• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

Executive Summary

PENYUSUNAN RENCANA TATA BANGUNAN &

LINGKUNGAN (RTBL)

KAWASAN MALIOBORO YOGYAKARTA

PT. CIPTA NINDITA BUANA

DINAS PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH (KIMPRASWIL)

KOTA YOGYAKARTA

(2)

Kota dan masyarakat penghuninya merupakan simbolis yang saling terkait dan saling mempengaruhi. Perkembangan kota secara tidak langsung dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakatnya, demikian pula sebaliknya, perkembangan kebutuhan dan pola hidup masyarakat kota dapat memacu pertumbuhan fisik kota. Perubahan, perkembangan dan pertumbuhan kota menuntut penyediaan ruang, sarana dan prasarana baru. Sebagai implikasinya adalah perubahan dan pertumbuhan bangunan serta sarana dan prasarananya.

Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) diperlukan sebagai perangkat pengendali pertumbuhan serta memberi panduan terhadap wujud bangunan dan lingkungan pada suatu kawasan. RTBL disusun sebagai produk perencanaan tata ruang yang disahkan oleh Pemerintah Daerah setempat sebagai Peraturan Daerah (Perda), agar dapat digunakan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang.

Melalui pemahaman tersebut maka Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) merupakan panduan yang memberikan arahan interprestasi wujud ruang dalam bentuk rencana teknik, program tata bangunan dan lingkungan serta pedoman pengendalian pembangunan yang dikelola secara khusus pada bangunan, kelompok bangunan dan lingkungan yang melingkupinya.

Secara substansial Executive Summary Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Malioboro ini memuat Pendahuluan, Konsep Dasar Perancangan, & Panduan Rancangan.

Executive Summary ini merupakan ringkasan materi yang menjadi arahan dan panduan rancangan

bangunan dan lingkungan pada kawasan perencanaan tersebut.

Berkenaan dengan hal tersebut, Tim Penyusun mengucapkan terimakasih terhadap pihak-pihak yang telah membantu terselesaikannya pekerjaan ini. Semoga kajian ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan tema kajian terkait.

Yogyakarta, Desember 2013

(3)

Penyusunan RTBL Kawasan Malioboro | i

PENYUSUNAN RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN

KAWASAN MALIOBORO, YOGYAKARTA

DAFTAR ISI i

DAFTAR TABEL ii

DAFTAR GAMBAR iii

BAB I

PENDAHULUAN

BAB I

KONSEP DASAR PERANCANGAN

2.1. PERUMUSAN VISI KAWASAN MALIOBORO II - 1

2.1.1. Telaah Terhadap Visi Kota Yogyakarta II - 1 2.1.2. Perumusan Visi Kawasan Malioboro II - 3

2.2. KONSEP PERANCANGAN STRUKTUR TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN II - 7

2.3. BLOK PENGEMBANGAN KAWASAN II - 8

BAB II

PANDUAN RANCANGAN

3.1. Struktur Peruntukan Lahan III - 1

3.2. Intensitas Pemanfaatan Lahan III - 10

3.3. Tata Bangunan III - 21

3.4. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung III - 38

3.5. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau III - 47

3.6. Tata Kualitas Lingkungan III - 49

(4)

Penyusunan RTBL Kawasan Malioboro | ii Tabel 3.1. Klasifikasi Koefisien Dasar Bangunan (KDB) III - 10 Tabel 3.2. Penentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) III - 12 Tabel 3.3. Penentuan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) Maksimal III - 13 Tabel 3.4. Penentuan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Maksimal III - 14

Tabel 3.5. Penentuan Tinggi Bangunan (TB) III - 18

Tabel 3.6. Penentuan Garis Sempadan Bangunan (GSB) III - 20 Tabel 3.7. Bangunan Cagar Budaya Kawasan Malioboro III - 37

Tabel 3.8. Penambahan Lebar Jalur Pejalan Kaki III - 43

Tabel 3.9. Jenis Tanaman Peneduh/Perindang III - 49

Tabel 3.10. Pembagian Tema Koridor Utama Kawasan Malioboro III - 50 Tabel 3.11. Ketentuan Pembuatan Bak Peresapan Privat III - 67

(5)

Penyusunan RTBL Kawasan Malioboro | iii Gambar 2.1. Penyusunan Visi Pembangunan Kawasan Malioboro II - 4 Gambar 2.2. Isu Utama Tata Bangunan dan Lingkungan di Kawasan Malioboro II - 4 Gambar 2.3. Perumusan Visi Kawasan Malioboro Berdasarkan Kata Kunci Isu Utama II - 5

Gambar 2.4. Blok Pengembangan Kawasan Malioboro II - 9

Gambar 3.1. Struktur Peruntukan Lahan (formal) pada Koridor dan Sub Kawasan di Kawasan Malioboro

III - 5

Gambar 3.2. Ilustrasi bangunan pemerintahan (Kompleks Kepatihan) tidak tertutup PKL III - 6 Gambar 3.3. Ilustrasi kompleks Gedung Agung dan Benteng Vredeburg tidak tertutup PKL III - 6 Gambar 3.4. Ilustrasi PKL di koridor utama Jl. Malioboro III - 7 Gambar 3.5. Ilustrasi pembatasan secara tegas kapling PKL pada zona pejalan kaki koridor utama

Jl.Malioboro dengan perbedaan motif pavingblok

III - 7

Gambar 3.6. Modul PKL tenda dan gerobak di koridor utama Kawasan Malioboro III - 8 Gambar 3.7. Modul gerobak PKL untuk batik & aksesories di koridor utama Kawasan Malioboro III - 9 Gambar 3.8. Modul PKL model ‘time sharing’ di koridor utama Kawasan Malioboro III - 10 Gambar 3.9. Aturan Tinggi Bangunan pada koridor utama Jl.Malioboro – Jl. Ahmad Yani III - 15 Gambar 3.10. Aturan Tinggi Bangunan pada koridor pelingkup Kawasan Malioboro III - 16 Gambar 3.11. Aturan Tinggi Bangunan radius 60 meter dari Inti Lindung III - 17 Gambar 3.12. Tinggi Bangunan radius 60 meter dari Inti Lindung pada koridor jalan III - 17 Gambar 3.13. Orientasi bangunan terhadap jalan dan persimpangan III - 21

Gambar 3.14. Arahan Arsitektur Indis secara umum III - 24

Gambar 3.15. Arahan bentuk atap dengan fasad depan sebagai “arsitektur topeng” III - 24 Gambar 3.16. Arahan wajah depan untuk Arsitektur Indis pada persil bidang kecil (> 10 meter) III - 25 Gambar 3.17. Arahan wajah depan untuk Arsitektur Indis pada persil bidang lebar (<10 meter) III - 25 Gambar 3.18. Arahan wajah depan untuk Arsitektur Cina pada persil bidang kecil dan lebar III - 27 Gambar 3.19. Panduan rancang penyempurnaan wajah depan menggunakan tenda kanopi III - 28 Gambar 3.20. Penyempurnaan wajah depan dengan tenda kanopi, papan nama & lampu III - 29

(6)

Penyusunan RTBL Kawasan Malioboro | iv Gambar 3.23. Ilustrasi penataan papan nama berorientasi pada kenyamanan pejalan kaki III - 30 Gambar 3.24. Prinsip peletakan elemen iklan baliho pada marka jalan di Jl. Abubakar Ali III - 31 Gambar 3.25. Arahan bangunan pada koridor ventilasi Kawasan Malioboro III - 32 Gambar 3.26. Arahan bangunan gaya Arsitektur Kolonial III - 34 Gambar 3.27. Bangunan pada koridor ventilasi menggunakan Arsitektur Indis & Kolonial III - 35 Gambar 3.28. bertingkat pada koridor ventilasi tetap mengacu aturan intensitas lahan III - 35 Gambar 3.29. Ilustrasi penataan bangunan pada koridor pelingkup Kawasan Malioboro III - 36 Gambar 3.30. Ilustrasi area khusus pejalan tahap 1 adalah persimpangan Jl.Pabringan-Jl.Reksobayan

(ngejaman) sampai dengan titik 0 km

III - 39

Gambar 3.31. Rencana Sirkulasi Kawasan Malioboro III - 40

Gambar 3.32. Ilustrasi pola sirkulasi dengan mempertahankan jalur lambat di sisi barat III - 41 Gambar 3.33. Ilustrasi amenity zone dilengkapi street furnitur yang mendukung pejalan kaki III - 41 Gambar 3.34. Panduan untuk pengecatan Becak Wisata Malioboro III - 44 Gambar 3.35. Ilustrasi parkir sistem knock down untuk mobil menggunakan modul 8 m x 8 m III - 45 Gambar 3.36. Modul parkir mobil knock down dengan jarak antar kolom 8 m x 8 m III - 46 Gambar 3.37. Ilustrasi gedung parkir mobil sistem knock down dan akses masuknya III - 46 Gambar 3.38. Modul parkir motor knock down 2 lantai dengan jarak antar kolom 6 m x 6 m III - 47 Gambar 3.39. Ilustrasi gedung parkir motor 3 lantai sistem knock down dan akses masuknya III - 47 Gambar 3.40. Konsep pembagian tema pada koridor utama Malioboro III - 51

Gambar 3.41. Konsep ‘welcoming corridor’ III - 52

Gambar 3.42. Konsep ‘social corridor’ III - 52

Gambar 3.43. Konsep ‘culture corridor’ III - 53

Gambar 3.44. Konsep ‘preservation corridor’ III - 53

Gambar 3.45. Penataan penggal 1 dengan tema Arsitektur Indis (Indo-Belanda) III - 54 Gambar 3.46. Penataan penggal 2 dengan tema Arsitektur Indis dan Arsitektur Cina III - 54 Gambar 3.47. Penataan penggal 3 dengan tema Arsitektur Cina III - 55 Gambar 3.48. Penataan penggal 4 mempunyai tema konservasi BCB dengan Arsitektur Indis III - 55

(7)

Penyusunan RTBL Kawasan Malioboro | v Gambar 3.51. Panduan tempat duduk menggunakan ornamen serapan Eropa yang serasi dengan

ornamen lampu khas Malioboro

III - 56

Gambar 3.52. Ilustrasi panduan rancang street furniture di koridor utama yang diarahkan di depan kantor pemerintahan sebagai ruang terbuka publik

III - 57

Gambar 3.53. Ukuran dan motif pelapis modul panggung portabel III - 57 Gambar 3.54. Ilustrasi panggung portabel untuk pertunjukan seni jalanan III - 58 Gambar 3.55. Ilustrasi pengolahan meterial penutup dengan batu andesit dan batu alam lainnya

pada node entry point kawasan di sisi utara

III - 59

Gambar 3.56. Ilustrasi pengolahan meterial penutup dengan batu andesit dan batu alam lainnya pada node di Jl.Suryatmajan & Jl. Pajeksan

III - 59

Gambar 3.57. Ilustrasi gapura masuk jalan lingkungan (gang) perumahan pada sub kawasan (kampung)

III - 61

Gambar 3.58. Ilustrasi perbaikan kualitas jalan lingkungan perumahan III - 61 Gambar 3.59. Ilustrasi material jalan lingkungan dan tipologi bangunan arsitektur Indis & Kolonial III - 62 Gambar 3.60. Ilustrasi lingkungan permukiman dengan arahan gaya arsitektur Indis dan Kolonial III - 62 Gambar 3.61. Ilustrasi saluran utilitas terpadu (jalur listrik, telekomunikasi, kabel optik) di bawah

median sisi timur koridor utama Malioboro

III - 63

Gambar 3.62. Skema distribusi air bersih perkotaan dan permukiman eksisting III - 64 Gambar 3.63. Skema distribusi air bersih dari sumber air tanah III - 65 Gambar 3.64. Skema distribusi air bersih dari sumber air tanah dan PDAM III - 65 Gambar 3.65. Skema distribusi air limbah perkotaan dan permukiman lama III - 66

Gambar 3.66. Ilustrasi pembuatan Sumur Resapan III - 68

Gambar 3.67. Skema distribusi dan pengolahan sampah rumah tangga III - 67

(8)

I - 1 | E x e c u t i v e S u m m a r y

BAB 1

P

endahuluan

Perkembangan suatu kota besar yang sekaligus berfungsi sebagai Ibukota DIY dan masyarakat penghuninya merupakan simbiosis yang saling terkait dan saling mempengaruhi. Perubahan, perkembangan, dan pertumbuhan kota menuntut penyediaan ruang, sarana dan prasarana baru sehingga sebagai implikasinya terjadi perubahan dan pertumbuhan bangunan serta sarana dan prasarananya. Oleh karena itu, perencanaan tata bangunan dan lingkungan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam sistem manajemen pembangunan perkotaan.

Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) akan memberikan arahan arsitektural pada rencana teknis bangunan yang dibangun pada kawasan tertentu. Dengan arahan tersebut, konsultan perencana/arsitek akan mempunyai gambaran kebijaksanaan pembangunan fisik yang menyangkut kepentingan umum sekaligus jatidiri kawasan yang ingin dicapai, sehingga bangunan dan lingkungan yang dirancang akan dapat memberikan kontribusi positif terhadap kawasan yang lebih luas.

Salah satu sistem ruang kota di Yogyakarta yang perlu mendapat perhatian dan penataan yang serius adalah kawasan Malioboro di jantung kota Yogyakarta. Kawasan ini merupakan salah satu tempat wisata utama di Yogyakarta yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara dan merupakan kawasan perdagangan utama yang paling sibuk. Kawasan Malioboro sudah ditetapkan oleh Gubernur DIY sebagai Kawasan Cagar Budaya, kondisi lingkungan disekitar kawasan pada saat ini cenderung tumbuh secara tidak teratur dan sporadis seiring dengan perkembangan pembangunan fisik di dalam kawasan yang pesat.

Perlu adanya antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya penurunan kualitas lingkungan. Apabila hal ini tidak diantisipasi dengan segera melalui pengendalian yang intensif, maka dikhawatirkan akan terjadi ketidakteraturan pada fungsi dan peran ruang kawasan dikemudian hari.

(9)

I - 2 | E x e c u t i v e S u m m a r y Bertitik tolak dari permasalahan tersebut dan sebagai langkah awal dari proses pengendalian pengembangan dan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan maka perlu dilakukan penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) di Kawasan Malioboro Yogyakarta.

Materi penyusunan RTBL Kawasan Malioboro pada Executive Summary ini mencakup :

1. Konsep Dasar Perancangan

Visi Pembangunan yang telah dirumuskan di dalam Laporan Antara akan menjadi Konsep Dasar Perancangan Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) yang meliputi :

 Konsep Dasar Perancangan

 Blok-Blok Pengembangan Kawasan

2. Rencana Umum

Panduan Rancangan merupakan penjelasan lebih rinci atas Rencana Umum yang telah ditetapkan sebelumnya dalam bentuk penjabaran materi utama melalui pengembangan komponen rancangan kawasan pada bangunan, kelompok bangunan, elemen prasarana kawasan, kavling dan blok, termasuk panduan ketentuan detail visual kualitas minimal tata bangunan dan lingkungan. Panduan Rancangan memuat antara lain :

 Ketentuan dasar implementasi rancangan

 Prinsip-prinsip pengembangan rancangan kawasan, yang berisi panduan rancangan tiap blok pengembangan dan simulasi rancangan tiga dimensional.

Deliniasi Kawasan RTBL Malioboro

Wilayah studi untuk pekerjaan Penyusunan RTBL Kawasan Malioboro berada di Jalan Malioboro sampai dengan Jalan A.Yani (titik 0 kilometer).

Batas Area Perencanaan :

a. Sebelah Utara : Jalan Pasar Kembang – Jalan Abubakar Ali b. Sebelah Selatan : Jalan Senopati – Jalan KHA Dahlan

c. Sebelah Timur : Jalan Suryotomo – Jalan Mataram d. Sebelah Barat : Jalan Bhayangkara – Jalan Gandekan Lor

(10)

I - 3 | E x e c u t i v e S u m m a r y Jl.Pasar Kembang

Jl.Abu Bakar Ali

Jl.Mataram

Jl.Suryotomo Jl.Bayangkara

Jl.Gandekan Lor

(11)

II - 1 | E x e c u t i v e S u m m a r y

BAB 2

K

onsep Perancangan

2.1.

Perumusan Visi Kawasan Malioboro

2.1.1. Telaah terhadap Visi Kota Yogyakarta

Visi, misi dan program kerja walikota terpilih untuk periode 2012-2016 ini merupakan tahap kedua Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2005 – 2025, diarahkan untuk membawa masyarakat Kota Yogyakarta menuju suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera, berakhlak, bermartabat, berkarakter dan bermakna.

Berdasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Yogyakarta Tahun 2012 – 2016 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2012, Visi Kota Yogyakarta adalah :

Beberapa penjelasan dari visi tersebut adalah sebagai berikut : 1) Pendidikan berkualitas

 Penyelenggaraan pendidikan di Kota Yogyakarta harus memiliki kualitas yang berstandar internasional

 Memiliki keunggulan kompetitif dalam penguasaan, pemanfaatan dan pengembangan ilmu dan teknologi

“Terwujudnya Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan Berkualitas, berkarakter dan Inklusif, Pariwisata Berbasis Budaya, dan Pusat Pelayanan Jasa,

yang Berwawasan Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan”

(12)

II - 2 | E x e c u t i v e S u m m a r y  Mampu menciptakan manusia Indonesia seutuhnya yaitu keseimbangan antara

kecerdasan inteligensia (Intelligensia Quotient), emosional (Emotional Quotient), spiritual (Spiritual Quotient) dan kebugaran dan kesehatan fisik (kinestetik);

 Dikembangkan dengan dukungan sistem kebijakan pendidikan yang unggul

 Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yangmemadai 2) Pendidikan berkarakter

 Mengembangkan potensi kalbu/ nurani/ afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam sistem yang berakar pada budaya lokal dan menghormati kemajemukan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (Bhineka Tunggal Ika);

 Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious;

 Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;

 Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri kreatif, berwawasan kebangsaan;

 Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreatifitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuata.

3) Pendidikan inklusif

 Sistem pendidikan yang mengembangkan kreatifitas dengan memberikan akses kepada semua orang dalam satu sistem yang mencakup sekolah, program nonformal/informal, pendidikan keluarga dan masyarakat serta melibatkan seluruhmasyarakat secara penuh;

 Merupakan sebuah proses dan tujuan yang menggambarkan kualitas atau karakteristik pendidikan untuk semua;

 Mengembangkan sistem pendidikan formal, non-formal dan informal, dengan merespon keberagaman, mengidentifikasi hambatan belajar yang dihadapi individu maupun kelompok anak.

 Pendidikan inklusif bukan hanya menyangkut metode dan sistem, tetapi menyangkut nilai-nilai dan keyakinan mendasar tentang pentingnya menghargai dan menghormati perbedaan, tidak mendiskriminasi, dan berkolaborasi dengan orang lain untuk menciptakan dunia yang lebih adil.

(13)

II - 3 | E x e c u t i v e S u m m a r y 4) Pariwisata berbasis budaya

 Kegiatan pariwisata di Kota Yogyakarta dikembangkan dengan dasar dan berpusat pada budaya Jawa yang selaras dengan sejarah dan budaya Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat maupun Kadipaten Pakualaman, kearifan lokal & nilai luhur budaya bangsa;

 Menyempurnakan dan meningkatkan jaringan kerjasama wisata dengan pihak lain;

 Menjadikan daerah tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara;

Peningkatan kegiatan pariwisata dilaksanakan dengan menciptakan inovasiinovasi yang tetap berlandaskan pada wisata budaya, wisata bangunan bersejarah, wisata pendidikan, wisata konvensi dan wisata belanja.

5) Pusat pelayanan jasa

Kota Yogyakarta sebagai pusat pelayanan jasa yang meliputi jasa penunjang pendidikan

dan pariwisata, perdagangan, pemerintahan, keuangan, kesehatan, transportasi dan komunikasi harus dibangun lebih maju dan mampu mandiri;

 Memberikan kontribusi dan dominasi yang lebih besar dari daerah lain di Indonesia

 Peningkatan kegiatan pelayanan jasa dilakukan dengan memperkuat perekonomian kota pada sektor andalan menuju keunggulan kompetitif;

 Membangun keterkaitan sistem produksi, distribusi dan pelayanan, dengan tetap mempertahankan dan mengembangkan industri kecil dan menengah.

6) Berwawasan lingkungan

 Upaya sadar, terencana dan berkelanjutan;

 Memadukan lingkungan alam dengan lingkungan nilai-nilai religius, sosial, budaya dan kearifan lokal ke dalam proses pembangunan;

 Menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

2.1.2. Perumusan Visi Kawasan Malioboro

Perumusan visi sebagai cita-cita yang mendasari penyusunan konsep dasar perancangan tata bangunan dan lingkungan di Kawasan Malioboro berangkat dari 2 (dua) hal, yaitu :

1. Visi Misi Pembangunan Kota Yogyakarta 2. Isu Utama di Kawasan Malioboro

(14)

II - 4 | E x e c u t i v e S u m m a r y Gambar 2.1. Penyusunan Visi Pembangunan Kawasan Malioboro

Sumber: Olahan Studio 2013

Gambar 2.2. Isu Utama Tata Bangunan dan Lingkungan di Kawasan Malioboro

Sumber: Olahan Studio 2013

Berdasarkan pada permasalahan dan isu yang berkembang di kawasan. Konsep perencanaan diharapkan dapat menjadi

jawaban dari permasalahan dan isu tersebut dengan tetap mendasarkan diri

pada visi Malioboro secara umum

Visi Kota Yogyakarta : Kota Pendidikan Berkualitas, berkarakter dan Inklusif, Pariwisata Berbasis Budaya, & Pusat Pelayanan Jasa,

yang Berwawasan Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan”

(15)

II - 5 | E x e c u t i v e S u m m a r y

Gambar 2.3. Perumusan Visi Kawasan Malioboro Berdasarkan Kata Kunci Isu Utama

Sumber: Olahan Studio 2013

a. Pusat Pelayanan Jasa yang Berbasis Budaya

Fungsi sebagai Pusat Pelayanan Jasa sesuai dengan arahan RTRW Kota Yogyakarta sebagai pusat pelayanan tingkat Kota. Pusat Pelayanan Jasa meliputi jasa penunjang pendidikan dan

pariwisata, perdagangan, pemerintahan, dan transportasi yang dibangun lebih maju dan

dikembangkan dengan dasar dan berpusat pada budaya Jawa yang selaras dengan sejarah dan budaya Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat maupun Kadipaten Pakualaman, kearifan lokal & nilai luhur budaya bangsa. Sebagai pusat pelayanan jasa diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kawasan lain di sekitarnya.

b. Humanis

Ikhtiar menciptakan kota yang humanis ditunjukkan dengan kemampuan suatu kota memberikan rasa nyaman bagi para penghuninya, melalui pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan keseimbangan ekologi berdasarkan kearifan lokal yang ada.

“Mewujudkan Kawasan Malioboro Sebagai Pusat Pelayanan Jasa yang Berbasis Budaya, Humanis, Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan”

(16)

II - 6 | E x e c u t i v e S u m m a r y Bila suatu kota berhasil memunculkan prinsip-prinsip tersebut, maka kota itu akan mampu menghadirkan rasa keruangan yang semakin layak untuk dihuni (livable city). Menurut Wunas dan Wijaya (2011), kota humanis merupakan kota yang mempertimbangkan faktor kemanusiaan untuk mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan. Pandangan ini menempatkan posisi manusia sebagai elemen pembangunan kota yang paling prioritas. Dengan begitu, kenyamanan dan kebahagiaan warga kota harus disadari sebagai aspek vital yang perlu dipertimbangkan dalam perumusan rencana dan pembangunan kota.

c. Berwawasan Lingkungan

Pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang terencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana merupakan tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup.

Kota yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dengan mengindahkan kelestarian dan kelangsungannya generasi yang akan datang, yang tercermin dalam pemanfaatan ruang yang serasi antara untuk permukiman, kegiatan sosial ekonomi dan upaya konservasi, perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, peningkatan kenyamanan kota, serta terpelihara dan termanfaatkannya keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan.

d. Pembangunan Berkelanjutan

Namun demikian pembangunan berkelanjutan sebenarnya didasarkan kepada kenyataan bahwa kebutuhan manusia terus meningkat. Kondisi yang demikian ini membutuhkan suatu strategi pemanfaatan sumberdaya alam yang efesien. Disamping itu perhatian dari konsep pembangunan yang berkelanjutan adalah adanya tanggung jawab moral untuk memberikan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang, sehingga permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan adalah bagaimana memperlakukan alam dengan kapasitas yang terbatas namun akan tetap dapat mengalokasikan sumberdaya secara adil sepanjang waktu dan antar generasi untuk menjamin kesejahteraannya.

(17)

II - 7 | E x e c u t i v e S u m m a r y

2.2.

Konsep Perancangan Struktur Tata Bangunan & Lingkungan

Merupakan konsep rancangan tata bangunan dan lingkungan yang bersifat umum dalam mewujudkan lingkungan/kawasan perencanaan yang layak huni, berjati diri, produktif, dan berkelanjutan.

Menurut definisi yang dipopulerkan IAP (2011), istilah kota layak huni memang memiliki kedekatan makna dengan kota humanis, yakni sebuah lingkungan dan suasana kota yang nyaman sebagai tempat tinggal dan juga tempat beraktivitas. Suasana kota tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek, baik aspek fisik (seperti fasilitas perkotaan, prasarana, tata ruang, dan sebagainya) maupun aspek non-fisik (seperti hubungan social, aktivitas ekonomi, dan sebagainya). Adapun 6 (enam) prinsip yang dikembangkan IAP (2011) untuk mewujudkan kota yang nyaman dan layak huni, adalah sebagai berikut:

a. Tersedianya kebutuhan dasar masyarakat perkotaan (hunian layak, air bersih, listrik). b. Tersedianya berbagai fasilitas umum dan fasilitas sosial (transportasi publik, taman

kota, fasilitas ibadah dan fasilitas kesehatan).

c. Tersedianya ruang dan tempat publik untuk bersosialisasi dan berinteraksi. d. Keamanan, bebas dari rasa takut.

e. Mendukung fungsi ekonomi, sosial dan budaya. f. Sanitasi lingkungan dan keindahan lingkungan fisik.

Konsep besar revitalisasi Kawasan Cagar Budaya Malioboro terkait dengan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan ini adalah difokuskan untuk menciptakan kawasan Malioboro sebagai

area semi pedestrian. Sehingga dibutuhkan penataan area parkir motor di Kawasan Malioboro

khususnya di koridor utama Jalan Malioboro – Jalan Ahmad Yani yang selama ini menghalangi jalur pedestrian sehingga dapat mendukung kenyamanan pejalan kaki.

Dalam konteks penyusunan RTBL Kawasan Malioboro ini konsep revitalisasi Kawasan Malioboro sebagai kawasan semi pedestrian merupakan perwujudan kota humanis yang sejalan dengan perumusan Visi Kawasan Malioboro.

(18)

II - 8 | E x e c u t i v e S u m m a r y

2.3.

Blok-Blok Pengembangan Kawasan

Penyusunan RTBL Kawasan Malioboro ini harus ditujukan untuk mengembalikan jati diri kawasan sebagai salah satu penggal poros sumbu filosofis yang penuh dengan nilai-nilai luhur, tanpa mengesampingkan peran dan fungsinya sebagai ruang publik dan untuk rakyat kebanyakan. Secara umum, penataan Kawasan Malioboro dapat diklasifikasikan menjadi 4 sub-kawasan, yakni :

a) Jalur Utama Kawasan yaitu Koridor Utama Jln. Malioboro dan Jln. A.Yani b) Sub-kawasan perumahan/permukiman pendukung (kampung-kampung) c) Jaringan jalan-jalan pendukung atau koridor ventilasi

d) Sub-kawasan penyangga, yaitu kampung-kampung di sepanjang S. Code dan S. Winongo Terkait dengan deliniasi kajian RTBL kawasan Malioboro ini, blok-blok pengembangan Kawasan Malioboro dan program-program penanganannya ditujukan pada butir a, b, dan c saja. Sedangkan kampung-kampung di sekitar Kawasan Malioboro berperan sebagai sub-kawasan penyangga.

a) Blok Pengembangan Segmen Koridor Jalan (KJ)

Koridor Jalan 01 [KJ.01] Koridor Jalan Malioboro - Jalan A.Yani; Koridor Jalan 02 [KJ.02] Koridor Jalan Sosrowijayan;

Koridor Jalan 03 [KJ.03] Koridor Jalan Dagen; Koridor Jalan 04 [KJ.04] Koridor Jalan Pajeksan; Koridor Jalan 05 [KJ.05] Koridor Jalan Reksobayan; Koridor Jalan 06 [KJ.06] Koridor Jalan Perwakilan; Koridor Jalan 07 [KJ.07] Koridor Jalan Suryatmajan; Koridor Jalan 03 [KJ.03] Koridor Jalan Pabringan;

b) Struktur Peruntukan Lahan Sub Kawasan Malioboro (KW)

Blok Pengembangan 1 [KW.01] merupakan Kampung Sosrowijayan;

Blok Pengembangan 2 [KW.02] merupakan Kampung Sosromenduran dan Sosrodipuran Blok Pengembangan 3 [KW.03] merupakan Kampung Jogonegaran dan Pajeksan; Blok Pengembangan 4 [KW.04] merupakan Kampung Ngupasan;

Blok Pengembangan 5 [KW.05] merupakan Kampung Suryatmajan; Blok Pengembangan 6 [KW.06] merupakan Kampung Ketandan.

(19)

II - 9 | E x e c u t i v e S u m m a r y

Gambar 2.4. Blok Pengembangan Kawasan Malioboro

Sumber: Olahan Studio 2013

Blok Pengembangan 1 : KW 01 Blok Pemukiman - Kampung Sosrowijayan

 Penguatan Karakter Kampung Sosrowijayan sebagai kampung wisata dengan potensi

tourist accomodation seperti penginapan,

 ZONA PERUMAHAN kepadatan sedang

Blok Pengembangan 2 : KW 02 Blok Pemukiman - Kampung Dagen, Sosromenduran & Sosrodipuran

 Penguatan Karakter Kampung Wisata Dagen

 Peningktan kualitas/kesehatan lingkungan permukiman padat

 ZONA PERUMAHAN kepadatan sedang

Blok Pengembangan 3 : KW 03 Blok Pemukiman - Kampung Pajeksan & Jogonegaran

 Penguatan Karakter Kampung Wisata Pajeksan

 Peningktan kualitas/kesehatan lingkungan permukiman padat

 ZONA PERUMAHAN kepadatan sedang

Blok Pengembangan 4 : KW 04 Blok Pemukiman - Kampung Ngupasan

 Penguatan Karakter Kampung Wisata Pajeksan

 Peningktan kualitas/kesehatan lingkungan permukiman padat

ZONA jasa perdagangan dan mix use (perumahan-jasa pergudangan)

Blok Pengembangan Koridor : KJ 01 Koridor utama Jl. Malioboro - Jl.A.Yani dan Blok Komersial Perdagangan Jasa

 Penguatan sumbu filosofis dan Pelestarian BCB termasuk sistem pencahayaan/ lighting bangunan

 Penataan Facade Bangunan, termasuk skyline, setback bangunan, dan tema warna serta ornamen

 Penentuan Tema Koridor Utama menjadi 4 bagian

 Mengurangi Sampah Visual dengan penataan signage dan reklame

 Penataan street furniture termasuk greenery

 Peningkatan kualitas lingkungan melalui peningkatan jaringan sarana prasarana

 Penataan PKL dengan time sharing dan place sharing

 Menciptakan ruang terbuka publik sebagai ruang interaksi sosial dengan membuat PKL court untuk memecah suasana arcade yang cenderung menerus dan monoton

Blok Pengembangan 5 : KW 05 Blok Pemukiman - Kampung Suryatmajan  Peningktan kualitas/kesehatan lingkungan permukiman  ZONA PERUMAHAN Blok Pengembangan 6 : KW 06 Blok Pemukiman - Kampung Ketandan

 Penguatan Karakter Kampung Pecinan Ketandan

 ZONA PERDAGANGAN JASA dengan intensitas tinggi

KW.01 KW.02 KW.03 KW.04 KW.05 KW.06 KJ.01 KJ.02 KJ.03 KJ.04 KJ.05 KJ.06 KJ.07 KJ.08 BLOK PENGEMBANGAN

(20)

III - 1 | E x e c u t i v e S u m m a r y

BAB 3

P

anduan Rancangan

Panduan Rancangan merupakan penjelasan lebih rinci atas Rencana Umum yang telah ditetapkan di atas yang dijabarkan melalui pengembangan komponen rancangan kawasan pada bangunan, kelompok bangunan, elemen prasarana kawasan, kavling dan blok, termasuk panduan ketentuan detail visual kualitas minimal tata bangunan dan lingkungan.

3. 1. Struktur Peruntukan Lahan

Prinsip pengembangan komponen struktur peruntukan lahan adalah sebagai berikut :

a. Mengembangkan peruntukan lahan yang sesuai arahan tata ruang kota, meliputi aturan RTRW DIY, RTRW Kota Yogyakarta 2010-2029 dan Perwal No. 25 Tahun 2013 sebagai pengganti RDTR Kota Yogyakarta.

b. Mengarahkan pengembangan mixed use tanpa merubah peruntukan lahan.

c. Mereduksi lahan-lahan dengan pemanfaatan yang tidak optimal dengan pemberlakuan insentif dan disinsentif.

d. Mengendalikan pembangunan pada kawasan-kawasan yang dilarang (negative list) seperti pada kawasan pelestarian warisan budaya dan cagar budaya.

e. Menata pola-pola peruntukan dengan model space sharing.

(21)

III - 2 | E x e c u t i v e S u m m a r y Struktur jalan yang diterapkan adalah Jalan Malioboro dan Jalan A.Yani sebagai jalur utama pergerakan dan penghubung antar simpul-simpul aktivitas pelayanan perkotaan yang menjadi pemicu kegiatan-kegiatan ekonomi serta fungsi pelayanan jasa lainnya bagi penduduk setempat maupun dari luar kawasan Malioboro.

Pembagian struktur peruntukan lahan dibagi menjadi 2 sesuai dengan peruntukannya yaitu Segmen Koridor Jalan dan Sub Kawasan; meliputi :

A. Struktur Peruntukan Lahan Segmen Koridor Jalan (KJ)

Koridor Jalan 01 [KJ.01] Koridor Jalan Malioboro - Jalan A.Yani untuk fungsi komersial

perdagangan jasa, kompleks perkantoran dan fungsi lindung cagar budaya.

Koridor Jalan 02 [KJ.02] Koridor Jalan Sosrowijayan untuk fungsi perdagangan jasa. Koridor Jalan 03 [KJ.03] Koridor Jalan Dagen untuk fungsi komersial perdagangan jasa. Koridor Jalan 04 [KJ.04] Koridor Jalan Pajeksan untuk fungsi komersial perdagangan jasa. Koridor Jalan 05 [KJ.05] Koridor Jalan Reksobayan untuk fungsi komersial mix

use-perdagangan jasa dan fungsi perkantoran.

Koridor Jalan 06 [KJ.06] Koridor Jalan Perwakilan untuk fungsi perdagangan jasa. Koridor Jalan 07 [KJ.07] Koridor Jalan Suryatmajan untuk fungsi komersial perdagangan

jasa dan kompleks perkantoran.

Koridor Jalan 08 [KJ.08] Koridor Jalan Pabringan untuk fungsi komersial perdagangan

jasa dan fungsi cagar budaya.

B. Struktur Peruntukan Lahan Sub Kawasan Malioboro (KW)

Sub Kawasan 1 [KW.01] merupakan Kampung Sosrowijayan dengan peruntukan lahan

sebagai Perumahan Kepadatan Sedang.

Sub Kawasan 2 [KW.02] merupakan Kampung Sosromenduran dan Sosrodipuran dengan

peruntukan lahan sebagai Perumahan Kepadatan Sedang.

Sub Kawasan 3 [KW.03] merupakan Kampung Jogonegaran dan Pajeksan dengan

peruntukan lahan sebagai Perumahan Kepadatan Sedang.

Sub Kawasan 4 [KW.04] merupakan Kampung Ngupasan dengan peruntukan lahan

sebagai Komersial Perdagangan dan Jasa yang diarahkan dengan fungsi mix-use.

Sub Kawasan 5 [KW.05] merupakan Kampung Suryatmajan dengan peruntukan lahan

sebagai Perumahan Kepadatan Sedang.

Sub Kawasan 6 [KW.06] merupakan Kampung Ketandan dengan peruntukan lahan

(22)

III - 3 | E x e c u t i v e S u m m a r y Mekanisme perizinan untuk bangunan dengan fungsi yang berbeda dengan rencana pemanfaatan di tata ruang di atas adalah sebagai berikut :

 Pemohon membuat surat kepada Ketua BKPRD untuk meminta persetujuan apabila rencana pembangunan tidak sesuai dengan pola rencana pemanfaatan tata ruang.

 Surat disampaikan kepada sekretariat BKPRD di Bappeda untuk dibahas.

 Usulan diatas dirumuskan dalam Berita Acara rapat di BKPRD.

C. Pedagang Kaki Lima

Selain dibentuk oleh jaringan jalan dan struktur peruntukan lahan yang bersifat formal, pola tata ruang Kawasan Malioboro juga dibetuk dari sektor informal. Dilihat dari pemanfaatan fungsi lahan, maka panduan rancang struktur peruntukan lahan pada koridor utama juga memperhatikan penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang mengacu pada Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 37 Tahun 2010 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima Kawasan Khusus Malioboro – Ahmad Yani. Sesuai Perwal tersebut Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kawasan Malioboro diatur dengan ketentuan sebagai berikut :

1) Trotoar sisi barat jalan Malioboro dan jalan A. Yani (persimpangan jalan Malioboro dan jalan Pasar Kembang sampai dengan simpang tiga jalan Reksobayan);

2) Trotoar sisi timur jalan Malioboro dan jalan A. Yani (depan Hotel Garuda sampai depan Pasar Sore Malioboro) kecuali paving sisi timur yang termasuk dalam kawasan Pasar Beringharjo;

3) Titik lokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Malioboro dan Jalan Ahmad Yani ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan;

4) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dapat menempatkan PKL pada trotoar di persimpangan jalan, depan Kantor Eks Kanwil Pekerjaan Umum Propinsi DIY, depan Gedung DPRD Propinsi DIY, depan Kompleks Kepatihan, depan Gedung Perpustakaan Nasional Propinsi DIY dan depan Gereja GPIB Yogyakarta dengan tetap memperhatikan kepentingan umum, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, keamanan dan kenyamanan. 5) PKL Kawasan Khusus Malioboro – A. Yani, dilarang untuk ditambah jumlahnya.

6) Sirip Jalan Malioboro – A. Yani adalah trotoar jalan Pajeksan sisi utara dan selatan, jalan Suryatmajan sisi selatan dan jalan Reksobayan sisi utara (selatan GPIB Yogyakarta).

(23)

III - 4 | E x e c u t i v e S u m m a r y 7) Titik lokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di sirip jalan Malioboro – A. Yani yaitu Jalan

Suryatmajan, Jalan Pajeksan dan Jalan Reksobayan ditetapkan dengan Keputusan Camat sesuai dengan wilayah kerjanya.

8) Pedagang Kaki Lima (PKL) di sirip jalan Malioboro – A. Yani yaitu Jalan Suryatmajan, Jalan Pajeksan dan jalan Reksobayan dilarang untuk ditambah jumlahnya.

9) Pedagang Kaki Lima (PKL) wajib memiliki Surat Izin Penggunaan Lokasi Pedagang Kaki Lima yang diterbitkan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan Kartu Identitas Pedagang Kaki Lima yang diterbitkan oleh Camat setempat.

10) PKL yang boleh menggunakan tenda dan peralatannya adalah yang berada di luar pertokoan, dengan ketentuan :

 konstruksinya bongkar pasang

 bahan kerangka diutamakan dari besi  atap tenda dari bahan terpal atau sejenisnya  rapi dan bersih

11) PKL Kawasan Khusus Malioboro – A. Yani dilarang berjualan di Jalan Pasar Kembang, Jalan Abubakar Ali (utara Hotel Garuda), Jalan Sosrowijayan, Jalan Perwakilan, Jalan Dagen, Jalan Beskalan dan Jalan Ketandan.

12) PKL Kawasan Khusus Malioboro – A. Yani dilarang berjualan pada badan jalan, jalur lambat, dan di tempat parkir dan dilarang menempatkan peralatan/kotak-kotak selain yang dipergunakan untuk berjualan di sekitar lokasi berjualan, pada badan jalan/jalur lambat, trotoar, devider, taman, lampu taman, dan kursi taman.

Untuk mewujudkan Kawasan Malioboro sebagai area semi pedestrian yang humanis dan mendukung kenyamanan pejalan kaki, sebaiknya area di depan kantor-kantor pemerintahan bersih dari PKL karena Walikota atau pejabat yang ditunjuk berwenang mencabut izin penggunaan lokasi PKL bila digunakan untuk kepentingan umum yang lebih luas.

(24)

III - 5 | E x e c u t i v e S u m m a r y

Gambar 3.1. Struktur Peruntukan Lahan (formal) pada Koridor dan Sub Kawasan di Kawasan Malioboro

(25)

III - 6 | E x e c u t i v e S u m m a r y

Gambar 3.2. Ilustrasi bangunan pemerintahan (Kompleks Kepatihan) apabila tidak tertutup PKL

Sumber : Olahan studio, 2013

Gambar 3.3. Ilustrasi kompleks Gedung Agung dan Benteng Vredeburg tidak tertutup PKL

Sumber : Olahan studio, 2013

Panduan rancangan area PKL di koridor utama Malioboro :

 PKL sebaiknya tidak berada di depan gedung pemerintahan seperti kompleks DPR, Kompleks Kepatihan, Gedung agung dan Benteng Vredeburg.

 Lapak PKL makanan menggunakan modul yang sama dan menggunakan ornamen dengan bentuk seperti ornamen lampu khas Malioboro pada rangka besi knock-down.

(26)

III - 7 | E x e c u t i v e S u m m a r y

Gambar 3.4. Ilustrasi PKL di koridor utama Jl. Malioboro

Sumber : Olahan studio, 2013

Gambar 3.5. Ilustrasi pembatasan secara tegas kapling PKL pada zona pejalan kaki koridor utama

Jl.Malioboro dengan perbedaan motif pavingblok

Sumber : Olahan studio, 2013

 Limbah PKL, khususnya limbah dari PKL makanan baik lesehan maupun gerobak (bakso) ditampung dalam bak limbah sementara yang diambil secara periodik atau dilengkapi dengan bak pengolahan limbah komunal PKL sehingga bisa dialirkan ke riol kota.

Saluran utilitas terpadu (listrik, kabel optik, telkom, dll)

riol kota Saluran Limbah PKL & disalurkan ke

pengolahan limbah komunal drainase

Saluran Air Bersih PKL

(27)

III - 8 | E x e c u t i v e S u m m a r y Selain panduan rancangan area yang diizinkan untuk PKL diuraikan juga panduan rancangan bentuk yang dibagi menjadi 3 tipe, yaitu :

1) Lapak Tenda dan Gerobak Beroda untuk PKL makanan baik lesehan maupun gerobak bakso.  Menggunakan modul ukuran 5.4 meter (18 tegel) x 3.6 meter (12 tegel).

Rangka tenda merupakan rangka besi galvanis dengan sistem ‘knock down’ untuk menciptakan area PKL dengan pola semi permanen. Menggunakan ornamen serapan dari Eropa berbentuk organis seperti lampu khas Malioboro pada rangka.

 Tenda menggunakan warna hijau kombinasi kuning yang serasi dengan lampu jalan.  Apabila menggunakan gerobak, bahan pelapis luar gerobak menggunakan ekspose

material kayu dan dilengkapi roda.

 Ornamen pada gerobak bagian bawah menggunakan ornamen serapan dari Eropa berbentuk organis seperti lampu khas Malioboro.

Gambar 3.6. Modul PKL tenda dan gerobak di koridor utama Kawasan Malioboro

(28)

III - 9 | E x e c u t i v e S u m m a r y 2) Lapak Gerobak beroda untuk PKL yang menjual batik dan aksesories.

 Menggunakan modul ukuran 70 cm x 150 cm tinggi 120 cm

 Gerobak dilengkapi roda, meja lipat dan gantungan yang terpasang dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gerobak. Meja lipat digunakan sebagi tempat untuk meletakkan barang dagangan, sedangkan gantungan untuk display saja.

 Bahan pelapis luar gerobak menggunakan ekspose material kayu atau cat warna coklat  Ornamen pada gerobak menggunakan ornamen serapan dari Eropa berbentuk organis

seperti lampu khas Malioboro dengan warna hijau-kuning.

Gambar 3.7. Modul gerobak PKL untuk batik & aksesories di koridor utama Kawasan Malioboro

Sumber : Olahan studio, 2013

3) Lapak Meja untuk PKL yang menjual aksesories di siang hari dan dapat diubah bentuk untuk digunakan PKL yang menjual makanan lesehan di malam hari.

 Menggunakan modul ukuran 70 cm x 150 cm tinggi 40 cm dan 45 cm  Lapak PKL ini dibuat dengan sistem kock down dan time sharing.

Pada siang hari box atau meja dapat digunakan sebagai tempat untuk meletakkan barang dagangan sekaligus untuk display, sedangkan pada malam hari box dapat difungsikan sebagai meja makan bagi pedagang kaki lima lesehan.

 Bahan pelapis luar gerobak menggunakan ekspose material kayu atau dilapis dengan cat warna coklat.

(29)

III - 10 | E x e c u t i v e S u m m a r y

Gambar 3.8. Modul PKL model ‘time sharing’ di koridor utama Kawasan Malioboro

Sumber : Olahan studio, 2013

3. 2. Intensitas Pemanfaatan Lahan

Berdasarkan arahan RTRW Kota Yogyakarta 2010-2029, maka ditentukan bahwa intensitas pemanfaatan lahan pada Kawasan Malioboro diarahkan menjadi intensitas agak tinggi. Namun di dalam RTRW Kota Yogyakarta 2010-2029 tersebut tidak menyebutkan angka secara detil dan jelas maka intensitas penggunaan lahan mengacu Perwal 25 Tahun 2013 tentang Penjabaran Rencana Pola Ruang dan Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang.

Tabel 3.1. Klasifikasi Koefisien Dasar Bangunan (KDB)

NO KLASIFIKASI KDB Peruntukan Lahan Terbangun

1. TInggi 60 – 100 %

2. Sedang 30% - 60%

3. Rendah < 30%

Sumber : PP No. 36 Tahun 2005 tentang Pelaksanaan UU Bangunan Gedung (lampiran penjelasan pasal 20)

Tujuan yang akan dicapai dengan menetapkan intensitas pemanfaatan lahan adalah menjaga keberadaan fungsi Kawasan Malioboro sesuai arahan RTRW Kota Yogyakarta 2010-2029 sebagai kawasan lindung pelestarian budaya dan mengendalikan perkembangan fungsi komersial perdagangan dan jasa tanpa merubah arahan intensitas pemanfaatan lahan yang sudah ditetapkan di Perwal 25 Tahun 2013.

(30)

III - 11 | E x e c u t i v e S u m m a r y A. KDB (Koefisien Dasar Bangunan)

Koefisien dasar bangunan merupakan angka perbandingan antara luas lantai dasar bangunan dengan luas tapak/persil. Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam koefisien dasar bangunan ini adalah jenis penggunaan bangunan, tingkat kepadatan penduduk serta kondisi fisik dan ekologi lingkungan.

Koefisien dasar bangunan ini dimaksudkan bagi penyediaan lahan terbuka yang cukup agar tidak keseluruhan lahan diisi dengan bangunan fisik dan menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan binaan.

Perhitungan KDB maupun KLB ditentukan sebagai berikut:

1) Perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar;

2) Luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1,20 m di atas lantai ruangan tersebut dihitung penuh 100 %;

3) Luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1,20 m di atas lantai ruangan dihitung 50 %, selama tidak melebihi 10 % dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan; 4) Overstek atap yang melebihi lebar 1,50 m maka luas mendatar kelebihannya tersebut

dianggap sebagai luas lantai denah;

5) Teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1,20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai;

6) Luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB, asal tidak melebihi 50 % dari KLB yang ditetapkan, selebihnya diperhitungkan 50 % terhadap KLB;

7) Ram & tangga terbuka dihitung 50 %, selama tidak melebihi 10 % dari luas lantai dasar; 8) Dalam perhitungan KDB dan KLB, luas tapak yang diperhitungkan = yang di belakang GSJ; 9) Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan pertimbangan keamanan, keselamatan, kesehatan, dan pendapat teknis dari ahli terkait; 10)Dalam perhitungan ketinggian bangunan, apabila jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai berikutnya lebih dari 5 m, maka ketinggian bangunan dianggap sebagai dua lantai; 11)Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock) perhitungan KDB dan KLB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan, dan total keseluruhan luas lantai bangunan dalam kawasan tersebut terhadap total keseluruhan luas kawasan; 12)Mezanin luasnya melebihi 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh.

(31)

III - 12 | E x e c u t i v e S u m m a r y

Tabel 3.2. Penentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB)

BLOK ZONA Luasan Tanah / Persil

40-100 m² 101-200 m² 201-400 m² 401-1000m² >1000 m² KJ. 01 Komersial 90% 90% 80% 80% 80% Perkantoran 90% 90% 80% 80% 80% Cagar Budaya 80% 80% 80% 80% 80% KJ. 02 Komersial 90% 90% 80% 80% 80% KJ. 03 Komersial 90% 90% 80% 80% 80% KJ. 04 Komersial 90% 90% 80% 80% 80% KJ. 05 Komersial 90% 90% 80% 80% 80% KJ. 06 Komersial 90% 90% 80% 80% 80% Perkantoran 90% 90% 80% 80% 80% KJ. 07 Komersial 90% 90% 80% 80% 80% Perkantoran 90% 90% 80% 80% 80% KW. 01 Perumahan Kepadatan Sedang 80% 80% 80% 80% 80% KW. 02 Perumahan Kepadatan Sedang 80% 80% 80% 80% 80% KW. 03 Perumahan Kepadatan Sedang 80% 80% 80% 80% 80% KW. 04 Komersial (mix-use) 90% 90% 80% 80% 80% KW. 05 Perumahan Kepadatan Sedang 80% 80% 80% 80% 80% KW. 06 Komersial (mix use) 90% 90% 80% 80% 80%

Sumber : diolah dari Peraturan Walikota no.25 Tahun 2013 tentang Penjabaran Rencana Pola Ruang dan Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang, 2013

Berkaitan dengan Kawasan Cagar Budaya maka setiap orang yang akan melakukan pendirian

bangunan baru pada sumbu filosofis termasuk penentuan Koefisien Dasar Bangunan (KDB)

harus mendapatkan izin dari instansi yang berwenang di bidang perizinan Kota Yogyakarta yaitu Dinas Perizinan setelah mendapatkan rekomendasi dari Instansi yang berwenang di bidang kebudayaan Pemerintah Daerah dan tim perizinan khusus Bangunan Cagar Budaya.

(32)

III - 13 | E x e c u t i v e S u m m a r y B. KLB (Koefisien Lantai Bangunan)

Koefisien Lantai Bangunan (KLB) merupakan angka perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan dengan luas lahan atau kavling sebagai rencana arahan ketinggian bangunan. Pengaturan ketinggian bangunan bertujuan untuk membentuk skyline kawasan perencanaan serta penciptaan image kawasan yang khas. KLB ini juga dipengaruhi daya dukung kawasan.

Tabel 3.3. Penentuan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) Maksimal

BLOK ZONA

Luasan Tanah / Persil

40-100 m² 101-200 m² 201-400 m² 401-1000m² >1000 m² KJ. 01 Komersial 4.5 4.5 4.8 4.8 6.4 Perkantoran 3.6 3.6 4 4 4.8 Cagar Budaya 2.4 2.4 2.4 2.4 2.4 KJ. 02 Komersial 4.5 4.5 4.8 4.8 6.4 KJ. 03 Komersial 4.5 4.5 4.8 4.8 6.4 KJ. 04 Komersial 4.5 4.5 4.8 4.8 6.4 KJ. 05 Komersial 4.5 4.5 4.8 4.8 6.4 KJ. 06 Komersial 4.5 4.5 4.8 4.8 6.4 Perkantoran 3.6 3.6 4 4 4.8 KJ. 07 Komersial 4.5 4.5 4.8 4.8 6.4 Perkantoran 3.6 3.6 4 4 4.8 KW. 01 Perumahan Kepadatan sedang 2.4 2.4 2.4 3.2 3.2 KW. 02 Perumahan Kepadatan sedang 2.4 2.4 2.4 3.2 3.2 KW. 03 Perumahan Kepadatan sedang 2.4 2.4 2.4 3.2 3.2 KW. 04 Komersial (mix-use) 4.5 4.5 4.8 4.8 6.4 KW. 05 Perumahan Kepadatan sedang 2.4 2.4 2.4 3.2 3.2 KW. 06 Komersial (mix-use) 4.5 4.5 4.8 4.8 6.4

Sumber : diolah dari Peraturan Walikota no.25 Tahun 2013 tentang Penjabaran Rencana Pola Ruang dan Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang, 2013

Berkaitan dengan Kawasan Cagar Budaya maka setiap orang yang akan melakukan pendirian

bangunan baru pada sumbu filosofis termasuk penentuan Koefisien Lantai Bangunan (KLB)

harus mendapatkan izin dari Dinas Perizinan setelah mendapatkan rekomendasi dari instansi yang berwenang di bidang kebudayaan dan tim perizinan khusus Bangunan Cagar Budaya.

(33)

III - 14 | E x e c u t i v e S u m m a r y C. Koefisien Dasar Hijau (KDH)

Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan.

Tabel 3.4. Penentuan Koefisien Dasar Hijau (KDH) Maksimal

BLOK ZONA

Luasan Tanah / Persil

40-100 m² 101-200 m² 201-400 m² 401-1000m² >1000 m² KJ. 01 Komersial 5 5 10 10 10 Perkantoran 5 5 10 10 10 Cagar Budaya 10 10 10 10 10 KJ. 02 Komersial 5 5 10 10 10 KJ. 03 Komersial 5 5 10 10 10 KJ. 04 Komersial 5 5 10 10 10 KJ. 05 Komersial 5 5 10 10 10 KJ. 06 Komersial 5 5 10 10 10 Perkantoran 5 5 10 10 10 KJ. 07 Komersial 5 5 10 10 10 Perkantoran 5 5 10 10 10 KW. 01 Perumahan Kepadatan Sedang 10 10 10 10 10 KW. 02 Perumahan Kepadatan Sedang 10 10 10 10 10 KW. 03 Perumahan Kepadatan Sedang 10 10 10 10 10 KW. 04 Komersial 5 5 10 10 10 KW. 05 Perumahan Kepadatan Sedang 10 10 10 10 10 KW. 06 Komersial 5 5 10 10 10

Sumber : diolah dari Peraturan Walikota no.25 Tahun 2013 tentang Penjabaran Rencana Pola Ruang dan Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang, 2013

Berkaitan dengan Kawasan Cagar Budaya maka setiap orang yang akan melakukan pendirian

bangunan baru pada sumbu filosofis termasuk penentuan Koefisien Dasar Hijau (KDH) harus

mendapatkan izin dari instansi yang berwenang di bidang perizinan Kota Yogyakarta yaitu Dinas Perizinan setelah mendapatkan rekomendasi dari Instansi yang berwenang di bidang kebudayaan Pemerintah Daerah dan tim perizinan khusus Bangunan Cagar Budaya.

(34)

III - 15 | E x e c u t i v e S u m m a r y D. Tinggi Bangunan

 Tinggi Bangunan ( TB ) adalah jarak antara garis potong permukaan atap dengan muka bangunan bagian luar dan permukaan lantai denah bawah atau lantai dasar.

 Khusus untuk sepanjang jalan dari tugu sampai dengan perempatan depan kantor pos pusat (di dalam Kawasan Malioboro), selain bangunan cagar budaya (BCB), ketinggian bangunan di kiri dan kanan jalan tersebut maksimal 18 (delapan belas) meter sampai kedalaman 60 (enam puluh) meter dari garis batas luar ruang milik jalan (rumija) dan memenuhi ketentuan untuk membentuk sudut 45º (empat puluh lima derajat) dari as

jalan. Sedangkan untuk sebelah dalam/belakangnya lebih dari 60 (enam puluh) meter

dari garis batas luar RUMIJA diperbolehkan untuk dibangun lebih tinggi lagi dari ketentuan ketinggian bangunan pada lahan di depannya, dengan membentuk sudut pandang 45º (empat puluh lima derajat) dari titik ketinggian yang diperkenankan; dan apabila dikehendaki lain (sudut pandang lebih dari 45º) harus ada persetujuan dari Walikota Yogyakarta dengan tinggi bangunan maksimum 32 (tiga puluh dua) meter.

Gambar 3.9. Aturan Tinggi Bangunan pada koridor utama Jl.Malioboro – Jl. Ahmad Yani

(35)

III - 16 | E x e c u t i v e S u m m a r yKetentuan Tinggi Bangunan pada koridor pelingkup kecuali bangunan atau kompleks

bangunan yang berada pada radius 60 (enam puluh) meter dari Inti Lindung dan pada Kawasan Lindung Penyangga; mengacu pada Ketentuan Tinggi Bangunan dan

diberlakukan ketentuan pandangan bebas (sky line) dengan sudut 45º (empat puluh

lima derajat) dari RUMIJA di seberangnya.

Gambar 3.10. Aturan Tinggi Bangunan pada koridor pelingkup Kawasan Malioboro

Sumber : Olahan studio, 2013

Bangunan atau kompleks bangunan yang berada pada radius 60 (enam puluh) meter dari Inti Lindung dan pada Kawasan Lindung Penyangga harus mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan karakter serta keharmonisan yang sejalan dengan tujuan perlindungan kawasan inti atau citra kota.

 Di dalam hal ini sejalan dengan sejarah perkembangan Malioboro, bangunan-bangunan mempunyai karakter bangunan Arsitektur Indis, Arsitektur Cina dan Arsitektur Kolonial, sehingga bangunan-bangunan baru tidak menenggelamkan bangunan Inti Lindung Budaya atau Bangunan Cagar Budaya.

(36)

III - 17 | E x e c u t i v e S u m m a r y

Gambar 3.11. Aturan Tinggi Bangunan radius 60 meter dari Inti Lindung

Sumber : Olahan studio, 2013

Gambar 3.12. Aturan Tinggi Bangunan radius 60 meter dari Inti Lindung pada koridor jalan

(37)

III - 18 | E x e c u t i v e S u m m a r y

Tabel 3.5. Penentuan Tinggi Bangunan (TB)

BLOK ZONA Luasan Tanah / Persil

40-100 m² 101-200 m² 201-400 m² 401-1000m² >1000 m² KJ. 01 Komersial 20 20 24 28 32 Perkantoran 16 16 20 20 24 Cagar Budaya 12 12 12 12 12 KJ. 02 Komersial 20 20 24 28 32 KJ. 03 Komersial 20 20 24 28 32 KJ. 04 Komersial 20 20 24 28 32 KJ. 05 Komersial 20 20 24 28 32 KJ. 06 Komersial 20 20 24 28 32 Perkantoran 16 16 20 20 24 KJ. 07 Komersial 20 20 24 28 32 Perkantoran 16 16 20 20 24 KW. 01 Perumahan Kepadatan Sedang 12 12 12 16 16 KW. 02 Perumahan Kepadatan Sedang 12 12 12 16 16 KW. 03 Perumahan Kepadatan Sedang 12 12 12 16 16 KW. 04 Komersial (mix-use) 20 20 24 28 32 KW. 05 Perumahan Kepadatan Sedang 12 12 12 16 16 KW. 06 Komersial 20 20 24 28 32

Sumber : diolah dari Peraturan Walikota no.25 Tahun 2013 tentang Penjabaran Rencana Pola Ruang dan Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang, 2013

E. GSB (Garis Sempadan Bangunan)

Garis Sempadan Bangunan (GSB) ditetapkan untuk memberi batasan keamanan bagi pengguna jalan dan lingkungannya. Kegunaan garis sempadan bangunan ini antara lain adalah untuk pengamanan terhadap lalu lintas jalan, memberikan ruang bagi sinar matahari, sirkulasi udara, peresapan air tanah dan juga berguna pada keadaan darurat, misalnya kebakaran.

(38)

III - 19 | E x e c u t i v e S u m m a r y Penetapan Garis Sempadan Bangunan dengan jalan ditetapkan setelah mempertimbangkan aspek :

1. Keamanan meliputi keamanan bagi konstruksi badan jalan dan keamanan bagi pengemudi serta pengguna bangunan yang tinggal di tepi jalan.

Konstruksi jalan seperti perkerasan jalan, saluran drainase, talud jalan, marka jalan wajib diamankan agar tidak rusak oleh aktifitas pembangunan dan penggunaan gedung. Keamanan bagi pengemudi dan pengguna bangunan harus diperhatikan terutama yang berkaitan dengan pandangan bebas pengemudi di tikungan – tikungan jalan.

Penyediaan lahan parkir diwajibkan bagi bangunan yang melakukan pelayanan publik seperti pertokoan, perkantoran, fasilitas pendidikan, pergudangan dll. Agar tidak memanfaatkan badan jalan sebagai tempat parkir yang akan mengganggu fungsi jalan dan keamanan pengendara.

Penetapan garis sempadan 0 m dari tepi jalan bisa dipertimbangkan bila pemilik bangunan dapat menyediakan lahan parkir di basement.

2. Kesehatan perlu dijadikan bahan pertimbangan dalam menetapkan besarnya garis sempadan bangunan terhadap jalan mengingat bangunan yang terlalu dekat ke tepi jalan cenderung akan tercemari oleh emisi gas buang (CO). Standard pencemaran yang akan mengganggu kesehatan ditetapkan oleh instansi yang berwenang dalam hal ini Dinas Kesehatan dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

3. Kenyamanan terutama berkaitan dengan tingkat kebisingan, getaran yang diakibatkan oleh lalu lalangnya kendaraan. Penetapan garis sempadan yang terlalu dekat dengan tepi jalan akan dirasakan kurang nyaman bagi penghuni bangunan yang merasakan tingkat kebisingan yang tinggi serta getaran yang besar.

4. Kemudahan berkaitan dengan kemudahan akses jalan masuk ke bangunan. Jarak bangunan yang terlalu jauh dari tepi jalan cenderung menyulitkan akses dan komunikasi dengan lingkungan sekitarnya.

5. Keseimbangan dan keserasian berkaitan dengan rasa keindahan.

Keseimbangan meliputi keseimbangan tinggi bangunan dengan luas halaman bangunan. Semakin tinggi suatu bangunan dibutuhkan luas halaman yang semakin besar.

Keseimbangan juga menyangkut keseimbangan besarnya sempadan bangunan di sebelah kiri dan kanan jalan. Untuk itu besarnya sempadan bangunan di sebelah kiri dan kanan jalan diusahakan dibuat sama.

(39)

III - 20 | E x e c u t i v e S u m m a r y Keserasian dengan lingkungan bisa diartikan bahwa bangunan tersebut harus serasi dengan lingkungan sekitarnya yaitu dengan bangunan-bangunan yang sudah ada. Di dalam hal ini sejalan dengan sejarah perkembangan Malioboro, bangunan-bangunan mempunyai karakter bangunan Arsitektur Indis, Arsitektur Cina dan Arsitektur Kolonial. 6. Garis sempadan pagar terluar yang berbatasan dengan jalan ditentukan berimpit dengan

batas terluar Ruang Milik Jalan (Rumija).

Tabel 3.6. Penentuan Garis Sempadan Bangunan (GSB)

BLOK Kedudukan Koridor Kawasan Penetapan Kelas Jalan Lebar Rumija Sempadan Bangunan KJ. 01 Jl.Malioboro – Jl. A.Yani

Koridor utama Kolektor sekunder 22 m 4 m

KJ. 02

Jl. Sosrowijayan

Koridor ventilasi Lokal primer 8 m 4 m

KJ. 03

Jl.Dagen

Koridor ventilasi Lokal primer 6 m 4 m

KJ. 04

Jl. Pajeksan

Koridor ventilasi Lokal primer 13 m 4 m

KJ. 05

Jl. Beskalan

Koridor ventilasi Lokal primer 8 m 3 m

KJ. 06 Jl. Perwakilan

Koridor ventilasi Lokal primer 8 m 4 m

KJ. 07

Jl. Suryatmajan

Koridor ventilasi Lokal primer 12 m 4 m

Jln. Reksobayan Koridor pelingkup Kolektor sekunder 8 m 4 m

Jln. Sosrokusuman Koridor pelingkup Kolektor sekunder 6 m 3 m

Jln. Ketandan Koridor pelingkup Kolektor sekunder 8 m 4 m

Jln. Pabringan Koridor pelingkup Kolektor sekunder 8 m 4 m

Jln. Abubakar Ali Koridor pelingkup Kolektor sekunder 14 m 4 m

Jln. Mataram Koridor pelingkup Kolektor sekunder 12 m 4 m

Jln. Suryotmo Koridor pelingkup Kolektor sekunder 16 m 4 m

Jln. Senopati Koridor pelingkup Kolektor sekunder 18 m 4 m

Jln. Ahmad Dahlan Koridor pelingkup Kolektor sekunder 12 m 4 m

Jln. Bayangkara Koridor pelingkup Kolektor sekunder 13 m 4 m

Jln. Gandekan Lor Koridor pelingkup Kolektor sekunder 13 m 4 m

Jln. Pasar Kembang Koridor pelingkup Kolektor sekunder 14 m 4 m

Sumber : diolah dari Peraturan Walikota no.25 Tahun 2013 tentang Penjabaran Rencana Pola Ruang dan Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang, 2013

(40)

III - 21 | E x e c u t i v e S u m m a r y Untuk jalan-jalan yang belum diatur, menggunakan ketentuan GSB :

a) Untuk lebar jalan < 6 m, GSBnya 3m. b) Untuk lebar jalan < 4m, GSBnya 2m.

c) Untuk lebar jalan < 2m, GSBnya kondisi titik ikat.

3. 3. Tata Bangunan

A. Orientasi bangunan; Orientasi bangunan merupakan arah tampak bukaan bangunan (muka

bangunan) yang ditujukan pada sudut pandang tertentu (view) secara optimal. Di Kawasan Malioboro, orientasi bangunan dihadapkan ke arah jalan. Selain pertimbangan view yang optimal, orientasi bangunan juga harus merespon kondisi iklim lingkungan setempat. Hal ini ditujukan untuk mengatur penggunaan energi di dalam bangunan secara optimal.

Gambar 3.13. Orientasi bangunan terhadap jalan dan persimpangan

Sumber : Olahan studio, 2013

B. Wajah Depan Bangunan

o Panduan rancangan Arsitektur bangunan pada sisi kiri kanan sumbu filosofi antara kraton sampai tugu termasuk KCB Malioboro memakai Pola Arsitektur Lestari Asli dengan gaya arsitektur Indis dan Cina.

o Tampilan fasade dengan repetisi kolom untuk lantai 1 dan repetisi kusen dan repetisi bukaan untuk lantai 2.

o Arsitektur bangunan baru yang berada pada zona penyangga, paling sedikit menggunakan pola arsitektur selaras sosok;

(41)

III - 22 | E x e c u t i v e S u m m a r y Pola arsitektur Lestari Asli mempunyai arahan :

- Bentuk bangunan dan konstruksi sesuai dengan tipe-tipe bentuk dan konstruksi Bangunan Cagar Budaya di KCB-nya;

- Ragam hias sesuai dengan tipe – tipe ragam hias Bangunan Cagar Budaya di KCB-nya; - Material yang dipakai sama seperti material yang digunakan pada Bangunan Cagar

Budaya di KCB-nya;

- Vegetasi disesuaikan dengan vegetasi asli di KCB-nya; dan

- Perabot ruang luar didesain selaras dengan tipe-tipe ragam hias di KCB-nya dan tidak menghalangi pandangan ke Bangunan Cagar Budaya.

Pola arsitektur Selaras Sosok mempunyai arahan :

- Bentuk bangunan sesuai dengan tipe – tipe bentuk Bangunan Cagar Budaya di KCB-nya, sedangkan konstruksi yang tidak tampak dari luar dapat disesuaikan dengan perkembangan teknologi;

- Ragam hias sesuai dengan tipe – tipe ragam hias Bangunan Cagar Budaya di KCB-nya; - Material yang dipakai dapat menggunakan material baru hasil perkembangan teknologi

namun secara visual harus masih memperlihatkan kemiripan dengan material yang dipakai Bangunan Cagar Budaya di KCB-nya;

- Vegetasi disesuaikan dengan vegetasi asli di KCB tersebut;

- Perabot ruang luar didesain selaras dengan tipe-tipe ragam hias di KCB-nya dan tidak menghalangi pandangan ke Bangunan Cagar Budaya.

Panduan Arsitektur Indis di Kawasan Malioboro

Gaya Arsitektur Indis adalah gaya arsitektur Eropa/Belanda yang telah diadaptasi menyesuaikan kondisi budaya dan iklim tropis/Indonesia.

o Panduan rancangan Arsitektur Indis secara umum :

1. Atap bangunan arsitektur Indis dikenai ketentuan sebagai berikut :

- Atap bangunan utama berbentuk limasan, pelana, dan/atau varian dari masing-masing bentuk tersebut, dengan sudut kemiringan atap sebesar 30-45 derajat. - Atap bangunan pendukung menyesuaikan dengan atap bangunan utama. Apabila

menggunakan atap datar disyaratkan berbentuk pergola dari bahan kayu atau besi (bukan beton) dan tidak menempel/menyatu dengan bangunan utama.

(42)

III - 23 | E x e c u t i v e S u m m a r y - Atap tritisan dapat berupa atap miring tanpa konsol atau menggunakan konsol

kayu/besi, atau atap datar biasa atau menggunakan tarikan kabel baja diatasnya. 2. Penutup atap bangunan arsitektur Indis dikenai ketentuan sebagai berikut :

- Penutup atap bangunan utama menggunakan genteng bertipe vlaam, plenthong atau kodhok dengan warna asli (tidak dicat / tidak diglasur) dengan bahan dari genteng tanah liat/gerabah. Tidak menggunakan penutup atap dari genteng beton, asbes, policarbonate, logam dan sejenisnya.

- Penutup atap bangunan pendukung sama dengan bangunan utama. Apabila berbentuk pergola dapat menggunakan bahan transparan.

- Apabila karena tuntutan kebutuhan konstruksi bentang lebar sehingga penutup atap harus menggunakan bahan logam dan sejenisnya yang ringan, disyaratkan berbentuk kepingan datar/rata, atau berbentuk genteng berwarna gelap, bertekstur, tidak mengkilap.

- Penutup atap model lembaran gelombang seperti seng, asbes dan sejenisnya tidak diperbolehkan, selain untuk atap tritisan.

3. Lisplang, Ornamen dan Beranda dikenai ketentuan sebagai berikut :

- Lisplang menggunakan papan kayu atau beton dengan lebar sekitar 20 cm. - Lisplang dimungkinkan lebih lebar dari 20 cm karena tuntutan proporsi/

perbandingan ukuran lebar dan tinggi atap yang besar.

- Ornamen pada ujung bubungan dan jurai tidak berupa ornamen bongkak.

- Ornamen pada dinding berupa lubang ventilasi/roster, profil (lekukan/ takikan) pada tepian dinding, dan/atau kaca patri/kaca timah

- Ornamen pada dinding luar bangunan berupa batu / kerikil berwarna hitam dari permukaan tanah sampai dengan ambang bawah jendela.

- Ornamen pada fasad bangunan diterapkan secara proporsional. - Beranda terbuka

4. Pintu dan jendela dikenai ketentuan sebagai berikut :

- Pintu berbentuk empat persegi panjang dengan daun pintu krepyak kayu, panel kayu, kombinasi panel dan krepyak, dan/atau kaca.

(43)

III - 24 | E x e c u t i v e S u m m a r y - Jendela berbentuk empat persegi panjang dengan daun jendela krepyak kayu,

panel kayu, kombinasi panel dan krepyak,dan/atau kaca.

- Daun dan rangka pintu/jendela diperkenankan menggunakan bahan aluminium / logam, dengan tetap menggunakan pola dan gaya arsitektur Indis.

- Ventilasi di atas pintu/jendela yang kusennya menyatu dengan kusen pintu/jendela, dapat berupa kaca mati, kaca berbingkai dan ornamen besi/kayu. - Apabila menggunakan Air Conditioning maka ventilasi yang berupa ornamen

besi/kayu tersebut ditutup dengan bahan transparan.

Gambar 3.14. Arahan Arsitektur Indis secara umum

Sumber : Olahan studio, 2013

o Ciri Arsitektur Indis di Koridor Utama mempunyai ciri “arsitektur topeng” yaitu menutup atap pelana dengan bidang wajah depan yang mempunyai ciri simetris dengan poros pada titik tertinggi, dan mempunyai permainan bidang lurus maupun bidang lengkung dan atau kombinasi keduanya.

Atap pelana Dinding atas Dinding atas sebagai fasad depan

Gambar 3.15. Arahan bentuk atap dengan fasad depan sebagai “arsitektur topeng”

(44)

III - 25 | E x e c u t i v e S u m m a r y o Untuk renovasi fasad mengikuti langgam Arsitektur Indis yang berada di Koridor Utama

Malioboro, yaitu arsitektur Indis langgam Baroque yang mempunyai ciri : simetris dengan as/poros pada titik tertinggi, ornamentik, monumental dan mempunyai dinding wajah atas sebagai bidang penutup atap (topeng).

Gambar 3.16. Arahan wajah depan untuk Arsitektur Indis pada persil bidang kecil (> 10 meter)

Sumber : Olahan studio, 2013

o Untuk renovasi fasad pada bidang lebar (lebih dari 10 meter) dilakukan dengan membagi bidang depan/wajah bangunan menjadi bagian-bagian wajah dan tetap mengacu pada langgam Arsitektur Indis yang simetris dan memuncak.

Gambar 3.17. Arahan wajah depan untuk Arsitektur Indis pada persil bidang lebar (<10 meter)

Gambar

Gambar 3.3.  Ilustrasi kompleks Gedung Agung dan Benteng Vredeburg tidak tertutup PKL  Sumber : Olahan studio, 2013
Gambar 3.9.  Aturan Tinggi Bangunan pada koridor utama Jl.Malioboro – Jl. Ahmad Yani  Sumber : Olahan studio, 2013
Gambar 3.10.  Aturan Tinggi Bangunan pada koridor pelingkup Kawasan Malioboro  Sumber : Olahan studio, 2013
Gambar 3.12.  Aturan Tinggi Bangunan radius 60 meter dari Inti Lindung pada koridor jalan  Sumber : Olahan studio, 2013
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa kondisi eksisting tata bangunan di kawasan penelitian Perumnas Kota Baru koridor jalan Sumatera Kelurahan Handil Jaya Kecamatan Jelutung bahwa sebagian

Akses Pencapaian Sarana Prasarana Jaringan Jalan Kota Tangerang Selatan Wilayah pelayanan jaringan jalan berjenjang mulai dari arteri primer, arteri sekunder, kolektor sekunder

pengembangan dan peningkatan kualitas sistem jaringan transportasi yang berupa jaringan jalan kolektor pada wilayah Kecamatan Dukun, Kecamatan Muntilan, Kecamatan

Yang termasuk kelompok Jalan Kotamadya adalah jaringan jalan sekunder di dalam Kotamadya. Penetapan status suatu ruas jalan arteri sekunder dan atau ruas jalan kolektor sekunder

• Kawasan ini dapat berupa suatu ingkungan denga fungsi hunian dan social, maupun hanya kawasan yang memiliki bangunan dengan kegiatan social... Kawasan Fungsi Tunggal.. 5)

Diagram 2: Struktur dan Sistematika Dokumen RTBL P E R A N M A S Y A R A K A T PROGRAM BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 1 ANALISIS KAWASAN DAN WILAYAH PERENCANAAN VISI PEMBANGUNAN

Berdasarkan daftar ruas jalan menurut hirarki yang didapat dari Dinas Bina Marga Kota Bandung tahun 2014, Jalan Dipatiukur memiliki fungsi kolektor sekunder dan Jalan Hasanuddin

Berdasarkan Peruntukannya Jalan Umum Menurut Sistem Jaringan Jalan Primer Jaringan Jalan Sekunder Menurut Fungsi Jalan Arteri Jalan Kolektor Jalan Lokal Jalan Lingkungan