BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sejak kesehatan diketahui merupakan salah satu dari kebutuhan dasar dari setiap umat manusia, maka berbagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan telah banyak diselenggarakan. Salah satu dari upaya tersebut yang dinilai mempunyai peranan yang cukup penting adalah penyelenggara kesehatan. Adapun yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau bersama sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihakn kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, serta masyarakat.
Indonesia mempunyai kondisi geografis yang terdiri dari ribuan pulau, dan lautan, diantara pulau tersebut terdapat beberapa gunung berapi aktif yang bisa menyebabkan bencana dan gempa bumi. Berdasarkan data BNBD , jumlah kejadian bencana Desember 2014 sebanyak 257 kejadian dengan rincian : tanah longsor 111 , banjir 86 , putingbeliung 52, banjir dan tanah longsor 2, letusan gunung berapi 1.
Bnyaknya bencana yang terjadi mengingatkan berbagai pihak agar selalu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana, bebagai upaya sudah banyak dilakukan pemerintah dengan bekerjasama dengan akademisi dan lembaga lainnya. Semakin majunya perkembangan zaman akibat meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka cenderung meningkatnya interaksi antara manusia yang terdiri dari beanekaragam suku dan agama dan lingkungan serta ekonomi yang serba berubah dan kondisi demikian kemungkinan akan menimbulkan dampak yang merugikan terhadap kesehatan baik fisik maupun mental.
Salah satu cabang ilmu kesehatan/kedokteran yang mempelajari ( menangani ) membina individu/ sekelompok individu atau masyarakat terpajan dilingkungan yan menimbulkan dampak kesehatan adalah ilmu kesehatan matra.
Dalam pelaksaana kegiatannya : kesehatan matra telah diatur dalam undang-undang nomor 23 tahn 1992 tentang kesehatan sebagai upaya kesehatan yang diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal dalam lingkungan matra yang serba berubah.
Untuk menindaklanjuti undang undang tersebut, Departemen Kesehatan RI telah mensosialisasikan kesehatan matra denga membuat beberapa konsep pedoman/petunjuk khusus dan juga melaui seminar, rapat koordinasi dengan para pakar, dan pengelola program serta unit lintas sektor terkait.Salah satu misi untuk mencapai visi misi idonesia sehat adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan bermutu, merata, dan terprogram termasuk upaya kesehatan matra.
Sejalan dengan perkembangan imu pengetahuan dan teknlogi ( IPTEK) Disegala bidang, maka ilmu kesehatan matra perlu dikembangkan.
Untuk dapat melaksanakan upaya kesehtan matra secara profesional dan bermutu , perlu didukung deengan sumberdaya manusia yang terlatih/ profesional, ditunjang oleh sarana, / fasilitas yang memadai, adanya sistem informasi kesehatan yang baku dan pendukung kegiatan yang optimal. Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan pedoman upaya kesehatan matra yang diharapkan dapat dipakai para pengelola dan pelaksana kesehatan matra baik pusat maupun daerah.
B. TUJUAN
Meningkatkan kesadaran , kemaauan, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi matra agar tetap sehat.
Dasar hukum undang undang Republik Indonesia nomer 36 tahun 2009 tentang kesehatan
C. MANFAAT
1. Agar mahasiswa lebih mengenal secara nyata tentang kesehatan matra darat 2. Mahasiswa mampu mengetahui dan menangani suatu kejadian matra darat.
3. Mahasiswa mampu mengenal dan menangani kondisi matra pada semua fase ( pra, intra dan pasca bencana )
BAB II TINJAUAN TEORI A. Lingkungan matra Darat
Lingkungan matra yang serba berubah secara bermakna adalah kondisi yang ditandai dengan adanya perubahan dari 1 (satu) atau lebih dari aspek lingkungan pada suatu matra yang bersifat temporer/ sementara.
1. Terjadinya perubahan kondisi aspek lingkungan pada suatu matra dari kondisi normal menjadi tidak normal dan selanjutnya berubah menjadi normal kembali.
2. Terjadinya kepindahan seseorang atau kelompok manusia dari suatu kondisi nomal ke kondisi tidak normal dan selanjutnya pindah kembali ke kondisi normal.
B. Jenis kegiatan matra kesehatan matra lapangan. 1. Kesehatan haji
Upaya kesehatan haji dalam kesehatan matra merupakan upaya kesehatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemapuan fisik dan mental para calon / jemaah haji dan petugas yang terkait untuk menyesuaikan diri terhdap lingkungan yang berubah secara bermakna mulai dari sebelum pendaftaran, selama persiapan berada di Arab Saudi, selama dalam perjalanan pergi pulang dari Arab Saudi samapai dengan 2 minggu setelah tiba kembali ke tanah air.
Kesehatan haji merupakan upaya kesehatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik dan mental para calon/ jamaah haji dan pertugas yang terkait untuk menyesuiakan diri terhadap lingkungan yang berubah secara bermakana dengan lingkungan di daerah asal.
Kesehatan haji mencakup kegiatan antara lain, penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, kesling, penangahan gizi, kesmpatan fisisk, imunisasi meningitis, pengamatan oenyakit, higiene dan sanitasi, penanggulangan KLB.
a. Perencanaan
Perencanaan kesehatan haji meliputi persiapan perencanaan, penyusunan rencana kebutuhan sumber daya manusia, penyusunan rencana perbekalan kesehatan dan penyusunan rencana pembiayaan.
1) Persiapan perencanaan
Penyusunan perencanaan kesehatan haji harus didasarkan pada data/ informasi yang akurat meliputi:
a) Identitas calon jemaah haji, yaitu : umur jenis kelamin, asal, pekerjaan dan pendidikan
b) Data kesehatan dan lingkungan, yaitu : data penyakit yang pernah di derita dan atau sedang di derita, data calon jemaah haji dengan resiko tinggi, data kesehatan / faktor resiko, lingkungan asrama embarkasi/ debarkasi dan pemondokan di arab saudi.
c) Data pelayanan medis pada jemaah haji, yaitu : data kesakitan, kunjungan rawat jalan, rawat inap, rujukan, kematian, perbekalan obat dan alat kesehatan, sarana pelayanan kesehatan yang sudah ada serta sarana pelayanan kesehatan rujukan.
1) Di indonesia
a) Pengorganisasian kesehatan haji meliputi satu dalam struktur organisasi yang ada di masing masing jenjang administrasi kesehatan, di puskesmas, di dinas kesehatan kabupaten/ kota dan propinsi.
b) Untuk pelaksanaan di tunjuk atau di tetapkan pengelolaan keehatan haji pada puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/ kota oleh kepala dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bersangkutan. Sedangkan untuk pengelola kesehatan haji di dinas kesehatan propinsi ditetapkan oleh kepala dinas kesehatan propinsi.
c) Pada saat oprasional haji pengorganisasian dalam penyelenggaraan haji mengikuti organisasi kepanitian yang berlaku sesuai dengan ketentuan. 2) Di arap saudi
Pengorganisasian di Arab saudi mengacu pada struktur organisasi PPHI di Arab Saudi yang berlaku pada tahun yang bersangkutan.
c. Kegiatan oprasional 1) Lingkup kegiatan
a) Lingkup kegiatan kesehatan haji meliputi anatara lain: (1) Penyuluhan kesehatan
(2) Pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji (3) Pembinaan kesehatan calon jemaah haji (4) Penanganan gizi
(5) Kesempatan fisik dan aklimatisasi (6) Imunisasi meningitis
(7) Pengamatan penyakit (8) Kesehatan lingkungan
(9) Penanggulangan musibah masal / KLB
(10) Penatalaksanaan pelayanan medis dan keperawatan (11) Evakuasi dan rujukan
2) Persiapan kegiatan
Dalam penyelenggaraan kesehatan haji yang harus disiapkan adalah :
a) Informasi yang akan digunakan sebagai bahan perbaikan penyelenggaraan pelayanan kesehatan haji taun berjalan.
b) Fasilitas pelayanan kesehatan jemaah haji di indonesia maupun di Arab Saudi dengan sarannya.
c) Petugas – petugas kesehatan (medis, keperawatan, sanitarian, gizi, dan farmasi)
d) Calon jemaah haji
d. Pencatatan dan pelaporan kegiatan
Untuk keentingan teknis dan administratif maka semua kegiatan pelayanan kegiatan harus dicatat secara khusus baik pada buku kesehatan jamaah haji atau buku catatan lainnya, yang akan menjadi bahan laporan / informasi penting bagi penyelengaraan maupun pelayanan kesehatan haji.
1) Pencatatan kegiatan pelayanan di puskesmas dan rumah sakit maupun di perjalanan dan di Arab Saudi mengikuti sistem yang berlaku.
2) Pelaporan kegiatan mengikuti sistem pelaporan pelayanan kesehatan yang berlaku. Sedangkan kedisiplinan pelaporannya harus ditekankan karena data tersebut sangat di perlakukan untuk pemantauan dan evaluasi penyelenggaran maupun perbaikan pelayanan di masa yang akan datang.
3) Data kesehatan yang diperlukan dismpan dalam sistem komputerisasi haji terpadu, baik yang ada di departemen kesehatan maupun di pusat informasi Haji Departemen Agama setelah dianalisis menjadi informasi dapat diumpan balikan kepada berbagai tingkat untuk dimanfaatkan bagi kepentingan evaluasi maupun perencanaan dan perbaikan pelayanan di masa mendatang.
e. Pembinaan dan pengawasan
Pembinaan dan pengawasan dilaksanakan oleh instansi yang bertangung jawab sesuai dengan kewenangnannya. Pembinaan dan pengawasan dilaksanakan sebagai berikut:
1) Supervisi dan bimbingan teknis secara terpadu antar instansi terkait 2) Pemantauan dari hasil laporan penyelenggaraan
3) Pembahasan dalam rapat intern lingkup kesehatan ataupun secara terpadu. 4) Tindakan korektif atas terjadinya penyimpngan penyimpangan baik terhadap
hasil maupun proses penyelenggaraan.
5) Umpan balik laporan disertai dengan kesimpulan dalam rangka penilaian keberhasilan upaya ataupun saran – saran perbakan.
6) Peningkatan keterampilan melalui pelatihan. 2. Kesehatan transmigrasi
Upaya kesehatan transmigrasi dalam kesehatan matra merupakan upaya kesehatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik, mental dan sosial para transmigran guna menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah secara bermakna mulai dari transito embarkasi (daerah asal) sampai dengan 6 bulan setelah transmigran berada dilokasi permukiman.
Perencanaan kesehatan transmigrasi meliputi persiapan rencana, penyusunan kebutuhan sumber daya dan rencana kegiatan pelayanan kesehatan transmigrasi. a. Pendataan
1) Data umum calon trasmigrasi, berdasarkan : a) Kelompok umur
b) Jenis kelamin c) Pendidikan dasar d) Tempat asal
e) Pekerjaan atau keterampilan akan dikembangkan 2) Data kesehatan dan lingkungan
a) Status kesehatan transmigrasi b) Masalah kesehatan didaerah asal c) Data penyakit trasmigran
d) Kondisi resiko tinggi berdasarkan atas masalah kesehatan yang ada di tempat asal
e) Data kesehatan lingkungan di lokasi pemukiman transmigrasi 3) Data kebutuhan pelayanan kesehatan pada masyarakat transmigran
a) Kebutuhan pelayanan kesehatan umum ( KIA/KB, imunisasi, Gizi, pelayanan dasar lainnya)
b) Kebutuhan pelayanan lanjutan asal masalah / penyakit yang ada
c) Kebutuhan pelayanan kesehatan secara khusus atas hasil analisis masalah serta masalah potensial yang ada
b. Penyusunan rencana kebutuhan sumber daya
Penyusunan rencana kebutuhan sumber daya, perlu melibatkan pihak-pihak yang terkait seperti yang tanggung jawab dibandingkan transmigrasi, kesehatan dan lainnya dimasing-masing tingkat administrasi. Rencana kebutuhan sumber daya meliputi :
1) Kebutuhan fasilitas kesehatan 2) Kebutuhan tenaga
3) Kebutuhan perbekalan kesehatan c. Pengorganisasian
1) Struktur organisasi
Kesehatan trasnmigrasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan dalam kesehatan transmigrasi secara umum dan kegiatan program-programm pembangunan kesehatan lainnya, maka pengorganisasiannya melekat pada sistem yang telah ada dimasing-masing tingkatan.
2) Mekanisme kerja a) Penanggung jawab
Penanggung jawab teknis penyelenggaraan upaya kesehatan transmigrasi adalah dinas kesehatan Kabupaten / Kota. Sebagai penanggung jawab operasional dilapangan berada pada dinas kesehatan Kabupaten/ Kota, baik didaerah asal maupun daerah tujuan transmigrasi. Instansi kesehatan tingkat pusat bertanggung jawab menyusun pedoman, standar dan peraturan perundangan.
b) Peran dan tugas masing-masing
Sesuai dengan kewenangannya masing-masing, maka unsur-unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan kesehatan (Matra) transmigrasi tersebut perlu
menguasai teknik ataupun operasional penyelenggaraan kesehatan (Matra) transmigrasi, sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
c) Koordinasi penyelenggaraan
Agar penyelenggaraan kesehatan transmigrasi tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna, perlu dikoordinasikan sebaik-baiknya, baik dalam perencanaan pelaksanaan maupun dalam pemantauan dan evaluasinya, dan disesuaikan dengan masing-masing tingkat administrasi.
3) Kegiatan operasional a) Lingkup kegiatan
Lingkup kegiatan dalam kesehatan transmigrasi, meliputi : 1) Penyiapan lokasi
2) Pemeriksaan kesehatan dan pelayanan KB 3) Penyuluhan kesehatan
4) Pengamatan penyakit 5) Sanitasi
6) Imunisasi
7) Penatalaksanan medik dan kepeawatan 8) Pencatatan dan pelaporan
9) Pemberantasan penyakit termasuk profilaksis malaria.
4) Pelaksanaan kegiatan a) Persiapan
Tahap ini merupakan landasan bagi kegiatan kesehatan transmigrasi, yang meliputi penyiapan transmigrasi di tempat asal, tempat penampungan sementara dalam perjalanan, perjalanan dari debarkasi ke lokasi permukiman serta penyiapan lokasi permukiman.
b) Didaerah asal transmigrasi
1) Registrasi ulang calon transmigrasi yang telah selesai menjalani seleksi dan dinyatakan memenuhi persyaratan kesehatan yang dinyatakan dengan surat keterangan.
2) Mendata kembali calon transmigrasi yang perlu endapatkan pelayanan kesehatan secara khusus, sesuai dengan kebutuhannya anata lain pelayanan 3) Pengecekan kesehatan terhadap transmigrasi menjelang keberangkatan 4) Pencatatan dan pelaporan kesehatan calon transmigrasi
c) Persiapan di Transito Emberkasi dan Debarkasi
Mengecek kembali apakah transito embarkasi dan debarkasi : 1) Telah siap huni untuk transmigran yang akan diberangkatkan
2) Persediaan air bersih dan jamban keluarga baik jumlahnya maupun kualitasnya
d) Persiapan perjalanan ke lokasi transmigrasi
Perjalanan dari transito embarkasi menuju lokasi permukiman trnasmigrasi pada umumnya menggunakan kapal laut dan kendaraan bermotor (bus, KA, dll), selain kapal terbang.
e) Persaiapan di lokasi permukiman transmigrasi
Kondisi lokasi permukiman trnasmigrasi, sarana dan prasarananya harus sipersaiapkan sebaik mungkin sehingga dapat mendukung keberhasilan proses adaptasi.
5) Pelayanan kesehatan transmigrasi
Dalam periode waktu ini pelayanan kesehatan yang dilakukan bertujuan untuk mencegah sedini mungkin kejadian-kejadian penyakit umumnya dan KLB khususnya, serta bimbingan dalam rangka meningkatkan kemapuan masyarakat hidup sehat secara mandiri. Mengingat bahwa periode adaptasi adalah kritis dan rawan, maka perlu didukung dengan pelayanan kesehatan yang intensif disamping bimbingan yang mantap serta pelayanan-pelayanan lainnya secara memadai.
Pelayanan kesehatan transmigrasi ini meliputi pelayanan-pelayanan di Transito Embarkasi, selama perjalanan dari Transito Debarkasi sampai lokasi permukiman transmigrasi dan selanjutnya pelayanan selama 6 bulan pertama dilokasi permukiman.
Kegiatan - kegiatan pelayanan yang dilakukan diuraikan menurut harapan dan lokasi sebagai berikut :
a) Transito Embarkasi
Pemetiksaan ulang dalam rangka persiapan akhir sebelum berangkat untuk memastikan calon transmigran tersebut maupun atau tidak nantinya beradaptasi dan memastikan ada atau tidaknya penyakit menular yang dibawa transmigran ke pemukiman barunya.
b) Perjalanan dari Embarkasi sampai Debarkasi
Untuk sampai ke transito debarkasi, diperlukan beberapa hari perjalanan terutama jika menggunakan kapal laut. Pelayanan yang diberikan selama perjalanan, sangat banyak dipengaruhi oleh masalah yang dihadapi di perjalanan c) Perjalanan dari Transito Debarkasi ke lokasi permukiman
Secara umum pelayanan yang diberikan tidak berbeda dengan pelayanan selama perjalanan dari Transito Embarkasi.
Setiba dilokasi UPT sebagai tempat permukiman barunya, transmigran secara langsung telah berhadapan dengan kondisi lingkungan fisik dan biologis yang sangat berbeda dengan tempat asalnya. Kondisi demikian bisa menimbulkan gangguan pada kondisi fisik dan mental, bahkan mungkin psikososial, apabila transmigran yang bersangkutan tidak mendapatkan pelayanan semestinya atau bila transmigran memang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. d. Pencatatan Dan Pelaporan
Sistem pencatatan dan pelaporan mengikuti sistem yang telah ada pada pelayanan kesehatan transmigrasi maupun puskesmas, sedangkan mekanisme palaporan juga mengikuti mekanisme yang ada. Perlu penekanan bahwa kedisiplinan pelaporan harus tepat waktu mengingat data yang didapat akan dimanfaatkan sebagai bahan informasi untuk pemantuan, penilaian dan perencanaan serta tindak lanjut.
e. Pembinaan Dan Pengawasan
Pembinaan dan pengawasan dilaksanakan oleh intansi yang bertanggung jawab sesuai dengan kewenangannya sebagaimana disebutkan terdahulu :
1) Meningkatkan kemampuan dan kemandirian secara teknis dan operasional bagi para pelaksana kesehatan transmigrasi
2) Terpenuhinya kebutuhan dan meminimalkan kesenjangan akan kebutuhan pelayanan kesehatan transmigrasi bagi masyarakat transmigrasi
3) Terselenggaranya mekanisme dan tata laksana kegiatan kesehatan transmigrasi secara efektif dan efisien, sehingga secara teknis dan operasional dapat terselenggara sesuai dengan rencana yang disusun
4) Tercapainya keterpaduan selutuh jajaran kerja yang terkait 5) Terselenggaranya koordinasi antar unit yang terkait f. Pemantauan Dan Evaluasi
Kegiatan yang dilaksanakan mulai dari tahap persiapan dan pelaksanaan di berbagai lokasi, mulai dari tempat asal sampai dengan permukiman, perlu dipelajari oleh semua petugas yang bertanggung jawab.
Hasil pemantauan serta penilaiannya dibahas bersama pihak terkait. Agar hal tersebut dapat dilaksanakan dengan sebaik – baiknya perlu adanya pencatatan yang rapid an baik serta benar, ditindak lanjut dengan pelaporan yang teratur, sehingga informasinya dapat dimanfaatkan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan kesehatan transmigrasi.
3. Kesehatan dalam penangulangan korban bencana
Upaya kesehatan penangulangan korban bencana dalam kesehatan matra merupakan upaya kesehatan yang dilakukan terhadap korban bencana dan unsur – unsur pelaksana penangguangan guna menyesuaikan diri terhadap lingkungan matra yang berubah secara bermakna mulai dari tahap kesiap siagaan sampai masa darurat.
Agar pelaksanaan pelayanan kesehatan dalam penanggulangan korban bencana dapat terselenggara dengan baik efisien dan efektif, perlu adanya pengelolaan yang baik, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan evaluasi yang dimulai sejak pra-bencana, saat bencana sampai pada pasca bencana.
a. Perencanaan
Dalam rangka mempersiapkan penanggulangan korban bencana dibidang kesehatan diperlukan perencanaan yang baik. Perencanaan ini meliputi:
1) Perencanaan pada pra-bencana
Perencanaan pada masa pra-bencana disusun dengan memperhatikan beberapa aspek yang meliputi:
a) Pengumpulan informasi tentang jenis bencana, sumber daya dan upaya yang telah dilakukan
b) Koordinasi dengan sekor lain yang terkait (Departemen Pemukiman dan Prasrana Wilayah, Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Departemen Perhubungan dan Telekomunikasi, TNI, POLRI, dan LSM). c) Pemantauan tempat-tempat yang berpotensi terjadi bencana.
d) Kesiapsiagaan melalui pelatihan petugas untuk penolongan gawat darurat, P3K dan rujukan.
e) Koordinasi dengan lintas program terkait (RS. Pemerintah, RS Swasta, RS BUMN, RS TNI, RS POLRI, Unit Pelayanan Kesehatan Swasta).
2) Perencanaan sarana pelayanan kesehatan
Sarana pelayanan kesehatan harus sudah direncanakan dan disiapkan terutama pada saat terulangnya kejadian, baik akibat bencana alam maupun akibat ulah manusia. Sarana kesehatan dimaksud antara lain:
a) Sarana pelayanan kesehatan menetap, sesuai dengan kebutuhannya dapat berupa:
(1)Pos kesehatan sederhana
(2)Fasilitas pelayanan kesehatan lapangan (3)Rumah sakit lapangan
(4)System rujukan dan evakuasi yang terintegrasi dengan fasilitas rujukan daerah setempat (RS Kabupaten, RS Swasta, RS BUMN, RS TNI, RS POLRI)
Jenis jumlah dan lokasi sarana kesehatan yang harus disediakan disesuaikan dengan jenis bencana atau prakiraan jumlah korban.
b) Sarana pelayanan kesehatan yang dapat bergerak (mobile) antara lain: (1) Puskesmas keliling
(2) Ambulan
(3) Klino mobil di perkotaan tertentu
(4) Mobil jenazah / kendaraan lain yang dapat difungsikan (5) Sarana pendukung pelayanan kesehatan dan rujukan Jenis logistik yang diperlukan antara lain berupa
(1) Obat dan bahan habis pakai
(2) Perlengkapan fasilitas pelayanan kesehatan
Jumlah dan jenis diperhitungkan menurut prakiraan jenis kebutuhan pelayanan kesehatan serta besarnya dan jenis bencana.
3) Perencanaan tenaga kesehatan a) Jenis tenaga
(1)Jenis tenaga yang diperlukan, sesuai dengan situasi / kondisi yang terjadi, yaitu tenaga-tenaga kesehatan yang telah dilatih khusus dalam kesehatan penanggulangan korban bencana
(2)Minimal harus tersedia tenaga dokter, keperawatan, sanitarian serta tenaga pendukung pelayanan termasuk pengemudi bila diperlukan
(3)Pada fasilitas rujukan yang ditunjuk perlu ditugaskan dokter spesialis sesuai dengan kebutuhannya dan bertindak sebagai dokter konsulen dalam pelayanan kesehatan di lapangan
b) Jumlah tenaga yang diperlukan menurut jenis tenaganya, diperhitungkan berdasarkan
(1)Jenis / macam bencana (2)Lamanya
(3)Prakiraan banyaknya orang yang terpajan
(4)Jumlah fasilitas kesehatan dengan kriteria kemampuannya c) Kemampuan tenaga
Kemampuan tenaga yang diandalkan dalam penanggulangan korban bencana ini adalah pemahaman tentang kesehatan dalam penanggulangan korban bencana, peraturan-peraturan / ketentuan hukum dan perundang-undangannya. Keterampilan dalam melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing serta kebutuhan pembinaan teknis dan manajemen dalam penanggulangan korban bencana.
Pembiayaan kesehatan dalam penanggulangan korban bencana dapat berasal dari berbagai sumber yaitu:
a) Pemerintah pusat
b) Instansi pemerintah daerah setempat yang terkait bertanggung jawab untuk menyediakan dana kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsinya
c) Penyelenggaraan jaminan asuransi, jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat (JPKM) atau sejenisnya yang terkait dengan penanggulangan korban bencana antara lain gempa, longsor, banjir, kebakaran.
d) Sumber dana lain yan tidak mengikat (1) Donator (dalam negeri dan luar negeri) (2) LSM
(3) Masyarakat dan lain lain b. Pengorganisasian
1) Struktur organisasi
Kesehatan dalam penanggulangan korban bencana yang sifatnya umum melibatkan masyarakat secara luas dan menjadi tanggung jawab pemerintah, akan diselenggarakan oleh instansi pelayanan kesehatan pemerintah setempat dalam suatu system pelayanan kesehatan yang ada, sehingga pengorganisasian melekat pada system yang telah ada.
2) Di Tingkat Pusat
Penanggung jawab ditingkat pusat adalah Menteri Kesehatan dan kesejahteraan social yang dikoordinasikan dengan BAKORNAS PB yang di ketuai Wakil Presiden.
c. Mekanisme Kerja
1) Penanggung Jawab teknis penyelenggaraan upaya kesehatan di tingkat Pusat untuk penanggulangan medis missal adalah Ditjen Penganggulangan Masalah Sosial dan Kesehatan. Upaya kesehatan masyarakat yang meliputi survilance, intervensi kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan adalah Pokjatap Bencana di Ditjen PPM-PL selanjutnya di tingkat provinsi tanggung jawab tersebut dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan dengan koordinasi Satkorlak PB sedangkan di lapangan tanggung jawab tersebut dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan koordinasi Satlak PB.
2) Peran dan tugas
Sesuai dengan kewenangan masing-masing, maka unsur-unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan kesehatan matra yang berkaitan dengan bencana perlu mengenal teknis ataupun operasional penyelenggaraan sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
Agar penyelenggaraan kesehatan (matra) selama terjadinya bencana dapat berdaya guna dan berhasil guna, perlu dikoordinasikan sebaik-baiknya dengan Pemerintah Daerah setempat, baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun pemantauan dan evaluasinya.
d. Kegiatan operasional 1) Lingkup kegiatan
Lingkup kegiatan dalam kesehatan matra dalam penanggulangan bencana. a) Peningkatan system kewaspadaan dini
b) Penyampaian informasi dan penilaian kebutuhan c) Sanitasi kedaruratan
d) Pemantauan wilayah setempat e) Imunisasi
f) Tindakan medic dan keperawatan g) Rehabilitasi
h) Evakuasi dan rujukan
i) Pengamatan penyakit (Survalians) j) Pencatatan dan pelaporan
e. Pelaksanaan kegiatan
Dalam pelayanan kesehatan penanggulangan korban bencana, pada prinsipnya tidak dibangun sarana atau prasarana secara khusus, tetapi menggunakan sarana dan prasarana yang telah ada, hanya intensitas kerjanya ditingkatkan serta penambahan sumber daya sesuai kebutuhan.
1) Tahap persiapan pada pra-bencana
Persiapan pada pra bencana bertujuan untuk melakukan kewaspadaan dini mencegah dampak buruk akibat bencana serta mampu melakukan upaya-upaya penyelamatan. Membentuk Tim di tingkat provinsi, kabupaten/kota dengar melibatkan Rumah Sakit, Puskesmas, Instansi kesehatan pemerintah lainnya dan swasta yang ada dalam wilayah yang bersangkutan.
Kegiatan yang harus dilaksanakan sebelum bencana terjadi meliputi :
a) Kewaspadaan dini merupakan kegiatan penting yang dititik beratkan pada upaya penyebarluasan informasi pada masyarakat. Informasi dimaksud meliputi:
(a) Peta lokasi rawan bencana di wilayahnya masing-masing dari instansi terkait.
(b) Data penduduk dan kelompok rawan termasuk orang tua, bayi, ibu hamil, ibu nifas dan kelompok resiko lainnya.
(c) Data sumber daya (Logistik, tenaga, sarana komunikasi dan transportasi, fasilitas umum dan fasilitas kesehatan) yang dapat dimanfaatkan oleh kesehatan.
(d) Informasi tentang kejadian bencana pada lokasi rawan yang sering terjadi secara berulang dan menganalisis risiko bencana.
(e) Data sektor terkait
(f) Data kebutuhan pelayanan kesehatan termasuk sarana dan prasarana (g) Analisis risiko bencana
(h) Prosedur tetap (protap), petunjuk pelaksanaan (juklak), petunjuk teknis (juknis) dan petunjuk lapangan ((juklap), yang terintegrasi dengan protap/juklak sektor-sektor lain.
b) Kesiapansiagaan adalah kegiatan untuk mempersiapkan segala sesuatu bila sewaktu-waktu terjadi bencana meliputi :
(1) Kesiapan di masyarakat
(a)Memantapkan koordinasi di lingkungan masyarakat (RT, RW)
(b)Melaporkan segera bila terjadi bencana tiba-tiba kepada instansi yang terdekat (berwenang)
(2) Kesiapan petugas kesehatan
(a) Menyelenggarakan pelatihan kesiagaan / gladi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan untuk tenaga kesehatan (pos kesehatan, pelayanan gawat darurat, evakuasi, rujukan)
(b) Memantapkan koordinasi di lingkungan sektor kesehatan maupun sektor lain terkait sesuai dengan tugas dan fingsinya.
(c) Menyelenggarakan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat (d) Mensiagakan sarana dan pra-sarana sesuai protap
(e) Mengadakan pemantauan tempat-tempat yang berpotensi terjadi bencana secara periodik.
2) Tahap terjadinya bencana
Pada tahap terjadinya bencana kegiatan yang dilakukan adalah upaya untuk mencegah 3D yaitu : disease (kesakitan/kecacatan), disability (ketidakmampuan) dan death (kematian). Setelah kepala dinas kesehatan kabupaten/kota mendapat informasi terjadinya bencana dari pihak yang bertanggung jawab, segera :
a) Menginformasikan terjadinya bencana dan kasus-kasus korban bencana kepada puskesmas di sekitarnya dan rumah sakit.
b) Membuat laporan akhir tentang kejadian bencana, korban, jenis bencana, pelayanan kesehatan, kepada Ditjen Penganggulangan Masalah Sosial dan Kesehatan Departemen Kesehatan.
Kegiatan meliputi:
(1)Mengoprasionalkan sarana dan prasarana kesehatan secara tepat dan cepat (posisi) sesuai dengan kebutuhan dan macam bencana yang terjadi
(pos kesehatan, rumah sakit lapangan, ambulans, termasuk tenaga dan obat-obatan).
(2)Mensiagakan sarana rujukan dan system pendukungnya (3)Melaksanakan P3K/P3B, evakuasi dan rujukan
(4)Memobilisasikan sarana dan transport untuk evakuasi korban dan rujukan
(5)Memobilisasi tenaga kesehatan secara terkoordinasi dengan sektor terkait dan masyarakat termasuk LSM dalam lingkup SATLAK PB. (6)Penyehatan/pengawasan sanitasi dan gizi makanan di penampungan (7)Sanitasi lingkungan pada lokasi bencana dan penampungan, yang
meliputi :
(a) Pengawasan penyediaan air bersih
(b) Pemberantasan vector, terutama lalat dan nyamuk (c) Pengawasan sampah
(d) Pengawasan sarana pembuangan kotoran/jamban (e) Penyuluhan kesehatan
(8) Memantau tindakan penyelamatan yang dilaksanakan
(9)Melaksanakan pemamtauan dan penelitian kebutuhan serta dampak kesehatan secara cepat sebagai dasar untuk program bantuan pelayanan kesehatan dan pemantauan
(10) Menyelenggarakan system kewaspadaan pangan gizi (SKPG dan intervensi gizi)
(11) Memberikan bimbingan dalam upaya-upaya penyelamatan korban yang dilakukan sektor lain/masyarakat
3) Tahap pasca bencana
Setelah berakhirnya fase tanggap darurat bencana yang ditetapkan oleh pejabat yang kegiatan yang dilaksanakan bertujuan untuk mencegah timbulnya dampak lanjut akibat bencana, pemulihan kondisi kesehatan masyarakat dan lingkungannya serta aktifitas kehidupan masyarakat. Kegiatannya :
a) Pengamatan penyakit (Surveilans) dan analisisnya
b) Penyelenggaraan system kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) dan intervensi gizi
c) Upaya pencegahan kecacatan dan pemulihan kesehatan masyarakat, perbaikan sarana sanitasi dasar dan fasilitas umum
d) Pemantapan kembali pelayanan kesehatan dasar dan rujukan
e) Melaporkan hasil/pemantauan kepada bupati/walikota selaku ketua SATLAK-PB dengan tembusan Dinas Kesehatan Provinsi
f) Upaya pemantauan dan pencegahan dampak bencana sekunder anatara lain adanya KLB penyakit menular akibat perubahan kualitas lingkungan hidup
g) Pendataan prasarana dan saran yang berdampak pada kesehatan (missal : sanitasi dasar, permukiman, sarana jalan, saran distribusi sembako)
h) Menginformasikan pada instansi terkait, termasuk pemerintah setempat tentang hasil pemantauan untuk ditindak lanjuti
f. Pelaksanaan pelayanan 1) Sasaran
a) Masyarakat yang terpajan akibat bencana dan masyarakat umum sekitarnya b) Petugas pelaksana kegiatan
c) Petugas-petugas kesehatan 2) Pelayanan kesehatan
Sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang diperiapkan sangat tergantung dari macam dan jenis bencana, pelayanan kesehatan yang dilaksanakan kepada sasaran masyarakat terpajan diarahkan pada :
a) Pengobatan dan perawatan bagi kasus tertentu untuk sementara bila tidak perlu dirujuk
b) Pelayanan P3K dan P3P pada fasilitas kesehatan menetap dan lapangan (mobile)
c) Pemeriksaan kesehatan dan pemantauannya bagi masyarakat yang beresiko d) Pengamatan penyakit dan tindak lanjutnya
e) Rujukan medis dan kesehatan f) Evakuasi
Masyarakat sebagai sasaran pelayanan, perlu dilibatkan pada semua upaya, baik dalam upaya promotif, prefentif, kuratif maupun rehabilitative terbatas. Disamping itu pula masyarakat diminta untuk melaporka kejadian secara cepat kepada instansi terdekat dan menjaga sarana dan prasarana pelayanan penanggulangan bencana bagi daerah yang seringkali dilanda bencana yang sama. Pada keadaan tertentu dalam kejadian bencana kemungkinan dapat terjadi letupan penyakit (KLB) ataupun wabah, yang seringkali tidak dipikirkan sebelumnya yang perlu diantisipasi terutama pada kejadian wabah yang sering terjadi.
Apabila sampai terjadi KLB atau wabah maka tindakan cepat, tepat dan terkoordinasi harus dilakukan sesuai dengan prosedur penanganan korban KLB ataupun wabah dan laporan harus segera dikirimkan oleh petugas kesehatan setempat.
1) Satu tim yang ditunjuk dan bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayan kesehatan dalam penanggulangan bencana
2) Tim dapat dibentuk dari petugas kesehatan yang ditunjuk terdiri dari Dokter, tenaga keperawatan, sanitarian, tenaga kesehatan lainnya.
3) Dalam kegiatannya secara operasioanal Tim bertanggung jawab kepada atasannya, dan secara teknis Tim bertanggung jawab kepada Pembina teknisnya yaitu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Kanwil Kesehatan dan Dinas Kesehatan Propinsi.
g. Pemantauan kesehatan pasca bencana
1) Upaya pemantauan dan pencegahan dampak bencana sekunder antara lain KLB penyakit menular akibat perubahan kuaitas lingkungan hidup
2) Tindak lanjut pasca bencana secara lintas sektor dalam mengatasi kerugian yang diakibatkan oleh bencana
3)
h. Pencatatan dan pelaporan kegiatan 1) Pencatatan
Segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan kesehatan dalam penanggulanga bencana perlu dicatat oleh para petugas kesehatan, sebagai bahan penyusunan laporan
a) Hasil kegiatan pengamatan penyakit
b) Kejadian penyakit, cedera, kecacatan dan kematian c) Kegiatan pelayanan dan rujukan serta hasil evakuasi 1. Pelaporan
Penanggung jawab pelayanan kesehatan wajib membuat laporan kegiatanya termasuk hasil pemantauan dan pengamatan kesehatan termasuk KLB sesuai dengan ketentuan dan system pelaporan yang berlaku. Laporan dikirimkan kepada :
a. Penanggung jawab penanggulan bencana yaitu untuk laporan operasional
b. Instansi kesehatan setempat : Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Dinas Kesehatan Propinsi
2) Pembinaan dan pengawasan
Pembinaan dan pengawasan dilaksanakan oleh instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan kewenanganny.
a) Pembinaan dan pengawasan diarahkan untuk :
(1)Meningkatkan kemampuan dan kemandirian secara teknis dan operasional bagi para pelaksana kesehatan (matra) dalam bencana
(2)Mencegah kemungkinan bencana ulang dan terpenuhinya kebutuhan serta meminimalkan kesenjangan akan kebutuhan pelayanan kesehatan (matra) dan
masyarakat yang terkena bencana. Terlenggaranya mekanisme dan tata laksana kegiatan.
(3)Kesehatan dalam bencana efisien dan efektif sehingga secara teknis dan operasional terelenggara sesuai dengan bencana yang tersusun.
b) Pembina dan pengawasan dilaksanakan melalui :
(1) Supervisi dan bimbingan teknis pasca bencana secara terpadu antar instansi terkait, maupun secara teknis oleh masing-masing instansi teknis
(2) Pemantauan dari hasil laporan pelaksanaan, baik terhadap hasil maupun proses penyelenggaraan
(3) Pembahasan dalam rapat intern lingkup kesehatan ataupun secara terpadu lintas sektoral diberbagai tingkatan administrative
(4) Pembahasan secara lintas sektor tentang penyebab terjadinya bencana (akibat alam atau ulah manusia)
(5) Tindakan korektif atas terjadinya penyimpangan-penyimpangan baik terhadap hasil maupun proses
(6) Umpan balik laporan disertai dengan kesimpulan dalam rangka penilaian keberhasilan upaya ataupun saran-saran perbaikan
3) Pemantauan dan evaluasi
Dengan adanya kegiatan yang dilasanakan dari pra-bencana sampai dengan bencana mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pada pemantauan perlu dipelajari oleh semua petugas yang bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan tersebut. Hasil pemantauan serta penilaiannya dibahas bersama pihak terkait meliputi segala kesenjangan dan masalah yang mungkin terjadi yang diperkirakan akan menimbulkan gangguan baik fisik, mental maupun social pada masyarakat yang terpajan, perlu diantisipasi dan pemecahanya perlu lanjuti dengan pencatatan dan pelaporan yang benar, sehingga informasinya dapat dimanfatkan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam rangka keterpaduan penyelenggaraan program-program.
4. Kesehatan di bumi perkemahan
Upaya kesehatan di bumi perkemahan dalam kesehatan matra merupakan upaya kesehatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik, mental dan sosial peserta dan pihak penyelenggara / panitia perkemahan guna menyesuaikan diri terhadap lingkungan matra yang berubah secara bermakna mulai dari persiapan lokasi, pemilihan calon peserta, selama kegiatan di bumi perkemahan sampai 2 minggu setelah peserta kembali ketempat masing – masing.
Kesehatan di Bumi perkemahan merupakan upaya kesehatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik dan mental bagi peserta kemah, dan masyarakat sekitarnya. Agar pelaksanaan pelayanan kesehataan di Bumi Perkemahan dapat terselanggara dengan baik diperlukan pengelolaan yang baik, mulai dari tahap perencanaan sampai pengawasan/evaluasi.
a. Perencanaan
Dalam menyusun perencanaan yang baik diperlukan data/informasi yang akurat agar perencanaan dapat disusun sesuai dengan kondisi setempat Perencanaan ini meliputi :
b. Pendataan
1) Peserta : jumlah dan asal peserta
2) Jenis dan volume kegiatan selama perkemahan c. Sarana pelayanan penyebaran
1) Fasilitas pelayanan kesehatan menetap, berupa : a) Rumah sakit lapangan
b) pos kesehatan,
2) Fasilitas pelayanan kesehatan bergerak, dengan menggunakan kendaraan antara lain:
a) Puskesmas Keliling b) Ambulans
3) Fasilitas pelayanan rujukan, berupa :
a) Rumah SAkit rujukan terdekat dan rujukan lanjut.
4) Standar fasilitas pelayanan kesehatan dan standar pelayanan kesehtaan pada fasilitas yang bersangkutan mengikuti ketentuan yang berlaku, antara lain meliputi :
a) Standar pengobatan dan tindakan serta rujukan kasus b) Standar kesehatan lingkungan
c) Standar gizi. d. Pembekalan (Logistik)
Jenis logistic yang dibutuhkan, antara lain berupa : 1) Obat dan bahan habis pakai
2) Perlengkapan fasilitas pelayanan kesehatan
Jumlah/jenis yang dibutuhkan, diperhitungkan menurut jumlah peserta dan kegiatan yang dilakukan.
e. Tenaga kesehatan 1) Jenis petugas :
a) Tenaga medis : dokter
b) Tenaga non medis : perawat gizi, sanitarian, kesehatan masyarakat, psikolog dan tenaga lainnya.
c) Tenaga non kesehatan : PMR, pengemudi Saka Bhakti Husada, relawan. 2) Jumlah petugas menurut jenisnya
Diperhitungkan berdasarkan jumlah peserta dan kegiatan yang dilakukan 3) Pengaturan tugas, tanggung jawab dan jadwal tugas
f. Pembiayaan Kesehatan di Bumi Perkemahan 1) Sumber dana
a) Penyelenggaraan atau pemerintah pusat/daerah b) Kontribusi peserta
c) Sumber dana lain yang tidak mengikat. g. Pengorganisasian kesehatan di bumi perkemahan
1) Struktur Organisasi a) Uraian Tugas
(1)Penanggung Jawab kesehatan di Bumi Perkemahan (2)Unit Pelayanan Medik
(3)Bertanggung jawab atas terselenggaranya pelayanan medic dasar dalam kesehatan Bumi Perkemahan
(1) Unit Pelayanan Kesehatan
(2) Bertanggung jawab atas terselenggaranya pelayanan kesehatan di Bumi Perkemahan dititik beratnya pada upaya promotif dan preventif
b) Unit Evakuasi dan Rujukan
(1) Bertanggung jawab atas terselenggaranya evakuasi, rujukan medic dan rujukan kesehatan
(2) Criteria Kepala Unit Evakuasi dan Rujukan adalah seorang dokter. c) Sekretariat
(1) Bertanggung jawab atas terselenggaranya kesekretariatan bidang kesehatan di Bumi Perkemahan.
(2) Kriteria Kepala Unit Sekretariat minimal setingkat D3
2) Mekanisme kerja
a) Penanggung jawab Kesehatan di Bumi Perkemahan bertanggung jawab secara administrative kepada ketua penyelenggara Bumi Perkemahan, secara medis teknis kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
b) Dalam pelayanan rujukan medis dan kesehatan bekerja sama dengan (Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah maupun swasta). Dalam rujukan dan dalam kegiatan evakuasi bekerja sama dengan instansi/organisasi terkait c) Unsur pelaksana pelayanan kesehatan daerah asal kontingen/pendamping
kesehatan dilibatkan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di Bumi Perkemehan dalam tindak lanjut penanganan kasus pemantauannya.
d) Unsur pelaksana pelayanan kesehatan dari Kontingen Daerah (Konda) bertanggung jawab kepada penanggung jawab kesehatan di Bumi Perkemahan. e) Kegiatan perkemahan dalam skala kecil, bentuk organisasinya disesuaikan
dengan situasi perkemahan. h. Kegiatan operasional
1) Lingkungan kegiatan
Lingkup kegiatan kesehatan di Bumi Perkemahan adalah : a) Penyiapan lokasi
c) Penyuluhan
d) Hygiene dan sanitasi
e) Pengamatan penyakit (Survalians) f) Pencegahan penyakit menular
g) Penatalaksanaan pelayanan medic dan keperawatan h) Pencatatan dan pelaporan
2) Pelaksaan Kegiatan a) Persiapan
(1) Di tempat asal
(a) Penyuluhan kesehatan dalam rangka mempersiapkan peserta mengikuti kegiatan perkemahan
(b) Upaya-upaya pencegahan penyakit melalui pengobatan profilaksis untuk tujuan lokasi perkemahan tertentu
(c) Penyediaan sarana P3K/P3P
(d) Penyiapan tenaga kesehatan pendamping kontingen daerah termasuk Palang Merah Remaja (PMR), Saka Bhakti Husada (SBH) dengan memperhatikan jumlah peserta
(2) Di lokasi Bumi Perkemahan
(a)Pengamatan penyakit (survailans) dan tindak lanjutnya (b) Penyiapan sarana pendukung rujukan
(c) Penyiapan tenaga kesehatan (medis, keperawatan, sanitarian, gizi) dan tenaga non kesehatan dengan memperhatikan jumlah peserta perkemahan.
(d) Penyiapan masyarakat sekitar Bumi Perkemahan untuk dapat berperan serta dalam Upaya Kesehatan Bersumebr daya Masyarakat (UKBM)
(3) Penyiapan sistem rujukan (a) Rujukan kesehatan (b) Rujukan medis
b) Pelayanan kesehatan dalam perjalanan, ke dan dari Bumi Perkemahan (1) Sasaran pelayanan
Peserta perkemahan, pendamping dan seluruh petugas. (2) Kegiatan pelayanan kesehatan
a) Pengawasan gizi dan sanitasi makanan selama di perjalanan b) Penyuluhan kesehatan
c) Pemantauan kesehatan peserta dan petugas selama perjalanan d) P3K/P3P dan rujukan
c) Pelayanan Kesehatan di Bumi Perkemahan (1) Sasaran pelayanan
Peserta perkemahan, semua petugas dan masyarakat sekeliling Bumi Perkemahan dalam lingkup terbatas. Kegiatan pelayanan kesehatan
(b)Pengawasan gizi dan sanitasi makanan termasuk pengawasan bahan-bahan makanan
(c)Pengawasan sanitasi lingkungan perkemahan (d)Pengamatan penyakit (Survailans) dan tindak lanjut
(e)Pemeriksaan kesehatan dan pemantauan bagi peserta perkemahan berisiko
(f) Pelayanan P3K dan P3P pada fasilitas kesehatan menetap dan lapangan (mobile)
(g)Pengobatan dan perawatan bagi kasus tertentu untuk sementara bila tidak perlu dirujuk
(h)Rujukan medis dan kesehatan (i) Evakuasi
i. Pencatatan dan pelaporan
Seluruh kegiatan kesehatan di Bumi Perkemahan harus dicatat dan dilaporkan hasil selama kegiatannya dengan mengikuti sistem yang diterapkan.
1) Pencatatan
a. Kegiatan pelayanan dan rujukan b. Kejadian penyakit dan kematian
c. Kegiatan pengamatan penyakit (Survailans) 2) Pelaporan
a. Penyelenggara kegiatan di Bumi Perkemahan
b. Instansi kesehatan setempat (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota) j. Pembinaan dan pengawasan
Pembinaan dan pengawasan teknis kesehatan di Bumi Perkemahan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pembinaan dan pengawasan operasional terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan, dilakukan oleh Dinas Kesehatan Propinsi/Dinas Kesehatan Kabupaten?Kota atau pemda Kabupaten/Kota dan Popinsi.
k. Pemantauan dan evaluasi
Pemantauan dan evaluasi dilaksanakan oleh ketua tim atau instansi yang bertanggung jawab sesuai kewenangan.
5. Kesehatan lintas alam
Kesehatan lintas alam diselengarakan mulai dari persiapan, selama kegiatan berlangsung, sampai dengan kembali ketempat asal. Kegiatan ini antara lain mendaki gunung, arung jeram, lintas rawa, panjat tebing, lintas selat dan menelusuri goa.
Kesehatan lintas alam merupakan upaya kesehatan matra yang ditujukan terhadap peserta dan atau penggemar lintas alam. Kegiatan kesehatan lintas alam meliputi pendataan peserta, jenis kegiatan, binatang berbahaya, sarana pelayanan dan tenaga kesehatan disekitar lokasi serta penyusunan rencana kebutuhan.
a. Perencanaan
Perencanaan ini dimaksudkan agar para peserta dan atau penggemar lintas alam dapat melaksanakan kegiatannya secara optimal. Perencanaan ini dimulai dari persiapan berupa penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, penyiapan obat-obatan dan alat-alat yang dibutuhkan supaya kegiatan lintas alam yang dilakukan dapat berjalan secara baik dengan risiko yang sekecil-kecilnya.
Dilanjutkan dengan pengumpulan dan analisa data/informasi, sarana dan tenaga kesehatan disekitar lokasi kegiatan, perbekalan sesuai dengan jenis kegiatan lintas alam. Pembiayaan dari sumber dana yang ada dipergunakan untuk obat dan peralatan, kegiatan operasional, rujukan dan evakuasi serta untuk pembinaan kesehatan lintas alam yang akan datang.
b. Pendataan 1) Data Umum
2) Peserta : Jumlah dan asal peserta
3) Sarana pelayanan kesehatan disekitar kegiatan. 4) Jenis kegiatan a) Mendaki gunung b) Lintas selat c) Melintasi salju d) Arung jeram e) Lintas rawa f) Panjat tebing g) Menelusuri goa h) Lintas hutan i) Lintas sungai j) Lintas jurang
5) Data Binatang Berbahaya : a) Ular berbisa
b) Binatang buas
c) Binatang lain yang berbahaya atau mengganggu kesehatan 6) Sarana pelayanan kesehatan sekitar lokasi
a) Sarana pelayanan kesehatan b) Puskesmas keliling
c) Ambulans
7) Petugas kesehatan sekitar lokasi kegiatan a) Dokter
b) Perawat
c) Tenaga non medis c. Pengorganisasian
Tugas dan tanggung jawab pengorganisasian antara lain : 1) Pusat
Organisasi olahraga lintas alam nasional/pusat sesuai dengan jenis lintas alamnya dan berkoordinasi dengan departemen kesehatan melalui direktorat
jenderal pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan serta instansi yang terkait.
2) Provinsi
Organisasi olahraga lintas alam di provinsi sesuai jenis lintas alamnya dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan provinsi serta instansi yang terkait. 3) Kabupaten/Kota
Organisasi olahraga lintas alam di kabupaten/kota sesuai jenis lintas alamnya dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota serta instansi yang terkait.
d. Kegiatan operasional
Kegiatan operasional ini merupakan persiapan selama di tempat asal sampai di lokasi kegiatan yang meliputi :
1) Lingkup kegiatan kesehatan pelintas alam antara lain : a) Pemeriksaan kesehatan
b) Penyuluhan kesehatan
c) Pembinaan kesamaptaan jasmani
d) Penatalaksanaan pelayanan medik dan keperawatan e) Pencatatan dan pelaporan informasi kesehatan 2) Pelaksanaan kegiatan
a) Persiapan
(1) Ditempat asal
(a) Pemeriksaan kesehatan awal bagi pelintas alam dan tindak lanjut. (b)Penyuluhan kesehatan dalam rangka mempersiapkan peserta
mengikuti kegiatan lintas alam. (c) Penyediaan sarana P3K.
(d)Penyediaan sarana komunikasi. (2) Di lokasi kegiatan
Penyiapan tenaga kesehatan di unit pelayanan kesehatan sekitar kegiatan.
b) Pelayanan kesehatan (1) Sasaran
(a) Pelintas alam (b) Petugas
(2) Kegiatan pelayanan kesehatan (a) Pemeriksaan kesehatan (b) Penyuluhan kesehatan (c) Pelayanan P3K
(d) Pengamatan penyakit dan tindak lanjutnya (e) Pelayanan rujukan
(f) Evaluasi e. Pencatatan dan pelaporan
Tenaga kesehatan di unit pelayanan kesehatan sekitar kegiatan harus mencatat dan melaporkan hasil kegiatan tersebut ke dinas kesehatan kabupaten/kota asal, dan sekitar lokasi kegiatan.
1) Pencatatan
a) Jenis kegiatan pelintas alam b) Kejadian penyakit, kecelakaan c) Kematian
d) Alat komunikasi e) Lokasi kegiatan 2) Pelaporan
Hasil pencatatan dilaporkan kepada puskesmas/dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.
f. Pembinaan dan pengawasan
Guna mengurangi risiko bagi olahragawan lintas alam maka dinas kesehatan kabupaten/kota setempat bekerjasama dengan organisasi lintas alam dan atau kelompok olahragawan lintas alam sesuai dengan jenisnya, melakukan pembinaan dan pengawasan secara aktif dan terus menerus.
Pembinaan dan pengawasan dilaksanakan sebagai berikut : 1) Supervisi dan bimbingan secara terpadu antar instansi terkait. 2) Pemantauan dari hasil pelaporan penyelenggaraan.
3) Pembahasan dalam rapat intern lingkup kesehatan ataupun secara terpadu. 4) Tindakan korektif atas terjadinya penyimpangan baik terhadap hasil maupun
proses penyelenggaraan.
5) Umpan balik laporan disertai dengan kesimpulan dalam rangka penilaian keberhasilan upaya ataupun saran perbaikan.
6) Peningkatan keterampilan melalui pelatihan. g. Pemantauan dan evaluasi
Semua kegiatan yang dilaksanakan dalam pelayanan kesehatan lintas alam mulai dari tahap persiapan sampai pelaksanaan mulai tempat asal sampai di lokasi kegiatan perlu dipelajari oleh petugas yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut sesuai dengan tujuan, fungsi dan kewenangannya.
Pemantauan dalam pelayanan kesehatan lintas alam dilaksanakan mulai dari persiapan sampai selesai kegiatan lintas alam tersebut. Hasil pemantauan tersebut digunakan sebagai dasar perbaikan untuk pelayanan kesehatan pada kegiatan lintas alam berikutnya. Evaluasi dilakukan untuk setiap penyelenggaraan secara teratur untuk langkah-langkah perbaikan penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
6. Kesehatan bawah tanah
Kesehatan bawah tanah diselenggarakan mulai dari persiapan sebelum melakukan kegiatan dan selama kegiatan berlangsung dibawah tanah.
Kesehatan bawah tanah adalah upaya kesehatan matra guna meningkatkan fisik dan mental pekerja bawah tanah agar mampu bertahan dalam lingkungan yang berubah secara bermakna. Kesehatan bawah tanah diselenggarakan mulai dari persiapan sebelum dan selama melaksanakan kegiatan berlangsung dibawah tanah. Dilaksanakannya kegiatan dimaksud untuk mengantisipasi kemungkinan bahaya kesehatan bagi pekerja dan petugas selama melaksanakan kegiatan bawah tanah. a. Perencanaan
Untuk memperoleh perencanaan yang baik diperlukan data atau informasi, dengan melakukan persiapan-persiapan sumber daya tenaga, sarana, prasarana, logistik, pendanaannya. Perencanaan meliputi persiapan perencanaan, penyusunan rencana, kebutuhan fasilitas kesehatan, penyusunan kebutuhan perbekalan kesehatan, penyusunan rencana pembiayaan.
1) Persiapan perencanaan
Untuk melaksanakan kegiatan persiapan perencanaan perlu tersedia : a) Data umum pekerja
(1)Umur
(2)Jenis kelamin (3)Pendidikan (4)Daerah asal (5)Agama
b) Data kesehatan pekerja (1)Kondisi fisik
(2)Penyakit yang pernah atau sedang diderita (3)Hasil pemeriksaan ulang
(4)Jenis resiko kesehatan matra dilokasi kegiatan (5)Lama bekerja
2) Penyusunan rencana kebutuhan tenaga a) Jenis tenaga
(1)Dokter (2)Perawat
(3)Ahli kesehatan dan keselamatan kerja (4)Ahli gizi
b) Jumlah
Jumlah untuk masing-masing jenis tenaga yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan.
3) Penyusunan rencana kebutuhan fasilitas kesehatan
a) Sarana pelayanan kesehatan antara lain RS, poliklinik b) Ambulance/evakuasi
4) Penyusunan rencana kebutuhan perbekalan kesehatan a) Obat-obatan
b) Peralatan medik c) Peralatan non medik
(1)Pengukuran temperatur (2)Pengukuran tekanan udara (3)Pengukuran konsentrasi debu (4)Pengukuran kondisi ventilasi (5)Pengukuran kecepatan aliran udara (6)Pengukuran pencahayaan
(7)Pengukuran kelembaban
(8)Pakaian dan perlindungan kesehatan kerja 5) Rencana pembiayaan
Rencana pembiayaan meliputi : a) Peralatan medik dan obat-obatran b) Rujukan/ evakuasi
c) Biaya oprasional petugas
d) Peningkatan sumber daya tenaga kesehatan dan pekerja e) Biaya peralatan non medik
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian meliputi struktur organisasi, mekanisme kerja dan koordinasi 1) Struktur organisasi
Organisasi kesehatan bawah tanah dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan penanganan kesehatan bawah tanah. Pemilik dan pengelola kegiatan bawah tanah menjadi penaggung jawab dari organisasi yang ada. 2) Mekanisme kerja
a) Penanggung jawab
Penanggung jawab upaya kesehatan bawah tanah adalah dinas kesehatan setempat, dengan pelaksana adalah unit kesehatan pengelola kegiatan bawah tanah.
b) Peran dan tugas
Penyelenggara kegiatan bawah tanah bertanggung jawab menyiapakan sarana kesehatan dilokasi, penyediaan tenaga, termasuk penyediaan peklatihan tenaga kesehatan dan para pekerja.
3) Koordinasi
Penaggung jawab dan pelaksana upaya kesehatan bawah tanah secara rutin mengadakan koordinasi dengan instansi terkait.
c. Kegiatan operasional 1) Lingkup kegiatan
Lingkup kegiatan dalam kesehatan bawah tanah meliputi : a) Pemeriksaan kesehtan awal
b) Pemeriksaan kesehatan periodik c) Penyuluhan
d) Pelatihan
e) Penatalaksanaan pelayanan medik dan keperawatan f) Higiene dan sanitasi
d. Pelaksanaan kegiatan 1) Persiapan
Persiapan yang dimaksud adalah penyiapan tenaga kerja bawah tanah dan penyiapan perbekalan kesehatan.
a) Penyiapan tenaga pekerja bawah tanah
b) Melakukan pemeriksaan awal terhadap setiap tenaga pekerja baru
c) Memberikan pelatihan mengenai cara pencegahan penyakit dan kalau terjadi secara tiba-tiba kondisi matra yang berubah secara bermakna.
2) Penyiapan pembekalan kesehatan
Pengelola usaha kegiatan bawah tanah harus menyiapkan perbekalan logistik, terutama untuk menghadapi kondisi matra meliputi :
a) Peralatan medik
b) Obat-obatan sesuai kebutuhan
c) Peralatan untuk perlindungan kalau terjadi kondisi matra seperti tanah longsor, kecelakaan, semburan gas dan sebagainya.
e. Pelayanan kesehatan bawah tanah 1) Tenaga kerja baru
a) Pemeriksaan kesehatan, dilakukan terhadap para pekerja yang baru.
Pemeriksaan dilakukan terhadap fisik dan penyakit tertentu yang pernah diderita pekerja dan atau sedang dideritapekerja yang dapat mengganggu kegiatan bekerja selama dibawah tanah.
b) Penyuluhan kesehatan
c) Pelatihan gladi penaggulangan matra bawah tanah. 2) Tenaga kerja lama
a) Pemeriksaan ulang secara priodik b) Pengobatan penderita
c) Sanitasi
3) Evakuasi kesehatan bawah tanah dilakukan melalui kegiatan : a) Pengukuran temperatur udara
b) Kondisi ventilasi c) Kecepatan aliran udara d) Ukuran jalan udara e) Jumlah dan mutu udara
f) Lokasi pengukuran aliran udara g) Laporan pengukuran udara h) Pengukuran konsentrai debu
i) Perubahan arah atau penyebaran aliran udara f. Pencatatan dan perlaporan
Seluruh kegiatan kesehatan bawah tanah secara periodik dicatat dan dilaporka kepada kepada Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota setempat.
1) Pencatatan
a) Kegiatan pelayanan dan rujukan b) Kejadian penyakit dan kematian c) Kegiatan pengamatan penyakit
2) Pelaporan
Hasil kegiatan secara periodik dilaporkan keinstansi kesehatan setempat (Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota)
g. Pembinaan dan pengawasan
Pembinaan dan pengawasan terhadap kesehatan bawah tanah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten / kota setempat
1) Pembinaan dan pengawasan diarahkan untuk :
Meningkatkan kewmampuan dan kemandirian secara teknis dan operasional pelaksanaan kegiatan kesehatan bawah tanah
a) Terpenuhinya kebutuhan dan meminimalkan kesenjangan kebutuhan pelayanan kesehatan bawah tanah bagi para pekerja
b) Mekanisme dan tatalaksana kerja dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga operasionalisasinys berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan
c) Tercapainya keterpaduan seluruh jajaran kerja yang terkait d) Terselenggaranya koordinasi antara unit yang terkait 2) Kegiatan pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui :
a) Supervisi dan bimbingan teknis secara terpadu b) Pemantauan hasil kegiatan secara rutin dan periodik
c) Pembinaan oleh unit tterpadu baik instalasi kesehatan maupun pengelola usaha kegiatan bawah tanah
d) Pelatihan tenaga kesehatan dalam menangani masalah kesehatan bawah tanah.
h. Pemantauan dan evaluasi
Pemantauan dan evaluasi mulai tahap persiapan dan pelakasanaan kegiatan selama dibawah tanah. Hasil pemantauan dan evaluasi digunakan oleh unit terkait untuk perbaikan program baik kuantitas maupun kualitas pelaporan.
Evaluasi kesehatan bawah tanah dilakukan melalui kegiatan pengukuran udara, kondisi ventilasi, kecepatan aliran udara, ukuran jalan udara, jumlah dan mutu udara, lokasi pengukuran aliran udara, laporan pengukuran, pengukuran konsentrasi debu, perubahan arah, atau penyebaran aliran udara. Pengukuran temperatur udara dilakukan secara berkala pada tempat bekerja tertentu sesuai ketentuan yang berlaku, yang pertama 50 meter dari masuknya udara dan tempoat kerja yang terakhir 50 meter dari ujung keluarnya udara. Hasil pengukuran temperatur udara dimaksud dipertahankan antara 18 – 24 derajat celcius dengan kelembaban relatif maksimum 85%. Apabila temperatur efektif melebihi 24 derajat celcius maka tempat tersebut harus diperiksa setiap minggu. Kondisi
Pengukuran kondisi ventilasi untuk rata-rata 8 jam harus mengahasilkan carbonmonoksida volumenya tidak loebih dari 0,0005%, methan (CH4) 0,025%, hidrogen sulfida (H2S) 0,001%, dan oksida nitrat (NO2) 0,0003%. Pengukuran kondisi ventilasi dalam tenggang waktu 15 menit harus menghasilkan karbondioksida (CO) tidak boleh lebih dari 0,004% dan Oksida Nitrat (NO2) tidak boleh lebih dari 0,0005%. Apabila hasil pengukuran kondisi ventilasi menyimpang dari ketentuan yang dimaksud harus segera dilakukan perbaikan. Kecepatan udara ventilasi yang dialirkan ketempat kerja harus sekurang-kurangnya 0,5 m per detik dan 0,3 m perdetik ditempet lain.
Ukuran jalan harus mempunyai ukuran tertentu. Jalan dan mutu udara yang mengalir pada masing-masing lokasi atau tempat kerja atau sistem ventilasi harus ditentukan dengan tenggang waktu yang tidak melebihi satu bulan. Lokasi penyaluran aliran udara meliputi setiap jalan masuk udara, tempat terbaginya udara ditempat kerja dan lokasi udara keluar.
7. Kesehatan dalam penanggulangan gangguan keamanan ketertiban masyarakat (KAMTIBMAS)
Adalah oprasi yang dilaksanakan untuk mengatasi keresahan masyarakat dan gangguan kehidupan ideologi, politik, ekonomi sosial dan budaya.
Penyelenggaraan upaya kesehatan dalam penanggulangan gangguan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) dimaksudkan untuk mencegah timbulnya dampak gangguan kamtibmas terhadap kesehatan masyarakat. Tujuan penyelenggaraan ini dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan apabila kegiatan tersebut dikelola secara baik dan terencana sejak tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.
a. Perencanaan
Agar kegiatan pelayanan kesehatan dalam penanggulangan kamtibmas dapat terselenggara dengan baik, perlu disusun perencanaan yang meliputi :
1) Pengumpulan dan Analisa Data / Informasi
Data yang perlu dikumpulkan antara lain mengenai : a) Tempat/lokasi terjadinya gangguan kamtibmas. b) Prakiraan jumlah orang terpajan.
c) Prakiraan lamanya gangguan kamtibmas akan berlangsung.
d) Instansi pemerintah yang bertanggung jawab penanggulangan kamtibmas. e) Gambaran tentang proses/jalannya peristiwa gangguan kamtibmas.
f) Pemetaan tentang daerah rawan gangguan kamtibmas. g) Informasi sumber daya kesehatan yang ada disekitarnya.
Informasi diatas dapat diperoleh berdasarkan kejadian-kejadian serupa pada waktu lalu atau pada lokasi lain atau didapat berdasarkan informasi yang sengaja dikumpulkan oleh berbagai pihak dalam keanggotaan tim yang bersangkutan. 2) Penyusunan Rencana Pelayanan Kesehatan
a) Sarana pelayanan kesehatan menetap, sesuai dengan kebutuhannya dapat berupa:
(1) Pos kesehatan sederhana
(2) Sarana pelayanan kesehatan dasar lapangan, yang dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan maupun situasi gangguan kamtibmas.
(3) Sistem rujukan dan evakuasi yang terintegrasi dengan fasilitas rujukan daerah setempat (RS Kab, RS POLRI, RS TNI, RS Swasta, dll).
Jenis, jumlah dan lokasi yang harus disediakan, disesuaikan dengan jenis kejadian / peristiwa gangguan kamtibmas yang bersangkutan.
b) Sarana pelayanan kesehatan bergerak, dengan menggunakan kendaraan antara lain :
(1) Puskesmas keliling (2) Ambulans
(3) Klino mobile (4) Mobil jenazah (5) Ambulans huru hara
c) Sarana pendukung pelayanan dan rujukan :
Radio komunikasi, sarana pendukung evakuasi dan RS lapangan bila diperlukan.
3) Perencanaan Perbekalan (Logistik)
Jenis logistik yang diperlukan antara lain berupa : a) Obat dan bahan habis pakai
b) Perlengkapan sarana pelayanan kesehatan yang meliputi : (1) Alat kesehatan
(2) Peralatan non medis seperti ambulans, tandu, dll.
(3) Peralatan khusus yang digunakan untuk identifikasi dan penyelidikan antara lain Tempat Kejadian Perkara (TKP) Kit medis, Antropometer, Kit sidik jari, disaster victim identification kit, sarana embalming dan lain-lain.
Jumlah dan jenis yang dibutuhkan, diperhitungkan menurut prakiraan jenis kebutuhan pelayanan kesehatan serta volume dan lamanya acara berlangsung. 4) Perencanaan Sumber Daya Manusia (SDM)
a) Jenis tenaga :
1) Jenis tenaga yang diperlukan, sesuai dengan kebutuhan menurut kejadian gangguan kamtibmas, adalah tenaga-tenaga kesehatan yang telah dilatih
2) Minimal harus tersedia tenaga dokter, keperawatan, sanitarian, kesehatan lapangan dan tenaga kesehatan lainnya serta tenaga pendukung pelayanan termasuk pengemudi.
3) Pada sarana rujukan yang ditunjuk, perlu ditugaskan dokter spesialis sesuai dengan kebutuhannya dan bertindak sebagai dokter konsulen dalam pelayanan kesehatan di lapangan.
b) Jumlah tenaga yang diperlukan
Jenis tenaga diperhitungkan berdasarkan : 1) Bentuk gangguan kamtibmas
2) Onset kejadian, luas dan volume masalah yang terjadi serta lamanya gangguan kamtibmas
3) Prakiraan banyaknya orang yang akan terpajan
4) Banyaknya lokasi sarana dengan kriteria kemampuannya c) Pengaturan tanggung jawab dan jadwal tugas :
Agar setiap petugas yang memberikan pelayanan dapat melaksanakan tugas secara optimal, diperlukan adanya pengaturan tanggung jawab dan jadwal serta masing-masing petugas, yaitu :
1) Tanggung jawab petugas diatur berdasarkan kompetensinya
2) Jadwal tugas diatur menurut kebutuhan pelayanan atas dasar lokasi, jenis sarana pelayanan kesehatan dan besarnya dampak gangguan kamtibmas. b. Pembiayaan
1) Sumber dana dapat berasal dari : a) Pemerintah
Instansi pemerintah provinsi, kabupaten, kota setempat dan pusat yang terkait bertanggung jawab untuk menyediakan dana kegiatan penanggulangan gangguan kamtibmas sesuai dengan tugas dan fungsinya.
b) Penyelenggara jaminan asuransi yang terkait dengan macam kejadiaannya. (1)Dalam gangguan kamtibmas yang berhubungan dengan perjalanan di darat,
laut ataupun udara pada keadaan-keadaan tertentu dijamin dengan asuransi. (2)Dengan adanya jaminan tersebut, biaya-biaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan dapat direncakan bersama badan pengurus asuransi yang bersangkutan.
c) Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) atau sejenisnya, Apabila sudah ada atau sudah dikembangkan, maka potensi ini dapat dimanfaatkan sebagai pendukung pembiayaan.
d) Dari sumber dana lain yang tidak mengikat (1)Donatur
(2)LSM (bantuan dalam/luar negeri) (3)Masyarakat, dan lain-lain.
2) Rencana anggaran kesehatan dalam penanggulangan gangguan kamtibmas diperhitungkan berdasarkan :
a) Jumlah sasaran manusia yang terpajan
b) Prakiraan jenis pelayanan yang dibutuhkan promotif, preventif, kuratif dan rujukan dengan memperhatikan berat ringannya gangguan kamtibmas. c) Prakiraan berat dan lama gangguan kamtibmas.
d) Kebutuhan operasional petugas pelayanan kesehatan. c. Pengorganisasian
1) Tugas dan Tanggung Jawab masing-masing jenjang administrasi. a) Pusat :
(1)Menyusun pedoman dan petunjuk pelaksanaan umum. (2)Menyusun standar.
(3)Melaksanakan kegiatan pelatihan TOT untuk petugas provinsi. (4)Melakukan pembinaan.
(5)Melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan. b) Provinsi :
(1)Menyusun petunjuk pelaksanaan. (2)Melakukan pembinaan.
(3)Melakukan kegiatan pelatihan untuk pelatih kabupaten/kota, pelaksana provinsi.
c) Kabupaten/Kota :
(1)Menyusun perencanaan.
(2)Melaksanakan kegiatan pelatihan. (3)Melakukan pembinaan dan pengawasan. (4)Melaksanakan pencatatan dan pelaporan. (5)Monitoring dan evaluasi.
2) Koordinasi penyelenggaraan
Agar penyelenggaraan kesehatan terselenggara secara baik, efisien dan efektif perlu adanya koordinasi yang baik, antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dengan instansi penanggung jawab penanggulangan gangguan kamtibmas tersebut.
3) Struktur organisasi
Merupakan satuan tugas khusus yang dibentuk pemerintah, dengan satuan terkecil adalah kabupaten/kota yang dapat ditingkatkan pada daerah provinsi ataupun pusat, sesuai dengan luasnya gangguan kamtibmas yang terjadi dan dampak yang ditimbulkan.
Organisasi yang dibentuk tersebut merupakan bagian dari organisasi penanggulangan bencana tergantung dari kedudukan/keberadaan, apabila berkedudukan di provinsi maka merupakan bagian dari organisasi Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) atau bila berkedudukan Kota/Kabupaten maka merupakan bagian dari organisasi Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB).
1) Lingkup kegiatan
Lingkup kegiatan kesehatan dalam penanggulangan gangguan kamtibmas meliputi : a) Pelatihan b) Penyuluhan c) Pengamatan penyakit d) Penanganan gizi e) Kesamaptaan jasmani
f) Tindakan medik dan perawatan g) Evakuasi dan rujukan
h) Identifikasi korban dan penyelidikan 2) Pelaksanaan Kegiatan
a) Mengantisipasi Timbulnya Gangguan Kamtibmas
Upaya tersebut hanya dilakukan pada situasi yang dapat diperkirakan akan menimbulkan gangguan kamtibmas. Setiap menghadapi kondisi demikian, petugas kesehatan bersama pihak lain terkait sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terjadinya gangguan kamtibmas yang akan berdampak pada kesehatan masyarakat. Untuk hal tersebut, maka :
(1) Pengamatan yang cermat tentang situasi yang berlangsung.
(2) Pembinaan pelayanan kesehatan secara memadai termasuk upaya pencegahan yang dapat diberikan selama berlangsungnya kegiatan.
(3) Koordinasi yang baik dengan berbagai pihak terkait khususnya penanggung jawab keamanan setempat, untuk mengantisipasi terjadinya perubahan-perubahan sehingga dapat bertindak secepatnya bilamana sewaktu-waktu terjadi kondisi kedaruratan.
(4) Penyiapan protap penanggulangan masalah, yang cukup jelas sehingga memudahkan untuk bertindak.
b) Memberikan Pelayanan
(1) Mengumpulkan dan analisa data/informasi
Pelaksana pelayanan kesehatan yang ditunjuk untuk bertanggung jawab, mencari atau menerima informasi tentang gangguan kamtibmas yang dihadapi atau potensial akan terjadi, yang perlu mendapatkan dukungan pelayanan kesehatan serta kesiapan sumberdaya kesehatan yang tersedia. (2) Menyiapkan dan menggerakkan sumberdaya pendukung pelayanan
Pada kegiatan penanggulangan gangguan kamtibmas yang sifatnya statis pada satu tempat. Misalnya yang terjadi akibat kerusuhan massal baik terencana ataupun spontan dan dampak lanjutnya dari suatu kegiatan dalam situasi khusus tertentu, karena sifatnya ataupun karena telah berhasil dikendalikan, maka kejadiannya dapat dilokalisir pada suatu tempat terbatas. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan pelayanan
c) Melaksanakan Pelayanan Kesehatan (1) Sasaran Pelayanan.
(a)Masyarakat terpajan yaitu yang terkena akibat langsung atau masyarakat lainnya yang terkena dampak.
(b)Petugas yang bertugas dalam penanggulangan gangguan kamtibmas. (c)Petugas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan.
(2) Pelaksana Pelayanan.
(a) Tim kesehatan yang ditunjuk bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayanan kesehatan.
(b) Anggota tim terdiri dari : dokter, tenaga keperawatan, sanitarian, tenaga kesehatan lainnya, tenaga pendukung pelayanan dan pengemudi kendaraan.
(c) Tim dibentuk secara terpadu terdiri atas berbagai komponen baik pemerintah maupun non pemerintah yang diperbantukan oleh instansi kesehatan setempat atas dasar permintaan, termasuk organisasi profesi LSM.
(d) Dalam kegiatan pelayanan, secara operasional tim bertanggung jawab kepada koordintaor, sedangkan secara teknis medis tim bertanggung jawab kepada Kepala Dinkes Kabupaten/Kota.
(3)Pelayanan Kesehatan.
Sasaran pelayanan kesehatan yang dipersiapkan tergantung dari macam gangguan kamtibmas. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat terpajan, antara lain berupa :
(a) Pendataan korban, baik korban cedera, korban mati maupun korban lainnya akibat kerusuhan yang terjadi dengan dukungan peran serta masyarakat.
(b) Pelayanan kuratif pada korban hidup mulai dari pelayanan dasar, pelayanan kuratif lanjutan, pelayanan emergensi dan rujukan pada sarana yang lebih lengkap, serta evakuasi korban pada kejadian berat, termasuk dampak psikologis.
(c) Penanganan jenazah pada korban mati bekerjasama dengan LSM, PMI, pemuka agama bersangkutan.
(d) Pengamatan sanitasi lingkungan dan pengamanannya, serta pengamatan penyakit, dilaksanakan apabila terjadi kerusakan lingkungan.
(e) Pengamatan sanitasi makanan pada lokasi penampungan, baik makanan yang disediakan oleh penanggung jawab ataupun makanan yang dijajakan disekitar lokasi.