SUPERVISI AKADEMIN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA
GURU DI SD NEGERI 2 BARU PANGKALAN BUN
Disusun Oleh : Ratih Sulistyowati
942015010
PROGRAM PASCA SARJANA MANAJEMEN PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Guru sebagai ujung tombak proses pendidikan memiliki banyak dimensi peran yang harus diembannya dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan. Sebagai ujung tombak, kualitas guru akan menentukan kualitas mutu layanan dan lulusan yang dihasilkan. Untuk menjaga kualitas pendidikan yang diselenggarakan, komponen guru merupakan salah satu prioritas konsentrasi manajemen pendidikan.
Ada banyak keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki guru menyebabkan kualitas layanan menjadi rendah. Latar belakang pendidikan, tidak bisa dipungkiri ada banyak kasus di sekolah guru yang mengampu suatu mata pelajaran yang bukan vaknya, keterbatasan fisik, kondisi psikologis guru, pengalaman/pemahaman tentang lembaga, pengalaman bekerja, kekurang mampuan melakukan adaptasi dengan adanya perubahan (metode, kebijakan, teknologi) menyebabkan kualitas layanan menjadi rendah.
Sekolah sebagai unit satuan terkecil pendidikan harus senantiasa mampu mengikuti perkembangan zaman. Jangan sampai tercipta suatu kondisi dimana sekolah hanyalah merupakan lembaga formalitas, bukan sebagai agen pembaharu, transmiter, dan mandiri. Melihat perkembangan lingkungan yang semakin cepat, sekolah harus senantiasa up to date dalam menyikapi perubahan-perubahan. Adaptasi dan penyesuaian sekolah terhadap perubahan lingkungan fisik dan pendidikan perlu bimbingan dan binaan.
Untuk mengetahui bagaimana kualitas dalam proses KBM, Kepala Sekolah wajib melakukan pengawasan seperti yang tercantum dalam Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa Kepala Sekolah wajib memenuhi standar kepala sekolah/madrasah yang berlaku nasional yaitu antara lain merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat, serta menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Isi disebutkan bahwa (1) Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan penilaian hasil pembelajaran; (2) Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan dan konsultasi; (3) Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan.
Berdasarkan studi pendahuluan, di SD Negeri 2 Baru Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, terdapat banyak kendala dalam proses pembelajaran. Pengajar sulit untuk menarik minat siswa dalam belajar. Kurangnya minat siswa selama PBM berlangsung ditandai dengan banyak siswa yang tidak memperhatikan ketika guru mengajar.
Dari paparan di atas, maka peneliti ingin meneliti tentang bagaimana memecahkan masalah tentang kesulitan yang dialami oleh pengajar.
1.2 Rumusan Masalah
Dengan adanya paparan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah: 1. Apakah pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana yang
telah digariskan?
2. Apakah pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan instruksinya? 3. Apa kelemahan dan kesulitan guru dalam bekerja?
4. Bagaimana cara untuk meningkatkan kinerja guru dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar yang berkualitas?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah digariskan.
2. Mengetahui pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan instruksinya.
3. Mengetahui kelemahan dan kesulitan guru dalam bekerja.
4. Untuk meningkatkan kinerja guru dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang berkualitas.
5. Untuk meningkatkan kompetensi pendidik dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB).
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Bagi para akademisi, bisa dipakai untuk menambah pengetahuan dalam dunia pendidikan khususnya mengenai perencanaan supervisi kepala sekolah untuk meningkatkan kinerja guru.
1.4.2 Manfaat Praktis
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Supervisi Kepala Sekolah
Dalam kaitannya dengan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah, menurut Purwanto (2004: 32), Jones (Mulyasa 2004: 155), dan Carter (Suhertian 2000: 17) pengertian supervisi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang merupakan usaha dari petugas-petugas sekolah yang terdiri atas aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif dan mengembangkan efektivitas kinerja personalia sekolah yang berhubungan dengan tugas-tugas utama pendidikan dengan tujuan untuk memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran. Supervisi adalah aktivitas menentukan kondisi/syarat-syarat yang essensial yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Dari definisi tersebut maka tugas kepala sekolah sebagai supervisor berarti bahwa dia hendaknya pandai meneliti, mencari, dan menentukan syarat-syarat mana sajakah yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan-tujuan pendidikan di sekolah itu semaksimal mungkin dapat tercapai. Jadi supervisi kepala sekolah merupakan upaya seorang kepala sekolah dalam pembinaan guru agar guru dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dengan melalui langkah-langkah perencanaan, penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa.
2.2 Tujuan Supervisi
Tujuan supervisi menurut Sergiovanni (Pidarta 1992: 249) adalah:
- Tujuan akhir adalah untuk mecapai pertumbuhan dan perkembangan siswa (yang bersifat total).
- Tujuan perantara adalah membina guru-guru agar dapat mendidik para siswa dengan baik atau menegakkan disiplin kerja secara manusiawi.
2.3 Fungsi Supervisi
Fungsi supervisi menurut pedoman supervisi dalam kurikulum 1975 antara lain (Rohadi dkk 1991: 72):
- Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan kurikulum dengan segala sarana dan prasarana.
- Membantu serta membina guru dengan cara memberi petunjuk, penerangan dan latihan agar mereka dapat meningkatkan keterampilan dan kemampuan mengajarnya.
- Membantu guru untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah.
2.4 Faktor yang Memengaruhi Berhasil Tidaknya Supervisi
Menurut Purwanto (2004: 118) ada beberapa faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya supervisi atau cepat-lambatnya hasil supervisi antara lain:
- Lingkungan masyarakat tempat sekolah itu berada.
- Besar-kecilnya sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah. - Tingkatan dan jenis sekolah.
- Keadaan guru-guru dan pegawai yang tersedia. - Kecakapan dan keahlian kepala sekolah itu sendiri.
2.5 Teknik Supervisi
Upaya dan kegiatan supervisi yang terarah pada usaha mencapai sasarannya dilaksanakan dengan menggunakan teknik supervisi sebagai berikut:
1. Kunjungan Kelas.
Kunjungan kelas sering disebut kunjungan supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah (pengawas) adalah teknik paling efektif untuk mengamati guru bekerja, alat, metode dan teknik mengajar tertentu yang dipakainya, dan untuk mempelajari situasi belajar secara keseluruhan dengan memperhatikan semua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan murid.
2. Pembicaraan Individual.
Pembicaraan individual merupakan teknik supervisi yang sangat penting karena kesempatan yang diciptakan bagi kepala sekolah untuk bekerja secara individual dengan guru sehubungan dengan masalah-masalah profesional pribadinya (Sutisna 1987: 226).
3. Observasi Kelas.
Observasi kelas tujuannya untuk dapat melakukan pengamatn mengenai satu atau dua aspek tertentu dari proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas. Aspek-aspek yang perlu diobservasi:
- Kegiatan siswa atau guru dalam proses belajar mengajar.
- Penggunaan media dalam hubungannya dengan TIK.
- Metode yang ditempuh atau cara guru mengorganisasi proses belajar mengajar.
- Faktor penunjang pelaksanaan pengajaran seperti sumber-sumber prosedur, alat atau bahan dan perlengkapan yang memperlancar proses belajar mengajar.
5. Musyawarah Kerja, Lokakarya, Rapat Kerja, Karya Wisata yang sengaja direncanakan untuk menambah pengalaman, meningkatkan kemampuan, menemukan atau menerapkan teknik mengajar yang labih.
6. Sumber materi kurukulum perlu dikembangkan karena merupakan perpustakaan khusus yang berisi bahan-bahan yang dihasilkan melalui pengembangan kurikulum yaitu melalui laboratorium kurikulum dan media kurikulum (Tim Pengembangan MKDK 1991: 223-235).
2.6 Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
Kegiatan atau usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah sesuai dengan fungsinya sebagai supervisor menurut Purwanto (2004: 119) antara lain:
- Membangkitkan dan merangsang guru-guru dan pegawai sekolah di dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya.
- Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah termasuk media instruksional yang diperlukan bagi kelancaran dan keberhasilan proses belajar-mengajar.
- Bersama guru-guru berusaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode mengajar yang lebih sesuai dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku.
- Membina kerja sama yang baik dan harmonis di antara guru-guru dan pegawai sekolah lainnya.
- Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru-guru dan pegawai sekolah, antara lain dengan mengadakan diskusi-diskusi kelompok, menyediakan perpustakaan sekolah, dan atau mengirim mereka untuk mengikuti penataran-penataran, seminar, sesuai dengan bidangnya masing-masing.
- Membina hubungan kerja sama antara sekolah komite sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan para siswa.
2.7
Kinerja GuruMenurut Mangkunegara (Rorlen 2007: 53) mengatakan bahwa istilah kinerja berasal dari kata “job performance” atau “actual performance” yaitu unjuk kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Prestasi kerja atau kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Secara teoritis penilaian atau pengukuran prestasi kerja atau kinerja memberikan informasi yang dapat digunakan pimpinan untuk membuat keputusan tentang promosi jabatan. Penilaian prestasi kerja atau kinerja memberikan kesempatan kepada pimpinan dan orang yang dinilai untuk secara bersama membahas perilaku kerja dari yang dinilai. Pada umumnya setiap orang menginginkan dan mengharapkan umpan balik mengenai prestasi kerjanya. Penilaian memungkinkan bagi penilai dan yang dinilai untuk secara bersama menemukan dan membahas kekurangan-kekurangan yang terjadi dan mengambil langkah perbaikannya.
Menurut Steers (1985) prestasi kerja seseorang merupakan gabungan dari tiga faktor penting yaitu:
- Kemampuan, perangai, minat;
- Kejelasan, dan penerimaan atas penjelasan seorang pekerja; - Tingkat motivasi.
Menurut Refni dkk (2007: 111) kompetensi instruksional yang diperlukan guru untuk mengajar di kelas meliputi sebelas jenis kemampuan utama sebagai berikut:
- penguasaan dasar-dasar ilmu kependidikan,
- penguasaan teoribelajar dan prinsip-prinsip pembelajaran serta penerapannya dalam proses pembelajaran,
- kemampuan memahami karakteristik peserta didik sebagai warga belajar, - kemampuan memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai
dengan tujuan dan materi pelajaran,
- kemampuan memilih dan mengembang-kan alat evaluasi hasil belajar yang sesuai dengan tujuan belajar,
- kemampuan menyusun rencana pembelajaran,
- kemampuan mengelola interaksi kelas serta menciptakan proses belajar yang optimal,
- kemampuan memperagakan unjuk kerja pembelajaran, - kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran,
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu PenelitianPenelitian ini bertempat di SD Negeri 2 Baru Pangkalan Bun Kalimantan Tengah dengan waktu penelitian adalah Januari sampai Maret 2016.
3.2 Teknik Supervisi
Teknik supervisi digunakan Teknik supervisi individual yaitu pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru dengan cara kunjungan kelas dan observasi kelas. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru sehingga dari hasil supervisi ini akan diketahui kualitas pembelajarannya.
3.3 Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian ini adalah guru-guru di SD Negeri 2 Baru Pangkalan Bun Kalimantan Tengah yang berjumlah 15 orang.
3.4 Metode Pelaksanaan Program
Untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal dalam pelaksanaan supervisi, maka dilalui langkah-langkah sebagai berikut (Arikunto, 2012: 305):
1. Pertemuan Pendahuluan
Pertama pendahuluan ini merupakan satu langkah sangat penting dan menentukan keberhasilan supervisi. Yang dilakukan dalam pertemuan pendahuluan ini adalah:
a. Supervisor menyusun program supervisi dan mensosialisasikan program yang akan dilaksanakan kepada guru-guru yang akan dsipuervisi.
b. Menciptakan kekeluargaan yang intim antara guru dengan supervisor (establish rapport) agar komunikasi selama kegiatan dapat berlangsung secara efektif.
d. Supervisor dan guru berdiskusi mengenai proses pembelajaran yang telah berlangsung.
e. Membuat kesepakatan (contract) antara guru dengan supervisor tentang aspek proses belajar mengajar yang akan dikembangkan dan ditingkatkan.
Jadi, dengan singkat dalam pertemuan pendahuluan ini disepakati bersama mengenai:
1. Sasaran atau keterampilan mengajar yang akan diamati secara cermat oleh supervisor.
2. Strategi observasi yang akan dilaksanakan.
3. Panduan atau instrumen observasi yang akan digunakan.
4. Kriteria atau tolak ukur yang akan digunakan dalam pengisian observasi. 5. Persiapan mengajar oleh guru, yakni materi pembelajaran dan RPP.
2. Perencanaan oleh guru dan supervisor
Dalam perencanaan ini dirundingkan:
a. Persiapan mengajar yang sudah dibuat terlebih dahulu untuk dibicarakan kekurangan-kekurangan yang mungkin masih perlu dibenahi, serta membicarakan bagian dari persiapan tertulis tersebut yang akan mendapat perhatian khusus.
b. Persiapan media atau alat-alat pelajaran yang akan digunakan sekaligus strategi penggunaannya.
c. Cara-cara mencatat atau perekaman data yang akan digunakan oleh supervisor serta arah pengambilan data. Hal ini perlu dibicarakan agar guru tidak merasa terganggu pada waktu pelaksanaan.
3. Pelaksanaan latihan mengajar dan observasi
Pada waktu ini, guru melaksanakan mengajar dan supervisor melakukan pengamatan dengan menggunakan instrumen observasi.
4. Mengadakan analisa data
b. Hasil rekaman baik yang dituliskan dalam instrumen observasi, kaset, dan instrumen lainnya yang digunakan untuk merekam data.
c. Cara atau strategi yang digunakan dalam penyampaian umpan balik. Apabila disepakati bahwa umpan balik disampaikan secara tertulis agar terdokumentasikan dengan baik maka setelah selesai diskusi analisis data rekaman, supervisor menuliskan kesimpulan akhir untuk umpan balik kepada guru. Jika umpan balik dilakukan secara lisan, perlu diatur waktu penyampaian serta siapa saja yang akan diundang.
5. Diskusi memberikan umpan balik
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan umpan balik yang dilakukan oleh supervisor kepada guru. Dalam memberikan umpan balik, ada beberapa tahapan:
a. Guru diminta untuk mengungkapkan persepsi (kesannya) mengenai kegiatan mengajar yang ia lakukan.
b. Supervisor besama-sama dengan guru menganalisis kegiatan tersebut langkah demi langkah di lengkapi dengan data hasil pengamatan supervisor. Dalam hal ini guru melakukan penilaian terhadap diri sendiri. c. Guru dan supervisor menarik kesimpulan dari latihan yang dilakukan,
dimana isinya mengenai hal-hal apa yang sudah berhasil dilakukan dan hal apa yang masih harus diperbaiki. Serta membuat keputusan tentang keputusan apa yang akan dilakukan selanjutnya.
6. Instrumen Pengamatan Pada Proses Belajar Mengajar
Berikut adalah instrumen yang digunakan pada tahap pendahuluan, yaitu instrumen yang digunakan supervisor pada saat kunjungan kelas.
Pokok bahasan :
Berilah tanda check (V) pada kolom B (Baik), S (Sedang), K (Kurang), sesuai dengan keadaannya.
PERSIAPAN TERTULIS
B S K Rumusan Tujuan Instruksional Khusus
a. Ditinjau dari bentuk tingkah laku b. Ditinjau dari kekhususannya c. Ditinjau dari sasaran
d. Ditinjau dari ukuran keberhasilan
Imbangan aspek ingatan, pemahaman, aplikasi dan aspek-aspek lain dalam tujuan instruksional khusus
Kesesuaian antara tujuan dengan materi pelajaran dengan metode/pendekatan, yaitu kesesuaian antara:
a. Alat pelajaran dengan tujuan b. Alat pelajaran dengan materi c. Alat pelajaran dengan usia siswa Ketetapan pemilihan sumber bahan Keragaman sumber bahan
Evaluasi
a. Frekuensi pemberian dan ketepatan waktu b. Kualitas butir-butir soal
c. Kesesuaian dengan tujuan instruksional khusus d. Cara memberikan skor
PELAKSANAAN PELAJARAN DI KELAS
mengganggu jalannya pelajaran
3. Kontak awal dengan siswa-siswa dalam kelas (mengucapkan salam, absensi, menyuruh menyiapkan alat yang diperlukan, dan sebagainya) 4. Perhatian kepada seluruh kelas
I. Kegiatan belajar mengajar
1. Cara menghubungkan pelajaran yang lalu dengan pelajaran yang akan diberikan
2. Penjelasan tentang tujuan instruksional khusus 3. Penyampaian pokok materi pelajaran
4. Penggunaan alat pelajaran/media
5. Cara mengikutsertakan siswa dalam kegiatan 6. Penuh tidaknya keterlibatan siswa
7. Banyaknya siswa yang dapat terlibat dalam kegiatan 8. Cara menyampaikan informasi
9. Cara memberikan informasi tentang materi baru 10. Cara mengajukan pertanyaan (bahasa, rumusan) 11. Banyaknya siswa yang mendapat kesempatan
menjawab pertanyaan
12. Hubungan pertanyaan dengan cara memotivasi siswa 13. Cara memotivasi siswa pada umumnya
14. Cara memberikan jawaban terhadap pertanyaan siswa
15. Hubungan antara guru dengan siswa (akrab) 16. Hubungan antara siswa satu dengan siswa lainnya 17. Keseluruhan interaksi belajar mengajar
18. Suasana kelas (hidup, terlalu tenang atau mati) 19. Cara guru menolong siswa yang tidak tertib 20. Menolong siswa yang mengalami kesulitan belajar 21. Menangani siswa yang lebih cepat dari yang lain 22. Menggunakan kalimat dengan jelas dan sederhana 23. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan
logis dan berurutan
24. Pemberian contoh untuk menerangkan pembelajaran 25. Kesesuaian antara contoh dengan taraf berpikir dna
lingkungan siswa
26. Variasi pertanyaan yang diajukan
27. Efektivitas penggunaan waktu yang tersedia
28. Perhatian tertuju hanya kepada pelajaran yang sedang diajarkan
II. Akhir Pelajaran
bersama siswa, atau siswa sendiri) 2. Mengadakan penilaian perseorangan 3. Mengadakan evaluasi terhadap kelas
4. Cara meberikan motivasi kepada siswa agar belajar lebih lanjut
5. Hasil (prestasi) siswa yang diajarkan 6. Catatan yang dibuat oleh siswa
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2012. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan FIP UNY.
Mulyasa, E. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
________. 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Akasara. Purwanto, M. Ngalim. 2004. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Refni D, dkk. 2007. Kinerja Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran di Kelas: Studi Evaluatif Terhadap lulusan Program Akta Mengajar FKIP. Universitas Terbuka, Jurnal Pendidikan, Volume 8, Nomor 2, September 2007.
Rohadi, A, dkk. 1991. Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Rorlen, V. 2007. Pengaruh Iklim Organisasi dan Kedewasaan terhadap kinerja Karyawan Pada PT.Graha Tungki Arsitektika Jakarta, Business & Menegemen Journal Bunda Mulia Vol 3 Nomor 1, maret 2007.
Steers, RM. 1985. Efektivitas Organisasi Seri Manajemen. Jakarta: Erlangga.
TIM Pengembangan MKDK. 1991. Administrasi Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang
Dokumen:
1. Permendiknas No. 13 Tahun 2007