• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN KABUPATEN WONOSOBO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN KABUPATEN WONOSOBO"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN

KABUPATEN WONOSOBO

TAHUN ANGGARAN 2021

PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO

TAHUN 2020

(2)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ... 1

I.1 Latar Belakang ... 1

I.2 Maksud dan Tujuan ... 2

I.3 Landasan Hukum ... 2

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH ... 6

2.1 Perkembangan Indikator Makro Ekonomi Daerah ... 6

2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi... 6

2.1.2 Pendapatan Domestik Regional Bruto ... 7

2.1.2 PDRB per Kapita ... 16

2.1.3 Inflasi ... 16

2.1.4 Ketenagakerjaan ... 18

2.1.5 Kemiskinan ... 20

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN 2021 ... 28

3.1 Asumsi Dasar Perekonomian Nasional dan Provinsi ... 28

3.2 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah dan Rencana Target Ekonomi Makro Daerah Tahun 2021 ... 30

3.2.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah……….30

BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH ... 31

4.1 Pendapatan Daerah ... 31

4.1.1 Kebijakan Perencanaan Pendapatan Daerah ... 31

4.1.2 Target Pendapatan Daerah. ... 33

4.1.3 Upaya-Upaya Pemerintah Daerah Dalam Mencapai Target ... 35

4.2 Belanja Daerah ... 36

4.2.1 Kebijakan Perencanaan Belanja Daerah ... 36

(3)

1.Kemiskinan ... 39

2.Kemandirian Daerah ... 41

3.Peningkatan Tata kelola pemerintahan yang bersih (clean government) dan baik (good governance) ... 41

4. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia yang Berkompeten dan Memiliki Daya Saing……….43

5. Lingkungan Hidup ... 45

6. Kesenjangan Wilayah ... 47

7. Pandemi Corona Viruse Disease 19 (Covid-19)... 48

4.4 Prioritas Pembangunan Daerah ... 49

1. Percepatan Penanggulangan Kemiskinan ... 50

2. Peningkatan Kapasitas dan Daya Saing Daerah ... 51

3. Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih (Clean Government) dan Baik (Good Governance) ... 51

4. Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia yang Berkompeten dan Memiliki Daya Saing. ... 52

5. Peningkatan Kualitas lingkungan hidup yang berkelanjutan ... 53

6. Pengurangan Kesenjangan Wilayah ... 53

7. Pemulihan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Akibat Pandemi Corona Viruse Disease 19 (Covid-19) ... 54

4.5 Pembiayaan Daerah ... 56

4.5.1 Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah ... 56

(4)

DAFTAR GRAFIK DAN TABEL

Grafik 2. 1 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah dan Nasional Tahun 2015-2019 (%) ... 6 Grafik 2. 2 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota se-Eks Karesidenan Kedu

Tahun 2015-2019 (%) ... 7 Grafik 2. 3 Laju Inflasi Kabupaten Wonosobo 2015-2019 ... 17 Grafik 2. 4 Perbandingan Laju Inflasi Kabupaten Wonosobo dengan Provinsi dan

Nasional Tahun 2015-2019 ... 17 Grafik 2. 5 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Wonosobo Tahun

2015-2019 ... 18 Grafik 2. 6 Jumlah Penggangguran berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun

2015-2019 Kabupaten Wonosobo ... 19 Grafik 2. 7 Jumlah Penduduk Bekerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2015-2019 Kabupaten Wonosobo ... 19 Grafik 2. 8 Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Wonosobo Tahun

2015-2019 (Ribu Jiwa) ... 20 Grafik 2. 9 Perkembangan Angka Kemiskinan Kabupaten Wonosobo Tahun

2015-2019 ... 21 Grafik 2. 10 Posisi Relatif Angka Kemiskinan Kabupaten/Kota Wilayah Eks

Karesidenan Kedu Terhadap Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019 ... 22 Grafik 2. 11 Angka Kemiskinan Kabupaten/ Kota Wilayah Eks Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019 ... 22 Grafik 2. 12 Garis Kemiskinan Kabupaten/ Kota Wilayah Eks Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019 ... 23 Grafik 2. 13 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 ... 24 Grafik 2. 14 Posisi Relatif Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Kabupaten/Kota

Wilayah Eks Karesidenan Kedu Terhadap Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019 ... 25 Grafik 2. 15 Perbandingan Indeks Kedalaman Kemiskinan dengan Indeks

Keparahan Kemiskinan (P2) Kabupaten Wonosobo 2015-2019 ... 26 Tabel 2. 1 Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 menurut Lapangan Usaha

di Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (Milyar Rupiah) ... 8 Tabel 2. 2 Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha di

Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (Milyar Rupiah) ... 9 Tabel 2. 3 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha

di Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (%) ... 11 Tabel 2. 4 Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut

Lapangan Usaha di Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (%) ... 12 Tabel 2. 5 PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Pengeluaran Kabupaten

(5)

Tabel 2. 6 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Kabupaten

WonosoboTahun 2015 - 2019 (Milyar Rupiah) ... 14 Tabel 2. 7 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran

Kabupaten Wonosobo Tahun 2015 - 2019 (%) ... 14 Tabel 2. 8 Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut

Pengeluaran Kabupaten WonosoboTahun 2015 - 2019 (%) ... 15 Tabel 2. 9 Produk Domestik Reginal Bruto dan PDRB Perkapita Kabupaten

Wonosobo 2014-2019 ... 16 Tabel 2. 10 Jumlah Penduduk Miskin di Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019

(Ribu Jiwa) ... 21 Tabel 2. 11 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Kabupaten/ Kota Wilayah Eks

Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019 ... 26 Tabel 3. 1 Proyeksi Indikator Ekonomi Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun 2020 dan tahun 2021 ... 30 Tabel 4. 1 Target Pendapatan Tahun Anggaran 2021 ... 33 Tabel 4. 2 Proyeksi Pendapatan Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun 2021 ... 35 Tabel 4. 3 Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Wonosobo APBD Induk Tahun

2020, Rencana Perubahan Tahun 2020 dan Proyeksi Tahun 2021 (Rp) ... 38 Tabel 4. 4 Proyeksi Belanja Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun 2021 ... 39 Tabel 4. 5 Sasaran dan Target Indikator Kinerja Utama Pemerintah Kabupaten

Wonosobo Tahun 2021 ... 55 Tabel 4. 6 Realisasi dan Proyeksi Pembiayaan Daerah Kabupaten Wonosobo

(6)

BAB I

PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

Kebijakan Umum APBD (KUA) adalah dokumen yang memuat kebijakan pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun. KUA Kabupaten Wonosobo Tahun 2021 disusun dengan mendasarkan pada Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Wonosobo Tahun 2021 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 29 Tahun 2020 tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun 2021.

RKPD Kabupaten Wonosobo Tahun 2021 disusun melalui beberapa pendekatan perencanaan yaitu teknokratis, partisipatif, politis, atas-bawah (topdown) dan atas-bawah-atas (bottom up) melalui proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Wonosobo. RKPD disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan. Pembangunan daerah didasarkan pada perencanaan yang bertumpu pada penetapan prioritas pembangunan berbasiskan pada keinginan/aspirasi rakyat.

Sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah maka KUA PPAS menjadi pedoman dalam penyusunan APBD. KUA Kabupaten Wonosobo Tahun 2021 memuat kondisi ekonomi makro daerah, asumsi penyusunan APBD, kebijakan pendapatan daerah, kebijakan belanja daerah, kebijakan pembiayaan daerah, dan strategi pencapaiannya. Strategi pencapaian memuat langkah-langkah konkrit dalam mencapai target dan selanjutnya KUA tahun 2021 dituangkan dalam rancangan prioritas plafon anggaran sementara (PPAS) tahun 2021 yang disusun dengan tahapan: a) menentukan skala prioritas pembangunan daerah; b) menentukan prioritas program untuk masing-masing urusan; dan c) menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program/kegiatan.

Tema yang diangkat pada RKPD Kabupaten Wonosobo Tahun 2021 yaitu: “Pemulihan Kesejahteraan dan Kemandirian Daerah”.

(7)

I.2 Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2021 adalah :

1. Menjamin konsistensi antara hasil perencanaan yang sudah ditetapkan dalam RKPD dengan penganggaran.

2. Mewujudkan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumberdaya dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Wonosobo melalui komunikasi yang berkelanjutan dan berkualitas antara eksekutif dan legislatif.

Tujuan penyusunan Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2021 adalah :

1. Sebagai pedoman dan panduan untuk penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara ( PPAS ) Tahun Anggaran 2021.

2. Sebagai dasar dan acuan penyusunan RKA-SKPD dan penyusunan Rancangan APBD Tahun 2021.

I.3 Landasan Hukum

KUA Tahun Anggaran 2021 disusun berdasarkan pada:

1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan

Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang

Pemeriksaan, Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); 5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025

(8)

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 8. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah;

14. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 106) 15. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang

Pengelolaan Keuangan Daerah;

16. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2020 tentang Standar Harga Satuan Regional;

17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 450), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber

(9)

dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 540);

18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Raperda Tentang RPJPD dan RPJMD, Serta Tata Cara Perubahan RPJPD, RPJMD, dan RKPD;

20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 70 Tahun 2019 tentang Sistem Informasi Pembangunan Daerah;

21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 90 Tahun 2019 tentang Klasifikasi, Kodefikasi, Dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah;

22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 Tahun 2020 tentang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2021;

23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2021

24. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 Nomor 3 Seri E Nomor 3,Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Seri E Nomor 3); 25. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018-2023;

26. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 13 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Wonosobo (Lembaran Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun 2008 Nomor 2); 27. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 14 Tahun 2007

tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 17 Tahun 2003 tentang Dana Cadangan;

28. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kabupaten Wonosobo; 29. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 1 Tahun 2010

tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Wonosobo Tahun 2005 – 2025;

30. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah;

31. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 10 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun 2016-2021;

(10)

32. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 6 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peratutan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten WonosoboPeraturan Daerah Kabupaten Wonosobo Nomor 12 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah;

33. Peraturan Bupati Wonosobo Nomor 29 Tahun 2020 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun 2021.

(11)

BAB II

KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

Kerangka Ekonomi Makro Daerah dalam Kebijakan Umum APBD Tahun 2021 memberikan gambaran mengenai perkembangan ekonomi daerah meliputi pertumbuhan ekonomi, PDRB, inflasi dan tenaga kerja. Selain itu juga memberikan gambaran mengenai rencana target makro ekonomi daerah tahun 2021 yang meliputi perkiraan pertumbuhan ekonomi, perkiraan laju inflasi, perkiraan PDRB harga berlaku dan harga konstan.

2.1 Perkembangan Indikator Makro Ekonomi Daerah 2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian Kabupaten Wonosobo selama kurun waktu 2015-2019 mengalami fluktuatif dan cenderung meningkat, pada tahun 2015 Kabupaten Wonosobo tumbuh sebesar 4,67 persen dan meningkat di tahun 2016 menjadi 5,36 persen. Akan tetapi di tahun 2017 menurun menjadi 4,14 persen kemudian meningkat kembali di tahun 2018 menjadi sebesar 5,06 persen serta 5,61 persen di tahun 2019. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonosobo tahun 2019 ini berada di atas pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 5,41 persen dan nasional yang tumbuh sebesar 5,02 persen.

Grafik 2. 1 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah dan Nasional Tahun 2015-2019 (%) (Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo dan BPS Provinsi Jawa Tengah, 2020)

Apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Kabupaten se-eks Karesidenan Kedu, perekonomian Kabupaten Wonosobo menunjukkan peningkatan yang signifikan dimana pada tahun 2015, 2017 dan 2018 selalu berada di peringkat yang terendah sedangkan di tahun 2019 menduduki urutan teratas diikuti

(12)

Kabupaten Kebumen, Purworejo, Kota Magelang, Magelang dan Temanggung.

Grafik 2. 2 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota se-Eks Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019 (%)

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo dan BPS Provinsi Jawa Tengah, 2020 2.1.2 Pendapatan Domestik Regional Bruto

Dilihat dari nilai PDRB, dalam rentang waktu 2015-2019 nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) maupun PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) senantiasa mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 PDRB ADHK Kabupaten Wonosobo sebesar Rp.11.334.080,04 juta meningkat di tahun 2019 menjadi Rp,13.798.836,28 juta atau tumbuh sebesar 21,75%. Demikian pula untuk PDRB ADHB pada tahun 2015 sebesar Rp.14.136.660,57 juta meningkat di tahun 2019 menjadi Rp.18.854.448,71 juta atau 33,37%.

(13)

Tabel 2. 1 Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (Milyar

Rupiah) No Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019** A. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 3.617,58 3.815,19 3.817,53 3.805,53 3.931,80 B. Pertambangan dan Penggalian 102,69 105,3 109,52 112,51 125,76 C. Industri Pengolahan 1.879,37 1.953,37 2.047,52 2.181,44 2.336,43 D. Pengadaan Listrik dan Gas 4,55 4,65 4,73 4,82 5,03 E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 13,77 14,08 14,76 15,5 16,23 F. Konstruksi 701,67 749,91 805,57 860,88 923,51 G. Perdagangan Besar dan eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 2.040,78 2.134,76 2.256,32 2.379,58 2.538,71 H. Transportasi dan Pergudangan 642,64 689,6 731,1 782,39 846,32 I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 366,63 380,6 397,63 418,38 456,83 J. Informasi dan Komunikasi 160,32 172,03 200,56 231,43 268,74 K. Jasa Keuangan dan asuransi 321,23 348,94 370,16 388,46 411,33 L. Real Estate 190,23 201,2 212,39 223,66 239,58 M,N Jasa Perusahaan 26,34 28,88 31,6 34,23 37,76 0 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 287,16 293,3 300,74 312,99 321,54

(14)

No Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019** P Jasa Pendidikan 595,95 635,36 679,26 729,06 785,22 Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 140,86 154,55 168,45 183,71 201,16

R,S,T,U Jasa Lainnya 242,3 259,45 288,2 319,93 352,87

PDRB 11.334,08 11.941,20 12.435,05 13.065,84 13.798,84 Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, 2020

Keterangan : *) Angka sementara; **) Angka sangat sementara

Tabel 2. 2 Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (Milyar Rupiah)

Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019** A. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 4.508,01 5.026,55 5.021,61 5.284,09 5.462,72 B. Pertambangan dan Penggalian 133,04 143,28 154,96 162,9 185,2 C. Industri Pengolahan 2.424,23 2.628,43 2.824,02 3.082,82 3.353,65 D. Pengadaan Listrik dan Gas 4,8 4,93 5,44 5,76 6,02 E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 15,11 15,77 16,61 17,53 18,99 F. Konstruksi 892,61 972,75 1.067,20 1.180,74 1.296,56 G. Perdagangan Besar dan eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 2.360,73 2.531,52 2.731,29 2.938,67 3.240,97 H. Transportasi dan Pergudangan 718,91 781,55 841,19 907,22 998,99

(15)

Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019** I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 464,95 492,66 520,35 551,63 611,46 J. Informasi dan Komunikasi 148,22 159,2 193,72 223,46 263,39 K. Jasa Keuangan dan asuransi 426,75 487,41 527,26 570,16 617,03 L. Real Estate 212,05 228,21 247,03 266,3 290,27 M,N Jasa Perusahaan 33,28 37,98 43,12 47,86 54,09 0 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 374,46 403,29 427,12 449,85 468,79 P Jasa Pendidikan 842,31 932,14 1.039,87 1.142,08 1.247,97 Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 191,09 211,45 233,5 258,02 286,9

R,S,T,U Jasa Lainnya 286,2 319,67 360,81 404,16 451,45

PDRB 14.136,66 15.367,78 16,255.10 17.493,24 18.854,45

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, 2020 Keterangan :

*) Angka sementara;

**) Angka sangat sementara

Sektor pendukung utama perekonomian Kabupaten Wonosobo pada tahun 2019 sebagian besar berasal dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang memberikan kontribusi sebesar 28,97 persen disusul sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 17,79 persen serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 17,19 persen. Kontribusi sektor industri dan perdagangan cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sedangkan untuk sektor pertanian kontribusinya cenderung menurun. Hal ini menunjukkan ada peralihan kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.

(16)

Tabel 2. 3 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (%)

Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019**

A. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 32,6 32,71 30,89 30,21 28,97

B. Pertambangan dan Penggalian 0,94 0,93 0,95 0,93 0,98

C. Industri Pengolahan 17,15 17,1 17,37 17,62 17,79

D. Pengadaan Listrik dan Gas 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03

E.

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

0,11 0,1 0,1 0,1 0,1

F. Konstruksi 6,31 6,33 6,57 6,75 6,88

G.

Perdagangan Besar dan eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

16,7 16,47 16,8 16,8 17,19

H. Transportasi dan Pergudangan 5,09 5,09 5,17 5,19 5,3

I. Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum 3,29 3,21 3,2 3,15 3,24

J. Informasi dan Komunikasi 1,05 1,04 1,19 1,28 1,4

K. Jasa Keuangan dan asuransi 3,02 3,11 3,24 3,26 3,27

L. Real Estate 1,5 1,48 1,52 1,52 1,54 M,N Jasa Perusahaan 0,24 0,25 0,27 0,27 0,29 0 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

2,65 2,62 2,63 2,57 2,49

P Jasa Pendidikan 5,96 6,07 6,4 6,53 6,62

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,35 1,38 1,44 1,47 1,52

R,S,T,U Jasa Lainnya 2,02 2,08 2,22 2,31 2,39

PDRB 100 100 100 100 100

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, 2020

Keterangan : *) Angka sementara;

**) Angka sangat sementara

Meskipun sektor pertanian, kehutanan dan perikanan memiliki kontribusi tertinggi dari total PDRB namun laju pertumbuhannya paling rendah di antara sektor lainnya yaitu sebesar 1,16 persen. Sektor yang pertumbuhannya tinggi yaitu informasi dan komunikasi sebesar 16,13 persen, disusul pertambangan dan penggalian sebesar 11,77 persen, jasa lainnya sebesar 10,30 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial

(17)

sebesar 9,50, penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,19 serta sektor tersier lainnya yang pertumbuhannya cukup tinggi dan selalu meningkat yang turut menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Wonosobo.

Tabel 2. 4 Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (%)

Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019** A. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 2,82 5,46 0,06 1,82 1,16 B. Pertambangan dan Penggalian 0,75 2,54 4,01 2,73 11,77 C. Industri Pengolahan 5,38 3,94 4,82 6,54 7,1 D. Pengadaan

Listrik dan Gas 3,12 2,36 1,67 1,92 4,26

E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 2,11 2,24 4,83 5,02 4,73 F. Konstruksi 6,37 6,88 7,42 6,87 7,28 G. Perdagangan Besar dan eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 4,21 4,61 5,69 5,46 6,69 H. Transportasi dan Pergudangan 7,28 7,31 3,02 7,02 8,17 I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 7,44 3,81 4,47 5,22 9,19 J. Informasi dan Komunikasi 9,42 7,31 16,58 15,39 16,13 K. Jasa Keuangan dan asuransi 7,05 8,63 6,08 4,95 5,89 L. Real Estate 7,54 5,76 5,56 5,31 7,12 M,N Jasa Perusahaan 9,84 9,62 9,41 8,33 7,7 0 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 5,25 2,14 2,54 4,07 2,73 P Jasa Pendidikan 6,15 6,61 6,91 7,33 7,7

(18)

Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019** Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7,08 9,73 8,99 9,06 9,5

R,S,T,U Jasa Lainnya 3,05 7,08 11,08 11,01 10,3

PDRB 4,67 5,36 4,14 5,06 5,61

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, 2020

Keterangan : *) Angka sementara;

**) Angka sangat sementara

Selain PDRB berdasarkan lapangan usaha, kinerja perekonomian daerah juga dapat dilihat dari PDRB berdasarkan penggunaan/pengeluaran. Nilai PDRB ADHK maupun ADHB Kabupaten Wonosobo menurut pengeluaran selama tahun 2015-2019 selalu didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga dengan tren yang semakin meningkat. PDRB ADHK menurut pengeluaran pada tahun 2015 sebesar Rp8.608,24 milyar meningkat di tahun 2019 menjadi Rp10.180,33 milyar. Demikian pula PDRB ADHB menurut pengeluaran pada tahun 2015 sebesar Rp11.051,84 meningkat di tahun 2019 menjadi Rp14.536,94. Komponen lainnya yang cukup besar memberikan peranan terhadap PDRB Kabupaten Wonosobo Pembentukan Modal Tetap Bruto.

Tabel 2. 5 PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Pengeluaran Kabupaten Wonosobo Tahun 2015 - 2019 (Milyar Rupiah)

Uraian 2015 2016 2017 2018*) 2019**) Pengeluaran konsumsi Rumah Tangga 8.608,24 8.960,57 9.334,43 9.724,29 10.180,33 Pengeluaran Konsumsi LNPRT 199,44 197,93 202,8 214,25 239,46 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 947,62 926,67 933,16 975,7 991,15 Pembentukan Modal Tetap Bruto 2.059,12 2.189,20 2.318,25 2.468,51 2.586,13 Perubahan Inventori 150,69 177,94 172,46 159,08 169,21 Net Ekspor Barang

dan Jasa -631,03 -511,12 -525,05 -475,99 -367,46 PDRB 11.334,08 11.941,20 12.436,05 13.065,84 13.798,84

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, 2020

Keterangan : *) Angka sementara;

(19)

Tabel 2. 6 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Kabupaten WonosoboTahun 2015 - 2019 (Milyar Rupiah)

Uraian 2015 2016 2017 2018*) 2019**) Pengeluaran konsumsi Rumah Tangga 11.051,84 11.84,17 12.631,92 13.554,66 14.536,94 Pengeluaran Konsumsi LNPRT 272,06 274,14 297,63 320,97 367,31 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 1.337,88 1.357,23 1.449,00 1.538,95 1.596,94 Pembentukan Modal Tetap Bruto 2.658,54 2.885,81 3.169,74 3.531,91 3.848,42 Perubahan Inventori 315,19 170 217,06 313,04 298,71 Net Ekspor Barang

dan Jasa -1.498,85 -1.164,58 -1.510,24 -1.766,29 -1.793,87 PDRB 14.136,66 15.367,78 16.255,10 17.493,24 18.854,45 Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, 2020

Keterangan : *) Angka sementara;

**) Angka sangat sementara

Kontribusi pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang terbesar perekonomian Kabupaten Wonosobo pada tahun 2019 dengan kontribusi sebesar 77,10 persen. Disusul PMTB dengan kontribusi sebesar 20,41 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 8,47 persen. Selama lima tahun terakhir, kecenderungan konsumsi masyarakat mengalami penurunan yaitu dari 78,18 persen di tahun 2015 menurun di tahun 2019 menjadi 77,10 persen. Namun pada Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) yang menggambarkan perubahan jumlah nilai tambah atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh Kabupaten Wonosobo cenderung mengalami peningkatan yaitu sebesar 18,81 persen di tahun 2015 meningkat di tahun 2019 menjadi 20,41 persen. Peningkatan PMTB ini menunjukkan intensitas perekonomian mengalami kenaikan yang ditandai oleh peningkatan nilai barang/jasa.

Tabel 2. 7 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Kabupaten Wonosobo Tahun 2015 - 2019 (%)

Uraian 2015 2016 2017 2018*) 2019**) Pengeluaran konsumsi Rumah Tangga 78,18 77,08 77,71 77,49 77,1 Pengeluaran Konsumsi LNPRT 1,92 1,78 1,83 1,83 1,95

(20)

Uraian 2015 2016 2017 2018*) 2019**) Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 9,46 8,83 8,91 8,8 8,47 Pembentukan Modal Tetap Bruto 18,81 18,78 19,5 20,19 20,41 Perubahan Inventori 2,23 1,11 1,34 1,79 1,58 Net Ekspor Barang dan Jasa -10,6 -7,58 -9,29 -10,1 -9,51 PDRB 100 100 100 100 100

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, 2020 Keterangan :

*) Angka sementara; **) Angka sangat sementara

Dilihat dari pertumbuhannya, di tahun 2019 konsumsi LNPRT memiliki pertumbuhan tertinggi dan menunjukkan tren yang meningkat yaitu 11,77 persen, disusul PMTB dengan pertumbuhan 4,76 persen, konsumsi rumah tangga 4,68 persen dan konsumsi pemerintah dengan pertumbuhan 1,58 persen.

Tabel 2. 8 Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Pengeluaran Kabupaten WonosoboTahun 2015 - 2019 (%)

Uraian 2015 2016 2017 2018*) 2019**) Pengeluaran konsumsi Rumah Tangga 3,83 4,09 4,17 4,18 4,68 Pengeluaran Konsumsi LNPRT 1,66 -0,76 2,46 5,65 11,77 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 4,1 -2,21 0,7 4,56 1,58 Pembentukan

Modal Tetap Bruto 5,99 6,32 5,89 6,48 4,76

Perubahan

Inventori - - - - -

Net Ekspor Barang

dan Jasa - - - - -

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, 2020

Keterangan : *) Angka sementara;

(21)

2.1.2 PDRB per Kapita

Salah satu indikator tingkat kemakmuran penduduk di suatu daerah/wilayah dapat dilihat dari nilai PDRB per kapita. Besar kecilnya jumlah penduduk akan mempengaruhi nilai PDRB per kapita, sedangkan besar kecilnya nilai PDRB sangat tergantung pada potensi sumber daya alam dan faktor-faktor produksi yang terdapat di daerah tersebut. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai PDRB per kepala atau per satu orang penduduk.

Tabel 2. 9 Produk Domestik Reginal Bruto dan PDRB Perkapita Kabupaten Wonosobo 2014-2019

Tahun 2014 2015 2016 2017* 2018 2019

Nilai PDRB (dalam Milyar)

ADHB 13.001,09 14.136,66 15.367,78 16.211,67 17.449,69 18.854,44 ADHK 10.828,17 11.334,08 11.941,19 12.405,05 13.017,63 13.798,83

PDRB Per Kapita (dalam ribuan)

ADHB 16.813 18.191 19.685 20.67 22.163 23,85 ADHK 14.003 14.585 15.296 15,82 16.534 17,46 Pertumbuhan PDRB per Kapita 4,25 4,16 4,98 3,43 4,5 5,61 Jumlah penduduk 773.280 777.116 780.667 784.091 787.347 790.490 Pertumbuhan Jumlah Penduduk 0,52 0,5 0,46 0,44 0,42 0,4 Sumber: BPS, 2020

PDRB perkapita penduduk Kabupaten Wonosobo rata-rata mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2018. Kenaikan PDRB perkapita ini dipengaruhi oleh menurunnya laju pertumbuhan penduduk yang selama 5 tahun terakhir rata- rata 2% per tahun. Disamping itu PDRB juga secara signifikan mengalami kenaikan yang berarti meskipun tidak mampu menunjukkan besarnya kesenjangan, namun angka PDRB riil per kapita dapat menjadi indikator yang menunjukan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum.

2.1.3 Inflasi

Secara sederhana inflasi diartikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Laju inflasi adalah kenaikan atau penurunan inflasi dari periode ke periode atau dari tahun ke tahun. Perkembangan laju inflasi di Kabupaten Wonosobo selama 2014-2018 dapat dilihat pada Grafik 2.3.

(22)

Grafik 2. 3 Laju Inflasi Kabupaten Wonosobo 2015-2019

Laju inflasi di Kabupaten Wonosbo selama 5 tahun terakhir fluktuatif namun cenderung menurun. Pada tahun 2019, laju inflasi mengalami penurunan yang cukup signifikan atau menurun 1,25 poin dibandingkan tahun 2018. Komoditas penyumbang inflasi terbesar pada tahun 2019 adalah pada kelompok komoditas bawang merah dan telur ayam ras.

Grafik 2. 4 Perbandingan Laju Inflasi Kabupaten Wonosobo dengan Provinsi dan Nasional Tahun 2015-2019

(23)

Dibandingkan dengan laju inflasi provinsi Jawa Tengah dan Nasional, laju inflasi di Kabupaten Wonosobo selama kurun waktu 2015-2018 cenderung lebih tinggi, namun pada tahun 2019 laju inflasi turun menjadi 2,28 lebih rendah dibandingkan provinsi dan nasional. Penurunan laju inflasi di Kabupaten Wonosobo tahun 2019 sebesar 1,24% dibandingkan tahun 2018 juga berpengaruh terhadap posisi kinerja yang lebih baik dibandingkan provinsi dan nasional. Dengan demikian, kinerja penurunan laju inflasi memiliki relevansi terhadap pergerakan laju inflasi provinsi dan nasional.

2.1.4 Ketenagakerjaan

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Wonosobo memiliki tren yang cenderung menurun dari tahun 2015-2019. Berdasarkan data dari tahun 2015-2019, TPT tertinggi tercatat pada tahun 2016 yang diproyeksikan memiliki nilai sebesar 5,63%. TPT tersebut kemudian turun pada tahun 2017 menjadi 4,18%. Tingkat Penggangguran Terbuka Kabupaten Wonosobo pada tahun 2019 lebih rendah dibanding Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi sebesar 4,49%.

Sumber: BPS, 2020

Grafik 2. 5 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019

(24)

Sumber: BPS, 2020

Grafik 2. 6 Jumlah Penggangguran berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2015-2019 Kabupaten Wonosobo

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Wonosobo memiliki tren yang cenderung menurun dari tahun 2015-2019. Pada tahun 2019, TPT naik sebesar 3,47 dengan dominasi penganggur pada tingkat pendidikan SD, tidak tamat SD dan bahkan belum pernah sekolah sebesar 6.113 atau 41,5% dari jumlah penganggur di Kabupaten Wonosobo.

Sumber: BPS, 2020

Grafik 2. 7 Jumlah Penduduk Bekerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2015-2019 Kabupaten

Wonosobo

Meskipun TPT cenderung rendah, namun dari 409.984 penduduk yang bekerja, 66,7 % merupakan penduduk bekerja dengan tingkat pendidikan SD atau sederajat, tidak tamat SD, dan bahkan tidak pernah sekolah.

(25)

2.1.5 Kemiskinan

Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Oleh sebab itu, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Kemiskinan juga dapat dilihat menggunakan indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2). Indeks Kedalamam Kemiskinan (P1) yaitu ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Jika semakin tinggi nilai indeks, maka semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

a. Jumlah Penduduk Miskin

Pada tahun 2015 jumlah penduduk miskin di Wonosobo sebanyak 166,4 ribu jiwa dan pada tahun 2019 turun hingga menjadi 131,3 ribu jiwa.

Grafik 2. 8 Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (Ribu Jiwa)

Perkembangan posisi relatif jumlah penduduk miskin Kabupaten Wonosobo jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Karesidenan Kedu merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk miskin ke 3 tertinggi di Karesidenan Kedu, lebih rendah dari Kabupaten Kebumen dan lebih tinggi dari Kabupaten Purworejo, secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2.10.

(26)

Tabel 2. 10 Jumlah Penduduk Miskin di Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019 (Ribu Jiwa)

No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Miskin (ribu jiwa)

2015 2016 2017 2018 2019 1 Kabupaten Magelang 162,4 158,9 157,2 143,4 137,4 2 Kota Magelang 10,9 10,6 10,6 9,6 9,1 3 Kabupaten Purworejo 101,2 99,1 98,6 83,5 82,2 4 Kabupaten Temanggung 87,5 87,1 86,8 75,4 72,6 5 Kabupaten Kebumen 241,9 235,9 233,4 208,7 201,3 6 Kabupaten Wonosobo 166,4 160,1 159,2 138,3 131,3 Provinsi Jawa Tengah 4577 4506,9 4450,7 3897,2 3743,23

Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah (2020).

b. Presentase Penduduk Miskin

Presentase Penduduk Miskin adalah persentase penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan (GK).

Grafik 2. 9 Perkembangan Angka Kemiskinan Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019

(27)

Grafik 2. 10 Posisi Relatif Angka Kemiskinan Kabupaten/Kota Wilayah Eks Karesidenan Kedu Terhadap Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019

Dibandingkan dengan angka kemiskinan Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Kebumen, Purworejo dan Wonosobo masih diatas rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang telah mencapai 10,8% pada tahun 2019.

Grafik 2. 11 Angka Kemiskinan Kabupaten/ Kota Wilayah Eks Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019

(28)

Perkembangan angka kemiskinan di kabupaten/kota wilayah eks Karesidenan Kedu cenderung menurun selama 5 tahun terakhir. Kinerja penurunan tertinggi adalah Kabupaten Wonosobo dengan penurunan sebesar 4,82% selama kurun waktu 2015-2019. Tingginya kinerja penurunan ini berefek dengan meningkatnya status peringkat kemiskinan dari peringkat 35 menjadi peringkat 34 di tingkat Provinsi Jawa Tengah menggeser posisi Kabupaten Kebumen yang turun peringkat menjadi 35.

c. Garis Kemiskinan

Garis Kemiskinan merupakan representasi dari jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan 2100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan. GK yang digunakan oleh BPS terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) yang terdiri atas 52 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan, dimana GK merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan dan Garis Kemiskinan Non Makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran konsumsi per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin. Perkembangan Garis Kemiskinan Kabupaten Wonosobo pada periode Tahun 2015 sampai dengan 2019 dapat dilihat pada Grafik 2.11.

Grafik 2. 12 Garis Kemiskinan Kabupaten/ Kota Wilayah Eks Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019

(29)

Perkembangan Garis Kemiskinan Kabupaten Wonosobo pada periode tahun 2015 sampai dengan 2019 terus mengalami kenaikan. Garis kemiskinan di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2019 mengalami peningkatan 5,36 persen dibanding dengan tahun 2018, yaitu menjadi sebesar Rp340.827. Garis Kemiskinan Kabupaten Wonosobo jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Karesidenan Kedu merupakan kabupaten dengan Garis Kemiskinan ke 4 tertinggi di Karesidenan Kedu, lebih rendah dari Kabupaten Purworejo dan lebih tinggi dari Kabupaten Magelang.

d. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

Indeks kedalaman kemiskinan (P1) menggambarkan sejauh mana pendapatan kelompok penduduk miskin menyimpang dari garis kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan (P2) menggambarkan ketimpangan pendapatan di antara penduduk miskin.

Grafik 2. 13 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019

Indeks kedalaman kemiskinan (P1) Kabupaten Wonosobo dalam kurun waktu 2015-2019 mengalami penurunan dari 4,74 pada tahun 2015 menjadi 2,44 pada tahun 2019. Meskipun mengalami penurunan, gap

(30)

antara garis kemiskinan dengan rata- rata pengeluaran penduduk miskin masih tinggi dan memerlukan usaha yang keras untuk dapat menaikan rata-rata pengeluaran penduduk miskin melampaui garis kemiskinan.

Grafik 2. 14 Posisi Relatif Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Kabupaten/Kota Wilayah Eks Karesidenan Kedu Terhadap Provinsi

Jawa Tengah Tahun 2019

Meskipun mengalami penurunan, indeks kedalaman kemiskinan Kabupaten Wonosobo pada tahun 2019 masih lebih tinggi 0,91 poin dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Tengah. Jika dibandingkan dengan 5 kabupaten/kota eks karesidenan Kedu, Kabupaten Kebumen memiliki indeks kedalaman kemiskinan tertinggi sebesar 2,58 dengan selisih 0,13 dibandingkan Kabupaten Wonosobo.

e. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) merupakan ukuran untuk mengetahui penyebaran ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin, semakin tinggi nilai indeks semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Indeks Keparahan Kemiskinan Kabupaten Wonosobo dari tahun ke tahun mengalami penurunan dari 1,6 pada tahun 2015 menjadi 0,46 pada tahun 2019. Secara rinci dapat dilihat pada Grafik 2.15.

(31)

Grafik 2. 15 Perbandingan Indeks Kedalaman Kemiskinan dengan

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Kabupaten Wonosobo 2015-2019

Perkembangan indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan selama 5 tahun terakhir relatif menurun. Indeks keparahan kemiskinan di Kabupaten Wonosobo mendekati angka nol yang artinya semakin rendah kesenjangan pendapatan antar penduduk miskin. Dengan demikian dapat disimpulkan, turunnya angka kemiskinan di Kabupaten Wonosobo juga dibarengi dengan penurunan kesenjangan antar penduduk miskin dan semakin mendekatnya gap antara pendapatan penduduk miskin dengan garis kemiskinan.

Tabel 2. 11 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Kabupaten/ Kota Wilayah Eks Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019

No Kabupaten/Kota

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) (dalam persen) 2015 2016 2017 2018 2019 1 Kabupaten Magelang 0,32 0,44 0,31 0,34 0,17 2 Kota Magelang 0,31 0,23 0,32 0,21 0,19 3 Kabupaten Purworejo 0,63 0,76 0,54 0,36 0,1 4 Kabupaten Temanggung 0,47 0,39 0,43 0,29 0,05 5 Kabupaten Kebumen 1,19 1,11 0,99 0,55 0,65 6 Kabupaten Wonosobo 1,6 1,11 1,1 0,78 0,46 Provinsi Jawa Tengah 0,65 0,63 0,57 0,45 0,3

(32)

Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu kabupaten di Karesidenan Kedu yang memiliki Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang tinggi di Karesidenan Kedu, yakni lebih tinggi dari Kabupaten Magelang (0,17%) dan lebih rendah dari Kabupaten Kebumen (0,65%). Selain itu, Kabupaten Wonosobo juga masih berada di atas Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Provinsi Jawa Tengah (0,3).

(33)

BAB III

ASUMSI – ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH

TAHUN 2021

3.1 Asumsi Dasar Perekonomian Nasional dan Provinsi

Arah kebijakan ekonomi Kabupaten Wonosobo tidak terlepas dari situasi dan kondisi ekonomi global, nasional dan regional. Perkembangan ekonomi global di tahun 2019 masih menunjukkan perlambatan akibat ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China sehingga makin menekan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia. Pelemahan ekonomi global juga semakin memperlemah aktivitas manufaktur dan menekan harga komoditas termasuk harga minyak yang berdampak di berbagai negara termasuk Indonesia, sehingga beberapa negara melakukan kebijakan stimulus fiskal dan memperlonggar kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga.

Perlambatan ekonomi global tersebut, semakin diperparah dengan munculnya pandemi Covid-19 sejak 31 Desember 2019. Beberapa kebijakan ekonomi ekonomi dunia yang berdampak pada kebijakan ekonomi nasional maupun regional, diantarnya IMF (International Monetary Fund) melakukan penyesuaian proyeksi tahun 2020 dengan menurunkan proyeksi ekonomi global tahun 2020 dari 3,4 persen menjadi 3,3 persen. Sedangkan untuk tahun 2021 proyeksi pertumbuhan ekonomi diturunkan menjadi 3,4 persen dari target semula sebesar 3,6 persen. Prediksi melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dunia ini harus diantisipasi oleh semua pihak, termasuk pemerintahan daerah kabupaten Wonosobo. Hal tersebut akan berdampak pada melemahnya investasi, meningkatnya pengangguran, dan menurunnya produktivitas.

Melambatnya perekonomian global akan berdampak pada perekonomian nasional. Perekonomian Indonesia diperkirakan hanya akan tumbuh -0,4 s.d 2,5 persen di tahun 2020 di tengah pandemi Covid-19. Selain itu, pelemahan perdagangan ekspor-impor, investasi, dan sektor pariwisata mempengaruhi permintaan ekspor dan produksi industri dalam negeri. Melambatnya pertumbuhan ekonomi juga akan berpengaruh terhadap melemahkan daya beli masyarakat. Kebijakan Pemerintah untuk mengatasi hal tersebut diantaranya insentif pajak, restrukturisasi kredit, percepatan realisasi anggaran pemerintah, penurunan tarif daftar listrik dan membuka akses pasar ekspor.

Pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2021 diprediksi berkisar 4,5%-5,5% dengan tingkat inflasi secara nasional berkisar antara 3,0% dengan asumsi akan terjadi Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial khususnya pada

(34)

sector Industri, Pariwisata dan Investasi, Reformasi Sistem Kesehatan Nasional Reformasi Sistem Perlindungan Sosial dan Reformasi Sistem Ketahanan Bencana.

Sementara ekonomi regional di Provinsi Jawa Tengah juga menghadapi tekanan di beberapa aspek, diantaranya melemahnya perdagangan, menurunnya daya beli, serta melemahnya kinerja UMKM dan industri sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Hasil simulasi Bank Indonesia, proyeksi PDRB Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2020 hanya akan tumbuh di bawah 5 persen. Proyeksi ini masih sangat dinamis, tergantung seberapa masif penyebaran Covid-19 dan seberapa efektif upaya untuk mengantisipasi dampak ekonomi akibat Covid-19, didukung dengan penanganan melalui berbagai upaya refocusing pada program dan kegiatan yang mendukung penguatan perekonomian masyarakat. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada Tahun 2021 diharapkan telah pulih dari dampak pandemi Covid 19 yaitu pada angka 4,1-5,0%.

Pembangunan ekonomi Kabupaten Wonosobo tidak terlepas dari pembangunan ekonomi Jawa Tengah. Untuk mendukung percepatan pembangunan ekonomi Jawa Tengah, prioritas pembangunan ekonomi Kabupaten Wonosobo adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan arah kebijakan peningkatan kemandirian daerah dan pemulihan kondisi sosial ekonomi masyarakat akibat pandemi Corona Virus Disease 19 (Covid-19). Sedangkan sasaran pembangunan yang ingin dicapai adalah:

- Meningkatnya kapasitas dan daya saing ekonomi daerah (PDRB ADHB senilai Rp 19,51 trilyun), melalui penguatan pada sektor basis (pertanian yang didukung sektor lainnya) yang difokuskan pada peningkatan produktivitas dan kualitas sektor pertanian, peningkatan mutu dan pemulihan akses koperasi IKM/UMKM di pasar regional dan nasional, pemulihan dan pengembangan pariwisata berbasis agro-eco-culture

tourism yang didukung ekonomi kreatif serta pemulihan dan peningkatan

iklim investasi yang kondusif.

- Pulihnya ekonomi masyarakat terdampak Covid-19 yang difokuskan pada peningkatan daya beli masyarakat minimal sesuai kondisi sebelum pandemi Covid-19 (Pengeluaran Per Kapita disesuaikan Rp.10.870.000,00) melalui penguatan jaring pengaman sosial, pemulihan ekonomi sektor riil melalui pemberdayaan KUKM/IKM, fasilitasi kewirausahaan dan penguatan permodalan.

(35)

3.2 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah dan Rencana Target Ekonomi Makro Daerah Tahun 2021

3.2.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonosobo pada tahun 2020 diperkirakan akan mengalami penurunan dengan kisaran -2% sampai 1% disebabkan tekanan beberapa aspek, diantaranya melemahnya perdagangan, menurunnya daya beli masyarakat, melemahnya kinerja UMKM/IKM serta menurunnya investasi sebagai dampak pandemi Covid-19. Proyeksi ini masih sangat dinamis tergantung seberapa masif penyebaran Covid-19 dan seberapa efektif upaya untuk mengantisipasi dampak Covid-19 di Kabupaten Wonosobo.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonosobo pada tahun 2021 diharapkan telah pulih dari dampak pandemi Covid-19, dengan target optimis pada kisaran 3 sampai 4%, dengan didukung berbagai upaya refocusing program dan kegiatan pencegahan dan penanganan pandemi Covid-19 serta pemulihan ekonomi masyarakat berupa stimulus fiscal dalam jangka pendek sehingga akan meningkatkan daya beli dan konsumsi. Sedangkan inflasi Kabupaten Wonosobo pada tahun 2021 diprediksikan masih terkendali pada angka 3,0+1% melalui pasokan pangan lokal bagi masyarakat serta pemantapan sistem distribusi. Adanya kebijakan pembukaan wilayah untuk sektor pariwisata dan perdagangan pada pertengahan tahun 2020 telah mendorong perekonomian daerah. Tumbuhnya perekonomian daerah tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi aktivitas sektor industri dan investasi daerah yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan pengurangan pengangguran. Pada tahun 2021, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) diprediksi sebesar 3,8-4,8 persen atau mengalami penurunan sebesar 5-4 persen dibandingkan dengan tahun 2020.

Proyeksi indikator ekonomi Kabupaten Wonosobo pada tahun 2020 dan tahun 2021 selengkapnya disajikan pada tabel berikut.

Tabel 3. 1 Proyeksi Indikator Ekonomi Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun 2020 dan tahun 2021

No Indikator Target

Tahun 2020 Tahun 2021 1. PDRB :

Atas Dasar Harga Berlaku (Trilyun Rp) Atas Dasar Harga Konstan (Trilyun Rp)

18,63 13,49 19,51 13,99 2. Pertumbuhan Ekonomi (%) -2%-1% 3%-4% 3. Inflasi (%) 3,0+1 3,0+1

4. PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku

(Juta Rp) 17,01 17,57

5. Nilai Investasi PMA dan PMDN (Trilyun Rp) 0,7 2,20 6. Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 4,0-5,0 3,8-4,8

7. Kemiskinan (%) 16,7-17,0 15-16,5

(36)

BAB IV

KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

DAERAH

Pengelolaan keuangan daerah meliputi keseluruhan kegiatan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Pengaturan pada aspek perencanaan diarahkan agar seluruh proses penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) semaksimal mungkin dapat menunjukkan latar belakang pengambilan keputusan dalam penetapan arah kebijakan umum, skala prioritas dan penetapan alokasi, serta distribusi sumber daya dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

Daerah dapat mewujudkan pengelolaan keuangan secara efektif dan efisien, serta dapat mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, berdasarkan tiga pilar utama yaitu transparansi, akuntabilitas, dan partisipatif. Sedangkan tiga komponen penting dalam pengelolaan keuangan daerah yaitu pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah. Keuangan daerah dikelola dengan menganut asas tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat.

4.1 Pendapatan Daerah

4.1.1 Kebijakan Perencanaan Pendapatan Daerah

Dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, struktur pendapatan daerah tahun 2021 terdiri dari:

1. Pendapatan Asli Daerah a. Pajak Daerah

b. Retribusi Daerah

c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, merupakan penerimaan daerah atas hasil penyertaan modal.

d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah, terdiri dari: 1) Hasil penjualan BMD yang tidak dipisahkan.

2) Hasil pemanfaatan BMD yang tidak dipisahkan. 3) Hasil keja sama daerah.

4) Jasa giro.

5) Hasil pengelolaan dana bergulir. 6) Pendapatan bunga.

7) Penerimaan atas tuntutan ganti rugi keuangan daerah.

8) Penerimaan komisi, potongan atau bentuk lain sebagai akibat penjualan, tukar-menukar, hibah, asuransi, dan/atau

(37)

pengadaan barang dan jasa termasuk penerimaan atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan uang pada bank, penerimaan dari hasil pemanfaatan barang daerah atau dari kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah.

9) Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

10) Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan. 11) Pendapatan denda pajak daerah.

12) Pendapatan denda retribusi daerah. 13) Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan. 14) Pendapatan dari pengembalian.

15) Pendapatan dari BLUD.

16) Pendapatan lainnya seuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Pendapatan Transfer

a. Transfer Pemerintah Pusat 1) Dana Perimbangan

i) Dana Transfer Umum • DBH

• DAU

ii) Dana Transfer Khusus • DAK Fisik

• DAK Non Fisik

2) Dana Insentif Daerah merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu berdasarkan kriteria tertentu dengan tujuan untuk memberikan penghargaan atas perbaikan dan/atau pencapaian kinerja tertentu.

3) Dana Otonomi Khusus merupakan dana yang dialokasikan kepada daerah yang memiliki otonomi khusus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4) Dana Keistimewaan merupakan dana yang dialokasikan kepada Daerah istimewa sesuai dengan ketenuan peraturan perundang-undangan.

5) Dana Desa merupakan dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui APBD kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat. b. Transfer antar daerah

1) Pendapatan Bagi Hasil merupakan dana yang bersumber dari pendapatan daerah yang dialokasikan kepada daerah lain berdasarkan angka persentase tertentu sesuai dengan ketentuan perauran perundang-undangan.

2) Bantuan Keuangan merupakan dana yang diterima dari daerah lainnya baik dalam rangka kerja sama daerah, pemerataan

(38)

peningkatan kemampuan keuangan dan/atau tujuan tertentu lainnya, terdiri dari :

i) Bantuan keuangan dari daerah provinsi

ii) Bantuan keuangan dari daerah kabupaten/kota 3. Lain-lain Pendapatan Yang Sah

a. Hibah merupakan bantuan berupa uang, barang, dan/atau jasa yang berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah lain, masyarakat dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri yang tidak mengikat untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan rusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Dana Darurat merupakan dana yang berasal dari APBN yang diberikan kepada daerah pada tahap pasca bencana untuk menandai keerluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana yang tidak mampu ditanggulangi oleh daerah dengan menggunakan sumber APBD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. c. Lain-lain pendapatan sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan

4.1.2 Target Pendapatan Daerah.

Target Pendapatan Daerah dalam Rencana APBD Tahun Anggaran 2021 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. 1 Target Pendapatan Tahun Anggaran 2021

No Uraian

Tahun

2020*) 2021**)

1. Pendapatan Asli Daerah 224.697.826.714,- 218.084.530.419,-

1.1. Pajak daerah 41.799.500.000,- 35.535.000.000,- 1.2. Retribusi daerah 10.176.290.000,- 8.285.832.000,- 1.3. Hasil pengelolaan keuagan daerah yang dipisahkan 17.917.801.994,- 15.647.791.900,- 1.4. Lain-lain PAD yang sah 154.804.234.720,- 158.615.906.519,-

2. Dana Perimbangan 1.334.227.728.000- 1.313.253.267.818,-

2.1. Dana bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak 33.596.113.000,- 34.084.984.000,- 2.2. Dana alokasi umum 889.213.906.000,- 810.365.559.000,- 2.3. Dana alokasi khusus 411.417.709.000,- 547.878.574.818,-

3. Lain-lain Pendapatan yang Sah 455.898.451.000,- 388.922.495.000,-

3.1. Hibah 88.544.850.000,- 9.469.000.000,-

(39)

No Uraian

Tahun

2020*) 2021**)

3.3. Bantuan keuangan dari Provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya 0 0 3.4. Dana penyesuaian dan otonomi khusus (DID) 48.400.106.000,- 60.500.000.000,- 3.5. Pendapatan lain-lain (dana desa) 219.777.303.000,- 219.777.303.000,-

Jumlah Pendapatan Daerah (1+2+3) 1.935.748.155.714,- 1.999.336.143.237,- Sumber: Bappeda Kabupaten Wonosobo dan BPPKAD Kabupaten Wonosobo, 2020

Keterangan :

*) APBD Penetapan Tahun 2020 **) Proyeksi Tahun 2021

Tahun 2021 pendapatan daerah Kabupaten Wonosobo diproyeksikan sebesar Rp.1.999,33 milyar, yang bersumber dari PAD sebesar Rp.218,08 milyar, dana transfer sebesar Rp.1.771,78 milyar dan lan-lain pendapatan daerah yang sah sebesar Rp. 9,47 milyar. Kondisi perekonomian daerah tahun 2021 belum sepenuhnya membaik dibandingkan dengan kondisi awal tahun 2020 karena adanya Pandemi Covid-19 sejak bulan Maret 2020. Target pendapatan dana transfer pada tahun 2021 diprediksi sebesar Rp. 1.771,78 milyar. Pendapatan transfer pemerintah pusat diprediksi sebesar Rp. 1.672,61 milyar. Peningkatan pendapatan transfer pemerintah pusat diperoleh dari Dana Alokasi Khusus (DAK) meningkat menjadi Rp. 547,87 milyar. Pada penetapan 2021 ini, DAK diasumsikan sesuai dengan hasil entrian usulan pada aplikasi KRISNA DAK. Sedangkan Dana Insentif Daerah juga diasumsikan pada angka Rp 60,50 milyar sesuai dengan usulan.

Pendapatan transfer antar daerah tahun 2021 diprediksikan mengalami stagnasi, masih pada nilai Rp. 99,17 milyar. Angka tersebut berasal dari Bagi Hasil Pajak Provinsi. Sementara bantuan keuangan Provinsi baru bisa diprediksi setelah ada kebijakan dari provinsi.

Untuk lain-lain pendapatan daerah yang sah yang berasal dari pendapatan hibah diasumsikan sama dengan APBD penetapan tahun 2020 yaitu sebesar Rp.9,47 milyar.

Proyeksi pendapatan daerah Kabupaten Wonosobo tahun 2021 sesuai PP nomor 12 tahun 2019 sebagaimana tabel berikut.

(40)

Tabel 4. 2 Proyeksi Pendapatan Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun 2021 No Uraian 2021 1. PAD 218.084.530.419,- 1.1. Pajak Daerah 35.535.000.000,- 1.2. Retribusi Daerah 8.285.832.000,-

1.3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan

15.647.791.900,- 1.4. Lain-lain PAD yang sah 158.615.906.519,-

2. Pendapatan Transfer 1.771.782.612.818,-

2.1. Transfer Pemerintah Pusat 1.672.606.420.818,- - Dana perimbangan 1.392.329.117.818,- - Dana insentif daerah 60.500.000.000,-

- Dana otonomi khusus 0,-

- Dana keistimewaan 0,-

- Dana desa 219.777.303.000,-

2.2. Transfer Antar Daerah 99.176.192.000,- - Pendapatan bagi hasil 99.176.192.000,-

- Bantuan keuangan 0,-

3. Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah 9.469.000.000,-

3.1. Hibah 9.469.000.000,-

3.2. Dana darurat 0,-

3.3. Lain-lain pendapatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

0,- Jumlah Pendapatan Daerah (1+2+3) 1.999.336.143.237,- Sumber: Bappeda Kabupaten Wonosobo dan BPPKAD Kabupaten Wonosobo, 2020

4.1.3 Upaya-Upaya Pemerintah Daerah Dalam Mencapai Target

Kebijakan daerah dalam rangka peningkatan pendapatan daerah Kabupaten Wonosobo antara lain:

1. Intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan dengan peningkatan penggalian potensi sumber-sumber pendapatan baru yang memungkinkan untuk dioptimalkan, antara lain melalui :

a. Peningkatan investasi yang menyerap tenaga kerja dengan cara peningkatan efisiensi dan efektivitas pelayanan perijinan, promosi potensi investasi, peningkatan akses dan kualitas infrastruktur,

b. Pengelolaan BUMD secara profesional sehingga diharapkan mampu berdaya saing dan dapat meningkatkan deviden BUMD dalam upaya meningkatkan secara signifikan pendapatan daerah.

2. Meningkatkan sumber-sumber pendanaan pembangunan dari sumber non APBD kabupaten dengan menjalin

(41)

kerjasama/kemitraan baik dengan pemerintah pusat, provinsi, swasta dan dunia usaha, masyarakat, perguruan tinggi maupun lembaga/badan.

3. Pengembangan sistem pemungutan dan administrasi pendapatan daerah serta retribusi berbasis online.

4. Pemberdayaan dan pendayagunaan aset yang diarahkan pada peningkatan pendapatan dan mendukung prioritas pembangunan.

4.2 Belanja Daerah

4.2.1 Kebijakan Perencanaan Belanja Daerah

Struktur belanja daerah sampai dengan tahun 2020 disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan keuangan Daerah yang terdiri dari Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung. Untuk tahun 2021, struktur belanja daerah disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dengan tetap memperhatikan kebijakan belanja dalam RPJMD Kabupaten Wonosobo tahun 2016-2021. Struktur belanja daerah tahun 2021 sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 terdiri dari:

1. Belanja Operasi merupakan pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari Pemerintah Daerah yang memberi manfaat jangka pendek, meliputi :

a. Belanja Pegawai digunakan untuk menganggarkan kompensasi yang diberikan kepada Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, pimpinan/anggota DPRD, dan Pegawai ASN yang dianggarkan pada belanja SKPD bersangkutan serta ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. Belanja Barang dan Jasa digunakan untuk menganggarkan pengadaan barang/jasa yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (dua belas) bulan, termasuk barang/jasa yang akan diserahkan kepada masyarakat/pihak ketiga;

c. Belanja Bunga digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang berdasarkan perjanjian pinjaman;

d. Belanja Subsidi digunakan agar harga jual produksi atau jasa yang dihasilkan oleh badan usaha milik negara, BUMD dan/atau badan usaha milik swasta, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat;

e. Belanja Hibah diberikan kepada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah lainnya, badan usaha milik negara, BUMD, dan/atau badan dan lembaga, serta organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum Indonesia, yang secara spesifik telah

(42)

ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus setiap tahun anggaran, kecuali ditentukan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

f. Belanja Bantuan Sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan berupa uang dan/atau barang kepada individu, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang sifatnya tidak secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial, kecuali dalam keadaan tertentu dapat berkelanjutan.

2. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari 1 (satu) periode akuntansi yang memenuhi kriteria:

a. mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan; b. digunakan dalam kegiatan Pemerintahan Daerah; dan c. batas minimal kapitalisasi aset.

3. Belanja Tidak Terduga merupakan pengeluaran anggaran atas beban APBD untuk keadaan darurat termasuk keperluan mendesak serta pengembalian atas kelebihan pembayaran atas penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya. Penganggaran Belanja Tidak Terduga tersebut dianggarkan secara rasional untuk keadaan darurat yang meliputi:

a. bencana alam, bencana non-alam, bencana sosial dan/atau kejadian luar biasa;

b. pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan, dan/atau

c. kerusakan sarana/prasarana yang dapat mengganggu kegiatan pelayanan publik serta keadaan yang mendesak yang meliputi:

1)

kebutuhan daerah dalam rangka pelayanan dasar masyarakat yang anggarannya belum tersedia dalam tahun anggaran berjalan;

2)

belanja daerah yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib;

3)

pengeluaran daerah yang berada di luar kendali Pemerintah Daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya, serta amanat peraturan perundang-undangan; dan/atau

4)

pengeluaran daerah lainnya yang apabila ditunda akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi Pemerintah Daerah dan/atau masyarakat.

(43)

4. Belanja Transfer

Belanja transfer sebagaimana dimaksud dirinci atas jenis:

a. Belanja Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan tertentu APBN yang dialokasikan kepada Daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu dengan tujuan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah;

b. Belanja Bantuan Keuangan merupakan dana yang diterima dari Daerah lainnya baik dalam rangka kerja sama daerah, pemerataan peningkatan kemampuan keuangan, dan/atau tujuan tertentu lainnya.

Belanja daerah Kabupaten Wonosobo tahun 2021 diproyeksikan sebesar Rp.2.059,90 milyar terdiri dari belanja operasi sebesar Rp.1.299,43 milyar, belanja modal sebesar Rp.409,71 milyar, belanja tidak terduga sebesar Rp.5,00 milyar dan belanja transfer sebesar Rp. 345,77 milyar. Realisasi dan proyeksi belanja daerah Kabupaten Wonosobo disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4. 3 Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Wonosobo APBD Induk Tahun 2020, Rencana Perubahan Tahun 2020 dan Proyeksi Tahun 2021

(Rp)

No Uraian 2020*) 2021

1. Belanja Tidak Langsung 1.190.655.302.386 1.159.375.791.252 1.1. Belanja Pegawai 746.311.465.326 751.237.146.492 1.2. Belanja Bunga

1.3. Belanja Hibah 78.609.821.500 27.176.900.000 1.4. Belanja Bantuan Sosial 12.583.900.000 30.194.525.000

1.5.

Belanja Bagi Hasil Kepada Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa 5.197.579.000 4.382.083.200 1.6. Belanja Bantuan Keuangan kepada Kabupaten/Kota, Pemds, Prov lain & Parpol

342.952.536.560 341.385.136.560

1.7. Belanja Tidak Terduga 5.000.000.000 5.000.000.000 1.8. Belanja Subsidi

2. Belanja Langsung 864.690.332.984 900.528.108.605 2.1. Belanja pegawai 49.001.204.519 58.052.971.942 2.2. Belanja barang dan jasa 496.792.078.551 432,769,085,334 2.3. Belanja modal 318.897.049.914 409.706.051.329 Total Jumlah Belanja (1+2) 2.055.345.635.370 2.059.903.899.857 Sumber: Bappeda Kabupaten Wonosobo dan BPPKAD Kabupaten Wonosobo, 2020 Keterangan :

*) ABPD Penetapan Tahun 2020

Gambar

Grafik 2.  1 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Wonosobo,  Provinsi Jawa Tengah dan Nasional Tahun 2015-2019 (%)   (Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo dan BPS Provinsi Jawa Tengah, 2020)
Grafik 2.  2 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota se-Eks  Karesidenan Kedu Tahun 2015-2019 (%)
Tabel 2.  1 Nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 menurut  Lapangan Usaha di Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (Milyar
Tabel 2.  2 Nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan  Usaha di Kabupaten Wonosobo Tahun 2015-2019 (Milyar Rupiah)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dokumen Kebijakan Umum APBD (KUA) Kabupaten Pinrang Tahun Anggaran 2016 telah disusun melalui proses teknokratik dengan berpedoman pada Peraturan Menteri

KUA merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam rangkaian tahapan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) yang terdiri dari RKPD, Kebijakan Umum

1. Menangani bermacam perubahan asumsi dan proyeksi sebagaimana terdapat di dalam APBD Penetapan Tahun Angaran 2019, dalam rangka Penyusunan Perubahan APBD Tahun Anggaran

1) Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Perubahan APBD Tahun Anggaran 2021 ini akan menjadi dasar dalam penyusunan dokumen Perubahan Rencana Kerja dan

Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa Pemerintah Daerah menyusun Rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan

Penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBD (KUPA) Tahun 2015 merupakan amanat pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

Rancangan awal Kebijakan Umum APBD (KUA) Kota Tangerang Selatan Tahun Anggaran 2017 adalah salah satu dokumen perencanaan pembangunan yang disusun dalam rangka

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBD di pemerintah kabupaten Wonosobo adalah perencanaan anggaran, pelaksanaan anggaran, pengadaan