ABSTRAK Kata Kunci: GGK, hemodialisis, IDWG, pendidikan kesehatan, leaflet, smartphone,tekanan darah ABSTRACT

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN PENDIDIKAN KESEHATAN PENGONTROLAN IDWG

(INTERDIALYTIC WEIGHT GAIN) MELALUI MEDIA LEAFLET DAN

SMARTPHONE TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN

HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT TK II DUSTIRA KOTA CIMAHI 2019

Asep Badrujamaludin1, Musri2, Akbar2

1Program Studi Keperawatan (D-3), STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi 2Program Studi Ilmu Keperawatan (S-1), STIKes Jenderal Achmad Yani Cimahi

dru.stikesr@gmail.com

ABSTRAK

Ga ga l Ginja l Kronik (GGK) merupa kan ga nggua n terja dinya fungsi ginja l progresif da n irevresibel dimana kema mpuan ginja l untuk memperta hankan ba ik keseimba nga n ca ira n, elektrolit da n meta bolisme ya ng akan menyeba bkan terja dinya sa mpah nitrogen la in da la m da ra h da n retensi urea .Pa da ta hun 2 013, da ta pertumbuhan penderita ga ga l ginja l kronik di dunia meningka t sebesa r 50% da ri ta hun sebelumnya seperti da ta ya ng dirilis oleh World Hea lth Orga niza tion (WHO). Peruba ha n teka nan dara h sering terja di pa da pa sien ga ga l ginja l kronik ya ng menja la ni hemodia lisis. Ini diseba bka n oleh pena mbahan bera t ba da n di wa ktu dia lysis interdia lytic weight ga in (IDWG). Tujua n penelitia n ini untuk mengeta hui perba ndinga n pendidika n kesehatan pengontrola n IDWG mela lui media lea flet da n sma rtphone terha dap perubahan tekanan dara h.

Penelitia n ini merupa ka n penelitia n kua ntita tif mengguna kan metode pre - ekperimenta l design dengan ra nca nga n one group pretest posttests design denga n penga mbila n sa mpel non ra ndom dan tida k memiliki kontrol group. Sa mpel berjumla h 28 responden ya itu 14 kelompok intervensi mela lui media lea flet da n 14 kelompok intervensi mela lui media sma rtphone. Penga mbila n da ta denga n ca ra mengukur teka na n da rah menggunakan spigmoma nometer digita l. Penelitia n ini mengguna ka n sha piro wilk.

Ha sil penelitia n terda pa t perbandinga n pendidika n kesehatan pengontrola n IDWG a nta ra media lea flet dan sma rtphone terha dap peruba han teka nan da ra h. Ha sil uji sta tistik kelompok intervensi mela lui media lea flet dida pa tkan nila i p = 0,001, seda ngka n pa da kelompok intervensi mela lui media sma rtphone dida ptkan nila i p = 0,001, terda pa t nila i penuruna n ya ng signifika n a nta ra kelompok intervensi media lea flet da n sma rtphone dan perbeda a n pa da kelompok intervensi pendidika n keseha ta n pengontrola n IDWG mela lui media lea flet dan sma rtphone. Peneliti menya ra nkan kepa da pa sien untuk teta p mengontrol IDWG ba ik mela lui media lea flet atau sma rtphone supa ya tekanan dara h dan bera t ba dan sta bil.

Kata Kunci: GGK, hemodialisis, IDWG, pendidikan kesehatan, leaflet, smartphone,tekanan darah

ABSTRACT

Chronic Kidney Failure (CRF) is a progressive disorder of renal function and irreversible of the body's ability to maintain electrolyte balance, metabolism and fluid can lead to retention of urea and other nitrogenous waste in the blood. The World Health Organization (WHO) released data on the growth of the number of patients with chronic kidney failure in the world in 2013, which increased by 50% from the previous year.

Patients with chronic kidney failure who routinely undergo hemodialysis usual ly experience changes in blood pressure. One of the contributing factors is weight gain at the time of dialysis interdialytic weight gain (IDWG). The purpose of this study was to find out the comparison of IDWG control health education through leaflet and smartphone media to changes in blood pressure.

This research is a quantitative research using the pre-experimental design method with one group pretest posttests design with non-random sampling. The sample is 28 respondents that is 14 intervention groups through leaflet media and 14 intervention groups through smartphone media

The independent variable in this reseach is IDWG control health education through leaflet and smartphone media while the dependent variable is changes in blood p ressure, data collection by measuring blood pressure using digital sphygmomanometer.

The results of the study are comparisons of health education controlling IDWG between leaflet and smartphone media to changes in blood pressure. The statistical test resu lts of the intervention group through leaflet

(2)

media obtained p = 0.001, whereas in the intervention group through smartphone media the value of p = 0.001 was obtained, and the difference in the IDWG control health education intervention group through leafl ets and smartphones. This researcher suggest the patients continue to control the IDWG through media leaflets or smartphones so that blood pressure remains stable.

Keywords: CRF, hemodialysis, IDWG, health education, leaflets, smartphones, blood pressure

PENDAHULUAN

Gagal Ginjal Kronik (GGK) saat ini menjadi salah satu penyakit yang banyak terjadi di dunia termasuk indonesia. Pada tahun 2013, data pertumbuhan penderita gagal ginjal kronik di dunia meningkat sebesar 50% dari tahun sebelumnya seperti data yang dirilis oleh World Health Organization (WHO). Kejadian dan prevalensi gagal ginjal meningkat 50% di Amerika Serikat tahun 2014, data menunjukan bahwa setiap tahun 200.000 orang amerika menjalani hemodialisis karena gagal ginjal kronik.

Peningkatan pravalensi jumlah penderita gagal ginjal kronik di Indonesia pada kelompok usia lebih dari 15 tahun dari tahun 2013 sekitar 2,0% menjadi 3,8% ditahun 2018. Jumlah penderita gagal ginjal kronik terendah pada usia 15-24 tahun sebanyak 1,33%. Pravalensi penderita gagal ginjal selalu mengalami kenaikan seiring dengan bertambahnya usia yaitu 55-64 tahun sebanyak 7,21%, dan yang terbanyak pada usia 65-74 tahun sebanyak 8,23%, usia 75 tahun ke atas sebanyak 7,48.Tercatat data pravalensi yang pernah atau sedang menjalani cuci darah terbanyak ada di daerah DKI yaitu 38,7%, Bali, Diy dan Jabar sebanyak 19,3% dan jabar menempati urutan ke 8 dari 33 provinsi pada tahun 2018 (Riskesdas: 2018).

Klien gagal ginjal kronik (GGK) harus dilakukan hemodialis namun tindakan ini tidak akan mengembalikan fungsi ginjal secara permanen atau menyembuhkan tapi akan menurunkan resiko kerusakan organ-organ vital lainnya akibat akumulasi zat toksik dalam sirkulasi. Dialisis dilakukan sepanjang hidup Klien gagal ginjal kronis (GGK) 3-4 jam perkali terapi dalam 2 atau 3 kali seminggu. Hemodialis dilakukan jika gagal ginjal menyebabkan

beberapa kondisi, seperti ensefalopati uremik, perikarditis, asidosis yang tidak memberikan respons terhadap pengobatan lainnya, gagal jantung, dan hiperkalemia (Mutaqqin & Sari, 2011).

Diet merupakan Penatalaksanaan pertama pasien yang menjalani hemodialisis untuk mencegah adanya effect uremia. Bila penumpukan ureum terjadi maka akan menyebebakan uremik. Diet rendah protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan akan meminimalkan gejala uremik. Protein diberikan 0,6-0,8 gr/kg.bb/hari, yang 0,35-0,50 gr diantaranya protein. Jumlah kalori yang diberikan sebesar 30-35 kkal/kg.bb/hari. Jumlah asupan protein dan kalori dapat ditingkatkan pada pasien yang mengalami malnutrisi (Sudoyo, 2009 dalam Isroin, 2016).

Penatalaksanaan pasien yang menjalani hemodialisis yang selanjutnya adalah pertimbangan medikasi karena penyakit ginjal mempengaruhi baik farmakokinetik maupun farmakodinamik terapi obat. Sebagian besar medikasi dieksresikan terutama oleh ginjal. Masa paruh dan kadar plasma banyak obat meningkat pada penyakit ginjal kronik. Absorpsi obat dapat berkurang saat agen yang berkaitan dengan fosfat diberikan bersamaan. Proteinuria dapat secara signifikan mengurangi kadar protein plasma, yang menyebabkan manifestasi toksisitas saat obat-obatan yang berkaitan dengan protein tinggi diberikan. Selain itu, agen yang kemungkinan nefrotoksik dihindari atau digunakan dengan perhatian ketat. Obat-obatan seperti meperidin, metformin (glucophage), dan agen hipoglikemik lain yang dieliminasi oleh ginjal dihindari seluruhnya (Fauci et al, 2008 dalam Lemone,P at al, 2017).

Penumpukan cairan dapat mengakibatkan gagal jantung kongestif serta edema paru. Jika

(3)

pembatasan protein dan cairan diabaikan, komplikasi dapat memba wa kematian dan pertimbangan medikasi juga harus diperhatikan karena bisa menyebabkan penurunan lebih lanjut fungsi ginjal. Kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan diukur dengan menggunakan rata-rata berat badan yang didapat diantara waktu hemodialisis atau disebut juga Interdialytic weight gain.

Peningkatan berat badan merupakan indikasi dari peningkatan volume cairan dan juga merupakan indikator dari kepatuhan pasien dan untuk mengetahui jumlah cairan selama interdialytic pada pasien hemodialsi yang disebut Interdialytic Weight Gain (IDWG). Peningkatan IDWG melebihi 5% dari berat badan kering dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi seperti gagal jantung kiri, asites, pleura effusion, gagal jantung kongesti, hipertensi, hipotensi intradialisis (Cahyaningsih, 2009). Tekanan darah pada pasien hemodialisis sering mengalami peningkatan darah atau hioertensi di akhir hemodialisis walaupun di awalnya tekanan darahnya normal. Lebih jauh lagi pasien hemodialisis bisa terjadi krisis hipertensi dimana sejak awal peningkatan tekanan darah dan meningkat sampai akhir hemodialisis (Chazot & Jean, 2010).

Peningkatan filtrasi protein protein plasma akan menyebebakan hipertensi akibatnya memperburuk kondisi gagal ginjal. Sindrom uremia berat dengan manifestasi dari organ organ tubuh sebagai akibat kerusakan progresif nefron dan fungsi ginjal menurun drastis sebagai akibat dari jaringan parut dan penumpukan metabolit di ginjal (Mutaqqin & Sari, 2011). Upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi dari ketidakpatuhan pengtrolan interdialytic weight gain atau peningkatan berat badan salah satunya dengan pendidikan kesehatan.

Pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan dalam bidang kesehatan. Semua kegiatan untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan, sikap, praktek baik individu, kelompok atau masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan

mereka sendiri merupakan arti dari operasional pendidikan Kesehatan (Notoatmodjo, 2012). Hasil yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan adalah Perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif merupakan tujuan dari promosi kesehatan. Beberapa metode penyampaian pendidikan kesehatan diantaranya dengan, menggunakan media cetak dan elektronik

Leaflet yang identik dengan selembaran kertas yang disajikan berlipat dengan keterangan singkat tentang suatu masalah, kalimat-kalimat yang singkat, padat, mudah dimengerti dan gambar-gambar yang sederhana (Notoatmodjo, 2010). Konsep elektronik learning berbasis mobile merupakan hasil dari perkembangan teknologi melalui media mobile yang menghasilkan inovasi inovasi dalam bidang pendidikan kesehatan. Smartphone dan tablet PC merupakan perangkat yang bisa di gunakan dalam mobile learning dimana pasien dan keluarga dapat mengakses edukasi gagal ginjal kronik kapanpun dan dimanapun (Ulfa et.al, 2018).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan di RS Dustira pada tanggal 4 Febuari 2019, peneliti melakukan wawancara pada 7 (tujuh) orang pasien yang sedang menjalani hemodialisis. Hasil yang didapatkan bahwa 7 (tujuh) orang pasien yang sedang menjalani hemodialisis pernah mendapatkan pendidikan kesehatan pengontrolan interdialytic weight gain (IDWG) pada saat pertama kali menjalani hemodialisis yang diberikan oleh tenaga medis dengan metode konsultasi mengenai pengontrolan diet cairan. Tujuh pasien yang menjalani hemodialisis saling berbagi informasi mengenai diet cairan dan nutrisi dengan pasien lain selama menjalani hemodialis dan 3 (tiga) dari 7 (tujuh) pasien sering mencari informasi mengenai diet cairan dan nutrisi melalui internet dengan menggunakan media smartphone. Diketahui 4 (empat) dari 7(tujuh) pasien sering mengalami peningkatan berat badan dan perubahan tekanan darah karena

(4)

ketidakpatuhan pasien dalam pengontrolan IDWG.

Ketidakpatuhan dalam pengontrolan IDWG menjadi salah satu penyebab pasien mengalami peningkatan berat badan dan perubahan tekanan darah pada saat hemodialisa. Permasalahan mengenai peningkatan berat badan dan perubahan tekanan darah diatas diharapkan dapat dikurangi dengan pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet dan smartphone di karenakan banyak pasien

kurang mendapatkan pendidikan kesehatan

mengenai pengontrolan IDWG setelah menjalani

hemodialisis. Peneliti tertarik melakukan

penelitian mengenai “Perbandingan pendidikan

kesehatan pengontrolan IDWG dengan

menggunakan leaflet dan smartphone terhadap perubahan tekanan darah pada pasien hemodialisa di RS Dustira kota Cimahi”.

METODE

Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pre-eksperimental design. Rancangan ini merupakan bentuk penelitian eksperimental yang memanipulasi variable independen, pemilihan subjek penelitian dilakukan non random dan tidak memiliki control group atau comparison group. Jenis rancangan penelitian pre-eksperimental design yang akan digunakan pada penelitian ini adalah one group pretest posttest design.Kelompok intervensi satu diberikan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media leaflet dan kelompok intervensi kedua diberikan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media smartphone, lalu dilakukan pengkajian posttest setelah dilakukan intervensi, kemudian dilakukan perbandingan hasil pengkajian pretest dan posttest, dan dilakukan perbandingan intervensi kelompok 1 dan intervensi kelompok 2

Ga mba r 3.2 Ra nca nga n Desa in Penelitia n

Variabel penelitian Variabel bebas (Independent Variabel) pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media leaflet dan smartphone.Variabel Terikat (Dependent Variabel) adalah perubahan tekanan darah.

Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani hemodialisis di ruang hemodialis RS. Dustira kota Cimahi dengan jumlah 180 pasien pada bulan Januari 2019.

Besar sampel pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus komparatif numerik tidak berpasangan satu kali pengukuran (Dahlan, 2016).Hasil perhitungan besar sampel yaitu 14 responden, maka jumlah responden pada kelompok 1 intervensi menggunakan media leaflet sebanyak 14 dan pada kelompok intervensi 2 menggunakan media smartphone yaitu 14 responden.

Pengumpulan data pada penelitian ini dilaksanakan selama 3 kali pertemuan dalam waktu 2 minggu. Mulai dari penelitian responden sampai ke penelitian post test. Peneliti melakukan pengukuran tekanan darah sebelum

diberikan intervensi menggunakan

sphygmomanometer digital pada minggu pertama pertemuan ke 2 pada hari Kamis tanggal 23 Mei 2019. Peneliti menggunakan 2 asisten selama penelitian, yang sebelumnya melakukan persamaan persepsi dengan peneliti terlebih dahulu 1 asisten membantu peneliti dalam memberikan pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media leaflet dan smartphone dan 1 asisten membantu melakukan pengukuran tekanan darah.

Peneliti memberikan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG dengan menggunakan leaflet dan smartphone terhadap perubahan tekanan darah pada pertemuan ke 2 pada hari Kamis tanggal 23 Mei 2019.

Peneliti mengevaluasi tekanan darah setelah diberikan intervensi leaflet dan smartphone dengan cara melakukan pengukuran

tekanan darah klien menggunakan

sphygmomanometer digital pada pertemuan ke 3 di minggu ke 2 hari Kamis tanggal 30 Mei 2019.

(5)

Instrumen penelitian dalam penelitian ini leaflet dan smartphone, timbangan digital dan sphygmomanometer digital.

Dalam penelitian ini analisa univariat digunakan untuk menggambarkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien yang menjalani hemodialisis dengan perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG dengan menggunakan leaflet dan smartphone. Peneliti melakukan observasi tekanan darah sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG dengan menggunakan leaflet dan smartphone.Hasil penelitian ini disajikan dengan mencantumkan nilai mean karena data berdistribusi normal.

Peneliti melakukan uji analisis bivariat, peneliti melakukan uji normalitas data terlebih dahulu untuk mengetahui apakah data mempunyai distribusi normal atau tidak. Secara analisis dapat menggunakan uji kenormalan distribusi data, yaitu dengan melihat nilai shapiro wilk dengan ketentuan jika nilai signifikan p<0,05 data dikatakan tidak normal dan p>0,05 data dikatakan normal. Dari hasil uji kenormalan data didapatkan nilai p value 0,040, sehingga dapat disimpulkan data berdistribusi normal.uji yang digunakan adalah uji statistik parametrik berupa teknik analisa uji t-independent.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ta bel 1: Ra ta -ra ta tekanan dara h responden sebelum da n sesuda h diberika n pendidika n keseha tan

pengontrola n IDWG mela ui media lea flet.

Hasil analisis pada tabel 1 dari 14 responden didapatkan rerata tekanan darah sebelum diberikan intervensi rerata tekanan darah sebelum diberikan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media leaflet 145.86/85.50 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 10.524 dan 3.345. Sistolik terendah 128 dan sistolik tertinggi 166, diastolik terendah 80, diastolik tertinggi 93. Rerata tekanan darah sesudah 140.43/81.07 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 10.113 dan 1.207. Sistolik terendah 124 dan sistolik tertinggi 158, diastolik terendah 79, diastolik tertinggi 83. Sehingga terdapat selisih tekanan darah sebelum dan sesudah pada sistolik sebesar 5.43 dan diastolik 4.43. Skor tersebut berdasarkan rerata tekanan darah pada beberapa pasien yakni dari 14 responden mengalami penurunan tekanan darah.

Kekuatan lateral pada dinding arteri oleh darah yang didorong dengan tekanan dari jantung disebut tekanan darah (Perry & Potter, 2010). Tekanan sistolik merupakan tekanan puncak saat ventrikel berkontraksi sedangkan saat tekanan terendah dan jantung beristirahat disebut tekanan diastolik. Tekanan darah tidak konstan namun dipengaruhi oleh banyak faktor secara kontinu sepanjang hari salah satunya penambahan berat IDWG (Interdialytic Weight Gain) jika melebihi 4,8% akan meningkatkan mortalitas meskipun tidak dinyatakan besarannya.

Penambahan nilai IDWG yang terlalu tinggi dapat menimbulkan efek negatif terhadap tubuh diantaranya terjadi hipotensi, kram otot, sesak nafas, mual dan muntah (Moissl et al, 2013). Upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi dari kepatuhan pengontrolan IDWG salah satunya dengan memberikan pendidikan kesehatan melaui media leaflet. Pada kelompok leaflet dengan jumlah 14 responden peneliti memberikan penjelasan bagaimana cara menghitung jumlah kebutuhan cairan pasien tiap harinya.

(6)

Ta bel 2 : Ra ta -ra ta teka nan da rah responden sebelum da n sesuda h diberika n pendidika n keseha ta n pengontrola n IDWG mela ui media

sma rtphone

Hasil analisis pada tabel 2 dari 14 responden didapatkan rerata tekanan darah sebelum diberikan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media smartphone 137.79/88.71 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 6.952 dan 5.497. Sistolik terendah 127 dan sistolik tertinggi 148, diastolik terendah 80, diastolik tertinggi 100. Rerata tekanan darah sesudah 133.07/84.71 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 7.681 dan 4.953. Sistolik terendah 120 dan sistolik tertinggi 143, diastolik terendah 78, diastolik tertinggi 97. Sehingga terdapat selisih tekanan darah sebelum dan sesudah pada sistolik sebesar 4.72 dan diastolik 4. Skor tersebut berdasarkan rerata tekanan tekanan darah pada beberapa pasien yakni dari 14 responden pasien hemodialisa di RS Dustira.

Peningkatan filtrasi protein protein plasma akan menyebebakan hipertensi akibatnya memperburuk kondisi gagal ginjal. Sindrom uremia berat dengan manifestasi dari organ organ tubuh sebagai akibat kerusakan progresif nefron dan fungsi ginjal menurun drastis sebagai akibat dari jaringan parut dan penumpukan metabolit di ginjal (Mutaqqin & Sari, 2011). Adapun pencegahan untuk mengurangi terjadinya perubahan tekanan darah yaitu dengan diet pengaturan cairan atau nutrisi dengan perkembangan teknologi melalui media mobile mendorong terciptanya inovasi salah satunya di bidang pendidikan kesehatan konsep elektronik learning berbasis mobile. Perangkat mobile yang

digunakan antara lain Smartphone dan Tablet PC.

Pasien yang memiliki smartphone atau tablet PC kemudian diperlihatkan dan dijelaskan aplikasi android buku saku pasien dialysis yang bisa pasien download melalui playstore. Aplikasi ini dibuat oleh Relawati dkk (2018) dengan tujuan agar pasien yang menjalani hemodialisis mudah mengakses informasi mengenai gagal ginjal kronik di era teknologi yang semakin canggih. Aplikasi android ini terdapat menu diet cairan dan diet nutrisi serta beberapa fitur tambahan lain yaitu kalkulator penghitung GFR, reminder harian, pencatatan Ultrafiltration dan video animasi yang menjelaskan gagal ginjal kronik beserta dietnya.

Penelitian ini didukung oleh Relawati (2018) dengan judul Edukasi pasien chronic kidney deasease berbasis aplikasi android buku saku pasien dialysis. Setelah diberikan edukasi aplikasi berbasis android melalui smartphone rata-rata skor pengetahuan responden meningkat menjadi 9,63. Penelitian yang dilakukan selama 2 hari dengan jumlah responden sebanyak 30 orang.

Ta bel 3. Perbeda a n nila i rera ta teka nan da rah da n klien setela h dila kuka n pendidika n keseha tan pengontrola n IDWG mela lui media lea flet da n

sma rtphone

Hasil analisis pada tabel 3 didapatkan bahwa Rerata tekanan darah pada intervensi leaflet sistolik dan diastolik sesudah yaitu 140.43/81.07 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 10.113 dan 1.207. Sistolik terendah 124 dan sistolik tertinggi 158, diastolik terendah 79, diastolik tertinggi 83. Sehingga terdapat selisih tekanan darah sebelum dan

(7)

sesudah pada sistolik sebesar 5.43 dan diastolik 4.43.

Rerata tekanan darah pada kelompok intervensi smartphone sistolik dan diastolik sesudah yaitu 133.07/84.71 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 7.681 dan 4.953. Sistolik terendah 120 dan sistolik tertinggi 143, diastolik terendah 78, diastolik tertinggi 97. Sehingga terdapat selisih tekanan darah sebelum dan sesudah pada sistolik sebesar 4.72 dan diastolik 4.

Berdasarkan hasil selisih rerata tekanan darah antara kelompok intervensi melalui media leaflet dan intervensi smartphone didapatkan selisih tekanan darah terbesar yaitu pada kelompok intervensi media smartphone dengan nilai penurunan sistole sebesar 4.72 dan diastolik 4. hasil tersebut didapatkan karena media smartphone lebih mudah dipahami karena terdapat menu aplikasi yang memudahkan pasien untuk memahami cara mengontrol interdialytic weight gain. Pada kelompok intervensi melalui media leaflet dan kelompok intervensi melalui media smartphone di dapatkan nilai p value =0,001, p ≤ α (α = 0,05), berarti Ho ditolak dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan tekanan darah sistolik pada pasien dengan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media leaflet dan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media smartphone. Hal ini berarti bahwa hipotesis alternative (Ha) diterima yaitu terdapat perbedaan yang signifikan tekanan darah sistolik pada pasien dengan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media leaflet dan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media smartphone. Penelitian ini didukung oleh Rahmawati (2018) yang berjudul Pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG (interdialytic weight gain) dalam upaya menstabilkan tekanan darah. Menunjukan bahwa rata-rata tekanan darah sistolik sebelum dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG dengan rata-rata tekanan darah dan diastolik

sebelum 167,18/101,59 mmHg dan rerata tekanan darah sistolik dan diastolik sesudah 150,29/87.88 mmHg, terdapat selisih penurunan sitolik sebesar 16.89 dan diastolik 13.71. Hasil penelitian kesimpulan yang didapatkan oleh peneliti adalah tidak ada penyimpangan dengan teori yang peneliti jadikan sumber rujukan dalam penelitian

SIMPULAN

Nilai rata-rata tekanan darah sebelum diberikan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media leaflet adalah 145.86/85.50 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 10.524 dan 3.345. Rerata tekanan darah sesudah 140.43/81.07 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 10.113 /1.207

Nilai rata-rata tekanan darah sebelum diberikan intervensi pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media smartphone 137.79/88.71 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 6.952 dan 5.497. Rerata tekanan darah sesudah 133.07/84.71 mmHg dengan standar deviasi sistolik dan diastolik 7.681 /4.953.

Terdapat perbedaan nilai rerata tekanan darah dan klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG melalui media leaflet dan smartphone terhadap perubahan tekanan darah. Ditandai dengan penurunan tekanan darah sistolik dengan selisih 7.36 dan diastolik dengan selisih 3.64 antar kelompok. Hasil uji statistik didapatkan tekanan darah sistolik setelah pada kelompok intervensi melalui media leaflet dan kelompok intervensi melalui media smartphone nilai p value =0,001, p ≤ α (α = 0,005).

SARAN

Hasil penelitian tentang pendidikan kesehatan pengontrolan IDWG (Interdialytic Weight Gain) melalui media Leaflet dan Smartphone terhadap perubahan tekanan darah di harapkan dapat memberikan masukan bagi Rumah Sakit dalam memberikan informasi dan

(8)

pendidikan kesehatan kepada pasien hemodialisa dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan. Pada pasien hemodialisis mengaplikasikan pengontrolan IDWG agar tidak terjadi komplikasi seperti edema, sesak nafas dan perubahan tekanan darah. Untuk peneliti selanjutnya dapat mencari teknik lain atau dijadikan perbandingan dengan media lain dalam pendidikan kesehatan untuk mengontrol tekanan darah pasien hemodialisa.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyaningsih, Niken.D.(2009). Hemodialisis. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

Chazot, C., and Jean, G. (2010). Intradialitic Hypertension : It is Time to Act. Nephron Clin Pract. Vol. 115, Hal 182-188.

Isroin, Laily. (2016). Manajemen Cairan Pada Pasien Hemodialisis Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup. Ponorogo: Unmuh Ponorogo Press.

Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO), 2013, CKD Work Group. KDIGO 2012 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease, Kidney international, 3: 1– 150.

Moissl et.al. (2013). Bioimpedance Guided Fluid Management in Hemodialysis Patients. Clin J Am Soc Nephrol

Mutaqqin & Sari. (2011). Keperawatan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika. Notoatmodjo. (2012). Promosi kesehatan dan

Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka cipta. Notoatmojo. (2010). Kesehatan Masyarakat

Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta. Potter & Perry. (2010). Fundamental Of

Nursing: Consep, Proses and Practice.Edisi 7. Vol. 3. Jakarta : EGC .

Rahmawati & Sigit. (2018). Pendidikan

Kesehatan Tentang Pengontrolan

Interdialytic Weight Gain Dalam Upaya Menstabilkan Tekanan Darah. Jurnal Of Community Vol 09 Nomor 1 2018. Universitas Gresik.

Relawati,A. et al. (2018). Edukasi Pasien Cronic Kidney Disease Berbasih Aplikasi Android. Jurnal Health Of Studies Vol 3, No 2. Riskesdas. (2018). Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan Kementrian RI. Di akses pada tanggal 11 Januari 2019, dari http://www.depkes.go.id/resources/downloa

d/info-terkini/materi_rakorpop_2018/Hasil%20Ris kesdas%202018.pdf

Ulfa M, Yuniarti dan Rahayuni A. (2018). Efek Konseling Gizi terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Pembatasan Intake Cairan pada Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Jurnal Nutrisia Vol. 20 No. 1, Maret 2018

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :