VITKA JMP Volume 1 Nomor 1: 13 – 19 | e-ISSN: 2685-1199 p-ISSN: 2684-7892 ©2019
Original Research
Persepsi dan Ekspektasi Wisatawan terhadap Kebutuhan Sarana dan
Prasarana di Kawasan Jembatan Barelang Batam
Tourist Perceptions and Expectations of Facilities and Infrastructure Needs in the Jembatan
Barelang Batam Area
Tirta Mulyadi
Program Studi Manajemen Kuliner, Politeknik Pariwisata Batam,
The Vitka City Complex, Jl. Gajah Mada, Tiban - Batam, Kepulauan Riau 29425, Indonesia
INFO ARTIKEL ABSTRACT
Diterima : 20/05/19 Direvisi : 21/06/19 Disetujui : 29/06/19 Tersedia online : 30/06/19 Email korespondensi: [email protected] 1. PENDAHULUAN
Kota Batam saat ini menjadi pintu masuk internasional utama nasional, dengan diberlakukannya otonomi daerah. Kewenangan yang besar untuk melakukan serangkaian proses, mekanisme, dan tahapan perencanaan, dapat menjamin keselarasan pembangunan daerah terutama pengembangan pariwisata. Kota Batam sebagai salah satu destinasi unggulan nasional terus berupaya untuk mengembangkan potensi sumber daya pariwisata yang dimiliki guna meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata dalam rangka meningkatkan perekonomian, yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Pulau Batam berdasarkan kebangsaan tahun 2011-2015, menunjukkan bahwa Singapura menjadi penyumbang wisman terbanyak pada urutan pertama, diikuti oleh Malaysia dan Korea Selatan. Pendapatan utama Kota Batam berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kota Batam menunjukkan bahwa pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar ke dua setelah pajak bumi dan bangunan (PBB). Salah satu destinasi pariwisata di Kota Batam adalah Jembatan Balerang. Jembatan Barelang merupakan enam jembatan yang menghubungkan Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru. Pembangunan jembatan ini diprakarsai oleh B.J. Habibie yang merupakan Ketua Otorita
VITKA Jurnal Manajemen Pariwisata
www.journal.btp.ac.id
The purpose of this research was to observe the perceptions and expectations of tourists on the facilities and infrastructure available to support the new bridge as a new symbol of the Batam City. This study used qualitative methods and the data was analyzed by descriptive analysis to discuss the problem more deeply. The data was analyzed further by data triangulation or data collection techniques by combining several data collection techniques and data sources. The results showed that the perceptions and expectations generated based on the answers of tourists that the attraction power has enough results and the uniqueness of attractions Parik tour. It has enough results according to the results of tourist responses. Tourist facilities have very unsatisfied result according to the result of tourist response seen from result of highest perception percentage (19%) in toilet category and result of highest expectation (18,7%) in category of parking place. For result of lowest perception percentage (13,2%) in category health facilities and the lowest presentation results (14%) in the category of information service. This study suggested something to meet the needs of tourists who visited the Jembatan Barelang Area, such as facilities and infrastructure of tourism facilities, accessibility, and pricing.
Keywords: facilities and infrastructure, Jembatan Barelang Area, tourism
14 Batam pada periode 1978-1998. Jembatan dengan total panjang 2.264 m ini terdiri dari rangkaian enam jembatan yang masing-masing diberi nama raja yang pernah berkuasa pada zaman Kerajaan Melayu Riau pada abad 15-18 Masehi (Walikota Batam, 2004).
Jembatan Barelang merupakan simbol Kota Batam dan menjadi tujuan wisatawan dan jembatan inilah yang paling besar dan paling terkenal dari semua jembatan yang dibangun. Walaupun menjadi simbol Kota Batam, Jembatan Barelang tidak terletak di tengah Kota Batam. Jembatan ini berjarak 20 km dari pusat Kota Batam. Menilik asal mula tujuan pembuatan, jembatan ini dibangun yakni untuk menfasilitasi pulau-pulau di sekitar Kota Batam untuk mendukung wilayah industri Kota Batam, yang kemudian bermetamorfosis menjadi daerah tujuan wisata baru dengan banyaknya destinasi wisata yang dapat ditemui wisatawan disepanjang jembatan yang dibangun. Berdasarkan hasil observasi awal, hingga saat ini, sarana parkir dan fasilitas yang tersedia untuk mendukung Jembatan Barelang sebagai simbol Kota Batam baru berupa plaza terbuka yang berada di samping kiri sebelum jembatan, yang memiliki fasilitas seperti: panggung terbuka, toilet, tempat parkir, pusat informasi pariwisata, dan pojok foto. Namun, fasilitas baru yang dapat dinikmati oleh wisatawan ini hanya memiliki lahan parkir yang hanya menampung sekitar 120 kendaraan. Adapun pojok foto dalam hal ini yaitu sebuah tugu yang didesain sedemikian rupa dengan tulisan Barelang Bridge Batam yang berlatarbelakang Jembatan Barelang.
Ketua Asosiasi Travel Indonesia Kota Batam menyatakan bahwa pengembangan kawasan jembatan barelang mengalami ketidakseimbangan. sehingga aktivitas wisata pengunjung mengalami kendala. Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Kota Batam mengemukakan hal yang sama bahwa penetapan Jembatan Barelang sebagai ikon Kota Batam seharusnya memiliki sarana dan prasarana yang mencukupi kebutuhan wisatawan. Pembangunan plaza terbuka merupakan awal pengembangan kawasan Jembatan Barelang sebagai sebuah destinasi wisata utama, selain destinasi wisata yang lain di sekitar jalur keenam jembatan yang menghubungkan Pulau Batam dengan pulau-pulau lain.
Menurut Yoeti (1997), dalam kepariwisataan, syarat product style yang baik, di antaranya: (1) obyek harus menarik untuk disaksikan maupun dipelajari, (2) mempunyai kekhususan dan berbeda dari obyek yang lain, (3) prasarana menuju ke tempat tersebut terpelihara dan baik, (4) tersedia fasilitas something to see, something to do dan something to buy, (5) kalau perlu dilengkapi dengan sarana-sarana akomodasi dan hal lain yang dianggap perlu. Keseluruhan unsur-unsur tersebut perlu dikemas menjadi suatu kesatuan sehingga dapat dikembangkan menjadi suatu paket wisata. Selai n itu, hal –hal yang perlu dikemas meliputi:
1. Pengemasan Aktivitas Wisata; 2. Pengemasan Fasilitas Wisata; dan 3. Pengemasan Pelayanan Wisata.
Menurut (Kurniansah, 2016), disebutkan bahwa kegiatan kepariwisataan di suatu destinasi pariwisata harus beradaptasi terhadap tuntutan perubahan dengan selalu memperhatikan suara dari berbagai pihak khususnya wisatawan, suara tersebut berupa persepsi dan ekspektasi mereka untuk perubahan destinasi pariwisata tersebut agar menjadi lebih baik.Topik yang diambil pada penelitian ini yaitu terkait dengan presepsi dan ekspektasi wisatawan terhadap kebutuhan sarana dan prasarana agar wisatawan yang datang dapat sesuai dengan ekspektasi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadikan Jembatan Barelang sebagai ikon dan daya tarik wisata utama bagi wisatawan di Kota Batam. Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan pada penelitian ini adalah: 1. Bagaimana kondisi produk wisata di Kawasan
Jembatan Barelang saat ini?
2. Bagaimana persepsi dan ekspektasi wisatawan akan sarana dan prasarana wisata di Kawasan Jembatan Barelang?
2. BAHAN DAN METODE
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun yang dimaksud dengan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang dilakukan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata -kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2007). Penelitian deskriptif digunakan untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data.
Populasi dalam penelitian ini adalah wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Jembatan Barelang selama tahun 2017. Populasi menurut (Sugiyono, 2008) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karekteristik tertentu, yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian kualitatif, tidak menggunakan istilah populasi, penulis meneliti berdasarkan tiga elemen, yaitu: 1) Jembatan Barelang sebagai lokasi atau tempat yang diteliti, kemudian 2) Masyarakat sebagai wisatawan di Jembatan Barelang, serta 3) Aktivitas wisata yang dilakukan di Jembatan Barelang. Menurut Spradley yang dikutip oleh (Sugiyono, 2008), populasi dinamai sebagai social situation atau situasi sosial yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis.
Sampel yang diambil dalam penelitian diperoleh dari sebanyak sekitar 12 hari x 10 orang = 120 wisatawan. Dari 120 wisatawan yang menerima kuesioner, penulis mengambil keputusan untuk menggunakan 100 hasil kuesioner, karena terdapat beberapa lembar kuesioner yang tidak lengkap dalam pengisian. Data diperoleh berdasarkan data wisatawan yang berkunjung pada hari di mana peneliti melakukan
15 penyebaran kuesioner. Pengambilan sampel dan teknik pengambilan data dilakukan secara tepat, yaitu data diperoleh berdasarkan kualitas dari informasi yang dibutuhkan peneliti kepada informan secara mendalam untuk menjawab pertanyaan permasalahan.
Teknik sampling yang digunakan oleh peneliti adalah purposive sampling dan accidental atau convenience sampling. Purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan beberapa pertimbangan, misalnya memilih partisipan yang dianggap bisa mewakili suatu kondisi yang diharapkan mampu memudahkan peneliti untuk menjelajahi objek atau situasi sosial yang diteliti secara mendalam. Accidental atau convenience sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti, dapat digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2004).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Analisis Data
3.1.1 Atraksi Wisata di Kawasan Jembatan Barelang Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa atraksi wisata Kawasan Jembatan Barelang memiliki penilaian secara keseluruhan, di mana kategori nilai tersebut masuk ke dalam penilaian. Kualitas daya tarik wisata memiliki hasil cukup menurut jawaban wisatawan yang terlihat dari presentase persepsi (50,9%) dan presentase ekspetasi (48,2%). Begitu juga dengan keunikan daya tarik wisata yang memiliki hasil cukup menurut jawaban wisatawan yang terlihat dari presentase persepsi (49,1%) dan presentase ekspetasi (51,3%). Hal ini dapat dijelaskan, wisatawan yang mengunjungi Kawasan Jembatan Barelang lebih sedikit menyukai keunikan daripada daya tarik wisata itu sendiri, dibandingkan kualitas dari daya tarik wisata.
Persepsi dan ekspetasi pengunjung berdasarkan dimensi atraksi wisata menunjukan bahwa Jembatan Barelang merupakan jembatan yang tidak menggunakan kaki penyangga, akan tetapi mengunakan besi yang menggantung. Hal tersebut merupakan keunikan dari daya tarik wisata yang ada di Kawasan Jembatan Barelang. Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Mala (2013), persepsi dan ekspetasi wisatawan terhadap kualitas atraksi
wisata di Desa Koanara belum sepenuhnya sesuai dengan harapan wisatawan atau terpuaskan dengan keadaan yang sebenarnya. Hal ini didukung oleh persepsi pelanggan yang dipengaruhi tingkat kepentingan, kepuasan pelanggan, dan nilai yang diperoleh.
3.1.2 Fasilitas Wisata di Kawasan Jembatan Barelang Berdasarkan Tabel 2, fasilitas wisata memiliki hasil sangat tidak puas menurut wisatawan. Hal ini terlihat dari presentase persepsi tertinggi sebanyak 19% pada kategori toilet dan presentase ekspetasi tertinggi sebanyak 18,7% pada kategori tempat parkir. Selain itu, untuk presentase persepsi terendah sebanyak 13,2% yaitu pada kategori fasilitas kesehatan dan 14% pada pelayanan informasi.
Respon persepsi dan ekspetasi pengunjung berdasarkan dimensi fasilitas wisata menunjukan bahwa Jembatan Barelang memiliki fasilitas yang kurang. Persepsi dan ekspketasi wisatawan terhadap kualitas atraksi wisata belum sepenuhnya sesuai dengan harapan wisatawan. Hal ini karena persepsi pelanggan dipengaruhi tingkat kepentingan, kepuasan pelanggan, dan nilai yang diperoleh. Namun, hal tersebut memiliki perbedaan dengan temuan penelitian yang dikemukakan oleh Fatimah (2014), persepsi pengunjung yang merupakan wisatawan tentang fasilitas wisata di objek wisata Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota tergolong pada kategori cukup baik, yaitu cukup untuk memenuhi kebutuhan aktivitas wisatawan pada saat itu, serta persepsi pengunjung digunakan untuk penilaian subyektif tentang fasilitas wisata yang disediakan.
3.1.3 Aksesibilitas di Kawasan Jembatan Barelang Aksesibilitas kawasan jembatan barelang memiliki hasil tidak puas atau terjadi ketidakpuasan menurut wisatawan. Hal ini terlihat dari presentase persepsi kondisi jalan (24,3%) dan presentase
ekspetasi (25,2%). Begitupun dengan kelancaran lalu lintas yang memiliki presentase persepsi 26,5% dan ekspetasi 27,1%. Sementara itu, kebersihan jalan memiliki persepsi 25,7% dan ekspetasi 26,4%. Hal ini dapat dijelaskan bahwa wisatawan yang mengunjungi Kawasan Jembatan Barelang mengeluhkan mengenai aksesibilitas.
Tabel 1. Persepsi dan ekspektasi wisatawan berdasarkan atraksi wisata
Jenis Persepsi Ekspetasi
Atraksi Wisata STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total Keterangan Kualitas Daya Tarik Wisata 14 (28) 38 (114) 37 (148) 11 (55) 345 (50,9%) 5 (5) 18 (36) 36 (108) 29 (116) 12 (60) 325 (48,7%) P >E Cukup Keunikan Daya Tarik Wisata 12 (24) 52 (156) 26 (104) 10 (50) 334 (49,1%) 2 (2) 5 (10) 53 (159) 28 (112) 12 (60) 343 (51,3%) P < E Cukup Total 52 270 252 105 679 7 46 267 228 120 668
16 3.1.4 Harga di Kawasan Jembatan Barelang
Berdasarkan Tabel 4, persepsi dan ekspetasi pengunjung berdasarkan dimensi harga, menunjukan bahwa Jembatan Barelang memiliki harga penunjang aktivitas wisata yang kurang. Persepsi dan ekspetasi wisatawan terhadap harga belum sepenuhnya sesuai dengan harapan wisatawan atau terpuaskan dengan keadaan yang sebenarnya. Hal ini didukung oleh persepsi pelanggan yang dipengaruhi tingkat kepentingan. Namun, hal tersebut memiliki perbedaan dengan temuan penelitian yang dikemukakan oleh Malish (2015), bahwa persepsi yang dihasilkan pengunjung terhadap harga tidak memenuhi ekspektasi.
3.1.5 Citra di Kawasan Jembatan Barelang
Berdasarkan Tabel 5, persepsi dan ekspetasi pengunjung berdasarkan dimensi citra, menunjukan bahwa jembatan barelang memiliki citra yang baik. Persepsi dan ekspetasi wisatawan terhadap citra belum sepenuhnya sesuai dengan harapan wisatawan atau terpuaskan dengan keadaan yang sebenarnya. Hal tersebut didukung oleh persepsi pelanggan yang dipengaruhi oleh tingkat kepentingan, kepuasan
pelanggan, dan nilai yang diperoleh. Namun, hal ini berbeda dengan temuan
3.2 Aspek Sarana dan Prasarana di Kawasan Jembatan Barelang
Berdasarkan hasil interview dengan nara sumber mengenai aspek sarana dan prasarana, dapat dinyatakan bahwa:
- Sarana dan prasarana yang terdapat di kawasan Jembatan Barelang sudah cukup lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan wisatawan dalam melakukan aktivitas wisata pada durasi kunjungan yang singkat.
- Sarana dan prasarana yang terdapat di Kawasan
Jembatan Barelang cukup lengkap untuk menunjang aktivitas wisatawan. Akan tetapi, untuk transportasi umum massal, hampir dapat dikatakan tidak tersedia sehingga rata-rata wisatawan yang datang banyak menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewa.
- Sarana dan prasarana yang terdapat di Kawasan Jembatan Barelang cukup lengkap, di mana sarana
Tabel 2. Persepsi dan ekspektasi wisatawan berdasarkan atraksi wisata
Jenis Persepsi Ekspetasi
Keterangan Fasilitas Wisata STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total Tempat Parkir 7 (7) 4 (8) 20 (60) 56 (224) 13 (65) 364 (17,6 %) 1 (1) 18 (36) 30 (90) 32 (128) 19 (95) 350 (18,75%) P >E Sangat Tidak Puas Tempat Ibadah 2 (2) 6 (12) 19 (57) 55 (220) 18 (90) 381 (18,4%) 5 (5) 22 (44) 30 (90) 25 (100) 8 (40) 279 (14,9%) P >E Sangat Tidak Puas Toilet 0 (0) 4 (8) 20 (60) 56 (224) 20 (100) 392 (19%) 11 (11) 10 (20) 28 (84) 42 (168) 9 (45) 328 (17,5%) P >E Sangat Tidak Puas Pelayanan Informasi 15 (15) 5 (10) 28 (84) 47 (188) 3 (25) 322 (15,6%) 18 (18) 27 (54) 30 (90) 23 (92) 2 (10) 264 (14%) P >E Sangat Tidak Puas Keamanan 13 (13) 8 (16) 23 (69) 49 (196) 7 (35) 329 (15,9%) 7 (7) 15 (30) 22 (44) 44 (176) 12 (60) 317 (16,9%) P >E Sangat Tidak Puas Fasilitas Kesehatan 17 (17) 10 (20) 36 (108) 28 (112) 3 (15) 272 (13,2%) 5 (5) 11 (22) 37 (111) 37 (148) 10 (50) 336 (17,9%) P < E Sangat Tidak Puas Total 54 74 438 1164 330 2060 47 206 449 720 300 1874
Keterangan: STP = Sangat Tidak Puas, TP = Tidak Puas, N = Netral, P = Puas, SP = Sangat puas
Tabel 3. Persepsi dan ekspektasi wisatawan berdasarkan aksesbilitas
Jenis Aksesbilitas Persepsi Ekspetasi STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total Keterangan Kondisi Jalan 15 (15) 13 (26) 26 (78) 39 (156) 7 (35) 310 (24,3%) 3 (3) 10 (20) 21 (163) 48 (192) 18 (90) 370 (25.3%) P < E Tidak Puas Kelancaran lalu Lintas 0 (0) 25 (50) 33 (99) 22 (88) 20 (100) 381 (26,5%) 2 (2) 4 (8) 7 (21) 68 (272) 19 (95) 398 (27,1%) P < E Tidak Puas Kebersihan Jalan 2 (2) 39 (78) 19 (57) 20 (80) 22 (110) 327 (25,7%) 0 (0) 10 (20) 16 (48) 50 (200) 24 (120) 388 (26,4%) P < E Tidak Puas Papan Petunjuk Jalan 1 (1) 50 (100) 19 (57) 11 (44) 19 (95) 297 (24,4%) 7 (7) 30 (60) 21 (63) 29 (116) 13 (65) 311 (21,2%) P < E Tidak Puas Total 18 254 291 368 708 2171 12 108 195 780 370 1467
17 - dan prasarana standar atau utama sebuah
destinasi tersedia di Kawasan Jembatan Barelang. Adapun penjelasan nara sumber dalam peletakan sarana dan prasarana, dinyatakan sebagai berikut : - Tidak strategis dalam tata letak beberapa sarana
dan prasarana, sehingga wisatawan perlu berjalan agak jauh untuk mencapai dan menggunakan sarana dan prasarana yang tersedia.
- Tata letak atau peletakan sarana dan prasarana cukup strategis, karena terdapat satu lokasi yang menyediakan beberapa sarana dan prasarana. Oleh karena itu, wisatawan tidak perlu menyebrang jalan raya atau melewati keramaian untuk menggunaka toilet, mushola, dan tempat makan. - Tata letak seluruh fasilitas yang tersedia di
Kawasan Jembatan Barelang tidak terlalu jauh dari titik foto dan mudah untuk ditempatkan.
Selain itu, terkait kuantitas sarana dan prasarana, penjelasan nara sumber dinyatakan sebagai berikut: - Sarana dan prasarana tidak memenuhi kebutuhan
wisatawan dalam menunjang aktivitas wisatawan yang dilakukan. Hal ini karena kuantitas yang tersedia sedikit dan mengakibatkan wisatawan mengantri cukup lama.
- Sarana dan prasarana masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sebagai wisatawan.
- Sarana dan prasarana seperti tenpat parkir dan tempat makan memiliki kapasitas yang cukup besar, sedangkan yang lainnya masih dalam kategori cukup untuk digunakan bergantian dengan wisatawan lain.
Penjelasan selanjutnya dari nara sumber dalam kualitas dan fungsi sarana dan prasarana yaitu:
- Kualitas dari sarana dan prasarana masih dirasa baik dan dapat digunakan sebagaimana fungsinya, walaupun terdapat sebagian fasilitas yang belum bisa dikatakan layak.
- Kualitas dari sarana dan prasarana cukup baik dan berfungsi dengan baik, sehingga wisatawan dapat menggunakan fasilitas yang ada dalam menunjang aktivitas wisata yang sedang dilakukan.
Kawasan Jembatan Barelang merupakan salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Sejak diresmikan, penggunaan dari jembatan tersebut pemerintah sudah melihat peluang dari mega proyek Jembatan Barelang untuk dijadikan sebuah destinasi di mana tujuannya adalah menghidupkan ekonomi kerakyatan masyarakat sekitar Jembatan Barelang. Kawasan Jembatan Barelang menyediakan sarana dan prasarana sebagai penunjang aktivitas wisata
yang dilakukan wisatawan. Sarana dan prasarana tersebut diharapkan dapat menciptakan rasa menyenangkan yang disertai kemudahan dan pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam menikmati keindahan serta keunikan pemandangan di Kawasan Jembatan Barelang.
3.3 Aspek Persepsi Wisatawan di Kawasan Jembatan Barelang
Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa dalam dalam perception selection menurut nara sumber sebagai berikut :
- Sarana dan prasarana di Kawasan Jembatan Barelang Hanya terdapat beberapa kedai kopi yang berjajar, di mana kedai kopi tersebut memiliki toilet yang alakadarnya dan tidak terdapat fasilitas lain.
Tabel 4. Persepsi dan ekspektasi wisatawan berdasarkan harga
Jenis Harga Persepsi Ekspetasi STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total Keterangan Tiket 0 (0) 16 (32) 47 (141) 27 (108) 10 (50) 331 (35,5%) 2 (2) 10 (20) 21 (63) 59 (236) 8 (40) 361 (25.3%) P < E Tidak Puas Cinderamata 2 (2) 14 (28) 53 (159) 33 (92) 8 (40) 321 (34,4%) 5 (5) 14 (28) 7 (21) 69 (207) 5 (25) 286 (30 %) P > E Tidak Puas Transportasi Menuju DTW 19 (19) 19 (38) 25 (75) 36 (144) 1 (5) 281 (30,1%) 6 (6) 10 (20) 16 (48) 54 (162) 14 (70) 306 (32,1%) P < E Tidak Puas Total 21 98 375 344 95 933 13 68 132 605 135 953
Keterangan: STP = Sangat Tidak Puas, TP = Tidak Puas, N = Netral, P = Puas, SP = Sangat puas
Tabel 5. Persepsi dan ekspektasi wisatawan berdasarkan citra
Jenis Citra Persepsi Ekspetasi STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total STP (1) TP (2) N (3) P (4) SP (5) Total Keterangan Publikasi Tentang DTW 10 (10) 37 (74) 23 (69) 28 (140) 2 (10) 303 (46,9%) 6 (6) 31 (62) 28 (84) 31 (124) 4 (20) 296 (47.4%) P > E Cukup Informasi Tentang DTW 3 (3) 24 (48) 37 (111) 29 (145) 7 (35) 342 (53,1% 10 (10) 14 (28) 43 (129) 33 (132) 66 (30) 329 (52,6 %) P > E Cukup Total 13 122 302 285 45 645 16 90 213 469 50 625
18 - Sarana dan prasarana di Kawasan Jembatan
Barelang hanya terdapat lahan parkir dan sebuah bukit untuk tempat berfoto.
- Kawasan Jembatan Barelang hanya memiliki tempat parkir, kondisi kedai kopin cukup standar dan tidak terlalu nyaman untuk digunakan sebagai tempat nongkrong dan berlama-lama di Kawasan Jembatan Barelang.
Selanjutnya, dalam hal perseptual organization, menurut nara sumber, dinyatakan sebagai berikut : - Kawasan Jembatan Barelang secara keseluruhan
dianggap mampu memenuhi kebutuhan wisatawan, karena jika sebuah objek wisata telah menjadi ion dan beroperasional, secara langsung akan terdapat fasilitas pelengkap objek tersebut.
- Fasilitas penunjang pada Jembatan Barelang tidak dipersiapkan dengan baik.
- Kawasan Jembatan Barelang seharusnya sudah memiliki sarana dan prasarana dengan baik dan dapat digunakan oleh wisatawan, di mana lahan parkir, toilet, dan mushola sudah tersedia.
Selain itu, untuk perceptual interpretation menurut nara sumber, dapat dinyatakan sebagai berikut - Kawasan Jembatan Barelang merupakan destinasi
yang memiliki sarana dan prasarana yang sudah layak untuk digunakan wisatawan.
- Sarana dan prasarana yang baik sudah disediakan untuk menunjang kegiatan wisatawan.
- Sarana dan prasarana sudah disediakan sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
3.4 Aspek Ekspetasi Wisatawan di Kawasan Jembatan Barelang
Pada aspek ekspetasi wisatawan, bahasan dibagi menjadi beberapa fokus seperti: individual need, word of mouth, past experience, dan external communication. Adapun pernyataanya disajikan sebagi berikut:
- Memiliki ekspektasi yang termasuk dalam individual need, word of mouth, dan external communication di mana wisatawan memiliki ekspektasi sarana dan prasarana yang digunakan oleh nara sumber dirasa cukup baik serta berfungsi dengan semestinya dan cukup layak untuk digunakan.
- Memiliki ekspektasi yang termasuk dalam individual need, word of mouth, dan past experience di mana wisatawan memiliki ekspektasi sarana dan prasarana yang tersedia di Kawasan Jembatan Barelang tidak terlalu jauh. Selain itu, kondisi dan kegunaanya pun cukup baik.
- Memiliki ekspektasi yang termasuk dalam word of mouth, past experience, dan external communication dimana wisatawan memiliki ekspektasi sarana dan prasarana mengalami banyak perubahan dan penambahan yang lebih
baik, yaitu masih sama dalam segi kondisi dan kegunaan.
4. KESIMPULAN
Persepsi dan ekspetasi wisatawan berdasarkan atraksi wisata di Kawasan Jembatan Barelang memiliki hasil cukup. Hal ini menghasilkan presentase persepsi 50,9% dan ekspektasi 48,2%. Begitupun dengan keunikan daya tarik wisata yang memiliki presentase persepsi 49,1% dan ekspetasi 51,3%. Berdasarkan fasilitas wisata di Kawasan Jembatan Barelang, memiliki hasil sangat tidak dengan presentase persepsi tertinggi 19% dalam kategori toilet dan ekspetasi tertinggi 18,7% dalam kategori tempat parkir. Kemudian, untuk presentase persepsi terendah yaitu 13,2% dalam kategori fasilitas kesehatan dan 14% dalam kategori pelayanan informasi. Berdasarkan aksesibilitas, hasilnya yaitu tidak puas atau terjadi ketidakpuasan terlihat dari presentase persepsi kondisi jalan yaitu 24,3% dan ekspetasi 25,2%. Begitupun dengan kelancaran lalu lintas yang memiliki presentase persepsi 26,5% dan ekspetasi 27,1%. Sementara itu, untuk kebersihan jalan memiliki persepsi 25,7% dan ekspetasi 26,4%. Hal ini dapat dijelaskan bahwa wisatawan yang mengunjungi Kawasan Jembatan Barelang mengeluhkan mengenai aksesibilitas. Mengenai persepsi dan ekspetasi pengunjung, berdasarkan dimensi harga menunjukkan bahwa Jembatan Barelang memiliki harga penunjang aktivitas wisata yang kurang. Persepsi dan ekspetasi pengunjung berdasarkan dimensi citra menunjukkan bahwa Jembatan Barelang memiliki citra yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Fatimah S. 2014. Persepsi pengunjung tentang fasilitas wisata di Objek Wisata Lembah Harau Kabupaten Lima Puluh Kota. Universitas Negeri Padang.
Kurniansah R. 2016. Persepsi dan ekspetasi wisatawan terhadap komponen destinasi wisata Lakey-hu’u Kabupaten Dompu. Jurnal Master Pariwisata. Vol 3 No 1: page 72–91. doi:10.24843/JUMPA.2016.v03.i01.p06.
Mala M. 2013. Persepsi dan harapan (Ekspektasi) wisatawan terhadap kualitas pelayanan pada sarana akomodasi di Desa Koanara Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende. Universitas Udayana. Moleong L. 2007. Metodologi penelitian kualitatif.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2004. Metode penelitian administrasi. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
19 Nomor 2 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Batam Tahun 2004-2014. : page 63.
Yoeti O. 1997. Perencanaan dan pengembangan pariwisata. Jakarta: PT Pradnya Paramita.