• Tidak ada hasil yang ditemukan

183 Jurnal Kesehatan Ilmiah Nasuwakes Vol.7 No.2, November 2014,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "183 Jurnal Kesehatan Ilmiah Nasuwakes Vol.7 No.2, November 2014,"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN MOBILISASI PADA IBU POST PARTUM DENGAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DI BLUD RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK

PEMERINTAH ACEH

MOBILIZATION RELATIONSHIP WITH MATERNAL POSTPARTUM PERINEAL WOUND HEALING IN PUBLIC SERVICE INSTITUTION

MOTHER AND CHIELD HOSPITAL Fithriany*, Hasrati Hasan**, Cut Yuniwati*** Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

email :[email protected]

Abstrak: Indonesia menduduki peringkat teratas di negara ASEAN sebagai negara dengan jumlah AKI tertinggi, salah satu penyebabnya karena infeksi dan kasus infeksi ini 25-55% disebabkan oleh infeksi jalan lahir sehingga menghambat proses penyembuhan luka. Pemberian rasa nyaman dengan mobilisasi bertahap dapat membantu penyembuhan luka perineum dikarenakan suplai darah yang baik sehingga proses penyembuhan bisa berlangsung dengan cepat (Boyle, 2008). Untuk mengetahui hubungan Mobilisasi dengan Penyembuhan Luka Perineum di BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak Pemerintah Aceh Tahun 2014. Jenis Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode Quasy-Eksperimental design dengan rancangan Static Group Comparison dimana populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah ibu post partum normal dengan robekan perineum derajat I dan II. Pengambilan sampel dengan teknik proposive sampling sebanyak 20 responden, 10 responden untuk kelompok perlakuan dan 10 responden untuk kelompok kontrol. Pengumpulan data dengan lembar observasi. Selanjutnya dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square test. Didapatkan hasil: ibu Post partum yang melakukan mobilisasi dan mengalami penyembuhan luka perineum pada kelompok perlakuan lebih tinggi yaitu 9 responden (90%) dan 1 responden (10%) tidak sembuh. Pada kelompok kontrol hanya 3 responden (30%) yang sembuh dan 7 responden (70%) yang tidak sembuh. Hasil uji statistik dengan chi-square diperoleh nilai p value 0,020 atau p < 0,05. Disimpulkan hasil : Terdapat hubungan mobilisasi dengan penyembuhan luka perineum di BLUD Ibu dan Anak Pemerintah Aceh. Kata Kunci: Mobilisasi, Penyembuhan luka, ibu postpartum ABSTRACT : According to Rustam (1998), in Dewi (2011) Indonesia was ranked top in the ASEAN countries as the country with the highest maternal mortality rate, one of the causes is infection and 25-55% of the cases is caused by infection of the birth canal that inhibit wound healing process. Giving a sense of comfort with gradual mobilization can help wound healing of the perineum due to good blood supply so the healing process can take place quickly (Boyle, 2008). This research uses Quasy-experimental design with Static Group Comparison design where the sample and population in this research is normal post partum mothers with perineum laceration in degree I and II. There are 20 correspondents that were chose through Purposive sampling techniques, where 10 respondents for the treatment group and the others for the control group. Data was collected through observation sheet. Furthermore, statistical tests are performed using the chi-square test.

Post-partum mothers who mobilized and experienced perineum wound healing in the higher experimental group are 9 respondents (90%) and 1 respondent (10%) is not recovered. In the control group, only 3 respondents (30%) were recovered and 7 respondents (70%) were not. Statistical test results with the chi-square obtained p value of 0.020 or p <0.05. There is a relationship between the mobilization and the perineum wound healing in local public service agency of Ibu Dan Anak Hospital Aceh government. Keywords : Mobilization, Wound Healing, Post Partum Mothers

PENDAHULUAN

Masa nifas (post partum) merupakan masa dimana infeksi sering terjadi sehingga dapat menyebabkan kematian pada ibu.

Menurut World Health Organization (WHO) diseluruh dunia setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi terkait dengan kehamilan, persalinan dan

(2)

nifas. Dengan kata lain 1.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun (WHO, 2008).

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2012 mencapai 359/100.000 kelahiran hidup sedangkan di Aceh menurut Dinas kesehatan Aceh pada tahun 2012 mencapai angka 192/100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian ibu adalah karena perdarahan (39%), eklampsi (20%), infeksi (7%), lain-lain (33%) (Sulistyawati, 2010)(2). Dewi (2011)(3) Indonesia menduduki peringkat teratas di negara ASEAN sebagai negara dengan jumlah AKI tertinggi, salah satu penyebabnya karena infeksi dan kasus infeksi ini 25-55% disebabkan oleh infeksi jalan lahir.

Proses penyembuhan luka adalah hal yang sangat penting dikarenakan akan adanya penggantian dan perbaikan fungsi jaringan yang rusak. Pada ibu yang baru melahirkan, banyak komponen fisik normal pada masa postnatal membutuhkan penyembuhan dengan berbagai tingkat terutama perlukaan pada perineum yang dapat menyebabkan infeksi sehingga dapat menghambat proses penyembuhan luka (Boyle, 2008)(1).

Menurut Boyle (2008)(1) tindakan pemberian rasa nyaman dengan mobilisasi bertahap dengan latihan dasar panggul tidak hanya dapat mencegah atau mengobati

inkontensia urine, namun juga dapat membantu penyembuhan luka, karena dapat meningkatkan suplai darah, tidak ada keraguan bahwa perineum adalah lingkungan ideal penyembuhan luka karena hangat dan lembap dengan suplai darah yang baik, proses penyembuhan luka berjalan dengan baik dan luka akan sembuh dengan cepat.

Mobilisasi dini atau aktifitas segara dilakukan segera setelah beristirahat beberapa jam dengan beranjak dari tempat tidur (pada persalinan normal) merupakan hal yang sangat dianjurkan. Mobilisasi dini dengan tidur terlentang, selama 8 jam pasca persalinan, boleh miring kiri dan kanan untuk mencegah trombosis dan tromboboli kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi lanjutan pada hari kedua boleh duduk, hari ketiga boleh jalan-jalan. Mobilisasi diatas mempunyai varisai tergantung komplikasi persalinan, nifas, dan sembuhnya luka-luka. Kegiatan lain mobilisasi yang dapat dilakukan untuk membantu percepatan proses involusi adalah senam nifas (Diyan, 2013)(4).

Mobilisasi segera, tahap demi tahap, sangat berguna untuk membantu penyembuhan pasien. Kemajuan mobilisasi bergantung pula pada jenis operasi yang dilakukan dan komplikasi yang mungkin di jumpai. Secara psikologis, mobilisasi juga memberi kepercayaan diri pada pasien bahwa ia mulai sembuh (Mochtar, 2011)(5).

Menurut Fitri (2011)(6) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ada

(3)

hubungan antara mobilisasi dengan penyembuhan luka perineum. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yasmalizar (2013)(7) yang juga menyatakan bahwa mobilisasi berpengaruh terhadap penyembuhan luka perineum.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada tanggal 26 Maret 2014 di Ruang Bersalin dan Ruang Rawat Ibu RSIA Banda Aceh penulis mendapatkan jumlah persalinan dari bulan Januari hingga 26 maret 2014 yaitu 481 persalinan, 149 persalinan melalui metode Seksio Sesaria dan 332 melalui persalinan normal. Angka kejadian rupture perineum derajat I berjumlah 94, derajat II berjumlah 106 orang, derajat III berjumlah 49 orang dan derajat IV berjumlah 2 orang. Mobilisasi dini pada ibu nifas dilakukan 2 jam pasca persalinan, mobilisasi dilakukan bertahap dari mulai miring kanan kiri, ibu ke kamar mandi kemudian dipindahkan ke ruang rawat dalam masa rawatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas pada saat di ruang rawat ibu, pasien dengan persalinan normal tanpa ada komplikasi akan dipantau selama 6 jam dan kemudian apabila tanda-tanda vital serta kondisi ibu dalam kondisi normal maka ibu akan diperbolehkan pulang. Berdasarkan pengalaman peneliti banyak ibu yang tidak ingin melakukan mobilisasi apabila tidak dianjurkan oleh petugas dan merasa takut apabila jahitan akan terlepas hal tersebut

dikarenakan kurangnya pemberian informasi mengenai mobilisasi.

Berdasarkan fenomena diatas maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai

“Hubungan Mobilisasi pada Ibu post partum

dengan Penyembuhan luka perineum di BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak Pemerintah

Aceh”

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mobilisasi pada ibu post partum dengan penyembuhan luka perineum di BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak Aceh tahun 2014.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian ini menggunakan metode Quasy-Eksperimental design dengan rancangan Kelompok Satis (Static Group Comparison) Sampel dalam penelitian ini adalah ibu post partum normal dengan luka perineum derajat I dan II Rumah sakit ibu dan Anak Aceh sebanyak dua puluh responden, sepuluh responden sebagai kelompok eksperimen dan sepuluh responden sebagai kelompok kontrol Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik purposive sampling Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar ceklist yang terdiri

dari Mobilisasi, menggunakan lembar observasi, Penyembuhan luka perineum dengan menggunakan lembar observasi

(4)

Hasil pengolahan dan analisa data pada penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penyembuhan luka perineupada ibu Post Partum pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol Di BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak Pemerintah Aceh Tahun 2014

NoPenyembuhan luka perineum

Kelompok Total Perlakuan Kontrol f % f % f % 1 2 Sembuh Tidak Sembuh 9 1 90 10 3 7 30 70 12 8 60 40 Total 10 100 10 100 20 100

Sumber : Data Primer (2014)

Berdasarkan tabel 5.1 diatas terlihat bahwa dari 20 responden Penyembuhan luka perineum pada kelompok perlakuan lebih banyak yaitu 9 responden (90%) dibandingkan

dengan kelompok kontrol yang hanya 3 responden (30%) yang mengalami penyembuhan.

Tabel 2. Distribusi Perbedaan Penyembuhan luka perineum pada ibu Post Partum pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol Di BLUD RSU Ibu dan Anak Pemerintah Aceh Tahun 2014

No Penyembuhan Perineum Mobilisasi Total X2 p Value Perlakuan Kontrol f % f % f % 1 Sembuh 9 75,0 3 25,0 12 100 7,500 0,02 2 Tidak Sembuh 1 87,5 7 12,5 8 100

Sumber : Data Primer (2014)

Berdasarkan Tabel 5.2 ibu Post partum yang melakukan mobilisasi pada kelompok perlakuan lebih banyak yang mengalami penyembuhan luka perineum yaitu 9 responden (75%) sedangkan yang tidak sembuh 1 responden (87,5%), pada kelompok kontrol

hanya 3 responden (25,0%) yang sembuh dan 7 responden (12,5%) yang tidak sembuh. Hasil uji statistick dengan chi-square diperoleh nilai P value 0,02 atau p < 0,05, sehingga terdapat hubungan antara mobilisasi dengan

(5)

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian dengan melakukan eksperimen terhadap responden dengan membandingkan dua kelompok pembanding (tidak melakukan mobilisasi) dan perlakuan (melakukan mobilisasi) tentang penyembuhan luka perineum pada ibu post partum di BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak Pemerintah Aceh tahun 2014 dan dilakukan uji analisa statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p value 0,02 atau p < 0,05. Sehingga terdapat hubungan mobilisasi dengan penyembuhan luka perineum di BLUD Ibu dan Anak Pemerintah Aceh dimana penyembuhan luka perineum pada ibu Post partum yang melakukan mobilisasi pada kelompok eksperimen lebih tinggi yaitu 9 responden (75,0%) dibandingkan pada kelompok kontrol hanya 3 responden (25,0%) sedangkan pada responden yang tidak sembuh pada kelompok eksperimen 1 responden (87,5%) dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak sembuh sebanyak 7 responden (12,5%).

Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yasmalizar (2013)(7) dengan judul “ Hubungan Umur,

Asupan Gizi dan Mobilisasi Dini dengan Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas di Wilayah Kerja Puskesmas Labuhan Haji dan

Puskemas Labuhan Hajji Timur Aceh Selatan”

yang juga menyatakan bahwa mobilisasi berpengaruh terhadap penyembuhan luka perineum.

pemberian rasa nyaman dengan mobilisasi bertahap dengan latihan dasar panggul tidak hanya dapat mencegah atau mengobati inkontensia urine, namun juga dapat membantu penyembuhan luka, karena dapat meningkatkan suplai darah, tidak ada keraguan bahwa perineum adalah lingkungan ideal penyembuhan luka karena hangat dan lembap dengan suplai darah yang baik, proses penyembuhan luka berjalan dengan baik dan luka akan sembuh dengan cepat.

Hal ini juga sesuai dengan teori yang dikemukakan Manuaba (2004) dalam Dewi (2011)(3), Mobilisasi merupakan faktor eksternal lain selain perawatan luka. Faktor internal yaitu budaya makan atau pola konsumsi mempengaruhi kecepatan kesembuhan luka perineum.

Menurut Smeltzer (2002)(8)bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum yaitu, mobilisasi, Tradisi, pengetahuan, social ekonomi, penanganan petugas, kondisi ibu, gizi, usia, penanganan jaringan, Pemberian Antibiotik, Hipovolemia dan personal Hygine.

Peneliti berasumsi bahwa pada kelompok eksperimen yang perlukaan perineumnya sembuh setelah dilakukan mobilisasi dikarenakan ibu yang bisa melakukan mobilisasi dengan baik tanpa ada faktor penghambat mobilisasi yaitu gaya hidup dan kebiasaan yang baik dalam melakukan perawatan luka serta menjaga pola makan, ibu tidak memiliki proses penyakit/Injuri, Kebudayaan dalam keluarga,

(6)

tingkat energi seseorang, serta usia yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum.

Kelompok ekperimen yang tidak sembuh bahkan setelah dilakukannya mobilisasi bertahap dikarenakan ibu post partum yang cenderung tidak menjaga pola makan setelah persalinan apalagi pada ibu yang mengalami proses persalinan untuk pertama kalinya, ibu masih merasa bingung terhadap makanan apa yang bisa dikonsumsi setelah persalinan padahal kualitas dan jumlah makan yang dikonsumsi ibu sangat berpegaruh pada penyembuhan luka perineum dan untuk mempertahankan tubuh terhadap infeksi. Selain itu pengetahuan ibu tentang bagaimana menjaga personal hygine serta perawatan luka juga menjadi faktor penentu terhadap penyembuhan luka perineum.

Kelompok kontrol yang luka perineumnya sembuh dikarenakan ibu cenderung berpengalaman terhadap perawatan lukanya serta ibu yang senantiasa menjaga pola makan dan juga daya tahan tubuh yang cukup kuat sehingga luka perineum akan cepat mengering dan akhirnya mengalami penyembuhan yang baik.

Pengawasan dan informasi yang di dapat oleh ibu post partum mengenai bagaimana melakukan mobilisasi bertahap serta proses penyembuhan luka juga sangat mempengaruhi bagaimana gerakan mobilisasi yang dilakukan ibu. Ibu post partum cenderung takut bergerak apalagi pada hari pertama setelah persalinan ibu mengeluh mengenai perasaan ibu bahwa benang jahitan seakan-akan putus dan luka seolah-olah membengkak padahal hal tersebut merupakan hal yang wajar mengingat bagaimana proses penyembuhan luka terjadi yang dimulai dari

rasa sakit pada hari pertama dan akhirnya luka berangsur-angsur sembuh pada hari berikutnya.

Pemberian informasi dan motivasi dari petugas serta pengetahuan ibu mengenai mobilisasi merupakan hal yang tepat untuk membantu ibu mengurangi rasa takut bergerak setelah proses persalinan berlangsung sehingga mobilisasi paska persalinan dapat berlangsung dengan baik dan luka juga dapat sembuh secara sempurna.

KESIMPULAN

Terdapat hubungan mobilisasi dengan penyembuhan luka perineum di BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak Pemerintah Aceh dengan nilai p = 0,020 (p<0,05).

SARAN

Bagi instansi rumah sakit dapat membuat kebijakan/protap mengenai pemberian pelatihan pada ibu post partum mengenai mobilisasi. Bagi petugas kesehatan atau bidan yang bertugas dapat memberikan penyuluhan dan pelatihan pada ibu post partum mengenai bagaimana tahap-tahapan gerak mobilisasi yang bisa mempercepat proses penyembuhan luka perineum dapat berupa penyediaan brosur juga menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi ibu agar melakukan mobilisasi dengan tepat sehingga proses penyembuhan luka akan cepat.

UCAPAN TERIMA KASIH

Direktur Balai Layanan Umum Daerah (BLUB) Rumah Sakit Ibu dan Anak Pemerintah Aceh dan kepada Seluruh responden yang telah bersedia membantu

(7)

EGC

2.

Dewi D. (2011). Jurnal “Hubungan Mobilisasi Dini dengan Kecepatan

Kesembuhan Luka Perineum pada Ibu Post Partum di Seluruh Wilayah Kerja Puskesmas Singosari Kabupaten Malang” di akses pada tanggal: 11/3/2014

3.

Sulistya wati A. (2009), Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas, Andi, Jogjakarta

4.

Diyan, Indryani. 2013. Aplikasi konsep dan teori keperawatan maternitas postpartum dengan kematian janin: Yogyakarta: Ar-Ruzz media

Fitri, E. 2013, Jurnal “ faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di rumah sakit Umum dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tahun 2013” di akses pada tanggal: 11/3/2014

7.

Yusmalizar, 2013. Hubungan umur asupan gizi dan mobilisasi dini dengan

penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di wilayah kerja puskesmas labuhan Haji Timur Aceh Selata. Diakses tanggal: 11/3/2013.

8.

Smeltzer S. C. (2002). Buku Ajar

Referensi

Dokumen terkait

telah disusun dalam Rencana Strategis (Renstra) tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau dalam perannya selaku komunikator berusaha untuk

28 Tahun 2004 (Studi kasus di Yayasan Pendidikan Harapan Medan) yang terbagi atas Status Badan Hukum dan Status Pembagian Harta Kekayaan Yayasan, Penyesuaian-Penyesuaian

a) Rp. Dari soal diatas, berapakah pph yang harus dipotong atas bonus yang diterima oleh Tn. PT A menjual sejumlah asetnya kepada PT B seharga Rp 80 Miliar. Aset-aset

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anggota kelompok ternak sapi di Desa Dauh Yeh Cani tentang cara penampungan

Inti Kelapa Sawit (Palm Kernel) Tempurung Serat Tandan Kosong Kelapa Sawit – Caroten – Tecopherol – Soap Stock – Free Fatty Acid (FFA) Sludge Minyak Salad

Berdasarkan penjelasan diatas terkait beberapa teori-teori dan penelitian terdahulu yang relevan, maka peneliti ingin membandingkan hasil belajar dengan penerapan

Oleh sebab itu, peran guru dalam mengembengkan multimedia pembejaran berbasis video sangatlah membantu pesrta didik karena semua kegiatan belajar mengajar

Ekokritika koja uključuje načine na koje reprezentiranje su dje - luje u ekološkoj dobrobiti ze - maljskih vrsta i prostora, može imati koristi od niza me todo - logija,