1. Letak Administrasi
Desa Sabang terletak di bagian Utara Kabupaten Tolitoli yang berhadapan dengan Laut Sulawesi, yaitu sekitar 19 km sebelah Utara dari ibu kota Kabupaten Tolitoli dari desa Sabang ke kota Kecamatan (Lalos) 5 km. Desa Sabang merupakan salah satu dari 14 desa di Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli. Desa ini dilalui jalan raya lintas Tolitoli – Buol. Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bajugan, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tende, sebelah Barat berbatasan dengan Laut Sulawesi di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Lalos Secara administratif Desa Sabang terdiri dari 3 (Tiga ) dusun, yaitu (1) Dusun Bahari , (2) Dusun Pembaharuan, (3). Dusun Timur Raya.
Gambar 1 . Peta Desa Sabang
P
Lokasi obyek wisata sabang hanya berjarak 3 km dari jalan propinsi yang menghubungkan Tolitoli dan Buol, serta akses jalan yang baik ke arah kawasan obyek wisata, sehingga daerah ini sangat mudah untuk di capai baik oleh pengunjung dari Kota Tolitoli dan kecamatan sekitarnya .
Gambar 2 . Papan Penunjuk Objek Wisata
2. Letak Geografis
Secara Geografis lokasi Obyek Wisata Sabang berada di Dusun Bahari, terletak pada posisi 1 0 09 ‘ 77“ Lintang Utara dan 120 0 47 ‘ 44 “ Bujur Timur.
3. Aksesibilitas dan Sistem Transportasi
Secara umum, aksesibilitas ke Desa Sabang (obyek wisata ) tergolong memadai atau mudah dijangkau dengan kendaraan roda empat/dua. Untuk menempuh ke lokasi perencanaan (obyek wisata) dapat melalui darat dengan kendaraan roda dua dan empat dengan waktu tempuh ± 25 Menit.
Tabel 1. Rute Pencapaian Ke Lokasi Objek Wisata
Rute Jarak(km) TempuhWaktu Transport FrekuensiJenis
Palu – Tolitoli Tolitoli – Sabang
Jalan –Lokasi obyek wisata 434 20 0 M 14 Jam 25 Menit 0 Menit Darat Darat Darat Tiap hari Tiap hari Jalan Kaki
4. Topografi
Topografi wilayah pesisir Desa Sabang sebagian dicirikan dengan topografi berbukit dan dataran rendah. Dataran rendah yang relatif luas dan diapit oleh perbukitan serta aliran sungai yang membelah dataran rendah Desa Sabang menjadi pusat pembangunan dan pengembangan Desa Sabang . Dataran rendah yang luas selain terdapat di sebelah Timur Laut Desa Sabang juga berada di bagian Tenggara dari pusat Desa Sabang . Bermuaranya sungai kecil di perairan Teluk Bajugan (Desa Sabang) menyebabkan kondisi perairannya relatif jernih. Morfologi perairan pantainya landai dan lebih dicirikan dengan tipe-tipe pantai mangrove, pantai lumpur-berpasir dan pantai berbatu. Sedangkan pesisir pantai dengan tipe pantai bertebing sebagian dapat ditemukan pada topografi yang berbukit yaitu di sekitar Tanjung menuju obyek wisata .
Seperti pada umumnya daerah pantai, kondisi Topografi di daerah lokasi rencana dapat dikategorikan daerah yang datar dengan kemiringan lahan yang sangat kecil ke arah laut (relatif datar). (Lihat Peta Elevasi)
5. Morfologi dan Jenis tanah
Tanah adalah hasil alih rupa (transformasi) bahan mineral dan bahan organik yang terjadi pada muka dataran dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang berlangsung selama jangka waktu yang sangat panjang, dan hasilnya itu berbentuk suatu tubuh dengan organisasi dan morfologi tertentu yang berbeda jelas dengan organisasi dan morfologi tubuh alam yang lain.
Tanah dan landscape terus mengalami perubahan, baik secara fisik, kimiawi maupun biologis. Disamping itu tanah dapat berfungsi sebagai penerima, pengubah dan pancaran energi. Dalam proses pembentukanya tanah disuatu daerah dipengaruhi oleh (1) bahan induk, (2) topografi, (3) iklim, (4) organisme, dan waktu. Komposisi dari masing-masing faktor tersebut dapat menghasilkan jenis dan tingkat kesuburan tanah yang beragam. Disamping faktor tersebut di atas, sifat-sifat tanah disuatu daerah dipengaruhi oleh cara pengolahan dan pemanfaatannya. Tanah yang selalu dimanfaatkan untuk Gambar 4. Peta Elevasi Desa Sabang Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
lahan sawah umumnya menunjukkan ciri-ciri khusus, seperti berwarna kelabu (gley). Keadaan ini diakibatkan oleh tidak sempurnanya proses oksidasi reduksi tanah.
Tanah-tanah di Desa Sabang terbentuk dari bahan induk yang bervariasi, antara lain aluvium, volkanik, dan sedimen endapan sungai. Dengan demikian tingkat perkembangan tanah yang ada di Desa Sabang juga agak bervariasi. Pada daerah yang dilalui oleh jalur aliran sungai, tanah yang terbentuk mempunyai tingkat perkembangan sedang (muda). Hal itu erat kaitannya dengan proses pengendapan bahan tanah yang terus berlangsung secara berkala. Sedangkan pada daerah yang jauh dari sungai, terutama diperbukitan atau didataran berombak, tingkat perkembangan daerah itu agak lanjut, hal itu disebabkan oleh proses erosi dan tingkat pengolahan tanah terus berlangsung.
Berdasarkan hasil pengamatan sifat morfologi tanah dan faktor lingkungannya, diketahui bahwa proses pembentukan tanah yang dominan di Desa Sabang diuraikan sebagai berikut:
(1) lklim agak kering pada wilayah survei menyebabkan pelapukan dan reaksi-reaksi kimia berjalan lambat.
(2) Erosi yang kuat (topografi bergunung-gunung, dapat menyebabkan bahan-bahan yang dierosikan lebih banyak daripada yang terbentuk melalui proses pembentukan tanah.
(3) Proses pengendapan terus menerus, menyebabkan pembentukan horison lebih lambat daripada pengendapan.
(4) Proses pembentukan inceptisol dipengaruhi oleh bahan induk yang resisten, posisi dalam landscape yang ekstrim yaitu curam dan lembah permukaan geomorfologi yang mudah sehingga pembentuk tanah belum lanjut.
Daerah Obyek wisata Sabang termasuk dalam zona pendataran pantai dengan kemiringan yang relatif datar. Jenis formasi endapan yang ada diperkirakan Qal ditutupi oleh endapan batuan sedimen berumur Kwarter yakni Aluvium dan endapan pantai (Qal), terdiri dari, pasir dan tanah entosol sehingga dapat ditumbuhi pohon kelapa dan pohon kayu keras . Daerah yang berdekatan dengan permukiman, jenis tanahnya adalah lempung dengan kandungan berpasir. Sedangkan semakin kearah pantai, jenis tanahnya adalah lempung dengan kandungan pasir yang semakin tinggi.
6. Karakteristik Pantai Desa Sabang
Pengamatan Karakteristik Pantai di Desa Sabang dilakukan sepanjang pesisir Desa Sabang. Berdasarkan jenis pantai, unit-unit geomorfologi serta litologi penyusunnya, karakteristik pantai di Desa Sabang dapat dibedakan menjadi 3 jenis pantai meliputi:
6.1. Pantai berbatu
Tipe pantai berbatu yang ada di wilayah ini terdapat setempat-setempat baik berupa bongkah maupun batuan in-situ. jenis pantai ini dicirikan oleh garis pantai yang dibatasi oleh batuan yang rata-rata relatif bertebing dan datar.
Tipe pantai berbatu/ rock coast merupakan pantai belum terubah yang terbentuk dari batuan yang memiliki resistansi tinggi seperti batuan granit. Tipe pantai ini terlihat berada di wilayah Tanjung Tinambu. Pantai ini dicirikan oleh hadirnya batuan sebagai batas pesisir dan seringkali memiliki kemiringan yang curam.
Batuan granit/batuan sedimen laut sebagai batuan pembentuk pantai, memiliki warna segar kecoklat-coklatan. Pada beberapa bagian pantai, hasil pelapukan batuan ini menghasilkan pantai yang berpasir kasar yang berasal dari mineral kuarsa yang dikandungnya.
Mengacu pada Peta Geologi Lembar Tolitoli (Nana Ratman, 1976), batuan ini merupakan batuan tertua yang bersifat intrusif dan tersingkap di Tanjung, dan diinterpretasikan sebagai batuan utama yang membentuk morfogenesa daratan. Menurut klasifikasi Shepard (1973), tipe pantai ini termasuk kedalam kategori pantai primer atau kategori pantai sekunder dimana batuan asal telah mengalami rombakan menjadi bongkah.
6.2. Pantai Berpasir
Pantai ini dicirikan oleh garis pantai yang memiliki kemiringan lereng yang landai hingga sedang (kurang dari 6 º hingga 10º ) dengan material penyusun berupa pasir tak padu. Lebar paras pantai 5 - 25 m Perbedaan leber pantai lebih banyak dipengaruhi oleh pengaruh air pasang surut, sebagian tersingkap pula sebagai pantai kantung berpasir (sandy pocket beach). Morfologi pesisir berupa dataran pantai yang sempit, ditumbuhi vegetasi kelapa, pohon berukuran sedang dan semak belukar.
Menurut klasifikasi Shepard (1973), tipe pantai ini termasuk kedalam, kategori pantai sekunder yang disebut sebagai sandy beach.
6.3. Pantai Mangrove
Tipe pantai ini dicirikan dengan adanya bakau yang berakar pada perairan yang dangkal. Vegetasi mangrove ini terlihat tumbuh tidak rapat. di sepanjang pesisir belakang permukiman Hal ini diinterpretasikan terjadi karena letaknya yang dekat dari permukiman, sehingga lebih berpotensi untuk terjadinya proses kerusakan dimana vegetasi mangrove tumbuh berkembang biak.
2.6. Iklim
Menurut Schmidt-Ferguson, tipe iklim di Desa Sabang adalah bervariasi. Tipe Iklim di Daerah Lalos dan sekitarnya adalah ber Tipe Iklim C dengan nilai Q = 38,10 %. Rata-rata bulan basahnya sebanyak 7,00 bulan dengan jumlah curah hujan bulanan lebih dari 100 mm bulan–1, dan rata-rata bulan keringnya sebanyak 2,67 bulan dengan jumlah curah hujan bulanan kurang dari 60 mm bulan–1. Kondisi ini tak jarang mengakibatkan timbulnya genangan air pada bulan-bulan tertentu (pada bulan Juli – Januari l) saat curah hujan relatif sangat tinggi.
Selain curah hujan, jumlah hari hujan juga mempengaruhi intensitas efek dari curah hujan yang ada. Variasi curah hujan dan jumlah hari hujan mempengaruhi kondisi alam yang terjadi di Desa Sabang.
Tabel 1. Jumlah Curah Hujan Menurut Bulan di Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
Bulan HariHujan (HH) Nilai (Mm)
Januari 24 197.2 Pebruari 13 107.9 Maret 5 48.2 April 18 136.5 Mei 24 215.9 Juni 27 227.8 Juli 27 292 Agustus 21 211.1 September 29 221.7 Oktober 22 309.9 November 21 154 Desember 25 153.6 Jumlah 256 2275.8 Rata-rata 10.253 173.66 Data BPS Kecamatan Galang Dalam Angka, 2010.
Data curah hujan Bulanan yang tertera pada Tabel 1. menunjukkan bahwa bulan September dan Desember merupakan bulan basah dengan curah hujan 1.160 mm. Iklim merupakan faktor yang penting bagi kehidupan vegetasi. Sampai saat ini, iklim merupakan salah satu faktor yang belum bisa diatur oleh kemampuan teknologi manusia. Oleh karena itu, dalam melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan iklim, hal yang dapat dilakukan hanya menyesuaikan kegiatan tersebut
Level muka air laut sangat dipengaruhi oleh kondisi pasang surut. Kondisi pasang surut di perairan Tolitoli, tergolong tipe campuran dominan semidiurnal ( mixed tide prevalling semidiurnal ) yang berarti terdapat dua kali pasang dan dua kali surut selama 24 jam. yakni dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali surut, tetapi tinggi periodenya berbeda perbedaan pasang tertinggi dan surut terendah adalah sekitar 1,5 meter. Karena type pasang surut termasuk ke harian ganda campuran , maka periode pasang surut rata-rata 12 jam, kecuali pada bulan utama adalah 12,42 jam.
8. Kondisi Perairan
Secara umum perairan Tolitoli merupakan perairan yang dipengaruhi oleh massa air Pasifik, sejalan dengan lokasi geografinya yang berada di pintu utama Arlindo (Arus Lintas Indonesia).
Dinamika perairan Tolitoli banyak dipengaruhi oleh periodisasi pasang-surut (pasut), dengan arus dari arah barat daya yang cukup kuat dan diperkirakan sangat signifikan mempengaruhi sirkulasi massa air permukaan di depan pelabuhan Tolitoli.
Pasokan massa air dari lapisan bawah ke perairan Teluk Tolitoli bagian utara dominan berasal dari arah barat laut, sedangkan pada bagian selatan merupakan kontribusi dari arah barat daya dan barat laut.
Sirkulasi arus di perairan dalam memiliki pola yang tidak sama antara arus dekat permukaan dan dekat dasar di sekitar perairan Tolitoli. Sirkulasi arus di dalam Teluk Tolitoli lebih didominasi pengaruh arus pasang surut yang sifatnya bolak balik masuk ke Teluk .
Kondisi perairan dangkal (shallow-water) di sepanjang pantai kedalamannya berkisar antara 0,3-1,5 meter. Perbedaan kedalaman air lebih banyak dipengaruhi oleh pengaruh air pasang surut.
9. Perekonomian Desa
Kegiatan utama perekonomian di Desa Sabang adalah perkebunan bercocok tanam terutama kelapa, coklat, serta tanaman keras. Dari 14 Desa yang terdapat di Kecamatan Galang, hanya Desa Sabang yang tidak memiliki daerah persawahan.
Desa Sabang menggambarkan urutan kategori mata pencaharian penduduk yaitu perkebunan, diikuti peternakan dan perikanan dan bekerja pada subsektor lainnya, Hasil survey sosial ekonomi di lapangan tahun 2012
Pusat Desa atau dusun Pembaharuan perbatasan Desa Bajugan .
Usaha penangkapan ikan sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat setempat yang merupakan nelayan utama.
10 . Kondisi Demografi dan Infrastruktur a). Pola Kependudukan dan Permukiman
Luas Desa Sabang 6.00 km2 dengan jumlah penduduk 1.134 (Tahun 2010) jiwa
yang terdiri dari laki-laki 553 jiwa dan perempuan 581 jiwa. Kerapatan permukiman yang teratur dengan ciri khas bangunan rumah adalah rumah panggung yang menghadap ke jalan raya .
Permukiman di desa Sabang didominasi rumah panggung yakni sebanyak 159 buah diikuti bangunan semi permanen 105 buah dan terakhir bangunan permanen 28 buah.
Suku bangsa yang mendiami Desa Sabang adalah suku Bugis, dan Suku Tolitoli .
Keseluruhan masyarakat di Desa Sabang beragama Islam
Jumlah penduduk yang mendiami Desa Sabang adalah 1.134 jiwa yang tersebar di 3 (tiga) Dusun dengan jumlah rumah tangga sebanyak 275 KK dengan demikian diperoleh data rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga sebanyak 4 orang. Rumah Tangga miskin sebanyak 106 Kepala Keluarga, dengan demikian prosentase tingkat kemiskinan 14 variabel versi BPS sebanyak 38.54 %.
Struktur populasi dan mata pencaharian di Desa Sabang di dominasi oleh petani (37.45 %), Peternak (27.2 %) nelayan (10.54 %), pedagang (8.36%), jasa lainnya (10.18%) dan PNS/Pensiunan (6.18%)
Gambar 9. Pola Permukiman Desa Sabang
Infrastruktur di Desa Sabang tergolong maju dan lengkap. Ini merupakan salah satu penggambaran bahwa tingkat kesejahtraan di desa ini tergolong sejahtera.
Tabel 2. Infrastruktur Desa Sabang
Sarana publik di Desa Sabang tergolong baik dan tersedia untuk kebutuhan untuk masyarakat. Sarana jalan desa sudah beraspal, sebagian Sirtu. Dengan keberadaan kios-kios yang dikelola secara skala rumah tangga, proses tata
No. Infrastruktur Jumlah Kondisi Status Ket.
1. Saranah Ibadah 2 Baik Swadaya Masjid
2. Sarana Pendidikan
- TK 1 Baik Swadaya
- SD 2 Baik Pemerintah
- SLTP 1 Baik Pemerintah
3. Sarana Kesehatan
- Posyandu 1 Baik Pemerintah
- Puskesmas 1 Baik Pemerintah
- Polindes 1 Baik Pemerintah
4. Sarana
Perdagangan
- Pasar
-- Kios 29 Baik Milik
- Toko
-5. Sarana Jalan
- Jalan Kolektor Baik Pemerintah Aspal
- Jalan Lokal Pemerintah Sirtu
- Jalan Lingkungan Pemerintah Sirtu
6. Sarana Penerangan - PLN 203 Baik 24 Jam Menyal a - Non PLN 72 7. Sarana Sanitasi
- Air Bersih Baik PDAM
- WC Baik
niaga perekonomian desa dapat berjalan lancar. Begitu pula sarana pendidikan dasar sampai menengah atas, di desa ini tergolong lengkap dengan adaya SD, SMP (tsanawiah) dan SMA (Aliyah).
Sarana kesehatan berupa posyandu dan puskesmas di desa ini mampu meningkatkan taraf kesehatan masyarakat. Dengan adanya dan dekatnya sarana kesehatan dan tenaga kesehatan proses sosialisasi kesehatan lingkungan dan pribadi, di desa ini tergolong baik dengan melihat MCK dan WC yang dimiliki warga telah tersedia di rumah masing-masing. Namun tempat pembuangan sampah belum dimiliki.