STUDY POTENTIAL OF EARLY MATURING CANE AS BIOETHANOL RAW
MATERIAL IN DRY AND RAINY SEASON
S
RIW
INARSIH1)DANS
IMPINGY
ULIATUN1)1) Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Pasuruan
(Alamat korespondensi, Email: [email protected])
(Naskah diterima 16 September 2014, disetujui 20 Oktober 2014)
ABSTRAK
Menipisnya cadangan minyak bumi di Indonesia, meningkatnya impor bahan bakar minyak (BBM) dan tuntutan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, mendorong ditemukannya bahan bakar alternatif sebagai pengganti BBM. Salah satu bahan bakar nabati yang cukup prospektif untuk substitusi BBM adalah bioetanol yang berasal dari tebu genjah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan klon tebu genjah yang berpotensi menghasilkan bioetanol tinggi pada musim kemarau dan penghujan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga kali ulangan. Perlakuan adalah macam klon tebu genjah dan musim panen. Sepuluh klon tebu genjah dan satu klon kontrol (PSCO 902) ditanam bulan Maret untuk panen musim kemarau dan bulan Juli untuk panen musim penghujan. Tebu dipanen umur 8 bulan dan diamati produktivitasnya dari masing-masing klon. Produksi bioetanol ditentukan berdasar kandungan total gula (TSAI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tebu genjah mempunyai prospek yang baik digunakan sebagai bahan baku bioetanol. Tebu genjah yang dapat ditanam untuk dipanen musim kemarau dan penghujan adalah PS 99-1130 dan PS 99-1115 dengan potensi bioetanol 9.126 dan 8.679 liter ha-1 (kemarau) dan 7.973 dan 8.654 liter ha-1 (penghujan). Sedangkan yang dipanen musim kemarau adalah PS 99-1119 dan PS 58/1-4000/1 dan untuk penghujan PS 99-1113 dan DB 1/14. Klon-klon tersebut lebih unggul dibanding kontrol dengan potensi 8.165 dan 6.381 liter ha-1 berturut-turut untuk musim kemarau dan penghujan.
Kata kunci: tebu genjah, musim kemarau, musim penghujan, bioetanol
ABSTRACT
PENDAHULUAN
Di Indonesia, pada tahun 2013 konsumsi premium sangat tinggi yaitu mencapai 1,4 juta barrel, disisi lain cadangan minyak bumi semakin menipis. Sudah saatnya penggunaan bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM) mendapat perhatian dan dukungan. Bioetanol merupakan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Selain dapat menurunkan polusi, bioetanol dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Di Brazil, bioetanol yang berasal dari tebu, digunakan sebagai bahan bakar dan dapat mereduksi 61% emisi gas rumah kaca (Pandey, 2009).
Bioetanol dari tebu adalah salah satu bioenergi yang paling menjanjikan karena keseimbangan energetik dan umumnya positif. Pertumbuhan tebu menyerap karbon lebih banyak daripada yang diemisikan ketika bioetanol dibakar sebagai bahan bakar (Oliveira et al., 2005). Tebu adalah sumber nira dengan biomassa per hektar tertinggi di antara tanaman energi lainnya, yaitu antara 75-120 ton ha-1. Potensi produksi bioetanol dari tebu bisa mencapai 90 – 119 liter ton-1 atau 6.800 -15.000 liter ha-1 (Hunsigi et al., 2006, Li et al., 2006, dan Tan, 2006). Menurut Lee dan Bressan (2006), tebu per tahun mampu menghasilkan etanol sebesar 6.000 liter ha-1, sementara jagung 3.420 liter ha-1, ubi kayu 3.250 liter ha-1 dan kentang 2.600 liter ha-1.
Tebu cukup prospektif dilihat dari biaya produksi etanol yang lebih rendah dari komoditi lainnya. Data dari IEA (International Energy Agency) menunjukkan bahwa biaya produksi bioetanol per liter GE (“gasoline equivalent”) jika berasal dari tebu adalah 0,20-0,35 USD, dari jagung sebesar 0,42 – 0,60 USD dan dari biji-bijian lainnya sebesar 0,50 – 0,80 USD (Anonymous, 2007).
Pengujian potensi varietas–varietas tebu telah banyak dilakukan di beberapa negara seperti India, Amerika Serikat, Hawai (Anonymous, 2006). Varietas-varietas tebu untuk memenuhi kebutuhan biofuel yang dicari saat ini adalah varietas-varietas yang memiliki kandungan biomassa tinggi, berserat
tinggi dan memiliki total gula terfermentasi yang tinggi. Di Amerika Serikat varietas tebu yang berpotensi sebagai bahan biofuel dipilih dari varietas tebu yang memiliki kadar sabut 15,4 – 18,6% yang dikombinasikan dengan kandungan sukrosa sedang 8,3 -12,6%. Varietas dengan karakter tersebut yang disarankan untuk dapat menghasilkan bioetanol dan listrik yang lebih besar (Cobill et al., 2005). Varietas tebu yang cocok untuk produksi bioetanol juga telah diperoleh di India yaitu varietas Co 7717 dengan produksi 8.050 liter ha-1, menggantikan varietas sebelumnya CoJ 64 dengan produksi 6.718 liter ha-1 (Anonymous, 2008).
Tebu yang digunakan untuk bioetanol berbeda dengan tebu untuk industri gula. Tebu untuk bioetanol tidak perlu menghasilkan sukrosa tinggi, tetapi yang terpenting adalah kadar gula total yang tinggi. Oleh karena itu saat panen tebu tidak perlu menunggu umur tanaman 12 bulan. Apabila tebu umur 8 bulan telah mempunyai kadar gula total yang tinggi, tebu dapat dipanen untuk bahan baku bioetanol. Tebu yang dapat dipanen sekitar umur 8 bulan dengan kandungan gula total yang tinggi tersebut disebut “tebu genjah”.
Gula yang diperlukan untuk fermentasi bioetanol tidak hanya terbatas pada sukrosa saja, tetapi bisa berupa glukosa dan fruktosa. Faktor iklim selama ini menjadi faktor pembatas dalam penimbunan sukrosa, menjadi kurang dominan pengaruhnya. Tebu genjah diharapkan dapat dipanen pada musim kemarau maupun penghujan asalkan kadar gula total yang dihasilkan tinggi.
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) sejak tahun 2006, telah melakukan seleksi klon-klon tebu genjah hasil eksplorasi dari plasma nutfah dan klon-klon tebu hasil persilangan (hibridisasi) PS 98 dan PS 99, untuk memperoleh klon-klon tebu genjah yang berpeluang sebagai bahan baku bioetanol (Winarsih dan Sugiyarta, 2007). Beberapa karakter varietas telah diperoleh dalam seleksi tebu genjah untuk produksi bioetanol (Winarsih dan Sugiyarta, 2009). Produksi bioetanol sebanding
7,973 and 8,654 liter ha-1 for rainy season. The clones that can be harvested in dry season were PS 99-1119 and PS 58/1-4000/1 while for rainy season were PS 99-1113 dan DB 1/14. These clones had better bioethanol productivity compare to control clone which has bioethanol potential production 8,165 and 6,381 liter ha-1 for dry and rainy season respectively.
dengan TSAI (Total sugar as Invert) dan berat tebu pada percobaan musim kemarau maupun penghujan. Produksi bioetanol, TSAI dan berat tebu digunakan sebagai parameter dalam seleksi tebu genjah penghasil bioetanol (Winarsih dan Sugiyarta, 2007).
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan klon tebu genjah yang mempunyai potensi produksi bioetanol tinggi pada musim kemarau dan penghujan. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk rujukan rekomendasi varietas tebu yang cocok untuk bahan baku bioetanol di Indonesia.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan (KP) Pasuruan dan laboratorium Diversifikasi Produk dan Pengolahan Limbah (DPPL) Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia.
Penanaman Tebu di Lapangan
Bahan tanam yang digunakan adalah 10 klon tebu genjah dan satu klon sebagai kontrol. Klon tebu genjah terdiri atas DB 1/14, PS 58/1-4000/1, PS 99-1113, PS 99-1115, PS 99-1119, PS 99-1130, PSCO 93-545, PSCO 94-339, PSCO 94-371 dan PSJT 93-139. Satu klon kontrol adalah PSCO 902.
Bahan untuk penanaman tebu yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas pupuk dan saprodi. Persiapan lahan meliputi pengendalian gulma, pengolahan tanah, pembuatan got dan juringan. Cara penanaman dan perawatan tebu mengikuti metode baku yang mengacu pada Anonymous (1992).
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 kali ulangan. Perlakuan penelitian ini adalah jenis klon dan masa panen. Jenis klon tebu yang digunakan terdiri atas 10 klon dan satu klon sebagai kontrol. Setiap petak percobaan berisi 4 juring tanaman @ 3 meter. Penanaman dilakukan pada bulan Maret untuk percobaan panen musim kemarau dan bulan Juli untuk percobaan panen musim penghujan. Panen dilakukan pada umur 8 bulan. Pengamatan berat tebu setelah panen 8 bulan dan kandungan gula total (Total Sugar
as Invert, TSAI) % batang tebu dari masing-masing
klon menggunakan metode Luff.
Penentuan potensi produksi bioetanol per ton tebu atau per hektar
Penentuan potensi produksi bioetanol per ton tebu dalam satuan liter bioetanol/ton tebu diperoleh
dari rumus TSAI %tebu x 1000 (kg.ton-1) x 0,511 x 1/0,789 (kg-1.L) x 0,95 x EFp. Sedangkan penentuan potensi produksi bioetanol per hektar diperoleh dari potensi produksi bioetanol per ton tebu dikalikan produktivitas tebu.
Keterangan :
0,511 = faktor konversi (100 gram glukosa menghasilkan 51,1 gram etanol) 0,785 = berat jenis etanol (kg/L)
0,95 = efisiensi fermentasi Gay Lussac EFp = efisiensi fermentasi percobaan (90%)
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Produktivitas (Berat Tebu)
Produktivitas (berat tebu) merupakan faktor penting penentu produksi bioetanol per satuan luas tanaman tebu. Potensi berat tebu yang dipanen pada musim penghujan lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipanen musim kemarau. Produktivitas tebu rata-rata yang dipanen pada musim penghujan 114 ton ha-1, sementara berat tebu rata-rata yang dipanen pada musim kemarau 110 ton ha-1 (Tabel 1). Potensi produktivitas tebu genjah tersebut cukup tinggi, apabila dibandingkan dengan tebu non genjah (konvensional) di Brazil dengan produksi per tahun rata-rata 80-120 ton ha-1 (Basso et al., 2011). Kondisi kecukupan air pada tanaman tebu menghasilkan bobot tebu lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi kurang air. Di Mauritius, hasil percobaan terbaik pada kondisi perlakuan irigasi adalah145 ton ha-1. Di Hawaii hasil tertinggi mencapai 250 ton ha-1 tebu pada kondisi yang optimal (Soopramanian dan Batchelor, 1987 cit. Pawirosemadi, 2011). Produksi terbaik tanaman tebu P3GI pernah dicapai 189 ton ha-1. Sedangkan hasil tebu tanpa irigasi di Mauritius hanya mencapai 94 ton ha-1 pada tahun dengan musim yang baik.
PS 99-1113, PS 99-1115, PS 99-1119 dan PS 99-1130 dengan produktivitas 122 ton ha-1 kecuali PS 99-1119 sebesar 117 ton ha-1, sedangkan potensi produktivitas kontrol 114 ton ha-1. Secara keseluruhan, potensi berat tebu yang diperoleh dari tebu genjah pada musim kemarau maupun penghujan termasuk dalam kelompok kategori baik. Hal ini dikarenakan klon-klon yang diuji merupakan klon terpilih dari beberapa kali seleksi sebelumnya.
b. Kadar Gula Total (Total Sugar as Invert = TSAI)
Kadar gula total (TSAI) dari masing-masing klon tebu genjah yang dipanen pada musim kemarau dan penghujan ditampilkan pada Tabel 2. Secara umum, TSAI tebu yang dipanen pada musim kemarau lebih tinggi dibandingkan dengan TSAI tebu pada musim penghujan. TSAI tebu genjah hasil panen musim
kemarau berkisar antara 9,61 –14,40% sementara pada musim penghujan berkisar antara 8,91-12,45%. Pada musim kemarau PS 58/1-4000/1, menghasilkan TSAI tertinggi diikuti dengan PS 99-1119 dengan potensi masing-masing 14,40% dan 13,85% sementara potensi klon kontrol sebesar 13,18%. Klon lainnya mempu-nyai potensi sama dengan kontrol (Tabel 2).
Pada musim penghujan, PS 99-1115 menun-jukkan potensi TSAI tertinggi diikuti dengan PS 58/ 1-4000/1 dengan nilai berturut-turut 12,53% dan 12,45%. PS 99-1119 pada musim kemarau menun-jukkan potensi paling unggul, namun pada musim penghujan potensinya rendah. Sedangkan potensi TSAI klon-klon lainnya yang dikaji meskipun nilainya lebih tinggi dibandingkan kontrol namun secara statistik tidak berbeda nyata dengan kontrol. Klon PS 58/1-4000/1 unggul dipanen musim penghujan maupun kemarau dengan potensi TSAI tinggi. Tabel 1. Produktivitas klon tebu genjah hasil panen
musim kemarau dan penghujan
Table 1. Productivity of early maturing cane harves-ted in dry and rainy season
Keterangan (Note):
Bilangan dalam kolom yang sama yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5 %.
(Numbers in the same column followed by the same letter are not significantly different according to LSD test at 5% level)
Tabel 2. Kadar gula total klon tebu genjah hasil panen musim kemarau dan penghujan
Table 2. Total sugar as invert of early maturing cane harvested in dry and rainy season
Keterangan (Note):
Bilangan dalam kolom yang sama yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5 %.
Tingginya TSAI pada musim kemarau dise-babkan oleh kondisi lingkungan. Rendahnya kadar air dan kadar N serta menurunnya gula reduksi mendorong enzim untuk pembentukan sukrosa menjadi aktif seperti yang terjadi pada fase penuaan atau kemasakan. Sebaliknya apabila faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban udara, kelembaban tanah dan kadar N jaringan yang tinggi merupakan pemacu pertumbuhan dan tidak kondisif untuk akumulasi sukrosa (Hunsigi, 1993). Reaksi ini biasanya terjadi pada tebu yang belum masak dan aktivitas acid
invertase tinggi. Kondisi air yang cukup (musim
penghujan), tanaman aktif tumbuh, jaringan mempunyai N, kelembaban, enzim seperti invertase dan phosphatase yang tinggi, lebih banyak gula invert dan intermediate produk fotosintesis dan metabolisme N meningkat dengan laju respirasi yang tinggi.
c. Potensi Produksi Bioetanol per Ton Tebu
Faktor utama yang berpengaruh terhadap esti-masi bioetanol adalah TSAI. Secara umum, estiesti-masi
rata-rata bioetanol per ton tebu pada tebu genjah yang dipanen musim kemarau lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipanen pada musim penghujan (Gambar 1 dan 2). Estimasi bioetanol musim kemarau berada pada kisaran antara 53 – 80 liter ton-1 tebu, sementara pada musim penghujan antara 49 – 69 liter ton-1 tebu. Tingginya produksi bioetanol pada musim kemarau didukung oleh nilai TSAI yang lebih tinggi pada musim kemarau karena TSAI merupakan faktor penting yang menentukan produksi bioetanol.
Gambar 1 menunjukkan tebu genjah klon PS 58/1-4000/1 yang dipanen musim kemarau menghasilkan bioetanol tertinggi (80 liter ton-1) diikuti dengan PS 99-1119 dengan potensi 77 liter ton-1 dan potensi keduanya melampaui nilai pada kontrol. Di samping itu, terdapat 5 klon tebu menghasilkan bioetanol sama dengan kontrol dimulai dari yang tertinggi yaitu PSCO 93-545 (74 liter ton-1), PS 99-1130 dan PSJT 93-139 (72 liter ton-1), PS 99-1115 ( 70 liter ton-1) dan PS 99-1113 (68 liter ton-1) sementara pada kontrol 73 liter ton-1 tebu.
Gambar 1. Estimasi bioetanol per ton tebu klon tebu genjah yang dipanen musim kemarau
Figure 1. Estimation of bioethanol per ton cane of early maturing cane harvested in dry season
Keterangan (Note) :
Bilangan dalam balok yang sama yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5 %
Gambar 2 menunjukkan klon PS 58/1-4000/1 dan PS 99-1115 menghasilkan bioetanol dengan potensi tertinggi yaitu sebesar 69 liter ton-1 dan melampaui nilai pada kontrol. Tujuh klon lainnya menunjukkan potensi bioetanol tinggi namun tidak berbeda nyata dengan kontrol. Sementara itu, kontrol PSCO 902 mempunyai potensi 55 liter ton-1 tebu.
Klon-klon tebu yang menunjukkan kadar gula tinggi menghasilkan bioetanol tinggi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Zabed et al. (2014) bahwa konsentrasi gula awal merupakan parameter penting yang berpengaruh langsung pada laju fermentasi dan sel-sel mikrobia. Hubungan aktual antara kadar gula awal dan laju fermentasi agak kompleks. Pada umumnya, laju fermentasi akan meningkat dengan meningkatnya konsentrasi gula hingga level tertentu. Akan tetapi, konsentrasi gula yang berlebihan akan melampaui kapasitas pengambilan oleh sel-sel mikrobia, sehingga akan menuju ke laju fermentasi yang tetap. Pada fermentasi batch, meningkatnya laju produksi bioetanol dan hasil, dapat diperoleh pada
konsentrasi awal gula yang tinggi, tetapi memerlukan waktu yang panjang dan akibatnya meningkatkan biaya pemulihan.
d. Estimasi Bioetanol per Hektar
Estimasi bioetanol per hektar adalah hasil kali antara estimasi bioetanol per ton tebu dengan berat tebu per hektar. Dengan demikian berat tebu menjadi faktor penting yang berperan dalam menentukan produksi bioetanol per hektar. Pada percobaan ini produksi bioetanol per hektar mempunyai pola yang hampir sama dengan estimasi produksi bioetanol per ton tebu.
Secara keseluruhan, potensi bioetanol per hektar berbeda nyata antara klon yang dikaji baik pada musim kemarau maupun penghujan. Potensi produksi bioetanol dari tebu yang dipanen musim kemarau lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipanen musim penghujan. Potensi bioetanol dari tebu yang dipanen pada musim kemarau berkisar antara 5.552 - 9.417
Gambar 2. Estimasi bioetanol per ton tebu klon tebu genjah yang dipanen musim penghujan
Figure 2. Estimation of bioethanol per ton cane of early maturing cane harvested in rainy season
Keterangan (Note) :
Bilangan dalam balok yang sama yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5 %
liter ha-1 dengan rata-rata 7.778 liter ha-1 (Gambar 3) sedangkan yang dipanen pada musim penghujan berkisar antara 5.024 - 8.654 liter ha-1 dengan rata-rata 6.389 liter ha-1 (Gambar 4).
Klon tebu PS 99-1119 yang dipanen musim kemarau berpotensi menghasilkan bioetanol tertinggi sebesar 9.417 liter ha-1 diikuti dengan PS 99-1130 dengan potensi 9.126 liter ha-1 dan melampaui potensi kontrol dengan produksi 8.165 liter ha-1. Di samping itu, terdapat 2 klon mempunyai potensi cukup tinggi dengan nilai melampaui kontrol yaitu PS 99-1115 dan PS 58/1-4000/1 dengan nilai berturut-turut 8.679 dan 8.412 liter ha-1 (Gambar 3).
Klon tebu genjah PS 99-1115 yang dipanen musim penghujan menunjukkan potensi produksi bioetanol sebesar 8.654 liter ha-1paling unggul diikuti dengan PS 99-1130 dengan potensi produksi sebesar 7.973 liter ha-1. Kedua klon tersebut memiliki potensi produksi yang melampaui kontrol dengan potensi
produksi 6.381 liter ha-1 (Gambar 4). PS 99-1113 dan DB 1/14 menghasilkan bioetanol yang cukup tinggi namun tidak berbeda nyata dengan kontrol, dengan nilai masing-masing 6.732 dan 6.490 liter ha-1. Potensi produksi bioetanol beberapa klon pada musim kema-rau maupun penghujan menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan produksi di Brazil yang mencapai 8.000 liter ha-1 (Basso et al., 2011). Produksi etanol yang tinggi ini didukung oleh berat tebu yang tinggi dari masing-masing klon.
Berdasarkan data produktivitas tebu dan bioe-tanol di atas, tebu genjah penghasil bioebioe-tanol dapat ditanam dan dipanen sepanjang tahun baik musim kemarau maupun penghujan. Akan tetapi pada periode dimana curah hujan sangat tinggi terdapat kendala dalam pelaksanaan tebang di lahan. Alexander (1985) menyatakan bahwa curah hujan sekitar 7 inchi per bulan pada umumnya menimbulkan kesulitan pelak-sanaan tebang di lapangan.
Gambar 3. Estimasi bioetanol per hektar klon tebu genjah yang dipanen musim kemarau
Figure 3. Estimation of bioethanol per hectar cane of early maturing cane harvested in dry season
Keterangan (Note) :
Bilangan dalam balok yang sama yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5 %
KESIMPULAN
Tebu genjah mempunyai prospek yang baik untuk digunakan sebagai bahan baku bioetanol. Produksi bioetanol dipengaruhi oleh beberapa faktor utama antara lain kadar gula total (TSAI) dan berat tebu.
Klon tebu genjah yang dapat ditanam untuk dipanen pada musim kemarau dan penghujan adalah PS 99-1115 dan PS 99-1130. Sementara itu, klon tebu genjah yang dapat ditanam untuk dipanen pada musim kemarau adalah PS 99-1119 dan PS 58/1-4000/1. Adapun klon tebu genjah yang dapat ditanam untuk dipanen pada musim penghujan adalah PS 99-1113 dan DB 1/14. Potensi bioetanol PS 99-1115 dan PS 99-1130 yang dipanen musim kemarau berturut-turut 8.679 dan 9.126 liter ha-1 dan yang dipanen musim penghujan 8.654 dan 7.973 liter ha-1. Potensi ini lebih unggul dibanding kontrol PSCO 902 dengan potensi produksi sebesar 8.165 dan 6.381 liter ha-1 berturut-turut untuk musim kemarau dan penghujan.
Gambar 4. Estimasi bioetanol per hektar klon tebu genjah yang dipanen musim penghujan
Figure 4. Estimation of bioethanol per hectar cane of early maturing cane harvested in rainy season
Keterangan (Note) :
Bilangan dalam balok yang sama yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5 %
(Numbers in the same beams followed by the same letter are not significantly different according to LSD test at 5% level)
Tebu genjah penghasil bioetanol dapat ditanam dan dipanen sepanjang tahun baik musim kemarau maupun penghujan. Produksi pada musim kemarau lebih tinggi dibandingkan dengan pada musim penghujan.
DAFTAR PUSTAKA
Alexander, A.G. (1985) The Energy Cane Alternative. Sugar Series, 6. Elsevier. Amsterdam. 509p.
Anonymous. (1992) Budidaya Tanaman Tebu. Disbun Daerah Prop Dati I Jatim, PT. Perkebunan XXIV-XXV, Perwakilan P3GI Prop. Jawa Timur. 99 hal. Anonymous. (2006) New varieties, Energy cane highlight
LSU Agcenter sugarcane field day. [Online] Tersedia dari: http://deltafarmpress.com/new-varieties-energy-can0e-highlight-field-day [Diakses tanggal 18 Januari 2008].
Anonymous. (2007) Usulan Pelepasan Varietas Tebu Unggul Baru untuk Sistem Produksi Etanol . Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia.
Basso, L.C., Basso, T. O. and Rocha, S. N. (2011) Ethanol Production in Brazil: The Industrial Process and Its Impact on Yeast Fermentation, Biofuel Production-Recent Developments and Prospects, Dr. Marco Aurelio Dos Santos Bernardes (Ed.), ISBN: 978-953-307-478-8, InTech. development. Rio de Janeiro: BNDES, 316 p.
Cobill, R.M., Tew, T.L., Garrison, D.D. & Richard Jr, E.P. (2005) Development of high fibercane varieties for biofuel production in the Shouthern United States. Journal of the American Society of Sugarcane Technologists, 25, 102.
Hunsigi, G. (1993) Production of Sugarcane. Theory and Practice. Springer-Verlag. London. 245p.
Hunsigi, G., Yekkeli, N. R. & Solomon, S. (2006) Energy security through sugarcane cropping system in developing countries. Proc. Internl. Symp. on Technologies to Improve Sugar Productivity in Developing Countries, Guilin, P.R. China : 784-786. Lee, T.S.G. dan Bressan, E. A. (2006) Renewable energy from sugar cane in Brazil. Proc. Int. Symp on Technology to improve sugar productivity in Developing countries, Guilin P.R. China : 791-794. Li, Y.R., Tan, Y. Li, S. & Yang, R. (2006) Sugarcane : A most promising bio-energy crop in China. Proc. Internl. Symp. On Technologies to Improve Sugar
Productivity in Developing Countries, Guilin, P.R. China: 787-790.
Oliveira, M. E. D., Vaughan, B. E. and Rykiel, Jr. E. J. J. (2005) Ethanol as fuel: energy, carbon dioxide balances, and ecological footprint. Bioscience 55:593–602.
Pandey, A. (2009) Handbook of Plant-based Biofuels. CRS Press Taylor and Francis Group. 297p.
Pawirosemadi, M. (2011) Dasar-dasar Teknologi Budidaya Tebu dan Pengolahan Hasilnya. UM Press. 811p. Tan, X.P. (2006) Sugarcane : First choice for automobile
alcohol industry. Proc. Internl. Symp. on Technologies to Improve Sugar Productivity in Developing Countries, Guilin, P.R. China: 778-783. Winarsih, S. & Sugiyarta, E. (2007) Kajian untuk mendapatkan varietas tebu genjah. Laporan Teknis Penelitian. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Balitbang Pertanian. 36 hlm.
Winarsih, S. & Sugiyarta, E. (2009) Parameter seleksi klon tebu genjah untuk produksi bioetanol. Majalah Penelitian Gula. 45(4), 203-213.