BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Sinopsis Film Di Timur Matahari
Mazmur merupakan seorang anak yang tinggal di daerah Tiom, Papua. Mazmur berdiri di puncak bukit sambil menunggu guru pengganti datang, karena guru yang biasa mengajar di sekolah tempat marcus dan teman-temannya menuntut ilmu libur selama 6 bulan. Namun sayangnya guru pengganti tidak kunjung datang. Sebagai gantinya merekapun mengisi waktu belajar dengan menyanyi lagu nasional.
Mazmur setiap hari selalu menunggu kedatangan guru pengganti di sebuah lapangan terbang tua, satu-satunya penghubung kampung itu dari kehidupan di luar sana, kampung mereka berada di daerah pegunungan tengah Papua, daerah yang cukup sulit untuk dijangkau. Pagi itu ia memandang penuh harap kelangit, semoga hari itu ada pesawat yang datang dan membawa guru pengganti karena sudah 6 bulan tak ada guru yang mengajar, setelah Mazmur melempar pandangannya kepada Bapak Yakob, seorang pria berumur yang masih menjaga tradisi, dan dari Bapak Yakob, Mazmur tahu guru tidak juga datang. Diapun berlari kesekolah dan memberi kabar kepada teman-temannya, Thomas, Yokim, Agnes dan Suryani yang dengan setia selalu menunggu kabar itu. "Guru pengganti belum datang, kita menyanyi saja". Kembali kalimat itu yang keluar dari mulut Mazmur. Karena guru tidak pernah datang akhirnya ke lima anak ini mencari pelajaran di alam dan lingkungan sekitar. Lewat pendeta Samuel, ibu dokter
Fatimah, om Ucok dan om Jolex mereka mendapatkan banyak pengetahuan. Namun sebuah kejadian mengubah semua itu, Ayah Mazmur terbunuh oleh Joseph, ayah dari Agnes, dan paman dari Yokim dan Suryani.
Pertikaian antar kampung tak bisa dihindari. Kabar kematian Blasius ayah Mazmur sampai kepada Michael, adik dari Blasius yang sejak kecil diambil oleh mama Jawa yang tinggal dan belajar di Jakarta, Michael terpukul mendengar itu, bersama Vina istrinya, dia memutuskan untuk kembali ke Papua dan mencoba menyelesaikan permasalahan ini. Namun tidak segampang yang dipikirkannya, karena adik bungsunya Alex menentang semua pemikiran modern dari Michael. Perang! Itu jalan satu-satunya bagi Alex untuk membalas kematian Blasius. Orang dewasa bisa saja bertikai, namun tidak bagi Mazmur, Thomas dan ketiga sahabatnya, walaupun kampung mereka bermusuhan, ayah Mazmur terbunuh oleh ayah Agnes, tapi mereka tetap berkawan dan berusaha mendamaikan kedua kampung ini.
4.2 Karakter Tokoh Film Di Timur Matahari Cast:
Laura Basuki sebagai Vina Lukman Sardi sebagai Pendeta Samuel
Ririn Ekawati sebagai dr. Fatimah Ringgo Agus Rahman sebagai Ucok
Michael Jakarimilena sebagai Michael Simson Sikoway sebagai Mazmur
Supporting Talent
Abetnego Yigibalom sebagai Thomas Lucky Martin sebagai Nyong
Yullex Sawaki sebagai Jollex Putri Nere sebagai Elsye Razz MAnobi sebagai Yokim Friska Waromi sebagai Suryani Maria Resubun seabgai Agnes Paul Kurwa sebagai Alex Fratino Matatemy sebagai Max Karno Kogoyo sebagai Yacob Elias Wakerkwa sebagai Blasius
4.3 Identitas Film Di Timur Matahari Tim Produksi
Produser : Ari Sihasale, Nia Sihasale Produser Eksekutif : Nia Zulkarnaen
Produser Pelaksana : Bengky B. Mulyono Director : Ari Sihasale Penulis Naskah : Jeremias Nyangeon Penata Kamera : Nurhidayat
Perekam Suara : Dwi Budi Priyanto Penata Artistik : Frans X.R. Paad Penata Kostum : Canting
Penata Rias : Notje Tatipata
Penyunting Adegan : Muhammad Ichsan, Robby Barus Penata Musik : Agi Narotama, Bemby Gusti, Dian H.P. Penata Suara : Khikmawan Santosa
Fotografer : Sony Seniawan Durasi : 110 menit
Genre : Drama
Distributor : Alenia Picture Tanggal Rilis : 14 Juni 2012 Negara : Indonesia Bahasa : Indonesia
4.4 Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanda– tanda yang dapat merepresentasikan kehidupan, budaya dan adat istiadat masyarakat Papua yang berada di pedalaman .Penelitian ini menggunakan Semiotika Charles Pierce yaitu teori segitiga makna (triangle of meaning) :
Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk hal lain diluar tanda itu sendiri. Acuan Tanda (Object) adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda. Pengguna Tanda (Interpretant) adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkanya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.
Berdasarkan Objeknya, Pierce membagi tanda, yaitu : Ikon, Indeks, Simbol. Ikon adalah tanda yang hubungan antar penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Atau dengan kata lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan, misalnya potret dan peta. Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kental atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Contoh yang paling jelas ialah asap sebagai tanda adanya api, kemudian ada simbol, yang menunjukan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan diantaranya bersifat arbier atau semena, hubungan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat.
4.4.1 Ras Papua
SIGN
OBJECT INTERPRETANT Symbol: Pada gambar di atas yang
diambil dengan tehnik medium shoot, menunjukan seorang anak Papua yang berkulit hitam, berbibir tebal dan berambut keriting.
Argument: Gambar diatas menunjukkan bahwa Mazmur yang merupakan orang Papua termasuk dalam bangsa Melanesia atau disebut Papua Melonosoid yang termasuk dalam ras Negroid karena memiliki ciri- ciri kulit hitam, bibir tebal, hidung lebar dan berambut keriting. Di beberapa belahan dunia ras negroid masih didiskriminasi, diperbudak, dianggap sebagai pembuat onar dan juga masih hidup primitif.
4.4.2 Kehidupan Masyarakat Papua 4.4.2.1 Kurangnya Tenaga Pengajar
SIGN
OBJECT INTERPRETANT Index: Mazmur yang berdiri di depan
kelas dan memberitahu bahwa guru pengganti tak kunjung datang
Symbol: Raut wajah murung yang ditunjukkan anak- anak murid
Argument: mazmur yang memberitahu bahwa guru pengganti tak datang mengartikan bahwa kurangnya tenaga pengajar di pedalaman Papua. Tenaga pengajar yang biasa ditugaskan di pedalaman Papua sering kali kabur ke kota karena kurangnya fasilitas hidup di
Icon: Seragam merah putih pedalaman. Tenaga pengajar merupakan komponen terpenting yang harus ada dalam proses belajar- mengajar selain siswa itu sendiri. Saat siswa sudah semangat datang ke sekolah, mereka harus kecewa karena tidak ada guru yang datang. Keadaan siswa di sekolah pedalaman sangat jauh berbeda dengan daerah perkotaan, mereka duduk berhempitan karena kurangnya ruang kelas dan bangku yang tersedia, dan banyak diantara siswa yang tidak menggunakan seragam dan sepatu.
Dicent sign: seragam putih merah merupakan seragam yang digunakan untuk siswa yang masih berada di sekolah dasar.
Rheme: raut wajah murung yang ditunjukkan para siswa bisa memiliki arti kecewa karena guru tak kunjung datang atau kecapaian.
4.4.2.2 Tradisi Minum Minuman Keras SIGN
Legisign: Gambar diatas menunjukkan Blasius, ayah Mazmur pulang kerumah dengan keadaan mabuk ketika Mama Elsye dan Mazmur sedang berbincang. Kemudian ayahnya jatuh dan muntah akibat terlalu banyak minum minuman keras. Mama Elsye kemudian membantu mengelapkan muntah sang suami.
OBJECT INTERPRETANT Index: Pada gambar di atas yang
diambil dengan teknik medium long shoot, terlihat seorang laki- laki sedang mabuk sampai muntah karena terlalu banyak minum minuman keras, sang istri membantu mengelapkan muntahnya.
Argument: Mabuk- mabukan atau minum minuman keras merupakan satu tradisi di pedalaman Papua, masyarakat menjalankan tradisi ini layaknya makan dan minum sehari- hari. Dulunya minuman yang dianggap minuman keras dan dikonsumsi oleh orang Papua adalah minuman sejenis saguer atau yang biasa mereka sebut dengan minuman bobo, minuman ini jika
dikonsumsi tidak terlalu berdampak terhadap kesehatan. Pada masyarakat tepi pantai biasanya mengkonsumsi minuman keras yang terbuat dari kelapa atau pohon aren. Namun seiring berjalannya waktu masyarakat Papua mengkonsumsi minuman alcohol merk luar negeri yang jika dikonsumsi berlebihan bisa membahayakan tubuh.
4.4.2.3 Kecurigaan Terhadap Pendatang SIGN
ALEX:
Tidak tidak.. kaka tidak pernah salah, itu yang selalu mama banggakan toh? Berbeda dengan kami yang dari kecil tidak makan beras jawa.
MICHAEL:
Kau jangan berpikir buruk dulu Alex! Hey Alex!
Mama titip kita ke mama Jawa supaya kita bisa keluar dari sini bisa liat dunia ini, tapi kau sama kaka Blas yang tidak mau ikut toh? Kalian lebih percaya kata- kata bapa kalau mama Jawa itu tipu- tipu, kalian berdua lebih pilih liat bapa mabuk
sambil pukul mama sampe berperang disini daripada sekolah dan bekerja. ALEX:
Kenapa kau kawin dengan Cina? MICHAEL:
Karna itu kau tidak datang?
Tidak satupun orang yang tahu dia akan dilahirkan dari rahim Cina Papua atau Jawa atau yang lainnya, karena di mata tuhan kita semua sama
Sinsign: Gambar di atas menunjukkan Alex adik Michael yang merupakan penduduk asli pedalaman Papua tidak suka dengan orang yang berasal dari pulau jawa, Alex menganggap bahwa orang yang bersar di Jakarta atau pulau jawa merupakan orang yang sombong dan tidak mau dianggap salah, sedangkan dirinya yang tidak pernah makan beras Jawa merupakan orang primitif di mata orang Jawa. Alex dan Blasius jg menganggap bahwa Mama Jawa adalah penipu. Alex sangat benci kakanya, Michael yang menikah dengan keturunan China sampai tidak datang kepernikahan kakaknya.
OBJECT INTERPRETANT Symbol: Alex yang marah terhadap
kakanya Michael dan istrinya yang berasal dari Jakarta
Index: terlihat seorang pria dengan muka marah sambil menunjuk pria yang sedang berdiri
Argument: Gambar tersebut menunjukan bahwa Alex yang merupakan masyarakat pedalaman Papua sangat curiga dengan pendatang terutama dari pulau- pulau besar dan maju seperti pulau Jawa, mereka menganggap bahwa orang Jawa adalah
penipu dan selalu menggap diri mereka benar. Kebencian dan kecurigaan ini merupakan akibat dari kesenjangan yang terjadi antara masyarakat pedalaman Papua dan Masyarakat di pulau besar lainnya.
Rheme: alex yang menunjuk kakanya menggunakan jari telunjung dengan raut muka marah menunjukan bahwa Alex sangat marah dan kecewa kepada kakanya yang tinggal dijakarta dan menikahi gadis Cina.
4.4.2.4 Mata Pencaharian Berkebun SIGN
OBJECT INTERPRETANT Symbol: Pada gambar yang diambil
dengan teknik longshoot terlihat beberapa orang sedang berkebun dan memanen ubi.
Argument: Gambar diatas menunjukkan Vina sedang membantu mama Elsye dan Bapak Yaco memanen ubi, bersama dengan warga lainnya.
Mata pencaharian pokok masyarakat pedalaman khususnya daerah pegunungan adalah bercocok tanam,. Biasanya yang di tanam adalah sagu dan umbi- umbian seperti ubi.
4.4.3 Tradisi- Tradisi Papua 4.4.3.1 Tradisi Denda Adat
SIGN
UCOK:
Saya minta maaf atas kejadian ini bapak. Semua biaya pengobatan saya yang tanggung bapa.
BLASIUS:
Terima kasih. Tapi denda adat tetap berjalan toh. UCOK:
Bagaimana? JOLLEX:
Ya Ucok, selain bayar ongkos pengobatan, urus bayar denda adat juga. UCOK:
Oh begitu di sini?
Legisign: Pada gambar tersebut menunjukkan Ucok dan Jolex sedang berbincang ke pada Blasius dan Alex mengenai tanggung jawabnya untuk menanggung biaya
pengobatan Mazmur karena telah menabraknya. Namun Blasius dan Alex tetap meminta permasalahan ini di selesaikan secara adat yaitu dengan membayarkan denda adat.
OBJECT INTEPRETANT Index: Pada gambar di atas yang
diambil dengan tehnik long shoot, terlihat 4 orang warga biasa dan 2 orang polisi sedang berbincang mengenai denda adat
Argument: Ucok yang bersalah menabrak Mazmur harus membayar denda adat yang ditentukan oleh keluarga Mazmur. Denda adat memang sudah melekat pada masyarakat Papua, khususnya di wilayah pedalaman pegunungan Tengah, Masyarakat lebih suka menyelesaikan semua perkara secara adat daripada penyelesaian sesuai hukum positif. Padahal, hukum ini mengikat seluruh warga negara untuk menaati dan menjalankan hukum perdata maupun pidana. Hukum adat lebih menguntungkan korban atau penggugat daripada hukum pidana atau perdata. Denda berupa hewan ternak, uang, tanah, dan harta benda lain yang harus ditanggung pelaku terhadap korban, bahkan denda-denda macam itu
bisa bernilai miliaran rupiah. Denda seperti itu jelas lebih berat bila dibandingkan dengan putusan di pengadilan negeri.
Decint sign: Kehadiran 2 orang polisi yang bertugas untuk menengahi kedua pihak tersangka dan korban mengartikan bahwa hukum Negara masih berlaku di pedalaman Papua disamping hukum adat yang dianut oleh masyarakat pedalaman Papua. Dan masyarakat pedalaman Papua masih menghargai kehadiran penegak hukum Negara di tengah mereka.
4.4.3.2 Tradisi Noken
SIGN
Sinsign: Pada gambar diatas menunjukan bahwa beberapa warga pedalaman Papua menggunakan tas dikepala yang bernama noken dan mereka membuatnya sendiri.
OBJECT INTERPRETANT Icon: penggunaan Noken, tas khas
Papua
Argument: Noken merupakan tas tradisional masyarakat papua terbuat dari kulit kayu dari pohon Manduam, pohon Nawa atau Anggrek hutan.
Index: Para wanita membuat Noken sendiri
Noken umumnya lebih sering dipakai oleh orang yang bermukim di daerah pegunungan, dan biasa dibawa dengan menggunakan kepala. Masyarakat Papua biasanya menggunakannya untuk membawa hasil-hasil pertanian seperti sayuran, umbi-umbian dan juga untuk membawa barang-barang dagangan ke pasar.
Membuat Noken sendiri dahulu bisa melambangkan kedewasaan si perempuan itu. Karena jika perempuan papua belum bisa membuat Noken dia tidak bisa dianggap dewasa dan itu merupakan syarat untuk menikah.
Noken telah didaftarkan ke UNESCO sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia pada 4 Desember 2012. Hasil karya tangan khas Papua ini ditetapkan sebagai warisan kebudayaan tak benda UNESCO.
4.4.3.3 Tradisi Jaga Malam Pada Saat Kematian SIGN
Legisign: Gambar di atas menunjukkan beberapa pemuda yang tinggal di daerah tempat Mazmur dan keluarganya tinggal, memainkan alat musik tradisional dan bernyanyi nyanyian daerah di depan rumah Mazmur pada malam meninggalnya Blasius.
OBJECT INTERPRETANT Symbol: pada gambar di atas yang
diambil dengan tehnik medium long shoot beberapa orang laki- laki sedang
Argument: Pada saat ada orang yang meninggal secara otomatis pemuda di kampung dimana ada kematian tersebut
memegang alat musik tradisional, memainkan lagu dan bernyanyi
Icon: alat musik tradisinal Papua
akan berkumpul pada malam hari di rumah duka untuk menjaga jenasah dari malam hingga pagi hari. Di dalam mereka berkumpul biasanya mereka membawa gitar, ukulele dan tifa (waku). Tujuannya adalah mereka ingin menghibur keluarga yang sedang berduka dengan lagu-lagu rohani sepanjang malam. Dalam melaksanakan jaga malam pemuda melakukannyan dengan suka rela, kegiatan ini diartikan sebagai rasa solidaritas, simpati dan empati mereka terhadap keluarga yang berduka
Dicent sign: guoto, merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Papua barat yang cara memainkannya adalah dipetik.
4.4.3.4 Tradisi Memotong Jari
SIGN
Legisign: Gambar diatas menunjukan mama Elsye yang baru saja ditinggal mati suaminya karena dibunuh melakukan ritual adat yaitu memotong salah satu jarinya.
OBJECT INTERPRETANT Symbol: Mama Elsye melakukan
tradisi potong jari
Argument: Potong jari merupakan tradisi berkabung di Papua, potong jari merupakan lambang dari bentuk
kesedihan dan kehilangan anggota keluarga. Tradisi ini wajib dilakukan jika ada anggota keluarga atau kerabat yang meninggal dunia. Tradisi potong jari ini biasanya dilakukan oleh para ibu, namun jika ibu meninggal maka sang suami menanggung kewajiban ini. Bisa diartikan jari adalah simbol kerukunan, kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun dalam keluarga. Tradisi potong jari di Papua dilakukan dengan berbagai cara ada yang menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak atau parang. Cara lainnya yaitu mengikat jari dengan seutas tali sampai beberapa lama sehingga menyebabkan aliran darah berhenti lalu dilakukan pemotongan.
Menurut travel.detik.com 4 Desember 2014, tradisi potong jari ini masih berlangsung di Papua
4.4.3.5 Tradisi Perang Antar Suku
SIGN
Legisign: Karena tidak mampu membayar denda adat yang telah di tetapkan Alex untuk menebus kematian Blasius, maka kedua desa memutuskan untuk
mengadakan perang antar desa.
OBJECT INTERPRETANT Symbol: Pada gambar yang diambil
dengan teknik long shoot, terlihat kedua kubu orang- orang sedang memengang senjata berupa panah dan juga tombak, dan kedua kubu tersebut menyerang satu sama lain
Argument: Menurut masyarakat pedalaman Papua bila pihak pelaku tidak memenuhi tuntutan adat, akan berbuntut pada perang antara suku. Perang ini untuk membuktikan siapa yang paling benar dalam kasus tersebut. Pihak yang kalah diyakini telah melakukan kebohongan, pihak yang menang dinilai telah bertindak jujur dan adil.
Perang adat tidak brutal. Perang itu harus disepakati kedua pihak terutama menyangkut jumlah anggota suku yang terlibat perang, tempat, waktu, dan kesepakatan mengenai perempuan dan anak-anak tidak boleh dibunuh di dalam perang. Perang hanya berlangsung di zona yang telah ditetapkan bersama. Bila kedua pihak saling bertemu di tempat lain, tidak akan ada permusuhan. Pada gambar tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pedalaman Papua menganut tradisi perang, dimana perang ada jalan akhir yang dilakukan jika ada korban yang terbunuh, menurut masyarakat pedalaman Papua kematian seseorang harus dibalas ganti kepala manusia, maka pelaku akan dikenakan denda adat berupa uang yang banyak atau ternak babi, jika tidak mampu membayar denda maka perang akan dilakukan, selain untuk balas dendam, perang juga diyakinkan akan
menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Pihak yang menang adalah pihak yang benar dan begitupun sebaliknya.
Menurut Tempo.co 24 Mei 2013 sampai dengan saat ini tradisi perang ini masih dilakukan di Papua
4.5 Pembahasan
Dalam penelitian ini, penulis mendeskripsikan bagaimana kehidupan dan adat istiadat masyarakat pedalaman Papua yang direpresentasikan dalam film Di Timur Matahari dengan menggunakan teori segitiga makna atau triangle of meaning, Charles Sanders Peirce yang meliputi sign (film Di Timur Matahari), object (kehidupan dan adat istiadat masyarakat pedalaman Papua), dan interpretant (representasi penulis). Kemudian tanda – tanda tersebut diolah oleh penulis secara verbal berupa gambar dan teks maupun nonverbal berupa potongan– potongan gambar yang dipertegas melalui tindakan yang dimainkan oleh pemain– pemain, adegan– adegan yang ditampilkan, serta properti yang dimanfaatkan untuk merepresentasikan masyarakat pedalaman Papua dalam film Di Timur Matahari.
Dari penelitian ini yang menggunakan teori semiotika oleh Charles Sanders Pierce. Dapat terlihat bahwa penggambaran masyarakat pedalaman Papua yang ada dalam film Di Timur Matahari sangat terlihat jelas. Dan Penulis mendapatan 11 gambar yang memperlihatkan mengenai kehidupan dan adat istiadat yang masih berjalan di pedalaman Papua . Mulai dari pendidikan yang sangat minimum, keterbatasan komunikasi, tradisi- tradisi ekstrim yang berlaku seperti memotong tangan, perang sampai dengan harga sembako yang melambung tinggi. Di film ini sangat diperlihatkan kerinduan anak- anak akan pendidikan sampai dengan usaha Michael menghilangkan tradisi- tradisi yang ekstrim di pedalaman Papua.
Tabel 4.5.1
Kehidupan Masyarakat Pedalaman Papua
Tabel
Kehidupan Masyarakat Pedalaman Papua
Table 4.4.2.1 Kurangnya tenaga pengajar di pedalaman Papua. Guru- guru yang ditugaskan biasanya kabur ke kota karena kurangnya fasilitas yang layak. Table 4.4.2.2 Masyarakat pedalaman Papua
meminum- minuman keras sebagai tradisi, meminum minuman keras layaknya makan dan minum sehari- hari di pedalaman Papua
Tabel 4.4.2.3 Kecurigaan masyarakat pedalaman Papua terhadap pendatang, mereka menganggap pendatang adalah pembohong dan memandang rendah mereka.
Table 4.4.2.4 Mata pencaharian pokok penduduk pedalaman Papua adalah bercocok tanam, biasnya mereka menanam umbi- umbian seperti ubi, singkong atau sagu.
Tabel 4.5.2
Tradisi- Tradisi Masyarakat Pedalaman Papua Tabel Tradisi- tradisi Masyarakat
Pedalaman Papua
4.4.3.1 Menggambarkan tradisi denda adat yang masih berlaku di pedalaman Papua, denda adat dianggap lebih penting dibandingkan dengan hukum nasional, denda adat bisa berupa hewan ternak atau uang dan ditentukan oleh keluarga korban.
4.4.3.2 Tradisi noken, wanita atau laki- laki di Papua biasa menggunakan noken yang biasanya disematkan dikepala, noken digunakan untuk menaruh barang sehari- hari
4.4.3.3 Tradisi jaga malam yang dilakukan masyarakat pedalaman Papua pada saat ada salah satu warga yang meninggal, hal ini dimaksudkan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan
4.4.3.4 Tradisi potong jari yang dilakukan masyarakat pedalaman Papua pada umumnya perempuan sebagai simbol berkabung atau kesedihan kehilangan salah satu anggota keluarga
Dari 8 gambar tersebut dapat terlihat bagaimana penggambaran masyarakat pedalaman Papua. Film “Di Timur Matahari“ menjadi cerminan bagi kehidupan masyarakat pedalaman di Papua. Di dalam film ini juga banyak ditampilkan apa yang terjadi di Papua seperti minimnya pendidikan, kesehatan, ketentraman dan kedamaian. Diceritakan dalam film bahwa minimnya pengetahuan masyarakat berimplikasi pada kehidupan mereka saat dewasa. Kehidupan orang dewasa seperti yang diceritakan dalam film tak pernah lepas dari kekerasan, dendam dan perperangan antar suku. Kehidupan anak-anak yang menginginkan hidup yang damai dan tentram jauh dari realisasi mengingat masih adanya adat kebiasaan tidak baik yang masyarakat di sana masih pertahankan hingga kini.