• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penjelasan proses dan koordinasi perenca

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penjelasan proses dan koordinasi perenca"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1. Jawab :

Penjelasan proses dan koordinasi perencanaan pembangunan dan fungsi masing-masing lembaga perencanaan dari tingkat pusat hingga Daerah

Sebagaimana yang tertuang dalam Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan pemban gunan terdiri dari Rencana

Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). RPJP menjadi pedoman dalam penyusunan RPJM untuk kemudian dijabarkan di RKP. Berdasarkan rencana nasional tersebut semua sektor, dalam hal ini lembaga dan kementerian (K/L), menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra K/L) yang berpedoman kepada RPJM dan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L) yang berpedoman kepada RKP.

Rencana pembangunan ini kemudian menjadi pedoman dalam penyusunan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pola perencanaan pembangunan daerah persis sama dengan pola perencanaan pembangungan nasional, dimana RPJP Nasional diacu oleh RPJP Daerah, RPJM Nasional diperhatikan oleh RPJM Daerah dan RKP diserasikan dengan RKP Daerah melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Rencana pembangunan daerah ini menjadi pedoman dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Karena hubungannya yang saling berpedoman maka RPJP Nasional Maupun RPJP Daerah harus saling mengacu dan saling mengisi sehingga RKP dan RKP Daerah dapat serasi dan saling mengisi.

2. Jawab :

ditinjau dari segi ideologis dan politis, perencanaan dibedakan menjadi dua bentuk ekstrim yaitu, perencanaan terpusat (central planning) dan perencanaan indikatif (indicative planning).

a. Perencanaan Terpusat

Dalam perencanaan terpusat semua kegiatan sampai kepada tingkat yang paling rendah dikendalikan oleh pemerintah pusat. Perencanaan ini diterapkan di Uni Soviet, Cina, Korea Utara, Vietnam dan negara-negara komunis lainnya sampai pada tahun 1990. Dalam perencanaan ini seperangkat sasaran yang ditetapkan oleh para perencana pusat merupakan landasan bagi suatu rencana ekonomi yang lengkap (komprehensif). Fungsi alokatif harga dalam sistem ekonomi liberal digantikan sepenuhnya oleh arahan pemerintah pada semua tingkat kegiatan ekonomi. Dengan demikian peranan pemerintah dalam kegiatan ekonomi sangat besar.

Sejak akhir tahun 1980-an di kebanyakan negara-negara komunis dimulai reformasi ke arah desentralisasi pengambilan keputusan, baik dalam bidang ekonomi maupun politik. Intinya adalah memberikan kebebasan dan peran yang lebih banyak kepada usaha-usaha swasta, dan sebaliknya mengurangi kegiatan pemerintah dalam kegiatan ekonomi negara.

b. Perencanaan Indikatif

(2)

Perencanaan indikatif adalah perencanaan yang bertumpu sepenuhnya kepada mekanisme pasar dalam mengalokasikan sumber-sumber produksi dan hasil-hasilnya.

Perencanaan indikatif sering juga disebut dengan perencanaan antisiklis (anti-cyclical planning) dan biasanya diterapkan di negara-negara industri maju (NIM), dimana sektor swastanya sudah kuat dan pasarnya sudah bekerja dengan baik. Tujuan utama perencanaan ini adalah untuk memelihara stabilitas ekonomi (atau terbebas dari fluktasi siklis) dalam kerangka ekonomi yang ada. Kebijaksanaan-kebijaksanaan dan usaha-usaha yang diterapkan untuk mencapai tujuan perencanaan sebagian besar dilaksanakan melalui “operasi pasar”. Perencanaan antisiklis (Anti-cyclical planning) juga disebut “corrective planning” karena tujuannya adalah untuk mengoreksi kecenderungan-kecenderungan tertentu yang tidak menguntungkan dalam perekonomian negara yang bersangkutan.

Serentetan usaha yang diterapkan oleh negara-negara kapitalis maju di Barat pada tahun 1930-an adalah bentuk perenc1930-ana1930-an 1930-antisiklisd1930-an korektif ini. Eksperimen Blum di Per1930-ancis pada tahun 1936-1937 dan eksperimen New-Deal di USA pada tahun 1933 di bawah pemerintahan Presiden Rosevelt adalah beberapa contoh perencanaan Antisiklis di negara-negara ini.

Undang-undang kesempatan kerja USA pada tahun 1946 adalah ilustralis lain mengenai perencanaan kolektif. Ide yang melandasi pengaturan ini adalah untuk mengcounter kekuatan depresi sebagaimana halnya inflasi dengan mengarahkan dan memandu perusahaan-perusahaan swasta. Belanda mungkin merupakan contoh negara yang menerapkan perencanaan antisiklis yang paling efektif. Suatu hal penting yang perlu diingat adalah bahwa pada perencanaan antisiklis pemerintah membatasi dirinya dari intervensi yang terlalu banyak atau hanya bersifat sebagai regulator dalam masalah ekonomi negara yang bersangkutan, tetapi pada waktu yang sama berusaha secara aktif memandu dan mengatur perusahaan-perusahaan swasta agar terhindar dari fluktasi-fluktasi bisnis dalam perekonomian yang bersangkutan.

3. JAWAB :

Tiga Teknik Perencanaan, beserta asumsi yang mendasarinya. 1. TEKNIK ANALISIS SWOT

Analisis SWOT lazim digunakan dalam penyusunan sebuah perencanaan, khusunya rencana strategis (Renstra). Teknik Perencanaan ini menjadi populer karena dia dapat menghasilkan suatu strategi pembangunan yang lebih terarah sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh daerah atau institusi bersangkutan. Disamping itu, dengan menggunakan teknik SWOT akan dapat pula dihasilkan program dan kegiatan yang lebih tepat untuk merebut peluang yang tersedia maupun untuk mengatasi kelemahan yang dihadapi. Dengan demikian penggunaan analisis SWOT akan dapat menggunakan analisis yang lebih kongkrit dan realistis sesuai dengan kondisi dan situasi yang dimiliki oleh daerah atau institusi bersangkutan. Karena itu tidaklah mengherankan bilamana analisis SWOT ini sangat populer dikalangan aperatur pemerintahan dalam penyusunan rencana pembngunan untuk suatu daerah atau institusi tertentu.

(3)

juga sangat populer dalam menyusun rencana pembangunan untuk masing-masing dinas instansi pada tingkat daerah. Aspek lain yang juga mendorong instansi pemerintah untuk menyusun rencana strategis ini adalah karena penyusunan rencana ini lebih terfokus pada aspek-aspek yang bersifat strategis dan langsung mempengaruhi kinerja pembangunan dari dinas dan instansi bersangkutan.

2.

TEKNIK STATISTIK

Perencanaan pembangunan yang baik adalah yang kongkrit dan terukur. Hal ini

sangat diperlukan baik dalam analisis tentang kondisi daerah, arah dan sasaran

maupun kebijakan yang akan ditempuh. Untuk keperluan ini diperlukan analisis data

secara kuantitatif dengan menggunakan metode atau teknik statistik yang tidak harus

terlalu tinggi dan rumit, tetapi cukup dengan yang sederhana saja dan mudah

dimengerti oleh publik. Sangat disadari bahwa hasil perhitungan statistik tidaklah

bersifat pasti karena selalu mengandung kemelesetan (

error

) sekitar 5% sampai 10%.

Namun demikian, bila perencanaan hanya dilakukan secara kualitatif dan normatif

untuk menghindari kemelesetan tersebut, sehingga penyusunan anggaran serta

monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pelaksanaan rencana menjadi sulit

dilakukan.

Ilmu statistik itu sendiri dewasa ini ternyata telah berkembang cukup pesat mulai dari

yang sederhana sampai yang bersifat sulit dan rumit. Perkembangan ini menyebabkan

sudah banyak teknik statistik tersedia yang dapat digunakan sebagai alat bantu untuk

penyusunan rencana pembangunan daerah. Pemilihan teknik statistik mana yang akan

digunakan sangat ditentukan oleh ketersediaan data, kemapuan teknis yang dimiliki

oleh para perencana dan dana yang tersedia untuk penyusunan rencana. Bila dana

tersedia cukup besar, kemampuan perencana cukup tinggi dan data tersedia memadai,

maka sebaiknya teknik statistik yang digunakan adalah yang lebih baik walaupun

perhitungannya lebih sulit dan rumit. Akan tetapi bilamana dan tersedia terbatas,

kemampuan tenaga perencana masih kurang dan data tersedia sangat terbatas, maka

sebaiknya digunakan teknik statistik sederhana saja walaupun tingkat kemelesetannya

akan lebih tinggi.

3. TEKNIK PERENCANAAN REGIONAL

Dalam menyusun dokumen perencanaan pembangunan daerah yang baik,

diperlukan bebarapa teknik perencanaan khusus di bidang perencanaan regional.

Alasannya adalah bahwa teknik perencanaan yang biasanya dipakai dalam

penyusunan perencanaan pembanguna nasional banyak yang tidak sesuai dengan

kondisi dan struktur pembangunan daerah dimana aspek ruang (Space) dan perbedaan

potensi pembanguna antar wilayah merupaka unsur yang sangat penting. Dengan

menggunakan teknik perencanaan regional ini diharapkan penyusunan rencana

menjadi lebih tepat dan terarah. Tenik perencanaan regional yang banyak terpakai

dalam penyusunan perencanaan pembangunan daerah antara lain adalah: Koefisien

Lokasi (Locatioan Quotient), Indeks Konsentrasi Wilayah, Indeks Ketimpangan

Pembangunan regional (Regional Disparity), Shift Share Analysis, Klassen Typology,

Model Gravitasi dan Lowry Model.

4. TEKNIK PREDIKSI

(4)

perencanaan yang baik dan terukur, masa depan tersebut perlu dierkirakan kondisiya

agar strategi dan kebijakan dapat ditentukan secara lebih tepat dan terarah. Karena itu

penyusunan proyeksi atau prediksi tersebut memerlukan teknik dan metode tertentu

yang masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahan tersendiri.

teknik ini membahas berbagai teknik prediksi yang bersifat praktis berdasarkan

pengalaman dalam penyusunan perencanaan pemangunan di masa lalu. Teknik

prediksi ini pada dasarnya adalah sederhana, tetapi bnyak terpakai dalam praktek

penyusunan perencanaan pembangunan daerah. Teknik prediksi yang akan dibahas

meliputi Teknik Regresi Trend, baik liniear maupun non linear, Teknik Sebab dan

Akibat, teknik Rata-Rata Bergerak (Moving Average) dan Model Pertumbuhan

Harrod Domard.

Contoh penerapan :

Pada sebuah Kabupaten Y dilakukan sebuah analisis SWOT dengan menggunakan

data kondisi wilayah dari BPS Kabupaten Y, Kabupaten Y adalah Kabupaten dengan

luas wilayah yang besar dengan jumlah penduduk yang relatif kecil yaitu sebesar

20,000 km persegi dengan jumlah penduduk hanya sebesar 300.000 jiwa berarti

densitas kependudukan hanya sebesar 15 penduduk per kilometer. Angka Kebutuhan

Hidup Layak (KHL) pada tahun 2014 sebesar Rp. 1.300.000 perbulan, mayoritas

pekerjaan penduduknya adalah petani sebesar 70%, 20% adalah profesional baik di

bidang swasta maupun pemerintahan, dan sisanya wiraswasta, dari sisi pendidikan

penduduk usia sekolah rata-rata putus sekolah pada tingkat pendidikan Sekolah

Menengah Pertama dikarenakan prioritas orang tua untuk mengarahkan anaknya agar

menjadi petanbi sebagaimana orangtuanya.

Berdasarkan sebagian kecil dari kondisi tersebut dapat diambil kesimpulan analisis

SWOT sebagai berikut :

Strength :

1. Luas Wilayah yang sangat besar

2. Pertanian merupakan sektor yang telah memiliki fondasi yang kuat.

3. Angka KHL yang terbilang cukup rendah, hal ini dikarenakan kebutuhan hidup

layak seperti sandang, papan dan pangan telah dapat dicapai dengan biaya yang

cukup rendah.

Weakness :

1. Jumlah Penduduk yang relatif kecil

2. Pendidikan dasar penduduk kurang baik

Opportunity :

1. Pemberdayaan Masyarakat di bidang pertanian dan perkebunan dapat dilakukan

dengan baik karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani

2. Dengan angka KHL yang relatif rendah apabila penghasilan masyarakat tinggi

masyarakat dapat memiliki dana lebih untuk membangun industri, terutama

industri terkait pangan.

(5)

Threat :

1. Kesadaran akan pendidikan dasar kurang ada sehingga putus tingkat putus

sekolah tinggi / hanya sampai tingkat SMP.

2. Kurangnya kemampuan SDM Karena tingkat pendidikan yang terbatas

Berdasarkan analisis SWOT diatas dapat dilakukan pengambilan kebijakan

Pemerintah untuk :

1. Mengembangkan sektor pertanian dengan menambah varietas dari hasil pertanian

dan juga menambahkan hasil perkebunan, Pemerintah dapat memberdayakan

masyarakat dengan membuka wilayah perttanian/perkebunan baru dengan cara

membangun infrastruktur akses dan irigrasi, serta memberikan pembinaan pada

kelompok tani dan memberikan subsidi pupuk, pestisida dan alat-alat.

2. Membangun fasilitas untuk memberdayakan dan memberikan pengetahuan pada

masyarakat pada teknik perkebunan, pertanian, dan peternakan.

3. Membangun fasilitas untuk mengembangkan bibit hewan ternak/budidaya ikan

agar masyarakat dapat mengambil bibit ternak dan ikan dengan harga terjangkau.

4. Membangun akses infrastruktur untuk pasar dalam wilayah dan membuka akses

transportasi ke wilayah lainnya sehingga hasil tani, ternak dan kebun dapat

dilakukan

5. Secara berkala pemerintah melakukan pemantauan dan pencegahan penyebaran

penyakit hewan ternak, tambak ikan, dan hama tanaman.

6. Pemerintah mewajibkan dan mensosialisasikan program wajib belajar dan

menggalakkan program untuk mencegah anak-anak usia sekolah untuk bekerja

7. Pemerintah menginisiasi program untuk membangun industri pengolahan dengan

melakukan pembinaan dan bantuan-bantuan subsidi sehingga daerah tidak hanya

menjual produk mentah saja, namun sudah memiliki produk jadi atau setengah

jadi, dengan fokus awal pada produk industri pangan

4. JAWAB :

Analisis SWOT Pada Unit Layanan Pengadaan Kabupaten Kutai Barat.

5. JAWAB :

Apa yang dimaksud dan jelaskan :

(6)

IBRD berpusat di Negara Bagian Washington D.C Amerika Serikat dengan keanggotaan sebanyak 188 negara.

b. Survey Delphi : Metode Delphi adalah modifikasi dari teknik brainwriting dan survei. Dalam metode ini, panel digunakan dalam pergerakan komunikasi melalui beberapa kuisioner yang tertuang dalam tulisan. Teknik Delphi dikembangkan pada awal tahun 1950 untuk memperoleh opini ahli. Objek dari metode ini adalah untuk memperoleh konsensus yang paling reliabel dari sebuah grup ahli. Teknik ini diterapkan di berbagai bidang, misalnya untuk teknologi peramalan, analisis kebijakan publik, inovasi pendidikan, program perencanaan dan lain – lain.

Metode Delphi dikembangkan oleh Derlkey dan asosiasinya di Rand Corporation, California pada tahun 1960-an. Metode Delphi merupakan metode yang menyelaraskan proses komunikasi komunikasi suatu grup sehingga dicapai proses yang efektif dalam mendapatkan solusi masalah yang kompleks.

Pendekatan Delphi memiliki tiga grup yang berbeda yaitu : Pembuat keputusan, staf, dan responden. Pembuat keputusan akan bertangungjawab terhadap keluaran dari kajian Delphi. Sebuah grup kerja yang terdiri dari lima sampai sembilan anggota yang tersusun atas staf dan pembuat keputusan, bertugas mengembangkan dan menganalisis semua kuisioner, evaluasi pengumpulan data dan merevisi kuisioner yang diperlukan. Grup staf dipimpin oleh kordinator yang harus memiliki pengalaman dalam desain dan mengerti metode Delphi serta mengenal problem area. Tugas staf kordinator adalah mengontrol staf dalam pengetikan. Mailing kuesioner, membagi dan proses hasil serta pernjadwalan pertemuan. Responden adalah orang yang ahli dalam masalah dan siapa saja yang setuju untuk menjawab kuisioner.

Prosedur Delphi mempunyai ciri – ciri yaitu : 1. Mengabaikan nama

2. Iterasi dan feedback yang terkontrol

3. Respon kelompok secara statistik (Chang, 1993)

Jumlah dari iterasi kuesioner Delphi bisa tiga sampai lima tergantung pada derajat kesesuaian dan jumlah penambahan informasi selama berlaku. Umumnya kuesioner pertama menanyakan kepada individu untuk merespon pertanyaan dalam garis besar. Setiap subsequen kuisioner dibangun berdasarkan respon kuisioner pendahuluan. Proses akan berhenti ketika konsensus mendekati partisipan, atau ketika penggantian informasi cukup berlaku.

Prosedur metode Delphi adalah sebagai berikut : 1. Mengembangkan pertanyaan Delphi

(7)

pertanyaan maka masukan proses adalah sia –sia. Elemen kunci dari langkah ini adalah mengembangkan pertanyaan yang dapat dimengerti oleh responden. Anggota staf harus menginterview pembuat keputusan benar – benar jelas mengenai pertanyaan yang dimaksud dan bagaimana informasi tersebut akan digunakan.

2. Memilih dan kontak dengan responden

Partisipan sebaiknya diseleksi dengan dasar ; secara personal responden mengetahui permasalahan, memiliki informasi yang tepat untuk dibagi, tranformasi untuk melengkapi Delphi dan responden merasa bahwa agregasi pendapat panel responden akan termasuk informasi yang mereka nilai dan mereka tidak mengakses dengan cara lain. Seleksi aktual dari responden umumnya menyelesaikan melalui penggunaan proses nominasi.

3. Memilih ukuran sampel

Ukuran panel responden bervariasi dengan kelompok yang homogen dengan 10 – 15 partisipan mungkin cukup. Akan tetapi dalam sebuah kasus dimana refrence yang bevariasi diperlukan maka dibutuhkan partisipan yang lebih besar.

4. Mengembangkan kuisioner dan test 1

Kuisioner pertama dalam Delphi mengikuti partisipan untuk menulis respon pada garis besar masalah. Sampul surat termasuk tujuan, guna dari hasil, perintah dan batas akhir respon.

5. Analisa kuisioner 1

Analisa kuisioner harus dihasilkan dalam ringkasan yang bersisi bagian – bagian yang diidentifikasi dan komentar dibuat dengan jelas dan dapat dimengerti responden terhadap kuisioner 2. Anggota grup kerja mendokumentasikan masing – masing respon pada kartu indeks, memilih kartu kedalam katagori umum, mengembangkan sebuah konsensus pada label untuk masing – masing katagori dan menyiapkan ringkasan bayangan yang berisi katagori – katagori.

6. Pengembangan kuisioner dan test 2

Kuisioner kedua dikembangkan menggunakan ringkasan responden dari kuisioner 1. Fokus dari kuisioner ini adalah untuk mengidentifikasikan area yang disetujui dan yang tidak, mendiskusikan dan mengidentifikasi bagian yang diinginkan serta membantu partisipan mengetahui masing – masing posisi dan bergerak menuju pendapat yang akurat, responden diminta untuk memilih pada ringkasan bagian kuisioner 1

7. Analisa kuisioner 2

(8)

tahapan ini adalah untuk menentukan jika informasi lengkap akan membantu untuk penyelesaian masalah atau paling tidak membuktikan untuk digunakan di berbagai cara. 8. Mengembangkan kuisioner dan test 3

Kuisioner 3 didesain untuk mendorong masukan proses Delphi 9. Analisis kuisioner 3

Analisa tahap ini mengikuti prosedur yang sama pada analisis kuisioner 2 10. Menyiapkan laporan akhir

c. Pada Tabel Analisis Input-Output Backward linkage dan indirect linkage adalah metode identifikasi sector-sektor unggulan di suatu daerah, dimana backward linkage melakukan identifikasi dengan memperhatikan dampak kebelakang dan forward linkage melakukan identifikasi dengan memperhatikan dampak kedepan. Analisis diakukan dengan memperhatikan sector unggulan, Jika pada sector, sebut saja sector i meningkatkan produksinya maka terjadi peningkatanpermintaan terhadap input dari sektor-sektor lainnya, hal ini sering disebut keterkaitan ke belakang (backward linkage). Suatu sektor dengan nilai backward linkage lebih besar dibanding dengan sektor lainnya berarti bahwa ekspansi dalam produksi sektor tersebut akan mengakibatkan dampak ekonomi yang lebih besar bagi perekonomian, dalam arti menarik kegiatan produksi yang lebih besar dalam menyediakan input bagi sektor i. Disisi lain, peningkatan

produksi sektor i juga mengakibatkan peningkatan penawaran bagi sektor lainnya (forward linkage). Suatu sektor dengan nilai forward linkage yang

relatif besar akan mendorong sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor i sebagai input produksinya untuk meningkatkan aktivitasnya.

Suatu sektor dikatakan sebagai sektor unggulan (Amir dan Nazara, 2005) jika memiliki angka daya penyebaran (backward linkage) dan daya kepekaan (forward linkage) lebih besar dari satu. Backward linkage menggambarkan hubungan antara suatu sektor dengan input sektornya. Backward linkage merupakan suatu perhitungan untuk melihat keterkaitan antara suatu sector dengan sektor input yang telah digunakan dalam proses produksi. Forward linkage merupakan suatu perhitungan untuk melihat keterkaitan antara suatu sektor dengan sektor lainnya yang akan memakainya sebagai input dalam proses produksi.

d. Employment Multiplier Effect, Income Multiplier Effect dan Output Multiplier Effect Multiplier effect merupakan suatu hal yang memberikan dampak mengembang atau mengintensifkan, menggandakan (bersifat mengalikan), perubahan terhadap employment multiplier effect dan income multiplier effect mempengarui output multiflier effect.

(9)

pekerjaan (employee) akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan suatu daerah, dalam hal ini adalah output multiflier effect adalah terjadi pertambahan pada tingkat konsumsi pada pasar dan juga penerimaan pajak penghasilan apabila employment multiflier effect bertambah.

Demikian juga pada income multiflier effect yang bertambah akan berdampak positif pada output multiflier effect dari sisi penerimaan pajak penghasilan yang bertambah dan kecenderungan untuk melakukan tingkat konsumsi produk-produk sekunder dan tersier.

e. Shadow Price : Shadow Price (harga bayangan) atau disebut juga Accounting Prices dapat dianggap sebagai suatu penyesuaian yang dibuat oleh si penilai proyek terhadap harga-harga pasar beberapa faktor produksi atau hasil produksi tertentu, berhubung harga-harga pasar itu dianggap tidak mencerminkan/mengukur biaya atau nilai sosial yang sebenarnya (social opportunity cost) dari unsur-unsur atau hasil produksi tersebut. Shadow Price dari suatu produk atau faktor produksi merupakan social opportunity cost, yaitu nilai tertinggi suatu produk atau faktor produksi dalam penggunaan alternatif yang terbaik. Gagasan shadow price dikembangkan tahun 1950-an, dengan perhatian yang terpusat pada masalah pengangguran di negara berkembang, baik pengangguran terbuka maupun pengangguran terselubung (orang yang memang aktif mencari penghasilan, tetapi produktivitasnya sangat rendah). Seorang pengangguran tidak berproduksi, maka shadow wage yang sebenarnya sama dengan nol. Namun ada juga yang mengasumsikan bahwa penggunaan tenaga kerja tak terdidik tidak mempunyai opportunity cost.

Di perekonomian modern berhubungan erat dengan penciptaan kesempatan kerja melalui kegiatan ekonomi. Artinya, yang menarik tenaga kerja untuk datang dari daerah pedesaan dan menetap di kota atau lain daerah pembangunan bukannya tawaran tempat kerja yang mantap, melainkan kemungkinan mendapat pekerjaan yang memberikan tingkat pendapatan riil diatas tingkat yang dinikmati di pedesaan. Penampungan tenaga kerja dalam proyek pembangunan, walaupun tenaga penganggur, secara tidak langsung mempengaruhi tingkat produksi di pedesaan. Pengorbanan produksi tersebut diambil sebagai social opportunity cost faktor produksi tenaga kerja tak terdidik.

f. Direct Linkage dan Indirect Linkage : Telah diketahui bahwa Multiplier effect merupakan suatu hal yang memberikan dampak mengembang atau mengintensifkan, menggandakan (bersifat mengalikan), multiflier effect antar masing-masing kategori pengganda (contoh : employment multiflier effect, income multiflier effect, dan output multiflier effect) ada yang mempengaruhi satu sama lainnya dengan pengaruh langsung (direct effect) atau tidak langsung (indirect effect), sebagai contoh dapat digunakan ilustrasi sebagai berikut :

(10)

effect, pada penerimaan pajak penghasilan otomatis akan mengalami peningkatan karena semakin banyak lapangan kerja tercipta maka pendapatan Negara melalui pajak penghasilan akan bertambah, peningkatan penerimaan pajak penghasilan ini merupakan indirect effect / dampak tidak langsung dari peningkatan harga batu bara, namun bila dilihat dari sisi employment multiflier effect yaitu peningkatan tenaga kerja memiliki relasi berdampak langsung / direct effect pada peningkatan pajak penghasilan.

g. Kelebihan dan kekurangan dari analsis I-O :

Keuntungan yang diperoleh dalam menggunakan model I-O dalam perencanaan pengembangan wilayah yaitu :

1. Model I-O dapat memberikan deskripsi yang detail mengenai perekonomian nasional ataupun perekonomian regional dengan mengkuantifikasikan ketergantungan antar sektor dan asal (sumber) dari ekspor dan impor.

2. Untuk suatu set permintaan akhir dapat ditentukan besarnya output dari setiap sektor, dan kebutuhannya akan faktor produksi dan sumber daya.

3. Dampak perubahan permintaan terhadap perekonomian baik yang disebabkan oleh swasta maupun pemerintah dapat ditelusuri dan diramalkan secara terperinci.

4. Perubahan-perubahan teknologi dan harga relatif dapat diintegrasikan ke dalam model melalui perubahan koefisien teknik

Sedangkan kelemahan model I-O ini antara lain : 1. asumsi-asumsi yang agak restriktif

2. biaya pengumpulan data yang besar

3. Adanya hambatan-hambatan dalam mengembangkan model dinamik, yaitu : a. biaya yang relatif besar dalam pengumpulan data;

b. Sulitnya mengumpulkan data pokok yang memadai dan c. keterbatasan kemampuan teknis.

h. Pengganda Kesempatan Kerja (employment multiflier effect) Pada analisisnya Terbagi menjadi dua tipe yaitu Tipe I dan Tipe II, Tipe I adalah adalah berdampak tidak langsung sedangkan tipe II adalah berdampak tidak langsung dan terinduksi. Tipe I menghitung dengan meliputi pada efek awal ditambah efek putaran pertama ditambah efek dukungan industry yang hasilnya dibagi dengan efek awal, sedangkan pada Tipe II menghitung dengan pada efek awal ditambah efek putaran pertama ditambah efek dukungan industry ditambah efek induksi konsumsi yang hasilnya dibagi dengan efek awal

i. Analisis IO adalah : suatu uraian statistik dalam bentuk matriks yang menggambarkan transaksi penggunaan barang dan jasa antar berbagai kegiatan ekonomi. Sebagai metode kuantitatif, analisis I-O yang dituangkan dalam Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang:

(11)

lain, struktur permintaan barang dan jasa, meliputi permintaan oleh berbagai sektor produksi di sebuah daerah dan permintaan untuk konsumsi, investasi dan ekspor keluar daerah tersebut.

Dalam penyusunan Tabel Input-Output itu sendiri, bagi pengguna, akan memberikan gambaran tentang seberapa jauh konsistensi antar berbagai data yang digunakan. Oleh karena itu penghayatan tentang proses tersebut bermanfaat untuk menilai mutu keserasian data statistik dan kemungkinannya untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan dimasa yang akan datang.

Penyusunan model input-output ini harus memenuhi tiga asumsi, yaitu: (1) asumsi homogenitas (suatu sektor memproduksi suatu output tunggal dengan struktur input tunggal, dan tidak ada subtitusi otomatis antara berbagai sektor), (2) asumsi proporsionalitas (dalam proses produksi hubungan antara input dengan output merupakan fungsi linear), (3) asumsi aditivitas (efek total pelaksanaan produksi di berbagai sektor dihasilkan oleh masing-masing sektor secara terpisah). Dengan adanya asumsi-asumsi tersebut, model input-output bersifat terbuka dan statis, artinya rasio input-output tetap konstan sepanjang periode analisis. Produsen tidak dapat menyesuaikan perubahan-perubahan inputnya atau mengubah proses produksi. Asumsi tersebut juga mengisyaratkan penolakan adanya pengaruh perubahan teknologi ataupun produktivitas.

Sedangkan model input output dinamis artinya rasio input-output berubah dan diperbaharui sepanjang periode analisis. Produsen dapat menyesuaikan perubahan-perubahan inputnya atau mengubah proses produksi. Asumsi tersebut juga mengisyaratkan bahwa model yang ada menerima adanya pengaruh perubahan teknologi ataupun produktivitas.

6. Analisis IO 7. JAWAB :

A. Pemerintah daerah sebagai entrepreneur berarti pemerintah bertanggung jawab untuk menjalankan suatu usaha bisnis di daerahnya. Dalam hal ini pemerintah bisa mengembangkannya melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau bermitra dengan dunia usaha swasta namun kegiatan usahanya tetap dalam pengendalian pemerintah daerah.

(12)

C. Pemerintah daerah dapat berperan sebagai fasilitator dengan cara mempercepat pembangunan melalui perbaikan lingkungan perilaku atau budaya di masyarakat di daerahnya. Hal ini perlu dilakukan untuk mempercepat proses pembangunan dan prosedur perencanaan, secara pengaturan penetapan tata ruang daerah yang lebih baik.

D. Pemerintah dapat berperan sebagai stimulan dalam penciptaan dan pengembangan usaha melalui tindakan-tindakan ksusu yang dapat memengaruhi dunia usaha untuk masuk ke daerah tersebut dan menjaga agar perusahaan-perusahaan yang telah ada tetap eksis berada di daerah tersebut. Stimulus ini dapat dilakukan antara lain dengann pembuatan brosur-brosur pembangunan kawasan industri, pembuatan outlet untuk produk-produk UMKM dan koperasi, membantu UMKM dan koperasi untuk melakukan pameran, dan sebagainya.

8. Jawab : ICOR = ∆K/∆Y dimana

∆K = tambahan stok kapital (capital stock) / Tambahan Investasi yang diperlukan ∆Y = tambahan output atau pendapatan wilayah (PDRB)

Diketahui :

PDRB Awal = 357.000.000.000.000 Icor =3.7

Untuk mencari ∆Y maka perlu dipahami terlebih dahulu konsep Y , maka

Sehingga menghitung ∆Y adalah dengan carA memperhitungkan peningkatan konsumsi rumah tangga dan pengeluaran konsumsi pemerintah yang menjadi target / pertumbuhan ekonomi, sehingga :

Pertumbuhan ekonomi = 3.25% Pertumbuhan penduduk = 2.1% Maka :

∆Y = (357.000.000.000.000 *3.25%) + (357.000.000.000.000 *2.1%) = 19.099.500.000.000

ICOR = ∆K/∆Y …. (1) ∆K = ICOR * ∆Y …. (2)

= 3.7 *19.099.500.000.000 = 70.668.150.000.000 = 70,668150 T

Maka diperlukan pertambahan investasi sebesar 70,668150 T dari Investasi pada tahun sebelumnya.

9. JAWAB :

(13)

Dalam melakukan pembangunan, Indonesia mengenal suatu sistem yang mengatur pembangunan di Indonesia, dengan ruang lingkup nasional maupun daerah yaitu, SPPN (Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional). SPPN ini tercantum dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2004. Dalam rangka realisasi Sistem Perencanaan Pembangunan dan Daerah ini, maka sudah sepatutnya memiliki sasaran pokok yang ingin dicapai SPPN, jenis dokumen beserta mekanisme pelaksanaannya dan pastinya juga ada permasalahan yang dihadapi. SPPN 2004 ini, dikeluarkan pemerintah untuk memperbaiki berbagai kelemahan perencanaan pembangunan yang dirasakan di masa lalu.

Permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam melakukan perencanaan pembangunan yaitu diantaranya adanya egosektoral antara para aparat pemerintah dalam melaksanakan kegiatan pembangunan, yang menyebabkan sulitnya koordinasi dalam penyusunan rencana dan pelaksanaan pembangunan, dan juga dapat memunculkan kurang optimalnya pelaksanaan proses pembangunan, serta tidak tepat sasaran yang ingin dituju. Permasalahan lainnya seperti kurangnya sinkronisasi antara perencanaan dan pengawasan sehingga menimbulkan ketidakselarasan antara apa yang dilaksanakan dengan apa yang diharapkan, dengan waktu dan dana yang habis digunakan secara sia-sia, dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahan dalam mewujudkan perencanaan pembangunan di Indonesia.

Berikutnya, hal yang peru diperhatikan dalam merealisasikan SPPN, yaitu berupa sasaran pokok. Sasaran pokok ini terdiri dari lima hal yaitu:

– Meningkatkan keterpaduan dan sinergitas perencanaan antara pusat dan daerah serta antar daerah.

– Meningkatkan koordinasi antar pelaku pembangunan sehingga hasil yang diharapkan menjadi lebih optimal

– Meningkatkan keterpaduan antara perencanaan, pengaanggaran, pelaksanaan, dan pengawasan – Mengoptimalkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam penyusunan dan pelaksanaan perencanaan pembangunan.

– Menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif, dan adil.

Dalam proses perwujudan SPPN, terdapat lima dokumen yang dijadikan sebagai bukti nyata dari hasil kegiatan perencanaan yang telah dilakukan sebelumnya. Lima dokumen perencanaan tersebut yaitu, - RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang)

- RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Mengengah) - Renstra (Rencana Strategis)

(14)

- Renja (Rencana Kerja Institusi).

Proses dan mekanisme penyusunan rencana pembangunan ada dua yaitu ada rencana pembangunan nasional dan juga rencana pembangunan daerah. Pada dasarnya, mekanisme atau alur penyusunan rencana pembangunan nasional dengan daerah sama, dan perbedaannya hanya terletak di lembaga yang terlibat pada setiap tahapan perencanaan.

Berikut merupakan alur penyusunan rencana pembangunan yaitu:

A. Menteri perencanaan pembangunan nasional dibantu oleh BAPPENAS menyiapkan rancangan berupa konsep awal RPJP Nasional, dan Kepala BAPPEDA menyiapkan rancangan RPJP untuk daerahnya masing-masing.

B. Rancangan RPJP Nasional dan RPJP Daerah kemudian dijadikan bahan utama bagi Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) jangka panjang. (dalam Musrenbang diikutsertakan pemuka, tokoh masyarakat, pemuka adat, cerdik pandai, LSM, dll) hal ini untuk menyerap aspirasi masyarakat dalam memberikan masukan. Kemudian, rincian prosedur pelaksanaan Musrenbang ini diatur lebih lanjut dalam surat edaran Mendagri dan Menteri Perencanaan Pembangunan. C. Reorientasi perencanaan pembangunan daerah

merupakan salah satu solusi dalam pelaksanaan perencanaan pembangunan daerah yang akan dilakukan dalam era otonomi agar lebih terarah dan efisien. Reorientasi tersebut berupa arah perencanaan, sistem, kegiatan, serta kelembagaan perencanaan daerah. Dalam reorientasi ini, sudah pastinya membutuhkan lembaga perencanaan darah yang lebih bagus, kuat dan berkualitas. Karena tuntutan kewenangan daerah dalam mengelola kegiatan pembangunan daerah sudah semakin besar. Dan keberhasilan reorientasi tersebut bergantung pada kemampuan dan kualitas dari BAPPEDA (Badan Perencanaan Pemerintah Daerah). Oleh karena itu peranan BAPPEDA dalam hal ini, sangatlah penting. 10. JAWAB :

-

Lingkungan Fisik sebagai sumberdaya perencanaan

(15)

daya tarik tersebut seperti kualitas hidup, sumber saya alam, kekayaan/keindahan

alam, varietas hasil bumi dan lain-lain yang sekiranya dapat dikembangkan oleh

pihak swasta untuk memperoleh keuntungan.

- Lingkungan Regulasi sebagai sumberdaya Perencanaan

Adalah salah satu sumber daya berupa insentif dan kebijakan keuangan dari pemerintah unutk mendukung proses pembangunan ekonomi. Dengan kata lain, untuk menarik dan mengembangkan dunia usaha didaerahnyta perlu penyederhanaan sistem regulasi. Misalnya beberapa daerah belakangan ini menciptakan peningkatan kualitas pelayanan seperti mempercepat proses perizinan, melakukan transparansi dan efisiensi proses perizinan sehingga proses perizinan dapat menjadi lebih cepat, berbiaya murah, dan adil bagi semua orang.

- Lingkungan Attitudinal sebagai Sumberdaya Perencanaan

Adalah sumber daya pada suatu daerah terkait dengan sikap (attitude) dari masyarakat suatu daerah, sebagai contoh bila masyarakat dalam suatu daerah lebih terbuka terhadap bisnis, dan memiliki sikap yang positif dan berorientasi untuk melayani secara profesional, maka daerah tersebut akan menjadi tujuan bagi pihak swasta untuk mengembangkan bisnis dibidang jasa, sebaliknya jika dalam suatu daerah tersebut penduduknya dikenal dengan anti bisnis dan bersikap kedaerahan secara primordial dengan berpandangan sempit pada Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan tertentu saja maka daerah tersebut akan kesulitan mengembang bisnis dan menerima investasi ekspansi bisnis dari pengusaha luar daerah.

11. JAWAB :

Evaluasi merupakan proses menentukan nilai atau pentingnya suatu kegiatan, kebijakan, atau program. Evaluasi adalah sebuah penilaian yang seobyektif dan sesistematik mungkin terhadap sebuah intervensi yang direncanakan, sedang berlangsung atau pun yang telah diselesaikan. Evaluasi menurut PP 39/2006, adalah Rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar yang telah ditetapkan. Masukan untuk perencanaan yang akan datang.

(16)

Periodisasi Pelaksanaan Evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan, melalui tahapan sebagai berikut:

a. Tahap Perencanaan (ex ante). Tahapan dilakukan sebelum ditetapkannya rencana pembangunan, tahapan ini untuk melihat rasionalitas pilihan, target dan kesuaian antar dokumen perencanaan.

b. Tahap Pelaksanaan (on going). Tahapan dilakukan saat pelaksanaan Kegiatan, tahapan ini untuk menjamin kegiatan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. c. Tahap Pasca Pelaksanaan (ex post). Tahapan dilaksanakan setelah pelaksanaan rencana

berakhir. Bertujuan untuk menilai pencapaian (keluaran/ hasil/ dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan, serta untuk menilai efisiensi, efektivitas dan dampak terhadap sasaran), ataupun manfaat dari suatu program.

Sehingga dapat disimpulkan pada dasarnya, evaluasi ialah suatu cara untuk menilai apakah suatu kebijakan atau suatu program berjalan dengan baik atau tidak dengan memperhatikan ketiga tahapan yang telah disebutkan diatas karena tiap tahap memiliki permasalahannya masing-maSING. Suatu evaluasi sangat diperlukan ketika ingin mengatasi sebuah permasalahan. Evaluasi juga menjadi salah satu tingkatan dalam proses pengambilan kebijakan publik. Evaluasi itu sendiri menjadi langkah akhir dalam proses pengambilan suatu kebijakan yang tentunya kebijakan tersebut berdasar pada aktivitas sebelumnya. Oleh karenanya, evaluasi terhadap kebijakan publik dipandang sebagai kegiatan fungsional karena semua elemen kebijakan tersebut dari awal sampai terbentuknya kebijakan terus dievaluasi.

Evaluasi Proyek Pemerintah adalah evaluasi terhadap masing-masing proyek dan pada tahapan-tahapan yang terkandung didalamnya yang dimiliki dan dilaksanakan oleh pemerintah untuk melihat perkembangan kemajuan proyek dan tahapan didalamnya, dibandingkan dengan rencana dari proyek pembangunan tersebut sudah sejauh mana perkembangannya, bila menyimpang sejauh mana penyimpangan misalkan sebagai contoh pada proyek pembangunan jalan, rencana selesai 100% dalam tempo 3 bulan. kemudian pada bulan ke 2 diadakan evaluasi proyek, ternyata baru selesai 50 %, berarti ada penyimpangan keterlambatan sehingga dapat dilakukan pengambilan keputusan agar proyek dapat berjalan dengan semestinya.

(17)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam normalitas harga RV dipilih E24 atau E48 Dengan harga tahanan depan yang tinggi, maka hilang daya pada tahanan depan dan dioda zener akan menjadi

> assembly chart untuk satu mesin dibuat di Microsoft Visio, ditempatkan pada kertas A2 terpisah dari laporan, silahkan tulis di bagian ini : “TERLAMPIR”.. Cukup cantumkan tiga

Citra merek, kualitas produk, dan kepuasan konsumen secara bersama-sama (simultan) berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen Samsung Galaxy Series pada

“Sengaja aku solat ke atas mayat kanak-kanak (lelaki) ini empat takbir fardu kifayah menjadi imam / mengikut imam kerana Allah Taala.”.. NIAT SHALAT JENAZAH 

Transendensi diri merupakan suatu kontinuum, mulai dari sense of self yang lebih luas mencakup sense of self sebagai individu yang terpisah dari individu lain dan sebagai

pembelajaran rata-rata 3,25, pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa rata-rata 3,00, penilaian dan hasil proses belajar 4,00, penggunaan bahasa 4,00,

PENGASUHAN ANAK PADA KELUARGA SINGLE PARENT.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Kedua pengungsi konflik Sampang yaitu subjek Z dan R merupakan individu yang resilien dimana hal itu digambarkan dari para pengungsi memiliki ketujuh kemampuan