• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR BUPATI POSO Drs. PIET INKIRIWANG, MM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR BUPATI POSO Drs. PIET INKIRIWANG, MM"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, saya menyambut gembira tersusunnya “Memorandum Program Sanitasi Kabupaten Poso”

Percepatan pembangunan sanitasi permukiman membutuhkan upaya penanganan sanitasi yang lebih terencana, terukur, terintegrasi serta sistematis sehingga dapat dihasilkan pembangunan yang lebih tepat sasaran karena sesuai dengan kebutuhan daerah. Penyusunan Dokumen Memorandum Program Sanitasi oleh kelompok kerja (Pokja) sanitasi merupakan Bagian ke empat dari enam tahapan pelaksanaan program percepatan pembangunan sanitasi permukiman ( PPSP ) di Kabupaten Poso,tahapan ini pada dasarnya merupakan tindak lanjut dari strategi sanitasi kota ( SSK )

Memorandum program sanitasi merupakan kesepahaman dan kesepakatan bersama antara para pemangku kepentingan dalam rangka percepatan pembangunan sanitasi permukiman di daerah, yang terdiri dari perwakilan pemerintah pusat,pemerintah provinsi,dan pemerintah kabupaten dan sumber pendanaan lainnya.

Penyelesaian dokumen ini tentu saja bukanlah hal yang muda, terutama karena adanya berbagai keterbatasan, baik ketersediaan data dan informasi sanitasi maupun alokasi waktu bagi pokja dengan tugas pokok dan fungsi yang juga menuntut perhatian. Namun dengan berbagai keterbatasan tersebut, pokja sanitasi telah bekerja keras dan berupaya berbuat yang terbaik, terutama demi perubahan kualitas hidup masyarakat di kabupaten poso yang lebih baik. Untuk itu saya menyampaikan apresiasi atas terselesaikannya dan terpublikasikannya memorandum program sanitasi kabupaten poso yang selanjutnya akan dilanjutkan dengan proses pelaksanaan implementasi pada tahun 2015. Besar harapan saya adanya respon yang sifatnya konstruktif dari berbagai pihak guna mendukung upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat Kabupaten Poso.

Terima kasih, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkati kita sekalian.

Poso, Oktober 2014

BUPATI POSO

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

RINGKASAN (SUMMARY EXECUTIF)

Kabupaten Poso wilayahnya membentang dari arah tenggara ke Barat Daya dan melebar dari arah Barat ke Timur, dan sebagian besar berada di daratan pulau Sulawesi. Dan lihat dari posisinya Kabupaten Poso terletak ditengah Sulawesi yang merupakan jalur strategis yang menghubungkan Sulawesi Utara dengan Sulawesi Selatan.

Letak wilayah Kabupaten Poso dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain letak Astronomis, letak geografis dan letak geologis :

a. Letak Astronomis

Berdasarkan garis lintang dan garis bujur wilayah Kabupaten Poso terletak pada koordinat 1°06’ 44” - 2°12’53” LS dan 120°05’09” - 120°52’ 04” BT . Berdasarkan letak astronomisnya, panjang wilayah Kabupaten Poso dari ujung barat sampai ujung timur diperkirakan jaraknya kurang lebih 86,2 Km. Lebarnya dari utara ke selatan dengan jarak kurang lebih 130 Km.

a. Letak Geografis

Dilihat dari posisinya dipermukaan bumi letak wilayah Kabupaten Poso secara umum terletak dikawasan hutan dan lembah pegunungan. Dan kawasan lainnya terletak pada pesisir pantai yang sebagian terletak diperairan Teluk Tomini dan Teluk Tolo.

b. Letak Geologis

Secara geologis wilayah Kabupaten Poso terletak pada deretan pegunungan lipatan, yakni Pegunungan Fennema dan Tineba di bagian barat, Pegunungan Takelekaju di bagian barat daya, Pegunungan Verbeek di bagian tenggara, Pegunungan Pompangeo dan pegunungan Lumut di bagian timur laut.

Luas daratan Kabupaten Poso setelah terpisah dengan Kabupaten Tojo Una-una diperkirakan sekitar 8.712,25 Km² atau 12,81 persen dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tengah,bila dibandingkan dengan luas daratan kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah,Kabupaten Poso menempati urutan keempat.

Pada tahun 2010 Kabupaten Poso mengalami pemekaran kecamatan, yaitu Kecamatan Pamona Puselemba. Kecamatan ini merupakan pemekaran dari Kecamatan Pamona Utara dengan luas wilayah kira-kira 560,05 Km². Terdiri dari 10 wilayah

(10)

pedesaan, dengan ibu kota kecamatan yaitu Desa Sangele. Jika dilihat berdasarkan luas kecamatan, Kecamatan Lore Tengah memiliki luas terbesar yaitu kira-kira 976,37 Km² atau 11,21 persen dari luas Kabupaten Poso.

Wilayah Kabupaten Poso dibatasi oleh batas alam yakni kawasan pantai dan pegunungan/perbukitan dengan batas administratif sebagai berikut :

 Sebelah Utara :

Berbatasan dengan Teluk Tomini dan Provinsi Sulawesi Utara

 Sebelah selatan :

Berbatasan dengan Provinsi sulawesi selatan

 Sebelah Timur :

Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Tojo Una-una

 Sebelah Barat : Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Donggala dan kabupaten Parigi Moutong

Pada belahan utara wilayah ini terdiri dari Kecamatan-kecamatan Poso Pesisir, Poso kota, lage, dimana sebagian wilayahnya berbatasan dengan pantai Teluk Tomini. Dibelahan timur adalah sebagian Pamona Timur yang berbatasan dengan kabupaten Morowali dan sebagian Lage berbatasan dengan Kecamatan Tojo Una-una. Dan pada belahan Barat terdiri dari Kecamatan Lore Utara, Lore Tengah dan Lore Barat yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten donggala dan Kabupaten Parigi moutong. Sedangkan Kecamatan Pamona Selatan dan Lore selatan sebagian wilayahnya berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Kabupaten Poso sebagian besar merupakan kawasan pegunungan dan perbukitan, maka ketinggian wilayah pada umumnya berada diatas 500 meter dari permukaan laut. Kemiringan tanah/lereng yang terdiri dari :

 Kemiringan 0-2 % (datar agak landai), tersebar diseluruh kecamatan khususnya Kecamatan Pamona Selatan

 Kemiringan 3-15 % (landai agak miring) tersebar hampir diseluruh kecamatan kecuali Kecamatan Lage

 Kemiringan 16-40 % (miring agak curam), terdapat dihampir seluruh kecamatan kecuali di wilayah Kecamatan Lore selatan. Sedangkan kemiringan yang terluas terdapat di Kecamatan Lore Utara

(11)

 Kemiringan lebih dari 40 % (sangat curam), merupakan bagian terluas dari seluruh luas kemiringan tanah di wilayah Kabupaten Poso.

 Cakupan wilayah perencanaan dalam penyusunan Memorandum Program Sanitasi (MPS) Kabupaten Poso ini yang meliputi 19 kecamatan, 133 desa dan 23 kelurahan. .Penentuan area berisiko, ditentukan berdasarkan tingkat resiko sanitasi yang dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan data primer, dengan berdasarkan hasil penilaian oleh SKPD dan hasil studi EHRA.

Proses penentuan area berisiko dimulai dengan analisis data sekunder, diikuti dengan penilaian SKPD dan analisis berdasarkan hasil studi EHRA. Penentuan area berisiko dilakukan bersama-sama seluruh anggota Pokja berdasarkan hasil dari ketiga data tersebut.

Dari hasil penentuan area berisiko untuk Kabupaten Poso di dapat sebanyak 14 desa di Kabupaten Poso berisiko sangat tinggi, 13 desa berisiko tinggi,tidak ada desa berisiko sedang dan 14 desa kurang berisiko Atau Area Beresiko Rendah. Hasil Penentuan area berisiko berdasarkan tingkat/derajat resiko ini disajikan dalam bentuk tabel dan peta seperti dibawah ini :

(12)

Perkiraan besaran pendanaan APBD Kabupaten Poso Tahun 2014 – 2018 untuk belanja murni sanitasi sebesar Rp. 53.993.771.770, sedangkan perkiraan komitmen pendanaan sanitasi tahun 2014 – 2018 sebesar Rp. 51.432.701.970. Dapat dilihat bahwa perkiraan belanja murni sanitasi selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya, perkiraan belanja sanitasi tertinggi yaitu pada tahun 2018 yaitu sebesar Rp. 11.630.980.110. Berikut tabel mengenai perkiraan belanja langsung (APBD), belanja murni untuk sanitasi, serta perkiraan komitmen pendanaan sanitasi Kabupaten Poso Tahun 2014 – 2018.

Proyeksi Besaran Pendanaan Sanitasi

No Uraian

Perkiraan Belanja Murni Sanitasi (juta rupiah)

Total Pendanaan 2014 2015 2016 2017 2018 1 348 470 565 670 786 2.840 Perkiraan Belanja Langsung 2 Perkiraan APBD Murni untuk Sanitasi 9.960 10.111 10.810. 11.480 11.630 53.993. 3 Perkiraan Komitmen Pendanaan Sanitasi 8.470 9.890 10.510 11.360 11.200 51.432 Porsentase Komitmen terhadap belanja langsung 5,30 4,25 3,77 3,41 2,90 3,71

(13)

sub sektor air limbah, sub sektor persampahan, sub sektor drainase dan aspek prohisan. Dari keempat item tersebut terlihat bahwa indikasi biaya tertinggi berada pada sub sektor drainase, yakni sekitar Rp. 42.580.000.000,00, tingginya indikasi biaya pada sub sektor drainase karena pada lima (5) tahun mendatang direncanakan kegiatan pembangunan drainase/gorong-gorong di tujuh (7) Wilayah Kecamatan di Kabupaten Poso yakni Kecamatan Poso Kota, Poso Kota Utara, Poso Kota Selatan, Lage, Pamona Pusalemba, Pamona Selatan. Sedangkan untuk sektor sanitasi yang memiliki besaran indikasi pembiayaan terendah adalah aspek Prohisan yakni Rp.2.905.000.000,00 Dari keseluruhan besaran indikasi pembiayaan berdasarkan sumbernya, diketahui indikasi pembiayaan bersumber dari dana APBD Kabupaten sebesar Rp. 52.961.655.000,00, APBD Provinsi sebesar Rp. 4.915.000,00 dan untuk APBN sebesar Rp. 34.550.000.000,00 sedangkan indikasi sumber pembiayaan non pemerintah sebesar Rp. 324.000.000,00

Rekapitulasi Anggaran per Sumber Anggaran

No.

Sumber Tahun Anggaran

Total Anggaran Anggaran 2014 2015 2016 2017 2018 A. Pemerintah 1 APBD Kab/Kota 8.514.104 11.259.684 10.690.089 12.227.989 10.269.789 52.961.655 2 APBD Provinsi 0 1.650.000 1.115.000 1.085.000 1.065.000 4.915.000 3 APBN 5.350.000 125.000 15.025.000 7.525.000 6.525.000 34.550.000 Jumlah A 13.864.104 13.034.684 26.830.089 20.837.989 17.859.789 92.426.655 B. Non-Pemerintah 1 CSR Swasta 30000 40.000 40.000 40.000 30.000 180.000 2 Masyarakat 24.000 48.000 24.000 24.000 24.000 144.000 Jumlah B 54.000 88.000 64.000 64.000 54.000 324.000 Total (A + B) 13.918.104 13.122.684 26.894.089 20.901.989 17.913.789 92.750.655

(14)

Rekapitulasi Anggaran

No. Uraian Kegiatan

Tahun Anggaran Total Anggaran 2014 2015 2016 2017 2018 1 Air Limbah 4.424.104 6.687.189 5.818.089 7.420.989 5.952.789 30.303.160 2 Persampahan 2.070.000 2.552.495 9.712.000 1.147.000 1.157.000 16.638.495 3 Draianse 7.000.000 3.400.000 10.560.000 11.560.000 10.060.000 42.580.000 4 PHBS terkait sanitasi 370.000 395.000 740.000 710.000 690.000 2.905.000 Jumlah 13.864.104 13.034.684 26.830.089 20.837.989 17.859.789 92.426.655

Rencana Anggaran Pemerintah APBD Kabupaten Poso

Indikasi kebutuhan pendanaan /pembiayaan pengembangan sanitasi yang bersumber dari dana APBD Kabupaten sebesar Rp. 52.961.655.000,00 Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun yang akan datang diperkirakan besarannya akan berfluktuasi

yakni berkisar Rp.8.514.104,00 pada tahun 2014, dan tahun 2015 meningkat menjadi Rp.11.259.684.000,00 . Meningkatnya indikasi pembiayaan di tahun 2015 hal ini karena

adanya rencana kegiatan pembangunan TPA. Di tahun 2016 menurun kembali menjadi Rp. 10.690.089.000, di tahun 2017 meningkat kembali menjadi Rp. 12.227.989.000,00 meningkatnya indikasi biaya di tahun 2017 karena adanya rencana kegiatan peningkatan sarana dan prasarana IPLT di tentena serta adanya rencana kegiatan review masterplan dan DED drainase. Di tahun 2018 menurun kembali menjadi Rp.10.269.789.000,00

. Indikasi pembiayaan tertinggi yaitu pada tahun 2017 sebesar Rp.12.227.989.000,00 hal ini dipengaruhi oleh besarnya kebutuhan pembiayaan sub

sektor drainase. Indikasi kebutuhan pendanaan yang bersumber dari APBD Kabupaten dapat dilihat dibawah ini :

Rekapitulasi APBD Kabupaten Poso

X 000

No. Uraian Kegiatan

Tahun Anggaran Total Anggaran 2014 2015 2016 2017 2018 1 Air Limbah 4.424.104 5.787.189 4.588.089 5.190.989 4.722.789 24.713.160 2 Persampahan 1.720.000 1.952.495 712.000 647.000 657.000 5.688.495

(15)

No. Uraian Kegiatan Tahun Anggaran Total Anggaran 2014 2015 2016 2017 2018 Jumlah 8.514.104 11.259.684 10.690.089 12.227.989 10.269.789 52.961.655 APBD Provinsi

Indikasi kebutuhan pendanaan/pembiayaan pengembangan sanitasi yang bersumber dari dana APBD Provinsi berkisar Rp. 4.915.000.000,00 dari Total indikasi anggaran sanitasi yaitu Rp. 92.426.655.000,00 Dengan indikasi pembiayaan yang bersumber dari APBD Provinsi pada sub sektor air limbah sebesar Rp. 1.890.000.000,00 sub sektor persampahan sebesar Rp. 600.000.000,00 sub sektor drainase sebesar Rp. 1.980.000.000,00 sedangkan aspek PHBS sebesar Rp. 445.000.000,00 Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun kedepan diperkirakan besarannya akan berfluktuasi, indikasi pembiayaan tertinggi yaitu pada tahun 2015 dan 2016, hal ini karena di tahun 2015 direncanakan adanya kegiatan pembangunan TPA dan peningkatan sarana dan prasarana TPA pada tahun 2016, selain itu direncanakan kegiatan pembangunan drainase/gorong-gorong yang rutin di laksanakan dari tahun 2015 sampai 2018 dengan indikasi biaya setiap tahunnya sebesar Rp. 1.000.000.000,00 yang bersumber dari APBD Provinsi. Indikasi Kebutuhan pendanaan/pembiayaan pengembangan sanitasi yang bersumber dari APBD Provinsi mengenai hal tersebut dapat dilihat dibawah ini

Rekapitulasi APBD Provinsi

X 000

No. Uraian Kegiatan

Tahun Anggaran Total Anggaran 2014 2015 2016 2017 2018 1 Air Limbah 0 900.000 330.000 330.000 330.000 1.890.000 2 Persampahan 0 600.000 0 0 0 600.000 3 Drainase 0 0 660.000 660.000 660.000 1.980.000 4 PHBS terkait sanitasi 0 150.000 125.000 95.000 75.000 445.000 Jumlah - 1.650.000 1.115.000 1.085.000 1.065.000 4.915.000 APBN

Indikasi kabutuhan sumber pendanaan/ pembiayaan pengembangan sanitasi untuk 5 (lima) tahun kedepan yang bersumber dari APBN yaitu berkisar Rp. 34.550.000.000,00 dari total indikasi anggaran sanitasi yaitu Rp. 92.426.655.000 yakni untuk rencana

(16)

pendanaan sub sektor air limbah sebesar Rp. 3.700.000.000, sub sektor persampahan berkisar Rp. 10.350.000.000, serta pendanaan sub sektor drainase diperkirakan sebesar Rp. 20.000.000.000, tingginya indikasi biaya pada sub sektor drainase karena direncanakan kegiatan pembangunan drainase/gorong-gorong rutin dilaksanakan dari tahun 2016 sampai 2018 dengan indikasi biaya sebesar Rp. 5.000.000.000. Indikasi pembiayaan sanitasi tertinggi yang bersumber dari APBN yaitu pada tahun 2016 sebesar Rp. 15.025.000.000, ini karena direncanakan di tahun ini akan di lakukan pembangunan TPA baru dengan perkiraan anggaran sebesar Rp. 8.000.000.000,00 sebagaimana dijabarkan dalam tabel dibawah ini :

Rekapitulasi APBN

X 000

No. Uraian Kegiatan

Tahun Anggaran Total Anggaran 2014 2015 2016 2017 2018 1 Air Limbah 0 0 900.000 1.900.000 900.000 3.700.000 2 Persampahan 350.000 0 9.000.000 500.000 500.000 10.350.000 3 Drainase 5.000.000 0 5.000.000 5.000.000 5.000.000 20.000.000 4 PHBS terkait sanitasi 0 125.000 125.000 125.000 125.000 500.000 Jumlah 5.350.000 125.000 15.025.000 7.525.000 6.525.000 34.550.000

Potensi Kontribusi Swasta dan BUMN/D

Indikasi kabutuhan sumber pendanaan/ pembiayaan pengembangan sanitasi untuk 5 (lima) tahun kedepan yang bersumber dari Swasta/Non Pemerintah yaitu berkisar Rp. 180.000.000,00 dari total indikasi anggaran sanitasi yaitu Rp. 92.426655.000,00 yakni untuk rencana pendanaan sub sektor air limbah sebesar Rp. 40.000.000,00 sub sektor persampahan berkisar Rp. 40.000.000,00 dan sub sektor drainase Rp 3.000.000.000 serta sub sektor PHBS Rp 40.000.000,00 . sebagaimana dijabarkan dalam tabel dibawah ini :

Rekapitulasi Pendanaan Sanitasi Partisipasi Swasta

X 000 No. Uraian Kegiatan

Tahun Anggaran Total Anggaran 2014 2015 2016 2017 2018 1 Air Limbah 15000 10.000 10.000 10.000 10.000 55.000 2 Persampahan 5000 10.000 10.000 10.000 10.000 45.000 3 Drainase 5000 10.000 10.000 10.000 5.000 40.000 4 PHBS terkait sanitasi 5000 10.000 10.000 10.000 5.000 40.000

(17)

Rekapitulasi Pendanaan Sanitasi Masyarakat

X 000

No. Uraian Kegiatan

Tahun Anggaran Total Anggaran 2014 2015 2016 2017 2018 1 Air Limbah 12.000 24.000 12.000 12.000 12.000 60.000 2 Persampahan 12.000 24.000 12.000 12.000 12.000 60.000 3 Drainase 0 0 0 0 0 0 4 PHBS terkait sanitasi 0 0 0 0 0 0 Jumlah 24.000 48.000 24.000 24.000 24.000 120.000 Sumber : Masyarakat 2014

Funding Gap APBD Kabupaten/Kota

No. Uraian Tahun Anggaran Total Anggaran n+1 n+2 n+3 n+4 n+5

1 Kebutuhan Pendanaan 0 0 0 0 0 0

2 Kemampuan Pendanaan 0 0 0 0 0 0

3 Selisih (Rp) 0 0 0 0 0 0

4 Selisih (%) 0 0 0 0 0 0

Rencana kegiatan pelaksanaan program dan pengembangan sanitasi di Kabupaten Poso pada 4 Sub sektor yakni PHBS,Peningkatan Pengelolaan air limbah domestik , Pengelolaan Persampahan dan pengelolaan drainase yang di prioritaskan oleh Pemerintah Kabupaten Poso untuk di prioritaskan pelaksanaannya berkaitan dengan target pencapaian yang harus di capai di tahun 2018 maka di anggap perlu menyusun sebuah master plan pelaksanaan program pembangunan sarana dan program-program peningkatan prilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan , adapun kriteria penentuan program yang berkaitan dengan kebutuhan di masyarakat yang akan di prioritaskan pelaksanaan untuk perencanaan Tahun 2015 dapat di lihat pada Tabel Berikut Ini :

(18)

Kriteria Kesiapan Implementasi Infrastruktur Tahun 2015 (khusus sumber dana dari Pemerintah)

Rencana Kegiatan (sesuai dengan MPS) Mast er Revi ew RPIJ M Do k. FS Dok. Studi Lingkun gan DE D Lah an Kesi a-pan Mas y. Kesiap an Lemba ga Pengel ola Penangg ung jawab/ Tindak lanjut Lokas i Plan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 AIR LIMBAH DED air limbah Tente na V V V V V V - - PU Master Plan Air Limbah Tente na V V V V V V - - PU PERSAMPA HAN Pembukaan akses jalan ke lokasi TPA baru X V X X X _ _ _ PU Bangunan Pengolahan sampah X V X X X _ _ _ PU DRAINASE Pembangun an Saluran Drainase/Go rong-Gorong X V X X X _ _ _ PU

(19)

Kriteria Kesiapan dalam Mekanisme Penganggaran Tahun 2015 (khusus sumber dana dari Pemerintah)

Kegiatan Pemegang

Mata Anggaran

Kriteria Kesiapan dalam Mekanisme

Penganggaran Reguler Penanggun

g Jawab / Tindak Lanjut Renja SKP D Musre n bang APBN PU RK A DP A RPIJ M Konre g 1 2 3 4 5 6 7 8 9 AIR LIMBAH

DED air limbah PU √ √ √ √ √ √ PU

Master plan air

limbah PU √ √ √ √ √ √ PU Penyuluhan masyarakat pola hidup sehat Dinkes √ √ X X √ √ Dinkes Pembukaan akses jalan ke lokasi TPA baru

PU √ √ X X - - PU

Pengadaan

media PHBS Dinkes √ √ X X - - Dinkes

Kampanye PHBS di sekolah / masyarakat Dinkes √ √ X X √ √ Dinkes Lomba PHBS di tingkat sekolah / masyarakat Dinkes √ √ X X - - Dinkes Penyebarluasan informasi pembangunan daerah Bappeda √ √ √ X √ √ Bappeda Penyebarluasan informasi penyelenggaraa n pemerintahan Bappeda √ √ √ X √ √ Bappeda

(20)

daerah Penyebarluasan informasi yang bersifat penyuluhan bagi masyarakat Dinkes √ √ √ X - - Dinkes Pelatihan SDM dalam bidang komunikasi dan informasi Bappeda √ √ √ X √ √ Bappeda Pemantauan Kualitas Lingkungan Dinkes √ √ X X √ √ Dinkes Koordinasi penyusunan AMDAL BLH √ √ √ X - - BLH Peningkatan Edukasi dan Informasi Bidang Lingkungan Hidup BLH √ √ X X √ √ BLH Penegmbangan Sistem Informasi Kesehatan Daerah RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT Pengembangan sarana dan prasarana rumah sederhana sehat RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT Penyuluhan dan pengawasan kualitas lingkungan sehat perumahan Dinkes √ √ X X √ √ Dinkes Penyediaan

(21)

bagi masyarakat miskin Operasional IPLT Madale RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT Studi AMDAL Pembangunan IPLT BLH √ √ √ - - - BLH Pembebasan

Lahan/Tanah Aset √ √ X - - - Aset

Sosialisasi dan Kampanye Rencana Pembangunan IPLT RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT Pelatihan bagi

pengelola IPLT Rumsikot √ √ X X - - RUMSIKOT

Pengadaan truk

tinja Rumsihkot √ √ X - - - RUMSIKOT

Operasional dan pemeliharaan truk tinja RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT Perencanaan IPLT Tentena BLH √ √ X - - - BLH Pengadaan

mobil sedot tinja Dinas PU √ X X X - - PU

PERSAMPAHAN Penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan persampahan( Rehabilitasi dump Truck RUMSIKO T √ √ X X √ √ RUMSIKOT Pengadaan motor kaisar RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT

(22)

Pengadaan Dump truck Sampah RUMSIKO T √ √ X X √ √ RUMSIKOT Rehabilitasi Kontainer Sampah RUMSIKO T √ √ X X √ √ RUMSIKOT Pengadaan tong sampah Dinas PU √ √ - X - - PU Pengadaan alat-alat kebersihan RUMSIKO T √ √ x X √ √ RUMSIKOT Sosialisasi Perda pengelolaan kebersihan RUMSIKO T √ √ X X √ √ RUMSIKOT Sosialisasi Pembinaan Pengawasan dan monitoring Kegiatan RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT Study banding pengelolaan sampah RUMSIKO T √ √ √ - - - RUMSIKOT Bangunan pengolahan sampah RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT Mesin pencacah

rumput / sampah Dinas PU √ √ X X - - PU

Mesin pengayak RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT Sealer RUMSIKO T √ √ X X - - RUMSIKOT Timbangan digital RUMSIKO T √ √ √ √ √ √ RUMSIKOT Kendaraan

(23)

Karoseri ) Koordinasi penyelesaian permasalahan penanganan sampah perkotaan RUMSIKO T √ √ √ √ √ √ RUMSIKOT Pembukaan akses jalan ke lokasi TPA baru

RUMSIKO T √ √ √ √ √ √ RUMSIKOT DRAINASE Perencanaan Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong Dinas PU X X - X - - PU Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong Dinas PU √ √ - X - - PU PHBS Pengkajian Pengembangan Lingkungan sehat Dinkes √ √ X X - - Dinkes Cakupan akses air minum dan sanitasi dasar Dinkes √ √ √ X √ √ Dinkes Cakupan keluarga dengan jamban sehat Dinkes √ √ X X - - Dinkes Cakupan air minum yang berkualitas Dinkes √ √ X X - - Dinkes

(24)

Rumah tangga yang

melaksanakan PHBS

Dinkes √ √ X X √ √ Dinkes

Desa siaga aktif Dinkes √ √ X X - - Dinkes

Pemahaman sanitasi pada anak usia dini

Dinkes √ √ X X - - Dinkes

Pemicuan STBM Dinkes √ √ X X √ √ Dinkes

Baliho STBM Dinkes √ √ X X - - Dinkes

Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Poso

Dari Hasil Kajian Yang telah dilakukan oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Poso maka di sepakati untuk Prioritas utama berdasarkan kesiapan Implementasi Pembangunan sarana pada sektor Air Limbah,Persampahan Dan Drainase dan juga dilihat dari kesiapan dana dan kebutuhan mendesak untuk segera di laksanakan pembangunannya pada Tahun 2015,Penjelasan detail tentang aspek-Aspek pendukung Perencanaan pembangunan sarana tersebut dapat di lihat Pada Tabel dibawah ini :

Untuk memaksimalkan perencanaan kegaiatan 4 sub sektor air limbah,Persampahan,Sanitasi Dan Drainase maka perlu di buat sebuah perencanaan yang sistematis agar tujuan pelaksanaan kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan terget yang telah di tentukan . adapun rencana kerja pokja sanitasi Kab.Poso Untuk Tahun 2015 dapat di lihat Di bawah ini :

(25)

Rencana Kerja Monitoring dan Evaluasi Tahunan Tahun 2015

Kegiatan Monev Tahunan

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Ket.

Rapat Koordinasi Pengawalan Penganggaran - Musrenbang - Review RPIJM - Renja SKPD - RKA - DPA Melengkapi Readiness Criteria Solusi Funding Gap Promosi/Sosialisasi Updating MPS Tahunan

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penulisan ini yaitu mewujudkan bangunan Aikido Training Center di Yogyakarta yang dapat mewadahi pendidikan dan pelatihan sekaligus menanamkan

• Sistem rencana organisasi merupakan tulang punggung (sarana) sistem pengendalian intern,karena proses pengambilan keputusan yang menuju sistem pembeian wewenang untuk

Dalam proses pembuatan sepatu injection, perusahaan ini menggunakan mesin injection CWI-90BV dan 120-BV untuk penempelan bagian badan sepatu dengan bagian bawah

Kontrol.. 5) Hasil Uji Efektivitas Layanan Informasi Tentang Sex Education dalam Meningkatkan Pengetahuan Sikap Seks Sehat Peserta Didik Pada Indikator Meliliki

[r]

Dalam Dokumen Grand Design MIFEE (2010), disebutkan tujuan program MIFEE adalah: (a) untuk memperkuat stock atau cadangan pangan dan bio energi nasional dalam

Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan Kecukupan Modal, Kualitas Aktiva Produktif (KAP) dan Likuiditas Terhadap Kinerja Keuangan (Studi Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia

Meski alasan mereka menggunakan jilbab adalah karena jilbab merupakan pakaian wajib bagi perempuan muslim, terkadang secara sadar ataupun tidak, jilbab kreatif