• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH METODE PENGOLAHAN BIJI NANGKA (Artocarpus heterophyllus) TERHADAP MUTU SENSORIS COKELAT BATANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH METODE PENGOLAHAN BIJI NANGKA (Artocarpus heterophyllus) TERHADAP MUTU SENSORIS COKELAT BATANGAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH METODE PENGOLAHAN BIJI NANGKA (Artocarpus

heterophyllus) TERHADAP MUTU SENSORIS COKELAT BATANGAN

The Effect of Processing Method of Jackfruit Seeds (Artocarpus heterophyllus) on The

Sensory Quality of Chocolate Bar

Siti Hajar, Bernatal Saragih*, Deny Sumarna

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Jl. Tanah Grogot Kampus Gunung Kelua, Samarinda 75119. *) Corresponding author: [email protected]

Received 23 Jan 2018 Revised 26 Mar 2018 Accepted 25 May 2018

ABSTRACT

Chocolate is confectionery bar-shaped which is composed of some or all of the components such as cocoa solids, sugar, and milk. Chocolate is processed from cocoa paste with the addition of jackfruit seed pieces with various processing methods, is likely to increase the diversity of chocolate that has been marketed with a hedonic scale different. The results of the research showed that seed treatment had effect on the value of organoleptic through the hedonic test and hedonic quality test which includes (texture, odour, flavour and colour), but had no significant effect on ash content. The resulting chocolate has a moisture content 4.36-7.29%, ash content 2.13-2.65%, peroxide value 0.64-1.46% meq O2/1000 kg, and processing of jackfruit seeds roasted gives good texture. Keywords: cocoa, jackfruit, chocolate

PENDAHULUAN

Kakao merupakan salah satu komoditas

andalan nasional dan berperan penting bagi

perekonomian Indonesia, terutama dalam

penyediaan lapangan kerja dan sumber

pendapatan petani. Keadaan iklim dan

kondisi

lahan

yang

sesuai

untuk

pertumbuhan kakao akan mendorong

pengembangan pembangunan perkebunan

kakao di Indonesia. Indonesia adalah

produsen kakao terbesar ketiga di dunia,

namun sampai pada saat ini, komoditas

kakao Indonesia masih diproduksi dalam

bentuk biji dan dipasarkan internasional

dihargai rendah. Biji kakao Indonesia

sebagian besar atau sekitar 60% diekspor dan

selebihnya digunakan untuk kebutuhan

industri pengolahan biji kakao dalam negeri.

Ekspor kakao yang dilakukan selama ini

sebagian besar masih dalam bentuk produk

primer (cocoa bean) sedangkan dalam

bentuk olahan baru mencapai 20% (Sukrisno

dan Mulato, 2004).

Nangka merupakan tanaman buah

berupa pohon yang berasal dari India dan

menyebar ke daerah tropis termasuk

Indonesia. Nangka nama sejenis pohon,

sekaligus buahnya. Pohon nangka termasuk

ke dalam suku Moraceae: nama ilmiahnya

adalah Artocarpus heterophyllus. Dalam

bahasa Inggris, nangka dikenal sebagai

Jackfruit. Tumbuhan nangka berumah satu

(monoecious), perbungaan muncul pada

ketiak daun pada pucuk yang pendek dan

khusus, yang tumbuh pada sisi batang atau

cabang tua. Buah nangka adalah buah yang

tersedia sepanjang tahun, dengan jumlah

produksi di Provinsi Kalimantan Timur

sebanyak 14.462 ton pada tahun 2011

(Khoiriyah, 2011).

Di Indonesia, biji nangka selama ini

terbatas dimanfaatkan oleh masyarakat

dengan cara direbus, disangrai, digoreng, dan

dikukus. Biji nangka belum dimanfaatkan

secara optimal sebagai komoditi yang

memiliki nilai lebih, padahal biji nangka

mengandung karbohidrat, kalsium, dan

fosfor yang cukup tinggi (Wistyani, 2005).

Cocoa powder

digunakan untuk

membuat minuman dengan bahan lain

seperti susu dan gula sambil coklat mentega

digunakan untuk produksi cokelat. Cokelat

produk yang diinginkan dan dimakan, karena

menarik rasa dan penampilan (Othman et al,

2007; Pimentel et al, 2010). Cokelat ialah

manisan berbentuk batangan yang tersusun

atas beberapa atau seluruh komponen

diantaranya kakao padat, gula, dan susu.

Keberadaan atau ketiadaan relatif bahan

(2)

tersebut membentuk subkelas cokelat hitam,

cokelat susu, dan cokelat putih. Cokelat telah

menjadi populer bertahun-tahun sebelum

pengenalan bar tetapi gagasan untuk

menciptakan sebuah cokelat batangan adalah

untuk menyediakan cara yang lebih nyaman

ketika mengkonsumsi cokelat dan ketika

bepergian.

Secara umum cokelat yang banyak

beredar di Indonesia dengan penambahan

kacang mente maupun kismis, penelitian ini

menggantikan kacang mente atau kismis

dengan biji nangka karena diketahui biji

nangka memiliki nilai gizi yang baik selain

itu biji nangka sebagai limbah sangat

potensial

untuk

dimanfaatkan

dan

dikembangkan. Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui pengaruh mutu sensoris

cokelat bar dengan penambahan biji nangka

dengan berbagai metode pengolahan biji

nangka dan pemanfaatan biji nangka sebagai

bahan pangan.

BAHAN DAN METODE

Bahan

Bahan

yang

digunakan

untuk

pembuatan cokelat batang terdiri dari biji

kakao kering diperoleh dari Kampung Bayur,

Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan

Samarinda Utara. Biji nangka, gula halus,

mentega tawar, cokelat dan susu kental

manis.

Rancangan Percobaan

Penelitian ini merupakan penelitian

faktor tunggal yaitu jenis pemberian biji

nangka yang diolah dengan metode yang

berbeda yang disusun dalam Rancangan

Acak Lengkap dengan 5 perlakuan, yaitu biji

nangka rebus, biji nangka goreng, biji

nangka sangrai, biji nangka kukus dan biji

nangka oven. Masing-masing perlakuan

diulang sebanyak 4 kali. Parameter yang

diamati adalah sifat sensoris hedonik dan

mutu hedonik untuk tekstur, aroma, warna

dan rasa, serta sifat kimia meliputi kadar air,

kadar abu dan bilangan peroksida.

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan

sidik

ragam

dan

perlakuan

yang

menunjukkan perbedaan nyata dilanjutkan

dengan Uji Beda Nyata Jujur pada taraf

5%. Data sifat sensoris terlebih dahulu

ditransformasikan menjadi data interval

menggunakan Metode Suksesif Interval

sebelum dilakukan analisis dengan sidik

ragam.

Prosedur Penelitian

Pembuatan cokelat meliputi persiapan

alat dan bahan yang akan digunakan dalam

penelitian. Mentega tawar yang telah

dicairkan dan biji kakao yang telah

dihaluskan dicampurkan dengan cokelat,

masukan susu kental manis dan gula halus

dengan masing-masing berat bahan 40 gram

aduk hingga rata, setelah itu cokelat dimasak

menggunakan api kecil selama 2 menit,

kemudian cokelat diangkat masukan

potongan biji nangka aduk hingga rata

setelah itu cokelat dicetak dalam cetakan,

sehingga menghasilkan cokelat yang

seragam. Pengujian sifat sensoris dilakukan

oleh 15 panelis sehingga diperoleh 60 data

untuk setiap perlakuan (Soekarto, 1985).

Pengujian kadar air dan kadar abu dilakukan

sesuai yang disarankan oleh Sudarmadji

(1997), sedangkan bilangan peroksida diuji

sesuai metode SNI 01-3555-1998 (Badan

Standardisasi Nasional, 1998).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sifat Sensoris

Jenis olahan biji nangka berpengaruh

terhadap sifat sensoris hedonik dan mutu

hedonik cokelat biji nangka yang dihasilkan

untuk semua atribut (tekstur, aroma, rasa dan

warna (Tabel 1).

Tekstur

Rata-rata skala hedonik tekstur cokelat

menunjukkan

bahwa

kisaran

skor

penerimaan adalah 1,71 sampai dengan 4,03

yang berarti berkisar antara tidak suka

sampai suka. Nilai skor sifat sensoris

hedonik tekstur tertinggi terdapat pada

perlakuan biji nangka sangrai yaitu 4,01

(suka), sedangkan untuk sifat sensoris mutu

hedoniknya panelis memberikan penilaian

tidak keras. Penyangraian merupakan

metode pengolahan menggunakan wajan

tanpa menggunakan minyak, penyangraian

bertujuan untuk menghasilkan tekstur yang

renyah, tidak keras serta tidak lunak

sehingga banyak disukai. Sedangkan sifat

sensoris hedonik terendah terdapat pada

perlakuan biji nangka dengan pengovenan

(sangat tidak suka) dan sifat sensoris mutu

hedonik

sangat

keras.

Pengovenan

merupakan pemanasan menggunakan oven

yang bertujuan agar bahan menjadi kering

(3)

dan mengurangi kadar air pada bahan

sehingga

biji nangka yang

dioven

menghasilkan tekstur keras dan tidak

disukai. Menurut Wahyudi et al. (2008)

lemak kakao menyebabkan perbedaan

karakteristik fisik, terutama berpengaruh

pada sifat tekstur makanan cokelat dan

proses pembuatannya.

Table 1. Effect of jackfruit seed processing on the sensory characteristic of chocolate bar

Jackfruit

seed

processed

Hedonic

Hedonic quality

Texture Aroma Taste

Colour

Texture

Aroma

Taste Colour

Boiled

2.61 c

1.74 b 1.54 d

1.83 c

3.96 a

1.39 d

1.94 c 1.87 b

Fried

3.06 b

1.77 b 2.40 c

3.31 a

2.99 c

1.53 cd 2.30 b 3.05 a

Roasted

4.03 a

2.67 a 3.65 a

2.68 b

2.03 b

2.06 bc 3.07 a 2.85 a

Steamed

2.18 d

1.89 b 2.55 b

2.40 bc

3.59 b

2.50 ab 2.94 a 2.63 a

Oven

1.71 e

1.99 b 3.56 a

2.47 b

1.80 d

2.74 a

2.99 a 3.02 a

The value (𝑥̅) were calculated from 60 data. The value in the same column followed by the

different letter are significantly different (Tukey test, p<0.05). Hedonic scale 1-5 for dislike

very much to like very much. Quality hedonic scale of texture (1-5) for very hard to very soft,

aroma (1-5) for not very scented chocolate to very scented chocolate, taste (1-5) for not very

sweet to very sweet, colour (1-5) for not very brown to very brown.

Jenis olahan biji nangka memberikan

pengaruh nyata kecuali biji nangka sangrai

dan biji nangka oven yang memberikan

pengaruh tidak yang nyata. Rata-rata skala

mutu hedonik tekstur cokelat menunjukkan

bahwa kisaran skor penerimaan 1,79-3,96

yang berarti berkisar antara sangat keras

sampai tidak keras. Nilai tertinggi terdapat

pada biji nangka rebus, yaitu 3,96 (lembut).

Perebusan merupakan metode pengolahan

yang menggunakan media air atau uap pada

suhu 100

0

C, perebusan bertujuan untuk

menghasilkan tekstur yang lunak sehingga

tekstur cokelat yang dihasilkan tidak keras.

Sedangkan kerasan dari cokelat biji nangka

sangrai dan cokelat biji nangka oven berbeda

tidak nyata, yaitu sangat keras. Penghalusan

(refining)

dan

koncing

(conching)

merupakan proses yang sangat berpengaruh

terhadap citarasa cokelat. Demikian juga

proses tempering menentukan tekstur cokelat

(Ramlah, 2016).

Aroma

Pengolahan biji nangka berpengaruh

nyata (p<0.05) pada aroma cokelat. Biji

nangka sangrai memiliki nilai tertinggi

diantara semua perlakuan namun berbeda

tidak nyata dengan biji nangka rebus, biji

nangka goreng, biji nangka kukus dan biji

nangka oven. Rata-rata skala hedonik aroma

cokelat menunjukkan bahwa kisaran skor

penerimaan 1,74 sampai dengan 2,67 yang

berarti berkisar antara agak suka sampai

suka. Nilai skor tekstur tertinggi terdapat

pada perlakuan biji nangka sangrai yaitu 2,67

(suka) dengan penilaian mutu hedonik

beraroma cokelat. Penyangraian selain

menghasilkan

tekstur

yang

renyah

penyangraian

juga

bertujuan

untuk

menghasilkan aroma khas bahan sehingga

aroma cokelat banyak disukai.

Rata-rata skala mutu hedonik aroma

cokelat menunjukkan bahwa kisaran skor

penerimaan 1,38 sampai dengan 2,74 yang

berarti berkisar antara agak beraroma cokelat

sampai beraroma cokelat. Nilai skor aroma

tertinggi ditunjukkan oleh cokelat biji naga

oven, yaitu 2,74 (beraroma cokelat). Proses

pemanasan dengan oven menyebabkan kadar

airnya berkurang, menjadi kering dan

menghasilkan aroma cokelat. Sedangkan

nilai terendah terdapat pada cokelat biji

nangka rebus, yaitu 1,38. Penyangraian

bertujuan untuk membentuk aroma dan

citarasakhas cokelat dari biji kakao dengan

perlakuan panas (Mulato et al, 2005).

Rasa

Rerata skala hedonik rasa cokelat

menunjukkan

bahwa

kisaran

skor

penerimaan 1,54 sampai dengan 3,64 yang

berarti berkisar antara tidak suka sampai

suka. Nilai skor aroma tertinggi terdapat

pada cokelat biji nangka goreng, yaitu 2,67

(suka) dengan penilaian mutu hedonik

(4)

manis.

Penggorengan

merupakan

pengolahan pangan yang umum untuk

mempersiapkan makanan dengan jalan

memanaskan makanan dalam pan yang

berisi minyak. Proses ini yang bertujuan

untuk meningkatkan citra rasa, warna dan

daya awet produk akhir sehingga rasa cokelat

banyak disukai. Skor penilaian panelis

memberikan penilaian agak manis untuk

cokelat nangka rebus hal ini diduga bahwa

dengan adanya kandungan air yang terdapat

pada biji nangka akan mengurangi rasa

manis terhadap cokelat sehingga rasa cokelat

tidak disukai.

Rerata skala mutu hedonik rasa cokelat

biji nangka sangrai menunjukkan bahwa

kisaran skor penerimaan 1,94 sampai dengan

3,07 yang berarti berkisar antara agak manis

sampai sangat manis. Kadar air yang

terkandung pada biji nangka telah hilang

dengan adanya pemanasan atau pengeringan

pada suhu 100

o

C selama 25 menit, sehingga

biji nangka yang disangrai menjadi kering

hal diduga kadar air yang telah hilang

menyebabkan rasa cokelat menjadi sangat

manis. Sedangkan nilai terendah terdapat

pada cokelat biji nangka rebus, yaitu 1,94 hal

ini disebabkan panelis menilai bahwa

perlakuan biji nangka rebus agak manis.

Karena tingginya kadar air pada perlakuan

tersebut, sehingga rasa manis cokelat yang

dihasilkan berkurang. Sedangkan pada

perlakuan biji nangka sangrai, biji nangka

kukus, biji nangka oven tidak berbeda hal ini

disebabkan panelis bingung untuk menilai

karena rasa yang dihasilkan hampir sama.

Menurut Wahyudi et al. (2008). Salah satu

bahan yang mempengaruhi rasa pada produk

yaitu gula, rasa manis adalah sifat rasa yang

mempengaruhi cita rasa keseluruhan cokelat.

Menurut Misnawi et al. (2005) rasa

cokelat terdiri dari banyak senyawa yang

formasi tergantung pada profil genetik

kakao, lingkungan dimana ia tumbuh dan

metode pengolahan yang digunakan.

Pengaruh metode produksi dimulai di

pertanian dengan prosedur pasca panen,

seperti fermentasi dan pengeringan, dan

berlanjut di pabrik pengolahan cokelat.

Pengaruh pengolahan pada pembentukan

rasa cokelat termasuk reaksi yang terjadi

selama fermentasi dan pengeringan biji

kakao, selama pemanggangan biji, biji atau

kakao massa dan di conching cokelat.

Warna

Rerata skala hedonik warna cokelat

menunjukkan

bahwa

kisaran

skor

penerimaan 1,83 sampai dengan 3,30 yang

berarti berkisar antara agak suka sampai

suka. Nilai skor warna tertinggi terdapat

pada perlakuan biji nangka goreng yaitu 3,30

(suka),. Sedangkan nilai terendah terdapat

pada perlakuan biji nangka rebus (tidak

suka). Rerata skala hedonik warna cokelat

menunjukkan

bahwa

kisaran

skor

penerimaan 1,86 sampai dengan 3,04 yang

berarti berkisar antara agak cokelat sampai

cokelat.

Nilai skor warna tertinggi terdapat pada

perlakuan biji nangka goreng yaitu 3,04

(cokelat) Dimana pada perlakuan B2

menggunakan metode goreng, hal ini sama

pada penjelasan Gambar 8, dapat diartikan

kandungan minyak yang terdapat pada biji

nangka mempengaruhi warna cokelat selain

itu dengan adanya bahan pencampuran

seperti gula dan mentega membuat warna

lebih mengkilap. Sedangkan nilai terendah

terdapat pada perlakuan biji nangka rebus

(agak bewarna cokelat) dimana pada

perlakuan biji nangka rebus menggunakan

metode rebus hal ini diduga bahwa dengan

adanya kandungan air yang terdapat pada biji

nangka akan mengurangi warna cokelat

sehingga warna yang dihasilkan agak

bewarna cokelat. Jika kedua grafik

dihubungkan maka hasil skala hedonik dan

mutu hedonik tidak jauh berbeda karena

warna yang dihasilkan relatif sama sehingga

panelis sulit untuk menilai.

Menurut Hui (1992) dalam Nur (2012)

warna

dari

bubuk

kakao

dapat

mempengaruhi cokelat yang akan dibuat

apabila menggunakan bubuk kakao maka

akan menghasilkan cokelat yang berwarna

cokelat

sedangkan

apabila

tidak

menggunakan bubuk kakao melainkan susu

skim pada pembuatan cokelat maka akan

menghasilkan cokelat yang berwarna putih.

Disamping itu, penggunaan bubuk kakao

merupakan

sumber

protein,

lemak,

karbohidrat, vitamin dan mineral.

Sifat Kimia

Jenis olahan biji nangka berpengaruh

nyata terhadap kadar air dan bilangan

peroksida cokelat biji nangka yang

dihasilkan, tetapi tidak untuk kadar abunya

(Tabel 1).

(5)

Table 2. Effect of jackfruit seed processing on the chemical characteristic of chocolate

Jackfruit seed

processed

Water content (%) Ash content (%)

Peroxide value

(meq O

2

.kg

-1

)

Boiled

7.29 a

2.14

0.64 d

Fried

5.62 bc

2.66

1.46 a

Roasted

4.49 c

2.64

1.36 a

Steamed

6.42 ab

2.31

0.84 c

Oven

4.37 c

2.48

1.10 b

The value (𝑥̅) calculated from 4 data. The value in the same column followed by the different letter are significantly different (Tukey test, p<0.05).

Kadar air

Berdasarkan sidik ragam, diketahui

bahwa pengolahan biji nangka berpengaruh

terhadap kadar air pada produk cokelat. Hasil

penelitian menujukan bahwa kadar air

cokelat yang dihasilkan adalah 7,29-4,36%

nilai kadar air tersebut tidak jauh berbeda

dengan penelitian lainnya karena secara

umum proses pengolahannya hampir sama

namun hanya berbeda pada bahan

pengisinya, penelitian ini menggunakan

bahan pengisi biji nangka sedangkan pada

penelitian lainnya menggunakan bahan

pengisi kacang tanah yang menyebutkan

bahwa nilai kadar air pada plain cocoa

powder and chocolate berkisar antara 5,15 –

6,23%. Joel et al. (2013). Menurut Winarno

(2004), kadar air yang tinggi akan

mempengaruhi keawetan bahan pangan dan

mempersingkat

umur

simpan

serta

memudahkan tumbuhnya mikroba. Kadar air

pada bahan yang paling baik adalah kadar air

yang paling sedikit, semakin sedikit

kandungan airnya maka semakin sedikit pula

kemungkinan mikroorganisme untuk dapat

berkembang baik.

Kadar Abu

Pengolahan biji nangka berpengaruh

terhadap terhadap kadar abu cokelat biji

nangka yang dihasilkan. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa kadar air berkisar

antara 2,15-2,43. nilai kadar air tersebut

tidak jauh berbeda dengan penelitian lainnya

karena secara umum proses pengolahannya

hampir sama namun hanya berbeda pada

bahan

pengisinya,

penelitian

ini

menggunakan bahan pengisi biji nangka

sedangkan

pada

penelitian

lainnya

menggunakan bahan pengisi kacang tanah

yang menyebutkan bahwa nilai kadar abu

pada plain cocoa powder and chocolate

berkisar antara 5,15 – 6,23% (Joel et al.,

2013). Hal ini disebabkan nilai tertinggi pada

perlakuan biji nangka goreng diperoleh

karena menghasilkan pengabuan lebih tinggi

sedangkan nilai terendah pada perlakuan biji

nangka rebus diperoleh karena menghasilkan

pengabuan yang lebih sedikit. Tingginya

kadar abu hasil pembakaran diduga karena

masih cukup tingginya kandungan mineral

didalam cokelat tersebut.

Bilangan peroksida

Berdasarkan hasil sidik ragam bahwa

masing-masing perlakuan berbeda namun

perlakuan biji nangka goreng dan biji nangka

sangrai tidak berbeda nyata terhadap

pembuatan cokelat. Bilangan peroksida

pengolahan biji nangka terhadap produk

cokelat nilai rata-rata berkisar antara 0,64-

1,46 meq O

2

/1000 kg. bilangan peroksida

pada penelitian ini tidak jauh berbeda

terhadap penelitian lainnya yang mengatakan

bahwa bilangan peroksida pada cokelat yang

ditambahkan hazelnuts berkisar antara 1,31–

1,47 meq O

2

/kg (Mexis, 2013). Hal ini

disebabkan karena perlakuan B2 (biji nangka

goreng) sehingga menghasilkan kadar lemak

yang banyak, sedangkan pada perlakuan B1

memiliki bilangan peroksida terendah hal ini

disebabkan penambahan biji nangka rebus

terhadap cokelat sehingga menghasilkan

kadar lemak yang rendah. Bilangan

peroksida yang tinggi mengindikasikan

lemak atau minyak sudah mengalami

oksidasi, namun pada angka yang lebih

rendah bukan selalu berarti menunjukkan

kondisi oksidasi yang masih dini.

Angka

peroksida

rendah

bisa

disebabkan laju pembentukan peroksida baru

lebih kecil dibandingkan dengan laju

degradasinya

menjadi

senyawa

lain,

mengingat kadar peroksida cepat mengalami

(6)

degradasi dan bereaksi dengan zat lain

(Raharjo,

2006).

Peroksida

dapat

mempercepat proses timbulnya bau tengik

dan flavor yang tidak dikehendaki dalam

bahan pangan. Jika jumlah peroksida lebih

dari 100 meq peroksida/kg minyak akan

bersifat sangat beracun dan mempunyai bau

yang tidak enak. Kenaikan bilangan

peroksida merupakan indikator bahwa

minyak akan berbau tengik Ketaren (1986).

KESIMPULAN

Pengolahan biji nangka berpengaruh

nyata terhadap sifat sensoris hedonik dan

mutu hedonik (tekstur, aroma, rasa dan

warna), serta sifat kimia (bilangan peroksida

dan kadar air) tetapi berpengaruh tidak nyata

terhadap sifat kimia untuk kadar abu.

Pemberian biji nangka sangrai memberikan

mutu tekstur cokelat yang lebih baik

berdasarkan sifat sensoris hedonik untuk

tekstur. Proses pengolahan cokelat dengan

penambahan

potongan

biji

nangka

mempunyai kadar air 4,36-7,29% , kadar abu

mempunyai nilai 2,13-2,65% sedangkan

cokelat mempunyai bilangan peroksida

tertinggi pada perlakuan biji nangka goreng

sebesar 1,46 mg O

2

/1000 kg.

DAFTAR PUSTAKA

Aminah S (2010) Bilangan Peroksida

Minyak Goreng curah dan Sifat

Organoleptik

Tempe

Pada

Pengulangan Penggorengan. Jurnal

Pangan dan Gizi 01: 7-14

Joel N, Bolaji P, Deborah A, Umezuruike C

(2013) Production and Quality

Evaluation Of Cocoa Products (Plain

Cocoa Powder and Chocolate).

American Journal of Food and

Nutrition. 3(1): 31-38

Ketaren.S (1986) Pengantar Teknologi

Minyak dan Lemak Pangan. UI-Press,

Jakarta

Khoiriyah T (2011) Statistik Sayur-sayuran

dan

Buah-buahan

Provinsi

Kalimantan Timur. Badan Pusat

Statistik Provinsi Kalimantan Timur.

Mexis SF, Badeka AV, Reganakos KA,

Kontominas

MG

(2009)

Dark

Chocolate Active and Modified

Atnophere

Packaging

Quality

Retention. Inovatif Food Science

Emerging Technologis II: 177-186

Misnawi JS, Jinap S, Jamilah B, Nazamid S

(2005) Achanges in polyphenol ability

to produce astringency during roasting

of cocoa liquor. Journal of the Science

of Food and Agriculture 85: 917-924.

Moeljaningsih (2010) Pengaruh penambahan

lesitin terhadap kualitas permenn

coklat selama penyimpanan pada suhu

kamar. Baristand Industri. Surabaya.

Mulato,

S.,

S.Widyatomo,

Misnawi,

E.Suharyanto, (2005). Pengolahan

Produk Primer dan Sekunder Kakao.

Pusat Penelitian Kopi Dan Kakao

Indonesia, Jember

Nur Z (2012) Studi Pembuatan Permen

Coklat (Chocolate Candy) Berbasis

Gula Berkalori Rendah. Skripsi.

Universitas Hasanudin.

Othman A, Ismail A, Abdul-Ghani N and

Adenan I (2007). Antioxidant capacity

and phenolic content of cocoa beans.

Food Chemistry, 100:1523-1530.

Pimentel, F., Nitzke, J., Klipel, C. and Vogt

de Jong, E. (2010). Chocolate and red

wine – A comparison between

flavonoids

content.

Food

Chemistry,120: 109-112.

Raharjo S (2006) Kerusakan Oksidatif pada

Makanan. Gadjah Mada University

Press.Yogyakarta.

Ramlah S, (2016). Karakteristik mutu dan

citarasa cokelat kaya polifenol. Jurnal

Industri Hasil Perkebunan.11(1):

23-32

Sukrisno W, Mulato S (2004) Rekayasa

Proses Dan Alat Mesin Pengolahan

Produk Hilir Kakao Untuk Skala

Usaha Kecil Menengah. Prosiding

Simposium Kakao. Pusat Penelitian

Kopi dan Kakao Indonesia. Jogjakarta

4-5 Oktober 2004.

Wahyudi T, Pangabean TR, Pujiyanto (2008)

Panduan Lengkap Kakao: Manajemen

Agribisnis dari Hulu hingga Hilir.

Penebar swadaya, Jakarta.

Wistyani R (2005) Pengaruh Penambahan

Amilum Biji Nangka (Artocarpus

(7)

heterophyllus)

Sebagai

Bahan

Penghancur Terhadap Sifat Fisik dan

Profil Disolusi Tablet Parasetamol.

Skripsi. UMS. Surakarta. Dalam

(Jurnal Teknosains Pangan ISSN:

2302-0733).

Winarno FG (2004) Kimia Pangan dan Gizi,

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gambar

Table 1. Effect of jackfruit seed processing on the sensory characteristic of chocolate bar  Jackfruit
Table 2. Effect of jackfruit seed processing on the chemical characteristic of chocolate

Referensi

Dokumen terkait

kapasitas pemerintah daerah dan pelaku koperasi dan UMKM untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang berkelanjutan dan mengintegrasikannya ke dalam perekonomian daerah

Dalam prosesnya, karya sastra merupakan media bagi pendidikan karakter siswa yang dapat dimanfaatkan secara reseptif dan ekpresif.. Selanjutnya, unsur-unsur yang terkandung

Peraturan Bupati Murung Raya Nomor.. ..Tahun 2Al3 tentang Pengelolaan Alun Alun Kota Puruk Cahu untuk kegiatan Perdagangan, Pasar Malam

Universitas Sumatera Utara...

Efisiensi belanja terus dilakukan untuk mendorong agar belanja negara lebih berkualitas antara lain melalui penghematan belanja barang dan belanja yang tidak prioritas, subsidi

Jaringan penyusun daun adalah : jaringan epidermis atas, tiang (palisade), bunga karang (sponsa), pengangkut (xylem dan floem), epidermis bawah.. Pada lapisan

Salah satu model pembelajaran yang sesuai untuk mengajarkan ketrampilan adalah model pelatihan ( Training Model ).. Training model bukanlah model pembelajaran baru, yang bahkan

Skripsi ini membahas mengenai penyebab terjadinya konflik antara masyarakat kecamatan Batang Toru dan Kecamatan Muara Batang Toru dengan PT Agincourt Resources Martabe terkait