2
LAPORAN PENELITIAN
“PERSEPSI MAHASISWA DAN DOSEN PENDIDIK TERHADAP MODEL
PEMBELAJARAN
INTERPROFESSIONAL EDUCATION (IPE)”
Marioyono Sedyowinarso
Fitri Arkham Fauziah
Nurita Aryakhiyati
Mawar Putri Julica
Lafi Munira
Endah Sulistyowati
Fatia Nur Masriati
Samuel Josafat Olam
Candrika Dini
Maryam Afifah
Redho Meisudi
Saskia Piscesa
CIMSA | ISMKI | PSMKGI | ILMIKI | IMABI
ISMAFARSI | ISMKMI | ILMAGI
Didukung oleh:
Health Professional Education Quality (HPEQ) Project
Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional RI
3
PERSEPSI MAHASISWA DAN DOSEN PENDIDIK TERHADAP MODEL
PEMBELAJARAN
INTERPROFESSIONAL EDUCATIO (IPE)
RANGKUMAN
Latar Belakang: Pelayanan kesehatan yang bermutu menjadi tuntutan bagi
pemberi pelayanan kesehatan di era global. Pelayanan kesehatan yang bermutu
dapat dicapai dengan praktek kolaborasi. Namun pada penerapannya, profesional
kesehatan yang paling pandai sekalipun akan kesulitan menerapkan kolaborasi
tanpa pelatihan. Bekal tentang kolaborasi dapat diterapkan sejak tahap pendidikan
melalui interprofessional education (IPE). Mahasiswa ilmu kesehatan sebagai
profesional bidang kesehatan masa mendatang di Indonesia perlu mendapatkan
pelatihan kolaborasi melalui IPE. Pengembangan model pembelajaran IPE di
tingkat institusi perlu melibatkan peran serta mahasiswa agar kebutuhan dan
keinginan belajar mahasiswa sehingga sangat penting untuk mengetahui persepsi
mahasiswa terhadap model pembelajaran yang sesuai untuk IPE. Pembelajaran
IPE yang berjalan baik diharapkan dapat menghasilkan profesional di bidang
kesehatan yang mampu berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain, sehingga
dapat berperan serta dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.
Tujuan Penelitian: mengetahui persepsi mahasiswa dan dosen ilmu kesehatan
Indonesia terhadap metode pembelajaran IPE.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan yang
dilakukan adalah dengan Focused Group Discussin (FGD) pada mahasiswa
pendidikan tinggi ilmu kesehatan Indonesia dari pendidikan dokter, pendidikan
dokter gigi, ilmu keperawatan, kebidanan, farmasi, ilmu gizi, dan kesehatan
masyarakat dari institusi pendidikan tinggi ilmu kesehatan yang
sekurang-kurangnya memiliki 2 bidang keilmuan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan Juli hingga Desember 2011. Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan gambaran persepsi mahasiswa dan dosen pendidikan tinggi
ilmu kesehatan Indonesia terhadap metode pembelajaran IPE
Kesimpulan: (1) Kompetensi dalam pembelajaran IPE, meliputi kompetensi
pengetahuan, ketrampilan, sikap , dan kemampuan kerja tim. (2) Alternatif
metode pembelajaran yang mungkin untuk penerapan IPE, adalah metode
pembelajaran yang bisa didesign secara komprehensif dan kolaboratif meliputi
kuliah, diskusi tutorial, skills laboratorium, field study, KKN, kepaniteraan,
praktik klinik. Selain hal tersebut penumbuhan proses belajar bersama bisa
dilakukan pada saat orientasi mahasiswa baru dan dalam kegiatan organisasi
mahasiswa . (3) Topik yang menarik untuk penerapan IPE, meliputi topik-topik
yang memungkinkan untuk mengembangkan kerja tim seperti konsep kolaborasi,
masalah kesehatan global, masalah bencana, upaya promotif dan preventif ,
pelayanan klinis dan komunitas. (4) Penerapan IPE diharapkan suatu proses yang
berkesinambungan yang dimulai sejak mahasiswa baru, saat pendidikan tahap
akademik dan tahap profesi. (5) Karakteristik dosen ideal dalam memfasilitasi
pembelajaran IPE adalah memahami konsep IPE, memahami kompetensi tiap
4
profesi kesehatan, memiliki pengalaman kolaborasi, inovatif, jiwa pemimpin, dan
komunikatif. (6) Indikatorkeberhasilan program IPE yaitu adanya bagian khusus
coordinator program IPE, standar pencapaian hasil belajar, adanya standar
evaluasi, yang dituangkan dalam standaar iput, proses dan output. (7)Persiapan
untuk pelakasanaan IPE komitmen antar institusi pendidikan profesi kesehatan,
fasilitator yang kompeten dan paham IPE, fasilitas fisik, bagian khusus untuk
mengkoordinir program IPE, standar pelaksanaan program IPE, modul
pembelajaran dan standar evaluasi program. Hal ini diperkuat dengan adanya
kekuatan regulasi dan kekuatan hukum. (8) Hambatan dalam pelaksanaan
IPEadalah dari ego masing masing profesi, beragamnya birokrasi dan kurikulum
di tiap institusi pendidikan profesi kesehatan, fasilitas fisik dan konsep
pembelajaran yang belum jelas, paradigma terhadap profesi kesehatan ,
kekaburan identitas dan peran masing – masing profesi, belum adanya kejelasan
paying hokum tiap profesi kesehatan, serta budaya .
5
HALAMAN PENGESAHAN
1.
Judul Kegiatan : Persepsi Mahasiswa dan Dosen Pendidik Terhadap Model
Pembelajaran Interprofessional Educatio (IPE)
2.
Bidang Ilmu
: Pendidikan Profesi Kesehatan
3.
Ketua Pelaksana Kegiatan
a.
Nama Lengkap
: Mariyono Sedyowinarso, S.Kp., M.Si
b.
NIP
: 19650811 198803 1 001
c.
Alamat / No HP
: Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman
Yogyakarta / 08122969342
d.
Alamat email
: [email protected]
4.
Anggota Pelaksana
: 11 orang
1)
Fitri Arkham Fauziah, S.Kep.
2)
Nurita Aryakhiyati, S.Kep.
3)
Mawar Putri Julica, S.Kg.
4)
Lafi Munira
5)
Endah Sulistyowati
6)
Fatia Nur Masriati
7)
dr. Samuel Josafat Olam
8)
Candrika Dini
9)
Maryam Afifah
10)
Redho Meisudi
11)
Saskia Piscesa
5.
waktu pelaksanaan
: 5 bulan
Jakarta, 1 Desember 2011
Mengetahui,
Sekretaris Eksekutif Proyek
HPEQ-DIKTI
Dr. dr. Arsitawati P. Rahardjo, MA-HM
Ketua Pelaksana
Mariyono Sedyowinarso, S.Kp., M.Si
Menyetujui,
Ketua Proyek HPEQ-DIKTI
6
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan adalah kunci untuk mengembangkan dan mengubah metode serta
kualitas pelayanan kesehatan (Majumdar et al., 1998 cit Steinert, 2005).
Interprofessional education (IPE) adalah salah satu konsep pendidikan yang
dicetuskan oleh WHO sebagai pendidikan yang terintegrasi untuk peningkatan
kemampuan kolaborasi. Centre for the Advancement of Interprofessional
Education (CAIPE) (2002) menyebutkan, IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi
kesehatan belajar bersama, belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari
peran masing-masing profesi kesehatan untuk meningkatkan kemampuan
kolaborasi dan kualitas pelayanan kesehatan. Menurut Universitas Toronto (2009)
IPE bertujuan untuk menghasilkan mahasiswa profesi kesehatan dengan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan praktek kolaborasi
interprofesional.
Penelitian yang diakukan oleh Larson (1995) dan diperkuat penelitian lebih
lanjut oleh American Association of Colleges of Nursing, pada tahun 1995
ditemukan bahwa 15% dari institusi pendidikan keperawatan dan kedokteran di
Amerika Serikat berhasil melakukan program interdisiplin yang terdiri dari
disiplin ilmu yang berbeda. Penelitian yang dilakukan Stewart et al. (2010)
menujukkan bahwa setelah dilakukan workshop pendekatan interprofesional
pengobatan pediatrik terhadap 48 mahasiswa kedokteran dan 20 mahasiswa
keperawatan terdapat peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang keamanan
7
pengobatan dan penyebab-penyebab kesalahan medikasi pada pediatrik.
Mahasiswa melaporkan bahwa belajar membuat resep dan administrasi obat pada
pediatrik akan lebih efektif jika dilakukan bersama profesi kesehatan dari disiplin
ilmu lain dibandingkan dengan hanya dengan satu disiplin ilmu.
Uraian di atas menjabarkan betapa pentingnya penerapan IPE untuk
peningkatan kemampuan kolaborasi profesional di bidang kesehatan. Untuk itu
organisasi mahasiswa ilmu kesehatan yang terdiri dari Center for Indonesian
Medical Students' Activities (CIMSA), Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran
Indonesia (ISMKI), Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia
(ILMIKI), Persatuan Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI), Ikatan
Mahasiswa Kebidanan (IMABI), Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh
Indonesia (ISMAFARSI), Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat
Indonesia (ISMKMI), dan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Gizi Indonesia
(ILMAGI) bersama-sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen
Dikti), Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) melalui Health
Professional Education Quality (HPEQ) Project memandang perlu untuk
melakukan penelitian dan pengkajian lebih jauh tentang IPE pada mahasiswa dan
dosen pengajar ilmu kesehatan di Indonesia. Kajian yang akan dilakukan berupa
pengukuran persepsi dan kesiapan mahasiswa dan dosen pengajar ilmu kesehatan
Indonesia dari tujuh profesi kesehatan terhadap IPE, menggali harapan mahasiswa
dan dosen pengajar ilmu kesehatan Indonesia terhadap metode pembelajaran IPE
yang memungkinkan untuk diterapkan, serta menilai efektifitas pembelajaran IPE
melalui simulasi.
8
Kajian IPE pada mahasiswa merupakan bentuk kajian awal yang paling
penting dan paling sering dilakukan di beberapa negara yang telah menerapkan
dan mulai mengembangkan IPE karena mahasiswa merupakan pemangku
kepentingan utama dalam upaya pengembangan dan penerapan IPE mulai dari
tingkat institusi. Persepsi mereka terhadap metode pembelejaran IPE dapat
menjadi modal utama untuk pengembangan IPE.
Penelitian IPE pada mahasiswa dan dosen pengajar di Indonesia sudah mulai
dilakukan di institusi pendidikan tinggi formal yang menyelenggarakan program
pendidikan lebih dari satu program. Penelitian yang dilakukan oleh A’la (2010),
Fauziah (2010), dan Aryakhiyati (2011) tentang persepsi dan kesiapan terhadap
IPE pada mahasiswa dan dosen pengajar Fakultas Kedokteran UGM menunjukkan
hasil yang positif. Mayoritas mahasiswa tahap akademik menunjukkan kesiapan
yang baik terhadap IPE (sebanyak 92,8%) dan sebanyak 86,8% mahasiswa
memiliki persepsi yang baik terhadap IPE (A’la, 2010). Mahasiswa tahap profesi
menunjukkan tingkat kesiapan yang baik terhadap IPE (sebanyak 87,97 %) dan
sebanyak 83,46% menunjukkan mereka berada pada tingkat persepsi yang baik
terhadap IPE. Mayoritas dosen pengajar FK UGM menunjukkan nilai kesiapan
terhadap IPE pada kategori baik (79.45%). Hasil penelitian yang baik di atas
semakin disempurnakan dengan penelitian A’la, et al (2010) yang menunjukkan
terdapat perbedaan yang signifikan pada sikap mahasiswa terhadap IPE setelah
mereka mengikuti simulasi kegiatan perkuliahan interprofesi.
Untuk melanjutkan usaha pengembangan IPE di Indonesia tersebut,
diperlukan suatu penelitian untuk menjaring persepsi mahasiswa mengenai
9
metode pembelajaran IPE yang dianggap baik untuk dikembangkan di Indonesia.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penyusun kurikulum
pendidikan ilmu kesehatan baik di tingkat nasional maupun institusi untuk
mengembangkan IPE dalam sistem pendidikan ilmu kesehatan di Indonesia
sehingga kemampuan kolaborasi profesional di bidang kesehatan dapat meningkat
dan dapat berperan dalam memajukan kesehatan di Indonesia.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti ingin mengetahui
bagaimana persepsi mahasiswa terhadap metode pembelajaran IPE di Indonesia.
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
1.
untuk mengetahui persepsi mahasiswa ilmu kesehatan Indonesia
terhadap metode pembelajaran IPE yang memungkinkan diterapkan
pada tahap pendidkan akademik
2.
untuk mengembangkan model simulasi pembelajaran IPE yang sesuai
dengan harapan mahasiswa serta pengajar ilmu kesehatan Indonesia
D.
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat teoritis
10
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan di
bidang pendidikan ilmu kesehatan dengan mengembangkan IPE di dalam
pendidikan ilmu kesehatan.
2.
Manfaat praktis
a.
Bagi institusi pendidikan
Sebagai
salah
satu
bahan
pertimbangan
bagi
pengelola
untuk
mengembangkan kurikulum IPE dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan di Indonesia dengan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu
berkolaborasi dengan baik.
b.
Bagi mahasiswa
Meningkatkan peran mahasiswa dalam pengembangan pendidikan ilmu
kesehatan di Indonesia.
E.
Keaslian Penelitian
1.
Penelitian serupa dilakukan oleh Fauziah (2010) yang berjudul Analisis
Gambaran Persepsi dan Kesiapan Mahasiswa Profesi Fakultas Kedokteran
UGM terhadap Interprofessional Education di tatanan klinik. Jenis penelitian
ini adalah deskriptif eksploratif dengan rancangan cross sectional dan
pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan data kuamtitatif dengan
menggunakan kuisioner IEPS (Interdiciplinary Education Perception Scale)
dan RIPLS (Readiness Interprofessional Learning Scale). Pengambilan data
kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Studi kuantitatif dilakukan
terhadap 133 mahasiswa pendidikan dokter dan ilmu keperawatan tahap
11
pendidikan profesi. Hasilnya 117 (87,97%) mahasiswa memiliki persepsi baik
terhadap IPE dan 111 (83,46%) mahasiswa menunjukkan kesiapan yang baik
terhadap IPE.
Penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan sama-sama meneliti
variabel persepsi dan kesiapan. Namun, pada penelitian kali ini pendekatan
yang dilakukan hanya kualitatif melalui Focused Group Discussion. Sampel
penelitian juga memiliki perbedaan, yaitu penelitian ini akan dilakukan pada
tujuh profesi ilmu kesehatan, yaitu kedokteran, kedokteran gigi, ilmu
keperawatan, kebidanan, farmasi, ilmu gizi dan kesehatan masyarakat.
Penelitian Fauziah dilakukan hanya di Fakultas Kedokteran UGM, sedangkan
penelitian ini dikerjakan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan
2.
Penelitian serupa dilakukan oleh A’la (2010) yang berjudul Gambaran
Persepsi
dan
Kesiapan
Mahasiswa
Tahap
Akademik
terhadap
Interprofessional Education di Fakultas Kedokteran UGM. Jenis penelitian
ini adalah deskriptif eksploratif dengan rancangan cross sectional dan
pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan data kuantitatif dengan
menggunakan kuisioner IEPS dan RIPLS. Pengambilan data kualitatif
dilakukan dengan focus group discussion (FGD). Penelitian dilakukan
terhadap mahasiswa tahap akademik dari pendidikan dokter, ilmu
keperawatan, dan gizi kesehatan. Hasilnya, persepsi terhadap IPE mayoritas
baik yaitu 86,8% dan kesiapan terhadap IPE mayoritas baik sebanyak 92,8%.
Penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan sama-sama
dilakukan di FK UGM, meneliti variabel kesiapan yang sama dan dengan
12
kuisioner yang sama. Perbedaan terletak pada variable sikap dosen terhadap
kerja tim kesehatan dan sikap dosen terhadap penerapan pembelajaran
interprofessional
di lingkungan pendidikan. Sampel yang akan dilakukan
oleh peneliti adalah juga berbeda, sampel penelitian A’la (2010) adalah
mahasiswa pendidikan dokter, ilmu keperawatan dan gizi kesehatan tahap
akademik.
3.
Penelitian dengan tujuan yang sama dilakukan juga oleh Lindqvist & Reeves
(2007) yang berjudul Facilitator’s perceptions of delivering interprofessional
education: a qualitative study.
Penelitian kualitatif ini dilakukan terhadap 13
orang staff pendidik. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara
kelompok (n=5; n=8). Hasilnya, persepsi staff pendidik dinilai baik.
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada
pendekatan penelitian yang akan dilakukan, tempat, variable dan kuisioner.
Penelitian kali ini akan dilakukan dengan pendekatan kuantitatif
4.
Curran, et al (2007) telah melakukan penelitian serupa berjudul Attitudes of
health sciences faculty members towards interprofessional teamwork and
education.
Penelitian dilakukan terhadap 194 orang staf fakultas kesehatan.
Sebanyak 38% responden berusia 50 – 59 tahun, 53% dilaporkan telah
menjalani profesi kesehatan selama 21 atau lebih, dan 79,7% menyatakan
memiliki pengalaman praktek kolaborasi interprofessional. Hasil penelitian
menunjukkan 63,0% staf memiliki sikap baik terhadap pendidikan dan
praktek interprofessional. Pengambilan data kuantitatif dengan menggunakan
kuesioner Attitude toward health care team scale, RIPLS modifikasi, dan
13
kuesioner pengukuran sikap terhadap pembelajaran interprofesi di lingkungan
pendidikan.
Perbedaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada
tempat dan responden penelitian. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian
ini adalah kuesioner RIPLS modifikasi dan kuesioner pengukuran sikap
terhadap pembelajaran interprofesi di lingkungan pendidikan.
14
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Interprofessional Education (IPE)
IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi kesehatan belajar bersama,
belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari peran masing-masing profesi
kesehatan untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dan kualitas pelayanan
kesehatan (CAIPE, 2002).
a.
Karakteristik Utama Model IPE yang Ideal
Pengembangan model IPE yang ideal harus dimulai dengan persamaan
paradigma bahwa IPE hanyalah langkah awal dari tujuan utama dalam upaya
meningkatkan pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien. Pendekatan
interprofessional akan memfasilitasi dengan lebih baik mahasiswa dari satu
disiplin ilmu untuk belajar dari disiplin ilmu lainnya. Pembelajaran bersama
antardisiplin ilmu dapat meningkatkan keterampilan baru mahasiswa yang akan
memperkaya keterampilan khusus yang dimiliki masing-masing disiplin dan
mampu bekerja sama lebih baik dalam lingkungan tim yang terintegrasi. Selama
ini penerapan IPE masih tidak konsisten, untuk itu harus dibuat sebuah komitmen
sehingga pembelajaran interprofesional dapat diterapkan di institusi pendidikan
dan diterapkan dalam kurikulum pendidikan di semua program pelayanan
kesehatan untuk memastikan keberadaan jangka panjang IPE yang berkelanjutan
(ACCP, 2009)
15
b.
Kompetensi IPE
Tujuan akhir IPE mengharapkan mahasiswa mampu mengembangkan
kompetensi yang diperlukan untuk berkolaborasi. Barr (1998) menjabarkan
kompetensi kolaborasi, yaitu: 1) memahami peran, tanggungjawab dan
kompetensi profesi lain dengan jelas, 2) bekerja dengan profesi lain untuk
memecahkan konflik dalam memutuskan perawatan dan pengobatan pasien, 3)
bekerja dengan profesi lain untuk mengkaji, merencanakan, dan memantau
perawatan pasien, 4) menoleransi perbedaan, kesalahpahaman dan kekurangan
profesi lain, 5) memfasilitasi pertemuan interprofessional, dan 6) memasuki
hubungan saling tergantung dengan profesi kesehatan lain.
ACCP (2009) membagi kompetensi untuk IPE terdiri atas empat bagian
yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan tim (Tabel 1).
Tabel 1. Kompetensi untuk IPE (ACCP, 2009)
No
Kompetensi utama IPE
Komponen kompetensi IPE
1.
Kompetensi pengetahuan
Isyarat/strategi asosiasi
Model berbagi tugas/pengkajian situasi
Kebiasaan karakter rekan satu tim
Pengetahuan terhadap tugas tim
Tanggungjawab tugas spesifik
2.
Kompetensi keterampilan
Pemantauan kinerja secara bersama-sama
Fleksibilitas/penyesuaian
Dukungan/perilaku mendukung
Kepemimpinan tim
Pemecahan konflik
Umpan balik
Komunikasi
pengulangan-tertutup/pertukaran informasi
3.
Kompetensi sikap
Orientasi tim (moral)
Kemajuan bersama
Berbagi pandangan
4.
Kompetensi kemampuan
tim
Kepaduan tim
Saling percaya
Orientasi bersama
16
Kepentingan kerja kelompok
Bagi dosen, kompetensi IPE untuk mengajarkan dan memfasilitasi
kelompok pembelajaran interprofessional mutlak diperlukan. Freeth (2005)
mengungkapkan bahwa staff pendidik harus mengenali dan menyadari potensi
pembelajaran dalam dinamika kelompok interprofessional. Hal ini sangat sesuai
dengan dengan tanggung jawab staff pendidik untuk memberikan kesempatan
yang sama demi pembelajaran individu yang efektif bagi masing-masing anggota
kelompok.
Tabel 2. Kompetensi pengajaran IPE (Freeth, 2005)
1.
Sebuah komitmen terhadap pembelajaran dan praktek interprofessional
2.
Kepercayaan dalam hubungan pada focus tertentu dari pembelajaran
interprofessional di mana staff pendidik berkontribusi
3.
Model peran yang positif
4.
Pemahaman yang dalam terhadap metode pembelajaran interaktif dan percaya
diri dalam menerapkannya
5.
Kepercayaan dan fleksibilitas untuk menggunakan perbedaan profesi secara
kreatif dalam kelompok
6.
Menghargai perbedaan dan kontribusi unik dari masing-masing anggota
kelompok
7.
Menyesuaikan kebutuhan individu dengan kebutuhan kelompok
8.
Meyakinkan dan memiliki selera humor dalam menghadapi kesulitan
c.
Sifat belajar mengajar dalam IPE
Freeth (2005) melakukan analisis sifat belajar mengajar dalam IPE yang
sebelumnya telah dijabarkan oleh Brookfiel (1986). Pembelajar dewasa adalah
pelajar yang mempunyai kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri. Hasil
pembelajaran mungkin akan lebih positif jika pelajar memilih sendiri tujuan,
konten, dan metode pembelajaran. Hal ini akan menimbulkan tantangan tersendiri
bagi staff pengajar IPE. Peserta didik juga perlu mengidentifikasi apakah
17
kebutuhan belajar mereka sejalan dengan hasil belajar yang diharapkan dan
apakah pendekatan belajar yang mereka sukai sudah tepat. Ketidak cocokan dapat
menimbulkan negosiasi dan memberikan kesempatan untuk pembelajaran
kolaborasi.
Pendidik dan fasilitator perlu menghormati kebutuhan, kepribadian dan
pilihan belajar pelajar dewasa. Dalam IPE, peserta didik dan pendidik dari profesi
yang berbeda harus menerima dan menghargai perbedaan masing-masing dan
belajar dari hal ini.
Pengalaman awal peserta didik adalah hal yang terpenting. Pengalaman
hidup adalah tingkat kedua untuk belajar dan mendefinisikan kebutuhan khusus
tiap individu. Pengalaman hidup profesional, pengaruh mereka pada sikap
profesional dan perilaku menyediakan dasar untuk pertukaran interprofesional.
Peserta dapat saling membandingkan pengalaman dan perspektif masing-masing
yang terkadang saling menantang.
Pembelajaran aktif adalah jantung pembelajaran dewasa. Hal ini berlaku
bagi
pembelajaran
profesional
terutama
pembelajaran
interprofesional.
Pembelajan aktif berarti perubahan yang hanya terjadi jika sebelumnya sikap dan
kepercayaan terbuka untuk tantangan di tempat yang aman, yaitu lingkungan
belajar yang mendukungan dan saling bekerjasama.
Belajar harus saling terkait. IPE mungkin sengaja diciptakan sebagai
tanggapan terhadap kebutuhan yang dirasakan tim, organisasi, profesi atau seluruh
sistem pemberi pelayanan. Tekanan belajar harus dikurangi sebelum peserta
18
termotivasi untuk belajar. IPE walaupun dirancang untuk kelompok, pada
akhirnya bertujuan untuk pengembangan masing-masing individu.
d.
Pendekatan belajar mengajar dalam IPE
Pendekatan belajar mengajar yang sudah ada disesuaikan dan
dikembangkan sebagai metode balajar baru sebagai penarik perhatian belajar
peserta didik dan inovasi baru dari pengajar. Tidak satu pun metode yang menjadi
pilihan utama, metode pengalaman mengajar dari pengajar dapat berubah
sewaktu-waktu tergantung pada kebutuhan belajar peserta didik dan bagaimana
cara pengajar untuk menjaga perhatian peserta didik terhadap pelajaran.
Metode-metode balajar yang ada dapat saling memperkuat, tidak berdiri sendiri.
Pendekatan belajar mengajar yang dapat diterapkan dalam IPE yaitu
exchange-based learning, action-exchange-based learning, practice-exchange-based learning, simulation-exchange-based
learning, observation-based learning, dan e-based learning.
Exchange-based learning
merupakan salah satu cara yang digunakan
untuk memungkinkan para peserta mengungkapkan perasaan, membandingkan
pandangan pertukaran pengalaman. Debat tentang masalah etika dapat
mengekspos nilai yang mendasari perbedaan antara profesi. Permainan yang
memainkan hubungan kerja antara profesi dan antara organisasi dapat
meringankan belajar tetapi tetap berisi konten serius. Studi kasus dapat
meningkatkan peran aktif peserta dari profesi yang berbeda untuk
memperkenalkan pemahaman yang berbeda dan menyarankan intervensi berbeda
sebagai kelompok kerja terhadap respon kolaboratif.
19
Action-based learning, atau problem-based learning (PBL), atau
enquiry-based learning (EBL), sejak tahun 1970 telah menjadi rekomendasi WHO sebagai
metode pembelajaran untuk interprofessional. Sistem pembelajaran ini tidak
dirancang untuk menyelesaikan masalah saat ini. Bukti menunjukkan bahwa PBL
mendorong kebebasan, kerja tim, ilmu pengetahuan yang lebih terintegrasi, dan
pembelajaran mendalam (Bligh, 1995). Hughes dan Lucas (1997) menemukan
bahwa PBL efektif dalam mencapai tujuan IPE seperti belajar tentang peran dan
meningkatkan keterampilan komunikasi interprofessional.
Interprofessional practice-based learning mengambil beberapa bentuk
penugasan luar dalam lingkungan kerja profesi lain, pembelajaran terkait untuk
peserta didik secara bersamaan pada penempatan di tempat kerja yang berdekatan,
penempatan bersama di pengaturan yang sama dan tujuan yang dirancang untuk
lingkungan belajar seperti pelatihan bangsal (Reeves dan Freeth, 2002; Ponzer et
al., 2004).
Simulation-based learning
dapat menggunakan permainan peran yang
diadaptasi untuk memaparkan hubungan kerja antara profesi, peserta berperan
sebagai klien, pemberi pelayanan atau praktisi dari diri mereka sendiri atau
perspektif profesi lain. Keterampilan laboratoroim dikenalkan dalam pendidikan
professional, misalnya pada kedokteran dan keperawatan, dalam kondisi ini bisa
dikembangkan penyertaan dua profesi atau lebih dan perspektif interprofessional
dalam diagnosis dan pengobatan. Kehidupan kerja bisa disimulasikan di dalam
lingkungan belajar di mana hubungan tiap-tiap orang, tiap-tiap kelompok, dan
tiap-tiap organisasi bisa ditunjukkan keluar.
20
Observation-based learning, pelajar secara sederhana diminta untuk
mengamati pertemuan tim multidisiplin dengan menggunakan metode studi
observasional yang lebih canggih.
E-based learning timbul karena adanya peningkatan pengenalan dunia
elektronik, ditambah dengan pembelajaran kesehatan dan profesi kesehatan
sehingga dapat memperbesar peluang penerapan IPE. Penerapan teknologi ini
dalam IPE digunakan untuk melengkapi dan memperkuat pembelajaran tatap
muka atau sebagai penggantinya (Freeth, 2005)
e.
Manfaat IPE
Barr, et al (2005) memformulasikan bentuk rantai yang dimodifikasi
untuk mendemonstrasikan seperti apakah pendidikan, yang mengarahkan pada
praktek interprofessional tidak hanya sebagai tempat potensial untuk meredakan
stress tapi juga meningkatkan pelayanan pasien.
21
Gambar 1. Rantai reaksi (Barr, et al, 2005)
f.
Hambatan IPE
Walaupun IPE telah diterapkan selama beberapa dekade, banyak
hambatan yang telah diidentifikasi. Hambatan ini terdapat dalam berbagai
tingkatan dan terdapat pada pengorganisasian, pelaksanaan, komunikasi, budaya
ataupun sikap. Sangat penting untuk mengatasi hambatan-hambatan ini sebagai
persiapan mahasiswa dan praktisi profesi kesehatan yang lebih baik demi praktek
22
kolaborasi hingga perubahan system pelayanan kesehatan. Hambatan-hambatan
yang mungkin mucul adalah penanggalan akademik, peraturan akademik, truktur
penghargaan akademik, lahan praktek klinik, masalah komunikasi, bagian
kedisiplinan, bagian professional, evaluasi, pengembangan pengajar, sumber
keuangan, jarak geografis, kekurangan pengajar interdisipliner, kepemimpinan
dan dukungan administrasi, tingkat persiapan peserta didik, logistic, kekuatan
pengaturan, promosi, perhatian dan penghargaan, resistensi perubahan, beasiswa,
system penggajian, dan komitmen terhadap waktu (ACCP, 2009).
23
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif studi kasus. Pendekatan yang
digunakan adalah kombinasi pendekatan kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk
mengeksplorasi persepsi mahasiswa profesi kesehatan mengenai IPE di tatanan
pendidikan Sarjana. Pengambilan data digunakan Diskusi Kelompok Terarah
(DKT).
B.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada,
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Fakultas Farmasi Universitas
Ahmad
Dahlan,
Fakultas
Kesehatan
Masyarakat
Universitas
Ahmad
Dahlan,Yogyakarta, Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas
Negeri Surakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin, Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Hasanudin, Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin, Program Studi Kebidanan
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia Timur, Makasar pada bulan Juli -
Desember 2011.
C.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah mahasiswa ilmu kesehatan di Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Gadjah Mada, Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Fakultas Kesehatan
24
Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan,Yogyakarta, Program Studi Kebidanan
Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surakarta, Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanudin, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas, Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanudin, Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin,
Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia Timur,
Makasar tahap sarjana. Wilayah dipilih berdasarkan pertimbangan kelengkapan
jumlah program studi pada suatu universitas.
Pengambilan data kualitatif dilakukan dengan cara DKT. Responden DKT
adalah mahasiswa informan yang memiliki persepsi dan kesiapan baik berasal dari
wilayah Yogyakarta, Surakarta dan Makasar. Menurut Moleong(2006) dan
Sarwono (2006) peserta DKT yang ideal adalah 6-10 orang. Pada penelitian kali
DKT akan dilakukan pada dua kelompok, terdiri dari tujuh program studi yaitu
pendidikan dokter, pendidikan dokter gigi, ilmu keperawatan, ilmu gizi, kesehatan
masyarakatan, kebidanan dan Farmasi. Setiap DKT akan dihadiri oleh tujuh
mahasiswa perwakilan setiap program studi pada kota Yogyakarta dan Makasar.
Total informan DKT pada penelitian ini adalah 28 orang yang terdiri 14 informan
dari setiap kota. Kriteria inklusi partisipan mahasiswa adalah:
1.
mahasiswa tahun akhir tahap akademik
2.
memiliki pengalaman organisasi kemahasiswaan minimal 1 tahun
3.
menjadi responden pada studi kuantitatif
25
Kriteria eksklusi sampel penelitian ini adalah mahasiswa yang pada saat
penelitian berlangsung sedang cuti atau tidak berada dalam lingkungan institusi
pendidikannya.
D.
Definisi Operasional
Definisi operasional variabel pada penelitian ini dapat dijabarkan sebagai
berikut:
1.
IPE adalah suatu pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh dua atau
lebih profesi yang berbeda dan mengenai berbagai profesi untuk
meningkatkan kolaborasi dan kualitas pelayanan.
2.
Persepsi adalah proses yang dilalui oleh penginderaan, yaitu merupakan
proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat
reseptornya dan terjadilah proses psikologis, sehingga individu menyadari
apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar dan menimbulkan pandangan
pribadi mahasiswa kesehatan terhadap IPE. Persepsi akan diukur dengan
Interdisciplinary Education Perception Scale
(IEPS) yang terdiri dari 5
skala likert. Jenis skala data yang diperoleh adalah ordinal.
3.
Mahasiswa tahap sarjana adalah mahasiswa tahun akhir pendidikan sarjana
(S1). Terdapat tujuh program studi yaitu pendidikan dokter, pendidikan
dokter gigi, ilmu keperawatan, ilmu gizi, kesehatan masyarakatan,
kebidanan dan Farmasi.
26
Instrumen untuk pendekatan kualitiatif adalah peneliti sendiri.
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik DKT. Instrumen untuk pengambilan
data pada pendekatan ini adalah panduan DKT.
Penelitian ini dilakukan di lingkungan mahasiswa ilmu kesehatan di Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Gadjah Mada, Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan,Yogyakarta, Program Studi Kebidanan
Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surakarta, Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanudin, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas, Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanudin, Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin,
Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia Timur,
Makasar. Secara umum penelitian ini dibagi menjai 3 tahapan pokok yaitu
persiapan, pelaksanaan penelitian dan penyusunan laporan. Adapun uraiannya
adalah sebagai berikut:
1.
Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini dilaksanakan antara bulan Juli 2011 sampai dengan
Desember 2011. Pada tahap ini peneliti menetapkan tema dan judul penelitian
pada bulan Juni 2011. Pembuatan proposal penelitian dilakukan pada bulan
Juni-Agustus 2011 yang diiringi dengan pembuatan panduan DKT. Identifikasi sample
penelitian dilaksanakan pada tanggal 13 Agusutus 2011. Pertanyaan DKT
disusun pada tanggal 21 Agustus 2011. Identifikasi informan DKT dan
pembahasan teknis penelitian dilakukan pada tanggal 8 Oktiber 2011. Penelitian
ini dilaksanakan setelah lolos uji etik dari pihak Komisi Etik Penelitian Kesehatan
27
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Indonesia
pada tanggal 24 Oktober 2011.
2.
Tahap Pelaksanaan
Training fasilitatror DKT Ahli dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2011.
Tahap pelaksanaan DKT ahli dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2011.
Transkrip DKT Ahli dilakukan selama awal November 2011.Persamaan persepsi
DKT mahasiswa dilaksanakan pada 12 November 2011 dengan DKT di
yogyakarta dilaksanakan pada 13 November 2011 dengan dihadiri oleh 98
informan yang didapatkan melalui penyeleksian informan penelitian. Saat
menyeleksi informan penelitian, peneliti mendapatkan data nama-nama
mahasiswa tahap sarjana dari bagian akademik masing-masing institusi. Sejalan
dengan penyeleksian informan peneliti juga melakukan uji validitas dan
realiabilitas terhadap instrumen penelitian.
Setelah mendapatkan data informan DKT pada minggu pertama bulan
November 2011 peneliti mengidentifikasi tempat pelaksanaan DKT di kota
Yogyakarta dan Makassar. Setelah mendapatkan tingkat validitas dan realiabilitas
yang meyakinkan peneliti melakukan pengambilan data. Pengumpulan data
selama bulan November 2011 pada tanggal 13 November di Yogyakarta dan 20
November di Makassar. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan DKT.
Sebelum melakukan DKT peneliti mengirimkan beberapa pertanyaan serta
panduan DKT pada ahli di bidang IPE. Hasil pada tahap ini berupa panduan serta
28
pertanyaan untuk tahap DKT. Teknik sampling yang digunakan adalah purpose
sampling.
Peneliti melakukan kontrak waktu dengan responden. Setelah itu, di mulai
pelaksanaan DKT kepada 98 mahasiswa kesehatan, pengumpulan data digunakan
dengan metode DKT dilakukan dalam empat kelompok. Masing-masing
kelompok DKT akan diikuti oleh 7 bidang ilmu kesehatan. Pelaksanaan dilakukan
dengan cara responden dikumpulkan pada waktu dan tempat yang telah di
sepakati. DKT ini diharapkan menghasilkan outcome beberapa usulan metode
pembelajaran dari partisipan. Kemudian peneliti memilih salah satu metode yang
memungkinkan untuk dilaksanakan. Setelah memilih metode tersebut akan
disimulasikan kepada partisipan mahasiswa dalam kualitatif tahap II.
Setelah mendapatkan data dari DKT maka dilakukan analisis data kualitatif
pada 29-30 November 2011.
3.
Tahap penyusunan laporan
Setelah data terkumpul, dianalisis, dibahas, dan ditarik kesimpulan, akhirnya
pada tanggal 26 – 31 Desember 2011 semua hasil yang diperoleh disusun menjadi
sebuah laporan penelitian.
F.
Analisis Data
Marshall dan Rossman mengajukan teknik analisa data kualitatif untuk
proses analisis data dalam penelitian ini. Dalam menganalisa penelitian
kualitatif terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan
(Marshall dan Rossman dalam Kabalmay, 2002), diantaranya :
29
Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara
mendalam (indepth inteviwer), dimana data tersebut direkam dengan tape
recoeder dibantu alat tulis lainya. Kemudian dibuatkan transkipnya dengan
mengubah hasil wawancara dari bentuk rekaman menjadi bentuk tertulis
secara verbatim. Data yang telah didapat dibaca berulang-ulang agar
penulis mengerti benar data atau hasil yang telah di dapatkan.
2.
Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan pola jawaban
Pada tahap ini dibutuhkan pengertiaan yang mendalam terhadap data,
perhatiaan yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di
luar apa yang ingin digali. Berdasarkan kerangka teori dan pedoman
wawancara, peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai
acuan dan pedoman dalam mekukan coding. Dengan pedoman ini, peneliti
kemudian kembali membaca transkip wawancara dan melakukan coding,
melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data
yang relevan diberi kode dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokan
atau dikategorikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat.
Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap sebuah kasus yang diteliti.
Peneliti menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman terhadap
hal-hal diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokan
tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan
tema-tema penting serta kata kuncinya. Sehingga peneliti dapat
menangkap penagalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada
subjek.
30
3.
Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data
Setelah kategori pola data tergambar dengan jelas, peneliti menguji data
tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada
tahap ini kategori yang telah didapat melalui analisis ditinjau kemabali
berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga
dapat dicocokan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan
hasil yang dicapai. Walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis
tertentu, namun dari landasan teori dapat dibuat asumsi-asumsi mengenai
hubungan antara konsep-konsep dan factor-faktor yang ada.
4.
Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data
Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud,
peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Dan berdasarkan kesimpulan
yang telah didapat dari kaitanya tersebut, penulis merasa perlu mencari
suatau alternative penjelasan lain tetnag kesimpulan yang telah didapat.
Sebab dalam penelitian kualitatif memang selalu ada alternative penjelasan
yang lain. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdpat hal-hal yang
menyimpang dari asumsi atau tidak terfikir sebelumnya. Pada tahap ini
akan dijelaskan dengan alternative lain melalui referensi atau teori-teori
lain. Alternatif ini akan sangat berguna pada bagian pembahasan,
kesimpulan dan saran.
5.
\Menulis Hasil Penelitian
Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu
hal yang membantu penulis unntuk memeriksa kembali apakah
31