Evaluasi Kebijakan Pemerintah di Sektor

Teks penuh

(1)

Evaluasi Kebijakan Pemerintah di Sektor Ekonomi Kreatif pada Era Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2011—2014) Terhadap Pertumbuhan Sektoral

dan Kontribusi Nilai Tambah Sektor Ekonomi Kreatif Terhadap PDB Prasetyo Budi Widagdo

prasetyo.budi.w@mail.ugm.ac.id

ABSTRACT

The aim of writing this paper is to analyse government policy especially the Ministry of Tourism and the Creative Economy (Kemenparekraf) in 2011 — 2014 period and to evaluate the effectiveness of the creative economic policy through the development of the creative economy sector value contribution to gross domestic product (GDP) as well as the growth of the creative economy sector. The methods used in the writing of this paper is document study. The documents which studied are strategic planning document 2012—2014 period of Kemenparekraf and performance report document 2014 of Kemenparekraf. In addition, to studies on these documents is also supported with the literature study related to the discussion as well as a secondary data analysis from the Central Bureau of Statistics (BPS) and from the mass media. The creative economy is an economy that is more concerned with the idea as a commodity, beside the goods as commodities. The creative economy is developed along with the development of technology. The trend of the creative sector contribution to GDP influenced by creative economy sector’s policy and the trend of growth of the creative economy sectors become stabler, but a merger between the tourism sector with creative economy sector lead to creative economic growth becomes less optimal.

Keyword: creative economy, policy, Kemenparekraf, evaluation

INTISARI

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menganalisis kebijakan pemerintah pada era Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tahun 2011—2014 dan mengevaluasi efektivitas kebijakan ekonomi kreatif tersebut melalui perkembangan nilai tambah sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta pertumbuhan sektor ekonomi kreatif. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi dokumen Rencana Strategis Kemenparekraf 2012—2014 dan dokumen Laporan Kinerja Kemenparekraf tahun 2014. Selain studi pada dokumen tersebut juga didukung dengan studi literatur yang terkait dengan pembahasan makalah dan analisis data sekunder dari Badan Pusat Statistik serta media massa. Ekonomi kreatif adalah ekonomi yang lebih mementingkan ide sebagai komoditas yang memiliki nilai jual, sehingga bukan mengutamakan barang sebagai komoditas. Ekonomi kreatif dewasa ini berkembang pula seiring berkembangnya teknologi. Kebijakan sektor ekonomi kreatif berpengaruh pada tren/kecenderungan kontribusi nilai tambah sektor ekonomi kreatif terhadap PDB dan kecenderungan pertumbuhan sektor ekonomi kreztif menjadi lebih stabil, tetapi penggabungan antara sektor pariwisata dengan sektor ekonomi kreatif mengakibatkan pertumbuhan ekonomi kreatif menjadi kurang optimal.

(2)

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar ke-9 di dunia. Dilansir dari situs berita Katadata.co.id, Dana Moneter Internasional (IMF) menempatkan Indonesia pada urutan ke-9 sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia. PDB Indonesia hingga akhir tahun 2014 diperkirakan mencapai US$ 2,6 triliun. Posisi ini menggeser PDB Inggris yang hanya sebesar US$ 2,4 triliun. Sektor ekonomi yang menopang nilai PDB tersebut paling besar adalah sektor industri pengolahan sebesar 23,71% sedangkan untuk sektor ekonomi kreatif menurut data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sumbangan sektor ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia pada tahun 2014 mencapai 7,06%

Konsep ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya, sehingga kegiatan ekonomi teidak terpaku pada kuantitas barang/jasa yang dihasilkan dari kegiatan produksi. Struktur perekonomian dunia mengalami transformasi dengan cepat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dari yang sebelumnya berbasis Sumber Daya Alam (SDA), saat ini bertransformasi menjadi berbasis SDM. Proses transformasi tersebut tidak terjadi dalam waktu yang singkat, mulai dari masa revolusi pertanian (neolithic revolution), revolusi industri (abad ke-18), serta revolusi teknologi informasi

dan komunikasi, kemudian diprediksikan gelombang keempat yang merupakan gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif. (Toffler, 1980)

Ide merupakan komoditas utama yang dijual dalam ekonomi kreatif, berbeda dengan sektor ekonomi lainnya yang lebih mengutamakan pada komoditas tangible (Romer, 1993). Dunia memiliki keterbatasan fisik seperti jarak geografis yang membentang, adanya penemuan ide-ide besar bersamaan dengan penemuan ide-ide kecil lainnya telah membuat ekonomi tetap tumbuh. Ide adalah instruksi dalam menyiasati keterbatasan ruang fisik wilayah. Romer juga menyatakan bahwa suatu negara terbelakang atau Less Economic Developed Countries

terjadi karena masyarakatnya tidak mempunyai akses pada ide yang digunakan dalam kegiatan sektor industri nasional untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi.

Menurut Howkins (2001) ekonomi baru telah muncul, seperti industri kreatif yang didasarkan pada hukum kekayaan intelektual (personal right) seperti paten, hak cipta, merek, royalti dan desain. Hal ini terjadi karena produk-produk industri kreatif bukan tangible commodity akan tetapi

intangible commodity, sehingga ukuran kekayaan bukan pada kuantitas barang yang dihasilkan dari kegiatan produksi

(3)

berkembang sejak berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi serta berkembang sejalan dengan perkembangan ekonomi digital. Ekonomi kreatif secara kelembagaan pertama kali dicetuskan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Boediono pada tahun 2011 dengan berubahnya nomenklatur Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menjadi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Tujuan

1. Menganalisis kebijakan pemerintah pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono dengan dibentuknya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2011

2. Mengevaluasi efektivitas kebijakan ekonomi kreatif tersebut melalui perkembangan nilai tambah sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)

Metode

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi dokumen Rencana Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2012—2014 dan dokumen Laporan Kinerja Kementerian Pariwisata tahun 2014. Selain studi pada dokumen tersebut juga dilengkapi dengan studi literatur yang terkait dengan permasalahan serta analisis data sekunder dari Badan Pusat Statistik dan media massa.

Pembahasan

Industri kreatif yang mengandalkan talenta, ketrampilan,

dan kreativitas yang merupakan elemen dasar setiap individu. Unsur utama industri kreatif adalah kreativitas, keahlian, dan talenta yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan melalui kesejahteraan melalui penawaran kreasi intelektual (Simatupang, 2008)

Sektor ekonomi kreatif sebenarnya sudah sangat lama berkembang di Indonesia. Jika dilihat dari segi sub-sektor yang termasuk ke dalam ekonomi kreatif seperti musik, kuliner, dan seni pertunjukan sebenarnya sudah berkembang di Indonesia sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia, akan tetapi secara kelembagaan, ekonomi kreatif baru secara eksplisit dimasukkan ke dalam kementerian sejak tahun 2011 sejak berubahnya nomenklatur Kementrian Budaya dan Pariwisata (Kembudpar) menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Berdasarkan dokumen rencana strategis Kemenparekraf tahun 2012-2014, terdapat 14 sub-sektor yang termasuk ke dalam sektor ekonomi kreatif yaitu arsitektur, desain, fesyen, film, video, dan fotografi, kerajinan, teknologi informasi dan piranti lunak, musik, pasar barang seni, penerbitan dan percetakan, periklanan, permainan interaktif, riset dan pengembangan, seni pertunjukan, serta televisi dan radio.

(4)

lemahnya institusi industri kreatif, minimnya akses pembiayaan pelaku sektor ekonomi kreatif. Pengembangan industri kreatif saat ini memang belum optimal karena memang ekonomi kreatif baru menjadi

trending sekitar 5-10 tahun terakhir, sehingga dari sisi pengusaha masih banyak pengusaha ekonomi kreatif yang belum matang. Selain itu, disebabkan usaha yang belum matang, konsumen akan berfikir dua kali untuk memanfaatkan hasil karya dari industri kreatif.

Pengembangan konten, kreasi, dan teknologi kreatif belum optimal disebabkan karena input produksi yang masih minim terutama dalam hal infrastruktur jaringan internet serta mahalnya alat untuk memulai usaha ekonomi kreatif seperti laptop serta aplikasi yang dapat digunakan untuk membuat produk. Mahalnya sarana untuk mrmulai usaha ekonomi kreatif tersebut menyebabkan seseorang yng memiliki potensi untuk mengembangkan industri kreatif akan membatalkan niat usaha tersebut, sehingga sektor industri kreatif sangat sulit untuk berkembang. Di sisi lain, kurangnya riset mengenai konten/produk ekonomi kreatif mengakibatkan produk-produk yang dihasilkan oleh industri kreatif cenderung kurang bervariasi, sehingga mngakibatkan tidak terpenuhinya ekspektasi konsumen. Kurangnya perluasan dan penetrasi pasar bagi produk dan jasa kreatif di dalam dan luar negeri disebabkan karena pasar belum mampu merespon dengan baik perkembangan ekonomi kreatif.

Masyarakat belum menyadari bahwa membuat sebuah produk industri kreatif memerlukan pemikiran yang mandalam serta waktu yang sangat lama, masyarakat cenderung menganggap remeh produk industri

kreatif sehingga akan menghargai murah sebuah karya industri kreatif, bahkan masyarakat lebih suka membeli prosuk bajakan daripada produk asli karena harganya lebih murah. Tentu saja hal ini sangat merugikan orang-orang berkecimpung di dunia industri kreatif. Disebabkan pembajakan itulah sektor ekonomi kreatif sulit berkembang.

Lemahnya institusi industri kreatif, terutama disebabkan oleh belum adanya payung hukum yang mengatur tata kelola masing-masing subsektor industri kreatif. Sektor industri kreatif ini masih merupakan isu baru yang disinggung oleh pemerintah, sehingga payung hukum yang melindungi pelaku industri kreatif masih sangat minim. Dasar penentuan nomenklatur hanya berlandaskan pada Keputusan Presiden, sedangkan saat ini landasan berdirinya Badan ekonomi Kreatif hanya berupa Peraturan Pemerintah. Diperlukan payung hukum yang kuat seperti undang-undang agar industri kreatif dapat berkembang. Masalah klasik yang terjadi saat ini seperti tidak terjeratnya konsumen produk bajakan dan pelaku pembajakan juga hanya mendapatkan hukuman yang ringan, sehingga pembajakan karya industri kreatif sangat marak terjadi. Minimnya akses pembiayaan pelaku sektor ekonomi kreatif terjadi karena instrumen perbankan saat ini belum mengakomodir jenis usaha ekonomi kreatif yang produknya banyak berwujud intangible. Produk-produk berupa software, seni pertunjukan dan desain komukasi visual tersebut tidak memiliki wujud nyata, sehingga pihak kreditur akan berpikir dua kali untuk memberikan pinjaman modal pada pelaku ekonomi kreatif.

(5)

Kemenparekraf 2012—2014 masih berupa rintisan, sehingga arah kebijakan masih sederha dan terfokus pada pengembangan kapasitas pelaku ekonomi kreatif, peningkatan sumberdaya modal dan perluasan pasar. Arah kebijakan ekonomi kreatif 2012—2014 antara lain: penguatan sumber daya dan teknologi sektor ekonomi kreatif,, penguatan industri kreatif, peningkatan akses pembiayaan industri kreatif, peningkatan apresiasi dan akses pasar ekonomi kreatif di dalam dan luar negeri, penguatan institusi ekonomi kreatif, peningkatan kualitas penelitian kebijakan dan kapasitas SDM pariwisata dan ekonomi kreatif. Selain itu, kebijakan mengenai ekonomi kreatif pada kurun waktu 2012—2014 dipegang oleh Kemenparekraf, sehingga arah, tujuan, dan strategi kebijakan ekonomi kreatif diselaraskan dengan pariwisata Indonesia. Pada periode 2012—2014, ekonomi kreatif cederung dikembangkan untuk mendukung kegiatan pariwisata, sehingga pengambangan ekonomi kreatif masih setengah hati dan mengakibatkan persentase kontribusi terhadap PDB yang terus menurun dari tahun ke tahun. Seluruh arah kebijakan, strategi, program, kegiatan sampai kepada aktivitas terkecil yang dilakukan dalam pembangunan kepariwisataan dan ekonomi kreatif, dilandasi oleh prinsip pro-growth,

pro-job, pro-poor, pro-environment, mendukung penguatan nilai sosial dan budaya, menciptakan kualitas hidup, dan menciptakan nilai tambah. Evaluasi kebijakan akan lebih difokuskan pada pro-growth atau

sejauh mana ekonomi kreatif mendukung pertumbuhan ekonomi nasional serta kontribusinya pada PDB Indonesia.

Evaluasi terhadap kebijakan ekonomi kreatif dapat dilihat dari tujuandan sasaran strategis kebijakan itu dibuat dan diukur dengan instrumen yang sesuai. Dalam mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif, Kemenparekraf memiliki 21 sasaran strategis yang harus dicapai melalui program dan kegiatan yang akan dilakukan pada periode 2012–2014 dimana 10 diantara merupakan sasaran strategis dari program pengembangan ekonomi kreatif. Dua diantara 10 sasaran tersebut yaitu sumbangan terhadap PDB Indonesia dan pertumbuhan sektor dapat digunakan untuk mengevaluasi capaian program dan kebijakan ekonomi kreatif. Perkembangan nilai tambah sektor ekonomi kreatif periode 2002—2014 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tahun Nilai Tambah (miliar Rp)

Kontribusi (%)

Pertumbuhan (%) 2002 160.337 8,8 (n/a) 2003 167.335 8,31 -1,05 2004 192.128 8,37 5,76 2005 214.541 7,73 -2,33 2006 256.848 7,69 4,95 2007 293.286 7,43 2,73 2008 345.458 6,97 0,5 2009 394.937 7,04 2,27 2010 468.103 7,29 6,03 2011 526.999 7,1 5,02 2012 578.761 7,02 4,47 2013 641.815 7,05 5,76

2014 716.695 7,06 5,81

(6)

Gambar 1. Grafik perkembangan sektor ekonomi kreatif tahun 2002—2014

Perkembangan ekonomi kreatif dapat dilihat sejak tahun 2002 sampai tahun 2014 karena memang ketersediaan data dari Badan Pusat Statistik terbatas hingga tahun 2002. Dari data sekunder yang didapat dari BPS tersebut kemudian dapat disajikan dalam bentuk grafik. Berdasarkan gambar 1, nilai tambah dari sektor ekonomi kreatif meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi yang perlu menjadi catatan dari data tersebut adalah, penentuan nilai tambah didasarkan pada harga berlaku. Penentuan nilai tambah dari segi harga berlaku adalah jumlah nilai produksi atau pendapatan atau pengeluaran yang dinilai sesuai dengan harga yang berlaku pada tahun yang bersangkutan, sehingga belum mempertimbangkan adanya inflasi. Meskipun secara jumlah nilai tambah memiliki pertumbuhan positif, akan tetapi ketika inflasi tinggi bisa jadi

pertumbuhan sektor justru menjadi negatif, sehingga untuk menghitung tingkat pertumbuhan sektor perlu menggunakan perhitungan nilai tambah atas dasar harga konstan (BPS).

Evaluasi kinerja Kemenparekraf terutama di sektor ekonomi kreatif secara riil dapat dilihat pada tren pertumbuhan dan perkembangan sumbangan nilai tambah sektor ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia. Kecenderungan pertumbuhan sektor sebelum sektor ekonomi kreatif dimasukkan ke dalam urusan Kemenparekraf sangat fluktuatif. Dimulai dari tahun 2003 sebesar -1,5% hingga tertinggi dapat mencapai 6,03% pada tahun 2010. Apabila dihitung standar deviasinya, pertumbuhan sektor ekonomi kreatif antara tahun 2003—2010 lebih besar daripada tahun 2011—2014. Standar deviasi pertumbuhan sektor ekonomi

-4

2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016 2018

K

Grafik Perkembangan Nilai Tambah Sektor Ekonomi Kreatif

Nilai Tambah (miliar Rp) Kontribusi (%)

(7)

kreatif pada periode 2003—2010 adalah 3,14 sedangkan untuk periode 2011— 2014 hanya bernilai 0,64. Fluktuasi ini terjadi karena ketidakpastian sektor ekonomi kreatif karena belum ada campur tangan pemerintah secara konkret. Lemahnya intervensi pemerintah tersebut mengakibatkan seluruh nilai tambah dari sektor ekonomi kreatif murni dipengaruhi oleh pasar. Ketika terjadi resesi global misalkan seperti tahun 2008 (Kompas.com), pertumbuhan sektor ekonoi kreatif mengalami penurunan yang sangat tajam yang semula 4,95% pada tahun 2006 menjadi hanya 0,5% pada tahun 2008. Fluktuasi yang sangat dinamis ini mengakibatkan sektor ekonomi kreatif menjadi sektor berisiko tinggi untuk berinvestasi, sehingga investor akan berfikir ulang untuk menanamkan modal di sektor ekonomi kreatif.

Keberhasilan program

pengembangan kreatif mulai tampak pada tahun 2012. Meskipun peningkatannya masih belum signifikan, akan tetapi stabilitas pertumbuhan ekonomi sangat kentara setelah ada intervensi pemerintah di sektor ekonomi kreatif dengan merubah nomenklatur Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Stabilitas tersebut terjadi karena keberhasilan program-program pemerintah di sektor ekonomi kreatif. Permodalan menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan ekonomi kreatif oleh Kemenparekraf. Dilansir dari situs Bisnis.com, menurut data Bank Indonesia, kredit yang telah

diberikan kepada pelaku ekonomi kreatif pada periode 2014 mencapai 115,4 triliun rupiah atau 11,4% dari total kredit yang diberikan kepada pelaku usaha. Modal inilah yang digunakan untuk mengembangkan usaha ekonomi kreatif, sehingga pertumbuhan sektor ekonomi kreatif dapat lebih stabil. Stabilitas pertumbuhan sektor ini merupakan angin segar karena akan menarik lebih banyak investor untuk menanamkan modal di sektor industri kreatif karena dengan stabilnya pertumbuhan sektor, maka risiko kerugian akibat fluktuasi dan volatilitas modal dapat dihindari.

Prospektif ke depan dari sektor ekonomi kratif sangat baik. Dapat dilihat pada grafik proyeksi pertumbuhan linear, pertumbuhan sektor ekonomi kreatif untuk tahun-tahun ke depan akan diproyeksikan positif meskipun tidak terlalu signifikan.

(8)

pertumbuhan pada tahun 2012—2014 mengindikasikan bahwa program-program pengembangan ekonomi kreatif perlu diintensifkan lagi dalam pencapaiannya karena berdasarkan Laporan Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014, masih banyak program kerja terutama yang menyangkut tentang ekonomi kreatif yang pencapaiannya masih dibawah 100% misalkan jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor pariwisata hanya terlaksana 1, padahal target dari Kemenparekraf adalah 12, sehingga realisasi target hanya 8,34%, bahkan jumlah penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan dalam mendukung kebijakan di sektor ekonomi kreatif tidak ada sama sekali, hal ini berarti 1 buah penelitian yang telah dilakukan belum dapat diterapkan secara optimal. Selain dari presentase ketercapaian program yang sangat minim di beberapa program kerja, stagnansi kontribusi sektor terhadap PDB serta pertumbuhan sektor ekonomi kreatif juga disebabkan karena penggabungan urusan pariwisata dengan ekonomi kreatif dalam Kemenparekraf.

Penggabungan urusan pariwisata dengan ekonomi kreatif mengakibatkan Kemenparekraf tidak fokus dalam pengembangan ekonomi kreatif, bahkan dalam Rencana Strategis Kemenparekraf 2012-2014 dinyatakan bahwa sektor ekonomi kreatif mendukung sektor pariwisata. Hal tersebut terkesan bahwa seakan sektor pariwisata lebih utama daripada sektor

ekonomi kreatif, padahal dari sisi kontribusi terhadap PDB Indonesia, sektor ekonomi kreatif lebih tinggi (7,06%) lebih tinggi daripada sektor pariwisata yang hanya mencapai 4,01%. Seharusnya Kemenparekraf selaku pemangku kepentingan di sektor ekonomi kreatif dapat membagi peran yang sama antara sektor pariwisata dengan sektor ekonomi kreatif. Pemisahan sektor ini baru dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Jokowi dengan membentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Kesimpulan

Pembentukan Kemenparekraf memberikan angin segar bagi stabilitas PDB sektoral dan pertumbuhan sektor terutama pada periode 2012—2014. Campur tangan pemerintah sangat penting dalam menjaga stabilitas pertumbuhan sektoral karena apabila diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar akan mengakibatkan pertumbuhan sektoral menjadi sangat fluktuatif dan menjadikan sektor trsebut sebagai sektor berisiko tingi untuk berinvestasi

(9)

REFERENSI

Agus Dwi Darmawan. 2014. “Ekonomi Indonesia Terbesar ke-9 Dunia”.

Katadata.com 21 Oktober 2016. (online)

http://katadata.co.id/infografik/2014/10/21/ekonomi-indonesia-terbesar-ke-9-dunia (diakses pada 22 Oktober 2016 pukul 09.30 WIB)

Badan Pusat Statistik. 2014. “Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Tahun 2010-2014 Atas Dasar Harga Berlaku (%)”. (online) http://bps.go.id

(diakses pada 22 Oktober 2016 pukul 8.26 WIB)

Tjahja Gunawan Direja. 2008. “Dampak Resesi Global”. Kompas.com 14 April 2008(online)

http://tekno.kompas.com/read/2008/04/14/1734500/dampak.resesi.globa l. (diakses pada 22 Oktober 2016 pukul 09.15 WIB)

Laporan Kinerja Kementrian Pariwisata Tahun 2014

Muhammad Khamdi. 2014. "BI: Kredit Untuk Industri Kreatif Sangat Kecil".

Bisnis.com 25 November 2014 (online)

http://finansial.bisnis.com/read/20141125/90/275382/bi-kredit-untuk-industri-kreatif-sangat-kecil (diakses pada 23 Oktober 2015 pukul 06.57 WIB)

Rencana Strategis 2012-2014 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia

Romer, PM. 2003. “Idea Gaps and Object Gaps in Economic Development,"

Journal of Monetary Economics 32, 1993, 543-73.

Simatupang, M.T. 2008. Industri Kreatif Untuk Kesejahteraan Bangsa . ITB Bandung: Inkubator Industri dan Bisnis

Toffler, Alvin (1980). The Third Wave.England: Penguin Book

Figur

Grafik Perkembangan Nilai Tambah Sektor Ekonomi Kreatif
Grafik Perkembangan Nilai Tambah Sektor Ekonomi Kreatif. View in document p.6

Referensi

Memperbarui...