terkait Aksara Incung Kerinci ini kendala yang dihadapi yaitu terbatasnya sumber, kurangnya perhatian pemerintah terhadap aksara ini, semakin berkurangnya ahli yang yang paham akan aksara ini.
Kata Kunci: Aksara Incung, Sumber Belajar, Pembelajaran Sejarah
ABSTRACT
The purpose of this research to know history incung script and made character this as a source of studying the history of material hindu buddhist .This research is the qualitative study with the methods of historical research, engineering and instrument the data collection was done based on the phases heuristic, criticism source , criticism this source split into two namely criticism internal and external criticism, interpretation and historiografi. The result of this research aksra incung fertilization culture keberaksaraan india and china, finally formed kerinci. local scriptAksra incung this it could make as a source of studying history at basic competence ( kd ) 3.6 analyze the development of community life, the government, and culture in the kerajaan-kerajaan hindu and buddhist monk in indonesia and points to examples bukti-bukti that still applies to the life of a society in the present.In teaching history related incung script kerinci this constraints faced by the limited, source namely lack of attention the government against this character, decrease in expert who who know this character.
Wahyuni dan Tryska. Aksara Incung Kerinci sebagai sumber belajar sejarah 331
1. PENDAHULUAN
Jambi memiliki 9 Kabupaten, salah satunya Kabupaten Kerinci dengan ibu kotanya Sungai Penuh (Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, 2016). Kabupaten Kerinci dikenal dengan julukan Segumpal Tanah Dari Surga (Kartini, 2017) karena perbukitan yang menjulang tinggi, sungai yang mengalir jernih dan tanah yang subur. Keadaan geografis ini menjadi daya tarik masyarakat untuk mendiami Kerinci sehingga membawa dampak pada perubahan masyarakat asli Kerinci, baik bidang ekonomi, sosial dan budaya.
Budaya merupakan sesuatu yang hidup, berkembang, dan bergerak menuju titik tertentu (Endawarsa, 2012). Budaya daerah memiliki keunika dan menarik terutama di kabupaten kerinci yang memiliki slogan daerah “Bumi Sakti Alam Kerinci” artinya daerah Kerinci merupakan daerah yang dikenal sakti, masih mempercayai kepercayaan nenek moyang tedahulu walaupun telah hidup dimasa modern. Hal ini dapat di lihat dalam kekentalan masyarakat Kerinci dalam menjalankan kebudayaan daerahnya.
Kebudayaan yang ada di Kerinci sangat beragam seperti upacara adat kenduri SKO, Ornament Rumah Laheik desa Seleman, Tari Tangguk, Tari Tauh, melemang atau membuat jadah (dodol), tolak bala, nyaho, naik mahligai, upacara asyeik, mandi balimau di Semurup, tari iyo, dan lepeak koto dian. Warisan kebudayan budaya ini hanya ada di desa-desa tertentu yang masih mempertahankan hingga saat ini. Selain peninggalan diatas, masyarakat kerinci memiliki peninggalan berupa tulisan yang di sebut dengan Aksara Incung kerinci. Aksara adalah naskah tanjung tanah mengandung dua teks yang ditulis dalam bahasa melayu degan menggunakan dua jenis aksara yang berbeda teks utama yaitu Kitab Undang-undang mencakup tiga pulu dua halaman (32 hal) dan teks kedua tertulis di halaman 33 dan 34. Akan tetapi kondisi kedua halaman ini sangat rapuh, sehingga teks tidak dapat dibaca dengan jelas.
Aksra Incung yang masih bisa di baca isi teks berkaitan dengan ilmu nujum. aksara incung, merupakan salah satu cara para leluhur untuk berkomunikasi melalui tulisan. Hal ini yang menyebabkan perlu dikaji secara ilmiah agar kelestariannya dapat disimpan guna memperkaya budaya Kerinci khususnya dan budaya bangsa pada umumnya. Aksara incung Kerinci ini pada mulanya ditemukan di desa Tanjung Tanah. Namun dikarenakan sedikit warga yang memahami aksara incung tersebut sehingga perlu di berikan perhatian yang lebih agar tidak hilang oleh perkembangan zaman.Tujuan yang ingin didapat dari penelitian ini untuk mengetahui sejarah aksara Incung kerinci dan menjadikan aksara ini sebagai sumber belajar sejarah serta mengetahui kendalanya.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian tentang aksara incung sebagai sumber belajar sejarah materi Hindu Budha merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian sejarah, teknik dan alat pengumpulan data dilakukan berdasarkan tahapan heuristic dengan mengumpulkan sumber primer dan sekunder yang dibutuhkan salam penelitian ini, setelah itu di lalukan kritik sumber. Kritik sumber ini dibagi dua yaitu kritik eksternal dan kritik internal, setelah melakukan kritik dilakukan interpretasi dan kemudian ditulis kembali yang disebut historiografi
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Sejarah Aksara Incung KerinciAsal usul Aksara Incung kejadian atau terbentuknya sebuah aksara di Nusantara, melalui proses sejarah yang panjang dibalik terciptanya abjad tersebut. Begitu juga hal nya dengan wilayah Kerinci. Aksara daerah Kerinci terlahir dan terbentuk melalui rangkaian dan pertalian sejarah dan kebudayaan yang telah berlangsung sama sehingga melahirkan Aksara Incung. Dengan kata lain, asal usul embrio aksara incung ini berasal dari pembuahan kebudayaan keberaksaraan India dan Cina, akhirnya terbentuklah aksara lokal kerinci (Kazanah, 2017). Aksara incung berawal dari Brahmani menuruni aksara india selatan yang terlahir sekitar abad ke 3 SM. Aksara india selatan menuruni aksara yang dikenal dengan aksara palawa (aksara India). Aksara palawa ini berkembang abad 8 M di Sumatra, yang melahirkan kelompok atau rumpun aksara kawi Sumatra sekitar abad 14 M, aksara kawi ini nanti dibagi lagi menjadi dua yaitu batak dan surat ulu (Harimukti dalam Khazanah, 2017). Surat ulu dibagi kedalam tiga kelompok yaitu 1) surat rencong di Bengkulu, Sumatera Selatan termasuk Komering, lebong, lembak, lintang, Ogan, Pasemah, Rejang dan Serawai, 2) surat Lampung, 3) Surat Incung Kerinci. Surat Incung Kerinci ini yang dikenal nama sekarang dengan aksara Incung kerinci (Kozok, 2006). Aksara Incung hampir punah ketika penjajahan Belanda di Indonesia. Belanda melarang mengembangkan aksara tersebut dengan tujuan:
Pertama, agar masyarakat Kerinci tidak mengetahui, memahami dan meninggalkan aksara incung yang telah digunakan sebelum kedatangan Belanda
Kedua, untuk merusakan persatuan dan kesatuan masyarakat antara satumendopodengan mendopo yang lain di wilayah kerinci
Ketiga, Belanda mengembangkan aksara latin sesuai dengan misi kolonialisasinya di nusantara (Syahputra, 2013).
Gambar 1. Alat Tulis Aksara Incung
Gambar 2. Penulisan Aksara Incung sehingga berdampak kepada aksara incung
mengalami kemerosotan dalam penggunaannya yaitu:
a) Pada masa perkembangan Islam di Kerinci yang menggunakan aksara arab Melayu. Aksara arab Melayu ini di sosialisasikan oleh pihak kesultanan Jambi dan Indrapura melalui surat dan piagam yang dikirim ke wilayah Kerinci.
b) Pada masa kolonial Belanda mengembangkan aksara latin
Kemerosotan aksara incung ini tidak menghilangkan keunikan aksara tersebut karena aksara incung ditulis pada alas yang sesuai dengan pembagian teks naskah tersebut contoh tanduk kerbau untuk naskah perjanjian, silsilah para pendahulu dan bambu untuk naskah ratapan tangis tetapi tidak semua naskah yangdi tulis di bamboo berisi ratapan tangis ada yang berisi tentang ilmu kebatinan atau mantra (Khazanah, 2017).
Penulisan aksara incung dibentuk oleh garis-garis lurus, patah, terpancung dan melengkung. Kemiringan garis pembentuk huruf itu diperkirakan rata-rata 45˚. Akasara incung ditulis miring karena pada masa itu alat serta wadah yang digunakan
untuk menulis pada umumnya keras seperti tanduk kerbau, seperti gambar Gambar 1.
Penulisan aksara incung berbeda dengan huruf latin yang ditulis miring bersambung. Naskah-nasakah tulisan Incung mayoritas disimpan oleh individu masyarakat Kerinci yang masih di percaya sebagai sebagai pusaka yang dikeramatkan Helida, (2013:35). Aksara Incung Kerinci berjumlah 27 huruf yang penampilannya beragam disertai dengan bunyi bacaan yang berbeda (Gambar 2).
3.2. Sumber Penelitian
Nakah –naskah beraksara incung pada tabel diatas ditemukan di wilayah 9 (sembilan) mendapo dalam lingkup kabupaten kerinci dan Kota Sungai Penuh. Pembagian keberadaan naskah-naskah tersebut di sesuaikan dengan dokumen Voorhoeve sebagai berikut (Khazanah, 2017):
a) Mendapo Limo Dusun, berjumlah 14 (empat belas) naskah yang terdiri dari beralaskan tanduk 13 (tiga belas) buah dan beralaskan bamboo 1 (satu) buah
b) Mendapo Rawang, berjumlah sekitar 26 (dua puluh enam) naskah yang terdiri dari 22 (dua puluh dua) naskah beralaskan tanduk 2 (dua)
Wahyuni dan Tryska. Aksara Incung Kerinci sebagai sumber belajar sejarah 333
naskah yag beralaskan kertas 1 (satu) naskah yang beralaskan bambu dan kertas .
c) Mendapo Depati Tujuh, berjumlah sekitar 16 (enam belas) naskah, terbagi atas 8 (delapan) naskah beralasan tanduk, 3 (tiga) naskah beralasan bambu, 1 (satu) bamboo beralaskan bamboo dan kertas.
d) Mendapo Kemantan, berjumlah lebih kurang 11 (sebelas) naskah yaitu 3 (tiga) naskah beralasankan tanduk dan 8 (delapan) naskah beralaskan bambu.
e) Dalam wilayah Mendapo Hiang, terdapat lebih kurang 9 (Sembilan) naskah yang terdiri dari 6 (enam) naskah beralaskan tanduk dan 2 (dua) naskah beralaskan bambu serta 1 (satu) beralaskan tapak gajah.
f) Di Mendapo Seleman hanya terdapat satu buah naskah yang beraksara incung, itupun pada bagian terakhir dari naskah yang beraksara Pallawa. Naskah tersebut ialah naskah Undang-undang Tanjung Tanah ditulis pada kertas Daluang.
g) Mendapo keliling Danau hanya menyimpan 1 (satu) buah naskah, naskah tersebut menggunakan alas berupa daun lontar. h) Mendapo Tanah Kampung menyimpan lebih
kurang 8 (delapan) buah naskah yang beraksara incung. Dengan rincianya yaitu 4 (empat) buah naskah beralaskan tanduk, 2 (dua) buah kertas, 1 (satu) buah bambu dan 1 (satu) buah bambu dan 1 (satu) buah yang menggunakan alas kulit kayu.
i) Dan Mendapo Penawar menyimpan lebih kurang 3 (tiga) buah naskah yang menggunakan aksara incung tersebut. Naskah ini beralaskan tanduk berjumlah 2 (dua) buah dan 1 (satu) buah beralaskan kertas.
3.3. Aksara Incung Kerinci Sebagai Sumber Belajar Sejarah Materi Hindu Budha
Pembelajaran sejarah yang baik menurut Kartodirdjo (dalam Sayono 2013) menggunakan pendekatan lokosentris, yaitu pembelajaran sejarah yang berpijak pada sejarah lokal yang ada di sekitaran peserta didik. Aksara Incung bisa di jadikan sumber belajar sejarah di SMA N 2 Kerinci pada Kompetensi Dasar (KD) 3.6 menganalisis perkembangan kehidupan masyarakat, pemerintah, dan budaaya pada masa kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia serta menunjukkan contoh bukti-bukti yang masih belaku pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini disesuaikan dengan kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu penggunaan pendekatan ilmiah. Pendekatann ilmiah (scientific appoarch) dalam kegiatan meliputi kegiatan mengamati, bertanya,
mengumpulkan informasi atau mencoba, mengasosiasi/ menalar/ mengolah informasi, dan menyajikan/ mengkomuikasikan. Kurikulum 2013 menyarankan penerapan model-model pembelajaran seperti Project Based Learning, Problem Based Learning dan Discovery Learning dan model-model pembelajaran lain yang relevan. Kegiatan belajar yang di lakukan dalam proses mengamati adalah membaca, mendengar, menyimak, melihat baik dengan alat maupun tidak (Zainuddin 2015).
Melalui kurikulum 2013 pada pembelajaran sejarah diharapkan siswa mampu mengembangkan kompetensi untuk berfikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya dalam rangka menanamkan dan menumbuhkan jati diri bangsa, kehidupan masyarakat.
3.4. Kendala dan Solusi Aksara Incung Sebagai Sumber belajar sejarah
Kendala yang di hadapai dalam pembelajaran sejarah yaitu kurangnya buku, jurnal penelitian yang menulis tentang aksara incung, kurang support pemerintah untuk melestarikan aksra incung ini dan semakin sedikit orang yang ahli dalam aksra incung kerinci ini. Kendala diatas ini solusi agar aksara ini tidak mengalami kepunahan seperti dibangun sekolah incung untuk belajar aksara ini dan pemerintah daerah harus melai untuk melakukan pelestarian kebudyaan daerah.
4. KESIMPULAN
Akasara incung berasal aksara incung ini berasal dari pembuahan kebudayaan keberaksaraan India dan Cina, akhirnya terbentuklah aksara lokal kerinci. Aksara incung bisa di jadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA N 2 Kerinci pada Kompetensi dasar 3.6 menganalisis perkembangan kehidupan masyarakat, pemerintah, dan budaaya pada masa kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia serta menunjukkan contoh bukti-bukti yang masih belaku pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini
DAFTAR PUSTAKA
Agung & Wahyuni. (2013). Perencanaan Pembelajaran Sejarah.Yokyakarta:Ombak. Afrizal, 2016. Metode Penelitian Kualitatif.
Jakarta. Pt Rajaggrafindo Persada.
Amalia, F., & SOFIAN, S. (2011). Analisis Pengaruh Faktor Budaya, Sosial, Pribadi Dan Psikologis Terhadap Keputusan Pembelian Minuman Penambah Tenaga Cair Merek M–
150 Di Semarang (Doctoral dissertation, Universitas Diponegoro).
Amin, I., & Syahrul, R. (2013). Cerita Rakyat Penamaan Desa di Kerinci: Kategori dan Fungsi Sosial Teks. Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran, 1(1).
Casimeira. A. Y & Mahangga, G. H. O. (2016). Strategi Pengembangan Pariwisata Bumi Sakti Alam Kerinci Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Jurnal Destinasi Pariwisata.4 (2): 44 – 48
Ekawarna 2012. Pemahaman Guru SD Tentang Implementasi K-13 Di Provinsi Jambi. Jurnal Sifa Pendidikan. Vol 1 No 2
Endraswara. S 2012.Metodologi Penelitian Kebuda yaan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press
Dzakirin 2013. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB. Universitas Brawijaya
Garvey.B & Krug. M. (2015). Model-Model Pembelajaran Sejarah.Yokyakarta:Ombak Ghoni, A., & Bodroastuti, T. (2012). Pengaruh
Faktor Budaya, Sosial, Pribadi Dan Psikologi Terhadap Perilaku Konsumen (Studi Pada Pembelian Rumah Di Perumahan Griya Utama Banjardowo Semarang). Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis, 1(1)
Hendriani. D. (2017). Peranan Tulisan Jawi dalam Perkembangan Islam di Indonesia. Jurnal Qolamuna . Vol 3 (1) No 37 – 54
Harmuni, 2018. Seni Krinok Masyarakat Rantau Pandan Sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal. Skripsi, Universitas Jambi.
Hayatunnufus. S, Syailendra & Wimbrayardi. (2013). Proses Pewarisan Tale Haji Dalam Masyarakat Desa Koto Majidin Kecamatan Air Hangat Kabupaten Kerinci. Jurnal Sendratasik FBS Universitas Negeri Padang Vol 2 No 55 -64
Jambi, D. K. P. (2016). Profil kesehatan provinsi Jambi 2015. Jambi: Dinas Kesehatan Provinsi Jambi
Kartini. (2017). Potensi Wisata Kabupaten Kerinci Dalam Karya Seni Lukis Impresionis. Universitas Negeri Padang.
Kistanto, N. H. (2008). Sistem Sosial-Budaya di Indonesia. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, Vol 3 No 2.
Kurniawan & Noviana (2017). Penerapan Kurikulum 2013 Dalam Meningkatkan Ketrampilan Sikap, Dan Pengetahuan. Jurnal Primary Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Vol 6 No 2. Kozok, U. (2006) Kitab Undang-Undang Tanjung
Tanah naskah melayu yang tertua. jakarta. Yayasan Obor Indonesia
Makinuddin & Sasongko T.H. (2006). Analisis Sosial Bersaksi Dalam Advokasi Irigasi Bandung. Yayasan Artiga
Mubarat H. (2015). Aksara Incung Kerinci Sebagai Sumber Ide Penciptaan Seni Kriya. Jurnal Ekpresi seni Vol 17 No 2.
Mulyadi. S. (2007) Revolusi Berfikir Edward De Bono Bandung. Pusat Perbukuan
Nilamsari, N. (2014). Memahami Studi Dokumen dalam Penelitian kualitatif. Jurnal Wacana Vol 2 No 2
Santosa, P. (2016). Kearifan Budaya Dan Fungsi Kemasyarakatan Dalam Sastra Lisan Kafoa (Local Wisdom and Communal Function in the Oral Literature of Kafoa). METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra, Vol 5(1), No 67-82. Sugiyono, (2013). Metode Penelitian Pendidikan
(Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D): Alfabeta
Sulistina. (2009). Hubungan Pengetahuan Menstruasi Dengan Perilaku Kesehatan Remaja Puteri Tentang Menstruasi Di Smpn I Trenggalek.Universitas Sebelas Maret Surakarta
Suyamini (2017). Implementasi Kurikulum 2013 Pada Pelaksanaan Pembelajaran Akuntasi Di Sekolah Menengah Kejuruan. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. Vol 27, No 1.
Wahyudi. E. (2010). Hubungan Pengetahuan, Sikap Dan Motivasi Kader Dengan Penemuan Suspek Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Sanankulon. Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Zahro. et al. (2017). Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah: Jurnal Historica Vol.1 No.2252-4673
Zainudin. (2015). Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Membentuk Karakter Anak Banga. Jurnal Universum Vol 9. No 1.