ANALISIS KETERSEDIAAN BERAS NASIONAL:
SUATU KAJIAN SIMULASI PENDEKATAN
SISTEM DINAMIS
National rice availability analysis
A simulation study of dynamic system approach
Irawan
Balai Penelitian Tanah Jl. Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
ABSTRACT
Agriculture still plays an important role in Indonesian economy. Besides employing the huge work force that the country possesses, rice field becomes prominent supplier of rice for national food. For Indonesia, rice is a strategic commodity since it is the staple food for the majority of population. The national rice consumption increases every year with the growing number of population. As such, the government has to provide the availability rice sufficiently and efficiently. The recent availability of national rice system still relied on imported rice. The uncontrolled rate of rice field conversion and the leveling-off of rice productivity were considered as the major factors weakening the rice self-sufficiency program. This paper analyzes the national rice availability using simulation of dynamic system approach. The simulation results showed that the national rice self-sufficiency program will not be acquired if the rate of rice field conversion is as high as 0.72%/yearly and rice productivity level is stagnant at the level of 1990 – 2000’s performance. Rice self-sufficiency will be achieved if rice field coversion in Java and outer Java can be controlled at zero and 0.77% year-1 respectively starting in 2010. At the same time the effort to increase rice productivity as high as 2.0 - 2.5% year-1 as achieved in 1983-1985 is needed. The extensification program by establishing one million hectare of new rice field in outer Java within 5 years will be not enough to achieve rice self-sufficiency as long as the current rate of rice field conversion and rice productivity remain unchanged.
PENDAHULUAN
Struktur perekonomian Indonesia sudah bergeser dari sektor pertanian ke sektor industri. Meskipun demikian, sektor pertanian masih mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi. Dilihat dari kontribusinya dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2002, sektor pertanian menyumbang sekitar 17,3% dan menempati posisi kedua sesudah sektor industri pengolahan. Sektor pertanian juga mempunyai peranan yang sangat strategis dalam penyerapan tenaga kerja, yakni dari 90,8 juta angkatan kerja, sekitar 44,3% bekerja di sektor pertanian (BPS, 2004). Sektor pertanian juga berperan penting dalam penyediaan bahan baku bagi keperluan industri dan selain itu peran utama sektor pertanian adalah menyediakan beras bagi kebutuhan konsumsi nasional, khususnya dari lahan sawah.
Produksi beras pada tahun 2000 sebesar 32,63 juta ton bersumber dari areal lahan sawah di Jawa dan Bali (54,2%), sawah di luar Jawa, dan Bali (40,7%) dan lahan kering atau padi ladang (5,1%). Sementara itu kebutuhan beras mencapai 36,01 juta ton yang dialokasikan untuk konsumsi segera (83,5%) dan cadangan atau
carry over (16,5%). Oleh karena itu pada tahun tersebut terdapat defisit ketersediaan
beras sekitar 3,38 juta ton. Salah satu upaya mengurangi defisit, pemerintah mengimpor beras sebanyak 2,0 juta ton. Jumlah impor beras tahun 2000 ini relatif lebih kecil dibanding tahun 1998 (5,9 juta ton) atau tahun 1999 (4,2 juta ton). Jumlah impor beras tahun 1998 dan 1999 setara dengan 10 - 29,5% dari volume perdagangan beras internasional dan menghabiskan devisa negara sekitar Rp 10,35 trilyun tahun-1. Kondisi ini perlu dikhawatirkan karena tanpa upaya yang memadai, ketersediaan beras nasional suatu saat akan sangat tergantung pada pasokan beras impor melalui perdagangan internasional yang jumlahnya terbatas. Salah satu faktor penyebab defisit ketersediaan beras nasional adalah laju konversi lahan sawah yang tidak terkendali, khususnya di Pulau Jawa.
Berdasarkan pernyataan Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, pada seminar "Alih Fungsi dan Konversi Lahan" pada 23 Desember 2003 di Jakarta, konversi lahan sawah pada periode tahun 1997 - 2003 mencapai 47.000 ha tahun-1, 91% diantaranya terjadi di Pulau Jawa (Anonim, 2003). Konversi lahan sawah tersebut diperkirakan akan meningkat dalam 5 tahun mendatang sebagai akibat pembangunan infrastruktur jalan tol sepanjang 1.500 km di Pulau Jawa dan Bali. Dampak negatif konversi lahan sawah tersebut terhadap penurunan produksi beras secara nasional sulit untuk diimbangi oleh upaya peningkatan perluasan areal sawah di luar Jawa. Hal tersebut karena pencetakan sawah baru memerlukan investasi yang cukup tinggi, sekitar Rp 25.000.000 ha-1 (Sumaryanto, 2001). Sementara itu masih ada dua faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap ketersediaan beras, yakni laju pertambahan jumlah penduduk yang masih cukup tinggi dan tingkat konsumsi beras per kapita yang meningkat dari tahun ke tahun.
Makalah ini mengkaji ketersediaan beras nasional di masa mendatang berdasarkan pendekatan sistem dinamik (Djojomartono, 2000) dengan metode simulasi Integrasi Euler yang tersedia dalam program Powersim 2.5 (Muhammadi,
et al., 2001). Selain relatif mudah dioperasikan program ini sangat cocok untuk
MODEL KETERSEDIAAN BERAS BERDASARKAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIS
Penanganan masalah perberasan nasional memerlukan kebijakan publik yang merupakan bagian dari kebijakan pembangunan pertanian (Gardner, 1987). Kebijakan publik adalah keputusan pemerintah yang berpengaruh terhadap kepentingan hidup orang banyak atau publik (Tim Badan Litbang Pertanian, 2001). Keputusan pemerintah dalam hal penentuan harga dasar gabah, tarif impor beras, pemberian atau pencabutan subsidi pupuk, dan pemberian izin konversi lahan sawah merupakan bentuk kebijakan publik yang terkait dengan masalah perberasan nasional.
Kebijakan publik seringkali kontroversial karena dampaknya terhadap publik selalu pro-kontra atau positif-negatif secara bersamaan. Pada umumnya sebelum langkah kebijakan diambil selalu ada analisis kebijakan yang bertujuan untuk mensintesis informasi untuk menghasilkan rekomendasi alternatif rancangan kebijakan. Mengingat kebijakan perberasan nasional bersifat lintas sektoral dan dinamis, maka pendekatan dan simulasi sistem dinamik diperlukan agar diperoleh informasi awal mengenai berbagai kemungkinan sebelum kebijakan tersebut diberlakukan.
Sistem perberasan nasional terdiri atas beberapa sistem, antara lain sub-sistem produksi atau pasokan, distribusi, konsumsi atau permintaan, tata niaga dan harga. Masing-masing sub-sistem terdiri atas elemen atau unsur-unsur yang lebih spesifik dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan waktu, sehingga sistem perberasan nasional bersifat dinamis. Sistem perberasan nasional juga bersifat lintas sektoral karena meliputi berbagai institusi yang terkait, seperti sub-sistem permintaan beras terkait dengan masalah kependudukan dan tingkat pendapatan masyarakat, sedangkan sub-sistem produksi terkait dengan masalah luas lahan dan budi daya pertanian.
Pendekatan sistem juga mengharuskan adanya pengetahuan mengenai hubungan timbal balik atau sebab akibat antar sub-sistem di dalam sistem atau antar- unsur di dalam sub-sistem serta sifat hubungan sebab akibat tersebut, yakni positif atau negatif. Secara umum diagram sebab akibat sistem penyediaan beras nasional berdasarkan pendekatan sistem disajikan pada Gambar 1.
berpengaruh nyata terhadap upaya petani untuk meningkatkan produksi padi. Penyebabnya karena luas lahan sawah garapan petani relatif sempit dan usaha tani padi bersifat musiman.
Gambar 1. Diagram sebab akibat pendekatan sistem penyediaan beras nasional
Produksi padi dipengaruhi secara positif oleh luas areal padi, baik sawah maupun tegalan dan teknologi usaha tani, termasuk pascapanen. Indikator teknologi usaha tani tersebut berupa produktivitas dan IP padi. Semakin luas lahan sawah dan semakin tinggi produktivitas serta IP padi maka produksi padi akan semakin meningkat (+). Sebaliknya, anomali iklim berpengaruh negatif terhadap jumlah produksi, yakni semakin sering frekuensi anomali iklim, baik itu La Nina, El Nino, maupun serangan hama penyakit akan mengurangi tingkat produksi padi (-).
tingkat ketersediaan beras karena cadangan tersebut merupakan penyisihan dari produksi saat ini untuk keperluan konsumsi tahun berikutnya. Selanjutnya ketersediaan beras tersebut mempunyai hubungan sebab akibat positif terhadap permintaan beras. Semakin tinggi ketersediaan beras, permintaan beras oleh masyarakat akan semakin tinggi. Kondisi tersebut mencerminkan elastisitas pendapatan terhadap permintaan bersifat positif, artinya secara rata-rata jika terjadi peningkatan pendapatan pada masyarakat maka akan berakibat pada peningkatan konsumsi beras oleh masyarakat. Pada model kajian ini indikator tersebut dicerminkan oleh tingkat konsumsi beras per kapita yang meningkat setiap tahun. Selain itu, secara otomatis tingkat permintaan beras nasional juga akan meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Hubungan sebab akibat antara produksi padi, ketersediaan beras dan permintaan beras pada Gambar 1 dinyatakan dengan lingkaran pertama (#1) yang bersifat positif (+). Demikian pula hubungan sebab akibat antara jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk dinyatakan dengan lingkaran dua (#2) yang bersifat positif (+). Bentuk hubungan sebab akibat yang bersifat positif tersebut dapat saja berupa hubungan linear atau eksponensial. Sebaliknya hubungan sebab akibat antara luas lahan sawah dan laju konversi lahan sawah bersifat negatif. Semakin tinggi laju konversi lahan sawah akan semakin berkurang luas lahan sawah (-), sedangkan jika luas lahan sawah semakin tinggi maka laju konversi lahanpun akan semakin tinggi (+). Dengan demikian sejalan dengan perkembangan waktu dan konstanta laju konversi lahan yang terjadi, luas lahan sawah akan menurun, mungkin linear atau eksponensial.
PERFORMA NERACA KETERSEDIAAN BERAS NASIONAL MASA LALU
Sebagai ilustrasi hubungan antara produksi, konsumsi, dan cadangan beras tahun 2000 disajikan pada Tabel 1. Pada tahun tersebut produksi beras 32,63 juta ton, sedangkan kebutuhan mencapai 36,01 juta ton, yakni untuk konsumsi segera dan cadangan atau carry over. Dengan demikian terdapat defisit neraca ketersediaan beras sebesar 3,38 juta ton yang antara lain ditanggulangi dengan impor beras sebanyak 2 juta ton.
Tabel 1. Neraca ketersediaan beras nasional tahun 2000
Wilayah sumber produksi beras Produksi Alokasi kebutuhan beras
Jumlah
juta ton juta ton Lahan sawah Jawa dan Bali 17,69 Konsumsi
segera
30,61
Lahan sawah luar Jawa 13,29 Cadangan/carry
over
5,40
Lahan kering 1,65 Surplus/(Defisit) (3,38) Total 32,63 Total 32,63
Sumber: Hasil olahan data BPS (2001, 2002)
Cadangan beras pada dasarnya menjadi beban pemerintah karena menyangkut biaya pengadaan, penyimpanan, penyusutan, dan distribusi (Bulog, 2004). Walaupun secara teoritis cadangan beras tidak harus sepenuhnya berada di tangan pemerintah (Bulog), tetapi mengingat sistem lumbung beras sudah sangat jarang ditemui di masyarakat, maka sebagian besar cadangan beras tersebut harus berada pada pengendalian pemerintah. Pada periode tahun 1997-2001 volume cadangan beras nasional berkisar antara 4,7 – 6,4 juta ton tahun-1 atau setara dengan 15 - 21% dari total produksi dalam negeri. Mengingat pada periode tahun tersebut produksi beras tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dan cadangannya, pemerintah mengimpor beras antara 1,0 - 5,9 juta ton tahun-1. Fakta tersebut menunjukkan bahwa performa perberasan nasional pada periode tersebut cukup rentan terhadap ketergantungan impor beras.
KONVERSI LAHAN SAWAH
Konversi lahan sawah yang terjadi selama ini diyakini sebagai salah satu faktor yang mengurangi atau memperlambat peningkatan kapasitas produksi beras nasional, sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan beras dalam negeri yang terus meningkat sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi beras per kapita. Proses konversi lahan sawah bersifat dinamis; selain besarannya fluktuatif antar waktu, juga ketepatan pencatatannya oleh instansi yang berwenang memerlukan tenggang waktu yang tidak dapat ditentukan. Konversi lahan sawah yang terjadi di beberapa tempat dalam waktu yang bersamaan belum tentu dicatat dalam waktu yang sama oleh instansi yang berwenang.
Data BPS 1981-1999, Irawan et al. (2001) menyimpulkan bahwa neraca lahan sawah nasional pada periode tersebut mengalami peningkatan seluas 1,6 juta ha, yakni berupa neto penambahan luas sawah di luar Jawa (2,1 juta ha) dan pengurangan luas sawah di Jawa (0,5 juta ha). Sekalipun ada peningkatan lahan sawah di luar Jawa yang cukup luas, kapasitas produksi beras nasional pada periode tersebut masih lebih kecil daripada kebutuhan beras dalam negeri, sehingga pemerintah harus mengimpor beras sekitar 1,7 juta t tahun-1 (1990 - 1999). Hal itu menunjukkan bahwa dari segi produktivitas, konversi satu hektar lahan sawah di Jawa tidak dapat digantikan oleh empat hektar lahan sawah di luar Jawa.
Neraca lahan sawah pada periode tahun 1992 - 2002 menunjukkan penciutan lahan sawah secara nasional, yakni 64.444 ha tahun-1 atau 0,77% tahun-1 (Tabel 2). Hal yang menarik ternyata pada periode tersebut konversi lahan sawah di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggaran Barat (NTB) relatif lebih kecil dibandingkan di luar Jawa. Konversi lahan sawah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi >1% tahun-1, sedangkan di Jawa, Bali dan NTB hanya 0,26% tahun-1 dari masing-masing luas baku lahan sawah. Hal tersebut sangat berbeda dengan neraca lahan sawah sebelum tahun 2002 dimana penciutan lahan sawah di Jawa masih diimbangi dengan adanya perluasan sawah di luar Jawa.
Tabel 2. Perkembangan luas lahan sawah di Indonesia tahun 1992 - 2002
Pulau/zona Luas lahan sawah
1992 2002 Perubahan per 10 tahun Perubahan per tahun
ha ha % ha %
Sumatera 2.353.109 2.104.462 -248.647 -10,57 -24.865 -1,06 Jawa, Bali,
NTB 3.715.502 3.617.311 -98.191 -2,64 -9.819 -0,26 Pulau
lainnya 2.324.679 2.027.075 -297.604 -12,80 -29.760 -1,28 Indonesia * 8.393.290 7.748.848 -644.442 -7,68 -64.444 -0,77
Catatan : * Belum termasuk Maluku dan Papua Sumber: Sutomo (2004) diolah kembali.
DATA INPUT DAN DIAGRAM ALIR MODEL SIMULASI
Data yang digunakan untuk simulasi sistem dinamis berupa data sekunder, yakni berkaitan dengan aspek produksi padi, teknologi budi daya padi, konsumsi beras, kependudukan, dan data terkait lainnya. Sumber data utama adalah Statistik Indonesia dan Profil Pertanian Dalam Angka, masing-masing terbitan dari Biro/ Badan Pusat Statistik (BPS, 1980; BPS, 1990; BPS, 2000, BPS, 2001 dan BPS, 2002) dan Departemen Pertanian (Deptan, 1999), termasuk situs (website) kedua institusi tersebut.
Peubah yang digunakan
Peubah yang digunakan dalam simulasi adalah sebagai berikut:
1. Luas lahan padi (ha): terdiri atas lahan sawah dan lahan kering. Lahan sawah dibedakan atas tiga zona luas baku sawah, yaitu: (1) zona Jawa, Bali, dan NTB (Jawaplus); (2) zona Sumatera, dan (3) zona lainnya (Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggaran Timur (NTT), Maluku dan Papua). Pengelompokan tersebut atas dasar laju konversi lahan sawah, produktivitas, dan IP padi. Lahan kering adalah luas padi lahan kering/ladang di seluruh Indonesia.
2. Produksi padi (t tahun-1) adalah total produksi padi berdasarkan luas baku sawah dan luas padi ladang pada tingkat teknologi tertentu. Indikator teknologi adalah produktivitas padi (t ha-1) dan IP padi (% tahun-1).
4. Kebutuhan beras (t tahun-1) adalah jumlah beras yang dibutuhkan untuk konsumsi berdasarkan jumlah penduduk (orang) dan konsumsi per kapita (kg orang-1 tahun-1).
5. Surplus/defisit (t tahun-1) adalah selisih antara ketersediaan beras dengan kebutuhan beras. Nilai selisih positif berarti surplus dan negatif berarti defisit.
6. Pertambahan jumlah penduduk adalah laju pertumbuhan penduduk bersih.
Kuantifikasi peubah dan asumsi
Nilai awal (initial value) data empirik untuk berbagai peubah yang digunakan adalah kondisi tahun 2002 atau sebelumnya sesuai dengan ketersediaan data.
1. Luas baku:
a. Luas baku sawah zona Jawaplus = 3,617 juta ha. b. Luas baku sawah zona Sumatera = 2,104 juta ha. c. Luas baku sawah zona lainnya = 2,027 juta ha. d. Luas padi ladang = 1,165 juta ha.
1. Konversi lahan :
a. Neto laju konversi lahan sawah di zona Jawaplus sebesar 0,26% tahun-1. b. Neto laju konversi lahan sawah di zona Sumatera sebesar 1,06% tahun-1. c. Neto laju konversi lahan sawah di zona lainnya sebesar 1,28% tahun-1. d. Neto laju pengurangan areal tanam padi ladang 0,32% tahun-1.
e. Laju konversi lahan sawah tersebut didasarkan pada perkembangan luas lahan sawah tahun 1992 - 2002, dengan koreksi sebagai berikut: (1) laju konversi sawah di zona Jawaplus tahun 2005 dan 2006 sebesar 0,41% tahun-1 sebagai dampak pembuatan jalan tol sepanjang 1.500 km dan (2) laju konversi sawah di zona Sumatera tahun 2005 dan 2006 sebesar 1,09% tahun-1 sebagai dampak bencana alam Tsunami.
2. Teknologi usaha tani padi a. Padi sawah
a.1. Pada zona Jawaplus: Produktivitas dan IP padi: 4,975 t ha-1 dan 160% tahun-1.
a.2. Pada zona Sumatera: Produktivitas dan IP padi: 3,870 t ha-1 dan 130% tahun-1.
a.3. Pada zona lainnya: Produktivitas dan IP padi: 3,330 t ha-1 dan 110% tahun-1.
b. Padi ladang (lahan kering)
b.1. Produktivitas padi ladang 2,43 ton ha-1
b.2. Peningkatan produktivitas 4,58% per 5 tahun atau 0,92% tahun-1 (kondisi tahun 1995-2000)
b.3. Indeks pertanaman 100% tahun-1 (konstan, tidak ada peningkatan IP). c. Rata-rata rendemen beras 62%.
3. Pertumbuhan penduduk
a. Jumlah penduduk 208,987 juta orang (tahun 2002)
b. Laju pertumbuhan penduduk berdasarkan trend data tahun 1970 - 2000 dengan persamaan Y = 2,75 - 0,41X (R2=98,7%), dimana Y = laju pertumbuhan penduduk (%), X adalah periode 10 tahunan (1, 2, dan 3). Berdasarkan persamaan tersebut laju pertumbuhan penduduk tahun 2002 adalah 1,438% dan kondisi "zero growth" akan terjadi sekitar 67 tahun kemudian.
4. Konsumsi beras
a. Konsumsi beras per kapita 129 kg orang-1 tahun-1, didasarkan pada rasio jumlah beras tersedia termasuk beras impor dengan jumlah penduduk periode tahun 1990 - 2001.
b. Peningkatan konsumsi beras per kapita 1,2% tahun-1, didasarkan pada hasil penelitian bahwa elastisitas pendapatan masyarakat terhadap konsumsi beras masih positif (Irawan, 2001).
c. Jumlah cadangan beras (carry over) adalah 7,5 kg orang-1 bulan-1 untuk konsumsi selama 3 bulan tahun-1.
5. Bencana alam berupa kejadian anomali iklim El Nino dan/atau La Nina dibangkitkan berdasarkan bilangan acak (0,1) dengan peluang < 33,3% dan dampaknya (jika terjadi) berupa gagal panen terhadap 1,06% luas sawah. Dampak anomali iklim tersebut diasumsikan sama pada ketiga zona lahan sawah, sedangkan padi lahan kering tidak terpengaruh oleh kejadian El Nino/La Nina. 6. Harga gabah diasumsikan tidak berpengaruh terhadap peningkatan produksi. Hal
DIAGRAM ALIR MODEL SIMULASI
Diagram alir simulasi ketersediaan beras nasional disajikan pada Gambar 2. Diagram alir tersebut merupakan terjemahan diagram sebab akibat yang dapat disimulasikan dengan perangkat lunak Powersim berdasarkan kuantifikasi data dan asumsi di atas.
Diagram alir simulasi terdiri atas tiga bagian, yakni bagian yang terkait dengan aspek produksi beras (bagian A), aspek kebutuhan dan ketersediaan beras (bagian B), dan aspek pertumbuhan dan jumlah penduduk (bagian C). Sumber produksi beras terdiri atas empat sumber, yakni produksi beras dari lahan sawah zona Jawaplus (prod_brs_1), zona Sumatera (prod_brs_2), zona lainnya (prod_brs_3), dan produksi beras dari lahan kering (prod_brs_4). Tingkat produksi beras dari lahan sawah dipengaruhi oleh luas baku sawah, Produktivitas, IP, rendemen beras, dan bencana alam anomali iklim. Produksi beras dari lahan kering dipengaruhi oleh luas areal tanam, produktivitas, indeks pertanaman, dan rendemen beras.
HASIL SIMULASI Validasi model simulasi
Uji coba simulasi dilakukan guna mengetahui akurasi dan validitas model dengan cara memasukkan data-data periode tahun 1980 - 1995 untuk memprediksi keadaan tahun 1998 - 2000. Hasil uji coba simulasi disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil validasi model simulasi
Peubah Hasil simulasi
Data
sebenarnya Deviasi Keterangan
% Produksi beras (juta ton)
32,40 32,63 -0,75 Tahun 2000
beberapa hal, dua diantaranya terkait dengan keamanan cadangan beras dan adanya impor beras ilegal. Berdasarkan konsep neraca ketersediaan beras (Tabel 1), total produksi beras dalam negeri tanpa dikurangi cadangan sudah memenuhi kebutuhan beras nasional untuk konsumsi segera. Oleh karena itu, jika cadangan beras dalam keadaan aman atau tidak terpakai, pemerintah dapat memutuskan untuk tidak mengimpor beras.
Perkembangan jumlah penduduk dan kebutuhan beras nasional
Berdasarkan hasil simulasi jumlah penduduk yang semula 208,99 juta jiwa pada tahun 2002 akan meningkat menjadi 218,01 juta jiwa pada tahun 2005, 232,15 juta jiwa tahun 2010, dan 244,83 juta jiwa tahun 2015 (Gambar 3). Hasil simulasi juga menunjukkan bahwa pada saat sensus penduduk tahun 2020, jumlah penduduk saat itu diperkirakan sekitar 255,59 juta jiwa. Sejalan dengan itu, kebutuhan beras untuk konsumsi segera dan cadangan yang semula 31,5 juta ton pada tahun 2002 akan meningkat menjadi 33,5 juta ton (2005), 36,8 juta ton (2010) dan 40,0 juta ton (2015). Selama periode tersebut jumlah cadangan beras yang perlu disiapkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi masalah pangan nasional selama 2-3 bulan adalah sekitar 4,7 - 5,6 juta ton tahun-1.
200 210 220 230 240 250 260
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Tahun (0=2002)
Ju
ta
j
iw
a
Perkembangan jumlah produksi beras nasional
Hasil simulasi menunjukkan bahwa sumber produksi beras nasional masih tetap didominasi oleh Jawa, Bali, dan NTB (58-62%), dan sisanya dari luar Jawa. Dibandingkan dengan luar Jawa, keunggulan tingkat P dan IP padi sawah di Jawa akan tetap dominan dalam beberapa tahun ke depan. Lahan sawah menyumbang 94,4% dari total produksi beras nasional dan sisanya (5,6%) dari lahan kering/ ladang. Perkembangan produksi beras nasional yang bersumber dari lahan sawah (zona Jawaplus, Sumatera, dan pulau lainnya) dan lahan kering berdasarkan kemajuan usaha tani padi tahun 1990 - 2000 dan proses konversi lahan sawah tahun 1992 - 2002 (Tabel 2) disajikan pada Gambar 4. Tanpa ada upaya yang memadai, produksi beras nasional dalam 15 tahun ke depan hanya akan meningkat sekitar 0,49 - 0,94% tahun-1, jauh lebih rendah daripada laju pertumbuhan penduduk dan peningkatan konsumsi beras per kapita. Di sisi lain laju konversi lahan sawah yang cukup tinggi (1,2% tahun-1) mengakibatkan peran lahan sawah di luar Jawa tidak meningkat, bahkan semakin berkurang dalam memasok beras nasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan pertanian periode tahun 1992 - 2002, khususnya mengenai upaya peningkatan produksi beras nasional tidak jelas. Konversi lahan sawah di Jawa dan luar Jawa berlanjut tanpa kompensasi yang memadai baik dari segi peningkatan P dan IP padi, maupun dari perluasan areal atau pencetakan sawah baru.
25
20
Gambar 4. Produksi beras nasional dari lahan sawah dan lahan kering
0 5 10 15
Juta
ton Sawah Jawa,Bali,NTB
Sawah Luar Jawa
Padi Ladang
Mengacu pada laju konversi lahan sawah tahun 1992-2002, serta tak ada kebijakan yang dapat mengendalikannya atau tidak ada usaha perluasan areal sawah yang memadai, maka luas baku lahan sawah secara nasional akan berkurang dengan percepatan rata-rata 0,77% tahun-1. Luas baku lahan sawah di Jawa, Bali dan NTB yang semula 3,62 juta ha (2002) akan berkurang berturut-turut menjadi 3,59 juta ha (2005), 3,53 juta ha (2010), dan 3,49 juta ha (2015). Luas baku lahan sawah di luar Jawa yang semula 4,13 juta ha (2002) akan berkurang berturut-turut menjadi 3,99 juta ha (2005), 3,76 juta ha (2010), dan 3,54 juta ha (2015). Demikian pula halnya dengan luas tanam padi ladang yang akan menurun dari 1,17 juta ha (2002) menjadi 1,15 juta ha (2005) dan 1,12 juta ha (2010).
Hasil simulasi mengenai neraca ketersediaan beras nasional disajikan pada Lampiran 1, sedangkan perbandingan jumlah produksi dengan total kebutuhan beras nasional disajikan pada Gambar 5. Hasil simulasi menunjukkan bahwa perkembangan tingkat produksi beras masih lebih kecil daripada total kebutuhan beras untuk konsumsi dan cadangan dimana kesenjangannya semakin tinggi, terutama setelah tahun 2005. Pada tahun 2005 jumlah produksi beras diperkirakan mencapai 31,86 juta ton, sementara total kebutuhan beras 33,46 juta ton yang terdiri atas kebutuhan konsumsi segera 28,55 juta ton (85,32%) dan cadangan 4,91 juta ton (14,68%). Apabila pemerintah akan mempertahankan tingkat cadangan beras sebesar itu, perlu pengadaan beras impor sebesar 1,6 juta ton. Mengingat kejadian bencana alam Tsunami dan banjir di beberapa tempat pada akhir tahun 2004 dan awal tahun 2005, justifikasi untuk mengimpor beras sangat kuat. Secara teoritis berdasarkan hasil simulasi, impor beras sebanyak 1,6 - 2,1 juta ton merupakan jumlah maksimum yang diperlukan untuk tahun 2005 dan 2006.
45
40
35 Produksi beras
Juta
ton 30 Kebutuhan beras
25
20
2002 2005 2010 2015 2020
Neraca ketersediaan beras nasional pada lima tahun berikutnya (2010) akan semakin tergantung pada beras impor. Tingkat produksi beras saat itu diperkirakan 32,65 juta ton, sementara total kebutuhan beras nasional 36,77 juta ton, termasuk untuk cadangan sebesar 5,22 juta ton. Dengan demikian potensi pengadaan beras impor pada tahun 2010 adalah 4,12 juta ton. Apabila kondisi perberasan tidak berubah secara nyata, jumlah beras impor yang diperlukan pada tahun berikutnya akan semakin tinggi (Gambar 6).
8 7 6 5
Cadangan beras
4
Juta
Impor beras ton
3 2 1 0
3 4
0 1 2 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Tahun (0=2002)
Gambar 6. Perkembangan jumlah cadangan dan impor beras yang diperlukan dalam 15 tahun ke depan (hasil simulasi)
Upaya ke arah swasembada beras
Suatu hal yang sangat realistik apabila upaya pengadaan beras nasional yang bertumpu pada kemampuan produksi dalam negeri mendapat prioritas dari segenap unsur masyarakat. Berbagai upaya yang dapat ditempuh perlu dikaji secara seksama, misalnya dari sisi produksi berupa kebijakan penetapan sawah abadi, peningkatan P dan IP padi, efisiensi pengelolaan pascapanen usaha tani padi, perluasan areal lahan sawah, dan peningkatan mitigasi bencana dan hama penyakit tanaman padi. Dari sisi konsumsi, kebijakan diversifikasi sumber bahan makanan, peningkatan pendapatan masyarakat, dan pelaksanaan program keluarga berencana perlu diupayakan secara terus-menerus.
abadi, peningkatan produktivitas padi dan perluasan areal lahan sawah, dengan kriteria sebagai berikut:
Model 1: Kebijakan penetapan lahan sawah abadi dan peningkatan produktivitas padi
1. Laju konversi lahan sawah di Jawa, Bali, dan NTB ditekan sampai nol persen mulai tahun 2010
2. Laju konversi lahan sawah di luar Jawa dan daerah lainnya 0,77% tahun-1 mulai tahun 2010. Besaran tersebut mengacu pada rata-rata laju konversi lahan sawah nasional periode 1992 - 2002 dan mengindikasikan adanya keberhasilan kebijakan penetapan lahan sawah abadi di luar Jawa setelah mulai tahun 2010.
3. Produktivitas padi meningkat 2,5% tahun-1 yang mengindikasikan keberhasilan program intensifikasi (PMI, Primatani, dan program lainnya) dimana tingkat pertumbuhan produktivitas padi tersebut pernah dicapai pada periode 1983-1985 (saat swasembada beras).
4. Pengaruh hal-hal lain dianggap konstan.
Model 2: Kebijakan perluasan areal lahan sawah di luar Jawa
1. Laju konversi lahan sawah sebagaimana kondisi tahun 1992-2002.
2. Laju peningkatan produktivitas dan IP padi mengacu pada keadaan tahun 1990-2000.
3. Pencetakan lahan sawah baru di luar Jawa sebanyak 1.000.000 ha selama lima tahun, mulai 2007.
4. Pengaruh hal-hal lain dianggap konstan.
5. Diagram alir simulasi disajikan pada Lampiran 2.
sawah sebagaimana terjadi saat ini sulit untuk mencapai swasembada beras. Kebijakan perluasan areal lahan sawah melalui pencetakan sawah baru seluas satu juta hektar memerlukan biaya investasi sekitar Rp 25 trilyun atau Rp 5 trilyun tahun
-1
jika perluasan areal lahan sawah tersebut didistribusikan dalam program lima tahunan.
Berdasarkan hasil simulasi, kebijakan penetapan lahan sawah abadi dan peningkatan produktivitas padi merupakan alternatif kebijakan yang paling memungkinkan untuk mencapai swasembada beras. Wacana dan rumusan teknis penetapan lahan sawah abadi sudah cukup banyak dibahas dalam berbagai seminar dan media publikasi lainnya. Demikian pula peningkatan produktivitas padi melalui introduksi varietas padi baru sangat memungkinkan. Misalnya padi Cilosari merupakan salah satu varietas padi yang dikembangkan oleh BATAN mempunyai potensi produksi yang tinggi. Kisaran dan rata-rata produktivitas padi varietas Cilosari mencapai 7,4 -9,3 dan 8,3 ton ha-1. Tingkat produktivitas padi tersebut, yakni 63,2% lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas padi lahan sawah di Jawa saat ini. Padi Cilosari juga mempunyai rendemen beras yang cukup tinggi, yakni 70% atau 12,9% lebih tinggi daripada rendemen beras padi lainnya.
Tabel 4. Hasil simulasi prediksi neraca ketersediaan beras nasional (juta ton) berdasarkan kondisi tahun 1990-2002 (statusquo), diterapkannya kebijakan lahan sawah abadi (model 1) dan perluasan areal lahan sawah (model 2)
Kondisi dan indikator 2005 2010 2015 2020
Statusquo:
Total produksi 31,87 32,65 34,19 34,48 Total kebutuhan 33,46 36,77 39,99 41,97 -Cadangan (%) 14,7 14,2 13,8 13,7 -Konsumsi segera (%) 85,3 85,8 86,2 86,3
Surplus -1,59 -4,12 -5,80 -7,49 Model 1:
Total produksi 33,06 37,40 43,95 50,36 Total kebutuhan 33,46 36,77 39,99 41,97
Surplus -0,40 0,63 3,96 8,39 Model 2:
Total produksi 31,87 34,42 39,13 43,38 Total kebutuhan 33,46 36,77 39,99 41,97
Surplus -1,59 -2,35 -0,86 1,41
KESIMPULAN DAN SARAN
Sistem perberasan nasional menghadapi kendala berupa konversi lahan sawah pada tingkat yang cukup tinggi dan sulit dikendalikan, pertambahan jumlah penduduk yang masih tinggi, dan konsumsi beras per kapita yang terus meningkat.
Neraca ketersediaan beras nasional di masa mendatang akan semakin tergantung pada beras impor. Ketahanan pangan, khususnya beras secara mandiri tidak akan tercapai apabila laju konversi lahan sawah di Jawa dan daerah sentra produksi beras lainnya melebihi 0,77% tahun-1 dan penerapan teknologi budi daya padi sawah tidak lebih baik daripada keadaan tahun 1990-2000.
Kebijakan perluasan areal lahan sawah baru di luar Jawa dengan tetap tidak mengendalikan laju konversi lahan sawah yang terjadi seperti saat ini tidak efektif untuk mencapai swasembada beras.
Keadaan swasembada beras dapat dicapai melalui kebijakan penetapan lahan sawah abadi dan peningkatan produktivitas padi sebagaimana prestasi yang pernah dicapai pada saat swasembada beras tahun 1983-1985.
Pemerintah perlu segera menindaklanjuti upaya-upaya ke arah pemberlakuan kebijakan penetapan lahan sawah abadi dan memasyarakatkan berbagai varietas padi baru yang berpotensi tinggi, baik produktivitas maupun rendemen berasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Annonim. 2003. Deptan Menahan Laju Konversi Lahan Pertanian. HTTP: //WWW.Tempointeraktif.com
Biro Pusat Statistik. 1980, 1990. Statistik Indonesia. C.V. Nasional Jakarta.
Badan Pusat Statitsik. 2000, 2001, 2002, 2004. Statistik Indonesia. C.V. Nasional. Jakarta dan situs BPS pada HTTP://WWW.BPS.GO.ID (Nopember 2004). Badan Urusan Logistik (Bulog). 2004. Kebijakan Pangan.
HTTP://WWW.BULOG.GO.ID.
Departemen Pertanian. 1999. Profil Pertanian Dalam Angka. Publikasi Deptan, 327 hlm. Dan situs Deptan pada HTTP://WWW.DEPTAN.GO.ID (Nopember 2004).
Gardner, B. 1987. The Economics of Agricultural Policies. Macmillan Publishing Company. New York. USA.
Djojomartono, M. 2000. Dasar-dasar Analisis Sistem Dinamik. Bahan Perkuliahan Analisis Sistem. Kampus IPB Darmaga. Bogor (Tidak dipublikasikan). Irawan, A. 2001. Perilaku Suplai Padi Ladang dan Sawah di Indonesia dan
Kebijakan Peningkatan Produksi Padi. HTTP://WWW.HAYATI-IPB.COM (Nopember 2004).
Irawan, B., S. Friyatno, A. Supriyatna, I.S. Anugrah, N.A. Kitom, B. Rachman, dan B. Wiryono. 2001. Perumusan Model Kelembagaan Konservasi Lahan Pertanian. Pusat Penelitian Sosial-Ekonomi. Bogor (Tidak dipublikasikan). Muhammadi, E. Aminullah dan B. Soesilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis:
Lingkungan hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. UMJ Press. Jakarta. Sawit, M. H. 2002. Situasi Beras 2002 : Banjir dan Risiko El-Nino. HTTP:
//WWW.KOMPAS.COM.
Sumaryanto. 2001. Konversi lahan sawah ke penggunaan nonpertanian dan dampak negatifnya. hlm 1-18 Dalam Prosiding Seminar Nasional Multifungsi Lahan Sawah, Bogor 1 Mei 2001. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Sutomo, S. 2004. Analisa Data Konversi dan Prediksi Kebutuhan Lahan. Makalah Pertemuan Round Table II Pengendalian Konversi dan Pengembangan Lahan Pertanian. Jakarta, 14 Desember 2004. 14 hlm.
Lampiran 1. Neraca ketersediaan beras nasional 15 tahun ke depan apabila tidak ada terobosan kebijakan pertanian dalam usaha tani padi
Tahun Produksi beras
Cadangan beras
Ketersediaan beras
Kebutuhan beras
Surplus/defisit
juta ton
0 31,30 4,70 26,60 26,75 -0,15 1 31,48 4,77 26,71 27.34 -0.63 2 31,67 4,84 26.83 27.95 -1.12 3 31,86 4,91 26.96 28.55 -1.59 4 32,02 4,97 27.05 29.15 -2.11 5 32,06 5,03 27.02 29.75 -2.72 6 32,58 5,10 27.48 30.35 -2.86 7 32,78 5,16 27.62 30.95 -3.33 8 32,65 5,22 27.43 31.55 -4.12 9 33,16 5,28 27.88 32.14 -4.27 10 33,56 5,34 28.22 32.74 -4.52 11 33,77 5,40 28.37 33.32 -4.95 12 33,97 5,45 28.52 33.91 -5.39 13 34,20 5,51 28.69 34.48 -5.80 14 34,42 5,56 28.86 35.05 -6.20 15 34,29 5,61 28.68 35.62 -6.94