ISLAM PADA MASA ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata ”khalifah” diambil dari bahasa Arab, yang secara harfiah berarti seseorang yang menggantikan kedudukan orang lain karena hilang atau meninggal dunia. Dalam konteks masyarakat Islam kata khalifah berarti pemimpin umat yang menggantikan posisi Rasulullah Saw. sebagai pemimpin politik, militer dan segala urusan umat Islam. Sementara itu, kata “Rasyidin” lebih ditekankan pada empat khalifah pasca-Rasulullah Saw. mulai dari Abu Bakar Ash-Shiddiq sampai Ali Ibn bi Thalib yang dipandang sebagai tokoh Islam yang mengagumkan dan adil. Dalam pembahasan ini dibahas secara terperincih salah satu khalifah, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Menurut Rasyid Ridha, kata khalifah cenderung pada pengertian sebagai pengganti atau wakil Rasulullah Saw. sebagai kepalapemerintahan Islam atau kepala negara yang bertanggung jawab atas kemajuan agama dan politik .
Khalifah pertama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang secara tidak langsung dipilih secara demokrasi oleh para sahabat, walaupun pada saat itu ada dua kubu yang berbeda, yang pada akhirnya bersatu.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini memiliki beberapa rumusan masalah, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pembai’atan abu Bakar Ash-Shiddiq?
C. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui proses pembaiatan Abu bakar Ash-Shiddiq.
2. Mengetahui proses-proses berat yang dihadapi Abu Bakar Ash-Shiddiq.
BAB II
PEMBAHASAN
Abu bakar Ash-Siddiq lahir pada tahun 573 M di Mekah. Nama aslinya adalah Abudullah Ibn Utsman, sebelum masuk Islam juga ia bernama Abdul Ka’bah, setelah masuk Islam oleh Rasulullah ia di panggil Abdullah. Mengenai gelar Abu Bakr Ash-Shiddiq yang dibawanya dalam kehidupan sehari-hari, menurut para penulis karena ia orang yang paling dinih masuk Islam.1 Ayahnya bernama Utsman Ibn Amir dan di juluki Abu Quhafah, ibunya bernama Ummu
Al-Khair Salma binti Sakhr. Nasabnya bertemu Rasulullah Saw. Pada kakeknya, Murrah Ibn Ka’ab Ibn Lu’ai. Abu bakar berasal dari Kabilah Taim Ibn Murrah Ibn Ka’ab, Kabilah Taim adalah satu dari dua belas cabang dari suku Quraisy. Namun, kabilah ini bukanlah kabilh yang besar.2
Abu Bakar Ash-Shiddiq bertubuh kurus dan berkulit putih. Aisyah putri Abu Bakar mengatakan bahwa ia berkulit putih, kurus, kedua pelipisnya tipis, kecil pinggangnya (sehingga kainnya selalu turun dari pnggangnya), wajahnya lancip, matanya hitam, keningnya lebar, dan urat-urat tangannya tampak jelas,3 karena hal ini pulalah banyak sumber mengatakan Abu Bakar
Ash-shiddiq mendapat julukan Atiq.
Abu Bakar telah mengharamkan minuman keras untuk dirinya pada masa jahiliyah. Bahkan, dia tidak pernah menyembah dan bersujud pada sebuah berhala apapun. Dia adalah sahabat Rasullullah yang dianggap sebagai orang kedua dalam islam setelah Rasullullah.4
Semasa kecil Abu Bakar hidup seperti umumnya anak-anak di makkah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja ia bekerja sebagai pedagang pakaian. Usahanya ini mendapat sukses. Dalam usia muda ini ia menikah dengan Kutailah binti Abdul Uzza, dari perkawinan ini
1 Muhammad Husaen Haekal, Abu Bakar As-Shiddiq, (Jakarta: PT. Pustka Litera Antarnusa),
hlm. 1.
Abu Bakar memiliki dua anak yaitu Abdullah dan Asma’ (Zatun-ni-taqoin). Sesudah dengan Kutailah ia menikah lagi dengan Umm Rauman binti Amir bin Awaimar dari perkawinan ini Abu Bakar memiliki anak Abdurrahman dan Aisyah. Kemudian di Madinah Abu Bakar menikah dengan Habibah binti Kharij, setelah itu menikah dengan Asma’ binti Umais melahirkan seorang putra bernama Muhammad. 5
Abu Bakar selalu senantiasa menemani Rasullullah sejak masuk islam hingga wafat Rasullullah. Dia behijrah bersama Rasullullah ke Madinah dan bersama-sama pula bersembunyi di gua Tsur, pada malam permulaan hijrah sebelum melanjutkan perjalanan.6 Abu Bakar selalu
terlibat dalam berbagai peristiwa yang dialami Rasullullah. Dia adalah orang yang tidak lari dan tetap pendirian ketika banyak pasukan melarikan diri pada saat perang Hunain. Abu Bakar dikenal sebagai salah seorang pemberani yang selalu gagah didalam segala medan perang, dia dikenal sebagai sosok yang dermawan dan menginfakan sebagian hartanya di jalan Allah.
Pada perang Tabuk Abu Bakar menyedekahkan hartanya untuk bekal pasukan Islam. Sedangkan, panji Islam dalam perang ini berada ditangannya. Banyak sabahat yang masuk Islam melaui perjuangan dakwahnya bersama Rasullullah, diantaranya adalah Utsman Ibn Affan, Zubair Ibn Awwam, dan Abdurrahman Ibn Auf. Dia telah membeli dan membebaskan sejumlah budak yang mendapat siksaan keras dari tuannya, diantarannya adalah Billal Ibn Rabbah, Amir Ibn Fuhairah, Zanirah, dan yang lainnya.
Kata-kata Abu Bakar mengenai Isra’ Mi’raj menunjukkan pemahamannya yang dalam tentang wahyu dan risalah, yang tidak dapat ditangkap oleh kebanyakan orang. Disinilah pula Allah telah memperlihatkan kebijakan-Nya tatkala Rasulullah memilih seorang teman dekat saat ia di pilih oleh Allah menjadi Rasul-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat munusia. Itulah pula bukti kuat, bahwa kata yang baik seperti pohon yang baik, akarnya tertanam kukuhdan cabangnya (menjulang) ke langit, dengan jejak yang abadi sepanjang zaman, dengan karunia Allah. Ia tak akan di kalahkan oleh waktu, tak akan dilupakan.7
5 Muhammad Husaen Haekal, Abu Bakr As-Shiddiq, hlm. 3. 6 A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, hlm. 226.
Rasullullah mengutus Abu Bakar sebagai ketua rombongan Haji pada tahun 9 Hijriyah atau 630M, tatkala Rasullullah ditimpa sakit menjelang wafatnya, beliau bersabda, “Suruhlah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat”.
A. Proses Pembai’atan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Ketika Nabi Muhammad Saw. wafat, tidak ada pesan siapa yang akan menggantikan beliau. Bahkan, Nabi Muhammad Saw. tidak tegas menyatakan siapa yang akan menggantikan beliau setelah wafat, cara membangun sistem, dan struktur sosial kenegaraan. Nabi Muhammad Saw. hanya mengembangkan pemerintahan dalam perpolotikan metropolis yang diisi dengan nilai-nilai etis moral keislaman.8 Sehingga pengangkatan ini menimbulkan ijtihad. Ijtihadlah
yang dilakukan para sahabat tentang mekanisme khalifah pengganti Rasulullah Saw.
Tidak adanya petunjuk yang jelas setelah Rasulullah wafat dan menimbulkan krisis dikalangan umat Islam, terutama yang tinggal di Madinah, karena jika tidak ada penggantinya, Madinah akan menghadapi ancaman. Ketegangan ini berakhir ketika Ummar bin Khattab memelopori pambaiatan Abu Bakar Shiddiq sebagai pengganti Rasulullah.9
Sebelum pembai’atan Abu Bakar terjadi berdebatan antara kaum Muhajirin dan Kaum Anshar, kaum Anshar menginginkan pengganti Rasulullah berasal dari kaum mereka, begitu pula kaum Muhajirin. Perdebatan itu terjadi di Tsaqifah Banu Sa’idah. Walaupun perdebatan saat itu sangat alot tapi pada akhirnya terjadi mufakat. Atas kehendak kaum Muslimin serta sahabat-sahabat dekat Rasulullah maka Abu Bakar di bai’at oleh kaum Muslimin, yang pertama kali membai’at Abu Bakar adalah Umar Ibn Khottob, dan oleh Umar Ibn Khottob Abu Bakar diikrarkan seraya berkata;”Abu Bakar, bukanlah Rasulullah menyuruhmu memimpin Muslimin sholat? Engkaulah penggantinya (khalifahnya), kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai oleh Rasulullah diantara kita semua ini.”
Kemudian menyusul, Abu Ubaidillah memberikan ikrar: “Engkaulah dikalangan Muhajirin yang paling mulia.” Lalu pembai’atan itu diikuti oleh sahabat-sahabat yang lain,
8Sulasman dan Suparman,Sejarah Islam di Asia & Eropa, (Bandung: CV Pustaka Setia), hlm.
62.
diantaranya, Basyir Ibn Sa’ad, Hubab Ibn al-Munzir, dan sahabat lainnya, tidak ketinggalah pula Usaid Ibn Hudair, pemimpin Bani Aus ikut membai’at Abu Bakar, sambil menoleh kepada kaumnya yang juga sedang memperhatikan para sahabat yang sedang membai’at Abu Bakar. Usaid Ibn Hudair berkata: “kalau sekali khazraj memerintah kita, maka akan tetap mereka mempunyai kelebihan atas kita dan dengan mereka sama sekali kita tidak akan mendapat hak apa-apa. Maka marilah sekarang kita baiat Abu Bakar.”
Ketika itu Aus segera bertindak memberikan ikrah kepada Abu Bakar, kemudian disusul oleh Khazraj yang sudah merasa puas, mereka juga cepat-cepat membaiat, sehingga tempat di Saqifah itu penuh sesak. Karena makin banyak orang yang datang memberi ikrar.
Sesudah Abu Bakar diangkat menjadi khalifah beliau berpidato. Dalam pidatonya itu dijelaskan siasat pemerintahan yang akan beliau jalankan. Dibawah ini kita kutip prinsip” yang diucapkan Abu Bakar dalam pidatonya itu, antara lain beliau berkata:
“Wahai manusia!!! Saya telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantaramu. Maka jikalau aku menjalankan tugasku dengan baik, ikutilah aku, tetapi jika aku berbuat salah, maka benarkanlah!! Orang yang kamu pandang kuat, saya pandang lemah, hingga aku dapat mengambil hak daripadanya, sedang orang yang kamu pandang lemah, saya pandang kuat, hingga saya dapat mengembalikan haknya kepadanya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi bilamana aku tidak menaati Allah dan Rasul-Nya kamu tak perlu menaatiku.”
Ketika pelantikan Abu Bakar selesai sudah di Saqifah, jenazah Nabi di rumah masih dikelilingi keluarga: Ali Ibn Abi Talib, Abbas Ibn Abdul Muttalib bersama beberapa orang yang ikut menyelenggarakan. Tidak jauh dari mereka, di dalam masjid ada juga beberapa orang dari kalangan Muhajirin.
Seperti kita lihat, bai’at ini selesai dalam keadaan yang membuat beberapa sumber menghubungkan kata-kata ini pada Umar: “peristiwa sangat tiba-tiba sekali.”
menyelamatkan Islam yang baru tumbuh itu dari malapetaka, yang hanya Allah saja yang tahu akan segala akibatnya. 10
Abu Bakar telah meratakan jalan untuk menghilangkan segala perselisihan dikalangan muslimin. Ia juga telah meratakan jalan menuju politik yang polanya sudah diletakkan oleh Rasullullah untuk mencapai keberhasialan sehingga membuka pula jalan kearah kedaulatan Islam di kemudian hari. Dengan karunia Allah juga, akhirnya agama ini tersebar ke segenap penjuru dunia.
Sejak kejadian Saqifah itu pihak Anshor sudah tidak lagi berambisi untuk memegang pimpinan Muslimin. Baik pada waktu pelantikan Umar Ibn Khatab, pelantikan Usman Ibn Affan sampai pada waktu terjadinya pertentangan antara ali dengan Muawiya, hak anshar tidak berbeda dengan apa yang sudah diperoleh oleh kalangan Arab lainnya, seolah mereka sudah yakin benar apa yang pernah dikatakan oleh Abu Bakar, bahwa dalam hal ini orang-orang Arab itu hanya mengenal lingkungan Quraisy. Bahkan sesudah itu mereka merasa cukup senang hidup disamping Muhajirin. Merekapun puas sekali dengan wasiat Rasulullah dalam sakitnya yang terakhir tatkala berkata: 11
“Saudara-saudara Muhajirin, jagalah kaum Anshar itu dengan baik; sebab selama orang bertamah banyak, orang-orang Anshar akan seperti itu juga keadaanya, tidak bertambah. Mereka orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberikan perlindungan kepadaku. Hendaklah kamu berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan maafkanlah kesalahan mereka.”
Tak lama setelah selasai pelantikan itu Abu Bakar dan mereka yang hadir di Tsaqifah kembali ke Masjid. Waktu itu sudah sore. Kaum Muslimin sedang mengikuti berita-berita dari rumah Aisyah mengenai penyelenggaraan pemakaman Rasulullah.
B. Proses-Proses Berat Yang Dihadapi Abu Bakar Diawal Pemerintahannya
10 Muhammad Husaen Haekal, hlm. 45.
Banyak proses-proses berat yang di hadapi Abu Bakar di awal pemerintahannya, adapun politis, Ar-riddah merupakan pembangkangan terhadap lembaga kekhalifahan. Gerakan ini muncul sebagai akibat kewafatan Rasulullah Saw. Mereka melepaskan kesetiaannya kepada khalifah, bahkan menentang agama Islam karena menganggap bahwa perjanjian yang dibuat Rasulullah Saw. batal disebabkan kewafatannya. Gerakan mereka mengancam stabilitas keamanan wilayah dan kekuasaan Islam. Oleh karena itu, khalifah dengan tegas melancarkan operasi pembersihan gerakan tersebut.12
Abu Bakar tinggal di Madinah sampai benar-benar ia merasa yakin bahwa pasukan Usamah sudah berkumpul semua, kemuadian bersama meraka ia berangkat ke Zul-Qossah. Pasukan itu di baginya menjadi dua belas brigade dengan masing-masing dibawah pimpinan satu orang. Kemudian ia mengeluarkan perintah kepada mereka masing-masing agar memobilisasi Muslimin yang kuat-kuat dan persiapan untuk berangkat untuk menghadapi kaum murtad.13
Untuk melindungi kota Madinah Abu Bakar memperkuat dengan Brigade yang lebih kecil. Karena ketika itu Madinah sudah aman dari kemungkinan adanya serangan dari luar .
Sejak itu Abu Bakar tidak lagi meninggalkan Madinah bukan karna tidak ingin bersama-sama dengan muslimin dalam segala perjuangan itu, tetapi karena Madinah sudah menjadi markas komando tertinggi seluruh pasukan, dan sumber semua pengiriman perintah untuk bergerak dari tempat ke tempat yang lain. Abu Bakar
12Sulasman dan Suparman, Sejarah Islam di Asia dan Eropa, hlm. 64.
mengeluarkan perintah kepada semua komandan pasukan agar jangan ada yang pindah dari perang berkelompok yang sudah dimenangkan untuk bergerak ke tempat lain sebelum mendapat izin. Dia yakin sekali bahwa kesatuan komando dalam perang merupakan salah satu taktik yang paling kuat dan tepat, dan jaminan untuk mencapai kemenangan.
Brigade Kholid Ibn Walid adalah yang terkuat diantara belasan Brigade yang dibentuk. Anggotanya terdiri atas para pejuang pilihan dari Muhajirin dan Anshor. Dan Kholid Ibn Walid sendiri yang memilih pasukannya. Kemudian dalam menghadapi Irak dan Syam perjuangan mereka juga tiada taranya.
2. Gerakan Penumpasan Nabi Palsu
Setelah Rasulullah wafat, seluruh jazirah Arab murtad dari adama Islam kecuali Makkah, Madinah, dan Thaif. Sebagian orang murtad ini kembali kepada kekufuran lamanya dan mengikuti orang-orang yang mengaku sebagai nabi, sebagian yang lain hanya tidak mau membayar zakat.
Para sahabat menasehati Abu Bakar agar dia tidak memerangi mereka karena kondisi ummat Islam yang sangat sulit dank karena sebagian pasukan Islam sedang diberangkatkan untuk berperang melawan tentara Ramawi yang dipimpin oleh Usama Ibn Zaid. Namun Abu Bakar menolak usulan mereka.
Tatkala Abu Bakar mengantarkan pasukan Usama, para sahabat segera keluar ketempat-tempat masuk kota Madinah untuk menjagannya. Dia memerintahkan kepada kaum muslimin untuk selalu siap siaga di masjid untuk bersiap-siap menjaga kemungkinan terjadinya serangan mendadak di kota Madinah agar mereka akan gampang mengusir musuh yang datang itu. Abu Bakar keluar sendiri melihat kondisi pintu-pintu masuk kota Madinah.
palsu. Khalid menyambut mereka di sumur Buzakhah dan menghajar mereka hingga akhirnya mereka kalah dan bertaubat.
Kemudian mereka berangkat ketempat-tempat Bani Yarbu’ dan Bani Tamim yang berada di Battah. Khalid memerangi mereka dan akhirnya pemimpin yang bernama Malik Ibn Nuairah pun tewas. Khalid berhasil menaklukan mereka.
3. Gerakan Terhadap Orang-orang yang Enggan Membayar Zakat
Kekacauan yang menimpa kawasan Arab itu berkesudahan dengan berbaliknya mereka dari Islam, sementara diantara yang lain tetap dalam Islam tetapi tidak mau membayar zakat kepada Abu Bakar. Keengganan membayar zakat itu baik karena kikir dan kelihaian mereka seperti kelihainnya dalam mencari dan menyimpan uang, atau kerena anggapan bahwa pembayaran itu sebagai upeti yang sudah tak berlaku lagi sesudah Rasulullah tiada, dan boleh dibayarkan kepada saja yang mereka pilih sendiri sebagai pemimpinnya di Madinah. Mereka mogok tak mau membayar zakat dengan menyatakan bahwa dalam hal ini mereka tidak tunduk kepada Abu Bakar.
Demikian yang terjadi dengan kabilah-kkabilah yang dekta dengan Madinah, terutama kabilah Abs dan Zubyan. Untuk memerangi mereka tidak mudah setelah Abu Bakar melaksanakan perintah mengirimkan Usamah, sebab sudah tidak ada lagi pasukan untuk mempertahankan Madinah.
Abu Bakar mengadakan rapat dengan para sehabat besar itu guna meminta saran dalam memrangi mereka yang tak mau menunaikan zakat. Umar Ibn Khattab dan beberapa orang sahabat berpendapat untuk tidak memerangi umat yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan lebih baik meminta bantuan kepada mereka dalam menghadapi musuh bersama dan sebagian kecil yang lain menghendaki jalan kekerasan. Abu Bakar melibatkan diri mendukung gerakan minoritas, betapa kerasnya ia membela pendiriannya itu, tampak dari kata-katnya ini: “demi Allah, orang yang keberatan menunaikan zakat kepadaku, yang dulu mereka lakukan kepada Rasulullah, akan aku perangi”.
Dengan bergolaknya tanah Arab, harapan bangsa Persia dan Romawi untuk menghancurkan dan menumpaskan agama Islam hidup kembali. Bangsa Persia dan Romawi menyokong pergolakan ini, serta melindungi orang-orang yang melindingi pemberontakan itu.
Oleh karena itu, kaum muslimin setelah dapat mengamankan tanah Arab kembali, bersiap pula utntuk berangkat ke utara, guna menghadapi nusuh besar yang selalu menunggu-nunggu waktu yang baik untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
Di wilayah timur (Persia) mendominasi wilayah yang sangat luas yang meliputi Irak, sebagian barat Syam, bagian utara jazirah Arab. Dismping itu, sejumlah besar kabilah-kabilah Arab juga tunduk dibawah kekuasaan mereka. Kabilah-kabilah ini bekerja dengan dukungan kaisar Persia. Untuk melanjutkanjihad ditmpat itu, Abu Bakar mengirim Khalid Ibn Walid dan Mutsanna Ibn Haritsah sebagai panglima. Mereka mampu memenangkan peperangn dan membuka Hirah serta beberapa kota di Irak. Diantaranya adalah Anbar, Daumatul Jandal, Faradh dan yang lainnya. Setelah itu khalifah Abu Bakar memerintahkan kepada Khalid Ibn Walid untuk bergabung dengan pasukan Islam yang ada di Syam.14
Di wilayah barat (Romawi), Abu Bakar memberangkatkan pasukan-pasukan Islam, diantaranya, pasukan dibawah pimpinan Yazid Ibn Abu Sufyan ke Damaskus, pasukan dibawah pimpinan Amr Ibn Ash ke Palestina, pasukan dibawah pimpinan Syarahbil Ibn Hasanah ke Yordania, dan pasukan dibawah pimpinan Abu Ubaidillah Ibn Jarrah ke Hims (dia adalah komandan umum), pasukan Islam saat itu berjumlah sekitar dua belas ribu pasukan. Sedangkan, pasukan IKrimah sebagai pasukan cadangan berjumlah enam ribu orang. Psukan Romawi menyambut kedatangan pasukan Islam itu dengan dua ratus empat ribu personil.15
Permulaan perang Yarmuk (13 H /634 M), khalifah Abu Bakar memerintahkan Khalid Ibn Walid agar segera berangkat bersama-sama pasukannya untuk menuju Syam dan menjadi panglima perang di sana. Khalid pun segera melakukan apa yang diperintahkan khalifah. Maka, mulailah Khalid melakukan perjalanan historis dengan menembus padang Sahara yang sebelumnya belum pernah dia lalui.16
14 Ahmad al-Usairy, hlm 148 15Ibid.,
Khalid baru sampai di Syam setelah melakukan perjalanan panjang selama 18 hari. Maka, bergabunglah kaum muslimin hingga mencapai 26.000 personil. Dia kemudian mengatur pasukannya dan membaginya dalam beberapa divisi.17
Pertempuran ini terjadi di sebuah pinggiran sungai Yordania yang disebut Yarmuk. Maka, berkecamuklah perang dengan sangat sengitnya. Pada saat perang berkecamuk dengan sengitnya, datang kabar bahwa Abu Bakar meninggal dunia dan Umar menjadi penggantinya. Khalid diturunkan dari posisinya sebagai panglima dan segera diganti oleh Abu Ubaidah Ibn al Jarrah. Peristiwa ini terjadi pada Jumadil Akhir pada tahun 13 H atau 634 M.18
Satu hal yang perlu dicatat dari peristiwa diatas yang mengandung decak kagum dan rasa kebanggaan adalah sikap Khalid Ibn Walid. Tatkala dia dinyatakan diturunkan dari posisisnya sebagai pamglima perang, dia menerimanya dengan lapang dada dan penuh rela. Padahal, saat itu dia sedang berada di puncak kemenangannya yang sangat gemilang lebih hebatnya lagi dia terus berperang dengan serius dibawah pimpinan panglima baru.19
Sedikitnya penaklukan di masa khalifah Abu Bakar terjadi karena adanya beberapa sebab yaitu diantaranya: pendeknya masa pemerintahan Abu Bakar yang hanya berusia dua tahun tiga bulan sepuluh hari, karena disibukkan dengan perang melawan orang-orang murtad yang meliputi seluruh Jazirah Arab, dan walaupun demikian peperangan yang terjadi di masa pemerintahan Abu Bakar dalam hal melawan orang-orang Romawi dan Persia telah berhasil menaklukan musuh-musuh Islam dan sekaligus mamapu menunjukan kekuatan kaum muslimin.20
D. Wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 634 M. dalam usia sekitar 62 tahun. Ia di makamkan di samping makam Rasullulah Saw. Ada pelajaran menjelang wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia memegang tampuk pemerintahan sepeninggalan Rasulullah Saw. Periode pemerintahan yang singkat yaitu selama dua tahun tiga bulan sepuluh hari , di tandai oleh keteguhannya meneruskan kebijakan Rasulullah Saw. dalam berbagai bidang, kendati tidak jarang di usulkan untuk diubah. Dalam hal itu ia juga di kenal sebagai
17Ibid., 18 Ibid., 19 Ibid.,
orang yang lemah lembut tetapi tidak menurangi sikap tegasnya sebagai khalifah. Sumber yang dapat diterima mengenai sakitnya Abu Bakar sampai meninggalnya, dengan mengacu kepada puterinya, ummul mukminin Aisyah dan kepada puteranya Abdurrahman. Mereka berkata: “Abu Bakar sakit dimulai pada saat hari yang sangat dingin ia mandi, lalu selama lima belas hari ia merasa demam, tidak keluar rumah untuk melaksanakan shalat, ia meminta Ummar Ibn Khattab mengimami shalat.21
Tetapi selama dua minggu dalam sakit sampai wafatnya itu pikiran Abu Bakar selalu tertumpu pada nasib kaum muslimin, selalu membuat perhitungan dengan dirinya, apa yang telah dilakukannya sejak ia memegang pimpinan ummat.sejak sakitnya itu kuat sekali perasaannya bahwa ajal sudah dekat, dan dia akan bertemu tuhan. Menghadapi itu ia merasa gembira, puas, karena saat itu sudah mencapai usia ketika Rasulullah berpulang ke Rahmatullah, dan dia merasa sudah melaksanakan kewajibannya kepada Allah. Suatu hari pernah ada yang berkata padanya: mengapa tidak meminta pertolongan dokter?”, ia menjawab: “dia sudah melihatku”. “lalu apa katanya kepadamu?”, dia menjawab:”aku boleh berbuat sesuka hatiku”. Hal ini menandakan bahwa dia telah menyerahkan segala persoalan kepada Allah, dan apa yang sudah menjadi kehendak Allah dia sudah merasa bahagia dan yang sangat didambakannya sekiranya Allah menempatkannya di sisi-Nya. 22
BAB III
21 Muhammad Husaen Haekal, hlm 364
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah pengganti pemerintahan (khalifah) pertama setelah Rasulullah wafat, ia dipilih secara demokrasi oleh kaum Muslimin dan di bai’at oleh para sahabat.
2. Banyak kesulitan yang di hadapi Abu Bakar dalam awal pemerintahannya, karena di masa Abu Bakar inilah masa transisi setelah wafatnya Rasulullah, proses-proses sulit itu dihadapinya dengan baik, mulai dari perang Riddah, menumpas nabi palsu, dan memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat.
3. Perluasan wilayah
4. Abu bakar mejadi kholifah selama 2 tahun 3bulan 10 hari, sampai akhir hayatnya.
B. Saran
Para sejarawan hendaknya mencari kebenaran dari peristiwa masa lampau, bukan hanya mencari banyak literatur saja, karena mestinya meneliti sumbernya langsung agar mendapat bukti yang otentik dan dengan itu sejarah memiliki nilai kebenaran yang lebih tinggi.
Haekal, Muhammad Husaen. 2013. Abu Bakr As-Shiddiq. Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa.
A. Syalabi. 1994. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta Pusat: Pustaka Alhusna. Usairy, Ahmad. 2003. Sejarah Islam. Jakarta: Akbar.