1 I.1 Latar Belakang
Taman menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan kebun yang ditanami dengan bunga-bunga, selain itu juga dapat diartikan sebagai tempat yang menyenangkan. Kata ‘taman’ dalam bahasa Inggris mengacu pada kata ‘park’ dan ‘garden’. Definisi ‘park’ menurut Merriam-Webster Dictionary1 adalah suatu area yang berada di dalam kota yang berfungsi sebagai penghias untuk menambah keindahan kota. Kata ‘park’ juga berfungsi untuk sarana rekreasi dan hiburan. Definisi ‘garden’ menurut Merriam-Webster Dictionary adalah suatu area yang digunakan untuk budidaya tumbuhan, buah-buahan, bunga, atau sayuran. Menurut definisi di atas, kata ‘park’ lebih tepat digunakan dalam penelitian ini.
Taman dapat diartikan sebagai suatu ruang terbuka hijau yang di dalamnya terdapat unsur tumbuhan, air, dengan unsur bangunan sebagai unsur pendukung. Unsur-unsur tersebut menciptakan keindahan dan menjadikan taman sebagai tempat yang menyenangkan. Taman dapat difungsikan sebagai tempat hiburan/rekreasi maupun hanya sebagai suatu ruang terbuka untuk memperindah kota.
Taman dapat mencerminkan keadaan masa lalu yang berkaitan dengan konsepsi keselarasan antara lingkungan alam dengan manusia, dan hal inilah yang dikaji dalam bidang keilmuan arkeologi (Aziz, 1994: 26; Widiastuti, 2005: 2).
Keberadaan taman di Nusantara dapat dilacak sejak masa Hindu-Buddha2. Informasi mengenai adanya taman pada masa tersebut didapatkan dari relief dan data tertulis, seperti prasasti dan naskah kasusasteraan.
Informasi dari prasasti, contohnya adalah Prasasti Bandar Batu Bapahat yang menyebutkan keberadaan sebuah taman yang dibangun oleh Raja Adityawarman 1345-135 M di dekat Suruaso (Casparis, 1990: 40-49; Widiastuti, 2005:3). Prasasti Talang Tuwo 684 M menyebutkan keberadaan taman pada masa Kerajaan Sriwijaya, Taman Sri Ksetra dibangun oleh Raja Jayanasa (Kartakusuma, 1992: 186; Widiastuti, 2005: 3).
Unsur taman pada masa Hindu-Buddha juga dapat diketahui dari beberapa naskah kesusasteraan seperti Kidung Sudhamala, Kitab Sri Tanjung, Kakawin Sotasoma, dan Naskah Nagarakertagama. Kidung Sudhamala3 menyebutkan unsur-unsur taman berupa tumbuhan, kolam, serta bangunan yang mengelilingi kolam. Kitab Sri Tanjung4 menyebutkan unsur taman yaitu tumbuhan, air, binatang, dan paviliun. Kakawin Sotasoma5 menyebutkan unsur taman yaitu tumbuhan, danau, gapura, dan paviliun. Naskah Nagarakertagama6 menyebutkan unsur taman yaitu tumbuhan, tempat pemandian, dan bangunan.
Sebagaimana unsur dari taman-taman tersebut maka fungsi taman yang disebutkan dalam Kidung Sudhamala adalah untuk bersenang-senang dan untuk kegiatan keagamaan (bersemedi/bertapa). Fungsi taman dalam Kitab Sri Tanjung disebutkan sebagai tempat pertapaan dan bersenang-senang. Fungsi taman dalam Kakawin Sotasoma adalah sebagai tempat untuk bertemu dengan tamu kerajaan,
sedangkan fungsi taman dari Naskah Nagarakertagama ini adalah sebagai tempat untuk beristirahat dan bersenang-senang (Widiastuti, 2005:23-32).
Memasuki masa Islam7 atau ketika Islam mempengaruhi kehidupan di Nusantara ini, peninggalan taman di Nusantara pada masa Islam dapat diketahui dari naskah kuno maupun tinggalan arkeologis yang masih ada seperti Taman Tasikardi, Taman Sunyaragi, dan Taman Sari.
Dua naskah kuno seperti, Babad Momana dan Babad Tanah Jawi menjelaskan keberadaan taman-taman pada masa Islam. Babad Tanah Jawi menjelaskan tentang pembuatan salah satu komponen dari taman yaitu segaran yang dibuat di sebelah barat daya Keraton Kartasura. Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa Susuhunan Mangkurat II memerintahkan untuk membuat segaran di barat daya keraton yang dikerjakan secara gotong-royong oleh penduduk Kartasura wilayah pesisir dan mancanegara. Segaran tersebut setelah selesai diisi oleh beberapa ekor buaya, sedangkan Babad Momana menyebutkan bahwa pada tahun 1666 Jimakir (1742 TU) pembuatan segaran di Kartasura selesai (Adrisijanti, 2000: 98). Taman Tasikardi di Banten adalah taman yang berada di sekitar danau Tasikardi terletak sekitar 1,5 km di barat daya Keraton Surosowan (Djajadiningrat, 1983: 56; Adrisijanti, 2000: 131-132). Danau tersebut terletak di selatan jambangan yang sering dikunjungi Ibunda Sultan Abumufakir.
Taman Sunyaragi dibangun oleh Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1651-1672 M. Unsur yang ada pada taman berupa kolam pemandian, pesanggrahan, danau, dan jembatan. Taman Sunyaragi di Cirebon yang sering disebut Gua Sunyaragi, terletak di Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Cirebon Selatan. Kira-kira letaknya
sekitar 3 km di sebelah barat daya Keraton Kasepuhan. Taman Sunyaragi berupa sebuah kompleks yang terdiri atas gunung-gunung buatan yang ditutup dengan batu karang dibagian luarnya, kolam buatan dengan saluran-saluran airnya, pulau-pulau buatan, gapura, bangsal dan anjungan (Adrisijanti, 2000: 122 -123). Taman Sari di Yogyakarta yang berfungsi sebagai pesanggrahan dan pertahanan. Taman ini dibangun atas perintah Sultan Hamengku Buwana I. Pada masa-masa Kerajaan Mataram Islam, kebiasaan membangun taman sebagai pelengkap keraton sangat melekat pada raja-rajanya dan sudah menjadi tradisi (Adrisijanti, 2000: 168-169).
Di Keraton Kasunanan Surakarta sendiri terdapat taman yang berfungsi sebagai tempat meditasi. Taman tersebut adalah Argapura yang dibangun tahun 1911 dengan bentuk seperti bukit yang ditengahnya terdapat bangunan bernama Ngendrayana (Setiawan, 2000: 251-255).
Taman sering disebut juga dengan pesanggrahan. Pesanggrahan berasal dari bahasa Jawa yaitu dari kata ‘sanggrah’ yang berarti tempat tinggal (untuk singgah sementara waktu). Darmodipuro (1993) mengatakan bahwa pesanggrahan merupakan rumah untuk menginap para bangsawan yang sedang menjalankan tugas memeriksa keadaan di luar keraton. Pesanggrahan juga dapat berarti tempat untuk beristirahat dan bersenang-senang bagi raja beserta keluarga (Darmodipuro, 1993: 9-12; Rochimah, 2013: 2). Pesanggrahan ini bersifat pribadi dikarenakan hanya untuk raja dan keluarganya. Pesanggrahan juga dapat dikatakan bentuk lain dari taman. Keraton Kasunanan pada masa PB VII, memiliki pesanggrahan di Klaten yaitu pesanggrahan Tegalgondo. Pada masa PB IX terdapat pesanggrahan Langgenharjo, dan pesanggrahan mulai banyak didirikan pada masa PB X yaitu
pesanggrahan Purwodadi di Laweyan (Solo), pesanggrahan Paras/ Pracimoharjo di Boyolali, pesanggrahan Ngeksipurna (Pengging) di Boyolali.
Memasuki masa selanjutnya, masa Kolonial yaitu sejak kehadiran bangsa Eropa sampai dengan berakhirnya pendudukan Jepang di Indonesia, taman menjadi unsur yang keberadaannya menjadi perhatian pemerintah Kolonial. Hal ini dikarenakan pemerintah Kolonial Hindia-Belanda memberikan perhatian terhadap pranata pembangunan kota terutama pada masalah kesehatan, lingkungan, estetika, keamanan serta taman sebagai bagian dari keberadaan kota (Wiryomartono, 1995: 19-20). Apabila pada masa sebelumnya taman lebih dikenal sebagai taman kerajaan, maka pada masa Kolonial ini taman berkembang dan lebih dikenal sebagai taman kota untuk masyarakat.
Beberapa peninggalan taman masa Kolonial ada di beberapa kota di Indonesia seperti, Surabaya, Malang, dan Bandung. Beberapa taman yang ada di Surabaya sampai tahun 1900-an antara lain: (1) Kroesen Park, taman ini didirikan kurang lebih tahun 1890-an. Taman Kroesen Park ini terletak di depan rumah dinas Residen Surabaya (sekarang gedung Grahadi Jl. Pemuda Surabaya); (2) Scheepmakers Park, taman ini dulunya bernama Taman Embong Macan dan sekarang bernama Taman AIS. Suryani Nasution. Taman ini dibangun kurang lebih tahun 1901. Taman ini dibangun untuk menghidupkan suasana perumahan di Palmenlaan (sekarang Jl. Panglima Sudirman); (3) Willemsplein, taman ini sekarang bernama Taman Jayengrono. Taman ini terletak di dekat kantor Residen Surabaya; (4) Simpangsche Tuin, taman ini terkenal dengan nama Taman
Simpang yang didirikan pada tahun 1860; (4) Stadstuin, taman ini merupakan taman kota dengan halaman yang cukup luas (Handinoto, 1996: 81-86).
Beberapa taman di Kota Malang pada masa Kolonial antara lain: Taman Gajayana, Taman Slamet, Taman Merbabu, dan yang paling besar Smeroe Park dengan latar belakang pemandangan alam Gunung Kawi (Kurniawan, 2006: 103). Beberapa taman di Kota Bandung tahun 1885-1930 antara lain: (1) Pieter Sijthoff Park (nama sekarang Taman Merdeka), taman ini terletak di pusat kota dan dibuat pada tahun 1885; (2) Insulinde Park (nama sekarang Taman Lalu-Lintas), taman ini terletak di lingkungan kantor militer dan sekolah. Taman Insulinde Park ini dibuat tahun 1925; (3) Molukken Park (nama sekarang Taman Maluku), taman ini berada di kawasan yang dikelilingi oleh lapangan olahraga dan permukiman milik Belanda. Taman Molukken Park ini dibuat tahun 1919; (4) Jubileum Park (nama sekarang Tamansari). Taman ini dibuat tahun 1923. Taman Jubileum Park ini merupakan kebun botani yang pada tahun 1933 di bagian selatan taman berubah fungsi menjadi kebun binatang; 5) Ijzerman Park (nama sekarang Taman Ganesha). Taman ini berdekatan dengan permukiman Belanda dan dibuat tahun 1919 (Prayudi, 2010: 7).
Arsitektur pertamanan (lanskap) dan perencanaan kota di Indonesia yang otentik dapat dilihat di Surakarta (Solo), Yogyakarta, dan Kota Gede. Ketiga kota ini merupakan bekas dari Keraton Mataram Islam sehingga memiliki struktur kota yang sama. Kota-kota tersebut merupakan aset bangsa sebagai salah satu dan awal mulanya penelitian arsitektur kota, perencanaan kota dan sejarah taman kota di
Indonesia baik perencanaannya (planning) maupun perancangannya (design) (Basuki,1996: 160; Setiawan, 2000: 2).
Kota Surakarta sejak tahun 1870 sampai kedatangan Jepang 1942 berkembang dengan dihuni oleh berbagai etnik dan bergaya hidup Indis. Pada masa ini Kota Surakarta memiliki tiga pemerintahan yaitu Kasunanan, Mangkunegaran, dan pemerintahan Kolonial. Sebagian besar wilayah kekuasaan Kasunanan terletak di sebelah selatan kota yang biasa disebut dengan ‘kidulan’ (kidul=selatan). Pemerintahan Kasunanan ini memiliki wilayah kekuasaan paling luas di antara dua pemerintahan yang lain di Surakarta. Pemerintahan Mangkunegaran terletak di sebelah utara Keraton Kasunanan, oleh karena itu disebut dengan ‘loran’ (lor=utara). Wilayah kekuasaan Mangkunegaran hanya seperlima dari Kota Surakarta di mana Jalan Slamet Riyadi sekarang merupakan batas kedua wilayah kekuasaan tersebut. Pemerintah Kolonial mencakup wilayah kekuasaan terkecil yaitu hanya berlokasi di sekitar Benteng Vastenburg (Savitri, 2015: 148-149).
Taman di Kota Surakarta dibagi menjadi dua, yaitu taman kerajaan dan taman kota. Taman kerajaan merupakan taman yang berada di dalam istana maupun taman dalam bentuk pesanggrahan yang berada di luar istana. Taman kota merupakan taman yang dibangun sebagai tempat untuk hiburan masyarakat maupun hanya sebagai ruang terbuka untuk memperindah kota. Kedua jenis taman tersebut merupakan elemen pembentuk keindahan kota.
Beberapa taman di Kota Surakarta awal abad ke-20 adalah Taman Sriwedari, Taman Balekambang, Villapark, Taman Tirtonadi/Taman Partimah dan
Taman Satwa Jurug. Taman Tirtonadi/Taman Partimah sekarang telah beralih fungsi menjadi Terminal Tirtonadi, sedangkan Taman Satwa Jurug merupakan taman yang dibangun pada masa PB X (1839-1939). Taman Satwa Jurug telah mengalami perubahan bentuk saat ini karena renovasi total yang dilakukan oleh PT. Bengawan Permai pada tahun 1975. Renovasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke taman ini (Nugraha, 2013: 39). Pada perkembangannya PT. Bengawan Permai tidak mampu lagi mengelola satwa titipan dari Taman Sriwedari hingga akhirnya tahun 1986 pengelolaannya diserahkan kembali kepada pemerintah Kota Surakarta.
Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark masih dapat dilihat keberadaanya dan oleh karena itu menjadi objek penelitian dalam skripsi ini. Taman Sriwedari atau Kebon Rojo (kebun milik Raja) terletak di bagian selatan Kota Surakarta, Taman Balekambang terletak di bagian utara Kota Surakarta dan Villapark terletak di barat laut Kota Surakarta. Saat ini baik Taman Sriwedari, Taman Balekambang maupun Villapark sudah mengalami revitalisasi pada beberapa unsur bangunannya. Taman Sriwedari dan Taman Balekambang hingga saat ini masih tetap menjadi tempat hiburan bagi masyarakat Surakarta.
Secara lanskap, taman-taman tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda meskipun dibangun pada masa yang sama. Taman-taman di Surakarta pada awal abad ke-20 ini menarik untuk diteliti karena merupakan salah satu elemen fisik kota yaitu bagian dari kota secara fisik yang dibutuhkan Kota Surakarta pada masa Kolonial. Elemen perkembangan pembangunan kota dapat
memberikan penjelasan mengenai fungsi dan latar belakang pembangunan dari masing-masing taman.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, permasalahan yang menarik untuk dikaji adalah
1. Apa fungsi dan latar belakang pembangunan Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark di Kota Surakarta awal abad ke-20 ?
2. Bagaimana peran ketiga taman tersebut terhadap perkembangan Kota Surakarta pada masa Kolonial ?
I.3 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada aspek ruang/wilayah dan aspek waktu yang disesuaikan dengan konteks bahasan penelitian. Batasan ruang/wilayah dan waktu pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Wilayah
Wilayah penelitian adalah Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark meliputi unsur-unsur yang terdapat pada masing-masing taman, baik itu unsur air, unsur tumbuhan, unsur binatang, maupun unsur bangunan.
2. Waktu
Batasan waktu penelitian di sini adalah awal abad ke-20, ketika Surakarta dikuasai oleh tiga pemerintahan/penguasa yang sedang berkuasa saat itu, penguasa Kasunanan, penguasa Mangkunegaran, dan pemerintahan Belanda. PB
X berkuasa tahun dari 1893 sampai 1939. Selama masa pemerintahan PB X, Keraton Kasunanan menuju ke arah kejayaan dan keemasan. Pembaharuan banyak dilakukan baik dalam pembangunan kompleks keraton maupun prasarana dan sarana kota.
Surakarta selain dibawah kekuasaan Kasunanan juga di bawah kekuasaan Mangkunegaran yang pada saat itu dipimpin oleh Mangkunegara ke-VII (1916-1944). Pada saat dipimpin oleh Mangkunegara ke-VII industri Mangkunegaran berkembang cukup pesat, pemerintahan Belanda memiliki wewenang mengontrol kekuasaan Sunan, sehingga berpengaruh juga terhadap perkembangan pembangunan Kota Surakarta. Alasan lain peneliti memilih awal abad ke-20 adalah karena pada masa tersebut Kota Surakarta sedang mengalami perkembangan pembangunan prasarana dan sarana kota, tak terkecuali dengan pembangunan ketiga taman sebagai wujud dari perkembangan tersebut.
I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang diajukan maka tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat mengetahui fungsi dan latar belakang pembangunan Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark. Tujuan selanjutnya untuk mengetahui peran Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark terhadap perkembangan Kota Surakarta awal abad ke-20. Fungsi yang dimaksudkan pada penelitian ini merupakan kegunaan masing-masing taman, sedangkan peran yang dimaksud adalah manfaat yang diharapkan dari adanya taman-taman yang berkedudukan sebagai elemen fisik bagi Kota Surakarta. Pada akhirnya penelitian
ini diharapkan bermanfaat bagi perkembangan ilmu khususnya perkembangan kota.
I.5 Tinjauan Pustaka
Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark sebelumnya pernah diteliti oleh beberapa peneliti. Hasil penelitian-penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai bukti pentingnya ketiga taman tersebut di Kota Surakarta. Beberapa penelitian mengenai Taman Sriwedari dan Taman Balekambang yang berkaitan dengan konservasi dan revitalisasi, dilakukan dalam bidang keilmuan arsitektur oleh Putranto (2007), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan judul skripsi “Revitalisasi Taman Balekambang Surakarta sebagai Kawasan Pagelaran Seni Pertunjukan”. Hasil penelitian ini berupa rekomendasi untuk Taman Balekambang sebagai Kawasan Pagelaran Seni Pertunjukan. Laporan tugas akhir Yulianto (2007), Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret dengan judul “Pengembangan Taman Sriwedari sebagai Wisata Budaya di Solo”. Tugas akhir Arifianto (2014), Universitas Diponegoro Semarang dengan judul “Redesain Taman Sriwedari sebagai Pusat Konvensi dan Pameran di Kota Surakarta”. Penelitian dari bidang keilmuan teknik arsitektur oleh Sakti (2009), Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan judul “Taman Sriwedari sebagai Green Heritage Plaza”. Hasil penelitian-penelitian tersebut berupa rekomendasi pengembangan Taman Sriwedari maupun Taman Balekambang saat ini dan dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan bagi penulis untuk mengetahui potensi lebih lanjut dari taman-taman tersebut.
Prayudi (2010), Universitas Gadjah Mada dalam skripsinya yang berjudul “Fungsi dan Latar Belakang Penempatan Taman Kolonial di Kota Bandung Tahun 1885-1940” membahas mengenai taman-taman kolonial yang ada di Kota Bandung. Prayudi (2010) mendiskripsikan berbagai tipe-tipe taman pada masa Kolonial yang dikenal oleh masyarakat di Hindia Belanda. Taman-taman tersebut biasanya terletak dalam suatu kawasan kota tempat masyarakat Eropa bermukim. Skripsi mengenai taman kolonial ini dapat dijadikan data pembanding dan penunjang sebagai informasi mengenai konsep dan fungsi taman pada masa Kolonial dengan kawasan Villapark, Surakarta.
Skripsi berkaitan dengan Villapark ditulis dengan pendekatan sejarah oleh Asih (2009), mahasiswa Universitas Sebelas Maret. Skripsinya yang berjudul “Karya Arsitektur Thomas Karsten di Surakarta 1917-1942 ini, membahas peranan Thomas Karsten di Surakarta serta karya-karyanya di Surakarta. Skripsi tersebut mendeskripsikan kawasan Villapark, Banjarsari Surakarta sebagai salah satu karya Thomas Karsten. Skripsi ini dapat digunakan untuk menunjang penelitian mengenai kawasan Villapark, Banjarsari Surakarta sebagaimana yang juga dibahas dalam penelitian ini.
I.6 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan penalaran induktif. Pendekatan kualitatif yaitu berusaha memahami suatu fakta dari perolehan gambaran data arkeologi berupa Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark melalui konteks yang diteliti lewat observasi atau pengamatan keadaan sekarang untuk memahami aspek kehidupan masa lalu ditunjang dengan data
sekunder berdasarkan latar belakang waktu, lanskap dan konteks sosial budaya terbatas pada waktu tertentu di masa lalu (batasan waktu). Penalaran induktif merupakan suatu cara penelitian yang bermula dari tahap berdasarkan pengamatan fakta-fakta atau gejala-gejala yang bersifat khusus sampai dengan tahap penyimpulan untuk mendapatkan pemecahan masalah yang bersifat umum (Sukendar, 1999: 20).
Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.6.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan berbagai informasi yang dapat dikaitkan dengan Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark. Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data pokok dan data penunjang. Data pokok merupakan data langsung maupun tidak langsung namun dijadikan bahan utama dalam penelitian ini. Data pokok dalam penelitian ini diperoleh dengan observasi yaitu pengamatan langsung tinggalan arkeologi (Pusat Penelitian dan Perkembangan Arkeologi Nasional, 2008: 22).
Tinggalan arkeologis yang diamati secara langsung dalam penelitian ini adalah Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark. Pengamatan secara langsung di ketiga taman tersebut untuk memperoleh data arkeologi dalam konteksnya yang berhubungan dengan fungsi dan keletakan atau lokasi. Selain mengamati langsung ketiga taman, pengamatan dilakukan juga terhadap bangunan sekitar taman yang sejaman dan memiliki hubungan atau berkaitan dengan taman secara langsung. Objek penelitian didokumentasikan menggunakan alat perekam
visual. Data pokok lain, selain diperoleh dengan observasi juga diperoleh dengan mengamati peta kuno, gambar atau foto taman masa sekarang maupun dulu.
Data penunjang dalam penelitian ini diperoleh melalui studi pustaka baik itu dari arsip, literatur, artikel, jurnal, naskah, buku, maupun laporan yang berkaitan dengan Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark dalam tata ruang Kota Surakarta baik pada konteks masa lalu maupun saat ini. Data penunjang ini digunakan untuk memperkuat data pokok dalam proses analisis. 1.6.2 Pengolahan Data
Tahap kedua adalah pengolahan data. Tahap ini dilakukan dengan mendeskripsikan data pokok dan data penunjang yang telah terkumpul ke dalam bentuk tulisan. Pada tahap ini penulis mendeskripsikan sejarah umum Kota Surakarta, gambaran umum Taman Sriwedari, Taman Balekambang, dan Villapark.
1.6.3 Tahap Analisis Data
Pada tahap ketiga ini adalah tahap data yang telah dideskripsikan pada tahap sebelumnya kemudian dianalisis. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis kontekstual dan analisis deskriptif-historis. Analisis kontekstual ini berguna untuk menentukan fungsi pembangunan taman-taman di Surakarta awal abad ke-20, melalui konteks lokasi dan bangunan di sekitar taman yang semasa.
Analisis deskriptif-historis yaitu prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data masa lalu atau data historis berupa semua data tertulis yang berkaitan dengan ketiga taman sebagai data penunjang. Data penunjang tersebut
digunakan untuk memahami kejadian atau suatu keadaan yang berlangsung pada masa lalu terlepas dari keadaan masa sekarang dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan taman sebagai objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Analisis ini tidak hanya untuk mengungkapkan dari sudut kepentingan kesejarahannya saja, akan tetapi untuk memahami berbagai aspek kehidupan masa lalu pada batas waktu tertentu yaitu awal abad ke-20.
1.6.4 Sintesis
Tahap sintesis ini merupakan tahap menggabungkan hasil analisis yang telah dilakukan serta melakukan interpretasi dengan menggunakan konsep dan teori yang berkaitan dengan topik penelitian seperti mengenai taman maupun kota. Hasil interpretasi tersebut merupakan jawaban dari rumusan masalah penelitian yang diajukan. Oleh karena itu hasil dari sintesis adalah peran taman terhadap perkembangan Kota Surakarta awal abad ke-20.
1.6.5 Kesimpulan
Penelitian ini akan ditutup dengan penarikan kesimpulan. Kesimpulan merupakan tahapan terakhir yang dilakukan dengan menyimpulkan hal-hal yang telah dibahas pada tahap sebelumnya. Kesimpulan pada penelitian ini adalah fungsi Taman Sriwedari dan Taman Balekambang sebagai taman hiburan untuk masyarakat, sedangkan Villapark berfungsi sebagai kota taman. Latar belakang pembangunan ketiga taman tersebut dipengaruhi oleh faktor sosial-ekonomi dan politik. Peran taman terhadap perkembangan Kota Surakarta awal abad ke-20
adalah sebagai elemen pembentuk keindahan, sebagai hutan kota, dan sebagai pelengkap kebutuhan masyarakat akan sarana hiburan.
BAGAN ALIR PENELITIAN Perumusan Masalah
Pengumpulan Data Data Pokok
Data Historis antara lain: arsip, literatur, naskah, artikel,
jurnal, buku, maupun laporan yang berkaitan dengan Taman
Sriwedari, Balekambang, dan Villapark.
Peta dan foto masa lalu maupun saat ini yang berkaitan dengan ketiga
taman.
Analisis Kontekstual Analisis masing-masing taman,
berkaitan dengan lokasi dan bangunan di sekitarnya yang
semasa.
Data Penunjang
Analisis Deskriptif-Historis
Sintesis dan Interpretasi: Fungsi, latar belakang, dan peran taman terhadap
perkembangan Kota Surakarta awal abad
ke-20.
Kesimpulan Observasi
Studi Pustaka
Objek Penelitian: Taman Sriwedari, Taman Balekambang dan Villapark.
CATATAN BAB I
1
Dikutip dari www.merriam-webster.com/dictionary. 2
Masa Hindu-Buddha/klasik merupakan suatu peradaban yang sudah mulai dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha dari India.
3
Kidung Sudhamala merupakan salah satu naskah kesusasteraan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur yang tidak berangka tahun. Kidung Sudhamala mengisahkan cerita tentang Dewi Uma yang dikutuk oleh Batara Guru, akibat berkhianat terhadap suaminya.
4
Kitab Sri Tanjung merupakan salah satu naskah kasusasteraan periode Hindu-Buddha yang merupakan kelanjutan dari Kidung Sudhamala. Kitab ini menceritakan kisah tentang pasangan Sidapaksa dan Sri Tanjung.
5
Kakawin Sutasoma merupakan salah satu naskah kasusasteraan karya Empu Tantular pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389 M).
6
Naskah Negarakertagama merupakan salah satu naskah kesusasteraan hasil karangan Empu Prapanca pada tahun 1287 Saka/1365 M. Naskah ini mengisahkan tentang Raja Hayam Wuruk sebagai penguasa Majapahit.
7
Pengaruh Islam di Nusantara dimulai sekitar abad ke-13 yang kini melahirkan populasi masyarakat Islam besar di Indonesia, dengan mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Ketika komunitas muslim datang, Nusantara sudah tumbuh permukiman sekelas kota. Dengan begitu permukiman masa Islam memperlihatkan perkembangan yang pesat dengan perkembangan kota dilengkapi dengan infrastruktur yang lebih maju (Pusat Penelitian dan Perkembangan Arkeologi Nasional, 2010: 129-134).