• Tidak ada hasil yang ditemukan

Osteoarthritis Rehabilitasi Presentasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Osteoarthritis Rehabilitasi Presentasi"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

Presentasi Kasus Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

SEORANG LAKI-LAKI 51 TAHUN DENGAN OSTEOARTHRITIS KNEE BILATERAL

Oleh :

Kurniawan Adi Putranto G99121025

Pembimbing :

Dr. dr. Hj. Noer Rachma, Sp.KFR

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR.MOEWARDI

(2)

2013 BAB I STATUS PASIEN I. ANAMNESIS A. Identitas Pasien Nama : Tn. W Umur : 51 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Petani

Alamat : Sriwedari, Karanganyar, Ngawi Status Perkawinan : Menikah

Tanggal Periksa : 23 Juli 2013

No RM : 01207535

B. Keluhan Utama Nyeri pada kedua lutut

C. Riwayat Penyakit Sekarang

Sejak 1 tahun yang lalu pasien mengeluhkan nyeri di kedua lututnya. Pasien mengatakan nyeri tersebut hilang timbul. Kedua lutut terasa nyeri dan kaku hingga sulit untuk digerakkan terutama setelah bangun tidur pagi. Nyeri dirasakan selama kurang lebih 15 menit. Pasien tidak meminum obat ataupun jamu apapun untuk mengurangi nyeri tersebut karena nyeri sering hilang sendiri tanpa diapa-apakan.

Tiga bulan yang lalu pasien mulai merasa lututnya makin nyeri dan sulit untuk digerakkan, terutama saat berjalan namun nyeri hilang dengan istirahat. Walaupun pasien merasa ada sedikit gangguan dalam berjalan, namun pasien masih tidak memerlukan alat bantu apapun untuk berjalan.

Satu minggu yang lalu, pasien mengatakan keluhan – keluhan yang dialaminya makin bertambah hebat. Lutut terasa nyeri dan panas, nyeri

(3)

dirasakan terus menerus dan makin bertambah bila digunakan untuk berjalan. Nyeri sedikit berkurang dengan istirahat. Pasien kesulitan untuk berjalan dan menjalankan aktivitas sehari-harinya, kemudian pasien berobat ke Puskesmas, karena keluhan tidak membaik, pasien memutuskan ke RSUD Dr.Moewardi. D. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat tensi tinggi : (+) sejak 3 tahun lalu, kontrol di Puskesmas

Riwayat sakit gula : disangkal

Riwayat penyakit jantung : (+) sejak 6 bulan lalu, kontrol di Puskesmas

Riwayat alergi : disangkal

Riwayat asma : disangkal

Riwayat trauma : disangkal

Riwayat operasi : disangkal

Riwayat mondok : (+) 1 minggu karena penyakit jantung

E. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat sakit serupa : disangkal Riwayat tensi tinggi : disangkal Riwayat sakit gula : disangkal Riwayat penyakit jantung : disangkal

Riwayat asma : disangkal

F. Riwayat Kebiasaan

Riwayat merokok : (+) sejak 20 tahun yg lalu @ 12 batang/hari

Riwayat minum alkohol : disangkal Riwayat minum obat-obatan

penghilang rasa nyeri : disangkal Riwayat olahraga : disangkal

(4)

Pasien adalah seorang petani, saat ini tinggal dengan istri dan anaknya. Pasien makan sehari tiga kali, porsi sedang dengan lauk pauk tempe, tahu, telur, ikan, jarang makan daging, buah-buahan dan minum susu. Pasien berobat di RSUD Moewardi dengan fasilitas Jamkesmas.

II. PEMERIKSAAN FISIK

1. Status Generalis

Keadaan umum sedang, GCS E4V5M6, gizi kesan lebih 2. Tanda Vital

Tekanan Darah : 130/80 mmHg

Nadi : 86x / menit, isi cukup, irama teratur, simetris Respirasi : 20x / menit

Suhu : 36,6º C per aksiler

VAS : 8

3. Kulit

Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-), venectasi (-), spider naevi (-), striae (-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-)

4. Kepala

Bentuk kepala mesochepal, kedudukan kepala simetris, luka (-), rambut hitam, mudah rontok, mudah dicabut, atrofi otot (-).

5. Mata

Conjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung dan tak lansung (+/+), pupil isokor (3mm/3mm), oedem palpebra (-/-), sekret (-/-)

6. Hidung

Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-) 7. Telinga

Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-) 8. Mulut

Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), lidah simetris, lidah tremor (+), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi berdarah (-).

(5)

9. Leher

Simetris, trakea di tengah, JVP meningkat (R+3), kelenjar getah bening tidak membesar, nyeri tekan (-), benjolan (-)

10. Thorax • Jantung

Inspeksi : Ictus Cordis tidak tampak

Palpasi : Ictus Cordis tidak kuat angkat, teraba di SIC V LMCS Perkusi : Batas jantung kesan melebar ke caudolateral

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II intensitas normal, reguler, bising (-)

• Paru

Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri Palpasi : Fremitus raba kanan = kiri Perkusi : sonor/sonor

Auskultasi : SDV (+/+), suara tambahan (-/-) 11. Trunk

Inspeksi : deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-) Palpasi : massa (-), nyeri tekan (-), oedem (-)

Perkusi : nyeri ketok kostovertebrae (-) 12. Abdomen

Inspeksi : Dinding perut > dinding dada Auskultasi : Peristaltik (+) normal

Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba Perkusi : Tympani, pekak beralih (-)

13. Ektremitas

Oedem Akral dingin

(6)

-- - -

-Status Lokalis (Genu Dextra et Sinistra)

Inspeksi : deformitas (-/-), peradangan (-/-), varises (-/-)

Palpasi : nyeri tekan (+/+), nyeri gerak (+/+minimal), krepitasi (+/+)

14. Status Psikiatri Deskripsi Umum

1. Penampilan : Pria, tampak sesuai umur, perawatan diri cukup 2. Kesadaran : Compos mentis

3. Perilaku dan Aktivitas Motorik : Normoaktif 4. Pembicaraan : Normal

5. Sikap terhadap Pemeriksa : Kooperatif, kontak mata cukup Afek dan Mood

Afek : Appropiate Mood : Eutimik Gangguan Persepsi Halusinasi : (-) Ilusi : (-) Proses Pikir Bentuk : realistik Isi : waham (-) Arus : koheren Sensorium dan Kognitif Daya konsentrasi : baik

Orientasi : Orang : baik Waktu : baik

(7)

Tempat : baik

Daya Ingat : Jangka panjang : baik Jangka pendek : baik

Daya Nilai : Daya nilai realitas dan sosial baik

Insight : I

15. Status Neurologis

Kesadaran : GCS E4V5M6 Fungsi Luhur : dalam batas normal Fungsi Vegetatif : dalam batas normal Nervus Cranialis : dalam batas normal Fungsi Sensorik

- Rasa Eksteroseptik : suhu, nyeri, dan raba dalam batas normal - Rasa Propioseptik : getar, posisi, dan tekan dalam batas normal - Rasa Kortikal : stereognosis, barognosis dalam batas normal Fungsi Motorik dan Reflek

Kekuatan Tonus R.Fisiologis R.patologis

5 5 N N +2 +2 -

4 4 N N +2 +2 -

-16. Range of Motion

NECK

ROM Pasif ROM Aktif

Fleksi 0 - 70º 0 - 70º

Ekstensi 0 - 40º 0 - 40º

Lateral bending kanan 0 - 60º 0 - 60º

Lateral bending kiri 0 - 60º 0 - 60º

Rotasi kanan 0 - 90º 0 - 90º

(8)

Ektremitas Superior ROM Pasif ROM Aktif Dekstra Sinistra Dekstra Sinistra

Shoulder Fleksi 0-90º 0-90º 0-90º 0-90º Ektensi 0-50º 0-50º 0-50º 0-50º Abduksi 0-180º 0-180º 0-180º 0-180º Adduksi 0-75º 0-75º 0-75º 0-75º Eksternal Rotasi 0-90º 0-90º 0-90º 0-90º Internal Rotasi 0-90º 0-90º 0-90º 0-90º Elbow Fleksi 0-150º 0-150º 0-150º 0-150º Ekstensi 0º 0º 0º 0º Pronasi 0-90º 0-90º 0-90º 0-90º Supinasi 0-90º 0-90º 0-90º 0-90º Wrist Fleksi 0-90º 0-90º 0-90º 0-90º Ekstensi 0-70º 0-70º 0-70º 0-70º Ulnar Deviasi 0-30º 0-30º 0-30º 0-30º Radius deviasi 0-20º 0-20º 0-20º 0-20º Finger MCP I Fleksi 0-50º 0-50º 0-50º 0-50º MCP II-IV fleksi 0-90º 0-90º 0-90º 0-90º DIP II-V fleksi 0-90º 0-90º 0-90º 0-90º PIP II-V fleksi 0-100º 0-100º 0-100º 0-100º MCP I Ekstensi 0-30º 0-30º 0-30º 0-30º Trunk Fleksi 0-90º 0-90º 0-90º 0-90º Ekstensi 0-30º 0-30º 0-30º 0-30º Right Lateral Bending 0-35º 0-35º 0-35º 0-35º Left Lateral Bending 0-35º 0-35º 0-35º 0-35º

Ektremitas Inferior ROM Pasif ROM Aktif

Dekstra Sinistra Dekstra Sinistra

Hip Fleksi 0-100º 0-120º 0-120º 0-120º

Ektensi 0-20º 0-20º 0-20º 0-20º

Abduksi 0-45º 0-45º 0-45º 0-45º

(9)

Eksorotasi 0-30º 0-30º 0-30º 0-30º Endorotasi 0-30º 0-30º 0-30º 0-30º Knee Fleksi 0-50º 0-100 0 0-80º 0-100º Ekstensi 0º 0º 0º 0º Ankle Dorsofleksi 0-15º 0-15º 0-15º 0-15º Plantarfleksi 0-30º 0-30º 0-30º 0-30º Eversi 0-50º 0-50º 0-50º 0-50º Inversi 0-40º 0-40º 0-40º 0-40º

17. Manual Muscle Testing (MMT) NECK

Fleksor M. Sternocleidomastoideus 5 Ekstensor M. Sternocleidomastoideus 5

TRUNK

Fleksor M. Rectus Abdominis 5

Ektensor Thoracic group 5

Lumbal group 5

Rotator M. Obliquus Eksternus Abdominis 5 Pelvic Elevation M. Quadratus Lumbaris 5

Ektremitas Superior Dekstra Sinistra

Shoulder

Fleksor M. Deltoideus anterior 5 5

M. Biseps anterior 5 5

Ekstensor M. Deltoideus 5 5

M. Teres Mayor 5 5

Abduktor M. Deltoideus 5 5

M. Biseps 5 5

Adduktor M. Latissimus dorsi 5 5

M. Pectoralis mayor 5 5

Internal Rotasi M. Latissimus dorsi 5 5

(10)

Eksternal Rotasi M. Teres mayor 5 5 M. Infra supinatus 5 5 Elbow Fleksor M. Biseps 5 5 M. Brachilais 5 5 Eksternsor M. Triseps 5 5 Supinator M. Supinatus 5 5

Pronator M. Pronator teres 5 5

Wrist

Fleksor M. Fleksor carpi radialis 5 5

Ekstensor M. Ekstensor digitorum 5 5

Abduktor M. Ekstensor carpi radialis 5 5 Adduktor M. Ekstensor carpi ulnaris 5 5

Finger Fleksor M. Fleksor digitorum 5 5

Ekstensor M. Ekstensor digitorum 5 5

Ektremitas Inferior Dekstra Sinistra

Hip Fleksor M. Psoas mayor 5 5

Ekstensor M. Gluteus maksimus 5 5

Abduktor M. Gluteus medius 5 5

Adduktor M. Adduktor longus 5 5

Knee Fleksor Hamstring muscle 4 4

Ekstensor Quadriceps femoris 3 4

Ankle Fleksor M. Tibialis 5 5

Ekstensor M. Soleus 5 5

Status Ambulasi : moderate dependendent Pengukuran Nyeri dengan VDS

Dekstra Nilai Sinistra Nilai

1. Nyeri diam 2. Nyeri tekan 3. Nyeri gerak 1 3 5 1. Nyeri diam 2. Nyeri tekan 3. Nyeri gerak 1 1 5

II. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Laboratorium Darah ( 17 Juli 2013)

(11)

Hb : 14,5 g/dl (13,5-17,5 g/dl) Hct : 43 % (33-45%) AE : 5,05. 106/ul (4,5-5,9. 106/ul) AL : 12,4. 103/ul (4,5-11,0. 103/ul) AT : 306. 103 /ul (150-450. 103/ul) Asam Urat : 17,3 mg/dl (2,4 – 4,1 mg/dl) Kolesterol Total : 189 mg/dl (50 -200 mg/dl) LDL Kolesterol : 117 mg/dl (89-197 mg/dl) HDL Kolesterol : 36 mg/dl (28-63 mg/dl) Trigliserida : 161 mg/dL (<150 mg/dL)

B. Foto Genu AP/Lat (17 Juli 2013) • Alignment baik

• Trabekulasi tulang normal

• Tampak osteofit di condyles lateral et medial os femur et os tibia dekstra dan margo posteroinferior os pattela sinistra

• Tampak penyempitan celah dan permukaan sendi • Tak tampak erosi/destruksi tulang

• Tak tampak soft tissue mass/swelling

(12)

III. ASSESMENT

 Osteoarthtritis Knee Bilateral

IV. DAFTAR MASALAH

Masalah Medis :

 Osteoarthtritis Knee Bilateral  Intoleransi aktivitas

Problem Rehabilitasi Medik 1. Speech Terapi : (-)

2. Okupasi Terapi : keterbatasan melakukan kegiatan sehari-hari karena nyeri pada lutut

3. Sosiomedik : terkadang membutuhkan bantuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari

4. Ortesa-protesa : (-)

5. Psikologi : beban pikiran karena keterbatasan melakukan aktivitas sehari - hari

(13)

V. PENATALAKSANAANTerapi Medikamentosa - Meloksikam 7,5 mg 2x1 - Ranitidin 2x1 - Antasida syr 3x1  Rehabilitasi Medik 1. Fisioterapi : Terapi Modalitas

- Infra Red (IR) dan Transcutaneus Elactrical Nerve Stimulation (TENS) knee bilateral

- Latihan active movement

- Strengthening exercise otot quadriceps dan hamstring 2. Speech Terapi : (-)

3. Okupasi Terapi : latihan dalam meakukan aktivitas sehari-hari

4. Sosiomedik : Motivasi dan edukasi keluarga untuk membantu dan merawat penderita di rumah dan memberikan beberapa penyesuaian di rumah.

5. Ortesa-protesa : (-)

6. Psikologi : Psikoterapi suportif , mengurangi kecemasan pasien

VI. IMPAIRMENT, DISABILITAS, dan HANDICAP

A. Impairment : keterbatasan dalam ruang lingkup gerak sendi lutut B. Disabilitas : pasien masih mampu melakukan kegiatan di masyarakat

C. Handicap : keterbatasan aktivitas sehari-hari karena rasa nyeri pada kedua lutut

(14)

1. Perbaikan keadaan umum

2. Minimalisasi impairment, disabilitas, dan handicap pada pasien 3. Mengurangi nyeri, baik tekan maupun nyeri gerak

4. Meningkatkan dan memelihara kekuatan otot 5. Meningkatkan aktifitas ADL

6. Mengatasi masalah psikologis yang timbul akibat penyakit yang diderita pasien

VIII. PROGNOSIS

Ad vitam : dubia ad bonam Ad sanam : dubia et malam

Ad fungsionam : dubia et bonam

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. OSTEOARTHTRITIS

Osteoartritis (OA) adalah bentuk dari arthritis yang berhubungan dengan degenerasi tulang dan kartilago yang paling sering terjadi pada usia lanjut.

Osteoartritis, yang juga disebut dengan penyakit sendi degeneratif, artritis degeneratif, osteoartrosis, atau artritis hipertrofik, merupakan salah satu masalah kedokteran yang paling sering terjadi dan menimbulkan gejala pada orang – orang usia lanjut maupun setengah baya. Terjadi pada orang dari segala etnis, lebih sering mengenai wanita, dan merupakan penyebab tersering disabilitas jangka panjang pada pasien dengan usia lebih dari 65 tahun. Lebih dari sepertiga orang dengan usia lebih dari 45 tahun mengeluhkan gejala persendian yang bervariasi mulai sensasi kekakuan sendi tertentu dan rasa nyeri intermiten yang berhubungan dengan aktivitas, sampai kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat yang menetap, biasanya dirasakan akibat deformitas dan ketidakstabilan sendi. Degenerasi sendi yang menyebabkan sindrom klinis osteoartritis muncul paling sering pada sendi tangan, kaki, panggul, dan spine,

(15)

meskipun dapat terjadi pada sendi synovial mana pun. Prevalensi kerusakan sendi synovial ini meningkat dengan bertambahnya usia.

1. Definisi

Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi yang karakteristik dengan menipisnya rawan sendi secara progresif, disertai dengan pembentukan tulang baru pada trabekula subkondral dan terbentuknya rawan sendi dan tulang baru pada tepi sendi (osteofit).

2. Etiologi

Osteoartritis seringkali terjadi tanpa diketahui sebabnya, yang disebut dengan osteoartritis idiopatik. Pada kasus yang lebih jarang, osteoartritis dapat terjadi akibat trauma pada sendi, infeksi, atau variasi herediter, perkembangan, kelainan metabolik dan neurologik., yang disebut dengan osteoartritis sekunder. Onset usia pada osteoartritis sekunder tergantung pada penyebabnya; maka dari itu, penyakit ini dapat berkembang pada dewasa muda, dan bahkan anak-anak, seperti halnya pada orang tua. Sebaliknya, terdapat hubungan yang kuat antara osteoartritis primer dengan umur. Presentasi orang yang memiliki osteoartritis pada 1 atau beberapa sendi meningkat dari dibawah 5% dari orang-orang dengan usia antara 15-44 tahun menjadi 25%-30% pada orang-orang dengan usia 45-64 tahun, dan 60%-90% pada usia diatas 65 tahun. Selain hubungan erat ini dan pandangan yang luas bahwa osteoartritis terjadi akibat proses wear & tear yang normal dan kekakuan sendi pada orang-orang dengan usia diatas 65 tahun, hubungan antara penggunaan sendi, penuaan, dan degenerasi sendi masih sulit dijelaskan. Terlebih lagi, penggunaan sendi selama hidup tidak terbukti menyebabkan degenerasi. Sehingga, osteoartritis bukan merupakan akibat sederhana dari penggunaan sendi.

Meskipun akhiran –itis menunjukkan bahwa osteoartritis merupakan suatu penyakit inflamasi dan ada beberapa bukti sering terjadi sinovitis, inflamasi bukan merupakan komponen utama dari kelainan yang terjadi pada pasien. Tidak seperti kerusakan sendi yang disebabkam oleh inflamasi sinovial, osteoartritis merupakan sekuen retrogresif dari perubahan sel dan matrik yang berakibat kerusakan struktur dan fungsi kartilago artikuler, diikuti dengan reaksi perbaikan dan remodeling tulang. Karena reaksi perbaikan dan remodeling tulang ini, degenerasi permukaan artikuler pada osteoartritis tidak bersifat progresif, dan kecepatan degenerasi sendi

(16)

bervariasi pada tiap individu dan sendi. Osteoartritis sering terjadi, tapi pada sebagian besar kasus osteoartritis berkembang lambat selama bertahun-tahun, meskipun dapat menjadi stabil atau bahkan membaik dengan spontan dengan restorasi parsial yang minimal dari permukaan sendi dan pengurangan gejala.

Osteoartritis biasanya melibatkan semua jaringan yang membentuk sendi sinovial, termasuk rawan sendi, tulang subchondral, tulang metafise, synovium, ligamen, kapsul sendi, dan otot – otot yang bekerja melalui sendi; tetapi perubahan primer meliputi kerusakan rawan sendi, remodeling tulang subchondral, dan pembentukan osteofit.

Perubahan struktur tulang rawan sendiyang paling dini terlihat pada osteoartritis adalah kerusakan atau fibrilasi zona superfisial sampai ke zona transisional dan violasi oleh pembuluh darah tulang subchondral. Berberapa peneliti memperkirakan bahwa kekakuan tulang subchondral menyebabkan dan mempercepat degenerasi rawan sendi, dan progresi degenerasi kartilago mengakibatkan kekakuan tulang subchondral, tapi beberapa peneliti lain mengatakan bahwa kerusakan tulang rawan sendimeningkatkan stress pada tulang subchondral yang menyebabkan remodeling tulang.

Degenerasi kartilago artikuler dan remodeling tulang subchondral muncul pada pasien yang mengeluhkan gejala, dan kerusakan rawan sendilah yang mengakibatkan kerusakan fungsi sendi. Walaupun insidens OA meningkat dengan bertambahnya usia, ternyata proses OA bukan sekedar suatu proses wear and tear yang terjadi pada sendi di sepanjang kehidupan. Dikatakan demikian karena beberapa hal, sebagai berikut :

1) Perubahan biokimiawi rawan sendi pada tingkat molekuler yang terjadi akibat proses menua berbeda dengan yang terjadi pada rawan sendi akibat OA.

2) Perubahan menyerupai OA dapat terjadi pada rawan sendi percobaan berusia muda yang dirangsang dengan berbagai trauma seperti tekanan mekanik dan zat kimia.

Penyebab OA bukan tunggal, OA merupakan gangguan yang disebabkan oleh multifaktor, antara lain usia, mekanik, genetik, humoral dan faktor kebudayaan. Menipisnya rawan sendi diawali dengan retak dan terbelahnya permukaan sendi di beberapa tempat yang kemudian menyatu dan disebut sebagai

(17)

fibrilasi. Di lain pihak pada tulang akan terjadi pula perubahan sebagai reaksi tubuh untuk memperbaiki kerusakan. Perubahan itu adalah penebalan tulang subkondral dan pembentukan osteofit marginal, disusul kemudian dengan perubahan komposisi molekular dan struktur tulang

3. Patogenesis

• Tulang rawan sendi

Stage I : Gangguan atau perubahan matriks kartilago. Berhubungan dengan peningkatan konsentrasi air yang mungkin disebabkan gangguan mekanik, degradasi makromolekul matriks, atau perubahan metabolisme kondrosit. Awalnya konsentrasi kolagen tipe II tidak berubah, tapi jaring-jaring kolagen dapat rusak dan konsentrasi aggrecan dan derajat agregasi proteoglikan menurun.

Stage II : Respon kondrosit terhadap gangguan atau perubahan matriks. Ketika kondrosit mendeteksi gangguan atau perubahan matriks, kondrosit berespon dengan meningkatkan sintesis dan degradasi matriks, serta berproliferasi. Respon ini dapat menggantikan jaringan yang rusak, mempertahankan jaringan, atau meningkatkan volume kartilago. Respon ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Stage III : Penurunan respon kondrosit. Kegagalan respon kondrosit untuk menggantikan atau mempertahankan jaringan mengakibatkan kerusakan tulang rawan sendidisertai dan diperparah oleh penurunan respon kondrosit. Penyebab penurunan respon ini belum diketahui, namun diperkirakan akibat kerusakan mekanis pada jaringan, dengan kerusakan kondrosit dan downregulasi respon kondrosit terhadap sitokin anabolik.

• Perubahan Tulang.

Perubahan tulang subchondral yang mengikuti degenerasi tulang rawan sendi meliputi peningkatan densitas tulang subchondral, pembentukan rongga-rongga yang menyerupai kista yang mengandung jaringan myxoid, fibrous, atau kartilago. Respon ini muncul paling sering pada tepi sendi tempat pertemuan tulang dan tulang rawan yang berbentuk bulan sabit

(18)

(crescent).Peningkatan densitas tulang merupakan akibat dari pembentukan

lapisan tulang baru pada trabekula biasanya merupakan tanda awal dari penyakit degenerasi sendi pada tulang subchondral, tapi pada beberapa sendi rongga– rongga terbentuk sebelum peningkatan densitas tulang secara keseluruhan. Pada stadium akhir dari penyakit, tulang rawan sendi telah rusak seluruhnya, sehingga tulang subchondral yang tebal dan padat kini berartikulasi dengan permukaan tulang “denuded” dari sendi lawan. Remodeling tulang disertai dengan kerusakan tulang sendi rawan mengubah bentuk sendi dan dapat mengakibatkan shortening dan ketidakstabilan tungkai yang terlibat.

Pada sebagian besar sendi sinovial, pertumbuhan osteofit diikuti dengan perubahan tulang rawan sendi serta tulang subchondral dan metafiseal. Permukaan yang keras, fibrous, dan kartilaginis ini biasanya muncul di tepi-tepi sendi. Osteofit marginal biasanya muncul pada permukaan tulang rawan, tapi dapat muncul juga di sepanjang insersi kapsul sendi (osteofit kapsuler). Tonjolan tulang intraartikuler yang menonjol dari permukaan sendi yang mengalami degenerasi disebut osteofit sentral. Sebagian besar osteofit marginal memiliki pernukaan kartilaginis yang menyerupai tulang rawan sendi yang normal dan dapat tampak sebagai perluasan dari permukaan sendi. Pada sendi superfisial, osteofit ini dapat diraba, nyeri jika ditekan, membatasi ruang gerak, dan terasa sakit jika sendi digerakkan. Tiap sendi memiliki pola karakter yang khas akan pembentukan osteofit di sendi panggul, osteoarthritis biasanya membentuk cincin di sekitar tepi acetabulum dan tulang rawan femur. Penonjolan osteofit sepanjang tepi inferior dari permukaan artikuler os humerus biasanya terjadi pada pasien dengan penyakit degenartif sendi glenohumeral. Osteofit merupakan respon terhadap proses degerasi tulang rawan sendi dan remodelling tulang sudkhondral, termasuk pelepasan sitokin anabolik yang menstimulasi proliferasi dan pembentukan sel tulang dan matrik kartilageneus. • Jaringan Periartikuler.

Kerusakan tulang rawan sendi mengakibatkan perubahan sekunder dari synovium, ligamen, kapsul, serta otot yang menggerakan sendi yang terlibat. Membran sinovial sering mengalami reaksi inflamasi ringan serta sedang dan dapat berisi fragmen-fragmen dari tulang rawan sendi.Semakin lama ligamen, kapsul dan otot menjadi contracted. Kurangnya penggunaan sendi dan

(19)

penurunan ROM mengakibatkan atropi otot. Perubahan sekunder ini sering mengakibatkan kekakuan sendi dan kelemahan tungkai.

Perubahan Patologi

Kartilago sendi biasanya licin, mengkilat, dan basah; pada sendi sehat, kartilago melindungi permukaan yang bergerak satu sama lain dengan gesekan sekecil mungkin, seperti “gelas dengan gelas”. Kartilago biasanya menyerap nutrisi dan cairan seperti spons, dan ini dapat mempertahankan kartilago tetap sehat dan licin. Pada OA, kartilago tidak mendapatkan nutrisi dan cairan yang dibutuhkan. Lama-kelamaan kartilago dapat mengering dan retak, bukannya membuat gerakan halus sepeti “gelas pada gelas “, kartilago yang kasar bergerak seperti kertas amplas dengan kertas amplas lain. Pada kasus yang ekstrim habisnya kartilago menyebabkkan terjadinya kontak antara tulang dengan tulang. Rasa sakit pada OA tidak ada hubungannya dengan rusaknya kartilago tetapi timbul karena aktivasi dari nosiseptif ujung-ujung saraf di dalam sendi oleh iritan mekanis ataupun kimiawi. Nyeri pada OA dapat karena penggelembungan dari kapsul sinovial oleh peningkatan cairan sendi, mikrofaktur, iritasi periosteal, atau kerusakan ligamen, sinovium, atau meniskus.

(20)

MANIFESTASI KLINIK OA

a. Umur : Biasanya manula

b. Gender : Umur <45 lebih banyak laki-laki Umur >45 lebh banyak perempuan Simptom

• rasa nyeri, dalam, ngilu • sakit bila digerakkan

• kaku pada sendi yang terkena

sembuh bila digerakkan, kambuh dengan diistirahatkan (fenomena gelling) • biasanya < 30 menit lamanya

• Sering dipengaruhi oleh cuaca • Gerakan sendi yang terbatas

• Dapat mengakibatkan keterbatasan aktivitas sehari-hari • Ketidakstabilan pada sendi penyangga beban

Tanda, riwayat, pemeriksaan fisik 1. monoartikular atau oligoartikular 2. asimetrik

3. tangan

- sendi distal interfalangeal

Heberden’s nodes (osteofit atau pembesaran tulang). Muncul knopknop kecil di ujung atau di tengah sendi jari tangan, atau di ujung sendi ibu jari (Heberden’s

nodes). Jari tangan dapat membesar, sakit, kaku dan kebal. Knop serupa dapat

timbul di sendi tengan dari jari. - sendi proksimal interfalangeal

o Bouchard’s nodes (osteofit)

o Dasar dari ibu jari juga dapat terkena OA

o Kadang knop ini berwarna merah, hangat, bengkak, dan nyeri, biasanya akibat dari trauma

- sendi pertama carpometacarpal

(21)

• OsteoArthritis di jari tangan adalah tipe yang penyebabnya kemungkinan karena faktor turunan

• Penderita perempuan lebih banyak (10 kali) dibanding laki-laki, terutama muncul setelah menopause

• OA di tangan dapat dibantu dengan obat, bidai atau dengan pemanasan

4. Lutut

 Lutut adalah sendi utama penahan berat badan. Sebab itu lutut paling sering terkena OA. Gejala: kaku, bengkak, sakit dan krepitus, sehingga mengakibatkan kesulitan untuk berjalan, menaiki tangga, bangkit serta duduk dll.

 Bila tidak diobati, OA di lutut dapat mengakibabatkan cacat

 Obat-obat, penurunan berat badan, olahraga, dan alat penyangga dapat mengurangi rasa sakit.

 Pada kondisi yang parah, dapat dilakukan bedah lutut

5. Panggul

 Yang terasa sakit adalah daerah lipat paha, panggul, dan bokong; sakit pada saat aktivitas menyangga beban

 Kaku terutama sesudah istirahat  Gerakan sendi terbatas

Penyangga seperti tongkat, walkers, dapat mengurangi tekanan dipanggul.  Obat-obat, penyangga, olahraga dapat membantu mengurangi rasa sakit dan

meningkatkan gerakan.

 Pada kondisi yang parah, dapat dilakukan bedah panggul

6. Tulang Belakang

 yang paling sering terkena adalah tulang belakang L3 dan L4.

 Kaku dan nyeri di leher atau tulang belakang bagian bawah dapat disebabkan karena OA di tulang belakang

(22)

 Beberapa orang merasa lebih nyaman bila tidur di kasur yang keras atau duduk dengan memakai bantal penyangga

 Disamping nyeri, keterbatasan gerak, dan kompresi akar saraf berpotensi untuk timbulnya komplikasi

7. Kaki

 Terutama sendi metatarsofalangeal

Pemeriksaan Fisik

 Observasi pada pemeriksaan sendi

 Proliferasi tulang, kadang-kadang radang sinovium  Peka terhadap sentuhan

 Krepitus  Atrofi otot

 Keterbatasan gerak pasif maupun aktif  Perubahan bentuk

 Evaluasi radiologi

- Awal OA ringan : Sering belum terlihat perubahan gambaran radiologi - OA moderat : Jarak sendi menyempit, Osteofit marginal

- OA lanjut : Sendi bengkok, Efusi  Cairan synovial : - Sangat kental

- Leukositosis ringan (<2000 sel/mm)  Nilai laboratorium

- Tidak ada test yang spesifik - Laju Endap Darah normal

(23)

Predisposisi genetik dan kelemahan sendiri merupakan faktor resiko osteoartritis sedangkan usia merupakan faktor resiko yang paling penting. Bebannya mekanik yang mempengaruhi kemampuan sendi memperbaiki atau mempertahankan dirinya juga merupakan faktor bentuk sendi post trauma, instabilitas, atau alignment dan displasia sendi dapat menghasilkan tekanan mekanik yang merusak permukaan sendi tulang rawan.

• Usia

Fungsi kondrosit menurun dengan bertambahnya usia. Sel-sel ini mensintesis aggrecans yang lebih kecil dan protein penghubung yang kurang fungsional sehingga mengakibatkan pembentukan agregat proteoglikan yang ireguler dan lebih kecil. Aktivitas mitotik dan sintesis menurun dengan bertambahnya usia, dan mereka kurang responsif terhadap sitokin anabolik dan rangsang mekanik.

• Beban Sendi yang Berlebihan dan Berulang-ulang.

Pemeliharaan struktur dan fungsi sendi synovial yang normal dilakukan melalui penggunaan sendi yanng teratur dalam aktivitas sehari-hari. Namun, beban berlebihan dan berulang-ulang dari sendi yang normal dapat meningkatkan resiko kerusakan degeneratif pada sendi.

• Riwayat Penyakit

Penelitian longitudinal meninjukkan bahwa selama beberapa puluh tahun, pemeriksaan radiologi pasien dengan osteoartritis sendi panggul dan lutut, tidak berkembang pada 1/3 sampai 2/3 pasien. Tidak terdapat hubungan kuat antara perubahan radiografik dan klinis. Faktor lain yang sukar dinilai adalah hubungan antara derajat degenerasi sendi dengan gejala yang ditimbulkannya. Meskipun gejala osteoartritis utama yaitu nyeri dan kekakuan sendi, muncul dari degenerasi sendi, tingkat keparahan kerusakan tulang rawan tidak memiliki korelasi kuat dengan tingkat keparahan gejala. Pasien dengan degenerasi sendi yang berat dapat merasakan nyeri yang minimal dan ruang gerak yang luas, dan sebaliknya. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk membedakan riwayat klinis dan riwayat penyakit.

(24)

Sindrom klinis osteoartritis muncul akibat degenerasi sendi synovial; berupa kerusakan keseluruhan yang progresif dari tulang rawan sendi diikuti oleh perbaikan, remodelling, dan sklerosis dari tulang subchondral, dan pada banyak kasus terjadi kista subchondral dan osteofit submarginal. Selain perubahan sendi synovial, yang biasanya dapat dibuktikan melalui foto rontgen, diagnosis sindrom klinis osteoartritis harus disertai adanya nyeri sendi yang kronik. Banyak pasien dengan osteoartritis juga mengalami keterbatasan gerakan, krepitasi dengan gerakan, dan efusi sendi. Pada kondisi yang berat dapat terjadi deformitas tulang dan subluksasi.

Sebagian besar pasien dengan osteoartritis datang dengan keluhan nyeri sendi. Pasien sering menggambarkan nyeri yang dalam, ketidaknyamanan yang sukar dilokalisasikan, yang telah dirasakan selama bertahun-tahun. Nyeri dapat bertambah dengan perubahan cuaca, khususnya dalam cuaca dengan suhu yang dingin, dan aktivitas. Nyeri yang berhubungan dengan aktivitas biasanya terasa segera setelah penggunaan sendi dan nyeri dapat menetap selama berjam-jam setelah aktivitas. Beberapa pasien pada awalnya memperhatikan adanya gejala penyakit degeneratif sendi ini setelah trauma ringan sendi atau aktivitas fisik yang berat, pada pemeriksaan radiologis dapat ditemukan perubahan degenerasi sendi. Pada tahap lanjut, nyeri menjadi konstan hingga dapat membangunkan pasien dari tidurnya. Selama degenerasi sendi berlanjut, pasien dapat mengeluhkan nyeri yang tajam yang dipicu dengan gerakan. Pembesaran sendi karena pembentukan osteofit dan deformitas muncul pada tahap akhir dari penyakit.

Tanda awal osteoartritis meliputi penurunan kecepatan dan ruang gerak aktif sendi. Keterbatasan gerakan dapat muncul akibat rusaknya kartilaggo artikularis, kontraktur ligamen & kapsul sendi, kontraktur & spasme otot, osteofit, atau adanya fragmen kartilago, tulang, atau meniskus intraartikuler. Pada palpasi dapat ditemukan krepitasi, efusi, dan nyeri sendi.

Osteofit dapat menyebabkan tonjolan tulang yang dapat diraba dan dilihat, kerusakan progresif kartilago artikuler dan tulang subchondral dapat mengakibatkan luksasi sendi dan deformitas. Atrofi otot dapat terjadi pada kasus osteoartritis yang sudah lama.

(25)

Osteoarthritis sering didiagnosis berdasar riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Perubahan – perubahan yang nampak pada rontgen foto dapat digunakan penunjang, namun hubungan antara klinis dan perubahan radiografis bervariasi diantara pasien. Beberapa pasien dengan rontgen foto yang menunjukkan kerusakan sendi berat mengeluhkan gejala yang ringan, sedangkan pasien dengan rontgen foto yang menunjukkan kerusakan sendi minimal dapat mengeluhkan nyeri yang hebat. Perubahan radiografis yang tampak pada osteoartritis adalah adanya penyempitan spatium kartilago, peningkatan densitas tulang subchondral, dan adanya osteofit. Meskipun 3 marker radiografis dari degenerasi sendi ini sering muncul bersamaan, pada beberapa sendi hanya 1 atau 2 dari marker tersebut yang tampak di rontgen standar. Kista subchondral yang muncul pada osteoartritis memiliki ukuran yang berbeda-beda dan khas memiliki batas dengan densitas tulang. Benda-benda osteochondral yang lepas, tampak pada rontgen foto sebagai fragmen-fragmen tulang intra artikuler yang berasal dari pecahan permukaan sendi. Subluksasi, deformitas, dan malalignment sendi muncul pada tahap lanjut. Ankylosis tulang jarang terjadi. Pencitraan diagnostik tambahan, termasuk scanning tulang, CT, dan MRI akan sangat mambantu menilai stadium awal penyakit degeneratif sendi, tapi pemeriksaan ini jarang diperlukan untuk menegakkan diagnosis.

Derajat osteoartritis lutut dinilai menjadi lima derajat oleh Kellgren dan Lawrence.

0 : tidak ada gambaran osteoartritis.

1 : osteoartritis meragukan dengan gambaran sendi normal, tetapi terdapat osteofit minimal.

2 : osteoartritis minimal dengan osteofit pada 2 tempat, tidak terdapat sklerosis dan kista subkondral, serta celah sendi baik.

3 : osteoartritis moderat dengan osteofit moderat, deformitas ujung tulang, dan celah sendi sempit

4 : osteoartritis berat dengan osteofit besar, deformitas ujung tulang, celah sendi hilang, serta adanya sklerosis dan kista subkondral

(26)

6. TERAPI

Penatalaksanaan pasien OA dimulai dengan dasar diagnosis dari anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik, temuan radiografi, penilaian sendi yang terkena. Pengobatan harus direncanakan sesuai kebutuhan individual.

Tujuan terapi adalah :

o menghilangkan rasa nyeri dan kekakuan o menjaga atau meningkatkan mobilitas sendi o membatasi kerusakan fungsi

o mengurangi faktor penyebab

Sasaran penatalaksanaan adalah mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup. Terapi farmakologis untuk penatalaksanaan rasa nyeri, paling efektif bila dikombinasikan dengan strategi terapi non farmakologis. Terapi non farmakologis adalah dasar dari rencana asuhan kefarmasian untuk OA, harus dilaksanakan untuk semua pasien dan dimulai sebelum atau bersama-sama dengan analgesik sederhana seperti parasetamol.5 Komunikasi antara pasien, klinisi, dan farmasis merupakan faktor yang penting dalam penatalaksanaan rasa nyeri; hasil terapi terbaik dapat dicapai dengan aliansi pihak-pihak ini.

(27)

Terapi untuk setiap pasien OA tergantung dari distribusi dan keparahan sendi yang terlibat, penyakit lain yang menyertai, obat-obatan lain yang dipakai, dan alergi. Penatalaksanaan setiap individu dengan OA dimulai dengan edukasi pasien, terapi fisik, pengurangan berat badan atau pemakaian alat bantu.

a) Farmakologi a.1) Lini Pertama

Pengobatan OA yang ada saat ini barulah bersifat simptomatik dengan obat anti inflamasi non steroid (OAINS) dikombinasi dengan program rehabilitasi dan proteksi sendi. Pada stadium lanjut dapat dipikirkan berbagai tindakan operatif. Pengetahuan tentang patogenesis OA mendorong para peneliti untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat menghambat perjalanan/progresivitas penyakit yang disebut sebagai Disease-Modifying Osteoarthritis Drugs (DMOA), sayang hingga saat ini obat tersebut masih dalam taraf penelitian.

Tabel . Obat-obatan pada Penatalaksanaan OA Pengobatan simptomatik (* dalam penelitian) Short acting

Obat antiinflamasi non steroid

Analgetik non-antiinflamasi (opioid, non-opioid) Antispasmodik

Long acting

Depokortikosteroid infra-artikuler Asam hialuronat infra-artikuler* S-adenosilmetionin (SAM)* Kondroitin-sulfat oral* Glukosamin-sulfat (Dona)* Orgotein intra-artikuler* Diacerhein* Avocado/soy nonsaponifiables*

Disease Modifying Osteoarthritis Drugs (* dalam penelitian) Tetrasiklin*

Glycosaminoglycan polysulfuric acid (GAPS)* Glycosaminoglycan peptide complexes* Pentosan polysulfate*

Growth factors dan sitokin (TGF-()* Tetapi genetik*

(28)

a.2) Lini Kedua

Penggunaan nutrisi seperti glukosamin dan chondroitin sulfat msih controversial, pada penelitian masih belum menunjukkan hasil yang bagus. Injesi articular :

- Dengan kortikosteroid, dapat menurunkan rasa sakit pada jangka waktu yang pendek

- Dengan asam hialuronat dapat menurunkan sedikit rasa sakit

Pemberian opioid dapat digunakan pada pasien dengan rasa sakit yang sangat berat dan pasien yang tidak kooperatif.

b) Terapi Non Farmakologis untuk OA b.1) Edukasi pasien

(29)

b.2) Terapi Fisik, okupasional, aplikasi dingin/panas b.3) Latihan Fisik

b.4) Istirahat dan merawat persendian b.5) Penurunan berat badan

b.6) Bedah (pilihan terakhir)

b.1) Edukasi Pasien

Edukasi pasien, keluarga pasien, teman, adalah bagian integral dari penatalaksanaan OA. Pasien harus didorong untuk berpartisipasi dalam program-program yang ada misalnya Program edukasi pasien; Program self-management; Kelompok pendukung Arthritis dsb.

Dalam studi-studi ternyata pasien yang berpartisipasi akan mengalami penurunan rasa nyeri, penurunan frekuensi kunjungan ke dokter, peningkatan aktivitas fisik, dan peningkatan kualitas hidup. Pasien didorong untuk membaca brosur, pamflet, buku panduan dan melakukan konseling tentang OA yang di dapat dari perkumpulan penderita OA, internet dan dari mana saja.

Dalam program ini pasien belajar memahami OA : • Proses penyakit

• Prognosis • Pilihan terapi

• Perubahan paradigma: bahwa OA dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat dihindari, merupakan proses penuaan.

Selain itu belajar mengurangi rasa sakit, latihan fisik dan relaksasi, komunikasi dengan staf kesehatan, dan pemecahan masalah, dapat menghadapi secara fisik, emosi dan mental, mempunyai kendali lebih baik terhadap OA, meningkatkan percaya diri untuk hidup aktif dan mempunyai hidup yang tidak tergantung orang lain.3 Hasil studi menegaskan bahwa konsep peningkatan komunikasi dan edukasi adalah faktor penting untuk mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan fungsi pada pasien OA, selain itu bahwa program ini menguntungkan untuk jangka panjang.

(30)

Mengurangi rasa sakit dengan cara non farmakologik. Terapi fisik dengan panas atau dingin dan latihan fisik akan membantu menjaga dan mengembalikan rentang gerakan sendi dan mengurangi rasa sakit dan kejang otot. Mandi atau berendam air hangat akan mengurangi rasa sakit dan kekakuan. Efek fisiologi dari suhu adalah relaksasi otot dan mengurangi rasa sakit. Walau demikian pemakaian panas harus dipertimbangkan secara komprehensif bagi pasien OA. Penderita ada yang melakukan penyembuhan tanpa obat.

• Handuk hangat, kantung panas (hot packs), atau mandi air hangat, dapat mengurangi kekakuan dan rasa sakit.

• Kadang kantung es (cold packs) dibungkus handuk dapat menghilangkan rasa sakit atau mengebalkan bagian yang ngilu. Tanyakan kepada dokter atau terapi mana yang lebih cocok bagi pasien. Untuk OA di lutut, pasien dapat memakai sepatu dengan sol tambahan yang empuk untuk meratakan pembagian tekanan akibat berat, dengan demikian akan mengurangi tekanan di lutut.

b.3) Latihan Fisik

Penelitian menunjukkan bahwa latihan fisik adalah penyembuhan yang paling baik untuk OA. Olahraga dapat meningkatkan suasana hati (mood) dan harapan (outlook), mengurangi rasa sakit, meningkatkan fleksibilitas, memperbaiki jantung dan aliran darah, menjaga berat badan, dan memperbaiki kebugaran secara umum. Olahraga juga tidak mahal, bila dilakukan dengan benar, tidak ada efek samping. Jumlah dan bentuk olahraga tergantung dari persendian yang terlibat, kestabilan dan apakah sudah pernah dilakukan pembedahan.3 Dengan latihan fisik secara teratur (penguatan, rentang gerakan, isometrik, isotonik, isokinetik, postural), kartilago dapat dipertahankan tetap sehat, mendorong gerakan, dan membantu pengembangan otot dan tendon untuk meredam tekanan dan mencegah kerusakan selanjutnya akibat OA. Sebaliknya inaktivitas dan imobilisasi walau untuk periode pendek akan memperburuk atau mempercepat berkembangnya OA.5 Latihan fisik dan penguatan quadriseps akan meningkatkan fungsi fisik dan mengurangi kecacatan, rasa sakit, pemakaian analgesik. Latihan fisik harus diajarkan kepada pasien sebelum pasien mempraktekan di rumah. Latihan fisik sebaiknya dilakukan tiga sampai empat kali sehari. Bila terasa sakit, kurangi pengulangan. Rujukan kepada

(31)

terapis fisik atau okupasi sangat dibutuhkan bagi pasien yang sudah cacat fungsi sendinya. Terapis dapat menilai kekuatan otot, stabilitas sendi, dan dapat merekomendasikan latihan fisik dan metoda untuk melindungi sendi yang terkena, dari tekanan berlebihan. Terapis juga dapat memberikan alat bantu seperti tongkat, bebat, dsb yang dipakai saat latihan fisik maupun kegiatan sehari-hari. Latihan Fisik sebagai berikut :

− Latihan Fisik Penyembuhan

− Menjaga sendi bekerja sebaik mungkin

− Latihan Fisik Aerobik: Meningkatkan kekuatan dan kebugaran, dan mengontrol berat badan. Pasien harus belajar melakukan latihan ini secara benar, karena kalau tidak, justru dapat menimbulkan masalah. Contoh latihan fisik:

Latihan untuk menguatkan

o Latihan dengan ban elastik, alat tidak mahal, menambah resistensi o Aktivitas aerobic : Membuat paru dan peredaran darah lebih baik o Aktivitas rentang gerakan : Membuat sendi lentur, lemah gemulai o Latihan kegesitan, ketangkasan : Menjaga kegesitan sehari-hari o Latihan untuk menguatkan leher dan punggung

(32)

b.4) Istirahat dan merawat persendian

Rencana penyembuhan termasuk penjadwalan istirahat. Pasien harus belajar mendeteksi tanda-tanda tubuh, dan tahu kapan harus menghentikan atau memperlambat aktivitas, untuk mencegah rasa sakit karena aktivitas berlebihan. Beberapa pasien merasakan teknik relaksasi, pengurangan stres, dan

biofeedback sangat membantu. Beberapa pasien menggunakan tongkat atau

bidai untuk melindungi persendian dari tekanan. Bidai atau penahan (braces) memberikan dukungan ekstra pada otot yang lemah. Mereka juga menjaga persendian pada posisi yang benar selama tidur maupun beraktivitas. Bidai hanya dipakai untuk masa terbatas sebab otot membutuhkan latihan untuk mencegah kekakuan dan kelemahan

(33)

b.5) Pengendalian Berat Badan

Kelebihan berat badan meningkatkan beban biomekanik pada sendi penyangga berat dan ini adalah prediktor tunggal paling baik dari kebutuhan operasi sendi. Pengurangan berat badan dikaitkan dengan pengurangan simtom dan kecacatan. Walau penurunan hanya 2,5kg dapat menurunkan tekanan biomekanik pada sendi penyangga beban. Walau intervensi diet untuk yang berat badan berlebih masuk akal, tetapi ini membutuhakan motivasi yang kuat dan program penurunan badan yang terstruktur. Diet yang sehat dan olahraga akan sangat membantu.

a.6) Pembedahan

Ada 2 tipe terapi pembedahan : Realignment osteotomi dan replacement joint 1. Realignment osteotomi

Permukaan sendi direposisikan dengan cara memotong tulang dan merubah sudut dari weightbearing. Tujuan : Membuat karilago sendi yang sehat menopang sebagian besar berat tubuh. Dapat pula dikombinasikan dengan ligamen atau meniscus repair.

2. Arthroplasty

Permukaan sendi yang arthritis dipindahkan, dan permukaan sendi yang baru ditanam.Permukaan penunjang biasanya terbuat dari logam yang berada dalam high-density polyethylene.

Macam-macam operasi sendi lutut untuk osteoarthritis : o Partial replacement/unicompartemental

o High tibial osteotmy : orang muda o Patella &condyle resurfacing

o Minimally constrained total replacement : stabilitas sendi dilakukan sebagian oleh ligament asli dan sebagian oelh sendi buatan.

o Cinstrained joint : fixed hinges : dipakai bila ada tulang hilang dan severe instability.

(34)

Indikasi total knee replacement :

 Nyeri

 Deformitas  Instability

 Akibat dari Rheumatoid atau osteoarthritis Kontraindikasi :

 Non fungsi otot ektensor  Neuromuscular dysfunction  Infection

 Neuropathic Joint  Prior Surgical fusion Komplikasi :

• Deep vein thrombosis • Infeksi

• Loosening

• Problem patella ; rekuren sublukssasi/dislokasi, loosening prostetic component, fraktur, catching soft tissue.

• Tibial tray wear • Peroneal palsy

• Fraktur supracondyl femur Keuntungan total knee replacement ;

1. Mengurangi nyeri

2. Meningkatkan mobilitas dan gerakan 3. Koreksi deformitas

(35)

5. Meningkatkan kualitas hidup

DAFTAR PUSTAKA

Altman R.D et al,. 2000. Recommendations for the Medical Management of Osteoarthritis of

the Hip and Knee, American College of Rheumatology vol 43:9.

American Geriatrics Society Panel on Exercise and Osteoarthritis, Exercise Prescription for

Older Adults with Osteoarthritis Pain; The American Geriatrics Society.

Barrack L, Booth E, et all. 2006. OKU : Orthopaedic Knowledge Update 3. Hip and Knee Reconstruction Chapter 16 : Osteoarthritis dan Arthritis Inflamatoric.

Chapman, Michael W et al. 2001. Chapman’s Orthopaedic Surgery 3rd edition. Chapter 107: Osteotomies of The Knee For Osteoarthritis. Lippincott Williams & Wilkins. USA

Fransisca, Frank J et al. 2007. 5-Minutes Orthopaedic Consult 2nd edition. Lippincott Williams

& Wilkins.USA

Hansen K.E; Elliot M.E. 2005. Osteoarthritis, Pharmacotherapy, A Pathophysiological Approach, McGraw-Hill. USA.

Isbagio, Harry. 2000. CDK: Struktur Rawan Sendi dan Perubahannya pada Osteoartritis. Cermin Dunia Kedokteran.

National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases, Handout on Health:

Osteoarthritis, Bethesda MD, July 2002.

Zegaria M.A., 2006. Osteoarthritisin Seniors, Key Elements in Disease Management, US Pharmacist.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

Pelaksanaan evaluasi terhadap hasil Renja Dinas Perikanan dan Peternakan tahun lalu dan pencapaian kinerja Renstra Dinas Perikanan dan Peternakan merupakan

Telah disebutkan oleh beberapa peneliti, bahwasanya virus bovine herpes virus type 1 (BHV-1) sebagai kausa penyakit IBR selalu ditemukan di dalam semen dari hewan yang

Hernia nukleus pulposus adalah keadaan dimana terjadi penonjolan sebagian atau seluruh bagian dari nukleus pulposus atau anulus fibrosus diskus intervertebralis,

Golongan pangkat yang sudah berhak memakai baju sikepan ini adalah para putra dan sentanadalem yang sudah berpangkat Bupati Riya Nginggil dengan gelar Kangjeng Raden

Diameter sel parenkim dari tepi luar batang ke arah dalam bervariasi dengan 121 sel, terlihat bahwa diameter parenkim memiliki variasi yang tinggi dan dapat juga

Syarat pijat keseleo tidak jauh beda dengan pasien patah tulang karena pasien keseleo yang baru saja dialami akan lebih mudah untuk diobati itu disebabkan karena belum terjadi

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan kondisi penggunaan media interaktif di SMA Lampung Tengah mata pelajaran TIK, 2) mengembangkan produk multimedia