• Tidak ada hasil yang ditemukan

perkembangan kontemporer historiografi dan id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "perkembangan kontemporer historiografi dan id"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan Kontemporer Historiografi Indonesia Oleh:

Lutfiah Anggi Aprillia Susiani

A. Pendahuluan

Historiografi Indonesia, dalam beberapa dasawarsa terakhir mengalami perkembangan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hal ini ditandai dengan banyaknya karya-karya sejarah, baik yang ditulis sejarawan Indonesia sendiri, maupun sejarawan luar. Walaupun dari segi kualitasnya berbeda-beda. Karya sejarah tersebut telah memberikan peranan dalam upaya pemahaman terhadap sejarah indonesia.

Perkembangan secara kualitatif itu terlihat, misalnya, dari penggunaan metodologi yang semakin kompleks, yang melibatkan kian banyak ilmu bantu, khususnya ilmu-ilmu humaniora lainnya, semacam antropologi; dan ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi, dan lain-lain. Karena ini, sejarah semakin sosiologis (sociologial history) atau semakin antropologis (anthropologial history). Sebaliknya, ilmu-ilmu sosial dan humaniora juga semakin banyak menggunakan bantuan ilmu sejarah (cf. Kartodirjo, 1992; Kuntowijoyo, 1995).1

Penggunaan ilmu-ilmu bantu dalam penulisan sejarah Indonesia telah memperkuat dan mengembangkan corak baru dari apa yang selama ini sering disebut kalangan sejarawan sebagai sejarah baru, sebagai kontras dari sejarah lama, yang umumnya bersifat naratif dan deskriptif.

Sejarah Indonesia yang telah ditulis hingga kini yang penuh dengan bidang kosong mencerminkan tidak terarahnya perkembangan historiografi Indonesia. Tidak ada jalinan cerita sejarah yang runtut, tidak ada pusat pandangan tertentu, dan umumnya rekonstruksi beberapa kurun waktu didasarkan atas bukti-bukti yang sangat terbatas.

(2)

B. Pembahasan

Historiografi kontemporer adalah sejarah masa kini atau bisa diartikan sebagai sejarah baru. Sejarah baru sering diartikan sebagai sejarah alternatif. Menurut kami sejarah baru ingin merubah paradigma sejarah lama yang cenderung bersifat politik. Sejarah baru memiliki visi dan perspektif yang luas. Historiografi alternatif ini mengandung pembaruan dalam hal sumber, metodologi dan perspektif. Dalam hal ini disebutkan bahwa sejarah lisan sebagai alternatif dari sumber tertulis.2 Jika dulu sejarah ditulis dari perspektif pemenang (yang sering pula menjadi pelaku pelanggaran HAM), kini sejarah bisa ditulis oleh pihak yang kalah atau korban. Sejarah dari perspektif korban menjadi sejarah alternatif, kini dan esok. Sejarah bukan hanya tentang peristiwa orang-orang besar, tetapi menyangkut keseharian orang-orang kecil. Mengenai metodologi tentu dapat didiskusikan tentang pendekatan Marxisme dalam sejarah atau dekontruktif yang dikembangkan oleh aliran pos-modernisme.

Menurut Asvi Warman Adam, Fakta dan narasi yang seimbang merupakan kata kunci untuk pelurusan sejarah.3 Ada dua golongan yang kurang dapat menerima istilah pelurusan sejarah. Yang pertama adalah kelompok yang ikut terlibat dalam penyusunan sejarah pada Orde Baru. Memakai istilah ini berarti mereka mengakui telah melakukan berbagai kekeliruan pada masa lampau. Yang kedua adalah para sejarawan yang khawatir bahwa pelurusan sejarah itu bersifat final, padahal ini merupakan upaya yang berjalan terus-menerus.

Meluruskan sejarah terutama dari kelompok yang kalah dan dirugikan pada masa peralihan politik Orde Lama ke Orde Baru, kini sedang berlangsung oleh kelompok tersebut dan juga menjadi debat-debat di kalangan sejarawan profesional sendiri yang ikut sebagai jurutulis tingkat tinggi.

Terlepas dari problem meluruskan fakta sejarah atau semacam pekerjaan jurutulis tingkat tinggi, tema-tema baru yang nampak dalam perkembangan historiografi Indonesia sejak akhir tahun 1980an dan 1990an menuntut informasi yang lebih bervariasi yang belum tentu dapat ditemukan dalam sumber-sumber tertulis. Penggunaan sumber-sumber lisan merupakan alternatif penting.

2 Bambang Purwanto dan Asvi Warman Adam, Menggugat Historiografi Indonesia (Yogyakarta: Ombak, 2013), hlm. 50.

(3)

Sebelum menjelaskan penggunaan sumber-sumber lisan dalam historiografi Indonesia umumnya dan problem yang dihadapi, uraian di bawah ini akan memfokuskan perhatian pada perkembangan historiografi sejarah lisan baik di luar dan di Indonesia sendiri.

Perkembangan Historiografi Sejarah Lisan

Perkembangan historiografi sejarah lisan tidak memperlihatkan sebuah garis yang linear. Di Eropa sampai abad ke 19, boleh dikatakan historiografi sejarah lisan, marginal. Para sejarawan profesional mendasarkan informasi pada arsip-arsip primer dan sumber-sumber dokumenter lainnya. Penggunaan dan validitas pembuktian informasi lisan baru muncul setelah abad ke-19 dan kemudian meningkat sejak Perang Dunia Kedua, seiring dengan meningkatnya teknologi rekaman melalui tape recorder. Waktu dan pola kebangkitan sejarah lisan ini tentu saja berbeda dari suatu negara dengan negara lain. Di Amerika Serikat, pada tahun 1948 kegiatan sejarah lisan dipelopori oleh Universitas Colombia, yang memfokuskan perhatian pada elite, sementara di Inggris dalam tahun 1950an dan 1960an, lebih tertarik merekam pengalaman ‘ordinary working people’. Pilihan subjek semacam ini tidak bisa dilepaskan dari komitmen politik negara itu. Proyek sejarah lisan di negara ini dipelopori oleh para sejarawan sosial yang melihat sejarah dari bawah.4

Meskipun kemunculan sejarah lisan dan pola-pola perkembangannya bervariasi dari satu negara ke negara lain, tetapi ide-ide dan debat-debat tentangnya terbukti sangat kritis dalam membentuk pendekatan kontemporer untuk sejarah lisan dan terbukti juga sangat mempengaruhi para sejarawan sejarah lisan di berbagai belahan dunia. Di era 1970an, muncul kritik terhadap sejarah lisan mengenai keakuratan pembuktian sumber-sumber lisan. Mereka beragumen bahwa memori tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah yang akurat.5 Kritik-kritik semacam ini ditangkis oleh Paul Thompson dengan menerbitkan buku yang berjudul The Voice of the Past: Oral History yang menjadi buku standar untuk para sejarawan lisan di berbagai belahan dunia. Buku ini diterbitkan pada tahun 1978. Ia beragumen bahwa sejarah lisan telah membawa pergeseran dalam fokus dan membuka areal penelitian baru, dan juga

4 Uraian yang rinci mengenai perkembangan sejarah lisan dan debat-debat yang menyertainya, lihat Robert Perks and Alistair Thomson. The Oral History Reader, London and New York: Routledge, 1998. Hlml. 1-8.

(4)

menemukan informasi baru yang tak ada dalam sumber-sumber lisan. Sebagai seorang sejarawan sosialis Inggris, Thompson menghasilkan sebuah buku “The making of English Working Class”, yang membahas tidak hanya masalah disiplin kerja, akan tetapi juga pengalaman-pengalaman buruh Inggris dan budaya mereka dengan informasi yang diperoleh dari wawancara. Buku ini kemudian menjadi buku pegangan bagi para peneliti sejarah buruh, karena membuka tabir mengenai pengalaman-pengalaman budaya yang memberikan referensi terhadap politik buruh di tempat kerja.

(5)

yang semuanya itu lebih merupakan kekuatan, sumber informasi daripada memperlihatkan kelemahan dan problematikanya.

Perkembangan historiografi sejarah lisan pada tahap berikutnya juga mengalami kritik dari segi pendekatan. Memori dari kelas buruh Turin di Italy yang direkam oleh Passerini juga mendapat kritik, terutama dari kelompok sejarawan yang bekerja di Centre for Contemporary Cultural Studies’ di Birmingham, Inggris. Meskipun Passerini mampu menganalisa pengalaman subjektif dari kelas buruh untuk ‘mengungkapkan dirinya’, tetapi ia tidak melihat bagaimana memori kelas buruh yang tertekan ini dipengaruhi oleh sejarah-sejarah dominan. Karena itu informasi yang diperoleh dari sumber-sumber lisan kelas buruh ini memerlukan intrepretasi yang kritis. Memori-memori perorangan itu semestinya ditempatkan dalam proses yang lebih luas dari produksi sosial dari memory atau memori perorangan juga harus ditempatkan dalam konteks popular memory. Karena itu ada kaitan erat antara kesaksian-kesaksian lisan yang diperoleh dari memori perorangan dan memori sosial.

Historiografi modern terus berkembang secara dinamis sesuai dengan dinamika masyarakat Indonesia pada masa kini dan akan datang. Pada fase penulisan historiografi modern kita dapat mengidentifikasi fase-fase penggarapan kajian sejarah modern dalam sejarah Indonesia. paling tidak, kita dapat membagi fase-fase perkembangan tersebut dalam beberapa dekade perkembangan, yaitu dari periode dekade 1950-an dan 1960-an, periode dekade 1970-an dan 1980-an sampai periode dekade 2000-an. masing-masing dekade dapat dipandang memiliki spirit dan suasana lingkungan masing-masing, sehingga memiliki produksi dan representasi karya masing-masing generasi.

Fase pertama, dapat disebut sebagai fase perkembangan awal atau dekade kelahiran perintis Sejarawan Indonesia Baru (founding father) Ilmu sejarah di lingkungan Perguruan Tinggi ditandai dengan dibukanya jurusan sejarah di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia pada tahun 1950-an kemudian diikuti perguruan tinggi lainnya pada tahun 1960-an. Masa itu dianggap sebagai masa awal sejarah akademik diperkenalkan di Indonesia. 6

Fase kedua, dapat dianggap sebagai fase kelahiran generasi kedua, atau generasi sejarawan murid generasi pertama. Fase ini dikenal sebagai fase

(6)

pemekaran baik secara spasial maupun kualitas akademik, dan pada fase ini, kajian produksi sejarah makin berkembang.

Fase ketiga merupakan kelanjutan dari fase kedua, akan tetapi mulai dihadapkan pada tantangan perubahan zaman, termasuk perubahan tatanan politik dunia dan tatanan politik nasional. Fase terakhir merupakan fase sejarawan dihadapkan pada krisis sejarah.

Ilmu sejarah dengan perangkat teori-metodologi dan metodologi penelitiannya telah membawa perubahan-perubahan yang mendasar dalam visi, perspektif, dan pendekatan kajian dan produksi sejarah yang berbeda dengan masa sebelumnya. Yang paling penting pada masa ini adalah diperkenalkannya Ilmu-Ilmu Sosial dalam penggarapan sejarah. Hal tersebut telah membawa perubahan besar terhadap berkembangnya kajian kritis terhadap Sejarah Indonesia.

Pada awal kemunculannya, terutama sejak 1960-an, sejarah baru yang dipahami sebagai sejarah alternatif dipahami sebagai “sejarah politik”. Setelah mengalami perkembangan sejarah baru dapat dipahami sebagai “sejarah sosial”, yakni sejarah yang lebih menekankan kepada kajian atau analisis terhadap faktor-faktor bahkan ranah-ranah sosial yang mempengaruhi terjadinya peristiwa-peristiwa sejarah itu sendiri.7 Di sini tersirat pandangan dunia yang mendasari penulisan sejarah “sejarah sosial”; bahwa sejarah tercipta dan berkembang bukan semata-mata karena faktor politik, tetapi lebih-lebih lagi disebabkan oleh faktor sosial. Dengan kata lain, politik tidak lagi dipanndang sebagai faktor terpenting – apalagi satu-satunya faktor yang memunculkan peristiwa sejarah.

Menurut Sartono Kartodirjo, “sejarah sosial” adalah sejarah mengenai “gerakan-gerakan sosial” (soscial movement) yang muncul dan berkembang dalam sejarah. Bahkan, sejarah tentang “gerakan-gerakan sosial” ini secara lebih sempit dan dikhususkan lagi, dalam perspektif Sartono, adalah sejarah tentang “gerakan-gerakan sosial”, yang cenderung marjinal, dan menyempal dari arus utama masyarakat atau tatanan sosial politik yang mapan. Dalam kerangka inilah kita bisa menempatkan secara pas, gerakan-gerakan sosial semacam “gerakan petani di Banten”, atau gerakan-gerakan radikal dan rahasia Sarekat Islam yang banyak dikaji Sartono (lihat Kartodirjo, 1966: 1973, 1992, 157-159).

Kajian sejarah yang dilakukan Sartono jelas termasuk ke dalam pengertian lama mengenai “sejarah sosial”. Seperti dikemukakan Hobsbawn (1972),

(7)

“sejarah sosial” dalam pengertian lama mengacu kepada sejarah tentang orang-orang miskin atau masyarakat kelas bawah, atau lebih spesifik lagi, kepada gerakan-gerakan orang miskin. Dalam konteks ini, seperti terlihat dalam studi Sartono tentang Banten dan gerakan-gerakan sosial lainnya di Jawa adalah masyarakat petani yang mengalami deprivasi sosial politik pada saat kolonialisme Belanda berada pada puncak kejayaannya.

Selanjutnya “sejarah sosial” juga mengacu kepada sejumlah aktivitas manusia yang agak sulit diklasifikasikan karena begitu luasnya seperti “kebiasaan” (manners), adat istiadat istilah Jerman biasanya disebut kultur atau

sittengeschicte. “Sejarah sosial” seperti ini, tidak harus selalu diorientasikan kepada masyarakat kelas bawah. Yang jelas, sejarah sosial dalam kategori ini cenderung tidak mengikutsertakan politik; sebagaimana sering terjadi pada “sejarah sosial” dalam pengertian pertama tadi.8 Dalam historiografi Indonesia kontemporer, contoh terbaik adalah karya sejarawan dari The Australian National University, Anthony Reid (1988 dan 1933), dan sejarawan Prancis, Denys Lombard (1996) yang dalam banyak bagian buku masing-masing menampilkan “sejarah sosial” dalam pengertian ini.

menghadapi “krisis Sejarah”: Keraguan terhadap Arah, Tujuan, Pendekatan dan Kajian Sejarah yang berlaku pada Masa Kini.

Ada pertanda bahwa pada akhir-akhir ini telah terjadi keraguan terhadap kemandegan dalam ekplanasi sejarah, sebagai akibat berbagai faktor. Sejarah tampak menjadi tidak yakin akan tujuan, metode, dan arah yang akan dituju, sehingga orang mulai menganggap terjadi ‘krisis sejarah”. Pada pihak lain ada juga yang menyangsikan tentang kebenaran dan ketepatan eksplanasi sejarah bagi publik, sehingga perlu pelurusan sejarah. Sementara pihak lainnya lagi, menganggap belajar sejarah tidak lagi menarik, membosankan dan tidak memiliki manfaat, sehingga memberikan pertanda seolah-olah sejarah mengalami kemerosotan kepercayaan puplik. Demikian pula, sehubung dengan datangnya Era Postmodermisme, ada sementara sejarawan luar yang secara pesimistis menghawatirkan kemajuan kajian sejarah di masa depan, karena ia menganggap pada masa kini sedang berlangsung proses “pembunuhan sejarah” atau “The Kiling of History”. Hal ini terjadi sebagai akibat dari adannya perkembangan teori

(8)

kritis sastra baru dan teori-teori sosial baru yang cenderung membunuh konsep masa lampau kita.9

Perlunnya Pendekatan Visioner dalam Kajian Sejarah Indonesia

dipandang dari perspektif sejarah Histiografi Modern di Barat, pergumulan yang dialami oleh sejarahwan di Indonesia maupun tempat lain, pada hakikatnya bukanlah hal yang baru. Sejak abad ke-18, pergumulan dan perjuangan para pilosof dan sejarawan untuk melakukan pembaharuan arah, tujuan, dan metode serta paradiqma epistemologis, otologis dan metodologis dalam pemikiran kajian Sejarah telah terjadi.

Pendekatan Visioner, secara ringkas dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Pendekatan Visioner yang dimaksud disini hakikatnya adalah sebuah model pendektan integratif sejarah Linear yang menyimbangkan penekanan orientasi kajiannya secara integratif mencakup tiga dimensi temporal masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

b. Kajian sejarah Visioner bertujuan untuk menyusun gambaran sejarah masa yang akan datang ( future history ) berdasarkan kajian data dan faktasejarah yang tersedia pada masa kini dan masa lampau, baik melalui analisis interdisipliner, multidisipliner, multidimensional, maupun monodisipliner kajian sejarah kritis.

c. Kajian sejarah Visioner dapat merumuskan kerangka pemikiran paradigmatik, epistemologis, ontologis, dan teoretis-metodologisnya untuk dapat menjelaskan kecenderngan, pola dan arah atau prediksi perkembangan dimensi kehidupan masyarakat pada masa yang akan datang yang didasarkan pada analiis sejarah.

d. Kajian sejarah Visioner dapat dikembangkan melalui dimensi-dimensi kajian Sejarah politik, Sejarah Sosial, Sejarah Ekonomi,Sejarah Sosial-Ekonomi, Sejarah Kebudayaan, Sejarah Pedesaan, Sejarah Perkotaan, Sejarah Demograsi, Sejarah Maritim, Sejarah Agraria, Sejarah Lingkungan, Sejarah Seni, dan jenis kajiannya yang relawan untuk dikaji.

(9)

e. Kajian sejarah Visioner dapat pula digunakan dalam studi kasus, yang bertujuan untuk pemecahan masalah dan penyusunan kebijakan pembangunan dalam berbagai dimensi yang relawan dengan kajian sejarah. f. Kajian sejarah Visioner relawan dengan isu-isu mutakhir yang berkaitan

dengan isu-isu Global yang menekankan perlunya pendekatan Sustainable Development (pengembangan berkelanjutan,) dalampemecahan persoalan kehidupan pada masa yang akan datang baik dalam jangka panjang maupun pendek,sepertiyang tercermin dalam isu tentang dua puluh prolem Global yang perlu dipecahkan dalam 20 tahun mendatang atau “Twenty Global Problems, twenty years to solve Them”. Isu lainnya yang cukup relawan adalah isu tentang Education for Sustainable Development to Secure Our Future (pendidikan untuk pengembangan berkelanjutan bagi keselamatan kita pada masa yang akan datang). Kedua isu global tersebut relavan dengan kajian sejarah yang berinti pada konsep continuity and change, serta kajian sejarah yang future oriented.

g. Kajian Sejarah Visioner pada dasarnya dapat menjadi alat bantu dalam kajian multidisipliner atau interdisipliner bagi kajian tetntang masalah-masalah masa kini daanmasa mendatang.

h. Kajian Sejarah Visioner memperkuat tugas dan peran sejarawan dalam merekonssiliasaikan kelangsungan dan perubahan masa lampau, masakini dan masa mendatang baik bagi kepentingan akdemik maupun publik.

Beberapa Perspektif pendekatan Visioner Pada Masa Lampau dan masa Kini

(10)

kitab suci, dan demikian pula dengan Ibn Sina mengubah puisi Visionernya dalam karyanya Risalah fi’l ishq.

Didunia jawa, pemikiran Visioner tradisional dapat dijumpai pada pemikiran rangga Warsita,misalnya, dalam karyanya Serat kalatida, dan dalam pemikiran ajaran pendidikan moral Paku Buono 1V dalam karyanya Serat Wulang Reh, Serta Mangku negara 1V dalam karya Serat Wedatama. Bahkan, sebelumnya secara populer di Jawa juga pernh muncul Ramalan Jayabaya yang menggambarkan akan kejadian-kejadian pentin di Jawa pada masa yang akan datang. Sejak lama juga telah muncul jenis-jenis alam pemikiran penujuman, peramalan atau para normal, yang lebih berbasis pada pengatuhan yang berbau pada misti- magis.

Menurut August Comte masa lampau adalah prolog, masa kini beban, dan masa yang akan datang adalah ringkass. Karena itu Comte ingin membuka Selubung masa depan dengan memberikan arah, dan karena seluruh tujuan karyanya ingin diabadikan untuk keselamatan masa depan: savoirpour prevoir.

Comte juga merumuskan sejarah manusia dalam tiga pola era, yaitu Era Teologis (the Teologis Era) Era Metafisika (The Metaphysical Era) dan Era Positif (modern) (The Positif Era). Apabila Turgotpercaya bahwailmu kemajuan ilmu sosial harus dibangun sebagai basis untukperencanaan masa yang akan datang, maka Cordorcet melihat massa depn seara ilmiah dan berusaha untuk “menjinakkannya”;sementara saint Simon menyusun rancangan organisassi pemerintahan bagi dunia masa yang akan datang.

Dalam pandangan Historis Materialisme dan Determinisme Ekonomi-nya Karl Marx (1818-1883) percaya bahwa satu-satunya faktor yang menentukan kehidupan manusia adalah ekonomi, karena itu ia merumuskan perkembangan masyrakat dalam lima tahapan perkembangan, yaitu dari (1) masyarakat komunisme primitif (2)Masyarakat Perbudakan Kuna (3)Masyarakat di bawah Feudalisme Abad Pertengahan (4)Masyarakat dibawah sistem Kapitalisme; dan sampai mencapai tahap masyarakat hidup dibawah sistem (5) Sosialisme/ komunisme (yang waktu it belum tiba)

Oswald Spengler (1880-1936) dalam karyanya Decline of the West,

(11)

kebudayaan besar dunia, sehingga memungkinkan ia dapat mempredisikannya secara umum tentang jalannya sejarah masa depan (the course of future history). Prediksi Spengler terutama menyatan bahwa kebudayaan barat telah menemui ajalnya (doom), setelah ia melihat dari berakhirnya bebudayaan barat (the begonning of the end). Ia percaya bahwa setiap kebudayaan berlangsung melalui sebuah siklus mirip dengan siklus organisme. Kebudayaan dilahirkan, tumbuh kuat, melemah, dan akhirnya mati.

Arnold Toynbee, tidak puas dengan teori Spengler, sehingga karyanya A Study of History, menyatakan pemikiran visionernya untuk menjawab persoalan timbul tenggelamnya peradabanndngan doktrinnya challenge-end-response

(tantangan dan jawaban). Setelah 1945, akhir Perang Dunia II, ekonomi Barat mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat besar. Sementara di bagian dunia terbesar lainnya masih dalam kondisi perekonomian yang “stagnant”, dibanding dengan bangsa-bangsa yang telah mengalami proses industrialisasi. Secara umum telah diakui bahwa proses industrialisasi akan membentuk pola yang bersifat universal yang akan diulangi oleh setiap bangsa. Pada tahun 1960-an telah timbul upaya untuk mengintensifkan pola universal tersebut, yang membutuhkan ketersediaan data-data sejarah yang luas, sehingga dimensi sejarah di sini menjadi sangat penting dan tidak dapat diabaikan.

(12)

Karya Rostwo, The Process of Economic Growth dapat disebutkan sebagai salah satu contoh perwujudan dari pendekatan sejarah visioner yang cukup berhasil. Berpangkal pada perspektif ekonomi industrial Daniel Bell, dalam karyanya The Coming of the Post-Industrial Society, juga secara visioner membahas tentang kehadiran masyarakat pasca-industrial (post-industrial society), melalui pembagian tahapan tiga fase perkembangan peradaban masyarakat industrial atas fase Pra-industrial (Pre-Industrial), fase Industrial (Industrial), dan fase Pasca-Industrial (Post-Industrial). Tidak lengkap kiranya apabila tidak menyebutkan dua karya penting yang menggunakan pendekatan sejarah visioner pada akhir abad ke-20 dari Francis Fukuyama dan Samuel Hantington.

Francis Fukuyama dalam karyanya The End of History and the Last Man, sesuai dengan judulnya, membahas tentang kecenderungan dan perubahan tatanan politik dunia setelah berakhirnya Perang Dingin (Cold War), yang ditandai dengan runtuhnya rezim pemerintahan komunis Soviet Rusia pada tahun 1990. Samuel Huntington dalam karyanya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, di lain pihak, secara historis visioner berpendapat bahwa berakhirnya Perang Dingin akan membawa perubahan tatanan politik dunia antara lain sebagai berikut. Pertama, untuk pertama kalinya dalam sejarah politik global menjadi bercorak multipolar dan multisivilisasional. Kedua, perimbangan kekuasaan diantara peradaban mengalami pergeseran. Ketiga, sebuah peradaban berbasis pada tatanan dunia tengah muncul. Keempat, meningkatnya pretensi universalis Barat membawa akibat konflik dengan peradaban lain. Kelima, survivalitas Barat tergantung pada Amerika dengan memperkuat kembali identitas Barat dan orang Barat menerima peradabannya sebagai keunikan bukan sebagai yang universal.

Dalam kaitannya dengan kajian sejarah di Indonesia, karya Widjojo Nitisastro,

(13)

lain, tetapi bukan mengenai Indonesia, yaitu karya Peter Hall, Cities of Tomorrow: An Intellectual History of Urban Planning and Design in the Twentiet Century, yang dalam hal ini dapat dipakai sebagaibahan inspirasi bagi penelitian sejarah kota di Indonesia yang menggunakan perspektif dan pendekatan sejarah Visioner.

C. Penutup

Historiografi kontemporer sering diistilahkan sebagai sejarah baru atau “sejarah alternatif”. Sejarah baru ingin merubah pandangan sejarah lama yang cenderung mengarah ke sejarah politik. Sejarah baru memiliki visi dan perspektif yang luas. Historiografi alternatif ini mengandung pembaruan dalam hal sumber, metodologi dan perspektif.

Setelah mengalami perkembangan sejarah baru tidak lagi dipandang sebagai sejarah politik. sejarah baru dapat dipahami sebagai “sejarah sosial”, yakni sejarah yang lebih menekankan kepada kajian atau analisis terhadap faktor-faktor bahkan ranah-ranah sosial yang mempengaruhi terjadinya peristiwa-peristiwa sejarah itu sendiri. Di sini tersirat pandangan dunia yang mendasari penulisan sejarah “sejarah sosial”; bahwa sejarah tercipta dan berkembang bukan semata-mata karena faktor politik, tetapi lebih-lebih lagi disebabkan oleh faktor sosial. Dengan kata lain, politik tidak lagi dipanndang sebagai faktor terpenting – apalagi satu-satunya faktor yang memunculkan peristiwa sejarah.

Historiografi juga berkembang secara lisan. Perkembangan historiografi sejarah lisan tidak memperlihatkan sebuah garis yang linear. Di Eropa sampai abad ke 19, boleh dikatakan historiografi sejarah lisan, marginal. Para sejarawan profesional mendasarkan informasi pada arsip-arsip primer dan sumber-sumber dokumenter lainnya. Penggunaan dan validitas pembuktian informasi lisan baru muncul setelah abad ke-19 dan kemudian meningkat sejak Perang Dunia Kedua, seiring dengan meningkatnya teknologi rekaman melalui tape recorder.

(14)

D. Daftar Pustaka

andhian.blogspot.com

Azyumardi Azra, 2002. Historiografi Islam Kontemporer, Jakarta: Gramedia Pustaka utama

Bambang Purwanto dan Asvi Warman Adam, 20013. Menggugat Historiografi Indonesia, Yogyakarta: Ombak

Djoko Suryo, 2009. Transformasi Masyarakat Indonesia dalam Historiografi Indonesia Modern, Yogyakarta: STPN Press

Referensi

Dokumen terkait

uraian di atas, maka judul penelitian ini adalah “ Pengaruh Pertumbuhan Penjualan, Perputaran Kas, Perputaran Piutang dan Perputaran Persediaan terhadap Profitabilitas

[r]

Dari hasil pengujian hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara angka harapan hidup terhadap jumlah penduduk miskin

keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri dan dielakkan oleh siapapun, justru keragaman atau kebinekaan merupakan suatu berkah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang

Sehubungan dengan surat pemberitahuan kegiatan dari Kwartir Cabang Kota Kediri no 90/13 30-B tentang seleksi Pramuka Garuda dan Lencana Bintang Tahunan yang akan dilaksaanakan pada

pH point of zero charge adalah nilai pH pada titik temu antara garis lurus dari kurva pH awal terhadap pH akhir ( pada nilai pH awal sama dengan pH akhir) dengan pH akhir

[r]

Makalah ini mencoba untuk melihat secara kritis fenomena partisipasi politik masyarakat melalui internet serta hubungannya dengan kualitas demokrasi.. Apakah