MAKALAH SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN
TATA KELOLA PERUSAHAAN
(GOOD CORPORATE GOVERNANCE)
DISUSUN OLEH :
Agus Ahmad Arif (201410170311295) Ifadatul Amaliyah (201410170311300) Paradigma D. M. (201410170311304)
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Sistem Pengendalian Manajemen yang berjudul “Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate Governance)”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen di Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Malang, Mei 2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah... 2
C. Tujuan... 3
BAB II PEMBAHASAN... 4
A. Definisi Good Corporate Governance... 4
B. Arti Penting Good Corporate Governance... 5
C. Unsur-Unsur Corporate Governance... 7
D. Model Corporate Governance ... 8
E. Prinsip Good Corporate Governance... 9
F. Tujuan Penerapan Good Corporate Governance... 15
G. Manfaat Good Corporate Governance... 15
H. Faktor Penerapan Good Corporate Governance... 17
I. Organ Perseroan... 19
J. Organ Khusus Dalam Good Corporate Goverance... 21
K. Code Of Conduct... 23
L. Hubungan GCG, Internal Control, dan Eterprise Risk Management... 25
BAB III STUDI KASUS... 26
BAB IV PENUTUP... 28
A. Kesimpulan... 28
B. Komentar Dan Saran... 28
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Isu mengenai Corporate Governance muncul sebagai reaksi terhadap berbagai kegagalan korporasi akibat dari buruknya tata kelola perusahaan. Krisis Corporate Governance pertama terjadi pada tahun 1700an yang dikenal dengan The South Sea Buble. Masalah Corporate Governance semakin mendapat perhatian besar di Asia sejak terjadinya krisis finansial pada pertengahan tahun 1997. Lemahnya penerapan prinsip Corporate Governance diyakini sebagai penyebab utama kerawanan ekonomi yang menyebabkan memburuknya kondisi perekonomian di beberapa negara Asia termasuk Indonesia.
Krisis beberapa perusahaan di Indonesia yang dimulai akhir tahun 1997 bukan semata-mata diakibatkan oleh krisis ekonomi, tetapi juga diakibatkan oleh belum dilaksanakannya Good Corporate Governance dan etika yang melandasinya. Oleh karena itu, usaha untuk mengembalikan kepercayaan kepada dunia bisnis melalui rekonstruksi dan rekapitulasi hanya dapat mempunyai dampak jangka panjang dan mendasar apabila disertai 3 tindakan penting yaitu ketaatan terhadap prinsip kehati-hatian, pelaksanaan Good Governance dan pengawasan yang efektif dari otoritas pengawas masing-masing perusahaan.
Ilustrasi di atas memperlihatkan meski suatu perusahaan telah berketetapan secara konsisten menerapkan GCG, namun untuk mempertahankan kelangsungan usahanya dalam suatu lingkungan bisnis yang tidak sehat, pada saat harus berhubungan dengan pihak ketiga yang tidak menjalankan governance yang baik, pada akhirnya perusahaan yang bersangkutan terpaksa melanggar prinsip-prinsip GCG.
Penerapan praktek-praktek GCG merupakan salah satu langkah penting bagi perusahaan untuk meningkatkan dan memaksimalkan nilai perusahaan (corporate value), mendorong pengelolaan perusahaan yang profesional, transparan dan efisien
kepada pemegang saham, dewan komisaris, mitra bisnis, serta stakeholders lainnya. Lebih lanjut, pihak direksi, dewan komisaris, manajemen dan staf berkomitmen untuk menerapkan praktek-praktek GCG dalam pengelolaan kegiatan usaha perusahaan. Kesadaran akan pentingnya GCG bagi perusahaan adalah karena keinginan untuk menegakkan integritas dalam menjalankan bisnis yang sehat.
Corporate Governance merupakan konsep yang diajukan demi peningkatan kinerja perusahaan melalui supervise atau monitoring kinerja manajemen dan menjamin akuntabilitas manajemen terhadap stakeholder dengan mendasarkan kerangka peraturan. Konsep Corporate Governance diajukan demi tercapainya pengelolaan perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan. Corporate Governance juga membantu menciptakan lingkungan kondusif demi terciptanya pertumbuhan yang efisien dan sustainable di sektor korporat.
Bagi suatu perusahaan, khususnya sebagian sahamnya dimiliki oleh masyarakat melalui bursa saham, penyajian laporan keuangan kepada stakeholders perusahaan harus dilaporkan tepat waktu, akurat, dapat dimengerti dan obyektif (Boediono, 2005). Tetapi perbedaan kepentingan antara direksi dan dewan komisaris dengan kepentingan pemegang saham dapat menyebabkan terjadinya berbagai kecurangan dalam pelaporan keuangan. Penerapan Good Corporate Governance telah menjadi perhatian utama para investor karena dengan diterapkannya Good Corporate Governance kecurangan akibat perbedaan kepentingan bisa dihilangkan sehingga perusahaan menyajikan laporan keuangan yang transparan sesuai dengan kondisi yang senyatanya.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi Good Corporate Governance? 2. Apa arti Penting dari Good Corporate Governance? 3. Unsur-Unsur apa saja dalam Corporate Governance? 4. Apa saja jenis Model Corporate Governance?
5. Bagaimana Prinsip-prinsip Good Corporate Governance? 6. Apa Tujuan dari Penerapan Good Corporate Governance? 7. Apa saja Manfaat dari Good Corporate Governance?
8. Faktor-faktor apa saja yang menentukan keberhasilan dalam Penerapan Good Corporate Governance?
9. Siapa Saja Organ Perseroan dalam Good Corporate Governance?
10. Siapa Saja Organ Khusus/Tambahan dalam Good Corporate Governance? 11. Apakah yang dimaksud Code Of Conduct?
12. Bagaimana Kerterkaitan Implementasi GCG, Internal Control, dan Enterprise Risk Managemen?
C. TUJUAN
1. Mengetahui definisi Good Corporate Governance
2. Memahami arti Penting dari Good Corporate Governance 3. Mengetahui Unsur-Unsur apa saja dalam Corporate Governance 4. Mengetahui jenis Model Corporate Governance
5. Memahami Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
6. Memahami Tujuan dari Penerapan Good Corporate Governance 7. Mengetahui Manfaat dari Good Corporate Governance
8. Memahami Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan dalam Penerapan Good Corporate Governance
9. Mengetahui Organ Perseroan dan wewenangnya dalam Good Corporate Governance 10. Mengetahui Organ Khusus/Tambahan dan wewenangnya dalam Good Corporate
Governance
11. Memahami tentang Code Of Conduct
12. Memahami Hubungan Implementasi GCG, Internal Control, dan Enterprise Risk Management
BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Good Corporate Governance (GCG)
Sebagai sebuah konsep, GCG ternyata tak memiliki definisi tunggal. Komite Cadburry, misalnya, pada tahun 1992, melalui apa yang dikenal dengan sebutan Cadburry Report mengeluarkan definisi tersendiri tentang GCG. Menurut Komite Cadburry, GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya. Tentu saja hal ini dimaksudkan pengaturan kewenangan Direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.
Sejumlah negara juga mempunyai definisi tersendiri tentang GCG. Beberapa negara mendefinisikannya dengan pengertian yang agak mirip walaupun ada sedikit perbedaan istilah. Kelompok negara maju (OECD), umpamanya mendefinisikan GCG sebagai cara-cara manajemen perusahaan bertanggung jawab pada shareholder-nya. Para pengambil keputusan di perusahaan haruslah dapat dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai tambah bagi shareholders lainnya. Karena itu fokus utama di sini terkait dengan proses pengambilan keputusan dari perusahaan yang mengandung nilai-nilai transparency, responsibility, accountability, dan tentu saja fairness.
Sementara itu, ADB (Asian Development Bank) menjelaskan bahwa GCG mengandung empat nilai utama yaitu: Accountability, Transparency, Predictability dan Participation. Pengertian lain datang dari Finance Committee on Corporate Governance Malaysia. Menurut lembaga tersebut GCG merupakan suatu proses serta struktur yang digunakan untuk mengarahkan sekaligus mengelola bisnis dan urusan perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Adapun tujuan akhirnya adalah menaikkan nilai saham dalam jangka panjang tetapi tetap memperhatikan berbagai kepentingan para stakeholder lainnya.
Lantas bagaimana dengan definisi GCG di Indonesia? Di tanah air, secara harfiah, governance kerap diterjemahkan sebagai “pengaturan.” Adapun dalam konteks GCG, governance sering juga disebut “tata pamong”, atau penadbiran – yang terakhir ini, bagi orang awam masih terdengar janggal di telinga. Maklum, istilah itu berasal dari Melayu. Namun tampaknya secara umum di kalangan pebisnis, istilah GCG diartikan tata kelola perusahaan, meskipun masih rancu dengan terminologi manajemen. Masih diperlukan kajian untuk mencari istilah yang tepat dalam bahasan Indonesia yang benar.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance merupakan :
1. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan komisaris, Direksi, Pemegang Saham dan Para Stakeholder lainnya.
2. Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan.
3. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya.
Secara umum istilah Good Corporate Governance merupakan sistem pengendalian dan pengaturan perusahaan yang dapat dilihat dari mekanisme hubungan antara berbagai pihak yang mengurus perusahaan (hard definition), maupun ditinjau dari "nilai-nilai" yang terkandung dari mekanisme pengelolaan itu sendiri (soft definition). Dengan kata lain, Good Corporate Governance merupakan sebuah sistem untuk mengatur dan mengendalikan perusahaan, guna memberi nilai tambah bagi para stakeholder. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat luas.
GCG diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan. Penerapan GCG perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha. Prinsip dasar yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pilar adalah: 1. Negara dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang
menunjang iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten (consistent law enforcement) .
2. Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan GCG sebagai pedoman dasar pelaksanaan usaha.
3. Masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha serta pihak yang terkena dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan melakukan kontrol sosial (social control) secara obyektif dan bertanggung jawab.
Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan) adalah suatu subjek yang memiliki banyak aspek. Salah satu topik utama dalam tata kelola perusahaan adalah menyangkut masalah akuntabilitas dan tanggung jawab/ mandat, khususnya implementasi pedoman dan mekanisme untuk memastikan perilaku yang baik dan melindungi kepentingan pemegang saham. Fokus utama lain adalah efisiensi ekonomi yang menyatakan bahwa sistem tata kelola perusahaan harus ditujukan untuk mengoptimalisasi hasil ekonomi, dengan penekanan kuat pada kesejahteraan para pemegang saham. Ada pula sisi lain yang merupakan subjek dari tata kelola perusahaan, seperti sudut pandang pemangku kepentingan, yang menunjuk perhatian dan akuntabilitas lebih terhadap pihak-pihak lain selain pemegang saham, misalnya karyawan atau lingkungan.
Sampai saat ini para ahli tetap menghadapi kesulitan dalam mendefinisikan GCG yang dapat mengakomodasikan berbagai kepentingan. Tidak terbentuknya definisi yang akomodatif bagi semua pihak yang berkepentingan dengan GCG disebabkan karena cakupan GCG yang lintas sektoral. Definisi GCG menurut Bank Dunia adalah aturan, standar dan organisasi di bidang ekonomi yang mengatur perilaku pemilik perusahaan, direktur dan manajer serta perincian dan penjabaran tugas dan wewenang serta pertanggungjawabannya kepada investor (pemegang saham dan kreditur). Tujuan utama dari GCG adalah untuk menciptakan sistem pengendaliaan dan keseimbangan (check and
balances) untuk mencegah penyalahgunaan dari sumber daya perusahaan dan tetap mendorong terjadinya pertumbuhan perusahaan.
Inti dari kebijakan tata kelola perusahaan adalah agar pihak-pihak yang berperan dalam menjalankan perusahaan memahami dan menjalankan fungsi dan peran sesuai wewenang dan tanggung jawab. Pihak yang berperan meliputi pemegang saham, dewan komisaris, komite, direksi, pimpinan unit dan karyawan.
Konsep Good Corporate Governance (GCG) adalah konsep yang sudah saatnya diimplementasikan dalam perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, karena melalui konsep yang menyangkut struktur perseroan, yang terdiri dari unsur-unsur RUPS, direksi dan komisaris dapat terjalin hubungan dan mekanisme kerja, pembagian tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang harmonis, baik secara intern maupun ekstern dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan demi kepentingan shareholders dan stakeholders.
C. Unsur-Unsur Corporate Governance
1. Internal Perusahaan, yaitu unsur yang berasal dari dalam perusahaan dan unsur yang selalu diperlukan di dalam perusahaan
a. Unsur yang berasal dari dalam perusahaan 1. Pemegang saham
2. Direksi
3. Dewan komisaris 4. Manajer
5. Karyawan/serikat pekerja 6. Sistem remunerasi berdasar
kinerja 7. Komite audit
b. Unsur yang selalu diperluka di dalam perusahaan 1. Keterbukaan dan kerahasiaan