• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Daftar Perusahaan Industri Pengolahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Daftar Perusahaan Industri Pengolahan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Menurut UU No. 8 Tahun 1995, Perusahaan publik adalah perseroan yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang saham dan memiliki modal setor sekurang-kurangnya Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) atau suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah.”(Departemen Keuangan, 1995).

Pada Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat 9 sektor perekonomian. Sektor pengolahan (manufaktur) merupakan sektor dengan jumlah perusahaan terbanyak yang terbagi menjadi beberapa sektor dan subsektor.

Tabel 1.1

Daftar Perusahaan Industri Pengolahan

Sektor Industri Dasar dan Kimia Sektor Aneka Industri Sektor Industri Barang dan Konsumsi Subsektor Semen

1. Indocement Tunggal Prakasa Tbk

2. Semen Baturaja Tbk 3. Holcim Indonesia Tbk

4. Semen Indonesia (Persero) Tbk 5. Wijaya Karya Beton Tbk

Subsektor Mesin dan Alat Berat 64.Grand Kartech Tbk 65.Ateliers Mecaniques D’Indonesia Tbk Subsektor Makanan dan Minuman 95.Aksara Wira Internasional Tbk 96.Tiga Pilar Sejahtera

Food Tbk

97.Tri Banyan Tirta Tbk 98.Cahaya Kalbar Tbk 99.Delta Djakarta Tbk 100.Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 101.Indofood Sukses Makmur Tbk 102. Sekar Bumi Tbk 103. Sekar Laut Tbk 104. Siantar Top Tbk (Bersambung)

(2)

2

105. Ultra Jaya Milk Industry Trading Company Tbk 106. Multi Bintang Indonesia Tbk 107. Mayora Indah Tbk 108. Prasidha Aneka Niaga Tbk 109. Nippon Indosari Corpindo Tbk Subsektor Keramik Porselin dan

Kaca

6. Asahimas Flat Glass Tbk 7. Arwana Citramulia Tbk 8. Intikeramik Alamasri Industri

Tbk

9. Keramika Indonesia Assosiasi Tbk

10.Mulia Industrindo Tbk 11.Surya Toto Indonesia Tbk

Subsektor Otomotif dan Komponen 66.Astra Internasional Tbk 67.Astra Otoparts Tbk 68.Indo Kordsa Tbk 69.Goodyear Indonesia Tbk 70.Gajah Tunggal Tbk 71.Indomobil Sukses Internasional Tbk 72.Indospring Tbk 73.Multi Prima Sejahtera

Tbk

74.Multistrada Arah Sarana Tbk 75.Garuda Metalindo Subsektor Rokok 110.Gudang Garam Tbk 111.H.M. Sampoerna Tbk 112.Bentoel Internasional Investama Tbk 113.Wismilak Inti Makmur Tbk

Subsektor Logam dan Sejenisnya 12.Alakasa Industrindo Tbk

13.Alumindo Light Metal Industry Tbk

14.Saranacentral Bajatama TbK 15.Betonjaya Manunggal Tbk 16.Citra Tubindo Tbk

17.Gunawan Dianjaya Steel Tbk 18.Indal Aluminium Industry Tbk 19.Steel Pipe Industry of Indonesia

Tbk

20.Sumber Energi Andalan Tbk 21.Jakarta Kyoei Steel Works Tbk 22.Jaya Pari Steel Tbk

Subsektor Tekstil dan Garment

76.Polychem Indonesia Tbk 77.Argo Pantes Tbk

78.Centex Tbk (Saham Seri B)

79.Century Textile Industry Tbk (Saham Seri A) 80.Eratex Djaja Tbk 81.Ever Shine Tex Rbk 82.Panasia Indo Resources

Tbk

83.Indo Rama Synthetics Tbk

84.Apac Citra Centertex Tbk 85.Pan Brothers Tbk Subsektor Farmasi 114.Darya Varia Laboratoria Tbk 115.Indofarma Tbk 116.Kimia Farma Tbk 117.Kalbe Farma Tbk 118.Merck Indonesia Tbk 119.Pyridam Farma Tbk 120.Schering Plough Indonesia Tbk 121.Industri Jamu dan

Farmasi Sidomuncul Tbk 122.Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk Tabel 1.1 (Sambungan) (Bersambung)

(3)

3 (Saham Preferen) 123.Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk (Saham Biasa) 124.Tempo Scan Pacific

Tbk Subsektor Kimia

23.Krakatau Steel (Persero) Tbk 24.Lion Metal Works Tbk 25.Lionmesh Prima Tbk 26.Pelat Timah Nusantara Tbk 27.Pelangi Indah Canindo Tbk 28.Tembaga Mulia Semanan Tbk 29.Barito Pacific Tbk

30.Budi Acid Jaya Tbk

31.Duta Pertiwi Nusantara Tbk 32.Ekadharma International Tbk 33.Eterindo Wahanatama Tbk 34.Intanwijaya Internasional Tbk 35.Sorini Agro Asia Corporindo

Tbk

36.Indo Acidatama Tbk

37.Chandra Asri Petrochemical Tbk

38.Unggul Indah Cahaya Tbk

Subsektor Alas Kaki 86.Sepatu Bata Tbk 87.Primarindo Asia Infrastructure Tbk

Subsektor Kosmetik dan Keperluan Rumah

Tangga 125.Martina Berto Tbk 126.Mustika Ratu Tbk 127.Mandom Indonesia Tbk 128.Unilever Indonesia Tbk 129.Kino Indonesia Tbk

Subsektor Plastik dan Kemasan 39.Alam Karya Unggul Tbk 40.Argha Karya Prima Industry

Tbk

41.Asiaplast Industries Tbk 42.Berlina Tbk

43.Titan Kimia Nusantara Tbk 44.Champion Pacific Indonesia

Tbk

45.Indopoly Swakarsa Industry Tbk

46.Sekawan Intipratama Tbk 47.Siwani Makmur Tbk

48.Impack Pratama Industri Tbk

Subsektor Kabel 88.Sumi Indo Kabel Tbk 89.Jembo Cable Company

Tbk

90.KMI Wire & Calbe Tbk 91.Kabelindo Murni Tbk 92.Supreme Cable Manufacturing Coorporation Tbk 93.Voksel Electric Tbk Subsektor Keperluan Rumah Tangga 130.Chitose Internasional Tbk

131.Kedaung Indah Can Tbk

132.Langgeng Makmur Industri Tbk Tabel 1.1 (Sambungan)

(4)

4

Subsektor Pakan Ternak 49.Charoen Pokphand Indonesia

Tbk

50.JAPFA Comfeed Indonesia Tbk

51.Malindo Feedmill Tbk 52.Sierad Produce Tbk

Subsektor Elektronika 94.Sat Nusapersada Tbk

Subsektor Kaya dan Pengolahannya 53.SLJ Global Tbk

54.Tirta Mahakam Resources Tbk

Sektor Pulp dan Kertas 55.Alkindo Naratama Tbk 56.Dwi Aneka Jaya Kemasindo

Tbk

57.Fajar Surya Wisesa Tbk 58.Indah Kiat Pulp & Paper Tbk 59.Toba Pulp Lestari Tbk 60.Kertas Basuki Rachmat

Indonesia Tbk 61.Suparma Tbk

62.Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk

63.Kedawung Setia Industrial Tbk

Sumber : www.sahamok.com

Tabel diatas menunjukkan sektor dan subsektor yang terdapat pada sektor manufaktur. Dari 525 perusahaan yang terdaftar di BEI (www.sahamok.com), sektor manufaktur memiliki total 132 perusahaan yang listing di BEI yang berarti 25,14% dari seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI masuk kedalam sektor manufaktur. Dengan jumlah perusahaan sebanyak 132 perusahaan, sektor pengolahan atau manufaktur mampu menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan 9 sektor lainnya.

(5)

5 Hal ini didukung dengan data PDB atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha dari Badan Pusat Statistik (BPS) selama tahun 2010-2014.

Tabel 1.2

Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2010-2014

Tabel diatas menunjukkan pendapatan setiap sektor usaha yang terdapat di Indonesia. Pendapatan ini menggunakan indikator PDB menurut lapangan usaha. Yang berarti pendapatan yang berasal dari seluruh sektor produksi masing-masing sektor tersebut. Dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan memiliki pendapatan yang tertinggi setiap tahunnya. Rata-rata pertumbuhan pada sektor industri pengolahan atau manufaktur antara tahun 2011-2014 mencapai 11,49%. Selain itu sektor pengolahan atau manufaktur memiliki kontribusi yang besar terhadap PDB nasional yang akan ditunjukkan oleh tabel dibawah ini.

(6)

6

Tabel 1.3

Pertumbuhan Industri Pengolahan dan Kontribusi Terhadap PDB Nasional Atas Dasar Harga Konstan

Sumber : www.bps.go.id

Tabel 1.3 memberikan data mengenai pertumbuhan PDB nasional mulai tahun 2011-2014 dengan menggunakan harga konstan tahun 2010. Data diatas menunjukkan pertumbuhan PDB Industri pengolahan dan kontribusinya terhadap PDB Nasional. Hal ini juga dikuatkan dengan pernyataan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Industri Manufaktur memiliki peran 21,14% pada pertumbuhan ekonomi RI year-on-year pada kuartal I/2015 (www.sindonews.com)

Berdasarkan data-data diatas dapat disimpulkan bahwa industri pengolahan memiliki PDB yang tertinggi disetiap tahunnya meskipun kenaikannya tidak signifikan dan juga mampu memberikan kontribusi terhadap PDB nasional. Karena alasan yang telah dikemukakan oleh penulis maka penulis ingin menjadikan industri pengolahan menjadi objek penelitian dalam skripsi ini.

(7)

7 1.2 Latar Belakang Penelitian

Menurut PSAK 1 ( revisi 1 Januari 2015 ) entitas manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Laporan keuangan menyajikan secara wajar laporan keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur dampak dari transaksi, liabilitas, pendapatan, dan beban yang diatur dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Penerapan SAK, dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan, dianggap menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

Didalam laporan keuangan terdapat informasi mengenai laba, dan setiap perusahaan tentu akan berusaha untuk meningkatkan laba mereka. Menurut Subramanyam (1996) dalam Christiani dan Nugrahanti (2014) salah satu ukuran kinerja perusahaan yang sering digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan adalah laba yang dihasilkan perusahaan, laba tersebut diukur dengan dasar akrual. Menurut Christiani dan Nugrahanti (2014) informasi mengenai laba suatu perusahaan dapat menjadi sangat material karena laba perusahaan merupakan informasi yang penting bagi publik maupun investor dalam mengambil suatu keputusan. Seringkali infromasi penting mengenai laba menjadi target untuk direkayasa dengan cara meningkatkan penjualan ataupun dengan cara menurunkan harga pokok penjualan sehingga laba akan naik. Laba yang meningkat akan mempengaruhi investor untuk membeli saham perusahaan sehingga dapat menguntungkan manajemen dan akan berujung kerugian bagi investor dan publik akibat dari manipulasi yang dilakukan oleh manajemen.

Manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan memiliki tujuan dan maksud tertentu dalam proses penyusunan laporan keuangan eksternal untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi bagi pihak tertentu

(8)

8

(Schipper, 1989 dalam Subramanyam et al, 2012:131). Praktik yang semata-mata untuk memenuhi kepentingan pihak manajemen ini dilakukan dengan menggunakan kelemahan inheren dari kebijakan akuntansi tetapi tetap berada diaturan yang tertuang pada General Accepted Accounting Principles (Scott, 2009; dalam Prabaningrat dan Widanaputra, 2015).

Manajemen laba dapat dijelaskan melalui teori keagenan. Agen yang dimaksud adalah manajemen. Manajemen tentu mengetahui berbagai kondisi yang terdapat didalam suatu perusahaan. Mulai dari operasional, permasalahan hingga masa depan perusahaan tersebut. Dalam hal ini, manajemen memiliki tanggung jawab terhadap pemilik perusahaan mengenai kinerja perusahaanya. Manajemen tentu tidak ingin terlihat memiliki kinerja buruk dalam menjalankan perusahaan. Selain itu manajemen juga bertanggung jawab untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan bagi pemiliknya dan tentu manajemen akan mendapatkan fee sebagai ganti atas kinerjanya. Hal inilah yang dapat menjelaskan bagaimana manajemen laba terjadi menurut teori keagenan.

Manajemen laba memiliki beberapa bentuk yaitu, yang pertama taking a bath. Hal ini biasanya terjadi dalam periode berjalan pada saat pergantian CEO, yaitu merupakan konsep dimana manejer dalam kewajibannya melaporkan laporan keuangan dalam jumlah yang benar. Kedua, income minimization yaitu bentuk manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen dengan melaporkan laba pada periode berjalan menjadi rendah dari keadaan yang sesungguhnya. Ketiga, income maximization yaitu maksimalisasi laba yang dilakukan berbanding terbalik dengan income minimization. Keempat, income smoothing, bentuk manajemen laba dengan cara perataan laba yang dilakukan pada laporan keuangan eksternal bagi investor (Scott, 2003:405, dalam Wijaya et al, 2014:3).

(9)

9 Salah satu bentuk manajemen laba adalah perataan laba atau income smoothing. Menurut Barnea, Ronen dan Sadan (1975) dalam Widaryanti (2009) manajemen melakukan perataan laba untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan dan meningkatkan kemampuan investor untuk memprediksi aliran kas di masa depan. Sedangkan menurut Beidlemen (1973) dalam Widaryanti (2009) mengemukakan bahwa tindakan manajer meratakan laba adalah untuk membuat arus penghasilan stabil dan mengurangi covarian return dengan pasar. Perataan laba yang terjadi di dalam pasar modal mempunyai pengaruh terhadap pemegang saham sehingga akan memperluas pasar saham perusahaan dan membawa pengaruh yang menguntungkan pada pertambahan nilai saham perusahaan. Hasil penelitian Gordon et. al (1996:223) dalam Widaryanti (2009) menunjukkan bahwa kepuasan para pemegang saham meningkat seiring dengan adanya kestabilan laba perusahaan. Alasan perataan laba menurut Heyworth (1953) dalam Widaryanti (2009) yaitu perataan laba dengan tujuan untuk memperbaiki hubungan dengan kreditur, investor dan karyawan serta meratakan siklus bisnis melalui proses psikologis yaitu:

1. Mengurangi total pajak yang dibayarkan oleh perusahaan.

2. Meningkatkan kepercayaan kepada investor terhadap perusahaan karena laba yang stabil akan mendukung kebijakan pembayaran dividen yang stabil.

3. Meningkatkan hubungan antara manajer dan karyawan karena pelaporan laba yang meningkat tajam memberi kemungkinan munculnya tuntutan kenaikan gaji atau upah.

4. Siklus peningkatan dan penurunan laba dapat dibandingkan dan gelombang optimisme dan pesimisme dapat diperlunak.

Kasus mengenai manajemen laba banyak terjadi di industri dunia. Sebagai contoh adalah kasus Enron yang terjadi di tahun 2000-2002. Kasus

(10)

10

Enron memiliki dampak kepada pasar keuangan global dengan di tandai penurunan harga saham secara drastis di dunia, mulai dari Amerika, Eropa dan Asia. Saham Enron pada awal Januari 2000 meningkat menjadi di Wall Street melonjak menjadi $ 40, bahkan meningkat menjadi $ 90,56. Dan pada Desember 2001 kasus Enron mulai terungkap hingga terus berlanjut hingga tahun 2002. Hutang Enron mencapai hampir sebesar US $ 31.2 milyar yang terungkap ketika Enron bangkrut. Bahkan dengan terjadinya kasus Enron ini terjadi penutupan KAP Arthur Andersen karena terbukti tidak independen. Selain di Amerika di Indonesia juga terjadi manajemen laba contohnya adalah kasus PT Kimia Farma pada tahun 2001 dan baru terungkap tahun 2002.

PT Kimia Farma mengumumkan labanya tahun 2001 mencapai 132 Miliyar. Pada tahun awal tahun 2002 harga saham PT Kimia Farna Tbk meningkat dan dapat dilihat pada tabel di bawah ini;

Tabel 1.4

Harga Saham PT Kimia Farma Tbk Tahun 2002 Date Open High Low Close Adj Close 02/01/2002 210 235 205 220 203.62 01/02/2002 220 235 215 225 208.25 01/03/2002 220 240 220 230 212.88 01/04/2002 230 380 225 305 282.3 01/05/2002 305 315 260 310 286.92 03/06/2002 310 315 285 290 268.41 01/07/2002 290 290 205 225 208.25 01/08/2002 220 225 185 210 194.37 02/09/2002 210 210 145 180 166.6 01/10/2002 180 185 125 165 152.72 01/11/2002 160 185 160 170 157.35 03/12/2002 165 205 160 185 171.23 Sumber : finance.yahoo.com

(11)

11 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa harga saham PT Kimia Farma Tbk meningkat di awal tahun namun menurun di akhir tahun. Hal ini dikarenakan pada oktober 2002 dilakukan pemeriksaan ulang terhadap laporan keuangan PT Kimia Farma Tbk dan diketahui terjadi manajemen laba. Praktik manajemen laba yang dilakukan diketahui dari hasil pemeriksaan yang dilakukan bapepam yaitu terjadi overstated laba sebesar Rp 32,6 miliar akibat dari overstated bahan baku dan persediaan dari berbagai unit.

Di tahun yang sama terjadi pula kasus manajemen laba, yaitu kasus PT Indofarma Tbk. Dampak dari perlakuan manajemen laba ini mengakibatkan harga saham Indofarma meningkat. Pada awal tahun meningkat menjadi Rp 200/saham dan terus meningkat hingga menyentuh Rp 300/saham (www.finance.yahoo.com) pada pertengahan tahun dan kemudian turun akibat dari Bapepam yang menemukan bukti-bukti manajemen laba yang dilakukan Indofarma Tbk. di antaranya, nilai Barang Dalam Proses dinilai lebih tinggi dai nilai yang seharusnya (overstated) dalam penyajian nilai persediaan barang dalam proses pada tahun buku 2001 sebesar Rp 28,87 miliar. Oleh karena itu, harga pokok penjualan PT Indofarma Tbk menjadi lebih kecil dan laba yang terlalu tinggi.

Selain kasus Enron di Amerika, PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk di Indonesia. Kasus terbaru mengenai manajemen laba terjadi di Jepang dengan aktornya yaitu Toshiba Corp yang baru terungkap tahun 2015. Toshiba diketahui melakukan manajemen laba dengan cara menunda pembukuan kerugiannya dengan total skandal pendapatan mencapai US$1,2 miliar. Skandal ini terjadi pada masa kepemimpinan Hisao Tanaka. Akibat dari kejahatannya ini, Toshiba harus menyajikan kembali laporan keuangannya selama lebih dari enam tahun (Bisnis.com). Akibat dari manajemen laba ini harga saham Toshiba Corp mampu menembus harga 35 USD/saham pada tahun 2010 (www.finance.yahoo.com) dan terus menurun

(12)

12

secara fluktuatif ditahun tahun berikutnya hingga terjadi penemuan bukti-bukti perilaku manajemen laba.

Dari contoh-contoh kasus diatas dapat dilihat bahwa manajemen laba dapat terjadi di negara manapun. Dalam hal ini, yang bertanggung jawab dalam setiap kasus ini adalah manajemen. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya perataan laba dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya Pengaruh Mekanisme Corporate Govarnance Terhadap Praktik Perataan Laba (Handayani et al, 2016), Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan Terhadap Praktik Perataan Laba (Kharisma dan Agustina, 2015), Analisis Pengaruh Beban Pajak Kini, Beban Pajak Tangguhan, dan Basis Akrual Terhadap Manajemen Laba (Amanda dan Febrianti, 2015), Pengaruh Dewan Komisaris Independen, Komite Audit, Kualitas Audit, dan Kepemilikan Manajerial Pada Perataan Laba (Marpaung dan Latrini, 2014), Pengaruh Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Perusahaan, dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Praktik Perataan Laba (Octavania dan Asyik, 2014), Pengaruh Profitabilitas, Kepemilikan Manajerial, dan Pajak Terhadap Praktik Perataan Laba (Pratiwi dan Handayani, 2014), Pengaruh Kompensasi Bonus, leverage, dan Pajak terhadap Earnings Management Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2013 (Wijaya dan Christiawan, 2014), Pengaruh Profitabilitas, Resiko Keuangan, Nilai Perusahaan, Struktur Kepemilikan dan Devidend Payout Ratio Terhadap Perataan Laba (Pratama, 2012), Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage, dan Kepemilikan Institusional Terhadap Perataan Laba : studi empiris pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di BEI (Butar Butar dan Sudarsi, 2012).Berdasarkan inkonsistensi hasil penelitian sebelumnya maka penelitian ini akan difokuskan terhadap beberapa faktor diatas.

(13)

13 Menurut Peraturan Nomor IX.I.5 lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor Kep-643/BL/2012 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit, Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dalam rangka membantu melaksanakan tugas dan fungsinya. Di dalam peraturan ini ditegaskan bahwa setiap emiten atau perusahaan publik wajib memiliki komite audit dan pedoman kerja komite audit (audit committee charter) dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris. Komite audit terdiri sekurang-kurangnya satu orang komisaris independen dan sekurang-kurangnya dua orang anggota lainnya yang berasal dari luar emiten atau perusahaan publik. (www.komiteaudit.com)

Berdasarkan penjabaran peraturan diatas, komite audit seharusnya mampu mencegah terjadinya praktik perataan laba karena komite audit berkaitan langsung dengan setiap operasi perusahaan dan penelahaan atas ketaatan kinerja perusahaan dengan peraturan yang berkaitan. Selain itu, komite audit juga melakukan penelahaan dan pemeriksaan internal audit pada perusahaan (Tugas dan Wewenang Komite Audit dalam Peraturan Nomor IX.I.5 lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor Kep-643/BL/2012). Dengan adanya tugas diatas tentunya Komite Audit mampu mencegah terjadinya praktik perataan laba diperusahaan. Pengukuran komite audit dapat dilakukan dengan cara menghitung persentase jumlah komite audit independen diluar komisaris independen terhadap jumlah komite audit. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Handayani et al (2016) yang menyatakan bahwa komite audit berpengaruh negatif terhadap perataan laba. Namun, hasil penelitian yang berbeda ditemukan oleh Marpaung dan Latrini (2014) memiliki hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa komite audit tidak berpengaruh terhadap tindakan perataan laba.

Selanjutnya ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan dapat menjadi salah satu parameter dalam menentukan size suatu perusahaan dan juga

(14)

14

mampu memberikan suatu gambaran terhadap investor, pemerintah dan publik. Menurut Gerayli et al (2011) dan Butar Butar dan Sudarsi (2012) ukuran perusahaan dapat diukur salah satunya dari total aset yaitu dengan cara logaritma natural total aset perusahaan. Total aset dari suatu perusahaan cenderung jauh lebih mendapat perhatian investor, pemerintah dan publik. Perusahaan besar cenderung akan memberikan gambaran kesan bahwa perusahaan tersebut aman dengan jumlah asset yang besar dengan hutang yang kecil serta laba yang meningkat setiap tahun. Hal ini didukung dengan pernyataan Moses (1987), dalam Butar Butar dan Sudarsi (2012) yang menyatakan perusahaan dengan size yang besar mempunyai insentif yang besar untuk melakukan perataan laba dibandingkan dengan perusahaan kecil, karena perusahaan yang memiliki aktiva dalam jumlah besar akan lebih diperhatikan oleh publik dan pemerintah. Oleh karena itu perusahaan besar akan menghindari kenaikan laba secara drastis supaya terhindar dari kenaikan pembebanan biaya oleh pemerintah. Sebaliknya penurunan laba secara drastis memberikan sinyal bahwa perusahaan dalam masa krisis. Pernyataan ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Butar dan Sudarsi (2012), Kharisma dan Agustina (2015) yang menyatakan ukuran perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perataan. Namun, hasil berbeda ditemukan oleh Octavania dan Asyik (2014) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba.

Selanjutnya variabel perpajakan. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Penjelasan dalam UU KUP No. 16 tahun 2009). Contoh kasus manajemen laba dengan faktor pajak adalah kasus PT Asian Agri di tahun 2012. Modusnya dengan cara menjual minyak kelapa sawit ke

(15)

15 perusahaan afiliasi diluar negeri dengan harga dibawah harga pasar sehingga penjualan menjadi kecil dan juga akan menekan pajak dalam negeri. Bentuk manajemen laba yang digunakan oleh PT Asian Agri ini mengakibatkan pajak dalam negeri dapat di tekan. Berdasarkan kasus diatas, pajak tentu akan membebani setiap perusahaan karena menambah biaya yang harus dikeluarkan perusahaan. Pajak dapat diukur dengan cara membagi pajak tahun berjalan dengan total aset. Ini sesuai dengan pernyataan Tanomi (2012) dalam Wijaya dan Christiawan (2014) akibat dari motivasi pajak manajer akan berusaha menggeser laba dari satu periode ke periode selanjutnya guna meminimalisir laba. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Wijaya dan Christiawan (2014) dan Amanda dan Febrianti (2015) pajak memiliki pengaruh positif terhadap perataan laba. Namun, dalam penelitian Pratiwi dan Handayani (2014) pajak tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perataan laba Karena adanya ketidak konsistenan ini oleh karena ini maka penulis mengambil variabel pajak sebagai salah satu variabel dalam penelitian ini.

Kepemilikan manajerial mempunyai arti bahwa kepemilikan perusahaan juga dimiliki oleh manajemen. Hal ini diharapkan agar manajer memiliki pemikiran yang sama sebagai pemilik dan berusaha untuk menjalankan perusahaan sesuai dengan aturan yang berlaku dan memiliki etos kerja yang tinggi sehingga pengawasan terhadap perusahaan akan lebih baik. Dampak dari kepemilikan manajerial yang diharapkan adalah laporan keuangan yang dihasilkan memiliki independesi dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Kepemilikan Manajerial dapat diukur dengan cara menghitung jumlah persentase saham yang dimiliki manajemen dari jumlah saham yang beredar. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Pratama (2012) yang menyatakan kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap perataan laba.

(16)

16

Tetapi, hal ini bertentangan dengan Marpaung et al (2014) dan Pratiwi et al yang mengatakan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.

Selanjutnya kualitas audit, dalam pemberian opini audit oleh auditor harus dilakukan terlebih dahulu pemeriksaan terhadap transaksi-transaksi perusahaan. Selama pengujian dan pemeriksaan auditor akan menentukan apakah pencatatan untuk laporan keuangan telah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum. Selain itu auditor akan memeriksa apakah transaksi yang telah dicatat sesuai dengan waktu pengakuan dari transaksi tersebut. Sehingga semakin baik opini yang didapat perusahaan tentu tindakan manajemen lama semakin kecil. Dalam hal ini menurut Gerayli et al (2011) dan Marpaung et al (2014) kualitas audit dapat di ukur dengan ukuran KAP (KAP big-four dan KAP non big-four). Berdasarkan penelitian sebelumnya, Marpaung dan Latrini (2014) menemukan bahwa kualitas audit memiliki pengaruh negatif terhadap perataan laba. Namun menurut Kharisma dan Agustina (2015) kualitas audit tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.

Berdasarkan inkonsistensi dari penelitian-penelitian terdahulu mengenai variabel-variabel yang mempengaruhi perataan laba dan juga berdasarkan fenomena terhadap perataan laba. Maka, penulis dalam penelitian ini bermaksud untuk meneliti lebih jauh mengenai variabel-variabel tersebut, terkait pengaruhnya terhadap perataan laba. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian ini dengan judul “ PENGARUH KOMITE AUDIT, UKURAN PERUSAHAAN, PAJAK, KEPEMILIKAN MANAJERIAL DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP PERATAAN LABA (Studi Empiris Pada Emiten Sektor Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2011-2015).

(17)

17 1.3 Perumusan Masalah

Salah satu bentuk manajemen laba adalah perataan laba atau income smoothing. Perataan laba merupakan tindakan yang dapat dilakukan oleh setiap perusahaan di setiap negara. Penulis telah menjabarkan beberapa kasus mengenai manajemen laba pada subbab sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa praktik manajemen laba dalam bentuk apapun mampu dan dapat dilakukan oleh siapapun dan tentu dapat merugikan investor, pemerintah, dan publik. Tetapi tentu saja tidak bagi perusahaan yang melakukan manajemen laba Terdapat 4 bentuk manajemen laba yaitu, taking a bath, income minimization, income maximization and income smooting. Dan Contoh kasus manajemen laba yaitu, kasus Enron di Amerika tahun 2000-2002, Kasus PT Kimia Farma Tbk dan Indofarma Tbk tahun 2001, dan Kasus Toshiba Corp tahun 2015.

Berdasarkan contoh kasus yang telah dijabarkan oleh penulis pada subbab sebelumnya, segala bentuk manajemen laba tentu hanya menguntungkan satu pihak yaitu perusahan yang melakukannya. Keuntungannya adalah peningkatan pembelian saham karena perusahaan memanipulasi laba dengan cara meningkatkan laba atau menurunkan harga pokok penjualan. Dan tentu hal ini merugikan investor, pemerintah sebagai regulator dan publik lainnya. 1.4 Pertanyaan penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana komite audit, ukuran perusahaan, pajak, kepemilikan manajerial, kualitas audit dan perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 ?

2. Apakah komite audit, ukuran perusahaan, pajak, kepemilikan manajerial dan kualitas audit berpengaruh secara simultan terhadap perataan pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 ?

(18)

18

3. Apakah komite audit berpengaruh secara parsial terhadap perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 ? 4. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh secara parsial terhadap perataan

laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 ?

5. Apakah pajak berpengaruh terhadap perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 ?

6. Apakah kepemilikan manajerial berpengaruh secara parsial terhadap perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 ?

7. Apakah kualitas audit berpengaruh secara parsial terhadap perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015 ? 1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui komite audit, ukuran perusahaan, pajak, kepemilikan manajerial, kualitas audit dan perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015.

2. Untuk mengetahui pengaruh komite audit, ukuran perusahaan, pajak, kepemilikan manajerial dan kualitas audit secara simultan terhadap perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015.

3. Untuk mengetahui pengaruh komite audit secara parsial terhadap perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015.

4. Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan secara parsial terhadap perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015.

(19)

19 5. Untuk mengetahui pengaruh pajak secara parsial terhadap perataan laba

pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015. 6. Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial secara parsial

terhadap perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015.

7. Untuk mengetahui pengaruh kualitas audit secara parsial terhadap perataan laba pada emiten sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015.

1.6 Manfaat penelitian 1.6.1 Aspek Teoritis

Kegunaan teoritis yang ingin dicapai dalam pengembangan pengetahuan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perataan laba seperti komite audit, ukuran perusahaan, pajak, kepemilikan manajerial dan kualitas audit pada sektor manufaktur yang terdaftar di BEI.

2. Penelitian ini diharapkan memberikan referensi untuk penelitian selanjutnya.

1.6.2 Aspek Praktis

Kegunaan praktis yang ingin dicapai dalam penerapan pengetahuan sebagai hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Shareholder

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan dalam peningkatan pengawasan terhadap manajemen perusahaan selama operasi perusahaan berlangsung sehingga dapat meminimalisir praktek perataan laba.

(20)

20

2. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengawasan yang lebih ketat dalam operasional perusahaan sehingga praktik perataan laba dapat diminimalisir.

3. Bagi Auditor

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi auditor dalam mencermati faktor yang dapat mempengaruhi perataan laba sehingga dapat meningkatkan kinerja dalam auditnya, sehingga diharapkan pendeteksian praktik perataan laba dapat ditingkatkan.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian

1.7.1 Lokasi dan Objek Penelitian

Lokasi penelitian yang dipilih adalah website resmi Bursa Efek Indonesia ( www.idx.co.id ) dan objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan sektor manufaktur.Data penelitian ini di ambil dari laporan tahunan yang diperoleh dari website resmi masing-masing perusahaan, dan Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).

1.7.2 Periode Penelitian

Periode penelitian ini menggunakan laporan tahunan perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2015.

1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Pembahasan dalam skripsi ini akan dibagi menjadi lima bab yang terdiri dari beberapa sub-bab. Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas tentang gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian serta sistematika penulisan.

(21)

21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN

Bab ini membahas tentang landasan teori yang menjadi dasar acuan, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, hipotesis penelitian, dan ruang lingkup penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini membahas tentang jenis penelitian, pendekatan penelitian yang digunakan, identifikasi variabel independen (komite audit, ukuran perusahaan, pajak, kepemilikan manajerial dan kualitas audit) dan variabel independen (perataan laba), definisi operasional variabel, tahapan penelitian, jenis dan sumber data (populasi dan sampel) serta teknik analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas tentang deskripsi hasil penelitian yang telah diidentifikasi, analisis model dan hipotesis, dan pembahasan mengenai variabel independen (komite audit, ukuran perusahaan, pajak, kepemilikan manajerial dan kualitas audit) terhadap varibel dependen (perataan laba). BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini membahas tentang beberapa kesimpulan dari hasil analisis yang telah dilakukan, dan saran-saran yang dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan penelitian selanjutnya.

(22)

22

(), Ta

Gambar

Tabel  diatas  menunjukkan  sektor  dan  subsektor  yang  terdapat  pada  sektor  manufaktur

Referensi

Dokumen terkait

Dapat dimanfaatkan sebagai bahan acuan bagi perusahaan media massa yang melakukan konvergensi agar lebih meningkatkan pengembangan platform media mereka baik

Apakah Anda pernah melakukan, sadar maupun kurang disadari, hal-hal yang Anda anggap merupakan cacat diri, sehingga suatu ketika dapat “diperbesar” lawan-lawan Anda,

Determinan suatu matriks merupakan jumlah perkalian elemen-elemen dari sebuah baris (kolom) dengan kofaktor-kofaktor yang bersesuaian.. Invers Matriks.. Untuk menjelaskan

Hasil penelitian ini didukung oleh Ratnasari, et al., (2016) berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS didapatkan nilai tingkat signifikan sebesar 0.239,

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif penyajian data ini dapat dilakukan dalam berbagai

terlibat dalam penanggulangan HIV-AIDS di Kota Medan relatif banyak, diantaranya: Medan plus, H2O, GSM, Galatea, Seci, dll, sehingga secara jumlah SDMnya juga relatif banyak. 

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penambahan konsentrasi CMC dan lama pencelupan terhadap sifat fisik buah anggur merah serta mengetahui perlakuan terbaik