"Pihak", dan secara bersama-sama disebut sebagai "Para Pihak";

Teks penuh

(1)

I/

REPUBLIK INDONESIA

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA DAN

KEMENTERIAN PERDAGANGAN & PERINDUSTRIAN REPUBLIK LIBERIA MENGENAI

KERJASAMA TEKNIK DI SEKTOR INDUSTRI

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Kementerian Perdagangan dan Perindustrian Republik Liberia selanjutnya masing-masing disebut sebagai "Pihak", dan secara bersama-sama disebut sebagai "Para Pihak";

BERKEINGINAN untuk lebih memperkuat dan meningkatkan hubungan kerjasama industri dan ekonomi antar kedua negara;

BERHARAP untuk menemukan pendekatan dan strategi baru untuk melakukan konsolidasi, perluasan, dan memperdalam pengembangan area ekonomi, investasi, dan kerjasama industri di antara kedua negara dengan fokus utama pada bidang pengembangan lndustri Kecil dan Menengah (IKM);

MERUJUK pada Memorandum Saling Pengertian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Liberia tentang Pembentukan Komisi Bersama untuk Kerjasama Bilateral ditandatangani di Monrovia pada 31 Januari 2013;

SESUAI DENGAN hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di masing-masing negara;

(2)

PASAL 1

TUJUAN KERJASAMA

Tujuan Memorandum Saling Pengertian ini adalah untuk melaksanakan kerjasama teknik di sektor industri diantara para Pihak khususnya dalam lingkup pengembangan industri kecil dan menengah

PASAL 2

LINGKUP KERJASAMA

Lingkup kerjasama dalam Memorandum Saling Pengertian ini harus meliputi bidang-bidang sebagai berikut:

a. lndustri agro, termasuk peralatan perikanan dan pertanian; b. lndustri tekstil dan garmen; dan

c. lndustri furnitur.

PASAL 3

BENTUK-BENTUK KERJASAMA

Guna mencapai tujuan Memorandum Saling Pengertian ini, Para Pihak setuju untuk melaksanakan kerjasama teknik, sebagai berikut:

1. Kerjasama dalam proyek alih teknologi dan rantai pasokan; dan

2. Kerjasama dalam penyelenggaraan pelatihan (termasuk pelatihan untuk para pelatih), pendidikan, dan pengiriman tenaga ahli

(3)

PASAL 4

PENGATURANPELAKSANAAN

Setiap kegiatan kerjasama berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini harus diuraikan dalam suatu pengaturan pelaksanaan yang tertulis dalam waktu dekat yang terdiri atas rencana kerja, durasi, biaya, skema pendanaan, dan ketentuan lain yang diperlukan oleh kegiatan kerjasama ini.

PASAL 5 LOKASI PROYEK

Para Pihak setuju untuk melaksanakan kerjasama di Jakarta, Monrovia dan lokasi proyek lainnya berdasarkan kesepakatan tertulis dari kedua Pihak.

PASAL 6

KEWAJIBAN-KEWAJI BAN

1. Kewajiban masing-masing Pihak akan diuraikan dalam pengaturan pelaksanaan dalam lingkup Memorandum Saling Pengertian ini.

2. Masing-masing Pihak berkewajiban untuk memonitor dan mengevaluasi secara berkala kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini.

PASAL 7

HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL

1. Para pihak setuju setiap hak kekayaan intelektual yang timbul dari pelaksanaan Memorandum Saling Pengertian ini harus dimiliki bersama, dan:

a. Masing-masing Pihak harus diijinkan untuk menggunakan kekayaan intelektual tersebut untuk tujuan pemeliharaan, adaptasi, dan penyempurnaan kekayaan intelektual terkait;

(4)

b. Dalam hal hak kekayaan intelektual digunakan oleh salah satu Pihak dan/atau lembaga atas nama Pihak tersebut untuk tujuan komersial, Pihak lainnya harus memperoleh royalti yang adil;

c. Masing-masing Pihak harus bertanggung jawab atas setiap tuntutan yang dibuat oleh pihak ketiga yang berkaitan dengan kepemilikan dan legalitas dari penggunaan hak kekayaan intelektual yang dibawa oleh Pihak tersebut di atas untuk pelaksanaan setiap kegiatan kerjasama berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini.

2. Para Pihak harus menjamin satu sama lain bahwa hak kekayaan intelektual yang dibawa oleh salah satu Pihak kedalam wilayah Pihak lain untuk pelaksanaan pengaturan proyek dari kegiatan tidak dihasilkan dari pelanggaran atas hak pihak ketiga lain yang sah.

3. Jika salah satu Pihak berkeinginan untuk mengungkap data dan/atau lnformasi rahasia yang dihasilkan dari kegiatan kerjasama berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini kepada pihak ketiga, Pihak yang mengungkap data harus memperoleh ijin terlebih dahulu dari Pihak lainnya sebelum pengungkapkan dimaksud dilakukan.

4. Bilamana salah satu Pihak membutuhkan kerjasama dari pihak ketiga diluar kedua negara untuk kegiatan komersial yang dihasilkan dari kekayaan intelektual yang diatur oleh Memorandum Saling Pengertian ini, Pihak tersebut harus memberikan preferensi terlebih dahulu kepada Pihak lainnya berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini.

PASAL 8 KERAHASIAN

1. Masing-masing Pihak harus menjaga kerahasiaan dokumen, informasi, dan data lainnya yang diterima dari atau diberikan kepada Pihak lain selama periode pelaksanaan Memorandum Saling Pengertian ini atau perjanjian lainnya yang dibuat berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini.

(5)

2. Para Pihak setuju bahwa ketentuan Pasal ini akan terus berlaku dengan tidak mengabaikan adanya pengakhiran atas Memorandum Saling Pengertian ini.

3. Ketentuan Pasal ini tidak boleh mengabaikan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dari Para Pihak.

PASAL 9

PERLINDUNGAN EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL

Para Pihak harus menghargai nilai ekspresi budaya tradisional dan mencegah adanya penyalahgunaan dan pemanfaatan secara tidak patut dari ekspresi budaya tradisional dari salah satu Pihak

PASAL10

PEMBATASAN KEGIATAN PERSONIL

Setiap orang yang terlibat dalam kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini harus menghormati kemerdekaan politik, kedaulatan, dan integritas teritorial dari negara tuan rumah, dan harus menghindari kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan dan maksud dari Memorandum Saling Pengertian ini.

PASAL 11 AMAN DEM EN

Memorandum Saling Pengertian ini dapat diamandemen setiap waktu berdasarkan kesepakatan Para Pihak melalui nota diplomatik. Amandemen tersebut akan berlaku pada tanggal yang ditentukan oleh Para Pihak dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Memorandum Saling Pengertian ini.

(6)

PASAL 12

PENYELESAIAN SENGKETA

Setiap sengketa di antara Para Pihak yang terkait dengan penafsiran dan/atau implementasi dari Memorandum Saling Pengertian ini harus diselesaikan secara bersahabat melalui konsultasi atau perundingan antara Para Pihak.

PASAL13

MULAI BERLAKU, MASA BERLAKU, DAN PENGAKHIRAN

1. Memorandum Saling Pengertian ini akan berlaku sejak tanggal penandatanganan dan akan tetap berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. Memorandum Saling Pengertian ini dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan tertulis dari Para Pihak.

2. Salah satu pihak dapat mengakhiri Memorandum Saling Pengertian ini dengan memberitahukan kepada Pihak lainnya mengenai keinginan tersebut secara tertulis 6 (enam) bulan sebelumnya melalui saluran diplomatik.

3. Dalarn hal terjadi pengakhiran, ketentuan dari Memorandum Saling Pengertian ini harus tetap berlaku bagi program-program yang tengah berjalan berdasarkan Memorandum ini hingga selesainya program-program tersebut, kecuali Para Pihak menyatakan sebaliknya.

SEBAGAI BUKTI, yang bertanda tangan di bawah ini, telah menandatangani Memorandum Saling Pengertian ini.

(7)

DIBUAT dalam dua naskah asli di Jakarta pada 25 Maret 2013 dalam bahasa lnggris dan Indonesia. Seluruh naskah memiliki keabsahan yang sama.

UNTUK KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA

Signed

Mohamad S. Hidayat Menteri Perindustrian UNTUK KEMENTERIAN PERDAGANGAN DAN

PERINDUSTRIAN REPUBLIK LIBERIA

Signed

Apgustine Kpehe Ngafuan Menteri Luar Negeri

(8)

REPUBLIK INDONESIA

MEMORANDUM OF UNDERSTANDING BETWEEN

THE MINISTRY OF INDUSTRY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND

THE MINISTRY OF COMMERCE & INDUSTRY OF THE REPUBLIC OF LIBERIA ON

TECHNICAL COOPERATION IN INDUSTRIAL SECTOR

The Ministry of Industry of the Republic of Indonesia and the Ministry of Commerce

and Industry of the Republic of Liberia, hereinafter referred to singularly as "the Party" and collectively as "the Parties",

DESIRING to further strengthen and promote industrial and economic interrelations between the two countries;

WISHING to find new approaches and strategies for consolidating, expanding and deepening areas of economic development, investments, and industrial cooperation between two countries with specific focus on development of the Small and Medium Industries (SMls);

REFERRING to the Memorandum of Understanding between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of Liberia on the Establishment of Joint Commission for Bilateral Cooperation signed in Monrovia on

31 January 2013;

PURSUANT to the prevailing laws and regulations of their respective countries;

(9)

ARTICLE 1

OBJECTIVES OF COOPERATION

The objective of this Memorandum of Understanding is to conduct technical cooperation in the industrial sector between the Parties especially in the scope of small and medium industries development.

ARTICLE 2

SCOPE OF COOPERATION

The scope of cooperation of this Memorandum of Understanding shall include the following fields:

1. Agro industry, including fisheries and agricultural equipment;

2. Textiles and garment industry; and

3. Furniture industry.

ARTICLE 3

AREAS OF COOPERATION

To achieve the objectives of this Memorandum of Understanding, the Parties agreed to carry out the technical cooperation, as follows:

1. Cooperation in the areas of technology transfer and supply chain; and

2. Cooperation in training (including training of trainers), education, and dispatch of experts.

(10)

ARTICLE 4

IMPLEMENTING ARRANGEMENT

Each cooperation activity under this Memorandum of Understanding shall be defined in due course in a written implementing arrangement which shall consist of statement of work, duration, cost, funding scheme, and other necessary terms of cooperation activities.

ARTICLE 5

PROJECT LOCATION

The Parties agree to cooperate in Jakarta, Monrovia and other project locations as

mutually agreed in writing by both Parties.

ARTICLE 6

OBLIGATIONS

1. The obligation of each Party would be defined in implementing arrangement

within the scope of this Memorandum of Understanding

2. Each Party shall be obliged to monitor and evaluate periodically activities conducted under this Memorandum of Understanding.

ARTICLE 7

INTELLECTUAL PROPERTY RIGHTS

1. The Parties agreed that any intellectual property rights arising under the

implementation of this Memorandum of Understanding shall be jointly owned

and:

a. Each Party shall be allowed to use intellectual property for the purpose of

(11)

I

b. In the event the intellectual property rights is used by a Party and/or

institution on behalf of that Party for commercial purpose, the other Party

shall be entitled to obtain equitable portion of royalty;

c. Each Party shall be liable for any claim made by any third party on the

ownership and legality of the use of intellectual property rights which is brought in by the aforementioned Party for the implementation of the cooperation activities under this Memorandum of Understanding.

2. The Parties shall indemnify each other that the intellectual property rights brought by a Party into the territory of the other Party for the implementation of any

project arrangement of activities is not resulted from any infringement of the third party's legitimate rights.

3. If either Party wishes to disclose confidential data and/or information resulting from the cooperation activities under this Memorandum of Understanding to any

third party, the disclosing Party must obtain prior consent from the other Party, before any disclosure can be made.

4. Whenever either Party requires the cooperation of a third party outside both countries for any commercial undertaking resulting from intellectual property

covered by this Memorandum of Understanding, that Party will give first

preference of the cooperation to the other Party under this Memorandum . of Understanding.

ARTICLE 8 CONFIDENTIALITY

1. Each Party shall undertake to observe the confidentiality and secrecy of

documents, information and other data received from or supplied to the other

(12)

Understanding or any other agreements made pursuant to this Memorandum of Understanding.

2. The Parties agreed that the provision of this Article shall continue to be binding between the Parties notwithstanding the termination of this Memorandum of Understanding.

3. The Provision of this Article shall not prejudice the prevailing laws and regulations of the Parties.

ARTICLE 9

PROTECTION OF TRADITIONAL CULTURAL EXPRESSIONS

The Parties shall recognize the value of traditional cultural expressions and prevent any misappropriation and misuse of such traditional cultural expressions of either Party.

ARTICLE 10

LIMITATION OF PERSONNEL ACTIVITIES

Any person engaged in activities to this Memorandum of Understanding shall respect political independence, sovereignty, and territorial integrity of the host country, and shall avoid any activities inconsistent with the purposes and objectives of this Memorandum of Understanding.

ARTICLE 11 AMENDMENT

This Memorandum Understanding may be amended at any time by mutual consent of the Parties through diplomatic notes. Such amendment shall enter into force on such a date as may be determined by the Parties and shall form an integral part of this Memorandum of Understanding.

(13)

ARTICLE 12

DISPUTES SETTLEMENT

Any dispute between the Parties relating to the interpretation and/or implementation

of this Memorandum of Understanding shall be resolved amicably through

consultation or negotiation between the Parties.

ARTICLE 13

ENTRY INTO FORCE, DURATION AND TERMINATION

1. This Memorandum of Understanding shall enter into force on the date of its

signing and shall remain in force for period of 5 (five) years. This Memorandum of

Understanding may be extended based on mutual written consent of the Parties.

2. Either Party at any time may terminate this Memorandum of Understanding by

giving notification to other Party of such intention in writing 6 (six) months in

advance through diplomatic channels.

3. In the event of termination, the provisions of this Memorandum of Understanding

shall remain applicable to ongoing programmes made under this Memorandum

until their completion, unless the Parties agree otherwise.

IN WITNESS WHEREOF the undersigned, have signed this Memorandum of

(14)

DONE in two originals at Jakarta on March 251h, 2013 in English and Indonesian languages. All texts being equally authentic.

FOR THE MINISTRY OF INDUSTRY OF FOR THE MINISTRY OF COMMERCE & THE REPUBLIC OF INDONESIA

Signed

Mohamad S. Hidayat Minister of Industry

INDUSTRY OF THE REPUBLIC OF LIBERIA

Signed

A-tiwasline Kpehe Ngafuan Minister of Foreign Affairs

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :