RPP sistem Koloid

18  105  Download (0)

Teks penuh

(1)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas / Semester : XI (sebelas) / 2 (dua)

Alokasi Waktu : 180 menit ( 4 jam pelajaran)

Materi : Sistem Koloid

I. Standar Kompetensi

Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

II. Kompetensi Dasar

1. Membuat berbagai sistem koloid dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya.

2. Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

III. Indikator

1. Memahami perbedaan antara larutan, suspense, dan koloid. 2. Memahami makna koloid

3. Mengetahui jenis-jenis koloid 4. Memahami sifat-sifat koloid 5. Memahami kestabilan koloid

IV. Tujuan Pembelajaran

1. Siswa dapat mengetahui perbedaan antara larutan, suspense, dan koloid 2. Siswa dapat memahami makna koloid

3. Siswa dapat mengetahui jenis-jenis koloid 4. Siswa dapat memahami sifat-sifat koloid 5. Siswa dapat menjelaskan kestabilan koloid

(2)

V. Materi Pelajaran Materi (terlampir) Pertemuan I 1. Pengertian koloid 2. Pengolongan koloid 3. Sifat-sifat koloid Pertemuan II 1. Sifat-sifat koloid 2. Kestabilan koloid

VI. Alat dan Sumber Belajar Sumber belajar

 Buku Kimia SMA/MA kelas XI BSE dan buku lain yang relevan  LKS

 Internet Alat belajar

 Proyektor slide, komputer

 Beberapa alat praktikum (gelas kimia, spatula)

VII. Metode Pembelajaran  Ceramah

 Diskusi  Ekspositori  Demonstrasi  Praktikum

VIII. Kegiatan Pembelajaran (Skenario terlampir)

(3)

IX. Penilaian

Teknik : Postest Bentuk Instrumen : PG, Essay Soal-Soal Instrumen ( terlampir )

(4)

MATERI PELAJARAN

KOLOID

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bersinggungan dengan sistem koloid sehingga sangat penting untuk dikaji. Sebagai contoh, hampir semua bahan pangan mengandung partikel dengan ukuran koloid, seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Emulsi seperti susu juga termasuk koloid. Dalam bidang farmasi, kebanyakan produknya juga berupa koloid, misalnya krim, dan salep yang termasuk emulsi.

Dalam industri cat, semen, dan industri karet untuk membuat ban semuanya melibatkan sistem koloid. Semua bentuk seperti spray untuk serangga, cat, hair spray, dan sebagainya adalah juga koloid. Dalam bidang pertanian, tanah juga dapat digolongkan sebagai koloid. Jadi sistem koloid sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Contoh larutan, koloid, dan suspensi

Makna Koloid

Selama ini Anda memahami bahwa campuran ada dua macam, yaitu campuran homogen (larutan sejati) dan campuran heterogen (suspensi). Di antara dua keadaan ini, ada satu jenis campuran yang menyerupai larutan sejati, tetapi sifat-sifat yang dimilikinya berbeda sehingga tidak dapat digolongkan sebagai larutan sejati maupun suspensi.

Berdasarkan ukuran partikel, sistem koloid berada di antara suspense kasar dan larutan sejati. Ukuran partikel koloid lebih kecil dari suspense kasar sehingga tidak membentuk fasa terpisah, tetapi tidak cukup kecil jika dibandingkan larutan sejati. Dalam larutan sejati, molekul, atom, atau ion terlarut secara homogen di dalam pelarut. Dalam sistem koloid, partikel-partikel koloid terdispersi secara homogen dalam mediumnya. Oleh karena itu, partikel koloid disebut

(5)

sebagai fasa terdispersi dan mediumnya disebut sebagai medium pendispersi. Perhatikan persamaan dan perbedaan sifat dari larutan sejati, dan suspensi pada tabel berikut.

Sistem koloid (selanjutnya disingkat "koloid" saja) merupakan suatu bentuk campuran

(sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel

terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm).

Penggolongan Koloid

Sama seperti larutan sejati, dalam sistem koloid zat terdispersi maupun pendispersi dapat berupa gas, cairan, maupun padatan. Oleh sebab itu, ada delapan macam sistem koloid seperti disajikan pada tabel berikut.

Jika ditinjau dari tabel tersebut maka sistem koloid mencakup hampir semua materi baik yang dihasilkan dari proses alam maupun yang dikembangkan oleh manusia.

(6)

Berdasarkan tingkat kestabilannya, koloid dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu koloid liofob dan liofil. Koloid liofob memiliki kestabilan rendah, sedangkan koloid liofil memiliki kestabilan tinggi.

Liofob berasal dari bahasa Latin yang artinya menolak pelarut, sedangkan liofil berarti menyukai pelarut. Jika medium pendispersi dalam koloid adalah air maka digunakan istilah hidrofob dan hidrofil sebagai pengganti liofob dan liofil.

Koloid hidrofil relatif stabil dan mudah dibuat, misalnya dengan cara pelarutan. Gelatin, albumin telur, dan gom arab terbentuk dari dehidrasi (penghilangan air) koloid hidrofil. Dengan menambahkan medium pendispersi, gelatin dapat terbentuk kembali menjadi koloid sebab prosesnya dapat balik (reversible). Koloid hidrofob umumnya kurang stabil dan cenderung mudah mengendap. Waktu yang diperlukan untuk mengendap sangat beragam

bergantung pada kemampuan agregat (mengumpul) dari koloid tersebut. Lumpur adalah koloid jenis hidrofob. Lumpur akan mengendap dalam waktu relatif singkat. Namun, ada juga koloid hidrofob yang berumur panjang, misalnya sol emas. Sol emas dalam medium air dapat bertahan sangat lama. Sol emas yang dibuat oleh Michael Faraday pada 1857 sampai saat ini masih berupa sol emas dan disimpan di museum London.

Koloid hidrofob bersifat tidak dapat balik (irreversible). Jika koloid hidrofob mengalami dehidrasi (kehilangan air), koloid tersebut tidak dapat kembali ke keadaan semula walaupun ditambahkan air. Sejumlah kecil gelatin atau koloid hidrofil sering ditambahkan ke dalam sol logam yang bertujuan untuk melindungi atau menstabilkan koloid logam tersebut. Koloid hidrofil yang dapat menstabilkan koloid hidrofob disebut koloid protektif atau koloid pelindung. Koloid protektif bertindak melindungi muatan partikel koloid dengan cara melapisinya agar terhindar dari koagulasi. Protein kasein bertindak sebagai koloid protektif dalam air susu. Gelatin digunakan sebagai koloid pelindung dalam es krim untuk menjaga agar tidak membentuk es batu.

b. Jelifikasi (Gelatinasi)

Pada kondisi tertentu, sol dari koloid liofil dapat mengalami pemekatan dan berubah menjadi material dengan massa lebih rapat, disebut jeli. Proses pembentukan jeli disebut

(7)

jelifikasi atau gelatinasi. Contoh dari proses ini, yaitu pada pembuatan kue dari bahan agar-agar, kanji, atau silikagel.

Pembentukan jeli terjadi akibat molekul-molekul bergabung membentuk rantai panjang. Rantai ini menyebabkan terbentuknya ruang-ruang kosong yang dapat diisi oleh cairan atau medium pendispersi sehingga cairan terjebak dalam jaringan rantai. eristiwa medium pendispersi terjebak di antara jaringan rantai pada jeli ini dinamakan swelling. Pembentukan jeli bergantung pada suhu dan konsentrasi zat. Pada suhu tinggi, agar-agar sukar mengeras, sedangkan pada suhu rendah akan memadat. Pembentukan jeli juga menuntut konsentrasi tinggi agar seluruh pelarut dapat terjebak dalam jaringan.

Kepadatan jeli bergantung pada zat yang didispersikan. Silikagel yang mengandung medium air sekitar 95% membentuk cairan kental seperti lendir. Jika kandungan airnya lebih rendah sekitar 90% maka akan lebih padat dan dapat dipotong dengan pisau.

Jika jeli dibiarkan, volumenya akan berkurang akibat cairannya keluar. Gejala ini dinamakan sinersis. Peristiwa sinersis dapat diamati pada agar-agar yang dibiarkan lama. Jeli dapat dikeringkan sampai kerangkanya keras dan dapat membentuk kristal padat atau serbuk. Jeli seperti ini mengandung banyak pori dan memiliki kemampuan mengabsorpsi zat lain.

Silikagel dibuat dengan cara dikeringkan sampai mengkristal. Silikagel digunakan sebagai pengering udara, seperti pada makanan kaleng, alat-alat elektronik, dan yang lainnya.

(8)

John Tyndall

Sifat-Sifat Koloid a. Efek Tyndall

Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar.

Efek Tyndall merupakan satu bentuk sifat optik yang dimiliki oleh sistem koloid. Pada tahun 1869, Tyndall menemukan bahwa apabila suatu berkas cahaya dilewatkan pada sistem koloid maka berkas cahaya tadi akan tampak. Tetapi apabila berkas cahaya yang sama dilewatkan pada dilewatkan pada larutan sejati, berkas cahaya tadi tidak akan tampak. Singkat kata efek Tyndall merupakan efek penghamburan cahaya oleh sistem koloid.

Pengamatan mengenai efek Tyndall dapat dilihat pada gambar

Efek Tyndall Koloid

(9)

Dalam kehidupan sehari-hari, efek Tyndall dapat kita amati seperti:

 Di bioskop, jika ada asap mengepul maka cahaya proyektor akan terlihat lebih terang.

 Di daerah berkabut, sorot lampu mobil terlihat lebih jelas

 Sinar matahari yang masuk melewati celah ke dalam ruangan berdebu, maka partikel debu akan terlihat dengan jelas.

Hamburan cahaya oleh asap

b. Gerak Brown

Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas ( dinamakan gerak Brown), sedangkan pada zat padat hanya beroszillasi di tempat (tidak termasuk gerak Brown).

Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan

tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak

(10)

seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.

Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka gerak Brown semakin lambat.

Gerak Brown Partikel-Partikel Koloid

c. Adsorpsi

Zat-zat yang terdispersi dalam sistem koloid dapat memiliki sifat listrik pada permukaannya. Sifat ini menimbulkan gaya an der aals bahkan ikatan valensi yang dapat mengikat partikel-partikel zat asing. Gejala penempelan zat asing pada permukaan partikel koloid disebut adsorpsi Zat-zat teradsorpsi dapat terikat kuat membentuk lapisan yang tebalnya tidak lebih dari satu atau dua lapisan partikel.

Jika permukaan partikel koloid mengadsorpsi suatu anion maka koloid akan bermuatan negatif. Jika permukaan partikel koloid mengadsorpsi suatu kation maka koloid akan bermuatan positif. Jika yang diadsorpsi partikel netral, koloid akan bersifat netral.

Oleh karena kemampuan partikel koloid dapat mengadsorpsi partikel lain maka sistem koloid dapat membentuk agregat sangat besar berupa jaringan, seperti pada jel. Sebaliknya, agregat yang besar dapat dipecah menjadi agregat kecil-kecil seperti pada sol.

(11)

Adsorbsi ion oleh koloid

d. Koagulasi

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.

e. Koloid Pelindung

Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari proses koagulasi.

f. Dialisis

Dialisis adalah suatu teknik pemurnian koloid yang didasarkan pada perbedaan ukuran partikel-partikel koloid. Dialisis dilakukan dengan cara menempatkan dispersi koloid dalam kantong yang terbuat dari membrane semipermeabel, seperti kertas selofan dan perkamen. Selanjutnya merendam kantong tersebut dalam air yang mengalir. Oleh karena ion-ion atau molekul memiliki ukuran lebih kecil dari partikel koloid maka ion-ion tersebut dapat pindah melalui membran dan keluar dari sistem koloid. Adapun partikel koloid akan tetap berada di dalam kantung membran.

(12)

g. Elektroforesis

Muatan Koloid ditentukan oleh muatan ion yang terserap permukaan koloid. Elektroforesis adalah gerakan partikel koloid karena pengaruh medan listrik. Karena partikel koloid mempunyai muatan maka dapat bergerak dalam medan listrik. Jika ke dalam koloid dimasukkan arus searah melalui elektroda, maka koloid bermuatan positif akan bergerak menuju elektroda negatif dan sesampai di elektroda negatif akan terjadi penetralan muatan dan koloid akan menggumpal (koagulasi).

Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan suatu sistem koloid. Jika koloid bergerak menuju elektroda positif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan negatif. Begitu juga sebaliknya, jika koloid bergerak menuju elektroda negatif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan positif.. Contoh percobaan elektroforesis sederhana untuk menentukan jenis muatan dari koloid diperlihatkan pada gambar berikut ini.

Elektroforesis

Kestabilan Koloid

Sistem koloid pada dasarnya stabil selama tidak ada gangguan dari luar. Kestabilan koloid bergantung pada macam zat terdispersi dan mediumnya. Ada koloid yang sangat stabil, ada juga koloid yang kestabilannya rendah. Koloid-koloid yang stabil dapat menjadi suspense atau larutan sejati jika diganggu.

1. Kestabilan Koloid

Kestabilan koloid pada umumnya disebabkan oleh adanya muatan listrik pada permukaan partikel koloid, akibat mengadsorpsi ion-ion dari medium pendispersi. Jika larutan asam arsenat direaksikan dengan gas H2S, akan terbentuk larutan arsen(III) sulfida menurut persamaan:

(13)

2H3AsO3(aq) + 3H2S(g) ⎯⎯→ As2S3(aq) + 6H2O(l)

Oleh karena H2S dalam air dapat terionisasi membentuk ion H+ dan ion HS–, arsen(III)

sulfida memiliki kemampuan mengadsorpsi ion HS–. Oleh karenanya, pada kondisi tertentu larutan As2S3 akan membentuk koloid bermuatan negatif berupa sol arsen(III) sulfide.

As2S3 membentuk koloid bermuatan negatif berupa sol arsen(III) sulfida.

Mengapa sol As2S3 bersifat stabil? Hal ini disebabkan partikel-partikel koloid yang

terbentuk bermuatan sejenis, yakni muatan negatif. Menurut konsep fisika, muatan sejenis akan saling tolak-menolak sehingga partikelpartikel As2S3 tidak pernah berkoagulasi menjadi

endapan.

Contoh yang lain, misalnya Fe(OH)3 dilarutkan ke dalam air membentuk larutan besi(III)

hidroksida. Molekul Fe(OH)3 kurang larut dalam air. Akan tetapi, di dalam air, molekul tersebut

dapat mengadsorpsi ion-ion Fe3+ dari medium sehingga molekul Fe(OH)3 menjadi sol Fe(OH)3

yang bermuatan positif dan sangat stabil .

Di dalam air, Fe(OH)3 membentuk kesetimbangan: Fe(OH)3(s) ⟺ Fe3+(aq) + 3OH (aq)

(14)

Proses koagulasi koloid yang bermuatan

listrik.

2. Destabilisasi Koloid

Oleh karena kestabilan koloid disebabkan oleh muatan listrik pada permukaan partikel koloid maka penetralan muatan partikel koloid dapat menurunkan bahkan menghilangkan kestabilan koloid. Penetralan muatan partikel koloid menyebabkan bergabungnya partikel-partikel koloid menjadi suatu agregat sangat besar dan mengendap, akibat adanya gaya kohesi antarpartikel koloid.

Proses pembentukan agregat dari partikel-partikel koloid hingga menjadi berukuran suspensi kasar dinamakan koagulasi atau penggumpalan dispersi koloid.

Penetralan muatan koloid dapat dilakukan dengan cara menambahkan zat-zat elektrolit ke dalam sistem koloid, seperti ion-ion Na+, Ca2+, dan Al3+. Kecepatan koagulasi bergantung pada jumlah muatan elektrolit. Makin besar muatan elektrolit, makin cepat proses koagulasi terjadi. Penambahan ion Al3+ ke dalam sistem koloid yang bermuatan negatif, seperti sol As2O3 lebih cepat dibandingkan dengan ion Mg2+ atau

ion Na+.

Gejala koagulasi pada dispersi koloid dengan cara penetralan

muatan koloid dapat dilihat pada pembentukan delta di muara sungai yang menuju laut. Pembentukan delta di muara sungai disebabkan oleh koagulasi lumpur yang bermuatan negatif oleh zat-zat elektrolit dalam air laut, seperti ion-ion Na+ dan Mg2+.

Ketika lumpur tersebut sampai di muara (pertemuan sungai dan laut), di laut sudah tersedia ion-ion seperti Na+ dan Mg2+. Akibatnya, lumpur kehilangan muatannya dan beragregat satu dengan lainnya membentuk delta.

(15)

SKENARIO PEMBELAJARAN SKENARIO PEMBELAJARAN

PERTEMUAN 1 Alokasi Waktu : 90 menit

Tahap Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

Pendahuluan ( 10 menit)

1. Salam 2. Berdoa

3. Mengecek daftar hadir 4. Apersepsi

Inti ( 60 menit )

A. Eksplorasi

 Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok

B. Elaborasi

 Guru memberikan fenomena berupa contoh dari koloid (mendemonstrasikan contoh koloid)  Peserta didik (dibimbing guru) mendiskusikan :

- Pengertian larutan dan suspensi - Pengertian koloid

- Contoh koloid

 Perwakilan dari tiap kelopok contoh koloid

 Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi secara klasikal

 Guru menanggapi hasil diskusi dan memberikan informasi yang sebenarnya

 Guru menyampaikan materi mengenai penggolongan koloid

 Mendiskusikan sifat-sifat koloid (sebagian) C. Konfirmasi

(16)

Tahap Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

menyimpulkan materi pelajaran yang telah diterimanya

Penutup ( 20 menit )

 Guru menyebutkan kembali materi yang telah dipelajari

 Guru menyebutkan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya

 Guru memberikan tugas untuk melakukan percobaan pembuatan jel

 Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja terbaik

 Doa  Salam

PERTEMUAN 2 Alokasi Waktu : 90 menit

Tahap Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

Pendahuluan (10 menit)

1. Salam 2. Doa

3. Mengecek daftar hadir 4. Motivasi

Inti (65 menit)

A. Eksplorasi

 Guru meminta salah satu peserta didik untuk mereview pelajaran pada pertemuan sebelumnya  Guru meminta beberapa peserta didik untuk

mengungkapkan tugas yang telah diberikan mengenai pembuatan jel

(17)

sifat koloid B. Elaborasi

 Guru meminta peserta didik untuk memberikan komentar terhadap video yang telah ditayangkan  Peserta didik memperhatikan penjelasan guru

mengenai sifat-sifat koloid

 Guru meminta beberapa peserta didik untuk menjelaskna sifat koloid

 Siswa mendiskusikan kestabilan koloid

 Guru menanggapi dan menjelaskan mengenai kestabilan koloid

C. Konfirmasi

 Peserta didik menyebutkan kembali sifat-sifat koloid  Guru meminta salah satu siswa untuk menjelaskan

kestabilan koloid

Penutup (15 menit)

 Guru mempersilahkan siswa untuk bertanya

 Guru meminta laporan hasil percobaan tugas sebelumnya

 Guru menyebutkan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya

 Guru memberikan tugas untuk mempelajari lembar kerja siswa

(18)

SOAL 1. Batu apung merupakan contoh dari koloid…

a. emulsi b. aerosol c. busa padat d. sol padat

2. Mentega merupakan contoh dari koloid… a. emulsi

b. emulsi padat c. busa padat d. sol padat

3. Koloid dengan zat terdispersi padat dan medium pendispersi cair, merupakan jenis koloid… a. emulsi

b. emulsi padat c. busa padat d. sol padat

4. Gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid disebut… a. efek tyndall

b. gerak brown c. adsorpsi d. koagulasi

5. Gejala penempelan zat asing pada permukaan partikel koloid disebut… a. efek tyndall

b. gerak brown c. adsorpsi d. koagulasi Essay

1. Jelaskan perbedaan antara larutan, koloid dan suspense! 2. Apa yang dimaksud koloid liofil?

3. Jelaskan prinsip dari dialisis! 4. Kenapa koloid dapat terkoagulasi?

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :