• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komposisi Jenis Bulu Babi (Kelas: Echinoidea) di Daerah Intertidal Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Komposisi Jenis Bulu Babi (Kelas: Echinoidea) di Daerah Intertidal Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

59

Komposisi Jenis Bulu Babi (Kelas:

Echinoidea

)

di Daerah Intertidal Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang

Andi Ristanto1, Ari Hepi Yanti1, Tri Rima Setyawati1

1Program Studi Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura,

Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak, email korespondensi: [email protected]

Abstrak

Sea urchins belong to the class Echinoidea. This species lives in intertidal waters. This research aims to determine the species composition of sea urchins in the intertidal area of Lemukutan Island. The research was conducted in July 2015, using the transect method. Each station consisted of 3 transects with a length of 50 meters from the shore into the sea and each transect within 10 meters of the other transects. This research obtained four species consisting of three species of the genus Diadema and one species of the genus Echinotrix (Diadema antillarium, D. savignyi, D. setosum and Echinotrix calamaris). The species of sea urchins most commonly found are the species D. setosum as many as 147 individuals, while the least found were the species D. antillarium as many as five individuals.

Keyword : sea urchins, Echinoidea, intertidal, Lemukutan Island, species PENDAHULUAN

Bulu babi termasuk dalam anggota kelas Echinoidea. Menurut Hilda dkk. (2012), bulu babi merupakan hewan laut yang 95% permukaan tubuhnya terdiri dari duri-duri yang dapat digerakkan. Hewan ini dapat ditemukan mulai dari perairan laut tropis hingga kutub. Bulu babi berperan penting sebagai salah satu rantai makanan di pesisir pantai, terutama di ekosistem terumbu karang.

Sugiarto dan Supardi (1995), menyatakan bahwa genus Diadema dan Echinotrix memakan daun lamun dan dianggap sebagai hewan herbivor, namun pada lingkungan yang berbeda bulu babi dapat beradaptasi dengan memakan udang kecil, karang dan alga. Diadema yang ditemukan di perairan tropis dan subtropis, contohnya D.

antillarum yang hidup di pesisir pantai Asia, D.mexicanum di pantai barat Amerika, D.setosum,

di Indo Pasifik Barat dan D. savignyi, di Indo Pasifik Barat. Hasil penelitian Zakaria (2007), di Pulau Cingkuak, Pulau Sikuai dan Pulau Setan, Sumatra Barat menemukan 7 jenis bulu babi yaitu Arbacia lixula, Diadema setosum, D. antillarum, D. savignyi, Echinotrix calamaris, E. deadema dan E. mathaei.

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hewan

laut yang tinggi. Contohnya di Pulau Lemukutan. Hasil survei pendahuluan, kelimpahan bulu babi di Pulau Lemukutan tergolong tinggi.

Pengambilan bulu babi secara berlebihan tanpa upaya pelestarian bulu babi di perairan akan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan pantai Pulau Lemukutan. Selain itu, kerusakan ekosistem terumbu karang akibat aktivitas manusia seperti pembuatan dermaga dan keramba di perairan pantai dapat menurunkan populasi bulu babi. Informasi mengenai komposisi bulu babi pada suatu perairan pantai sangat membantu dalam usaha pemanfaatan bulu babi. Oleh karena itu, kajian mengenai keberadaan bulu babi perlu dilakukan khususnya mengenai komposisi jenis bulu babi di Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang.

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan pada perairan intertidal Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang pada bulan Juli Tahun 2015

Dekripsi Lokasi Penelitian

Secara geografis Pulau Lemukutan terletak diantara 0º42’29” - 0º48’57” Lintang Utara dan 108º40’49” - 108º49’20” Bujur Timur. Luas wilayah Pulau Lemukutan memiliki luas sebesar 12.520 Ha di wilayah Kecamatan Sungai Raya.

(2)

Gambar 1. Peta Letak Stasiun Penelitian (Peta Template ArcGis, 2016)

Tabel 1. Deskripsi Stasiun Penelitian

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah tali rafia, penjepit, gunting, pisau bedah, plastik sampel, keranjang plastik, roll meter, alat tulis, kamera, GPS (Garmin Approach G5), termometer, pH meter, kertas label, refraktometer dan secchi disk. Bahan yang digunakan adalah alkohol 70%. Prosedur Kerja

Stasiun penelitian ditentukan berdasarkan pada perbedaan rona lingkungan perairan pantai. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan ditentukan 3 stasiun di setiap pulau, masing-masing stasiun dibagi menjadi 3 transek. Deskripsi lokasi stasiun disajikan pada Tabel 1.

Pengambilan Sampel dan Identifikasi

Pengambilan sampel pada masing-masing stasiun menggunakan jalur transek. Setiap stasiun terdiri dari 3 transek dengan panjang 50 m dari arah bibir pantai ke laut dan setiap transek berjarak 10 meter dari transek lainnya. Pengambilan sampel bulu babi dilakukan di setiap transek. Sampel diambil menggunakan alat tangkap dan dimasukkan ke dalam keranjang plastik. Bulu babi yang belum diketahui jenisnya diawetkan menggunakan alkohol 70%. Identifikasi dengan mengamati morfologi bulu babi yang meliputi warna permukaan tubuh, warna duri, bentuk tubuh, dan panjang duri bulu babi (primer dan sekunder). Identifikasi mengacu data di COREMAP (www.coremap.or.id/echinodermata).

Lokasi Stasiun Titik Koordinat Rona Lingkungan

Lemukutan

I

N 0º 45’36.50” - E 108º 43’28.50”

Dekat dermaga, pantai landai, substrat berpasir, berlumpur, karang mati dan hidup. II

Pantai landai, substrat berupa batu kecil, didominasi jenis karang masif, terdapat bagan.

III Pantai curam, substrat batu besar, terumbu karang luas, terdapat karang mati dan hidup

(3)

61 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Bulu babi yang ditemukan di perairan intertidal Pulau Lemukutan berjumlah 4 spesies, terdiri atas 3 spesies dari genus Diadema dan 1 spesies dari

genus Echinotrix. Jenis bulu babi yang ditemukan tersebut didominasi oleh jenis Diadema setosum sebanyak 147 individu dan paling sedikit ditemukan dari jenis D. antillarium sebanyak 5 individu (Tabel 2).

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 2. (a) Diadema setosum, (b) D. savignyi, (c) D. antillarium, (d) Echinotrix calamaris

Tabel 2. Jumlah Jenis Individu Bulu Babi di Pulau Lemukutan

Tabel 3. Karakteristik Morfometri dan Meristik Bulu Babi di Pulau Lemukutan

Spesies Jumlah Individu Σ (Total) S1 S2 S3 Diadema antillarium 4 1 - 5 D. savignyi 1 6 3 10 D. setosum 61 33 53 147 Echinotrix calamaris 2 1 3 6 Total 68 41 59 168 No Karakteristik Spesies

D. setosum D. antillarium D. savignyi E. calamaris

Morfometri (cm)

1 Panjang Duri Primer 18,3 - 26,8 cm 21,9 -26,2 cm 21,4 - 25,5 cm 4,1 - 4,9 cm 2 Panjang Duri Sekunder 3,1 - 5,1 cm 2,8 - 4,3 cm 3,2 - 4,7 cm 2,2 - 3,6 cm 3 Diameter Tubuh 5,3 - 8,8 cm 7,2 - 8,4 cm 3,8 - 7,4cm 6,2 - 7,2 cm

4 Tinggi Tubuh 3,9 - 6,5 cm 5,9-7,2 cm 3,2 - 6,9 cm 4,2 - 5,4 cm

Meristik

5 Warna Duri Primer Hitam Kombinasi antara

hitam dan putih

Hitam kemerahan gelap

Belang -belang hitam putih

6 Warna Duri Sekunder Hitam Abu - abu Abu -abu Coklat tua

7 Bentuk Tubuh (BT) Bulat Bulat Bulat Bulat pipih

(4)

Pembahasan

Spesies bulu babi yang ditemukan di Pulau Lemukutan yaitu Diadema antillarium, D. savignyi, D. setosum, dan Echinotrix calamaris (Tabel 2). Jumlah spesies yang ditemukan pada penelitian ini lebih sedikit dibandingkan dengan penelitian Zakaria (2007) di Pulau Cingkuak, Pulau Sikuai dan Pulau Setan, Sumatera Barat yang menemukan 7 spesies bulu babi yaitu Arbacia lixula, D. antillarium, D. savignyi, D. setosum, E. calamaris, E. deadema dan E. mathaei. Spesies yang tidak ditemukan pada penelitian ini adalah A. lixula dan E. mathei. Hal ini disebabkan oleh perbedaan faktor kedalaman lokasi sampling. Kedalaman perairan di lokasi penelitian Zakaria lebih dari 1 m, sedangkan kedalaman perairan pada lokasi penelitian berkisar antara 0,4 – 0,8 m. Menurut Vimono (2007), beberapa jenis bulu babi seperti A. lixula dan E. mathaei hanya dapat ditemukan di habitat perairan dalam. Kedua jenis bulu babi tersebut hanya dijumpai di celah-celah karang laut dengan kedalaman berkisar antara 1 – 15 m. Berbeda dengan jenis dari D. setosum yang dapat ditemukan mulai dari rataan pasir, padang lamun, rataan karang dan tubir, hingga ke daerah berbatuan.

Genus Diadema tersusun oleh duri primer dan sekunder. Panjang duri primer pada genus Diadema berkisar antara 18,3 - 26,8 cm sedangkan duri sekunder lebih pendek yaitu berkisar antara 2,8 – 5,1 cm (Tabel 3). Letak duri primer terdapat pada bagian interambulakral yang berfungsi sebagai pertahanan diri dari serangan predator, sedangkan duri sekunder terletak pada bagian ambulakral yang digunakan untuk bergerak dan mencari makan. Genus Diadema memiliki bentuk tubuh bulat dan berwarna hitam seperti D. setosum dan D. antillarium sedangkan D. savignyi lebih berwarna merah gelap. Menurut Umagap (2013), ciri-ciri duri D. setosum berwarna hitam yang memanjang ke atas untuk pertahanan diri sedangkan bagian bawah lebih pendek sebagai alat pergerakan. Hidup secara berkelompok, satu kelompok dapat terdiri atas 10 – 40 individu (Hutauruk, 2009).

Genus Echinotrix memiliki bentuk duri yang lebih pendek, permukaan duri lebih keras dan warna ujung duri lebih terang dibandingkan dengan genus Diadema. Panjang duri primer pada genus Echinotrix berkisar antara 4,1 – 4,9 cm sedangkan duri sekunder terletak tidak beraturan diantara duri primer dengan panjang 2,2 – 3,6 cm. Bentuk tubuh bulat memipih berdiameter berkisar antara 6,2 – 7,2 cm (Tabel 3), Hal ini sesuai dengan penelitian

Umagap (2013), yang menyatakan bahwa genus Echinotrix memiliki cangkang yang kaku dan berbentuk bulat memipih. Bentuk tubuh yang kaku dan keras tersebut dimanfaatkan oleh bulu babi untuk berlindung dari pergerakan pasang surut air laut di substrat berbatu (Moningkey, 2010). Berdasarkan hasil yang diperoleh jumlah bulu babi tertinggi yang ditemukan di Pulau Lemukutan yaitu D. setosum sebanyak 147 individu (Tabel 2). Tingginya jumlah individu D. setosum dapat disebabkan oleh pola hidup berkelompok. Menurut Hutauruk (2009), pola hidup berkelompok D. setosum menyebabkan proses perkawinan antara individu satu dengan yang lain sering terjadi. Hal inilah yang mempengaruhi jumlah D. setosum lebih tinggi dibandingkan jenis bulu babi lainnya. Spesies yang paling sedikit ditemukan di Pulau Lemukutan yaitu D. antillarium sebanyak 5 individu (Tabel 2). Rendahnya jumlah individu D. antillarium disebabkan oleh kondisi habitat pada stasiun 3 terdapat batuan besar dan pantai yang curam. Menurut Clark dan Rowe (1971), bulu babi yang hidup soliter mudah terbawa arus gelombang air laut akibat hempasan gelombang di daerah yang berarus kuat.

Jenis bulu babi yang sering ditemukan dari ketiga stasiun di Pulau Lemukutan yaitu D. savignyi, D. setosum dan E. calamaris. D. savignyi dan D. setosum memiliki duri yang panjang sehingga dapat menempel lebih dalam di dasar perairan dan melindunginya dari hempasan gelombang air laut. Oleh karena itu, kehadiran D. savignyi dan D. setosum tergolong tinggi. Thamrin et al.(2011) menyatakan bahwa genus D. setosum merupakan bulu babi yang banyak ditemukan di daerah pantai berbatu dan daerah terumbu karang yang tersebar di wilayah Indo Pasifik. E. calamaris memiliki duri yang kuat dan tajam sehingga dapat melukai predatornya. Bulu babi ini sulit untuk dimangsa oleh predator, yang menyebabkan kehadiran E. calamaris di lokasi penelitian juga tinggi.

Keberadaan bulu babi di Pulau Lemukutan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti terumbu karang yang luas dan melimpahnya makroalga yang ada. Hasil penelitian Andriyanto (2007), menunjukkan bahwa di Pulau Lemukutan terdapat 33 jenis makroalga yang didominasi oleh kelas Phaeophyceae dan Rhodophyceae. Famili Dictyotaceae didominasi dari jenis Padina gymnospora, famili Sargassaceae didominasi oleh Sargassum paniculatum, S. crassifolium, dan famili Corallinaceae didominasi oleh Amphiroa rigida.

(5)

63 Menurut Ratna (2002), makanan utama bulu babi

adalah alga hijau (Chlorophyta) dan alga coklat (Phaeophyta). Sumber pakan lain yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bulu babi yaitu tumbuhan lamun. Nurdiansyah (2010), menyatakan bahwa komunitas padang lamun yang terdapat di kawasan pesisir pantai disusun oleh jenis lamun Enhalus acoroides. Lamun dari jenis ini merupakan pakan yang disukai oleh bulu babi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Abu Khoir Ridwan, Aris Susilo, Muhammad Suriansyah, Rino Saputra, Agus Rianto, Indra Purnama dan Wahyu Setyawan yang telah membantu dalam sampling.

DAFTAR PUSTAKA

Andriyanto, J, 2007, Keragaman Jenis Komunitas Makroalga di Perairan Pantai Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang, Skripsi, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Clark, AM, & Rowe, WEF, 1971, Monograph of Shallow Water Indo West Pacific Echinoderm, London: Trusteea of British Museum

Hilda, AP, Delanis & Ervia, 2012, ‘Uji Toksisitas Ekstrak Kloroform Cangkang dan Duri Landak Laut (Diadema setosum) terhadap Mortalitas

Nauplius Artemia sp, Jurnal of Marine

Research, vol. 1, no. 1, hal. 75-83

Hutauruk, EL, 2009, Studi Keanekaragaman Echinodermata di Kawasan Perairan Pulau Rubiah Nanggroe Aceh Darussalam, Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Medan

Moningkey, RD, 2010, Pertumbuhan Populasi Bulu Babi (Echinotrix mathei) di Perairan Pesisir Kima Bajo Kabupaten Minahasa Utara, Jurnal

Perikanan dan Kelautan, vol. 2, no. 5, hal. 73 -

78

Nurdiansyah, SI, 2010, Struktur Komunitas Alga Perifiton Pada Lamun Enhalus acoroides di Perairan Pulau Penata Besar Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat, Skripsi Universitas Tanjungpura, Pontianak

Ratna, 2002, Pengaruh Penambahan Gula dan Lama Fermentase terhadap Mutu Pasta Fermentasi Gonad Bulu Babi Diadema setosum dengan Lactobacillus plantarum sebagai Kultur Starter, Skripsi Institut Pertanian Bogor, Bogor

Sugiarto, H, & Supardi, 1995, ‘Beberapa Catatan Tentang Bulu Babi Marga Diadema’, Oseana,

vol. 4, no. 20, hal. 35-41

Thamrin, YJ, Setiawan & Siregar, SH 2011. Analisis Bulu Babi Diadema setosum Pada Kondisi Terumbu Karang Berbeda di Desa Mapur

Kepulauan Riau. Jurnal Ilmu Lingkungan

Universitas Riau, vol.1, no. 5, hal: 45- 48

Umagap, WA, 2013, Keragaman Spesies Landak Laut

(Echinoidea) Filum Echinodermata Berdasar

Morfologi di Perairan Dofa Kabupaten Kepulauan Sula, Jurnal Bioedukasi, vol. 2, no. 1, hal. 94 - 100

Vimono, I B, 2007, ‘Sekilas Mengenai Landak Laut’,

Oseana, vol. 20, no 3, hal 37 – 46

Zakaria, IJ, 2007, Komunitas Bulu Babi (Echonoidea) di Pulau Cingkuak, Pulau Sikuai, dan Pulau Setan Sumatera Barat, Prossiding Semirata FMIPA Universitas Lampung

Gambar

Gambar 1. Peta Letak Stasiun Penelitian (Peta Template ArcGis, 2016)
Tabel 3.  Karakteristik Morfometri dan Meristik Bulu Babi di Pulau Lemukutan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian penambahan LiClO4 tidak mempengaruhi proses pembuatan lembaran anoda grafit.. Bahan LiClO4 adalah bahan kimia

Berdasarkan pembahasan penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya memperlihatkan secara jelas, bahwa terdapat pengaruh variabel independen yang terdiri dari pelatihan, motivasi

Pejabat Pembuat Komitmen para Pejabat Eselon II dan sebagian Penanggungjawab Kegiatan yang diangkat oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi sebagai Kepala Kantor/Satuan kerja

Kami juga mengambil maklum dan sedar bahawa Tender kami akan ditolak (disqualified) dan tidak akan dipertimbangkan sekiranya maklumat maklumat yang kami berikan tidak

Kemudian pilih new untuk membuat report baru, selanjutnya pilih report wizard yang diikuti dengan pemilihan nama database dan nama tabel, serta field apa yang

Ekosistem Menjelaskan pengertian ekosistem PG Tes tertulis 1 3.10.2 Membuat garis besar komponen penyusun ekosistem Komponen penyusun ekosistem Menjelaskan komponen

5 Dari keseluruhan respon yang terkumpul sesuai jenis responden, yakni mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan pihak Luar, maka diperoleh bahwa responden