• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN HIGHER ORDER THI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN HIGHER ORDER THI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)

553

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN

HIGHER ORDER THINKING

DAN

SELF CONFIDENCE

SISWA SMP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN

INKUIRI TERBIMBING

LUCY ASRI PURWASI

STKIP PGRI Lubuklinggau

INDONESIA

[email protected]

Abstrak: Fokus pembelajaran matematika pada abad ke-21 ini adalah mengembangkan kemampuan higher order thinking dan self confidence siswa terhadap matematika. Mengembangkan kemampuan higher order thinking artinya siswa diberikantantangan dengan penyajian masalah terbuka dan lebih dilatih untuk berpikir secara luas. Sehingga dapat memberikan kesempatan siswa untuk memperoleh pengetahuan, menemukan dan melibatkan proses berpikir dalam memecahkan masalah melalui beberapa teknik penyelesaian dengan cara mereka sendiri. Selain itu juga perlu dikembangkan rasa percaya terhadap matematika maupun kemampuan diri sendiri, atau lebih dikenal dengan self-confidence. Kepercayaan siswa pada matematika akan memberikan peranan penting dalam pembelajaran dan kesuksesan mereka dalam matematika. Oleh karena itu, kedua aspek ini sangat diperlukan siswa dalam mempelajari materi-materi matematika. Keberhasilan pembelajaran matematika dapat dicapai secara optimal bila didukung dengan pemilihan alternatif model pembelajaran yang efektif dan inovatif. Salah satu model pembelajaran itu adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Dalam proses inkuiri, siswa diajar dan dilatih bagaimana mereka harus berpikir, lebih aktif dalam menangani masalah atau mengemukakan pendapat atas inisiatif sendiri dengan melibatkan secara maksimal mencari dan menyelidiki secara sistematis, logis, analitis, dan merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Dengan potensi-potensi yang dimiliki model pembelajaran inkuiri terbimbing diharapkan mampu memfasilitasi siswa dalam melatih dan mengembangkan kemampuan

higher order thinking dan self confidence.

Kata Kunci: Model pembelajaran inkuiri terbimbing, higher order thinking, self confidence.

Pendahuluan

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini diperlukan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan di era globalisasi dengan memiliki pemikiran kritis, sistematis, logis, kreatif, dan bernalar yang tinggi. Sumber daya manusia yang memiliki pemikiran seperti ini lebih mungkin dihasilkan dari lembaga satuan pendidikan. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dipelajari siswa di jenjang pendidikan formal mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah hingga sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa matematika memegang peranan yang sangat penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu dan punya potensi. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang dicapai maka akan semakin sulit materi matematika yang akan dipelajari karena materi yang disajikan lebih bersifat abstrak. Selain itu, dalam mempelajari materi matematika siswa diharapkan dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan daya nalar, dan pembentukan sikap percaya diri serta mengembangkan keterampilan matematika (doing math).

Menurut Sumarmo (2005) keterampilan matematika (doing math) berkaitan dengan karakteristik matematika yang dapat digolongkan dalam lower order thinking dan higher order thinking. lower order thinking termasuk kegiatan melaksanakan operasi hitung sederhana, menerapkan rumus matematika secara langsung, mengikuti prosedur (algoritma) yang baku, sedangkan yang termasuk pada higher order thinking adalah kemampuan memahami idea matematika secara lebih mendalam, mengamati data dan menggali idea yang tersirat, menyusun konjektur, analogi, dan generalisasi, menalar secara logik, menyelesaikan masalah, berkomunikasi secara matematik, dan mengaitkan ide matematik dengan kegiatan intelektual lainnya. Dalam implementasi pembelajaran matematika di kelas, selain membiasakan siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat rendah, guru perlu juga mengembangkan dan melatih keterampilan higher order thinking siswa. Higher order thinking berarti memberi tantangan dengan menyajikan masalah-masalah terbuka dan mengembangkan penggunaan pikiran, sedangkan lower order thinking berarti menyajikan masalah-masalah rutin, penerapan mekanistis dan tidak berpikir secara luas (Newman, dalam Nur Wahidin Ashari, 2013). Dalam menyelesaikan penyajian masalah terbuka, siswa tidak

The 2016 Jambi International Seminar on Education (JISE) in Jambi, Indonesia on the 3 4 April 2016 with the theme

(15)

554

hanya menggunakan aspek kognitif saja, melainkan perlu adanya aspek afektif yang harus dikembangkan dalam diri siswa, yaitu rasa percaya terhadap matematika maupun kemampuan diri sendiri, atau lebih dikenal dengan self confidence. Menurut Hannula, Maijala & Pehkonen (2004) kepercayaan siswa pada matematika dan pada diri mereka sebagai siswa yang belajar matematika akan memberikan peranan penting dalam pembelajaran dan kesuksesan mereka dalam matematika. Sehingga dapat dikatakan bahwa siswa yang memiliki kemampuan higher order thinking dan self-confidence bisa sukses dalam belajar matematika.

Dalam pembelajaran matematika pada abad ke-21 ini, kemampuan higher order thinking dan self-confidence siswa terhadap matematika memang menjadi fokus untuk dilatih dan dikembangkan dalam diri siswa. Namun, proses pembelajaran matematika sering terkendala baik itu dari faktor eksternal maupun internal dari guru maupun siswa. Misalnya kendala faktor internal yang datang dari dalam diri siswa, seperti terbentuknya sikap negatif yang timbul dikalangan siswa terhadap mata pelajaran matematika. Siswa menganggap matematika itu sulit, membosankan dan tidak menarik sehingga siswa kurang menikmati dan cenderung menghindari pelajaran matematika. Bahkan ada siswa yang membenci pelajaran matematika sehingga dianggap sebagai momok yang menakutkan. Sikap seperti ini tentu menjadi kendala yang menghambat siswa untuk mempelajari dan memahami materi pelajaran dalam matematika. Sedangkan kendala yang datang dari guru, dalam proses pembelajaran matematika di kelas umumnya terlalu berkonsentrasi pada latihan menyelesaikan soal yang masih bersifat prosedural dan mekanistis daripada melibatkan proses higher order thinking. Siswa lebih banyak melibatkan kemampuan mengingat dan menghafal rumus pada latihan soal-soal rutin. Dengan kemampuan berpikir seperti ini siswa akan mudah lupa terhadap rumus dan konsep matematika.Selain itu guru masih mengalami kesulitan dalam memilih alternatif pembelajaran efektif dan inovatif untuk melatih kemampuan higher order thinking serta mengembangkan self confidence terhadap matematika. Dalam implementasi kurikulum saat ini, guru dituntut kreativitasnya untuk mampu menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran di kelas.

Salah satu model pembelajaran yang dapat mengkondisikan situasi untuk mengembangkan kemampuan higher order thinking dan self confidence

siswa adalah model pembelajaran inkuiri. Karena dalam proses inkuiri, siswa diajar dan dilatih bagaimana mereka harus berpikir. Menurut Sanjaya (2006:195) proses inkuiri melibatkan siswa lebih dari sekedar menghapal dan menumpuk ilmu pengetahuan,

tetapi bagaimana pengetahuan yang diperolehnya bermakna untuk siswa melalui keterampilan berpikir. Pembelajaran yang bermakna untuk siswa mampu mengembangkan self confidence dalam diri siswa, karena siswa terlibat langsung dan aktif dalam proses pembelajaran.

Menurut Gulo (Trianto, 2007:135) model pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran yang menuntut siswa untuk lebih aktif dalam menangani masalah atau mengemukakan pendapat atas inisiatif sendiri yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, logis, analitis, sehingga siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Model pembelajaran inkuiri menjadikan siswa sebagai subjek belajar yang aktif, sehingga siswa dapat menyadari apa yang telah didapat selama proses pembelajaran dan memproses belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam dunia nyata.

Selain itu model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih cocok diterapkan untuk sekolah menengahn pertama dikarenakan dengan pertimbangan tingkat perkembangan kognitif siswa SMP masih pada tahap peralihan operasi konkrit ke operasi formal, dan siswa dapat menemukan konsep melalui bimbingan dan arahan dari guru, pada umumnya sebagian besar siswa masih membutuhkan konsep dasar untuk dapat menemukan sesuatu. Sehingga siswa dapat mengolah dan mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri, sedangkan guru membimbing mereka ke arah yang tepat.

Menanggapi masalah siswa yang pada umumnya tidak mampu menyelesaikan masalah yang menuntut kemampuan higher order thinking dan sulit mengembangkan self confidence dalam diri siswa,

telah banyak berkembang model–model pembelajaran yang efektif dan inovatif untuk mengatasi masalah ini. Melalui potensi-potensi yang dimiliki dalam model pembelajaran inkuiri terbimbing maka diharapkan dapat mengembangkan kemampuan higher order thinking dan self-confidence siswa pada tingkat sekolah menengah (SMP).

Pembahasan

Kemampuan Higher Order Thinking

(16)

555

mengemukakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan penggunaan pikiran secara lebih luas untuk menemukan tantangan baru, menghendaki seseorang untuk menerapkan informasi baru atau pengetahuan sebelumnya dan memanipulasi informasi untuk menjangkau kemungkinan jawaban dalam situasi baru.

Sejalan dengan hal ini Tran Vui (Rosnawati, 2005) mendefinisikan kemampuan berpikir tingkat tinggi sebagai berikut:

“Higher order thinking occurs when a person takes new information and information stored in memory and interrelates and/or rearranges and extends this information to achieve a purpose or find possible answers in perplexing situations.”

Dengan demikian, kemampuan berpikir tingkat tinggi akan terjadi ketika seseorang mengaitkan informasi baru dengan informasi yang sudah tersimpan di dalam ingatannya dan menghubung-hubungkannya dan/atau menata ulang serta mengembangkan informasi tersebut untuk mencapai suatu tujuan ataupun menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang sulit dipecahkan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses berpikir yang melibatkan aktivitas mental dalam menyelesaikan masalah-masalah terbuka (open-ended problems) atau masalah non-rutin yang melibatkan tingkat berpikir menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi.

Taksonomi Bloom dianggap merupakan dasar bagi

higher order thinking. Pemikiran ini didasarkan bahwa beberapa jenis pembelajaran memerlukan proses kognisi yang lebih daripada yang lain, tetapi memiliki manfaat-manfaat lebih umum. Indikator kemampuan higher order thinking yang digunakan dalam penelitian ini, dirujuk dari Krathworl & Andrerson (Lewy, dkk, 2009:16) pada a revision of Bloom’s Taxonomy: an overview−theory Into Practice meliputi:

1. Menganalisis (to analyze)

Memeriksa dan mengurai informasi, memilah sebab dan akibat, mengambil kesimpulan dan melakukan generalisasi serta menemukan alasan yang mendukungnya. Dalam Taksonomi Bloom, tingkat analisis adalah dimana siswa menggunakan pertimbangan sendiri untuk mulai menganalisis pengetahuan yang telah mereka pelajari. Pada poin ini, mereka mulai memahami struktur yang mendasari untuk pengetahuan dan juga mampu membedakan antara fakta dan opini (Kelly, dalam Nur Wahidin Ashari, 2013). Salah satu jalan untuk melihat kemampuan siswa dalam menganalisis masalah

adalah guru mengajukan pertanyaan “bagaimana jika?” (what if…?).

Harta, (2008) menyatakan bahwa pertanyaan ini membuat siswa memeriksa kembali soal dan melihat apakah pengaruh perubahan ini terhadap proses penyelesaian dan juga jawabannya. Dengan jalan ini siswa akan menganalisa apa yang terjadi sehingga akan meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya. Berikut contohnya

Perbandingan umur Daffa dan Erni saat ini adalah 3:5. Bagaimana jika enam tahun yang lalu perbandingan umur mereka adalah 3:7? Berapakah umur Daffa dan Erni saat ini?

Banyak alternatif jawaban terhadap pertanyaan ini. Artinya, terdapat banyak jawaban benar. Soal terakhir ini lebih memerlukan analisa, bukan sekedar penyelesaian latihan soal biasa.

2. Mengevaluasi (to evaluate)

Mampu mengkritisi, memutuskan, mengevaluasi, menilai, membuktikan, menyangkal, atau mendukung suatu gagasan. Dalam taksonomi Bloom, tingkat evaluasi adalah tingkat dimana siswa membuat penilaian tentang nilai gagasan, sesuatu, bahan, dan banyak lagi. Pada tingkat ini, siswa diharapkan membawa semua yang telah mereka pelajari untuk melakukan evaluasi materi yang diinformasikan dan diperdengarkan (Kelly, dalam Nur Wahidin Ashari, 2013). Salah satu cara untuk melihat keterampilan siswa dalam menganalisis adalah menanyakan pertanyaan seperti (apakah yang akan kamu lakukan?). Harta (2008) menyatakan bahwa pertanyaan ini diajukan untuk merangsang keterampilan berfikir kritis. Setelah menjawab pertanyaan, siswa dihadapkan pada situasi untuk mengambil keputusan. Keputusan ini dapat didasarkan pada ide pribadi, pengalaman pribadi, atau apa saja sesuai keinginan siswa. Akan tetapi siswa harus menjelaskan konsep matematika yang mendasari keputusan tersebut. Penjelasan ini bisa dalam bentuk kalimat tertulis sehingga memberi siswa kesempatan untuk melatih keterampilan komunikasinya. Berikut contohnya,

(17)

556 3. Mengkreasi (to create)

Mampu membuat, merencanakan dan menciptakan karya yang orisinil atau memadukan unsur-unsur menjadi sesuatu yang utuh, koheren, dan baru. Berikut contohnya,

Evi dan Sinta bersama-sama ingin belanja buah di pasar buah. Evi membeli 2 kg jeruk dan 1 kg salak dengan harga seluruhnya Rp...(sebutkan harga sesuai keinginanmu). Sinta membeli 1 kg jeruk dan 3 kg salak dengan harga seluruhnya Rp... (sebutkan harga sesuai keinginanmu). Jika kamu ingin membeli jeruk dan salak sebanyak yang kamu inginkan, berapa kamu harus membayar?

Self Confidence Siswa

Ismawati (2010) mendefinisikan self confidence

sebagai keyakinan seseorang untuk mampu berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan serta keyakinan seseorang bahwa dirinya dapat menguasai suatu situasi dan menghasilkan sesuatu yang positif. Menurut Ignoffo (dalam Megawati, 2010:3), terdapat beberapa karakteristik yang menggambarkan individu yang memiliki self confidence yaitu memiliki cara pandang yang positif terhadap diri, yakin dengan kemampuan yang dimiliki, melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipikirkan, berpikir positif dalam kehidupan, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, memiliki potensi dan kemampuan. Menurut Hakim (dalam Megawati, 2010:3) mengungkapkan beberapa ciri-ciri orang yang memiliki self confidence adalah: selalu bersikap tenang dan tidak mudah menyerah, mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai, mampu menetralisasi ketegangan yang muncul pada situasi tertentu, memiliki kondisi mental dan fisik cukup menunjang penampilan, memiliki kecerdasan yang cukup, memiliki kemampuan sosialisasi, selalu bersikap positif dalam menghadapi berbagai masalah, mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi dalam berbagai situasi. Menurut Lauster (Hendriana, 2012), terdapat beberapa karakteristik untuk menilai kepercayaan diri individu, diantaranya: (a) percaya kepada kemampuan sendiri; (b) bertindak mandiri dalam mengambil keputusan; (c) memiliki konsep diri yang positif; (d) berani mengungkapkan pendapat. Sedangkan indikator-indikator kepercayaan diri yang akan digunakan selama pembelajaran matematika adalah indikator yang dikemukakan oleh Lauster (Hendriana: 2012), antara lain: 1) optimis; 2) percaya pada kemampuan sendiri; 3) toleransi; 4) ambisi normal; 5) tanggung jawab; 6) rasa aman; 7) mandiri; dan 8) mudah menyesuaikan diri.

Berdasarkan kepada pendapat-pendapat dari para ahli di atas, maka indikator dari pada self confidence

adalah meliputi: a)Yakin dengan kemampuan yang dimiliki; b) Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan; c) Selalu optimis, bersikap tenang, dan pantang menyerah; d) Memiliki kecerdasan yang cukup; e) Memiliki kemampuan sosialisasi; f) Selalu bersikap positif dalam menghadapi masalah; g) Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi dalam berbagai situasi; h) Selalu berpikiran objektif, rasional dan realistis.

Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu pendekatan dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Pembelajaran inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan model pembelajaran inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih berorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik kesimpulan secara mandiri.

Menurut Amri & Ahmadi (2010: 89) menyatakan ada beberapa karakteristik dari Inkuiri terbimbing yang perlu diperhatikan yaitu; 1) Siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalui observasi spesifik hingga membuat inferensi atau generalisasi; 2) Sasarannya adalah mempelajari proses megamati kejadian atau objek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai; 3) Guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran misalnya kejadian, data, materi, dan berperan sebagai pemimpin Kelas; 4) Tiap-tiap siswa berusaha untuk membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam Kelas; 5) Kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran; 6) Biasanya sejumlah generalisasi tertentu akan diperoleh dari siswa; 7) Guru memotivasi semua siswa untuk mengkomunikasikan hasil generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa dalam Kelas.

(18)

557

berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi-arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran matematika. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scaffolding yang diperlukan siswa.

Pada penelitian ini langkah-langkah pembelajaran inkuiri terbimbing mengadopsi tahapan pembelajaran inkuiri yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak dalam Trianto (2009:172), yang dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1 Tahap-tahap Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Tahapan Aktivitas / Kegiatan Guru

Menyajikan pertanyaan atau masalah

Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan tulis. Guru membagi siswa dalam kelompok

Membuat hipotesis

Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan

permasalahan dan

memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.

Merancang percobaan

Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan

langkah-Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan.

Mengumpulkan dan menganalisis data

Guru memberi kesempatan pada tiap kelompok untuk

menyampaikan hasil

pengelolaan data yang terkumpul

Membuat kesimpulan

Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan

Enam tahapan pembelajaran pada inkuiri terbimbing ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di Kelas. Para siswa akan berperan aktif melatih berpikir, keberanian,

berkomunikasi dan berusaha mendapatkan pengetahuannya sendiri untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Kaitan Higher Order Thinking dan Self Confidence

dengan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Menurut Rosnawati (2009) terdapat enam tahapan aktivitas yang ditunjukkan oleh siswa dalam melakukan proses higher order thinking, meliputi menggali informasi, mengajukan dugaan, melakukan inkuiri, membuat konjektur, mencari alternatif, dan menarik kesimpulan.

Dari aktivitas-aktivitas yang dilalui oleh siswa dalam melakukan proses higher order thinking skill, ada aspek afektif yang dapat dikembangkan dalam diri siswa, salah satunya self confidence. Selain itu juga enam tahapan aktivitas berpikir higher order thinking

yang dilalui siswa merupakan bagian dari sintaks model pembelajaran inkuiri. Sehingga melalui implemetasi model pembelajaran inkuiri terbimbing yang dilakukan oleh guru di kelas dapat menjadikan siswa sebagai subjek belajar yang aktif dalam melatih

higher order thinking, keberanian, kemampuan berkomunikasi dan berusaha mendapatkan pengetahuannya sendiri dengan penuh percaya diri (self confidence) dan lebih bermakna. Pembelajaran yang bermakna untuk siswa mampu mengembangkan sikap positif berupa rasa percaya diri dalam diri siswa, karena siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Simpulan

Sebagai simpulan dari artikel ini, penulis berhipotesis bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing mempunyai potensi dalam mengembangkan kemampuan higher order thinking dan self confidence

siswa. sehingga model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat dijadikan alternatif model pembelajaran yang dapat diimplementasikan di kelas dalam melatih keterampilan-ketampilan berpikir siswa dan mengembangkan sikap positif siswa terhadap matematika salah satunya rasa percaya diri (self confidence)

Referensi

Amri, Sofan dan Ahmadi. (2010). Proses pembelajaran inovatif dan kreatif dalam kelas. Jakarta. PT Prestasi Pustakarya.

Gunawan, Hendra. (2008). Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam matematika SMP. Pdf. (Online)

(19)

Self-558

Confidence in Mathematics; Grades 5–8. Group for the Psychology of Mathematics Education.

Vol. 3, pp 17-24.

Harta, Idris. (2008). Pertanyaan-Pertanyaan Inovatif untuk Meningkatkan Keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi. Surakarta: Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hendriana, H. (2012). Pembelajaran Dengan Pendekatan Metaphorical Thinking Untuk

Meningkatkan Kemampuan Pemahaman

Matematik, Komunikasi Matematik dan Kepercayaan Diri Siswa Sekolah Menengah Pertama. Disertasi. UPI Bandung.

Herdian. (2010). Model Pembelajaran Inkuiri. Ismawati. (2010). Peningkatan Penalaran dan

Komunikasi Matematika Siswa dengan

Menggunakan Model STAD Berbasis

Quantum Teaching Berbantuan LKS pada Materi Pokok Relasi dan Fungsi kelas VIII SMPN 22 Semarang”. Skripsi, tidak diterbitkan, Program sarjana UNNES Semarang.

Lewy, Zulkardi, Aisyah, N. (2009). “Pengembangan Soal Untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pokok Bahasan Barisan dan Deret Bilangan di Kelas IX Akselerasi SMP

Xaverius Maria Palembang”. Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 3.No. 2. Megawati. (2010). Perbedaan Self Confidence Siswa

SMP yang Aktif dan Tidak Aktif dalam Organisasi Intra Sekolah. Skripsi Universitas Sumatera Utara: tidakditerbitkan.

Nur Wahidin Ashari. (2013). Studi Literatur Penggunaan Strategi Scaffolding Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat

Tinggi Siswa”. Prosiding SNMPM Universitas Sebelas Maret.

Rofiah, E., Aminah, N. S., Ekawati, E. Y. (2013).

“Penyusunan Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Fisika Pada Siswa SMP”. Jurnal Pendidikan Fisika, Vol. 1 No. 2 Halaman 17.

Rosnawati, R. (2009). “Enam tahapan Aktivitas

Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Mendayagunakan Berpikir Tingkat Tinggi

Siswa”. Makalah. Disampaikan dalam seminar nasional dengan tema Revitalisasi MIPA dan Pendidikan MIPA dalam rangka penguasaan Kapasitas Kelembagaan dan Profesionalisme Menuju WCU.

Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sumarno, U. 2005. Pengembangan Berpikir Matematika Tingkat Tinggi Siswa SMPdan

SMU serta Mahasiswa S1 Melalui Berbagai Pendekatan Pembelajaran. Laporan Hibah Pascasarjana Tahun Ketiga. UPI Bandung. Tim Pengembang Ilmu Pendidikan UPI. (2009). Ilmu

dan aplikasi pendidikan, bagian III: Pendidikan disiplin ilmu. Bandung: PT Imperial Bhakti Utama.

Trianto.(2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif Yang Berorientasi Kontruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Gambar

tabel 1 berikut:  Tabel

Referensi

Dokumen terkait

Alternatif pengembangan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah dengan mengembangkan instrumen tes berbasis kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam kategori