• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

R

R

A

A

N

N

C

C

A

A

N

N

G

G

A

A

N

N

K

K

E

E

B

B

I

I

J

J

A

A

K

K

A

A

N

N

U

U

M

M

U

U

M

M

A

A

N

N

G

G

G

G

A

A

R

R

A

A

N

N

P

P

E

E

N

N

D

D

A

A

P

P

A

A

T

T

A

A

N

N

D

D

A

A

N

N

B

B

E

E

L

L

A

A

N

N

J

J

A

A

D

D

A

A

E

E

R

R

A

A

H

H

T

T

A

A

H

H

U

U

N

N

A

A

N

N

G

G

G

G

A

A

R

R

A

A

N

N

2

2

0

0

1

1

7

7

K

K

O

O

T

T

A

A

T

T

A

A

N

N

G

G

E

E

R

R

A

A

N

N

G

G

S

S

E

E

L

L

A

A

T

T

A

A

N

N

(2)

i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ……… i

DAFTAR TABEL ……… iii

DAFTAR GAMBAR ……… iv

BAB I PENDAHULUAN ……… 1

1.1 LATAR BELAKANG PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH (KUA) ……….. 1

1.2 TUJUAN PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH (KUA) ……….. 3

1.3 DASAR (HUKUM) PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH (KUA) ……….. 4

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH ……….. 8

2.1 PERKEMBANGAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO DAERAH ……. 8

2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi ……….. 8

2.1.2 Produk Dometik Regional Bruto (PDRB) ……….. 10

2.1.3 Inflasi ……… 12

2.1.4 Investasi ……….. 13

2.1.5 Tenaga Kerja ……….. 14

2.1.6 Pendapatan dan Ketimpangan Regional ……….. 16

2.2 RENCANA TARGET EKONOMI MAKRO PADA TAHUN 2017 …….. 18

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH ………. 23

3.1 ASUMSI DASAR YANG DIGUNAKAN DALAM ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA NEGARA ……… 23

3.2 LAJU INFLASI ……….. 25

3.3 PERTUMBUHAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) ……… 28

(3)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

ii

BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

DAERAH ……… 34

4.1 PENDAPATAN DAERAH ……… 34

4.1.1 Kebijakan Perencanaan Pendapatan Daerah Tahun 2017. 34 4.1.2 Target Pendapatan Daerah ……… 38

4.1.3 Upaya Dalam Mencapai Target ……… 40

4.2 BELANJA DAERAH ……… 43

4.2.1 Kebijakan Belanja Daerah ………. 43

4.2.2 Kebijakan Belanja Tidak Langsung ……… 44

4.2.3 Kebijakan Belanja Daerah ………. 45

4.2.4 Kebijakan Belanja Berdasarkan Urusan Pemerintahan Daerah dan Berdasarkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) ……….. 49

4.3 KEBIJAKAN PEMBIAYAAN DAERAH ... 50

(4)

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Kota Tangerang Selatan Tahun 2014

s/d Perkiraan Tahun 2016 ……… 9

Tabel 2.2 Angka Agregat PDRB, Jumlah Penduduk dan PDRB PerKapita

Kota Tangerang Selatan Tahun 2011 – 2014 ………. 10

Tabel 2.3 Perbandingan Laju Inflasi/Deflasi Kota-kota di Provinsi

Banten 2012-2015 ……… 12

Tabel 2.4 Jumlah Perusahaan PMA dan PMDN di Kota Tangerang

Selatan ……….. 13

Tabel 2.5 Jumlah Investasi PMA dan PMDN di Kota Tangerang Selatan. 14

Tabel 2.6 Kegiatan Utama di Kota Tangerang Selatan Tahun 2014 …….. 15

Tabel 2.7 Penduduk Usia Kerja Menurut Lapangan Usaha ……….. 15

Tabel 2.8 Indikator Sosial Ekonomi Kota Tangerang Selatan dan

Prediksi Indikator Ekonomi Tahun 2017 ………. 19

Tabel 3.1 Perbandingan IHK, Inflasi/Deflasi dan Laju Inflasi 4 Kota di

Banten Bulan Desember 2015……….………. 26

Tabel 3.2 IHK, Inflasi, Laju Inflasi Banten Menurut Kelompok

Pengeluaran Bulan Desember 2015 (2012 = 100)………….……. 27

Tabel 3.3 Nilai Dan Konstribusi Sektor Dalam PDRB Tahun 2012 S/D

2014 Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tangerang Selatan……... 29 Tabel. 4.1 Pendapatan Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2016

dan Rencana Pendapatan Tahun 2017 ………. 40

Tabel 4.2 Rencana Pembiayaan Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun

2017 ……….. 51

(5)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

iv

Gambar 2.1 Produk Domestik Regional Bruto (Pdrb) Atas Dasar Harga

Berlaku Kota Tangerang Selatan Tahun 2014 ……… 11 Gambar 2.2 Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kota

Tangerang Selatan Tahun 2011 – 2014 ………. 16

Gambar 3.1 Asumsi Perekonomian Makro Tahun 2017 ……… 23

Gambar 3.2 Perkembangan IHK Kota Serang, Tangerang, Cilegon dan

(6)

1

BAB I

PENDAUHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH (KUA)

Pembangunan merupakan salah satu kegiatan utama bagi pemerintah daerah disamping pelayanan dan operasional internal birokrasi. Dengan telah diterapkannya Otonomi Daerah bagi Pemerintah Daerah berarti daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat yang dilakukan secara efisien dan

efektif. Tahapan dalam penyusunan agenda perencanaan

pembangunan Kota Tangerang Selatan dilaksanakan dengan mengacu

kepada agenda perencanaan pembangunan nasional serta

perencanaan pembangunan Provinsi sehigga tercipta sinergitas dan konsistensi kebijakan pembangunan menjadi hal yang mendasar untuk dapat dilaksanakan dalam setiap tahapan proses kebijakan pembangunan di daerah.

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan daerah secara berkelanjutan dan berkesinambungan tersebut, setiap daerah harus memiliki sistem perencanaan secara komprehensif, yang dituangkan dalam suatu dokumen perencanaan daerah, sehingga menjadi pedoman dalam proses pembangunan daerah. Perencanaan Pembangunan daerah tersebut meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) untuk jangka waktu 20 tahun, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk jangka waktu 5 tahun dan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) untuk jangka waktu 1 tahun.

(7)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

2

Rancangan awal Kebijakan Umum APBD (KUA) Kota Tangerang Selatan Tahun Anggaran 2017 adalah salah satu dokumen perencanaan pembangunan yang disusun dalam rangka proses perencanaan pembangunan tahun 2017, dan hal tersebut sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah bahwa Kepala Daerah dalam menyusun Rancangan Awal Kebijakan Umum APBD (KUA) didasarkan pada Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD).

Lebih lanjut ketentuan perundangan sebagaimana di atas, ditegaskan dalam pasal 5 ayat 3 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2017, bahwa Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD Tahun 2017 menjadi landasan penyusunan KUA dan PPAS untuk menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun 2017. Oleh sebab itu, program dan kegiatan yang dimuat dalam RKPD merupakan merupakan dasar dan pedoman bagi semua pelaku pembangunan daerah di Kota Tangerang Selatan, baik dalam penyusunan dokumen rencana anggaran dan kegiatan, pelaksanaan hingga pemantauan dan evaluasi, baik dalam kerangka regulasi maupun kerangka anggaran.

Rancangan Awal Kebijakan Umum APBD (KUA) Tahun 2017 ini merupakan respon kebijakan terhadap dinamika dan permasalahan yang menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Kota Tangerang Selatan pada tahun anggaran 2017 dengan mempertimbangkan kondisi perekonomiannya, sehingga Rancangan awal KUA sebagaimana dimaksud memuat target

(8)

3

pencapaian kinerja terukur dari program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah kota untuk setiap urusan pemerintahan daerah disertai proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan

penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang

mendasarinya.

Perkembangan kondisi perekonomian Kota Tangerang Selatan tetap menjadi perhatian dalam penyusunan Kebijakana Umum Anggaran ini, karena bagaimanapun juga kebutuhan akan tersedianya dana untuk belanja yang diperoleh dari pendapatan tidak terlepas dari prospek perekonomian Kota Tangerang Selatan kedepan. Ketersediaan dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) nantinya akan digunakan dalam mendukung jalannya fungsi pemerintahan dan pemberian pelayanan kepada masyarakat, sehingga harapan masyarakat maupun tantangan yang dihadapi pemerintah dapat diwujudkan dan pada akhirnya diharapkan pula dapat memberikan implikasi yang lebih luas terhadap suksesnya pelaksanaan mandat yang diamanatkan kepada pemerintah serta semakin meningkatnya kesejahteraan warga Kota Tangerang Selatan.

Dinamisasi kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk menyusun kebijakan pendapatan, kebijakan belanja dan kebijakan pembiayaan daerah yang terangkum dalam Kebijakan Umum APBD (KUA) Kota Tangerang Selatan Tahun 2017 ini.

1.2 TUJUAN PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN

PENDAPATAN BELANJA DAERAH (KUA)

Kebijakan Umum APBD (KUA) disusun dengan maksud agar terjadi sinkronisasi dan keterpaduan sasaran program dan kegiatan dengan kebijakan pemerintah dibidang keuangan dan menjaga kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan daerah, serta pelayanan masyarakat.

(9)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

4

Tujuan dari penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) Tahun Anggaran 2017 ini adalah mempersiapkan dokumen kebijakan anggaran yang bersifat umum sebagai kerangka acuan bagi Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk mengarahkan kegiatan dan rencana kerjanya dalam rangka pencapaian target pembangunan pada tahun 2017. Selain itu Kebijakan Umum APBD (KUA) Tahun Anggaran 2017 juga dimaksudkan sebagai acuan dalam penetapan rencana pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan daerah pada tahun 2017.

1.3 DASAR (HUKUM) PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH (KUA)

Kebijakan Umum APBD Tahun Anggaran 2017 ini disusun dengan mengacu kepada sejumlah peraturan perundangan sebagai berikut :

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);

2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421);

3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);

4. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Propinsi Banten (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4935);

(10)

5

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah ini telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah;

6. undang Nomor 9 Tahun 2015 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, Tentang Pemerintahan Daerah (Lampiran Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 Tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 Tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

11. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;

12. Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2017;

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri

(11)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

6

Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerahdan terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah;

15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 517);

16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 32);

17. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2011 tentang pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusuna, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2017;

19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017;

20. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 06 Tanggal 30 Desember tahun 2010 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kota Tangerang Selatan (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 Nomor 06 Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 0610);

(12)

7

21. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 7 Tanggal 31 Desember Tahun 2010 tentang Pajak Daerah;

22. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2011 Nomor 12, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 1211);

23. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2005 – 2025;

24. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 1 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016;

25. Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2016 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2016;

26. Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 8 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2017.

(13)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

8

BAB II

KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

2.1 PERKEMBANGAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO DAERAH

Kondisi perekonomian Kota Tangerang Selatan dapat terlihat dari beberapa indikator ekonomi makro daerah, meliputi pertumbuhan ekonomi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Inflasi, perkembangan investasi, ketenagakerjaan serta pendapatan dan ketimpangan regional.

2.1.1. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia triwulan I-2016 terhadap triwulan I-2015 tumbuh 4,92 persen (y-on-y) meningkat dibanding periode yang sama pada tahun 2015 sebesar 4,73 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 9,10 persen. Dari sisi Pengeluaran oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga yang tumbuh 6,38 persen.

Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2016 mencapai Rp. 2.947,6 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp. 2.262,6 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan I-2016 terhadap triwulan sebelumnya turun sebesar 0,34 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, penurunan disebabkan oleh kontraksi yang terjadi pada beberapa lapangan usaha. Sedangkan dari sisi pengeluaran disebabkan oleh kontraksi komponen investasi (minus 5,75 persen) dan ekspor (minus 3,44 persen)

(14)

9

Perkembangan PDRB Kota Tangerang Selatan cenderung menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun demikian juga dengan PDRB perkapita, dengan demikian berdampak positif terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) tahun 2016 Kota Tangerang Selatan adalah berdasarkan PDRB tahun dasar 2010 diperkirakan sebesar 8,61%-9,05%, demikian pula dengan prediksi pada tahun 2017 diprediksi yaitu 8,61%-9,05%, terutama didukung oleh percepatan pada sektor konstruksi, real estate, transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, serta pengadaan listrik dan gas. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 16,34 persen, disusul oleh lapangan usaha dengan laju pertumbuhannya di atas 10 persen yaitu lapangan usaha Industri Pengolahan, lapangan usaha Konstruksi, Lapangan usaha Informasi dan Komunikasi, dan lapangan usaha real estate dengan masing-masing persentase sebesar 11.45 persen, 15.01 persen, 10.86 persen dan 16.21 persen. Sedangkan seluruh lapangan usaha ekonomi PDRB yang lain pada tahun 2014 mencatat pertumbuhan yang positif.

Tabel 2.1

Pertumbuhan Ekonomi Kota Tangerang Selatan Tahun 2014 s/d Perkiraan Tahun 2016

Tahun Pertumbuhan Ekonomi (%)

2013 8,86

2014 8.99

2015* 8.61% - 9,05%

2016* 8.61% - 9,05%

Sumber : Badan Pusat Statistik KotaTangerang Selatan Keterangan: *) merupakan data Perkiraan

(15)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

10

2.1.2. Produk Dometik Regional Bruto (PDRB)

Sebagai salah satu indikator makro ekonomi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan besaran nilai tambah bruto yang dihasilkan dalam memproduksi barang dan jasa oleh sektor produktif dalam perekonomian suatu daerah (region) tanpa melihat pelaku ekonominya. Pelaku ekonomi bisa berasal dari daerah tersebut dan atau dari luar daerah tersebut. PDRB selalu dihitung dalam dua harga yaitu atas dasar harga berlaku dan konstan (tahun dasar 2010).

Tabel 2.2.

Angka Agregat PDRB, Jumlah Penduduk dan PDRB Per Kapita Kota Tangerang Selatan Tahun 2011 – 2014

URAIAN 2011 2012 2013 2014

Laju Pertumbuha

n 2013-2014

a. PDRB Atas Dasar Hargaberlaku (Tahun Dasar

2010 ) 34,891,850 39,071,488 44,611,133 51,230,273 14.84% b. PDRB Atas Dasar HargaKonstan (Tahun Dasar

2010 ) 33,214,823 36,091,809 39,290,714 42,823,773 8.99% c. Jumlah Penduduk 1,355,926 1,405,170 1,443,403 1,492,999 3.44% d. PDRB Per Kapita AtasDasar Harga berlaku

(Tahun Dasar 2010 ) 25,732,857 27,805,524 30,906,914 34,313,669 11.02% e. PDRB Per Kapita AtasDasar Harga Konstan

(Tahun Dasar 2000 ) 24,496,044 25.685.012 27.220.890 28.683.055 5.37% Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan, 2015

Pada tahun 2014, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga (adh) berlaku Kota Tangerang Selatan adalah sebesar Rp.51.230.273,- sedangkan PDRB adh konstan adalah sebesar Rp.42.823.773,-. Dengan jumlah penduduk pertengahan tahun 2014 mencapai 1.492.999 orang, PDRB per kapita adh berlaku adalah sebesar Rp.34.313.669,- sedangkan PDRB per kapita adh konstan (Tahun dasar 2000) adalah Rp.28.683.055,-.

(16)

11

Gambar 2.1.

Produk Domestik Regional Bruto (Pdrb) Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tangerang Selatan Tahun 2014

Sumber : BPS Kota Tangerang Selatan Tahun 2015

Dalam tiga tahun terakhir, kecenderungan peranan kategori yang berbasis jasa mengalami fluktuasi. Sedangkan share dari sektor primer dalam tiga tahun tidak melewati 0,35 persen. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat daya beli masyarakat perkotaan sangat tinggi dan luas lahan pertanian semakin berkurang dan tidak menjanjikan terutama bagi para tenaga kerja muda. Maka pilihan lain yang tersedia adalah bekerja pada sektor industri atau bekerja pada sektor berbasis jasa. Perkembangan kategori berbasis jasa juga tidak terlepas dari potensi yang dimiliki Kota Tangerang Selatan, sehingga sektor yang terkait dengan budaya masyarakat perkotaan seperti perdagangan, hotel, restoran, angkutan, komunikasi dan jasa perorangan masih sangat memungkinkan untuk berkembang terus. Selain itu, bekerja pada sektor berbasis jasa cenderung mudah dan tidak memerlukan keahlian khusus sehingga tidak heran jika kategori ini banyak menampung pekerja.

162,153.02 0 7,690,434.50 8,996,517.48 1,720,938.09 5,561,560.39 619,852.31 8,302,415.77 1,752,431.16 638,734.23 4,590,097.54 2,072,637.12 1,606,133.31

11

Gambar 2.1.

Produk Domestik Regional Bruto (Pdrb) Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tangerang Selatan Tahun 2014

Sumber : BPS Kota Tangerang Selatan Tahun 2015

Dalam tiga tahun terakhir, kecenderungan peranan kategori yang berbasis jasa mengalami fluktuasi. Sedangkan share dari sektor primer dalam tiga tahun tidak melewati 0,35 persen. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat daya beli masyarakat perkotaan sangat tinggi dan luas lahan pertanian semakin berkurang dan tidak menjanjikan terutama bagi para tenaga kerja muda. Maka pilihan lain yang tersedia adalah bekerja pada sektor industri atau bekerja pada sektor berbasis jasa. Perkembangan kategori berbasis jasa juga tidak terlepas dari potensi yang dimiliki Kota Tangerang Selatan, sehingga sektor yang terkait dengan budaya masyarakat perkotaan seperti perdagangan, hotel, restoran, angkutan, komunikasi dan jasa perorangan masih sangat memungkinkan untuk berkembang terus. Selain itu, bekerja pada sektor berbasis jasa cenderung mudah dan tidak memerlukan keahlian khusus sehingga tidak heran jika kategori ini banyak menampung pekerja.

162,153.02 5,864,399 59,238.93 21,495.17 7,690,434.50 8,996,517.48 1,571,234.86 1,720,938.09

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan

Pengadaan Listrik dan Gas

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang Konstruksi

Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi

Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate

Jasa Perusahaan

Administrasi Pemerintahan, Pertanahan, dan Jaminan Sosial Wajib Jasa Pendidikan

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa Lainnya

11

Gambar 2.1.

Produk Domestik Regional Bruto (Pdrb) Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tangerang Selatan Tahun 2014

Sumber : BPS Kota Tangerang Selatan Tahun 2015

Dalam tiga tahun terakhir, kecenderungan peranan kategori yang berbasis jasa mengalami fluktuasi. Sedangkan share dari sektor primer dalam tiga tahun tidak melewati 0,35 persen. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat daya beli masyarakat perkotaan sangat tinggi dan luas lahan pertanian semakin berkurang dan tidak menjanjikan terutama bagi para tenaga kerja muda. Maka pilihan lain yang tersedia adalah bekerja pada sektor industri atau bekerja pada sektor berbasis jasa. Perkembangan kategori berbasis jasa juga tidak terlepas dari potensi yang dimiliki Kota Tangerang Selatan, sehingga sektor yang terkait dengan budaya masyarakat perkotaan seperti perdagangan, hotel, restoran, angkutan, komunikasi dan jasa perorangan masih sangat memungkinkan untuk berkembang terus. Selain itu, bekerja pada sektor berbasis jasa cenderung mudah dan tidak memerlukan keahlian khusus sehingga tidak heran jika kategori ini banyak menampung pekerja.

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang Perdagangan Besar dan Eceran;Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

Administrasi Pemerintahan, Pertanahan, dan Jaminan Sosial Wajib Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

(17)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

12

2.1.3. Inflasi

Inflasi ialah kenaikan harga barang dan jasa secara umum di mana barang dan jasa tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat atau turunnya daya jual mata uang suatu negara. Indeks Harga Konsumen (IHK) ialah suatu indeks, yang menghitung rata-rata perubahan harga dalam suatu periode, dari suatu kumpulan barang dan jasa yang dikonsumsi oleh penduduk/rumah tangga dalam kurun waktu tertentu.Penghitungan IHK ditujukan untuk mengetahui perubahan harga dari sekelompok tetap barang/jasa yang pada umumnya dikonsumsi masyarakat.

Kota Tangerang selatan baru memiliki Indeks Harga

Konsumen/ Inflasi sejak tahun 2014, untuk tahun sebelumnya Kota Tangerang Selatan masih mengacu pada inflasi Kota Tangerang, Memasuki tahun 2015, tingkat inflasi di kota Tangerang Selatan mengalami penurunan yang signifikan diangka 3.24% dibandingkan dengan tahun sebelumnya di 2014 sebesar 10.57%, hal tersebut dipaparkan pada tabel 2.3.

Tabel 2.3

Perbandingan Laju Inflasi/Deflasi Kota-kota Di Provinsi Banten 2012-2015

No. Kota 2012 2013 2014 2015

1 Kota Tangerang 4,44 10,02 10,02 4,28

2 Kota Cilegon 3,91 7,98 9,93 3,94

3 Kota Serang 4,89 9,16 11,27 4,67

4 Kota Tangerang Selatan 4,44 10,02 10,57 3,24

Prov. Banten 4,37 9,65 10,20 4,29

Nasional 4,30 8,38 8,36 3,35

(18)

13

2.1.4. Investasi

Industri bukan merupakan sektor utama yang menggerakkan perekonomian Kota Tangerang Selatan. Namun demikian, perannya masih lebih besar dibandingkan dengan sektor primer seperti sektor pertanian. Terdapat beberapa jenis industri di Kota Tangerang Selatan yaitu industri pakaian jadi/ konveksi, makanan dan minuman, kertas, percetakan dan penerbitan, industri alat elektronika dan komponennya, serta alat listrik dan komponennya.

Tabel 2.4

Jumlah Perusahaan PMA dan PMDN di Kota Tangerang Selatan

Tahun P M A P M D N Jumlah 1 2010 102 15 117 2 2011 143 17 160 3 2012 167 12 179 4 2013 172 18 190 5 2014 86 6.199 6.285

Sumber : BPS Kota Tangerang Selatan, 2015.

Berdasarkan data Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terdapat beberapa investor berskala nasional, pada tahun 2014 Jumlah perusahaan sebanyak 6.285 perusahaan antara lain: 86 perusahaan PMA, dan 6.199 Perusahaan PMDN dimana mengalami kenaikan dari tahun 2013 yaitu PMA 172 Perusahaan dan PMDN 18 Perusahaan. Nilai investasi PMA pada tahun 2014 adalah Rp.487.163.100.500 dan nilai

investasi PMDN sebesar Rp.2.990.000.000 juga mengalami

kenaikan dari Tahun 2013 terutama PMA sebesar

Rp.426.592.556.000 dan nilai investasi PMDN mengalami

penurunan sebesar dari Rp.3.230.423.144 dengan persentase

(19)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

14

Tabel 2.5

Jumlah Investasi PMA dan PMDN di Kota Tangerang Selatan

Tahun PMDN (IDR) PMA (USD)

1 2010 215,525,276,000 25,954,271,976

2 2011 243,775,276,000 2,691,106,298

3 2012 340,687,976,000 2,934,539,498

4 2013 426,592,556,000 3,230,423,144

5 2014 487,163,100,500 2,990,000,000

Sumber : BPS Kota Tangerang Selatan, 2015

Sektor perdagangan dan jasa memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian Kota Tangerang Selatan. Kegiatan perdagangan dan jasa tersebar hampir di seluruh wilayah Kota Tangerang Selatan. Namun, yang paling menonjol adalah kegiatan perdagangan dan jasa di sepanjang koridor jalan-jalan utama seperti Jalan Raya Serpong, Jalan Raya Ceger, Jalan Raya Bintaro Utama – Jalan kesehatan, Jalan Raya Pondok Betung - Jalan Raya

WR Supratman, Jalan Raya Pamulang – Ciputat, Jalan Raya

Pamulang – Pondok Cabe dan Jalan Raya Ir. H. Juanda (Ciputat Raya).

2.1.5. Tenaga Kerja

Letak Kota Tangerang Selatan yang berdekatan dengan ibu kota negara menyebabkan perekonomian berjalan dengan cepat dan oleh karenanya banyak tersedia lapangan kerja yang merupakan daya tarik bagi para penduduk daerah lain untuk bermigrasi ke Kota Tangerang Selatan. Berdasarkan perhitungan BPS Kota Tangerang Selatan, tingkat partisipasi angkatan kerja pada tahun 2014 adalah sebesar 63,04%, angka tersebut memberikan gambaran bahwa ada sekitar 63 persen dari penduduk usia kerja di Kota

(20)

15

Tangerang Selatan yang berpotensi untuk mendapatkan pendapatan/ penghasilan, walaupun di dalamnya termasuk mereka yang sedang mencari pekerjaan. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 6,92% dari angkatan kerja.

Tabel 2.6

Kegiatan Utama di Kota Tangerang Selatan Tahun 2014

No Karakteristik Laki-Laki Perempuan Jumlah

1 Penduduk Usia Kerja 561.384 557.443 1.118.827

2 Angkatan Kerja 448.587 256.734 705.321

3 - Bekerja 418.685 237.813 656.498

4 - Pengangguran 29.902 18.921 48.823

5 Bukan Angkatan Kerja 112.797 300.709 413506

6 Tingkat partisipasi Angkatan kerja(%) 79,91% 46,06% 63,04%

7 Tingkat Pengangguran terbuka (%) 6,67% 7,37% 6,92%

8 Tingkat Kesempatan Kerja (%) - - 93,08%

Sumber: Sakernas dalam Kota Tangerang Selatan Dalam Angka, 2015

Tabel 2.7

Penduduk Usia Kerja Menurut Lapangan Usaha Sektor/ Lapangan Usaha Jumlah Persentase%

1. Pertanian 10.155 1,55%

2. Industri 47.002 7,16%

3. Jasa – jasa 202.956 30,91%

4. Lainnya 396.385 60,38%

T o t a l 620.627 100%

(21)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

16

Berdasarkan sebaran penyerapan tenaga kerja pada sektor lapangan usaha, sebagian besar tenaga kerja diserap oleh sektor jasa-jasa yaitu sebesar 29,87%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 29,69%, sektor industri sebesar 7,59%, serta sektor pertanian dengan 0,40%. Sisanya yaitu sebesar 32,45% bekerja pada sektor lainnya yaitu pertambangan dan penggalian; listrik, gas dan air bersih; bangunan; pengangkutan dan komunikasi; keuangan; dan jasa perusahaan.

2.1.6. Pendapatan dan Ketimpangan Regional

Pendapatan Domstik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun berjalan, sedang Pendapatan Domstik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar. Pendapatan Domstik Regional Bruto (PDRB) menurut harga berlaku digunakan untuk mengetahui kemampuan sumber daya ekonomi, pergeseran, dan struktur ekonomi suatu daerah.

Gambar 2.2

Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tangerang Selatan Tahun 2011 – 2014

Sumber : BPS Kota Tangerang Selatan Tahun 2015

-10,000,000 20,000,000 30,000,000 40,000,000 50,000,000 60,000,000 2011 34,891,850

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

16

Berdasarkan sebaran penyerapan tenaga kerja pada sektor lapangan usaha, sebagian besar tenaga kerja diserap oleh sektor jasa-jasa yaitu sebesar 29,87%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 29,69%, sektor industri sebesar 7,59%, serta sektor pertanian dengan 0,40%. Sisanya yaitu sebesar 32,45% bekerja pada sektor lainnya yaitu pertambangan dan penggalian; listrik, gas dan air bersih; bangunan; pengangkutan dan komunikasi; keuangan; dan jasa perusahaan.

2.1.6. Pendapatan dan Ketimpangan Regional

Pendapatan Domstik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun berjalan, sedang Pendapatan Domstik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar. Pendapatan Domstik Regional Bruto (PDRB) menurut harga berlaku digunakan untuk mengetahui kemampuan sumber daya ekonomi, pergeseran, dan struktur ekonomi suatu daerah.

Gambar 2.2

Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tangerang Selatan Tahun 2011 – 2014

Sumber : BPS Kota Tangerang Selatan Tahun 2015

2011 2012 2013 2014

34,891,850 39,071,488

44,611,133

51,230,273

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

16

Berdasarkan sebaran penyerapan tenaga kerja pada sektor lapangan usaha, sebagian besar tenaga kerja diserap oleh sektor jasa-jasa yaitu sebesar 29,87%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 29,69%, sektor industri sebesar 7,59%, serta sektor pertanian dengan 0,40%. Sisanya yaitu sebesar 32,45% bekerja pada sektor lainnya yaitu pertambangan dan penggalian; listrik, gas dan air bersih; bangunan; pengangkutan dan komunikasi; keuangan; dan jasa perusahaan.

2.1.6. Pendapatan dan Ketimpangan Regional

Pendapatan Domstik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun berjalan, sedang Pendapatan Domstik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar. Pendapatan Domstik Regional Bruto (PDRB) menurut harga berlaku digunakan untuk mengetahui kemampuan sumber daya ekonomi, pergeseran, dan struktur ekonomi suatu daerah.

Gambar 2.2

Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tangerang Selatan Tahun 2011 – 2014

Sumber : BPS Kota Tangerang Selatan Tahun 2015

51,230,273 PDRB Atas Dasar Harga berlaku (Tahun Dasar 2010 )

(22)

17

Pada tahun 2014, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga (adh) berlaku Kota Tangerang Selatan adalah sebesar Rp.51.230.272,94 sedangkan PDRB adh konstan (tahun dasar 2010) adalah sebesar Rp.42.823.773,16. Angka-angka tersebut meningkat dari total PDRB adh berlaku pada tahun 2013 yang sebesar Rp.44.611.132,51 dan PDRB adh konstan (tahun dasar 2010) yang sebesar Rp.39.290.714,30. Dengan jumlah penduduk pertengahan tahun mencapai 1.492.999 orang, PDRB per kapita adh berlaku adalah sebesar Rp. 34.313.668,62 sedangkan PDRB per kapita adh konstan (tahun dasar 2010) adalah Rp. 28.683.055,48.

Adapun upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam pencapaian target pendapatan daerah, diantaranya adalah:

Membangun dan mengembangkan sistem data base on-line untuk

pengelolaan BPHTB bekerja sama dengan Bank Jabar Banten dan Badan Pertanahan Nasional;

 Merancang penerapan dan mengembangkan perhitungan sistem

on-line kewajiban pajak terhutang dengan wajib pajak;

Pada tahun 2016 Kota Tangerang Selatan sudah melaksanakan

pengelolaan PBB sebagai Pajak Asli Daerah (PAD);

 Pada Tahun 2014 dimulainya kegiatan pemeriksaan terhadap wajib

pajak daerah di Kota Tangearng Selatan;

Meningkatkan kualitas SDM dan sosialisasi pengelolaan pajak

daerah kepada semua stakeholder;

 Melaksanakan koordinasi dengan Pusat, Provinsi dan SKPD

(23)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

18

Tantangan yang harus diperhatikan adalah dampak krisis ekonomi global yang berlangsung sejak tahun 2008. Dampak yang besar terhadap perekonomian regional diperkirakan akan semakin dirasakan pada tahun 2017. Dari sisi internal, kesenjangan perwilayahan masih cukup besar sehingga Pemerintah Daerah harus memperhatikan segi perwilayahan dalam perencanaan tahun 2017. Selain itu, kemampuan keuangan daerah juga tidak akan mencukupi untuk menyelesaikan semua permasalahan sekaligus sehingga harus disusun prioritas yang akan dilakukan pada tahun 2017.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi global, kinerja ekonomi nasional dan regional hingga pertengahan tahun 2016 ini menunjukan arah yang belum pasti. Kombinasi eksternal inilah yang turut mendorong kinerja ekonomi nasional, termasuk Kota Tangerang Selatan sebagai daerah yang mengandalkan sektor perdagangan dan jasa akan mengalami suatu kondisi perlambatan pertumbuhan.

2.2 RENCANA TARGET EKONOMI MAKRO PADA TAHUN 2017

Mengacu pada rencana program dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai, Pemerintah Pusat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016 Tentang “Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2017”, Arah kebijakan ekonomi daerah disusun berdasarkan kajian internal dan eksternal serta berpedoman pada dokumen RPJMD Kota Tangerang Selatan Tahun 2011-2016. Untuk menjamin keberlanjutan arah pembangunan, arah kebijakan ekonomi Kota Tangerang Selatan Tahun 2017 harus sejalan dengan kebijakan ekonomi Nasional dan Provinsi Banten Tahun 2017. Berdasarkan data sementara PDRB tahun 2015 adh berlaku, perkembangan PDRB Kota Tangerang Selatan cenderung menunjukkan peningkatan.

(24)

19

Tabel 2.8

Indikator Sosial Ekonomi Kota Tangerang Selatan dan Prediksi Indikator Ekonomi Tahun 2017

2010 2011 2012 2013 2014 2015* 2016* 2017*

1 Indeks PembangunanManusia/ IPM - 76.99 77.68 78.65 79.17 79.91 80.66 81.41 2 Laju Pertumbuhan Ekonomi/ LPE (%) - 8.81 8.66 8.86 8.99 8,61% -9,05% 8,61% -9,05% 8,61% -9,05% 3 Tingkat Inflasi**) 6.08% 5.13% 4.44% 10.02% 10.57% 3,71% -10,78 % 3,71% -10,78 % 3,71% -10,78 %

Angka tahun 2010-2013 adalah angka Kota Tangerang, angka tahun 2014 adalah angka Kota Tangerang Selatan. 4 Tingkat Kemiskinan**) - 1.50% 1.33% 1.75% 1.62% 1,27% -1,83% 1,27% -1,83% 1,27% -1,83% 5 Tingkat Pengangguran**) 8.22% 11,98% 8.07% 4.56% 6.92% 4,84% -9,04% 4,84% -9,04% 4,84% -9,04% Keterangan:

*) Prediksi Kota Tangerang Selatan berdasarkan rata-rata pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya **) Prediksi dengan metode pendugaan interval yang menggunakan selang kepercayaan 95%

No Uraian Kota Tangerang Selatan Keterangan

Berdasarkan PDRB Adh konstan, laju pertumbuhan ekonomi (LPE) tahun 2015 adalah sebesar 8,61%-9,05%. Struktur ekonomi Kota Tangerang Selatan didominasi oleh sektor tersier, yaitu perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; perbankan dan lembaga keuangan serta jasa-jasa yang memberikan kontribusi hingga 73,07%. Sektor sekunder (industri pengolahan; listrik, gas dan air bersih; dan bangunan) memberikan kontribusi 26,62%, dan sektor primer (pertanian, pertambangan dan penggalian) hanya memberikan kontribusi 0,32%. Perkembangan PDRB Kota Tangerang Selatan cenderung menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Percepatan pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang Selatan pada tahun 2016 terutama didukung oleh percepatan pada sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, pengangkutan dan komunikasi, dan bangunan yang tumbuh sangat signifikan. Secara keseluruhan, semua faktor ekonomi di Kota Tangerang Selatan menunjukkan pertumbuhan positif.

(25)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

20

Kota Tangerang Selatan Sebagai daerah yang memiliki pendapatan dari sektor industri dan perdagangan memiliki prospek perekonomian yang baik. Karena semenjak terbentuknya Kota Tangerang Selatan tahun 2008, wilayah ini sudah memiliki beberapa kawasan industri dan perdagangan. Luasan lahan yang disediakan untuk zona industri seluas 2.218,31 hektar dengan 2.381 unit industri yang termanfaatkan pada tahun 2010 (berdasarkan Kajian Strategi Pengembangan Ekonomi Kota Tangerang Selatan Tahun 2013).

Struktur ekonomi tersebut menunjukan bahwa perekonomian Kota Tangerang Selatan didominasi oleh sektor tersier dimana perdagangan menjadi sektor pendukung utama sebesar 17.56% sumbangannya terhadap pertumbuhan PDRB tahun 2014. Besarnya potensi perekonomian domestik perlu lebih ditumbuhkembangkan, investor perlu terus didorong, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Hambatan perekonomian, terkait dengan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) serta reformasi birokrasi, perlu ditangani secara serius agar tercipta iklim investasi dan usaha yang sehat. Pembangunan infrastruktur perlu dipercepat untuk memperkuat

national connectivity, ketahanan energi dan ketahanan pangan,

melalui pembiayan dari pemerintah, dunia usaha maupun kerjasama pemerintah dan swasta. Pembangunan infrastruktur sangat penting untuk mendorong produktivitas ekonomi di Kota Tangerang Selatan.

Inti dari tantangan pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang Selatan tidak lagi dapat bergantung kepada sumber daya alam dan alokasi tenaga kerja (resources and low cost-driven growth), namun harus mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dengan memanfaatkan modal fisik dan sumber daya manusia yang terampil

(26)

21

Tangerang Selatan lebih stabil. Oleh karena itu pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) mutlak dibutuhkan saat ini.

Disamping itu tantangan yang dihadapi adalah adanya eksploitasi dan eksplorasi sektor perdagangan, hotel dan restoran secara signifikan tanpa ada pengawasan yang ketat melalui keberadaan AMDAL secara konsisten, yang selama ini terjadi akibat dari pengalihan fungsi lahan hijau/ruang terbuka menjadi pusat perdagangan, hotel, restoran dan pemukiman, dikhawatirkan akan mempunyai dampak dari sisi ekonomi serta dari sudut pandang lingkungan hidup dan sosial pada masa yang akan datang.

Dengan diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kondisi ini memberikan peluang kepada masyarakat, serta Kota Tangerang Selatan untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara lain, dengan adanya MEA sudah seharusnya kita dapat memanfaatkan kerjasama ini dengan baik. Ilmu pengetahuan saja tidak cukup untuk menyikapi hal ini, kekreatifan juga sangat dibutuhkan disini untuk membangun hal tersebut, sehingga salah satu tantangan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat Kota Tangerang Selatan.

Sektor tersier di Kota Tangerang Selatan didominasi oleh sektor pengangkutan dan komunikasi; perdagangan hotel dan restoran; jasa-jasa; dan bank, persewaan dan jasa perusahaan, yang memberikan kontribusi hampir 73,07%. Sektor sekunder (industri pengolahan; listrik, gas dan air bersih; dan konstruksi) memberikan kontribusi 26,62% dan sektor primer (pertanian; pertambangan dan penggalian) hanya memberikan kontribusi kurang dari 0,32%. Dari uraian tersebut dapat dilihat Kota Tangerang Selatan memiliki prospek pengembangan ekonomi yang sangat baik terutama dari sektor jasa, perdagangan, hotel dan restoran, sebagai sektor unggulan

(27)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

22

yang mengandalkan kemampuan sumber daya manusia dan banyak menyerap tenaga kerja.

Dengan besarnya minat akan pasar lokal dan internasional terhadap produk-produk unggulan dari Kota Tangerang selatan memberikan prospek bagi pengembangan sektor perdagangan dan jasa dimana trendnya menunjukan peningkatan yang sangat baik. Disamping itu pelaku disektor perdagangan, jasa dan industri sangat variatif dan kompetitif, dalam hubungannya dengan prospek persaingan terbuka dalam pasar global seperti sekarang ini, sehingga hal tersebut d iatas juga sangat perlu ditunjang dengan trend penggunaan Teknologi Informasi (TI).

(28)

23

BAB III

ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH

3.1 ASUMSI DASAR YANG DIGUNAKAN DALAM ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA NEGARA

Berdasarkan penilaian (assessment) dan pemantauan yang dilakukan secara intensif terhadap berbagai indikator perekonomian dan asumsi dasar ekonomi makro yang digunakan di dalam APBN, Pemerintah menetapkan asumsi dasar ekonomi makro tahun 2017, sebagai berikut:

Gambar 3.1.

Asumsi Perekonomian Makro Tahun 2017

Sumber: RKP Nasional 2016

1) Pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,5% sampai dengan 5,9% sedangkan sebesar 7,1 persen untuk wilayah Jawa-Bali;

(29)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

24

2) Indikator tingkat inflasi umum yang terkendali melalui terjaganya tingkat inflasi pada komponen inti (core), harga bergejolak (volatile food), dan harga diatur pemerintah (administered price) sebesar 4%;

3) Nilai tukar rupiah sebesar Rp13.700 hingga Rp14.200 per USD; 4) Tingkat suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan

tetap sebesar 5,5 persen hingga 6,5persen.

5) Harga minyak Indonesia (ICP) diperkirakan sebesar USD 35 s/d USD 45 per barel.

6) Lifting minyak sebesar 740 ribu barel hingga 760 ribu barel per hari, Lifting gas sebesar 1.100 ribu barel hingga 1.200 ribu barel per hari.

Asumsi dasar ekonomi makro 2017 yang telah dipaparkan diatas berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2017 tanggal penetapan 5 April 2016. Berdasarkan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun Anggaran 2017, maka didapatkan asumsi dasar yang digunakan dalam penyusunan Rancangan awal Kebijakan Umum APBD (KUA) Kota Tangerang Selatan Tahun Anggaran 2017 adalah sebagai berikut:

a. Laju Pertumbuhan Ekonomi kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 8.61% sampai dengan 9,05%;

b. Tingkat inflasi kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 3,71% sampai dengan 10,78%;

c. Angka Pengangguran (Pengangguran Tingkat Terbuka) kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 4,84% sampai dengan 9,04%;

(30)

25

d. Indeks Pembangunan Manusia kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 81,41 persen; dan

e. Penduduk Miskin kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 1,27% sampai dengan 1,83%.

f. Total Pendapatan kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diperkirakan sebesar

Rp.2.398.848.023.571,-g. Total Belanja kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diperkirakan sebesar

Rp.2.701.529.023.571,-h. Total Pembiayaan kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diperkirakan sebesar

Rp.302.681.000.000,-i. Defisit Anggaran kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diperkirakan sebesar

Rp.302.681.000.000,-3.2 LAJU INFLASI

Kota Tangerang selatan belum memiliki Indeks Harga Konsumen/ Inflasi dan masih mengacu kepada Kota Tangerang,

Memasuki bulan desember 2015, harga barang-barang/jasa

kebutuhan pokok masyarakat di Banten secara umum mengalami sedikit kenaikan, hal ini terlihat dari naiknya angka Indeks Harga Konsumen (IHK) yang sebesar 125.43 pada bulan Desember 2014 menjadi 129.49 pada bulan Desember 2015 atau terjadi perubahan indeks (inflasi) 0.87 persen dari tahun lalu.

Pada bulan Desember 2015, semua kota (4 kota) IHK yang ada Kota Tangerang sebesar 0,96 persen, Kota Cilegon sebesar 0,99 persen serta Kota Tangerang Selatan sebesar 0,87 persen. Sementara itu angka inflasi di Banten sebesar 0,99 persen. Dan untuk laju inflasi tahun kalender 2015 yang pada akhir tahun akan bernilai sama dengan Inflasi year on year-nya adalah Kota Serang 4,67 persen; Kota Tangerang Selatan 3.24 persen dan Kota Cilegon 3,94 persen.

(31)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

26

Tabel. 3.1.

Perbandingan IHK, Inflasi/Deflasi dan Laju Inflasi 4 Kota Di Banten Bulan Desember 2015

K e t :

*) Persentase perubahan IHK Bulan Desember 2015 terhadap IHK Bulan Januari 2014 **) Persentase perubahan IHK Bulan Desember 2015 terhadap IHK Bulan Desember 2014

Inflasi di Kota Tangerang Selatan sejak tahun 2014 telah memiliki IHK sendiri, sedangkan data untuk tahun sebelu nya mengacu pada inflasi kota Tangerang. Inflasi ini terjadi karena naiknya Indeks 6 (enam) dari 7 (kelompok) yang ada pada kelompok pengeluaran yakni : kelompok bahan makanan sebesar 2,92 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,35 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar sebesar 0,59 persen, kelompok sandang 0,48 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,19 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,37 persen dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar -0,04 persen.

Kota JanuariIHK

2014 IHK Desember 2014 IHK Desember 2015 Inflasi Desember 2015 *) Laju Inflasi Tahun Kalender 2015 **) 1. Serang 111.98 123.07 128.82 1.13 4.67 2. Tangerang sss114.80 124.82 130.16 0.96 4.28 3. Cilegon 111.50 120.92 125.69 0.99 3.94 4. Tangerang Selatan 114.65 125.43 129.49 0.87 3.24 5. B A N T E N 113.95 124.05 129.37 0.99 4.29

(32)

27

Tabel 3.2

IHK, Inflasi, Laju Inflasi Banten

Menurut Kelompok Pengeluaran Bulan Desember 2015 (2012 = 100)

No Kelompok Pengeluaran IHK Desember 2014 IHK November 2015 IHK Desember 2015 Inflasi Desember 2015*) Laju Inflasi Tahun 2015 **) Inflasi Year on Year **) U M U M 125,43 128.37 129.49 0.87 3.24 3.24 1 Bahan Makanan 134,14 133.46 137.36 2.92 2.39 2.39

2 Makanan Jadi, Minuman,Rokok & Tembakau 132,62 142.40 142.90 0.35 7.75 7.75

3 Perumahan, Air, Listrik,Gas & Bahan Bakar 117,95 121.67 122.39 0.59 3.77 3.77

4 Sandang 109,53 112.00 112.54 0.48 2.75 2.75

5 Kesehatan 114,62 120.87 121.10 0.19 5.65 5.65

6 Pendidikan, rekreasi danolahraga 118,14 124.32 124.78 0.37 5.62 5.62

7 Transpor, komunikasi &Jasa Keuangan 130,93 127.00 126.96 -0.04 -3.03 -3.03

Sumber: BPS Kota Tangerang Selatan “Berita Resmi Statistik 12 Januari 2016”

Ket : *)Persentase perubahan IHK Bulan Desember 2015 terhadap IHK Bulan sebelumnya **) Persentase perubahan IHK Bulan Desember 2015 terhadap IHK Bulan Desember 2014 ***) Persentase perubahan IHK Bulan Desember 2015 terhadap IHK Bulan Nopember 2014

Gambar 3.2

Perkembangan IHK Kota Tangerang Selatan dan Banten (2012=100) Bulan Desember 2015

Sumber: BPS Kota Tangerang Selatan “Berita Resmi Statistik 12 Januari 2016”

Umum Bahan MakananMakanan JadiPerumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transpor Tangsel 129.49 137.36 142.9 122.39 112.54 121.1 124.78 126.96 Banten 129.37 137.17 138.79 122.51 110.24 127.58 125 128.79 100 105 110 115 120 125 130 135 Tangsel Banten

(33)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

28

Inflasi di kota Tangerang Selatan mengacu pada inflasi kota Tangerang, pada gambar 3.2 menggambarkan terjadinya inflasi karena naiknya Indeks harga konsumen dari 7 (tujuh) kelompok yang ada pada kelompok pengeluaran yakni : kelompok bahan makanan kembali mengalami kenaikan sebesar 137,36; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 142,9; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 122,39; kelompok sandang 112,54; kelompok kesehatan 121,1; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 124,78 serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami kenaikan menjadi 126,96. Berdasarkan hal diatas maka diasumsikan pada tahun 2017 akan terjadi inflasi diperkirakan sekitar 3,71% sampai dengan 10,78%.

3.3 PERTUMBUHAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah, juga merupakan besaran nilai tambah bruto yang dihasilkan dalam memproduksi barang dan jasa oleh sektor produktif dalam perekonomian suatu daerah (region) tanpa melihat pelaku ekonominya. Pelaku ekonomi bisa berasal dari daerah tersebut dan atau dari luar daerah tersebut.

Pada tahun 2014, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga (adh) berlaku Kota Tangerang Selatan adalah sebesar Rp.51.230.272,94 Juta sedangkan PDRB adh konstan (tahun 2010) adalah sebesar Rp.42.823.773,16 juta, Angka angka tersebut meningkat dari total PDRB adh berlaku pada tahun 2013 yang hanya sebesar Rp.44.611.132,51 dan PDRB adh konstan (tahun 2010) yang sebesar Rp.39.290.714,30.

(34)

29

Tabel 3.3

Nilai Dan Konstribusi Sektor Dalam PDRB Tahun 2012 S/D 2014 Atas Dasar Harga Berlaku Kota Tangerang Selatan

Sumber : BPS Kota Tangerang Selatan Tahun 2015

Berdasarkan data PDRB Atas Dasar Harga (ADH) Berlaku tahun 2014, struktur ekonomi Kota Tangerang Selatan didominasi oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (17,56%); Real estate (16,21%); Konstruksi (15,01%); Industri pengolahan (11,45%), dan Informasi & Komunikasi (10,86%). Sektor-sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian; Pengadaan Listrik dan Gas; dan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang masing-masing di bawah satu persen, bahkan nol untuk Pertambangan dan Penggalian. Jika dibandingkan PDRB tahun 2013 dan tahun 2014, seluruh sektor menunjukan peningkatan, kecuali pada Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami penurunan, dan Pertambangan dan Penggalian yang stagnan karena memang tidak memberikan kontribusi pada tahun 2013 dan 2014.

Nilai (Juta

Rupiah) Kontribusi(persen) Nilai (JutaRupiah) Kontribusi(persen) Nilai (JutaRupiah) Kontribusi(persen)

A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 118,224.31 0.30% 129,903.24 0.29% 162,153.02 0.32%

B. Pertambangan dan Penggalian 0.00 0.00% 0.00 0.00% 0.00 0.00%

C. Industri Pengolahan 4,627,847.04 11.84% 5,184,027.30 11.62% 5,864,399.06 11.45%

D. Pengadaan Listrik dan Gas 43,953.43 0.11% 52,585.96 0.12% 59,238.93 0.12%

E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah

dan Daur Ulang 18,880.80 0.05% 20,081.10 0.05% 21,495.17 0.04%

F. Konstruksi 5,295,439.33 13.55% 6,418,182.09 14.39% 7,690,434.50 15.01%

G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 7,278,208.12 18.63% 8,006,804.95 17.95% 8,996,517.48 17.56%

H. Transportasi dan Pergudangan 1,055,131.85 2.70% 1,298,840.74 2.91% 1,571,234.86 3.07%

I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,225,851.00 3.14% 1,438,706.72 3.22% 1,720,938.09 3.36%

J. Informasi dan Komunikasi 4,663,233.98 11.94% 4,865,204.80 10.91% 5,561,560.39 10.86%

K. Jasa Keuangan dan Asuransi 478,481.10 1.22% 543,599.22 1.22% 619,852.31 1.21%

L. Real Estate 6,431,704.73 16.46% 7,427,459.00 16.65% 8,302,415.77 16.21%

M,N. Jasa Perusahaan 1,220,865.74 3.12% 1,463,385.44 3.28% 1,752,431.16 3.42%

O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan

Jaminan Sosial Wajib 472,345.96 1.21% 536,040.23 1.20% 638,734.23 1.25%

P. Jasa Pendidikan 3,200,348.52 8.19% 3,894,380.28 8.73% 4,590,097.54 8.96%

Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,788,421.08 4.58% 1,939,738.95 4.35% 2,072,637.12 4.05%

R,S,T,U. Jasa lainnya 1,152,550.57 2.95% 1,392,192.48 3.12% 1,606,133.31 3.14%

PDRB 39,071,487.56 100.00% 44,611,132.51 100.00% 51,230,272.94 100.00%

2012 2013 2014

(35)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

30

Perkembangan PDRB Kota Tangerang Selatan cenderung menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun demikian juga dengan PDRB perkapita, dengan demikian berdampak positif terhadap prediksi Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) tahun 2016 Kota Tangerang Selatan adalah berdasarkan PDRB tahun dasar 2010 adalah sebesar 8,61%-9,05%. Kemudian LPE Kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 diprediksi yaitu 8,61%-9,05% terutama didukung oleh percepatan pada sektor konstruksi, real estate, transportasi dan pergudangan, informasi dan komunikasi, serta pengadaan listrik dan gas.

3.4 LAIN-LAIN ASUMSI

Kota Tangerang Selatan memiliki luas wilayah ± 147,19 Km2, terdiri dari 7 kecamatan, yaitu Serpong,Serpong Utara, Setu, Pamulang, Ciputat, Ciputat Timur, dan Pondok Aren dengan kelurahan berjumlah 54 kelurahan, Jumlah penduduk pada tahun 2014 menurut angka sementara BPS adalah sebesar 1.492.999 orang dengan kepadatan mencapai 10.143 orang/km2 dengan kepadatan tertinggi terdapat di Ciputat Timur (12.830 orang/km2) dan kepadatan terendah terdapat di Setu (5.262 orang/km2),

Investasi daerah dapat ditingkatkan jika daerah memiliki potensi,baik itu berupa potensi sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusia. Hal lain yang juga sangat penting adalah

kemampuan daerah menjual potensi yang dimilikinya dan

menciptakan iklim yang kondusif dan mendukung investasi. Salah satu potensi Kota Tangerang Selatan adalah letak geografisnya yang strategis. Letak geografis Kota Tangerang Selatan yang berbatasan dengan provinsi DKI Jakarta pada sebelah utara dan timur memberikan peluang pada Kota Tangerang Selatan sebagai salah satu daerah penyangga Ibu Kota DKI Jakarata.

(36)

31

Selain itu, Kota Tangerang Selatan juga menjadi salah satu daerah yang menghubungkan Provinsi Banten dengan Provinsi Jawa Barat. Dengan posisi sedemikian, Tangerang Selatan memiliki akses yang bagus baik dari udara, karena berbatasan dengan Kabupaten dan Kota Tangerang yang memiliki Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, maupun dari laut, karena berbatasan dengan DKI Jakarta yang memiliki Pelabuhan Tanjung Priok. Demikian juga akses melalui daratan, Kota Tangerang Selatan dilalui oleh Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (Jakarta Outer Ring Road/ JORR) yang sekarang sudah terkoneksi baik dari Tangerang – Merak atau pun Tol JORR 2.

Prasarana dan sarana penunjang lain yang menjadi potensi investasi yang dikembangkan di Kota Tangerang Selatan, antara lain:

Kereta Api. Sebagai sarana transportasi massal, kereta api

merupakan andalan masyarakat Kota Tangerang Selatan yang menghubungkan Kota Rangkasbitung - Kota Tangerang Selatan - Kota Jakarta dan sudah dengan jalur rel ganda (double track). Stasiun kereta rel listrik (KRL) berjumlah 5 buah dan tersebar di tiga kecamatan yaitu Serpong, Ciputat dan Ciputat Timur. Wilayah Kota Tangerang Selatan yang dilalui oleh lintasan rel KRL antara lain wilayah Serpong (Stasiun Pasar Serpong), Stasiun Rawa Buntu (BSD), Stasiun Jurang Mangu (Pondok Aren), Ciputat (Stasiun Jombang) dan Ciputat Timur (Stasiun Pondok Ranji).

Bis Antar Kota – Antar Propinsi. Sarana Transportasi ini juga

merupakan penggerak mobilitas masyarakat Kota Tangerang Selatan sebagai sarana utama dalam kegiatan yang menghubungkan Kota Tangerang Selatan dengan Kota Jakarta dan kota-kota lainnya. Saat ini juga sudah beroperasi feeder Bus Transjakarta dengan trayek BSD – Jakarta, Pondok Aren (BintaroJaya) – Jakarta dan BSD – Balaraja.

(37)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

32

Angkutan Dalam Kota. Sarana Transportasi Dalam Kota

merupakan salah satu transportasi yang dijadikan andalan untuk aktivitas sehari-hari Masyarakat Kota Tangerang Selatan.

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Bersih/ Air Minum.

Masyarakat Kota Tangerang Selatan memakai air bersih untuk kebutuhan rumah tangga, industri dan kegiatan lainnya. Saat ini kebutuhan air bersih masyarakat Tangerang Selatan bersumber dari dua sumber utama, yaitu dari PDAM Kabupaten Tangerang serta instalasi air bersih yango dikelola oleh pihak, pengembang atau yang berasal dari air bawah tanah.

Pembangunan Permukiman Vertikal. Dengan kepadatan

penduduk Kota Tangerang Selatan yang mencapai 10.143 jiwa/km2, maka akan semakin sulit untuk membangun permukiman yang memakai lahan luas. Sehingga dimungkinkan kawasan permukiman super blok seperti apartemen, kondominium, rusunawa, flat dan sejenisnya untuk dikembangkan karena letak Kota Tangerang Selatan yang berdekatan dengan DKI Jakarta dan dengan akses mudah dari berbagai arah.

Kawasan Jasa dan Perdagangan Terpadu. Di sepanjang koridor

Jl Pahlawan Seribu, BSD City Serpong mulai banyak bermunculan gedunggedung baru yang megah. Pusat perbelanjaan, apartemen, hotel, pusat hiburan dan kuliner, pusat perkantoran, rumah sakit, pusat pendidikan telah dibangun. Lahan untuk pembangunan Office Tower dan sarana penunjang lain juga tersedia. Oleh karena itu, sangatlah prospektif apabila para investor dapat menanamkan modalnya dalam rangka pengembangan kawasan ini.

(38)

33

Pengembangan Tangsel sebagai pusat MICE (Meetings, Incentives Conferencing, Exhibitions). Sebagai kota perdagangan

dan jasa, maka salah satu sarana perkotaan dan dapat dijadikan icon kota Tangerang Selatan adalah pembangunan convention center, atau trade exibition center atau gedung konser. Sesuai dengan motto cerdas, modern dan religius, maka Kota Tangerang Selatan mencari para investor untuk membangun gedung yang memiliki ciri khas daerah Kota Tangerang Selatan tetapi juga modern.

Sektor Industri dan Pergudangan. Melihat luas lahan yang

tersedia, Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam arah dan tujuan pembangunan, tidak menempatkan sektor industri dan pergudangan sebagai andalan. Saat ini peruntukan lahan untuk industri hanya 1,14 % saja dari luas lahan Kota Tangerang Selatan, atau sekitar 16,67 hektar. Industri yang dikembangkan pun ditujukan kepada green industry dan ramah lingkungan.

(39)

KEBIJAKAN UMUM APBD TAHUN ANGGARAN 2017 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN

34

BAB IV

KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH

4.1. PENDAPATAN DAERAH

4.1.1 Kebijakan Perencanaan Pendapatan Daerah Tahun 2017

Kebijakan umum pendapatan daerah diarahkan untuk mendorong peningkatan pendapatan daerah melalui mobilisasi pendapatan asli daerah dan penerimaan daerah lainnya, Satuan kerja perangkat daerah yang mempunyai sumber pendapatan wajib mengintensifkan perolehan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya. Pendapatan Daerah diperkirakan akan mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, karena adanya perkiraan peningkatan Pendapatan Asli Daerah, Disamping itu diperkirakan adanya penurunan pada Dana Perimbangan dan Lain – lain Pendapatan Daerah Yang Sah.

Penentuan target Pendapatan Tahun 2017 dilaksanakan dengan memperhatikan pedoman penyusunan APBD 2017 sebagai berikut:

a. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Penganggaran Pendapatan Daerah yang bersumber dari PAD menggunakan pertimbangan-pertimbangan berikut ini.

1) Kondisi perekonomian yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 dan realisasi penerimaan PAD tahun sebelumnya, serta ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.

(40)

35

3) Peraturan daerah tentang pajak daerah dan retribusi daerah dengan memperhatikan potensi pajak daerah dan retribusi daerah.

b. Dana Perimbangan

Penganggaran pendapatan daerah yang bersumber dari dana perimbangan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Penganggaran Pendapatan Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak yang terdiri atas DBH-Pajak Bumi dan Bangunan (DBH-PBB) selain PBB Perkotaan dan Perdesaan, serta DBH-Pajak Penghasilan (DBH-PPh) dianggarkan sesuai Peraturan Menteri keuangan mengenai Alokasi DBH-Pajak Tahun Anggaran 2017, Apabila Peraturan Menteri Keuangan dimaksud belum ditetapkan, penganggaran pendapatan dari DBH-Pajak didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan mengenai Alokasi Sementara DBH Pajak Tahun Anggaran 2017, dengan memperhatikan realisasi penerimaan DBH-Pajak Tahun Anggaran sebelumnya, Dalam hal Peraturan Menteri Keuangan tentang Alokasi Sementara DBH-Pajak tersebut ditetapkan setelah peraturan daerah tentang APBD Tahun Anggaran 2017 ditetapkan, maka akan menyesuaikan alokasi DBH-Pajak dimaksud pada peraturan daerah tentang Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017 atau dicantumkan dalam LRA apabila tidak melakukan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2017.

2) Penganggaran Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH-SDA) dianggarkan sesuai Peraturan Menteri Keuangan mengenai Perkiraan Alokasi DBH-SDA Tahun Anggaran 2017, dengan memperhatikan realisasi penerimaan DBH-SDA Tahun Anggaran sebelumnya. Dalam hal Peraturan Menteri

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai salah satu dokumen perencanaan tahunan, maka PPAS disusun berdasarkan RKPD dan merupakan pengejewantahan dari Kebijakan Umum Anggaran (KUA) yang mengacu

Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa Pemerintah Daerah menyusun Rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan

Kebijakan Umum APBD (KUA) dan rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang disepakati bersama antara Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat

Memuat arah yang diinginkan dan kebijakan umum yang disepakati sebagai pedoman penyusunan strategi dan prioritas APBD serta rencana APBD dalam satu tahun

Mengingat penyusunan dan penyajian APBD Kota Tangerang Tahun Anggaran 2020 dan pelaksanaan penatausahaan keuangan daerah mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor

Rancangan kebijakan umum perubahan APBD dan Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas dan Plafon Anggaran (KUA-PPAS) perubahan APBD disampaikan kepada DPRD. Dalam UU

Selama tahun anggaran 2020, Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan telah melaksanakan program kegiatan yang ditetapkan pemerintah daerah baik yang bersifat

27 3 Kesepakatan antara Kepala Daerah dan DPRD atas Rancangan Kebijakan Umum Anggaran KUA dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara PPAS Paling lambat minggu II bulan Agustus 5