EVALUASI PENERAPAN KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG
MENGGUNAKAN COMPUTERIZED FIRE SAFETY EVALUATION SYSTEM (CFSES) PADA GEDUNG MUSEUM NASIONAL JAKARTA TAHUN 2014
Gangges Gasaskhaa, Sjahrul Meizar Nasri
1. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok – Indonesia 2. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok – Indonesia
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan keselamatan kebakaran gedung dengan menggunakan perangkat lunak / software Computerized Fire Safety Evaluation System (CFSES) di Gedung Museum Nasional Jakarta yang beralamat di Jl. Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat. Berdasarkan hasil penelitian pada 2 gedung yaitu Gedung A dan B, tidak ada satupun gedung yang memenuhi standar NFPA 101: Life Safety Code ®. Tidak ada satupun dari 12 parameter yang dievaluasi memenuhi standar.
Kata kunci: CFSES, keselamatan kebakaran, gedung, Museum Nasional
ABSTRACT
This research aimed at evaluating the application of building’s fire safety using a software of Computerized Fire Safety Evaluation System (CFSES) on National Museum Building, Jakarta, located on Jalan Merdeka Barat 12, Central Jakarta. Based on the research on two buildings, Building A and B, none of the two buildings that meet the standards of NFPA 101: Life Safety Code ®. None of the 12 parameters evaluated meets the standards.
Kebakaran museum yang pernah terjadi di Indonesia yaitu kebakaran museum di Makassar. Pada tanggal 20 juli 2011 kebakaran terjadi di salah satu ruangan yang menampung kamera tua dan guci-guci bersejarah koleksi museum tersebut. Seluruh koleksi habis terbakar. Penyebab terjadinya kebakaran belum diketahui, namun kuat dugaan bahwa kebakaran terjadi akibat arus pendek listrik. Kerugian yang dialami sudah tentu tidak ternilai harganya
(www.news.detik.com, 2011).
Menurut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, museum adalah suatu lembaga yang bersifat tetap dan memberikan pelayanan terhadap kepentingan masyarakat dan kemajuannya, terbuka untuk umum serta tidak bertujuan semata-mata mencari keuntungan untuk mengumpulkan, memelihara, meneliti, dan memamerkan benda-benda yang merupakan tanda bukti evolusi alam dan manusia untuk tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi. Koleksi-koleksi yang ada di museum memiliki sejarah dan nilai ilmiah yang tak ternilai termasuk nilai estetikanya. Oleh karena itu, proteksi museum terhadap bahaya kebakaran sangatlah penting untuk dilakukan.
Pengelolaan dalam proteksi koleksi museum dari bahaya api memerlukan sistem deteksi kebakaran dengan alat deteksi peringatan dini dan sesuai dengan standardisasi yang ada untuk perlindungan yang maksimal. Perlindungan dan pelestarian tersebut sangat penting untuk misi museum. Proteksi terhadap kebakaran yang dilakukan tidak hanya mengandalkan pemadam kebakaran namun juga kesiapan pekerja dalam menghadapi kebakaran dan keberadaan peralatan yang memenuhi standar proteksi terhadap kebakaran gedung.
Berdasarkan hasil tinjauan penulis mengenai sistem proteksi kebakaran di Museum Nasional, penulis tertarik untuk melakukan evaluasi sistem tersebut dengan menggunakan metode CFSES (Computerized Fire Safety Evaluation System). Evaluasi atau penilaian terhadap keselamatan kebakaran belum pernah dilakukan di Museum Nasional. Mengingat koleksi museum yang tak ternilai harganya, maka penulis merasa hal tersebut perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kebakaran dan kerugian yang besar.
Tinjauan Teori
Kebakaran adalah reaksi kimia atau serangkaian reaksi yang melibatkan proses oksidasi, menghasilkan panas, cahaya, dan asap. Reaksi kimia tersebut dihasilkan oleh bahan bakar, oksigen, dan sumber panas yang cukup (Furness and Muckett, 2007). Ketiga unsur tersebut yang disebut sebagai segitiga api (fire triangle). Kebakaran hanya bisa terjadi apabila ketiga unsur pembentuk tersebut ada, hal inilah yang menjadi acuan untuk pemadaman kebakaran yaitu menghilangkan salah satu unsur atau memutus rantai reaksi yang terjadi dalam pembakaran tersebut.
Computerized Fire Safety Evaluation System merupakan sebuah perangkat lunak
komputer untuk mengevaluasi risiko kebakaran pada gedung berdasarkan metodologi evaluasi dalam NFPA 101A: Guide to Alternative Approaches to Life Safety. Program CFSES ini dikembangkan oleh Hughes Associates, Inc yang berada dibawah National Institute of Standars
and Technology (Hughes Associates, Inc. 2000).
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan semi kuantitatif yang bersifat observasional. Penelitian dilakukan melalui observasi dan wawancara untuk mengevaluasi penerapan sistem keselamatan kebakaran di Gedung Museum Nasional sesuai dengan Fire Safety Evaluation System NFPA 101A: Guide on Alternative Approaches to
Life Safety yang kemudian dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak CFSES
(Computerized Fire Safety Evaluation System). Penelitian dilakukan di Gedung Museum Nasional yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2014.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari hasil observasi lapangan terhadap safety parameters dengan menggunakan checklist sesuai dengan panduan NFPA 101A. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan data sekunder berupa dokumen yang mendukung penilaian terhadap keselamatan kebakaran pada Museum Nasional. Setelah data untuk penelitian diperoleh, maka data tersebut diolah dan dianalisis dengan
menggunakan perangkat lunak CFSES versi 1.2.03. Tahapan analisis data dengan menggunakan CFSES
Penilaian terhadap masing-masing parameter dipengaruhi oleh tabel bridging dan hasil
checklist. Nilai parameter akan mengalami penurunan nilai tergantung dari prosentase tabel bridging dan checklist yang diperoleh.
Rumusan Perhitungan Penurunan Nilai :
A+B+C+… = X D
( X ) x N
( E + X )-1 Keterangan :
A : Prosentase nilai parameter pada CFSES B : Prosentase nilai tabel bridging
C : Prosentase nilai checklist
D : Banyaknya nilai yang mempengaruhi parameter
E : Angka terendah yang tertera dalam CFSES X : Nilai rata-rata
N : Range nilai yang ada di dalam CFSES
Hasil Penelitian
Kompleks Museum Nasional terdiri dari 2 gedung yaitu A dan B yang didirikan di atas tanah dengan luas sekitar 26.500 m2. Kedua gedung ini memiliki sistem proteksi kebakaran yang tidak terintegrasi dikarenakan Gedung A masih merupakan bangunan lama yang didirikan sejak masa penjajahan Belanda yang baru direncanakan akan direnovasi dan dilengkapi dengan sistem proteksi kebakaran yang sesuai.
Gambar 1 Hasil Total Penilaian Gedung A Museum Nasional
Pembahasan
1. Konstruksi Gedung
Gedung Museum Nasional terdiri dari dua gedung yaitu Gedung A dan B. Variabel penilaian untuk Gedung A yaitu -3,16 disebabkan oleh beberapa faktor seperti perawatan gedung yang kurang baik dapat mengakibatkan tingkat ketahanan konstruksi gedung berkurang ketika terjadi kebakaran.
Pengecekan dan perawatan terhadap konstruksi gedung sebaiknya dilakukan untuk mengetahui daya tahan material penyusun Gedung A sebab gedung tersebut adalah bangunan tua sehingga perawatan gedung secara berkala dapat memberikan dampak baik untuk ketahanan gedung. Pemugaran gedung dengan ketahanan terhadap api sangat direkomendasikan. Karena Gedung A Museum Nasional menyimpan benda-benda bersejarah yang tak ternilai harganya.
Gedung B Museum Nasional menggunakan konstruksi dari beton. Penilaian pada variabel konstruksi mendapat nilai 0,55 karena gedung ini menggunakan konstruksi dasar dari beton (kelas I).
Pengecekan terhadap jenis dan tebal beton sebaiknya dilakukan untuk mengetahui daya tahan beton di Gedung B secara pasti. Rekomendasi yang diberikan adalah perawatan gedung secara baik dan jika ada rencana pembuatan gedung yang baru.
2. Variabel Pemisahan Bahaya Gedung Museum Nasional
Ruang panel di Gedung A Museum Nasional bervariasi. Namun yang paling berpotensi menimbulkan kebakaran yaitu ruang panel di bagian belakang museum dengan ukuran panjang 5 m ; lebar 3 m ; dan tinggi 5 m (16,4 ft ; 9,84 ft ; 16,4 ft). Luas ruangan tersebut yaitu 161,376 ft2. Barang-barang yang terdapat di ruangan tersebut berupa tumpukan kardus-kardus dan palet kayu setinggi 1,7 m (5,58 ft) yang memenuhi sekitar 80 % (129,1 ft) dari ruangan panel tersebut. Dalam NFPA 101A, palet kayu dengan ketinggian 5 feet memiliki burn rates lebih buruk daripada kardus. Oleh karena itu dimasukkan burn rates untuk palet kayu dengan ketinggian 5 feet sebesar 350 Btu/s. Terdapat 1 bukaan berupa
pintu. Informasi tersebut kemudian dimasukkan ke dalam CFSES untuk mengetahui apakah
flashover akan terjadi atau tidak di ruangan ini.
Ruang penyimpanan barang yang sudah tidak terpakai di Gedung B memiliki panjang 6 m (19,69 ft); lebar 3,5 m (11,48 ft); dan tinggi 4 m (13,12 ft) berbatasan langsung dengan ruang trafo, panel, dan capacitor bank. Barang-barang yang terdapat di ruangan tersebut berupa lemari kayu serta meja kayu bekas pakai yang memenuhi ruangan tersebut sekitar 80 %. Barang-barang tersebut termasuk dalam kategori wooden pallets 5 ft high dengan burn
rate 350 (NFPA 101A). Luas dari ruangan tersebut yaitu 21 m2 (226,04 ft2). Terdapat 1 bukaan berupa pintu. Informasi tersebut kemudian dimasukkan ke dalam CFSES untuk mengetahui apakah flashover akan terjadi atau tidak di ruangan ini.
3. Variabel Bukaan Vertikal Gedung Museum Nasional
Pada jalur evakuasi Gedung A Museum Nasional terdapat 2 tangga terbuka yang menghubungkan 2 lantai yang dapat menjadi jalur penyebaran asap dan api yang baik. Penilaian terhadap variabel bukaan vertikal mendapat nilai -1 dalam CFSES.
Selain jalur penyelamatan, saf kabel di Gedung B yang menghubungkan lantai dasar hingga lantai paling atas dapat dikategorikan sebagai bukaan vertikal. Lift pada gedung ini yang diprogram untuk turun ke lantai paling bawah pada saat terjadi kebakaran juga merupakan bukaan vertikal karena dapat menjadi jalur penyebaran asap dan api. Hal ini membuat penilaian terhadap variabel bukaan vertikal mendapat nilai -10 dalam CFSES karena menghubungkan lebih dari 5 lantai.
Variabel bukaan vertikal berperan penting dalam penilaian keselamatan kebakaran perkantoran di gedung Museum Nasional. Jika dilakukan perbaikan dengan memberi fire
stop material berkualitas baik dengan daya tahan api mencapai 30 menit sampai satu jam. Fire stop material yang dimaksud dapat berupa papan gipsum yang dipasang menutupi
bukaan vertikal tersebut (Gambar 7.7). Pemrograman lift untuk berhenti di lantai terdekat juga perlu dilakukan agar dapat mengurangi jalur penyebaran api dan asap.
4. Variabel Sprinkler Gedung Museum Nasional
Gedung A Museum Nasional tidak memiliki Sprinkler karena belum ada instalasi dan baru saja direncanakan untuk pemasangan instalasi Sprinkler. Nilai yang diberikan adalah nilai yang terburuk yaitu 0.
Sprinkler di Gedung B Museum Nasional sudah terinstalasi di seluruh ruangan
dengan jarak antar sprinkler 3-4 m. Sistem sprinkler terhubung dengan alarm secara otomatis namun belum pernah diuji coba dan kolam penampungan air untuk semua area gedung B digabung menjadi satu. Oleh karena itu penilaian variabel sprinkler mendapat nilai 10.
5. Variabel Sistem Alarm Kebakaran Gedung Museum Nasional
Gedung A Museum Nasional menggunakan sistem alarm semi addressable yang tidak terkoneksi langsung dengan pemadam kebakaran. Jadi teknisi atau satpam harus menghubungi pemadam kebakaran melalui telepon apabila terjadi kebakaran. Namun alarm kebakaran gedung ini hanya terkoneksi dengan heat detector karena Gedung A tidak memiliki sistem sprinkler, smoke detector, maupun lift. Maintenance yang ada juga hanya dilakukan apabila ada masalah, bukannya dilakukan secara berkala.
Sistem alarm kebakaran di Gedung B Museum Nasional pada saat ini dalam kondisi tidak aktif karena rusak. Faktor-faktor tersebut menyebabkan penilaian terhadap variabel sistem alarm kebakaran di Gedung B Museum Nasional berada pada level terendah yaitu -2.
6. Variabel Pendeteksi Asap Gedung Museum Nasional
Gedung A Museum Nasional tidak memiliki sistem pengendalian asap. Oleh karena itu nilai yang diberikan adalah yang terendah yaitu 0.
Gedung B Museum Nasional sudah dilengkapi oleh pendeteksi asap di seluruh gedung. Alat ini terkoneksi secara otomatis dengan sistem alarm kebakaran yang saat ini sedang rusak, namun belum pernah diuji coba hingga saat ini. Oleh karena itu variabel pendeteksi asap mendapat nilai 0.
7. Variabel Interior Finish Gedung Museum Nasional
Atap pada ruang koleksi Gedung A dilapisi oleh gipsum, asbes, dan triplek. Gipsum termasuk dalam Kelas A dengan tingkat penyebaran api 0-25 Btu/s. Triplek termasuk dalam Kelas C dengan tingkat penyebaran api 76-200 Btu/s. Sedangkan atap pada jalan keluar sebagian besar dilapisi oleh gipsum dan kayu pada bagian terluar. Permukaan dinding ruang koleksi tidak dilapisi oleh material apapun, hanya tersusun dari batu bata, semen, dan kapur. Begitu pula permukaan dinding pada jalan keluar yang ada. Batu bata, semen, dan kapur termasuk dalam Kelas A dengan tingkat penyebaran api 0-25 Btu/s. Terdapat hanya 1 ruangan koleksi yang lantainya dilapisi oleh kayu yaitu ruangan koleksi keramik, sisanya hanya tersusun dari keramik dan batu granit. Begitu pula dengan lantai di jalan keluar yang tersusun dari keramik dan batu granit. Oleh karena itu peneliti memberikan nilai rata-rata pada variabel Interior Finish yaitu 1.
Atap pada ruang kerja dan koleksi Gedung B dilapisi oleh gypsum, asbes, triplek. Sedangkan material yang menyusun atap pada jalan keluar yaitu beton. Gipsum termasuk dalam Kelas A dengan tingkat penyebaran api 0-25 Btu/s. Triplek termasuk dalam Kelas C dengan tingkat penyebaran api 76-200 Btu/s. Permukaan dinding ruang kerja dilapisi oleh material pelapis beludru, triplek, wallpaper, dan gipsum. Permukaan dinding pada jalan keluar tersusun dari semen dan batu bata. Batu bata, semen, gipsum, dan kapur termasuk dalam Kelas A dengan tingkat penyebaran api 0-25 Btu/s. Pelapis beludru dan wallpaper merupakan bahan yang mudah terbakar yang dapat mempercepat penyebaran api. Permukaan lantai ruang kerja dilapisi oleh karpet. Sedangkan lantai di jalan keluar tersusun dari semen dan ubin. Oleh karena itu peneliti memberikan nilai rata-rata pada variabel Interior Finish yaitu 2 dikarenakan banyak terdapat bahan yang mudah terbakar pada permukaan dinding dan lantai yang dapat mempercepat laju penyebaran api.
8. Variabel Sistem Pengendalian Asap Gedung Museum Nasional
Gedung A Museum Nasional tidak memiliki sistem pengendalian asap sehingga peneliti memberikan nilai terendah yaitu 0.
Gedung B Museum Nasional memiliki sistem pengendali asap aktif dan pasif. Pada area kerja terdapat kompartemenisasi yang sebagian besar berpintu dengan self-closer yang
merupakan sistem pengendali asap aktif yang dapat menekan laju perger akan asap apabila terjadi kebakaran. Pada tangga darurat terdapat pressurized fan yang dikontrol secara manual oleh operator atau teknisi melalui sistem BAS. Pada tahun 2010 sudah pernah dilakukan ujicoba terhadap pressurized fan ini dan dilakukan perbaikan karena terjadi salah pemasangan. Saat ini pressurized fan sudah dapat dioperasikan dan dalam keadaan benar. Peneliti memberikan nilai 0 pada variabel sistem pengendali asap terkait dengan sistem alarm yang sedang rusak.
9. Variabel Akses Keluar Gedung Museum Nasional
Jarak tempuh terjauh pada akses keluar Gedung A Museum Nasional apabila terjadi kebakaran adalah 20 meter atau 65,62 feet. Namun exit access yang ada di Gedung A Museum Nasional hanya berupa jalur biasa pengunjung dan pegawai keluar masuk setiap harinya dan jalur ini dipenuhi oleh koleksi-koleksi museum berupa patung-patung. Hal ini dapat sangat menghambat proses evakuasi apabila terjadi kebakaran walaupun jarak terjauh mencapai muster point hanya 20 m. Oleh karena itu penilaian terhadap variabel ini yaitu -0,6. Gedung B Museum Nasional memiliki jalan buntu pada akses keluar karena terdapat pintu akses keluar yang sengaja dikunci karena takut kebobolan pencuri. Sehingga akses keluar yang dapat dilalui oleh penghuni gedung hanya 1 jalur. Jarak terjauh yang dapat ditempuh penghuni gedung untuk mencapai akses keluar yaitu 20 m (65,62 feet Kondisi tangga darurat tidak semuanya bebas hambatan. Di beberapa lantai terdapat tumpukan barang-barang di area tangga darurat. Lampu penunjuk arah pun sebagian besar dalam keadaan mati. Oleh karena itu nilai pada variabel akses keluar yaitu 0,1.
10. Variabel Jalur Evakuasi Gedung Museum Nasional
Gedung A Museum Nasional memiliki 2 jalur keluar yang berupa jalur biasa pengunjung dan pegawai keluar-masuk dan tidak dilengkapi oleh proteksi kebakaran apapun. Jalur ini dipenuhi oleh koleksi museum berupa patung-patung. Jalur keluar tersebut tidak memenuhi persyaratan NFPA 101. Di dalam pengisian nilai untuk jalur penyelamatan juga tertera pertanyaan mengenai hal itu. Oleh karena itu penilaian terhadap variabel ini adalah -6.
Gedung B Museum Nasional memiliki 2 jalur penyelamatan di barat dan timur yang dilengkapi oleh pressurized fan dan smoke detector untuk mencegah masuknya asap ke jalur tersebut serta penunjuk arah “EXIT”. Namun sebagian besar lampu penunjuk arah tersebut mati. Sprinkler ataupun lampu darurat juga tidak terdapat pada jalur penyelamatan. Pada beberapa lantai terdapat tumpukan barang yang dapat menghalangi proses evakuasi apabila terjadi kebakaran. Salah satu dari jalur tersebut pintu keluar yang menuju tempat berkumpul sengaja dikunci untuk mencegah masuknya pencuri. Jalur keluar tersebut tidak memenuhi persyaratan NFPA 101. Pada jalur penyelamatan terdapat pressurized fan yang sudah diuji coba dan dilakukan perbaikan sehingga dapat berfungsi dengan baik serta terdapat smoke
detector. Oleh karena itu penilaian terhadap variabel ini adalah -5.
11. Variabel Koridor / Kompartemen Gedung Museum Nasional
Kompartemen di Gedung A Museum Nasional terdapat pada salah satu ruang panel, yang terbuat dari tripleks serta pintu dari kayu dan besi yang memiliki door closer sehingga dapat menahan laju penyebaran api keluar. Namun koridor di gedung A Museum Nasional tidak memiliki sistem untuk pengendali asap sehingga daya tahan koridor terhadap asap bernilai paling kecil yaitu di bawah 2 menit. Variabel ini memiliki nilai -4,24.
Area kerja Gedung B Museum Nasional memiliki kompartemen. Material penyusunnya terdiri dari gipsum, kaca, dan alumunium. Material-material tersebut memiliki ketahanan terhadap api selama kurang lebih 1 jam. Material penyusun pintu pada kompartemen tersebut adalah alumunium, kaca, dan kayu yang sudah dilengkapi dengan
door closer. Dengan adanya door closer akan menghambat laju penyebaran asap. Oleh
karena itu, material yang digunakan sebagai kompartemen di Gedung B Museum Nasional tergolong sebagai material yang hanya memiliki ketahanan terhadap asap dan mendapatkan nilai 2. Penilaian ini juga dipengaruhi oleh adanya pintu dengan self-closer dari material kayu yang masih dapat berfungsi untuk mencegah penyebaran asap.
12. Variabel Program Tanggap Darurat Gedung Museum Nasional
Program pelatihan tanggap darurat di Museum Nasional berupa pemadakan kebakaran di Museum Nasional dilakukan 1 tahun sekali dengan melibatkan pemadam kebakaran pusat. Pelatihan proses evakuasi belum pernah dilakukan sama sekali. Pelatihan
pemadaman ini melibatkan semua pegawai Museum Nasional dengan program pemadaman api menggunakan APAR. Namun belum terdapat organisasi resmi tanggap darurat di Museum Nasional. Oleh karena minimnya pelatihan yang dilakukan dan belum adanya organisasi resmi tanggap darurat maka peneliti memberikan nilai 0.
Kesimpulan
1. Gedung A Museum Nasional tidak menggunakan konstruksi beton, yang termasuk ke dalam klasifikasi III (211) combustible. Gedung B Museum Nasional menggunakan konstruksi beton, yang termasuk dalam klasifikasi II (222) non combustible.
2. Kondisi ruang panel yang ada di Gedung A Museum Nasional tidak terpisah dari area penyimpanan koleksi dan terpisah dari jalur penyelamatan. Ruang panel Gedung B Museum Nasional terpisah dari area penyimpanan koleksi, area kerja dan jalur penyelamatan.
3. Gedung A Museum Nasional tidak memiliki bukaan vertikal. Gedung B Museum Nasional memiliki bukaan vertikal berupa lift, tangga darurat pada jalur penyelamatan dan saf kabel yang menghubungkan lebih dari 5 lantai.
4. Gedung A Museum Nasional tidak memiliki instalasi sprinkler. Sprinkler di Gedung B Museum Nasional sudah terinstalasi di seluruh ruangan. Sistem sprinkler terhubung dengan alarm secara otomatis namun belum pernah diuji coba. Kolam penampungan air untuk semua area gedung B digabung menjadi satu dengan air bersih, sehingga persediaan airnya tidak cukup bagi sprinkler untuk menyemburkan air minimal selama 30 menit pada saat terjadi kebakaran. Di beberapa ruang penyimpan bahaya tidak dilengkapi oleh sprinkler ataupun alat proteksi kebakaran yang lain.
5. Sistem alarm kebakaran yang terinstalasi di Gedung A dan B Museum Nasional yaitu
semi-addressable dan tidak terkoneksi langsung dengan dinas pemadam kebakaran. Pada saat ini
6. Gedung A Museum Nasional tidak memiliki pendeteksi asap. Gedung B Museum Nasional sudah dilengkapi oleh pendeteksi asap di seluruh gedung. Alat ini terkoneksi secara otomatis dengan sistem alarm kebakaran, namun belum pernah diuji coba hingga saat ini.
7. Interior finish pada Gedung A Museum Nasional memiliki flame spread rating <= 25 pada jalur penyelamatan dan >25 - <=200 pada ruang koleksi. Gedung B Museum Nasional memiliki flame spread rating <=25 pada jalur penyelamatan dan ruang kerja serta koleksi. 8. Gedung A Museum Nasional tidak memiliki sistem pengendalian asap. Gedung B Museum
Nasional memiliki sistem pengendali asap aktif berupa pintu pada kompartemenisasi dengan
self-closer dan pasif berupa pressurized fan pada tangga darurat yang dikontrol secara
manual oleh operator atau teknisi melalui sistem BAS. Pada tahun 2010 sudah pernah dilakukan ujicoba terhadap pressurized fan ini dan dilakukan perbaikan karena terjadi salah pemasangan. Saat ini pressurized fan sudah dapat dioperasikan dan dalam keadaan benar. 9. Terdapat jalan buntu pada Gedung B Museum Nasional karena salah satu pintu darurat di
gedung tersebut sengaja dikunci untuk menghindari pencurian.
10. Gedung A Museum Nasional memiliki 2 jalur keluar berupa jalur biasa pengunjung dan pegawai keluar-masuk dan tidak dilengkapi oleh proteksi kebakaran apapun serta dipenuhi oleh koleksi museum berupa patung-patung. Gedung B Museum Nasional memiliki 2 jalur penyelamatan di barat dan timur yang dilengkapi oleh pressurized fan dan smoke detector untuk mencegah masuknya asap ke jalur tersebut serta penunjuk arah “EXIT”. Namun sebagian besar lampu penunjuk arah tersebut mati. Sprinkler ataupun lampu darurat juga tidak terdapat pada jalur penyelamatan. Pada beberapa lantai terdapat tumpukan barang yang dapat menghalangi proses evakuasi apabila terjadi kebakaran.
11. Kompartemen di Gedung A Museum Nasional terdapat pada salah satu ruang panel, yang terbuat dari tripleks serta pintu dari kayu dan besi yang memiliki door closer sehingga dapat menahan laju penyebaran api keluar. Area kerja dan koleksi museum Gedung B Museum Nasional memiliki kompartemen yang tersusun dari gipsum, kaca, dan alumunium. Material-material tersebut memiliki ketahanan terhadap api selama kurang lebih 1 jam. Material penyusun pintu pada kompartemen tersebut adalah alumunium, kaca, dan kayu yang sudah dilengkapi dengan door closer.
12. Program pelatihan tanggap darurat di Museum Nasional berupa pemadaman kebakaran di Museum Nasional dilakukan 1 tahun sekali dengan melibatkan pemadam kebakaran pusat. Pelatihan proses evakuasi belum pernah dilakukan sama sekali. Pelatihan pemadaman ini melibatkan semua pegawai Museum Nasional dengan program pemadaman api menggunakan APAR. Namun belum terdapat organisasi resmi tanggap darurat di Museum Nasional.
13. Penerapan keselamatan kebakaran di Gedung Museum Nasional berdasarkan CFSES tidak memenuhi standar
Saran
1. Pemugaran Gedung A Museum Nasional dengan menggunakan material konstruksi klasifikasi I.
2. Perawatan Gedung B secara baik dan jika ada rencana pembuatan gedung yang baru, bahan dasar beton bisa dicampur dengan steel fiber untuk meningkatkan kekuatan beton pada suhu tinggi.
3. Interior finish pada ruang keramik yang berupa kayu diganti dengan material Kelas A seperti gipsum
4. Pemasangan fire stop material berkualitas baik dengan daya tahan api mencapai 30 menit sampai satu jam pada Gedung B.
5. Pemasangan instalasi sprinkler pada Gedung A dan penambahan volume tanki air di Gedung B.
6. Perbaikan sistem alarm kebakaran pada Gedung B dilakukan secepatnya. Pemasangan koneksi secara otomatis pada gedung ini antara sistem alarm kebakaran dengan sistem
sprinkler, listrik, pemberitahuan pada dinas pemadam kebakaran, dan juga sistem HVAC
7. Ruang panel yang ada di Gedung A Museum Nasional harus dipisah dari area penyimpanan koleksi dan terpisah dari jalur penyelamatan. Ruang panel Gedung B Museum Nasional agar dipasang APAR.
8. Gedung A Museum Nasional harus segera dipasang instalasi sprinkler. Uji coba Sprinkler di Gedung B Museum Nasional agar dapat dilakukan.
9. Perbaikan instalasi di ruang pompa, pump suction menyesuaikan jenis pompa positif. Perbaikan pipa yang bocor di ruang pompa Gedung B dan penggantian jeruji besi ruang pompa dengan tembok beton sebagai bagian dari pemisahan bahaya.
10. Pemrograman lift untuk berhenti di lantai terdekat pada saat terjadi kebakaran.
11. Sistem pemberitahuan kebakaran ke dinas pemadam kebakaran dikoneksikan dengan alarm Gedung A Museum Nasional.
12. Pemasangan alat pendeteksi asap untuk Gedung A Museum Nasional.
13. Pintu yang dikunci pada pintu darurat harus dibuka di Gedung B Museum Nasional. 14. Pembuatan risk map untuk penentuan akses keluar yang paling aman dan pendek 15. Pembentukan organisasi tanggap darurat sangat diperlukan
Daftar Referensi
1. Hughes, Phil and Ferret, Ed. (2011). Introduction to Health and Safety at Work Fifth
Edition. USA: Elsevier Ltd.
2. Wentz, Charles. A. (1999). Safety, Health, and Environmental Protection. Singapore: McGraw-Hill Companies, Inc.
3. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. (2009). Pengertian
4. Furness, Andrew and Mucket, Martin. (2007). Introduction to Fire Safety Management. United Kingdom: Elsevier Ltd.
5. Hegney, Roy. Et al. (2004). Enhancing Occupational Safety and Health. Great Britain: Elsevier Butterworth-Heinemann
6. Anonim. (2014). All About Fire. https://www.nfpa.org/press-room/reporters-guide-to-fire-and-nfpa/all-about-fire#tri (diakses pada tanggal 26 Maret 2014)
7. Ramli, S. (2010). Petunjuk Praktis Manajemen Kebakaran (Fire Management). Jakarta: Dian Rakyat.
8. Hughes Associates, Inc. (2000). Computerized Fire Safety Evaluation System For Business
Occupancies Software. Baltimore, MD: Commerce Drive.
9. Grice, Allan N. (2009). Fire Risk: Fire Safety Low and its Practical Application. London: Thorogood Publishing Ltd.
10. NFPA 101. (2006). Life Safety Code, Edition 2006. National Fire Protection Association. Quincy MA.
11. NFPA 101A. (2012). Guide on Alternative Approaches to Life Safety, Edition 2011. National Fire Protection Association. Quincy MA.
12. NFPA 101A. (2013). Guide on Alternative Approaches to Life Safety, Edition 2013. National Fire Protection Association. Quincy MA.
13. NFPA 72. (2012). National Fire Alarm and Signaling Code, Edition 2012. National Fire Protection Association. Quincy MA.
14. NFPA 5000. (2006). Building Construction and Safety Code, Edition 2006. National Fire Protection Association. Quincy MA.
15. ICC IBC (2012). International Building Code Maryland
16. Rijanto, B. Boedi. (2011). Pedoman Pencegahan Kecelakaan Di Industri. Jakarta: Mitra Wacana Media.
17. Ferguson, L.H., & Janicak, C.A. (2005). Fundamentals of Fire Protection for the Safety
Professional. USA: The Scarerow Press, Inc.
18. Klinoff, Robert. (2012). Introduction To Fire Protection, 4th Edition, International Edition. China: Delmar Cengage Learning
19. OSHA (Occupational Safety and Health Administration). (2003). Evacuating High-Rise
Building. USA: U.S. Department of Labor. Dari:
https://www.osha.gov/OshDoc/data_General_Facts/evacuating-highrise-factsheet.pdf ( 3 April 2014)
20. Detik.com. (2011). Museum Kota Makassar Terbakar. Jakarta. Dari:
http://news.detik.com/read/2011/06/20/101206/1663685/10/museum-kota-makassar-terbakar?nd991103605 (diakses pada tanggal 26 Maret 2014)
21. Suprapto. (2007). Sistem Proteksi Kebakaran Pasif Kaitannya Dengan Aspek Keselamatan
Jiwa (Passive Fire Protection And Life Safety) Jurnal Permukiman Vol. 2 No. 2 September 2007. Jakarta. Dari http://www.pu.go.id/uploads/services/infopublik20131119123054.pdf