• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inovasi Pelayanan Laboratorium Patology

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Inovasi Pelayanan Laboratorium Patology"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

INOVASI PELAYANAN LABORATORIUM PATOLOGY KLINIK RUMAH

INOVASI PELAYANAN LABORATORIUM PATOLOGY KLINIK RUMAH SAKITSAKIT ERA BPJS ERA BPJS Oleh : Hartanto Oleh : Hartanto  ABSTRAK  ABSTRAK

Industri Kesehatan di Indonesia memasuki era Universal Health Coverage (UHC) Industri Kesehatan di Indonesia memasuki era Universal Health Coverage (UHC) dengan berlakunya Undang-undang nomor 24 tahun 2011 tentang Badan dengan berlakunya Undang-undang nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan(BPJS) Kesehatan mulai 1 Januari 2014 melalui sistemmulai 1 Januari 2014 melalui sistem  Managed

 Managed CareCare meliputi pengobatan rawat inap dan rawat jalan di Rumah Sakitmeliputi pengobatan rawat inap dan rawat jalan di Rumah Sakit melalui system INA-CBGs. INA-CBGs adalah sistem pengelompokan

melalui system INA-CBGs. INA-CBGs adalah sistem pengelompokan berdasarkanberdasarkan ciri klinis yang sama dan sumber daya yang digunakan dalam pengobatan

ciri klinis yang sama dan sumber daya yang digunakan dalam pengobatan Casemix- Casemix-DRG

DRG (Diagnosis Related Group)(Diagnosis Related Group) dengan menggunakan Clinical pathway based yaitudengan menggunakan Clinical pathway based yaitu ICD-10

ICD-10 (International Classification Deaseas)(International Classification Deaseas) untuk diagnosa 14.500 kode dan ICDuntuk diagnosa 14.500 kode dan ICD–– 9CM Untuk prosedur/tindakan 7.500 kode. Dalam mengimplementasikan Sistem 9CM Untuk prosedur/tindakan 7.500 kode. Dalam mengimplementasikan Sistem INA-CGBs Rumah Sakit sebagai pemberi pelayanan kesehatan perlu menyusun INA-CGBs Rumah Sakit sebagai pemberi pelayanan kesehatan perlu menyusun langkah pelayanan yang lebih detail berdasarkan

langkah pelayanan yang lebih detail berdasarkan Clinical pathwayClinical pathway  yaitu  yaitu suatusuatu pemetaan mengenai tindakan klinis untuk diagnosis tertentu

pemetaan mengenai tindakan klinis untuk diagnosis tertentu dalam waktu tertentu,dalam waktu tertentu,  yang

 yang mendokumentasikmendokumentasikanan clinical practiceclinical practice terbaikterbaik mulai dari pasien masuk sampaimulai dari pasien masuk sampai  pasien pulang

 pasien pulang, yang merupakan, yang merupakan integrasi pelayanan medis, pelayanan keperawatan,integrasi pelayanan medis, pelayanan keperawatan,  pelayanan

 pelayanan farmasi, farmasi, laboratorium laboratorium dan dan pelayanan pelayanan kesehatan kesehatan lain. lain. Clinical Clinical pathwaypathway  yang

 yang diterapkan diterapkan dengan dengan baik baik dapat dapat menjadi menjadi alat alat kendali kendali mutumutu (quality (quality assurance)assurance) pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Hal ini dimungkinkan karena biaya-costing pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Hal ini dimungkinkan karena biaya-costing  yang

 yang dikeluarkan dikeluarkan dari dari pemberi pemberi pelayanan pelayanan kepada kepada pasien pasien dapat dapat dihitungdihitung berdasarkan

berdasarkan clinical pathwayclinical pathway dan selaras dengan tarif INA CBGs yang telahdan selaras dengan tarif INA CBGs yang telah ditetapkan (casemix-coding-costing), sehingga bila biaya pelayanan yang diberikan ditetapkan (casemix-coding-costing), sehingga bila biaya pelayanan yang diberikan kepada pasien melebihi tarif INA CBGs maka rumah sakit dapat segera kepada pasien melebihi tarif INA CBGs maka rumah sakit dapat segera mengupayakan efisisensi, tanpa perlu melakukan Fraud. Clinical Pathway bisa mengupayakan efisisensi, tanpa perlu melakukan Fraud. Clinical Pathway bisa digunakan sebagai salah satu alat mekanisme evaluasi penilaian risiko penilaian digunakan sebagai salah satu alat mekanisme evaluasi penilaian risiko penilaian risiko untuk mendeteksi kesalahan aktif

risiko untuk mendeteksi kesalahan aktif (active errors) dan laten (latent/ system(active errors) dan laten (latent/ system errors) maupun nyaris terjadi (near miss) dalam

(2)

Risk Management)

Risk Management) dalam rangka menjaga dan meningkatkan keamanan dandalam rangka menjaga dan meningkatkan keamanan dan keselamatan pasien

keselamatan pasien (patient safety).(patient safety). Pada Terapi berbasis bukti

Pada Terapi berbasis bukti (Evidance Based Medicine)(Evidance Based Medicine) Laboratorium klinikLaboratorium klinik merupakan bagian penting dari industri Kesehatan

merupakan bagian penting dari industri Kesehatan dengandengan 80% lebih diagnosis80% lebih diagnosis dokter di Rumah Sakit Pemerintah adalah hasil dari tes laboratorium. Guna dokter di Rumah Sakit Pemerintah adalah hasil dari tes laboratorium. Guna menjalankan pemeriksaan Laboratorium berdasarkan

menjalankan pemeriksaan Laboratorium berdasarkan Expertise Expertise laboratory laboratory practicepractice dan menuju pemenuhan akreditasi (qualified Quality Assurance)

dan menuju pemenuhan akreditasi (qualified Quality Assurance) LaboratoriumLaboratorium klinik Rumah Sakit Pemerintah membutuhkan infrastruktur yang mendukung klinik Rumah Sakit Pemerintah membutuhkan infrastruktur yang mendukung meliputi;

meliputi; Pemilihan/penentuan Diagnstic Analyzer yang dedicated, LaboratroyPemilihan/penentuan Diagnstic Analyzer yang dedicated, Laboratroy Information system-Midle ware yang mampu mengakomodir ICD-10, Integrated Information system-Midle ware yang mampu mengakomodir ICD-10, Integrated Queing Managemen system, Registration and Billing, Fully barcoding, Specimen and Queing Managemen system, Registration and Billing, Fully barcoding, Specimen and sample handling, Quality control WHO standard, Jaminan pemantapan mutu sample handling, Quality control WHO standard, Jaminan pemantapan mutu internal dan external, Jaminan supply ketersediaan ragensia,

internal dan external, Jaminan supply ketersediaan ragensia, Jaminan(free-no charge)Jaminan(free-no charge) berupa ketersediaan suku cadang, Penyediaan back up unit, Teknisi on call

berupa ketersediaan suku cadang, Penyediaan back up unit, Teknisi on call 1 x 24 1 x 24 jamjam dan Service maintenance berkala, kalibrasi alat-diagnostic dan up grade system dan Service maintenance berkala, kalibrasi alat-diagnostic dan up grade system sesuai dengan kemajuan technology pemeriksaan Laboratorium dan selanjutnya sesuai dengan kemajuan technology pemeriksaan Laboratorium dan selanjutnya untuk dapat menjamin kesinambungan pelayanan, Instalasi Laboratorium Klinik untuk dapat menjamin kesinambungan pelayanan, Instalasi Laboratorium Klinik Rumah perlu membuat analisis tinjauan besaran costing per unit cost yang sesuai Rumah perlu membuat analisis tinjauan besaran costing per unit cost yang sesuai dengan beban biaya pengeluaran dengan mempertimbangkan beberapa faktor yaitu dengan beban biaya pengeluaran dengan mempertimbangkan beberapa faktor yaitu

1.

1. Investment cost meliputiInvestment cost meliputi Gedung-Ruangan Laboratorium, InstrumentGedung-Ruangan Laboratorium, Instrument Diagnostic Automation Analyzer, sarana penunjang seperti phlebotomy Diagnostic Automation Analyzer, sarana penunjang seperti phlebotomy collection system, transport tube,

collection system, transport tube, Laboratory Information System, InstrumentLaboratory Information System, Instrument non diagnostic seperti

non diagnostic seperti CentrifugasiCentrifugasi, , microscomicroscopispis.. 2.

2. Operating cost, meliputiOperating cost, meliputi Direct cost mencakup tindakan yang dilakukan danDirect cost mencakup tindakan yang dilakukan dan  peralatan

 peralatan diagnostic diagnostic yang yang digunakan, digunakan, reagensia reagensia dan dan consumable. consumable. SemakinSemakin sulit tindakan dan semakin canggih peralatan, maka tarif pelayanan sulit tindakan dan semakin canggih peralatan, maka tarif pelayanan kesehatan tersebut umumnya lebih tinggi

kesehatan tersebut umumnya lebih tinggi. Indirect cost meliputi. Indirect cost meliputi pemeliharaan bangunan-Ruangan Laboratorium, AC dan Maintenance pemeliharaan bangunan-Ruangan Laboratorium, AC dan Maintenance instrument berkala, kalibrasi, listrik dan air.

instrument berkala, kalibrasi, listrik dan air. 3.

3. Developing cost meliputi pemeriksaan pengembangan, Biomolekuler,Developing cost meliputi pemeriksaan pengembangan, Biomolekuler, Pemantapan Mutu Internal dan external.

(3)

Risk Management)

Risk Management) dalam rangka menjaga dan meningkatkan keamanan dandalam rangka menjaga dan meningkatkan keamanan dan keselamatan pasien

keselamatan pasien (patient safety).(patient safety). Pada Terapi berbasis bukti

Pada Terapi berbasis bukti (Evidance Based Medicine)(Evidance Based Medicine) Laboratorium klinikLaboratorium klinik merupakan bagian penting dari industri Kesehatan

merupakan bagian penting dari industri Kesehatan dengandengan 80% lebih diagnosis80% lebih diagnosis dokter di Rumah Sakit Pemerintah adalah hasil dari tes laboratorium. Guna dokter di Rumah Sakit Pemerintah adalah hasil dari tes laboratorium. Guna menjalankan pemeriksaan Laboratorium berdasarkan

menjalankan pemeriksaan Laboratorium berdasarkan Expertise Expertise laboratory laboratory practicepractice dan menuju pemenuhan akreditasi (qualified Quality Assurance)

dan menuju pemenuhan akreditasi (qualified Quality Assurance) LaboratoriumLaboratorium klinik Rumah Sakit Pemerintah membutuhkan infrastruktur yang mendukung klinik Rumah Sakit Pemerintah membutuhkan infrastruktur yang mendukung meliputi;

meliputi; Pemilihan/penentuan Diagnstic Analyzer yang dedicated, LaboratroyPemilihan/penentuan Diagnstic Analyzer yang dedicated, Laboratroy Information system-Midle ware yang mampu mengakomodir ICD-10, Integrated Information system-Midle ware yang mampu mengakomodir ICD-10, Integrated Queing Managemen system, Registration and Billing, Fully barcoding, Specimen and Queing Managemen system, Registration and Billing, Fully barcoding, Specimen and sample handling, Quality control WHO standard, Jaminan pemantapan mutu sample handling, Quality control WHO standard, Jaminan pemantapan mutu internal dan external, Jaminan supply ketersediaan ragensia,

internal dan external, Jaminan supply ketersediaan ragensia, Jaminan(free-no charge)Jaminan(free-no charge) berupa ketersediaan suku cadang, Penyediaan back up unit, Teknisi on call

berupa ketersediaan suku cadang, Penyediaan back up unit, Teknisi on call 1 x 24 1 x 24 jamjam dan Service maintenance berkala, kalibrasi alat-diagnostic dan up grade system dan Service maintenance berkala, kalibrasi alat-diagnostic dan up grade system sesuai dengan kemajuan technology pemeriksaan Laboratorium dan selanjutnya sesuai dengan kemajuan technology pemeriksaan Laboratorium dan selanjutnya untuk dapat menjamin kesinambungan pelayanan, Instalasi Laboratorium Klinik untuk dapat menjamin kesinambungan pelayanan, Instalasi Laboratorium Klinik Rumah perlu membuat analisis tinjauan besaran costing per unit cost yang sesuai Rumah perlu membuat analisis tinjauan besaran costing per unit cost yang sesuai dengan beban biaya pengeluaran dengan mempertimbangkan beberapa faktor yaitu dengan beban biaya pengeluaran dengan mempertimbangkan beberapa faktor yaitu

1.

1. Investment cost meliputiInvestment cost meliputi Gedung-Ruangan Laboratorium, InstrumentGedung-Ruangan Laboratorium, Instrument Diagnostic Automation Analyzer, sarana penunjang seperti phlebotomy Diagnostic Automation Analyzer, sarana penunjang seperti phlebotomy collection system, transport tube,

collection system, transport tube, Laboratory Information System, InstrumentLaboratory Information System, Instrument non diagnostic seperti

non diagnostic seperti CentrifugasiCentrifugasi, , microscomicroscopispis.. 2.

2. Operating cost, meliputiOperating cost, meliputi Direct cost mencakup tindakan yang dilakukan danDirect cost mencakup tindakan yang dilakukan dan  peralatan

 peralatan diagnostic diagnostic yang yang digunakan, digunakan, reagensia reagensia dan dan consumable. consumable. SemakinSemakin sulit tindakan dan semakin canggih peralatan, maka tarif pelayanan sulit tindakan dan semakin canggih peralatan, maka tarif pelayanan kesehatan tersebut umumnya lebih tinggi

kesehatan tersebut umumnya lebih tinggi. Indirect cost meliputi. Indirect cost meliputi pemeliharaan bangunan-Ruangan Laboratorium, AC dan Maintenance pemeliharaan bangunan-Ruangan Laboratorium, AC dan Maintenance instrument berkala, kalibrasi, listrik dan air.

instrument berkala, kalibrasi, listrik dan air. 3.

3. Developing cost meliputi pemeriksaan pengembangan, Biomolekuler,Developing cost meliputi pemeriksaan pengembangan, Biomolekuler, Pemantapan Mutu Internal dan external.

(4)

4.

4.  Weight Average Cost of Capital yaitu Beban belanja modal yang dipengaruhi Weight Average Cost of Capital yaitu Beban belanja modal yang dipengaruhi oleh Nilai waktu dan uang.

oleh Nilai waktu dan uang. 5.

5.  Jangka  Jangka waktu waktu BEP BEP (break (break event event point), point), RoI RoI (Return (Return on on Investment),Investment), Depreciation-Amo

Depreciation-Amortisation Period yang berkorelasi pada rtisation Period yang berkorelasi pada lama nya wlama nya waktu.aktu. Untuk melakukan revitalisasi sarana dan prasarana Laboratorium Rumah Sakit Untuk melakukan revitalisasi sarana dan prasarana Laboratorium Rumah Sakit sesuai dengan kemajuan teknology Rumah Sakit Pemerintah dihadapkan pada sesuai dengan kemajuan teknology Rumah Sakit Pemerintah dihadapkan pada kendala, khususnya permasalahan anggaran jika mengandalkan sumber pendanaan kendala, khususnya permasalahan anggaran jika mengandalkan sumber pendanaan pada APBN atau A

pada APBN atau APBD, sedangkan PBD, sedangkan ketersediaan anggketersediaan anggaran sebagai Badan Laaran sebagai Badan Layananyanan Umum (BLU) juga sangat terbatas /belum mencukupi, disamping itu juga bahwa Umum (BLU) juga sangat terbatas /belum mencukupi, disamping itu juga bahwa kemajuan technology auto-analyzer diagnostic pemeriksaan Laboratorium klinik kemajuan technology auto-analyzer diagnostic pemeriksaan Laboratorium klinik saat ini sangat pesat sekali, sehingga technology pemeriksaan pada 5 (lima) tahun saat ini sangat pesat sekali, sehingga technology pemeriksaan pada 5 (lima) tahun  yang

 yang lalu, lalu, pada pada saat saat ini ini sudah sudah dirasa dirasa sudah sudah tertinggal. tertinggal. Hal Hal lainya lainya adalah adalah ApabilaApabila Rumah sakit memutuskan investasi peralatan

Rumah sakit memutuskan investasi peralatan diagnostic laboratorium maka Rumahdiagnostic laboratorium maka Rumah Sakit harus menyiapkan anggaran yang tidak sedikit untuk maintenance (free Sakit harus menyiapkan anggaran yang tidak sedikit untuk maintenance (free maintenance guarantee umumnya hanya berlaku 1(satu) tahun sejak instalment), maintenance guarantee umumnya hanya berlaku 1(satu) tahun sejak instalment), dan biaya re-ka

dan biaya re-kalibrasi. librasi. Teknology Teknology auto analyzer auto analyzer diagnostic Ldiagnostic Laboratorium saat aboratorium saat iniini masih di dominasi oleh Multi National Corporation seperti Abbot (USA), Roche masih di dominasi oleh Multi National Corporation seperti Abbot (USA), Roche (USA), Siemens (Germany), Sysmex (Japan), Randox (UK), Biomeurex (Franch), (USA), Siemens (Germany), Sysmex (Japan), Randox (UK), Biomeurex (Franch), Backman (US) dan lain-lain. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 24 tahun Backman (US) dan lain-lain. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS),(BPJS), secara strategis Rumahsecara strategis Rumah Sakit dalam hal ini telah mempunyai captive market dalam hal jumlah pasien dan Sakit dalam hal ini telah mempunyai captive market dalam hal jumlah pasien dan penjamin- jaminan pembayaran dari BPJS. Captive market ini dapat menjadi modal penjamin- jaminan pembayaran dari BPJS. Captive market ini dapat menjadi modal dan terobosan

dan terobosan baru baru bagi Managemebagi Managemen Rumah Sakit n Rumah Sakit khususnya yang sudakhususnya yang sudah statush status Badan Layanan Umum penuh untuk melakukan terobosan, inovasi pelayanan Badan Layanan Umum penuh untuk melakukan terobosan, inovasi pelayanan dengan tidak lagi mengandalkan pada APBN ataupun APBD untuk melakukan dengan tidak lagi mengandalkan pada APBN ataupun APBD untuk melakukan investasi/revitalisasi laboratorium, namun melalui skema Co-Sourching Kerjasama investasi/revitalisasi laboratorium, namun melalui skema Co-Sourching Kerjasama Operasional (KSO) dengan membuka kesempatan kepada pihak lain (investor) Operasional (KSO) dengan membuka kesempatan kepada pihak lain (investor) sehingga tujuan pengembangan, peningkatan kualitas pelayanan dan Inovasi sehingga tujuan pengembangan, peningkatan kualitas pelayanan dan Inovasi pelayanan laboratorium dapat tercapai.

pelayanan laboratorium dapat tercapai. Kata Kunci :

Kata Kunci : INAC-BGs, Kerjasama Operasional (KSO), Laboratorium klinik RumahINAC-BGs, Kerjasama Operasional (KSO), Laboratorium klinik Rumah Sakit

(5)

I.

I. PENDAHULUANPENDAHULUAN

Laboratorium Klinik adalah bagian integral dari clinical path way di Rumah Laboratorium Klinik adalah bagian integral dari clinical path way di Rumah Sakit, hampir 80% diagnosis pada terapi berbasis

Sakit, hampir 80% diagnosis pada terapi berbasis Evidance Based MedicineEvidance Based Medicine adalah hasil dari tes l

adalah hasil dari tes laboratorium. aboratorium. Sebelum berlakunya USebelum berlakunya Undang Undang Nondang Undang No 24 tahun 2011 tentang

24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan,Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Laboratorium Klinik Rumah Sakit merupakan unit kerja di rumah sakit yang Laboratorium Klinik Rumah Sakit merupakan unit kerja di rumah sakit yang termasuk sebagai pusat pendapatan

termasuk sebagai pusat pendapatan (Revenue center)(Revenue center) rumah sakit, umumnyarumah sakit, umumnya Instalasi laboratorium Klinik menempati nomor 2 setelah Instalasi Farmasi. Instalasi laboratorium Klinik menempati nomor 2 setelah Instalasi Farmasi. Instalasi Laboratorium Klinik saat itu dapat menjadi penopang kemandirian Instalasi Laboratorium Klinik saat itu dapat menjadi penopang kemandirian rumah sakit milik pemerintah. Hal ini di mungkinkan karena struktur tariff rumah sakit milik pemerintah. Hal ini di mungkinkan karena struktur tariff pemeriksaan laboratorium berbasis

pemeriksaan laboratorium berbasis  pay  pay for for servicesservices dimana struktur tariffdimana struktur tariff pemeriksaan laboratorium terdiri dari komponen

pemeriksaan laboratorium terdiri dari komponen jasa medis jasa medis dan komponendan komponen  jasa sarana

 jasa sarana pemeriksaan. Namun dengan berlakunya BPJS pemeriksaan. Namun dengan berlakunya BPJS dengan INA-CBGsdengan INA-CBGs saat ini, dimana penjamin (BPJS) membayar kepada Rumah Sakit dalam saat ini, dimana penjamin (BPJS) membayar kepada Rumah Sakit dalam bentuk Case-mix maka Instalasi laboratorium Klinik Rumah Sakit tidak bentuk Case-mix maka Instalasi laboratorium Klinik Rumah Sakit tidak dapat lagi dikatakan sebagai revenue center, melainkan sudah pada posisi dapat lagi dikatakan sebagai revenue center, melainkan sudah pada posisi cost center 

cost center  sehingga dibutuhkan sehingga dibutuhkan perubahan paradigma (mindset) perubahan paradigma (mindset) klinisi danklinisi dan pemangku kepentingan Laboratorium klinik dalam hal sistem kompensasi pemangku kepentingan Laboratorium klinik dalam hal sistem kompensasi dari sebelumnya berbasis

dari sebelumnya berbasis  free  free for for servise servise menjadi menjadi sistem sistem remunerasi. remunerasi. JadiJadi dalam hal ini dokter-klinisi sudah tidak boleh lagi mempunya persepsi dan dalam hal ini dokter-klinisi sudah tidak boleh lagi mempunya persepsi dan ekspektasi melihat

ekspektasi melihat  jasa  jasa dari dari satu satu persatu persatu kasus kasus atau atau satu satu persatu persatu tindakantindakan pemeriksaan/test laboratorium.

pemeriksaan/test laboratorium.

Dalam perpektif pelayanan Rumah Sakit yang terintegrasi, Pelayanan Dalam perpektif pelayanan Rumah Sakit yang terintegrasi, Pelayanan laboratorium klinik merupakan salah satu jenis layanan dalam Clinical laboratorium klinik merupakan salah satu jenis layanan dalam Clinical Pathway, dikarenakan fungsi pelayanan laboratorium yang mencakup Pathway, dikarenakan fungsi pelayanan laboratorium yang mencakup skrining, penentuan diagnosis, serta evaluasi terapi, guna menjamin

skrining, penentuan diagnosis, serta evaluasi terapi, guna menjamin QualityQuality  Assurance

 Assurance, sehingga di dalam proses operasional pelayanan laboratorium, sehingga di dalam proses operasional pelayanan laboratorium perlu terjamin kesinambungannya (sustainable), perlu menerapkan dan perlu terjamin kesinambungannya (sustainable), perlu menerapkan dan menyerap kaidah yang ditentukan di dalam program INA-CBGs dalam menyerap kaidah yang ditentukan di dalam program INA-CBGs dalam format ICD-10

format ICD-10 (international Clasification Deases)(international Clasification Deases) dan out put hasil yangdan out put hasil yang diterima oleh klinisi diproses sesuai standar expertise Laboratory practice. diterima oleh klinisi diproses sesuai standar expertise Laboratory practice.

(6)

II.

II. PROSES PELAYANAN PEMERIKSAAN DI LABORATORIUM KLINIKPROSES PELAYANAN PEMERIKSAAN DI LABORATORIUM KLINIK

Pelayanan laboratorium klinik, yaitu pemeriksaan penunjang yang Pelayanan laboratorium klinik, yaitu pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan oleh klinisi (dokter) untuk mendiagnosa, memantau dan dibutuhkan oleh klinisi (dokter) untuk mendiagnosa, memantau dan meramalkan penyakit sesorang penderita (pasien).

meramalkan penyakit sesorang penderita (pasien). (B.Mulyono, Indonesian(B.Mulyono, Indonesian  Journal

 Journal of of Clinical Clinical Pathology Pathology and and Medical Medical Laboratory, Laboratory, Vol. Vol. 13, 13, No. No. 2, 2, MaretMaret  2007:

 2007: 93-96)93-96). Di luar negeri literasinya dikenal dengan istilah. Di luar negeri literasinya dikenal dengan istilah  Medical Medical laboratory, Clinical Laboratory, Pathology and and Laboratory Medicine atau laboratory, Clinical Laboratory, Pathology and and Laboratory Medicine atau Clinical Pathology

Clinical Pathology dan selanjutnya di Indonesia lebih familier dengan istilah dan selanjutnya di Indonesia lebih familier dengan istilah Laboratorium klinik atau Patologi klinik yang di gunakan di Rumah Sakit Laboratorium klinik atau Patologi klinik yang di gunakan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) di bawah

Umum Pusat (RSUP) di bawah sub-ordinat Kementrian Kesehatan.sub-ordinat Kementrian Kesehatan. Pelayanan laboratorium klinik dalam terapi berbasis

Pelayanan laboratorium klinik dalam terapi berbasis evidence base medicineevidence base medicine adalah sang

adalah sangat penting untuat penting untuk perawatan k perawatan pasien, pasien, oleh karenoleh karena itu pelaya itu pelayanananan laboratorium klinik harus mampu dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan laboratorium klinik harus mampu dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan semua klinisi dan pasien dan selanjutnya penatalaksana Laboratorium klinik semua klinisi dan pasien dan selanjutnya penatalaksana Laboratorium klinik bertanggung jawab untuk perawatan pasien. Pelayanan tersebut meliputi bertanggung jawab untuk perawatan pasien. Pelayanan tersebut meliputi  pengaturan

 pengaturan permintaan, permintaan, persiapan persiapan pasien, pasien, identifikasidentifikasi i pasien, pasien, pengumpupengumpulanlan specimen klinik, transportasi spesimen klinik, penyimpanan specimen klinik, specimen klinik, transportasi spesimen klinik, penyimpanan specimen klinik,  pemrosesa

 pemrosesan n dan dan pemeriksaan pemeriksaan spesimen spesimen klinik, klinik, termasuk termasuk urutan urutan validasi,validasi, interpretasi, pelaporan dan saran, dengan mempertimbangkan keselamatan interpretasi, pelaporan dan saran, dengan mempertimbangkan keselamatan dan etika dalam pekerjaan laboratorium klinik.

dan etika dalam pekerjaan laboratorium klinik. Menurut PERMENKESMenurut PERMENKES Nomor 411/Menkes/PER/III/2010 tentang Laboratorium Klinik yang Nomor 411/Menkes/PER/III/2010 tentang Laboratorium Klinik yang diperbaharui dengan PERMENKES Nomor 43 tahun 2013 tentang Cara diperbaharui dengan PERMENKES Nomor 43 tahun 2013 tentang Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik, bahwa

Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik, bahwa Proses pelayananProses pelayanan alur kerja (work flow)

alur kerja (work flow)  laboratorium klinik melalui 3 yaitu tahapan  laboratorium klinik melalui 3 yaitu tahapan tahaptahap pra-analitik

pra-analitik meliputi kegiatan mempersiapkan pasien, menerima  meliputi kegiatan mempersiapkan pasien, menerima spesimen,spesimen, mengambil spesimen, memberi identitas spesimen, menguji mutu air dan mengambil spesimen, memberi identitas spesimen, menguji mutu air dan reagensia.

reagensia. Tahap analitikTahap analitik  meliputi kegiatan pengolahan spesimen,  meliputi kegiatan pengolahan spesimen, pemeliharaan dan kalibrasi peralatan, pelaksanaan pemeriksaan, pemeliharaan dan kalibrasi peralatan, pelaksanaan pemeriksaan, pengawasan ketelitian dan ketepatan pemeriksaan dan

pengawasan ketelitian dan ketepatan pemeriksaan dan Tahap pasca/postTahap pasca/post analitik

(7)

hasil pemeriksaan sampai kepada klinisi atau dokter yang melakukan order pemeriksaan klinik. Jadi apabila kita sakit dan berobat ke Rumah Sakit setelah identifikasi data demografi pasien, selanjutnya kita akan di layani oleh dokter atau klinisiuntuk dilakukan pemeriksaan medis, umumnya dokter akan membutuhkan data pendukung dari Laboratorium untuk mendukung diagnosis berdasarkan evidence base medicine, selanjutnya dokter atau klinisi akan meminta-melakukan order pemeriksaan laboratorium. Dalam proses permintaan ini dapat di ilustrasikan tentang alur kerja Laboratorium klinik sebagai berikut :

1. Proses Pra analitik 

Pada Proses Pra Analitik meliputi permintaan akan pemeriksaan laboratorium oleh klinisi-dokter, proses persiapan pasien, pengambilan bahan pemeriksaan (plebotomi), pemilihan antikoagulansia serta penampung yang sesuai, pengiriman sample ke laboratorium serta perlakuannya (perlakukan sampel spesimen klinik) sebelum tiba di laboratorium. Dalam proses ini pada umumnya kondisi Laboratorium klinik di Rumah Sakit saat ini dapat terdeskribsikan sebagai berikut :

 Order klinisi masih manual.

 Pendekatan pelayanan melalui Instrumen Laboratorium Satelit,  yang membutuhkan Infrastruktur ruangan, Tenaga analis dan penambahan Alat diagnostik. (old mindset : Instrument diagnostic mendekat pada area pelayanan medis).

  Aktifitas phlebotomy dan delivery sample masih manual dengan

menggunakan tenaga perawat atau tenaga lepas (unkualiafied)  yang dapat menurunkan kualitas sampel dan human error.

2. Proses Analitik

Pada Proses analitik  meliputi proses persiapan bahan, sentrifugasi, pemindahan ke kuvet atau tabung penampung lain, pemberian identifikasi sampel, pemilihan alat, metoda, reagensia, proses pemantapan kualitas internal dan ekternal serta kompetensi SDM. .

(8)

Dalam proses ini pada umumnya kondisi Laboratorium klinik di Rumah Sakit saat ini dapat terdeskribsikan terdeskripsikan :

 Penggunaan Diagnistik analyzer yang beragam (1 kelompok pemeriksaan menggunakan lebih dari 1 brand), ini akan mempengaruhi penggunaan methoda dan jenis reagensia yang akan berkorealasi dengan tingginya konsumsi reagensia dan bahan penunjang habis pakai lainya.

  Verifikasi masih manual sehingga akan berkorelasi pada tindakan pengulangan pemeriksaan, yang juga akan mengakibatkan in-efesiensi konsumsi reagensia dan bahan penunjang habis pakai lainya.

3. Proses Post Analitik

Pada Proses Post analitik  meliputi perhitungan hasil, penyalinan ke formulir hasil, pemberian ekspertise, pengiriman hasil pemeriksaan laboratorium kepada klinisi serta interpretasi terhadap hasil. Dalam proses ini pada umumnya kondisi Laboratorium klinik di Rumah Sakit saat ini dapat terdeskribsikan terdeskripsikan :

 Perhitungan hasil masih manual;

 Penyajian hasil masih manual;

 Pengiriman hasil kepada klinisi juga masih manual. Ilustrasi pelayanan laboratorium Klinik di Rumah Sakit saat ini :

Sumber : Diolah oleh penulis berdasarkan Permenkes No.43 tahun 2013 tentang Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik yang baik

(9)

III. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI LABORATORIUM KLINIK RUMAH SAKIT ERA BPJS

Berlakunya Undang-undang nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)  mulai 1 Januari 2014, melalui system INA-CBGs, memberikan tantangan tersendiri bagi Managemen Rumah Sakit: 1) Tantangan melakukan kendali mutu, kendali biaya dan akses sehingga rumah sakit bisa lebih efesien terhadap biaya/costing diagnosis  yang diberikan kepada pasien, tanpa mengurangi mutu pelayanan;

2) Managemen Rumah Sakit pada umumnya belum mengimplementasikan Sistem Informasi Managemen Rumah Sakit yang mampunyai coverage dari mulai front office, Electronic Medical Record (EMR), dan back office support, sebagaimana yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan ketentuan di dalam Clinical Pathway sehingga permintaan pemeriksaan laboratorium oleh klinisi masih manual (belum inline dengan sistem informasi laboratorium);

3) Managemen Laboratorium klinik Rumah Sakit khusunya Rumah Sakit pemerintah, pada umumnya belum mengimplementasikan Sistem Informasi Laboratorium yang mampu mengabsorbsi ICD-10 (International Calssification Deases) di dalam program INA-CBGs untuk mengoptimalkan kinerja Laboratorium;

4) Pendapatan Rumah Sakit saat ini berdasarkan klaim tarif INAC-BGs dengan sistem Casemix-DRG (Diagnose related Group)  yaitu coding dan costing dalam suatu konsep Clinical Pathway  memberikan tantangan kepada managemen Rumah sakit khususnya Instalasi Laboratorium klinik untuk dapat mengelola pelayanan Laboratorium menjadi lebih efesien dan efektif;

5) Sistem pemeriksaan Laboratorium klinik Rumah Sakit pada umumnya masih manual/belum terkonsolidasi, hal ini berkorelasi pada aspek “padat kerja”  namun sangat berisiko terjadinya human error,

(10)

tingginya risiko pengulangan dan tingginya konsumsi reagensia dan bahan medis habis pakai.

6) Tantangan Managemen Rumah Sakit untuk memenuhi Standar kendali Mutu (Qualified Joint Commision International (JCI) ; KARS -Komitte  Akreditasi Rumah Sakit); sesuai dengan amanah Undang-Undang No. 44 tentang Rumah Sakit dan Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Nomor HK.02.04/ I/ 2790/ 11 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan.

7) Tantangan Managemen Laboratorium klinik Rumah Sakit untuk memenuhi Standar Kendali Mutu (Qualified ISO-15189;2009);

8) Untuk Investasi infrastruktur yang mendukung proses pemeriksaan Laboratorium berdasarkan expertise Laboratory Practise, Rumah Sakit dihadapkan pada kendala proses penganggaran dan terbatasnya anggaran Badan Layanan Umum maupun APBN.

9) Cepatnya perkembangan teknologi Automatisasi- Diagnostic Analyzer pemeriksaan laboratorium menyebabkan investasi untuk revitalisasi peralatan Laboratorium sesuai kemajuan teknologi cepat menjadi usang/ketinggalan.

10) Pada umumnya pola KSO Laboratorium klinik saat ini masih PARSIAL, manufacture yang berbeda, berkorelasi pada system-metode kerja yang  juga berbeda, memberikan pengaruh langsung pada tingginya konsumsi reagensia. Midle ware pada Alat Diagnostic belum terintegrasi dengan Sistem Informasi Laboratorium dan Sistem Informasi Managemen Rumah Sakit sehingga tidak memberikan kontribusi dalam upaya efesiensi dan efektifitas pelayanan laboratorium.

11) Untuk mendukung berjalanya proses pemeriksaan Laboratorium berdasarkan expertise Laboratory Practise dibutuhkan effort dalam upaya  perubahan mind set pada seluruh stake-holder Laboratorium Klinik.

(11)

IV. INFRASTRUKTUR LABORATORIUM KLINIK RUMAH SAKIT 4.1. INFRASTRUKTUR

Untuk menjalankan pemeriksaan Laboratorium Klinik Rumah Sakit menuju pemenuhan managemen mutu (quality assurance), Laboratorium klinik Rumah Sakit membutuhkan infrastructure yang mampu mendukung hal tersebut meliputi :

1) Phlebotomy Collection system dan ruangan Phlebotomy yang memadai sesuai kaidah Laboratory Practice pada tahap Pre- Analitik;

2) Diagnostic Automation Analyzer  yang dedicated dan Ruangan Laboratorium  yang memadai sesuai kaidah Laboratory practice pada tahap Analitik dan Post Analitik;

3) Sistem Informasi Laboratorium (laboratory Information System) untuk menunjang kinerja Laboratorium klinik Rumah Sakit secara keseluruhan dari Pre-analitik, Analitik sampai dengan post analitik.

4) Kualifikasi Managerial Laboratorium

Sebagaimana diatur dalam Permenkes 43 tahun 2013 tentang Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik, Manajemen laboratorium harus bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi untuk perbaikan sistem manajemen yang mencakup:

1. Dukungan bagi semua petugas laboratorium dengan memberikan kewenangan dan sumber daya yang sesuai untuk melaksanakan tugas;

2. Kebijakan dan prosedur untuk menjamin kerahasiaan hasil laboratorium;

3. Struktur organisasi dan struktur manajemen laboratorium serta hubungannya dengan organisasi lain yang mempunyai kaitan dengan laboratorium tersebut;

(12)

4. Uraian tanggung jawab, kewenangan dan hubungan kerja  yang jelas dari tiap petugas;

5. Pelatihan dan pengawasan dilakukan oleh petugas yang kompeten, yang mengerti maksud, prosedur dan cara menilai hasil prosedur pemeriksaan;

6. Manajer teknis yang bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap proses dan penyediaan sumber daya yang diperlukan untuk menjamin kualitas hasil pemeriksaan laboratorium;

7. Manajer mutu yang bertanggung jawab dan memiliki kewenangan untuk mengawasi persyaratan sistem mutu; 8. Petugas pada laboratorium dengan organisasi sederhana

dapat melakukan tugas rangkap 5) Sumber Daya Manusia

Kegiatan Laboratorium Klinik dilaksanakan oleh petugas-Analys yang memiliki kualifikasi pendidikan dan pengalaman yang memadai, serta memperoleh/memiliki kewenangan untuk melaksanakan kegiatan di bidang yang menjadi tugas atau tanggung jawabnya. Setiap laboratorium harus menetapkan seorang atau sekelompok orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan pemantapan mutu dan keamanan kerja. Pemenuhan kebutuhan jenis, kualifikasi, dan jumlah tenaga Laboratorium Klinik dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan efesiensi dan efektifitas kerja, dan menjadi tanggung jawab managemen laboratorium untuk meningkatkan kapabilitas sumber daya manusianya melalui pelatihan sesuai core competency-nya.

6) Managemen Mutu

 APICS Dictionary (13th  ED 2010) mendefiniskan managemen sebagai fungsi-fungsi perencanaan, perorganisasian dan pengendalian proses transformasi dan utilitasnya dalam memberikan barang dan/jasa kepada pelanggan. Organisasi yang baik akan mempunyai sistem

(13)

manajemen mutu yaitu kebijakan, prosedur, dokumen dan lainnya  yang bertujuan agar mutu pemeriksaan dan sistem mutu secara keseluruhan berlangsung dengan pengelolaan yang baik dan terkendali secara terus menerus. Kebijakan, proses, program, prosedur dan instruksi terdokumentasikan dengan baik (berupa dokumen tertulis yang disimpan dan dipelihara sedemikian hingga mudah digunakan dan selalu terjaga kemutakhirannya) dan dikomunikasikan kepada semua petugas yang terkait. Manajemen dalam hal ini memastikan melalui proses sosialisasi, pelatihan, penyeliaan, pengawasan atau cara lain yang menjamin bahwa dokumen itu dimengerti dan diterapkan oleh mereka yang ditugaskan untuk menggunakannya. Secara umum managemen mutu operasional Laboratorium meliputi :

a. Kebijakan dan Prosedur untuk kepatuhan standar operasional. b. Pendidikan klinik berkelanjutan upaya peningkatan kapabilitas

penatalaksana laboratorium secara berkelanjutan. c. Pemantapan mutu Internal

d. Pemantapan Mutu eksternal e.  Verifikasi.

f.  Validasi

g.  Audit Internal h.  Akreditasi

4.2. KUALIFIKASI INFRASTRUKTUR 1.  Area aktifitas Pre-Analitik

Pada area ini Laboratorium klinik Rumah Sakit membutuhkan infrastruktur yang mendukung aktifitas berupa :

a. Sistem order pemeriksaan

Sistem order permintaan klinisi-dokter untuk melakukan pemeriksaan Laboratorium akan lebih efektif dan efesien jika menggunakan system informasi yang capable dan compatible.

(14)

Bagi Rumah Sakit yang telah menerapkan Sistem Informasi Managemen Rumah Sakit berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 83 tahun 2013 tentang Sistem Informasi Managemen Rumah Sakit maka order klinisi dapat mengacu pada mekanisme yang berdasarkan master ICD-10 (International Clasification Deases)  untuk selanjutnya di absorb oleh Sistem Informasi Laboratorium (paperless).

b. Phlebotomy Collection system

Fase pre analitik pengambilan sampel adalah fase krusial dimana dalam prosesnya membutuhkan ketrampilan khusus (expertise) mulai dari aktifitas phlebotomy hingga bagaimana memperlakukan, menyimpan sampel primer sehingga tetap terjaga kualitas sampel tersebut. Berkaitan dengan aktifitas phlebotomy, sentuhan technology sangat diperlukan, berupa Phlebotomy Collection-automatice labeling System.

c. Ruangan phlebotomy (pengambilan sampel/specimen klinik)

Pada fase pre analitik pengambilan sampel, phlebotomis (tenaga analyst yang kualified melaksanakan aktifitas phlebotomy)  dan  juga pasien membutuhkan ruangan yang bersih, rapi dan nyaman,

sehingga diperlukan alur kerja (workflow) yang mendukung untuk aktifitas tersebut. Ruangan phlebotomy yang baik adalah yang memberikan ruang untuk kelancaran alur kerja (work flow) yaitu :

1)  Area Queeing-pengambilan nomor antrean; 2)  Area pendaftaran-registrasi-billing system; 3)  Area ruang tunggu pasien;

4)  Area pengambilan sampel-phlebotomy; 5)  Area pengambilan sampel khusus;

6)  Area Janitor

(15)

8)  Area pantry

9)  Area gudang-logistik.

d. Sistem Transporte Tube

Fase Pre analitik pengiriman sampel primer yang pada umumnya dilakukan oleh hampir semua Rumah Sakit adalah dengan menggunakan tenaga perawat atau tenaga outsourching yang belum tentu mempunyai ketrampilan yang sama dalam hal memberlakukan sampel primer. Pengiriman sampel primer dari Sampling station unit rawat jalan (out-patient) dan unit rawat inap (in-patient) serta unit emergency ke laboratorium. Disinilah dibutuhkan sentuhan technology pengiriman melalui system transport pneumatic tube (pengiriman melalui tabung dengan system pneumatic) yang sangat berguna untuk :

1) Menjaga kualitas sampel primer dalam proses pemeriksaan laboratorium.

2) Meminimalisir human error dan free kontaminan. 3) Trace-ability sumber sampel primer.

4) Memudahkan pengukuran waktu (turn arraund time) pada fase pra analitik.

2.  Area Analitik

Pada area ini Laboratorium klinik Rumah Sakit membutuhkan infrastruktur berupa :

1) Pemilihan Alat Diagnostic Analyzer yang dedicated

Sebelum tahun 1956 umumnya semua pemeriksaan laboratorium klinik dilakukan secara manual, tetapi pada tahun 1956 Technicon pertama kali memperkenalkan suatu autoanalyzer  yang sederhana namun sudah dianggap sangat revolusioner, pemeriksaan dilakukan untuk kreatinin dan asam urat. Alat inilah  yang kemudian dijadikan sebagai prototype dan terciptalah berbagai autoanalyzer lain. Jadi tahun 1950-an inilah yang

(16)

menandai dimulainya era baru di bidang laboratorium klinik dengan diperkenalkannya single auto analyzers  yang pertama.  Adanya auto analyzers tersebut mengurangi berbagai beban tugas  yang dilakukan oleh personil laboratorium dan dengan demikian mengurangi berbagai sumber kesalahan subjektif dalam pengerjaan analisa parameter laboratorium.

Pada tahun 1957 Coulter Counter   memperkenalkan alat hitung otomatis Hematologi yang pertama dan pada tahun 1970 mulai muncul teknology robotic di laboratorium sehingga dikenal adanya laboratory automation anlayzer. Kemajuan dibidang laboratorium juga dilanjutkan dengan dipasarkannya multi channels batch analyzer  yang lebih memudahkan dan mengurangi berbagai kesalahan dalam pekerjaan di laboratorium Begitulah hingga saat ini perkembangan technology pemeriksaan laboratorium klinik telah maju dengan pesat, sehingga technology  pemeriksaan pada 5 (lima) tahun yang lalu, pada saat ini sudah dirasa tertinggal. Teknology instrument diagnostic analyzer saat ini masih di dominasi oleh Multi National Company seperti  Abbot (USA), Roche (USA), Siemens (Germany), Sysmex (Japan), Randox (UK), Biomeurex (Franch), Backman (US) dan masih banyak lagi manufacture lain yang umumnya dari negara –negara maju yang berbasis penelitian dan pengembangan. Menurut dr Purwanto, SpPK (Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang) bahwa Dokter Spesialis Patologi Klinik memiliki peran strategis dalam managemen laboratorium meliputi :

1) Penentuan Parameter pemeriksaan;

2) Menetapkan Standard Operational Procedures; 3) Pemilihan alat-diagnostic analyzer dan reagensia; 4) Evaluasi mutu pemeriksaan;

5)  Validasi hasil;

(17)

7) Konsultasi;

8) Pembinaan teknis; 9) Pengembangan profesi; 10) Kemitraan dengan klinisi.

Pengenalan, pengetahuan tentang instrument diagnostic analyzer ternyata tidak hanya tentang alatnya/hardwarenya saja namun  juga membutuhkan pengetahuan dan pemahaman tentang

metode pemeriksaan, trouble shooting, kalibrasi serta mampu mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan masing-masing instrument diagnostic analyzer. Secara umum faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan instrument diagnostic analyzer adalah :

1) Dari manufacture yang sudah dikenal handal qualified good manufacture (TUV, CE, ISO).

2) Memiliki ketepatan dan ketelitian (precision) yang tinggi.

3) Mampu menunjukan batas deteksi pengukuran (measurement) yang jelas;

4) Pengoperasan yang mudah (user friendly) dan praktis meskipun complicated technology;

5) Dedicated memberikan Jaminan (guarantee) respon time call service 1 x 24 jam;

6) Dedicated memberikan jaminan (guarantee) pelayanan purna  jual (after sales service) ketersediaan suku cadang;

7) Dedicated memberikan jaminan (guarantee) service berkala dan uji kalibrasi;

8) Dedicated memberikan jaminan melakukan kalibrasi dari internal manufactur maupun dari Balai pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK);

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 tahun 2013 tentang Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik, memberikan

(18)

panduan pertimbangan dalam memilih Alat-diagnostic sebagai berikut :

1. Kebutuhan Alat; Alat Diagnostic yang dipilih harus mempunyai spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan setempat yang meliputi  jenis pemeriksaan, jenis spesimen dan volume spesimen dan  jumlah pemeriksaan.

2. Fasilitas yang tersedia; Alat yang dipilih harus mempunyai spesifikasi yang sesuai dengan fasilitas yang tersedia seperti luasnya ruangan, fasilitas listrik dan air yang ada, serta tingkat kelembaban dan suhu ruangan.

3. Tenaga  Analyst : tersedianya tenaga Analys dengan kualifikasi tertentu yang dapat mengoperasikan alat.

4. Reagensia; dipertimbangkan keberlanjutan (sustainable) supply reagensia dari pabrikan/manufacture dan kontinuitas distribusi (supply chain) dari vendor/Distributor. Berkaitan dengan reagensia –  diagnostic dapat juga mempertimbangkan aspek sistem reagen tertutup (closed system) atau terbuka (open system). Namun demikian pada umumnya sistem tertutup lebih mahal dibandingkan dengan sistem terbuka namun lebih terjamin quality assurance.

5. Sistem alat- diagnostic, dengan mempertimbangkan aspek aspek : alat tersebut mudah dioperasikan (user friendly), alat memerlukan perawatan khusus alat memerlukan kalibrasi setiap kali akan dipakai atau hanya tiap minggu atau hanya tiap bulan.

6. Pemasok/Vendor Pemasok/Manufacture/Distributor  harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Qualified yang telah menjalankan prinsip-prinsip Good Distribution Practice berdasarkan ketentuan Permenkes No 4 Tahun 2014 tentang CDAKB (Cara Distribusi Alat Kesehatan-Diagnostic Invitro yang Baik)

(19)

b. Quality Assurance (pasal 2 ayat 2) contohnya ISO 9001:2008 dan Field Safety Corective Action (FSCA) atau Health and Safety Assurance contohnya OHSAS 18001:2007 (termasuk didalamnya K3).

c. Mempunyai reputasi yang baik, referensi kontrak KSO yang masih berjalan, memberikan fasilitas uji fungsi, menyediakan petunjuk operasional alat dan trouble shooting, menyediakan fasilitas pelatihan dalam mengoperasikan alat, pemeliharaan dan perbaikan sederhana, memberikan pelayanan purna jual  yang terjamin, antara lain mempunyai teknisi yang handal

(quick respon), suku cadang mudah diperoleh dan instrumen diagnostic nya telah terdaftar dan mempunyai Surat ijin edar /Registrasi dari Kementerian Kesehatan.

7.  Nilai Ekonomis, dalam memilih alat perlu dipertimbangkan analysis cost-benefit, yaitu seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari investasi yang dilakukan, termasuk di dalamnya biaya operasi alat.

Menurut dr Ina S Timan SpPK (Laboratorium Klinik RSCM, 2010) hingga saat ini setiap manufacture diagnostic analyzer Multi National corporation, umumnya hanya mempunyai kekhususan dalam 1-2 bidang saja, misalnya hanya kimia klinik dengan imunologi atau hematologi dengan hemostasis. Sedangkan untuk menjalankan Lean Laboratorium klinik  Rumah Sakit harus memilih penggabungan beberapa alat atau system dari 2 atau lebih provider/vendor/manufactur. Dalam proses ini, tanpa diimbangi dengan penilaian dan pengetahuan serta keahlian yang baik dari pemangku kepentingan laboratorium klinik Rumah Sakit, maka konsep Lean Laboratory Practice  tidak akan bekerja dengan optimal seperti yang diharapkan. Tidak semua penggabungan berjalan dengan sinkron-compatible, seringkali dapat juga

(20)

menimbulkan sedikit perubahan dalam system sehingga berakibat pada efisiensi dan efektivitasnya yang kurang memadai. Secara umum kompetensi instrument diagnostic analyzer yang dibutuhkan meliputi :

 Konsolidasi pemeriksaan Kimia klinik dan Imunology

 Konsolidasi pemeriksaan Hematology dan Hemostasis

 Konsolidasi pemeriksaan analisa gas darah dan electrolyte  Konsolidasi pemeriksaan urin kimia dan urin sedimen

 Glucose Monitoring System  Lactate Monitoring System

 Pengembangan pemeriksaan lainya seperti Biomelekuler

Diagnostic.

 Instrument Microbiology

2) Persiapan Ruangan Laboratorium

Ruangan laboratorium klinik terdiri dari konstruksi gedung dan Ruangan laboratorium serta Laboratory furniture. Luas ruangan setiap kegiatan harus cukup untuk menampung peralatan yang dipergunakan, aktifitas dan jumlah petugas yang berhubungan dengan sampel klinik untuk kebutuhan pemeriksaan laboratorium.  Akan digunakan sesuai dengan alur kerja yang baik. Semua ruangan harus mempunyai tata ruang yang baik dan memperoleh sinar matahari/cahaya dalam jumlah yang cukup. Untuk pembangunan ruangan laboratorium yang baik sesuai kaidah Laboratory quality assurance ini di butuhkan perusahaan yang mempunyai kualifikasi Sertifikat Badan Usaha Jasa kontruksi dan design interior. Ruangan Laboratorium yang baik adalah yang memberikan ruang untuk kelancaran alur kerja (work flow) laboratorium yaitu :

  Area penerimaan sampel (custom) terdiri dari ruang tunggu

pasien dan ruang pengambilan sampel-spesimen klinik (Phlebotomy). Pengelompokan sampel-spesimen klinik berdasarkan :

(21)

 Sampel Serum

 Sampel EDTA

 Sampel Analisa Gas Darah dan electrolyte

 Sampel sitrat  Sampel urine

 Sampel feases, CSF, BM, Pleurea, Darah beku;

 Sampel pemeriksaan mikrobilogy

  Area preparasi sampel (alliquoting, decaping);

  Area konsolidasi pemeriksaan Kimia klinik dan Imunology;   Area konsolidasi pemeriksaan Hematology dan Hemostasis;   Area konsolidasi pemeriksaan analisa gas darah dan electrolyte;   Area konsolidasi pemeriksaan urin kimia dan urin sedimen;   Area Microscope

  Area pengembangan pemeriksaan lainya seperti Biomelekuler

diagnostic;

  Area laboratorium Microbiology; (terpisah)   Area Bank Darah (terpisah);

  Area penyimpanan sampel;   Area pemusnahan sampel;   Area validasi hasil;

  Area laporan hasil;   Area dokter jaga;   Area meeting room;   Area Janitor;

  Area K3 (eye washer, emergency shower dan fire estinguiser);   Area server Sistem informasi dan system transport tube;   Area toilet (M/F dan disable)

  Area pantry & locker staf.   Area praying room; (advance)

(22)

Spesifikasi teknis design ruangan laboratorium harus memenuhi quality assurance (standar mutu) laboratorium klinik meliputi : 1) Dinding terbuat dari tembok permanen warna terang,

menggunakan cat yang tidak luntur. Permukaan dinding harus rata agar mudah dibersihkan, tidak tembus cairan serta tahan terhadap desinfektan.

2) Plafon Langit-langit tingginya antara 2,70-3,30 m dari lantai, terbuat dari bahan yang kuat, warna terang dan mudah dibersihkan. Plafon umumnya untuk mencegah kebocoran-anti bocor, (gypsum);

3) Daun pintu harus kuat rapat dapat mencegah masuknya serangga dan binatang lainnya, lebar minimal 1,20 m dan tinggi minimal 2,10 m.

4)  Jendela tinggi minimal 1,00 m dari lantai.

5) Listrik harus mempunyai aliran tersendiri dengan tegangan stabil, kapasitas harus cukup. Kualitas arus, tegangan dan frekuensi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Keamanan dan pengamanan jaringan instalasi listrik terjamin, harus tersedia  grounding/arde. Harus tersedia cadangan listrik (Genset, UPS ) untuk mengantisipasi listrik mati. Semua stop kontak dan saklar dipasang minimal 1,40 m dari lantai.

6) Lantai terbuat dari bahan yang kuat, mudah dibersihkan, berwarna terang dan tahan terhadap perusakan oleh bahan kimia, kedap air, permukaan rata dan tidak licin. Bagian yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup kearah saluran pembuanga air limbah. Antara lantai dengan dinding harus berbentuk lengkung agar mudah dibersihkan. Lantai, dilapisi bahan tahan air, panas/api dan bahan kimia, sedikit sambungan sudut dengan dinding melengkung, tidak licin (vinyl atau self leveling epoxy);

(23)

7) Meja terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata dan mudah dibersihkan dengan tinggi 0,80-1,00 m. Meja untuk instrumen elektronik-Diagnostic harus tahan getaran.

8) Bench dilapisi bahan tahan air, panas/api dan bahan kimia dengan sedikit sambungan, tepinya bulat (bukan siku), Laci lemari penyimpan tingggi 70 cm (untuk bekerja pada posisi duduk) dan Laci penyimpan tinggi 90 cm (untuk bekerja pada posisi berdiri) lebar 60 cm;

9) Stool dilapisi bahan tahan air, panas/api dan bahan kimia, dapat diatur ketinggian dan beroda;

10) Partisi dan atau dinding dilapisi dengan cat tahan air, sudut dengan lantai membulat;

11)  Westafel/sink dan kran tahan korosi dan bahan kimia, dibuat dengan kedalaman tertentu  untuk mencegah percikan. Kran dapat dioperasikan dengan tangan dan kaki atau siku;

12) Listrik/electricity grounding dan elctrycity outlet spark and  water proof secukupnya;

13) Tersedia WC pasien (P/W), disable dan petugas yang terpisah,  jumlah sesuai dengan kebutuhan dengan ketentuan :

o Mudah pemeliharaanya dan selalu dalam keadaan bersih.

o Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin,

berwarna terang dan mudah dibersihkan.

o Pembuangan air limbah dari dilengkapi dengan penahan bau

(water seal ).

o Letak Kamar mandi/WC tidak berhubungan langsung dengan

dapur, kamar operasi, dan ruang khusus lainnya.

o Lubang ventilasi harus berhubungan langsung dengan udara

luar.

o Kamar mandi/WC pria dan wanita harus terpisah.

o Kamar mandi/WC karyawan harus terpisah dengan Kamar

(24)

o Kamar mandi/WC pasien harus terletak di tempat yang

mudah terjangkau dan ada petunjuk arah.

o Dilengkapi dengan slogan atau peringatan untuk memelihara

kebersihan.

o Tidak terdapat tempat penampungan atau genangan air yang

dapat menjadi tempat perindukan nyamuk. 14) Keselamatan dan keamanan kerja.

o Eye Washer station dan emergency shower; o  Alat pendeteksi asap dan api secukupnya o Fire extinguisher secukupnya;

o Fire blanket; o  Accses control; o CCTV;

15) Jaringan system informasi lebih diutamakan dengan fiber optic. 16) Penerangan harus cukup (1000 lux di ruang kerja, 1000-1500 lux

untuk pekerjaan yang memerlukan ketelitian dan sinar harus berasal dari kanan belakang petugas). Penerangan, day lighting 600 lux (lumen/m2);

17) Ventilasi: 1/3 x luas lantai atau AC 1 PK/20m2 yang disertai dengan sistem pertukaran udara yang cukup. Ventilasi udara /exhause dengan sirkulasi minimal 10 x/jam;

18) Jaringan air bersih; air bersih, mengalir, jernih, dapat menggunakan air PDAM atau air bersih yang memenuhi syarat. Sekurang-kurangnya 20 liter/karyawan/hari.

19) Jaringan River osmosis; 20) Jaringan limbah cair;

21) Penampungan/pengolahan limbah laboratorium , Tempat limbah padat infeksius dan non infeksius;

22) Work flow Sistem transportasi specimen-sampel; 23) Furniture sesuai kebutuhan.

(25)

 3.  Area aktifitas Post Analitik

Pada tahapan Post Analitik perhitungan hasil, penyalinan ke formulir hasil, pemberian ekspertise, pengiriman hasil pemeriksaan laboratorium kepada klinisi serta interpretasi terhadap hasil akan efektif dan efesien apabila menggunakan Sistem Informasi Laboratorium yang kapable. Bagi Rumah Sakit yang telah menerapkan Sistem Informasi Managemen Rumah Sakit berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 83 tahun 2013 tentang Sistem Informasi Managemen Rumah Sakit maka hasil pemeriksaan, formulir hasil, sebagaimana yang diorder oleh klinisi bisa dilaksanakan berdasarkan master ICD-10 (International Clasification Deases)  oleh Sistem Informasi Laboratorium dapat di olah dan dikirmkan kepada klinisi (paperless).

4. Sistem Informasi Laboratorium (Laboratory Information System)

Kepala Instalasi Laboratorium Klinik bertanggung jawab terhadap pemberian jasa pelayanan yang berhubungan dengan pemeriksaan penunjang medis laboratorium baik pemeriksaan medis, patologi, dan mikrobiologi bagi seorang pasien. Saat ini Instalasi Laboratorium klinik juga diberikan tanggung jawab sebagai pengelola Bank Darah. Hal pertama yang perlu menjadi terobosan-diperkenalkan adalah order manajemen  yaitu pemanfaatan pelayanan permintaan dan penyampaian hasil pemeriksaan dengan memanfaatkan fasilitas komputer secara online. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh semua unit pengguna. Status atau proses permintaan layanan termasuk hasil pemeriksaan dapat dipantau / dilihat langsung melalui fasilitas PC melalui Sistem Informasi Laboratorium (Laboratory Information System). Hampir 70% informasi yang digunakan dalam manajemen pasien di Rumah Sakit umumnya berasal dari laboratorium patologi

(26)

klinik dan patologi anatomi dan hampir 94% dari permintaan EMR (Electronic Medical Record) adalah untuk hasil laboratorium. Bahwa keseluruhan alur kerja (work flow) pelayanan Laboratorium klinik meliputi fase pre-Analitik, analitik dan post analitik membutuhkan Sistem Informasi yang mampu mengolah matrikulasi data menjadi Informasi yang berguna dan dibutuhkan. Disinilah pemangku kepentingan (stakes holder) managemen Laboratorium klinik Rumah Sakit membutuhkan infrastruktur dalam bentuk Sistem Informasi Laboratorium (Laboratory Information System) untuk mentransformasi data laboratorium menjadi suatu informasi yang dibutuhkan oleh pemangku kepentingan (stakes holder) laboratorium klinik. Sistem Informasi Laboratorium(Laboratory Information System)  adalah bagian dari Sistem Informasi Rumah Sakit yang merupakan gabungan dari beberapa subsistem, meliputi subsistem pasien dan dokter-klinisi, subsistem laboratorium(instrument diagnostic) dan subsitem Logistic yang digabungkan menjadi satu. Dengan aplikasi ini, pengguna dalam hal ini dokter laboratorium dan klinisi dapat dengan mudah memperoleh pelayanan dan informasi seluruh kegiatan yang ada khususnya dalam hal manajemen laboratorium pada rumah sakit dimanapun dan kapanpun mereka berada secara on-line. (Dwi Mardiatmo N H, dkk, Jurnal Implementasi Sistem Informasi Rumah Sakit, UNDIP Semarang, 2013). Sebagaimana kita ketahui bahwa technology pada Alat diagnostic analyzer saat ini pada umumnya sudah dirancang memiliki system middle ware untuk melakukan , memproses pemeriksaan analitik dengan system uni-directional atau dengan system bi-uni-directional . Pada mesin diagnostic analyzer dengan uni-directional, setelah dilaksanakan interfacing maka :

  Analis melakukan order manual pada instrument;

(27)

 Hasil dari alat beserta konversinya dikirimkan secara otomatis ke System Informasi Laboratorium

Hal ini masih terdapat kelemahanya yaitu :

 Salah order → berakibat pada pemeriksaan salah → berakibat

pada reagen terbuang (in-efesiensi);

 Salah penempatan sample → berakibat pada salah hasil (error);

Pada mesin diagnostic analyzer dengan bi- directional, setelah dilaksankan interfacing maka :

 Order ke alat dikirimkan oleh System Informasi Laboratorium;   Analis meletakkan sample pada instrument sesuai posisi;

 Hasil dari alat beserta konversinya dikirimkan secara otomatis

ke System Informasi laboratorium;

Hal ini juga masih terdapat kelemahanya yaitu salah penempatan sample (tanpa barcode) → yang berakibat salah hasil (error).

Disinilah dibutuhkan System Informasi laboratorium dengan kemampuan query mode sehingga setelah interfacing analycer maka

  Analis dapat meletakkan sample secara acak;

 Saat barcode label tabung terbaca pada alat, System Informasi Laboratorium akan secara otomatis mengirimkan order;

 Hasil dari alat beserta konversinya dikirimkan secara otomatis ke System Informasi Laboratorium.

 Error free

 Efektivitas alokasi waktu dan kinerja

Pada umumnya sistem informasi laboratorium terdiri atas: 1. sistem informasi pelayanan;

2. sistem informasi kepegawaian;

3. sistem informasi keuangan/akuntansi; 4. sistem informasi logistik.

System Informasi Laboratorium (Laboratory Information System)  yang baik dan capable akan menjamin quality assurance pemeriksaan

(28)

ketepatan pelayanan kepada klinisi. Kualifikasi System Informasi Laboratorium yang baik setidaknya memiliki kemampuan teknis berupa :

1. Integrated Queing Managemen system 2. Registration and Billing

3. Fully barcoding, Specimen and sample handling 4. Interfacing analyzer

5. Leveling Authorization 6. Multi lingual result report 7. Graph result

8.  Aler t Noti fi ca tion/ Sist em warn in g pa da va lida si ha si l 9. Quality control :

a. Konversi unit dan hasil pemeriksaan otomatis (dalam SI Unit dan/atau konvensional unit)

b.  West ga rd s Ru le s yang diaplika sika n secara re al ti me terhadap hasil Quality Control

c. Mampu mengakomodir ICD 10 yaitu International Classification Deaseas untuk 14.500 kode diagnosis standar INA CBGs.

10 . Laboratory logistic module 11 . Support mobile application

12 . On site Medical check up Application

13 . Mempunyai refenrensi pengguna yang sudah Certified Quality Assurance Laboratory ISO 15189.

14. Microbilogy format result compatible with WHOnet 15 . Jamin an kesa ng gu pan memban gu n apli kasi sesu ai

kebutuhan end user (customize)

16. Jamin an Ke sa ng gupa n mel akuk an alih te kn ologi -pelatihan, pendampingan kepada end user.

17 . Jamin an un tu k menem pa tkan li ai son of fic er un tu k pemeliharaan soft ware dan hardware.

5. Pemantapan mutu

Dalam kaitannya dengan mutu laboratorium, maka data hasil uji analisa laboratorium dikatakan bermutu tinggi apabila data hasil uji tersebut dapat memuaskan pelanggan dengan mempertimbangkan aspek aspek teknis sehingga  precision and  accuracy atau ketepatan dan ketelitian yang tinggi dapat dicapai dan data tersebut harus

(29)

terdokumentasi dengan baik, sehingga dapat dipertahankan secara ilmiah (sumber : Riyono; pengendalian mutu laboratorium klinik dilihat dari aspek mutu hasil analisis laboratorium klinik; Surakarta,  2006). Pemantapan mutu laboratorium merupakan suatu instrument  yang digunakan untuk melakukan pengawasan mutu dengan menggunakan konsep pengawasan proses statistic (statistical process control ). Pengawasan proses dengan statistic ini adalah sebuah cara  yang memungkinkan operator menentukan apakah suatu proses sedang berproduksi, dan mungkin terus berproduksi dan mneghasilkan keluaran yang sesuai. Tidak semua laboratorium klinik Rumah Sakit mempunyai SDM dengan pengetahuan khusus untuk setiap aspek dari laboratorium dari berbagai bidang sehingga kelancaran kerja kadang tidak terjadi optimal. Sistim Teknologi Informasi yang seharusnya dapat mempermudah pekerjaan namun  juga dapat menimbulkan konflik karena kompatibilitasnya tidak

sempurna. SDM yang kurang kompeten juga akan menyebabkan proses laboratorium menjadi kurang seperti yang diharapkan dan out-put hasil pemeriksaan menjadi tidak kredible. Untuk itulah dibutuhkan upaya peningkatan kapabilitas SDM penatalaksana laboratorium klinik yang berkelanjutan (continuousely) berdasarkan expertice Laboratory practice yang meliputi :

a. Pemantapan Mutu Internal

Salah satu program pengendalian mutu laboratorium adalah pemantapan mutu laboratorium intra laboratorium (pemantapan mutu internal). Tujuan dilaksanakanya pemantapan mutu internal laboratorium adalah mengendalikan hasil pemeriksaan laboratorium tiap hari dan untuk mengetahui penyimpangan hasil laboratorium untuk segera diperbaiki. Manfaat dari melaksanakan kegiatan pemantapan mutu internal laboratorium antara lain mutu presisi maupun akurasi hasil laboratorium akan terjaga dan meningkat lebih baik,

(30)

kepercayaan dokter terhadap hasil laboratorium juga akan meningkat. Hasil laboratorium yang kurang tepat akan menyebabkan kesalahan dalam penatalaksanaan pengguna laboratorium. Manfaat lain yaitu pimpinan laboratorium akan mudah melaksanakan pengawasan terhadap hasil laboratorium. Kepercayaan yang tinggi terhadap hasil laboratorium ini akan membawa pengaruh pada moril penatalaksana laboratorium sehingga pada akhirnya akan meningkatkan disiplin kerja di laboratorium tersebut (PATELKI, 2006).

b. Pemantapan Mutu External.

Penyelenggaraan Pemantapan Mutu Eksternal saat ini diatur dalam “Pedoman Penyelenggaraan Pemantapan Mutu Eksterna Laboratorium Kesehatan” yang dikeluarkan oleh Direktorat  Jenderal Pelayanan Medik Depkes Tahun 2004. Dengan

pengertian bahwa program ini dilakukan untuk menilai penampilan pemeriksaan laboratorium pada saat tertentu secara periodik, serentak, dan berkesinambungan yang dilakukan oleh pihak luar laboratorium dengan jalan membandingkan hasil pemeriksaan laboratorium peserta terhadap nilai target.

c. Pemantapan mutu Internasional

Program ini dilakukan untuk menilai penampilan pemeriksaan laboratorium yang di dukung oleh principal/vendor instrument diagnostic pada event pemantapan mutu internasional.

Upaya untuk menjamin mutu pelaksanaan pelayanan laboratorium kesehatan telah di atur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 tahun 2013 tentang Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik yang isinya mewajibkan laboratorium kesehatan mengikuti akreditasi secara nasional maupun internasional. Dalam skala internasional, akreditasi laboratorium yang menggunakan standard ISO/IEC Guide 17025:1999 yang telah diperbaharui menjadi ISO/IEC Guide 17025:2005 General Requirements  for the Competence of testing and Calibration laboratories,  untuk

(31)

laboratorium penguji, dan ISO 15189:2003 diperbaharui dengan ISO 15189:2007  Medical laboratories –  Particular requirements for quality and competence  dan terkini ISO 15189:2009 Laboratorium medik - Persyaratan khusus untuk mutu dan kompetensi. untuk laboratorium medis/klinis, juga mewajibkan laboratorium mengikuti Uji Profisiensi. Uji Profesiensi adalah “penentuan unjuk kerja penguji laboratorium dengan cara membandingkan” atau “ determination of laboratory testing performance by means of interlaboratory comparisons”  yang tertuang dalam ISO Guide 43:1997, (Proficiency testing by interlaboratory comparisons). Pelaksanaan kegiatan Pengendalian Mutu Eksternal yang diatur dalam PERMENKES atau Uji Profisiensi yang diatur dalam ISO Guide 43 yang mensyaratkan bahwa penyelenggara bersifat independent, melibatkan laboratorium rujukan serta para ahli (stakeholder ).

SNI ISO 15189:2009 (Laboratorium medik – persyaratan khusus untuk mutu dan kompetensi) merupakan standar yang berisi persyaratan bagi laboratorium medik untuk menunjukan kompetensinya dalam memberikan pelayanan yang dapat dipercaya. SNI ISO 15189:2009 merupakan standar berdasarkan ISO/IEC 17025 dan ISO 9001 yang memasukan persyaratan khusus untuk laboratorium medik. Standar ini berisi kompetensi personel  yang terlibat pada pemeriksaan di laboratorium medik, fasilitas beserta  peralatan, reagen dan perlengkapan, faktor pra-pemeriksaan, pemeriksaan,  pertimbangan jaminan mutu, dan faktor pasca-pemeriksaan. Akreditasi laboratorium medik berdasarkan SNI ISO 15189:2009 menunjukan bahwa laboratorium medik tersebut memenuhi keseluruhan persyaratan manajemen dan teknis yang terdapat pada standar SNI ISO 15189:2009 sehingga memastikan kompetensi laboratorium medik dalam memberikan hasil yang tepat waktu, akurat dan dapat dipercaya. Selain itu penggunaan standar internasional sebagai kriteria penilaian untuk laboratorium medik adalah salah satu cara untuk membangun saling keberterimaan hasil pemeriksaan dengan negara lain. Komite Akreditasi Nasional (KAN) telah mengoperasikan pelayanan akreditasi untuk laboratorium medik

(32)

berdasarkan SNI ISO 15189:2009 sejak tahun 2005. Sistem akreditasi yang dijalankan oleh KAN berdasarkan ISO 17011 (Confority assessment – General Requirement for accreditation bodies accrediting conformity assessment bodies).  Agar dapat diakreditasi oleh KAN, Laboratorium Medik , Sistem manajemen mutu telah diimplementasikan secara efektif dalam setiap pemeriksaan yang diajukan dalam ruang lingkup permohonan minimum 3 bulan sebelum mengajukan permohonan, dan telah melaksanakan satu kali audit internal dan kaji ulang manajemen yang telah selesai ditindaklanjuti.  Yang tidak kalah penting pula dalam proses akreditasi, laboratorium medik telah mempunyai hasil pemantapan mutu eksternal ( PME ), uji banding dan atau pemantapan mutu internal ( PMI ) atau internal quality control (IQC). Untuk menilai kompetensi laboratorium medik berdasarkan SNI ISO 15189:2009 maka KAN akan melakukan asesmen, yang dilakukan terdiri dari 2 tahap, yaitu audit kecukupan (pemeriksaan dokumen mutu terhadap kesesuiannya dengan persyaratan akreditasi) dan asesmen lapangan untuk melihat efektifitas implementasi SNI ISO 15189:2009 di laboratorium medik. Proses pengambilan keputusan akreditasi dilakukan oleh Konsil KAN, setelah mendapat pertimbangan teknis dari tim panitia teknis yang diberikan pada sekretaris Jenderal KAN. (source ; http://www.kan.or.id/ Komite Akreditasi Nasional (KAN) 14 -08-2012). SNI ISO 15189:2009, Laboratorium medik-klinik adalah Persyaratan-kualifikasi khusus untuk mutu dan kompetensi Laboratroium klinik yang merupakan adopsi identik dengan metode terjemahan dari ISO 15189:2007, Medical laboratories – Particular requirements for quality and competence versi Bahasa Inggris SNI ini dirumuskan oleh sub-panitia Teknis Perumusan Standar Nasional Indonesia Penilaian Kesesuaian PK 03-01, Lembaga Penilaian Kesesuaian (ISO 15189) yang merupakan sub-panitia teknis dari PT 03-01, Lembaga Penilaian Kesesuaian dan telah dikonsensuskan pada tanggal 14 Februari 2009 di Hotel Bumi Wiyata, Depok. (source : ICS 03.120.10;11.100.01 Badan Sertifikasi Nasional (BS) , SNI ISO 15189-2009).

(33)

 V. MEMBANGUN KEUNGGULAN BERSAING LABORATORIUM KLINIK RUMAH SAKIT MELALUI CO-SOURCHING

Berlakunya Undang-Undang Nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), secara strategis Rumah Sakit mempunyai captive market dalam hal jumlah pasien dan penjamin- jaminan pembayaran dari BPJS. Captive market inilah yang dapat menjadi modal dan terobosan baru atau bagi Managemen Rumah Sakit khususnya yang sudah status Badan Layanan Umum penuh untuk melakukan terobosan, inovasi pelayanan dengan tidak lagi mengandalkan pada APBN ataupun APBD untuk melakukan investasi/revitalisasi laboratorium, namun menggunakan operasional sumber dana BLU melalui skema Co-Sourching Kerjasama Operasional (KSO) dengan membuka kesempatan kepada pihak lain (investor) sehingga tujuan pengembangan, peningkatan kualitas pelayanan dan Inovasi pelayanan laboratorium dapat tercapai.

Skema co-sourching telah diatur oleh regulasi terbaru yaitu Peraturan Presiden Nomor 38 tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dalam penyediaan Infrastruktur dan Peraturan Menteri Perencanaan pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 4 tahun 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan usaha dalam penyediaan Insfrastruktur.

Konsep Co-sourching diperkenalkan oleh Thomas & Parish (1999) yang definisi operasionalnya adalah perusahaan melakukan partnership dengan profesional diluar entity/organisasi. Dalam penyerahan pekerjaan kepada outsider tersebut, entity/organisasi dalam hal ini adalah Laboratorium Klinik Rumah Sakit di dampingi oleh Liaisson officer dari outsider namun tetap menyertakan pekerja tetapnya (Resource SDM struktural dan fungsional) untuk secara bersama-sama menjalankan pekerjaan, sekalipun pekerjaan tersebut membutuhkan keahlian yang spesifik. Jika pekerjaan tersebut bersifat project, maka sampai dengan waktu yang disepakati untuk

Gambar

Ilustrasi pelayanan laboratorium Klinik di Rumah Sakit saat ini :

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya peserta yang dinyatakan diterima dapat melakukan pendaftaran ulang (Registrasi) dengan mengikuti ketentuan pada Pengumuman Pendaftaran Ulang (Registrasi)

Semua pelajar yang mengikuti Program Geografi UPSI diwajibkan menggunakan penulisan yang telah ditetapkan untuk penulisan kertas kerja, esei, kertas ilmiah, laporan projek,

Namun jika kita menjual secara online, maka ada dua keuntungan yang diraih selain mendapatkan downline yang mau bergabung, dan kemudian mendapat keuntungan

Yang menjadi pengurus pada divisi tajwid tahsin adalah mahasiswa yang sebelumnya telah mengikuti pembelajaran atau menjadi anggota pembelajaran selama 1 tahun atau 2

Klasifikasi dalam sindroma antifosfolipid, morbiditas obstetrik disebabkan secara langsung dan tidak langsung oleh aktivitas antibodi antifosfolipid dan pembentukan

karbon sebagai inhibitor korosi baja karbon dalam larutan elektrolit jenuh karbon dioksida yang sesuai dengan kondisi di industri petroleum serta mempelajari mekanisme

Demikian juga untuk Dirjen Fakir Miskin Pak Asep saya agak bingung membaca struktur organisasi Bapak. Bapak bagi wilayah menjadi 1,2 dan 3 pendekatannya apa itu Pak

Variabel yang paling dominan adalah variabel independen (kualitas pelayanan) dengan nilai thitung>nilai t tabel sebesar 12,877 dengan tingkat signifikan 0,000 dapat