BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Indonesia adalah Negara yang kaya dengan beragam suku, adat istiadat,
kepercayaan dan budaya. Keberagaman tersebut memberikan warna tersendiri bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih hidup dalam
lingkungan tradisional. Masyarakat tradisional tidak terlepas dari kepercaayaan terhadap hal-hal gaib dan mistis terutama bagi mereka yang belum mengenal agama.
Istilah suanggi/nitu yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah santet/sihir, adalah satu hal yang dipercaya oleh masyarakat
tradisional. Suanggi bisa berarti orang yang memiliki kekuatan magis yang bisa membuat orang lain sakit, celaka bahkan meninggal tanpa orang tersebut
kontak fisik dengan orang lain, bisa juga berarti perbuatan membuat orang lain mengalami penyakit aneh tanpa sebab bahkan dapat berujung kematian.
Dalam masyarakat tadisonal, suanggi sudah tidak asing lagi dalam pengertian mereka, dimana suanggi ini merupakan urban legend yang sangat
menakutkan di beberapa daerah seperti di tanah Papua, Maluku, NTT maupun daerah lain di Indonesia yang memahami suanggi dengan istilah yang berbeda beda sesuai dengan pemahaman mereka seperti Santet, Sihir, Dukun dll.
Keberadaan suanggi/nitu dalam masyarakat tradisional sudah menjadi hal biasa namun dapat menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan, sebab
orang lain tersebut meninggal. Apabila ada orang yang dituduh sebagai suanggi dapat saja dilakukan tindakan main hakim sendiri untuk menghukum
orang tersebut.
Dari segi hukum masalah suanggi ini dapat menimbulkan pengabaian
terhadap hak seseorang, terganggunya ketertiban umum dan tindakan main hakim sendiri. Tatanan hukum positif yang berlaku di Indonesia, belum
mengatur tentang suanggi di mana aturan hukum itu memiliki unsur unsur hukum yang jelas tentang sebuah pembuktian bilamana seseorang dapat dikatakan sebagai suanggi. Dalam asas-asas hukum pidana yaitu asas legalitas
yang dikenal juga dengan asas Nullum Delictum masalah suanggi ini tidak dapat diselesaikan.
Problema suanggi dalam masyarakat tradisional jika diselesaikan melalui jalur hukum tentunya harus melalui proses penyidikan, penuntutan sampai pada proses pemerikasan di pengadilan, hendaknya perlu diperhatikan
asas-asas hukum yang dipakai, seperti, antara lain; asas legalitas, asas keseimbangan, asas Praduga Tak Bersalah, prinsip pembatasan penahanan,
asas ganti rugi dan rehabilitasi, dan asas lainnya yang dipakai di dalam KUHAP. Namun apakah proses tersebut dapat dijalankan ? masalah suanggi hanya dapat diproses apabila telah ada larangan-larangan yang dirumuskan
Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas eksistensi suanggi/nitu dalam masyarakat tradisional terhadap asas Nullum Delictum,
problema ini dalam pandangan hukum yang responsif dan suanggi/nitu dalam perspektif perbandingan hukum.
b. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan maka dapat dirumuskan beberapa masalah berikut ini :
1. Bagaimana eksistensi Suanggi/nitu dalam masyarakat tradisional terhadap asas Nullum Delictum?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian Suanggi/Nitu
Secara umum kata suanggi, selalu dikaitkan dengan setan, hantu=demon, dan jahat, buruk = evil. Yakni, makhluk halus yang
mempunyai rupa jelek, yang jauh berbeda dengan rupa seorang manusia biasa. Sedangkan perbuatannya selalu dikaitkan dengan hal-hal yang jahat,
garang dan keji (devil). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (W.J.S.Poerwadarminta, 2006), kata “suanggi” diartikan sebagai hantu yang jahat atau burung-burung hantu, dan juga disebut dukun yang bekerja dengan
pertolongan orang halus atau yang disebut dengan mahluk halus.1
Konsep Santet dalam Sistem KUHP2
Dalam sistem Hukum Pidana Indonesia, masalah santet dan apalagi konsep tentang “suanggi” belum dikenal dalam sistem KUHP. Konsep rasionalitas merupakan dasar dan alasan dibentuknya hukum pidana.
Seseorang dikatakan bersalah apabila telah memenuhi seluruh rumusan dan unsur-unsur delik yang dituduhkan kepadanya. Dalam arti bahwa fakta-fakta
hukum yang konkrit merupakan dasar yang menentukan kesalahan
1 Elstonsius Banjo dan Alfred Mainassy. “Suanggi” dalam Perspektif Hukum Pidana, Jurnal UNIERA Volume 3 Nomor 1; ISSN 2086-0404Universitas Halmahera 2014,hlm;2
seseorang. Dikatakan bersalah apabila orang itu mampu bertanggung jawab dan melalui bukti-bukti yang cukup menyatakan kesalahannya itu.
Jika tidak, maka orang tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, apalagi menghukumnya. Namun demikian, konsep berpikir irasional masih sangat populer untuk sebagian besar masyararkat. Cara-cara
berpikir gaib memang merupakan gaya hidup masyarakat Indonesia, karena selalu mengaitkan kehidupannya dengan masalah-masalah keagaiban. Tidak
heran apabila cara-cara kekerasan pun kerapkali dilakukan hanya dengan berlandasan pikiran irasional. “Suanggi” merupakan salah satu di antaranya. Perbuatan - perbuatan yang dilakukan menurut pikiran rasional bukanlah
merupakan fakta hukum yang konkrit. Oleh karena itu, sistem KUHP Indonesia hanya menghukum orang yang telah melakukan suatu tindakan
melawan hukum terhadap orang lain. Termasuk menghukum orang yang telah melakukan kekerasan atau tindakan melawan hukum lainnya kepada orang dituduh “suanggi”. Apapun bentuknya perbuatan tersebut. Dalam kaitannya
dengan santet, termasuk di dalamnya “suanggi”, pelaku santet tidak dapat dihukum berdasarkan ketentuan pidana yang berlaku di Indonesia (asas
legalitas; Pasal 1 ayat (1) KUHP). Oleh karena ketentuan-ketentuan mengenai santet sama sekali belum diatur di dalam sistem KUHP saat ini. Dengan kata lain, bahwa rumusan-rumusan delik tentang santet (“suanggi”) tidak diatur di
secara melawan hukum. Di lihat dari kasus-kasus yang dilakukan terhadap orang yang dituduh “suanggi”, sudah merupakan tindakan melawan hukum.
Karena itu, sudah dapat diproses dan dihukum sesuai hukum yang berlaku terhadap orang-orang yang telah melakukan tindakan “main hakim sendiri”. Hukum pidana sama-sekali tidak membenarkan suatu tindakan
dalam bentuk apapun terhadap seseorang yang dituduh telah melakukan suatu pelanggaran atau bahkan kejahatan. Apalagi tindakan tersebut dilakukan
melalui cara-cara kekerasan, tidak berkemanusiaan. Hukum menghendaki suatu kejahatan haruslah diproses sesuai hukum yang berlaku. Suanggi adalah setan jadi tidak dapat menjadi subyek dan pelaku delik, sedangkan orang
yang “bersuanggi” dapat menjadi pelaku delik dan dapat dipertanggung-jawabkan perbuatannya apabila perbutan tersebut, dapat menjadi fakta hukum
menurut sistem Hukum Pidana Materril dan Formiil, yaitu:
a. Hukum Pidana Formiil, hukum Pembuktian, harus memenuhi syarat-syarat pembuktian.
b. Hukum Pidana Materiil: rumusan deliknya harus sesuai atau mencakup konsep tentang “suanggi”.
b. Asas Nullum Delictum
“Nullum Delictum nulla poena sine praevia legi poenali”, yang berarti “tidak ada delik, tidak ada pidana . Merupakan salah satu asas dalam
legalitas tercantum dalam pasal 1 ayat 1 KUHP yang berbunyi “ Tiada suatu perbuatan ( feit) yang dapat dipidana selain berdasarkan kekuatan ketentuan
perundang-undangan pidana yang mendahuluinya”. Istilah feit dapat juga diartikan “peristiwa”, karena dengan istilah tersebut meliputi baik perbuatan yang melanggar sesuatu yang dilarang oleh hukum pidana maupun
mengabaikan sesuatu yang diharuskan.
Arti dan Makna Asas Legalitas3
Asas legalitas diatur dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yang berbunyi “tiada suatu perbuatan yang boleh dihukum, melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang-undang yang ada terlebih dahulu dari
perbuatan itu. Asas legalitas (the principle of legality) yaitu asas yang menentukan bahwa tiap-tiap peristiwa pidana (delik/ tindak pidana ) harus
diatur terlebih dahulu oleh suatu aturan undang-undang atau setidak-tidaknya oleh suatu aturan hukum yang telah ada atau berlaku sebelum orang itu melakukan perbuatan. Setiap orang yang melakukan delik diancam dengan
pidana dan harus mempertanggungjawabkan secara hukum perbuatannya itu.
Berlakunya asas legalitas seperti diuraikan di atas memberikan sifat
perlindungan pada undang-undang pidana yang melindungi rakyat terhadap pelaksanaan kekuasaan yang tanpa batas dari pemerintah. Ini dinamakan fungsi melindungi dari undang-undang pidana. Di samping fungsi
3 Buku Ajar Hukum Pidana 1 Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin,
melindungi, undang-undang pidana juga mempunyai fungsi instrumental, yaitu di dalam batas-batas yang ditentukan oleh undang-undang, pelaksanaan
kekuasaan oleh pemerintah secara tegas diperbolehkan.
Anselm von Feuerbach, seorang sarjana hukum pidana Jerman, sehubungan dengan kedua fungsi itu, merumuskan asas legalitas secara mantap
dalam bahasa Latin, yaitu :
Nulla poena sine lege: tidak ada pidana tanpa ketentuan pidana menurut
undang-undang.
Nulla poena sine crimine: tidak ada pidana tanpa perbuatan pidana.
Nullum crimen sine poena legali: tidak ada perbuatan pidana tanpa pidana
menurut undang-undang.
Dari asas legalitas dalam pasal 1 ayat (1) KUHP mengandung tiga
pokok pengertian yakni :
a. Tidak ada suatu perbuatan yang dapat dipidana (dihukum) apabila perbuatan tersebut tidak diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan
sebelumnya/terlebih dahulu, jadi harus ada aturan yang mengaturnya sebelum orang tersebut melakukan perbuatan;
b. Untuk menentukan adanya peristiwa pidana (delik/tindak pidana) tidak boleh menggunakan analogi; dan
c. Peraturan-peraturan hukum pidana/perundang-undangan tidak boleh berlaku
c. Hukum Responsif4
Hukum responsif adalah hukum yang beorientasi pada tujuan dari hukum dengan mengkolaborasikan antara nilai ideal dari suatu hukum dengan tujuan yang tampak sebagai kebutuhan-kebutuhan masyarakat dalam konteks
kekinian.
Analisis secara komprehensif tentang hukum responsif sejatinya
adalah bukan ranah hukum secara keseluruhan akan tetapi lebih berarti kepada suatu gerakan revolusioner untuk mengubah hukum dengan mempengaruhi kekuasaan politis. Hukum responsif bukanlah suatu perubahan
cara berhukum akan tetapi lebih menekankan kepada pembangkangan terhadap hukum yang dibuat oleh pemerintah dengan justifikasi atau
legitimasi moral yang mana nilai-nilai regulatif telah menciderai rasa keadilan masyarakat sehingga perlu dilakukan upaya kritis dengan sarana mempengaruhi kebijakan pemerintah untuk kembali kepada nilai-nilai
keadilan substantif.
Hukum Responsif lebih berorientasi pada suatu gerakan revolusioner
untuk mempengaruhi hukum melalui sarana-sarana politis ketimbang merubah cara berhukum dalam mewujudkan keadilan substantif di pengadilan.
d. Perbandingan Hukum 5
Perbandingan hukum merupakan suatu disiplin ilmu pengetahuan dan
merupakan cabang dari ilmu hukum dan merupakan suatu metode pendekatan yang bersifat khusus dan mendasar dalam ilmu hukum yang bermaksud untuk menyelidiki dan mengkaji serta membandingkan mengenai titik perbedaan
dan persamaan serta sebab-sebab yang menimbulkan terjadinya persamaan dan perbedaan yang ada dalam berbagai sistem atau tradisi hukum yang
berlaku di berbagai Negara di dunia. Hakikat perbandingan hukum :
1. Secara substantif, merupakan wadah dalam upaya mempelajari,
mengetahui, dan memahami berbagai prinsip atau asas-asas hukum dan kaidah hukum serta lembaga-lembaga hukum yang bersifat
universal, sumber-sumber dan karakter hukum yang melekat pada setiap sistem hukum atau tradisi hukum/keluarga hukum atau tata hukum (hukum positif) yang berlaku di berbagai negara di dunia.
2. Secara fungsional hakikat perbandingan hukum sebagai suatu metode kerja atau metode pendekatan yang digunakan dalam ilmu hukum
dengan maksud :
a. Untuk menyelidiki, mengkaji, dan menganalisis berbagai permasalahan hukum yang terjadi atau dipraktekkan/diterapkan
dalam berbagai Negara di dunia sesuai dengan sistem atau tradisi
hukum yang dianut, sehingga dapat mencari dan menemukan solusi atas permasalahan hukum yang terjadi
b. Untuk menemukan titik taut perbedaan dan persamaan yang terjadi di antara sistem hukum/tata hukum dengan sistem hukum/tata hukum yang lainnya yang berlaku di berbagai Negara
c. Untuk mengadakan pembaruan atau perubahan sistem hukum atau tata hukum yang berlaku dalam suatu Negara tertentu, termasuk
Indonesia sehingga sejalan dengan sistem hukum yang berlaku di dunia internasional.
d. Untuk melakukan unnifikasi hukum, kodifikasi hukum, dan
harmonisasi hukum seta sinkronisasi hukum di berbagai Negara jika terdapat kesamaan pandangan atau ideology yang dianut oleh
suatu bangsa atau Negara yang bersangkutan.
e. Untuk memperhitungkan dan membandingkan secara cermat dan teliti mengenai kebaikan dan keburukan atau kekurangan dan
keuntungan dari setiap sistem hukum/tata hukum yang berlaku dan dianut oleh berbagai Negara di dunia sebelum suatu Negara
BAB III
PEMBAHASAN
a. Eksistensi Suanggi/nitu dalam Masyarakat Tradisional terhadap Asas Nullum Delictum
Kehidupan masyarakat tradisional sangat dekat dengan mistik atau
hal-hal gaib. Setiap daerah punya nama tersendiri untuk mengistilahkan hal tersebut. Di daerah timur seperti Maluku, Papua dan Nusa Tenggara Timur dikenal istilah “suanggi/nitu”. Dari beberapa cerita yang berkembang
dalam masyarakat tradisional, ada yang mengatakan sosok suanggi sangat menakutkan dengan mata yang merah, dan memiliki gigi gigi yang tajam,
diceritakan pula sosok suanggi suka memakan daging manusia, atau saat mengincar korbannya dia akan terbang menggunakan pelepah daun, dan mengintip korbannya dari atas, suanggi juga dapat berubah wujud menjadi
binatang atau apa saja yang dia mau sehingga mudah melakukan aksinya.
Dalam cerita masyarakat yang berkembang, percaya atau tidak
ternyata keberadaan suanggi itu memang benar ada. Di mana orang yang dianggap suanggi itu dapat membuat orang lain menjadi sakit berat hingga meninggal dunia dengan tidak wajar. Pembuktian akan kebenaran atas hal
dimana seseorang dapat disuanggi dengan membuat ritual yang mereka percaya dapat membuat orang lain sakit keras hingga berujung maut.
Misalnya si A ingin disuanggioleh si B, maka si B dapat mengambil seekor hewan yang melambangkan tubuh dan jiwa si A dan menyiksa hewan tersebut hingga mati, maka tak lama kemudian si A akan sakit keras dan
meninggal dunia. Namun dalam pelaksanaan itu tentu si B memiliki konsekuensi tekanan mental dan jiwa yang besar, dimana dalam penilaian
masyarakat setempat bahwa kematian si A pasti dan tidak lain adalah perbuatan si B. Sehingga si B bisa saja menjadi tertekan batin, dan dalam tekanan batin itulah si B minta untuk didoakan oleh pendeta atau pastor
setempat, Maka dari situlah si B mengakui segala perbuatan jahatnya itu.
Namun di sisi lain, keberadaan suanggi atau santet ini masih ada
berbagai penilaian atau argumen yang berbeda dari setiap orang dimana ada yang percaya atau meyakini maupun tidak menyakini.
Menurut Elstonsius Banjo dan Alfred Mainassy (2014) “suanggi”
atau orang yang “bersuanggi” adalah seseorang yang memelihara atau berteman dengan setan atau mahkluk halus, roh jahat. Dari pertemanan atau
pemeliharaan tersebut, lama kelamaan terjadi hubungan yang sangat intim antara keduanya sehingga sifat-sifat jahat si setan diturunkan kepada orang tersebut. Pada fase tertentu, setan itu telah menguasai sifat dan perilaku
tersebut. Sebaliknya, orang tersebut dapat melakukan kemauan dan maksud jahatnya atas bantuan setan itu. Orang inilah yang disebut dengan “suanggi”
atau “bersuanggi”, karena sifat dan perilakunya telah menyatu dengan setan. Jadi, terdapat dua kepribadian dalam tubuh orang yang dikatakan “suanggi” tersebut. Ketika orang yang “bersuanggi”melakukan suatu per-buatan,
sebagaimana yang dituduhkan oleh masyarakat kepadanya, maka yang melakukannya adalah pribadi setan, tetapi yang Nampak adalah rupa dan
wajah dari tubuh pribadinya. Dengan demikian, “suanggi”sebetulnya adalah manusia yang setengah setan tetapi juga setengah manusia. Setengah setan karena ia telah menyerupai setan, memiliki sifat-sifat jahat, melakukukan
hal-hal yang jahat, tetapi juga memilki kekuatan gaib. Setengah manusia karena ia adalah manusia tetapi
memiliki kekuatan setan (gaib), dan hidup sebagai manusia normal sebagaimana biasanya.
Oleh karena itu, terasa sulit menentukan mereka sebagai subyek dan
pelaku delik, karena ada dua personal di dalam diri mereka. Dua pribadi yang hidup dalam “tubuh yang satu” atau dua kepribadian dalam satu tubuh.
Personal manusia pribadi yang normal tetapi juga melekat personal setan yang tidak normal, gaib. Lagi pula, pembuktiannya hanya melalui media yang gaib pula. Maksudnya, membuktikan hal-hal gaib harus pula dilakukan
dan dapat diterima akal sehat. Dalam arti, bahwa seseorang dapat dijadikan sebagai pelaku delik jikalau ada bukti yang kuat menyertai perbuatannya.
Ini merupakan hal yang sulit untuk dibuktikan. Meskipun delik santet yang dirumuskan adalah bentuk delik formiil, tetapi itu pun memerlukan pembuktian.
Walaupun Pembuktiannya, tidak sampai pada masalah yang gaib tetapi paling kurang berhubungan dengan kegaiban, atau bahkan mendekati
kegaiban. Namun demikian, apabila ada orang (dukun) yang mampu membuktikan kebenaran perbuatannya, maka hal itu dapat menjadi fakta hukum yang konkrit, sehingga perbuatan “suanggi” dapat dikenakan
hukuman.
Berkaitan dengan hal diatas tentu harus dapat dibuktikan secara
hukum, sehingga menghindari adanya tindakan main hakim sendiri oleh warga masyarakat dalam menaggapi problematika yang disebut santet tersebut yang berkembang dalam kehidupan mereka. Dalam tatanan
hukum positif yang berlaku di Indonesia, belum ada aturan hukum yang mengatur tentang suanggi dimana aturan hukum itu memiliki unsur unsur
hukum yang jelas tentang sebuah pembuktian bilamana seseorang dapat dikatakan sebagai suanggi.
Contoh misalnya orang menggunakan suanggi untuk menipu orang
bahwa keberadaan suanggi memang secara hukum belum dapat dibuktikan dengan nyata, karena sulit membuktikan seseorang melakukan praktek
suangginya terhadap orang lain dengan menggunakan alat sebagai barang bukti dan kepada siapa praktek suangginya itu ditujukan, kenapa demikian? karena suanggi itu sendiri berhubungan dengan sesuatu yang gaib, dan
boleh dikatakan memiliki keahlian khusus. Lain hal apabila orang tersebut mengakui perbuatannya, bahwa orang yang sakit keras atas meninggal
dunia itu adalah perbuatannya.
Terhadap asas Nullum Delictum, masalah suanggi tidak dapat diselesaikan karena belum ada norma yang mengatur tentang itu. Asas
Nullum Delictum mengandung konsekuensi dalam menentukan perbuatan-perbuatan yang dilarang di dalam peraturan bukan saja tentang macamnya
perbuatan yang harus dirumuskan dengan jelas, tetapi juga macamnya pidana yang diancamkan, perbuatan suanggi/nitu belum dirumuskan. Sehingga orang yang bersuanggi dapat saja terus berbuat karena secara
hukum tidak bisa dipidana.
b. Suanggi/nitu, Problema Hukum yang Responsif
Hukum responsif menurut Nonet dan Selznick dipahami sebagai hukum otonom terbuka di mana perlu adanya legitimasi terhadap segala kebutuhan dan perubahan sosial masyarakat untuk dirumuskan dalam suatu
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang kental pluralisme, hukum yang responsif diperlukan untuk mengakomodir masalah-masalah
sosial yang berkembang dalam masyarakat yang menimbulkan masalah hukum. Karena hukum ada untuk memecahkan masalah-masalah yang ada dalam masyarakat. Ciri khas hukum responsif adalah mencari nilai-nilai
tersirat yang terdapat dalam peraturan dan kebijakan. Hukum tidak saja merupakan aturan yang kaku tetapi fleksibel mengikuti dinamika kehidupan
masyarakat.
Dengan demikian perlu adanya respon serta peran aktif masyarakat tradisional dalam menanggapi fenomnena ini, di mana suanggi ini sendiri
adalah sesuatu hal yang dinilai negatif oleh masyarakat, dengan adanya pencerahan atau pentahiran yang dilakukan oleh pemuka masyarakat atau
agama maka orang yang merasa dirinya suanggi dapat bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
Salah satu cara yang telah dilakukan oleh penyelenggara Negara
adalah dengan membuat Rancangan Undang tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUUKUHP) yang dalam salah satu Pasalnya yaitu
Pasal 293 memasukkan masalah santet. Hal ini adalah salah satu bentuk hukum responsif dalam menyelesaikan masalah suanggi/nitu.
Kutipan bunyi Pasal 293 RUUKUHP adalah :
memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penderitaan mental atau fisik
seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV;
2) Jika pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat 1
melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, maka pidananya
ditambah dengan sepertiga."
Sementara dalam penjelasannya disebutkan bahwa ketentuan itu dimaksudkan untuk mengatasi keresahan masyarakat yang ditimbulkan oleh
praktik ilmu hitam (black magic) yang secara hukum menimbulkan kesulitan dalam pembuktiannya. Ketentuan ini dimaksudkan juga untuk mencegah
secara dini dan mengakhiri praktik main hakim sendiri yang dilakukan oleh warga masyarakat terhadap seseorang yang dituduh sebagai dukun teluh (santet).
Sejalan dengan itu Elstonsius Banjo dan Alfred Mainassy menyatakan bahwa, dalam Rumusan Rancangan KUHP Baru delik santet mulai
diperkenalkan. Termasuk asas legalitas yang telah diperluas maknanya diatur pada Pasal 1 Ayat (3) dan Ayat (4). Berikut ini lengkapnya:
Pasal 1:
peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan.
(2) Dalam menetapkan adanya tindak pidana dilarang menggunakan analogi. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi
berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat yang menentukan
bahwa seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat sebagaimana dimaksud ayat (3) sepanjang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan/atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa.
Apabila diperhatikan Pasal 1 Rancangan KUHP tersebut, maka jelas bahwa konsep asas legalitas telah diperluas maknanya. Yakni, setiap perbuatan yang
dapat dikenakan hukuman bukan hanya oleh perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai delik (tindak pidana) dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat perbuatan dilakukan, tetapi juga menurut
hukum yang hidup dalam masyarakat yang bahwa seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan
perundangundangan.
Artinya, bahwa meskipun tidak ada peraturan perundang-undangan atas perbuatan itu terlebih dahulu, tetapi apabila menurut hukum yang hidup
dasar hukumnya adalah ditentukan oleh dan/atau menurut hukum yang hidup dalam masyarakat.
Sehingga diperlukan kajian lebih jauh tentang peraturan perundangan yang mengatur tentang santet/suanggi. Hukum yang lahir dari masyarakat bukan dari pejabat atau penguasa, selaras dengan sifat responsif yang dapat
diartikan sebagai melayani kebutuhan dan kepentingan sosial yang dialami dan ditemukan, tidak oleh pejabat melainkan oleh rakyat. Menurut Menteri
Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra dalam Harian Umum Suara Harian Merdeka, Jakarta (2010) menyebut, santet dan sejenisnya merupakan beyond science. Oleh karena itu, yang dibuktikan bukan bagaimana cara
menyantet melainkan pengakuan seseorang yang bermufakat untuk mengancam nyawa atau fisik seseorang dengan jalan ilmu hitam. Bukan
membuktikan ilmu hitamnya sebagai tindak pidana melainkan perbuatannya. 7 Maksudnya dalam menangani beberapa kasus kejahatan magis, penyidik menerapkan pasal-pasal lain dalam KUHP agar pembuktiannya jadi lebih
mudah. Pada kejahatan magis seperti hipnotis, peramalan atau dukun palsu akan diterapkan pasal penipuan (Pasal 378 KUHP) . Kemudian dalam kasus
kejahatan magis yang menyebabkan kematian orang, maka polisi akan menjeratnya dengan pasal pembunuhan (Pasal 338 KUHP).
Oleh karena itu suanggi/nitu merupakan suatu problema hukum yang
prinsip-prinsip dan tujuan dan pentingnya kerakyatan baik sebagai tujuan hukum maupun cara untuk mencapainya.
c. Suanggi/nitu dalam Perspektif Perbandingan Hukum
Perbandingan hukum ditujukan untuk memperoleh pemahaman yang komperhensif tentang semua sistem hukum yang ada di dunia dengan
memahami bagaimana sistem hukum nasional di Negara sendiri dan mengadopsi hal-hal yang positif dari sistem hukum asing guna pembangunan hukum nasional juga sebagai pedoman dalam harmonisasi hukum dan
pembentukan hukum.
Sistem hukum Indonesia merupakan suatu sistem hukum yang
merefleksikan keanekaragaman hukum yang ada dalam masyarakat Indonesia. Sistem hukum nasional yaitu sistem hukum yang berlaku dalam suatu negara belum dimiliki Indonesia karena sistem hukum Indonesia masih
dipengaruhi oleh berbagai sistem hukum antara lain sistem hukum Eropa Kontinental (Civil Law), hukum adat dan hukum Islam namun juga terdapat
sistem hukum Common Law yang muncul seiring dengan perkembangan jaman. Kecenderungan pada Sistem Hukum Adat, Hukum warisan dan hukum Agraria masih berpedoman pada hukum adat, selain itu budaya hukum sistem
Dalam perspektif perbandingan hukum, penanganan hukum untuk masalah suanggi/nitu dapat diselesaikan dengan mengkolaborasikan beberapa
sistem hukum yang ada. Penyelesaian masalah hukum suanggi tidak dapat dilakukan dengan sistem civil law yang identik dengan kodifikasi yaitu berdasar pada aturan-aturan yang tersusun dalam kitab undang-undang, maka
dapat dikaji dengan pendekatan sistem hukum common law yang berdasar pada kebiasaan masyarakat. Hukum adat yang masih berlaku dan diakui oleh
masyarakat tradisioanal. Jika dilihat dari hukum responsif maka hukum adat sejalan dengan ciri hukum responsif, karena berasal dari masyarakat.
Problema suanggi/nitu dalam masyarakat yang ada saat ini memang
belum dipidana tetapi dalam masyarakat tradisional sudah ada hukum adat yang mengatur itu, dalam hukum adat dikenal adanya pelanggaran adat.
Menurut I Gede A. B. Wiranata dalam bukunya Hukum Adat Indonesia pelanggaran adat adalah semua bentuk perbuatan atau kejadian yang bertentangan dengan kepatutan, kerukunan, ketertiban, keamanan, rasa
keadilan dan kesadaran hukum masyrakat bersangkuta baik hal itu akibat perbuatan seseorang maupun perbuatan penguasa adat sendiri.
Dalam pelanggaran adat tidaklah mutlak rumusan pelanggaran ada terlebih dahulu dari perbuatan hukum. Hukum adat bersifat terbuka sehingga delik yang dimaksud adalah setiap perbuatan yang mengakibatkan
Bentuk hukuman dalam hukum adat bermacam-macam antara lain : pengucilan dari masyarakat, diusir keluar dari tempat tinggalnya, bahkan
hukum cambuk atau dirajam. Meskipun dengan hukuman-hukuman tersebut belum tentu memberikan efek jera bagi yang melakukan pelanggaran tetapi ada usaha dari masyarakat untuk menciptakan rasa aman dan nyaman mellaui
hukum adat tersebut.
Hukum adat yang tidak dapat dipungkiri masih berlaku dalam
masyarakat Indonesia memberikan warna tersendiri dalam sistem hukum Indonesia, yang secara tidak langsung juga telah menyelesaikan masalah-masalah hukum dalam masyarakat seperti problema suanggi/nitu ini. Dengan
memahami perbandingan hukum maka diharapkan dapat dilakukan pengembangan dan pembaharuan dalam sistem hukum yang ada yang akan
BAB IV
PENUTUP
a. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang diuraikan di atas maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Eksistensi Suanggi/nitu dalam masyarakat tradisional terhadap asas
Nullum Delictum bertentangan karena belum ada norma yang mengatur tentang suanggi/nitu. Asas Nullum Delictum mengandung
konsekuensi dalam menentukan perbuatan-perbuatan yang dilarang di dalam peraturan bukan saja tentang macamnya perbuatan yang harus dirumuskan dengan jelas, tetapi juga macamnya pidana yang
diancamkan dan perbuatan suanggi/nitu belum dirumuskan.
2. Suanggi/nitu merupakan suatu problema hukum yang responsif di mana diperlukan pergeseran penekanan dari aturan-aturan ke prinsip-prinsip dan tujuan dan pentingnya kerakyatan baik sebagai tujuan
hukum maupun cara untuk mencapainya.
3. Suanggi/nitu dalam perspektif perbandingan hukum dapat dikaji
melalui sistem hukum common law yang dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat dalam hal ini hukum adat yang berlaku dalam masyarakat
tradisional.
b. Saran
1. Diperlukan kajian lebih mendalam dalam penyelesaian masalah
2. Diperlukan hukum yang responsif dari masyarakat untuk pembentukan pertaturan perundangan yang dapat memberikan efek jera bagi masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Amir Ilyas, 2012, Asas – Asas Hukum Pidana, Yogyakarta, Mahakarya Rangkang
Offset .
Arief Sidharta,2008, Asas-Asas Hukum Secara Umum Bandung, Retika Adhitama.
Elstonsius Banjo dan Alfred Mainassy 2014, “Suanggi” dalam Perspektif Hukum
Pidana, Halmahera, Jurnal UNIERA Volume 3 Nomor .
I Gede A.B. Wiranata, 2005, Hukum Adat Indonesia, Bandung, PT. Citra Aditya
Bakti .
Iman Sudiyat, 1999, Asas - Asas Hukum Adat, Yogyakarta, Liberty.
Philip Nonet dan Philip Selznick, 2010, Hukum Responsif, Bandung, Nusa Media.
Saryono Yohanes, 2014, Buku Ajar Perbandingan Hukum, Kupang, Universitas Nusa Cendana.
R. Subekti,1980, Hukum Pembuktian,Jakarta,Pradnya Paramita.
Theo Huijbers, 1995, Filsafat Hukum,Yogyakarta, Kanisius.
Undang-Undang :
Kitab Undang - Undang Hukum Pidana (KUHP)