PEMBERLAKUAN KEMBALI GBHN
Oleh:
Patty Regina
Rafli Fadilah Achmad
Valeryan Natasha
Universitas Indonesia
Depok
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS
Kami yang bertandatangan di bawah ini :
Nama : Patty Regina Nama : Rafli Fadilah
NPM : 1106056075 NPM : 1206246313
Program Studi : Ilmu Hukum Program Studi: Ilmu Hukum
Nama : Valeryan Natasha
NPM : 1206251471
Program Studi: Ilmu Hukum
Menyatakan bahwa artikel imiah yang berjudul :
PEMBERLAKUAN KEMBALI GBHN
Benar-benar merupakan hasil karya pribadi dan seluruh sumber yang dikutip maupun dirujuk telah kami nyatakan dengan benar. Demikian pernyataan ini kami buat dengan sebenarnya, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Apabila di kemudian hari terbukti terdapat pelanggaran di dalamnya, kami siap untuk didiskualifikasi dari kompetisi ini sebagai bentuk tanggung jawab kami.
Depok, 10 Juni 2015
Daftar Isi
Lembar Pernyataan Orisinalitas...2
I. PENDAHULUAN...4
II. PEMBAHASAN...5
II.1. Pandangan Pro terhadap Pemberlakuan Kembali GBHN...5
II.1.1. GBHN Sebagai Perwujudan Kedaulatan Yang Konkret Ditinjau Dari Proses Pembentukannya...5
II.1.2 GBHN Sebagai Penguatan Prinsip Checks and Balances...6
II.1.3.GBHN Terbukti Mampu Mewujudkan Pembangunan Nasional Yang Lebih Sukses, Konsisten dan Berkesinambungan...8
II.2 Pandangan Kontra terhadap Pemberlakuan Kembali GBHN...10
II.2.1 GBHN Bertentangan Dengan Sistem Presidensil Yang Indonesia Anut...11
II.2.2 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Lebih Baik Daripada GBHN Ditinjau Dari Segi Mekanisme dan Segi Ke-Otonomi Daerahan...12
III. PENUTUP...11
DAFTAR PUSTAKA...14
Negara Indonesia sebagai negara yang masih berkembang memerlukan suatu arah pembangunan yang jelas dan konkret untuk mewujudkan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat Indonesia serta menjadikan Indonesia sebagai negara yang adidaya. Perencanaan pembangunan di Indonesia merupakan suatu keniscayaan yang mutlak keberadaanya, karena tanpa diawali suatu perencanaan maka tidak akan mungkin dapat memberikan pembangunan sesuai dengan apa yang telah diharapkan.1 Itu artinya perencanaan
pembangunan adalah ujung tombak manajemen dalam mengelola pembangunan di suatu negara terkait dalam menentukan tindakan yang akurat dan tepat di masa depan melalui urutan skala prioritas dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.2 Selain itu juga,
tanpa adanya pembangunan yang terarah tidak mungkin tujuan negara yang tertuang pada alinea ke-4 Pembukaan UUD NRI 1945 dapat tercapai.3 Mengingat pentingnya arti
pembangunan maka diperlukan suatu sistem perencanaan pembangunan nasional yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia saat ini.
Faktanya instrumen hukum perencanaan pembangunan nasional telah mengalami berbagai macam dinamika sesuai dengan perkembangan dan perubahan pada zamannya. Perubahan yang sangat fundamental pernah terjadi pada saat amandemen UUD 1945, dimana pada saat sebelum reformasi perencanaan pembangunan nasional dilakukan berdasarkan Garis-Garis Besar Haluan Negara atau yang selanjutnya disebut dengan GBHN.4 Kemudian,
memasuki era reformasi pembangunan nasional kini tidak lagi didasarkan pada GBHN melainkan melalui Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang diejawantahkan lebih lanjut menjadi rencana pembangunan jangka panjang (RPJP), rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) dan rencana pembangun tahunan (RPT).5 Salah satu alasan
perubahan tersebut disebabkan karena adanya harapan untuk menghasilkan rencana pembangunan melalui hasil proses politik yang lebih sehat (public choice theory of planning)
belah sisi. Diharapkan pembahasan dari sudut pro dan kontra merupakan suatu hal yang arif dan bijak untuk mengetahui secara holistik permasalahan ini.
II.
PEMBAHASAN
Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara sistem pembangunan GBHN dan SPPN yang perlu diulas lebih awal sebelum masuk kedalam tataran argumentasi yang lebih dalam dan kompleks. Pertama dari sisi sejarahnya, GBHN pertama kali diberlakukan melalui Penetapan Presiden No.1 Tahun 1960 yang melegitimasi konsepsi mengenai Manipol Usdek sebagai arahan pembangunan nasional Indonesia kedepan.6 Alasan mengapa bentuk pertama
kalinya adalah Penetapan Presiden karena pada saat itu MPR belum terbentuk, sehingga GBHN yang semula direncanakan dimuat dalam TAP MPR untuk sementara waktu dimuat dalam Penetapan Presiden. Sedangkan adanya SPPN di Indonesia ditujukan untuk mengganti keberadaan GBHN sebagai arah perencanaan pembangunan nasional yang sudah tidak dibuat lagi, hal itu termuat dalam konsiderans butir A Undang-Undang No.17 Tahun 2007 sebagai amanat dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004.
Kedua dari segi definisi dan konsep, GBHN adalah haluan negara tentang arah dan tujuan pembangunan nasional yang menjadi pedoman untuk Presiden dalam menjalanan roda pemerintahan serta berisi tentang pernyataan kehendak rakyat yang ditetapkan oleh MPR setiap lima tahun sekali dalam rangka mencapai tujuan negara..7 Sedangkan SPPN adalah
satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana ditingkat Pusat dan Daerah yang dituangkan melalui RPJP, RPJM dan RKP.8
Ketiga dari lembaga yang membentuk dan produk pembentukannya, GBHN dibuat oleh MPR sebagai lembaga tertinggi negara dan produk pembentukannya melalui TAP MPR,9 sedangkan SPPN dibuat oleh Presiden selaku kepala pemerintahan dan produk
pembentukannya melalui suatu undang-undang yaitu Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 dan Undang-Undang No.17 Tahun 2007.10
II.1. Pandangan Pro terhadap Pemberlakuan Kembali GBHN
II.1.1 GBHN Sebagai Perwujudan Kedaulatan Yang Konkret Ditinjau Dari Proses Pembentukannya
Menurut Jean Bodin dalam bukunya Six Livres de la Republique pada tahun 1675 bahwa kedaulatan adalah summa in cives ac subditos legibusque soluta potestas atau yang jika diartikan bermakna sebagai kekuasaan tertinggi di dalam suatu negara.11 Berdasarkan
rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Menurut Profesor Jimly Pasal tersebut harus dimaknai bahwa rakyatlah yang memegang kekuasaan tertinggi di dalam suatu negara.12 Maka dari itu salah satu bentuk konsekuensi dari paham kedaulatan rakyat yang
Indonesia anut adalah mengikutsertakan rakyat atau perwakilannya dalam menentukan arah pembangunan nasional karena pada dasarnya pembangunan itu pada akhirnya ditujukan kepada rakyat juga,13 sehingga pastilah yang mengetahui kebutuhan dasar faktualnya adalah
rakyat itu sendiri.
Namun sayangnya baik secara konseptual maupun empirik, 250 Juta rakyat Indonesia tidak akan mungkin bisa semuanya melakukan pembahasan untuk menentukan arah pembangunan nasional sehingga dibutuhkanlah lembaga yang mewakili aspirasi rakyat itu sendiri dan perwujudan rakyat yang paling representatif dan institusional sejatinya terletak di lembaga Majelis Perwakilan Rakyat. Mengapa MPR? karena pada dasarnya MPR terdiri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah.14 Kedua lembaga
tersebut merupakan organ yang merepresentasikan rakyat dari dua perspektif yang berbeda yakni dari aspirasi politik dan aspirasi daerah sehingga mampu dikatakan sebagai penjelmaan dari seluruh rakyat Indonesia (Ver-tretungsorgan des willens des Staatsvolkes).15 Terlebih
lagi proses pembentukan RPJP dan turunannya saat ini sama sekali tidak mencerminkan perwujudan dari prinsip kedaulatan rakyat yang hakiki karena proses penyusunannya yang hanya dilakukan oleh Presiden dan timnya saja, tanpa adanya keterlibatan dari unsur masyarakat lainnya, sehingga tidak heran apabila SPPN dan turunannya disebut sebagai
executive perspective saja.16 Presiden juga tidak dapat dikatakan sebagai bukti nyata dari
penjewantahan prinsip kedaulatan rakyat karena Presiden terpilih sejatinya hanyalah Presiden yang bersuara mayoritas, bukan representasi 100% rakyat Indonesia.
Hal ini tentunya berbeda apabila GBHN kembali diterapkan dan diletakan pada kewenangan MPR. Dimana kedaulatan rakyat itu dapat lebih tercermin dan terasa dari proses pembentukan GBHN yang dilakukan oleh MPR selaku lembaga negara yang identik dengan kedaulatan rakyat karena didalamnya terdiri dari anggota DPR dan anggota DPD yang memiliki nilai representatif tinggi dari sudut politik dan daerah.17 Maka dari itu GBHN patut
untuk diterapkan kembali sebagai penjewantahan prinsip kedaulatan rakyat yang hakiki dengan melibatkan peran serta masyarakat yang diasosiasikan melalui MPR, bukan dengan oleh Presiden semata melalui SPPN nya.
II.1.2 GBHN Sebagai Penguatan Prinsip Check and Balances
yang dinamakan sebagai mekanisme checks and balances.18 Mekanisme ini sejatinya
merupakan salah satu tuntutan reformasi karena pada masa sebelumnya terdapat sejarah kelam adanya pemusatan kekuasaan pada satu lembaga tertentu saja.19 Tujuan dari adanya
sistem checks and balances adalah untuk mengatur hubungan antara satu lembaga dengan lembaga negara lainnya agar tercipta suatu kondisi yang saling mengimbangi dan mengawasi agar mampu menghindari terjadinya pemusatan kekuasaan yang berpotensi menimbulkan otoriterisme serta penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang.20
Maka dari itu salah satu cara untuk menerapkan dan menejewantahkan mekanisme
checks and balances adalah dengan memberlakukan kembali GBHN sebagai arah pembangunan nasional Indonesia. Hal tersebut dikarenakan dengan adanya GBHN akan membuat MPR dapat melakukan mekanisme checks and balances secara langsung terhadap program pembangunan yang telah Presiden lakukan. Hal tersebut dikarenakan pada dasarnya GBHN bukan semata-mata berfungsi sebagai arah pembangunan nasional saja, akan tetapi didalamnya terkandung juga mekanisme kontrol kepada Presiden agar membangun sesuai dengan apa yang telah disepakati.21 Dengan adanya mekanisme ini tentunya akan
menstimulus Presiden agar tidak melakukan program pembangunan yang asal-asalan dan sewenang-wenang dari arah roda pemerintahan yang telah disusun oleh MPR. Lebih lanjut, dengan situasi Presiden yang terus selalu merasa diawasi untuk mengikuti arah pembangunan sesuai dengan GBHN tentunya akan memotivasi Presiden untuk melakukan pembangunan yang semata-mata hanya berorientasi kepada kesejahteraan rakyat karena apabila terbukti menyeleweng dari GBHN terdapat sanksi yang tegas berupa impeachment kepada Presiden dengan dalih telah melakukan tindakan yang inkonstitusional.22 Sejalan dengan hal tersebut
Penulis sekaligus merevisi ketentuan dari GBHN yang semula hanya berisi tentang dasar pembangunan nasional, agenda jangka panjang, dan pembangunan lima tahun kini ditambahkan dengan adanya ketentuan sanksi berupa impeachment apabila Presiden terbukti secara sengaja melanggar GBHN sebagai arah pembangunan yang telah disusun oleh MPR.
Terlebih lagi saat ini prosedur SPPN yang termuat dalam RPJP berdasarkan pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 sama sekali tidak merefleksikan semangat
ada situasi yang saling mengimbangi dan mengawasi karena segala sesuatunya telah dikelola secara mandiri oleh satu lembaga saja tanpa adanya keterkaitan dengan lembaga negara lainnya. Kemudian bagaimana mungkin ada kondisi yang saling mengimbangi dan mengawasi karena pada faktanya lembaga lain tidak memiliki tempat dalam mengurusi permasalahan ini. Lebih jauh lagi, situasi yang tidak sehat ini akan menimbulkan pemusatan kekuasaan dalam hal pembangunan yang hanya ada di satu cabang kekuasaan saja yakni Eksekutif dan dikhawatirkan kegagalam sistem ini akan berdampak kepada pembangunan yang dilakukan hanya berorientasi kepada kepentingan Eksekutif semata.
II.1.3 GBHN Terbukti Mampu Mewujudkan Pembangunan Nasional Yang Lebih Sukses, Konsisten dan Berkesinambungan
Ketika GBHN dijadikan sebagai arahan pembangunan nasional pada saat sebelum reformasi telah banyak bukti yang mengindikasikan bahwa GBHN memiliki kontribusi penting dalam kesuksesan pembangunan pada saat itu. Tidak heran ketika semasa GBHN diberlakukan Indonesia kerap diganjar sebagai salah satu “Macan Asia” dan dikategorikan sebagai Newly Industrializing Economies (Negara Baru Ekonomi Industri) karena memiliki pembangunan yang progresif sehingga menjadi kekuatan yang diperhitungkan di Asia.23
Berikut adalah beberapa bukti kesuksesan GBHN yang pernah terjadi :
(1) Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semula tengah minus 2,25% pada tahun 1963, kemudian sejak diberlakukannya GBHN berhasil meningkat hingga menyentuh angka 12% pada tahun 1969, atau rata-rata 7,2% hingga tahun 1997.24 (2) Harapan hidup (Life Expectancy) yang semula hanya berkisar pada angka 56 tahun, kemudian sejak GBHN diberlakukan dibuatlah fasilitas-fasilitas kesehatan yang memadai seperti puskesmas di tiap kecamatan dan peningkatan kualitas rumah sakit yang menyebabkan angka harapan hidup meningkat menjadi 71 tahun.25 (3) Angka kemiskinan absolut yang semula mencapai angka
60% pada tahun 1966 merosot tajam hingga menjadi 14% pada tahun 1990. 26 (4) GBHN juga
berhasil menyediakan kebutuhan primer masyarakat Indonesia berupa rumah atau papan. Dimana berkat arahan pembangunan dari GBHN pemerintah Indonesia berhasil membangun 441.923 unit rumah dan dilengkapi dengan kebijakan KPR atau kredit kepemilikan rumah.27
swasembada beras pada tahun 1984, hal ini tentunya menuai banyak decak kagum dari masyarakat internasional khususnya FAO PBB.28
Bukti-bukti kesuksesan di atas bukanlah tanpa sebab, alasan utamanya adalah konsistensi dan kesinambungan konsep GBHN yang dinilai lebih mumpuni ketimbang SPPN itu sendiri. Dalam GBHN orientasi yang dibuat adalah untuk jangka panjang dengan perencanaan yang matang selama 25 tahun dan dilakukan secara bertahap selama 5 tahun sekali melalui REPELITA, selain itu GBHN juga tidak mudah diubah-ubah karena dibuat dan disusun oleh MPR yang secara logika pasti akan lebih stabil dan sulit diubah karena terdiri dari berbagai macam elemen masyarakat yang terasosiasikan melalui anggota DPR dan anggota DPD, berbeda halnya dengan SPPN yang hanya dibuat oleh Presiden seorang yang nantinya akan membuat SPPN itu mudah diubah-ubah sesuai dengan kehendak Presidennya. Hal ini membuktikan bahwa SPPN dalam implementasinya sangatlah tidak konsisten.
Permasalah lain yang kerap terjadi pada SPPN dan tidak terjadi pada GBHN adalah tidak adanya jaminan bahwa SPPN maupun RPJPN itu dilaksanakan secara konsisten oleh pemangku kepentingan terkait karena tidak adanya mekanisme yang jelas untuk untuk menilai apakah dokumen-dokumen perencanaan tersebut dibuat sebagai tindak lanjut dari RPJPN seperti di level nasional, RPJMN, Renstra- KL, RKP, RKK dan di level daerah yaitu RPJMD, Renstra SKPD, RKPD, Renja SKPD memang sudah merujuk kepada RPJP ataukah tidak.29 Apalagi jika ditambahkan dengan keharusan untuk mengintegrasikan penjabaran visi
dan misi Presiden/ Kepala Daerah terpilih, maka potensi ketidaksinambungan dengan RPJP tentunya menjadi lebih besar lagi.30 Logika yang relevan untuk dipakai adalah semakin
banyak lapisan yang ada tentunya akan semakin membuka peluang ketidaksinambungan antara dokumen-dokumen perencanaan tersebut, terlebih lagi dengan tidak adanya mekanisme penyelarasan antar dokumen tentunya membuat masalah ketidaksinambungan sebagai sesuatu yang tidak dapat dielakan. Sehingga dapatlah kita simpulkan bahwa didalam SPPN terdapat persoalan yang mendasar dan sistematis karena memicu terjadinya inkonsitensi dan ketidaksinambungan antara berbagai macam dokumen perencanaan lanjutan sebagai turunan dari RPJP Nasional sebagai induknya. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan proses pembangunan seolah-olah berjalan sendiri-sendiri dan menjadi tidak berpola, sedangkan kondisi seperti ini hampir tidak pernah terjadi pada era sebelumnya karena pada saat itu hanya GBHN lah yang merupakan rujukan utama proses perencanaan pembangunan baik di level nasional maupun di daerah.31
II.2. Pandangan Kontra terhadap Pemberlakuan Kembali GBHN
Dalam proses amandemen UUD 1945 sejak tahun 1999 hingga tahun 2002 terdapat lima komitmen yang disepakati oleh panitia ad-hoc MPR RI32 Lima komitmen tersebut yakni
tidak mengubah pembukaan UUD 1945, tetap mempertahankan NKRI, penjelasan UUD 1945 ditiadakan, perubahan UUD 1945 dilakukan dengan cara adendum, dan yang terakhir adalah mempertegas sistem pemerintahan presidensil.33 Kesepakatan dasar untuk mempertegas
sistem pemerintahan presidensil dimaksudkan untuk memperkokoh sistem pemerintahan yang stabil dan demokratis yang dianut oleh negara Republik Indonsia agar sesuai dengan apa yang telah dipilih oleh founding fathers pada tahun 1945. Berbicara dalam konteks sistem pemerintahan maka erat kaitannya dengan bagaimana cara pemerintahan di suatu negara dijalankan. Dalam sistem pemerintahan presidensil menurut Prof. Jimly, Abdul Ghoffar dan Duchacck terdapat beberapa karakteristik khusus yang membedakannya dengan sistem pemerintahan parlementer yakni : (1) Presiden dan kabinetnya tidak bertanggungjawab kepada legislatif, akan tetapi langsung kepada rakyat.34 (2) Presiden memiliki hak prerogratif
untuk menentuhkan arah pembangunan nasional selaku kepala pemerintahan sekaligus kepala negara.35
Indonesia sebagai negara yang dengan tegas menganut sistem pemerintahan presidensil dalam pelaksanaanya kerap menuai banyak halangan dan permasalahan, salah satunya adalah ketika GBHN itu diberlakukan. Dimana dengan adanya GBHN membuat semangat sistem pemerintah presidensil yang Indonesia anut menjadi tercederai. Hal itu dikarenakan dengan diterapkannya GBHN akan membuat Presiden harus mempertanggungjawabkan pembangunan yang telah dilakukannya kepada MPR selaku lembaga yang membuat GBHN itu sendiri. Jika dikorelasikan dengan karakteristik sistem pemerintahan presidensil butir-A dari sini saja penerapan GBHN sudah tidak valid dengan sistem pemerintahan presidensil karena menyebabkan Presiden harus bertanggungjawab kepada MPR bukan kepada rakyat secara langsung.
ketatanegaraan pun, sekarang ini Presiden bukan lagi sebagai mandataris dari MPR akan tetapi sebaga mandataris langsung dari rakyat sehingga itu artinya tidak ada lagi hubungan kausalitas antara Presiden dan MPR selain daripada masalah sumpah jabatan dan pelantikan.
II.2.2 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Lebih Baik Daripada GBHN Ditinjau Dari Segi Mekanisme dan Segi Ke-Otonomi Daerahan
Terdapat dua kelebihan dari SPPN yang tidak dimiliki oleh GBHN. Pertama SPPN itu lebih terarah karena mulai dari perencanan, pelaksanaan hingga pengawasan ada dibawah satu garis komando yaitu oleh eksekutif atau Presiden. Hal ini tentunya membuat SPPN menjadi lebih terarah dan mudah dilaksanakan karena hanya dipegang oleh satu lembaga saja, lebih lanjut hal ini akan memudahkan koordinasi karena mulai dari perencanaan hingga pada tataran pelaksanaan semuanya dipegang oleh Presiden selaku cabang kekuasaan yang memiliki wewenang penuh dalam melakukan pembangunan. Sedangkan GBHN justru memicu ketidaksinambungan antara program yang diharapkan dan program yang direalisasikan, karena proses perencanaanya ada di MPR sedangkan pelaksanaannya ada di Presiden, hal ini tentunya akan membuat Presiden merasa tidak nyaman karena program yang nantinya akan dilaksanakan tidak sesuai dengan apa yang diyakinkan.
Kedua, dalam SPPN terdapat mekanisme bernama Musrenbang atau Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang terdiri dari unsur-unsur penyelenggara negara, akademisi dan unsur masyarakat.36 Itu artinya SPPN dibuat berdasarkan kajian praktik dan akademik
yang mumpuni karena melibatkan banyak pihak dalam perencanaanya, meskipun pada akhirnya perencanaan final ada di tangan Presiden. Sedangkan GBHN penyusunannya hanya dilakukan oleh MPR secara sendiri, tanpa adanya peran serta dari unsur-unsur lain yang memiliki pertimbangan pula. Hal ini tentunya mengakibatkan proses perencanaan GBHN hanya bermuatan unsur politik semata, berbeda dengan SPPN yang kaya akan muatan kebutuhan praktik dan akademik.
Ketiga, SPPN sejatinya membawa semangat otonomi daerah. Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban yang dimiliki oleh daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat di wiliyahnya berdasarkan prinsip yang seluas-luasnya.37 Dengan format SPPN yang terdiri dari RPJMD membuat pemerintah
daerahnya. Sedangkan dalam GBHN yang hanya terdiri dari satu dokumen perencanaan justru membuat daerah terpaksa tunduk atas perencanaan pembangunan yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat. Hal itu disebabkan karena penyusunan GBHN bersifat sentralistik dan
Top-Down,38 tentunya hal ini meningkatkan potensi tidak terakomodirnya kebutuhan khusus
yang berbeda-beda di berbagai wilayah karena segala perencanaan pembangunan diseluruh wilayah Indonesia disamaratakan oleh Pemerintah Pusat melalui GBHN. Kemudian berdasarkan data aktual dari laporan Bapenas terkait evaluasi RPJMN pada tahun 2010-2014, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan SPPN sudah efektif dan terlaksana dengan baik, hal ini mengindikasikan bahwa SPPN telah layak dan mampu menggantikan peran GBHN sebagai sistem perencanaan pembangunan nasional. Berikut adalah beberapa contoh kesuksesan SPPN yang tertuang dalam RPJP yakni : (1) Program penghapusan buta aksara yang ditargetkan 4,18 , dengan SPPN hasilnya 4,40%. (2) Pertumbuhan Ekonomi yang ditargetkan 7%, dengan SPPN hasilnya sudah 6.5%. (3) Pengurangan Kemiskinan yang ditargetkan 10%, dengan SPPN hasilnya 11,66%. (4) Pengentasan Pengangguran yang ditargetkan 6 %, dengan SPPN hasilnya 6.32%.39
III. PENUTUP
Permasalahan mengenai stagnansi pembangunan yang kerap dirasakan akhir-akhir ini membuat romantisme kepada GBHN kembali disemarakan. Pasalnya perencanaan pembangunan memegang peranan penting dalam melaksanakan pembangunan itu sendiri karena dengan perencanaan yang baik niscaya hasil pembangunan yang terwujud akan baik pula. Permasalahannya saat ini terdapat dua opsi format mengenai arah perencanaan pembangunan nasional yang memiliki kebaikan dan keburukan masing-masing yakni Garis-Garis Besar Haluan Negara dan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Pandangan yang pro terhadap pemberlakuan kembali GBHN mendasari alasannya bahwa GBHN merupaka perwujudan kedaulatan yang konkret ditinjau dari proses pembentukannya. Selain itu, GBHN juga dinilai sebagai manifestasi konkret dari penguatan sistem checks and balances yang ingin dikedepankan di Indonesia. Kemudian disempurnakan dengan bukti-bukti aktual bahwa GBHN lebih sukses ketimbang SPPN itu sendiri.
1Muhammad Hasbi Arbi, “UUD-1945 dan GBHN Sebagai Kendali Yuridis Dalam Pembangunan Nasional” Variasi : Vol. 4 No.12, Juni-Juli 2013, h.3.
2Indonesia, Undang-Undang Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, UU No. 25 Tahun 2004, LN No.104 Tahun 2004, TLN No.4421, Pasal 1.
3Patrialis Akbar, Arah Pembangunan Nasional Menurut Undang-Undang Dasar,
http://www.fhumj.org/berita_info/berita_detail/17, diakses pada 10 Juni 2015.
4M. Solly Lubis, Politik dan Hukum di Era Reformasi, Jakarta : Mandar Maju, 2000, h.50.
5Minto Rahayu, Pendidikan Kewarganegaraan : Perjuangan Menghidupi Jati Diri Bangsa, Jakarta : Grasindo, 2007, h.102.
6Alex Dinuth, Kewaspadaan Nasional dan Bahaya Laten Komunis, Jakarta : Intermasa, 1997, h.137. 7Hasbi Arbi, op.cit., h.1.
8Alfitra Salamm, Prospek dan Tantangan Implementasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, 2005-2025, Jakarta : Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi Sekretariat Jendral DPR RI, 2007, h.35.
9Aim Abdulkarim, Pendidikan Kewarganegaraan : Membangun Warga Negara yang Demokratis, Jakarta : Grafindo,2007, h.46.
10Mintro Rahayu, op.cit., h. 103.
11James Brown Scott, Law, The State, and The International Community, New Jersey : Union, 2002, h.332. 12Jimly Asshidiqie, Makalah Berjudul Gagasan Kedaulatan Lingkungan Demokrasi Versus Ekorasi, http://www.jimly.com/makalah/namafile/128/Demokrasi_dan_Ekokrasi.doc, h.6.
13Luhut M. Pangaribuan dan Benny K.Harman, Hak Rakyat Atas Pembangunan : 40 Tahun Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia Jakarta : YLBHI dan FNS, 1989, h. 104.
14Dahlan Thaib, Kedaulatan Rakyat, Negara Hukum dan Konstitusi, Jakarta : Liberty, 1999, h.12. 15Dimyati Hartono, Problematik dan Solusi Amandemen UUD 1945, Jakarta : Gramedia, 2009, h.121.
16Mardety Mardiansyah Tenaga Ahli Anggota DPR RI, “Kembali Ke Sistem GBHN?”
http://www.kompasiana.com/mardety/kembali-ke-sistem-gbhn_552fe8e56ea8349d628b4603, diakses pada 10 Juni 2015.
17A.M Fatwa, Potret Konstitusi Pasca Amandemen UUD 1945, Jakarta : Kompas, 2009, h.307.
18Denny Indrayana, Amandemen UUD 1945 : Antara Mitos dan Pembongkaran, Bandung : Mizan, 2007, h.47. 19M. Nasruddin Anshorly, Dekonstruksi Kekuasaan : Konsolidasi Semangat Kebangsaan, Yogyakarta : LKIS, 2008, h.56.
20Yudi Latief, Gerak Politik Yang Tertawan: Menggagas Ulang Prinsip-Prinsip Lembaga Kepresidenan, Jakarta : CPPS, 2004, h.60.
21Gurisiani, Perlindungan Hukum Terhadap Kesejahteraan Sosial, Bandar Lampung : Gunung Pesagi, 1996, h.66.
22Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Reposisi Lembaga Tinggi Negara : Sebuah Upaya Menuju Indonesia Baru, Jakarta : Kerjasama Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI dengan Hans Seidel Foundatin, 2001, h.81.
23Denny J.A dan Frans Surdiasis, Memperkuat Pilar Kelima : Pemilu 2004 dalam Temuan Survei LSI, LKIS : Yogyakarta, 2006, h.15.
24Yanuar Nugroho, “Sekilas Profil Ekonomi Indonesia Setelah 28 Tahun Pembangunan”
http://www.elsppat.or.id/download/file/w3_a1.pdf, diakses pada 10 juni 2015.
25Badan Pusat Statistik, Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka, Jakarta : Badan Pusat Statistik, 2005, h.17. 26Hisanori Kanto, Agama dan Peradaban : Islam dan Terciptanya Masyarakat Demokratis Yang Beradab di Indonesia, Jakarta : Dian Rakyat, 2002, h.4.
27Susiyanti, Evaluasi Kelayakan Metodologi, Tesis Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010.
28Sofyan Saleh dan Nurdjaman Arsjad, Perekonomian Indonesia Dalam Perspektif Waktu, Jakarta : Pamator, 2000, h.57.
29 Mudiyati Rahmatunnisa, Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Garis-Garis Besar aluan Negara dan Peran MPR, makalah disampaikan pada Seminar Nasional Ketatanegaraan Indonesia : Reformulasi Model GBHN: Tinjauan Terhadap Peran dan Fungsi MPR RI dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Kerjasama MPR dengan Universitas Padjadjaran, Hotel Aston Tropicana Cihampelas, Kamis 25 April 2013
30Alfitra Salamm, op.cit., h.5. 31 Mudiyati Rahmatuniss, op.cit., h.3.
32Jazim Hamidi dan Mustafa Lutfi, Civic Education : Antara Realitas Politik dan Implementasi Hukumnya, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2010, h.148.
33Ni’Matul Huda, Lembaga Negara dalam Masa Transisi Demokrasi, Yogyakarta : UII Press, 2007, h. 53. 34Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonsia Pasca Reformasi, Jakarta : Bhuana Ilmu Populer, 200, h.316 dan Abdul Ghoffar, Perbandingan Kekuasaan Presiden Indonesia Setelah Perubahan UUD 1945 Dengan Delapan Negara Maju, Jakarta : Kencana, 2009, h. 49.
36 Hanif Nurcholis dan Djony Herfan, Perencanaan Partisipatif Pemerintah Daerah, Jakarta : Grasindo, 2009, h.97.
37 Indonesia, Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 23 Tahun 2014, LN No. 244 Tahun 2014, TLN No. 5587, Pasal 1 Angka 6.
38 Emil Salim, Revolusi Berhenti Hari Minggu : 70 Tahun Emil Salim, Jakarta : Kompas, 2000, h.297 39 BAPENAS, Evaluasi Paruh Waktu RPJMN 2010-2014, Jakarta : Kementrian Perencanan Pembangunan Nasional, 2013.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkarim, Aim. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan : Membangun Warga Negara yang Demokratis, Jakarta : Grafindo.
Akbar, Patrialis. “Arah Pembangunan Nasional Menurut Undang-Undang Dasar”,
http://www.fhumj.org/berita_info/berita_detail/17. Diakses pada 10 Juni 2015.
Anshorly, M. Nasruddin. 2008. Dekonstruksi Kekuasaan : Konsolidasi Semangat Kebangsaan.
Asshiddiqie, Jimly. 1996. Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen dalam Sejarah (Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara), Ct.1. Jakarta : UI- Press.
Badan Pusat Statistik. 2005. Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta : Badan Pusat Statistik. _____________. Makalah Berjudul Gagasan Kedaulatan Lingkungan Demokrasi Versus
Ekorasi.http://www.jimly.com/makalah/namafile/128/Demokrasi_dan_Ekokrasi.doc
____________.1995. Islam dan Kedaulatan Rakyat. Jakarta : Gema Insani Pers.
____________. 2007. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonsia Pasca Reformasi. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer.
Dinuth, Alex. 1997. Kewaspadaan Nasional dan Bahaya Laten Komunis. Jakarta : Intermasa. Fatwa, A.M. 2009. Potret Konstitusi Pasca Amandemen UUD 1945. Jakarta : Kompas.
Ghoffar, Abdul. 2009. Perbandingan Kekuasaan Presiden Indonesia Setelah Perubahan UUD 1945 Dengan Delapan Negara Maju.Jakarta : Kencana.
Gurisiani. 1996. Perlindungan Hukum Terhadap Kesejahteraan Sosial. Bandar Lampung : Gunung Pesagi.
Hamidi, Jazim dan Mustafa Lutfi. 2010. Civic Education : Antara Realitas Politik dan Implementasi Hukumnya. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hartono, Dimyati. 2009. Problematik dan Solusi Amandemen UUD 1945. Jakarta : Gramedia. Hasbi Arbi, Muhammad. “UUD-1945 dan GBHN Sebagai Kendali Yuridis Dalam Pembangunan
Nasional” Variasi : Vol. 4 No.12, Juni-Juli 2013.
Huda, Ni’Matul. 2007. Lembaga Negara dalam Masa Transisi Demokrasi. Yogyakarta : UII Press Indrayana, Denny. 2004. Amandemen UUD 1945 : Antara Mitos dan Pembongkaran. Bandung :
Mizan, 2007Lubis, Latief, Yudi. Gerak Politik Yang Tertawan: Menggagas Ulang Prinsip-Prinsip Lembaga Kepresidenan. Jakarta : CPPS.
J.A, Denny dan Frans Surdiasis. 2006 Memperkuat Pilar Kelima : Pemilu 2004 dalam Temuan Survei LSI. LKIS : Yogyakarta.
Kanto, Hisanori. 2002.Agama dan Peradaban : Islam dan Terciptanya Masyarakat Demokratis Yang Beradab di Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat..
Mardety Mardiansyah Tenaga Ahli Anggota DPR RI. “Kembali Ke Sistem GBHN?”
http://www.kompasiana.com/mardety/kembali-ke-sistem-gbhn_552fe8e56ea8349d628b4603. Diakses pada 10 Juni 2015.
M. Pangaribuan, Luhut dan Benny K.Harman. 1989. Hak Rakyat Atas Pembangunan : 40 Tahun Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia.Jakarta : YLBHI dan FNS.
M. Solly. 2000. Politik dan Hukum di Era Reformasi. Jakarta : Mandar Maju.
Nugroho, Yanuar. “Sekilas Profil Ekonomi Indonesia Setelah 28 Tahun Pembangunan”
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan. Reposisi Lembaga Tinggi Negara : Sebuah Upaya Menuju Indonesia Baru. Jakarta : Kerjasama Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI dengan Hans Seidel Foundatin, 2001.
Rahayu, Minto. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan : Perjuangan Menghidupi Jati Diri Bangsa.
Jakarta : Grasindo.
Rahmatunnisa, Mudiyati. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Garis-Garis Besar aluan Negara dan Peran MPR, makalah disampaikan pada Seminar Nasional Ketatanegaraan Indonesia : Reformulasi Model GBHN: Tinjauan Terhadap Peran dan Fungsi MPR RI dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Kerjasama MPR dengan Universitas Padjadjaran, Hotel Aston Tropicana Cihampelas, Kamis 25 April 2013
Salamm, Alfitra. 2007. Prospek dan Tantangan Implementasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, 2005-2025. Jakarta : Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi Sekretariat Jendral DPR RI.
Saleh, Sofyan dan Nurdjaman Arsjad. 2000. Perekonomian Indonesia Dalam Perspektif Waktu.
Jakarta : Pamator.
Scott, James Brown. 2002. Law, The State, and The International Community. New Jersey : Union. Susiyanti. 2010. Evaluasi Kelayakan Metodologi. Tesis Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Thaib, Dahlan.1999 Kedaulatan Rakyat, Negara Hukum dan Konstitusi. Jakarta : Liberty.