• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resolusi Konflik Pada Anak dan Remaja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Resolusi Konflik Pada Anak dan Remaja"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

RESOLUSI KONFLIK

PADA ANAK DAN REMAJA

Nama kelompok :

Rahmad Dwi Purnama Putra 11320009

Sarah Faulia Sari 12320098

Linda Indah Asriani 12320108

Nur Chasanah 12320205

Hani Nurul Hikmah 12320222

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

(2)

1. Pendahuluan a) Latar Belakang

Manusia tanpa masalah atau konflik nampaknya tidak mungkin. Karena masalah akan selalu ada, serta memiliki pola berulang dari generasi ke generasi. Hal ini sudah merupakan hal lumrah yang dialami oleh seseorang. Dengan kata lain, konflik tidak bisa dihindari. Begitu pula yang terjadi pada anak dan remaja. Meskipun usia mereka terbilang muda, tetapi bisa jadi mereka juga mengalami konflik yang sejenis dengan dewasa lain. Seharusnya anak dan remaja mampu mengembangkan diri serta meraih prestasi cemerlang, tetapi konflik yang dialami sebagian besar dari mereka justru menghambat pencapaian prestasi. Banyak dari mereka yang akhirnya menjadi anak “nakal”. Beberapa anak di Indonesia bahkan harus tinggal di dalam sel karena perbuatan mencuri atau melakukan perkelahian. Seperti yang di posting oleh UNICEF dalam webnya “Kebanyakan dari ribuan anak Indonesia saat ini berada di balik jeruji besi, dikirim ke penjara-penjara yang penuh sesak dengan pelaku kekerasan dewasa dan tanpa fasilitas khusus untuk memenuhi kebutuhan mereka”. Sebagian besar masalah pada anak-anak yang diproses dalam sistem peradilan seringkali mengaku menderita akibat tindakan kekerasan terhadap mereka.

Kemudian seorang ahli seperti Stanley Hall dalam Mappiare (1982) , yang disebut sebagai Bapak Psikologi Remaja ilmiah menyebutkan masa remaja sebagai " storm dan stress". Masa peralihan ini banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan sosialnya. Hal ini disebabkan karena remaja bukan kanak-kanak lagi tetapi juga belum dewasa dan remaja ingin diperlakukan sebagai orang dewasa, sedangkan lingkungan menganggap bahwa remaja belum waktunya untuk diperlakukan sebagai orang dewasa.

(3)

untuk mendapatkan keinginannya tetapi juga untuk menyakiti atau menghabisi lawannya.

Dapat disimpulkan bahwa konflik merupakan masalah yang timbul dari pikiran atau persepsi manusia. Oleh sebab itu, perlunya edukasi untuk mengenali jenis-jenis konflik sangat diperlukan supaya kita dapat memahami pola konflik terjadi yang terjadi pada anak maupun remaja. Mereka berhak untuk dapat mengembangkan dirinya dengan baik dalam hal pendidikan demi kualitas hidupnya seperti yang dilansir dari laman www.bappenas.go.id sesuai dengan UUD 1945 Pasal 28B ayat (1). Dengan demikian, konflik diharapkan dapat diselesaikan atau setidaknya diusahakan supaya tidak mengganggu kegiatan akademik anak dan remaja.

b) Landasan Teori

Konflik berasal dari bahasa latin yaitu configere yang berarti memukul (etimologi). Menurut Antonius, dkk (2002: 175) konflik adalah suatu tindakan salah satu pihak yang berakibat menghalangi, menghambat, atau mengganggu pihak lain dimana hal ini dapat terjadi antar kelompok masyarakat ataupun dalam hubungan antar pribadi. Sedangkan menurut Scannell (2010: 2) konflik adalah suatu hal alami dan normal yang timbul karena perbedaan persepsi, tujuan atau nilai dalam sekelompok individu.

Dalam Power Point mata kuliah Resolusi Konflik Anak dan Remaja Universitas Indonesia menyebutkan adanya 3 jenis konflik. Pertama yaitu marital conflict, konflik terjadi akibat adanya pertikaian antar orangtua yang mempengaruhi gaya pengasuhannya dan berpengaruh pada interaksi anak dengan orang lain. Kedua yaitu sibling conflict, konflik ini bersumber pada perlakuan yang berbeda, perhatian, iklim keluarga, serta penguatan dan modeling dari orangtua. Kemudian pada konflik saudara juga dilihat dari usia anak, rentang usia anak dengan saudara kandungnya, jenis kelamin, serta ada tidaknya saudara kandung dengan kebutuhan khusus. Ketiga peer conflict, yaitu konflik yang terjadi pada anak maupun remaja dengan teman sebayanya serta ditandai adanya pertikaian.

(4)

mampu diatasi dengan baik dapat menggangu bagi kesehatan psikologis atau kesehatan mental (mental hygiene) individu yang bersangkutan. Sedangkan konflik interpersonal ialah konflik yang terjadi antar individu. Konflik ini terjadi dalam setiap lingkungan sosial, seperti dalam keluarga, kelompok teman sebaya, sekolah, masyarakat dan negara. Konflik ini dapat berupa konflik antar individu dan kelompok, baik di dalam sebuah kelompok (intragroup conflict) maupun antar kelompok (intergroup conflict). Dalam penelitian ini titik fokusnya adalah pada konflik sosial remaja, dan bukan konflik dalam diri individu.

2. Identitas Responden

(5)

mengenakan sepatu ketika pelajaran berlangsung. Saat ditanya alasannya GD tidak mau menjawab mengapa ia mewarani rambutnya dan tidak mengenakan sepatu. Setelah ditanyakan kepada guru ternyata diketahui bahwa ayah dan kakak GD sudah meninggal ketika GD kelas 2 SD. Sejak saat itu GD mulai jarang masuk sekolah dan beberapa kali tidak naik kelas. Ibu GD menikah lagi, GD memiliki 2 kakak tetapi menurutnya hubungannya kurang begitu dekat. GD kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya dan keluarga besarnya yang menjadi pemicu timbulnya perilaku GD.

B. Responden kedua

Respinden kedua bernama KK, seorang siswa kelas 5 SD. Anak bungsu dari 3 bersaudara, orang tua KK adalah seorang guru olahraga di SDN Krawitan. Menurut pengakuannya, KK sering bertengkar dengan kakak keduanya yang memiliki rentang usia cukup jauh. Kakaknya sudah kuliah sedangkan KK masih duduk di kelas 5 SD. Kakak KK sering mengganggunya yang menyebabkan mereka bertengkar. Mereka sering berkonflik karena berebut kamar padahal mereka sudah memiliki kamar masing-masing. Kakak KK juga sering tidak mau mengalah dengan KK dalam hal apapun. Menurut pengakuan KK sendiri, ketika mereka tengah bertengkar, kerap sekali orang tuanya menyalahkan KK ketimbang menyalahkan kakaknya. Darisinilah KK mulai merasa jengkel terhadap kakaknya sendiri.

C. Responden ketiga

RW adalah seorang siswa kelas 4 SD. Disekolah RW termasuk anak yang aktif dan lumayan bandel. RW beberapa kali terlibat perkelahian dengan temannya disekolah bahkan sampai membuat temannya menangis. RW juga sering dimarahi oleh kakaknya yang memiliki rentang usia cukup jauh

 Jenis Konflik : Marital konflik

- Ayah meninggal ketika GD masih kelas 2 SD - Ibu menikah lagi

(6)

Perilaku GD timbul karena ia kurang mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Terutama dari ayahnya yang sudah meninggal ditambag sekarang GD memiliki ayah tiri.

Karena GD kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang seharusnya ia dapatkan di usianya. Sehingga GD menyimpulkan bahwa dirinya berbeda dari teman-teman lain dan

berusaha menarik perhatian lingkungannya.

GD beruhasa mencari perhatian dari lingkungannya dengan cara memberontak, mewarnai rambutnya dan mengganggu teman-temannya. Bahkan ketika di kelas GD tidak pernah

memperhatikan guru dan tidak pernah memakai sepatu.

B. Responden kedua

 Jenis Konflik : Konflik Saudara Kandung (rentang usia yang cukup jauh).  Rentang usia saudara kandung terpaut jauh

 Pemahaman dan keinginan yang berbeda

Konflik yang terjadi terhadap responden kedua ini termasuk dalam Limited Resources yang disebabkan oleh pihak-pihak yang kurang bisa membagi sumber-sumber yang diinginkan

oleh masing-masing dari mereka. Pihak tersebut adalah kakak KK sendiri.

Origins

Unmed basic needs belonging

Konflik konseptual

Conflict

Aggression

Response to conflict

(7)

Dimana gagasan dan keinginan dari kk tidak sejalan dengan saudara kandungnya sendiri.

Responden yang kedua ini lebih memilih diam atau menarik diri (tidak melakukan perlawanan) karena kk tidak mungkin melawan terhadap kakaknya yang berusia jauh diatas

usianya.

C. Responden Ketiga

 Jenis Konflik : Konflik teman sebaya

 Perbedaan pendapat dan keinginan

Konflik pada responden ketiga ini termasuk pada unmet basic needs – fun dikarenakan konflik yang terjadi seputar pertikaian teman sebaya yang berbeda pendapat atas dasar

kebutuhan mereka untuk bersenang-senang.

Konflik yang terjadi pada responden ketiga termasuk dalam konflik kepentingan dimana individu terlibat dalam hubungan pertemanan yang memiliki keinginan yang beragam di masa perkembangan pemahaman mereka. Kemudian mereka memilih bertikai untuk

mendapatkan keinginan mereka yang berbeda-beda.

Conflict

Konflik kontroversi

Withdrawl

Response to conflict

Unmet Basic Needs - Fun

Origins

Konflik kepentingan

Conflict

(8)

RW lebih memilih memberi resolusi terhadap konfliknya, hal ini ditunjukan RW ketika dia lebih memilih bermaafan untuk menghadapi konfliknya tersebut

5. Kesimpulan

(9)

Daftar Pustaka

http://www.unicef.org/indonesia/id/reallives_19909.html

http://eprints.uny.ac.id/9882/3/BAB%202%20-%2008104241005.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan gaya resolusi konflik pada remaja ditinjau dari tipe kepribadian normal introvert dan normal ekstravert.. Penelitian ini

menekankan pada diri sendiri (100%), remaja yang memiliki inteligensi rata-rata cenderung menggunakan gaya resolusi konflik yang lebih menekankan pada orang lain (72%), sedangkan

Dari hasil penelitian ini telah membuktikan bahwa terdapat perbedaan gaya resolusi konflik pada remaja ditinjau dari peran gender, dimana remaja dengan peran gender feminin

Menurut hemat penulis, apabila melihat fakta seputar konflik Aceh dan kolonial Belanda dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: (1) konflik bermula dari maklumat perang

Koefisien korelasi bertanda positif (+) memiliki arti bahwa hubungan antara tingkat pendidikan dengan persepsi masyarakat mengenai konflik gajah dengan manusia

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa, Perluasan masalah distribusi mutual exclusion (DME) menjadi beberapa masalah resolusi konflik terdistribusi

Pelibatan semua pihak yang terlibat dalam konflik diperlukan karena konflik sangat melibatkan masyarakat sipil dengan berbagai kelompok sosial yaitu antar etnis, antar pemeluk agama

Perbedaan kepekaan ibu dan ayah terhadap anaknya menjadi masalah tersendiri bagi keluarga dengan orang tua tunggal ayah salah satunya adalah dalam resolusi konflik.. Tujuan dari