PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ARIAS
TERHADAP HASIL BELAJAR IPA
SISWA KELAS IV SD
Dw.Gd.Wira Pramana
1, I Md. Suarjana
2, I Wyn. Widiana3 1,2,3JurusanPendidikanGuruSekolahDasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected]
1,[email protected]
2[email protected]
3Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran Assurance Relevance Interest Assessment
Satisfaction (ARIAS) dan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional pada
siswa kelas IV SD di Gugus VI Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2014/2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah kelas IV di Gugus VI Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 213 orang. Sampel penelitiannya yaitu di SD No 1 Panji Anom sebagai kelompok kontrol sebanyak 28 siswa dan di SD N 1 Tegallinggah sebagai kelas eksperimen sebanyak 30 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode tes. Tes yang digunakan yaitu berupa tes objektif hasil belajar. Perbandingan perhitungan rata-rata hasil belajar IPA siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran ARIAS adalah 33,60 lebih besar dari rata-rata hasil belajar IPA siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional adalah 27,86.Data hasil belajar IPA siswa dikumpulkan dengan instrumen tes berbentuk objektif. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (uji-t). Hasil penelitian menunjukkan bahwa t-hitung 2,75> t-tabel 2,021 (dengan taraf signifikan 5%), maka H1 diterima, jadi terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPA antara siswa yang belajar dengan model pembelajan ARIAS dan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD di Gugus VI Kecamatan Sukasada tahun pelajaran 2014/2015. Kata kunci: model pembelajaran ARIAS, hasil belajar IPA
Abstract
This research aimed at finding out the differences of science learning result between the students who learnt through Assurance Relevance Interest Assessment Satisfaction (ARIAS) learning model and ones who learnt through conventional learning model, which was implemented for the fourth grade students of elementary school in Gugus IV, Sukasada, Buleleng, in academic year 2014/2015.This research was semi-experimental. The population was 213 students of the fourth grade in Gugus VI, Sukasada, Buleleng in academic year 2014/2015. The sample was 28 students of SD No. 1 Panji Anom as the control group, and 30 students of SD N 1 Tegallinggah as the experiment group. The data collection was done through test method. The test used was objective test to measure the learning result. The comparison between the mean of the learning result of the group who used ARIAS was 33.60 higher than ones with the conventional method, of which the mean was 27.86. The data collection was done through the instrument of objective test. The collected data was then analyzed by using descriptive statistics and inferential
statistics (t-test).The result of this research shows that t-distributions 2.75> t-table (with significant level 5%), which means H1 is accepted with a significant difference between the result by ARIAS and conventional method that was implemented for fourth grade students of Gugus VI, Sukasada, Buleleng in academic year 2014/2015.
Keywords: ARIAS Learning Model, Science Learning Result
PENDAHULUAN
Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah merumuskan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa pendidikan dilakukan agar mendapatkan tujuan yang diharapkan bersama yaitu:
Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan dimaksudkan agar seseorang dapat mengembangkan segala potensi dalam dirinya untuk dapat berjuang di masyarakat dan mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Melalui pendidikan yang layak, diharapkan nantinya akan terbentuk manusia Indonesian yang berkualitas dan dapat bersaing di dunia global.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam memilih dan menerapkan berbagai pendekatan atau model pembelajaran yang inovatif dan menarik. Perkembangan IPTEK telah menghadirkan tantangan dan sekaligus peluang baru bagi umat manusia dalam segala dimensi kehidupannya. Kondisi ini semakin diperkuat oleh menggejalanya warna kehidupan global sehingga setiap manusia dan bangsa harus
selalu siap untuk melakoni kehidupan global yang tampa batas.
Menjadi manusia yang berkompeten yaitu manusia yang mempunyai pengetahuan luas, keterampilan yang baik, serta perilaku mental yang baik merupakan salah satu kunci dari kemampuan bertahan dalam tatanan masyarakat global karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghadirkan persaingan yang tajam di muka bumi ini.
Menyikapi hal itu, dalam setiap pembelajaran dituntut untuk melakukan berbagai upaya ke arah perbaikan yang signifikan dengan tujuan yang akan dicapai dan bermuara pada peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu menjadikan peserta didik sebagai insan yang berkompeten pada bidang yang dibelajarkan sesuai dengan kriteria yang telah disepakati.
Untuk menjadikan siswa memiliki kompetensi pada bidang tertentu, guru harus mampu menjadikan pembelajaran yang menyenangkan dan menggugah peserta didik untuk belajar. Karena pembelajaran yang bermakna adalah bilamana pembelajaran tersebut mampu menjadikan peserta didik menjadi nyaman, senang, termotivasi, dan tertantang untuk belajar, belajar, dan belajar. Pada konteks ini, seorang guru harus mampu melakukan berbagai variasi pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi, kebutuhan peserta didik, lingkungan belajar, dan target pencapaian dari pembelajaran itu sendiri.
Sejalan dengan pernyataan di atas, salah satu masalah dalam disiplin ilmu yang masih sering menghambat tujuan pembelajaran adalah rendahnya hasil belajar siswa. Rendahnya peningkatan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran IPA ini, membuat tujuan pendidikan tidak tercapai dengan maksimal. Pembelajaran
IPA yang terjadi saat ini adalah siswa hanya cenderung mempelajari IPA sebagai produk yakni, lebih mementingkan pada penghafalan konsep atau teori dan bukan pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran yang lebih banyak menggunakan metode ceramah.
Metode ceramah adalah suatu cara mengajar dengan penyajian materi melalui penurunan dan penerangan lisan guru kepada siswa, Aqib (2002:97). Dalam kegiatan belajar khususnya dalam pendidikan sekolah dasar, pendekatan yang digunakan pada mata pelajaran IPA masih menggunakan pendekatan konvensional. Pendekatan ini memusatkan guru sebagai pemberi materi ajar, sedangkan siswa hanya pasif menerima materi dari guru.
Dalam kegiatan belajar khususnya dalam pendidikan sekolah dasar, pendekatan yang digunakan pada mata pelajaran IPA masih menggunakan pendekatan konvensional. Pendekatan ini memusatkan guru sebagai pemberi materi ajar, sedangkan siswa hanya pasif menerima materi dari guru.
IPA yang berpedoman pada proses ilmiah dalam pembelajaran menjadi tidak maksimal dipahami siswa, karena materi yang dibelajarkan hanya sebatas teori dan wacana berupa penggambaran sepintas dari guru melalui bahan ajar atau pengalaman sehari-hari. Pembentukan sikap ilmiah yang berhubungan dengan produk dan proses menjadi tidak terealisasikan secara nyata. Disiplin ilmu untuk mencapai tujuan pendidikan melalui proses ilmiah adalah pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA dapat menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, (Sudana, dkk, 2010).
Menurut Samatowa (2010:3) “IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan manusia”, (Kemendiknas, 2011:13). Pembelajaran IPA akan dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada seluruh proses pendidikan yang terjadi pada siswa, karena siswa selalu berhadapan dengan alam yang merupakan objek dari pembelajaran IPA. Hal ini akan
membantu siswa mengembangkan
kemampuan bertanya, berpikir dasar,
kemampuan tingkat tinggi, maupun sikap ilmiahnya. Pembelajaran IPA di SD merupakan sebuah kesempatan bagi siswa dalam mengembangkan sikap ilmiah.
Sikap ilmiah itu dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan siswa dalam pembelajaran IPA pada saat melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan proyek dilapangan. Dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan sains, maka pada anak sekolah dasar siswa harus diberikan pengalaman serta kesempatan untuk mengambangkan kemampuan berpikir dan bersikap terhadap alam, sehingga dapat mengetahui rahasia dan gejala-gejala alam, (Susanto, 2013:169-170). Sikap seperti ini merupakan dasar bagi siswa melakukan proses-proses ilmiah untuk membuat penemuan-penemuan yang bermakna.
Dari permasalahan tersebut, perlu dilakukan inovasi dengan menerapkan model pembelajaran yang inovatif yang dapat memberikan kesempatan siswa untuk terlibat dalam pembelajaran dan dapat
menciptakan suasana yang
menyenangkan. Salah satunya adalah model pembelajaran Assurance Relevance
Interest Assesment Satisfaction (ARIAS)
melalui pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. Model pembelajaran ini dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dalam mengerjakan tugas, setelah itu siswa memainkan permainan akademik dengan anggota tim lain.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini difokuskan tentang Pengaruh Model Pembelajaran Assurance Relevance
Interest Assesment Satisfaction (ARIAS)
Terhadap Hasil Belajar IPA SD Siswa Kelas IV di Gugus VI Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng Tahun Ajaran 2014/2015.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang meneliti hubungan sebab akibat dengan melibatkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Jenis penelitian eksperimen yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu (quasi
eksperiment). Sehingga tidak semua variabel yang muncul dalam kondisi
eksperimen dapat diatur dan dikontrol secara ketat. Tempat penelitian dilaksanakan di SD Gugus VI Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng pada tahun ajaran 2014/2015. Populasi adalah keseluruhan objek dalam suatu penelitian, (Agung, 2011:45). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV Sekolah Dasar di Gugus VI Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil, yang dianggap mewakili seluruh populasi dan diambil dngan menggunakan teknik tertentu, (Agung, 2011:45). Cara yang digunakan dalam penentuan sampel penelitian ini disebut teknik sampling. Dalam penelitian ini, sampel dari populasi diambil dengan teknik random sampling, artinya sampel ditarik secara acak (random). Langkah random sampling digunakan untuk menentukan dua sekolah yang akan menjadi sampel dalam penelitian.
Dalam menentukan paket kelas yang nantinya dikenai perlakuan, teknik randomisasi menggunakan teknik random sampling. Dengan teknik ini akan dapat ditentukan dua kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penentuan ini menggunakan teknik undian dengan menetapkan paket kelas yang muncul sebagai paket kelas sampel. Paket kelas sampel yang didapatkan dari hasil undian adalah kelas IV dari SD No. 1 Panji Anom dan SD No. 1 Tegallinggah. Kemudian dilakukan undian lagi untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari hasil undian didapatkan bahwa kelas IV dari SD No. 1 Panji Anom sebagai kelas kontrol dan kelas IV dari SD No. 1 Tegallinggah sebagai kelas eksperimen.
Desain dalam penelitian ini adalah
nonequivalent posttest only control group design. Desain ini dipilih karena eksperimen
tidak mungkin mengubah kelas yang ada. Dalam penelitian ini, data yang terkumpul berasal dari jumlah seluruh siswa kelas IV SD yang terdapat di gugus VI Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar IPA. Untuk mengukur hasil belajar IPA siswa digunakan tes. Tes diartikan sebagai sejumlah pertanyaan yang membutuhkan
jawaban, atau sejumlah pernyataan yang harus diberikan tanggapan dengan tujuan mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tertentu dari orang yang dikenai tes, (Rasyid & Mansur, 2007:11). Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda.
Instrumen tes pilihan ganda yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar siswa yang diberikan perlakuan dengan model pembelajaran ARIAS dan model konvensional harus melalui uji coba terlebih dahulu. Data yang telah didapat di lapangan kemudian diuji coba dengan mengukur validitas, reliabilitas, daya pembeda soal dan tingkat kesukaran soal. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran empirik kelayakan instrumen penelitian yang digunakan.
Data yang telah terkumpul, dianalisis dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif berfungsi untuk mengelompokkan data, menggarap, memaparkan serta menyajikan hasil olahan. Statistik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rata-rata (mean), median, dan modus. Sedangkan statistik
inferensial berfungsi untuk
menggeneralisasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh sampel. Statistik inferensial ini digunakan untuk menguji hipotesis melalui uji-t yang diawali dengan analisis prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.
Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan uji-t sampel independent (tidak berkorelasi) yaitu polled varians. Kriteria pengujian pada uji-t sampel tidak korelasi, H0 diterima jika thitung ≤ ttabel dan H0 ditolak
jika thitung > ttabel dengan taraf signifikansi 5%.
Peningkatan pendidikan sebagai upaya peningkatan pendidikan yang berkualitas, tidak terkecuali merupakan salah satu tujuan dari pendidikan IPA. Menurut Fowler, IPA merupakan ilmu yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan induksi. Sedangkan menurut Aly (2009:18) IPA merupakan suatu ilmu teoritis, tetapi teori tersebut didasarkan atas pengamatan, percobaan-percobaan terhadap gejala-gejala alam.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. Tujuan pembelajaran IPA di SD tidak menjadikan siswa sebagai ahli bidang IPA, tetapi dimaksudkan agar siswa menjadi orang yang melek ilmu atau literasi sains (Depdikbud, 1994).
Pembelajaran IPA dimaksudkan dalam ranah pemahaman anak didik, sebagai kemampuan, antara lain: (1) mengingat dan mengulang konsep, prinsip, dan prosedur, (2) mengidentifikasi dan memilih konsep, prinsip, dan prosedur, dan (3) menerapkan konsep, prinsip, dan prosedur. Berangkat dari maksud dan tujuan itu, maka pembelajaran IPA seharusnya diorientasikan pada aktivitas-aktivitas yang mendukung terjadinya suatu pemahaman terhadap konsep, prinsip, dan prosedur dalam kaitannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, sehingga pembelajaran IPA menjadi bermakna dan pada akhirnya menjadi proses belajar yang menyenangkan (Agustiana, 2009).
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Hasil post-test terhadap 30 orang siswa kelas IV di SD Sukasada yang belajar dengan model pembelajaran ARIAS dalam kelompok eksperimen, menunjukkan bahwa skor tertinggi adalah 27 dan skorterendahadalah 16. Setelah dilakukan análisis terhadap perolehan hasil belajar pada kelompok ekperimen tersebut, maka
diperoleh Mean (M), Median (Md), Modus (Mo) digambarkan dalam kurve poligon menunjukkan bahwa sebaran data pada kelompok eksperimen merupakan juling negatif, yang menunjukkan bahwa sebagian besar skor cenderung tinggi.
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui hasil perhitungan yang dilakukan mengikuti skala penilaian atau klasifikasi pada skala lima, skor post-test kelompok eksperimen pada siswa yang belajar dengan model pembelajaran ARIAS berada pada kategori sangat baik, yaitu pada rentang skor 30,005 ≤ 33,6 ≤ 40,01 seperti yang tampak pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1 Data Post-Test Hasil Belajar Kelompok Eksperimen
Hasil ini berbeda dengan perolehan
post-test hasil belajar kelompok kontrol.
Hasil post-test terhadap 30 orang siswa kelas IV di SD No. 1 Panji Anom yang belajar dengan model pembelajaran konvensional dalam kelompok kontrol. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui hasil perhitungan yang dilakukan mengikuti skala penilaian atau klasifikasi pada skala lima, skor post-test kelompok kontrol pada siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional berada pada kategori baik, yaitu pada rentang skor 23,335 ≤ 27,86 < 30,005.
Gambar 2 Data Post-Test Hasil Belajar Kelompok Kontrol
Teknik statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian ini adalah statistik inferensial untuk menguji hipotesis penelitian. Sebelum dilakukan uji beda (uji-t), terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis terhadap data-data hasil penelitian. Uji Prasyarat analisis dilakukan untuk memperoleh fakta tentang: (1) normalitas distribusi data, dan (2) homogenitas varians antar kelompok. Prasyarat yang harus dipenuhi adalah sebaran data berdistribusi normal dan varians antar kelompok homogen.
Uji normalitas sebaran data dilakukan untuk meyakinkan bahwa data hasil penelitian benar-benar berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data dilakukan terhadap data hasil post-test pada hasil belajar IPA kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada penelitian ini uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
e e
f
f
f
0 2 2(
)
(Koyan, 2007:81) Keterangan: χ2 = Chi-Square fo = Frekuensi observasife = Frekuensi yang diharapkan
Kriteria pengujian data yaitu apabila χ2
hitung<χ2tabel, maka sampel berasal dari
populasi yang berdistribusi normal dengan
derajat kebebasan dk= (k-2-1). Hasil perhitungan lengkap uji normalitas data menggunakan rumus Chi-Kuadrat.
Berdasarkan analisis yang dilakukan, maka diperoleh hasil uji normalitas sebaran data dengan menggunakan rumus Chi-Square.
Adapun kaidah pengujian adalah χ2
hitung <χ2 tabel maka data berdistribusi normal,
sedangkan χ2 hitung >χ2 tabel maka data tidak
berdistribusi normal. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus
Chi-Square, hasil post-test kelompok eksperimen diperoleh χ2 hitung adalah
sebesar 5,7025 pada taraf signifikansi 5% dan dk = 3 diketahui χ2 tabel = 7,815. Ini
berarti bahwa χ2 hitung <χ2 tabel (5,7025 <
7,815), maka data hasil post-test kelompok
eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan hasil post-test kelompok kontrol diperoleh χ2 hitung adalah sebesar 6,8560
pada taraf signifikansi 5% dan dk =3 diketahui χ2
tabel = 7,815. Ini berarti bahwa χ2 hitung <χ2 tabel (6,8560 < 7,815), maka data
hasil post-test kelompok kontrol berdistribusi normal. Hasil perhitungan lengkap uji normalitas data menggunakan rumus Chi-Square.
Selanjutnya dilakukan uji prasyarat yang kedua yaitu uji homogenitas varians. Berdasarkan hasil perhitungan uji homogenitas varians dengan menggunakan rumus uji F, varians data hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.
Berdasarkan hasil uji asumsi statistik yaitu uji normalitas dan uji homogenitas diperoleh hasil bahwa data dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan hal tersebut, maka akan dilanjutkan pada pengujian hipotesis penelitian atau hipotesis alternatif (H1).
hasil analisis data menggunakan uji-t, diketahui nilai thitung = 2,75, db 56 dan taraf signifikansi 5% diketahui ttabel sebesar 2,021. Dari hasil perhitungan tersebut pada taraf signifikansi 5 % diketahui nilai thitung lebih besar dari ttabel, (thitung> ttabel) ini berarti hasil penelitian
Pembahasan
Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian, kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran ARIAS memiliki hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. Tinjauan ini didasarkan pada rata-rata skor hasil belajar siswa. Rata-rata skor hasil belajar yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran ARIAS adalah 33,6 dan rata-rata skor hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional adalah 27,86.
Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji-t, diketahui nilai thitung = 2,75, db 56 dan taraf signifikansi 5% diketahui ttabel sebesar 2,021. Dari hasil perhitungan tersebut pada taraf signifikansi 5 % diketahui nilai thitung lebih besar dari ttabel, (thitung> ttabel) ini berarti hasil penelitian
adalah signifikan.
Berdasarkan hasil analisis uji-t diketahui bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA pada siswa kelas IV Semester Genap di SD No.1 Panji Anom dan SD No.1 Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2014/2015 antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran ARIAS dan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional.
Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan hasil belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada tes di akhir kegiatan pembelajaran, dari rata-rata nilai Gain-score pada kedua kelompok diketahui rata-rata nilai kelompok eksperimen lebih besar dari rata-rata nilai kelompok kontrol (13,3 > 9,893).
Dengan demikian, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara kelompok eksperimen yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran ARIAS dengan kelompok kontrol yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional.
Perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara pembelajaran menggunakan
model pembelajaran ARIAS dan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran konvensional dapat disebabkan adanya perlakuan pada langkah-langkah pembelajaran. Model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen, yaitu. 1) Assurance (percaya diri); 2) Relevance (sesuai dengan kehidupan siswa); 3) Interest (minat dan perhatian siswa); 4) Assessment (evaluasi) dan 5) Satisfaction (penguatan).
Seperti yang telah dikemukakan di atas, model pembelajaran ARIAS terdiri atas lima komponen (assurance, relevance,
interest, assessment, dan satisfaction) yang
disusun berdasarkan teori belajar. Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Deskripsi singkat masing-masing komponen dan beberapa contoh yang dapat dilakukan untuk membangkitkan
dan meningkatkannya kegiatan
pembelajaran adalah sebagai berikut.
Komponen pertama dalam
pembelajaran ARIAS adalah assurance (kepercayan diri). Komponen ini memiliki hubungan dengan sikap percaya, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil. Seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung akan berhasil. Sikap di mana siswa merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mendorong mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut.
Komponen kedua adalah (relevansi).
Relevance berhubungan dengan kehidupan
siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang berhubungan dengan kebutuhan karirsekarang atau yang akan datang. Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki arah tujuan, sasaran yang jelas, manfaat dan relevan dengan kehidupan mereka. Sesuatu yang memiliki arah tujuan, sasaran yang jelas, manfaat dan relevan dengan kehidupan akan mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut.
Komponen ketiga adalah interest
(minat/perhatian). Interest berhubungan dengan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Dapat disimpulkan bahwa minat siswa dalam mengikuti
kegiatan belajar dimungkinkan akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Dengan demikian, siswa akan menjadi lebih aktif dikarenakan kemauan belajarnya muncul tanpa adanya paksaan dari luar sehingga efektivitas pembelajaran dapat tercapai dengan optimal dan dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa.
Komponen keempat adalah assessment (penilaian). Assesment merupakan suatu bagian pokok dalam kegiatan pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan murid. Bagi guru, assessment
merupakan alat untuk mengetahui apakah yang telah diajarkan sudah dipahami oleh siswa, untuk memonitor kemajuan siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok, untuk merekam apa yang telah dicapai oleh siswa, dan untuk membantu siswa dalam belajar.
Komponen kelima adalah satisfaction merupakan segala hal yang berhubungan dengan rasa bangga dan puas atas hasil yang dicapai. Dalam teori belajar
satisfaction adalah reinforcement
(penguatan). Siswa yang telah mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga atau puas atas keberhasilan tersebut. Keberhasilan dan kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa tersebut untuk mencapai keberhasilan berikutnya. Jadi reinforcement (penguatan) yang dapat memberikan rasa bangga dan puas pada siswa, sangatlah penting dan perlu dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dapat membayangkan atau mengkhayalkan apa saja, bahkan dapat membayangkan dirinya sebagai apa saja. Bahan/materi disusun sesuai urutan dan tahap kesukarannya perlu dibuat sedemikian rupa
sehingga dapat menimbulkan
keingintahuan dan memungkinkan siswa dapat mengadakan evaluasi sendiri.
Perbedaan proses pembelajaran yang terjadi pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memberikan dampak yang berbeda pula pada pemahaman konsep yang dimiliki siswa. Pembelajaran dengan model ARIAS menyebabkan siswa aktif dalam proses pembelajaran. Siswa terlatih untuk mampu menemukan dan memecahkan permasalahan yang ditemui, bekerja sama dengan siswa lainnya,
menyampaikan pendapat, dan
mengkomunikasikan sesuatu yang ada di pikirannya kepada guru dan siswa lain.
Model pembelajaran ARIAS mempunyai dampak instruksional yaitu perolehan dan penguasaan materi baru. Dampak pengiringnya yaitu siswa mempunyai rasa percaya diri dalam mengemukakan pendapat yang dimiliki, tumbuhnya minat dan perhatian siswa terhadap pembelajaran IPA serta motivasi siswa untuk belajar semakin besar, sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran ARIAS dapat memudahkan siswa memperoleh dan menguasai materi baru. Siswa lebih aktif berinteraksi dengan seluruh peserta belajar didalam kelas. Interaksi ini berlangsung secara berkesinambungan sehingga guru tidak mendominasi pembelajaran. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan kemampuan
penalarannya dan siswa lebih dihargai dalam mengemukakan ide-ide yang ada dalam pikirannya.
PENUTUP
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan, hasil penelitian, dan pembahasan seperti yang telah diuraikan pada Bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
Deskripsi hasil belajar IPA siswa yang
mengikuti model pembelajaran
konvensional menunjukkan bahwa sebagian besar skor cenderung rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan bahwa Mo < Md < M. Berdasarkan skala penilaian atau klasifikasi pada skala lima berada pada kategori baik, yaitu pada rentang skor 23,335 ≤ 29,04 < 30,005.
Deskripsi hasil belajar IPA siswa yang mengikuti model pembelajaran ARIAS menunjukkan bahwa sebagian besar skor cenderung tinggi, hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan bahwa Mo > Md> M. Berdasarkan skala penilaian atau klasifikasi pada skala lim, siswa yang mengikuti model pembelajaran ARIAS berada pada kategori sangat baik, yaitu pada rentang skor 30,005 ≤ 33,6 ≤ 40,01.
Dari hasil uji hipotesis yang telah dilakukan dengan menggunakan uji-t ditemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran ARIAS dan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional diketahui bahwa thitung > ttabel (thitung = 2,75 > ttabel = 2,021; α = 0,05). Dari rata-rata hasil belajar IPA diketahui siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran ARIAS lebih baik dari siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran konvensional (= 13,3 > = 9,893).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran ARIAS berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV semester genap di SD No.1 Panji Anom dan SD No.1 Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2014/2015.
Saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut. (1) Disarankan agar guru-guru dapat memberikan suasana belajar yang menyenangkan dan menantang bagi siswa serta dapat meningkatkan tanggung jawab dan rasa kebersamaan bagi siswa. (2) Disarankan bagi siswa agar penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang model-model pembelajaran inovatif dan menerapkan dalam proses pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mengikuti proses belajar lebih baik. (3) Disarankan bagi sekolah agar hasil penelitian ini bisa dimanfaatkan disekolah untuk upaya peningkatan hasil belajar IPA siswa. (4) Disarankan agar hasil penelitian ini bisa bermanfaat bagi peneliti lain sebagai referensi untuk objek penelitian yang sejenis.
DAFTAR RUJUKAN
Anderson & Krathwohl. 2010. Kerangka
Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesment.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bundu, Patta. 2006. Penilaian Keterampilan
Proses dan Sikap Ilmiah dalam
Pembelajaran Sains Sekolah Dasar.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
Fajaroh, F. dan Dasna, I.W. 2007. “Model
Pembelajaran ARIAS”. Hasil
Penelitian. Tersedia pada http://gurupkn.wordpress.com. (diakses tanggal 5 Februari 2015). Hamruni. 2012. strategi Pembelajaran.
Yogyakarta: Insan Madani.
Kemendiknas. 2011. Standar Kompetensi
dan Kompetensi Kompetensi Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyaah. Jakarta: Kementerian
Pendidikan Nasional.
Partawan, I Gede Rian. 2013. Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada Siswa Kelas IV Semester II Sekolah Dasar No. 9 Jimbaran Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Undiksha Singaraja.
Prayitno, Elida. 1989. “Motivasi dalam
Belajar”. Tersedia pada
https://gurupkn.wordpress.com/2007 /12/22/model-pembelajaran-arias/ (diakses tanggal 7-2-2015).
Rasana, Raka. 2009. Model-model Pembelajaran. Singaraja: Undiksha
Samatowa, Usman. 2010. Pembelajaran
IPA di Sekolah Dasar. Jakarta:
Indeks.
Slavin, Robert E. 2005. Cooperatif Learning
Teori, Riset dan Praktik. Bandung:
Nusa Pedia.
Sudana, dkk. 2013. Pendidikan IPA SD. Singaraja: Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan
Pembelajaran di SD. Jakarta: Kencana Predana Media Group. Suastra, I Wayan. 2009. Pembelajaran
Sains Terkini. Singaraja: UNDIKSHA.
Suwatereningsih, Ni Putu. 2009. Pengaruh
Penerapan Model Pembelajran ARIAS terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Ditinjau dari Keaktifan Siswa (skripsi). Tersedia
pada www.
Etd.eprints.ums.ac.id/7193/a410050 053.pdf. (Diunduh pada 11 Juni 2011).
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran
Inovatif. Sidoarjo: Mas Media Buana