123
LITERATUR REVIEW
STUDY LITERATUR:
PENGKAJIAN LUKA KAKI DIABETES
ABSTRACT
Nurawaliah Rasyid
1, Saldy Yusuf
2, Takdir Tahir
21 Mahasiswa Magister Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin Makassar
2 Dosen Program Magister Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin Makassar
How to cite:
Rasyid Nurawaliah, Yusuf saldy, Tahir Takdir. Study Literatur Pengkajian Luka Kaki Diabetes. Jurnal Luka Indonesia. 2018, 4(2): 123-137 Nothing Nothing Conflict of interest: Funding resources: [email protected] Corresponding authors: Note: Background:
Diabetic foot ulcer (DFU) is one of the complications caused by Diabetes Mellitus disease. The healing process will be complicated if care management is not done well. One of them is to conduct assessment or standardized assessment in the management of DFU. Several assessment of DFU were done using a classification system and wound assessment instruments. The purpose of this literature study is to identify an instrument that can be used in assessing DFU.
Methods:
The data base used in this literature review is Pubmed, Science Direct, Google Scholar and Cochrane.
Results:
There are 47 articles identified and published from 2010-2018. There are 7 articles from 47 articles that meet the inclusion criteria. Some of the results showed DFU assessment either by using a classification system or by using the DFU assessment instrument.
Conclusions:
Several wound assessments have been made to assist nurses in monitoring the status and healing progress of diabetic foot ulcer. Nurse can use a classification system to see the severity of the wound as well as the assessment instrument to predict wound healing.
Keywords: diabetic foot ulcer, assessment, wound healing p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
124 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit yang memiliki angka prevalensi yang cukup tinggi. Salah satu komplikasi dari DM adalah luka kaki diabetes (International Diabetes Federation, 2017). Prevalensi kaki diabetes bervariasi antara 3 % di Oceania sampai 13 % di Amerika Utara dengan prevalensi di tingkat global rata-rata 6,4 % (Zhang et al., 2017). Demikian pula negara di Asia seperti India, diperkirakan terdapat 42 juta orang menderita DM dan sekitar 15 % disertai dengan komplikasi luka kaki (Ramachandran et al., 2016). Di Indonesia Timur, prevalensi luka kaki diabetes sekitar 12 % dan prevalensi risiko luka kaki diabetes sekitar 55.4 % (Yusuf et al., 2016). Dengan demikian, DM dengan komplikasi luka kaki diabetes membutuhkan manajemen perawatan yang baik.
Luka kaki diabetes bisa menjadi rumit dan membutuhkan waktu penyembuhan yang lama jika tidak dilakukan perawatan yang baik. Manajemen perawatan kaki diabetes yang berfokus pada vaskular, mikrobiologi/ infeksi, mekanik, edukasi dan perawatan luka (Turns, 2011). Selain itu salah satu manajemen perawatan luka kaki diabetes adalah penilaian atau pengkajian terstandar dan pengelolaan luka kaki diabetes (Roberts & Newton, 2015). Dalam praktek klinis, karakteristik luka dapat dinilai dengan menggunakan sistem klasifikasi yang digunakan dalam mengkaji luka(Lavery, Armstrong, & Harkless, 1996; Oyibo, S et al., 2001; Wagner, 1981). Namun sistem klasifikasi ini hanya dapat digunakan untuk evaluasi dan penentuan tingkat keparahan luka tetapi tidak dapat memprediksi waktu penyembuhan luka (Zubair, Malik, & Ahmad, 2015).
Selain sistem klasifikasi, penilaian terhadap luka kaki diabetes dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen pengkajian luka untuk prediksi penyembuhan luka seperti Bates-Jansen Wound Assessment Tool (BWAT)(Harris, Nancy, Rose, Mina, & Ketchen, 2010) dan The New Diabetic Foot Ulcer Assessment Scale (DFUAS) (Arisandi et al., 2016). Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengidentifikasi pengkajian yang dapat digunakan dalam menilai luka kaki diabetes (Karthikesalingam et al., 2010)
Studi literatur ini melalui penelusuran hasil publikasi ilmiah dengan rentang tahun 2010-2018 dengan menggunakan database Pubmed, Science Direct, Google Scholar dan Cochrane berdasarkan teknik pencariaan PICOT . Dalam studi literatur ini, kata kunci PICOT yang digunakan adalah P (diabetic foot ulcer “OR” diabetic wound), I (assessment), C (valid “OR” reliable), O (healing) dan T (-). Selain itu, penyusunan studi literatur ini menggunakan check list Prisma.
Untuk data base Pubmed menggunakan keyword diabetic foot ulcer “OR” diabetic wound “AND” assessment “AND” valid “OR” reliable “AND” healing. Untuk data base Science Direct dengan menggunakan keyword diabetic foot ulcer “OR” diabetic wound “AND” assessment “AND” valid “OR” reliable “AND” healing. Untuk data base Cochrane dengan menggunakan keyword diabetic foot ulcer “OR” diabetic wound “AND” assessment “AND” valid “OR” reliable “AND” healing. Untuk data base Google Scholar dengan menggunakan keyword diabetic foot ulcer “OR” diabetic wound “AND”
LATAR BELAKANG
METODE
PENELITIAN
125 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
assessment “AND” valid “OR” reliable “AND” healing. Pada pencarian Google Scholar dilakukan skrining tahun (2010-2018) dan menggunakan frase “diabetic foot ulcer assessment”.
Berdasarkan hasil pencarian literatur dari 48 artikel yag didapatkan, terdapat 7 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian-penelitian tersebut mengidentifikasi penilaian dan pengkajian luka kaki diabetes. Pengkajian luka kaki diabetes dapat dilakukan dengan menggunakan sistem klasifikasi. Menurut Karthikesalingam et al (2010) terdapat beberapa sistem klasifikasi untuk menilai luka kaki diabetes dan telah di uji validitasnya antara lain University of Texas (UT), SAD score, Perfusion, Extent, Depth, Infection and Sensation (PEDIS), Depth, Extent of bacterial colonization, Phase of healing and Associated aetiology (DEPA), Diabetic Ulcer Severity Score (DUSS) , MAID dan Site, Ischemia, Neuropathy, Bacterial, Infection, and Depth (SINBAD).
Pada penelitian Chuan et al (2015) dijelaskan bahwa sistem klasifikasi PEDIS juga dapat digunakan untuk mengkaji luka kaki diabetes. Penelitian ini membandingkan sistem klasifikasi PEDIS dengan Wagner dan SINBAD. Untuk validitas klasifikasi PEDIS, ROC pada AUC sebesar 0.95 dengan sensitivitas 93 % dan spesifitas 82 %. Sebagai perbandingan, kurva ROC pada skoring SINBAD dan Wagner memiliki AUC masing-masing 0.88 dan 0.86 dengan sensitivitas masing-masing 90.5 dan 88.5 serta spesifitas masing-masing 73 % dan 80 %. Demikian pula dengan penelitian Forsythe et al (2016) yang mengevaluasi reliabilitas intraobserver 3 sistem klasifikasi luka kaki diabetik yaitu PEDIS, SINBAD dan UT. Reliabilitas single observer sedikit sampai sedang untuk semua sistem penilaian (UT 0.53; SINBAD 0.44; PEDIS 0.23-0.42), namun reliabilitas intraobserver hampir sempurna (UT 0.94; SINBAD 0.91; PEDIS 0.80-0.90). Agreement untuk pengamat saat mengkaji infeksi (SINBAD 0.28; PEDIS 0.28), iskemia (SINBAD 0.26; PEDIS 0.23), atau keduanya (UT 0.25); Namun, hasil yang baik untuk agreement multi observer (infeksi: 0.83; iskemia: 0.80-0.82; keduanya: 0.81). Sistem klasifikasi ini dapat digunakan oleh beberapa pengamat, misalnya, saat melakukan penelitian dan pemeriksaan. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah pengambilan data hanya dilakukan di satu rumah sakit saja sehingga tidak bisa di generalisasikan dengan rumah sakit yang lain atau pada setting yang berbeda.
Selain menggunakan sistem klasifikasi, luka kaki diabetes dapat dikaji dengan pengkajian BWAT. Penelitian yang dilakukan oleh Harris et al (2010) untuk menilai validitas pengkajian BWAT dengan menggunakan foto atau gambar. Hal ini membantu perawat dalam meningkatkan pendidikan untuk pengkajian luka dengan menggunakan media visual sebagai bahan atau sumber praktik. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap yaitu Tahap 1 : dilakukan pemilihan foto luka dengan kualitas dan resolusi tinggi dan akan divalidasi oleh peneliti, Tahap 2 : latihan validasi dengan tatap muka langsung dan Tahap 3 : dengan menggunakan survei elektronik melihat validasi secara online. Sebanyak 214 foto yang dievaluasi pada penelitian ini. 73 % (n=55) foto dapat divalidasi pada tahap 2 dan 100 % (n=53) dapat divalidasi pada tahap 3. Namun keterbatasan dalam penelitian ini, meskipun peserta penelitian memiliki pengalaman dalam merawat luka namun mereka belum
HASIL PENELITIAN
126 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
berpengalaman menggunakan pengkajian BWAT sehingga membatasi kemampuan mereka dalam membaca foto luka. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Karahan, Kilicarslan, Aysun, Aysel, & Agah (2014) untuk mengevaluasi validitas isi dan validitas konstruk pengkajian luka BWAT versi Bahasa Turki. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil content validity agreement 0.82, reliabilitas interrater dari instrumen 0.82, konsistensi internal dihitung dengan nilai cronbach alpha 0.85.
Penelitian tentang pengkajian luka dengan penggunaan foto juga dilakukan oleh Hazenberg, Baal, Manning, Bril, & Bus (2010) dimana penelitian tersebut dilakukan untuk menilai validitas dan reliabilitas pengkajian ulserasi kaki pada daerah plantar dan lesi pra ulserasi dengan menggunakan media foto digital. Pengumpulan data dilakukan pada 32 pasien dengan luka kaki diabetes atau yang berisiko diambil gambar atau foto yang memiliki kualitas tinggi (gambar foto permukaan plantar kaki). Setiap kaki dikaji atau dinilai 2 minggu kemudian dan 4 minggu kemudian untuk melihat kondisi ulkus, adanya kalus serta ada tidaknya tanda. Setiap kaki dinilai oleh empat spesialis perawatan kaki. Ulserasi kaki secara kumulatif dinilai 59 kali, kalus 78 kali, tidak ada tanda ulserasi 149 kali selama pengkajian. Validitas pengkajian dengan foto untuk ulkus K = 0.87, untuk tidak adanya tanda ulkus K = 0.83 serta kalus K = 0.61. Untuk sensitivitas dan spesifitas untuk ulkus masing-masing 88 % dan 98 %, kalus 69 % dan 89 % serta untuk tanpa tanda ulkus masing-masing 90 %. Intraobserver agreement antara pengkajian fotografi berulang sangat bagus untuk hasil dan pengamat (K antara 0.70 dan 1.00). Interobserver agreement untuk pengkajian foto pada ulkus K=0.72-0.88, tanpa tanda ulkus K=0.59-0.75 sedangkan kalus K=0.48-0.73. Untuk pengkajian langsung, nilai interobserver agreement hanya sedikit yang lebih tinggi. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah sampel yang sedikit dimana pasien yang mengalami luka, fisura maupun eritema jumlahnya terbatas. Selain itu penelitian ini terbatas hanya mengkaji daerah plantar pasien sedangkan luka kaki diabetes tidak hanya terjadi didaerah plantar saja tapi juga bisa terjadi didaerah dorsal kaki.
Selain penggunaan pengkajian BWAT, luka kaki diabetes dapat dikaji dengan menggunakan pengkajian DFUAS. Menurut penelitian Arisandi et al (2016) pengkajian DFUAS merupakan pengkajian khusus yang dibuat untuk luka kaki diabetes. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi validitas konkuren, validitas konstruk dan validitas prediktif dari pengkajian luka kaki diabetes DFUAS di Indonesia. Dalam penelitian tersebut untuk uji validitas konkuren dievaluasi korelasi DFUAS dengan pengkajian BWAT dan pengkajian PUSH dan diperoleh hasil masing-masing r = 0.92 dan r = 0.87. Demikian juga dengan uji validitas konstruk dengan membandingkan pengkajian DFUAS dengan status luka kronik dengan tes kruskal wallis dan diperoleh nilai p < 0.001 sedangkan uji validitas prediktif melihat akurasi DFUAS dan diperoleh hasil sensitifitas 89 %, spesifitas 71 %, PPV 86 % dan NPV 77 %. DFUAS : AUC 0.90 (95% CI : 0.81-0.99) BWAT : AUC 0.89 (95 % CI : 0.79-0.99),PUSH : AUC 0.97 (95 % CI ; 0.93-1). Meskipun dalam penelitian ini jumlah sampel sedikit namun pengkajian DFUAS ini dapat digunakan untuk mengkaji luka kaki diabetes.
127 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
Tabel pencarian picot
Kata kunci picot
P U BM ED S ci en ce D ir ec t C oh ran G oogl e S ch ol ar
Diabetic Foot Ulcer “OR” Diabetic Wound “AND” Assessment “AND” Valid “OR” Reliable “AND” Healing
5 10 18 14
128 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
SINTESIS GRID
No Peneliti (tahun) & Judul
Tujuan Desain
Penelitian
Respondent Pengumpulan data Hasil penelitian Potensi
Bias 1 Arisandi et al.,( 2016)., Evaluation of Validity of The New Diabetic Foot Ulcer Assessment Scale in Indonesia Tujuan: untuk mengevaluasi validitas konkuren, validitas konstruk dan validitas prediktif dari
pengkajian luka kaki diabetik di Indonesia.
Kohort Prospektif
Responden sebanyak 62 orang dengan kriteria inklusi usia ≥ 20 tahun dan di diagnosa DM tipe 2 dengan gejala hiperglikemia dan glukosa plasma ≥ 200 mg/dl.
Data demografi dikumpulkan : umur, jenis kelamin, pekerjaan, BMI, lama menderita DM, jenis terapi DM yang diperoleh, neuropati, hipertensi, ABI, TBI, hasil GDS atau HbA1C untuk mengetahui kadar glukosa dalam darah.
karakteristik luka diketahui dengan mengkaji lama menderita luka, status luka (baru atau kambuh), penyebab luka dan lokasi luka. Luka kaki diabetik dikaji dengan menggunakan pengkajian DFUAS, BWAT dan PUSH pada waktu yang bersamaan. Progress luka dikaji dengan DFUAS, BWAT dan PUSH serta foto luka sampai 4 minggu. Luka dikaji tiap minggu sampai sembuh atau drop out.
Untuk uji validitas konkuren dievaluasi korelasi DFUAS dengan pengkajian BWAT dan pengkajian PUSH dan diperoleh hasil masing-masing r = 0,92 dan r = 0,87. Demikian juga dengan uji validitas konstruk dengan
membandingkan pengkajian DFUAS dengan status luka kronik dengan tes kruskal wallis dan diperoleh nilai p < 0,001 sedangkan uji validitas prediktif melihat akurasi DFUAS dan diperoleh hasil sensitifitas 89 %, spesifitas 71 %, PPV 86 % dan NPV 77 %.
DFUAS : AUC 0,90 (95% CI : 0,81-0,99) BWAT : AUC 0,89 (95 % CI : 0,79-0,99) PUSH : AUC 0,97 (95 % CI ; 0,93-1).
129 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
No Peneliti (tahun) & Judul
Tujuan Desain
Penelitian
Respondent Pengumpulan data Hasil penelitian Potensi
Bias 2 Chuan et al., (2015)., Reliability and Validity of the Perfusion, Extent, Depth, Infection and Sensation (PEDIS) Classification System and Score in Patients with Diabetic Foot Ulcer
Untuk menilai validitas dari pengkajian PEDIS dan untuk membuat sistem skoring pengkajian DFU agar memudahkan praktek klinis serta membandingkan PEDIS dengan pengkajian WEGNER dan SINBAD Kohort Retrospek tif
Total pasien yang menjadi responden : 364 pasien dengan DFU dengan kriteria inklusi pasien DM tipe 1 atau 2 yang memiliki 1luka kaki diabetik. Jika luka lebih dari 1 maka diidentifikasi dengan indeks luka. Jika dua atau lebih luka yang terdeteksi maka yang diambil adalaah yaang paaling signifikan.
Data demografi diperoleh melalui wawancara tersturktur dan catatan elektronik pasien seperti umur, jenis kelamin, IMT, riwayat merokok, asupan alkohol, jenis DM, pengobatan daan lama menderita DM serta riwayat luka kaki diabetes. Selain itu
dikumpulkan dataa tentang kadar Hb,albumin serum, GDP, HbA1C, WBC, laju GFR, kolesterol total,TG, LDL-C, HDL-C. Selain itu
dikumpulkan data tentang komplikasi yang berhubungan dengan DM seperti penyakit arteri perifer, retinopati, nefropati, neuropati, hipertensi, penyakit jantung koroner serta stroke.
Selama follow up selama 25 bulan, luka kaki diabetes yang sembuh sebanyak 217 dari 364 pasien (59,6 %), tidak sembuh 10,2 %, amputasi 17 % dan 13,2 % meninggal. Bila diukur dengan klasifikasi PEDIS, hasil DFU memburuk dengan tingkat keparahan meningkat dari tiap sub kategori Untuk validitas klasifikasi PEDIS, ROC pada AUC sebesar 0,95 dengan sensitivitas 93 % dan spesifitas 82 %. Sebagai perbandingan, kurva ROC pada skoring SINBAD dan Wagner memiliki AUC masing-masing 0,88 dan 0,86 dengan sensitivitas masing-masing 90 5 dan 88 5 serta spesifisitas masing-masing 73 % dan 80 %.
130 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
No Peneliti (tahun) & Judul
Tujuan Desain
Penelitian
Respondent Pengumpulan data Hasil penelitian Potensi
Bias 3 Karahan, et al., (2014)., Reliability and Validity of a Turkish Language Version of the Bates-Jensen Wound Assessment Tool Untuk mengevaluasi validitas isi dan validitas konstruk pengkaajian luka BWAT versi Bahasa Turki serta menilai konsistensi internal dan reliabilitas intertater BWAT versi bahasa Turki
Kohort Prospektif
Sampel terdiri dari 70 peraawat dan 20 pasien yang memiliki pressure ulcer stadium II,III dan IV
Data dikumpulkan antara bulan Januari dan April 2011. Data dikumpulkan dari pasien yang dirawat di 13 unit perawatan intensif yang mencakup pasien dengan pressure ulcer.
Ekslusi : pasien anak, pasien diruang operasi dan pasien rawat jalan.
Content vaalidity agreemnet : 0,82 Reliabilitas interrater dari instrumen 0,82
Konsistensi internal dihitung melalui nilai Cronbach α : 0,85 - 4 Karthikesalinga m et al., (2010)., A systematic review of scoring systems for diabetic foot ulcers
Menilai secara klinis literatur tentang sistem penilaian luka kaki diabetes
Sistemati k review
Database EMBASE dan Medline.
Sistem penilaian luka selain luka kaki diabetik di ekslusi.
Pencarian elektronik tentang sistem penilaian luka kaki diabetik dilakukan dari tahun 1996 sampai 2009. Penelusuran dengan kata ‘diabetes’, ‘foot ulcer’,
‘amputation’, ‘scoring system’ and ‘classification’ and Medical Subject Headings (MeSH)
‘Classification’ [MeSH] and ‘Diabetic Foot’ [MeSH] digunakan dengan bolean AND atau OR.
Dari 197 artikel, terdapat 11 sistem penilaian dan 6 sistem penilaian yang telah di uji validitasnya (UT, S(AD)SAD score, PEDIS,DEPA,DUSS, MAID, SINBAD)
131 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
No Peneliti (tahun) & Judul
Tujuan Desain
Penelitian
Respondent Pengumpulan data Hasil penelitian Potensi
Bias 5 Forsythe et al., (2016)., Interobserver Reliability of Three Validated Scoring Systems in the Assessment of Diabetic Foot Ulcers Untuk mengevaluasi reliabilitas intraobserver dari 3 sistem penilaian DFU (PEDIS, SINBAD dan UT)
Kohort prospektif
12 multidisipliner profesional
kesehatan yang biasa terlibat dalam perawatan DFU seperti ahli bedah vaskuler, ahli diabetes dan podiatrists. Semua anggota tim adalah yang memiliki pengalaman dalam merawat pasien dengan DFU termasuk cara melakukan palpasi kaki. Penilai menerima kuliah pengantar sebelum melakukan penelitian tenang cara menggunakan instrumen.
Pasien di nilai saat melakukan kunjungan klinik, melakukan perawatan medis . data demografi dikumpulkan dan penilaian penelitian dilakukan oleh masing-masing pengamat secara terpisah dan tanpa kolaborasi.
Setiap penilai harus menyelesaikan penilaian dan skor dihitung diakhir penilaian.
Sebanyak 37 pasien (78,4% laki-laki) dinilai oleh kumpulan 12 pengamat. Reliabilitas single observer sedikit sampai sedang untuk semua sistem penilaian (UT 0,53; SINBAD 0,44; PEDIS 0,23-0,42), namun reliabilitas intraobserver hampir sempurna (UT 0,94; SINBAD 0,91;
PEDIS 0,80-0,90).
agreement terburuk untuk pengamat saat mengkaji infeksi (SINBAD 0,28; PEDIS 0,28), iskemia (SINBAD 0,26; PEDIS 0,23), atau keduanya (UT 0,25); Namun, hasil yang baik untuk agreement multi observer (infeksi: 0,83; iskemia: 0,80-0,82; keduanya: 0,81). Sistem klasifikasi ini dapat digunakan secara andal oleh banyak
pengamat, misalnya,
saat melakukan penelitian dan pemeriksaan.
132 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
No Peneliti (tahun) & Judul
Tujuan Desain
Penelitian
Respondent Pengumpulan data Hasil penelitian Potensi
Bias 6 Hazenberg et al., (2010)., The Validity and Reliability of Diagnosing Foot Ulcers and Pre-Ulcerative Lesions in Diabetes Using Advanced Digital Photography Untuk mengetahui validitas dan reliabilitas pengkajian ulserasi plantar dan lesi pra ulseratif pada pasien diabetes dengan menggunakan foto digital Kohort Prospektif Responden dari 32 pasien diabetes yang menderita luka kaki diabetes atau yang berisiko (total ada 60 kaki)
Pengumpulan data : dari 32 pasien dengan luka kaki diabetes atau yang berisiko diambil gambar atau foto yang memiliki kualitas tinggi (gambar foto permukaan plantar kaki). Setiap kaki dikaji atau dinilai 2 minggu kemudian dan 4 minggu kemudian untuk melihat kondisi ulkus, adanya kalus serta ada tidaknya tanda. Setiap kaki dinilai oleh empat spesialis perawatan kaki.
Ulserasi kaki secara kumulatif dinilai 59 kali, kalus 78 kali, tidak ada tanda ulserasi 149 kali selama pengkajian. Validitas pengkajian dengan foto untuk ulkus K = 0,87, untuk tidak adanya tanda ulkus K = 0,83 serta kalus K = 0,61. Untuk sensitivitas dan spesifisitas untuk ulkus masing-masing 88 % dan 98 %, kalus 69 % dan 89 % serta untuk tanpa tanda ulkus masing-masing 90 %. Intraobserver agreement antara pengkajian fotografi berulang sangat bagus untuk hasil dan pengamat (K antara 0,70 dan 1,00). Interobserver agreement untuk pengkajian foto pada ulkus K=0,72-0,88, tanpa tanda ulkus K=0,59-0,75 sedangkan kalus K=0,48-0,73. Untuk pengkajian langsung, nilai interobserver agreement hanya sedikit yang lebih tinggi.
- 7 Harris et al., (2010)., Bates-Jensen Wound Assessment Tool Menilai validitas pengkajian BWAT dengan menggunakan foto atau gambar. Membantu perawat dalam meningkatkan
Kohort Prospektif
Responden : pada fase 2 terdiri dari perawat WOC dengan pengalaman terhadap luka selama
11,5 tahun
Tahap 1 : dilakukan pemilihan foto luka dengan kualitas dan resolusi tinggi dan akan divalidasi oleh peneliti
Tahap 2 : latihan validasi dengan tatap muka langsung
Sebanyak 214 foto yang dievaluasi pada penelitian ini. 73 % (n=55) foto dapat divalidasi pada tahap 2 dan 100 % (n=53) dapat divalidasi pada tahap 3.
133 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
No Peneliti (tahun) & Judul
Tujuan Desain
Penelitian
Respondent Pengumpulan data Hasil penelitian Potensi
Bias Pictorial Guide Validation Project pendidikan untuk pengkajian luka dengan menggunakan media visual sebagai bahan atau sumber praktik
sedangkan pada tahap 3 terdiri dari 8 perawat WOC dan satu spesialis perawatan luka dengan pengalaman sekitar 10 tahun
Tahap 3 : dengan menggunakan survei elektronik melihat validasi secara online
134 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
Luka kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi dari penyakit DM (Alexiadou & Doupis, 2012; Turns, 2011). Berbagai perbedaan kondisi perkembangan luka kaki diabetes menyebabkan sulitnya menerapkan manajemen klinis secara umum atau pada suatu populasi. Oleh karena itu, beberapa sistem penilaian atau klasifikasi dikembangkan untuk membantu petugas kesehatan dalam menilai luka kaki diabetes yang bervariasi. Menurut International Working Group of the Diabetic Foot (IWGDF) , tujuan dari sistem klasifikasi ini adalah untuk memfasilitasi komunikasi antara petugas kesehatan, membantu manajemen harian dan memberikan informasi tentang potensi penyembuhan luka (Schaper, 2004).
Salah satu sistem klasifikasi yang biasa digunakan untuk mengkaji luka kaki diabetes antara lain dengan menggunakan sistem klasifikasi PEDIS (Perfusion, Extent, Depth, Infection and Sensation) yang diklasifikasikan menurut lima kategori yaitu perfusi, luas / ukuran luka, kedalaman / kehilangan jaringan, infeksi dan sensasi (Schaper, 2004). Sistem klasifikasi PEDIS memiliki kapasitas yang baik untuk mempredikisi hasil dari perawatan luka namun sistem klasifikasi PEDIS tidak cukup secara komprehensif dan akurat untuk menilai tingkat keparahan luka (Chuan et al., 2015).
Selain itu juga ada sistem klasifikasi luka yang dikenal dengan sistem Meggit-Wegner Classification untuk menilai kedalaman luka dan adanya osteomielitis atau gangren. Pengkajian ini mulai dari grade 0 sampai grade 5. Grade 0 jika tidak ada luka terbuka, grade 1 jika terdapat luka didaerah superfisial, grade 2 jika luka lebih dalam dan mencapai tendon, tulang atau kapsul sendi, grade 3 jika terjadi abses pada jaringan yang lebih dalam, osteomielitis dan biasanya terdapat tanda-tanda infeksi seperti panas, kemerahan dan bengkak, grade 4 jika terjadi gangren pada beberapa bagian kaki baik depan maupun belakang, gangrennya bisa basah atau kering, kemudian grade 5 dimana terjadi gangren melibatkan seluruh kaki yang memungkinkan terjadinya amputasi pada daerah bawah lutut (Wagner, 1981 ; Oyibo, S et al., 2001). Sistem klasifikasi Wagner baik untuk menilai kedalaman dan keparahan luka. Namun sistem klasifikasi ini dianggap sangat sederhana karena kurang khusus mendeskripsikan tentang kondisi luka kaki diabetes (Monteiro-Soares, Martins-Mendes, Vaz-Carneiro, Sampaio, & Dinis-Ribeiro, 2014). Meskipun sistem klasifikasi ini menilai kedalaman luka, namun tidak menjelaskan secara rinci definisi ketebalan penuh atau parsial pada luka (Bolton et al., 2004).
Sistem pengkajian lainnya adalah University of Texas (UT) yang juga merupakan sistem klasifikasi untuk melihat keparahan luka dengan melihat adanya infeksi dan iskemik serta kedalaman ulkus. Sistem klasifikasi ini terdiri dari 4 grade yaitu grade 0 untuk melihat pre-post ulseratif, grade 1 terdapat luka superfisial melalui epidermis dan dermis namun tidak sampai menembus tendon atau tulang, grade 2 terdapat luka yang menembus tendon / kapsul sendi dan grade 3 terdapat luka yang menembus tulang. Dalam setiap grade luka terdapat 4 tahap yaitu luka bersih non iskemik (A), luka terinfeksi non iskemik (B), luka iskemik (C) dan luka infeksi iskemik (D) (Lavery et al., 1996). Namun dalam sistem klasifikasi ini mengabaikan luka dan neuropati (Forsythe et al., 2016; Karthikesalingam et al., 2010).
135 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
Pengkajian luka yang umum digunakan adalah Bates-Jansen Wound Assessment Tool (BWAT) yang mengkaji status luka yang diakibatkan oleh berbagai macam penyebab serta karena adanya tekanan. BWAT berisi 13 item untuk menilai ukuran luka, kedalaman, tepi luka, kerusakan jaringan, jenis jaringan nekrotik, jumlah nekrotik, granulasi dan jaringan epitelisasi, jenis eksudat dan jumlah, warna kulit sekitar luka, edema dan indurasi (Harris et al., 2010). Pengkajian BWAT dapat digunakan untuk memprediksi penyembuhan luka namun pengkajian ini dibuat untuk mengkaji luka dekubitus. Pengkajian ini tidak melihat beberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka kronik seperti maserasi dan infeksi. Komponen tersebut juga penting dipertimbangkan penggunaan obat topikal untuk luka serta menentukan intervensi lebih lanjut (Arisandi et al., 2016)
Beberapa hal yang perlu dikaji pada pasien dengan luka kaki diabetes antara lain riwayat pasien, latihan fisik, uji vaskular, uji integumen, uji muskuloskeletal, dan evaluasi serta klasifikasi luka. Pada evaluasi dan klasifikasi luka perawat harus mampu mengkaji kondisi jaringan, ukuran luka, kedalaman, drainase, purulens, bau dan tanda-tanda selulitis seperti eritema pinggir luka, edema, kalor dan nyeri tekan (Neville, Kayssi, Michael, & Buescher, 2016). Luka kaki diabetes merupakan luka kronik sehingga membutuhkan penyembuhan jangka panjang. Proses penyembuhan luka dipengaruhi berbagai faktor salah satunya adalah cairan yang berlebihan yang juga akan merusak kulit disekitar luka (terjadi maserasi) dan berdampak terhadap peningkatan luas luka dan infeksi serta proses penyembuhan luka semakin memanjang (Haryanto et al., 2016). Oleh karena itu, komponen maserasi dan infeksi juga merupakan komponen penting yang perlu dikaji dalam pengkajian luka.
Pengkajian penyembuhan luka kaki diabetes juga sudah dikembangkan. Penelitian terbaru dilakukan oleh Arisandi et al (2016) yaitu pengkajian luka The New Diabetic Foot Ulcer Assessment Scale (DFUAS). Pengkajian ini diharapkan bermanfaat bagi praktisi kesehatan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi mereka dan dapat memprediksi penyembuhan luka dalam 4 minggu. Alat ini terdiri dari 11 domain yaitu kedalaman luka, ukuran luka, ukuran skor, radang/infeksi, proporsi jaringan granulasi, jenis jaringan nekrotik, proporsi jaringan nekrotik, proporsi slough, maserasi, jenis tepi luka dan tunneling. Nilai minimum dan maksimum pada skala ini masing-masing adalah 0 dan 98. Semakin tinggi skor yang diperoleh pasien, maka semakin menunjukan keparahan lukanya.
Pengambilan data dalam setiap artikel dikhususkan pada penilaian atau pengkajian luka kaki diabetes. Manfaat dari studi literatur ini adalah memberikan informasi bagi tenaga kesehatan dalam hal penilaian atau pengkajian luka kaki diabetes. Tenaga kesehatan dapat memilih sistem klasifikasi atau instrumen pengkajian yang dapat digunakan dalam mengkaji luka kaki diabetes pasien dan membantu menentukan intervensi selanjutnya.
136 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
Beberapa pengkajian luka telah dibuat untuk membantu perawat dalam memonitor status dan kemajuan perkembangan penyembuhan luka kaki diabetes. Pengkajian dapat dilakukan dengan menggunakan sistem klasifikasi maupun instrumen pengkajian luka untuk memprediksi penyembuhan luka kaki diabetes. Dengan adanya pengkajian akan memberikan informasi bagi perawat tentang kondisi luka kaki diabetes pasien sehingga menjadi dasar bagi perawat dalam memberikan intervensi yang tepat.
Alexiadou, K., & Doupis, J. (2012). Management of Diabetic Foot Ulcers. Diabetes Ther, 3(4). http://doi.org/10.1007/s13300-012-0004-9
Arisandi, D., Yotsu, R. R., Masaru Matsumoto, Ogai, K., Nakagami, G., Tamaki, T., … Junko Sugama. (2016). Evaluation of Validity of The New Diabetic Foot Ulcer Assessment Scale in Indonesia. Wound Repair and Regeneration, 24(5), 876–884.
Bolton, L., McNees, P., Van Rijswijk, L., de Leon, J., Lyder, C., Kobza, L., … Toth, M. (2004). Wound-healing outcomes using standardized assessment and care in clinical practice. JWOCN, 31(2), 65–71.
Chuan, F., Tang, K., Jiang, P., Zhou, B., & He, X. (2015). Reliability and Validity of the Perfusion , Extent , Depth , Infection and Sensation ( PEDIS ) Classification System and Score in Patients with Diabetic Foot Ulcer, 1–9. http://doi.org/10.1371/journal.pone.0124739
Forsythe, R. O., Ozdemir, B. A., Chemla, E. S., Jones, K. G., & Hinchliffe, R. J. (2016). Interobserver Reliability of Three Validated Scoring Systems in the Assessment of Diabetic Foot Ulcers. http://doi.org/10.1177/ 1534734616654567
Harris, C., Nancy, B. B., Rose, P., Mina, R., & Ketchen, R. (2010). Bates-Jensen Wound Assessment Tool Pictorial Guide Validation Project, 37(June), 253–259.
Haryanto, H., Arisandi, D., Suriadi, S., Imran, I., Ogai, K., & Sanada, H. (2016). Relationship between maceration and wound healing on diabetic foot ulcers in Indonesia : a prospective study, 1–7. http://doi.org/ 10.1111/iwj.12638
Hazenberg, C. E. V. B., Baal, J. G. van, Manning, E., Bril, A., & Bus, S. A. (2010). The Validity and Reliability of Diagnosing Foot Ulcers and Pre-Ulcerative Lesions in Diabetes Using. Diabetic Technology & Therapeutics, 12(12). http://doi.org/10.1089/dia.2010.0088
International Diabetes Federation. (2017). IDF Diabetes Atlas (Eighth edi). Retrieved from www.diabetesatlas.org
Karahan, A., Kilicarslan, E., Aysun, T., Aysel, C., & Agah, A. (2014). Reliability and Validity of a Turkish Language Version of the Bates-Jensen Wound Assessment Tool. J Wound Ostomy Continence Nurs, 41(4), 340–344. http://doi.org/10.1097/WON.0000000000000036
Karthikesalingam, A., Holt, P. J. E., Moxey, P., Jones, K. G., Thompson, M. M., & Hinchliffe, R. J. (2010). A systematic review of scoring systems for
KESIMPULAN
137 p-ISSN: 2442-2665
e-ISSN: 2614-3046 Jurnal Luka Indonesia Vol. 4(2): Juni – September 2018
diabetic foot ulcers, 544–549. http://doi.org/10.1111/j.1464-5491.2010.02989.x
Lavery, L. A., Armstrong, D. G., & Harkless, L. B. (1996). Classification of Diabetic Foot Wounds. The Journal of Foot and Ankle Surgery, 35(6), 528– 531. http://doi.org/10.1016/S1067-2516(96)80125-6
Monteiro-Soares, M., Martins-Mendes, D., Vaz-Carneiro, A., Sampaio, S., & Dinis-Ribeiro, M. (2014). Classification systems for lower extremity amputation prediction in subjects with active diabetic foot ulcer : a systematic review and meta-analysis. Diabetes Metab Res Rev, 30(January), 610–622. http://doi.org/10.1002/dmrr
Neville, R. F., Kayssi, A., Michael, S., & Buescher, T. (2016). The Diabetic Foot. Current Problems in Surgery. http://doi.org/10.1067/ j.cpsurg.2016.07.003
Oyibo, S, O., Jude, E, B., Tarawneh, I., Nguyen, H., Harkless, L., & Boulton, A. (2001). A Comparison of Two Diabetic Foot Ulcer. Pathophysiology/Complication, 24(1).
Ramachandran, A., Snehalatha, C., Chan, J. C. N., Chia, K. S., Shaw, J. E., & Zimmet, P. Z. (2016). Diabetes in Asia and the Pacific : Implications for the Global Epidemic. Diabetes Care, 39, 472–485. http://doi.org/ 10.2337/dc15-1536
Roberts, P., & Newton, V. (2015). Assessment and management of diabetic foot ulcers. Journal of Community Nursing, 16(10).
Schaper, N. C. (2004). Diabetic foot ulcer classification system for research purposes : a progress report on criteria for including patients in research studies. DIABETES/METABOLISM RESEARCH AND REVIEWS, 20(Suppl 1), 90–95. http://doi.org/10.1002/dmrr.464
Turns, M. (2011). The diabetic foot: an overview of assessment and complications, 20(15), 19–25.
Wagner, F. W. (1981). The Dysvascular Foot: A System for Diagnosis and Treatment. Foot & Ankle International. http://doi.org/10.1177/ 107110078100200202
Weber, J., & Kelley, J. H. (2010). Health Assessment in Nursing (4th ed.). Philadelpia: Lippicontt.
Yusuf, S., Okuwa, M., Irwan, M., Rassa, S., Laitung, B., Thalib, A., … Sugama, J. (2016). Prevalence and Risk Factor of Diabetic Foot Ulcers in a Regional Hospital , Eastern Indonesia. Open Journal of Nursing, 6, 1–10.
Zhang, P., Lu, J., Jing, Y., Tang, S., Zhu, D., & Bi, Y. (2017). Global epidemiology of diabetic foot ulceration : a systematic review and meta-analysis. Annals of Medicine, 49(2), 106–116. http://doi.org/10.1080/ 07853890.2016.1231932
Zubair, M., Malik, A., & Ahmad, J. (2015). Diabetic foot ulcer : A review. American Journal of Internal Medicine, 3(2), 28–49. http://doi.org/ 10.11648/j.ajim.20150302.11