• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN PERSEPSI MAHASISWA DAN DOSEN PENDIDIK TERHADAP MODEL PEMBELAJARAN INTERPROFESSIONAL EDUCATION (IPE)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN PERSEPSI MAHASISWA DAN DOSEN PENDIDIK TERHADAP MODEL PEMBELAJARAN INTERPROFESSIONAL EDUCATION (IPE)"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

2

LAPORAN PENELITIAN

“PERSEPSI MAHASISWA DAN DOSEN PENDIDIK TERHADAP MODEL

PEMBELAJARAN

INTERPROFESSIONAL EDUCATION (IPE)”

Marioyono Sedyowinarso

Fitri Arkham Fauziah

Nurita Aryakhiyati

Mawar Putri Julica

Lafi Munira

Endah Sulistyowati

Fatia Nur Masriati

Samuel Josafat Olam

Candrika Dini

Maryam Afifah

Redho Meisudi

Saskia Piscesa

CIMSA | ISMKI | PSMKGI | ILMIKI | IMABI

ISMAFARSI | ISMKMI | ILMAGI

Didukung oleh:

Health Professional Education Quality (HPEQ) Project

Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional RI

(3)

3

PERSEPSI MAHASISWA DAN DOSEN PENDIDIK TERHADAP MODEL

PEMBELAJARAN

INTERPROFESSIONAL EDUCATIO (IPE)

RANGKUMAN

Latar Belakang: Pelayanan kesehatan yang bermutu menjadi tuntutan bagi

pemberi pelayanan kesehatan di era global. Pelayanan kesehatan yang bermutu

dapat dicapai dengan praktek kolaborasi. Namun pada penerapannya, profesional

kesehatan yang paling pandai sekalipun akan kesulitan menerapkan kolaborasi

tanpa pelatihan. Bekal tentang kolaborasi dapat diterapkan sejak tahap pendidikan

melalui interprofessional education (IPE). Mahasiswa ilmu kesehatan sebagai

profesional bidang kesehatan masa mendatang di Indonesia perlu mendapatkan

pelatihan kolaborasi melalui IPE. Pengembangan model pembelajaran IPE di

tingkat institusi perlu melibatkan peran serta mahasiswa agar kebutuhan dan

keinginan belajar mahasiswa sehingga sangat penting untuk mengetahui persepsi

mahasiswa terhadap model pembelajaran yang sesuai untuk IPE. Pembelajaran

IPE yang berjalan baik diharapkan dapat menghasilkan profesional di bidang

kesehatan yang mampu berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain, sehingga

dapat berperan serta dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

Tujuan Penelitian: mengetahui persepsi mahasiswa dan dosen ilmu kesehatan

Indonesia terhadap metode pembelajaran IPE.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan yang

dilakukan adalah dengan Focused Group Discussin (FGD) pada mahasiswa

pendidikan tinggi ilmu kesehatan Indonesia dari pendidikan dokter, pendidikan

dokter gigi, ilmu keperawatan, kebidanan, farmasi, ilmu gizi, dan kesehatan

masyarakat dari institusi pendidikan tinggi ilmu kesehatan yang

sekurang-kurangnya memiliki 2 bidang keilmuan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini

dilaksanakan pada bulan Juli hingga Desember 2011. Penelitian ini diharapkan

dapat memberikan gambaran persepsi mahasiswa dan dosen pendidikan tinggi

ilmu kesehatan Indonesia terhadap metode pembelajaran IPE

Kesimpulan: (1) Kompetensi dalam pembelajaran IPE, meliputi kompetensi

pengetahuan, ketrampilan, sikap , dan kemampuan kerja tim. (2) Alternatif

metode pembelajaran yang mungkin untuk penerapan IPE, adalah metode

pembelajaran yang bisa didesign secara komprehensif dan kolaboratif meliputi

kuliah, diskusi tutorial, skills laboratorium, field study, KKN, kepaniteraan,

praktik klinik. Selain hal tersebut penumbuhan proses belajar bersama bisa

dilakukan pada saat orientasi mahasiswa baru dan dalam kegiatan organisasi

mahasiswa . (3) Topik yang menarik untuk penerapan IPE, meliputi topik-topik

yang memungkinkan untuk mengembangkan kerja tim seperti konsep kolaborasi,

masalah kesehatan global, masalah bencana, upaya promotif dan preventif ,

pelayanan klinis dan komunitas. (4) Penerapan IPE diharapkan suatu proses yang

berkesinambungan yang dimulai sejak mahasiswa baru, saat pendidikan tahap

akademik dan tahap profesi. (5) Karakteristik dosen ideal dalam memfasilitasi

pembelajaran IPE adalah memahami konsep IPE, memahami kompetensi tiap

(4)

4

profesi kesehatan, memiliki pengalaman kolaborasi, inovatif, jiwa pemimpin, dan

komunikatif. (6) Indikatorkeberhasilan program IPE yaitu adanya bagian khusus

coordinator program IPE, standar pencapaian hasil belajar, adanya standar

evaluasi, yang dituangkan dalam standaar iput, proses dan output. (7)Persiapan

untuk pelakasanaan IPE komitmen antar institusi pendidikan profesi kesehatan,

fasilitator yang kompeten dan paham IPE, fasilitas fisik, bagian khusus untuk

mengkoordinir program IPE, standar pelaksanaan program IPE, modul

pembelajaran dan standar evaluasi program. Hal ini diperkuat dengan adanya

kekuatan regulasi dan kekuatan hukum. (8) Hambatan dalam pelaksanaan

IPEadalah dari ego masing masing profesi, beragamnya birokrasi dan kurikulum

di tiap institusi pendidikan profesi kesehatan, fasilitas fisik dan konsep

pembelajaran yang belum jelas, paradigma terhadap profesi kesehatan ,

kekaburan identitas dan peran masing – masing profesi, belum adanya kejelasan

paying hokum tiap profesi kesehatan, serta budaya .

(5)

5

HALAMAN PENGESAHAN

1.

Judul Kegiatan : Persepsi Mahasiswa dan Dosen Pendidik Terhadap Model

Pembelajaran Interprofessional Educatio (IPE)

2.

Bidang Ilmu

: Pendidikan Profesi Kesehatan

3.

Ketua Pelaksana Kegiatan

a.

Nama Lengkap

: Mariyono Sedyowinarso, S.Kp., M.Si

b.

NIP

: 19650811 198803 1 001

c.

Alamat / No HP

: Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman

Yogyakarta / 08122969342

d.

Alamat email

: [email protected]

4.

Anggota Pelaksana

: 11 orang

1)

Fitri Arkham Fauziah, S.Kep.

2)

Nurita Aryakhiyati, S.Kep.

3)

Mawar Putri Julica, S.Kg.

4)

Lafi Munira

5)

Endah Sulistyowati

6)

Fatia Nur Masriati

7)

dr. Samuel Josafat Olam

8)

Candrika Dini

9)

Maryam Afifah

10)

Redho Meisudi

11)

Saskia Piscesa

5.

waktu pelaksanaan

: 5 bulan

Jakarta, 1 Desember 2011

Mengetahui,

Sekretaris Eksekutif Proyek

HPEQ-DIKTI

Dr. dr. Arsitawati P. Rahardjo, MA-HM

Ketua Pelaksana

Mariyono Sedyowinarso, S.Kp., M.Si

Menyetujui,

Ketua Proyek HPEQ-DIKTI

(6)

6

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Pendidikan adalah kunci untuk mengembangkan dan mengubah metode serta

kualitas pelayanan kesehatan (Majumdar et al., 1998 cit Steinert, 2005).

Interprofessional education (IPE) adalah salah satu konsep pendidikan yang

dicetuskan oleh WHO sebagai pendidikan yang terintegrasi untuk peningkatan

kemampuan kolaborasi. Centre for the Advancement of Interprofessional

Education (CAIPE) (2002) menyebutkan, IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi

kesehatan belajar bersama, belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari

peran masing-masing profesi kesehatan untuk meningkatkan kemampuan

kolaborasi dan kualitas pelayanan kesehatan. Menurut Universitas Toronto (2009)

IPE bertujuan untuk menghasilkan mahasiswa profesi kesehatan dengan

pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan praktek kolaborasi

interprofesional.

Penelitian yang diakukan oleh Larson (1995) dan diperkuat penelitian lebih

lanjut oleh American Association of Colleges of Nursing, pada tahun 1995

ditemukan bahwa 15% dari institusi pendidikan keperawatan dan kedokteran di

Amerika Serikat berhasil melakukan program interdisiplin yang terdiri dari

disiplin ilmu yang berbeda. Penelitian yang dilakukan Stewart et al. (2010)

menujukkan bahwa setelah dilakukan workshop pendekatan interprofesional

pengobatan pediatrik terhadap 48 mahasiswa kedokteran dan 20 mahasiswa

keperawatan terdapat peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang keamanan

(7)

7

pengobatan dan penyebab-penyebab kesalahan medikasi pada pediatrik.

Mahasiswa melaporkan bahwa belajar membuat resep dan administrasi obat pada

pediatrik akan lebih efektif jika dilakukan bersama profesi kesehatan dari disiplin

ilmu lain dibandingkan dengan hanya dengan satu disiplin ilmu.

Uraian di atas menjabarkan betapa pentingnya penerapan IPE untuk

peningkatan kemampuan kolaborasi profesional di bidang kesehatan. Untuk itu

organisasi mahasiswa ilmu kesehatan yang terdiri dari Center for Indonesian

Medical Students' Activities (CIMSA), Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran

Indonesia (ISMKI), Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia

(ILMIKI), Persatuan Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI), Ikatan

Mahasiswa Kebidanan (IMABI), Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh

Indonesia (ISMAFARSI), Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat

Indonesia (ISMKMI), dan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Gizi Indonesia

(ILMAGI) bersama-sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen

Dikti), Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) melalui Health

Professional Education Quality (HPEQ) Project memandang perlu untuk

melakukan penelitian dan pengkajian lebih jauh tentang IPE pada mahasiswa dan

dosen pengajar ilmu kesehatan di Indonesia. Kajian yang akan dilakukan berupa

pengukuran persepsi dan kesiapan mahasiswa dan dosen pengajar ilmu kesehatan

Indonesia dari tujuh profesi kesehatan terhadap IPE, menggali harapan mahasiswa

dan dosen pengajar ilmu kesehatan Indonesia terhadap metode pembelajaran IPE

yang memungkinkan untuk diterapkan, serta menilai efektifitas pembelajaran IPE

melalui simulasi.

(8)

8

Kajian IPE pada mahasiswa merupakan bentuk kajian awal yang paling

penting dan paling sering dilakukan di beberapa negara yang telah menerapkan

dan mulai mengembangkan IPE karena mahasiswa merupakan pemangku

kepentingan utama dalam upaya pengembangan dan penerapan IPE mulai dari

tingkat institusi. Persepsi mereka terhadap metode pembelejaran IPE dapat

menjadi modal utama untuk pengembangan IPE.

Penelitian IPE pada mahasiswa dan dosen pengajar di Indonesia sudah mulai

dilakukan di institusi pendidikan tinggi formal yang menyelenggarakan program

pendidikan lebih dari satu program. Penelitian yang dilakukan oleh A’la (2010),

Fauziah (2010), dan Aryakhiyati (2011) tentang persepsi dan kesiapan terhadap

IPE pada mahasiswa dan dosen pengajar Fakultas Kedokteran UGM menunjukkan

hasil yang positif. Mayoritas mahasiswa tahap akademik menunjukkan kesiapan

yang baik terhadap IPE (sebanyak 92,8%) dan sebanyak 86,8% mahasiswa

memiliki persepsi yang baik terhadap IPE (A’la, 2010). Mahasiswa tahap profesi

menunjukkan tingkat kesiapan yang baik terhadap IPE (sebanyak 87,97 %) dan

sebanyak 83,46% menunjukkan mereka berada pada tingkat persepsi yang baik

terhadap IPE. Mayoritas dosen pengajar FK UGM menunjukkan nilai kesiapan

terhadap IPE pada kategori baik (79.45%). Hasil penelitian yang baik di atas

semakin disempurnakan dengan penelitian A’la, et al (2010) yang menunjukkan

terdapat perbedaan yang signifikan pada sikap mahasiswa terhadap IPE setelah

mereka mengikuti simulasi kegiatan perkuliahan interprofesi.

Untuk melanjutkan usaha pengembangan IPE di Indonesia tersebut,

diperlukan suatu penelitian untuk menjaring persepsi mahasiswa mengenai

(9)

9

metode pembelajaran IPE yang dianggap baik untuk dikembangkan di Indonesia.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penyusun kurikulum

pendidikan ilmu kesehatan baik di tingkat nasional maupun institusi untuk

mengembangkan IPE dalam sistem pendidikan ilmu kesehatan di Indonesia

sehingga kemampuan kolaborasi profesional di bidang kesehatan dapat meningkat

dan dapat berperan dalam memajukan kesehatan di Indonesia.

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti ingin mengetahui

bagaimana persepsi mahasiswa terhadap metode pembelajaran IPE di Indonesia.

C.

Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:

1.

untuk mengetahui persepsi mahasiswa ilmu kesehatan Indonesia

terhadap metode pembelajaran IPE yang memungkinkan diterapkan

pada tahap pendidkan akademik

2.

untuk mengembangkan model simulasi pembelajaran IPE yang sesuai

dengan harapan mahasiswa serta pengajar ilmu kesehatan Indonesia

D.

Manfaat Penelitian

1.

Manfaat teoritis

(10)

10

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan di

bidang pendidikan ilmu kesehatan dengan mengembangkan IPE di dalam

pendidikan ilmu kesehatan.

2.

Manfaat praktis

a.

Bagi institusi pendidikan

Sebagai

salah

satu

bahan

pertimbangan

bagi

pengelola

untuk

mengembangkan kurikulum IPE dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan

kesehatan di Indonesia dengan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu

berkolaborasi dengan baik.

b.

Bagi mahasiswa

Meningkatkan peran mahasiswa dalam pengembangan pendidikan ilmu

kesehatan di Indonesia.

E.

Keaslian Penelitian

1.

Penelitian serupa dilakukan oleh Fauziah (2010) yang berjudul Analisis

Gambaran Persepsi dan Kesiapan Mahasiswa Profesi Fakultas Kedokteran

UGM terhadap Interprofessional Education di tatanan klinik. Jenis penelitian

ini adalah deskriptif eksploratif dengan rancangan cross sectional dan

pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan data kuamtitatif dengan

menggunakan kuisioner IEPS (Interdiciplinary Education Perception Scale)

dan RIPLS (Readiness Interprofessional Learning Scale). Pengambilan data

kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Studi kuantitatif dilakukan

terhadap 133 mahasiswa pendidikan dokter dan ilmu keperawatan tahap

(11)

11

pendidikan profesi. Hasilnya 117 (87,97%) mahasiswa memiliki persepsi baik

terhadap IPE dan 111 (83,46%) mahasiswa menunjukkan kesiapan yang baik

terhadap IPE.

Penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan sama-sama meneliti

variabel persepsi dan kesiapan. Namun, pada penelitian kali ini pendekatan

yang dilakukan hanya kualitatif melalui Focused Group Discussion. Sampel

penelitian juga memiliki perbedaan, yaitu penelitian ini akan dilakukan pada

tujuh profesi ilmu kesehatan, yaitu kedokteran, kedokteran gigi, ilmu

keperawatan, kebidanan, farmasi, ilmu gizi dan kesehatan masyarakat.

Penelitian Fauziah dilakukan hanya di Fakultas Kedokteran UGM, sedangkan

penelitian ini dikerjakan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan

2.

Penelitian serupa dilakukan oleh A’la (2010) yang berjudul Gambaran

Persepsi

dan

Kesiapan

Mahasiswa

Tahap

Akademik

terhadap

Interprofessional Education di Fakultas Kedokteran UGM. Jenis penelitian

ini adalah deskriptif eksploratif dengan rancangan cross sectional dan

pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan data kuantitatif dengan

menggunakan kuisioner IEPS dan RIPLS. Pengambilan data kualitatif

dilakukan dengan focus group discussion (FGD). Penelitian dilakukan

terhadap mahasiswa tahap akademik dari pendidikan dokter, ilmu

keperawatan, dan gizi kesehatan. Hasilnya, persepsi terhadap IPE mayoritas

baik yaitu 86,8% dan kesiapan terhadap IPE mayoritas baik sebanyak 92,8%.

Penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan sama-sama

dilakukan di FK UGM, meneliti variabel kesiapan yang sama dan dengan

(12)

12

kuisioner yang sama. Perbedaan terletak pada variable sikap dosen terhadap

kerja tim kesehatan dan sikap dosen terhadap penerapan pembelajaran

interprofessional

di lingkungan pendidikan. Sampel yang akan dilakukan

oleh peneliti adalah juga berbeda, sampel penelitian A’la (2010) adalah

mahasiswa pendidikan dokter, ilmu keperawatan dan gizi kesehatan tahap

akademik.

3.

Penelitian dengan tujuan yang sama dilakukan juga oleh Lindqvist & Reeves

(2007) yang berjudul Facilitator’s perceptions of delivering interprofessional

education: a qualitative study.

Penelitian kualitatif ini dilakukan terhadap 13

orang staff pendidik. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara

kelompok (n=5; n=8). Hasilnya, persepsi staff pendidik dinilai baik.

Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terletak pada

pendekatan penelitian yang akan dilakukan, tempat, variable dan kuisioner.

Penelitian kali ini akan dilakukan dengan pendekatan kuantitatif

4.

Curran, et al (2007) telah melakukan penelitian serupa berjudul Attitudes of

health sciences faculty members towards interprofessional teamwork and

education.

Penelitian dilakukan terhadap 194 orang staf fakultas kesehatan.

Sebanyak 38% responden berusia 50 – 59 tahun, 53% dilaporkan telah

menjalani profesi kesehatan selama 21 atau lebih, dan 79,7% menyatakan

memiliki pengalaman praktek kolaborasi interprofessional. Hasil penelitian

menunjukkan 63,0% staf memiliki sikap baik terhadap pendidikan dan

praktek interprofessional. Pengambilan data kuantitatif dengan menggunakan

kuesioner Attitude toward health care team scale, RIPLS modifikasi, dan

(13)

13

kuesioner pengukuran sikap terhadap pembelajaran interprofesi di lingkungan

pendidikan.

Perbedaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terletak pada

tempat dan responden penelitian. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian

ini adalah kuesioner RIPLS modifikasi dan kuesioner pengukuran sikap

terhadap pembelajaran interprofesi di lingkungan pendidikan.

(14)

14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Interprofessional Education (IPE)

IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi kesehatan belajar bersama,

belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari peran masing-masing profesi

kesehatan untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dan kualitas pelayanan

kesehatan (CAIPE, 2002).

a.

Karakteristik Utama Model IPE yang Ideal

Pengembangan model IPE yang ideal harus dimulai dengan persamaan

paradigma bahwa IPE hanyalah langkah awal dari tujuan utama dalam upaya

meningkatkan pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien. Pendekatan

interprofessional akan memfasilitasi dengan lebih baik mahasiswa dari satu

disiplin ilmu untuk belajar dari disiplin ilmu lainnya. Pembelajaran bersama

antardisiplin ilmu dapat meningkatkan keterampilan baru mahasiswa yang akan

memperkaya keterampilan khusus yang dimiliki masing-masing disiplin dan

mampu bekerja sama lebih baik dalam lingkungan tim yang terintegrasi. Selama

ini penerapan IPE masih tidak konsisten, untuk itu harus dibuat sebuah komitmen

sehingga pembelajaran interprofesional dapat diterapkan di institusi pendidikan

dan diterapkan dalam kurikulum pendidikan di semua program pelayanan

kesehatan untuk memastikan keberadaan jangka panjang IPE yang berkelanjutan

(ACCP, 2009)

(15)

15

b.

Kompetensi IPE

Tujuan akhir IPE mengharapkan mahasiswa mampu mengembangkan

kompetensi yang diperlukan untuk berkolaborasi. Barr (1998) menjabarkan

kompetensi kolaborasi, yaitu: 1) memahami peran, tanggungjawab dan

kompetensi profesi lain dengan jelas, 2) bekerja dengan profesi lain untuk

memecahkan konflik dalam memutuskan perawatan dan pengobatan pasien, 3)

bekerja dengan profesi lain untuk mengkaji, merencanakan, dan memantau

perawatan pasien, 4) menoleransi perbedaan, kesalahpahaman dan kekurangan

profesi lain, 5) memfasilitasi pertemuan interprofessional, dan 6) memasuki

hubungan saling tergantung dengan profesi kesehatan lain.

ACCP (2009) membagi kompetensi untuk IPE terdiri atas empat bagian

yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan tim (Tabel 1).

Tabel 1. Kompetensi untuk IPE (ACCP, 2009)

No

Kompetensi utama IPE

Komponen kompetensi IPE

1.

Kompetensi pengetahuan

Isyarat/strategi asosiasi

Model berbagi tugas/pengkajian situasi

Kebiasaan karakter rekan satu tim

Pengetahuan terhadap tugas tim

Tanggungjawab tugas spesifik

2.

Kompetensi keterampilan

Pemantauan kinerja secara bersama-sama

Fleksibilitas/penyesuaian

Dukungan/perilaku mendukung

Kepemimpinan tim

Pemecahan konflik

Umpan balik

Komunikasi

pengulangan-tertutup/pertukaran informasi

3.

Kompetensi sikap

Orientasi tim (moral)

Kemajuan bersama

Berbagi pandangan

4.

Kompetensi kemampuan

tim

Kepaduan tim

Saling percaya

Orientasi bersama

(16)

16

Kepentingan kerja kelompok

Bagi dosen, kompetensi IPE untuk mengajarkan dan memfasilitasi

kelompok pembelajaran interprofessional mutlak diperlukan. Freeth (2005)

mengungkapkan bahwa staff pendidik harus mengenali dan menyadari potensi

pembelajaran dalam dinamika kelompok interprofessional. Hal ini sangat sesuai

dengan dengan tanggung jawab staff pendidik untuk memberikan kesempatan

yang sama demi pembelajaran individu yang efektif bagi masing-masing anggota

kelompok.

Tabel 2. Kompetensi pengajaran IPE (Freeth, 2005)

1.

Sebuah komitmen terhadap pembelajaran dan praktek interprofessional

2.

Kepercayaan dalam hubungan pada focus tertentu dari pembelajaran

interprofessional di mana staff pendidik berkontribusi

3.

Model peran yang positif

4.

Pemahaman yang dalam terhadap metode pembelajaran interaktif dan percaya

diri dalam menerapkannya

5.

Kepercayaan dan fleksibilitas untuk menggunakan perbedaan profesi secara

kreatif dalam kelompok

6.

Menghargai perbedaan dan kontribusi unik dari masing-masing anggota

kelompok

7.

Menyesuaikan kebutuhan individu dengan kebutuhan kelompok

8.

Meyakinkan dan memiliki selera humor dalam menghadapi kesulitan

c.

Sifat belajar mengajar dalam IPE

Freeth (2005) melakukan analisis sifat belajar mengajar dalam IPE yang

sebelumnya telah dijabarkan oleh Brookfiel (1986). Pembelajar dewasa adalah

pelajar yang mempunyai kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri. Hasil

pembelajaran mungkin akan lebih positif jika pelajar memilih sendiri tujuan,

konten, dan metode pembelajaran. Hal ini akan menimbulkan tantangan tersendiri

bagi staff pengajar IPE. Peserta didik juga perlu mengidentifikasi apakah

(17)

17

kebutuhan belajar mereka sejalan dengan hasil belajar yang diharapkan dan

apakah pendekatan belajar yang mereka sukai sudah tepat. Ketidak cocokan dapat

menimbulkan negosiasi dan memberikan kesempatan untuk pembelajaran

kolaborasi.

Pendidik dan fasilitator perlu menghormati kebutuhan, kepribadian dan

pilihan belajar pelajar dewasa. Dalam IPE, peserta didik dan pendidik dari profesi

yang berbeda harus menerima dan menghargai perbedaan masing-masing dan

belajar dari hal ini.

Pengalaman awal peserta didik adalah hal yang terpenting. Pengalaman

hidup adalah tingkat kedua untuk belajar dan mendefinisikan kebutuhan khusus

tiap individu. Pengalaman hidup profesional, pengaruh mereka pada sikap

profesional dan perilaku menyediakan dasar untuk pertukaran interprofesional.

Peserta dapat saling membandingkan pengalaman dan perspektif masing-masing

yang terkadang saling menantang.

Pembelajaran aktif adalah jantung pembelajaran dewasa. Hal ini berlaku

bagi

pembelajaran

profesional

terutama

pembelajaran

interprofesional.

Pembelajan aktif berarti perubahan yang hanya terjadi jika sebelumnya sikap dan

kepercayaan terbuka untuk tantangan di tempat yang aman, yaitu lingkungan

belajar yang mendukungan dan saling bekerjasama.

Belajar harus saling terkait. IPE mungkin sengaja diciptakan sebagai

tanggapan terhadap kebutuhan yang dirasakan tim, organisasi, profesi atau seluruh

sistem pemberi pelayanan. Tekanan belajar harus dikurangi sebelum peserta

(18)

18

termotivasi untuk belajar. IPE walaupun dirancang untuk kelompok, pada

akhirnya bertujuan untuk pengembangan masing-masing individu.

d.

Pendekatan belajar mengajar dalam IPE

Pendekatan belajar mengajar yang sudah ada disesuaikan dan

dikembangkan sebagai metode balajar baru sebagai penarik perhatian belajar

peserta didik dan inovasi baru dari pengajar. Tidak satu pun metode yang menjadi

pilihan utama, metode pengalaman mengajar dari pengajar dapat berubah

sewaktu-waktu tergantung pada kebutuhan belajar peserta didik dan bagaimana

cara pengajar untuk menjaga perhatian peserta didik terhadap pelajaran.

Metode-metode balajar yang ada dapat saling memperkuat, tidak berdiri sendiri.

Pendekatan belajar mengajar yang dapat diterapkan dalam IPE yaitu

exchange-based learning, action-exchange-based learning, practice-exchange-based learning, simulation-exchange-based

learning, observation-based learning, dan e-based learning.

Exchange-based learning

merupakan salah satu cara yang digunakan

untuk memungkinkan para peserta mengungkapkan perasaan, membandingkan

pandangan pertukaran pengalaman. Debat tentang masalah etika dapat

mengekspos nilai yang mendasari perbedaan antara profesi. Permainan yang

memainkan hubungan kerja antara profesi dan antara organisasi dapat

meringankan belajar tetapi tetap berisi konten serius. Studi kasus dapat

meningkatkan peran aktif peserta dari profesi yang berbeda untuk

memperkenalkan pemahaman yang berbeda dan menyarankan intervensi berbeda

sebagai kelompok kerja terhadap respon kolaboratif.

(19)

19

Action-based learning, atau problem-based learning (PBL), atau

enquiry-based learning (EBL), sejak tahun 1970 telah menjadi rekomendasi WHO sebagai

metode pembelajaran untuk interprofessional. Sistem pembelajaran ini tidak

dirancang untuk menyelesaikan masalah saat ini. Bukti menunjukkan bahwa PBL

mendorong kebebasan, kerja tim, ilmu pengetahuan yang lebih terintegrasi, dan

pembelajaran mendalam (Bligh, 1995). Hughes dan Lucas (1997) menemukan

bahwa PBL efektif dalam mencapai tujuan IPE seperti belajar tentang peran dan

meningkatkan keterampilan komunikasi interprofessional.

Interprofessional practice-based learning mengambil beberapa bentuk

penugasan luar dalam lingkungan kerja profesi lain, pembelajaran terkait untuk

peserta didik secara bersamaan pada penempatan di tempat kerja yang berdekatan,

penempatan bersama di pengaturan yang sama dan tujuan yang dirancang untuk

lingkungan belajar seperti pelatihan bangsal (Reeves dan Freeth, 2002; Ponzer et

al., 2004).

Simulation-based learning

dapat menggunakan permainan peran yang

diadaptasi untuk memaparkan hubungan kerja antara profesi, peserta berperan

sebagai klien, pemberi pelayanan atau praktisi dari diri mereka sendiri atau

perspektif profesi lain. Keterampilan laboratoroim dikenalkan dalam pendidikan

professional, misalnya pada kedokteran dan keperawatan, dalam kondisi ini bisa

dikembangkan penyertaan dua profesi atau lebih dan perspektif interprofessional

dalam diagnosis dan pengobatan. Kehidupan kerja bisa disimulasikan di dalam

lingkungan belajar di mana hubungan tiap-tiap orang, tiap-tiap kelompok, dan

tiap-tiap organisasi bisa ditunjukkan keluar.

(20)

20

Observation-based learning, pelajar secara sederhana diminta untuk

mengamati pertemuan tim multidisiplin dengan menggunakan metode studi

observasional yang lebih canggih.

E-based learning timbul karena adanya peningkatan pengenalan dunia

elektronik, ditambah dengan pembelajaran kesehatan dan profesi kesehatan

sehingga dapat memperbesar peluang penerapan IPE. Penerapan teknologi ini

dalam IPE digunakan untuk melengkapi dan memperkuat pembelajaran tatap

muka atau sebagai penggantinya (Freeth, 2005)

e.

Manfaat IPE

Barr, et al (2005) memformulasikan bentuk rantai yang dimodifikasi

untuk mendemonstrasikan seperti apakah pendidikan, yang mengarahkan pada

praktek interprofessional tidak hanya sebagai tempat potensial untuk meredakan

stress tapi juga meningkatkan pelayanan pasien.

(21)

21

Gambar 1. Rantai reaksi (Barr, et al, 2005)

f.

Hambatan IPE

Walaupun IPE telah diterapkan selama beberapa dekade, banyak

hambatan yang telah diidentifikasi. Hambatan ini terdapat dalam berbagai

tingkatan dan terdapat pada pengorganisasian, pelaksanaan, komunikasi, budaya

ataupun sikap. Sangat penting untuk mengatasi hambatan-hambatan ini sebagai

persiapan mahasiswa dan praktisi profesi kesehatan yang lebih baik demi praktek

(22)

22

kolaborasi hingga perubahan system pelayanan kesehatan. Hambatan-hambatan

yang mungkin mucul adalah penanggalan akademik, peraturan akademik, truktur

penghargaan akademik, lahan praktek klinik, masalah komunikasi, bagian

kedisiplinan, bagian professional, evaluasi, pengembangan pengajar, sumber

keuangan, jarak geografis, kekurangan pengajar interdisipliner, kepemimpinan

dan dukungan administrasi, tingkat persiapan peserta didik, logistic, kekuatan

pengaturan, promosi, perhatian dan penghargaan, resistensi perubahan, beasiswa,

system penggajian, dan komitmen terhadap waktu (ACCP, 2009).

(23)

23

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.

Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif studi kasus. Pendekatan yang

digunakan adalah kombinasi pendekatan kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk

mengeksplorasi persepsi mahasiswa profesi kesehatan mengenai IPE di tatanan

pendidikan Sarjana. Pengambilan data digunakan Diskusi Kelompok Terarah

(DKT).

B.

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada,

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Fakultas Farmasi Universitas

Ahmad

Dahlan,

Fakultas

Kesehatan

Masyarakat

Universitas

Ahmad

Dahlan,Yogyakarta, Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas

Negeri Surakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin, Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Hasanudin, Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin, Program Studi Kebidanan

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia Timur, Makasar pada bulan Juli -

Desember 2011.

C.

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah mahasiswa ilmu kesehatan di Fakultas

Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Gadjah Mada, Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Fakultas Kesehatan

(24)

24

Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan,Yogyakarta, Program Studi Kebidanan

Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surakarta, Fakultas Kedokteran

Universitas Hasanudin, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas, Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Hasanudin, Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin,

Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia Timur,

Makasar tahap sarjana. Wilayah dipilih berdasarkan pertimbangan kelengkapan

jumlah program studi pada suatu universitas.

Pengambilan data kualitatif dilakukan dengan cara DKT. Responden DKT

adalah mahasiswa informan yang memiliki persepsi dan kesiapan baik berasal dari

wilayah Yogyakarta, Surakarta dan Makasar. Menurut Moleong(2006) dan

Sarwono (2006) peserta DKT yang ideal adalah 6-10 orang. Pada penelitian kali

DKT akan dilakukan pada dua kelompok, terdiri dari tujuh program studi yaitu

pendidikan dokter, pendidikan dokter gigi, ilmu keperawatan, ilmu gizi, kesehatan

masyarakatan, kebidanan dan Farmasi. Setiap DKT akan dihadiri oleh tujuh

mahasiswa perwakilan setiap program studi pada kota Yogyakarta dan Makasar.

Total informan DKT pada penelitian ini adalah 28 orang yang terdiri 14 informan

dari setiap kota. Kriteria inklusi partisipan mahasiswa adalah:

1.

mahasiswa tahun akhir tahap akademik

2.

memiliki pengalaman organisasi kemahasiswaan minimal 1 tahun

3.

menjadi responden pada studi kuantitatif

(25)

25

Kriteria eksklusi sampel penelitian ini adalah mahasiswa yang pada saat

penelitian berlangsung sedang cuti atau tidak berada dalam lingkungan institusi

pendidikannya.

D.

Definisi Operasional

Definisi operasional variabel pada penelitian ini dapat dijabarkan sebagai

berikut:

1.

IPE adalah suatu pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh dua atau

lebih profesi yang berbeda dan mengenai berbagai profesi untuk

meningkatkan kolaborasi dan kualitas pelayanan.

2.

Persepsi adalah proses yang dilalui oleh penginderaan, yaitu merupakan

proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat

reseptornya dan terjadilah proses psikologis, sehingga individu menyadari

apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar dan menimbulkan pandangan

pribadi mahasiswa kesehatan terhadap IPE. Persepsi akan diukur dengan

Interdisciplinary Education Perception Scale

(IEPS) yang terdiri dari 5

skala likert. Jenis skala data yang diperoleh adalah ordinal.

3.

Mahasiswa tahap sarjana adalah mahasiswa tahun akhir pendidikan sarjana

(S1). Terdapat tujuh program studi yaitu pendidikan dokter, pendidikan

dokter gigi, ilmu keperawatan, ilmu gizi, kesehatan masyarakatan,

kebidanan dan Farmasi.

(26)

26

Instrumen untuk pendekatan kualitiatif adalah peneliti sendiri.

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik DKT. Instrumen untuk pengambilan

data pada pendekatan ini adalah panduan DKT.

Penelitian ini dilakukan di lingkungan mahasiswa ilmu kesehatan di Fakultas

Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Gadjah Mada, Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan,Yogyakarta, Program Studi Kebidanan

Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Surakarta, Fakultas Kedokteran

Universitas Hasanudin, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas, Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Hasanudin, Fakultas Farmasi Universitas Hasanudin,

Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia Timur,

Makasar. Secara umum penelitian ini dibagi menjai 3 tahapan pokok yaitu

persiapan, pelaksanaan penelitian dan penyusunan laporan. Adapun uraiannya

adalah sebagai berikut:

1.

Tahap Persiapan

Tahap persiapan ini dilaksanakan antara bulan Juli 2011 sampai dengan

Desember 2011. Pada tahap ini peneliti menetapkan tema dan judul penelitian

pada bulan Juni 2011. Pembuatan proposal penelitian dilakukan pada bulan

Juni-Agustus 2011 yang diiringi dengan pembuatan panduan DKT. Identifikasi sample

penelitian dilaksanakan pada tanggal 13 Agusutus 2011. Pertanyaan DKT

disusun pada tanggal 21 Agustus 2011. Identifikasi informan DKT dan

pembahasan teknis penelitian dilakukan pada tanggal 8 Oktiber 2011. Penelitian

ini dilaksanakan setelah lolos uji etik dari pihak Komisi Etik Penelitian Kesehatan

(27)

27

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Indonesia

pada tanggal 24 Oktober 2011.

2.

Tahap Pelaksanaan

Training fasilitatror DKT Ahli dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2011.

Tahap pelaksanaan DKT ahli dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2011.

Transkrip DKT Ahli dilakukan selama awal November 2011.Persamaan persepsi

DKT mahasiswa dilaksanakan pada 12 November 2011 dengan DKT di

yogyakarta dilaksanakan pada 13 November 2011 dengan dihadiri oleh 98

informan yang didapatkan melalui penyeleksian informan penelitian. Saat

menyeleksi informan penelitian, peneliti mendapatkan data nama-nama

mahasiswa tahap sarjana dari bagian akademik masing-masing institusi. Sejalan

dengan penyeleksian informan peneliti juga melakukan uji validitas dan

realiabilitas terhadap instrumen penelitian.

Setelah mendapatkan data informan DKT pada minggu pertama bulan

November 2011 peneliti mengidentifikasi tempat pelaksanaan DKT di kota

Yogyakarta dan Makassar. Setelah mendapatkan tingkat validitas dan realiabilitas

yang meyakinkan peneliti melakukan pengambilan data. Pengumpulan data

selama bulan November 2011 pada tanggal 13 November di Yogyakarta dan 20

November di Makassar. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan DKT.

Sebelum melakukan DKT peneliti mengirimkan beberapa pertanyaan serta

panduan DKT pada ahli di bidang IPE. Hasil pada tahap ini berupa panduan serta

(28)

28

pertanyaan untuk tahap DKT. Teknik sampling yang digunakan adalah purpose

sampling.

Peneliti melakukan kontrak waktu dengan responden. Setelah itu, di mulai

pelaksanaan DKT kepada 98 mahasiswa kesehatan, pengumpulan data digunakan

dengan metode DKT dilakukan dalam empat kelompok. Masing-masing

kelompok DKT akan diikuti oleh 7 bidang ilmu kesehatan. Pelaksanaan dilakukan

dengan cara responden dikumpulkan pada waktu dan tempat yang telah di

sepakati. DKT ini diharapkan menghasilkan outcome beberapa usulan metode

pembelajaran dari partisipan. Kemudian peneliti memilih salah satu metode yang

memungkinkan untuk dilaksanakan. Setelah memilih metode tersebut akan

disimulasikan kepada partisipan mahasiswa dalam kualitatif tahap II.

Setelah mendapatkan data dari DKT maka dilakukan analisis data kualitatif

pada 29-30 November 2011.

3.

Tahap penyusunan laporan

Setelah data terkumpul, dianalisis, dibahas, dan ditarik kesimpulan, akhirnya

pada tanggal 26 – 31 Desember 2011 semua hasil yang diperoleh disusun menjadi

sebuah laporan penelitian.

F.

Analisis Data

Marshall dan Rossman mengajukan teknik analisa data kualitatif untuk

proses analisis data dalam penelitian ini. Dalam menganalisa penelitian

kualitatif terdapat beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan

(Marshall dan Rossman dalam Kabalmay, 2002), diantaranya :

(29)

29

Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara

mendalam (indepth inteviwer), dimana data tersebut direkam dengan tape

recoeder dibantu alat tulis lainya. Kemudian dibuatkan transkipnya dengan

mengubah hasil wawancara dari bentuk rekaman menjadi bentuk tertulis

secara verbatim. Data yang telah didapat dibaca berulang-ulang agar

penulis mengerti benar data atau hasil yang telah di dapatkan.

2.

Pengelompokan berdasarkan Kategori, Tema dan pola jawaban

Pada tahap ini dibutuhkan pengertiaan yang mendalam terhadap data,

perhatiaan yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di

luar apa yang ingin digali. Berdasarkan kerangka teori dan pedoman

wawancara, peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai

acuan dan pedoman dalam mekukan coding. Dengan pedoman ini, peneliti

kemudian kembali membaca transkip wawancara dan melakukan coding,

melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data

yang relevan diberi kode dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokan

atau dikategorikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat.

Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap sebuah kasus yang diteliti.

Peneliti menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman terhadap

hal-hal diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokan

tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan

tema-tema penting serta kata kuncinya. Sehingga peneliti dapat

menangkap penagalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada

subjek.

(30)

30

3.

Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data

Setelah kategori pola data tergambar dengan jelas, peneliti menguji data

tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada

tahap ini kategori yang telah didapat melalui analisis ditinjau kemabali

berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga

dapat dicocokan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan

hasil yang dicapai. Walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis

tertentu, namun dari landasan teori dapat dibuat asumsi-asumsi mengenai

hubungan antara konsep-konsep dan factor-faktor yang ada.

4.

Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data

Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud,

peneliti masuk ke dalam tahap penejelasan. Dan berdasarkan kesimpulan

yang telah didapat dari kaitanya tersebut, penulis merasa perlu mencari

suatau alternative penjelasan lain tetnag kesimpulan yang telah didapat.

Sebab dalam penelitian kualitatif memang selalu ada alternative penjelasan

yang lain. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdpat hal-hal yang

menyimpang dari asumsi atau tidak terfikir sebelumnya. Pada tahap ini

akan dijelaskan dengan alternative lain melalui referensi atau teori-teori

lain. Alternatif ini akan sangat berguna pada bagian pembahasan,

kesimpulan dan saran.

5.

\Menulis Hasil Penelitian

Penulisan data subjek yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu

hal yang membantu penulis unntuk memeriksa kembali apakah

(31)

31

kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang

dipakaiadalah presentase data yang didapat yaitu, penulisan data-data hasil

penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek

dan significant other. Proses dimulai dari data-data yang diperoleh dari

subjek dan significant other, dibaca berulang kali sehinggga penulis

mengerti benar permasalahanya, kemudian dianalisis, sehingga didapat

gambaran mengenai penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya

dilakukan interprestasi secara keseluruhan, dimana di dalamnya

mencangkup keseluruhan kesimpulan dari hasil penelitian

(32)

32

G.

Waktu Penelitian

NO

KEGIATAN

JULI

AGUSTUS

SEPTEMBER

OKTOBER

NOVEMBER

DESEMBER

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

1

Menyusun proposal penelitian

2

Konsultasi penelitian

3

Identifikasi sampel penelitian

13

4

Menyusun pertanyaan FGD

21

5

Etik dan ijin penelitian

24

6

Konsultasi pertanyaan FGD ahli

8

7

Identifikasi informan FGD

8

8

Membuat TOR fasilitator

8

9

Menentukan fasilitator dan scriber

8

Pertemuan teknis penelitian

8

10

Training fasilitator FGD ahli

29

11

Pelaksanaan FGD ahli

30

12

Pelatihan fasilitaor FGD mahasiswa

12

13

Transkrip data FGD ahli

14

Pelaksanaan FGD mahasiswa

Yogyakarta

13

15

Pelaksanaan FGD mahasiswa

Makassar

19

16

Transkrip data FGD mahasiswa

17

Analisis data FGD

18

Penyusunan laporan

19

Laporan hasil penelitian konferensi

(33)

33

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A.

Karakteristik Responden

Tabel 1. Karakteristik Responden

No

Karakteristik

Jumlah (f)

Persentase

(%)

1

Program studi

Kedokteran

28

14.29

Kedokteran gigi

28

14.29

Ilmu keperawatan

28

14.29

Kebidanan

28

14.29

Farmasi

28

14.28

Ilmu Gizi

28

14.28

Kesehatan Masyarakat

28

14.28

Total

196

100

3

Jenjang Pendidikan

D4

28

14.28

S1

168

85.72

Total

196

100

4

Umur

19

3

1.53

20

63

32.143

21

117

56.7

22

13

6.73

Total

196

100

5

Jenis kelamin

Laki-laki

26

13.27

Perempuan

170

86.73

Total

196

100

6

Tahun masuk (angkatan)

2008

140

71.43

2009

56

28.57

(34)

34

B.

Kompetensi dalam Pembelajaran IPE

Kompetensi dalam

Pembelajaran IPE

Dosen

Kompetensi pengetahuan

• strategi pengabungan pengetahuan

• Analisis situasi

• Pengetahuan terhadap tugas tim

• Tanggungjawab tugas masing-masing

Kompetensi Keterampilan

• Kemampuan adaptasi

• Kemampuan monitoring tim

• Kepemimpinan

• Pemecahan konflik

• Umpan balik

• cara berkomunikasi

Kemampuan tim

• Kepaduan tim

• Saling percaya

• Orientasi bersama

Mahasiswa

Kompetensi pengetahuan

• strategi pengabungan pengetahuan

• Analisis situasi

• Pengetahuan terhadap tugas tim

• Tanggungjawab tugas masing-masing

Kompetensi Keterampilan

• Pemantauan kinerja secara

bersama-sama

• Pemecahan konflik

• Umpan balik

• cara berkomunikasi

• saling mendukung

• Kepemimpinan

Kompetensi Sikap

• Orientasi tim (moral)

• Kemajuan bersama

• Berbagi pandangan

Kemampuan tim

• Kepaduan tim

• Saling percaya

• Orientasi bersama

• Rasa memiliki

(35)

35

C.

Alternatif Metode Pembelajaran yang Mungkin untuk Penerapan IPE

Alternatif Metode

Pembelajaran

Dosen

Mahasiswa

• KKN

• Studi kasus

• PBL

• skills lab

• Kuliah bersama

• Simulasi

• Kepaniteraan umum bersama

• Role Play

• Penelitian bersama

• zp

• KKN

• Diskusi kasus

• e-learning

• Skills lab terintegrasi

• Kuliah umum

• Simulasi

• Role Play

• Koas bersama

• field trip

• ospek

• tutorial

• Organisasi kemahasiswaan

(36)

36

D.

Topik yang Menarik untuk Penerapan IPE

Topik yang

Menarik untuk

Penerapan IPE

Dosen

Mahasiswa

• Komunikasi

• Kerja tim

• Biomedik dasar

• Etika kesehatan

• Profesionalisme bidang kesehatan

• Manajemen bencana masalah kesehatan

global

• (HIV/AIDS, TBC, MDGs)

• Pengenalan kolaborasi

• Biomedik dasar

• Etika kesehatan

• Komunitas

• Manajemen bencana

• Masalah kesehatan global (HIV/AIDS, TBC< MDGS)

• Emergency

• Geriatric

• Kesehatan ibu dan anak

• Promotif dan preventif

• Epidemiologi

• Pengenalan kompetensi tiap profesi

• Pediatrik

(37)

37

E.

Waktu yang Tepat untuk Penerapan IPE

Waktu yang tepat

untuk penerapan

IPE

Dosen

Mahasiswa

• Tahun Awal

• Tahun awal dan tahun akhir

• Penerimahan mahasiswa baru, pertengahan dan tahun akhir

• Penerimaan Mahasiswa Baru

• Tahun awal

• Tahap Profesi (klinik)

• Tahun awal dan tahun akhir

• Penerimaan Mahasiswa baru, pertengahan tahun dan tahun akhir

• Semester 4

(38)

38

F.

Gambaran Dosen Ideal dalam Memfasilitasi Pembelajaran IPE

Gambaran dosen

Ideal

Dosen

• Memahami konsep IPE

• Komunikasi baik

• Menjadi role model

• Memahami kompetensi profesi kesehatan lain

• Inovator/kreatif

• Kemampuan memimpin

• Berwawasan luas

• Memahami konsep ipe

• Komunikasi baik

• Memahami kompetensi profesi kesehatan lain

• Inovator/kreatif

• Kemampuan memimpin

• Pengalaman kolaborasi

• Menghargai antar profesi

• S2 dan S3

• Berpengalaman di klinik

• Berwawasan luas

• Motivator

• Percaya diri

• Mampu membuat modul operasional ipe

Mahasiswa

(39)

39

G.

Indikator Keberhasilan program IPE

Indikator

keberhasilan

program IPE

Dosen

Mahasiswa

• Tercapai kemampuan mahasiswa (soft skill dan hard skill)

• Tercapainya Kemamppuan mahasiswa (mandiri dan kolaborasi)

• Terbentuk bagian khusus IPE

• Nilai lebih baik dari konvensional

• Terbentuk Standar pencapaian pembelajaran

• Ujian integrasi antar profesi dan ujian interen masing-masing

profesi

• Terbentuk Standar evaluasi program dan efektivitas

pembelajaran

• Keterlibatan mahasiswa dalam evaluasi program

• Hasil pre test dan post test

• Terdapat Standar baku penilaian kemampuan mahasiswa yang

disepakati semua pihak fakultas

• Harus SMART (Specific, Measurable, Acceptable, Reasionale,

Timing)

• Program berkesinambungan

• Adanya modul pembelajaran

• Berkembangnya penelitian IPE

• Kemampuan mahasiswa (soft skill dan hard skill)

• Terbentuk bagian khusus IPE

• Terbentuk Standar pencapaian pembelajaran

• Ujian integrasi antar profesi dan ujian interen

masing-masing profesi

• Terbentuk standar evaluasi program dan

efektivitas pembelajaran

• Keterlibatan mahasiswa dalam evaluasi program

• Aktivitas organisasi mahasiswa antar profesi

• Kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran

• Terbentuk standar baku penilaian kemampuan

mahasiswa yang disepakati semua pihak fakultas

• Kemamppuan mahasiswa (mandiri dan

(40)

40

H.

Persiapan pelaksanaan IPE

Persiapan pelaksanaan

IPE

Dosen

Mahasiswa

• Fasilitator

• komitmen mitra institusi

• Bagian administrasi koordinator IPE

• Lahan praktik

• fasilitas fisik

• standar kurikulum

• SOP penyelenggaraan IPE dari DIKTI

• Kebijakan hukum dan regulasi

• komitmen antar institusi

• Sinkronisasi Birokrasi

• Fasilitator

• Bagian administrasi koordinator IPE

• fasilitas fisik

• standar kurikulum

• SOP penyelenggaraan IPE dari DIKTI

• Kebijakan hukum dan regulasi

• komitmen antar institusi

• Sinkronisasi Birokrasi

• Modul pembelajaran

• Kajian IPE

(41)

41

I.

Hambatan dalam pelaksanaan IPE

Hambatan dalam

pelaksanaan IPE

Dosen

Mahasiswa

• Ego masing-masing fakultas

• Peraturan dan birokrasi yang berbeda antar fakultas

• Nama fakultas kedokteran

• Kekaburan peran masing-masing profesi

• Belum ada payung hukum semua profesi kesehatan

• Masalah internal sejawat

• Pendanaan

• Perbedaan kurikulum

• Keberagaman jenjang pendidikan

• Ego masing masing profesi pada mahasiswa

• Ego masing-masing fakultas

• Peraturan dan birokrasi yang berbeda antar fakultas

• Kurangnya kesadaran tiap fakultaas kesehatan terhadap IPE

• Belum tersedianya fasilitator yang paham IPE

• Pandangan masyarakat terhadapp profesi kesehatan

• Nama Fakultas Kedokteran

• Masalah internal sejawat

• Komunikasi antar profesi yang masih belum optimal

• Kekaburan peran masing-masing profesi

• Kurang Kepercayaan diri

• Kurangnya forum diskusi antar profesi kesehatan

• Kesibukan kegiatan pembelajaran masing-masing akademik

• Pendanaan

• perbedaan kurikulum

• keberagaman jenjang pendidikan

• Fasilitas integrasi belum mununjang

• Belum ada payung hukum semua profesi kesehatan

• IPE belum tersosialisasikan

(42)

42

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1.

Kompetensi dalam pembelajaran IPE, meliputi kompetensi pengetahuan,

ketrampilan, dan sikap yang terkait dengan kemampuan dalam kerja tim yang

akan dijalaninya dalam melakukan praktik bersama

2.

Alternatif metode pembelajaran yang mungkin untuk penerapan IPE, adalah

metode pembelajaran yang bisa didesign secara komprehensif untuk proses

belajar antar profesi secara bersama-sama. Adapun metode pembelajaran

tersebut meliputi kuliah, diskusi tutorial, skills laboratorium, field study, KKN,

kepaniteraan, praktik klinik. Selain hal tersebut penumbuhan proses belajar

bersama bisa dilakukan pada saat orientasi mahasiswa baru dan dalam kegiatan

organisasi mahasiswa

3.

Topik yang menarik untuk penerapan IPE, meliputi topik-topik yang menarik

dan dan menantang, yang memungkinkan untuk mengembangkan semangat kerja

tim. Topik yang mungkin dikembangakan diantaranya, komunikasi, kerja tim,

profesionalisme bidang kesehatan. Selain topik-topik tersebut, masalah

kesehatan global, masalah bencana, serta upaya promotif dan preventif pada

tatanan pelayanan klinis dan komunitas juga menjadi topik yang menarik untuk

dibahas

4.

Penerapan IPE diharapkan suatu proses yang berkesinambungan yang dimulai

sejak mahasiswa baru, saat pendidikan tahap akademik dan tahap profesi.

(43)

43

5.

Gambarandosen

ideal

dalammemfasilitasipembelajaran

IPE,

memahamikonsep

IPE,

memahamikompetensiprofesikesehatan

lain,

menghargaiprofesi

lain,

memilikipengalamankolaborasi,

inovatif,

mampumenjadipemimpin,

danmampumenjadi

role

model.

Hal

tersebutterwujuddalamkemampuandosendalammenginisiasidanmengembang

kan model pembelajaran IPE

6.

Indikatorkeberhasilan program IPE, adanyastandarpencapaianhasilbelajar,

adanyastandarevaluasi, yang dituangkan dalam standar input, proses, dan out

put yang melibatkan semua komponen yang dijalankansecara SMART

(Specific, Measurable, Aceptable, Reasonable dan Timing)

7.

Persiapan untuk pelakasanaan IPE adalah diawali dengan komitmen antar

institusi pendidikan profesi kesehatan. Selain itu tersedianya sumber daya

fasilitator yang kompeten dan paham IPE, fasilitas fisik, bagian khusus untuk

mengkoordinir program IPE, standar pelaksanaan program IPE, modul

pembelajaran dan standar evaluasi program. Hal ini diperkuat dengan adanya

kekuatan regulasi dan kekuatan hukum.

8.

Hambatan dalam pelaksanaan IPEadalah dari ego masing masing profesi,

beragamnya birokrasi dan kurikulum di tiap institusi pendidikan profesi

kesehatan, fasilitas fisik dan konsep pembelajaran yang belum jelas,

paradigma terhadap profesi kesehatan , kekaburan identitas dan peran

(44)

44

masing – masing profesi, belum adanya kejelasan paying hokum tiap profesi

kesehatan, serta budaya .

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, serta kesimpulan, dapat disarankan

hal-hal berikut :

1.

Bagi institusi pendidikan kesehatan perlunya sosialisasi tentang IPE secara lebih

luas dan komprehensif bagi institusi, setaf pendidik, mahasiswa, dan staf

kependidikan

2.

Bagi institusi pendidikan kesehatan, untuk memulai pengembangan metode

pembelajaran yang mendukung adanya konsep kolaborasi

3.

Bagi pemegang kebijakan pendidikan tinggi kesehatanagar mengitegrasikan IPE

dalam kurikulum baku

4.

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mampu mengembangkan kajian aplikatif

mengenai metode pembelajaran IPE ini dalam bentuk simulasi dan evaluasi

yang lebih komprehensif.

(45)

45

DAFTAR PUSTAKA

A’la, M.Z. (2010) Gambaran Persepsi dan Kesiapan Mahasiswa Tahap Akademik

terhadap Interprofessional Education di Fakultas Kedokteran UGM.

Skripsi

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah

Mada.

American College of Clinical Pharmacy (ACCP). (2009) Interprofessional

Education: Principles and Application, A Framework for Clinical

Pharmacy.

Pharmacotherapy, 29 (3), 145-164.

Anderson, M. (2004) Literature Review for Guidelines Development. Discussion

Paper prepared for Multidisiplinary Collaborative Primary Maternity Care

Project. Ottawa.

Azwar, A.. (1994). Program Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Yayasan

Penerbitan IDI.

Azwar, S.. (2010) Pengukuran Skala Psikologis. Jakarta: Rineka Cipta.

Barr, H., Koppel, I., Reeves, S., Hammick, M. & Freeth, D. (2005) Effective

Interprofessional Education: Argument, Assumption and Evidence. 1

st

ed.

Blackwell Publishing. Oxford.

Barr, H. (1998) Competent to Collaborate: Towards a Competency-based Model for

Interprofessional Education.

Journal of Interprofessional Care, 12:181-187.

Buring, S.M., Bhushan, A., Broeseker, A., Conway, S., Duncan-Hewitt, W., Hansen,

L. & Westberg, S. (2009) Interprofessional Education Supplement:

Interprofessional Education: Edinitions, Student Competencies, and

Guidelines for Impementation.

American Journal of Pharmaceutical

Education, 73 (4) Article 59.

Canadian Interprofessional Health Collaborative (CIHC) (2009) What is

Collaborative Practice.

Gambar

Tabel 1. Kompetensi untuk IPE (ACCP, 2009)  No  Kompetensi utama IPE  Komponen kompetensi IPE  1
Tabel 1. Karakteristik Responden
Tabel 1 Permasalahan dan penyelesaian

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Hammick (2007), dalam buku A Best Evidence Systematic Review of Interprofessional Education mengatakan bahwa pelaksanaan IPE dalam proses pendidikan dapat

Dalam studi pendahuluan yang dilakukan peneliti kepada mahasiswa yang sudah mengikuti IPE, mahasiswa kedokteran dan farmasi mengatakan bahwa IPE merupakan salah

Mayoritas mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UIN Alauddin Makassar memiliki persepsi baik terhadap IPE dengan persentase 92,3% dan tidak ada nilai persepsi yang

Mayoritas dosen memiliki kesiapan terhadap IPE dalam kategori baik (94,5%). Gambaran kesiapan dosen terhadap IPE berdasarkan jurusan menunjukkan bahwa kesiapan dosen

Mayoritas mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UIN Alauddin Makassar memiliki persepsi baik terhadap IPE dengan persentase 92,3% dan tidak ada nilai persepsi yang

Analisis Persepsi, Motivasi, dan Kesiapan Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sumatera Utara pada Interprofessional Education (IPE). Skripsi Fakultas

Adapun masukan untuk pelaksanaan IPE dengan metode TBL di masa yang akan datang antara lain dosen yang memberi materi dapat membangun suasana belajar yang lebih

Kutipan tentang persepsi dosen dan mahasiswa dalam pelaksanaan IPE sebagai berikut: “…….IPE sangat diperlukan agar mahasiswa yang nantinya berprofesi sebagai tenaga kesehatan